General Life, Zilko's Life

#2144 – A Tennis Match and A Trip Planning

ENGLISH

A Tennis Match

Two weeks ago, the trainer of my tennis lesson couldn’t make it last minute. But me and the other guys were already there in the tennis club at the time, so nonetheless we decided to hit some balls. And of course, then we decided to play a doubles match to make it more fun, haha.

I was quite excited about this match as this would be my first “full” match since 2016. The last one “recorded” here was this time in August 2016, but I’m sure I played a couple of more after that through September 2016, haha. The bottom line is, it had been awhile since my last match! ๐Ÿ˜†

This would be my first match with my new racket too.

Anyway long story short, my team lost 3โ€“6, 1โ€“6. And you know the awful feeling you feel when you lose; and even more so for me who is a competitive person, haha ๐Ÿ™ˆ. I told myself to just take it easy especially considering it had been almost two years since I played a match! But it was certainly easier said than done because I had a mini insomnia that night thinking about the match and what went wrong there, lol ๐Ÿ˜† .

A Trip Planning

Now let’s move on to a completely different topic. In the past a few weeks or so, I have started the planning stage of my year-end trip this year. Yeah, of course I am going somewhere this Winter! Haha ๐Ÿ˜† . This was made possible when KLM had another round of promotion a few weeks ago which I, obviously, took an advantage of.

I haven’t finalized everything at the moment, actually; except that I already know that I will visit two main destinations in this trip and will come back to Europe from a “third destination”, haha ๐Ÿ˜† . Of the two main destinations, one is already finalized but not yet on the other one, though I already have a rough idea on where I would like to visit.

Things were made last week on the transportation matter (read: who am I kidding, flights, lol ๐Ÿ˜† ) between the three destinations, which should help me a lot in the upcoming tickets-hunting, haha ๐Ÿ™‚ .

As the itinerary is not even fully finalized yet, naturally I can’t reveal where I will go this Winter just yet. Heck, I even still have another upcoming big trip between now and then which I haven’t revealed yet ๐Ÿ˜‰ .ย Anyway as people say, planning a trip’s itinerary is perhaps the most enjoyable part of the trip. And so under this hypothesis, I am, indeed, having a lot of fun right now! Haha ๐Ÿ˜† .

BAHASA INDONESIA

Sebuah pertandingan tenis

Dua minggu lalu, pelatih di les tenisku mendadak tidak bisa datang. Masalahnya waktu itu aku dan beberapa yang lain sudah terlanjur berada di klub tenisnya. Jadilah kami toh memutuskan untuk tetap berlatih sendiri. Dan tentu saja, kami juga memutuskan untuk bermain sebuah pertandingan ganda supaya lebih seru kan, haha.

Aku cukup excited dengan pertandingan ini karena ini akan menjadi pertandingan “penuh”-ku semenjak tahun 2016. Pertandingan terakhirku yang “terekam” di sini adalahย waktu ini di bulan Agustus 2016, tapi aku yakin banget seenggaknya aku main dua pertandingan lagi setelahnya sampai September 2016, haha. Intinya adalah, sudah lama banget semenjak pertandingan terakhirku! Haha ๐Ÿ˜†

Ini akan menjadi pertandingan pertama dengan raket baruku juga.

Anywayย singkat cerita timku kalah 3โ€“6, 1โ€“6. Dan tentu tahu kan ya perasaan nggak enak dan menyebalkan ketika kita kalah; apalagi untukku yang memang anaknya kompetitif banget, hahaย ๐Ÿ™ˆ. Aku berkata kepada diriku untuk santai saja dan tidak terlalu memikirkannya terutama dengan mempertimbangkan sudah dua tahunan kan semenjak aku bermain pertandingan! Tapi ternyata ini lebih mudah diucapkan daripada dipraktekkan, karena malamnya aku sampai sedikit insomnia dong memikirkan tentang pertandingannya dan apa yang “salah” darinya sehingga aku kalah, hahaha ๐Ÿ˜† .

Merencanakan sebuah perjalanan

Mari kita membahas hal yang sama sekali berlainan. Beberapa minggu belakangan ini, aku sudah memulai fase perencanaan dari perjalanan akhir-tahunku tahun ini. Iya, jelas lah ya aku akan jalan-jalan di Musim Dingin ini! Haha ๐Ÿ˜† . Ini berkat KLM yang mana beberapa waktu yang lalu mengadakan promosi lagi yang mana jelas aku manfaatkan.

Aku masih belum memfinalisasi segala aspek perjalanan ini sih sebenarnya; kecuali bahwa aku tahu aku akan mengunjungi dua tempat tujuan utama di perjalanan ini dan akan kembali ke Eropa dari sebuah “tujuan ketiga”, haha ๐Ÿ˜† . Dari dua tujuan utama itu, satu sudah pasti tapi satunya lagi masih belum, walaupun aku sudah ada bayangan kasar sih tempat mana yang ingin aku kunjungi.

Urusannya juga menjadi semakin sederhana minggu kemarin dalam hal transportasi (baca: jelas lah ya, maksudnya pesawat, haha ๐Ÿ˜† ) antara tiga tempat tujuan ini, yang mana akan sangat membantuku dalam membuat keputusan dalam perburuan tiketnya, haha ๐Ÿ™‚ .

Karena toh itinerary-nya masih belum jadi, jelas aku masih belum bisa bilang akan pergi kemana Musim Dingin ini. Umm, bahkan sebenarnya aku masih ada sebuah rencana perjalanan besar lainย sebelum itu yang mana juga belum aku ceritakan kan ya ๐Ÿ˜‰ . Anyway, kata orang fase perencanaan itu adalah fase terseru dari sebuah perjalanan kan. Nah, berdasarkan hipotesa ini, artinya sekarang ini aku sedang bersenang-senang dong ya! Haha ๐Ÿ˜† .

Advertisements
General Life, Zilko's Life

#2141 – A Random Tennis Story

ENGLISH

Wimbledon just ended last week, where Angelique Kerber and Novak Djokovic won the singles titles this year. Serena Williams also made an impressive run to the ladies final, despite being ranked 183rd due to her maternity leave and this Wimbledon being only her fourth tournament since coming back from this. Anyway …

And if I was slightly disappointed with the TV coverage of the French Open this year, I was much happier with Wimbledon; despite the tournament coinciding with the World Cup! Haha ๐Ÿ˜† . Though, this was, in large parts, due to two of the British channels in my cable airing the tournament live on top of the “regular” sport channels, haha. But of course it could have been better (like last year) had there been no World Cup ๐Ÿ˜› .

