#2119 – Where Was My Spring?

ENGLISH

Now that it is June already, this means that we in the Netherlands have pretty much entered Summer this year. This would imply that we have just passed Spring, my favorite season of the four. However to be honest, this year has been quite unusual because …

it feels like Spring did not happen here and we just jumped from Winter to Summer! Lol 😆 .

Snowy Amsterdam earlier this year.

You know, we had quite an extended Winter the last time; as enforced by the Beast from the East which made it snow in (early) March and the real feel temperature to reach –20°C!! And then, Summer felt like coming early because the temperature has been warm (for Dutch standard) since late April and this was extended through May as well.

May in Amsterdam

You see, and so this would explain why I perceived Spring to not happen this year (or, it did but only for a very short period of time)! In a way, I feel cheated! Lol 😆 . And now that it is June already, I guess it is futile to hope that the “real” Spring weather would come back. It would be “wiser” (so that I would be less likely to get disappointed) to wait until next year for that to happen, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Karena sudah bulan Juni sekarang, artinya Belanda sudah kurang lebih memasukin Musim Panas tahun ini. Ini berarti kami di Belanda baru saja melewati yang namanya Musim Semi kan, musim favoritku dari keempat musim itu. Tapi sejujurnya, rasanya tahun ini adalah tahun yang agak tidak biasa karena …

rasanya Musim Semi itu tidak terjadi deh di negeri ini dimana kami melompat langsung dari Musim Dingin ke Musim Panas! Huahaha 😆 .

Amsterdam yang bersalju awal tahun ini.

Masih ingat kan, Musim Dingin kemarin berlangsung lumayan lama di Belanda; yang mana ditegaskan oleh the Beast from the East yang membuat cuaca bersalju di (awal) bulan Maret dan real feel suhu udaranya mencapai –20°C!! Dan kemudian, Musim Panas rasanya cepat datang tahun ini dimana suhu udaranya lumayan panas (untuk standar Belanda) semenjak akhir April dan situasi ini berlangsung demikian di sepanjang bulan Mei pula.

Mei di Amsterdam

Ya sekarang jelas kan mengapa aku merasa Musim Semi itu tidak terjadi tahun ini (atau, terjadi sih, tapi singkat banget)! Di satu sisi, rasanya kok kayak dicurangi ya! Huahaha 😆 . Dan karena sekarang sudah bulan Juni, rasanya sia-sia lah untuk berharap cuaca “selayaknya” Musim Semi akan kembali. Rasanya lebih “bijak” (sehingga aku tidak akan dikecewakan dengan harapan palsu) untuk menunggu tahun depan saja deh, haha 😆 .

Advertisements

#2116 – June Already

ENGLISH

Oh wow, it is June already as of today which means we have passed the entire month of May! And so I would like to use this opportunity to look back into this month.

First of all, overall May this year was quite unique in the Netherlands in terms of the weather. The sun was shining on many of its days, many more than one would expect in this country, haha 😆 , and actually made it feel like the Summer already. And as a result, it actually forced me to buy some sunscreens last weekend too, haha 😆 . And I was really lucky because at the time there was a 50% discount on sunscreen products! Bless this great timing! 😀 Btw, of course I bought two products: one for my regular skin and one for my face, both were SPF 50+ 😛 .

The weather was generally great in Amsterdam this May, it felt like Summer!

On the other hand, I was also really busy at work in May. There were many more tasks to be performed and completed, of many different scales too, which could be quite challenging to handle. But thankfully, I think I handled the situation well and delivered good performance *tapping myself on my back 😛 *.

Though, the combination of all those could also be quite overwhelming for my mind and body, I think; as indicated by the existence of the drama which I had to encounter in the middle of the month; and the quite frequent tiredness feeling I had when it was almost a weekend time, haha 😆 . You know, the weather could play a role as well as, to be honest, I prefer cold to (very) warm weather! 😀

Anyway, so let’s see how June will turn up this time around 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Oh wow, tiba-tiba sekarang sudah bulan Juni aja ya yang mana artinya satu bulan Mei sudah terlewati! Dan jadilah aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk menengok balik bulan ini.

