Life in Holland, Zilko's Life

#2149 – An Electric Flyswatter and Another OV-Chipkaart Drama

ENGLISH

Yep, I am still going to talk about this year’s uncharacteristically hot Summer in the Netherlands, haha 😀 . Yep, “uncharacteristically” which of course means it worths writing here in this blog! 😛 Anyway

An electric flyswatter

One persistent “problem” every Summer is the “summer bugs”. Last year I mentioned that I found “less” flies here in Amsterdam than in Delft. However, while still “less” than in Delft, this year I have been bothered quite many times by those annoying flies here in Amsterdam!

And so last weekend, inspired by a lunch talk with a colleague of mine the week before, I decided to buy an electric flyswatter! Yep, I knew I wanted the electrical one, not the conventional typical non-electrical flyswatter which you would need the presence of a hard surface to kill the bugs.

Though up to now I still haven’t really needed it, I feel like this is such a good investment for my life and sanity during the Summer here, hahaha 😆 .

A new electric flyswatter

Another OV-Chipkaart Mini-Drama

While this one wasn’t directly related to the Summer, this year’s uncharacteristically hot Summer, sort of, caused this annoying incident to happen. So, for the third time this year, I had to ask for a new ov-chipkaart! 😱

On Friday morning just before going to work last week, I couldn’t find my ov-chipkaart. I looked for it “everywhere” in my apartment and couldn’t find it. Because I would have an important meeting in the morning that day, I quickly assumed it might, again, have accidentally fallen off somewhere the day before; similarly to the second incident earlier this May when I put it in my jeans pocket. So I took my “back-up” regular ov-chipkaart to go to the office that day; and the first thing I did after arriving at the office was to block the ov-chipkaart which I just lost and to ask for a replacement (and paid €11 for it) 😤.

But then, after having my morning coffee which triggered my brain to function at higher capacity, I realized that I had not looked for the card “everywhere” in my apartment. I thought of a very possible scenario of what might have happened with a hypothesis on where the card might be. The day before, despite being tired from work and the heat, I “forced” myself to go the gym. As it was in the evening, as usual I picked up my jacket. And at this time, it was possible that I was on “auto-pilot” mode when leaving the apartment where I took the ov-chipkaart and put it in my jacket’s pocket. That morning, I did NOT think of checking this jacket’s pocket because I assumed the likelihood of the card being there was non-existent as I only wore the jacket to the gym and I didn’t need the card to go there.

So upon returning home from work that day, I tested this theory, and it turned out to be the CORRECT one! DAMN!!!! Yeah, I just asked for a replacement, and paid €11 for it, for literally nothing! Plus, now I would still need to use my backup card for my Monday commute because this ov-chipkaart had been deactivated (I have a public transportation subscription in my regular ov-chipkaart but not in the backup one).

But I learned something valuable from this incident, though; that sometimes it is good to not make a decision too impulsively and to give yourself enough time (and energy) to think and analyze the situation. Otherwise, you might end up with a sub-optimal solution like myself in this incident! Haha 😆

BAHASA INDONESIA

Yep, aku masih akan ngomongin musim panas di Belanda tahun ini yang sungguh nggak biasa dah puanasnya, haha 😀 . Iya, karena “nggak biasa” jadi jelas layak untuk dituliskan di blog ini kan ya! 😛 Ngomong-ngomong,

Pemukul lalat elektrik

Satu “masalah” yang selalu muncul setiap musim panas adalah “serangga musim panas”. Tahun lalu aku sebutkan bahwa rasanya aku menghadapi “lebih sedikit” lalat di Amsterdam ini daripada di Delft. Namun, walaupun masih “lebih sedikit” daripada Delft, tahun ini aku sudah cukup sering terganggu dengan yang namanya lalat yang menyebalkan itu di Amsterdam!

Jadilah akhir pekan yang lalu, terinspirasi dari perbincangan ketika makan siang dengan seorang kolegaku di kantor seminggu sebelumnya, aku memutuskan untuk membeli sebuah pemukul lalat elektrik! Iya, aku maunya yang elektrik deh, bukan yang tipikal biasa nggak eleketrik itu yang mana kita membutuhkan kehadiran suatu permukaan yang keras (misalnya tembok) untuk membunuh serangganya.

