Thoughts

#1972 – The Egg Contamination Scandal

ENGLISH

You might have heard of the egg contamination scandal in Europe from earlier this month. So several farms were closed in the Netherlands, Belgium, France, and Germany after it had been found out that the farms used fipronil, insectiside used to combat lice and banned in EU for use in the food industry.

And don’t worry, I am not going to talk about news or politics on this one, haha…

As for me, indeed I noticed a strange pattern at my office’s canteen for lunch. Starting from the first week of August or so, somehow the canteen didn’t serve boiled eggs. I found it weird because in the ten months of my time here, the canteen had always served boiled eggs. Always. But at the end of the day it was just boiled eggs matter so I didn’t think about it too much, haha.

And it started to make more sense when this news came out. If the eggs supply had been massively disturbed (even eggs (from the affected suppliers) were withdrawn from supermarkets), an obvious consequence of that would indeed be less egg-based dish to serve.

At home, I decided to throw away the remaining eggs I still had at that point. And I have been on egg abstinence for a short period of time. You know, just to be on the safe side, haha. Though, I am not sure how long this will go as eggs have been part of many people’s daily food consumption. So it will be hard to totally avoid egg-based product!

This makes me think, though, that it is extremely difficult to know everything about what you put into your body. You see, unless you produce everything you consume by yourself, which of course is close to impossibility, IMO, you would never know. Possibly the most convenient thing to do is to rely on the regulator and trust that they do their job properly. I mean, it feels like due to the impossibility I mentioned above, it is not worth my time and energy to dwell too much on this matter on our own, don’t you think?

Though, I am also curious. What would you do in this situation?

A possible solution: bio eggs? 🤔

BAHASA INDONESIA

Mungkin sudah pada dengar skandal kontaminasi telur yang lagi rame banget di Eropa awal bulan ini. Jadi ceritanya beberapa peternakan telur di Belanda, Belgia, Prancis, dan Jerman ditutup karena ditemukan bahwa fipronil, insektisida yang digunakan untuk melawan hama kutu (lice) dan penggunaannya dilarang di Uni Eropa di industri makanan, digunakan.

Tenang aja, aku nggak akan membahas berita ini atau pun sisi politiknya kok, haha…

Untukku, memang awalnya aku memperhatikan ada pola yang aneh di kantin kantorku untuk makan siang. Mulai sekitar awal Agustus gitu, entah mengapa kantinnya tidak lagi menyediakan telur rebus. Bagiku ini aneh karena selama sepuluh bulanan aku bekerja di sini, setiap hari kantinnya selalu menyediakan telur rebus gitu. Setiap hari. Tapi berhubung ini cuma masalah telur rebus doang sehingga ini tidak terlalu aku pikirkan lah ya, haha.

Dan semuanya menjadi semakin masuk akal ketika berita ini mencuat. Kalau memang pasokan telurnya terganggu banget (bahkan telur-telur (dari supplier-supplier yang terkena imbasnya) juga ditarik loh dari supermarket), konsekuensinya jelas akan terasa di penyediaan makanan yang berbasis telur kan ya.

Di rumah, aku memutuskan untuk langsung membuang telur-telur yang masih tersisa sampai waktu itu. Dan untuk sementara ini aku memutuskan untuk puasa telur dulu aja ah. Ya kan untuk jaga-jaga gitu, demi amannya kan, haha. Walaupun, nggak yakin juga sih ini bakal bertahan berapa lama karena bagaimana pun juga telur kan sudah menjadi bagian dari gaya konsumsi sehari-hari ya, haha. Jadi jelas sulit banget lah untuk sama sekali menghindari produk berbasis telur!

Tapi aku jadi kepikiran nih, bahwa sulit sekali untuk benar-benar mengetahui semuanya dan apa saja yang kita masukkan ke dalam tubuh kita. Kecuali kita benar-benar memproduksi sendiri semuanya, yang mana menurutku sih mustahil ya, kita tidak akan pernah seyakin itu. Mungkin keputusan yang paling nyaman dan logis ya mempercayakan ini kepada regulator bahwa mereka menjalankan tugas mereka dengan baik. Maksudku, rasanya akibat kemustahilan yang kusebutkan di atas, rasanya nggak worth it lah ya untuk menghabiskan waktu, energi, dan pikiran kita untuk khawatir akan permasalahan ini sendiri, iya nggak sih?

Tapi aku juga penasaran sih. Apa yang akan kalian lakukan dalam situasi ini?

Apakah telur yang bio adalah satu kandidat solusi? 🤔
Advertisements
Contemplation · Thoughts

#1918 – Take Your Chances but You Can’t Have Them All

ENGLISH

In early March, Malta’s super famous Azure Window collapsed into the sea following years of erosion and, the final trigger, a severe storm in the Mediterranean Sea. Apparently being one of the biggest tourist attractions of Gozo (the name of the island), many people were understandably saddened by this.

As for me, well, I have never been there. I even have never been to Malta. So why do I care? Well, these are precisely why I care about this, haha.

You see, to be honest Malta has been in my radar to visit for awhile. But for whatever reason (well, mainly time, distance, and the few SkyTeam connections to Amsterdam (lol 😆 )), I have never made it a reality.

And now, it is all too late for me if I want to go to Azure Window, because it no longer exists. It has collapsed into the sea, literally. It is gone. It is now history.

***

This reminds me of two lessons, though. First of all, we should take our chances whenever we can, simply because it might never be there to be taken again. Had I spent some time to visit Gozo and Malta years ago, I would have been able to take a selfie with Azure Window, haha 🙈 .