Pertama-tama, bulan Mei tahun ini berlangsung cukup unik di Belanda dalam hal cuaca. Matahari bersinar cerah di banyak hari, jauh lebih banyak daripada apa yang biasanya diharapkan di negeri ini, haha 😆 , dan sebenarnya membuat rasanya seperti sudah musim panas! Sebagai akibatnya, jadilah mau tidak mau akhir pekan kemarin aku membeli sunscreen, haha 😆 . Dan aku beruntung banget karena waktu itu sedang ada diskon 50% dong untuk produk sunscreen! Waktunya pas banget ya! 😀 . Btw, tentu saja aku membeli dua macam produk: satu untuk kulit biasa dan satu lagi untuk kulit wajah, dua-duanya yang SPF 50+ 😛 .

Cuaca di Amsterdam juga secara umum oke bulan Mei kemarin, rasanya kayak sudah musim panas saja!

Di sisi lain, bulan Mei kemarin aku sibuk banget di kantor. Ada banyak banget kerjaan yang harus diselesaikan, yang mana datang dengan ukuran/skala yang berbeda-beda, sehingga lumayan menantang untuk dihadapi. Tapi untungnya, rasanya aku menghadapi situasi ini dan berhasil mengerjakannya dengan baik *memuji diri sendiri, haha 😛 *.

Walaupun kombinasi dari semua itu adalah tubuh dan pikiranku yang sepertinya cukup overwhelmed karenanya; yang diindikasikan dengan kemunculan drama yang harus aku hadapi di pertengahan bulan; dan seringnya aku merasa capek ketika sudah hampir akhir pekan, haha 😆 . Ya tahu kan, cuaca yang kusebutkan di atas juga berpengaruh karena kan, sejujurnya, aku lebih suka cuaca dingin daripada cuaca panas (banget)! 😀

Anyway, kita lihat saja deh bulan Juni ini bagaimana 🙂 .

#2110 – A Summery Spring in Munich

ENGLISH

I went on a short weekend trip to Munich in mid-April. As I have shared, I forgot to bring my pocket camera on the trip; which unintentionally turned the trip into an experiment for me to measure the “value” of a pocket camera during a trip of mine. As it turned out, it was very valuable because I noticed that I didn’t take as many pictures on the trip, and the trip was generally less enjoyable without my camera! Consequently, this post won’t have as many pictures as usual simply because I did not take enough for that.

Anyway, a bit uncharacteristically, I also took KLM’s direct return Amsterdam – Munich flights for this trip, i.e. without any transit! Both flights were operated by Boeing 737-800, PH-BCA named “Flamingo” on the way to Munich and PH-BXL named “Sperwere” on the way back to Amsterdam. Both were pleasant intra-European flights with KLM as usual and so there is not much too share.

A KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BCA

As I also had pretty much half a day in Munich this time, I decided to focus on the area which I had heard nice things about but didn’t yet visit on my first trip there two years ago. And the area was the famous Englischer Garten (The English Garden), a large park in the northeastern park of the city.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

It was supposed to be Spring in Western Europe, but the weather at the time was quite unique, where the it was really sunny and the temperature was hovering around the high 20s Centigrade. To be honest it felt more like Summer than Spring to me, a season which I preferred less, haha 😛 . Nonetheless, especially after a harsh and long Winter and the day being a Saturday, many people decided to take advantage of it by going to the garden. As a result, the Englischer Garten was so full of people, many of them were sunbathing, when I was there! Lol 😆 .

The English Garden in Munich when the weather was great

Anyway, I found the Englisher Garten to be beautiful, and it certainly made the city livable! It was also very big, but one needed not to worry because a lot of signages and maps were installed throughout the garden. Uniquely, and perhaps confusingly, one landmark of the garden was the Chinesischer Turm (the Chinese Tower). Yep, a “Chinese” tower in an “English” garden in Munich, “Germany”, haha 😆 .