Walaupun sejauh ini aku masih belum terlalu membutuhkannya sih, haha. Tapi walaupun begitu, aku rasa ini adalah sebuah investasi yang bagus untuk kehidupan dan kewarasanku di waktu musim panas di sini, hahaha 😆 .

Sebuah pemukul lalat elektrik baru

Mini-Drama dengan OV-Chipkaart lagi

Walaupun sebenarnya ini tidak langsung berhubungan dengan musim panasnya, aku cukup yakin musim panas tahun ini yang panas banget ini merupakan salah satu penyebab insiden menyebalkan ini untuk terjadi. Jadi, untuk ketiga kalinya tahun ini, aku harus meminta ov-chipkaart baru dong! 😱

Di hari Jumat pagi sebelum berangkat ke kantor minggu lalu, aku tidak bisa menemukan ov-chipkaart-ku. Aku sudah mencarinya di “semua tempat” di apartemenku tapi aku tidak bisa menemukannya. Karena aku akan ada meeting penting pagi itu di kantor, dengan cepat aku asumsikan kemungkinan, untuk kedua kalinya, kartunya tidak sengaja jatuh entah dimana gitu sehari sebelumnya; mirip seperti insiden kedua di bulan Mei kemarin ketika aku menaruhnya di dalam kantong celana jeans-ku. Jadilah aku mengambil kartu ov-chipkaart reguler “cadangan”-ku untuk berangkat ke kantor hari itu. Hal pertama yang kulakukan setelah tiba di kantor adalah untuk memblok ov-chipkaartku yang hilang itu dan meminta penggantinya (dan membayar €11 untuknya) 😤.

Tapi kemudian, setelah meminum kopiku pagi itu yang merangsang otakku untuk bekerja dengan kapasitas lebih tinggi, aku baru menyadari bahwa sepertinya aku belum mencari kartunya di “semua tempat” di apartemenku pagi itu. Terpikirkan olehku sebuah skenario yang sangat mungkin terjadi yang di dalamnya terkandung hipoteas akan dimana kartunya berada. Sehari sebelumnya, walaupun capek banget setelah pulang kerja dan melalui hari yang super panas, aku tetap “memaksakan” diriku untuk pergi ke gym. Karena sudah malam, seperti biasa aku juga mengambil jaketku untuk keluar. Dan di waktu ini, mungkin sekali otakku berada dalam mode “auto-pilot” ketika meninggalkan apartemen dimana aku mengambil ov-chipkaartku dan memasukannya ke dalam jaket. Pagi itu, aku TIDAK mengecek jaket ini karena aku berpikir kemungkinan kartunya berada di dalam jaket ini hampir pasti nol karena aku hanya mengenakan jaketnya untuk pergi ke gym dan untuk pergi kesana kan aku tidak membutuhkan kartunya.

Jadilah setelah pulang ke rumah hari itu, aku mengetes teori ini, dan ternyata BENAR dong! SIAL!!!! Ya gitu deh, aku sudah terlanjur meminta kartu pengganti, dan membayar €11 untuknya, yang mana ternyata sebenarnya tidak perlu! Plus, sekarang aku jadi harus juga menggunakan kartu cadanganku untuk ngantor di hari Senin karena ov-chipkaart ini sudah terlanjur diblokir kan (Aku memiliki abonemen transportasi umum di ov-chipkaart regulerku tetapi tidak di ov-chipkaart cadanganku).

Tapi ada pelajaran penting sih dari insiden ini; dimana terkadang bijaksana untuk tidak membuat suatu keputusan dengan terlalu cepat sebelum memberi diri kita cukup waktu (dan energi) untuk memikirkan dan menganalisa situasi yang sedang kita hadapi. Jika tidak, amat mungkin kita akan memasukkan diri kita ke situasi sub-optimal, seperti yang aku alami dari kejadian ini! Haha 😆

Advertisements
EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2147 – Two Side Stories from My Geneva Trip

ENGLISH

Here are a couple of side stories from my weekend trip to Geneva at the end of June.

A medium rare steak and Instagram

Steak for dinner in Geneva.

The restaurant I went to for dinner only served one meal: steak; and as I mentioned, they cooked the steak really, really nicely! Anyway, so upon obviously being asked about how I would like the steak to be cooked, I said medium rare.

And here is the thing. This restaurant served this steak on a chafer with a mini fire lit underneath to keep the steak warm. And because of this, the sauce got a little bit “bubbly” and “smokey”, haha 😛 , like this:

Warm steak!

