Aviation · North America Trip · Trip Report · USA · Vacation

#2048 – 2017 Year End Trip (Part I: KLM KL 605 AMS-SFO in Economy)

ENGLISH

Posts in the 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV:Β The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe


Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD named “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

I managed to snatch seat 10K, a window seat in the first row of economy comfort, while checking-in online the day before the trip. I was able to get this seat in economy comfort for free thanks to my new Platinum status (Normally, one would have had to pay €160 extra just to sit there on this flight to San Francisco!). Anyway, seat 10K was actually the second best seat for me on this flight. The best one would have been seat 10A because it would provide a bird’s eye view of San Francisco upon landing but that seat had already been taken, damn! Haha πŸ˜› .

Checking in for my flight KL 605

Long story short, I arrived at Schiphol and checked my luggage in, upon which I also got a paper boarding pass. I waited for the flight at the KLM Crown Lounge and then went to the gate about 20 minutes before boarding time. The flight today would be operated with a Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD which KLM named “Bougainville”.

KLM’s Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD was ready to go to SFO

As you could see in the photo above, the weather at Schiphol today was not at the best condition. After all passengers at the gate boarded, the captain informed us that we were not given the green light to depart yet because we were still waiting for some connecting passengers whose coming flights to Amsterdam were delayed due to Schiphol’s current limited runway capacity. And so we had to sit in the plane for about an hour before we were finally given the permission to go. We took off from runway 24 and PH-BHD turned northwest towards California.

Finally taking off from runway 24 of AMS

Let’s start with the seat. KLM configured their Boeing 787-9 Dreamliner with the 3-3-3 layout in economy. This layout was actually fine. But to me, theΒ “problem” was, just about two weeks prior I was flying a Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER which Garuda also configured with the 3-3-3 layout (While many other airlines, including KLM, chose to configure their Boeing 777s with the 3-4-3 layout). However, a Boeing 777-300ER was a bigger airplane, hence wider cabin, than a Boeing 787-9 Dreamliner. I guess because of this, somehow PH-BHD’s cabin felt a little bit “crammed” to me, haha.

A KLM Dreamliner selfie

Anyway, shortly after take-off, a snack and drink service was provided. The snack was a delicious roasted almond and I chose to pair it with white wine, haha. After the snack service, the flight attendants distributed the warm tissues service, a typical KLM’s long-haul service in economy which was really nice IMO.

I then started to watch the classic movie The Graduate at the AVOD IFE. Speaking of the AVOD, I wasn’t that much impressed with the content (in terms of movies and songs) this time, unfortunately. Though, perhaps the fact that there had been not a lot of new movies which excited me in the past several months might play a role in this too, haha.

The lunch service on board KLM flight KL605

The lunch service was provided not long after; with the choice being a vegetarian or a meatball dish. Obviously I opted for the meatball one, haha πŸ˜› . And it was good!

Just after lunch, the map showed that we were already flying above … Greenland! I was of course excited about this and looked out the window! Greenland was, unlike its name, fully white as it was covered with snow and ice, haha.

Greenland, which looked more white than green to me.

PH-BHD then continued to fly towards Canada, upon which an ice cream snack service was provided. After finishing The Graduate, I decided to watch a second movie, Guardians of The Galaxy Vol. 2. And also, I tried KLM’s wifi which were available on their Boeing 787-9 Dreamliners. The wifi access was based on data instead of time, which was a factor I did not really like. But in terms of price, I thought their pricing was fair enough, even though a few times I had small problems with the connectivity.

Btw, as usual in a long-haul KLM flight, the flight attendants went on many rounds around the cabin bringing a tray of drinks for the passengers, which was, of course, such a very nice service! More snacks were also available at the galley. As we were entering the United States air space, the late lunch service was provided, which was also tasty.

The late lunch service on board KLM flight KL605

Long story short, at around 1 PM local time we started our descent towards San Francisco International Airport. We were not able to recover from our departure delay, though; and so we still arrived in San Francisco about one hour behind schedule. At 1:28 PM, we landed at runway 28L of San Francisco International Airport, here is the landing video:

PH-BHD parked at the International Terminal where I saw Emirates’, Japan Airlines’, Korean Air’s, Air France’s, and Aeromexico’s planes. Our delay meant that we arrived after all these airlines resulting in: very long lines at immigration!Β πŸ˜–Β I had to wait for more than an hour before clearing immigration! And so when I arrived at the baggage area, my bag was already waiting for me nicely there, haha.

I exited the terminal and went to the BART station to take the train to Downtown San Francisco. And here, my two weeks vacation in California started!!

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV:Β The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe


Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD bernama “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

Aku berhasil mengamankan kursi 10K, kursi jendela di baris pertama kelas economy comfort, ketika check-in online sehari sebelum berangkat.Β Aku bisa mendapatkan kursi economy comfort ini dengan gratis loh berkatΒ status Platinum baruku iniΒ (Normalnya, seorang penumpang harus membayar ekstra €160 (sekitar Rp 2,6 juta) untuk duduk di kursi ini di penerbangan ke San Francisco!). Anyway, kursi 10K sebenarnya adalah kursi terbaik kedua di penerbangan ini bagiku. Yang terbaik adalah kursi 10A karena dari sana aku akan mendapatkan pandangan San Francisco dari atas ketika mendarat. Tetapi sialnya kursi itu sudah diambil orang lain nih! Haha πŸ˜› .

Check in untuk penerbangan KL 605

Singkat cerita, aku tiba di Schiphol, meng-check-in-kan bagasiku, dan mendapatkanΒ boarding pass fisik. Aku menunggu penerbanganku di KLM Crown Lounge dan kemudian berjalan ke gate sekitar 20 menit sebelum waktu boarding. Penerbangan hari ini akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD yang KLM beri nama “Bougainville”.

Pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM rego PH-BHD siap untuk berangkat ke SFO

Seperti yang terlihat di foto di atas, cuaca di Schiphol hari ini memang sedang kurang oke. Setelah semua penumpang yang berada di gate naik ke dalam pesawat, kaptennya memberi-tahu bahwa kami masih belum diberikan lampu hijau untuk berangkat karena ternyata kami masih harus menunggu beberapa penumpang connecting yang penerbangannya terlambat mendarat di Schiphol akibat kapasitas landasan pacu bandara yang dikurangi karena kondisi cuaca. Jadilah kami harus duduk di dalam pesawat selama satu jam-an sebelum akhirnya bisa berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 24 dan kemudian PH-BHD berbelok ke arah barat laut menuju California.

Akhirnya lepas landas dari landasan pacu 24nya AMS

Mari ngomongin masalah kursi. KLM mengonfigurasi Boeing 787-9 Dreamliner mereka dengan layout 3-3-3 di ekonomi. Layout ini sebenarnya oke-oke aja sih. Yang jadi “masalah” bagiku adalah baru sekitar dua minggu sebelumnya aku terbang dengan pesawat Boeing 777-300ERnya Garuda IndonesiaΒ yang mana Garuda konfigurasi dengan layout 3-3-3 juga (Padahal banyak maskapai lain, termasuk KLM, memilih layout 3-4-3 untuk pesawat tipe Boeing 777 ini). Namun, Boeing 777-300ER kan adalah tipe pesawat yang lebih besar ya, yang mana artinya juga memiliki kabin lebih besar, daripada Boeing 787-9 Dreamliner. Aku duga karena ini, kabinnya PH-BHD ini jadi terasa “sempit” untukku, haha.

KLM Dreamliner selfie

Anyway, tidak lama setelah lepas landas, layanan snack dan minuman diberikan. Snack-nya berupa kacang almond panggang yang mana rasanya enak banget loh; dan tentu saja aku temani dengan white wine, haha. Setelah layanan snack, awak kabin membagikan layanan tisu hangat, sebuah layanan khasnya KLM di ekonomi yang menurutku oke.

Aku kemudian mulai menonton film klasikΒ The GraduateΒ di AVOD IFE. Nah, ngomongin AVODnya nih, aku kok agak kecewa ya dengan isinya (dalam hal pilihan film dan lagu), sayangnya. Mungkin ini diakibatkan karena memang tidak ada banyak film yang menarik sih beberapa bulan belakangan ini, haha.

Layanan makan siang di penerbangan KLM KL605

Layanan makan siang disajikan tak lama setelahnya; yang mana pilihannya adalah menu vegetarian atau menu bola daging. Ya jelas lah ya aku memilih bola daging, haha πŸ˜› . Dan rasanya enak!

Setelah makan siang, peta menunjukkan bahwa ternyata kami sudah berada di atasnya … Greenland! Jelas dong aku excited dan langsung menengok keluar jendela! Greenland itu, tidak seperti namanya, berwarna putih banget karena memang terselimuti salju dan es, haha.

Greenland, yang nampak lebih putih daripada hijau untukku.

PH-BHD kemudian lanjut terbang menuju Kanada, dimana layanan es krim dibagikan. Setelah selesai menonton The Graduate, aku memutuskan untuk menonton film kedua,Β Guardians of The Galaxy Vol. 2. Oh iya, pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM juga dilengkapi dengan wifi loh. Tetapi wifi-nya menggunakan kuota paket data sih, bukannya waktu, yang mana merupakan satu faktor yang aku kurang begitu suka. Tetapi untuk masalah biaya, aku rasa harga aksesnya cukup fair juga, walaupun terkadang aku konektivitasnya bermasalah sih.

