#1769 – A Weekend with Wimbledon

ENGLISH

The main theme of my weekend was definitely the final stage of this year’s Wimbledon, the third grandslam tournament of the year, haha 😆 .

This Wimbledon was great for my favorites. While it was not surprising at all that Serena Williams went deep in the tournament, I was very happy that Venus Williams also reached the semifinal stage! It was her first grandslam semifinal appearance since US Open 2010, and first in Wimbledon since Wimbledon 2009! So for this reason I had a mixed feeling after the semifinal stage: Serena advanced to the final while Venus was stopped by Angelique Kerber. Obviously I was sad that there would be no all-Williams final this year. On the other hand, I knew I would have felt a really huge and deep regret had both Williams reached the final because I would have not been able to go to London and watch the match live because I did not have a valid UK visa! Haha 😆 . I was thinking of applying for one a few months ago but I ended up not doing that. #Indonesianpassportholdersproblem

Back in Wimbledon this year!!

I wish I was in Wimbledon this year!! This was from last year

Anyway, here is the plot: Prior to Wimbledon, Serena had reached the finals of the two other grandslams this year. However, the results were untypical: she lost both. To Kerber in Australia and to Garbiñe Muguruza in France (a match which I actually witnessed with my own eyes 😦 ). So while she was still the favorite coming to this final, a bigger question mark had formed.

Serena and Kerber played a great ladies singles final where both players pretty much went toe to toe. Kerber, especially, was very impressive with her defensive skill where she was able to handle the barrage of Serena’s attack. This was one of the main reasons how she beat Serena in Australia, though. However, Serena was ready for it this time and was in a very solid mental state. Kerber showed glimpse of lapse of concentration in both sets, which cost her the match. Serena won 7–5, 6–3. Finally, she won her 22nd grandslam singles title and, thus, tying the open-era record set by Steffi Graf in 1999. This released huge amount of pressure from herself, and I love her reaction after the victory:

Yess!! 22 Baby!!

Meanwhile in the ladies doubles draw’, the Williams sisters, ranked 251st in the world (due to inactivity), also made the final. Later on that evening, they beat the fifth seed Timea Babos and Yaroslava Shvedova 6–3, 6–4 to win their sixth Wimbledon doubles title!!

So, yeah, all in all I am very happy with the outcome but I still feel just a little bit sad for not being able to witness that day myself 😛 . I mean, my last-minute visit to Wimbledon last year was amazing so I imagine that had I been able to come to London this year, it would probably have been even more amazing!! But well…

Serena and Venus Williams won the ladies doubles title in 2016. Their first grandslam doubles title since Wimbledon 2012! Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Serena and Venus Williams won the ladies doubles title in 2016. Their first grandslam doubles title since Wimbledon 2012! Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

In the men’s singles draw, Novak Djokovic surprisingly fell in the third round, suddenly making Andy Murray, my favorite male tennis player now, the big favorite to win the title. Funnily, though, Murray’s plot this year was very similar with Serena’s. Murray reached the final in Australia and France where he lost both to Djokovic (in Paris, I also witnessed this match myself 😦 ).

Murray reached the final where he faced Milos Raonic on Sunday. It was Murray’s 11 grandslam finals and for the first time ever, he did not have to face either Djokovic or Roger Federer. In the end, Murray won in straight sets to win his second Wimbledon and third grandslam title overall!!

Yeah, this weekend was a good weekend for my favorite!! 😀 Collectively, this result is the best one (to me) since the US Open 2012! haha 😛 .

Serena Williams won Wimbledon 2016. Photo credit: Adam Pretty/Getty Images Europe

Serena Williams won Wimbledon 2016. Photo credit: Adam Pretty/Getty Images Europe

Andy Murray won Wimbledon 2016. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

Andy Murray won Wimbledon 2016. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Tema utama akhir pekanku kemarin jelas adalah babak finalnya Wimbledon, turnamen grandslam ketiga tahun ini, haha 😆 .

Wimbledon kali ini baik bagi petenis favoritku. Ketika jelas tidak mengagetkan bahwa Serena Williams masuk babak akhir dari turnamen ini, aku senang banget Venus Williams masuk ke babak semifinal! Ini adalah semifinal grandslam pertamanya semenjak US Open 2010, dan pertama di Wimbledon semenjak Wimbledon 2009! Oleh karena alasan itu lah perasaanku campur aduk dengan hasil babak semifinalnya: Serena maju ke final sementara Venus kalah di semifinal dari Angelique Kerber. Jelas aku sedih lah ya final all-Williams tidak terjadi tahun ini. Di sisi lain, aku tahu aku sungguh akan merasa sangat amat menyesal andaikata kedua Williams masuk ke final karena aku tidak akan bisa pergi ke London untuk menonton finalnya langsung karena aku nggak punya visa UK yang masih berlaku! Haha 😆 . Beberapa bulan lalu aku sempat kepikiran untuk mengajukan visa UK lagi tetapi nggak aku lakukan. #Masalahpemegangpasporijo

Back in Wimbledon this year!!

Ugh, andaikata aku pergi ke Wimbledon tahun ini!! Foto ini dari tahun lalu

Anyway, berikut ini jalan ceritanya: Sebelum Wimbledon ini, Serena mencapai babak final di dua turnamen grandslam sebelumnya. Masalahnya, hasilnya nggak biasa banget: ia kalah di keduanya. Kalah dari Kerber di Australia dan dari Garbiñe Muguruza di Prancis (sebuah pertandingan yang kusaksikan langsung dengan mata kepala sendiri 😦 ). Jadi walaupun ia masih lah favorit untuk menang di final ini, ada sebuah tanda tanya besar yang menggantung.

Serena dan Kerber bermain final tunggal putri yang sangat seru dimana kedua pemain bermain seimbang. Kerber, terutama, impresif banget dengan kemampuan defensifnya dimana ia bisa melayani hujan serangannya Serena. Ini adalah satu alasan mengapa ia bisa menang dari Serena di Australia. Namun, kali ini Serena sudah siap untuk itu dan berada pada kondisi fokus mental yang tepat. Konsentrasi Kerber hilang sebentar di kedua set, dan ini menyebabkan kekalahannya. Serena menang 7–5, 6–3. Akhirnya, gelar grandslam ke-22 ia dapatkan juga dan, dengan ini, ia menyamai rekor era terbuka yang ditorehkan Steffi Graf di tahun 1999. Ini melepaskan banyak sekali tekanan dari dirinya, dan aku sukaaa banget reaksinya setelah kemenangannya:

Iyaaaa!! 22 Baby!!

Sementara itu, di sisi ganda putri, Williams bersaudari yang berperingkat 251 sedunia (karena sudah lama nggak main ganda) juga masuk di babak final. Di malam harinya, mereka mengalahkan Timea Babos dan Yaroslava Shvedova 6–3, 6–4 untuk memenangi gelar ganda Wimbledon keenam mereka!!

Jadi, ya, secara keseluruhan jelas aku senang sekali dengan hasil ini walaupun agak sedih juga sih nggak bisa menontonnya secara langsung 😛 . Maksudku, perjalanan dadakanku ke Wimbledon tahun lalu kan seru banget ya sehingga aku bayangkan andaikata tahun ini aku juga bisa ke London, pasti bakal lebih seru lagi deh dengan hasil yang seperti ini!! Ah, sudahlah…

Serena and Venus Williams won the ladies doubles title in 2016. Their first grandslam doubles title since Wimbledon 2012! Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Serena dan Venus Williams menjuarai gelar ganda putri Wimbledon 2016. Gelar grandslam ganda pertama mereka semenjak Wimbledon 2012!  Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Di sisi tunggal putra, secara mengejutkan Novak Djokovic kalah di babak ketiga sehingga Andy Murray, petenis putra favoritku sekarang, adalah favorit untuk juara. Lucunya, jalan cerita Murray tahun ini mirip dengan jalan cerita Serena. Murray mencapai babak final di Australia dan Prancis dimana di keduanya ia kalah dari Djokovic (di Paris, pertandingan ini juga kusaksikan dengan mata kepala sendiri 😦 ).

Murray mencapai babak final dimana ia menghadapi Milos Raonic di hari Minggu. Ini adalah final grandslamnya Murray yang kesebelas dimana untuk pertama kalinya, ia tidak harus menghadapi Djokovic atau Roger Federer. Pada akhirnya, Murray menang straight sets untuk memenangi gelar Wimbledon kedua dan grandslam ketiganya!!

Iyaa, akhir pekan ini adalah akhir pekan yang baik untuk favoritku!! 😀 Secara keseluruhan, hasil ini adalah hasil terbaik (untukku) semenjak US Open 2012! haha 😛 .

#1593 – A Weekend To Wimbledon (Part II)

ENGLISH

Earlier this month, I went on a weekend trip to London to watch this year’s Wimbledon final. I have published the post about my trip to/back from London and this post will cover the Wimbledon part of the trip 🙂 .

***

The Experience

Right after arriving at Liverpool Street Station, I took the tube to go to Wimbledon. Here is a useful information: even though there was a tube station called “Wimbledon”, the closest station to the All England Lawn Tennis Club (AELTC), the venue of the tournament, was actually “Southfield”. This year though, there was no way you were not getting this information in Southfield because the station looked like this, haha:

There is no way one does not associate this with Wimbledon

There was no way one did not associate this with Wimbledon

From Southfield, I decided to walk to AELTC. It was a nice 20 minute walk to the gate btw. I had to wait for about half an hour at the gate before they opened it at 10:30 AM. When they did, they checked my ID and my credit card which I used to purchase the ticket in exchange for my ticket.

