Miscellaneous, Photo Tales

#2138 – Photo Tales (48)


Photo #104

A signage at Buda Castle in Budapest

I saw this signage at Buda Castle in Budapest. And then I noticed that one of the sign pointed to, presumably, an area in the castle where you would be able to find some (free) wifi! Haha 😆 . For this wifi area to, against all odds, made all the way to be in a signage just shows how important mobile internet is nowadays! 😀

Photo #105

Hello there, TU Delft!

Anyway, my KLM Cityhopper flight KL1304 from Toulouse landed at runway 18R of Schiphol Airport. That day to get to this runway, the flight path happened to pass Delft. I was also quite lucky that the weather was generally good that day! As a result, I got a clear view of Delft and, among others, also the TU Delft campus as pictured above!! 😀

It was quite cool to get this unique view, wasn’t it?


Foto #104

Sebuah papan petunjuk di Kastil Buda di Budapest

Aku melihat papan petunjuk ini di Kastil Buda di Budapest. Dan kemudian aku menyadari bahwa salah satu petunjuknya mengarah ke, apa yang aku asumsikan, area di kastilnya di mana kita bisa mendapatkan wifi (gratis)! Haha 😆 . Nah, untuk area wifi ini sampai bisa-bisanya masuk ke dalam papan petunjuk ini menunjukkan pentingnya mobile internet zaman sekarang kan ya! Haha 😀

Foto #105

Haloo, TU Delft!

Anyway, penerbangan KLM Cityhopper KL1304ku dari Toulouse mendarat di landasan pacu 18R Bandara Schiphol. Hari itu untuk mencapai landasan pacu ini, rute penerbangannya kebetulan melalui langit di atasnya Delft. Aku juga beruntung hari ini dimana cuacanya pas sedang cerah juga! Jadilah sebagai akibatnya aku bisa melihat kota Delft dengan jelas dari atas dan, salah satunya, kampus TU Delft seperti di foto di atas!! 😀

Keren juga ya bisa mendapatkan sudut pandang yang lumayan unik begini?

PhD Life, Zilko's Life

#2134 – Earlier This Week in Delft


I went to Delft earlier this week. Yeah, I mentioned some time ago that I hadn’t been back to Delft since the day I moved to Amsterdam. Finally, this statement is now no longer true! Haha 😛

Obviously I did not go there just because and without a reason, haha 😆 . My PhD project consisted of two parts, each was handled by a PhD; one was myself, which I successfully defended earlier last year, and the other by another PhD candidate. And earlier this week, this other PhD candidate, who I obviously worked really closely during my PhD years, was defending her dissertation. And obviously I was not going miss it!!

Back in TU Delft this year

The defense was scheduled at 10 AM, which to me was really early because I had to get up a little bit earlier to make it! Haha 😆 . You know, this short trip to Delft reminded me a lot of my commuting life when I just started my job in Amsterdam and still lived in Delft where I had to spend about at least three hours every day just to commute, haha 😆 .

I felt quite a “strange” feeling when I arrived at Delft Station; as if I was drawn “back” to my previous stage of life in this little pretty town. Well, after all, I did spend 6.5 years there so feeling a little bit nostalgic was understandable, haha. Anyway, I took the bus to the university and went to the defense room in the Aula, which was the same room where I defended my dissertation last year.

The defense took place in this exact same room.

During the defense, I found it “funny” that there were some questions which would have been more appropriate to be directed at me than at her (As we were working on the same project but each of us had our own responsibilities and topics). But of course it was her defense so I couldn’t really say anything. But I felt like she handled those questions well, especially considering the mental roller coaster she must be riding during the moment. In the end, she successfully defended her dissertation and officially got her doctoral degree.


Me defending my dissertation last year; “against” a professor in statistics.

This particular PhD defense had deeper meaning than just the graduation of a PhD candidate to us involved in our research project. Symbolically, it also acted as the “closure” of the PhD research we started six years ago. We, and by “we” I mean not only me and my colleague, but also our professors and project supervisor, started this project together at almost the same time, and now everything is, finally, finished.

We all met together in Delft that day; well, except for my other supervisor who moved to Australia two years into my PhD, knowing that this perhaps would be the last occasion where we all met. And in my opinion this defense and graduation was the perfect setup for the closure!

