Contemplation, Thoughts

#2152 – The Grass Is Greener On The Other Side

ENGLISH

The grass is greener on the other side

is a very popular proverb which I am sure you must have heard of. I asumme that you all know the meaning of this proverb. You know, like a “prerequisite” of this post, haha. Anyway, for long I have been reflecting on the “scope” of this proverb, especially the “other side” part.

The most common “interpretation” of the proverb that I have read or heard is that it is used in the context of “differences” (whatever those might be) between two different individuals. For instance, when someone is envious of another one’s “success”, often this proverb is used as a reminder to the envious individual. However, I have been (for long) thinking that the “scope” is actually larger than that. And by “larger”, I mean, it also seems to hold for “differences” within an individual.

You see, life is full of decision-making; a lot are “trivial” (like what I want to do after finishing the first draft of this post) and a few are “instrumental” (like what I want to do with my life). In the end, a (long) sequences of these decisions would eventually become our path in life. Each decision brings its own consequence(s), both good and bad. Btw, being afraid of making a decision hence deciding not to make one is also a decision, also with its own pros and cons.

Anyway, sometimes we look back to the decisions we have made in the past. It is human to wonder what our lives would have been like had we chosen the other option(s) during some of those decision-making moment. And sometimes, it is “easy” to think that life would have been better/more pleasant/happier had we done that. Now, wouldn’t this proverb actually apply to this “thought” as well?

The “better/more pleasant/happier” thought might be the “green” that is the result of comparing only the positives of the hypothetical life with the negatives of the “real” life. If this is the case, then I think it is important to understand that this is the case. Otherwise, it might lead to a regret; an unfortunate one, actually, because I feel like this is an “unnecessary” regret for someone to have.

What do you think?

BAHASA INDONESIA

Rumput tetangga selalu nampak lebih hijau

adalah pepatah popular yang aku cukup yakin sudah kita dengar. Aku asumsikan kita semua tahu makna di balik pepatah ini. Pengetahuan akan makna ini adalah “materi wajib” lah untuk posting ini, haha. Anyway, sudah lama aku berefleksi akan “cakupan” dari pepatah ini, terutama di bagian “tetangga”-nya.

“Interpretasi” paling umum yang aku baca atau dengar adalah pepatah ini digunakan dalam konteks “perbedaan” (apa pun itu) antara dua individu yang berbeda, mungkin akibat kata “tetangga” di dalamnya yang berinterpretasi “orang lain”. Misalnya, ketika seseorang iri akan “kesuksesan” seorang lain, sering pepatah ini digunakan untuk mengingatkan orang yang iri ini. Namun, sudah lama aku berpikir bahwa “cakupan” pepatahnya sebenarnya lebih luas dari itu. Dan dengan “lebih luas, maksudku adalah nampaknya pepatahnya juga berlaku untuk “perbedaan” di dalam seorang individu.

Hidup ini kan penuh dengan keputusan yang harus dibuat ya; mulai dari yang “retjeh” (Seperti apa yang akan aku lakukan setelah menyelesaikan draft posting ini) sampai yang “penting banget” (Seperti apa yang ingin kulakukan dengan hidupku). Pada akhirnya, deretan (panjang) dari keputusan-keputusan ini akan menjadi jejak hidup kita. Setiap keputusan membawa konsekuensi(-konsekuensi)-nya masing-masing, baik itu positif maupun negatif. Btw, takut untuk membuat keputusan sehingga memutuskan untuk tidak memilih juga lah sebuah keputusan loh, tentu dengan pros dan cons-nya juga.

Anyway, terkadang sebagai manusia kita melihat kembali akan keputusan-keputusan yang sudah kita buat di masa lalu. Rasanya manusiawi ya untuk berandai-andai akan jadi seperti apa hidup kita andaikata kita memilih pilihan yang lain ketika membuat keputusan-keputusan itu. Dan terkadang, “mudah” untuk berandai-andai bahwa hidup akan lebih enak/asyik/sukses andaikata kita dulu memilih keputusan yang lain itu. Nah, bukan kah pepatah ini juga cocok untuk “pikiran” semacam ini?

Pikiran “lebih enak/asyik/sukses” ini mungkin adalah “hijau”-nya yang disebabkan oleh pembandingan sisi positif dari kehidupan yang cuma bayangan itu dengan sisi negatif dari kehidupan “nyata” kita. Dan jika memang demikian, aku rasa penting sekali untuk menyadari demikian. Jika tidak, ini akan menimbulkan rassa “penyesalan”; rasa penyesalan yang sungguh bisa disesalkan, menurutku, karena aku rasa ini adalah rasa penyesalan yang sebenarnya “tidak perlu”.

Bagaimana menurut kalian?