Btw, seperti biasa di penerbangan jarak jauhnya KLM, awak kabinnya aktif berkeliling kabin sambil membawa nampan berisi minuman untuk para penumpang yang mana, jelas, adalah pelayanan yang oke banget! Snack juga disediakan di dapur pesawat. Ketika kami memasuki area udara Amerika, layanan makan siang kedua dibagikan, yang mana rasanya juga lumayan.

Layanan makan siang kedua di penerbangan KLM KL605

Singkat cerita, sekitar jam 1 siang waktu setempat pesawat mulai turun menuju Bandara Internasional San Francisco. Kami tidak berhasil memotong waktu keterlambatan kami, sehingga kami tiba di San Francisco sekitar satu jam terlambat. Jam 1:28 siang, pesawat mendarat di landasan pacu 28L Bandara Internasional San Francisco, berikut ini video pendaratannya:

PH-BHD parkir di Terminal Internasional dimana aku melihat sudah ada pesawatnya Emirates, Japan Airlines, Korean Air, Air France, dan Aeromexico. Keterlambatan kami berarti kami baru tiba setelah semua maskapai lain ini yang berakibat pada: antrian yang panjang banget di imigrasi!Β πŸ˜–Β Aku harus mengantri selama lebih dari satu jam loh! Dan jadilah ketika tiba di area bagasi, bagasiku sudah menungguku di sana, haha.

Aku keluar dari terminal dan berjalan menuju stasiun kereta BART untuk naik kereta menuju Downtown San Francisco. Dan di sini, liburan dua mingguku di California resmi dimulai!!

BERSAMBUNG…

Advertisements
North America Trip · USA · Vacation

#2044 – 2017 Year End Trip (Introduction)

ENGLISH

Posts in the 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV:Β The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe

So California was the destination of my year end 2017 trip, a trip which ended last week when I was flying a KLM’s Boeing 747-400 in World Business Class from Los Angeles International Airport (LAX) to Amsterdam Schiphol (AMS). On a side note, I found it really cool though that I started my flying year of 2018 on an intercontinental TransAtlantic flight with a Boeing 747 in business class! Haha πŸ˜› .

The mandatory World Business Class selfie on board a KLM’s Boeing 747

Anyway, how was California? Well, in one word, it was great!!

I visited two big cities on this trip: San Francisco and Los Angeles, and also managed a one-day tour from San Francisco to the Yosemite National Park. If I had to choose between San Francisco and Los Angeles as to which one I liked more, without a doubt I would choose San Francisco, haha. Anyway, I found both cities to be very different from the two other American cities I have visited: Boston and New York; an unsurprising impression I guess given that they were at the opposite sides of the United States, lol.

A tourist in San Francisco.

One small factor which made me happy about this trip was that euro was a little bit stronger (by around 5%) in opposition to US dollar this time around than it was two years ago when I visited the two East Coast cities! Lol πŸ˜† .

Speaking of Los Angeles, a few weeks before this trip, I contacted Arman and Christa (who has just moved to LA) to possibly arrange a meetup. And thankfully we were able to find a time when we would all be free; and so we did organize a meet-up on the New Year’s Day in Hollywood! And it was not just the three of us, as Arman came with Esther, Andrew, and Emma; and Christa came with R! πŸ˜€

A bloggers meetup in Hollywood!!

So yeah, overall it has been such a fun trip!! πŸ™‚ I got what I wanted out of this trip, that was a relaxing two-week holiday. And certainly the Californian climate played a really big role in that (especially Los Angeles’). I felt like I cleared my mind and now I am ready to get back to work (Well, after fully recovering from the terrible jetlag, of course. And it is quite bad because the time difference between Amsterdam and California is nine hours! Lol πŸ˜† ).

Anyway, here are a few more teasers from this trip!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV:Β The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe

Jadi California adalahΒ tujuan dari perjalanan akhir tahun 2017ku, sebuah perjalanan yang berakhir minggu lalu ketika aku terbang dengan pesawat Boeing 747-400nya KLM di Kelas Bisnis Dunia dari Bandara Internasional Los Angeles (LAX) ke Bandara Amsterdam Schiphol (AMS). Sekedar catatan kecil nih, rasanya seru juga kegiatan terbangku di tahun 2018 dibuka dengan penerbangan antar benua trans-Atlantik dengan sebuah Boeing 747 di kelas bisnis! Haha πŸ˜› .

Selfie wajib ketika terbang dengan kelas bisnis di pesawat Boeing 747nya KLM

Anyway, gimana nih California? Dalam satu kata, asyik!!

Aku mengunjungi dua kota besar di perjalanan ini: San Francisco dan Los Angeles, dan juga masih sempat memasukkan sebuah tur sehari ke Taman Nasional Yosemite dari San Francisco. Nah, jika aku disuruh memilih mana yang lebih aku sukai di antara San Francisco dan Los Angeles, jelas aku memilih San Francisco dah, haha. Anyway, berdasarkan pengalamanku dua kota ini juga beda banget dari dua kota Amerika lain yang pernah aku kunjungi: Boston dan New York; ya nggak mengherankan juga sih ya secara mereka kan berada di ujung yang berbeda dari Amerika Serikat, haha.

Turis di San Francisco.

Eh, satu faktor kecil lain yang membuatku senang di perjalanan ini adalah euro sedikit lebih kuat (sekitar 5%-an) dibandingkan dollar Amerika loh kali ini dibandingkan dua tahun lalu ketika aku mengunjungi kota di Pantai Timur Amerika itu! Lumayan lah ya, huahaha πŸ˜† .

Ngomongin Los Angeles, beberapa minggu sebelum aku berangkat, aku mengontak ArmanΒ danΒ Christa (yang baru saja pindah ke LA) untuk kemungkinan buat kopdar gitu. Untungnya kami bisa menemukan jadwal yang pas; dan jadilah kami beneran kopdar di hari Tahun Baru di Hollywood! Dan nggak cuma bertiga aja loh, Arman datang bersama Esther, Andrew, dan Emma; dan Christa datang bersama R! πŸ˜€

Kopdaran di Hollywood!!

Jadi ya memang secara keseluruhan perjalanan ini asyik banget dah!! πŸ™‚ Aku mendapatkan apa yang aku mau dari perjalanan ini, yaitu liburan dua minggu yang santai. Dan ini kebetulan juga didukung banget dengan iklimnya California (terutama Los Angeles). Aku merasa pikiranku segar sekarang dan aku siap untuk kembali ke kantor (Eh, tentu setelah pulih dari jetlag yang parah banget ini sih. Dan lumayan parah loh jetlag-nya soalnya perbedaan waktu antara Amsterdam dan California adalah sembilan jam! Haha πŸ˜† ).

Anyway, di atas aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini!

General Life · Zilko's Life

#2041 – Back in Europe!!

ENGLISH

Yesterday morning, my KLM flight KL602 from Los Angeles landed at Schiphol, thus marking the end of my 2017 year end trip to California. Now, I am supper jetlagged! And you know this jetlag is the more annoying Eastward jetlag one, which I don’t really like but I must face, haha πŸ˜€ .

Btw, I work today, though I do it at home because apparently this jetlag is quite bad, probably due to the nine hours of time difference between Amsterdam and California. I understand that you might find it strange given that I only arrived yesterday (Thursday) morning meaning that tomorrow is a weekend, haha. But I need to be careful with the number of my holiday allowance as I have a few big plans panned out throughout this year. So I feel like I got to “save” some whenever I can!

Anyway, I have not got the time yet to start writing posts of this trip; including the Introduction one (This post is certainly not the Introduction post πŸ˜› ). I am getting into it later once I have the time and energy. However, I can tell you now that it was such a fun trip!! πŸ˜€

Yeah, this is all for now. I just wanted to say hi here! πŸ˜›

BAHASA INDONESIA

Kemarin pagi, penerbangan KLM KL602ku dari Los Angeles mendarat di Schiphol, yang menandai berakhirnya liburan akhir tahun 2017ku ke California. Sekarang, aku terkena jetlag parah banget nih! Dan tahu kan ini jetlag yang menyebalkan sekali karena merupakan jetlag ke arah timur, yang mana tidak aku sukai tetapi harus aku hadapi, haha πŸ˜€ .

Btw, hari ini aku ngantor loh, walaupun hari ini ngantor-nya dari rumah aja sih karena ternyata jetlag kali ini lumayan parah juga yang mana mungkin diakibatkan oleh perbedaan waktu sebanyak sembilan jam antara Amsterdam dan California. Iya, memang wajar kalau menganggapnya aneh karena aku baru pulang kemarin (Kamis) pagi sementara besok kan sudah weekend gitu ya, haha. Tetapi aku perlu berhati-hati nih dengan jumlah jatah cutiku tahun ini karena aku ada beberapa rencana jalan-jalan besar di tahun ini. Jadi aku merasa sedapat mungkin jatah cutiku harus aku “hemat” gitu deh!

