#2118 – Some Recent Health Stories

ENGLISH

The title sounds dramatic I know, and it brings the impression that sounds much worse than it actually is, haha. So first of all, let me first state that I am fine. I am not ill or anything, haha πŸ˜› .

Anyway having said that, currently I have a slight knee injury. Well, it is not the knee itself, though, but the muscle just slightly lower to the side of the knee (so I’m not sure if this counts as a “knee” injury? πŸ˜› ). Perhaps I inadvertently pulled the muscle or something not too long ago, hmm.Β I understand that a way to treat this is by to let it heal naturally. And this can be accelerated by not forcing too much pressure on it. In other words, I need to be easy on my knee, haha.

In a way, this has been slightly frustrating because it has hindered my exercise rhythm and plan. So not too long ago I have decided that I would like to intensify my cardio training a little bit to lower my body fat percentage a bit faster, haha. But most cardio trainings which I have access to depend so much on the use of knees (running/biking/stairs climbing/etc). Of course some are less demanding on the knees than the others. But still, this narrows down the list of options and this is quite challenging πŸ˜› .

Though, I have learned that I need to listen to my body in order to optimally achieve my goal without sacrificing my health, haha. So I guess this is the instance where I need to watch my exercise and be mindful of the current situation.

Having said that, of course I still go to my weekly tennis lesson; and tennis, to me, is also a form of cardio because I need to move and run a lot during the lesson, haha πŸ˜› . But the running is less demanding on the knee because the lesson is on a clay court, where the surface is softer. Though, of course tennis is more than just the running as we need to use and control our body weight on each shot; and the knees are actually under higher pressure because some shots would require you to pivot most of your body weight on one of your knees, haha. For instance, as a right-handed player, I pivot my body weight on my right knee when I hit a backhand, and on my left knee when hitting a forehand or a serve.

But well, I find tennis super fun and the “fun” is what I am after from this lesson as well. My mental well being feeds on the “fun”, and this is also important to take care of, haha πŸ˜† .

Tennis is fun

BAHASA INDONESIA

Judulnya drama banget memang, dan memang memberikan impresi yang lebih buruk daripada kenyataannya, haha. Jadi pertama-tama, aku sebutkan dulu bahwa aku tidak apa-apa kok. Aku tidak sakit atau apa lah, haha πŸ˜› .

AnywayΒ walaupun begitu, saat ini aku sedang agak cedera lutut, haha. Eh, bukan lututnya sih sebenarnya, tetapi otot di sebelah samping dan agak ke bawah dari lututnya (jadi ini termasuk cedera “lutut” bukan sih? πŸ˜› ). Mungkin tidak sengaja beberapa waktu yang lalu ototnya tertarik atau bagaimana gitu, hmm. Aku paham bahwa satu cara perawatannya sih adalah dengan membiarkannya sembuh sendiri. Dan ini bisa dipercepat dengan tidak terlalu banyak memberikan tekanan kepadanya. Dengan kata lain, aku mesti membiarkan lututku beristirahat, haha.

Di satu sisi, kondisi ini agak menyebalkan karena terus-terang ini mengganggu ritme dan rencana latihan olahragaku. Belum lama ini sudah kuputuskan aku ingin sedikit meningkatkan intensitas latihan cardio-ku untuk mempercepat penurunan body fat percentage-ku, haha. Tapi kebanyakan jenis latihan cardio yang bisa kulakukan membutuhkan kondisi lutut yang prima nih (lari/sepedaan/naik tangga/dll). Memang sih sebagian lebih ramah lutut daripada yang lainnya. Tapi ini mengakibatkan pilihan jenis latihan yang lebih sedikit dan situasi ini agak challenging πŸ˜›

Tapi aku sudah belajar bahwa aku perlu untukΒ mendengarkan tubuhku sendiriΒ untuk mencapai tujuanku secara optimal tanpa mengorbankan kesehatanku, haha. Jadi aku rasa ini adalah kasus dimana aku perlu berhati-hati dengan olahraga yang aku lakukan dan paham akan situasinya saat ini ya.