The famous stairs photo (only for PhD graduates 😛 )


Aku pergi ke Delft awal minggu ini. Iya, aku sebutkan beberapa waktu yang lalu bahwa sudah lama juga aku tidak ke Delft, bahkan tidak pernah lagi semenjak aku pindahan ke Amsterdam. Akhirnya, pernyataan ini tidak lagi benar! Haha 😛

Jelas dong ya aku pergi ke Delft juga bukan tanpa alasan, haha 😆 . Proyek PhD (S3)-ku dulu terdiri dari dua bagian, masing-masing dipegang oleh satu kandidat PhD; satu aku pegang, yang mana sukses aku pertahankan dan aku lulus awal tahun lalu, dan yang satu lagi dipegang oleh seorang kandidat PhD lain. Dan awal minggu ini, kolegaku ini, yang mana aku jelas banyak bekerja bersamanya selama tahun-tahun PhDku dulu, akan menjalani sidang disertasinya. Dan jelas dong ya acara ini tidak akan aku lewatkan!!

Kembali di TU Delft tahun ini.

Sidangnya dijadwalkan jam 10 pagi, yang mana untukku pagi banget ini soalnya aku jadi harus bangun lebih pagi daripada biasanya! Haha 😆 . Perjalanan ke Delft ini mengingatkanku akan kehidupan nglaju-ku dulu ketika aku baru saja mulai bekerja di Amsterdam dan waktu itu masih tinggal di Delft; dimana setiap-harinya aku harus menghabiskan setidaknya tiga jam di jalan untuk nglaju, haha 😆 .

Aku merasakan perasaan yang agak “aneh” ketika tiba di Stasiun Delft; rasanya seperti “ditarik kembali” ke stase hidupku sebelumnya di kota kecil yang cantik ini. Yah, namanya aja 6,5 tahun hidupku memang aku habiskan di sana sih ya jadi merasa nostalgia juga lah wajar, haha. Anyway, aku menaiki bus untuk pergi ke universitas dan kemudian berjalan ke ruang sidangnya di Aula, yang mana adalah ruangan yang sama dimana aku sidang tahun lalu.

Sidangnya mengambil tempat di ruangan yang sama.

Di waktu sidang, agak “lucu” juga rasanya dimana ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya lebih pas untuk ditanyakan kepadaku daripada kolegaku (Karena kami kan bekerja di satu proyek yang sama tetapi masing-masing dari kami memiliki tanggung-jawab dan bidang/topiknya sendiri-sendiri). Ya tapi gimana juga, ini kan sidangnya kolegaku sehingga aku tidak bisa melakukan apa-apa juga. Tapi toh aku rasa ia meng-handle pertanyaan-pertanyaan ini dengan baik kok, apalagi dengan mempertimbangkan roller coaster mental yang waktu itu sedang ia naiki. Pada akhirnya, ia berhasil mempertahankan disertasinya sehingga ia resmi mendapatkan gelar doktoralnya.


Aku yang sedang mempertahankan disertasiku tahun lalu; “menghadapi” seorang profesor statistika.

Sidang PhD yang satu ini memiliki makna lebih mendalam daripada sekedar kelulusan seorang kandidat PhD bagi kami yang terlibat di proyek riset ini. Secara simbolis, sidang ini menandai “penutupan” dari riset PhD yang kami mulai enam tahun yang lalu. Kami, dan dengan “kami” maksudnya bukan hanya aku dan kolegaku ini saja, tetapi juga profesor-profesor kami dan juga supervisor proyeknya, memulai proyek ini bersama-sama hampir pada waktu yang bersamaan, dan sekarang semuanya, akhirnya, selesai.

Kami semua bertemu di Delft awal minggu ini; eh, kecuali pembimbingku yang satunya yang pindah ke Australia dua tahun setelah aku memulai PhDku, dan kami sadar bahwa mungkin ini adalah kali terakhir kami semua bertemu di acara yang sama. Dan bagiku, sidang dan kelulusan kolegaku ini adalah setting yang sempurna banget untuk penutupan ini!

Foto tangga khasnya TU Delft (untuk lulusan S3 aja)
General Life, Zilko's Life

#1930 – It’s June!!


So, it is June already!!

No More TU Delft Account

If as per March 2017 I am no longer affiliated with TU Delft, it is as of today where I (finally) lost all of my TU Delft credentials with the expiration of my “NetID” (TU Delft’s ID/account).

You see, even though my hopitality contract, which was my last contract at TU Delft, expired in February, the deactivation of my NetID was only done three months later. This time was meant for any needed account transitioning from my NetID to something else, for instance informing my contacts about my new emails, etc. The side effect of this, though, was that I still had a few (limited) benefits/TU Delft facilities during these three months, haha 😆 . For instance, I was still able to use my NetID to access several scientific journals.