Advertisements
Life in Holland, Zilko's Life

#2149 – An Electric Flyswatter and Another OV-Chipkaart Drama

ENGLISH

Yep, I am still going to talk about this year’s uncharacteristically hot Summer in the Netherlands, haha 😀 . Yep, “uncharacteristically” which of course means it worths writing here in this blog! 😛 Anyway

An electric flyswatter

One persistent “problem” every Summer is the “summer bugs”. Last year I mentioned that I found “less” flies here in Amsterdam than in Delft. However, while still “less” than in Delft, this year I have been bothered quite many times by those annoying flies here in Amsterdam!

And so last weekend, inspired by a lunch talk with a colleague of mine the week before, I decided to buy an electric flyswatter! Yep, I knew I wanted the electrical one, not the conventional typical non-electrical flyswatter which you would need the presence of a hard surface to kill the bugs.

Though up to now I still haven’t really needed it, I feel like this is such a good investment for my life and sanity during the Summer here, hahaha 😆 .

A new electric flyswatter

Another OV-Chipkaart Mini-Drama

While this one wasn’t directly related to the Summer, this year’s uncharacteristically hot Summer, sort of, caused this annoying incident to happen. So, for the third time this year, I had to ask for a new ov-chipkaart! 😱

On Friday morning just before going to work last week, I couldn’t find my ov-chipkaart. I looked for it “everywhere” in my apartment and couldn’t find it. Because I would have an important meeting in the morning that day, I quickly assumed it might, again, have accidentally fallen off somewhere the day before; similarly to the second incident earlier this May when I put it in my jeans pocket. So I took my “back-up” regular ov-chipkaart to go to the office that day; and the first thing I did after arriving at the office was to block the ov-chipkaart which I just lost and to ask for a replacement (and paid €11 for it) 😤.

But then, after having my morning coffee which triggered my brain to function at higher capacity, I realized that I had not looked for the card “everywhere” in my apartment. I thought of a very possible scenario of what might have happened with a hypothesis on where the card might be. The day before, despite being tired from work and the heat, I “forced” myself to go the gym. As it was in the evening, as usual I picked up my jacket. And at this time, it was possible that I was on “auto-pilot” mode when leaving the apartment where I took the ov-chipkaart and put it in my jacket’s pocket. That morning, I did NOT think of checking this jacket’s pocket because I assumed the likelihood of the card being there was non-existent as I only wore the jacket to the gym and I didn’t need the card to go there.

So upon returning home from work that day, I tested this theory, and it turned out to be the CORRECT one! DAMN!!!! Yeah, I just asked for a replacement, and paid €11 for it, for literally nothing! Plus, now I would still need to use my backup card for my Monday commute because this ov-chipkaart had been deactivated (I have a public transportation subscription in my regular ov-chipkaart but not in the backup one).

But I learned something valuable from this incident, though; that sometimes it is good to not make a decision too impulsively and to give yourself enough time (and energy) to think and analyze the situation. Otherwise, you might end up with a sub-optimal solution like myself in this incident! Haha 😆

BAHASA INDONESIA

Yep, aku masih akan ngomongin musim panas di Belanda tahun ini yang sungguh nggak biasa dah puanasnya, haha 😀 . Iya, karena “nggak biasa” jadi jelas layak untuk dituliskan di blog ini kan ya! 😛 Ngomong-ngomong,

Pemukul lalat elektrik

Satu “masalah” yang selalu muncul setiap musim panas adalah “serangga musim panas”. Tahun lalu aku sebutkan bahwa rasanya aku menghadapi “lebih sedikit” lalat di Amsterdam ini daripada di Delft. Namun, walaupun masih “lebih sedikit” daripada Delft, tahun ini aku sudah cukup sering terganggu dengan yang namanya lalat yang menyebalkan itu di Amsterdam!

Jadilah akhir pekan yang lalu, terinspirasi dari perbincangan ketika makan siang dengan seorang kolegaku di kantor seminggu sebelumnya, aku memutuskan untuk membeli sebuah pemukul lalat elektrik! Iya, aku maunya yang elektrik deh, bukan yang tipikal biasa nggak eleketrik itu yang mana kita membutuhkan kehadiran suatu permukaan yang keras (misalnya tembok) untuk membunuh serangganya.

Walaupun sejauh ini aku masih belum terlalu membutuhkannya sih, haha. Tapi walaupun begitu, aku rasa ini adalah sebuah investasi yang bagus untuk kehidupan dan kewarasanku di waktu musim panas di sini, hahaha 😆 .