France won the 2018 FIFA World Cup. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images

Anyway, I always try to enjoy the Spring/early Summer tennis season as much as possible because during this time period, both the men’s and women’s top tennis tours are centered around Europe, due to the two grandslam tournaments being played here. This means generally friendlier match schedules to watch (or to follow, if the matches happen to be during work hours, haha ๐Ÿ˜† ) for me, which of course is really nice as I don’t have to stay up really late (or to get up in the middle of the night) to watch a match! ๐Ÿ˜€

But now that the two grandslam tournaments are over, both tours have shifted their focus to North America and, after that, to Asia. There are still a few tournaments in Europe, but those are of smaller ones so they are not “that” exciting. The men’s tour still has a big European leg left at the end of the season after Asia, though, with the Paris Masters tournament and the season-ending ATP Finals in London.

So what this means that for now is that no friendly coverage for me! Haha ๐Ÿ˜†

From now on it is trickier to watch a live tennis match due to the time differences.

BAHASA INDONESIA

Turnamen tenis Wimbledon baru saja berakhir minggu lalu, dimana Angelique Kerber dan Novak Djokovic menjuarai titel tunggalnya tahun ini. Serena Williams juga tampil dengan amat memukau dimana ia mencapai babak final putri, padahal ia berperingkat 183 akibat “cuti hamil”-nya tahun lalu dan turnamen Wimbledon ini baru lah turnamen keempatnya setelah kembali ke tur dari cutinya ini. Ngomong-ngomong …

Dan jika aku sedikitย kecewa dengan penayangan di TVย untuk French Open tahun ini, aku jauh lebih dipuaskan dengan Wimbledon; walaupun jadwal turnamennya kebetulan bebarengan dengan Piala Dunia! Haha ๐Ÿ˜† . Walau ini utamanya disebabkan oleh dua channel Inggris di TV kabelku yang menayangkan turnamennya juga sih di samping channel olahraga “biasa”, haha.ย  Tapi tentu saja memang penayangannya sebenarnya bisa lebih enak lagi (kayak tahun lalu) andaikata tidak ada Piala Dunia ๐Ÿ˜› .

Prancis menjuarai FIFA World Cup tahun 2018 ini. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images

Anyway, aku selalu berusaha untuk menikmati musim tenis di musim semi dan awal musim panas sedapat mungkin karena di waktu-waktu ini, kedua tur utama putra dan putrinya berkutat di Eropa, karena memang dua turnamen grandslam yang dimainkan di sini. Ini berarti jadwal pertandingan yang lebih bersahabat untuk ditonton (atau diikuti sih, kalau pertandingannya kebetulan dimainkan di waktu jam kerja, haha ๐Ÿ˜† ) untukku, karena tentu saja enak ya nggak perlu begadang (atau bangun di tengah malam) untuk menonton sebuah pertandingan! ๐Ÿ˜€

Tapi karena sekarang dua turnamen grandslamnya sudah berlalu, kedua tur sudah berpindah fokus ke Amerika Utara dan, setelahnya, ke Asia. Masih ada beberapa turnamen di Eropa sih sebenarnya, tapi turnamennya adalah turnamen-turnamen kecil sehingga tidak begitu menarik. Tur putra sebenarnya masih ada babak di Eropa akhir tahun nanti setelah Asia, dengan turnamen Paris Masters dan turnamen tutup tahun ATP Finals di London.

Jadi arti dari semua ini sekarang adalah untuk sementara tidak ada lagi penayangan tenis yang jadwalnya bersahabat! Haha ๐Ÿ˜†

Mulai sekarang bakal lebih tricky nih untuk menonton langsung pertandingan-pertandingan tenis akibat perbedaan waktu.
EuroTrip, Tennis, Vacation, Weekend Trip

#2131 – A Weekend in Roland Garros 2018

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

As usual, I arrived at the gate at around 9 AM. This was, of course, a little bit “too early” but this decision would ensure me to be at the front of the line to enter the ground when the gate would be opened ๐Ÿ˜› . Anyway long story short, at 10 AM the gate was opened and, yes, I was back at Roland Garros again this year! ๐Ÿ˜€

The new Court No. 18 at Roland Garros

As I already had a breakfast at my hotel this morning, I decided to use the time to immediately explore the ground. While this was my seventh year in a row to go to Roland Garros, this year was quite “different” because some of the improvement work was already completed! There were three new courts which looked like three mini amphitheatres (as each was enclosed by layers of benches), which were really beautiful! The facilities had been redesigned and moved around as well, and at times this made me feel like it was my first time in Roland Garros as I wasn’t familiar with the layout! Haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, as usual, I decided to watch the women’s legends final at Court Suzanne Lenglen as my first event today. This year, the final was between Kim Clijsters/Nathalie Tauziat and Amelie Mauresmo/Nathalie Dechy. Yep, for my first time here, Martina Navratilova wasn’t involved! Haha ๐Ÿ˜€ . Anyway, the match was quite exciting, even though at the very end it was filled with chokes from both sides (Like, each team double-faulted on each of their own’s match point! ๐Ÿ˜…). But finally, Mauresmo/Dechy won 6-7(4), 6-4, [15-13].

Amelie Mauresmo and Nathalie Dechy won the women’s legends event

The match ended at around 1 PM so it was a perfect time for lunch. As I said, I initially wasn’t aware of where the restaurant was (as the “old” place was now part of the two new courts). I asked the information desk and apparently what previously was a store at the basement of Court Philippe Chatrier was now a restaurant! Haha ๐Ÿ˜€ . Anyway, this year the menu was also completely different where the warm meal options were a ham dish or a chicken dish. I opted for the chicken, which I had with pasta and some ratatouille as the side dish.

A chicken leg with pasta and ratatouille for lunch at Roland Garros

After going around for a little bit, I decided to go to my seat at Court Philippe Chatrier. Of course I chose to go in a little bit early so I would have all the time that I needed to take some pictures inside, haha ๐Ÿ˜† . Btw, at the time Oliver Marach and Mate Pavic were warming up for their upcoming men’s doubles final.