Anyway, aku belum memiliki waktu untuk mulai menuliskan cerita dari perjalanan ini nih; termasuk posting Pendahuluannya (Jelas posting ini bukanlah posting Pendahuluan lah ya πŸ˜› ). Nanti akan segera aku mulai tulis begitu aku ada waktu dan tenanganya, haha. Namun, sekarang bisa kubilang bahwa perjalanan ini seru banget!! πŸ˜€

Ya, segini dulu deh untuk saat ini. Aku hanya ingin mengucapkan salam di sini! πŸ˜›

Asia Trip · Aviation · Indonesia Trip · Southeast Asia · Trip Report · Vacation

#2040 – November 2017 Indonesia Trip (Part VI: Back to Europe)

ENGLISH

Posts in the November 2017 Indonesia Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

My routing this time was (almost) a carbon copy of my trip back to Europe from my Indonesia Summer Trip back in 2015. The only differences were that (1) Instead of taking flight GA213 from Yogyakarta to Jakarta, I took flight GA211, (2) Instead of Terminal 2, Garuda Indonesia already moved to the brand new Terminal 3 Ultimate in Jakarta, and (3) This time I was entitled the SkyPriority benefits with my KLM status; I hadn’t reached that status yet back in August 2015. Anyway, let the trip report begin!

The route map this year was a carbon copy of my 2015 trip. Created with gcmap.com

Garuda Indonesia GA211 (JOG – CGK)

Flight: Garuda Indonesia GA 211
Equipment: Boeing 737-800 reg PK-GNG
ATD: 15:51 WIB (Runway 27 of JOG)
ATA: 16:46 WIB (Runway 25L of CGK)

After checking-in at the SkyPriority desk, I went to Garuda Indonesia Executive Lounge at the airport. This was my second visit to this small lounge this year, after the first time being earlier this year during my trip back to Amsterdam via Bali, Shanghai, and Paris, haha. Unlike that other time, the lounge was very busy this time around.

The Garuda Indonesia Executive Lounge at Adisutjipto Airport.

Anyway, my flight to Jakarta today would be operated with a Boeing 737-800 reg PK-GNG which had Boeing Sky Interior! From Flightradar24 I knew beforehand that the flight would be slightly delayed, though.

A Garuda Indonesia’s Boeing 737-800 reg PK-GNG at Adisutjipto Airport

Long story short, I went to the gate and was the first passenger to board, haha πŸ˜› . I settled onto my comfortable 21K seat in the first row of economy. After all passengers boarded, we departed and took off from runway 27 of Adisutjipto Airport. See you, Yogyakarta!

See you, Jogja!

Overall it was a pleasant, regular, short-haul flight with Garuda Indonesia. A snack service was distributed short after take-off. I used the AVOD IFE to listen to some music. And as it was an afternoon flight, I spent most of my time also starring out of the window, haha πŸ˜› . About 45 minutes later, we were already on descent to Soekarno-Hatta International Airport and the flight attendants prepared for landing.

Not long after, we landed at runway 25L of Soekarno-Hatta International Airport, the farther runway from Terminal 3 Ultimate meaning the taxiing to the stand would be quite long, haha. Anyway, here is the landing video:

Transiting at Terminal 3 Ultimate

It happened that my arrival gate at Jakarta was at the far end of the domestic side of the terminal. Having an international connection made me realize the gigantic size of Terminal 3 Ultimate. I basically had to walk down almost the entire 1.2 km length of the terminal to get to my connecting gate! Haha πŸ˜› .

White wine at the Garuda Lounge

Anyway, long story short I cleared security and immigration; and then I went to Garuda Indonesia’s International Lounge at the brand new terminal. The lounge appeared to be smaller than its domestic counterpart (see Part II). It a was nice and comfortable lounge with good food and drink selection. As it was an international lounge, white and red wine were also available at the bar section. The wifi connection was also especially fast for Indonesian standard.

Garuda Indonesia GA88 (CGK – SIN)

Flight: Garuda Indonesia GA 88
Equipment: Boeing 777-300ER reg PK-GII in SkyTeam Livery
ATD: 21:25 WIB (Runway 25R of CGK)
ATA: 23:38 SGT (Runway 02C of SIN)

I felt very lucky and was very excited when I found out that this Boeing 777-300ER would be my ride tonight:

A Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GII in SkyTeam Livery at Terminal 3 Ultimate

Yes, PK-GII, i.e. Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER which was in SkyTeam Livery!! 😍 It would be my first time ever catching a Garuda bird in this special alliance colour!

Boarding started a little bit late. I was amongst the first passengers to board and settled onto my comfortable 21K seat. This flight to Singapore made me notice the cost-cutting effort the Garuda management has tried to impose to remain competitive. For once, there was no welcome drink in economy like what I got two years ago on this very same flight, haha.

Boarding screen

Anyway, even after boarding completed, we could not depart because we were still waiting for some documents to be completed. This caused a delay of about 30 minutes. And then of course once we actually departed, we had to face the typical long queue for take-off at Soekarno-Hatta International Airport. In the end, we could only take off at 21:25 while our scheduled departure time was 20:30.

Waiting on my 21K seat

We took off from runway 25R and made a turn towards Singapore. Not too long after take-off, the dinner service was provided. The choices were beef lasagna or chicken with noodles. I opted for the first along with wine wine and water as my drink of choice. I found the lasagna to be okay. During this time, I also watched two episodes of The Big Bang Theory, haha…

Beef lasagna for dinner and The Big Bang Theory

About an hour later we started our approach towards Singapore Changi Airport and then landed at runway 02C. Here is the landing video:

It was quite a long taxi towards Terminal 3. Transit passengers were told to disembark the plane and the transit time would be one hour.

Transiting at Changi Airport

Another clear cost-cutting effort was the now non-existence of transit stuffies in Singapore. Two years ago, I got a snack box and a S$30 voucher for shopping at Changi. This year, I got nothing! Haha πŸ˜› .Β And so I just went to the Information Kiosk to get a wifi password before immediately going to the gate to wait for boarding.

No transit stuffies this time around.

Anyway,Β technically, the next flight would be a fifth freedom flight as I would be flying a Garuda Indonesia flight from Singapore to the Netherlands! An aspect which I was quite excited about because it would be my only fifth freedom flight this year.

Garuda Indonesia GA88 (SIN – AMS)

Flight: Garuda Indonesia GA 88
Equipment: Boeing 777-300ER reg PK-GII in SkyTeam Livery
ATD: 01:54 SGT (Runway 02L of SIN)
ATA: 07:38 CET (Runway 18C of AMS)

Upon boarding, I found out that my neighbouring two seats were taken by a young couple with a baby! Because my seat was a window seat, I immediately realized that the spaciousness I previously got from my 21K seat would be heavily compromised. After take-off, a baby basinet would be installed occupying most of that space. While this was certainly a discomfort to me, this was actually indeed the “risk” of picking this seat, haha. Of course I could not “win” all the time.

The safety demo

Anyway, long story short we departed after boarding finished. It was almost a full flight to Amsterdam today, with a load factor of at least 95% in economy, which was really impressive IMO! We took off from runway 02L and headed northwest towards Europe.

Another round of dinner service (with the same options) was served not long after take-off. I was still feeling full so I declined the service and only asked for a glass of guava juice, haha. During this time, we were flying above Aceh, not too far away (I guess) from where Cyclone “Dahlia” was the day before. As a result, we faced some not-so-light turbulences, haha.

There were turbulences in this area.

In the meantime, I tried to sleep because I was feeling really sleepy. As a matter of fact, I actually could sleep for about six hours, which was quite impressive for my standard! It also happened that I slept during the part of the flight along the turbulence area, haha. Btw somewhere along the way, the in-between-fuel service was served, which was a salmon sandwich.

The in-between fuel service

I woke up when we were already somewhere above the Turkish airspace. I was quite awake already that I knew trying to go back to sleep would be a futile attempt, haha. So I watched several more episodes of The Big Bang Theory.

About two hours before landing, the breakfast service started. The options were between omelette and chicken with rice; I opted for the latter. To accompany my breakfast, I was torn to watch either Hidden Figures or Trinity, the Nekad Traveller, haha πŸ˜› . Thinking that it would be difficult for me to watch an Indonesian movie in the Netherlands, I chose he latter πŸ˜› .

Chicken and rice for breakfast.

Anyway at around 7:15 local time we were already on approach to Schiphol Airport. It was still dark outside when the flight attendants were preparing for landing:

And not too long after, we landed at runway 18C of Amsterdam Schiphol Airport. Here is the landing video:

PK-GII then parked at gate G5. We disembarked and I cleared immigration. It was awesome that my luggages were delivered at the belt exactly by the time I reached the luggage area! This was certainly because of my SkyTeam Elite Plus status! My luggages were tagged with priority labels so I got to “avoid” the problem of long waiting for luggages at Schiphol! πŸ˜›

Anyway, then I took the train to Amsterdam Centraal; and here my November 2017 Indonesia Trip officially ended.

THE END.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri November 2017 Indonesia Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

Ruteku kali ini (nyaris) sama persis dari perjalananku kembali ke EropΒ dariΒ liburan musim panasku di Indonesia tahun 2015. Perbedaannya adalah (1) Bukannya dengan penerbangan GA213 dari Yogyakarta ke Jakarta, kali ini aku naik GA211, (2) Bukannya Terminal 2, Garuda Indonesia sudah pindah ke Terminal 3 Ultimate di Jakarta, dan (3) Kali ini aku mendapatkan fasilitas SkyPriority dengan status KLMku; aku masih belum mendapatkan status ini di bulan Agustus 2015. Anyway, mari trip report-nya langsung kita mulai!