And I, as a true typical millennial (lol 😆 ), obviously took some photos first (and even some Boomerang video for an Instagram Story (and for the gif above), haha 🙈 ) before starting my dinner. I mean, this was super important, won’t you agree? 😛 The middle-aged waitress saw this and perhaps got a little bit confused. And so she told me, “Sir, if you don’t start eating your steak, it might turn well done!“. LOL!! 😆

Summer in Amsterdam

Anyway, last year I mentioned how crowded (with tourists) Amsterdam was in the summer. Obviously, this summer has been no different.

And on this trip, I especially felt the effect of this on another level. Obviously I took the train to get back to Amsterdam from Schiphol at the end of the trip. And the train I took was perhaps the most crowded train trip I had ever taken to/from Schiphol!! I mean, it was like this!!

Crowded airport train in the Summer

BAHASA INDONESIA

Berikut ini dua cerita sampingan dari perjalanan akhir pekanku ke Geneva di akhir bulan Juni yang lalu.

Steak medium rare dan Instagram

Steak untuk makan malam di Geneva.

Restoran tempatku makan malam hanya menyajikan satu jenis masakan saja: steak; dan seperti yang kubilang, mereka memasak satu jenis masakan ini dengan sangat amat enak! Anyway, jelas aku ditanya steak-nya ingin dimasak bagaimana, dan tentu aku minta medium rare.

Jadi begini ceritanya. Restoran ini menyajikan steak-nya di atas chafer gitu (Apa sih bahasa Indonesianya?) yang mana di bawahnya api kecil dinyalakan agar steak-nya tetap hangat. Dan karena api ini, bahkan sausnya pun sampai ada “buih” dan asap-asap-nya gitu, haha 😛 , kayak gini maksudnya:

Steak-nya hangat!

Dan jelas dong ya sebagai anak milenial sejati (haha 😆 ) aku foto-foto dulu (dan bahkan mengambil beberapa video Boomerang untuk InstaStory (dan gif di atas), haha 🙈) sebelum akhirnya mulai makan. Ini penting banget kan ya? 😛 . Pelayannya yang sudah setengah baya melihat ini dan mungkin sedikit bingung. Jadilah ia kemudian berkata “Pak, kalau nggak segera dimakan, nanti steak-nya bakal jadi well done loh!” Huahahaha 😆

Musim panas di Amsterdam

Anyway, tahun lalu aku sebutkan bagaimana ramainya Amsterdam (dengan turis) di musim panas. Jelas tahun ini juga begitu lah situasinya.

Dan di perjalanan ini, aku merasakan efek dari ini di level yang berbeda. Jelas dong aku naik kereta untuk kembali ke Amsterdam dari Schiphol di akhir dari perjalanan ini. Dan kereta yang aku naiki ini mungkin adalah perjalanan kereta dari bandara yang paling penuh dan ramai yang pernah kunaiki dari/ke Schiphol!! Maksudku, kayak gini nih:

Kereta bandara yang ramai banget di musim panas.
Life in Holland, Zilko's Life

#2146 – When A Heatwave Strikes

ENGLISH

Three weeks ago I have mentioned how this year’s Summer, up to that point, had been really warm. It turned out that, well, we hadn’t yet the “peak” of it because last week Europe was hit by heatwave apparently due to the jetstream that flowed a little bit more north than usual this year. As a result, at one point it was like this in Amsterdam:

Heatwave in summer 2018

Yep, 36°C real feel temperature!! I can tell you that, from my experience, this Summer has been not “normal”. Usually, throughout a Summer in the Netherlands, there would indeed be a few days here and there where it could be really warm; but it was never “consecutive” for a long period like this year. The heat was so “bad” (to me) that I was actually feeling happy when it was raining briefly on Saturday this weekend! Yep, this comes from someone whose least favorite weather ever is the rain!

If you think, “Well, the weather in Indonesia can also be as hot as this, right?”. The answer would be “Yes“, indeed. However, there is one fundamental difference between Indonesia and the Netherlands: the Indonesian climate means that this kind of weather is expected. Consequently, everything there is designed and sort-of optimized for this kind of weather: for instance, many buildings are equipped with air-conditioners. In Europe, nope, most buildings do NOT have air-conditioners (Thankfully my office does, though 😛 ).