At Court Philippe Chatrier again this year

Spectators filled in the stadium quite rapidly after that as people were getting ready for the main match today, the women’s singles final. The match would be contested between the current world no.1, Simona Halep, who up to this point had never won a grandslam title despite reaching the finals three times and lost in three sets in all of those (one of which was last year’s final against Jelena Ostapenko), and the world no.10, Sloane Stephens, a young American player who won the US Open last year.

The coin toss between Simona Halep and Sloane Stephens

Btw, I noticed that Simona Halep had a lot of fans coming to support her today. Around the ground, I saw a lot of people bringing Romanian attributes (flags, wearing clothes of the Romanian flag colours, chanting some yells clearly supporting Halep, etc). But interestingly, today I was sitting in an area of the stadium which somehow was filled by mostly Americans, or at least Sloane’s fans, haha ๐Ÿ˜› . Some of them tried to chant “USA, USA, USA” in response to the “Simona, Simona…” chants by Halep’s supporters, haha.

Simona Halep fans at Roland Garros

Anyway, both players entered the stadium at 3 PM. Halep won the coin toss and elected to receive, meaning Sloane would serve first. I won’t go to too much details here, but Sloane started the match right on fire. She was immediately peaking and played unbelievable level of tennis. Her shots, strategy, movement, and basically everything was right and perfect! Like, she could do nothing wrong! And so she quite quickly took the first set 6โ€“3 and immediately led 2โ€“0 in the second set.

Sloane Stephens started the match right on fire and on point, clicking in every department.

At this point, I started to feel bad for Halep because she was clearly trying and she was playing great herself (she was the more aggressive player of the two on court today); but her opponent was just playing unbelievable tennis and there was nothing could be done about that. But then something started to happen. At the twelfth game, Sloane’s level “finally” started to “drop” a little bit from this “peak”. And if you play tennis you would understand how this could be bad news for Sloane, especially given what was at stake here (a grandslam title). Somehow I feel like this got into Sloane’s mind and it went downward spiral there. Errors started to creep in her game. At the same time, this gave Halep the momentum that she needed. From that point, Halep played brilliantly and won 13 of the next 15 games; and finally clinching the title with a 3โ€“6, 6โ€“4, 6โ€“1 victory! Yes, Simona Halep finally won a grandslam title she truly deserved; and I was feeling really happy for her!!

The moment Simona Halep finally won a grandslam.

The trophy ceremony followed afterwards. Coupe Suzanne Lenglen, which was stored in a Louis Vuitton box, haha, was brought to the court. Arantxa Sanchez then gave the trophy to Simona Halep, who finally was able to get rid of the “Slamless” title some people put on her.

I think Simona’s expression in this photo said it all! “FINALLY!!”

After uploading some Instagram Story videos (haha), I decided that I needed to stretch my leg and to fill my stomach with something; and that something being a subway sandwich, haha.

Learning from my experience two years ago, I knew that Court Philippe Chatrier was open for everyone for the doubles final. So instead of going back to my seat, I decided to try my luck by going to one of the courtside box. Luckily I went in right just in time where I still found a vacant great courtside seat!

My view for the men’s doubles final!

The men’s doubles final was contested between a French duo, Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut, who was seeded sixth, and the Austrian-Croatian duo, Oliver Marach/Mate Pavic, the second seed. Btw, Mate Pavic was ranked world no.1 in men’s doubles at the time. Both teams played different style, where Herbet/Mahut were more about the touch and technique whereas Marach/Pavic were more about power and aggression. The match had started when I entered the court and Herbert/Mahut were controlling the momentum already in the first set. They quickly won it 6โ€“2.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut took control of the first set.

The second set was much more competitive and exciting. Both teams were pretty much even up to the middle of the set. Then after a poor service game by Marach, Herbet/Mahut gained some momentum by breaking Marach’s serve. But then it was Mahut’s turn to have a poor service game and the match went back even. But Marach/Pavic seized this momentum and got themselves a couple of set points. Herbert/Mahut fought hard and saved those set points so the second set had to go to a tiebreak. Herbet/Mahut played a great tiebreak where they immediately got some lead. In the end, they clinched it 6โ€“2, 7โ€“6(4) and, thus, won their first ever Roland Garros title.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut won the men’s doubles title of Roland Garros 2018

It was a great day to be French, for sure. The spectators chanted the French national anthem during the trophy ceremony too.

With the last match of the day being completed, it was time for me to leave as well. And yeah, I just had a great day at Roland Garros!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Seperti biasanya, aku tiba di gerbang masuk sekitar jam 9 pagi. Agak kepagian sih ini, tapi ini memastikan aku berada di posisi paling depan di antrian masuk ketika gerbangnya dibuka nanti, haha ๐Ÿ˜› . Singkat cerita, gerbangnya dibuka jam 10 pagi dan, iya, aku kembali di Roland Garros lagi tahun ini! ๐Ÿ˜€

Lapangan No. 18 yang baru di Roland Garros

Karena aku sudah sarapan di hotel paginya, aku memutuskan untuk menggunakan waktuku untuk mengeksplor kompleks turnamennya. Walaupun ini adalah tahun ketujuh berturutan aku pergi ke Roland Garros, tahun ini terasa agak “berbeda” karena beberapa pekerjaan konstruksi pengembangan turnamennya sudah selesai! Misalnya saja ada tiga lapangan baru yang nampak seperti amphitheater mini (yang mana masing-masing dikelilingi oleh beberapa tingkat bangku), yang mana nampak indah! Fasilitas di sekitar kompleksnya juga sebagian sudah didisain dan ditata-ulang, sehingga terkadang membuatku merasa ini seperti kunjungan pertamaku di Roland Garros karena aku tidak familier dengan denahnya! Haha ๐Ÿ˜†

Anyway, seperti biasa, aku memutuskan untuk menonton final turnamen legenda putri di Lapangan Suzanne Lenglen hari ini. Tahun ini, finalnya adalah antara Kim Clijsters/Nathalie Tauziat dan Amelie Mauresmo/Nathalie Dechy. Yep, untuk pertama kalinya untukku, Martina Navratilova tidak terlibat dong! Haha ๐Ÿ˜€ . Anyway, pertandingannya lumayan menarik, walaupun bagian akhirnya dipenuhi dengan chokesย dari kedua tim sih (Misalnya, kedua timย double-fault dong di match point-nya masing-masing!๐Ÿ˜…). Tapi pada akhirnya, Mauresmo/Dechy menang 6-7(4), 6-4, [15-13].