Walaupun begitu, tentu saja aku tetap pergi ke les tenisku setiap minggu, haha; dan tenis, untukku, adalah satu bentuk cardio juga karena aku harus banyak bergerak dan berlari di sepanjang lesnya, haha πŸ˜› . Tapi larinya sedikit lebih ramah di lutut sih karena lesnya diadakan di lapangan tanha liat, yang mana permukaannya lebih empuk. Walaupun begitu, tentu saja tenis itu lebih dari sekedar lari dimana kita harus menggunakan dan mengontrol berat badan di setiap pukulan; dan sebenarnya justru lutut berada dalam tekanan yang lebih besar sih karena untuk beberapa jenis pukulan kita harus mem-pivot-kan berat badan di salah satu lutut, haha. Misalnya, karena aku adalah pemain non-kidal, aku mem-pivot-kan berat badanku di lutut kanan ketika memukul backhand, dan di lutut kiri ketika memukul forehand atau serve.

Ah, tapi kan tenis itu super seru ya dan “keseruan” ini yang aku cari dari les tenis ini. Kesehatan mentalku kan terjaga dengan adanya “keseruan” ini dalam aktivitasku, dan ini juga penting untuk dijaga dong ya, haha πŸ˜† .

Advertisements

#2054 – A Year A Doctor

ENGLISH

This day last year, officially I got my PhD degree and so since then I have been entitled to use the title “Doctor”, haha πŸ˜› .

Doctor Evil. Source: https://9gag.com/tag/evil

So how has this one year been in relation to this title? Well to be honest, it has been as how it was before my graduation in the sense that I did not “use” the title a lot, haha. I mean, life (even at work) is very casual here in the Netherlands where we don’t even use “Mr.” or “Mrs.” or the likes, let alone academic degree! Even at work we are all in first name basis, even when I address the CEO of my company πŸ™‚ . This was also true in the university. I addressed the head of my research group, who was a professor, with his first name without his “Professor” title.

But an academic degree is much more than just adding some title into your name. What “in the inside” is what matter much more. As to me personally, I feel like this title has given me a sense of accomplishment, which instills self confidence. I can legitimately say that I did the (hard and long) process of obtaining the degree and succeeded. And hopefully along the way the process has shaped me into a better person, be it professionally or personally.

***

Anyway, today I am going to Copenhagen for,Β coincidentally, the PhD defense of a good friend of mine! Yeah, exactly a year after mine, my friend is going to get hers! It is quite funny how things unravel at times…

One year ago in Delft.

BAHASA INDONESIA

Tepat hari ini tahun lalu, resmi aku mendapatkan gelar PhD (S3)-ku dan semenjak itu aku berhak menggunakan titel “Doktor” di depan namaku, haha πŸ˜› .

Doctor Evil. Sumber: https://9gag.com/tag/evil

Nah bagaimana nih setahun ini berkaitan dengan gelar ini? Ya sejujurnya sih, sama aja sih seperti sebelum kelulusanku dimana gelar ini tidak banyak “dipakai”, haha. Maksudku, di Belanda kan kehidupan itu (termasuk kehidupan di kantor) kasual ya dimana bahkan panggilan “Bapak” atau “Ibu” atau semacamnya itu tidak pernah digunakan, apalagi gelar akademik! Di kantor kami saling memanggil satu sama lain dengan nama depan loh, bahkan termasuk ketika aku memanggil CEO kantorku πŸ™‚ . Situasi di universitas juga seperti ini. Aku memanggil kepala grup risetku, yang mana seorang profesor, dengan nama depan saja tanpa embel-embel titel “Profesor”-nya.

Tetapi gelar akademik itu kan lebih dari sekedar titel untuk ditempelkan ke nama kan ya. Yang “di dalam” lah yang jauh lebih penting. Untukku pribadi, aku merasa titel ini memberikanku rasa pencapaian, yang mana membangkitkan rasa percaya diri. Aku bisa kan bilang bahwa aku sudah melakukan dan melalui proses (berat dan panjang) untuk mendapatkan gelarnya dan berhasil. Dan mudah-mudahan proses itu telah membentukku menjadi pribadi yang lebih baik, baik itu secara profesional maupun secara personal.