Anyway, I am not quite sure if this was related or not, btw, but I had insomnia on a few nights last week too. I found this insomnia quite strange because I genuinely felt tired while going to bed yet I had difficulties in getting good night sleep. And then once over lunch some of my colleagues shared about their insomnia problems too, and they were sure it was related to the heat. And I was actually one of the luckier ones because my apartment building was new so those warm Summer nights were much more “bearable”, haha.

Btw, the trams in Amsterdam were certainly not designed for hot Summer days like these! The trams were basically like tubes of moving greenhouses which trapped heat inside; which intensified the “real feel temperature” if you were travelling with it during one of these days! I wish they were equipped with some air-conditioners.

I think the trams in Amsterdam were not designed for hot days.

To be honest, this Summer thus far makes the idea of installing an air-conditioner in my apartment very tempting! However on the other hand, it is commonly known that an air-conditioner also contributes to global warming. And, citing from the article I quoted above:

What we call an ‘extreme heatwave’ today we will simply call ‘summer’ in a matter of decades if we do not sharply reduce carbon emissions.” — Michael Mann, a US climate scientist.

So, do you see the dilemma I am facing now? What do you think I should do then? Hahaha…

BAHASA INDONESIA

Tiga minggu yang lalu aku ceritakan mengenai bagaimana musim panas tahun ini, sampai waktu itu, yang mana panas banget. Ternyata, waktu itu kami di Eropa masih belum mencapai “puncak” dari kepanasannya karena minggu lalu Eropa diterjang oleh gelombang panas yang ternyata disebabkan oleh posisi jetstream yang tahun ini mengalir lebih ke utara daripada biasanya. Sebagai akibatnya, di satu waktu cuacanya kayak gini dong di Amsterdam minggu lalu:

Gelombang panas di musim panas 2018

Yep, 36°C real feel temperature!! Bisa aku bilang bahwa dari pengalamanku, musim panas tahun ini sangat “tidak biasa”. Biasanya, di sepanjang musim panas di Belanda memang akan ada beberapa hari di sana-sini yang mana suhu udaranya bisa jadi panas; tapi nggak pernah deh “berturut-turut” di periode yang lama kayak tahun ini. Panasnya ini “parah” banget (bagiku) sampai-sampai aku merasa bahagia lho ketika hujan turun sebentar di hari Sabtu kemarin ini! Iya, pernyataan ini datang dari seseorang yang cuaca yang paling tidak disukainya adalah hujan!

Jika ada yang berpikir, “Lah, toh cuaca di Indonesia pun juga bisa sepanas ini kan?“. Jawabannya memang “Ya, betul“. Tapi, ada satu perbedaan mendasar dari Indonesia dan Belanda: iklim di Indonesia berarti memang cuaca seperti ini itu “makanan sehari-hari”. Sebagai akibatnya, semuanya ya sudah didisain dan dioptimasi untuk menghadapinya: misalnya saja, banyak bangunan yang dilengkapi dengan AC. Di Eropa sih, kebanyakan bangunan itu TANPA AC ya (Untungnya di kantorku ada ACnya sih, haha 😛 ).

Anyway, aku nggak yakin sih ini ada hubungannya atau tidak, btw. Minggu lalu selama beberapa malam aku juga sulit tidur. Aku merasa kesulitan-tidur ini agak aneh karena aku sebenarnya sudah merasa capek lho ketika beranjak tidur tapi kok susah ya mendapatkan tidur yang lelap. Dan ketika makan siang, beberapa kolegaku juga bercerita mereka mengalami kesulitan-tidur yang sama, dan mereka yakin kesulitan-tidur ini disebabkan oleh panasnya itu. Dan sebenarnya aku bisa dibilang beruntung karena gedung apartemenku adalah bangunan baru sehingga malam-malam musim panas yang panas banget itu masih bisa lebih “ditoleransi” lah, haha.

Btw, tram di Amsterdam juga jelas banget tidak didisain untuk hari-hari panas kayak gini deh! Tramnya berasa kayak tabung rumah kaca berjalan deh yang memerangkap panas di dalamnya; yang mana artinya suhu udara “real feel” juga semakin terintensifikasi jika kita menaikinya di hari-hari itu! Ah, aku berharap tram-nya akan dilengkapi dengan AC juga nih nantinya.