Amelie Mauresmo dan Nathalie Dechy memenangi gelar legenda putri.

Pertandingan berakhir sekitar jam 1 siang yang mana merupakan waktu yang pas untuk makan siang. Seperti yang kubilang, awalnya aku tidak tahu lokasi restorannya dimana (karena lokasi yang “lama” kini sudah menjadi bagian dari dua lapangan baru). Aku bertanya ke meja informasi dan ternyata apa yang dulunya toko di lantai basement Lapangan Philippe-Chatrier kini adalah restoran! Haha ๐Ÿ˜€ . Ngomong-ngomong, menu tahun ini juga berbeda banget dimana pilihan makanan hangatnya adalah daging ham atau ayam. Aku memilih ayam, yang mana aku temani dengan pasta dan ratatouille.

Paha ayam dengan pasta dan ratatouille untuk makan siang.

Setelah berkeliling sedikit, aku memutuskan untuk masuk menuju kursiku di Lapangan Philippe Chatrier. Jelas dong aku masuk agak awal supaya ada waktu untuk foto-foto dulu, haha ๐Ÿ˜† . Btw, waktu itu Oliver Marach dan Mate Pavic sedang pemanasan untuk final ganda putra mereka nantinya.

Di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini.

Penonton mulai masuk ke lapangan dengan cepat setelahnya untuk menonton pertandingan utama hari ini, final tunggal putri. Pertandingannya akan dimainkan oleh pemain peringkat 1 dunia, Simona Halep, yang hingga waktu ini belum pernah menjuarai grandslam walaupun sudah masuk final tiga kali dan kalah dalam tiga set di semuanya (salah satunya adalah final tahun lalu melawan Jelena Ostapenko), dan petenis peringkat 10 dunia, Sloane Stephens, yang mana petenis muda dari Amerika yang menjuarai US Open tahun lalu.

Coin toss antara Simona Halep dan Sloane Stephens

Btw, ada banyak loh fansnya Simona Halep yang datang untuk mendukungnya. Di sekitaran kompleks, ada banyak banget orang-orang yang membawa atribut Romania (bendera, pakaian dengan warna bendera Romania, bahkan mereka memiliki yel-yel sendiri untuk mendukung Halep, dll). Tapi menariknya, hari ini aku bisa-bisanya duduk di area stadionnya yang dipenuhi kebanyakan oleh orang Amerika, atau seenggaknya pendukungnya Sloane Stephens, haha ๐Ÿ˜› . Beberapa dari mereka bersorak “USA, USA, USA” untuk meladeni yel-yel “Simona, Simona…” dari pendukungnya Halep, haha.

Fansnya Simona Halep di Roland Garros

Anyway, kedua pemain memasuki lapangan jam 3 sore. Halep memenangi coin toss dan memilih untuk receive, yang berarti Sloane akan servis duluan. Aku tidak akan menuliskan detailnya di sini, tapi Sloane memulai pertandingan dengan sempurna sekali. Pukulan-pukulannya, strateginya, dan pergerakannya pas dan sempurna banget! Ia seperti tidak mampu membuat kesalahan gitu, segala yang dilakukannya benar dan tepat! Dan jadilah ia dengan lumayan cepat mengambil set pertamaย  6โ€“3 dan langsung unggul 2โ€“0 di set kedua.

Sloane Stephens memulai pertandingan dengan sempurna, segalanya “klik” banget.

Di waktu ini, aku sedikit merasa kasihan terhadap Halep karena ia jelas terus berusaha dan sebenarnya bermain dengan bagus juga (ia bermain lebih agresif daripada Sloane); tapi ya memang lawannya sedang bermain tenis dengan level sempurna dan ini jelas tidak bisa diapa-apakan. Tapi sesuatu mulai terjadi di game kedua-belas. Levelnya Sloane “akhirnya” mulai sedikit “turun” dari level “puncak” ini. Dan jika kamu bermain tenis, pasti paham mengapa ini adalah berita buruk untuk Sloane, terutama dengan mempertimbangkan apa yang dipertaruhkan di sini (gelar grandslam). Entah mengapa rasanya ini masuk ke pikirannya Sloane dan semuanya dengan cepat terjun bebas dari sana. Kesalahan-kesalahan mulai muncul di permainannya. Di waktu yang sama, ini memberikan Halep momentum yang ia butuhkan. Dan dari waktu itu, Halep bermain dengan sangat baik dan memenangi 13 dari 15 game selanjutnya. Akhirnya,ย ia mendapatkan gelarnya dengan kemenangan 3โ€“6, 6โ€“4, 6โ€“1! Iya, Simona Halep akhirnya menjuarai grandslam yang memang berhak ia dapatkan; dan aku ikut merasa senang untuknya!!

Momen dimana Simona Halep akhirnya menjuarai grandslam.

Upacara pemberian piala berlangsung setelahnya. Coupe Suzanne Lenglen, yang disimpan di dalam kotak Louis Vuitton, haha, dibawa ke lapangan. Arantxa Sanchez memberikan pialanya kepada Simona Halep, yang mana akhirnya berhasil menghilangkan gelar “Slamless” disematkan beberapa orang kepadanya.

Aku rasa ekspresinya Simona di foto ini mengungkapkan semuanya! “AKHIRNYA!!”

Setelah upload beberapa video InstaStory (haha), aku meluruskan kakiku dan memutuskan untuk mengganjal perutku dengan sandwich, haha.

Berdasarkan pengalamankuย dua tahun yang lalu, aku tahu bahwa Philippe Chatrier dibuka untuk umum di final ganda putra. Jadilah bukannya kembali ke kursiku, aku mencoba peruntunganku dengan pergi ke salah satu kotak di samping lapangannya. Beruntung sekali aku masuk di waktu yang tepat dimana aku masih bisa menemukan beberapa kotak yang kosong dengan pandangan yang oke banget!

Pandanganku untuk final ganda putra!