***

Anyway, hari ini aku pergi ke Copenhagen untuk, kebetulan banget, sidang PhDnya seorang teman baikku! Iya lho, tepat satu tahun setelah sidangku, temanku akan mendapatkan gelar PhDnya! Terkadang kebetulan itu lucu banget ya…

#2052 – The Last Week Before A Vacation

ENGLISH

I started writing the draft of this post just two days before the start of my November 2017 trip to Indonesia. While it was not a “eureka” moment whatsoever, the context was very relevant at the time which made me want to write it down πŸ˜› .

To me, the moment just before the start of a big trip or vacation is one of the worst! Well, as in it feels like there are so many things going on that need to be taken care of while in reality, there might actually not be. It is true, though, that to me there are a few separate factors occupying my mind at such time and they are conditionally forced to interact with each other. I hypothesize this interaction is what causes that feeling!

First of all, there are of course work stuffs. Having a big vacation coming up actually can be seen as an extra deadline; but not imposed by a project or my superior or anything, but by myself, haha. To me, whenever possible I always want to start a vacation or a trip on a clear state of mind, without any work-related “luggage” carried on. This, however, means that I feel the strong urge to finish my current tasks before I go and this can certainly be quite stressful.

Separate from that, there is of course the excitement. I mean, who wouldn’t feel excited just before a big trip? Daydreaming forward on the nice coming trip makes the present somehow feels a little bit more miserable. And for this trip to Indonesia, the Dutch Fall weather certainly did not help at all.

On the other hand, there is also the important preparation, like packing and preparing all the documents and stuffs (making sure to have my flight tickets and hotel reservations ready, for instance). And then of course the lingering sneaky thought of “Am I forgetting something?“.

All in all, this results in me facing myself and my mind to multitask. On top of that,Β as I said, these factors do not stand by themselves as they interact with each other. And so this time can certainly be quite stressful! Haha πŸ˜› . I noticed myself that week where I appeared to be uncharacteristically “rushing” a little bit more and less calm than usual.

But of course given the amount of my experience with travelling, that was not my first experience handling such situation. I have learned that since weeks before the trip, I would need to start the anticipation. For my work, I started to arrange my schedule accordingly, and told my colleagues and stakeholders in advance about my plan. This helped in making the “size” of the deadline to be more manageable. For the preparation, I started packing my suitcase since a few days before the trip. So no last minute packing! Haha πŸ˜› . And I made a list on what I would need to bring. For the excitement, unfortunately, there was nothing that I could do, haha…

But well, eventually this all leads to the trip itself where the moment the trip begins is, on the other hand, one of the best!

BAHASA INDONESIA

Aku mulai menulis draft posting ini sekitar dua hari sebelumΒ perjalanan bulan November 2017ku ke IndonesiaΒ dimulai. Walaupun waktu itu topik ini bukanlah momen “eureka”, konteksnya amat relevan sehingga aku merasa aku perlu menuliskannya πŸ˜› .

Untukku, momen sebelum sebuah perjalanan atau liburan besar dimulai adalah salah satu yang terburuk! Yah, rasanya ada banyak banget gitu yang berlangsung pada waktu yang bersamaan yang perlu diurus, padahal sebenarnya kenyataannya mungkin tidak sebanyak itu, haha. Namun, benar bahwa ada beberapa hal terpisah yang mengisi pikiranku di waktu-waktu ini dan situasi memaksa mereka untuk berinteraksi satu sama lain. Hipotesaku adalah interaksi ini lah yang menimbulkan perasaan terburuk itu!

Pertama-tama, tentu saja ada urusan kerjaan ya. Adanya sebuah liburan besar yang akan tiba sebenarnya juga berarti sebuah tenggat waktu (deadline) ekstra; yang bukan datang dari sebuah proyek atau dari atasan, tetapi dari diriku sendiri, haha. Untukku, selama memungkinkan aku ingin berangkat dalam sebuah liburan dengan pikiran yang tenang, tanpa “embel-embel” urusan pekerjaan yang ikut terbawa.Β Ini, tapinya, berarti aku juga jadi merasakan keinginan kuat untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku waktu itu sebelum pergi dan tentu ini terasa cukup stressful.