But as per today, my NetID is officially disactivated, and so all the “benefits” that came with it including my official TU Delft email, haha.

RG 17

Anyway, 1st of June also means the French Open for me! Yeay! And I am very happy with my decision to get a cable TV subscription a few weeks ago because now I have (some) access to the tournament on TV!

French Open 2017 on TV!

The main draw of the tournament started earlier this week (actually on Sunday), though the TV coverage has actually started since last week for the qualifying rounds! Awesome, isn’t it?

So watching the French Open is basically my after-work activity these days, which I do alongside my dinner, haha 😆 .


Wah, ternyata sudah bulan Juni ya!!

Akun TU Delft yang kini dimatikan

Jika per Maret 2017 aku tidak lagi terafiliasi dengan TU Delft, baru per hari ini lah dimana aku (akhirnya) tidak lagi memiliki tanda pengenal TU Delft dengan hangusnya “NetID”-ku (akun/IDnya TU Delft).

Jadi walaupun kontrak hospitality-ku, yang mana merupakan kontrak terakhirku di TU Delft, berakhir di bulan Februari, NetIDku masih akan aktif hingga tiga bulan kemudian. Waktu ini dimaksudkan untuk proses transisi yang mungkin diperlukan dari sesuatu yang berkaitan NetIDku ke sesuatu yang lain, misalnya memberi-tahu kontak-kontakku mengenai alamat email baruku, dsb. Efek samping dari ini adalah aku masih mendapatkan beberapa fasilitas/keuntungan (terbatas) dari TU Delft sepanjang tiga bulan ini, haha 😆 . Misalnya, aku masih bisa menggunakan NetIDku untuk mengakses jurnal-jurnal ilmiah.

Tetapi per hari ini, NetIDku resmi dideaktivasi, dan jadilah semua “keuntungan”-nya juga ikutan hilang beserta alamat email TU Delft-ku, haha.

RG 17

Anyway, 1 Juni juga berarti French Open untukku! Hore! Dan aku merasa senang dengan keputusanku untuk berlangganan TV kabel beberapa minggu yang lalu karena sekarang aku jadi memiliki (beberapa) akses ke turnamen ini di TV!

French Open 2017 di TV!

Babak utama turnamen ini dimulai awal minggu ini (di hari Minggu sih sebenarnya), walaupun penayangan TVnya sudah dimulai semenjak minggu lalu untuk babak-babak kualifikasinya! Keren ya!

Jadi menonton French Open adalah aktivitasku setelah pulang kantor deh sekarang-sekarang ini, yang kulakukan sembari makan malam, haha 😆 .

PhD Life, Zilko's Life

#1909 – The Mental Roller Coaster of My PhD Defense


This post has been sitting in the Draft section for quite some time, patiently waiting for its turn to get published. Well, before the topic becomes too outdated, I share it now 🙂 .


Some time ago, I shared how my PhD defense and graduation went. In that post, I concentrated on what happened during that day, one of the most important days in my life. This post will cover a different aspect of the defense: the emotional roller-coaster I had to “ride” – the one that peaked during the defense, haha.

During my PhD thesis defense

I think it is not surprising that a PhD defense could be “terrifying” for the PhD candidate. Well, it is basically “the” moment the candidate has been working for. All of his/her life in the last four to five (maybe even more) years is for this moment. So when the moment is approaching, so is the tension.

Luckily for me, though, about ten days before the defense, I attended a really, really big and awesome party. I have to say the party helped channel out a lot of the tension away.

The party involved me dressing up in a Star Trek uniform too 😛

Then exactly a week before the defense, my supervisor organized a “practice” session between me, her, and a professor who was not directly involved in my PhD research. The idea was that I would get bombarded with questions; and involving an “outsider” was certainly a good idea to open up new perspective I might have not thought of. And I did well in this session. We planned this session for an hour but it ended up being two hours, haha. This, certainly, raised my confidence level as well, making me feel that I was, in fact, ready for the defense.

The day before the defense, I went to Amsterdam with my parents and my brother. While having lunch at a Japanese restaurant, I started to feel not really good. I wasn’t sick, but it felt like I was going to get sick. It was weird as I was completely fine before, so I thought it might be because the tension of the defense started to crawl in and it affected my brain. Whatever it was (I am sure it wasn’t the food, though 😛 ), what I knew was that I needed some rest. So immediately after lunch, we went back to Delft.