Secondly, we cannot have everything in life. You see, there are plenty of other places in this planet that I would want to visit as well, haha 😆 . I have not spent some of my time to visit Malta because I used that time to visit other places. And my time is finite. So this means that at some point I must accept that I cannot have (or, rather, visit) it all 🙂 .

***

So, how about you? Have you ever visited Azure Window?

Azure Window. Source: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Azure_Window_2009.JPG

BAHASA INDONESIA

Di bulan Maret kemarin, Azure Window-nya Malta yang terkenal banget itu ambruk ke laut akibat erosi yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan, pemicu terakhirnya, badai besar di Laut Mediterania. Ternyata, karena merupakan salah satu atraksi turis terbesar di Gozo (nama pulaunya), banyak orang yang sedih karenanya.

Untukku, aku belum pernah ke sana. Malahan aku juga belum pernah ke Malta. Jadi ngapain kok aku peduli? Haha. Yah, justru karena ini lah aku peduli.

Sejujurnya, Malta sudah berada dalam daftar tempat yang ingin kukunjungi semenjak lama. Tetapi entah karena alasan apa (hmm, utamanya sih waktu, jarak, dan sedikitnya pilihan penerbangan dengan maskapai SkyTeam dengan koneksi ke Amsterdam (huahaha 😆 )), aku belum sempat menjadikannya kenyataan.

Dan sekarang, terlambat sudah jika aku ingin menunjungi Azure Window, karena Azure Windownya sudah nggak ada lagi. Ia sudah ambruk ke laut. Sudah hilang. Sudah menjadi sejarah.

***

Ini mengingatkanku akan dua pelajaran sih. Pertama-tama, kita harus memanfaatkan peluang yang ada, karena mungkin saat ini adalah saat terakhir peluang ini muncul dan bisa diambil. Andaikata aku sudah meluangkan waktu untuk pergi ke Gozo dan Malta bertahun-tahun yang lalu, saat ini aku sudah memiliki foto selfie dengan Azure Window, haha 🙈 .

Yang kedua, kita tidak bisa mendapatkan semuanya di hidup ini. Jadi ceritanya ada banyak sekali tempat-tempat lain di dunia ini yang ingin kukunjungi, haha 😆 . Aku belum mengunjungi Malta karena sebelum ini aku menggunakan waktuku untuk mengunjungi tempat-tempat yang lain. Dan waktuku kan terbatas. Jadi artinya di satu waktu memang aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa mendapatkan (atau, mengunjungi) semuanya 🙂 .

***

Jadi, bagaimana dengan kalian? Apakah sudah pernah mengunjungi Azure Window?

About Myself · Contemplation · Thoughts

#1749 – My Next Step In Life

ENGLISH

As I am approaching the end of my PhD contract now (time really flies!), a question I have recently had to answer is “What is next?“. By that, of course I mean what I want to do next after I finish my PhD.

First of all, let us clarify a definition. Here, my definition of “finishing my PhD” is to submit the final draft of my dissertation (which is in the form of a real book here in TU Delft). And for now, my target is to do that before the end date of my contract at the end of this August. As to when I will actually get the PhD degree, it still depends on a lot of stuffs because there are so many things (mostly bureaucratic) to be taken care of (One big problem is that there literally is only ONE room in the entire university where a PhD defense can take place and of course there are hundreds of PhDs who are about to graduate). This means it can literally take months before I actually get the degree, haha 😆 . But that is fine and is actually very normal to be observed in TU Delft.

Anyway, after the contract ends, of course I am free to do whatever I want because I will no longer be employed by the university. The question is “Doing what?

Thinking about life at work
Thinking about life at work

The Choices

In general, there are two (life) paths which I can choose at this point: to stay in academia or, contrary to popular belief in Indonesia, to switch to industry. The first path is obvious: I would pursue a career in academia to, in the end, get (at least) a tenured position in a university. The second path is also obvious: I would try to find a (“regular”) job in the industry.

You know what, I feel very lucky to get this PhD position in 2012 (I would like to send my eternal gratitude to my Master thesis supervisor who recommended me for this position 😉 ). Why? Obviously one major part of my research is to tackle the theoretical work. Everybody knows that and that is pretty much what people think when they hear “a PhD research”. However, my research has another dominant side: the real-life application. A big part of my research is funded by a big state-owned Dutch company and my task is to work on one problem that they have.

So in short, I got a taste of both worlds through this research which would help me make my decision regarding what I would do next 😉 . Here is another consideration: I have pretty much been in formal education all my life since my kindergarten years, lol 😆 . And so I feel like I have had enough time in it and I want to do something different. It happens that this inclination also matches my current preference regarding the two worlds I mentioned at the beginning of this paragraph.

Yes, this means a decision has been made (since months or even years ago, actually :P): I want to switch to industry after I finish my PhD.

Thankfully I didn’t need to flip a coin to make a decision

This is not to say that I will never ever come back to academia. The possibility that I would hate working in the industry, of course, is non-zero and maybe some years from now I would want to come back to academia, haha 😆 . Afterall who knows what might happen in life, right? 😉 However, I just know this is the path that I must take. Deep in my heart, I know I would have had much bigger regret not trying to go to industry than having chosen to go industry and ending it not liking it.

Money-wise, well, first of all, let me tell you that I have never been the guy who is all about the money. To me, it is much more important to do what I like AND follow what my heart tells me. But in this case, though, of the two options it happens that, in general, a career in the industry actually pays more than a career in academia. So, why not? 😛

What are the real steps?