Lepas dari itu, tentu saja ada perasaanΒ excitement. Maksudku, siapa juga yang nggak merasa excited sebelum berangkat liburan ya? Masalahnya, memikirkan ke depan mengenai perjalanan yang akan segera datang dan mengasyikkan itu justru membuat saat ini terasa lebih menyedihkan. Dan untuk perjalanan ke Indonesia kemarin ini, cuaca musim gugur di BelandaΒ jelas sama sekali tidak membantu.

Di sisi lain, ada juga persiapan yang tentu juga penting, seperti misalnya mulai packing dan menyiapkan segala dokumen dan tetek-bengek lainnya (memastikan semua tiket pesawat, reservasi penginapan, dll siap, misalnya). Dan tentu saja pikiran menyebalkan “Eh, aku kelupaan apa ya?” itu.

Jadi, ini berakibat pada diriku dan pikiranku yang tiba-tiba, mau tidak mau, mesti multitasking. Di samping itu, seperti yang kubilang faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri dan mereka justru berinteraksi satu sama lain. Dan jadilah sebagai akibatnya ini bisa terasa agak stressful! Haha πŸ˜› . Aku perhatikan diriku minggu itu dimana rasanya, tidak biasanya, aku cenderung agak lebih “terburu-buru” dan kurang kalem dibandingkan biasanya.

Tetapi tentu saja dong dengan pengalamanku jalan-jalan, ini bukan lah kali pertama aku menghadapi situasi ini. Aku sudah tahu bahwa semenjak sekian minggu sebelum liburan, aku sudah harus memulai antisipasi. Untuk kerjaan, aku mulai mengatur jadwalku sedemikian rupa, dan juga memberi-tahu kolega dan stakeholders-ku jauh-jauh hari mengenai rencanaku. Ini membantuku untuk membuat “ukuran” dari tenggat-waktunya untuk lebih masuk akal untuk ditaklukkan. Untuk masalah persiapan, aku mulai packing semenjak sekian hari sebelum perjalanan. Jadi nggak ada deh ceritanya last minute packing! Haha πŸ˜›Β  Dan aku juga membuat daftar mengenai apa saja yang mesti kubawa. Untuk excitement, sayangnya tidak ada yang bisa kulakukan untuknya, haha…

Ah, tetapi toh pada akhirnya aku akan tiba juga di waktu keberangkatan yang mana merupakan satu waktu yang terbaik!

#2030 – People Are Selfish

ENGLISH

Some time ago, I shared about the day where I encountered a tram disruption which caused me to be late for my haircut appointment and skip grocery shopping that day while I was running out of food at home thus forcing me to eat my emergency supply for dinner that evening. In short, I was really annoyed by the disruption that day.

Later I learned about the cause of the disruption. Apparently, not too long before, there was an accident involving a tram and a car. Some people got hurt that they had to be taken by the ambulance. Obviously the police was later involved in the scene as well.

Upon learning about this cause, I realized one thing: people are selfish.

***

In my opinion, selfishness is necessary for “survival”. At the very basic level, people have to think for themselves to “survive”. But how is taking care of yourself selfish? Well, because by definition then at the time you are prioritizing the need of yourself ahead of others, regardless of the well-being of others. This is why I don’t think the antithesis of selfishness in pure form exists. You can’t please or help everyone, i.e. “feeding” anybody else’s selfishness but yours.

***

My annoyed reaction to the tram delay above is an example of my selfishness. I was annoyed that the tram incident disrupted my grocery shopping plan and haircut appointment. While actually, this “discomfort” was minor in comparison to what the victims had to go through that day as a result of the accident (I don’t think the choices between to have your plan slightly ruined vs to have to be hospitalized is a difficult one to make).

Granted, though, that I didn’t know about the accident when I initially got annoyed. Having said that, while learning about the accident dramatically reduced the level of my annoyance, I felt like my annoyance didn’t get completely wiped out. When I got back home, I had nothing to eat except for my emergency supply (read: Indomie πŸ˜› ). And I did not like that because I did not consider instant noodles to be a healthy food option to have for dinner. But at the time, I had no other choice (because I did not feel like ordering something as that would have required some more waiting before I could finally have my dinner). I had to accept and deal with it, a situation which appeared to nurture my annoyance.

***

Understanding that to some degree other people will act selfish, perhaps “towards us”, would help in many cases during the course of life, in my opinion. It certainly puts a lot of encounters in perspective. In some cases, I think this helps us to not take things too personally and hence avoiding the “negativity” or “grudges” to enter our mind or heart.