A bowl of ramen for lunch
A bowl of ramen for lunch

On the day of the defense, I misread the bus number which caused us to take the wrong bus to go to the venue of my defense. As a result, we had to walk to the Aula before my defense, haha. On the flip this, this mistake was good to make as it made me realize I was not in the “best” mental state. I needed to take a deep breath and calm down.

Though, it was much easier said than done, haha. I felt really crazily nervous during the defense; though the advices from the British stand-up comedian appeared to work and I looked perfectly fine 😛 . Obviously my brain was still functioning fine in processing the questions and providing the answers. Actually it worked at 100% performance capacity, though it felt like some good portion of that was spent to manage the anxiety, haha. But this was part of the defense “game”, indeed 😉 .

Defending my thesis and arguments

And so it was also unsurprising that I felt really tired once the defense was finished, haha. But at the same time, I also felt glad it was over 🙂 .

Then, the graduation followed immediately. As I mentioned before, this part was the most “emotional” part of all. This was the moment every PhD candidate was hoping and working towards for. And now, this moment was mine. I was, finally, there.

Following my graduation was a speech by my supervisor. As I also mentioned, we had known each other for almost seven years. She was actually the one who opened the door for me to move to Europe in 2010, when she awarded me the full Master scholarship to TU Delft. And now, here we were, seven years later, and I was standing in front of her (all other people as well) just after becoming a Doctor. For a short moment, I had tears in my eyes. Just a little bit, though 😛 .

A graduation speech
My graduation speech

My mental state gradually went back to normal from thereon. The reception and dinner that followed brought up the festive feeling in me, thus neutralizing the melancholy that had formed.

Then, what I felt was the feeling of “freedom”. Not that I was not “free” before, but more like a “free” feeling once I achieved what I had been working so hard for. This, of course, came with a sense of satisfaction and some level of confidence 🙂 .


Yeah, indeed that was an interesting period of my life; not only the actual real stuffs that I needed to take care of, but also the mental aspect that needed to be managed. This period was, indeed, a unique period in the entirety of my PhD years. And I will cherish that.


Posting ini sudah cukup lama duduk manis di Draft menunggu giliran dengan sabar untuk di-publish. Sebelum topiknya menjadi basi, sekarang aku bagikan aja deh ya, hehehe 🙂 .


Beberapa waktu yang lalu, aku menceritakan bagaimana sidang dan wisuda PhD/S3-ku berlangsung. Di posting itu, aku konsentrasi pada apa yang terjadi hari itu, salah satu hari terpenting dalam hidupku. Posting ini akan membahas aspek lain dari sidang ini: roller-coaster emosi yang harus aku “naiki” – yang mana puncaknya adalah pada saat sidang itu, haha.

Pada saat sidang PhDku

Aku rasa tak mengejutkan bahwa sidang PhD itu bisa menjadi “menakutkan” bagi banyak mahasiswa PhD. Iya kan, momen ini adalah momen yang sudah sangat amat dikejar dan diusahakan. Seluruh kehidupannya selama empat sampai lima (bahkan mungkin lebih) tahun adalah untuk momen ini. Jadi ketika momennya beneran datang, kan tekanannya juga terasa semakin tinggi ya.

Untungnya untukku, sekitar sepuluh hari sebelum sidang, ada sebuah party besar dan seru banget. Nah, party-nya benar-benar membantuku untuk menyalurkan banyak tekanan itu keluar.

Di party-nya aku berkostum seragam Star Trek 😛

Lalu, tepat seminggu sebelum sidang, pembimbingku dan aku mengadakan sesi “latihan” antara aku, ia, dan seorang profesor yang tidak terlibat langsung dalam riset PhDku. Tujuannya adalah untuk membombardirku dengan pertanyaan-pertanyaan; dan melibatkan “orang luar” adalah ide yang baik untuk mendapatkan perspektif baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Dan aku menjalani sesi ini dengan cukup baik. Sesi yang kami rencanakan selama satu jam ini akhirnya berlangsung dua jam, haha. Ini, jelas, meningkatkan rasa percaya-diriku juga, dimana aku menjadi lebih yakin bahwa memang aku sudah siap untuk menjalani sidang.