Okay, now that I have made this decision, I would need to assess my options.

And, contrary to popular belief in Indonesia which states that someone with a PhD degree can only work in a university, there are actually tons of opportunities to work in industry for people with a PhD degree (at least here in the Netherlands, or a lot of other developed countries). Even actually there are many vacancies which require the applicants to have, at least, a PhD degree (or close to finishing it). For this reason, I have decided that I will not come back to Indonesia (at least in the near foreseeable future 🙂 ).

Even in some companies, an applicant with a PhD degree gets an edge than someone with only a Master degree where (1) the interview process is much more streamlined and (2) the company usually offers higher salary for the same position.

Ok sure. You might ask then “How many of those positions are available?

Got a job already 😉

Well, let me just say that now, I have got a very interesting job in Amsterdam lined up for me to start this coming October 😉 (I deliberately asked to start in October so I can make September as my sabbatical month where I can afford to not care about this world, lol 😆 ). And actually, I got two job offers in May and I decided to choose one that matched my interest, in a much more interesting location, and (thankfully) would pay better. Even for one of them I actually was approached by a recruiter who offered me the position 😉 . I will write the story about this in a separate post 😉 .

You see? Yeah, the opportunity is, indeed, there. Maybe this is due to the combination of the recovering Western economy and the expertise (and experience) which I have developed during my PhD is in high demand in industry nowadays (it is a rapidly growing field). But whatever that is, I am grateful that I am given the opportunity to take the path I exactly want to do and what my heart tells me to do.

😊

River Amstel in Amsterdam
A new start in Amsterdam

BAHASA INDONESIA

Karena aku sudah dekat dengan akhir kontrak PhD (S3)-ku sekarang (waktu berlalu dengan cepat!), sebuah pertanyaan yang harus aku jawab adalah “Selanjutnya apa nih?“. Dengan pertanyaan ini, maksudku adalah apa yang ingin kulakukan setelah menyelesaikan S3 ini.

Pertama-tama, berikut ini kondisiku saat ini. Yang aku definisikan dengan “menyelesaikan S3” adalah memasukkan draft akhir dari disertasiku (yang mana dalam bentuk buku di TU Delft). Dan sekarang ini, targetku adalah melakukan ini sebelum kontrakku berakhir di akhir bulan Agustus. Mengenai kapan aku akan mendapatkan gelar S3 itu, ini tergantung dari banyak hal (kebanyakan sih birokrasi) yang harus diurus (Satu masalah besar adalah hanya ada SATU ruangan di kampus TU Delft dimana sidang S3 boleh diberlangsungkan sementara ada ratusan mahasiswa S3 yang akan lulus). Ini berarti memang bisa memakan waktu beberapa bulan sampai aku beneran mendapatkan gelarnya, haha 😆 .Tetapi itu tidak apa-apa sih dan biasa kok di TU Delft.

Anyway, setelah kontrak berakhir, jelas dong aku bebas melakukan apa pun karena aku kan bukan lagi karyawan universitas. Pertanyaannya adalah “Melakukan apa?

Thinking about life at work
Berpikir mengenai kehidupan di kantor

Pilihan-pilihan yang ada

Secara umum, ada dua jalan (hidup) yang bisa aku pilih saat ini: untuk tetap bekerja di akademia atau, bertentangan dengan pendapat umum di Indonesia, untuk berpindah haluan ke industri. Pilihan pertama jelas: aku akan mengejar karier di dunia akademia untuk, pada akhirnya, mendapatkan (setidaknya) posisi tenured (posisi tetap) di sebuah universitas. Pilihan kedua juga jelas sih: aku akan berpindah haluan dan bekerja (“biasa”) di industri.

Aku merasa beruntung dengan posisi S3 yang kudapatkan di tahun 2012 ini (untuk ini, aku mengucapkan banyak banget terima kasih ke pembimbing thesis S2-ku yang merekomendasikanku untuk posisi ini 😉 ). Mengapa? Jelas salah satu bagian utama risetku adalah penelitian teoretis ala akademia. Semua orang juga tahu dan rasanya memang ini lah yang muncul di pikiran orang-orang ketika mendengar “riset S3”. Namun, risetku memiliki sisi dominan lainnya: aplikasi nyata. Sponsor utama risetku adalah sebuah perusahaan nasional Belanda dan tugasku adalah mencoba menyelesaikan sebuah permasalahan besar yang mereka miliki.

Jadi secara singkat, aku bisa mencicipi kehidupan kerja di kedua dunia melalui satu riset ini yang sungguh amat membantuku membuat keputusan mengenai apa yang ingin kulakukan selanjutnya 😉 . Berikut ini pertimbangan lainnya: aku sudah berada di dunia pendidikan formal non-stop semenjak TK, hahaha 😆 . Jadilah aku merasa sudah cukup dan aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Kebetulan keinginanku ini cocok dengan preferensiku mengenai dua dunia yang kusebutkan di awal paragraf ini.

Ya, ini memang berarti sebuah keputusan sudah kubuat (semenjak berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun yang lalu sih sebenarnya 😛 ): aku ingin bekerja di industri setelah menyelesaikan S3ku.