Sebuah pemukul lalat elektrik baru

Mini-Drama dengan OV-Chipkaart lagi

Walaupun sebenarnya ini tidak langsung berhubungan dengan musim panasnya, aku cukup yakin musim panas tahun ini yang panas banget ini merupakan salah satu penyebab insiden menyebalkan ini untuk terjadi. Jadi, untuk ketiga kalinya tahun ini, aku harus meminta ov-chipkaart baru dong! 😱

Di hari Jumat pagi sebelum berangkat ke kantor minggu lalu, aku tidak bisa menemukan ov-chipkaart-ku. Aku sudah mencarinya di “semua tempat” di apartemenku tapi aku tidak bisa menemukannya. Karena aku akan ada meeting penting pagi itu di kantor, dengan cepat aku asumsikan kemungkinan, untuk kedua kalinya, kartunya tidak sengaja jatuh entah dimana gitu sehari sebelumnya; mirip seperti insiden kedua di bulan Mei kemarin ketika aku menaruhnya di dalam kantong celana jeans-ku. Jadilah aku mengambil kartu ov-chipkaart reguler “cadangan”-ku untuk berangkat ke kantor hari itu. Hal pertama yang kulakukan setelah tiba di kantor adalah untuk memblok ov-chipkaartku yang hilang itu dan meminta penggantinya (dan membayar €11 untuknya) 😤.

Tapi kemudian, setelah meminum kopiku pagi itu yang merangsang otakku untuk bekerja dengan kapasitas lebih tinggi, aku baru menyadari bahwa sepertinya aku belum mencari kartunya di “semua tempat” di apartemenku pagi itu. Terpikirkan olehku sebuah skenario yang sangat mungkin terjadi yang di dalamnya terkandung hipoteas akan dimana kartunya berada. Sehari sebelumnya, walaupun capek banget setelah pulang kerja dan melalui hari yang super panas, aku tetap “memaksakan” diriku untuk pergi ke gym. Karena sudah malam, seperti biasa aku juga mengambil jaketku untuk keluar. Dan di waktu ini, mungkin sekali otakku berada dalam mode “auto-pilot” ketika meninggalkan apartemen dimana aku mengambil ov-chipkaartku dan memasukannya ke dalam jaket. Pagi itu, aku TIDAK mengecek jaket ini karena aku berpikir kemungkinan kartunya berada di dalam jaket ini hampir pasti nol karena aku hanya mengenakan jaketnya untuk pergi ke gym dan untuk pergi kesana kan aku tidak membutuhkan kartunya.

Jadilah setelah pulang ke rumah hari itu, aku mengetes teori ini, dan ternyata BENAR dong! SIAL!!!! Ya gitu deh, aku sudah terlanjur meminta kartu pengganti, dan membayar €11 untuknya, yang mana ternyata sebenarnya tidak perlu! Plus, sekarang aku jadi harus juga menggunakan kartu cadanganku untuk ngantor di hari Senin karena ov-chipkaart ini sudah terlanjur diblokir kan (Aku memiliki abonemen transportasi umum di ov-chipkaart regulerku tetapi tidak di ov-chipkaart cadanganku).

Tapi ada pelajaran penting sih dari insiden ini; dimana terkadang bijaksana untuk tidak membuat suatu keputusan dengan terlalu cepat sebelum memberi diri kita cukup waktu (dan energi) untuk memikirkan dan menganalisa situasi yang sedang kita hadapi. Jika tidak, amat mungkin kita akan memasukkan diri kita ke situasi sub-optimal, seperti yang aku alami dari kejadian ini! Haha 😆

General Life, Zilko's Life

#2118 – Some Recent Health Stories

ENGLISH

The title sounds dramatic I know, and it brings the impression that sounds much worse than it actually is, haha. So first of all, let me first state that I am fine. I am not ill or anything, haha 😛 .

Anyway having said that, currently I have a slight knee injury. Well, it is not the knee itself, though, but the muscle just slightly lower to the side of the knee (so I’m not sure if this counts as a “knee” injury? 😛 ). Perhaps I inadvertently pulled the muscle or something not too long ago, hmm. I understand that a way to treat this is by to let it heal naturally. And this can be accelerated by not forcing too much pressure on it. In other words, I need to be easy on my knee, haha.

In a way, this has been slightly frustrating because it has hindered my exercise rhythm and plan. So not too long ago I have decided that I would like to intensify my cardio training a little bit to lower my body fat percentage a bit faster, haha. But most cardio trainings which I have access to depend so much on the use of knees (running/biking/stairs climbing/etc). Of course some are less demanding on the knees than the others. But still, this narrows down the list of options and this is quite challenging 😛 .

Though, I have learned that I need to listen to my body in order to optimally achieve my goal without sacrificing my health, haha. So I guess this is the instance where I need to watch my exercise and be mindful of the current situation.