A Chinese Tower in an English Garden in Germany

As you know, I am not the biggest fan of warm weather. While the weather today wasn’t very warm (I mean, it was nothing like the humid tropical condition on a sunny day!), it was still warm enough to make me feel a little bit uncomfortable outside. So after wandering in the Englischer Garten for about two hours, I decided to go back to the hotel to shower and rest.

Crispy knuckle of suckling pig

As for the food, of course I had local German cuisine on the two full meals I had there. For lunch, I had a turkey schnitzel, which was tasty with an ideal serving size (haha 😆 ). And for dinner, I had a rösche spanferkelhaxn, translated as crispy knuckle of suckling pig which was served with the Bavarian spitzkrout (sour cabbage) and kartoffelknödel (potato dumplings). While I liked the meat, just as before, I didn’t really enjoy the cabbage and potato, haha. It was overall very tasty, though 😀 .

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam perjalanan akhir pekan singkat ke Munich di pertengahan April. Seperti yang sudah kubilang, aku lupa membawa kamera sakuku di perjalanan ini; yang mana justru tidak sengaja membuat perjalanan ini menjadi suatu percobaan bagiku untuk mengukur “nilai” dari kamera saku di perjalananku. Ternyata, kamera saku itu amat bernilai. Ini kuamati dari tidak-banyaknya foto yang aku ambil di perjalanan ini, dan perjalanannya sendiri agak lebih kurang asyik sih tanpa kamera! Sebagai akibatnya, tidak banyak foto yang aku unggah di posting ini karena ya memang tidak ada banyak foto yang aku ambil.

Anyway, agak tidak seperti biasanya, aku terbang langsung pp Amsterdam – Munich dengan KLM di perjalanan ini, alias tanpa transit! Keduanya dioperasikan dengan Boeing 737-800, PH-BCA dengan nama “Flamingo” di keberangkatan dan PH-BXL dengan nama “Sperwer” di kepulangan. Keduanya adalah penerbangan reguler dan nyaman intra-Eropa dengan KLM sehingga tak banyak yang mau kuceritakan di sini.

Sebuah Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BCA

Karena aku hanya memiliki waktu setengah harian saja di Munich kali ini, aku memutuskan untuk fokus di area yang aku dengar cantik tapi belum sempat aku kunjungi di perjalananku dua tahun yang lalu. Dan area ini adalah Englischer Garten (Taman Inggris), sebuah taman besar dan terkenal di timur laut kotanya.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

Waktu itu seharusnya adalah Musim Semi di Eropa Barat, tapi cuaca waktu itu cukup unik, dimana matahari bersinar cerah dan temperaturnya berada di kisaran hampir 30 derajat. Sejujurnya rasanya lebih kayak Musim Panas daripada Musim Semi deh, sebuah musim yang lebih tidak aku sukai, haha 😛 . Walaupun begitu, waktu itu kan Eropa baru saja melewati Musim Dingin panjang dan keras ya, jadilah banyak orang yang memanfaatkan cuaca ini dengan pergi ke tamannya. Sebagai akibatnya, Englischer Garten rame banget waktu itu, dimana tentu banyak yang berjemur! Haha 😆 .

Taman Inggris di Munich ketika cuaca cerah

Anyway, Englischer Garten memang indah, dan membuat kotanya enak untuk dibuat hidup! Tamannya juga besar, tetapi pengunjung tidak perlu khawatir akan tersasar karena ada banyak petunjuk dan papan peta di seluruh tamannya. Uniknya, dan mungkin membingungkan, satu landmark terkenal di tamannya adalah Chinesischer Turm (Menara China). Iya, menara “China” di sebuah taman “Inggris” di Munich di “Jerman”, haha 😆 .