Untungnya aku tidak perlu melempar koin untuk membantuku membuat keputusan

Ini bukan berarti aku tidak akan pernah kembali ke dunia akademia selama-lamanya ya. Yang namanya kemungkinan dimana ternyata aku sangat tidak suka bekerja di industri jelas ada sehingga mungkin beberapa tahun lagi aku ingin kembali ke akademia, haha 😆 . Yang namanya masa depan siapa yang tahu kan? 😉 Namun, aku tahu ini adalah langkah yang harus aku ambil. Dari dalam lubuk hatiku, aku tahu rasa penyesalanku akan lebih besar dengan tidak mencoba berpindah haluan ke industri daripada memilih berpindah ke industri dan ternyata tidak menyukainya.

Dari segi masalah uang, hmm, pertama-tama, aku tekankan dulu bahwa aku bukanlah seseorang yang paling mementingkan yang namanya uang/gaji/pendapatan. Untukku, jauuh lebih penting untuk bekerja melakukan sesuatu yang aku sukai DAN sesuai dengan/mengikuti kata hatiku. Tetapi di kasus ini, dari dua pilihan tersebut, kebetulan secara umum pendapatan dari karir di industri itu lebih tinggi daripada karir di akademia. Jadi, mengapa tidak kan? 😛

Apakah langkah nyataku?

Oke, sekarang dimana pilihan sudah kutetapkan, aku perlu menilai pilihan-pilihan nyataku kan ya.

Dan, bertentangan dengan pendapat umum di Indonesia yang menyatakan bahwa seseorang dengan gelar S3 itu hanya bisa bekerja di universitas, sebenarnya ada banyaak sekali kesempatan di industri bagi seorang Doktor (setidaknya di Belanda yah, dan di negara-negara maju lainnya). Bahkan ada beberapa lowongan yang mensyaratkan pelamarnya untuk berpendidikan minimal S3 loh (atau nyaris menyelesaikannya). Karena alasan ini, aku juga sudah memutuskan untuk tidak akan kembali ke Indonesia (setidaknya dalam waktu dekat 🙂 ).

Bahkan di beberapa perusahaan, seorang pelamar dengan gelar S3 juga memiliki keuntungan loh dibandingkan seorang pelamar dengan gelar S2 saja dimana (1) proses interview-nya lebih mulus dan (2) perusahaan biasanya memberikan gaji yang lebih tinggi untuk posisi yang sama.

Oke, oke. Mungkin pertanyaan selanjutnya adalah “Memang ada berapa banyak posisi seperti itu?

Sudah dapat kerjaan kok 😉

Hmm, aku kasih tahu saja ya, aku sudah mendapatkan sebuah pekerjaan super menarik kok di Amsterdam yang akan aku mulai Oktober ini 😉 (sengaja aku minta mulai di bulan Oktober agar aku bisa liburan panjang di bulan September dimana aku bisa tidak memedulikan semua urusan di dunia kan ya, hahaha 😆 ). Dan sebenarnya, aku mendapatkan dua tawaran pekerjaan di bulan Mei dan aku memutuskan untuk memilih satu yang cocok dengan kesukaanku, di lokasi yang lebih menarik, dan (untungnya) juga memberikan gaji yang lebih tinggi. Bahkan untuk salah satunya aku yang didekati seorang recruiter yang menawariku posisi itu 😉 . Pengalaman ini akan kutulis di sebuah posting yang akan datang 😉 .

Nah kan? Ya, peluangnya memang ada sekarang. Mungkin ini adalah akibat kombinasi antara perekonomian Barat yang mulai pulih dan keahlian (dan pengalaman) yang kukembangkan selama S3 ini memang amat dibutuhkan di dunia industri sekarang ini dan nantinya (ini adalah bidang yang berkembang memang). Tetapi apa pun itu, aku merasa bersyukur mendapatkan kesempatan untuk mengambil sebuah jalan yang memang ingin aku jalani dan sesuai dengan kata hatiku.

😊

Contemplation · PhD Life · Thoughts

#1743 – A “Problem” in Academic Publishing

ENGLISH

As currently I am in Munich for a conference (actually the conference has ended though 😛 ), this week I feel like writing posts revolving around my work, haha 😆 .

On Wednesday I shared my experience of writing a two journal papers. At the end of the post, I mentioned the required paid access to get the publications and how I, as the author, got literally 0% royalty from the most difficult and time-consuming form of writing work I had to go through to get these papers published.

Let me tell you, that is not the whole story yet.

Sometimes, even the author is asked to pay to get his/her journal paper published in a journal. Btw, this is certainly not in the purpose of making the publishing process much easier as this is not a bribe. This can come in the form of some services that the journals provide.

For instance, for one of my publications, I was asked if I wanted the figures in my paper to be printed in colors (instead of the default black/white) in the off-print edition of the journal. Of course in this case, the service wasn’t for free. How much was it? Well, for each figure, I would have had to pay €490 plus tax for that!! Well, there were 12 figures so if I were to agree with this offer for all the figures, I would have had to pay €5,880+tax just for this!! 😱😱😱😱😱 To me, that sounds like a lot of money just for that kind of service!!

In the other side of the academic publishing story, the anonymous reviewers, who have to spend their time and brain power to review the new submitted papers written by other highly intelligent human beings, also literally get nothing from the reviewing work (at least that I know of).

So where do all these money go? Well, let’s just keep it this, according to the article which link I post below, the CEO of one of the biggest journal publishers in the world earned $4.6-million in 2011.

***

A few months ago, a friend of mine (who is also a PhD candidate) shared the following article in Facebook:

http://chronicle.com/article/Want-to-Change-Academic/134546/

In general I agree with the idea. Just let me quote something from it:

But I do know that if a factory said it could not be profitable without paying less than minimum wage, decent people would respond that it is indecent to pay people below minimum wage for honest work.