Having said that, of course I still go to my weekly tennis lesson; and tennis, to me, is also a form of cardio because I need to move and run a lot during the lesson, haha 😛 . But the running is less demanding on the knee because the lesson is on a clay court, where the surface is softer. Though, of course tennis is more than just the running as we need to use and control our body weight on each shot; and the knees are actually under higher pressure because some shots would require you to pivot most of your body weight on one of your knees, haha. For instance, as a right-handed player, I pivot my body weight on my right knee when I hit a backhand, and on my left knee when hitting a forehand or a serve.

But well, I find tennis super fun and the “fun” is what I am after from this lesson as well. My mental well being feeds on the “fun”, and this is also important to take care of, haha 😆 .

Tennis is fun

BAHASA INDONESIA

Judulnya drama banget memang, dan memang memberikan impresi yang lebih buruk daripada kenyataannya, haha. Jadi pertama-tama, aku sebutkan dulu bahwa aku tidak apa-apa kok. Aku tidak sakit atau apa lah, haha 😛 .

Anyway walaupun begitu, saat ini aku sedang agak cedera lutut, haha. Eh, bukan lututnya sih sebenarnya, tetapi otot di sebelah samping dan agak ke bawah dari lututnya (jadi ini termasuk cedera “lutut” bukan sih? 😛 ). Mungkin tidak sengaja beberapa waktu yang lalu ototnya tertarik atau bagaimana gitu, hmm. Aku paham bahwa satu cara perawatannya sih adalah dengan membiarkannya sembuh sendiri. Dan ini bisa dipercepat dengan tidak terlalu banyak memberikan tekanan kepadanya. Dengan kata lain, aku mesti membiarkan lututku beristirahat, haha.

Di satu sisi, kondisi ini agak menyebalkan karena terus-terang ini mengganggu ritme dan rencana latihan olahragaku. Belum lama ini sudah kuputuskan aku ingin sedikit meningkatkan intensitas latihan cardio-ku untuk mempercepat penurunan body fat percentage-ku, haha. Tapi kebanyakan jenis latihan cardio yang bisa kulakukan membutuhkan kondisi lutut yang prima nih (lari/sepedaan/naik tangga/dll). Memang sih sebagian lebih ramah lutut daripada yang lainnya. Tapi ini mengakibatkan pilihan jenis latihan yang lebih sedikit dan situasi ini agak challenging 😛

Tapi aku sudah belajar bahwa aku perlu untuk mendengarkan tubuhku sendiri untuk mencapai tujuanku secara optimal tanpa mengorbankan kesehatanku, haha. Jadi aku rasa ini adalah kasus dimana aku perlu berhati-hati dengan olahraga yang aku lakukan dan paham akan situasinya saat ini ya.

Walaupun begitu, tentu saja aku tetap pergi ke les tenisku setiap minggu, haha; dan tenis, untukku, adalah satu bentuk cardio juga karena aku harus banyak bergerak dan berlari di sepanjang lesnya, haha 😛 . Tapi larinya sedikit lebih ramah di lutut sih karena lesnya diadakan di lapangan tanha liat, yang mana permukaannya lebih empuk. Walaupun begitu, tentu saja tenis itu lebih dari sekedar lari dimana kita harus menggunakan dan mengontrol berat badan di setiap pukulan; dan sebenarnya justru lutut berada dalam tekanan yang lebih besar sih karena untuk beberapa jenis pukulan kita harus mem-pivot-kan berat badan di salah satu lutut, haha. Misalnya, karena aku adalah pemain non-kidal, aku mem-pivot-kan berat badanku di lutut kanan ketika memukul backhand, dan di lutut kiri ketika memukul forehand atau serve.

Ah, tapi kan tenis itu super seru ya dan “keseruan” ini yang aku cari dari les tenis ini. Kesehatan mentalku kan terjaga dengan adanya “keseruan” ini dalam aktivitasku, dan ini juga penting untuk dijaga dong ya, haha 😆 .

Contemplation, PhD Life, Thoughts

#2054 – A Year A Doctor

ENGLISH

This day last year, officially I got my PhD degree and so since then I have been entitled to use the title “Doctor”, haha 😛 .

Doctor Evil. Source: https://9gag.com/tag/evil

So how has this one year been in relation to this title? Well to be honest, it has been as how it was before my graduation in the sense that I did not “use” the title a lot, haha. I mean, life (even at work) is very casual here in the Netherlands where we don’t even use “Mr.” or “Mrs.” or the likes, let alone academic degree! Even at work we are all in first name basis, even when I address the CEO of my company 🙂 . This was also true in the university. I addressed the head of my research group, who was a professor, with his first name without his “Professor” title.

But an academic degree is much more than just adding some title into your name. What “in the inside” is what matter much more. As to me personally, I feel like this title has given me a sense of accomplishment, which instills self confidence. I can legitimately say that I did the (hard and long) process of obtaining the degree and succeeded. And hopefully along the way the process has shaped me into a better person, be it professionally or personally.