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku bercerita mengenai suatu hari dimana ada gangguan layanan tram yang menyebabkanku terlambat untuk appointment potong rambut di sebuah salon dan harus membatalkan rencana belanja grocery hari itu padahal di rumah aku sedang kehabisan stok makanan sehingga malamnya aku mau tidak mau hanya bisa memakan suplai makanan daruratku. Secara singkat, bisa dibilang aku merasa sebal dengan gangguan tramnya hari itu.

Beberapa saat setelah itu, aku baru tahu penyebab gangguannya. Ternyata, tidak lama sebelumnya, ada kecelakaan yang melibatkan sebuah tram dan sebuah mobil. Beberapa orang terluka karenanya dan harus dibawa ambulans ke rumah sakit. Jelas, polisi juga kemudian terlibat di tempat kejadian.

Ketika mengetahui penyebab ini, aku menyadari satu hal: manusia itu egois.

***

Menurutku, keegoisan itu penting loh untuk “kelangsungan-hidup” (survival). Pada dasarnya, manusia harus berpikir dan mengurusi dirinya sendiri untuk “bertahan hidup”. Nah, yang namanya memikirkan atau mengurusi diri sendiri kok egois? Ya karena ketika sedang memikirkan dan mengurusi diri sendiri, artinya kita sedang mementingkan kepentingan diri sendiri dan bukannya kepentingan orang lain kan? Inilah mengapa aku rasa antitesis dari keegoisan dalam bentuk murinya itu tidak ada. Kita tidak bisa selalu memikirkan dan menyenangkan semua orang, dengan kata lain “memberi-makan” keegoisan orang lain tetapi tidak terhadap diri sendiri.

***

Reaksi sebalku terhadap gangguan tram di atas dalam satu contoh keegoisanku. Aku sebal insiden tramnya mengganggu rencana belanja grocery dan appointment potong rambutku. Padahal, “ketidak-nyamanan” ini tidak ada apa-apanya lah ya dibandingin situasi yang harus dijalani korban kecelakaan hari itu (Jelas tidak sulit lah memilih antara menghadapi situasi rencana yang terkacaukan atau harus dilarikan ke rumah sakit).

Memang sih, aku tidak mengetahui adanya kecelakaan ini ketika aku pertama-kali merasa sebal. Walaupun begitu, walaupun mengetahui penyebabnya jauh menurunkan tingkat kesebalanku, aku merasa kesebalanku tidak sama sekali hilang lho. Ketika aku kembali di rumah, aku tidak memiliki makanan apa-apa kecuali persediaan daruratku (baca: Indomie πŸ˜› ). Dan aku tidak menyukai situasi ini karenaΒ bagiku mi instan itu bukanlah pilihan makanan yang sehatΒ apalagi untuk makan malam. Tetapi waktu itu, aku tidak memiliki pilihan lain (karena aku juga ogah memesan delivery sesuatu karena aku harus menunggu lagi sebelum akhirnya bisa makan malam). Aku harus menerima situasi ini, situasi yang ternyata sedikit “menjaga” nyala kesebalanku.

***

Mengetahui bahwa sampai tingkat tertentu orang lain juga akan bertindak egois, mungkin “terhadap kita”, juga akan membantu banget dalam hidup, menurutku sih. Ini membantu dalam memahami suatu situasi. Dalam sebagian kasus, ini membantu kita untuk tidak terlalu memasukkan segalanya ke dalam hati sehingga mencegah pikiran “negatif” dan “kedongkolan” memenuhi pikiran dan hati.

#2019 – The Timing of Disruptions

ENGLISH

It is just a reality that anything will break once in a while, including the smoothness and reliability of the Dutch public transportation. And by “break”, I mean “disruptions”, haha.

While my logic would say that disruptions occur randomly, somehow my heart feels that they do not. In fact, they seem to likely more occur during the worst of time, i.e. the time I am “less okay” with them happening. For instance, when I am on my way to an important meeting, like my Instagram post above from earlier this year, haha πŸ˜† .