Peta ruteku tahun ini sama persis seperti perjalananku di tahun 2015. Dibuat dengan gcmap.com

Garuda Indonesia GA211 (JOG – CGK)

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 211
Pesawat: Boeing 737-800 reg PK-GNG
ATD: 15:51 WIB (Runway 27 of JOG)
ATA: 16:46 WIB (Runway 25L of CGK)

Setelah check-in di konter SkyPriority, aku pergi ke Executive Lounge-nya Garuda Indonesia di bandara. Ini adalah kali kedua aku mengunjungi lounge kecil ini tahun ini, setelah yang pertama adalah awal tahun iniΒ dalam perjalananku kembali ke Amsterdam dengan transit di Bali, Shanghai, dan Paris, haha. Tetapi tidak seperti waktu itu, kali ini lounge-nya ramai sekali.

Garuda Indonesia Executive Lounge di Bandara Adisutjipto.

Anyway, penerbanganku ke Jakarta hari ini akan dioperasikan dengan Boeing 737-800 rego PK-GNG yang dilengkapi dengan Boeing Sky Interior! Melalui Flightradar24, aku sudah tahu bahwa penerbangan ini akan mengalami keterlambatan sih.

Sebuah Boeing 737-800 milik Garuda Indonesia dengan rego PK-GNG di Bandara Adisutjipto.

Singkat cerita, aku pergi ke gerbang keberangkatan dan adalah penumpang pertama yang naik pesawat, haha πŸ˜› . Aku duduk di kursi 21K yang nyaman di baris pertama kelas ekonomi. Setelah semua penumpang naik, pesawat berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 27 Bandara Adisutjipto. Sampai jumpa lagi, Yogyakarta!

Sampai jumpa, Jogja!

Secara umum, ini adalah penerbangan reguler jarak dekat yang nyaman dengan Garuda Indonesia. Layanan snack diberikan sesaat setelah lepas landas. Melalui AVODnya aku mendengarkan beberapa lagu. Dan karena penerbangannya berlangsung di siang hari, aku banyak melihat ke luar jendela deh, haha πŸ˜› . Sekitar 45 menit kemudian, kami sudah mulai turun menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan awak kapal mulai bersiap untuk mendarat.

Tak lama setelahnya, kami mendarat di landasan pacu 25L, landasan yang agak jauh dari Terminal 3 Ultimate sehingga taxiing-nya lumayan lama, haha. Berikut ini video pendaratannya:

Transit di Terminal 3 Ultimate

Kebetulan pesawat diparkir di gerbang yang berlokasi jauh di ujung sisi domestik dari terminalnya. Penerbangan lanjutanku yang merupakan penerbangan internasional membuatku merasakan sebagaimana raksasanya Terminal 3 Ultimate itu. Pada dasarnya aku harus berjalan nyaris di keseluruhan panjang terminalnya yang sepanjang 1,2 km itu untuk mencapai gerbang penerbangan lanjutanku! Haha πŸ˜› .

White wine di Garuda Lounge

Anyway, singkat cerita aku melalui pemeriksaan sekuriti dan imigrasi; dan kemudian aku pergi ke Lounge Internasionalnya Garuda Indonesia di terminal baru ini. Lounge-nya sendiri lebih kecil daripada yang domestik (baca Bagian II) tetapi yang penting nyaman dengan pilihan makanan dan minuman yang cukup beragam. Karena merupakanΒ lounge internasional, minuman wine juga tersedia di barnya. Koneksi wifi-nya juga cepat banget loh untuk ukuran Indonesia.

Garuda Indonesia GA88 (CGK – SIN)

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 88
Pesawat: Boeing 777-300ER reg PK-GII dengan livery SkyTeam
ATD: 21:25 WIB (Runway 25R of CGK)
ATA: 23:38 SGT (Runway 02C of SIN)

Aku merasa amat beruntung dan excited banget ketika tahu bahwa Boeing 777-300ER yang akan membawaku malam ini adalah yang ini:

Sebuah Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia dengan rego PK-GII dengan livery SkyTeam di Terminal 3 Ultimate

Iyaaa, PK-GII, alias Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia yang ber-livery SkyTeam!! 😍 Ini akan menjadi pertama kalinya aku menaiki burungnya Garuda yang berwarnakan corak khusus aliansi ini!

BoardingΒ dimulai agak terlambat kali ini. Aku adalah salah satu penumpang pertama yang naik dan duduk nyaman di kursi 21K-ku. Di penerbangan ke Singapura ini lah aku paling merasakan efek dari pemangkasan biaya yang diusahakan oleh manajemennya Garuda agar perusahaan tetap kompetitif. Misalnya, tidak ada welcome drink dong di kelas ekonomi padahal dua tahun yang lalu di penerbangan yang sama kan ada, haha.

Layar boarding

Anyway, walaupun semua penumpang sudah naik, kami masih belum bisa berangkat karena pilot masih harus menunggu dokumen-dokumen untuk dilengkapi. Ini mengakibatkan keterlambatan selama 30an menit. Dan tentu saja setelah berangkat, kami harus menghadapi yang namanya antrian untuk menunggu giliran lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pada akhirnya, kami baru bisa lepas landas jam 21:25 sementara penerbangan sebenarnya dijadwalkan berangkat jam 20:30. h

Menunggu di kursi 21K-ku.

Pesawat lepas landas dari landasan pacu 25R dan kemudian berbelok menuju Singapura. Tak lama kemudian, layanan makan malam dibagikan. Pilihannya adalah lasagna daging sapi atau mie dengan ayam. Aku memilih pilihan pertama dengan white wine dan air putih untuk minum. Rasa lasagnanya lumayan juga. Aku makan sambil menonton dua episodenya The Big Bang Theory, haha…

Lasagna daging sapi untuk makan malam dan The Big Bang Theory

Sekitar satu jam kemudian, kami mulai turun menuju Bandara Changi dan kemudian mendarat di landasan pacu 02C. Berikut ini video pendaratannya:

Pesawat taxiing lumayan jauh ke Terminal 3. Penumpang transit diminta untuk turun dengan waktu transit selama sekitar satu jam.

Transit di Bandara Changi

Satu upaya pemangkasan biaya lain yang nampak jelas adalah ketiadaan fasilitas transit di Singapura. Dua tahun yang lalu, aku mendapatkan satu kotak snack dan voucherΒ senilai S$30 untuk dibelanjakan di Changi. Tahun ini aku nggak mendapatkan apa-apa dong! Haha πŸ˜› . Dan jadilah setelah turun aku mampir dulu ke Kios Informasinya Changi untuk mendapatkan password wifi dan setelahnya langsung masuk ke gate lagi menunggu boarding.

Nggak dapat apa-apa ketika transit di Singapura kali ini.

Anyway,Β secara teknis penerbanganku selanjutnya adalahΒ penerbangan kebebasan kelimaΒ karena aku akan terbang dengan Garuda Indonesia dari Singapura ke Belanda! Satu aspek yang juga membuatku excited karena ini akan menjadi satu-satunya penerbangan kebebasan kelimaku tahun ini!

Garuda Indonesia GA88 (SIN – AMS)

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 88
Pesawat: Boeing 777-300ER reg PK-GII dengan livery SkyTeam
ATD: 01:54 SGT (Runway 02L of SIN)
ATA: 07:38 CET (Runway 18C of AMS)

Ketika boarding, aku jadi tahu bahwa dua kursi di sebelahku diduduki oleh sepasang suami-istri muda yang terbang dengan bayi mereka. Karena kursiku adalah kursi jendela, aku langsung paham bahwa keleluasaan yang sebelumnya kudapatkan dari banyaknya ruang di kursi 21K-ku akan banyak hilang kali ini. Setelah lepas landas, kotak/ranjang bayi akan dipasangkan di depan kursi untuk bayinya yang mana jelas akan memakan hampir semua ruang di depanku. Walaupun memang ini membuat sedikit ketidak-nyamanan bagiku, tetapi ya memang ini lah “risiko” duduk di kursi ini kok, haha. Kan nggak mungkin dong ya kita “menang” terus.

Peragaan keselamatan.

Anyway, singkat cerita kami berangkat begitu semua penumpang naik. Penerbangan ke Amsterdam ini nyaris penuh loh, dengan load factor di kelas ekonomi yang aku bilang setidaknya 95%, yang mana keren banget menurutku! Kami lepas landas dari landasan pacu 02L dan kemudian mengarah ke arah barat laut menuju Eropa.

Satu ronde makan malam diberikan lagi (dengan pilihan menu yang sama seperti yang sebelumnya) setelah lepas landas. Karena masih kenyang, aku menolaknya dan meminta jus jambu saja, haha. Di waktu ini, kami terbang di atas Aceh, tidak terlalu jauh dari (yang kuperkirakan) lokasi Siklon “Dahlia” sehari sebelumnya. Sebagai akibatnya, kami mengalami beberapa turbulensi yang kekuatannya lumayan, haha.

Ada banyak turbulensi di area ini.