I entered the ground, and well, my first feeling was: “Finally I am back at Wimbledon!” Seriously, I did not think I would visit Wimbledon this year but thanks to some very nice luck I did!

Back in Wimbledon this year!!

Back in Wimbledon this year!!

Henman Hill

The famous Henman Hill

Anyway, I walked around the ground for a few hours (seriously, lol 😆 ) and at one point I saw Serena Williams warming up at Court No.5! 😯 So I joined the flock of people to see her up close. She was already at the end of her session when I was there so she was already practicing some return and serve. I could see that she did not serve well during the warm up though; so she was serving a lot. And a lady behind me was like: “Gosh, how can she not be tired after hitting all those serves non-stop?” (Serena did practice serving for about ten minutes non-stop).

Btw, if you ask me if I asked for a selfie with Serena; well, I didn’t. Okay, actually, I couldn’t. Because after she finished warming-up, here is how she got off the court:

Escorting Serena Williams out of the practice court

Escorting Serena Williams out of the practice court

Yes, she was escorted by literally TEN bodyguards! 😯 However, I did get the opportunity to take a selfie with her coach though, Patrick Mouratoglou:

A selfie with Patrick Mouratoglou!!

A selfie with Patrick Mouratoglou!!

Yay! 😀

The Matches

As I got a Centre Court ticket, the first match would start at 2 PM with the following schedule:

The schedule of play today for Centre Court

The schedule of play today for Centre Court

See, what a line-up for today!!

Ladies’ Singles Final between [1] Serena Williams (USA) vs [20] Garbine Muguruza (ESP)

The coin tos

The coin toss

No doubt, this was the match of the day in term of prestige and what was at stake. If Serena won this match, she would win a second “Serena Slam”. And especially being a fan of Serena, this was also a big match for me, haha 🙂 .

Serena started slow today, hitting three double faults in the first game alone to get broken. On the other hand, this let Garbine to dictate more of the points so she was leading 4–2. This trailing drama in the first set immediately made me feel involved in the match, even though deep down I believed Serena was going to fight back. And she did. She fought so hard, got the broke back, brought the match back to level, and took another punch to win the first set 6–4.

Serena was so pumped up after winning the first set

Serena was so pumped up after winning the first set

She carried on this momentum onto the start of the second set. She was serving very well and hit her shots very well. As a result, Serena immediately led 5–1 in the second. But then, the same drama reappeared where Serena got nervous and allowed Garbine to, again, play aggressive. Garbine was able to bring the score to 5–4 but then Serena, being the champion that she was, took the final punch and won the second set, thus the match, thus the championships, thus the Serena Slam, 6–4, 6–4!!

Sinking the moment in

Sinking the victory moment in

A BBC interview

A BBC interview with Sue Barker

Yesss!!!

It was such an honor and historical moment for me to witness that. To witness with my own eyes the realization of Serena Slam 2.0, at the Centre Court of the most prestigious tennis tournament in the world: Wimbledon!!

Serena Williams completed the second Serena Slam

Serena Williams completed the second Serena Slam

Gentlemen’ Doubles Final between [4] Jean-Julien Rojer (NED)/Horia Tecau (ROU) vs [13] Jamie Murray (GBR)/John Peers (AUS).

So here is the thing: this would be the second time this year I watched these two teams clashed in a final, with the first being in February in the final of the Rotterdam Open in Rotterdam. That time, Rojer/Tecau won in a super-tiebreak.

Jamie Murray/John Peers

Jamie Murray/John Peers

But obviously the stake was very different this time because this was a grandslam final where the winner would win their first grandslam men’s doubles title. And this was in London so the team of Jamie Murray (Andy Murray’s older brother btw) would get more support from the crowd as well. As for me, I liked both teams but of course I was leaning more towards Jean-Julien Rojer because he was Dutch, haha.

I watched the first set which went very tight where both teams held their serve so they had to play a tiebreak. Rojer/Tecau won the tiebreak 7–5. I left during the second set and first half of the third because I was craving for dinner and needed to stretch my legs a little bit. But when I came back, it was just in time to witness the Dutch/Romanian team won the match 7–6(5), 6–4, 6–4!!

Jean-Julien Rojer and Horia Tecau won!

Jean-Julien Rojer and Horia Tecau won!

Ladies’ Doubles Final between [1] Martina Hingis (SUI)/Sania Mirza (IND) vs [2] Ekaterina Makarova (RUS)/Elena Vesnina (ESP).

This should be a very entertaining match, on paper, because these two teams were the top two seeds of the tournament. Martina Hingis decided to come back to the tour a couple of years ago and focused on doubles. Well, she has always been a good doubles player and she has a very great touch with her racket. So it was nice that I could see her play live!

Also, just to make it more fun, I am going to refer Elena Vesnina as “Ayah” here because her grunt sounded like this:

Haha 😆 . To me it sounded like “Ayah” and it means “father” in Indonesian btw, haha 😆

Makarova/Ayah took the first set 7–5

Makarova/Ayah took the first set 7–5

And wow, this match turned out to be the tightest and most exciting match of the day! Both teams played really well and the score line indicated this! After trading break in the first two games, both teams held their serve. But Makarova/Ayah were able to break Hingis’ serve and won the first set 7–5.

The second set went just as tight and a tiebreak had to be played. This time, the first seed fought back and won it 7–4. In the third set, Hingis/Mirza were immediately down one break and both looked lost. And to be honest, I thought they were done at this point. But then, Mirza was peaking with her shots and did not miss 😆 . They brought the match back to level. At 5-all, the organizers thought it was already too dark for play (it was 9 PM already) so they decided to put the roof on to make Centre Court an indoor grass court with lighting 🙂 .

The roof of Centre Court being closed

The roof of Centre Court being closed

My experience was complete now because in my first time watching tennis in Centre Court, they were actually USING the roof! Super cool!

Anyway, the roof needed 10 minutes to close hence in the meantime the play was suspended. Both teams returned to the court some 15 minutes later and continued their match. Hingis/Mirza were on at this point. They broke Makarova/Ayah’s serve right away and held their own serve in the next game. Hence, they won the match 5–7, 7–6(4), 7–5 for their first grandslam title together!

Martina Hingis and Sania Mirza won the very tight final match for the title!

Martina Hingis and Sania Mirza won the very tight final match for the title!

The Food

Strawberries and Cream

First of all, in Wimbledon, obviously I MUST have a bowl of strawberries and cream. Wimbledon is full of tradition so I also comply! Lol 😆

A trip to Wimbledon is never complete without strawberry and cream

A trip to Wimbledon is never complete without strawberries and cream

Fish and Chips

Also, while in London, I decided to have fish and chips for brunch, haha. However, this time I felt like the fish was smaller than it was two years ago though. But I could not finish it two years ago because it was too big, so I was okay with this. But then, it turned out that I also could not finish it this time for the same reason, lol 😆 .

Southern Fried Chicken

Southern fried chicken, my favorite dish at Wimbledon

Southern fried chicken, my favorite dish at Wimbledon

It is official now. My favorite dish in Wimbledon was the southern Fried Chicken whose stall was underneath Court No.1 just accross the Henman Hill. It was basically crispy battered fried chicken (I would guess they mix the flour with a lot of black pepper, which gave it the spicy taste which I liked) with thin chips. So tasty!!

BAHASA INDONESIA

Awal bulan ini, aku pergi ke London dalam sebuah perjalanan akhir pekan untuk menonton finalnya Wimbledon tahun ini. Aku sudah mempublikasikan sebuah posting tentang perjalananku ke/dari London dan posting ini akan berisi cerita dari bagian Wimbledon dari perjalanan ini 🙂 .

***

Pengalamannya

Begitu tiba di Stasiun Liverpool Street, aku langsung menaiki tube menuju Wimbledon. Btw, berikut ini sebuah informasi yang berguna: walaupun ada stasiun tube yang namanya “Wimbledon”, sebenarnya stasiun tube terdekat dari All England Lawn Tennis Club (AELTC), kompleks turnamennya, adalah stasiun “Southfield”. Tetapi tahun ini rasanya mustahil ding untuk melewatkan informasi ini. Ini karena penampakan stasiun Southfield-nya seperti ini, haha:

There is no way one does not associate this with Wimbledon

Mustahil untuk tidak mengasosiasikan ini dengan Wimbledon

Dari Southfield, aku memutuskan untuk berjalan kaki ke AELTC. Asyik juga berjalan kaki selama 20 menit ke gerbangnya. Aku harus menunggu sekitar setengah jam di luar gerbang sebelum gerbangnya dibuka jam 10:30 pagi. Ketika gerbangnya dibuka, tanda pengenal dan kartu kreditku yang aku gunakan untuk membeli tiketnya diperiksa untuk ditukarkan dengan tiketnya.

Aku memasuki kompleks turnamennya, dan perasaan pertamaku adalah: “Akhirnya aku kembali ke Wimbledon juga!” Beneran lho, aku sama sekali tidak mengira aku akan ke Wimbledon tahun ini tetapi berkat sedikit keberuntungan, aku bisa kesana!