Sehari sebelum sidang, aku pergi ke Amsterdam bersama orangtua dan adikku. Ketika makan siang di sebuah restoran Jepang, tiba-tiba aku mulai merasa nggak enak badan dong. Aku nggak sakit sih, tetapi kok rasanya muncul pertanda ke arah sana gitu. Aneh banget karena sebelumnya aku baik-baik saja lho, jadi aku duga sih ini adalah tekanan bawah sadar akibat sidang yang akan kujalani keesokan harinya mulai merembet masuk ke otakku. Apa pun itu (aku yakin bukan karena makanannya kok 😛 ), aku tahu aku perlu beristirahat. Jadilah setelah makan siang, kami kembali ke Delft.

A bowl of ramen for lunch
Ramen untuk makan siang

Di hari sidang, aku salah membaca nomor bus yang menyebabkan kami naik bus yang salah untuk menuju lokasi sidang. Sebagai akibatnya, kami harus berjalan kaki ke Aula sebelum sidang, haha. Sisi baiknya dari kesalahan ini adalah, aku disadarkan bahwa saat itu kondisi mentalku sedang tidak “prima”. Aku perlu menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan-diri.

Tapi semua itu mudah diucapkan tapi prakteknya lebih susah sih, haha. Aku merasa amat gugup ketika sidang; walaupun saran-saran dari stand-up comedian asal Inggris bekerja dengan baik sehingga dari luar aku nampak baik-baik saja 😛 . Jelas otakku masih berfungsi dengan baik dalam memproses pertanyaan-pertanyaan dan memberikan jawaban-jawabanku untuknya. Sebenarnya, aku merasa otakku saat itu bekerja dalam kapasitas 100% kok, walaupun rasanya sebagian darinya digunakan untuk mengatur ketegangan yang kurasakan, haha. Tetapi ya memang ini lah bagian dari “permainan” sidang PhD ini sih 😉 .

Mempertahankan disertasi dan argumenku

Sehingga tidak mengherankan ketika aku merasa lelah ketika sidangnya berakhir, haha. Tetapi di waktu yang sama, aku juga lega semuanya telah berlalu 🙂 .

Kemudian, sidang dilanjutkan dengan wisuda. Seperti yang kusebutkan yang lalu, bagian ini adalah bagian paling “emosional” dari semuanya. Ini lah momen yang mana setiap kandidat PhD harapkan dan bekerja untuknya. Dan kini, momen ini adalah milikku. Akhirnya, aku tiba juga di sana.

Setelah diwisuda, pembimbingku memberikan kata sambutan dan ucapan selamat. Seperti yang pernah kubilang, kami sudah mengenal satu sama lain sekitar tujuh tahunan. Ia lah yang membukakan pintu untukku pindah ke Eropa di tahun 2010, ketika ia menganugerahiku beasiswa penuh S2 ke TU Delft. Dan sekarang, di sini lah kami, tujuh tahun kemudian, aku berdiri di hadapannya (dan orang-orang lain) tepat setelah mendapatkan gelar Doktor. Selama sedikit detik, tanpa terasa aku merasakan sedikit air keluar dari mataku. Sedikit doang kok, haha 😛 .

A graduation speech
Sambutan wisudaku

Kondisi mentalku perlahan-lahan berangsur normal setelahnya. Wisudaku diikuti dengan resepsi dan makan malam yang membawa perasaan senang di dalam hatiku, sehingga menetralisir perasaan melankolis yang telah terbentuk.

Lalu, aku merasakan “kebabasan”. Bukannya aku tidak “bebas” sebelumnya, tetapi lebih seperti perasaan “bebas” ketika aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan dan aku telah bekerja-keras banget untuknya, haha. Ini, tentunya, juga datang lengkap dengan kepuasan dan rasa percaya-diri 🙂 .


Yeah, memang ini adalah periode yang menarik dari hidupku; tidak hanya harus menghadapi hal-hal yang memang harus aku urus, tetapi aku juga harus bergular dengan aspek mentalnya. Memang periode ini adalah periode yang unik dari tahun-tahun PhDku. Dan aku akan selalu menghargainya.

General Life, PhD Life, Zilko's Life

#1885 – March 1st


TU Delft

Since the day I arrived in the Netherlands in August 2010, I have always been affiliated with TU Delft. I started as an international Master student back then, a status I held for exactly two years until August 2012. Immediately in September 2012, I started my PhD, which contract ended in August 2016. At the time, though, I was immediately given the hospitality contract because I hadn’t yet had my PhD thesis defense and graduation. So while I was not working for TU Delft anymore (I didn’t receive any salary, bonus, etc), I was still affiliated with TU Delft by this hospitality contract that was meant to support me to my defense. And as you know, I had my PhD defense and graduation at the end of January. So there was no more reason to renew my hospitality contract at the university, which expired this February.