Chinesischer Turm di Taman Inggris di Jerman

Tentu sudah pada tahu bahwa aku bukanlah seorang fans dari cuaca panas, haha. Walaupun cuaca di Munich hari ini nggak panas yang gila banget (Maksudnya, nggak kayak cuaca lembab di daerah Tropis ketika matahari bersinar cerah!), tetapi cuacanya sudah cukup panas untuk membuatku merasa agak tidak nyaman berada di luar berlama-lama, haha. Jadilah setelah jalan-jalan di Englischer Garten selama sekitar dua jam-an, aku memutuskan kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat.

Crispy knuckle of suckling pig

Untuk urusan makanan, jelas dong aku menikmati masakan setempat di dua kali makanku di sana. Untuk makan siang, aku makan schnitzel daging kalkun, yang mana enak dan ukuran porsinya pun ideal (haha 😆 ). Untuk makan malam, aku makan rösche spanferkelhaxn, yang mana kurang lebih berarti lutut babi crispy yang disajikan dengan spitzkrout (kubis asam) ala Bavaria dan kartoffelknödel (kentang). Walaupun aku suka dagingnya, seperti dulu, aku juga masih kurang bisa menikmati kubis dan kentangnya, haha. Tapi secara keseluruhan enak sih D: .

#1976 – Some Summer Stories

ENGLISH

Overall, we in the Netherlands have been quite lucky with the weather this summer. It feels like there have been quite a lot of days (for Dutch standards) where the weather is really, really nice; and also only a few rains. Even though one of those few days was yesterday when it rained for the entire day thus creating this gloomy atmosphere. The tram service in Amsterdam was also disturbed yesterday, though I am not sure if this had something to do with the rain or not 😣.

Anyway, enough for the boring talk about the weather. Another aspect that is tightly related to summer is the summer bugs. As this is my first summer in Amsterdam, I just realized that despite Delft is not that far away, the summer bugs situation is actually quite different here, haha. I feel like there is much less fly flying around here than in Delft, which I find really, really nice. However, there is something else which I have encountered more here in Amsterdam: spiders! Yeah, I feel like there are more spiders here than in Delft! At least I have killed three (big-ish) spiders at home in the past month or so.

Speaking of summer in Amsterdam, now I do have the first-hand experience of the busy tourist season, that is the summer, haha 😛 . Indeed Amsterdam feels different in the summer than in the winter, in the sense that there are more tourists flocking the city, even during the weekdays! The direct result which affects me is that the more crowded public transportation these days! Lucky I have moved to Amsterdam so that I do not have to deal with this potential problem while commuting between Delft and Amsterdam! Hahaha 😆

A crowded tram in a summer afternoon

BAHASA INDONESIA

Secara umum, kami di Belanda cukup beruntung dalam hal cuaca di musim panas kali ini. Rasanya ada cukup banyak hari (untuk standar Belanda) dimana cuacanya asyik banget; dan cuma relatif sedikit hari dimana hujan turun. Walaupun salah satu dari sedikit hari itu kemarin sih dimana hujan turun seharian sehingga suasananya juga jadi gloomy gitu. Layanan tram di Amsterdam juga lumayan kacau lah kemarin, walaupun aku nggak yakin sih ini ada kaitannya dengan cuaca atau tidak 😣.

Anyway, cukup deh dengan omongan cuaca yang membosankan itu. Satu aspek lain yang berkaitan dengan musim panas adalah serangga musim panas. Karena ini adalah musim panas pertamaku di Amsterdam, ternyata walaupun Delft itu nggak jauh-jauh amat, situasinya berbeda banget loh, haha. Rasanya ada jauh lebih sedikit lalat di sini daripada di Delft, yang mana tentu situasi ini aku syukuri banget (Aku sebal banget sama lalat, haha 😆 ). Namun, ada satu makhluk lain yang sepertinya ada lebih banyak di Amsterdam: laba-laba! Iya, rasanya kok ada lebih banyak laba-laba gitu di sini daripada di Delft! Setidaknya aku sudah membunuh tiga (ekor?) laba-laba deh di rumah selama sebulanan terakhir ini.

