#2128 – A Long Weekend in Budapest (Part III: Pest)

ENGLISH

Posts in the Long Weekend in Budapest series:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Accross the Danube River from Buda (See Part I) is Pest, one half of the city which makes up Budapest. As I previously mentioned, Buda and Pest are very different from each other and have different “personality”.

Buda and Pest were connected by this Chain Bridge.

For one, unlike the hilly Buda, Pest was flat, just like the Netherlands, haha 😛 . And unlike Buda with its “imperial” vibe, Pest was the complete opposite where it felt much more “populous”. It almost felt like if Budapest was the capital of a kingdom, Buda was where the monarchy lived while Pest was where the people lived.

I stayed at a hotel in Pest on this trip; and so my first impression of Budapest was, naturally, from Pest (As I arrived in the late afternoon so I first went to the hotel from the airport). The populous vibe of Pest immediately reminded me of Bucharest; where the buildings looked “dull” and not “as well-preserved” as, say, Western Europe in general.

A bulding in Pest

Though, in a way this screamed “Eastern European”, perhaps, haha… . Having said that, it felt like that Pest was actually where the “life” of Budapest was as I saw more locals there than in Buda which was flocked by a lot of tourists, haha 😆 .

But this did not mean that there was nothing to see for tourists in Pest. For once, the beautiful Parliament Building was located on the Pest-side of the Danube. Though, this would mean that one could enjoy the building from the Buda side 😛 . And also, the beautiful Heroes Square, which was the one place in Budapest I had been wanting to go to for some reasons, was in Pest.

Budapest selfie at the Heroes Square

In reality the Heroes Square was, somehow, much smaller than what I imagined, though. It was also very touristy but I expected this. Nonetheless, it was still very pretty! According to the map, there was a large garden beyond the square with several interesting (old) buildings, but unfortunately I didn’t have the time to explore this part of Pest. Perhaps for the next time then… .

Being where the “life” of the city was, Pest was also the location of many great restaurants. Though I didn’t do any research on this front, it felt to me like the restaurants in Pest looked much more inviting than those in Buda. Speaking of the food…

Hungarian Food

Even though I didn’t research any restaurants, I did look for some information of some must-try Hungarian dishes before I left. On this front, I found out that Hungary had its own interpretation of “goulash”. And there were two “versions” of it, one was in the form of a soup, called “gulyas”, and the other was more like the “regular” goulash we would think of, called pörkölt. Of course I was intrigued by both and I came to Budapest with the intention of trying both, haha 😆 .

A Hungarian veal pörkölt with some dumplings.

Both dishes turned out to be good. The gulyas wasn’t very “heavy”, which I liked from a soup. The pörkölt was also nice and was served with some egg dumplings.

I also saw a lot of street foods in Budapest. Though, to be honest I am not really a fans of “street food” (As, to me, it doesn’t represent the best value of money in general, haha 😆 (I, for one, much prefer to sit when I eat)). But I have to say that a lot of those looked good. The range was also really wide from the savoury spectrum to the snack/side-dish spectrum to the dessert spectrum. So if you love street food, I would say you would like Budapest!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Long Weekend in Budapest:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Di seberang Sungai Danube dari Buda (Baca Bagian I) adalah Pest, setengah dari apa yang membentuk kota Budapest. Seperti yang kusebutkan sebelumnya, Buda dan Pest adalah dua bagian yang sangat berbeda satu sama lain, yang juga memiliki “personality” yang amat berlainan.

Buda dan Pest dihubungkan oleh Jembatan Rantai (Chain Bridge) ini.

Pertama-tama, nggak kayak Buda yang berbukit-bukit, Pest itu rata, kayak Belanda dah, haha 😛 . Dan tidak seperti Buda yang memiliki aura “imperial”, Pest terasa amat berkebalikan dimana auranya terasa sangat “merakyat”. Rasanya seperti andaikata Budapest adalah ibukota dari suatu kerajaan, Buda adalah lokasi istana kerajaannya berada sementara Pest adalah lokasi dimana rakyatnya tinggal.

Aku menginap di sebuah hotel di Pest di perjalanan ini; dan jadilah kesan pertamaku akan Budapest datang dari Pest ini (Karena aku tiba di sore hari, jelas tujuan pertamaku setelah tiba dari bandara adalah hotelku). Aura merakyatnya mengingatkanku akan Bucharest; dimana bangunan-bangunannya nampak “kusam” dan tidak “seterawat” bangunan-bangunan di Eropa Barat.

Sebuah bangunan di Pest

Walaupun begitu, di satu sisi ini justru adalah ciri khas dari Eropa Timur sih ya, mungkin, haha… . Walaupun begitu, justru di Pest lah denyut nadi kehidupan di Budapest-nya terasa dimana aku melihat banyak warga setempat. Tidak seperti Buda yang diserbu oleh banyak sekali turis, haha 😆 .

Tapi ini bukan berarti tidak ada yang menarik bagi turis di Pest sih. Pertama-tama, Gedung Parlemen yang kece itu berlokasi di sisi Pest di tepian Sungai Danube. Walaupun ini juga berarti gedungnya bisa kita nikmati juga dari sisi Buda di seberang sungai, haha 😛 . Dan juga, Heroes Square yang kece itu, yang mana merupakan satu lokasi di Budapest yang ingin sekali aku kunjungi, berada di Pest.

Budapest selfie di Heroes Square

Pada kenyataannya, Heroes Square ternyata berukuran lebih kecil daripada apa yang aku bayangkan, haha. Lokasinya juga ramai dengan turis tapi ini sudah aku sangka sih. Walaupun begitu, masih cantik kok! Menurut peta, ada sebuah taman yang besar di belakang square-nya dengan beberapa bangunan (tua) yang kayaknya menarik, tapi sayangnya aku tidak memiliki cukup waktu untuk mengeksplor bagian dari Pest ini. Mungkin di lain kesempatan ya… .