Not too long ago, it happened again. After work, I planned to do grocery at a supermarket (as I was running out of food at home) before going to a haircut appointment at a barbershop. I saw my tram at Amsterdam Centraal but it was just standing still for an abnormally long time; and so I immediately figured out that there was a disruption. I felt so annoyed by this. I mean, why did it need to happen today of all days, on the day when I had an appointment (Btw, I HATE to come late to an appointment; coming late is so untypical of me)? Haha πŸ˜† . Finally after waiting for about half an hour, the tram resumed its operation. But because of the delay, I had to drop my plan to the supermarket today and just went straight to the barbershop, where I was late for 15 minutes. That evening, I cooked my emergency instant noodles (read: Indomie πŸ˜› ) for dinner, haha πŸ˜† .

On a more serious note, though, what my heart “feels” might actually be biased. You see, encountering a disruption when I have an important agenda is certainly more “painful” than encountering a disruption when my time is flexible. My hypothesis is that the “pain” makes me “remember” the incident more, hence falsely “associating” the timing occurence of the incidents with the presence of an important appointment/meeting/etc. In other words, I “forget” that these incidents also happen on “less important” time. The lack (or lesser degree) of “pain” I feel at these time cloud these incidents in my mind.

Back to the delayed tram incident which forced me to be late for 15 minutes to my appointment and eat a bowl of Indomie that evening, I eventually learned about the cause of the disruption. This finding actually made me think about a different matter which deserves its own post for the next time, though πŸ™‚ .

BAHASA INDONESIA

Adalah suatu kenyataan bahwa segala sesuatu pasti akan rusak ya, termasuk kelancaran dan kehandalan transportasi umum di Belanda. Dan yang kumaksud dengan “rusak” jelas adalah “gangguan operasional”, haha.

Walaupun menurut logika yang namanya gangguan itu terjadi secara acak, entah kenapa hatiku merasa kemunculannya itu tidak acak. Malahan, rasanya gangguan itu lebih mungkin terjadi di waktu-waktu yang nggak banget, yaitu ketika aku sedang ada acara penting gitu. Misalnya, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju sebuah meeting yang penting banget, seperti di posting Instagramku di atas dari awal tahun ini, aha πŸ˜† .

Belum lama ini, kejadian ini terulang kembali. Sepulang kantor, aku berniat berbelanja kebutuhanku di supermarket (kondisi stok bahan masakan/makanan di rumah sedang habis) sebelum pergi ke salon dimana aku sudah ada appointment untuk potong rambut. Aku lihat tramku sudah ada di Amsterdam Centraal tetapi tramnya cuma berhenti doang dalam jangka waktu yang tidak biasa lamanya; jadilah aku langsung menyadari bahwa sedang ada gangguan. Aku merasa sebal banget waktu itu. Maksudku, kok harus kejadiannya sekarang gitu, di waktu dimana aku ada janji (Btw, aku BENCI SEKALI datang terlambat ke sebua janji; datang terlambat itu bukan sifatku)? Haha πŸ˜† . Akhirnya, setelah menunggu selama setengah jam-an, tramnya beroperasi juga. Tetapi karena keterlambatan ini, aku harus membatalkan rencanaku ke supermarket dan langsung pergi ke salonnya, dimana aku terlambat 15 menit dari waktu appointment. Dan malam itu, aku harus mau tidak mau memasak dan makan makanan untuk situasi darurat: mi instan (baca:Β IndomieΒ πŸ˜› ) untuk makan malam, haha πŸ˜† .

Apa yang “dirasakan” hatiku itu mungkin bias loh sebenarnya. Jelas kan mendapatkan gangguan operasi semacam ini di waktu ketika aku sedang ada agenda penting itu lebih “menyakitkan” daripada mendapatkan gangguannya ketika jadwalku sedang fleksibel. Hipoteasku adalah “rasa sakit” ini membuatku “ingat” insiden ini, sehingga kekeliruan dalam bentuk “asosiasi” antara waktu kejadian insidennya dengan keberadaan acara penting jadi terbentuk. Dengan kata lain, aku “melupakan” gangguan-gangguan yang terjadi di waktu-waktu yang “lebih tidak penting”. Ketiadaan (atau rendahnya tingkat) “rasa sakit” yang kualami di waktu-waktu ini membuatku otakku mengabaikannya.