***

Anyway, today I am going to Copenhagen for, coincidentally, the PhD defense of a good friend of mine! Yeah, exactly a year after mine, my friend is going to get hers! It is quite funny how things unravel at times…

One year ago in Delft.

BAHASA INDONESIA

Tepat hari ini tahun lalu, resmi aku mendapatkan gelar PhD (S3)-ku dan semenjak itu aku berhak menggunakan titel “Doktor” di depan namaku, haha 😛 .

Doctor Evil. Sumber: https://9gag.com/tag/evil

Nah bagaimana nih setahun ini berkaitan dengan gelar ini? Ya sejujurnya sih, sama aja sih seperti sebelum kelulusanku dimana gelar ini tidak banyak “dipakai”, haha. Maksudku, di Belanda kan kehidupan itu (termasuk kehidupan di kantor) kasual ya dimana bahkan panggilan “Bapak” atau “Ibu” atau semacamnya itu tidak pernah digunakan, apalagi gelar akademik! Di kantor kami saling memanggil satu sama lain dengan nama depan loh, bahkan termasuk ketika aku memanggil CEO kantorku 🙂 . Situasi di universitas juga seperti ini. Aku memanggil kepala grup risetku, yang mana seorang profesor, dengan nama depan saja tanpa embel-embel titel “Profesor”-nya.

Tetapi gelar akademik itu kan lebih dari sekedar titel untuk ditempelkan ke nama kan ya. Yang “di dalam” lah yang jauh lebih penting. Untukku pribadi, aku merasa titel ini memberikanku rasa pencapaian, yang mana membangkitkan rasa percaya diri. Aku bisa kan bilang bahwa aku sudah melakukan dan melalui proses (berat dan panjang) untuk mendapatkan gelarnya dan berhasil. Dan mudah-mudahan proses itu telah membentukku menjadi pribadi yang lebih baik, baik itu secara profesional maupun secara personal.

***

Anyway, hari ini aku pergi ke Copenhagen untuk, kebetulan banget, sidang PhDnya seorang teman baikku! Iya lho, tepat satu tahun setelah sidangku, temanku akan mendapatkan gelar PhDnya! Terkadang kebetulan itu lucu banget ya…

Contemplation, Thoughts, Travelling

#2052 – The Last Week Before A Vacation

ENGLISH

I started writing the draft of this post just two days before the start of my November 2017 trip to Indonesia. While it was not a “eureka” moment whatsoever, the context was very relevant at the time which made me want to write it down 😛 .

To me, the moment just before the start of a big trip or vacation is one of the worst! Well, as in it feels like there are so many things going on that need to be taken care of while in reality, there might actually not be. It is true, though, that to me there are a few separate factors occupying my mind at such time and they are conditionally forced to interact with each other. I hypothesize this interaction is what causes that feeling!

First of all, there are of course work stuffs. Having a big vacation coming up actually can be seen as an extra deadline; but not imposed by a project or my superior or anything, but by myself, haha. To me, whenever possible I always want to start a vacation or a trip on a clear state of mind, without any work-related “luggage” carried on. This, however, means that I feel the strong urge to finish my current tasks before I go and this can certainly be quite stressful.

Separate from that, there is of course the excitement. I mean, who wouldn’t feel excited just before a big trip? Daydreaming forward on the nice coming trip makes the present somehow feels a little bit more miserable. And for this trip to Indonesia, the Dutch Fall weather certainly did not help at all.

On the other hand, there is also the important preparation, like packing and preparing all the documents and stuffs (making sure to have my flight tickets and hotel reservations ready, for instance). And then of course the lingering sneaky thought of “Am I forgetting something?“.

All in all, this results in me facing myself and my mind to multitask. On top of that, as I said, these factors do not stand by themselves as they interact with each other. And so this time can certainly be quite stressful! Haha 😛 . I noticed myself that week where I appeared to be uncharacteristically “rushing” a little bit more and less calm than usual.

But of course given the amount of my experience with travelling, that was not my first experience handling such situation. I have learned that since weeks before the trip, I would need to start the anticipation. For my work, I started to arrange my schedule accordingly, and told my colleagues and stakeholders in advance about my plan. This helped in making the “size” of the deadline to be more manageable. For the preparation, I started packing my suitcase since a few days before the trip. So no last minute packing! Haha 😛 . And I made a list on what I would need to bring. For the excitement, unfortunately, there was nothing that I could do, haha…

But well, eventually this all leads to the trip itself where the moment the trip begins is, on the other hand, one of the best!

BAHASA INDONESIA

Aku mulai menulis draft posting ini sekitar dua hari sebelum perjalanan bulan November 2017ku ke Indonesia dimulai. Walaupun waktu itu topik ini bukanlah momen “eureka”, konteksnya amat relevan sehingga aku merasa aku perlu menuliskannya 😛 .