I am not saying that the academic world needs to be fully “commercialized”, as I understand that there is certain aspect of this “life path” that is “beyond” that so keeping it pure from any potential taint coming from commercial reason might be of the best interest.

But look, on the other end of the spectrum of life in academia (read: the hard truth reality), it is not rare to find stories of how scientist are struggling with, well, money.

You see? Why can’t this be as well a possible solution for that? To be honest, I don’t see that a balance between the two idea would be a bad move for this…

What do you think?

BAHASA INDONESIA

Karena sekarang ini aku sedang berada di Munich untuk sebuah konferensi (sudah selesai sih konferensinya 😛 ), minggu ini aku merasa ingin menulis posting yang berhubungan dengan kerjaan aja deh, haha 😆 .

Di hari Rabu, aku membagikan pengalamanku menulis sebuah dua buah journal paper. Di akhir posting, aku menyebutkan mengenai akses berbayar untuk mendapatkan publikasi-publikasi itu dan bagaimana aku, sebagai penulis dari artikel itu, mendapatkan (dalam artian sebenarnya) royalti sebesar 0% dari pekerjaan menulis yang paling sulit dan paling memakan waktu yang pernah aku lakukan seumur hidup agar paper-paper ini terpublikasikan.

Nah begini nih, aku masih belum menceritakan keseluruhan ceritanya loh.

Terkadang, bahkan penulis juga diminta untuk membayar agar paper-nya dipublikasikan di sebuah jurnal. Btw, tetapi ini bukanlah dalam upaya agar penerbitannya lebih mulus gitu ya karena ini bukanlah suapan. Penarikan biaya ini bisa muncul dalam rupa beberapa servis yang disediakan jurnalnya.

Misalnya, untuk salah satu publikasiku, aku ditanya apakah aku ingin gambar-gambar di dalam paper-ku dicetak berwarna (bukannya default hitam/putih) di edisi cetak dari jurnalnya. Tentu saja ini tidak gratis. Pertanyaannya, berapakah yang harus kubayarkan? Yah, untuk satu gambar, aku harus membayar €490 (sekitar Rp 7,5 juta) plus pajak untuk ini!! Nah, paper-ku itu memiliki 12 gambar sehingga jika aku ingin semua gambarnya dicetak berwarna, artinya aku harus membayar €5,880 (sekitar Rp 90 juta) + pajak hanya untuk ini saja!! 😱😱😱😱😱 Untukku, jumlah segitu mah mahal banget untuk layanan kayak gitu kan ya!!

Di sisi lain dari spektrum penerbitan journal paper ini, reviewers-nya yang anonim itu, yang mana harus menyisihkan waktu dan brain power-nya untuk me-review sebuah paper baru yang ditulis oleh manusia-manusia berotak pintar lainnya, juga sama sekali tidak mendapatkan apa-apa lho dari pekerjaan me-review-nya itu (setidaknya yang kuketahui sih begini).

Nah, trus semua uang itu kemana dong? Hmm, begini deh, menurut artikel yang tautannya aku berikan di bawah, CEO dari salah satu perusahaan penerbit jurnal terbesar di dunia di tahun 2011 berpendapatan $4,6 juta (sekitar Rp 61 milyar dengan kurs sekarang).

***

Beberapa bulan yang lalu, seorang temanku (yang juga merupakan seorang mahasiswa PhD/S3) membagikan tautan ini di Facebook:

http://chronicle.com/article/Want-to-Change-Academic/134546/

Secara umum aku setuju dengan ide pokok tulisannya. Berikut ini satu (terjemahan) kutipan artikelnya:

Tetapi saya tahu bahwa jika sebuah pabrik berargumen bahwa pabriknya tidak bisa untung apabila karyawannya tidak digaji di bawah standar gaji minimum, wajar jika ada yang kontra dan menyatakan tidak selayaknya untuk menggaji seseorang di bawah standar gaji minimum untuk sebuah pekerjaan yang jujur.

Aku sama sekali tidak mengatakan bahwa dunia akademik itu perlu “dikomersialisasi” penuh lho ya, karena aku paham bahwa ada aspek tertentu dari “pilihan hidup” ini yang “di atas” itu semua. Sehingga menjaganya untuk tetap murni dari potensi noda-noda duniawi mungkin penting bagi sebagian pihak.

Tetapi begini deh, di sisi lain dari spektrum dunia akademia (baca: realita hidup yang sebenarnya), tidak jarang untuk membaca cerita bagaimana para ilmuwan kesulitan dengan masalah, yah, uang.

Nah kan? Mengapa tidak untuk menjadikan ini sebagai salah satu solusi bagi permasalahan itu? Sejujurnya, aku tidak begitu melihat ada yang salah dengan upaya mencari titik tengah keseimbangan dari dua ideologi yang berbeda ini…

Bagaimanakah menurut kalian?

Miscellaneous · Random Things

#1721 – Be Critical with Measurement

ENGLISH

This post is going to be somewhat closer to what I do for a living now, i.e. doing mathematics and crunching numbers 😆 . I have been thinking about writing this topic for awhile actually because I feel like it is quite relevant in daily life. It is just that I have not really got the time to even start writing a draft. Anyway, here it is now! 😀

***

Measurement

One of the most important utility of a measurement system is to make standardized comparison. For instance, 1 kg of oranges is heavier than 0.5 kg of oranges.