Yang namanya dimana denyut nadi kehidupan kotanya berada, Pest juga lah lokasi dari banyak restoran yang kece-kece. Walaupun sebenarnya aku tidak melakukan riset akan topik ini, rasanya untukku restoran-restoran di Pest nampak lebih mengundang daripada di Buda. Ngomongin makanan nih…

Masakan Hungaria

Walaupun aku sama sekali tidak meriset restoran, aku sempat mencari-cari informasi mengenai masakan Hungaria yang patut dicoba. Nah, jadilah aku baru tahu bahwa Hungaria memiliki interpretasi uniknya akan “goulash”. Ada dua “versi” sih, yang pertama adalah versi sup, yang disebut “gulyas”, dan yang lainnya berpenampilan seperti goulash “reguler” yang disebut pörkölt. Tentu saja aku penasaran dengan keduanya dan aku datang ke Budapet dengan keinginan untuk mencobanya, haha 😆 .

Sebuah pörkölt daging sapi ala Hungaria dengan dumplings.

Dan keduanya memang enak kok. Gulyasnya tidak terasa “berat”, yang mana merupakan karakteristik yang aku suka dari yang namanya sup. Pörkölt-nya juga enak yang mana disajikan dengan egg dumplings.

Aku juga melihat ada banyak street food yang dijajakan di Budapest. Tapi, sejujurnya, aku bukanlah fans dari “street food” (Karena, untukku, ini tidak memberikan nilai yang maksimal dari harga yang pada umumnya ditawarkan, haha 😆 (Aku, misalnya, lebih suka untuk duduk ketika makan)). Tapi harus aku bilang bahwa memang nampak menarik kok. Pilihannya pun beragam sekali mulai dari spektrum savoury ke spektrum camilan/makanan ringan ke spektrum pencuci mulut. Jadi kalau kamu suka street food, aku rasa kamu bakalan suka Budapest!

Advertisements

#2122 – A Long Weekend in Budapest (Part I: Buda)

ENGLISH

Posts in the Long Weekend in Budapest series:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

The Danube River flows from north to south and splits the Hungarian capital into, basically, two parts. The western part is a region called “Buda” while the eastern part is another region called “Pest”, hence the city’s name, “Budapest”. The two parts have very different characteristics and personality, which makes Budapest really interesting. I will start this series with Buda 😀

Buda and Pest were connected by this Chain Bridge.

One glaring characteristic of Buda was that it was very hilly. It also had this “imperial” vibe because the Buda Castle district, which was a palace and a castle complex, was located there. The district was located on top of the Castle Hill. To get up to the district, one could, of course, hike up; but I decided to go with the more convenient option of taking the funicular! I mean, I planned on taking some selfies up there so I did not want to be all sweaty when I was at the top! Haha 😆 .

The Budapest funicular

I found the castle really unique because, unlike any other castles/palaces I have been to, there was an open market in the complex! And not just a market with stalls, but also some performers as well! There were a group of young people playing some live classical music, some dance performance, and a group of orchestra too! Unsurprisingly the complex was also very busy at the time of my visit. And so the uniqueness. The complex radiated this “imperial” vibe through its buildings but the people made it feel more “populous”! Haha 😛 .

An open market at Buda Castle

My favorite part of the complex was definitely the Fisherman’s Bastion, a terrace with neo-Gothic and neo-Romanesque style which made the Buda “Castle” name really proper, IMO. This building was relatively new in comparison to the other parts of the complex so indeed it looked “cleaner” and, overall, somehow felt “more modern”. What made me love it was the amazing design of the Bastion, which consisted of seven towers which I would associate with a castle! 😀 It was really, really beautiful!

Budapest, not a Disneyland castle

Being on top of a hill, naturally one would find a great view of Budapest from the complex. Well, more like the flat Pest district across the river and also the much calmer and residential western part of Buda. This district was also the location of the Saint Matthias Church which roof had really unique, colorful, and beautiful pattern! 😀

The Saint Matthias Church and its beautiful roof, don’t you think so?

The Castle Hill wasn’t the only hill in Buda. Next to it was the Gellért Hill which was much more “green” than the Castle Hill. Though, there were also some structures, including the Citadella and the Liberty Statue of Budapest. At first I planned to hike up this hill as well but I changed my mind after visiting the Castle Hill and due to the heat which made me not feel like hiking, haha 😆 .

Budapest is seriously pretty

Buda was more than just the hills and the residential area. Its part alongside the Danube River was also very beautiful with great path for pedestrians to enjoy the city. If you didn’t feel like walking, trams ran alongside the river too.

So yeah, all in all, I loved Buda. It felt touristic, true, but there was a reason for that. This was because Buda was indeed very beautiful! 🙂

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Long Weekend in Budapest:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Sungai Danube mengalir dari utara ke selatan membelah ibukota Hungaria ini menjadi dua bagian. Bagian baratnya adalah daerah yang bernama “Buda” sementara bagian timurnya adalah daerah lain yang bernama “Pest”, jadilah nama kotanya “Budapest”, haha. Dua bagian kota ini memiliki karakteristik dan sifat yang sangat berbeda, yang membuat Budapest sungguh menarik. Seri ini akan aku mulai dengan Buda 😀 .

Buda dan Pest dihubungkan oleh Jembatan Rantai (Chain Bridge) ini.

Satu karakteristik dari Buda dalah daerahnya berbukit-bukit. Daerahnya juga memiliki aura “imperial” karena distrik Kastil Buda, yang mana sebuah kompleks istana dan kastil, berlokasi di sini. Distrik ini berlokasi di atas Bukit Kastil. Untuk naik ke atas, jelas aja kita bisa berjalan-kaki; tapi aku sih memilih untuk naik alat transportasi yang lebih nyaman yaitu funicular! Jadi kan aku berencana foto-foto ya dari atas bukitnya jadi jelas dong aku ogah untuk berkondisi berkeringat akibat baru saja berjalan-kaki menaiki bukit ketika saatnya foto-foto! Haha 😆

Funicular di Budapest

Bagiku kastilnya terasa amat unik karena, tidak seperti kastil-kastil/istana-istana lain yang pernah kukunjungi, ada pasar terbukanya dong di kompleksnya! Dan nggak cuma pasar dengan para pedagang saja, tapi ada juga beberapa performers yang tampil! Ada satu grup anak muda yang bermain musik klasik live, penampilan tarian tradisional, dan juga bahkan ada satu grup orkestra segala lho! Tidak mengherankan kompleks ini ramai banget ketika aku berkunjung. Jadilah keunikan yang kusebutkan di atas kan. Kompleksnya sebenarnya memancarkan aura “imperial” melalui bangunan-bangunannya tetapi aktivitas dan keramaian manusianya membuat kompleksnya juga terasa “merakyat” sekali! Haha 😛 .