Final ganda putranya dimainkan antara duo Prancis, Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut, unggulan keenam, dan duo Austria-Kroasia Oliver Marach/Mate Pavic, unggulan kedua. Btw, Mate Pavic merupakan pemain peringkat 1 dunia di ganda putra waktu itu. Kedua tim bermain dengan gaya yang berbeda, dimana Herbet/Mahut lebih tentangย touch dan teknik sementara Marach/Pavic lebih tentang kekuatan dan keagresifan. Pertandingannya sudah dimulai ketika aku masuk ke lapangan dan waktu itu Herbet/Mahut sudah mengontrol momentuk di babak pertama. Mereka dengan cepat memenanginya 6โ€“2.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut mengontrol babak pertama.

Babak keduanya lebih kompetitif dan seru. Kedua tim bermain seimbang hingga pertengahan set. Setelah game servis yang buruk dari Marach, Herbet/Mahut mendapatkan momentum dari patahnya servis Marach. Tapi kemudian datanglah giliran Mahut untuk memainkan game servis yang buruk dan pertandingannya kembali seimbang. Tapi Marach/Pavic memanfaatkan momentum ini dan berhasil mendapatkan beberapa set point untuk mereka. Herbert/Mahut berjuang keras menyelamatkan set point-set point tersebut dan berhasil memaksakan tiebreak untuk dimainkan di akhir set kedua. Herbet/Mahut memainkan tiebreakย yang baik dimana mereka langsung mengambil kontrolnya. Pada akhirnya mereka menang 6โ€“2, 7โ€“6(4) dan mendapatkan gelar Roland Garros pertama mereka.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut memenangi ganda putra di Roland Garros 2018

Ini adalah hari yang baik untuk orang Prancis, tentunya. Penonton menyanyikan lagu nasional Prancis di upacara pemberian pialanya juga.

Dengan pertandingan terakhir selesai dimainkan; sudah waktunya untukku pulang juga. Dan ya, aku baru saja menghabiskan satu hari yang seru di Roland Garros!

My Interest, Tennis, Zilko's Life

#2126 – A Tennis Racket Story

ENGLISH

During my tennis lesson last week, this happened:

A broken tennis racket string

Yep, for the first time ever since I picked up a tennis racket, I had a broke string during play! Haha ๐Ÿ˜† . Thankfully it was during a tennis lesson so I could borrow a racket from the coach for the reminder of the session. Even though of course it wasn’t “optimal” for my game because, you know, every tennis player was accustomed to a certain “feel” of the racket (the grip, the stringing tension, the racket surface size, the presence of a damper, etc). And so it was unlikely that a borrowed racket would be a perfect match to one’s “feel”. But this was, of course, a much better situation than not having a racket to play tennis, haha ๐Ÿ˜› .

Anyway, I bought this racket in October 2015. Actually the racket still felt fine up to last week’s lesson, as since I started working in Amsterdam I haven’t been able to play as often as like when I was still in the university; so the racket hadn’t been *that* worn out. So this made me think that perhaps broken string had little to do with the “weariness” of a racket, haha.

Though, I’m not sure about Agnieszka Radwanska’s racket here ๐Ÿ˜†

This experience made me feel like a “professional player” though, in a way, who quite often had a broken string while playing a match! (Actually I had wondered why I had not had a broken string as I had played for years, whereas it felt like at least in one of two or three professional matches that I watched a string of one of the players’ rackets broke, haha).

Anyway so of course I could have had the racket restrung. But my last experience with racket restringing wasn’t the bestest one. At the time I felt like the string tension after restringing wasn’t the same and it didn’t “feel” right. Okay, a logical explanation for that was perhaps the tension was “wrong”.ย However, as Barney Stinson said…

and so I decided to just go with the easiest option and buy a new racket, haha ๐Ÿ˜› .

I went to a store in Amsterdam Centrum after work on Friday, though before that I already browsed for some options at an online tennis store. I knew that I would like a Wilson racket because Wilson was the brand the Williams sisters used, lol ๐Ÿ˜› (#truefans). I almost bought one at the store, but then I didn’t because at the very last second I decided to choose the model I had seen earlier online: the Blade 104 model used by Venus Williams, haha ๐Ÿ™ˆ. The store in Amsterdam didn’t have this particular model in stock at the time. And yesterday, my new racket was delivered to me ๐Ÿ˜€ . Btw, the nice thing about this online store was that they were able to customize the string too to my own specification! ๐Ÿ™‚

My new Wilson Blade 104 tennis racket

BAHASA INDONESIA

Di les tenisku minggu lalu, ini terjadi:

Senar raket tenis yang putus

Iya dong, untuk pertama kalinya semenjak aku mulai bermain tenis, aku mengalami yang namanya senar raketnya putus ketika aku bermain! Haha ๐Ÿ˜† . Untungnya kejadiannya adalah ketika les sih sehingga aku bisa meminjam raket dari pelatihnya untuk sisa dari sesi les kali itu. Walaupun jelas ini nggak “optimal” karena setiap pemain itu memiliki “feeling“-nya sendiri dengan raketnya (pegangannya, tegangan senarnya, luas permukaan raketnya, apakah pakai damper atau tidak, dll). Dan jadilah raket pinjaman itu seringnya tidak memiliki “feel” yang pas banget dengan kita. Ah, tapi ini adalah situasi yang lebih baik ya daripada main tenis tapi nggak punya raketnya, iya kan, haha ๐Ÿ˜› .

Anyway, raket ini aku beli di bulan Oktober 2015. Sebenarnya raketnya masih baik-baik saja kok sampai sesi les minggu lalu itu, karena toh semenjak aku mulai bekerja di Amsterdamย aku tidak bisa bermain tenis sesering dulu ketika masih di universitas; jadilah raketnya masih belum se-“usang” itu. Ini membuatku berpikir mungkin yang namanya senar yang putus itu tidak ada hubungannya dengan “keusangan” sebuah raket, haha.

Eh tapi kalau apa yang terjadi dengan raketnya Agnieszka Radwanska ini aku nggak tahu juga sih, haha ๐Ÿ˜†

Pengalaman ini membuatku merasa seperti “petenis profesional” nih, di satu sisi, yang mana nampak sering mengalami kejadian senar putus ketika bermain suatu pertandingan! (Sebenarnya sempat terpikirkan olehku lho mengapa kok aku tidak pernah mengalami senar raket tenis yang putus padahal aku sudah main tenis bertahun-tahun, sementara rasanya setidaknya di satu dari dua atau tiga pertandingan profesional yang aku tonton, senar dari salah satu raket yang digunakan pemainnya itu putus, haha).