In mathematical notation, they are written as:
1 kg of oranges > 0.5 kg of oranges

It is clear and simple.

Well, except in real life, comparison is actually more complicated than that. For many people, what is represented by the sign “>” or “<” is not enough. We also want to measure the size of what is represented by those signs, i.e. how different are the two that are being compared. For instance, the follow-up question becomes: “How much more is 1 kg of oranges than 0.5 kg of oranges?

And here is where things get more complicated. There are many different ways to measure such thing!

Example 1

For our simple case of oranges, I’ll give an example of two ways of measuring them with basic mathematical operations everyone has to learn in the early years of elementary school: addition (paired with subtraction) and multiplication (paired with division).

  1. Addition (subtraction)

    1 kg – 0.5 kg = 0.5 kg. Therefore, 1 kg of oranges is 0.5 kg more than 0.5 kg of oranges.

  2. Multiplication (division)

    1 kg/0.5 kg = 2. Therefore, 1 kg of oranges is twice as much as 0.5 kg of oranges (weight-wise).

You see, two different ways of measuring oranges lead to two different statements about how much more 1 kg of oranges is than 0.5 kg of oranges.

In this example, one probably fails to see the significance of the two different measurement systems. This is because neither magnitude of difference is, somewhat, perceived as dramatic. The following example illustrates the difference better.

Example 2

During my Fall trip to India in October last year (yes, this post has sat in my draft for quite some time 😛 ), I posted the following photo on Instagram (and shared it on Facebook):

Notice what I put in the caption there. I deliberately chose to use multiplication (division) as a way to measure how much more each of us, as a foreigner, had to pay for the ticket than an Indian and not the simple addition (subtraction) method.

Why?

Well, because “having to pay 25 TIMES more” sounds more dramatic than “having to pay Rs 240 (approx. €3.40) more“.

Bottom Line

You see, different messages are conveyed with different measures. None of the way is wrong (well, under the circumstances that they are set up correctly of course). It is totally up to the user/analyst depending on what they want to measure. There is no one way of measure which can describe every single aspect of a comparison, of course. For our example 2, multiplication (divison) does not tell us how much more in Rupees we each had to pay (while addition (subtraction) does) and similarly, addition (subtraction) does not tell us the magnitude of Rs 240 (while multiplication (division) relatively does).

This means that we need to be critical when reading/seeing a number which is a result of a measurement system. The system is always set in a way with a certain purpose. We need to be able to see beyond the number, to get what the purpose is (and then, if we want to be proper and super critical, check if the measurement system is set correctly accordingly) because that way we are able to see why the author decides to measure things the way (s)he measures it. And then from there, we can decide if we agree with it or not 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Posting ini bertemakan sesuatu yang cukup dekat dengan pekerjaanku, yaitu matematika dan menganalisa angka, haha 😆 . Sebenarnya sudah cukup lama aku kepikiran untuk menulis topik ini sih karena aku rasa topiknya cukup relevan dengan kehidupan sehari-hari. Hanya saja selama ini aku belum memiliki waktu untuk mulai menulis draft posting-nya. Dan akhirnya sekarang aku tulis juga! 😀

***

Pengukuran

Satu kegunaan penting dari pengukuran adalah untuk membuat perbandingan yang terstandardisasi. Misalnya saja, 1 kg jeruk itu lebih berat daripada 0,5 kg jeruk.

Dalam notasi matematika, ini ditulis sebagai:
1 kg jeruk > 0,5 kg jeruk

Jelas dan sederhana.

Yaaa, kecuali dalam kehidupan nyata, perbandingan itu lebih kompleks dan rumit daripada itu. Bagi kebanyakan orang, apa yang direpresentasikan oleh tanda “>” atau “<” itu tidak cukup. Kita juga ingin mengukur apa yang direpresentasikan oleh tanda-tanda itu. Dengan kata lain, seberapa berbeda dua hal yang kita bandingkan itu. Misalnya, pertanyaannya menjadi: “Seberapa lebih banyak sih 1 kg jeruk daripada 0,5 kg jeruk?

Dan disini lah dimana semuanya menjadi lebih rumit. Ada banyak sekali cara untuk melakukan pengukurannya!

Contoh 1

Untuk kasus sederhana jeruk di atas, aku akan memberikan sebuah contoh akan dua cara pengukuran dengan operasi matematika super dasar yang semua orang pelajari di tahun-tahun awal SD (eh, atau TK ya sekarang?): penjumlahan (beserta pengurangan) dan perkalian (beserta pembagian).

  1. Penjumlahan (pengurangan)

    1 kg – 0,5 kg = 0,5 kg. Artinya, 1 kg jeruk itu 0,5 kg lebih banyak daripada 0,5 kg jeruk.

  2.  Perkalian (pembagian)

    1 kg/0,5 kg = 2. Artinya, 1 kg jeruk itu dua kali lebih banyak (dalam hal berat) daripada 0,5 kg jeruk.

Nah kan, dua cara mengukur jeruk menghasilkan dua kesimpulan yang berbeda tentang seberapa lebih banyak 1 kg jeruk daripada 0,5 kg jeruk.

Di contoh ini, mungkin sebagian tidak merasakan perbedaan yang signifikan dari dua sistem pengukuran yang aku pakai. Yah, ini karena tingkat level perbedaannya memang bisa dipandang tidak terlalu dramatis sih. Contoh berikutnya ini mengilustrasikan perbedaan yang lebih kuat.