Sebuah pasar terbuka di Kastil Buda

Bagian favoritku dari kompleksnya adalah Benteng Nelayan (Fisherman’s Bastion), sebuah teras yang bergaya neo-Gothic dan neo-Romanesque yang membuat nama “Kastil” Buda ini sungguh cocok, menurutku. Bangunannya sendiri relatif baru jika dibandingkan dengan bagian-bagian lain dari kompleksnya sehingga memang nampak “lebih bersih” dan, secara umum, terasa “lebih modern”. Yang aku suka adalah disainnya, yang terdiri dari tujuh menara yang bentuknya sungguh aku asosiasikan dengan yang namanya kastil! 😀 Indah banget!

Budapest, bukan kastil Disneyland

Berdiri di atas bukit, jelas kita bisa melihat pemandangan Budapest yang kece banget dari kompleksnya. Eh, lebih ke distrik Pest yang datar di seberang sungai dan area perumahan di sisi baratnya Buda ding. Distrik ini jugalah lokasi dari Gereja Saint Matthias yang memiliki atap yang unik, berwarna-warni, dan berpola kece banget! 😀

Gereja Saint Matthias dengan atapnya yang indah, bukankah demikian?

Bukit Kastil bukan lah satu-satunya bukit di Buda. Di sebelahnya terdapat Bukit Gellért yang “lebih hijau” daripada Bukit Kastil. Eh, tapi ada beberapa bangunan juga sih di atasnya, termasuk Citadella dan Patung Liberty-nya Budapest. Awalnya aku berencana untuk menaiki bukit ini juga tetapi akhirnya rencana ini aku batalkan setelah kunjunganku ke Bukit Kastil dan karena panasnya hari itu yang membuatku malas berjalan-kaki mendaki bukit sambil berpanas-panasan, haha 😆 .

Budapest yang beneran indah banget

Buda itu lebih daripada sekedar bukit-bukit dan area perumahannya. Bagiannya di tepian Sungai Danube juga indah sekali dengan jalanan untuk pejalan-kaki menikmati kotanya. Kalau malas berjalan-kaki, tram juga berjalan menyusuri sungainya juga.

Jadi ya, secara umum, aku suka sekali dengan Buda. Memang sih terasa “turistik” sekali, tapi ada alasannya. Yaitu karena memang Buda itu sungguh indah! 🙂

#2121 – A Tennis Weekend Story

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

So the main draw of this year’s French Open started about two weeks ago, which means this weekend was, finally, the time for my annual trip to Paris for the tournament this year. Yeay!! 😀

At Court Philippe Chatrier again this year

As my ticket this year was for Philippe Chatrier on Saturday, I would get the women’s singles final and men’s doubles final. The “fun” thing was that these two events were, perhaps, the most “unpredictable” ones of all based on the current dynamic of professional tennis. In other words, when the tournament started it was very difficult to predict which players I would watch in both finals! Haha 😆 .

At last Simona Halep won a grandslam title!

In the end, it turned out the current world no.1, Simona Halep, and the reigning US Open champion, Sloane Stephens, made the women’s singles final. And the teams of Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut and Oliver Marach/Mate Pavic made the men’s doubles final. So it turned out both matches would be very interesting, and I was excited for these! 😀

Anyway, how was Paris? Well, I didn’t have a lot of time to spend in the city itself, but it was beautiful as always! Haha.

This year I visited Notre Dame in Paris

Btw, as I mentioned before, since the beginning I already knew that I would like to fly for this year’s trip to Paris. And of course I would like to, as much as possible, avoid direct return flights! Haha 😆 . And so I made myself the following routing:

My routing this weekend. From gcmap.com

Haha 😛 . Yep, I was back in Toulouse (Airport) for the first time since 2012! 😛 There was actually another routing with cheaper fare which also was more interesting as it (1) involved an airport I had never used before (Clermont-Ferrand); (2) involved a flight with an airline I had never flown before (Trade Air, which was leased by Air France this summer); and (3) involved a Fokker 100, which would have been my first time flying this type in the 21st century (As a kid, I had flown this type with Sempati Air, haha). But this routing only spared a 25 minutes of transfer tim at Clermont-Ferrand, which was really tight and I was not comfortable with. And so I decided to set aside this otherwise fun routing.

Anyway, so yeah, my weekend was fun! 😀 As usual, here are some teasers from the trip:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Jadi babak utama turnamen tenis French Open tahun ini dimulai sekitar dua minggu yang lalu, yang mana berarti, akhirnya, akhir pekan kemarin adalah waktunya untuk perjalanan tahunanku ke Paris untuk turnamen ini tahun ini. Hore!! 😀

Di Lapangan Philippe Chatrier lagi tahun ini.

Karena tiketku tahun ini adalah Philippe Chatrier di hari Sabtu, aku akan mendapatkan pertandingan final tunggal putri dan final ganda putra. “Keseruan” dari dua pertandingan ini adalah dua events ini adalah yang paling “sulit diprediksi” dari semua events yang dimainkan berdasarkan dinamika dunia tenis profesional saat ini. Dengan kata lain, sebelum turnamen ini dimulai, sulit sekali untuk memprediksikan siapa yang akan aku tonton di kedua final! Haha 😆 .

Akhirnya Simona Halep menjuarai gelar grandslam juga!

Pada akhirnya, petenis yang saat ini menduduki peringkat 1 dunia, Simona Halep, dan juara bertahan US Open tahun lalu, Sloane Stephens, masuk final tunggal putri. Dan Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut dan Oliver Marach/Mate Pavic memasuki final ganda putra. Jadi ternyata kedua pertandingannya akan menjadi pertandingan yang sangat menarik, dan aku merasa sangat excited untuk menonton keduanya!