Back in Wimbledon this year!!

Kembali di Wimbledon!!

Henman Hill

Henman Hill yang terkenal itu

Anyway, aku berjalan-jalan mengelilingi kompleksnya selama beberapa jam (beneran, haha 😆 ) dan di satu waktu aku melihat Serena Williams sedang pemanasan di Lapangan No.5! 😯 Jelas dong aku bergabung dengan kerumuman orang-orang yang juga ingin menonton Serena dari dekat. Waktu itu ia sudah berada di akhir sesi pemanasannya sih dimana ia sedang memanaskan return dan servisnya. Aku bisa lihat bahwa pagi itu serve-nya sedang kurang on; jadilah ia banyak memukul serve pagi itu. Dan ibu-ibu di belakangku berkomentar: “Hadeuh itu dia kok nggak capek-capek sih terus-terusan memukul serve seperti itu tanpa jeda?” (Serena memang melatih serve-nya selama sekitar sepuluh menit tanpa henti).

Btw, jika ada yang ingin bertanya aku selfie dengan Serena atau tidak: jawabannya adalah tidak. Oke, sebenarnya karena aku tidak bisa sih. Ya habis dong setelah pemanasannya selesai, beginilah seorang Serena Wiliams keluar dari lapangannya:

Escorting Serena Williams out of the practice court

Mengawal Serena Williams keluar dari lapangan latihan

Iya dong, ia dikawal oleh SEPULUH orang bodyguards! 😯 . Eh, tapi tapi, aku mendapatkan kesempatan untuk selfie bersama pelatihnya loh, Patrick Mouratoglou:

A selfie with Patrick Mouratoglou!!

Selfie dengan Patrick Mouratoglou!!

Hore! 😀

Pertandingannya

Karena aku mendapatkan tiket Centre Court, pertandingan pertama baru dimulai jam 2 siang dengan jadwal sebagai berikut:

The schedule of play today for Centre Court

Jadwal pertandingan hari ini di Centre Court

Pertandingan-pertandingannya seruu!!

Final Tunggal Putri antara [1] Serena Williams (USA) vs [20] Garbine Muguruza (ESP)

The coin tos

Coin toss

Jelas, ini adalah pertandingan paling utama hari ini dalam hal gengsi dan apa yang diperebutkan. Jika Serena memenangi pertandingan ini, ia akan memenangi “Serena Slam” keduanya. Dan sebagai fansnya Serena, jelas ini adalah pertandingan tenis penting juga untukku, haha 🙂 .

Serena memulai pertandingan dengan pelan hari ini, memukul tiga double fault di game pertama sehingga servisnya langsung terpatahkan. Di sisi lain, ini memungkinkan Garbine untuk mendikte permainan sehingga ia kemudian unggul 4–2. Drama langsung tertinggal di awal pertandingan ini membuatku langsung merasa terlibat di pertandingannya, walaupun di dalam lubuk hati aku yakin Serena akan segera melawan balik. Dan ia melawan balik. Ia bertarung dengan keras, ganti mematahkan servis lawan, menyeimbangkan posisinya lagi, dan melangsungkan pukulan terakhir untuk memenangi set pertama 6–4.

Serena was so pumped up after winning the first set

Serena sedang on fire banget ketika memenangi set pertama

Serena membawa momentum ini ke set kedua. Servisnya on dan pukulan-pukulannya tajam dan akurat. Akibatnya, ia langsung unggul 5–1. Tetapi kemudian, drama yang sama kembali muncul dimana Serena mulai grogi dan memungkinkan Garbine untuk, lagi, bermain agresif. Garbine berhasil membuat skor menjadi lebih imbang ke posisi 5–4 tetapi Serena, yang memang bermental juara, melangsungkan pukulan terakhir dan menenangi setnya, artinya pertandingannya, artinya kejuarannya, artinya Serena Slam, 6–4, 6–4!!

Sinking the moment in

Menikmati kemenangan

A BBC interview

Wawancara BBC dengan Sue Barker

Yesss!!!

Benar-benar sebuah kehormatan dan momen yang bersejarah deh bagiku bisa menonton pertandingan ini. Untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri menjadi nyatanya Serena Slam 2.0, di Centre Court-nya turnamen tenis paling bergengsi di dunia: Wimbledon!!

Serena Williams completed the second Serena Slam

Serena Williams memenangi Serena Slam keduanya

Final Ganda Putra antara [4] Jean-Julien Rojer (NED)/Horia Tecau (ROU) vs [13] Jamie Murray (GBR)/John Peers (AUS).

Begini deh ceritanya: ini akan menjadi kali kedua tahun ini aku menonton dua tim ini bertarung di final, dengan yang pertama adalah di bulan Februari di finalnya Rotterdam Open di Rotterdam. Waktu itu, Rojer/Tecau menang melalui sebuah super-tiebreak.

Jamie Murray/John Peers

Jamie Murray/John Peers

Tetapi jelas yang dipertaruhkan kali ini jauh berbeda dong ya karena ini adalah final sebuah grandslam dimana pemenangnya akan memenangi gelar grandslam ganda putra pertama mereka. Dan ini berada di London sehingga timnya Jamie Murray (btw, ia kakaknya Andy Murray) tentu akan mendapatkan lebih banyak dukungan dari penonton. Untukku sih, aku suka kedua tim tetapi kalau disuruh memilih salah satu, aku lebih memilih mendukung timnya Jean-Julien Rojer deh karena ia kan orang Belanda, haha.

Aku menonton set pertama yang berlangsung ketat dimana kedua tim mempertahankan servisnya sehingga tiebreak harus dimainkan. Rojer/Tecau memenanginya 7–5. Aku meninggalkan kursiku di set kedua dan setengah pertama set ketiga karena aku lapar berat dan aku merasa perlu untuk meluruskan kaki. Waktuku kembali adalah waktu yang pas untuk menyaksikan tim Belanda/Romania ini menang 7–6(5), 6–4, 6–4!!

Jean-Julien Rojer and Horia Tecau won!

Jean-Julien Rojer dan Horia Tecau menang!

Final Ganda Putri antara [1] Martina Hingis (SUI)/Sania Mirza (IND) vs [2] Ekaterina Makarova (RUS)/Elena Vesnina (ESP).

Di atas kertas, ini akan menjadi pertandingan yang seru karena keduanya adalah dua tim unggulan teratas. Martina Hingis memutuskan untuk kembali ke tur dua tahun yang lalu untuk fokus di pertandingan ganda. Ya, ia memang seorang pemain ganda yang baik sih dengan touch yang gemilang. Jadi seru rasanya bisa melihatnya bermain langsung!

Eh, untuk seru-seruan, mulai sekarang di posting ini aku akan memanggil Elena Vesnina dengan sebutan “Ayah” ah karena grunt-nya seperti ini:

Haha 😆 . Untukku grunt-nya terdengar seperti meneriakkan kata “Ayah“, haha 😆

Makarova/Ayah took the first set 7–5

Makarova/Ayah memenangi set pertama 7–5

Dan wow, pertandingan ini ternyata adalah pertandingan paling ketat dan paling seru hari ini loh! Kedua tim bermain dengan baik dan skornya mengindikasikan ini! Setelah saling mematahkan servis di dua game pertama, kedua tim mempertahankan servisnya. Namun kemudian, Makarova/Ayah berhasil mematahkan servisnya Hingis dan memenangi set pertama 7–5.

Set kedua juga berlangsung ketat dimana tiebreak harus dimainkan. Kali ini, tim unggulan pertama melawan balik dan memenanginya 7–4. Di set ketiga, Hingis/Mirza langsung tertinggal dan keduanya nampak tersesat. Jujur, aku kira mereka sudah habis waktu itu. Tetapi kemudian Mirza malah peaking dengan pukulan-pukulannya dan semuanya masuk, haha 😆 . Pertandingannya menjadi kembali imbang. Di posisi 5-sama, panitia merasa bahwa suasana sudah terlalu gelap (sudah jam 9 malam waktu itu) sehingga mereka perlu untuk menutup atapnya untuk membuat Centre Court menjadi lapangan rumput indoor dengan penerangan 🙂 .

The roof of Centre Court being closed

Atapnya Centre Court sedang dalam proses ditutup

Pengalamanku komplit sekarang karena di kali pertama aku menonton tenis di Centre Court, mereka juga MENGGUNAKAN atapnya! Kereen!

Anyway, karena dibutuhkan waktu 10 menit untuk menutup atapnya, di waktu ini pertandingan untuk sementara dihentikan. Kedua tim kembali memasuki lapangan 15 menit kemudian dan pertandingan dilanjutkan. Hingis/Mirza langsung on di waktu ini. Servisnya Makarova/Ayah langsung mereka patahkan dan mereka mempertahankan servisnya sendiri di game selanjutnya. Akibatnya, mereka memenangi pertandingannya 5–7, 7–6(4), 7–5 untuk gelar grandslam perdananya mereka bersama-sama!

Martina Hingis and Sania Mirza won the very tight final match for the title!

Martina Hingis dan Sania Mirza memenangi final ganda putri yang ketat!