Sementara itu, aku mencoba untuk tidur karena sudah mengantuk sekali. Malahan, aku bisa tidur selama sekitar enam jam-an loh di penerbangan ini, yang mana impresif sekali untukku! Kebetulan juga aku tidurnya di bagian penerbangan yang banyak turbulensinya, haha. Btw, di tengah jalan waktu itu, layanan in-between fuel juga diberikan yang berupa sandwich daging salmon.

Layanan in-between fuel

Aku bangun ketika pesawat sudah berada di atas area Turki. Aku sudah lumayan bangun dan aku tahu percuma kalau mau memaksakan tidur lagi, haha. Ya sudah jadilah aku menonton beberapa episodenya The Big Bang Theory lagi.

Sekitar dua jam sebelum mendarat, layanan sarapan disajikan. Pilihannya adalah omelet atau nasi dengan ayam; aku memilih yang kedua. Untuk menemaniku sarapan, awalnya aku bingung antara mau menonton Hidden Figures atauΒ Trinity, the Nekad Traveller, haha πŸ˜› . Dengan mempertimbangkan agak sulit bagiku menonton film Indonesia di Belanda, aku memilih yang kedua πŸ˜› .

Ayam dan nasi untuk sarapan.

AnywayΒ sekitar jam 7:15 waktu setempat kami sudah mulai mendekati Bandara Schiphol. Kondisi di luar masih gelap sekali ketika awak kapal mulai bersiap untuk mendarat:

Dan tak lama setelahnya, kami mendarat di landasan pacu 18C Bandara Amsterdam Schiphol. Berikut ini video pendaratannya:

PK-GII kemudian diparkir di gate G5. Penumpang dipersilakan turun dan aku melewati imigrasi. Keren banget lho dimana bagasiku keluar begitu aku masuk di area bagasinya! Ini jelas karena status SkyTeam Elite Plus-ku lah! Bagasiku diberi label prioritas sehingga aku jadi “menghindari” masalahΒ penungguan bagasi yang biasanya lama banget di Schiphol ! πŸ˜›

Anyway, kemudian aku naik kereta ke Amsterdam Centraal; dan di sini perjalanan November 2017ku ke Indonesia resmi berakhir.

SELESAI.

Contemplation · Thoughts

#2038 – 2017 In Review

ENGLISH

Previous years posts:
1. 2008
2. 2011
3. 2012
4. 2013
5. 2014
6. 2015
7. 2016

The year of 2017 has been a big one in my life, with a couple of life achievements I reached throughout the year. As the year is coming to an end soon, here is a post summarizing my life this year.

January

I started January in Yogyakarta, Indonesia for my year-end vacation. I went back to Europe during the first week by flying to Amsterdam via Bali, Shanghai, and Paris, haha. Upon arriving in Amsterdam, it happened that a good friend of mine was in transit for one night from the UK to Indonesia and so I spent the night there.

Mie goreng, mie godhog, and magelangan in Yogyakarta
An Air France’s Boeing 777-300ER reg F-GSQG in Shanghai

January 2017 was a big month in my life with me defending my PhD dissertation at the end of the month. This was the pinnacle of my life of the past four years and a half, where I was working for this moment! In the end, I succesfully defended my PhD and so I was awarded my “Doctorate” degree. From now on, I am entitled to call myself “Dr. Ir. Zilko”, or “Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D”. 😎

The moment I became a Doctor

February

As my parents and brother were travelling to Europe for my PhD defense, we spent the following week travelling to the northern-west region of Italy. We visited Genova, Cinque Terre, Florence, and Rome. From there, I went back to Amsterdam while they continued their trip to Spain. The weekend later, we met up in Marseille.

Riomaggiore in Cinque Terre, Italy
The famous David by Michaelangelo

February was also a big month for me where, somehowidth=”240″ w, I won the negotiation to buy my own apartment! I would not get the keys to my apartment until April though, as there were still some paperworks that needed to be done. But if it all went well, I would be a home-owner in two months!

March

While I did not travel that much in March, I was still very busy this month because I had to do furnitures shopping for my apartment! Haha πŸ˜† . With all the purchasing costs needed to be paid during this month, I spent the most amount of money I had ever done in my life this month, haha πŸ˜† . It was exciting and terrifying at the same time, though; so it was definitely a very interesting experience.

Actually I did an Avgeek Weekend Trip in March

April

Thankfully everything went well so I got the keys of my own apartment this month. The next matter to be taken care of was obviously assembling all the furnitures together and arranging all the necessary needs to make the apartment livable (e.g. internet connection). Of course I also needed to arrange my house moving from Delft to Amsterdam. This means that this month was my last month in Delft after more than 6.5 years living there!

The end of the Delft chapter of my life

However, I still managed to slip in an Easter trip to Zurich in the middle of the month. I was quite unlucky, though, where it was constantly raining in Zurich almost the whole time I was there!

Zurich

May

Mainly I was still taking care of furnishing my apartment in May, where I got more stuffs in like a TV (plus its subscriptions) and also a cleaning robot! πŸ˜€

Lion selfie in Lyon

May was a month full of long weekends in the Netherlands. I made use one of them to go to Lyon for a long weekend trip.

JuneΒ 

I started June by going on another long weekend trip to Bremen. A weekend later, I went to Paris for my annual trip to Roland Garros. I watched the women’s singles final match which Jelena Ostapenko unexpectedly won against Simona Halep.

The Bremen Hauptbahnhof, Bremen
Jelena Ostapenko won Roland Garros

There were a couple of apartment matters needed to be taken care of this month. I forgot to take my keys which resulted in me having to change the locking system and also I needed to do a mini-renovation in my shower room. Both cost some amount of money, of course.

July

I started July in a very lucky manner where I got a ticket for the ladies’ singles final of Wimbledon between Garbine Muguruza and Venus Williams! Even though Venus lost that match, it was still an exciting experience overall for me to able to witness an official Venus Williams singles match, let alone a Wimbledon final!

Venus Williams serving
Strawberry and cream

At the end of July, for the first time ever I went to Berlin. I loved the city and actually thought why did I not go there earlier? Haha πŸ˜†

At the “Checkpoint Charlie” in Berlin

August – October

With a UK visa in my hand, I arranged another weekend trip to London in August as London was one of my most favorite cities in the world. At the end of the month, I went on an Avgeek Weekend Trip to Lyon to catch Air France’s Lyon – Paris flight on a Boeing 787-9 Dreamliner.

The London Eye and River Thames, London
An Air France’s Boeing 787-9 F-HRBA in Lyon

I travelled to Manchester and Cardiff in September. My trip to Cardiff made me officially have visited all four countries within the United Kingdom, with Wales finally being ticked off!

The Merchants’ Bridge in Manchester
Cardiff selfie, finally 4 out of 4 in the UK!

I went on three Avgeek Weekend Trips in October. The biggest one was the second one, where I went to London to catch Air France’s London – Paris flight on a Boeing 787-9 Dreamliner.

The SkyTeam Lounge at Heathrow

November – December

I went on a weekend trip to Newcastle to start November and visited London for a weekend again in December because I could πŸ˜› .

Dusk in Newcastle upon Tyne
Lively London in December

The London trip one did not go exactly as planned due to the severe snow storm that hit Western Europe that weekend. As a result, I had to take the long way back from London to Amsterdam via land; which was an interesting experience on its own.

Taking a ferry from Dover to Dunkerque

I went to Indonesia for my brother’s wedding in the middle of November. And it was indeed a very festive occassion! During this trip, I also made stops at Jakarta and Solo, both cities I last visited in 2010.

Ready for the wedding
Grand Indonesia

To end the year, right now I am in California enjoying the Californian winter! :mrgreen:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting tahun-tahun sebelumnya:
1. 2008
2. 2011
3. 2012
4. 2013
5. 2014
6. 2015
7. 2016

Tahun 2017 adalah tahun yang besar di dalam hidupku, dengan dua pencapaian hidup yang aku gapai di sepanjang tahun ini. Dan karena tahunnya akan segera berakhir, berikut ini sebuah posting untuk merangkumnya.

Januari

Januari aku mulai di Yogyakarta, Indonesia untuk liburan akhir tahun. Aku kembali ke Eropa di minggu pertama dengan terbang melalui Bali, Shanghai, dan Paris, haha. Begitu tiba di Amsterdam, kebetulan seorang teman baikku sedang transit selama satu malam di Amsterdam dari UK ke Indonesia jadilah aku menginap semalam di sana.

Soto Kadipiro yang legendaris di Yogyakarta.
Airbus A330-300 rego B6095nya China Eastern.

Januari 2017 adalah bulan besar di dalam hidupku karena aku akan menjalani sidang disertasi PhD (S3)-ku di akhir bulan. Ini adalah puncak dari kehidupanku selama empat setengah tahun terakhir sebelumnya, dimana aku bekerja-keras untuk momen ini! Pada akhirnya, aku sukses mempertahankan disertasi PhD-ku sehingga aku diberikan gelar “doktoral”. Jadi sejak waktu ini, aku bisa memanggil diriku dengan sebutan “Dr. Ir. Zilko”, atau “Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D”. 😎

Foto tangga yang terkenal itu.

Februari

Karena orangtua dan adikku pergi ke Eropa untuk sidang PhDku, kami menghabiskan seminggu setelahnya untuk liburan ke area barat lautnya Italia. Kami mengunjungi Genova, Cinque Terre, Florence, dan Roma. Dari Roma, aku kembali ke Amsterdam sementara mereka lanjut jalan-jalan ke Spanyol. Akhir pekan berikutnya, kami bertemu kembali di Marseille.