Ngomongin musim panas di Amsterdam, sekarang aku sudah memiliki pengalaman langsung dengan musim padat turis, yaitu musim panas, haha 😛 . Memang Amsterdam terasa banget berbeda di musim panas daripada di musim dingin, dimana rasanya ada jauh lebih banyak turis yang mengunjungi kota ini, bahkan di hari-hari kerja! Akibat yang aku rasakan langsung adalah transportasi umum yang jadi jauh lebih ramai sekarang ini! Untung deh aku sudah pindah ke Amsterdam sehingga aku tidak perlu menghadapi situasi ini untuk nglaju dari Delft ke Amsterdam! Hahaha 😆 .

#1965 – A Weekend in Berlin

ENGLISH

I went to Berlin for a weekend trip at the end of July. Here is the story of that trip.

Getting To/Back From Berlin

Deboarding a KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BCD at Berlin-Tegel Airport

I flew direct with KLM between Amsterdam and Berlin in both directions. There was not much to tell about my departure flight with PH-BCD, a KLM’s Boeing 737-800, which was a regular pleasant short-haul flight with KLM. My returning flight with PH-BGX, a KLM’s Boeing 737-700, however, was far more interesting because: I got upgraded to Europe Business Class, again! Yeay!! 😎

The main difference between the two cabins, IMO, is not the seat, as the seats in Europe Business Class are the same as in economy except with blocked middle seat and a bit of extra legroom. It is, definitely, the food service. The following were the services on my departure flight to Berlin in economy (left) and my return flight from Berlin in Europe Business Class (right):

Snack service in Economy Class

Service in Europe Business Class

Obviously Europe Business Class comes with a sparkling wine (champagne) as a drink option as well 😆 . After the meal the purser went around asking if we (the business class passengers) wanted anything else for a drink. I asked for a tea.

Btw, in business class the purser also referred me as “Mr. Zilko”. When she served my meal, she said something along the line as “Mr. Zilko, here is your meal, enjoy“; whereas in economy the flight attendants normally just use the neutral “Sir/Ma’m/Miss“.

Cheers from 41,000 feet

Berlin

As I said before, Berlin turned out to be a very vibrant and nice city that it immediately became my most favorite German city; and actually one of my most favorite European cities as well. Mostly it was the atmosphere, though, where it did not feel like “business-centric” a la Frankfurt or “too touristic”. I don’t know, it is a little bit difficult to describe. Another reason is obviously the very many interesting places across the very big city.

Alexanderplatz and Berlin Mitte

Berliner Dom, the cathedral of Berlin

Most of Berlin’s attractions are located in the Mitte area, stretching from Alexanderplatz in the east, possibly the busiest square in the city, to Tiergarten in the west. On Saturday, I walked all the way from Alexanderplatz up to the Siegessäule in Tiergarten, which I can tell you know was a long walk of almost 5 km. I walked for a total of around 15.2 km on Saturday, btw 😆 .

But indeed a long the way lied many of Berlin’s famous landmarks and architectures, such as the Berlin TV Tower, the cathedral of Berlin, and the Branderburg Gate. So unsurprisingly, this was probably the most touristy area of the city as well where I saw a lot of horse carriages and rickshaws running on the main street.

The famous Brandenburg Gate

Berlin Wall and the “Dark” History

Another aspect Berlin is famous (or, rather, infamous) for is its “dark” history. You must have heard about the existence of the Berlin Wall, a wall dividing the city into West and East Berlin during the Cold War that was torn down starting in 1989 thus unifiying the city back together. Part of that wall still exists and now becomes some sort of monument. I like the one in the east side, called the East Side Gallery, where one side of the wall is used for murals.

A remnant of the Berlin Wall which divided the city into West and East Berlin during the Cold War.

Another remnant of the cold war was Checkpoint Charlie, a Berlin Wall crossing point between the two parts of the city. The guard house still exists (sort of) and now becomes a tourist attraction. Even now there are actors dressed as allied military policemen standing in front of the guard house.