Anyway, Parisnya sendiri bagaimana? Ya, nggak banyak sih waktu yang bisa aku habiskan di kotanya ini sendiri, tetapi kotanya masih indah kok seperti biasanya! Haha.

Tahun ini aku mengunjungi Notre Dame di Paris

Btw, seperti yang aku sebutkan sebelumnya, sejak awal untuk tahun ini aku sudah tahu aku akan naik pesawat untuk pergi ke Paris. Dan tentu saja sedapat mungkin aku menhindari penerbangan pp kan ya! Haha 😆 . Dan jadilah pada akhirnya aku memilih rute berikut ini:

Ruteku akhir pekan ini. Dari gcmap.com

Haha 😛 . Iya, akhirnya aku kembali juga di (Bandara) Toulouse untuk pertama kalinya semenjak 2012! 😛 Sebenarnya ada rute lain dengan harga tiket yang lebih murah dan lebih menarik sih karena (1) melibatkan bandara baru yang belum pernah aku lalui sebelumnya (Clermont-Ferrand); (2) melibatkan satu penerbangan dengan maskapai baru yang belum pernah aku terbangi sebelumnya (Trade Air, yang mana disewa oleh Air France musim panas ini); dan (3) melibatkan pesawat Fokker 100, yang mana akan menjadi kali pertama aku terbang dengan pesawat ini lagi di abad ke-21 (Sewaktu kecil aku pernah terbang dengan pesawat ini dengan maskapai Sempati Air, haha). Namun dengan rute ini, waktu transitku di Clermont-Ferrand hanya lah 25 menit, yang mana mepet banget dan membuatku tidak merasa sreg dengannya. Jadilah rute yang sebenarnya menarik ini aku kesampingkan.

Anyway, jadi ya gitu deh, akhir pekanku kemarin ini seru banget! Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini.

#2117 – A Koningsdag 2018 Weekend in Switzerland (Part II: Zürich)

ENGLISH

Posts in the Koningsdag 2018 Weekend in Switzerland:
1. Introduction
2. Part I: Luzern
3. Part II: Zürich

Zürich

I already bought my train ticket from Luzern to Zürich since about two weeks before the trip, as this way I could get a 70% discount on the (expensive) Swiss train ticket, which certainly was a much welcomed deal for me, haha. The discount came with a restriction, though, where the ticket would be valid on the specified train service, which in my case was the 11:35 AM service, rather than any service from Luzern to Zürich HB.

Delayed Swiss train, almost unheard of!

Anyway, one aspect the Swiss Railways is famous for is its punctuality and reliability, that is the best one in Europe and the second best one in the world (only after Japan). The Dutch Railways, btw, comes third. But this doesn’t mean that problems never occur; as problems are always unavoidable. And on this trip, for the first time ever I encountered a delayed Swiss train! For whatever reason, my train ride departed 8 minutes late, which obviously was almost unheard of for a Swiss train! Haha 😆 .

I arrived at Zürich at around 12:45 PM and immediately went to my hotel to check in and rest for a little bit. I had quite a big breakfast so I wasn’t feeling very hungry. I decided that I wanted to take things easy today, as this was my third time in Zürich and my latest visit there was only a year ago.

Though, after some rest I decided to go out. My trip last year was also a short one where I focused more on the area around Lake Zürich and the Limmat River. This time, I decided to explore the area I didn’t visit last year, but had visited back in 2011, that was the area of the famous ETH Zürich atop of a hill.

Zürich as seen from the ETH.

It felt strange though that not much had changed since my visit in 2011, that was almost seven years ago! The Polybahn funicular was still there, the large terrace overlooking Zürich was still there and, unsurprisingly, well maintained, even the same ancient animal model was still there in the Zoology museum!

After a quick afternoon snack, I went back to the hotel. During dinner time, I didn’t feel like walking (As I had walked a lot on this trip up to this point) so I just went to the hotel’s restaurant, which was a good decision anyway as I got a 10% discount as I was staying at the hotel, haha. I had Zürich’s famous Geschnetzeltes, which I actually also had last year, haha.

Zürcher Geschnetzeltes

Back to the Netherlands

To get back to the Netherlands, I took Air France flights via Paris. I arrived really early at the airport and waited for my flight at the Aspire Lounge, the lounge Air France/KLM contracted there. When I arrived the lounge was quite busy but it quickly got “calmer” as the late morning “rush hour” passed. The lounge was cozy and decent. The only downside was that they didn’t provide their own wifi connection and we were given access code for the airport’s connection. The problem was that the code could only be used for two hours per device, which was annoying to me as I had more than two hours before my flight and I only had one device with me. Ah well…

The snack service on board Air France’s flight AF1615 to Paris

Anyway, both of my flights were pleasant Air France flights with their Airbus A318 reg F-GUGM from Zürich to Paris-CDG and Airbus A320-200 F-GKXM from Paris to Amsterdam; so there was not much I would like to share here. Only that, well, as usual, I really loved Air France’s catering, also in economy! 😀

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Akhir Pekan Koningsdag 2018 di Swiss:
1. Introduction
2. Part I: Luzern
3. Part II: Zürich

Zürich

Aku sudah membeli tiket keretaku dari Luzern ke Zürich semenjak sekitar dua minggu sebelumnya, karena dengan begini aku mendapatkan diskon 70% dari tiket kereta di Swiss (yang mahal itu), yang mana diskon yang lumayan banget kan ya untukku, haha. Diskon ini datang dengan satu aturan khusus sih, dimana tiketnya hanya berlaku di layanan kereta yang sudah ditentukan, yang mana dalam hal ini kereta jam 11:35 pagi, dan bukannya berlaku di kereta apa pun dari Luzern ke Zürich HB.

Kereta yang terlambat di Swiss, hampir tidak pernah terjadi!

Anyway, satu aspek dari Kereta Api Swiss yang amat terkenal adalah ketepatan-waktu dan keandalannya, yang mana adalah yang terbaik di Eropa dan terbaik nomor dua di dunia (setelah Jepang). Kereta Api Belanda, btw, berada di peringkat ketiga sedunia loh. Tapi ini bukan berarti yang namanya masalah tidak pernah terjadi di Kereta Api Swiss ya; karena namanya masalah kan pasti akan selalu ada. Dan di perjalanan ini, untuk pertama kalinya aku mendapatkan kereta di Swiss yang terlambat dong! Entah apa alasannya, keretaku berangkat terlambat 8 menit dong dari jadwal, yang mana adalah keterlambatan yang amat keterlaluan kan ya untuk kereta Swiss! Haha 😆 .