Manarola
Vatican

Februari jugalah bulan yang besar untukku dimana aku menang dalam negosiasi pembelian apartemenku! Aku baru akan mendapatkan kuncinya di bulan April sih karena akan ada beberapa dokumen yang harus diurus dulu sebelumnya. Namun, jika semuanya berjalan lancar, dalam waktu dua bulan aku akan menjadi seorang pemilik rumah!

Maret

Walaupun aku tidak jalan-jalan di bulan Maret, bulan ini adalah bulan yang cukup menyibukkan karena aku harus belanja perabotan rumah untuk apartemenku! Haha πŸ˜† . Dan ditambah dengan semua biaya yang berkenaan dengan pembelian rumahnya yang harus dibayarkan di bulan ini, aku membayarkan nominal terbesar yang pernah aku lakukan seumur hidup di waktu ini deh, haha πŸ˜† . Rasanya seru tetapi seram juga pada saat yang bersamaan; jadi ya memang ini adalah pengalaman yang unik.

Sebenarnya aku ada satu Avgeek Weekend Trip sih di bulan ini

April

Untungnya semua lancar sehingga aku mendapatkan kunci apartemenku di bulan ini. Hal selanjutnya yang harus diurus adalah pemasangan perabotan rumah itu dan juga mengurus semua hal yang diperlukan untuk membuat apartemennya bisa aku huni (misalnya: koneksi internet). Tentu saja aku juga harus mengurus pindahan dari Delft ke Amsterdam. Ini berarti bulan ini adalah bulan terakhirku di Delft setelah 6,5 tahun lebih tinggal di sana!

Bye, bye, Delft.

Walaupun sibuk, aku masih sempat menyempilkan satu perjalanan Paskah ke Zurich di pertengahan bulan. Aku kurang beruntung, sayangnya, dimana hujan terus-terusan dong di Zurich!

Zurich dari Lindenhof

Mei

Umumnya aku masih mengurus urusan perabotan apartemenku di bulan Mei, dimana aku membeli barang-barang elektronik lain seperti misalnya TV (sekalian urusan kabelnya) dan juga robot bersih-bersih! πŸ˜€

Mei adalah bulan penuh long weekend di Belanda. Salah satunya kumanfaatkan dengan pergi ke Lyon.

Saint Georges di Lyon

JuniΒ 

Juni kumulai dengan perjalanan long weekend lagi ke Bremen. Seminggu kemudian, aku pergi ke Paris untuk perjalanan tahunanku ke Roland Garros. Aku menonton final tunggal putri yang tak disangka-sangka, dimenangi oleh Jelena Ostapenko yang mengalahkan Simona Halep.

Kota Bremen, Jerman
J. Ostapenko vs S. Halep

Ada dua urusan apartemen yang harus kuurus di bulan ini. Aku kelupaan kunciku di sekali waktu yang mana sebagai akibatnya sistem perkunciannya harus diganti dan juga aku harus melakukan renovasi mini di ruang shower. Tentu saja aku harus keluar agak banyak untuk keduanya.

Juli

Juli kumulai dengan amat beruntung dimana aku mendapatkan tiket untuk menonton final tunggal putri Wimbledon antara Garbine Muguruza dan Venus Williams! Walaupun Venus kalah, pengalaman ini masih lah pengalaman yang seru karena aku berkesempatan menyaksikan pertandingan resmi tunggalnya Venus Williams, ditambah lagi di final Wimbledon!

Wimbledon Centre Court
Venus Williams

Di akhir Juli, aku pergi ke Berlin untuk pertama kalinya. Aku amat suka kotanya dan sempat terpikir kok baru sekarang aku ke sana ya? Haha πŸ˜†

Berliner Dom

Agustus – Oktober

Dengan visa UK di tangan, aku pergi dalam sebuah perjaanan akhir pekan ke London di bulan Agustus karena kota ini adalah salah satu kota yang paling aku sukai. Di akhir bulan, aku pergi dalam sebuah perjalanan Avgeek Weekend Trip ke Lyon untuk naik penerbangannya Air France dari Lyon ke Paris yang dioperasikan dengan Boeing 787-9 Dreamliner.

Selfie yang sangat amat turistik banget di London!
Kelas Ekonomi Premium di dalam Boeing 787-9nya AF

Aku pergi ke Manchester dan Cardiff di bulan September. Perjalananku ke Cardiff membuatku resmi telah mengunjungi semua empat negara di Inggris Raya, dengan Wales akhirnya tercentang dari daftarnya juga!

Manchester
Cymru Wales

Aku pergi dalam tiga Avgeek Weekend Trip di bulan Oktober. Yang paling seru adalah yang kedua, dimana aku pergi ke London untuk naik penerbangannya Air France dari London ke Paris dengan Boeing 787-9 Dreamliner.

Boeing 787-9 rego F-HRBCnya Air France.

November – Desember

Aku pergi dalam perjalanan akhir pekan ke Newcastle untuk memulai November dan menunjungi London lagi di sebuah akhir pekan di bulan Desember karena aku bisa, haha πŸ˜› .

Selfie Newcastle
Piccadilly Circus

Perjalananku ke London tidak berlangsung sesuai dengan rencana akibat badai salju yang menerjang Eropa Barat di akhir pekan itu. Sebagai akibatnya, aku harus kembali ke Belanda melalui jalur darat; yang mana di satu sisi adalah pengalaman yang menarik sih.

Naik bus ke Belanda dari London.

Aku pergi ke Indonesia di pertengahan November untuk pesta pernikahannya adikku. Dan memang ini adalah pesta perayaan yang ramai banget! Di perjalanan ini, aku juga berkesempatan mampir di Jakarta dan Solo, dua kota yang terakhir kukunjungi di tahun 2010.

Kue pengantin
Kembali di Solo

Untuk menutup tahun besar ini, saat ini aku berada di California untuk menikmati musim dingin California! :mrgreen:

Asia Trip · Indonesia Trip · Southeast Asia · Vacation

#2036 – November 2017 Indonesia Trip (Part V: Solo)

ENGLISH

Posts in the November 2017 Indonesia Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

It happened that my good friend (whom I met during my one day stay in Jakarta, read Part II) was sent to Solo for work during the second week of my trip. As he would have some free time after work, he invited me and some friends to go to Solo for a short trip. Of course I accepted! πŸ˜€

So I was back to Solo this year!!

Unlike all my previous trips to Solo (which last took place in 2010) where I always drove or rode a car there, this trip would be unique in the sense that we would take the trains! On top of that, we would take a commuter and an economy train, something which I had never done in Indonesia before!!

Getting to Solo

We took the commuter train Prambanan Express (Prameks) to go to Solo. At first, we planned to take the 10:51 service from Lempuyangan Station. However, as we only arrived at the station (without any ticket) at 10:45, ticket sales for this service was already closed and we could only take the next one at 12:36. Darn, but well…

A Prameks commuter train at Lempuyangan Station

Long story short, the Prameks departed on time. There was no assigned seat in the busy train so quite some people had to stand. Luckily I snatched one seat but my friend did not get one. The ride was, well, bearable especially that it was short-distance; though I felt like the train was moving rather slowly, haha.

Solo

We went to our friend’s hotel to pick him up once we arrived in Solo. After that, we took an online taxi to go to Nini Thowong to get its ice dessert and buy the famous “Sate Kere” nearby. I found the sate to be spicy and that there was not a lot of meat (which possibly explained the “kere” part in its name (“kere” means “poor” in Javanese)). I liked the ice dessert.

Sate Kere

From there, we went to Solo Paragon Mall. I have heard of this mall since years ago but I have not got the chance to visit it; and now, finally I did! Haha πŸ˜› . The mall was quite spacious, even though I felt like there were not a lot of visitors either.

From the mall, we planned to have dinner. I proposed “nasi liwet” because we were in Solo while my friend proposed “tengkleng”. In the end, we went for my friend’s proposal. We found a place in Google and ordered an online taxi to get there. But then, it turned out the “tengkleng” place was closed that day! Lol πŸ˜† . So after all we were going to a nasi liwet place, haha πŸ˜› .

Yay for having some nasi liwet while in Solo.

The nasi liwet was delicious even though, again, it was a little bit too spicy for me. From the nasi liwet place, we went to a “bakpia” store as my friend would like to buy some for his family before going back to the hotel to get my other friend’s stuffs. From there, we went to the train station with, again, an online taxi which driver was rather “creepy” (which possibly explained his rather low rating).

Getting Back from Solo

Solo Balapan Railway Station

To go back to Yogyakarta, we already booked a ticket on Wijayakusuma, an economy class train. The ticket was certainly a lot more expensive than the commuter Prameks train, but the train was faster and seats were assigned to us with the tickets.

As I entered the train, I was immediately impressed! It did not look like what I had in mind of an Indonesian economy class train. It looked clean with good seat configuration; and it even came with a charging station for each seat! Later I found out that what we took was a “Premium” cart, probably similar to the new “Premium Economy” class on flights, haha.

The interior of the economy class train (Wijayakusuma) which surprised me.