Aku duga tram di Amsterdam tidak didisain untuk hari-hari yang panas banget.

Sejujurnya, musim panas ini sejauh ini telah membuat ide untuk memasang AC di apartemenku menjadi nampak menggoda sekali! Namun di sisi lain, kan sudah diketahui secara luas ya bahwa yang namanya AC itu juga berkontribusi terhadap pemanasan global. Dan, kutipan dari artikel yang aku tautkan di atas nih:

What we call an ‘extreme heatwave’ today we will simply call ‘summer’ in a matter of decades if we do not sharply reduce carbon emissions.” — Michael Mann, ilmuwan klimatologi Amerika.

Nah, jadi dilema banget kan ini ceritanya? Menurut kalian, sebaiknya bagaimana ini? Hahaha…

Life in Holland, Zilko's Life

#2136 – This Summer Thus Far in Amsterdam

ENGLISH

From my experience, this Summer has been a rather unusual Summer in the Netherlands. “Unusual” as in it hasn’t rained that often, the temperature has, in many days, been in the warmer scale, and, most surprisingly, the weather has been sunny in many days too!! This trend has occurred since around May though which, after a long Winter, made me feel like we skipped Spring and jumped immediately from Winter to Summer! Lol 😆 .

And this was great news (and surprise) to many people. But not to me, haha 😆 . You know I generally prefer colder than warmer temperature. And warm temperature actually makes me feel a little bit uncomfortable! Okay, to be fair, it hasn’t been that “bad” in Amsterdam as thus far I can still “tolerate” it; as thankfully the humidity has not been as extreme as, say, in Indonesia, haha…

You know, but this made me glad for my decision to move to an apartment in a new building in Amsterdam last year. I mean, had I lived in one of those super cute and beautiful old buildings from the 18th or 19th century (like my previous apartment in Delft), this Summer would have felt like Hell (As I notice that those buildings tend to preserve heat, which obviously is a good thing in Winter, though)!! Lol 😆

So yeah, let’s just say that weather-wise, this Summer hasn’t been my favorite. And unfortunately for me, the next season will be the Fall, that is my least favorite season of the four, haha.

Summer in Amsterdam this year.

BAHASA INDONESIA

Dari pengalamanku, Musim Panas kali ini di Belanda agak tidak biasa dibandingkan biasanya. “Tidak biasa” dalam artian sejauh ini cuacanya jarang hujan, suhu udaranya, di banyak hari, tergolong panas, dan, yang paling mengejutkan, cukup banyak hari yang mana cuacanya cerah dong!! Tren ini sebenarnya sudah mulai nampak semenjak Mei yang lalu sih yang mana, setelah Musim Dingin yang panjang, membuatku merasa seperti kita kemarin meloncati Musim Semi dimana musim berganti dari Musim Dingin langsung ke Musim Panas! Haha 😆 .

Sebenarnya ini adalah berita (dan kejutan) yang baik bagi banyak orang. Tapi tidak untukku, haha 😆 . Tahu kan secara umum aku lebih suka suhu udara yang dingin daripada panas. Dan suhu udara panas itu bagiku terasa tidak nyaman! Oke, sejujurnya nih, sebenarnya suhu udara panas di Amsterdam ini masih bisa aku toleransi sih; karena untungnya kelembaban-udaranya tidak tinggi-tinggi amat kayak di, misalnya, Indonesia, haha…

Ini membuatku bersyukur akan keputusanku untuk pindah ke sebuah apartemen di bangunan yang baru di Amsterdam tahun lalu. Maksudku, andaikata aku tinggal di suatu bangunan yang imut dan indah tapi tua banget karena dibangun di abad ke-18 atau 19 itu (kayak apartemenku sebelumnya di Delft), Musim Panas kali ini bakal terasa seperti Neraka deh (Aku perhatikan bangunan-bangunan tua di sini cenderung didisain untuk memerangkap panas, yang mana jelas adalah suatu hal yang menguntungkan di Musim Dingin)!! Haha 😆 .

Jadi ya gitu deh, bisa dibilang dari segi cuaca, Musim Panas kali ini bukan favoritku dah. Dan, sialnya, untukku, musim yang selanjutnya kan Musim Gugur ya, yang mana merupakan musim yang paling tidak aku sukai, haha.

Life in Holland, Zilko's Life

#2119 – Where Was My Spring?