Untukku, momen sebelum sebuah perjalanan atau liburan besar dimulai adalah salah satu yang terburuk! Yah, rasanya ada banyak banget gitu yang berlangsung pada waktu yang bersamaan yang perlu diurus, padahal sebenarnya kenyataannya mungkin tidak sebanyak itu, haha. Namun, benar bahwa ada beberapa hal terpisah yang mengisi pikiranku di waktu-waktu ini dan situasi memaksa mereka untuk berinteraksi satu sama lain. Hipotesaku adalah interaksi ini lah yang menimbulkan perasaan terburuk itu!

Pertama-tama, tentu saja ada urusan kerjaan ya. Adanya sebuah liburan besar yang akan tiba sebenarnya juga berarti sebuah tenggat waktu (deadline) ekstra; yang bukan datang dari sebuah proyek atau dari atasan, tetapi dari diriku sendiri, haha. Untukku, selama memungkinkan aku ingin berangkat dalam sebuah liburan dengan pikiran yang tenang, tanpa “embel-embel” urusan pekerjaan yang ikut terbawa. Ini, tapinya, berarti aku juga jadi merasakan keinginan kuat untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku waktu itu sebelum pergi dan tentu ini terasa cukup stressful.

Lepas dari itu, tentu saja ada perasaan excitement. Maksudku, siapa juga yang nggak merasa excited sebelum berangkat liburan ya? Masalahnya, memikirkan ke depan mengenai perjalanan yang akan segera datang dan mengasyikkan itu justru membuat saat ini terasa lebih menyedihkan. Dan untuk perjalanan ke Indonesia kemarin ini, cuaca musim gugur di Belanda jelas sama sekali tidak membantu.

Di sisi lain, ada juga persiapan yang tentu juga penting, seperti misalnya mulai packing dan menyiapkan segala dokumen dan tetek-bengek lainnya (memastikan semua tiket pesawat, reservasi penginapan, dll siap, misalnya). Dan tentu saja pikiran menyebalkan “Eh, aku kelupaan apa ya?” itu.

Jadi, ini berakibat pada diriku dan pikiranku yang tiba-tiba, mau tidak mau, mesti multitasking. Di samping itu, seperti yang kubilang faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri dan mereka justru berinteraksi satu sama lain. Dan jadilah sebagai akibatnya ini bisa terasa agak stressful! Haha 😛 . Aku perhatikan diriku minggu itu dimana rasanya, tidak biasanya, aku cenderung agak lebih “terburu-buru” dan kurang kalem dibandingkan biasanya.

Tetapi tentu saja dong dengan pengalamanku jalan-jalan, ini bukan lah kali pertama aku menghadapi situasi ini. Aku sudah tahu bahwa semenjak sekian minggu sebelum liburan, aku sudah harus memulai antisipasi. Untuk kerjaan, aku mulai mengatur jadwalku sedemikian rupa, dan juga memberi-tahu kolega dan stakeholders-ku jauh-jauh hari mengenai rencanaku. Ini membantuku untuk membuat “ukuran” dari tenggat-waktunya untuk lebih masuk akal untuk ditaklukkan. Untuk masalah persiapan, aku mulai packing semenjak sekian hari sebelum perjalanan. Jadi nggak ada deh ceritanya last minute packing! Haha 😛  Dan aku juga membuat daftar mengenai apa saja yang mesti kubawa. Untuk excitement, sayangnya tidak ada yang bisa kulakukan untuknya, haha…

Ah, tetapi toh pada akhirnya aku akan tiba juga di waktu keberangkatan yang mana merupakan satu waktu yang terbaik!

Contemplation, Thoughts

#2030 – People Are Selfish

ENGLISH

Some time ago, I shared about the day where I encountered a tram disruption which caused me to be late for my haircut appointment and skip grocery shopping that day while I was running out of food at home thus forcing me to eat my emergency supply for dinner that evening. In short, I was really annoyed by the disruption that day.

Later I learned about the cause of the disruption. Apparently, not too long before, there was an accident involving a tram and a car. Some people got hurt that they had to be taken by the ambulance. Obviously the police was later involved in the scene as well.

Upon learning about this cause, I realized one thing: people are selfish.

***

In my opinion, selfishness is necessary for “survival”. At the very basic level, people have to think for themselves to “survive”. But how is taking care of yourself selfish? Well, because by definition then at the time you are prioritizing the need of yourself ahead of others, regardless of the well-being of others. This is why I don’t think the antithesis of selfishness in pure form exists. You can’t please or help everyone, i.e. “feeding” anybody else’s selfishness but yours.

***

My annoyed reaction to the tram delay above is an example of my selfishness. I was annoyed that the tram incident disrupted my grocery shopping plan and haircut appointment. While actually, this “discomfort” was minor in comparison to what the victims had to go through that day as a result of the accident (I don’t think the choices between to have your plan slightly ruined vs to have to be hospitalized is a difficult one to make).