Anywayย jelas sebenarnya bisa saja raketku di-restring. Tapi pengalaman terakhirku dengan me-restring raketkuย ternyata bukan pengalaman yang terbaik. Maksudnya, waktu itu rasanya tegangan senarnya setelah di-restring nggak sama sehingga “feel” raketnya rasanya jadi aneh gitu. Iya, iya, penjelasan logisnya adalah kemungkinan besar memang tegangannya aja yang waktu itu “salah”. Tapi, seperti katanya Barney Stinson kan…

dan jadilah aku memutuskan mengambil pilihan yang mudah aja dan membeli raket tenis baru, haha ๐Ÿ˜› .

Aku pergi ke sebuah toko peralatan olahraga di Amsterdam Centrum sepulang kerja di hari Jumat; eh tapi sebelumnya aku sudah mengecek satu toko online juga sih. Aku sih sudah tahu aku akan membeli raketnya Wilson lagi karena merk ini adalah merk yang dipakai Williams bersaudari, haha ๐Ÿ˜› (#truefans). Aku nyaris membeli satu raket di tokonya, tapi kemudian last minute aku membatalkan niatan itu karena aku memutuskan untuk membeli model yang sudah aku lihat di internet sebelumnya: model Blade 104ย yang dipakai oleh Venus Williams, haha ๐Ÿ™ˆ. Btw tokonya di centrum pas kebetulan tidak memiliki stok model yang ini waktu itu.ย Dan kemarin, raket baruku akhirnya tiba di tanganku ๐Ÿ˜€ . Btw, asyiknya toko online ini adalah mereka bisa meng-customize string-nya sesuai dengan spesifikasi yang aku inginkan lho! ๐Ÿ™‚

Raket tenis Wilson Blade 104 baruku
EuroTrip, Tennis, Vacation, Weekend Trip

#2121 – A Tennis Weekend Story

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

So the main draw of this year’s French Open started about two weeks ago, which means this weekend was, finally, the time for my annual trip to Paris for the tournament this year. Yeay!! ๐Ÿ˜€

At Court Philippe Chatrier again this year

As my ticket this year was for Philippe Chatrier on Saturday, I would get the women’s singles final and men’s doubles final. The “fun” thing was that these two events were, perhaps, the most “unpredictable” ones of all based on the current dynamic of professional tennis. In other words, when the tournament started it was very difficult to predict which players I would watch in both finals! Haha ๐Ÿ˜† .

At last Simona Halep won a grandslam title!

In the end, it turned out the current world no.1, Simona Halep, and the reigning US Open champion, Sloane Stephens, made the women’s singles final. And the teams of Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut and Oliver Marach/Mate Pavic made the men’s doubles final. So it turned out both matches would be very interesting, and I was excited for these! ๐Ÿ˜€

Anyway, how was Paris? Well, I didn’t have a lot of time to spend in the city itself, but it was beautiful as always! Haha.

This year I visited Notre Dame in Paris

Btw, as I mentioned before, since the beginning I already knew that I would like to fly for this year’s trip to Paris. And of course I would like to, as much as possible, avoid direct return flights! Haha ๐Ÿ˜† . And so I made myself the following routing:

My routing this weekend. From gcmap.com

Haha ๐Ÿ˜› . Yep, I was back in Toulouse (Airport) for the first time since 2012! ๐Ÿ˜› There was actually another routing with cheaper fare which also was more interesting as it (1) involved an airport I had never used before (Clermont-Ferrand); (2) involved a flight with an airline I had never flown before (Trade Air, which wasย leased by Air France this summer); and (3) involved a Fokker 100, which would have been my first time flying this type in the 21st century (As a kid, I had flown this type with Sempati Air, haha). But this routing only spared a 25 minutes of transfer tim at Clermont-Ferrand, which was really tight and I was not comfortable with. And so I decided to set aside this otherwise fun routing.

Anyway, so yeah, my weekend was fun! ๐Ÿ˜€ As usual, here are some teasers from the trip:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Jadi babak utama turnamen tenis French Open tahun ini dimulai sekitar dua minggu yang lalu, yang mana berarti, akhirnya, akhir pekan kemarin adalah waktunya untuk perjalanan tahunanku ke Paris untuk turnamen ini tahun ini. Hore!! ๐Ÿ˜€

Di Lapangan Philippe Chatrier lagi tahun ini.

Karena tiketku tahun ini adalah Philippe Chatrier di hari Sabtu, aku akan mendapatkan pertandingan final tunggal putri dan final ganda putra. “Keseruan” dari dua pertandingan ini adalah dua events ini adalah yang paling “sulit diprediksi” dari semua events yang dimainkan berdasarkan dinamika dunia tenis profesional saat ini. Dengan kata lain, sebelum turnamen ini dimulai, sulit sekali untuk memprediksikan siapa yang akan aku tonton di kedua final! Haha ๐Ÿ˜† .

Akhirnya Simona Halep menjuarai gelar grandslam juga!

Pada akhirnya, petenis yang saat ini menduduki peringkat 1 dunia, Simona Halep, dan juara bertahan US Open tahun lalu, Sloane Stephens, masuk final tunggal putri. Dan Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut dan Oliver Marach/Mate Pavic memasuki final ganda putra. Jadi ternyata kedua pertandingannya akan menjadi pertandingan yang sangat menarik, dan aku merasa sangat excited untuk menonton keduanya!

Anyway, Parisnya sendiri bagaimana? Ya, nggak banyak sih waktu yang bisa aku habiskan di kotanya ini sendiri, tetapi kotanya masih indah kok seperti biasanya! Haha.