Makanannya

Strawberries and Cream

Pertama-tama, jelas di Wimbledon aku HARUS makan satu porsi strawberries and cream lah ya. Yaa, Wimbledon kan sarat dengan tradisi sehingga aku juga harus menghormatinya! Huahaha 😆

A trip to Wimbledon is never complete without strawberry and cream

Perjalanan ke Wimbledon tidak akan komplit tanpa strawberries and cream

Fish and Chips

Juga, karena di London, aku memutuskan untuk memesan fish and chips untuk makan siang, haha. Namun, entah mengapa kali ini aku merasa ikannya lebih kecil deh daripada dua tahun yang lalu. Tetapi toh dua tahun lalu aku nggak habis sih soalnya porsinya besar banget, jadi aku tidak masalah. Tetapi ternyata kali ini pun aku tidak habis loh dengan alasan yang ternyata masih sama, haha 😆 .

Southern Fried Chicken

Southern fried chicken, my favorite dish at Wimbledon

Southern fried chicken, makanan favoritku di Wimbledon

Oke, resmi deh. Makanan favoritku di Wimbledon adalah Southern Fried Chicken yang dijual di bawahnya Lapangan No.1 tepat di seberangnya Henman Hill. Pada dasarnya ini adalah menu ayam goreng tepung yang crispy (tetapi aku duga adonan tepungnya dicampur banyak merica hitam, yang menambahkan sedikit rasa pedas yang ternyata aku nikmati) dan kentang goreng. Enaaak!!

#1591 – A Weekend To Wimbledon (Part I)

ENGLISH

About a week and a half ago, I went on a weekend trip to London to watch this year’s Wimbledon final. Just as the story from my weekend trip to Paris for the French Open final this year, I am also splitting this story into two posts. This post is the first one where I cover the non-Wimbledon related stuffs from the trip 🙂

So, here we go…

***

Actually, practically all of my time in London was spent for Wimbledon in this trip, haha. I arrived in London on Saturday morning, went straight to Wimbledon, left the venue at around 9:30 PM, went straight to my hostel, slept, got up, walked to Waterloo station to catch my bus to Gatwick, then flew back to the Netherlands, haha. Therefore, this post will basically just cover the travelling story to/from London 😛

Getting to London

Ferry to Harwich

I took the trains to go to Hoek van Holland Haven, where the ferry accross the Channel would depart. I arrived there at around 20:35, checked-in, passed the immigration desk, and boarded the ship, Stena Britannica. Btw, Stena Britannica was such a huge ship:

Taking the ferry to cross the channel

Boarding Stena Britannica

She had three decks of passengers cabins, one deck for the common area with restaurants, bars, cafes, internet room, a cinema, etc, and a few more decks for the vehicles (with cars and trucks being the most common vehicles). Because I took the overnight service, I must also book a cabin on top of my ferry ticket. If the last time I booked a fancier cabin with window, this time I decided to book the cheapest one with no window, haha 😛 .

Because the departure time was at 22:00, I already had my dinner before leaving. So on board I did not buy any dinner and just sat at the bar having a drink, haha. This time, I feel like there were more people travelling with the ferry though in comparison to my last trip. It probably made sense because now it was in the Summer while my previous trip was in the cold month of February, haha. Also because it was summer, I could still enjoy the view outside after the ferry departed at 22:00. It was quite nice.

Off to the sea!!!

Off to the sea!!!

Anyway because the purpose of my ferry ride was to get a good night sleep before the big day, I went to bed not so long after. I had quite a nice sleep, getting up at 04:45 (UK time). I took a shower, had breakfast (more on this later in the post), and packed my stuffs. Btw, even though they opened the gate at around 06:30, the ship had actually docked at Harwich Port at around 04:30 though. I knew this because the ship made this annoying noise while docking to the pier (but it was actually a good wakeup call now that I think about it), haha. This time the passengers walkway in Harwich was still being renovated, they took us (passengers who travelled on foot) with bus from the carpark deck to the immigration building. It was kinda cool.

Harwich to London

Long story short I passed the immigration check and my train to London departed at 07:33 from Harwich Station. I had to transfer once in Manningtree, but overall it was quite an uneventful train ride. I arrived at London Liverpool Street station at around 08:55. Oh, I could charge my phone on the train too btw, quite cool!

Reserved seat for me on the train from Maningtree to London Liverpool Street

Reserved seat for me on the train from Maningtree to London Liverpool Street

From there, I took the tube directly to Wimbledon. Story about Wimbledon will come in the Part II post.

Back from London

I decided to take Garuda Indonesia’s fifth freedom flight, again, to go back to the Netherlands. So in the morning I had to get up quite early (at 06:30) to get to London Gatwick. I stayed in a hostel near Borough tube station in London while my easyBus coach to Gatwick would depart from Waterloo Station. Because it did not look that far in the map, this morning I decided that I wanted to walk to Waterloo, haha.

Another mocha coffee at Waterloo

Another mocha coffee at Waterloo

Getting to Waterloo Station on foot from my hostel was quite straightforward. I had a quick breakfast and coffee at the station before going to the stop where the coach would leave. This morning I got a very nice and friendly driver (the other time I got a pouty and borderline rude driver who pissed another passenger off (I could see the lady was so upset about it, and her husband tried to comfort her)). Anyway, we departed on time at 08:40 and about one hour later we arrived at Gatwick.

I checked in at Garuda’s desk at Gatwick. If my previous two Amsterdam – London vv flights with Garuda were about 70% full in economy, this time the flight was almost full. The load factor was at least 95% I estimate. But this resulted in me not getting an available window seat. Daaamn! 😦 So the check-in lady gave me an aisle seat; still better than the middle seat but I preferred the window seat of course, haha.

Still on time on the screen though

Still on time on the screen though

I knew the flight was going to get delayed (I checked the progress of the GA88 flight from Jakarta at Flightradar24) because of late departure from Jakarta. I supposed it had something to do with the eruption of Mount Raung in East Java though which forced five airports (including Ngurah Rai Airport in Bali) to be closed at that time. Anyway, because of this I knew I had some time so I went to a Jamie Oliver’s restaurant at Gatwick to have a proper breakfast, haha. Story about this breakfast is in the next section of this post.

After breakfast, I killed some more spare time at a convenience store reading some magazines about aviation and tennis, haha. At 12:10, the boarding gate was announced and I walked to the gate, Gate 51. I was lucky that today Garuda deployed a Boeing 777-300ER which I had never flown on before: PK-GID. So my logbook was getting even more complete with this sponatenous trip. Yay! This means that now, I have flown on 4 of Garuda’s 7 Boeing 777-300ERs: PK-GIA (twice), PK-GIC, PK-GID, and PK-GIE. The other three are PK-GIF, PK-GIG, and PK-GIH. However, I don’t think Garuda will deploy PK-GIH on the Amsterdam route because PK-GIH is in a higher density seating.

A Garuda Indonesia's Boeing 777-300ER reg PK-GID

A Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GID

Anyway, at 12:40, the boarding announcement was made and I boarded my Garuda Indonesia’s GA89 flight to Amsterdam with PK-GID. We took off from runway 26L of Gatwick Airport. It was a routine flight but the weather was not quite the best. The seatbet sign was on longer than normal during take-off as we had to manauver around the thick cloud surrounding London. The service was pretty much the same as my previous London-Amsterdam flight with GA89 so I won’t get to too much details here. Except that the flight attendant looked even much busier due to the heavier load 🙂 .

The FAs were busy on this flight. A 39 minutes flight with almost full economy class on a Boeing 777-300ER: BUSY!

The FAs were busy on this flight. A 39 minutes flight with almost full economy class on a Boeing 777-300ER: BUSY!

At 15:25, we landed at runway 18R of Amsterdam Schiphol Airport. As I was sitting on an aisle seat this time, I could not make any landing video 😦 . Then everything that followed was just a routine stuffs. We parked at Gate G03, disembarked the plane, passed the immigration desk, then took the train back to Delft.

Btw here is the actual route today:

The actual flight path of flight GA 89 today. Source: flightaware.nl

The actual flight path of flight GA 89 today. Source: flightaware.nl

The Food

English Breakfast On Board The Ferry

I decided to buy the English breakfast package on board the ferry when I booked the ferry ticket (so I would get a 20% discount 😛 ) for two reasons: (1) I always think a proper breakfast is super important to start a long day and (2) I LOVE English breakfast!! :mrgreen:

It was a buffet breakfast though so of course the quality of the food was just okay. It was good, but definitely not spectacular. But I still liked it anyway.

Buffet English breakfast!!

Buffet English breakfast!!

Brunch at Jamie’s Italian

At Gatwick Airport, as I had the time, I decided to stop by at Jamie’s Italian there to have brunch. It was still around 10 AM so they only had their breakfast menu. I did not go with the butties this time though, lol 😆 , but went for a more substantial one: Steak ‘N’ Eggs. And it was good.

At 11 AM, they started serving their normal menu so, as I still had some time, I ordered a bowl of polenta chips! After finishing it I was SOO full though, haha 😆

BAHASA INDONESIA

Sekitar satu setengah minggu yang lalu, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan ke London untuk menonton final Wimbledon tahun ini. Seperti cerita dari perjalanan akhir pekanku ke Paris untuk finalnya French Open tahun ini, cerita ini juga aku bagi ke dalam dua posting. Posting ini adalah yang pertama yang meng-cover bagian perjalanan yang tidak berkaitan dengan Wimbledonnya 🙂 .