While the initial impression was great, once the train departed I realized that, at the end of the day, it was still an economy class product. The bogie was certainly economy class bogie so the ride was not really smooth and there was no sound-proofing. But it was certainly not a problem for such a short ride; though I am not sure for the longer ones.

Anyway, the train was on time as we arrived at Lempuyangan Station. And here my super short trip to Solo ended.

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri November 2017 Indonesia Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

Kebetulan teman baikku (yang aku temui di satu hariku di Jakarta, baca Bagian II) dikirim ke Solo untuk urusan kerjaan di minggu keduaku di Indonesia. Karena ia akan memiliki waktu bebas setelah pekerjaannya selesai, ia mengajakku dan beberapa teman ke Solo untuk sebuah perjalanan singkat. Ya jelas aku iyakan dong ya! πŸ˜€

Jadi aku kembali ke Solo tahun ini!!

Tidak seperti perjalanan-perjalananku sebelumnya ke Solo (yang mana yang terakhir kali adalah di tahun 2010) dimana aku selalu menyetir atau naik mobil kesana, perjalanan ini akan unik dimana kami akan naik kereta! Di samping itu, kami akan naik sebuah kereta komuter dan sebuah kereta ekonomi, sesuatu yang sebelumnya sama sekali belum pernah aku lakukan di Indonesia!!

Berangkat ke Solo

Kami naik kereta komuter Prambanan Express (Prameks) untuk berangkat ke Solo. Awalnya, kami berencana untuk naik kereta jam 10:51 dari Stasiun Lempuyangan. Masalahnya, kami baru tiba di stasiunnya (tanpa tiket pula) jam 10:45, yang mana pada waktu itu penjualan tiket untuk kereta ini sudah ditutup dan kami baru bisa menaiki layanan selanjutnya yang jam 12:36. Ya sudah, mau bagaimana lagi kan…

Sebuah kereta komuter Prameks di Stasiun Lempuyangan.

Singkat cerita, kereta Prameksnya berangkat tepat waktu. Karena memang di tiket tidak diberi nomor kursi dan keretanya memang ramai waktu itu, banyak orang harus berdiri. Untungnya aku mendapatkan satu kursi kosong tetapi temanku tidak. Perjalannya sendiri, hmm, masih oke lah karena jarak pendek; walaupun aku merasa keretanya bergerak dengan kecepatan yang rendah, haha.

Solo

Kami langsung pergi ke hotel teman kami begitu tiba di Solo. Setelahnya, kami naik taksi online untuk pergi ke Nini Thowong untuk makan esnya dan sekalian membeli “Sate Kere” yang terkenal itu di dekat sana. Bagiku bumbu satenya agak terlau pedas dan juga tidak ada banyak daging di satenya (yang mungkin menjelaskan bagian “kere” di namanya (“kere” adalah bahasa Jawa dari “miskin”)). Untuk esnya sih aku suka.

Sate Kere

Dari sana kami pergi ke Mall Solo Paragon. Sudah lama aku mendengar nama mall ini tetapi baru kali ini lah aku berkesempatan ke sana! Haha πŸ˜› . Mall-nya sendiri cukup besar tetapi aku merasa kok pengunjungnya tidak terlalu banyak ya.

Dari mall, kami berencana untuk makan malam. Aku mengusulkan nasi liwet karena kami kan berada di Solo gitu ya tetapi temanku mengusulkan tengkleng. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk memilih tengkleng. Kami menemukan sebuah tempat di Google dan memesan taksi online kesana. Tetapi kemudian, ternyata rumah makan tengklengnya sedang tutup hari itu! Haha πŸ˜† . Jadi toh bagaimana pun juga kami ditakdirkan makan nasi liwet kan ya hari itu, haha πŸ˜› .

Hore untuk bisa makan nasi liwet di Solo.

Nasi liwetnya enak walaupun, lagi-lagi, terlalu pedas untukku. Dari tempat nasi liwetnya, kami pergi ke sebuah toko bakpia karena temanku ingin membelikan oleh-oleh untuk keluarganya. Setelahnya, kami pergi kembali ke hotel temanku untuk mengambil barang-barangnya. Dari sana, kami pergi ke stasiun kereta dengan, lagi, taksi online. Kali ini sopirnya agak-agak “creepy” gitu deh (yang mana mungkin menjelaskan rating-nya yang nggak tinggi-tinggi amat).

Kembali dari Solo

Stasiun Kereta Api Solo Balapan

Untuk kembali ke Yogyakarta, kami sudah memesan tiket kereta Wijayakusuma, sebuah kereta kelas ekonomi. Tiketnya jelas jauh lebih mahal daripada kereta komuter Prameks, tetapi keretanya juga lebih cepat dan tiketnya juga termasuk kursi.

Ketika memasuki keretanya, aku langsung terpesona! Dalam keretanya tidak seperti bayanganku akan interior kereta kelas ekonomi di Indonesia. Nampak bersih dengan konfigurasi kursi yang oke; bahkan ada colokan listriknya untuk setiap penumpang loh! Aku kemudian baru tahu bahwa yang kami naiki adalah gerbong “Premium”, mungkin mirip-mirip lah ya dengan kelas “Ekonomi Premium” di dunia penerbangan, haha.

Interior kereta ekonomi Wijayakusuma yang mengagetkanku.

Walaupun kesan pertamaku baik sekali, begitu keretanya berangkat aku diingatkan bahwa toh pada akhirnya ini adalah produk kelas ekonomi. Terasa sekaliΒ bogieΒ gerbongnya adalah bogie kereta kelas ekonomi sehingga guncangannya cukup terasa dan juga gerbongnya tidak kedap suara. Memang nggak begitu masalah sih untuk perjalanan jarak dekat; tetapi entah deh untuk jarak jauh, haha.

Anyway, keretanya tiba di Stasiun Lempuyangan tepat waktu. Dan di sini lah perjalanan super singkatku ke Solo kali ini berakhir.

BERSAMBUNG…

Asia Trip · Indonesia Trip · Southeast Asia · Vacation

#2034 – November 2017 Indonesia Trip (Part IV: The Wedding)

ENGLISH

Posts in the November 2017 Indonesia Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

This was the story of my brother’s wedding day from my point of view.

D-1

The final preparation for the wedding started one day before the D-day, and this was where I started to get involved.

A rehearsal in the church

First, we went to the church for a rehearsal for tomorrow’s holy matrimony. At 1 PM, all involved parties (both parents, the witnesses, the bestmen and bridesmaids, core family members, the event organizers, and, obviously, the groom and the bride) arrived at the church. My task was relatively light, though; where I needed to know where my position would be while entering the church and where to sit, haha πŸ˜› .

At about 2:30 PM, the rehearsal finished. We went to the hotel where the reception would take place, and where we would stay for the next two days. At the time, installation of the decoration in the ballroom already started. There was also a short rehearsal of when the newlyweds would enter the ballroom for the reception; and also the slow dance by the bestmen and bridesmaids.

The executive lounge at the hotel

Then, we went up for some rest. The rooms were located in the executive floors, meaning we got access to the Executive Lounge in the hotel! Haha πŸ˜› . Some family members also started to arrive so of course there was the usual greeting stuffs.

For dinner, my parents, an uncle, and I went to Ikan Bakar Cianjur nearby as I was craving for some … gurami (a type of Indonesian fresh-water fish)!! Haha πŸ˜› We ordered “gurami goreng” (fried gurami) and “gurami pesmol” (fried gurami with “pesmol” sauce) along with “tumis kangkung” (sauteed morning glory) and fried tofu. It was delicious!

Gurami dinner at Ikan Bakar Cianjur

We went back to the hotel after that. I would stay in my brother’s presidential suite room for the night, even though by 5 AM the next day I would need to move to my parents’ room, haha. The presidential suite was really cool, btw, as it was very spacious and consisted of four (!) large rooms (a spacious living and dining room, a dressing room, a bathroom, and of course the bedroom)! The bed was already decorated with towels shaped as swans and rose petals; but which would get rid off as those were where my brother and I would sleep that night, haha πŸ˜› .

The Wedding Day

My alarm clock rang at 5 AM in the morning, indicating I would need to move to my parents’ room. My mom was already gone since 2 AM as she would need to get her make up done. I tried to sleep but it was to no avail, and so I just got up and drank some coffee. Breakfast was delivered to the room not long after. I had some, and went on a quick visit to the Executive Lounge for some extra nibbles, haha πŸ˜› .

Breakfast

A small ceremony started at 7:30 AM where my parents put the suit on my brother and my brother gave me a box as a “step over present” because he would get married first. Then I would need to lead the way out of the room and cut a red ribbon at the room’s entrance.

I wasn’t involved in the next ceremony where my brother would need to pick up his bride in her parents’ room. I went down at around 9 AM as we would soon depart to the church. The voorrijders (“front riders”?) we hired arrived not long after and so we departed. It was awesome, btw, as we were like VIP on the street where other people had to make some rooms for us and we got to trespass all the red lights πŸ˜› .

The church was already decorated with all the white flowers and bouquets; and it was very beautiful! We entered the church following the instruction we received the previous day; where I would stand behind my parents who were walking behind my brother who was behind his six bestmen. I took my designated place and once everyone was there, the holy matrimony started.