Aku tiba di Zürich sekitar jam 12:45 siang dan langsung pergi ke hotel untuk check-in dan beristirahat sejenak. Karena sarapanku besar, aku tidak merasa terlalu lapar siang itu. Aku memutuskan untuk bersantai saja hari ini, karena toh ini adalah kali ketigaku di Zürich dan kunjungan terakhirku barulah tahun lalu saja.

Tapi ya tetap sih setelah istirahat sejenaknya selesai, aku keluar juga, haha. Perjalanan tahun laluku adalah perjalanan singkat juga dimana aku fokus di area di sekitar Danau Zürich dan Sungai Limmat. Kali ini, aku memutuskan untuk jalan-jalan di area yang tidak kukunjungi tahun lalu, tapi sebenarnya sudah pernah kukunjungi di tahun 2011 dulu, yaitu areanya universitas ETH Zürich yang terkenal itu yang berlokasi di atas bukit.

Zürich dari ETH.

Aneh juga lho melihat tidak banyak yang berubah dari tahun 2011, yang mana nyaris tujuh tahun lalu kan ya! Funicular Polybahn-nya masih ada, teras besar darimana kita bisa melihat pemandangan kota Zürich juga masih ada dan, tidak mengejutkan, terawat dengan baik, dan bahkan model binatang purbanya pun masih ada di Museum Zoologi!

Setelah snack sore, aku kembali ke hotel. Di jam makan malam, entah mengapa aku malas gerak (Karena aku sudah banyak berjalan-kaki juga sih di perjalanan ini, haha) jadilah aku makan di restoran hotelnya saja, yang mana toh adalah keputusan yang baik karena aku mendapatkan diskon 10% akibat aku menginap di hotelnya, haha. Aku memesan Geschnetzeltes a la Zürich yang terkenal itu, yang sebenarnya sudah kucoba tahun lalu, haha.

Zürcher Geschnetzeltes

Kembali ke Belanda

Untuk kembali ke Belanda, aku menaiki penerbangannya Air France via Paris. Aku tiba terlalu awal di bandaranya dan menunggu penerbanganku di Lounge Aspire, yang mana dikontrak oleh Air France/KLM di bandara ini. Ketika aku tiba di sana, lounge-nya ramai banget tapi situasi berangsur menyepi begitu waktu “rush hour“-nya terlewati. Lounge-nya sendiri nyaman dan lumayan lah. Sisi negatifnya adalah mereka tidak menyediakan koneksi wifi sendiri dan pengunjung diberikan akses untuk menggunakan koneksi yang disediakan oleh bandaranya. Masalahnya akses ini hanya berlaku untuk penggunaan selama dua jam per device, yang mana menyebalkan untukku karena waktu tungguku kan lebih dari dua jam dan aku hanya membawa satu device saja. Ah, ya sudah lah…

Layanan snack di penerbangan Air France AF1615 ke Paris

Anyway, kedua penerbangannya adalah penerbangan yang nyaman dengan Air France dengan pesawat Airbus A318 rego F-GUGM dari Zürich ke Paris-CDG dan Airbus A320-200 F-GKXM dari Paris ke Amsterdam; jadi nggak banyak yang ingin kuceritakan di sini. Cuma ya, seperti biasa, aku suka catering-nya Air France, termasuk di kelas ekonomi! 😀

#2113 – A Koningsdag 2018 Weekend in Switzerland (Part I: Luzern)

ENGLISH

Posts in the Koningsdag 2018 Weekend in Switzerland:
1. Introduction
2. Part I: Luzern
3. Part II: Zürich

Getting to Luzern

As there was no airport in Luzern, I had to fly to Zürich, the closest city with an international airport, and then took the train from there. As my flight was scheduled to leave at 3:15 PM, I left my office for the airport just after lunch. As usual, at Schiphol I waited at the KLM Crown Lounge.

A KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BXZ at Schiphol

My flight today would be operated with a KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BXZ. Upon boarding, the gate notified me that I got upgraded to Europe Business Class again! Yeay! :mrgreen: And so I settled onto my new 1F seat on board PH-BXZ.

Got upgraded to Europe Business Class!!

Boarding went efficiently today where all passengers (the flight was completely full, 100% in economy and seven of the eight Europe Business Class seats were taken), but Zürich Airport was very busy so we had to wait before getting the clearance for departure. Long story short, we departed not long after and the one hour flight to Zürich started.

Not long after take off, the early dinner service was provided, which was a delicious salmon salad with some side dishes. As for the drink, I obviusly asked for the sparkling wine and a glass of water, haha. The rest of the flight was a pleasant and uneventful flight. At 4:35 PM we landed at runway 14 of Zürich Airport.

The early dinner service on KLM’s Europe Business Class flight to Zürich

At the airport, I bought a one-way train ticket to Luzern costing CHF 30. There was no direct connection departing shortly so I decided to take an option with a 20 minutes transit at Zürich HB. Long story short, I arrived at Luzern at about 6:30 PM.

Luzern

A Luzern selfie

Luzern was a very pretty Swiss town, though rather petite in size, haha. I stayed for two nights there and felt like this was definitely a little bit too much for the town itself. However, there were several other interesting places nearby the city, like the Pilatus Railway, which I didn’t get the chance to visit because I didn’t have the time, haha.

Anyway, the main attraction of Luzern was the impossible-to-miss Kapellbrücke (the Chapel Bridge), a wooden pedestrian bridge crossing the Reuss River in the Altstadt Area of the city. The bridge was also connected to the Wasserturm (Water Tower) which apparently was once used as a prison and torture chamber 😅.