Mari kita mulai saja…

***

Sebenarnya semua waktuku di London aku habiskan di Wimbledon sih, haha. Aku tiba di London Sabtu pagi, langsung pergi ke Wimbledon, baru keluar dari arenanya jam 9:30 malam, langsung menuju hostelku, tidur, bangun, berjalan kaki ke stasiun Waterloo untuk mengejar busku ke Gatwick, trus terbang kembali ke Belanda deh, haha. Jadilah posting ini pada dasarnya hanya akan melingkupi bagian perjalanan menuju/dari Londonnya aja deh 😛

Menuju London

Feri ke Harwich

Aku menaiki kereta menuju Hoek van Holland Haven, dimana kapal feri menyebrangi Selat Channel akan berangkat. Aku tiba disana sekitar jam 8:35 malam, check-in, melewati meja imigrasi, dan menaiki kapalnya, Stena Britannica. Btw, Stena Britannica adalah kapal yang besar loh:

Taking the ferry to cross the channel

Naik Stena Britannica

Ada tiga dek dengan kabin-kabin penumpang, satu dek untuk area publik dimana terdapat beberapa restoran, bar, kafe, ruang untuk internetan, bioskop, dll, dan juga beberapa dek untuk parkir kendaraan-kendaraan (umumnya sih mobil dan truk yang banyak disana). Karena aku menaiki perjalanan malamnya, aku juga harus memesan sebuah kabin di samping tiket kapal feriku. Jika sebelumnya aku memesan kabin yang agak keren dikit dengan jendela, kali ini aku memesan yang paling murah aja yang nggak ada jendelanya, haha 😛 .

Karena jadwal berangkatnya adalah jam 10 malam, aku sudah makan malam dulu sebelum berangkat. Jadi di kapal aku nggak perlu membeli makan malam lagi deh dan duduk-duduk pewe aja di barnya sambil minum segelas bir, haha. Kali ini, rasanya penumpangnya lebih banyak deh daripada perjalananku sebelumnya dengannya. Mungkin ini disebabkan sekarang ini adalah musim panas ya sementara perjalananku sebelumnya kan di bulan Februari yang dingin itu, haha. Dan karena lagi musim panas, aku masih bisa menikmati pemandangan di luar kapalnya loh setelah keberangkatan jam 10 malam itu. Lumayan seru juga.

Off to the sea!!!

Menerjang lautan!!!

Anyway karena tujuanku naik kapal feri ini adalah agar malam ini aku bisa beristirahat dengan nyenyak sebelum sebuah hari yang menyibukkan, tidak lama kemudian aku tidur deh. Aku tidur lumayan nyenyak malam itu, bangun jam 04:45 pagi (waktu Inggris). Kemudian aku mandi, sarapan (ini akan aku tulis di bagian akhir posting ini), dan mengepak barang-barangku. Btw, walaupun mereka baru membuka pintu kapalnya jam 06:30 pagi, sebenarnya kapalnya sudah mendarat di Pelabuhan Harwich sekitar jam 04:30 loh. Aku tahu ini soalnya kapalnya mengeluarkan suara yang menyebalkan gitu deh ketika sedang merapatkan diri ke pelabuhannya (tetapi kalau dipikir-pikir ini adalah alarm buat bangun yang efektif sih), haha. Kali ini karena belalai untuk penumpangnya Pelabuhan Harwich sedang direnovasi, mereka membawa kami (penumpang tanpa kendaraan pribadi) dengan bus dari dek parkiran kapal di dalam kapalnya ke gedung imigrasi di darat. Lumayan keren juga.

Harwich ke London

Singkat cerita aku melewati pemeriksaan imigrasi dan menaiki keretaku ke London yang berangkat jam 07:33 dari Stasiun Harwich. Aku harus transit sekali ding di Maningtree, tetapi secara keseluruhan ini adalah perjalanan dengan kereta api yang biasa-biasa saja. Aku tiba di Stasiun Liverpool Street di London sekitar jam 08:55. Oh iya, aku bisa menge-charge smartphone-ku di kereta loh, keren ya!

Reserved seat for me on the train from Maningtree to London Liverpool Street

Kursi yang sudah dipesan untukku dari Maningtree ke London Liverpool Street

Dari sana, aku langsung naik tube untuk pergi ke Wimbledon. Cerita dari Wimbledon akan aku tulis di posting bagian dua.

Kembali dari London

Aku memutuskan untuk naik penerbangan kebebasan kelimanya Garuda Indonesia, lagi, untuk kembali ke Belanda. Jadilah paginya aku harus bangun lumayan pagi (jam 06:30) untuk pergi ke Bandara London Gatwick. Aku menginap di sebuah hostel di dekat stasiun tube Borough di London sementara bus easyBus-ku ke Gatwick akan berangkat dari Stasiun Waterloo. Karena nampak nggak jauh, pagi ini aku memutuskan untuk berjalan kaki ke Waterloo, haha.

Another mocha coffee at Waterloo

Kopi mocha di Waterloo

Stasiun Waterloo cukup mudah dicapai dari hostelku dengan berjalan-kaki. Disana aku sarapan sedikit dengan kopi sebelum berjalan ke halte bus dimana busnya akan berangkat. Pagi ini aku mendapatkan pengemudi bus yang menyenangkan dan ramah banget (sebelumnya aku mendapatkan pengemudi yang mukanya cemberut dan agak kasar ke penumpang sampai-sampai ia menyinggung perasaannya seorang penumpang lain (aku bisa melihat ibu-ibu ini jengkel setengah mati, dan suaminya berusaha menenangkannya)). Anyway, kami berangkat tepat waktu jam 08:40 dan sekitar satu jam kemudian tiba di Bandara Gatwick.

Aku check in di konternya Garuda di Gatwick. Jika dua penerbangan Amsterdam – London pp-ku sebelumnya terisi sekitar 70% di kelas ekonomi, kali ini penerbangannya nyaris penuh loh. Tingkat keterisiannya setidaknya 95% lah menurut perkiraanku. Tetapi akibatnya, aku jadi tidak mendapatkan kursi jendela dong karena semuanya sudah penuh. Siaaal! 😦 Jadilah petugasnya memberiku kursi aisle; mendingan kan daripada kursi tengah tetapi aku masih lebih suka kursi jendela, haha.

Still on time on the screen though

Masih tepat waktu di layar

Aku tahu penerbangan ini akan terlambat (ceritanya aku sudah mengecek perkembangannya penerbangan GA88 dari Jakarta di Flightradar24) karena pesawatnya berangkat terlambat dari Jakarta. Aku duga sih ini diakibatkan erupsi Gunung Raung di Jawa Timur yang memaksa lima bandara (termasuk Bandara Ngurah Rai di Bali) ditutup waktu itu. Karena itu, aku tahu bahwa aku memiliki sedikit waktu ekstra sehingga aku pergi ke restoran Jamie Oliver di Gatwick untuk makan pagi yang agak benar sedikit, haha. Cerita makan paginya ada di akhir posting ini.

Setelah sarapan, aku membuang waktu di sebuah toko serba ada dan membaca-baca majalah tentang pesawat dan tenis, haha. Jam 12:10, gerbang keberangkatannya diumumkan dan aku berjalan ke gerbangnya, Gerbang 51. Eh, beruntung loh hari ini Garuda menggunakan Boeing 777-300ER yang belum pernah aku naiki sebelumnya: PK-GID. Jadilah logbook-ku semakin lengkap akibat perjalanan dadakan ini. Hore! Ini artinya sekarang, aku sudah pernah terbang dengan 4 dari 7 Boeing 777-300ERnya Garuda: PK-GIA (dua kali), PK-GIC, PK-GID, dan PK-GIE. Tiga yang lainnya adalah PK-GIF, PK-GIG, dan PK-GIH. Namun, kayaknya Garuda tidak akan menurunkan PK-GIH di rute Amsterdamnya sih karena PK-GIH dikonfigurasi dengan kursi lebih banyak dan padat.

A Garuda Indonesia's Boeing 777-300ER reg PK-GID

Sebuah Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia dengan registrasi PK-GID

Jam 12:40, penumpang diminta masuk pesawat dan aku menaiki penerbangan Garuda Indonesia GA89ku ke Amsterdam dengan PK-GID. Kami lepas landas dari landasan pacu 26L Bandara Gatwick. Ini adalah penerbangan biasa sih tetapi cuaca hari ini kurang bersahabat. Tanda kenakan sabuk pengaman dinyalakan agak lebih lama daripada biasanya ketika lepas landas karena kami harus bermanuver sedikit menghindari awan tebal di atas London pagi ini. Layanannya kurang lebih sama seperti penerbangan GA89-ku sebelumnya sehingga aku tidak akan menuliskan detailnya lagi. Hanya saja kali ini pramugari dan pramugaranya lebih sibuk karena penumpang yang lebih banyak 🙂 .

The FAs were busy on this flight. A 39 minutes flight with almost full economy class on a Boeing 777-300ER: BUSY!

Para pramugarinya sibuk sekali di penerbangan ini. Sebuah penerbangan singkat selama 39 menit dengan kelas ekonominya sebuah Boeing 777-300ER yang nyaris penuh: SIBUK!