Kembali ke insiden gangguan tram yang membuatku terlambat 15 menit ke appointment-ku dan memaksaku makan Indomie saja malam itu, pada akhirnya aku mengetaui penyebab gangguannya. Informasi ini sebenarnya membuatku terpikir akan masalah lain yang layak kujadikan posting tersendiri. Tapi posting tersendiri ini untuk nanti saja sih πŸ™‚ .

#2006 – A Shocking Experience

ENGLISH

Some time ago on my way to work, I encountered something unusual, in a “scary” way. That day, the bridge I would need to get to my office was closed by the police. I was quite annoyed at the time because then I would have to walk around via the bridge next to it that was quite far away. Look, I understood that the police must have a very good reason to close the bridge; but my unawareness of what the reason was at the time made me quite annoyed with this little inconvenience.

Once I reached my desk, I just learned that the reason the police closed the bridge was because they found a hand grenade in the area! 😱 And so they had to sterilize the area and so the closure. Not long after I arrived at my office, even a van from the ministry of defense came and some officers in special suits got off and handled the situation.

The policemen and policewomen were very informative and assured us that everything was under control so we could work as normal. My office was also in close contact with them in case evacuation would become necessary. Not long after, the situation was thankfully resolved without anything happening and the police reopened the area as usual.

***

I have to say it was quite a shocking experience to me. Thankfully, nothing happened and I was fine. But I would be lying if the incident didn’t book a little space in my head for a little bit that morning. Luckily I had a busy day that day which forced me not to dwell on it; which was actually really good for me, I think.

I am not going to speculate on the reason why the grenade was there, as it could be anything. But I just want to remind myself that sometimes we take the peaceful environment we are in today for granted. Actually, there are a lot of people who work hard every single day to ensure the continuity of this peaceful environment. And to them, I would like to say: “Thank You“.

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu ketika berangkat ke kantor, aku menghadapi suatu situasi yang tidak biasa, tidak biasa dalam artian agak “menyeramkan”. Hari itu jembatan yang harus aku seberangi untuk mencapai kantor ditutup oleh polisi. Aku merasa sedikit sebal karena sebagai akibatnya aku harus berjalan-kaki memutar dan menyeberangi jembatan sebelah yang lokasinya agak jauh. Begini, waktu itu pun aku sebenarnya mengerti bahwa pasti polisi memiliki alasan kuat untuk menutup jembatan itu; tetapi ketidak-tahuanku akan bentuk alasan ini pada waktu itu membuatku merasa sedikit sebal dengan ketidak-nyamanan ini.

Ketika aku sampai di meja kantorku, aku baru tahu bahwa ternyata alasan polisi menutup jembatan di dekat kantorku adalah karena mereka menemukan granat di dekat sana dong! 😱 Jadilah areanya harus mereka sterilkan dengan cara mereka tutup. Tak lama setelah aku tiba di kantor, ada sebuah mobil van dari departemen pertahanan nasional datang dan beberapa pertugas dengan seragam khusus keluar darinya untuk meng-handle situasi ini.

Polisinya sendiri amat informatif dan meyakinkan kami bahwa situasi sangat terkontrol sehingga kami bisa bekerja seperti biasa. Kantorku sendiri tetap memasang telinga dan menjaga kontak dengan pihak kepolisian andaikata jikalau tiba-tiba evakuasi diperlukan. Untungnya tak lama kemudian, situasinya terselesaikan dengan tidak ada apa pun yang terjadi dan polisi kembali membuka areanya ke umum.

***

Harus kubilang pengalaman ini cukup mengagetkan untukku. Untungnya, tidak ada yang terjadi dan aku tidak apa-apa. Tetapi harus kubilang bahwa berita ini sedikit mengusik pikiranku pagi itu. Untungnya, hari itu adalah hari yang amat menyibukkan untukku sehingga kesibukan ini memaksaku untuk tidak memikirkannya terlalu lama; yang mana justru baik untuk diriku sendiri lah ya.

Aku tidak akan berspekulasi mengenai alasan mengapa kok bisa ada granat di sana, karena alasannya bisa apa pun. Tetapi aku hanya ingin mengingatkan diriku bahwa kadang kita take things for granted situasi damai yang kita miliki sekarang. Padahal, ada banyak sekali orang yang bekerja-keras setiap harinya untuk menjaga keberlangsungan situasi damai ini. Dan untuk mereka, aku ingin mengucapkan: “Terima Kasih“.