Dusk and EWI building
The EEMCS Faculty at TU Delft

And as today is March 1st, it means that for the first time ever in more than 6.5 years, I am no longer affiliated to TU Delft. Well, of course I still am as an alumni; and TU Delft fills a huge part in my CV now, haha 😛 . But what I mean is, at any given time now I am not officially affiliated to TU Delft.

And for whatever reason, it feels … different! Haha


Anyway, last weekend I was finally able to have some much-needed rest! Haha 😆 . I had been travelling non-stops the past four weekends before that (preparing for my defense, to Italy, to Marseille, and to Marseille again, haha). While those were certainly fun, realistically my body also needed some rest. And the fact that I had to spend three hours every single working day commuting now certainly did not help.

I felt a little bit sleep-deprived and I was glad I could catch up on that last weekend, haha.

A Raise

And also, this March means that … I get a raise! Yeay! Haha 😆 . Last week my team leader invited me for a talk and informed me that based on my performance, I deserved a raise. And this raise will kick into effect starting from this March. Haha! 😛


TU Delft

Semenjak aku pindah ke Belanda di bulan Agustus 2010, aku telah selalu terafiliasi dengan TU Delft. Waktu itu aku mulai sebagai mahasiswa internasional Master/S2, dimana status ini kupegang selama tepat dua tahun hingga Agustus 2012. Langsung di bulan September 2012, aku memulai PhD/S3-ku, yang mana kontraknya berakhir Agustus 2016. Waktu itu, aku langsung diberikan kontrak hospitality karena aku masih belum menjalani sidang dan wisuda PhDku. Jadi walaupun aku tidak lagi bekerja untuk TU Delft (artinya aku tidak lagi menerima gaji, bonus, dll), aku masih terafiliasi dengan TU Delft berdasarkan kontrak hospitality ini yang memang dimaksudkan untuk sebatas membantuku menjalani sidangku. Dan seperti yang telah diketahui, aku menjalani sidang dan wisuda PhDku akhir Januari lalu. Jadilah perpanjangan kontrak hospitality di TU Delft ini tidak diperlukan, yang mana kontraknya berakhir di bulan Februari.

Dusk and EWI building
Fakultas EEMCSnya TU Delft

Dan karena sekarang adalah tanggal 1 Maret, artinya untuk pertama kalinya dalam 6,5 tahun, aku tidak lagi terafiliasi dengan TU Delft. Eh, tentu saja masih sih sebagai alumni; dan TU Delft sekarang mengisi cukup banyak bagian dari CVku, haha 😛 . Tetapi maksudku adalah, di setiap waktu sekarang, aku tidak secara resmi terafiliasi dengan TU Delft lagi.

Dan entah mengapa, rasanya itu … berbeda! Haha

Akhir Pekan

Anyway, di akhir pekan kemarin akhirnya aku bisa beristirahat nih! Haha 😆 . Ceritanya aku kan sudah terus-terusan jalan-jalan di empat akhir pekan sebelumnya (mempersiapkan sidang, ke Italia, ke Marseille, dan ke Marseille lagi, haha). Walaupun jelas yang namanya jalan-jalan itu selalu seru dan asyik, secara realistis jelas dong ya badanku membutuhkan istirahat juga. Dan kondisi dimana aku harus menghabiskan tiga jam setiap hari kerja untuk nglaju jelas tidak membantu.

Aku sedikit merasa kekurangan-tidur kemarin ini; dan jadilah aku lega aku bisa menebusnya di akhir pekan kemarin, haha.

Kenaikan Gaji

Dan juga, Maret ini berarti … gajiku naik! Yeay! Haha 😆 . Minggu lalu, team leader-ku mengajakku berbincang dan memberi-tahuku bahwa berdasarkan performaku, aku berhak mendapatkan kenaikan gaji. Dan kenaikan ini akan berlaku mulai dari bulan Maret ini. Haha! 😛

PhD Life, Zilko's Life

#1877 – When No News Implies Good News


I wrote this post exactly two months ago, when I was still in the process of arranging my PhD defense and graduation. Obviously, it went well. But I was quite stressed at that time that I decided to channel some of those frustration (and, to some degree, worry) as a post. It helped. And now, I think it is a good time to share this post, to give some insights on the emotional roller coaster I had to “ride” for a few months in my preparation for the defense and graduation 😉 .