Jam 3:25 sore, kami mendarat di landasan pacu 18R Bandara Schiphol di Amsterdam. Karena aku tidak duduk di jendela, aku tidak bisa merekam video pendaratannya deh 😦 . Lalu, setelahnya adalah sebuah proses rutin. Kami parkir di Gerbang G03, keluar dari pesawat, aku melewati meja imigrasi, dan kemudian naik kereta kembali ke Delft.

Btw berikut ini jejak rekam penerbangan ini hari ini:

The actual flight path of flight GA 89 today. Source: flightaware.nl

Jejak rekam penerbangan GA 89 yang sebenarnya hari ini. Sumber: flightaware.nl

Makanannya

Sarapan Inggris di Feri

Aku memutuskan untuk membeli paket sarapan Inggris di kapal ferinya ketika membeli tiketnya (lumayan karena didiskon sekitar 20%) karena: (1) sarapan yang benar itu penting ya sebelum memulai hari yang menyibukkan dan (2) aku SUKA BANGET sarapan ala Inggris!! :mrgreen:

Ini adalah sarapan buffet sih sehingga jelas kualitas makanannya standar saja deh. Enak sih, tetapi jelas tidak enak banget. Tetapi toh aku masih menikmatinya.

Buffet English breakfast!!

Sarapan Inggris buffet!!

Brunch di Jamie’s Italian

Di Bandara Gatwick, karena aku masih ada waktu, aku memutuskan mampir di Jamie’s Italian disana untuk brunch. Karena waktu itu masih sekitar jam 10 pagi, mereka baru menyediakan menu sarapannya aja. Aku tidak memesan butties kali ini, huahaha 😆 , tetapi memilih sebuah menu yang lebih berbobot: Steak ‘N’ Eggs. Dan keluarnya enak juga.

Jam 11 pagi, mereka mulai menerima pesanan menu normal mereka. Jadilah karena masih ada waktu, aku memesan satu porsi polenta chips! Dan setelah menyelesaikannya, aku jadi merasa kekenyangan deh, haha 😆 .

#1588 – A Spontaneous Weekend

ENGLISH

My Instagram followers (@azilko) would have known by now that this weekend I went to London to watch the final of the 2015 Wimbledon Championships. Yes, I was back in London just four weeks after my previous weekend trip to London in June, haha 😆 . I will not get to the story of this trip just yet with this post though, so stay tuned for that one. Instead, this post is more about the background behind this trip 🙂 .

If I called my previous weekend trip to London impromptu because I made the arrangement about one week before departing, then this trip was extremely impromptu. I departed on Friday evening (with a ferry ride, just like what I did last year 🙂 ) and I made the decision to go just on Friday morning!! 😯 Seriously!!

How so??

So, you know a Wimbledon ticket is the most extremely difficult ticket to get of all tennis tournaments in the world. And just on Friday morning, I was extremely lucky that I got a ticket for the Saturday’s event with the main event of the ladies’ singles final! And to make it even sweeter, by this time, I already knew who were going to play because the semifinals matches were held on Thursday. I knew I was going to watch: [1] Serena Williams vs [20] Garbiñe Muguruza. And you know I am a big fan of Serena Williams. On top of that, Serena was chasing history where if she won this match, she would win the “Serena Slam” (winning four consecutive grandslams but not in the same calendar year). So it was a super historic match and I got the opportunity to witness it live!! So without a doubt I decided to take it.

I would be lying if I had not, at least, given a thought about this trip before Friday. I mean, aside from the ticket, being in the Netherlands, I also had to consider the trip’s accommodation matter, like how to get there and back, where I would stay, etc. I mean, there was a budget constraint for me as well.

And for this, I found an optimal solution. As the match would be on Saturday morning, I would take the overnight ferry from Hoek van Holland in Rotterdam on Friday evening and I should arrive in London Saturday morning. This meant I only needed to stay one night in London (which I was able to find a cheap hostel room (for London standard)). It was also good because it meant I could work normally on Friday, haha. To go back to the Netherlands, I was able to found a promotion fare by Garuda Indonesia on Sunday. See, it was good!

Yeah, it was such a spontaneous weekend for me!! 🙂

As usual, here are a few teasers from the trip:

BAHASA INDONESIA

Followers-ku di Instagram (@azilko) tentunya sudah tahu bahwa akhir pekan kali ini aku pergi ke London untuk menonton finalnya Kejuaraan Wimbledon tahun 2015. Ya, aku kembali ke London hanya empat minggu setelah perjalanan akhir pekanku ke London Juni lalu, haha 😆 . Sekarang ini aku masih belum akan menceritakan perjalanan ini sih disini, jadi ditunggu aja deh ya. Posting ini berisi lebih ke cerita di balik layarnya 🙂 .

Jika perjalanan akhir pekanku ke London yang lalu itu aku sebut dadakan karena aku baru merencanakannya seminggu sebelum berangkat, artinya perjalanan yang kali ini super dadakan banget deh. Aku berangkat hari Jumat malam (naik kapal ferry, sama seperti tahun lalu 🙂 ) dan aku memutuskan untuk pergi itu hari Jumat paginya lho!! 😯 Beneran!!

Kok begitu??

Jadi tahu kan tiket Wimbledon itu amatlah sulit didapatkan daripada semua turnamen tenis lain di planet ini. Dan di hari Jumat pagi itu, aku beruntung banget dimana aku mendapatkan kesempatan untuk membeli tiket untuk hari Sabtunya dimana yang dijadwalkan di hari Sabtu adalah final tunggal putri! Dan yang lebih manis lagi, pada waktu itu, aku sudah tahu siapa yang akan bermain karena pertandingan semifinalnya dimainkan di hari Kamis. Jadi pada waktu membeli tiket aku tahu aku akan menonton: [1] Serena Williams vs [20] Garbiñe Muguruza. Dan tahu dong aku kan nge-fans banget sama Serena Williams. Dan lagi, Serena juga sedang mengejar sejarah dimana apabila ia menang, ia akan memenangi “Serena Slam” (memenangi empat grandslam berturut-turut tetapi tidak dalam satu tahun kalender). Jadi ini adalah pertandingan yang sangat bersejarah; dan aku berkesempatan menyaksikannya langsung! Jadilah tanpa ragu aku mengambilnya.

Bohong apabila aku belum, setidaknya, memikirkan tentang perjalanan ini sebelum Jumat. Maksudku, di samping tiketnya, karena aku di Belanda, aku harus memikirkan masalah akomodasinya tentunya, seperti misalnya bagaimana pergi ke sana dan kembalinya, menginap dimana, dll. Yaa, maklum lah ya, kan ada constraint budget juga bagiku, haha.

Dan untuk hal ini, aku menemukan sebuah solusi optimal. Karena pertandingannya bakal dimulai Sabtu pagi, aku akan berangkat dengan kapal ferry yang perjalanannya di malam hari dari Hoek van Holland di Rotterdam Jumat malam dan aku tiba di Inggris Sabtu pagi. Ini artinya aku hanya perlu menginap semalam saja dong ya di London (yang mana aku beruntung masih bisa menemukan satu hostel murah (untuk ukuran London)). Ini bagus juga karena artinya di hari Jumat aku bisa bekerja seperti biasa, haha. Untuk kembali ke Belanda, aku juga menemukan tiket promonya Garuda Indonesia loh di hari Minggu. Nah kan, semuanya oke deh!

Ya, begitulah. Akhir pekan yang lalu sungguh merupakan akhir pekan yang amat spontan bagiku!! 🙂

Seperti biasa, di atas adalah sedikit teaser dari perjalanan ini 🙂 .

#1587 – 2015 Wimbledon Championships

ENGLISH

Earlier today, the third grandslam tournament of the year, the 2015 Wimbledon Championships, was concluded. As usual, here is a short review about it.

Ladies’ Singles

Prior to the tournament, all eyes were on Serena Williams. After winning the singles titles of the 2014 US Open, 2015 Australian Open, and 2015 French Open, she had an opportunity to complete what was called a “Serena Slam 2.0”. This means winning four consecutive grandslam tournaments but not in the same calendar year. And “2.0” means it would be the second time that Serena would have done it. She first did it 12.5 years ago (yes, twelve and a half YEARS ago) in 2002/2003 when she won the 2002 French Open, 2002 Wimbledon, 2002 US Open, and 2003 Australian Open. Btw, in those four finals in 2002/2003, she beat Venus Williams in all of them.

Talking about the pressure of creating history, eh?

When the draw came out, I felt a bit sad because the 16th seed, Venus Williams, was put on the same bracket as Serena, meaning they could potentially meet in the Round of 16 (fourth round); which they did. Nevertheless, Serena was able to overcome her packed half to reach another final. She beat local favorite, Heather Watson, in the third round, Venus Williams in the fourth round, Victoria Azarenka in the quarterfinals, and Maria Sharapova in the semifinals. Meanwhile the other half of the draw fell apart, leaving a widely open path to the final. Garbine Muguruza, the 20th seed, advanced to her first ever grandslam final.

The final went quite dramatic where Serena started nervous and immediately fell behind. She fought back though, clawed her way back in, won the first set, and led 5–1 in the second. Then she got nervous again and Muguruza clawed back. But the lead was already too wide that it was too late for Muguruza’s final fight. Serena won the match, her 6th Wimbledon singles title, her 21st grandslam singles title, and her second Serena Slam.