ENGLISH

Now that it is June already, this means that we in the Netherlands have pretty much entered Summer this year. This would imply that we have just passed Spring, my favorite season of the four. However to be honest, this year has been quite unusual because …

it feels like Spring did not happen here and we just jumped from Winter to Summer! Lol 😆 .

Snowy Amsterdam earlier this year.

You know, we had quite an extended Winter the last time; as enforced by the Beast from the East which made it snow in (early) March and the real feel temperature to reach –20°C!! And then, Summer felt like coming early because the temperature has been warm (for Dutch standard) since late April and this was extended through May as well.

May in Amsterdam

You see, and so this would explain why I perceived Spring to not happen this year (or, it did but only for a very short period of time)! In a way, I feel cheated! Lol 😆 . And now that it is June already, I guess it is futile to hope that the “real” Spring weather would come back. It would be “wiser” (so that I would be less likely to get disappointed) to wait until next year for that to happen, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Karena sudah bulan Juni sekarang, artinya Belanda sudah kurang lebih memasukin Musim Panas tahun ini. Ini berarti kami di Belanda baru saja melewati yang namanya Musim Semi kan, musim favoritku dari keempat musim itu. Tapi sejujurnya, rasanya tahun ini adalah tahun yang agak tidak biasa karena …

rasanya Musim Semi itu tidak terjadi deh di negeri ini dimana kami melompat langsung dari Musim Dingin ke Musim Panas! Huahaha 😆 .

Amsterdam yang bersalju awal tahun ini.

Masih ingat kan, Musim Dingin kemarin berlangsung lumayan lama di Belanda; yang mana ditegaskan oleh the Beast from the East yang membuat cuaca bersalju di (awal) bulan Maret dan real feel suhu udaranya mencapai –20°C!! Dan kemudian, Musim Panas rasanya cepat datang tahun ini dimana suhu udaranya lumayan panas (untuk standar Belanda) semenjak akhir April dan situasi ini berlangsung demikian di sepanjang bulan Mei pula.

Mei di Amsterdam

Ya sekarang jelas kan mengapa aku merasa Musim Semi itu tidak terjadi tahun ini (atau, terjadi sih, tapi singkat banget)! Di satu sisi, rasanya kok kayak dicurangi ya! Huahaha 😆 . Dan karena sekarang sudah bulan Juni, rasanya sia-sia lah untuk berharap cuaca “selayaknya” Musim Semi akan kembali. Rasanya lebih “bijak” (sehingga aku tidak akan dikecewakan dengan harapan palsu) untuk menunggu tahun depan saja deh, haha 😆 .

General Life, Zilko's Life

#2116 – June Already

ENGLISH

Oh wow, it is June already as of today which means we have passed the entire month of May! And so I would like to use this opportunity to look back into this month.

First of all, overall May this year was quite unique in the Netherlands in terms of the weather. The sun was shining on many of its days, many more than one would expect in this country, haha 😆 , and actually made it feel like the Summer already. And as a result, it actually forced me to buy some sunscreens last weekend too, haha 😆 . And I was really lucky because at the time there was a 50% discount on sunscreen products! Bless this great timing! 😀 Btw, of course I bought two products: one for my regular skin and one for my face, both were SPF 50+ 😛 .

The weather was generally great in Amsterdam this May, it felt like Summer!

On the other hand, I was also really busy at work in May. There were many more tasks to be performed and completed, of many different scales too, which could be quite challenging to handle. But thankfully, I think I handled the situation well and delivered good performance *tapping myself on my back 😛 *.

Though, the combination of all those could also be quite overwhelming for my mind and body, I think; as indicated by the existence of the drama which I had to encounter in the middle of the month; and the quite frequent tiredness feeling I had when it was almost a weekend time, haha 😆 . You know, the weather could play a role as well as, to be honest, I prefer cold to (very) warm weather! 😀

Anyway, so let’s see how June will turn up this time around 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Oh wow, tiba-tiba sekarang sudah bulan Juni aja ya yang mana artinya satu bulan Mei sudah terlewati! Dan jadilah aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk menengok balik bulan ini.