Tahun ini aku mengunjungi Notre Dame di Paris

Btw, seperti yang aku sebutkan sebelumnya, sejak awal untuk tahun ini aku sudah tahu aku akan naik pesawat untuk pergi ke Paris. Dan tentu saja sedapat mungkin aku menhindari penerbangan pp kan ya! Haha ๐Ÿ˜† . Dan jadilah pada akhirnya aku memilih rute berikut ini:

Ruteku akhir pekan ini. Dari gcmap.com

Haha ๐Ÿ˜› . Iya, akhirnya aku kembali juga di (Bandara) Toulouse untuk pertama kalinya semenjak 2012! ๐Ÿ˜› Sebenarnya ada rute lain dengan harga tiket yang lebih murah dan lebih menarik sih karena (1) melibatkan bandara baru yang belum pernah aku lalui sebelumnya (Clermont-Ferrand); (2) melibatkan satu penerbangan dengan maskapai baru yang belum pernah aku terbangi sebelumnya (Trade Air, yang mana disewaย oleh Air France musim panas ini); dan (3) melibatkan pesawat Fokker 100, yang mana akan menjadi kali pertama aku terbang dengan pesawat ini lagi di abad ke-21 (Sewaktu kecil aku pernah terbang dengan pesawat ini dengan maskapai Sempati Air, haha). Namun dengan rute ini, waktu transitku di Clermont-Ferrand hanya lah 25 menit, yang mana mepet banget dan membuatku tidak merasa sreg dengannya. Jadilah rute yang sebenarnya menarik ini aku kesampingkan.

Anyway, jadi ya gitu deh, akhir pekanku kemarin ini seru banget! Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini.

General Life, Zilko's Life

#2118 – Some Recent Health Stories

ENGLISH

The title sounds dramatic I know, and it brings the impression that sounds much worse than it actually is, haha. So first of all, let me first state that I am fine. I am not ill or anything, haha ๐Ÿ˜› .

Anyway having said that, currently I have a slight knee injury. Well, it is not the knee itself, though, but the muscle just slightly lower to the side of the knee (so I’m not sure if this counts as a “knee” injury? ๐Ÿ˜› ). Perhaps I inadvertently pulled the muscle or something not too long ago, hmm.ย I understand that a way to treat this is by to let it heal naturally. And this can be accelerated by not forcing too much pressure on it. In other words, I need to be easy on my knee, haha.

In a way, this has been slightly frustrating because it has hindered my exercise rhythm and plan. So not too long ago I have decided that I would like to intensify my cardio training a little bit to lower my body fat percentage a bit faster, haha. But most cardio trainings which I have access to depend so much on the use of knees (running/biking/stairs climbing/etc). Of course some are less demanding on the knees than the others. But still, this narrows down the list of options and this is quite challenging ๐Ÿ˜› .

Though, I have learned that I need to listen to my body in order to optimally achieve my goal without sacrificing my health, haha. So I guess this is the instance where I need to watch my exercise and be mindful of the current situation.

Having said that, of course I still go to my weekly tennis lesson; and tennis, to me, is also a form of cardio because I need to move and run a lot during the lesson, haha ๐Ÿ˜› . But the running is less demanding on the knee because the lesson is on a clay court, where the surface is softer. Though, of course tennis is more than just the running as we need to use and control our body weight on each shot; and the knees are actually under higher pressure because some shots would require you to pivot most of your body weight on one of your knees, haha. For instance, as a right-handed player, I pivot my body weight on my right knee when I hit a backhand, and on my left knee when hitting a forehand or a serve.

But well, I find tennis super fun and the “fun” is what I am after from this lesson as well. My mental well being feeds on the “fun”, and this is also important to take care of, haha ๐Ÿ˜† .

Tennis is fun

BAHASA INDONESIA

Judulnya drama banget memang, dan memang memberikan impresi yang lebih buruk daripada kenyataannya, haha. Jadi pertama-tama, aku sebutkan dulu bahwa aku tidak apa-apa kok. Aku tidak sakit atau apa lah, haha ๐Ÿ˜› .

Anywayย walaupun begitu, saat ini aku sedang agak cedera lutut, haha. Eh, bukan lututnya sih sebenarnya, tetapi otot di sebelah samping dan agak ke bawah dari lututnya (jadi ini termasuk cedera “lutut” bukan sih? ๐Ÿ˜› ). Mungkin tidak sengaja beberapa waktu yang lalu ototnya tertarik atau bagaimana gitu, hmm. Aku paham bahwa satu cara perawatannya sih adalah dengan membiarkannya sembuh sendiri. Dan ini bisa dipercepat dengan tidak terlalu banyak memberikan tekanan kepadanya. Dengan kata lain, aku mesti membiarkan lututku beristirahat, haha.

Di satu sisi, kondisi ini agak menyebalkan karena terus-terang ini mengganggu ritme dan rencana latihan olahragaku. Belum lama ini sudah kuputuskan aku ingin sedikit meningkatkan intensitas latihan cardio-ku untuk mempercepat penurunan body fat percentage-ku, haha. Tapi kebanyakan jenis latihan cardio yang bisa kulakukan membutuhkan kondisi lutut yang prima nih (lari/sepedaan/naik tangga/dll). Memang sih sebagian lebih ramah lutut daripada yang lainnya. Tapi ini mengakibatkan pilihan jenis latihan yang lebih sedikit dan situasi ini agak challenging ๐Ÿ˜›

Tapi aku sudah belajar bahwa aku perlu untukย mendengarkan tubuhku sendiriย untuk mencapai tujuanku secara optimal tanpa mengorbankan kesehatanku, haha. Jadi aku rasa ini adalah kasus dimana aku perlu berhati-hati dengan olahraga yang aku lakukan dan paham akan situasinya saat ini ya.

Walaupun begitu, tentu saja aku tetap pergi ke les tenisku setiap minggu, haha; dan tenis, untukku, adalah satu bentuk cardio juga karena aku harus banyak bergerak dan berlari di sepanjang lesnya, haha ๐Ÿ˜› . Tapi larinya sedikit lebih ramah di lutut sih karena lesnya diadakan di lapangan tanha liat, yang mana permukaannya lebih empuk. Walaupun begitu, tentu saja tenis itu lebih dari sekedar lari dimana kita harus menggunakan dan mengontrol berat badan di setiap pukulan; dan sebenarnya justru lutut berada dalam tekanan yang lebih besar sih karena untuk beberapa jenis pukulan kita harus mem-pivot-kan berat badan di salah satu lutut, haha. Misalnya, karena aku adalah pemain non-kidal, aku mem-pivot-kan berat badanku di lutut kanan ketika memukul backhand, dan di lutut kiri ketika memukul forehand atau serve.