Wow!!

That is legendary stuff from a legendary tennis player!! Congratulations Serena Williams!!

Gentlemen’s Singles

Same old, same old story with the men’s side where it is a bit difficult to see someone outside of the Big Four to lift the trophy in the end (except that probably Rafael Nadal was a little bit out of the question this year while Stan Wawrinka was a little bit more).

One of the biggest stories was probably Rafael Nadal’s four consecutive early loss at Wimbledon to someone ranked with three-digits. In 2012, he lost in the second round to the 100th ranked Lukas Rosol; in 2013 he lost in the first round to the 135th ranked Steve Darcis; and in 2014 he lost in the fourth round to the 144th ranked Nick Kyrgios. This year, he lost in the second round to the 102th ranked Dustin Brown.

Anyway, in the end Novak Djokovic and Roger Federer made the final, thus repeating the final from last year. The match went tight especially in the first two set. In the third and fourth set, Djokovic was able to gain some advantage so he could close it out in four sets, defending his title and winning his third Wimbledon title.

Congratulations Nole!!

Serena Williams completed her 2nd Serena Slam with her 6th Wimbledon title. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images Europe

Serena Williams completed her 2nd Serena Slam with her 6th Wimbledon title. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images Europe

Novak Djokovic won his 9th grandslam title with his 3rd Wimbledon triumph. Photo credit:  Julian Finney/Getty Images Europe

Novak Djokovic won his 9th grandslam title with his 3rd Wimbledon triumph this year. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Hari ini, turnamen grandslam ketiga tahun ini, Kejuaraan Wimbledon 2015, berakhir. Seperti biasa, berikut ini review-ku akan turnamen ini.

Tunggal Putri

Semua mata tertuju pada Serena Williams. Setelah menjuarai gelar tunggal putri di 2014 US Open, 2015 Australian Open, dan 2015 French Open, ia memiliki sebuah kesempatan unik untuk melengkapi apa yang disebut sebagai “Serena Slam 2.0”. Ini artinya adalah memenangi keempat turnamen grandslam berturutan tetapi tidak di tahun kalender yan sama. Dan “2.0” artinya ini akan menjadi kali kedua Serena melakukannya. Pertama kali ia sukses melakukan ini 12,5 tahun yang lalu (iya, dua belas setengah TAHUN yang lalu) di tahun 2002/2003 dimana ia menjuarai 2002 French Open, 2002 Wimbledon, 2002 US Open, dan 2003 Austalian Open. Btw, di keempat final itu di tahun 2002/2003, di semuanya ia harus melawan Venus Williams loh.

Ngomongin tentang tekanan untuk membuat sejarah bukan?

Ketika hasil undiannya keluar, aku merasa sedikit sedih bahwa unggulan ke-16, Venus Williams, berada di bracket yang sama dengan Serena, artinya mereka bisa bertemu di babak 16 besar (babak keempat), yang mana mereka beneran bertemu. Walaupun begitu, Serena mampu mengatasi undian yang sangat berat untuknya dimana ia akhirnya mencapai babak fial. Ia harus mengalahkan petenis lokal yang banyak didukung penonton, Heather Watson, di babak ketiga, Venus Williams di babak keempat, Victoria Azarenka di babak perempat final, dan Maria Sharapova di babak semifinal. Sementara itu, di setengah undian yang lain, undiannya kacau balau, dimana sisi ini adalah sisi yang amat terbuka bagi siapa pun untuk lolos ke final. Dari sisi ini, Garbine Muguruza, unggulan ke-20, berhasil masuk ke final grandslam pertamanya.

Finalnya berlangsung cukup dramatis dimana Serena memulainya dengan gugup sehingga ia langsung tertinggal. Ia kemudian melawan balik, berjuang keras, memenangi set pertama, dan unggul 5–1 di babak kedua. Ia lalu grogi lagi dan Muguruza berjuang balik. Tetapi Muguruza sudah tertinggal terlalu banyak sehingga perjuangannya sedikit terlambat. Serena memenangi pertandingannya, gelar tunggal Wimbledon ke-6nya, gelar tunggal grandslam ke-21nya, dan Serena Slam keduanya.

Wow!!

Ini adalah sebuah pencapaian legendaris dari seorang petenis legendaris!! Selamat Serena Williams!!

Tunggal Putra

Cerita untuk sisi putra masih cerita lama yang diulang-ulang terus: sulit melihat seseorang di luar Big Four untuk mengangkat tropinya di akhir turnamen (kecuali mungkin Rafael Nadal agak cenderung kurang difavoritkan tahun ini sementara Stan Wawrinka sedikit lebih difavoritkan).

Satu cerita terbesar tahun ini mungkin adalah kekalahannya Rafael Nadal di babak-babak awal empat kali berturutan di Wimbledon dari seseorang yang berperingkat tiga digit. Di tahun 2012, ia kalah dari Lukas Rosol di babak kedua yang berperingkat 100; di tahun 2013 ia kalah dari Steve Darcis di babak pertama yang berperingkat 135; dan di tahun 2014 ia kalah dari Nick Kyrgios di babak keempat yang berperingkat 144. Tahun ini, ia kalah di babak kedua dari Dustin Brown yang berperingkat 102.

Anyway, pada akhirnya Novak Djokovic dan Roger Federer masuk ke final, mengulangi final tahun lalu. Pertandingan berlangsung ketat terutama di dua set pertama. Di set ketiga dan keempat, Djokovic berhasil mendapatkan keuntungan sehingga ia bisa mengakhiri semuanya dalam empat set, mempertahankan gelarnya, dan memenangi gelar Wimbledon ketiganya.

Selamat Nole!!

#1412 – 2014 Wimbledon Championships

ENGLISH

Today, the third grandslam tournament of the year, the Wimbledon Championships, was concluded. As usual, here is a review and some of my takes on it.

Ladies’ Singles

The ladies’ singles was, as usual, very open. Even though Serena Williams was (still) the favorite coming to the tournament, she hadn’t been performing well in the grandslam this year. So she wasn’t as a heavy favorite coming to this tournament as last year.

In the end, the ladies’ singles draw fell apart once again. Serena Williams lost in the third round to Alize Cornet; in a match which, in my opinion, was strange because Serena was not herself in the second and third set by playing so passively. She was brilliant in the first set though, dominating the match which was the reason why she won it handily 6–1. So that is why I (still) do not understand why suddenly she “changed” this in the second and third (which ultimately cost her the match). Maria Sharapova lost in the fourth round to Angelique Kerber; Li Na lost in the third round as well. The best match of the tournament, in my opinion, was between the 2011 champion, Petra Kvitova, and the five time Wimbledon champion, Venus Williams. Too bad it had to happen in the third round. It was a high-quality match throughout, and in the end Kvitova won 5–7, 7–6(2), 7–5.

In the end, Petra Kvitova reached her second Wimbledon and grandslam final, where she would face a young rising Canadian, Eugenie Bouchard. Bouchard has been quite consistent this year, reaching the semifinals of the Australian Open and French Open as well (though, arguably, she also profited a little bit from her open draw; but nevertheless, she still did her job, which was winning these matches 🙂 ). Anyway, in the final, Kvitova played magnificently and showed that at the moment, she was in a different class than Bouchard. In the end, Kvitova won her second Wimbledon and grandslam title after beating Bouchard 6–3, 6–0 in just 55 minutes.

Gentlemen’s Singles

Andy Murray was the defending champion and he came to this tournament having just appointed Amelie Mauresmo as his coach; a decision which was quite controversial in the sense that Amelie is a woman (I mean, come on people. Does gender really matter? 🙄 ). He performed very well in the first week but lost to Grigor Dimitrov in the quarterfinals. Rafael Nadal also had a bad Wimbledon for the third straight time, failing to reach the quarterfinals after losing in four sets to a young rising player from Australia, Nick Kyrgios.

But in the end, the Big Four still pretty much showcased their dominance, where Novak Djokovic and Roger Federer reached the final. The final was an exciting match; and it offerred some drama as well. Djokovic was up 5–2 in the fourth set where he was already 2 sets up. He was serving for the match at 5–3 but then got broken, and at 5–4 on Federer’s serve, he got a championship point; which Federer saved with an ace. Federer won five games in a row in that set and sealed it 7–5! Djokovic also called the trainer early in the fifth set. But in the end, he was able to hang in there and finally won the match 6–7(7), 6–4, 7–6(4), 5–7, 6–4 to claim his second Wimbledon title.

Petra Kvitova won her second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Pool/Getty Images Europe

Petra Kvitova won her second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Pool/Getty Images Europe

Novak Djokovic won his second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Al Bello/Getty Images Europe

Novak Djokovic won his second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Al Bello/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Hari ini, turnamen grandslam ketiga tahun ini, Kejuaraan Wimbledon, telah selesai. Seperti biasa, berikut ini review singkatku beserta pendapatku tentangnya.

Tunggal Putri

Tunggal putri, seperti biasa, sangat terbuka tahun ini. Walaupun Serena Williams (masih) yang paling difavoritkan, sejauh ini tahun ini ia masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan di turnamen-turnamen grandslam. Jadi ia tidak difavoritkan dengan amat berat di turnamen ini, tidak seperti tahun lalu.