At the “Checkpoint Charlie” in Berlin

Not so far way from the Brandenburg Gate was the Holocaust Memorial, a memorial to the victims of the Holocaust. I really found the design of the memorials really beautiful and artsy which formed some sort of maze.

The Holocaust Memorial in Berlin.

Summer Heat

Anyway, going to Berlin in the middle of summer, I mistakenly did not expect a lot of heat. Well, this was actually due to the weather forecast from which I learned that it would be cloudy a lot during the weekend but low precipitation so I didn’t really need to bring an umbrella. However, I was wrong big time because not only that it was not cloudy, it was actually scorching hot and apparently at some point the temperature was:

38.5 Celsius!!

Crazy!! 😖

The Food

In general I liked the food in Berlin as well, also that overall I did not find it to be expensive (especially in comparison to the Netherlands). However, though, I felt like the waiters there were very “forefront” about tipping, even directly asking me how much I would tip them. I am not sure if this was because probably I dined in touristy area or so. But for those more familiar with Berlin, is this really the general practice there? I mean, in other German cities I have been to, I never experienced this straight-forwardness.

Currywurst in Berlin.

Anyway, I really liked the gourmet-ish currywurst that I had in my first afternoon there. It came with fries and salad, so it did not taste anything like the “cheap” currywurst sold on the street in the entire Germany. It tasted much more “proper”, in my opinion 😛 . Other than that, though, I had an Argentinian steak and a schnitzel during my stay there. The steak was great, but the schnitzel was standard.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi ke Berlin untuk sebuah perjalanan akhir pekan di akhir Juli. Berikut ini ceritanya.

Pergi ke/dari Berlin

Turun dari pesawat Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BCD di Bandara Berlin-Tegel.

Aku terbang langsung dengan KLM di perjalanan ke Berlin dan kembalinya. Nggak banyak sih yang ingin kuceritakan dari penerbangan keberangkatanku dengan PH-BCD, sebuah Boeing 737-800nya KLM, yang mana merupakan penerbangan reguler yang nyaman dengan KLM di rute jarak pendek. Penerbangan kepulangannya dengan PH-BGX, sebuah Boeing 737-700nya KLM, tapinya, jauh lebih menarik karena: aku di-upgrade ke Kelas Bisnis Eropa, lagi dong! Horee!! 😎

Perbedaan utama dari dua kabin ini, menurutku, bukanlah kursinya, karena kursi di Kelas Bisnis Eropa itu pada dasarnya sama aja kayak kursi di kelas ekonomi tetapi kursi tengahnya dikosongi dan dengan legroom yang lebih lapang. Perbedaan utamanya jelaslah di layanan makanannya. Berikut ini adalah layanan di penerbangan keberangkatanku ke Berlin di kelas ekonomi (kiri) dan penerbangan kepulanganku dari Berlin di kelas bisnis Eropa (kanan):

Layanan makanan di kelas ekonomi

Layanan makanan di kelas bisnis Eropa

Jelas lah ya kelas bisnis Eropa juga menawarkan champagne sebagai salah satu pilihan minumannya, haha 😆 . Dan setelah selesai makan, purser-nya berkeliling bertanya apakah kami (penumpang kelas bisnis) ingin minum apa lagi gitu. Aku meminta segelas teh hangat.

Btw, di kelas bisnis purser-nya juga memanggilku dengan sebutan “Mr. Zilko” loh. Ketika menyajikan makananku, ia kurang lebih berkata “Mr. Zilko, here is your meal, enjoy“; sementara kalau di ekonomi kan paling pramugari/a-nya menggunakan panggilan netral semacam “Sir/Ma’m/Miss” gitu ya, haha.