Delft, 13 December 2016

It is mid-December now when I am writing the first draft of this post. So I am aware the particular topic I am bringing up now is, rather, outdated by the time I publish this post in the future. Nonetheless, I still think the content is interesting to share 🙂 .


My dominant feeling at this moment is “anxiety”. Today is the deadline for my seven PhD dissertation committee members to submit their assessment of my PhD dissertation to TU Delft. This is a big one. If they all agree that my dissertation is of sufficient quality for me to graduate, the graduating process can continue. And from thereon, it should be a smoother process where mostly I would only need to take care of the technical stuffs (printing my book (I already have an ISBN for it, btw 🙂 ), arranging the dress (the dress code for a PhD graduation ceremony in TU Delft is super strict), etc).

In assessing my dissertation, the committee members have three options: (1) to approve my dissertation, (2) to approve my dissertation BUT with revisions, (3) to reject my dissertation. Options (2) and (3) are bad. Option (3) is bad for the obvious reason. Option (2) is bad because, while they do not reject the dissertation, (major) revisions need to be done AND, more annoyingly, the graduation process would need to stop and start over from the beginning. So naturally I would hope for the committees to choose option (1).

However, IF a committee member chooses either option (2) or (3), (s)he needs to communicate that with me (and my professors) and provide detailed explanation why (s)he thinks so. Up to now, I have received no such news. So, in theory, this no news situation is basically good news which implies all committees have chosen option (1).

But still, without the official announcement, I am really “anxious” now and feel like I am on my toes, haha 😆 . Maybe this is how some people feel when they are asking for some “certainty”, lol 😆 .

Well … I just hope that I hear something (good) back soon.


So, at the time one of my committee was late in submitting his evaluation. It also happened that the Christmas and New Year holiday season was coming up next! Moreover, there were still a lot of stuffs to be taken care of even after the green-light that I could have my PhD defense! And so I think it was not surprising that I was worried about it! Haha 😆


Posting ini aku tulis tepat dua bulan yang lalu, ketika aku masih dalam proses mempersiapkan sidang dan wisuda PhD/S3-ku. Jelas, semuanya berlangsung lancar. Tetapi waktu itu aku sedang merasa cukup stres dan aku memutuskan untuk menyalurkan rasa frustrasi (dan juga kekhawatiranku) dalam sebuah posting. Ini membantu banget loh. Dan saat ini aku rasa adalah waktu yang baik untuk membagikan cerita ini, untuk sedikit menggambarkan roller coaster emosi yang harus aku “naiki” selama beberapa bulan proses persiapan sidang dan wisuda itu 😉 .


Delft, 13 Desember 2016

Sekarang ini pertengahan bulan Desember ketika aku menuliskan draft pertama posting ini. Jadi aku sadar bahwa topik yang ingin kuangkat kali ini tentunya sudah cukup basi ketika posting ini aku publikasikan di masa mendatang. Toh walaupun begitu, aku masih merasa isinya cukup menarik kok untuk dibagikan 🙂 .


Perasaan dominanku saat ini adalah “gelisah”. Hari ini adalah tenggat waktu bagi tujuh anggota komite disertasi PhD/S3ku untuk memasukkan hasil evaluasi mereka akan disertasiku ke TU Delft. Ini penting banget nih. Jika mereka semua setuju bahwa kualitas disertasiku cukup baik untukku lulus, proses kelulusanku bisa berlangsung. Dan dari sana, prosesnya akan cenderung lebih mulus dimana kebanyakan aku hanya perlu mengurus tetek bengek teknis kelulusan (misalnya mencetak bukuku (aku sudah memiliki nomor ISBN juga loh, btw 🙂 ), menyiapkan pakaianku untuk sidang nanti (dress code untuk sidang PhD di TU Delft ketat banget nih), dll).

Dalam mengevaluasi disertasiku, anggota komitenya diberikan tiga pilihan: (1) untuk menyetujui disertasiku, (2) untuk menyetujui disertasiku TETAPI dengan revisi, atau (3) untuk menolak disertasiku. Pilihan (2) dan (3) adalah pilihan yang buruk. Jelas lah ya mengapa pilihan (3) itu buruk. Pilihan (2) buruk karena, walaupun memang sih disertasinya tidak ditolak, revisi (besar) diperlukan DAN, yang lebih menyebalkannya, proses kelulusannya harus berhenti dan dimulai lagi dari awal. Jadi tentu saja aku berharap anggota komiteku memilih pilihan (1).