The Chapel Bridge and the Water Tower in Luzern

The Altstadt itself was also beautiful, as the buildings from the Medieval age were very well-preserved! The Kapellbrücke wasn’t the only wooden bridge in Luzern, btw. A bit further down the Reuss, there was the shorter Spreuerbrücke which was also a beautiful wooden bridge. This other bridge was located next to a dam on the river which also served as a recreational area. Oh btw, I was very lucky this weekend where the weather was amazing so many people took the chance to go out as well, hence the lively atmosphere!

Anyway, just like Zürich, Luzern was also quite hilly in the Altstadt. On top of one of the hills, btw, stood a Medieval fortification with several towers that were open for public (and were free of charge to visit). It was so well the effort to climb all the way up there, because the view was magnificent! Lake Luzern was visible with a backdrop of the amazing Alps Mountain. Incredible!!

Lake Luzern and the Alps in the background.

The Kapellbrücke and the Altstadt weren’t the only “tourist” destinations in the city. Das Löwendenkmal (the Lion Monument), a rock relief of a mortally-wounded lion, was also famous; and beautiful! You could really feel the mourn the sculptor would like to portray with it.

The Lion Monument in Luzern

Anyway, food-wise I was happy that I got the chance to have a raclette on this trip to Luzern! It didn’t look as I expected (As somehow I expected the waitress to pour the molten cheese to my plate in front of me; and the dish was served ready), but it tasted great!! 😀

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Akhir Pekan Koningsdag 2018 di Swiss:
1. Introduction
2. Part I: Luzern
3. Part II: Zürich

Menuju Luzern

Karena di Luzern tidak ada bandara, aku harus terbang ke Zürich, kota terdekat dengan bandara internasional, dan dari sana naik kereta menuju Luzern. Karena penerbanganku dijadwalkan berangkat jam 3:15 sore, aku berangkat dari kantor setelah makan siang. Seperti biasa, di Schiphol aku menunggu di Crown Lounge-nya KLM.

Sebuah Boeing 737-800 milik KLM rego PH-BXZ di Schiphol

Penerbanganku hari ini akan dioperasikan KLM dengan Boeing 737-800 rego PH-BXZ. Ketika boarding, gerbangnya memberi-tahuku bahwa aku di-upgrade ke Kelas Bisnis Eropa lagi dong! Hore! :mrgreen: Dan jadilah kemudian aku duduk di kursi 1F di dalam PH-BXZ.

Di-upgrade ke Kelas Bisnis Eropa!!

Boarding berlangsung efisien hari ini (dimana penerbangannya penuh, kelas ekonomi penuh 100% dan tujuh dari delapan kursi Kelas Bisnis Eropa terisi), tetapi Bandara Zürich amat sibuk sehingga kami harus menunggu sebentar sebelum diizinkan berangkat. Singkat cerita, kami berangkat tak lama kemudian dan penerbangan satu jam ke Zürich dimulai.

Tak lama setelah lepas landas, layanan makan sore ringan disajikan, yang mana berupa salad ikan salmon dan beberapa menu sampingan. Untuk minuman, jelas dong ya aku meminta sparkling wine dan segelas air putih, haha. Sisa perjalanannya berlangsung nyaman dan uneventful. Jam 4:35 sore, pesawat mendarat di landasan pacu 14 Bandara Zürich.

Layanan makan sore di Kelas Bisnis Eropa KLM KL1961 menuju Zürich

Di bandaranya, aku membeli tiket kereta satu arah ke Luzern seharga CHF30. Tidak ada layanan langsung yang akan segera diberangkatkan waktu itu sehingga aku memutuskan untuk memilih opsi dengan transit 20 menit di Zürich HB. Singkat cerita, aku akhirnya tiba di Luzern sekitar jam 6:30 sore.

Luzern

Selfie di Luzern

Luzern adalah kota kecil di Swiss yang kece banget, walaupun ukurannya tergolong kecil, haha. Aku menginap dua malam di sana dan rasanya waktu segini jelas terlalu panjang untuk kotanya saja. Namun, ada beberapa tempat yang juga menarik di sekitar kotanya, misalnya Pilatus Railway, yang mana tidak sempat aku kunjungi karena tidak sempat, haha.

Anyway, atraksi paling utama di Luzern adalah Kapellbrücke (Jembatan Kapel) yang nggak mungkin terlewatkan deh. Ini adalah sebuah jembatan kayu untuk pejalan-kaki menyeberangi Sungai Reuss di area Altstadt. Jembatannya juga terhubung dengan Wasserturm (Menara Air) yang mana ternyata dulu pernah digunakan sebagai penjara dan ruang penyiksaan 😅.

Jembatan Kapel dan Menara Air di Luzern

Altstadt-nya sendiri juga indah, dimana gedung-gedungnya yang dari abad pertengahan dirawat dengan baik! Oh iya, Kapellbrücke bukanlah satu-satunya jembatan kayu di Luzern, btw. Di sungai Reuss juga terdapat jembatan Spreuerbrücke yang lebih pendek dan juga merupakan jembatan kayu. Jembatan lain ini berlokasi di sebelah sebuah dam yang juga berfungsi sebagai area rekreasi. Oh iya, aku beruntung sekali akhir pekan ini dimana cuacanya sedang oke banget sehingga banyak orang yang memanfaatkannya dengan pergi ke luar. Sebagai akibatnya, atmosfer kotanya terasa hidup!

Anyway, seperti Zürich, Luzern jugalah berbukit-bukit di Altstadt-nya. Di salah satu bukitnya berdiri benteng dari abad pertengahan dengan beberapa menara yang dibuka untuk umum (dan tanpa dikenakan biaya masuk). Worth it banget deh memanjat ke puncak salah satu menaranya, karena pemandangannya kece banget! Danau Luzern terlihat jelas dengan latar belakang Pegunungan Alpen. Indah banget!!

Danau Luzern dan Pegunungan Alpen sebagai latar belakang.

Kapellbrücke dan Altstadt bukanlah satu-satunya atraksi “turis” di kota ini. Das Löwendenkmal (Monumen Singa), sebuah relief batu akan seekor singa yang nyaris mati karena terluka parah, juga terkenal; dan indah! Perasaan muram benar-benar terpancarkan dari karya seni ini!!