Ah, tapi kan tenis itu super seru ya dan “keseruan” ini yang aku cari dari les tenis ini. Kesehatan mentalku kan terjaga dengan adanya “keseruan” ini dalam aktivitasku, dan ini juga penting untuk dijaga dong ya, haha ๐Ÿ˜† .

EuroTrip, Tennis, Vacation, Weekend Trip

#2081 – This Year’s Annual Trip to Paris

ENGLISH

Every year since 2012, I always arrange a trip to Paris to watch the French Open (Roland Garros) tennis tournament. This year, obviously, is no difference.

Earlier this week the tickets for this year’s tournament was sold to the general public. Of course I had marked this date since months before (lol) and scheduled my working day accordingly ๐Ÿ˜€ .

As usual since 2015, the ticketing website was scheduled to be opened at 10 AM so I had been prepared in front of my screen since minutes before that, haha ๐Ÿ˜† . However when the clocked striked 10, I had a similar encounter asย last yearย where I got a “502 Bad Gateway” error message when trying to access the website. At least it wasn’t as bad as last year, as I finally established the access about two minutes later. But this meant that my position in the queue was not nearly as great as two years ago, as this year I was:

My position in the queue this year

Yep, the 12,545th person in it, haha.ย However, the queue went much faster than last year, though; as I got to the front of the line in only a little over half an hour (compared to last year’s 2+ hours after being place 35,476th).

Anyway, originally I had a plan to visit the tournament during the middle weekend, when the 3rd and 4th round stages of the tournament. This would be a change after going only for the finals in the last three years (Thus witnessing Serena Williams, Garbine Muguruza, Novak Djokovic, and Jelena Ostapenko won the singles titles). There would be more matches in the middle weekend, as more players would still be “alive” in the tournament.

However, I quickly realized that the tickets for the middle week were much higher than I anticipated, haha. Under the usual circumstances, this would not have been that problematic to me, though. However, considering that I would have another big trip planned for later in the year, I felt like it would actually be better and more optimal if I … would go for the women’s singles final again this year! Haha ๐Ÿ˜† .

At Court Philippe Chatrier last year

Yeah, so exciting! Though with the current state of women’s tennis, it is very difficult to predict which two players I would watch in this year’s final. At least, Serena Williams is in the mix after her maternity leave which caused her to miss last year’s tournamentย ๐Ÿ˜€ .

I haven’t fully finalized the trip yet, btw, even though I have booked a hotel. Having said that, I have decided that this year I will, unsurprisingly, just fly to Paris, haha. It is just that I haven’t found an exciting return flight combination yet so I am still playing the wait and see game at the moment, haha ๐Ÿ˜€ .

Anyway, yeah, this is exciting!! ๐Ÿ˜€

BAHASA INDONESIA

Setiap tahun semenjak tahun 2012, aku selalu membuat perjalanan ke Paris untuk menonton turnamen tenis French Open (Roland Garros). Nah, tahun ini juga jelas sama dong ya.

Awal minggu ini tiket untuk edisi tahun ini dari turnamennya mulai dijual untuk umum. Tentu saja tanggal ini sudah kutandai semenjak berbulan-bulan yang lalu (haha) dan jadwal kerjaku kemarin juga sudah kususun untuk menyesuaikan dengannya ๐Ÿ˜€ .

Seperti biasaย semenjak 2015, tiketnya dijadwalkan untuk mulai dijual jam 10 pagi dan jadilah semenjak beberapa menit sebelumnya aku sudah duduk siap di depan layar komputer, haha ๐Ÿ˜† . Namun, ketika jam tepat menunjukkan pukul 10, aku mendapati situasi yang mirip sepertiย tahun lalu dimana aku mendapatkan pesan errorย “502 Bad Gateway” ketika mencoba mengakses website-nya. Setidaknya masalahnya tidak separah tahun lalu, dimana aku berhasil mendapatkan akses sekitar dua menit kemudian. Tetapi ini artinya posisiku di antriannya tidak semengasyikkanย dua tahun yang laluย deh, karena kali ini:

Nomor antrianku tahun ini

Yep, aku adalah orang ke 12.545 di antriannya, haha. Namun, antriannya bergerak dengan cepat sih untungnya; dimana aku sampai di depan antrian dalam waktu setengah jam lebih sedikit saja (nggak seperti tahun lalu yang mana aku harus menunggu 2 jam lebih setelah berada di posisi 35.476 di antriannya).

Anyway, awalnya aku berencana untuk mengunjungi turnamen ini di middle weekend, di babak ketiga dan keempat turnamennya. Ya kan supaya ada pergantian suasana begitu ya setelah hanya pergi ke finalnya sama selama tiga tahun belakangan (Yang mana membuatku menyaksikanย Serena Williams, Garbine Muguruza, Novak Djokovic, danย Jelena Ostapenkoย memenangi gelar tunggalnya). Di middle weekend, ada lebih banyak pertandingan yang dimainkan karena bakal ada lebih banyak petenis yang masih “hidup” di turnamennya.

Namun, aku amati ternyata harga tiket untuk middle week itu lebih mahal daripada sangkaanku, haha. Sebenarnya ini nggak begitu masalah sih. Namun, dengan mempertimbangkan rencana perjalanan besar berikutnya di paruh kedua tahun ini nanti, aku merasa akan lebih baik dan optimal jika … aku pergi untuk menonton final tunggal putri lagi tahun ini! Haha ๐Ÿ˜† .

Di Court Philippe Chatrier tahun lalu

Iya, seru deh! Walaupun sulit sekali sih untuk memprediksi tenis putri sekarang. Sulit untuk memprediksi siapa dua pemain yang akan kutonton di final tahun ini. Setidaknya, Serena Williams termasuk di dalamnya lah setelahย “cuti” hamil yang menyebabkannya melewatkan turnamen ini tahun laluย ๐Ÿ˜€ .

Perjalanan kali ini belum aku finalisasi sih, walaupun aku sudah booking hotel. Walaupun begitu, aku sudah memutuskan bahwa tahun ini, tidak mengherankan tentunya, aku ingin naik pesawat untuk pergi ke Parisnya. Hanya saja aku belum menemukan kombinasi pp yang seru nih sehingga aku masih wait and see saat ini, haha ๐Ÿ˜€ .

Anyway, ini akan menjadi perjalanan yang seru!! ๐Ÿ˜€