The holy matrimony

It was a very beautiful holy matrimony where the pastor was awesome as well. People got emotional when the wedding vows were exchanged and during the “I do” moment (I almost cried myself; the keyword here is “almost”, btw πŸ˜› ).

A busy photo session followed afterwards; and also the official civil matter with the city hall (whose representative came to the church). Then, we went outside the church for another general photo session with everyone with balloons. We unfortunately were not allowed to release the balloons to the air because the space above was part of the crucial approach stage of flights landing at runway 09 of Adisutjipto Airport, haha.

We went back to the hotel from the church. I had a quick lunch at the hotel and took some rest. At 3:30 PM, we went down for a family photo session. Another family event took place afterwards where some family members gave the newlyweds their best wishes and presents (Including myself even though apparently it was quite untraditional given that I wasn’t married; which I found a bit weird as why would wishes and presents were limited to only from married people? Haha).

The decoration was ready

At 6 PM, we entered the ballroom following the designation we received the day before. After a prayer and a toast, the reception started. The huge number of people invited meant the reception would need to be a standing party, which I liked anyway as there would be no chance I would get “stuck” to the same group of people, haha. This also meant I met a lot of people during the course of the evening. In the middle of the reception, of course the newlyweds cut the wedding cake, did their first dance and first kiss.

The wedding cake

Overall, I think it was a successful evening. We were not running out of food (given that it was a standing party, the food was buffet-style), stream of people kept coming in for hours, and a lot of people took pictures, hahaha πŸ˜† . As for the last point, there was a chariot as a decoration which was particularly quite popular amongst guests, where people even queued to take their pictures there! Haha πŸ˜›

The crowded ballroom

By 9:30 PM, most guests already left so it was time to wrap up the event. My sister in-law’s brother and I were in charge for the presents. The event organizer handed them over to us, and we brought them up to the presidential suite.

The wedding was, then, over and I went to my room to get some rest.

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri November 2017 Indonesia Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

Berikut ini cerita dari hari pernikahan adikku dari sudut pandangku.

H-1

Persiapan terakhir pernikahannya dimulai sehari sebelum hari-H, dan baru di sini lah aku mulai terlibat.

Gladi resik di gereja

Pertama-tama, kami pergi ke gereja untuk gladi resik misa pernikahan keesokan harinya. Jam 1 siang, semua pihak yang terlibat (kedua orangtua, saksi, bestmen dan bridesmaids, anggota keluarga inti, event organizer-nya, dan, jelas, sang calon pengantin) tiba di gereja. Tugasku relatif gampang sih; dimana aku hanya perlu tahu dimana posisiku ketika masuk ke gereja dan dimana aku akan duduk, haha πŸ˜› .

Sekitar jam 2:30 siang, gladi resiknya selesai. Kami pergi ke hotel dimana resepsi akan berlangsung, dan dimana kami akan menginap selama dua hari ke depan. Waktu itu, pemasangan dekorasi di ballroom-nya sudah dimulai. Ada juga gladi resik singkat untuk ketika pengantin baru memasuki ballroom untuk resepsinya; dan juga tarian slow dance dari bestmen dan bridesmaids-nya.

Executive lounge di hotel

Lalu, kami naik ke atas untuk beristirahat sejenak. Kamar-kamarnya ternyata berlokasi di lantai eksekutif, yang mana berarti kami mendapatkan akses ke Executive Lounge di hotelnya! Haha πŸ˜› . Beberapa anggota keluarga juga mulai tiba sehingga ya begitu lah aku harus menyambut dan bertemu mereka.

Untuk makan malam, aku bersama orangtua dan seorang omku pergi ke Ikan Bakar Cianjur soalnya aku ngidam … gurami!! Haha πŸ˜› Kami memesan gurami goreng dan gurami pesmol bersama tumis kangkung dan tahu goreng. Enak!!

Makan malam gurami di Ikan Bakar Cianjur

Setelahnya kami kembali ke hotel. Malam ini aku akan tidur di kamar presidential suite-nya adikku, walaupun nanti jam 5 subuh aku harus pindah ke kamar orangtuaku sih, haha. Presidential suite-nya keren banget loh, btw, karena luas banget dan terdiri atas empat (!) ruangan besar (ruang tamu dan makan yang luas, ruang ganti baju, kamar mandi, dan tentu saja kamar tidurnya)! Ranjangnya sendiri sudah didekorasi dengan handuk yang dibentuk seperti angsa dan diberi hiasan kelopak-kelopak bunga mawar; yang tentu kemudian kami pindahkan sih secara kalau engga mau tidur dimana coba, haha πŸ˜› .

Hari Pernikahan

Alarm-ku berbunyi jam 5 subuh, yang mana artinya aku harus pindah ke kamar orangtuaku. Mamaku sudah bangun semenjak jam 2 subuh untuk urusan make up, haha. Aku mencoba tidur lagi tetapi gagal, ya sudah sekalian saja aku bangun dan minum kopi. Tak lama setelahnya, sarapan diantarkan ke kamar. Aku makan sedikit dan kemudian pergi ke Executive Lounge-nya lagi untuk makan snack lainnya, haha πŸ˜› .

Menu sarapan

Ada upacara kecil yang dimulai jam 7:30 pagi dimana orangtuaku memakaikan jas ke adikku dan adikku memberiku satu kotak sebagai “hadiah pelangkahan” karena ia akan menikah duluan. Lalu, aku memimpin berjalan keluar kamar dan memotong pita merah yang telah dipasang di pintunya.

Aku tidak terlibat di upacara selanjutnya dimana adikku harus menjemput calon istrinya di kamar orangtuanya. Aku turun sekitar jam 9 pagi karena tak lama kemudian kami akan berangkat ke gereja. Voorrijders yang kami sewa tiba tak lama kemudian dan kami berangkat. Asyik lho ternyata, karena kami seperti VIP di jalan dimana pengendara lain harus memberi jalan dan kami bisa menerobos lampu merah πŸ˜› .

Gerejanya telah didekorasi dengan bunga-bunga dan buket putih; dan memang indah banget! Kami memasuki gerejanya sesuai dengan instruksi dari hari sebelumnya; dimana aku akan berada di belakang orangtuaku yang berjalan di belakang adikku yang berjalan di belakang enam orang bestmen-nya. Aku mengambil tempatku dan begitu semuanya masuk, misa pernikahan dimulai.

Misa pernikahan di gereja.

Ini adalah misa pernikahan yang indah banget dimana pasturnya juga asyik banget. Para hadirin banyak yang tersentuh ketika janji nikah diucapkan dan di momen “Saya bersedia” (Aku sendiri nyaris menangis; eh kata kuncinya disini adalah “nyaris” ya, btw πŸ˜› ).

Sesi foto-foto yang ramai mengikuti misanya; dan juga urusan pencatatan sipil (perwakilannya datang ke gereja). Lalu, kami pergi ke luar gereja untuk foto beramai-ramai dengan balon. Sayangnya balon tidak diperbolehkan dilepas ke atas karena langit di atas gereja adalah bagian stase approach pendaratan pesawat di landasan pacu 09 Bandara Adisutjipto, haha.

Kami kembali ke hotel dari gereja. Setelah makan siang kilat, aku beristirahat sejenak. Jam 3:30 sore, kami turun untuk foto studio bersama anggota keluarga inti. Acara keluarga lainnya mengikuti setelahnya dimana beberapa anggota keluarga memberikan berkat dan hadiah kepada pengantin baru (Termasuk aku walaupun ternyata ini agak menyalahi tradisi karena aku belum menikah; sebuah hal yang aku rasa aneh kerena mengapa kok yang namanya berkat dan hadiah dibatasi hanya untuk didapatkan dari orang yang sudah menikah aja? Haha).

Dekorasinya sudah siap

Jam 6 sore, kami memasuki ballroom mengikuti instruksi dari hari sebelumnya. Setelah doa dan toast, resepsi dimulai. Banyaknya jumlah undangan berarti resepsi ini berupa standing party, sebuah model yang memang aku suka sih karena aku tidak harus “terjebak” bersama satu grup orang sepanjang malam, haha. Ini juga berarti aku jadi bertemu banyak orang sih malam itu. Di tengah-tengah resepsi, tentu saja pengantin baru memotong kue, melakukan first dance dan juga first kiss.

Kue pengantin

Secara keseluruhan, aku rasa pesta malam itu berlangsung sukses. Kami tidak sampai kehabisan makanan (Karena standing party, jelas makanannya disajikan dengan gaya buffet), aliran tamu-tamu yang terus berdatangan selama berjam-jam, dan juga banyak yang foto-foto, haha πŸ˜† . Untuk poin yang terakhir, ceritanya salah satu dekorasinya adalah kereta kuda yang mana ternyata populer di kalangan tamu, dimana bahkan mereka sampai mengantri dong untuk foto disana! Haha πŸ˜›

Ballroom yang rame banget

Jam 9:30 malam, kebanyakan tamu sudah pulang sehingga sudah waktunya untuk menutup acara ini. Aku dan adiknya adik ipar baruku bertugas untuk mengurus hadiah dan uang angpaonya. Event organizer-nya menyerahkannya kepada kami, dan kami mengantarkannya ke kamar presidential suite.

Pesta pernikahannya kemudian berakhir dan aku pergi ke kamarku untuk tidur.

BERSAMBUNG…