Contoh 2

Di perjalanan Musim Gugurku ke India Oktober tahun lalu (haha, ketahuan deh posting ini sudah nangkring di draft-ku lama banget 😛 ), aku mem-posting foto berikut ini di Instagram (dan membagikannya di Facebook juga):

Perhatikan caption yang aku tulis disana. Sengaja aku memutuskan untuk menggunakan perkalian (pembagian) sebagai cara pengukuran untuk mengukur seberapa lebih banyak masing-masing dari kami, sebagai orang asing, harus membayar tiketnya dibandingkan seorang India; dan bukan metode penjumlahan (pengurangan) yang sederhana.

Mengapa?

Yah, karena “harus membayar 25 KALI LIPAT lebih banyak” itu terdengar lebih dramatis kan daripada “harus membayar Rs 240 (sekitar Rp 50.000) lebih banyak“.

Kesimpulan

Nah kan, pesan yan berbeda tersampaikan dengan cara pengukuran yang berbeda. Tidak ada cara pengukuran yang salah (dengan asumsi sistem pengukurannya dipersiapkan dengan benar tentunya). Semuanya kembali kepada pemakai/analis tergantung dari apa yang ingin mereka ukur. Tidak ada satu cara pengukuran yang bisa mengukur semua aspek perbandingan, tentunya. Untuk contoh 2 di atas, perkalian (pembagian) tidak memberi tahu seberapa lebih banyak Rupee yang harus kami bayarkan (sementara penjumlahan (pengurangan) iya) dan sebaliknya, penjumlahan (pengurangan) tidak mencerminkan level besarnya Rs 240 (sementara perkalian (pembagian) cukup mewakilinya).

Ini artinya kita harus kritis ketika membaca/melihat sebuah angka yang merupakan output dari suatu sistem pengukuran. Sistemnya dipersiapkan dengan suatu tujuan tertentu. Kita perlu untuk bisa melihatnya lebih jauh daripada sekedar angkanya, untuk memahami apa tujuannya itu (dan juga, kalau mau super kritis, mengecek apakah sistem pengukurannya dipersiapkan dengan baik) karena dengan begitu kita bisa memahami mengapa penulis memutuskan untuk mengukur sesuatu dengan sistem pengukuran yang ia pilih. Dan dari sana, kita bisa memutuskan apakah kita setuju dengannya atau tidak 🙂 .

Big Days · Zilko's Life

#1615 – Turning 27

ENGLISH

“Twenty Seven”

That would be my answer for the coming one year starting from today when one asks me what my age is.

Yes, today is my 27th birthday.

Yes, just like any other living creatures on this planet, I am getting older.

Okay, to be honest, I haven’t really put too much thought on it. But on that little that I have, somehow 27 feels sooo much further ahead of 26. I mean, the difference is definitely more than just a year apart! Being 26, I still felt closer to being “young”. It was still okay to be immature, childish, and selfish. Being 27, however, somehow I feel that I should be mature, wise, and dependable. Somehow I feel like the responsibility that I must carry triples from when I was 26; but mentally I feel like my self is closer to the characteristics of a 26 year old than a 27 year old.

Is this a crisis?

Well, maybe. But that is only if I think of age to be of that importance and actually put too much thought on it 😆 .

But this is not always bad though. I think a crisis like this can help in a lot of aspects of life. Like, the saying of “to act your age” can actually be a good motivation to do something right, to be brave, and to act rationally.

Nevertheless, a crisis is a crisis. I don’t know how I will feel when I turn 28 next year (omg). But at least instead of having to wait 364 days for that, now I have 365 days before that happens, lol 😆 .

Source: http://robincangie.com/turning-30/
Source: http://robincangie.com/turning-30/

BAHASA INDONESIA

“Dua Puluh Tujuh”

Itulah jawabanku setahun ke depan ketika ada yang bertanya umurku berapa.

Iya, hari ini adalah hari ulang-tahunku yang ke-27.

Iya, seperti sema makhluk hidup lainnya di planet ini, aku juga bertambah tua.

Oke, sebenarnya aku belum terlalu banyak memikirkannya sih. Tetapi dari sedikit yang sudah itu, entah bagaimana aku merasa umur 27 itu jauuuh di depan umur 26. Maksudku, bedanya jelas jauh lebih panjang daripada satu tahun deh! Umur 26, rasanya masih lebih dekat gitu dengan “masih muda”. Masih nggak papa lah kalau masih belum dewasa, kekanakan, dan egois. Tetapi di umur 27, entah mengapa aku merasa bahwa aku harus lebih dewasa, bijaksana, dan bisa diandalkan. Entah bagaimana aku merasa bahwa tanggung-jawab yang harus siap aku emban itu meningkat tiga kali lipat daripada ketika berumur 26 tahun; tetapi secara mental rasanya aku masih lebih cocok dengan karakteristik umur 26 daripada 27.

Apakah ini sebuah krisis?

Mungkin saja sih. Tetapi ini hanya jika aku memang sebegitu mementingkannya umur dan terlalu memikirkannya, haha 😆 .

Tetapi ini juga tidak selamanya buruk sih. Aku rasa krisis semacam ini juga bisa membantu di banyak aspek hidup kok. Misalnya saja, kata-kata “bertindaklah sesuai dengan umurmu dong” malah bisa menjadi sebuah motivasi yang baik untuk melakukan sesuatu dengan benar, untuk menjadi berani, dan bertindak rasional.