Granted, though, that I didn’t know about the accident when I initially got annoyed. Having said that, while learning about the accident dramatically reduced the level of my annoyance, I felt like my annoyance didn’t get completely wiped out. When I got back home, I had nothing to eat except for my emergency supply (read: Indomie 😛 ). And I did not like that because I did not consider instant noodles to be a healthy food option to have for dinner. But at the time, I had no other choice (because I did not feel like ordering something as that would have required some more waiting before I could finally have my dinner). I had to accept and deal with it, a situation which appeared to nurture my annoyance.

***

Understanding that to some degree other people will act selfish, perhaps “towards us”, would help in many cases during the course of life, in my opinion. It certainly puts a lot of encounters in perspective. In some cases, I think this helps us to not take things too personally and hence avoiding the “negativity” or “grudges” to enter our mind or heart.

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku bercerita mengenai suatu hari dimana ada gangguan layanan tram yang menyebabkanku terlambat untuk appointment potong rambut di sebuah salon dan harus membatalkan rencana belanja grocery hari itu padahal di rumah aku sedang kehabisan stok makanan sehingga malamnya aku mau tidak mau hanya bisa memakan suplai makanan daruratku. Secara singkat, bisa dibilang aku merasa sebal dengan gangguan tramnya hari itu.

Beberapa saat setelah itu, aku baru tahu penyebab gangguannya. Ternyata, tidak lama sebelumnya, ada kecelakaan yang melibatkan sebuah tram dan sebuah mobil. Beberapa orang terluka karenanya dan harus dibawa ambulans ke rumah sakit. Jelas, polisi juga kemudian terlibat di tempat kejadian.

Ketika mengetahui penyebab ini, aku menyadari satu hal: manusia itu egois.

***

Menurutku, keegoisan itu penting loh untuk “kelangsungan-hidup” (survival). Pada dasarnya, manusia harus berpikir dan mengurusi dirinya sendiri untuk “bertahan hidup”. Nah, yang namanya memikirkan atau mengurusi diri sendiri kok egois? Ya karena ketika sedang memikirkan dan mengurusi diri sendiri, artinya kita sedang mementingkan kepentingan diri sendiri dan bukannya kepentingan orang lain kan? Inilah mengapa aku rasa antitesis dari keegoisan dalam bentuk murinya itu tidak ada. Kita tidak bisa selalu memikirkan dan menyenangkan semua orang, dengan kata lain “memberi-makan” keegoisan orang lain tetapi tidak terhadap diri sendiri.

***

Reaksi sebalku terhadap gangguan tram di atas dalam satu contoh keegoisanku. Aku sebal insiden tramnya mengganggu rencana belanja grocery dan appointment potong rambutku. Padahal, “ketidak-nyamanan” ini tidak ada apa-apanya lah ya dibandingin situasi yang harus dijalani korban kecelakaan hari itu (Jelas tidak sulit lah memilih antara menghadapi situasi rencana yang terkacaukan atau harus dilarikan ke rumah sakit).

Memang sih, aku tidak mengetahui adanya kecelakaan ini ketika aku pertama-kali merasa sebal. Walaupun begitu, walaupun mengetahui penyebabnya jauh menurunkan tingkat kesebalanku, aku merasa kesebalanku tidak sama sekali hilang lho. Ketika aku kembali di rumah, aku tidak memiliki makanan apa-apa kecuali persediaan daruratku (baca: Indomie 😛 ). Dan aku tidak menyukai situasi ini karena bagiku mi instan itu bukanlah pilihan makanan yang sehat apalagi untuk makan malam. Tetapi waktu itu, aku tidak memiliki pilihan lain (karena aku juga ogah memesan delivery sesuatu karena aku harus menunggu lagi sebelum akhirnya bisa makan malam). Aku harus menerima situasi ini, situasi yang ternyata sedikit “menjaga” nyala kesebalanku.

***

Mengetahui bahwa sampai tingkat tertentu orang lain juga akan bertindak egois, mungkin “terhadap kita”, juga akan membantu banget dalam hidup, menurutku sih. Ini membantu dalam memahami suatu situasi. Dalam sebagian kasus, ini membantu kita untuk tidak terlalu memasukkan segalanya ke dalam hati sehingga mencegah pikiran “negatif” dan “kedongkolan” memenuhi pikiran dan hati.

Contemplation, Thoughts

#2019 – The Timing of Disruptions

ENGLISH

It is just a reality that anything will break once in a while, including the smoothness and reliability of the Dutch public transportation. And by “break”, I mean “disruptions”, haha.