Monumen Singa di Luzern

Anyway, untuk urusan makanan aku senang aku mendapatkan kesempatan untuk makan raclette di perjalanan ke Luzern ini! Penampakan masakannya tidak seperti bayanganku sih food-wise (Entah bagaimana aku bayangkan pelayannya akan menuangkan keju yang sudah dilelehkan ke piring di depanku; sementara kenyataannya masakannya disajikan “sudah jadi”), tetapi yang penting mah rasanya enak ya!! 😀

#2111 – A Long Weekend Story

ENGLISH

Posts in the Long Weekend in Budapest series:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

As my Instagram (@azilko) followers have known now, I went on a trip this weekend taking the advantage that it was a long weekend! 😀 This Monday was the Whit Monday (Pentecost Monday) which was a public holiday in the Netherlands. Btw, this was the last public holiday in this country this year until Christmas in late December!! 😣

In a way I have made it my goal this year to make my travels more “interesting”. One way to achieve this is by going to new places, preferably those destinations I have wanted to go to but haven’t got the opportunity. And this weekend, I went to one of those destinations: Budapest, in Hungary! 😀

Budapest selfie

I have heard and read many stories from people about how amazing Budapest was for travelling! Naturally this intrigues me a lot! 😀 But Budapest, somehow, hasn’t been the “easiest” destination for me because, as you know, I am very picky with my flights and its location that is quite far away from the Netherlands. Consequently, there are only “few” options for me because a regular weekend trip wouldn’t be enough time-wise, I feel. This means I would need to make use of a long weekend, but of course it is more difficult to find a good deal on flight tickets for a long weekend. I found a reasonable deal with Air France/KLM back in November last year (The ticket wasn’t super cheap per se, but it was reasonable for a long weekend) and decided to grab it, haha 😀 .

Though, the deal was to return to Amsterdam via Paris (with a tight 40 minutes connection) on Tuesday (more on this later as things unraveled interestingly for this one), meaning I had to “extend” the long weekend by one day in Budapest. Yeah, I did take one day of my holiday allowances for a long weekend this year despite what I wrote two weeks ago, haha 😛 . But it would be well worth-it for Budapest, I felt, which made it acceptable 😛 .

Budapest is seriously pretty

Anyway, so how was Budapest? Indeed, Budapest was seriously really, really pretty! I was also especially lucky with the weather as well where it was pretty much sunny (only with few cloud) during my entire stay there. Plus, coming from Western Europe, everything also felt cheap! Hahaha 😆 .

Here are some photos as teasers:

 

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Long Weekend in Budapest:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Seperti yang followers Instagram (@azilko)-ku ketahui, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan kemarin ini karena adalah long weekend! 😀 Senin kemarin ini adalah Whit Monday (Pentekosta Senin) yang merupakan tanggal merah di Belanda. Btw, ini adalah tanggal merah terakhir di negara ini tahun ini sebelum Natal akhir Desember nanti dong!! 😣

Kurang lebih sudah kubulatkan tekad bahwa salah satu tujuanku tahun ini adalah membuat acara jalan-jalanku lebih “menarik”. Nah, satu cara untuk mencapainya adalah dengan pergi ke tempat-tempat baru, terutama tempat-tempat yang memang sudah ingin aku kunjungi tapi belum kesampaian. Dan akhir pekan kemarin ini, aku pergi ke salah satunya: Budapest di Hungaria! 😀

Budapest selfie

Aku sudah sering mendengar atau membaca banyak cerita dari orang-orang tentang kecenya Budapest untuk jalan-jalan! Ya jelas dong ya aku kan jadi penasaran! 😀 Tetapi Budapest sejauh ini menjadi tujuan yang “tidak mudah” untuk kukunjungi karena, tahu lah, aku kan picky banget ya untuk urusan penerbangannya dan juga lokasi kotanya yang mana lumayan jauh dari Belanda. Sebagai akibatnya, hanya ada “sedikit” pilihan untukku karena perjalanan akhir pekan biasa bakalan kurang panjang, aku rasa. Ini berarti aku harus memanfaatkan long weekend, tetapi tentu saja lebih sulit mendapatkan tiket promo di long weekend kan ya. Aku melihat ada deal yang oke lah dengan Air France/KLM di bulan November tahun lalu (Tiketnya nggak murah-murah banget sih, tapi oke lah dengan mempertimbangkan tanggalnya yang berada di long weekend) dan memutuskan untuk membelinya, haha 😀 .

Walaupun, untuk memanfaatkan deal ini aku harus kembali ke Amsterdam via Paris (dengan waktu transit yang ketat (40 menit)) di hari Selasa (Eh ada lanjutannya sih tentang ini, ceritanya kusimpan untuk nanti deh karena situasinya menarik), sehingga aku harus “memperpanjang” long weekend-ku selama satu hari di Budapest. Iya, akhirnya aku mengambil satu hari cuti untuk long weekend tahun biarpun aku menulis ini dua minggu yang lalu, haha 😛 . Tetapi karena tujuannya adalah Budapest, aku rasa bakal worth-it lah 😛 .

Budapest itu memang cantik banget

Anyway, jadi bagimana nih Budapest? Budapest memang beneran cantik banget! Aku juga beruntung terutama dengan urusan cuaca dimana cuacanya cerah (hanya sedikit awan) di keseluruhan masa tinggalku di sana. Ditambah lagi, datang dari Eropa Barat, apa-apa juga terasa murah! Huahaha 😆 .

Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini.

#2110 – A Summery Spring in Munich

ENGLISH

I went on a short weekend trip to Munich in mid-April. As I have shared, I forgot to bring my pocket camera on the trip; which unintentionally turned the trip into an experiment for me to measure the “value” of a pocket camera during a trip of mine. As it turned out, it was very valuable because I noticed that I didn’t take as many pictures on the trip, and the trip was generally less enjoyable without my camera! Consequently, this post won’t have as many pictures as usual simply because I did not take enough for that.

Anyway, a bit uncharacteristically, I also took KLM’s direct return Amsterdam – Munich flights for this trip, i.e. without any transit! Both flights were operated by Boeing 737-800, PH-BCA named “Flamingo” on the way to Munich and PH-BXL named “Sperwere” on the way back to Amsterdam. Both were pleasant intra-European flights with KLM as usual and so there is not much too share.

A KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BCA

As I also had pretty much half a day in Munich this time, I decided to focus on the area which I had heard nice things about but didn’t yet visit on my first trip there two years ago. And the area was the famous Englischer Garten (The English Garden), a large park in the northeastern park of the city.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

It was supposed to be Spring in Western Europe, but the weather at the time was quite unique, where the it was really sunny and the temperature was hovering around the high 20s Centigrade. To be honest it felt more like Summer than Spring to me, a season which I preferred less, haha 😛 . Nonetheless, especially after a harsh and long Winter and the day being a Saturday, many people decided to take advantage of it by going to the garden. As a result, the Englischer Garten was so full of people, many of them were sunbathing, when I was there! Lol 😆 .

The English Garden in Munich when the weather was great

Anyway, I found the Englisher Garten to be beautiful, and it certainly made the city livable! It was also very big, but one needed not to worry because a lot of signages and maps were installed throughout the garden. Uniquely, and perhaps confusingly, one landmark of the garden was the Chinesischer Turm (the Chinese Tower). Yep, a “Chinese” tower in an “English” garden in Munich, “Germany”, haha 😆 .

A Chinese Tower in an English Garden in Germany

As you know, I am not the biggest fan of warm weather. While the weather today wasn’t very warm (I mean, it was nothing like the humid tropical condition on a sunny day!), it was still warm enough to make me feel a little bit uncomfortable outside. So after wandering in the Englischer Garten for about two hours, I decided to go back to the hotel to shower and rest.

Crispy knuckle of suckling pig

As for the food, of course I had local German cuisine on the two full meals I had there. For lunch, I had a turkey schnitzel, which was tasty with an ideal serving size (haha 😆 ). And for dinner, I had a rösche spanferkelhaxn, translated as crispy knuckle of suckling pig which was served with the Bavarian spitzkrout (sour cabbage) and kartoffelknödel (potato dumplings). While I liked the meat, just as before, I didn’t really enjoy the cabbage and potato, haha. It was overall very tasty, though 😀 .

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam perjalanan akhir pekan singkat ke Munich di pertengahan April. Seperti yang sudah kubilang, aku lupa membawa kamera sakuku di perjalanan ini; yang mana justru tidak sengaja membuat perjalanan ini menjadi suatu percobaan bagiku untuk mengukur “nilai” dari kamera saku di perjalananku. Ternyata, kamera saku itu amat bernilai. Ini kuamati dari tidak-banyaknya foto yang aku ambil di perjalanan ini, dan perjalanannya sendiri agak lebih kurang asyik sih tanpa kamera! Sebagai akibatnya, tidak banyak foto yang aku unggah di posting ini karena ya memang tidak ada banyak foto yang aku ambil.

Anyway, agak tidak seperti biasanya, aku terbang langsung pp Amsterdam – Munich dengan KLM di perjalanan ini, alias tanpa transit! Keduanya dioperasikan dengan Boeing 737-800, PH-BCA dengan nama “Flamingo” di keberangkatan dan PH-BXL dengan nama “Sperwer” di kepulangan. Keduanya adalah penerbangan reguler dan nyaman intra-Eropa dengan KLM sehingga tak banyak yang mau kuceritakan di sini.

Sebuah Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BCA

Karena aku hanya memiliki waktu setengah harian saja di Munich kali ini, aku memutuskan untuk fokus di area yang aku dengar cantik tapi belum sempat aku kunjungi di perjalananku dua tahun yang lalu. Dan area ini adalah Englischer Garten (Taman Inggris), sebuah taman besar dan terkenal di timur laut kotanya.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

Waktu itu seharusnya adalah Musim Semi di Eropa Barat, tapi cuaca waktu itu cukup unik, dimana matahari bersinar cerah dan temperaturnya berada di kisaran hampir 30 derajat. Sejujurnya rasanya lebih kayak Musim Panas daripada Musim Semi deh, sebuah musim yang lebih tidak aku sukai, haha 😛 . Walaupun begitu, waktu itu kan Eropa baru saja melewati Musim Dingin panjang dan keras ya, jadilah banyak orang yang memanfaatkan cuaca ini dengan pergi ke tamannya. Sebagai akibatnya, Englischer Garten rame banget waktu itu, dimana tentu banyak yang berjemur! Haha 😆 .

Taman Inggris di Munich ketika cuaca cerah

Anyway, Englischer Garten memang indah, dan membuat kotanya enak untuk dibuat hidup! Tamannya juga besar, tetapi pengunjung tidak perlu khawatir akan tersasar karena ada banyak petunjuk dan papan peta di seluruh tamannya. Uniknya, dan mungkin membingungkan, satu landmark terkenal di tamannya adalah Chinesischer Turm (Menara China). Iya, menara “China” di sebuah taman “Inggris” di Munich di “Jerman”, haha 😆 .

Chinesischer Turm di Taman Inggris di Jerman

Tentu sudah pada tahu bahwa aku bukanlah seorang fans dari cuaca panas, haha. Walaupun cuaca di Munich hari ini nggak panas yang gila banget (Maksudnya, nggak kayak cuaca lembab di daerah Tropis ketika matahari bersinar cerah!), tetapi cuacanya sudah cukup panas untuk membuatku merasa agak tidak nyaman berada di luar berlama-lama, haha. Jadilah setelah jalan-jalan di Englischer Garten selama sekitar dua jam-an, aku memutuskan kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat.

Crispy knuckle of suckling pig

Untuk urusan makanan, jelas dong aku menikmati masakan setempat di dua kali makanku di sana. Untuk makan siang, aku makan schnitzel daging kalkun, yang mana enak dan ukuran porsinya pun ideal (haha 😆 ). Untuk makan malam, aku makan rösche spanferkelhaxn, yang mana kurang lebih berarti lutut babi crispy yang disajikan dengan spitzkrout (kubis asam) ala Bavaria dan kartoffelknödel (kentang). Walaupun aku suka dagingnya, seperti dulu, aku juga masih kurang bisa menikmati kubis dan kentangnya, haha. Tapi secara keseluruhan enak sih D: .