Walaupun begitu, toh krisis tetaplah krisis lah ya. Nggak tahu sih kira-kira bagaimana rasanya ketika aku menjadi 28 tahun depan (omg). Tetapi setidaknya bukannya harus menunggu 364 hari untuk itu, sekarang aku memiliki 365 hari sampai hari itu tiba, hahaha 😆 .

General Life · Zilko's Life

#1564 – Long Weekend Story: Whit Monday

ENGLISH

Yep, this past weekend was another long weekend, the last long weekend of the long weekend season this Spring though. But if you think that it is nice to have so many long weekends this May here in the Netherlands, hold your idea for a minute. FYI, the next public holiday this year in the Netherlands is Christmas, i.e. 25 December 2015, i.e. literally six months from now. In between now and then, there is ZERO public holiday in the calendar, haha…

Anyway, so this time the long weekend was due to the Whit Monday, or the Pentecost Monday day. I did not do anything much this long weekend, just relaxed and took a rest at home, haha. Somehow I felt so tired, probably my weekend trip to Oslo the weekend before played a little part on it as well, haha.

I did some thinking though, not for work (which was a good thing of course) but for my future plan in life. But it was not a super vague thought like “I want to change the world” or “I want to help slowing down global warming“, lol 😆 . It was something more realistic and relatively short-term so that I must take a real action really soon. Quite exciting! Even though the timing is a little bit tight now so I feel a little bit anxious about it.

Okay, I know I am being so vague with the last paragraph in a sense for not pinpointing exactly what the plan/thought is. But that is the thing, I can’t write what the plan is right now right here. Probably I will in the future, but we will see, haha 😆 .

Anyway, on Saturday evening I watched the grandfinale of the Eurovision Song Contest 2015. For those who are not familiar with this contest, in short it is an annual singing contest between European countries (even though this year, somehow, Australia participates) where the contestants are professional singers from their own respective countries. Btw, Indonesia’s very own Anggun participated in 2012 representing France btw. And some famous singers have won this contest in the past too, namely Dana, ABBA, and Celine Dion.

This year, Måns Zelmerlöw, the representative of Sweden was the heavy favorite for the trophy. And watching his performance:

explained why. It was such a good performance! Very current and modern! No surprise that he, indeed, ended up winning!

Ah, and of course the second grandslam tournament of the year, the French Open, also started this weekend. 🙂

BAHASA INDONESIA

Yup, akhir pekan yang lalu ini adalah long weekend lagi loh, long weekend terakhir sih di musim long weekend musim Semi ini. Eh, kalau pada berpikir enak ya di bulan Mei ini banyak bener long weekend-nya di Belanda, tunggu sebentar. FYI, tanggal merah selanjutnya di Belanda adalah hari Natal loh, alias 25 Desember 2015, alias enam bulan dari sekarang. Dan di antaranya sekarang dan Natal, TIDAK ADA tanggal merah sama sekali, haha…

Ngomong-ngomong, kali ini long weekend-nya adalah karena Hari Raya Pentekosta Senin. Aku nggak ngapa-ngapain sih long weekend ini, hanya bersantai saja dan beristirahat di rumah, haha. Entah mengapa aku merasa lelah, mungkin perjalanan akhir pekanku ke Oslo akhir pekan sebelumnya sedikit berpengaruh, haha.

Aku memanfaatkan waktuku di long weekend ini juga untuk berpikir sih, bukan untuk kerjaan ya (bagus kan) tetapi untuk masa depan hidupku. Tetapi bukan sesuatu yang terlalu umum dan kurang jelas semacam “Aku ingin mengubah dunia menjadi lebih baik” atau “Aku ingin membantu mengurangi laju pemanasan global” kok, haha 😆 . Pemikiranku adalah tentang sesuatu yang lebih realistis dan cukup jangka dekat dimana aku harus beraksi segera untuknya. Seru juga sih rasanya! Walaupun dari segi timing entah kenapa agak mepet sekarang sehingga aku sedikit merasa deg-degan juga karenanya.

Oke, aku tahu kok paragraf di atas itu sangatlah nggak jelas maksudnya apa dalam artian aku tidak menyebutkan apa sih rencana dan pikiranku itu. Tetapi ya memang itu masalahnya, aku tidak bisa menuliskannya disini sekarang. Mungkin nanti aja deh di masa depan, kita lihat saja, haha 😆 .

Anyway, Sabtu malam aku menonton grandfinalnya Eurovision Song Contest 2015. Bagi yang kurang familier dengan kontes ini, secara singkat ini adalah kontes menyanyi tahunan di antara negara-negara Eropa (walaupun tahun ini, entah bagaimana ceritanya, Australia ikutan juga dong) dimana kontestannya adalah penyanyi profesional dari negara-negara yang mereka wakili. Btw, penyanyi Indonesia, Anggun, berpartisipasi loh di tahun 2012 mewakili Prancis btw. Dan beberapa penyanyi terkenal kelas dunia juga telah memenangi kontes ini di masa lalu, seperti misalnya Dana, ABBA, dan Celine Dion.

Tahun ini, Måns Zelmerlöw, wakil dari Swedia adalah favorit sebagai juara. Dan jika kita melihat performanya yang kayak gini:

nggak heran lah ya mengapa dia favoritnya. Benar-benar sebuah penampilan yang bagus! Kini dan modern banget! Nggak mengherankan deh ketika pada akhirnya ia beneran menang!

Ah, dan tentu saja turnamen grandslam kedua tahun ini, French Open, juga dimulai akhir pekan ini. 🙂