Pada akhirnya, sisi tunggal putrinya benar-benar terbuka lagi. Serena Williams kalah di babak ketiga dari Alize Cornet; di sebuah pertandingan yang, menurutku, sangat aneh karena Serena tidak seperti dirinya sendiri di set kedua dan ketiga dimana ia bermain dengan amat pasif. Ia bermain dengan brilian di set pertama sih, sehingga bisa memenanginya dengan mudah 6–1. Makanya aku (masih) belum mengerti mengapa kok tiba-tiba ia “mengubah” permainannya di set kedua dan set ketiga itu yang mana akhirnya mengakibatkan ia kalah. Maria Sharapova kalah di babak keempat dari Angelique Kerber; dan Li Na kalah di babak ketiga juga. Pertandingan terserunya sendiri, menurutku, sih antara juara tahun 2011, Petra Kvitova, dan juara Wimbledon lima kali, Venus Williams. Sayang banget pertandingan klasik ini harus terjadi di babak ketiga. Kualitasnya sungguh tinggi di sepanjang pertandingan, dan pada akhirnya Kvitova menang tipis 5–7, 7–6(2), 7–5.

Pada akhirnya, Petra Kvitova mencapai babak final Wimbledon dan grandslam keduanya, dimana ia akan bermain melawan pemain muda dari Kanada, Eugenie Bouchard. Bouchard sendiri telah tampil cukup konsisten tahun ini, dimana ia juga mencapai babak semifinalnya Australian Open dan French Open juga (walaupun bisa dikatakan ia beruntung sih karena sisi undiannya terbuka lebar; tetapi walaupun begitu toh hanya ia yang mampu meyelesaikan tugasnya, yaitu bermain dan terus menang 🙂 ). Ngomong-ngomong, di final, Kvitova bermain dengan amat luar biasa dan menunjukkan pada waktu itu bahwa ia berada di kelas yang berbeda dari Bouchard. Pada akhirnya, Kvitova memenangi gelar Wimbledon dan grandslam keduanya dengan mengalahkan Bouchard 6–3, 6–0 hanya dalam waktu 55 menit.

Tunggal Putra

Andy Murray adalah juara bertahan dan ia masuk ke turnamen ini dengan baru saja menunjuk Amelie Mauresmo sebagai pelatihnya; sebuah keputusan yang cukup kontroversial karena Amelie adalah seorang wanita (Duh, plis deh ya masak zaman sekarang hal beginian masih dipermasalahkan sih? 🙄 ). Ia bermain dengan amat baik di minggu pertama tetapi kemudian kalah dari Grigor Dimitrov di perempat final. Rafael Nadal juga mengalami Wimbledon yang buruk untuk ketiga tahun berturut-turut dimana ia kalah sebelum perempat final. Kali ini ia kalah dalam empat set dari pemain muda asal Australia, Nick Kyrgios.

Toh pada akhirnya, Big Four di tenis putra masih menunjukkan dominasinya, dimana Novak Djokovic dan Roger Federer berhasil menembus putaran final. Finalnya berlangsung amat seru; dan ada dramanya juga loh. Djokovic sebenarnya unggul 5–2 di set keempat dimana ia sudah memenangi 2 set. Ia memegang servis untuk memenangi pertandingan di posisi 5–3 tetapi servisnya dipatahkan, dan di posisi 5–4 di servisnya Federer sebenarnya ia mendapatkan sebuah championship point; yang mana diselamatkan Federer dengan sebuah pukulan ace. Federer memenangi lima games berturut-turut di set keempat itu dan memenanginya 7–5! Djokovic juga memanggil trainer di awal set kelima. Tetapi pada akhirnya ia mampu bertahan disana dan akhirnya menang 6–7(7), 6–4, 7–6(4), 5–7, 6–4 untuk merebut gelar Wimbledon keduanya.

#1408 – From World Cup and Wimbledon to KLM

ENGLISH

Okay so this week has been quite an interesting week for me. Well, interesting in the sense that both the 2014 FIFA World Cup and the 2014 Wimbledon Championships are underway at the same time! Hahaha 😛 . Well, okay, not actually at the same time as if they are overlapping though; as this way it would have been much less of a problem because then I would have had to choose which one I wanted to watch more. But the problem is that because of the time difference (Wimbledon is in London while the World Cup is in Brazil; in case you live in a cave and don’t know this information 😆 ) they are aired pretty much back to back. So there exists an option for me to watch all of them. And this is super bad especially, well, because I also have to work! Hahaha 😛 But at least so far I have been doing quite a good job though by being selective on what to watch and what I can skip.

Speaking of the World Cup, earlier this week when the Netherlands was playing against Chile, KLM had this offer that for every goal the Dutch team made, they would reduce the return price ticket from Amsterdam to Santiago (Chile) by €100 from the normal price of €895 with a maximum of 6 goal! 😯 So if the Dutch team scored 6 or more goals, the ticket price would be reduced to just €295!! Not bad for a 10 hours and 20 minuts flight one way, is it? 😛

Seriously, this was an attractive offer though because with an Indonesian passport, one does not need a visa to go to Chile! Hahaha 😆 . Well, okay, just to be safe, this statement needs to be cross-checked first but at this time in 2014, according to the information in the internet, this seems to be true. Anyway, but then the Dutch team “only” scored two goals (they won 2–0) so the discount was just €200 to make it €695. Well, with this price, I can live with missing this offer, haha 😛 .

Speaking of KLM, if last year they decided to charge non-Flying Blue (their frequent flyer program) passengers for every checked-in luggage in their European flight, a few weeks ago I got an email that they would start charging the Ivory level members (the lowest level in the Flying Blue tier system) as well later on this year, even though only half of what they charge the non-frequent-flyer passengers.

If at that time I found it strange, now I, naturally, find it even stranger, haha 😆 . I mean, seriously, the Ivory members are frequent-flyer members!! Even though I understand that this may be because of the crisis and also the charge is not that much, but still 😆 .

BAHASA INDONESIA

Minggu ini telah menjadi minggu yang menarik untukku. Menarik dalam artian Piala Dunia 2014 dan Kejuaraan Wimbledon 2014 berlangsung pada waktu yang sama! Hahaha 😛 . Eh, maksudku, bukan artinya keduanya dimainkan pada jam yang sama sih; karena kalau begini justru akan lebih tidak bermasalah karena aku hanya harus memilih salah satunya saja yang mana yang lebih ingin aku tonton. Masalahnya adalah justru karena perbedaan zona waktu (Wimbledon di London dan World Cup di Brazil; seandainya ada yang tinggal di gua dan nggak tahu informasi ini, haha 😛 😆 j/k), penayangannya berturutan dong. Jadi tersedia pilihan untukku untuk menonton keduanya. Dan tentu saja ini buruk karena tentu saja aku harus bekerja juga ya! Hahaha 😛 . Tetapi untungnya sejauh ini aku berhasil mengontrol diriku sih untuk selektif akan apa yang aku tonton dan apa yang bisa aku lewatkan.

Ngomongin Piala Dunia, awal minggu ini ketika Belanda bermain melawan Chili, KLM membuat penawaran dimana setiap gol yang dibuat oleh tim Belanda, mereka akan memberikan potongan harga €100 loh untuk rute penerbangan Amsterdam ke Santiago, Chili pp dari harga normalnya €895 dengan maksimum 6 gol! 😯 Jadi kalau tim Belanda membuat 6 gol atau lebih, harga tiketnya menjadi €295 saja!! Wah harganya lumayan banget kan ya itu untuk penerbangan sepanjang 10 jam 25 menit sekali jalan?

Bener loh, penawaran ini menarik karena dengan paspor Indonesia kan tidak perlu visa untuk pergi ke Chili! Hahaha 😆 . Oke, demi amannya, sebaiknya informasi ini dicek sekali lagi deh tetapi setidaknya saat ini di tahun 2014, berdasarkan informasi yang beredar di internet, sepertinya ini benar. Nah, akhirnya tim Belanda “hanya” membuat dua gol saja (mereka menang 2–0) jadi potongan harganya sebanyak €200 sehingga harga tiketnya €695. Yah, dengan harga segini sih, aku nggak masalah deh kalau aku melewatkannya saat ini, haha 😛 .

Ngomongin KLM, jika tahun lalu mereka memutuskan untuk memberikan tambahan biaya ke penumpang non-Flying Blue (program frequent flyer-nya mereka) untuk setiap bagasi yang mereka bawa di penerbangan dalam Eropa, beberapa waktu lalu aku mendapatkan email dari mereka dimana mereka juga akan mulai memberikan tambahan biaya ini ke member berlevel Ivory (level terendahnya dalam sistem tier-nya Flying Blue) nanti di tahun ini, walaupun besarnya tambahan biayanya hanya sebesar setengahnya yang mereka kenakan ke penumpang non-Flying Blue.

Jika pada waktu itu aku merasa aneh, sekarang, nggak heran, tentu aku merasa ini lebih aneh lagi, haha 😆 . Maksudku, serius deh, member level Ivory kan pelanggan frequent-flyer gitu!! Memang sih sekarang ini lagi krisis dan besarnya pun nggak seberapa, tetapi tetap aja lah ya 😆 .