Namun, JIKA seorang komite memilih pilihan (2) atau (3), ia diwajibkan mengomunikasikannya denganku (dan profesor-profesorku) dan memberikan penjelasan mendetail mengapa ia berpendapat demikian. Nah, sampai saat ini, aku tidak menerima pemberitahuan apa-apa tuh dari mereka. Jadi, in theory, ketiadaan berita ini adalah berita baik dong ya karena ini kan artinya semua anggota komiteku telah memilih pilihan (1).

Tetapi tetap aja nih, tanpa pengumuman resmi, kok aku merasa “gelisah” gitu ya, haha 😆 . Mungkin ini ya yang dirasakan sebagian orang ketika mereka meminta “kepastian” *uhuk*, ahahah 😆 .

Yah … aku harap sih aku akan segera mendengar suatu berita (baik) deh.


Yup, ceritanya waktu itu salah seorang anggota komiteku terlambat dalam memasukkan laporan evaluasinya. Padahal dalam waktu dekat liburan Natal dan Tahun Baru akan dimulai kan! Padahal (juga), masih ada banyak hal tetek-bengek yang harus aku urus setelah aku mendapatkan lampu hijau untuk sidang! Jadi, rasanya, wajar jika aku merasa gelisah karenanya! Haha 😆

PhD Life, Zilko's Life

#1857 – A Theme for January


My Facebook friends have already known this for a while so I think now it is time to share this news here in my blog.

This January is a big month for me.

This was confirmed when, a few days before Christmas, I received an official letter from TU Delft of my admission to my doctoral defense at the end of this month. Yes, all seven members of my doctorate committee (in which four were full professors) have approved my PhD dissertation. They believe the dissertation shows my sufficient capability of practising science independently (This is a quote from the letter, btw, haha 😆 ).

It has been a long journey of four and a half years; and all of that will culminate at the end of this month. All the hardwork was for this moment. It is the moment all PhD candidates are hoping for. And now, I have been admitted to it. Yes, the final challenge. The last “boss” to conquer, sort of say. Just one more battle.

To, sort of, build up into it, I have this idea to write some posts relating to my life as a PhD this month. Yeah, yeah, there have been many posts like that in the past. But actually, there are other stories which I haven’t yet shared too. So I guess I would do that this month. It seems like the perfect opportunity to do so. But not all posts this month will be about this, though, haha 😆 .

Yeah, so … , here we go 🙂 .

A PhD Defense
A PhD Defense of my colleague in 2013. I will have mine at the end of this month.


Teman-temanku di Facebook sudah tahu ini selama beberapa waktu sehingga aku rasa sekarang adalah saatnya untuk menceritakannya di blog ini.

Januari ini adalah bulan yang besar bagiku.

Ini terkonfirmasi ketika, beberapa hari menjelang Natal, aku menerima surat resmi dari TU Delft yang berisi penerimaan untukku bisa menjalani sidang doktoralku akhir bulan ini. Ya, ketujuh anggota komite doktoralku (yang mana empat di antaranya adalah profesor) telah meng-ACC (menyetujui) disertasi PhD/S3-ku. Mereka percaya bahwa disertasinya menunjukkan kemampuanku yang cukup untuk melakukan/mengerjakan sains secara independen (Kalimat ini kutipan dari suratnya lho, haha 😆 ).

Perjalanan PhD ini adalah perjalanan yang panjang selama empat setengah tahun; dan ini semua akan mencapai puncaknya akhir bulan ini. Semua kerja-kerasku selama itu adalah untuk saat ini. Saat-saat yang dinantikan oleh semua kandidat PhD. Dan sekarang, aku telah diterima untuk masuk ke dalamnya. Ya, tantangan terakhir. “Bos” terakhir untuk ditaklukan, mungkin begitu. Satu pertarungan lagi.

Nah, supaya semakin dramatis, aku memiliki ide untuk menuliskan beberapa posting yang berkaitan dengan kehidupanku sebagai kandidat PhD bulan ini. Iya, iya, sudah banyak sih posting-posting begitu dulu-dulu juga, haha. Tapi sebenarnya, ada banyak juga cerita yang belum kubagikan. Jadi aku rasa bulan ini aku akan membagikannya. Toh rasanya ini adalah waktu yang pas untuk itu kan. Eh, tapi bukan berarti semua posting-ku akan tentang ini sih, haha 😆 .

Jadi, ya … , mari kita songsong bulan ini! 🙂