While my logic would say that disruptions occur randomly, somehow my heart feels that they do not. In fact, they seem to likely more occur during the worst of time, i.e. the time I am “less okay” with them happening. For instance, when I am on my way to an important meeting, like my Instagram post above from earlier this year, haha 😆 .

Not too long ago, it happened again. After work, I planned to do grocery at a supermarket (as I was running out of food at home) before going to a haircut appointment at a barbershop. I saw my tram at Amsterdam Centraal but it was just standing still for an abnormally long time; and so I immediately figured out that there was a disruption. I felt so annoyed by this. I mean, why did it need to happen today of all days, on the day when I had an appointment (Btw, I HATE to come late to an appointment; coming late is so untypical of me)? Haha 😆 . Finally after waiting for about half an hour, the tram resumed its operation. But because of the delay, I had to drop my plan to the supermarket today and just went straight to the barbershop, where I was late for 15 minutes. That evening, I cooked my emergency instant noodles (read: Indomie 😛 ) for dinner, haha 😆 .

On a more serious note, though, what my heart “feels” might actually be biased. You see, encountering a disruption when I have an important agenda is certainly more “painful” than encountering a disruption when my time is flexible. My hypothesis is that the “pain” makes me “remember” the incident more, hence falsely “associating” the timing occurence of the incidents with the presence of an important appointment/meeting/etc. In other words, I “forget” that these incidents also happen on “less important” time. The lack (or lesser degree) of “pain” I feel at these time cloud these incidents in my mind.

Back to the delayed tram incident which forced me to be late for 15 minutes to my appointment and eat a bowl of Indomie that evening, I eventually learned about the cause of the disruption. This finding actually made me think about a different matter which deserves its own post for the next time, though 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Adalah suatu kenyataan bahwa segala sesuatu pasti akan rusak ya, termasuk kelancaran dan kehandalan transportasi umum di Belanda. Dan yang kumaksud dengan “rusak” jelas adalah “gangguan operasional”, haha.

Walaupun menurut logika yang namanya gangguan itu terjadi secara acak, entah kenapa hatiku merasa kemunculannya itu tidak acak. Malahan, rasanya gangguan itu lebih mungkin terjadi di waktu-waktu yang nggak banget, yaitu ketika aku sedang ada acara penting gitu. Misalnya, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju sebuah meeting yang penting banget, seperti di posting Instagramku di atas dari awal tahun ini, aha 😆 .

Belum lama ini, kejadian ini terulang kembali. Sepulang kantor, aku berniat berbelanja kebutuhanku di supermarket (kondisi stok bahan masakan/makanan di rumah sedang habis) sebelum pergi ke salon dimana aku sudah ada appointment untuk potong rambut. Aku lihat tramku sudah ada di Amsterdam Centraal tetapi tramnya cuma berhenti doang dalam jangka waktu yang tidak biasa lamanya; jadilah aku langsung menyadari bahwa sedang ada gangguan. Aku merasa sebal banget waktu itu. Maksudku, kok harus kejadiannya sekarang gitu, di waktu dimana aku ada janji (Btw, aku BENCI SEKALI datang terlambat ke sebua janji; datang terlambat itu bukan sifatku)? Haha 😆 . Akhirnya, setelah menunggu selama setengah jam-an, tramnya beroperasi juga. Tetapi karena keterlambatan ini, aku harus membatalkan rencanaku ke supermarket dan langsung pergi ke salonnya, dimana aku terlambat 15 menit dari waktu appointment. Dan malam itu, aku harus mau tidak mau memasak dan makan makanan untuk situasi darurat: mi instan (baca: Indomie 😛 ) untuk makan malam, haha 😆 .

Apa yang “dirasakan” hatiku itu mungkin bias loh sebenarnya. Jelas kan mendapatkan gangguan operasi semacam ini di waktu ketika aku sedang ada agenda penting itu lebih “menyakitkan” daripada mendapatkan gangguannya ketika jadwalku sedang fleksibel. Hipoteasku adalah “rasa sakit” ini membuatku “ingat” insiden ini, sehingga kekeliruan dalam bentuk “asosiasi” antara waktu kejadian insidennya dengan keberadaan acara penting jadi terbentuk. Dengan kata lain, aku “melupakan” gangguan-gangguan yang terjadi di waktu-waktu yang “lebih tidak penting”. Ketiadaan (atau rendahnya tingkat) “rasa sakit” yang kualami di waktu-waktu ini membuatku otakku mengabaikannya.

Kembali ke insiden gangguan tram yang membuatku terlambat 15 menit ke appointment-ku dan memaksaku makan Indomie saja malam itu, pada akhirnya aku mengetaui penyebab gangguannya. Informasi ini sebenarnya membuatku terpikir akan masalah lain yang layak kujadikan posting tersendiri. Tapi posting tersendiri ini untuk nanti saja sih 🙂 .