Pertama-tama, bulan Mei tahun ini berlangsung cukup unik di Belanda dalam hal cuaca. Matahari bersinar cerah di banyak hari, jauh lebih banyak daripada apa yang biasanya diharapkan di negeri ini, haha 😆 , dan sebenarnya membuat rasanya seperti sudah musim panas! Sebagai akibatnya, jadilah mau tidak mau akhir pekan kemarin aku membeli sunscreen, haha 😆 . Dan aku beruntung banget karena waktu itu sedang ada diskon 50% dong untuk produk sunscreen! Waktunya pas banget ya! 😀 . Btw, tentu saja aku membeli dua macam produk: satu untuk kulit biasa dan satu lagi untuk kulit wajah, dua-duanya yang SPF 50+ 😛 .

Cuaca di Amsterdam juga secara umum oke bulan Mei kemarin, rasanya kayak sudah musim panas saja!

Di sisi lain, bulan Mei kemarin aku sibuk banget di kantor. Ada banyak banget kerjaan yang harus diselesaikan, yang mana datang dengan ukuran/skala yang berbeda-beda, sehingga lumayan menantang untuk dihadapi. Tapi untungnya, rasanya aku menghadapi situasi ini dan berhasil mengerjakannya dengan baik *memuji diri sendiri, haha 😛 *.

Walaupun kombinasi dari semua itu adalah tubuh dan pikiranku yang sepertinya cukup overwhelmed karenanya; yang diindikasikan dengan kemunculan drama yang harus aku hadapi di pertengahan bulan; dan seringnya aku merasa capek ketika sudah hampir akhir pekan, haha 😆 . Ya tahu kan, cuaca yang kusebutkan di atas juga berpengaruh karena kan, sejujurnya, aku lebih suka cuaca dingin daripada cuaca panas (banget)! 😀

Anyway, kita lihat saja deh bulan Juni ini bagaimana 🙂 .

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2110 – A Summery Spring in Munich

ENGLISH

I went on a short weekend trip to Munich in mid-April. As I have shared, I forgot to bring my pocket camera on the trip; which unintentionally turned the trip into an experiment for me to measure the “value” of a pocket camera during a trip of mine. As it turned out, it was very valuable because I noticed that I didn’t take as many pictures on the trip, and the trip was generally less enjoyable without my camera! Consequently, this post won’t have as many pictures as usual simply because I did not take enough for that.

Anyway, a bit uncharacteristically, I also took KLM’s direct return Amsterdam – Munich flights for this trip, i.e. without any transit! Both flights were operated by Boeing 737-800, PH-BCA named “Flamingo” on the way to Munich and PH-BXL named “Sperwere” on the way back to Amsterdam. Both were pleasant intra-European flights with KLM as usual and so there is not much too share.

A KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BCA

As I also had pretty much half a day in Munich this time, I decided to focus on the area which I had heard nice things about but didn’t yet visit on my first trip there two years ago. And the area was the famous Englischer Garten (The English Garden), a large park in the northeastern park of the city.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

It was supposed to be Spring in Western Europe, but the weather at the time was quite unique, where the it was really sunny and the temperature was hovering around the high 20s Centigrade. To be honest it felt more like Summer than Spring to me, a season which I preferred less, haha 😛 . Nonetheless, especially after a harsh and long Winter and the day being a Saturday, many people decided to take advantage of it by going to the garden. As a result, the Englischer Garten was so full of people, many of them were sunbathing, when I was there! Lol 😆 .

The English Garden in Munich when the weather was great

Anyway, I found the Englisher Garten to be beautiful, and it certainly made the city livable! It was also very big, but one needed not to worry because a lot of signages and maps were installed throughout the garden. Uniquely, and perhaps confusingly, one landmark of the garden was the Chinesischer Turm (the Chinese Tower). Yep, a “Chinese” tower in an “English” garden in Munich, “Germany”, haha 😆 .

A Chinese Tower in an English Garden in Germany

As you know, I am not the biggest fan of warm weather. While the weather today wasn’t very warm (I mean, it was nothing like the humid tropical condition on a sunny day!), it was still warm enough to make me feel a little bit uncomfortable outside. So after wandering in the Englischer Garten for about two hours, I decided to go back to the hotel to shower and rest.

Crispy knuckle of suckling pig

As for the food, of course I had local German cuisine on the two full meals I had there. For lunch, I had a turkey schnitzel, which was tasty with an ideal serving size (haha 😆 ). And for dinner, I had a rösche spanferkelhaxn, translated as crispy knuckle of suckling pig which was served with the Bavarian spitzkrout (sour cabbage) and kartoffelknödel (potato dumplings). While I liked the meat, just as before, I didn’t really enjoy the cabbage and potato, haha. It was overall very tasty, though 😀 .