#2002 – On Apology

ENGLISH

Lately I have been thinking a little bit about the (probably) less “touched” side of an apology. It has occurred to me that an apology actually serves both way, i.e. both for the apologee and the apologizer. The former is obvious; and is the side that I above mean as the more “touched” side of it. The latter is the less obvious one.

Just recently, I was late to a birthday surprise event at work because somehow my calendar didn’t pop the reminder up. So after the event I apologized to the organizer (whom personally invited me to come to the event a few days prior) and explained about the calendar hiccup. But then, she unexpectedly replied with an apology to me because in the calendar the event was set as private so this might explain why I did not get the notification. And at the time, somehow I felt a little bit bad about it.

I am going to describe the situation from the latter point of view, i.e. where the apology is meant to serve the apologizer. One original intention with my apology was to admit my mistake and so that I would be freed up from my guilty feeling. For this reason, btw, in my opinion someone who is unwilling to admit any of his/her mistakes and never apologizes is actually doing more harm to him/herself internally. Anyway, this original intention was somehow “disrupted” a little bit when the organizer apologized back to me; because somehow I was positioned as the apologee where just seconds before I thought I was the apologizer. Consequently, in a way I felt like I wasn’t “punished” enough with my guilt because a part of the mistake was taken away from my side with the apology from her. I totally understand that she did not mean bad things and just wanted to help me ease my guilty feeling. But this actually got me thinking, haha…

Interesting, isn’t it? Now I understand that, indeed, apologizing does not make you “smaller”. In fact, it makes you “bigger”!

BAHASA INDONESIA

Akhir-akhir ini aku berpikir mengenai satu sisi yang (mungkin) lebih kurang “terjamah” dari suatu permintaan maaf. Aku mulai paham bahwa permintaan-maaf itu berfungsi dua arah, yaitu baik bagi yang diminta maaf dan juga bagi yang meminta maaf. Yang pertama jelas lah ya; dan ini adalah sisi yang aku maksudkan di atas sebagai sisi yang lebih sering “terjamah” darinya. Yang kedua adalah sisi yang kurang begitu jelas.

Belum lama ini, aku datang terlambat ke sebuah acara surprise ulang-tahun di kantor karena entah mengapa kalenderku tidak mengeluarkan reminder/pengingat. Jadilah setelah acaranya berakhir aku meminta maaf ke yang mengadakan acaranya (yang mana mengundangku langsung untuk datang beberapa hari sebelumnya) dan aku jelaskan mengenai masalah kalender ini. Tetapi kemudian, tak kusangka-sangka ia justru meminta maaf kepadaku karena di kalendernya, acaranya di-setting privat sehingga mungkin ini menyebabkan pengingatnya tidak hidup. Dan waktu itu, entah bagaimana aku merasa sedikit kurang enak karenanya.

Ini akan kujelaskan dari sudut pandang yang kedua, alias dari sudut pandang peminta-maaf. Satu tujuan awalku dengan meminta maaf adalah untuk mengakui kesalahanku sehingga aku terbebaskan dari perasaan bersalah. Karena alasan ini, btw, menurutku seseorang yang tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan tidak pernah meminta maaf itu sebenarnya justru sedang menyiksa dirinya sendiri. Anyway, tujuan awal ini jadi sedikit “terganggu” karena kolegaku justru meminta maaf balik; karena tiba-tiba posisiku dari yang peminta-maaf berubah menjadi yang dimintai maaf. Sebagai akibatnya, aku sedikit merasa aku tidak “dihukum” cukup berat dari perasaan bersalahku karena sebagian kesalahanku diambil dariku dengan permintaan-maaf darinya. Aku sungguh paham kok maksudnya dia ini baik dan ia ingin meringankan perasaan bersalahku. Dan jadilah aku jadi kepikiran akan hal ini.

Menarik kan? Sekarang aku semakin paham bahwa meminta-maaf itu tidak membuat kita “kecil” atau di posisi yang lemah. Sebaliknya, meminta maaf justru membuat kita berada di posisi yang “besar”!