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam perjalanan akhir pekan singkat ke Munich di pertengahan April. Seperti yang sudah kubilang, aku lupa membawa kamera sakuku di perjalanan ini; yang mana justru tidak sengaja membuat perjalanan ini menjadi suatu percobaan bagiku untuk mengukur “nilai” dari kamera saku di perjalananku. Ternyata, kamera saku itu amat bernilai. Ini kuamati dari tidak-banyaknya foto yang aku ambil di perjalanan ini, dan perjalanannya sendiri agak lebih kurang asyik sih tanpa kamera! Sebagai akibatnya, tidak banyak foto yang aku unggah di posting ini karena ya memang tidak ada banyak foto yang aku ambil.

Anyway, agak tidak seperti biasanya, aku terbang langsung pp Amsterdam – Munich dengan KLM di perjalanan ini, alias tanpa transit! Keduanya dioperasikan dengan Boeing 737-800, PH-BCA dengan nama “Flamingo” di keberangkatan dan PH-BXL dengan nama “Sperwer” di kepulangan. Keduanya adalah penerbangan reguler dan nyaman intra-Eropa dengan KLM sehingga tak banyak yang mau kuceritakan di sini.

Sebuah Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BCA

Karena aku hanya memiliki waktu setengah harian saja di Munich kali ini, aku memutuskan untuk fokus di area yang aku dengar cantik tapi belum sempat aku kunjungi di perjalananku dua tahun yang lalu. Dan area ini adalah Englischer Garten (Taman Inggris), sebuah taman besar dan terkenal di timur laut kotanya.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

Waktu itu seharusnya adalah Musim Semi di Eropa Barat, tapi cuaca waktu itu cukup unik, dimana matahari bersinar cerah dan temperaturnya berada di kisaran hampir 30 derajat. Sejujurnya rasanya lebih kayak Musim Panas daripada Musim Semi deh, sebuah musim yang lebih tidak aku sukai, haha 😛 . Walaupun begitu, waktu itu kan Eropa baru saja melewati Musim Dingin panjang dan keras ya, jadilah banyak orang yang memanfaatkan cuaca ini dengan pergi ke tamannya. Sebagai akibatnya, Englischer Garten rame banget waktu itu, dimana tentu banyak yang berjemur! Haha 😆 .

Taman Inggris di Munich ketika cuaca cerah

Anyway, Englischer Garten memang indah, dan membuat kotanya enak untuk dibuat hidup! Tamannya juga besar, tetapi pengunjung tidak perlu khawatir akan tersasar karena ada banyak petunjuk dan papan peta di seluruh tamannya. Uniknya, dan mungkin membingungkan, satu landmark terkenal di tamannya adalah Chinesischer Turm (Menara China). Iya, menara “China” di sebuah taman “Inggris” di Munich di “Jerman”, haha 😆 .

Chinesischer Turm di Taman Inggris di Jerman

Tentu sudah pada tahu bahwa aku bukanlah seorang fans dari cuaca panas, haha. Walaupun cuaca di Munich hari ini nggak panas yang gila banget (Maksudnya, nggak kayak cuaca lembab di daerah Tropis ketika matahari bersinar cerah!), tetapi cuacanya sudah cukup panas untuk membuatku merasa agak tidak nyaman berada di luar berlama-lama, haha. Jadilah setelah jalan-jalan di Englischer Garten selama sekitar dua jam-an, aku memutuskan kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat.

Crispy knuckle of suckling pig

Untuk urusan makanan, jelas dong aku menikmati masakan setempat di dua kali makanku di sana. Untuk makan siang, aku makan schnitzel daging kalkun, yang mana enak dan ukuran porsinya pun ideal (haha 😆 ). Untuk makan malam, aku makan rösche spanferkelhaxn, yang mana kurang lebih berarti lutut babi crispy yang disajikan dengan spitzkrout (kubis asam) ala Bavaria dan kartoffelknödel (kentang). Walaupun aku suka dagingnya, seperti dulu, aku juga masih kurang bisa menikmati kubis dan kentangnya, haha. Tapi secara keseluruhan enak sih D: .