Cheers dari ketinggian 41.000 kaki

Berlin

Seperti yang sudah kusebutkan, ternyata Berlin adalah kota yang hidup banget dan asyik sehingga otomatis langsung menjadi kota di Jerman favoritku; dan bahkan sebagai salah satu kota favoritku di Eropa loh. Utamanya karena atmosfernya sih, asyik banget gitu dimana tidak terasa “bisnis banget” a la Frankfurt tetapi tidak juga “terlalu touristy“. Hmm, memang cukup sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata, haha. Salah satu alasan lainnya jelas karena ada banyak banget tempat menarik di kota yang berukuran besar ini.

Alexanderplatz dan Berlin Mitte

Berliner Dom, katedralnya Berlin

Kebanyakan atraksinya Berlin berada di area Mitte, yang terentang dari Alexanderplatz di timur, mungkin lapangan paling sibuknya Berlin, sampai ke Tiergarten di barat. Di hari Sabtu, aku berjalan-kaki loh dari Alexanderplatz sampai Siegessäule di Tiergarten, yang mana ternyata jauh juga dimana jaraknya hampir 5 km. Btw hari Sabtu itu aku berjalan-kaki sejauh sekitar 15,2 km loh totalnya, haha 😆 .

Tetapi memang kok di sepanjang jalan ini banyak banget landmark-nya Berlin yang kece-kece, misalnya Menara TVnya Berlin, katedralnya Berlin, dan juga Gerbang Brandenburg. Jadi, tidak mengherankan, area ini mungkin adalah area yang paling touristy di kota ini dimana aku banyak melihat kereta kuda dan becak juga di jalanannya.

Gerbang Brandenburg yang terkenal itu

Tembok Berlin dan Sejarah “Kelam”

Satu aspek lain yang terkenal dari Berlin adalah sejarah “kelam”-nya. Pasti pernah dengan kan mengenai keberadaan Tembok Brlin, sebuah tembok yang membagi kotanya menjadi Berlin Barat dan Timur sewaktu Perang Dingin dan diruntuhkan mulai tahun 1989 sehingga kotanya bersatu kembali. Nah, sebagian dari tembok itu masih berdiri dan sekarang dijadikan monumen. Aku suka bagiannya di sisi timur, yang disebut East Side Gallery, dimana salah satu sisi temboknya diisi banyak mural.

Satu peninggalan Tembok Berlin yang membagi kotanya menjadi Berlin Barat dan Timur sewaktu Perang Dingin.

Satu peninggalan dari Perang Dingin lainnya adalah Checkpoint Charlie, tempat penyeberangan Tembok Berlin di antara kedua bagian kota. Bangunan penjagaannya masih ada (kurang lebih begitu) dan kini menjadi atraksi turis, haha. Bahkan ada aktor yang berkostum sebagai polisi militernya Sekutu di sana loh.

Di “Checkpoint Charlie” di Berlin

Tak jauh dari Gerbang Brandenburg adalah Holocaust Memorial, tempat untuk mengenang korban dari Holocaust. Aku suka sekali disainnya yang bagiku nampak indah dan berseni sekali yang membentuk semacam labirin.

Holocaust Memorial di Berlin.

Panasnya musim panas

Anyway, pergi ke Berlin di tengah-tengah musim panas, aku malah tidak mempersiapkan diri akan panasnya loh. Ya habis gimana, ramalan cuacanya mengatakan cuaca akan mendung tetapi curah hujan rendah sehingga aku tidak perlu membawa payung. Ternyata, aku salah banget karena selain cuacanya tidak mendung, malah panas banget loh dan ternyata di satu waktu mencapai:

38,5 derajat Celsius!!

Gila kaaan!! 😖

Makanannya

Secara umum aku juga suka makanan di Berlin, apalagi bagiku rasanya tidak terlalu mahal (jika dibandingkan dengan Belanda), haha. Namun, aku kok merasa pelayan-pelayannya cukup agresif juga ya dalam hal meminta tips, bahkan bertanya langsung kepadaku aku ingin memberikan tips berapa. Aku nggak tahu sih apakah ini disebabkan aku makan di tempat-tempat yang banyak turisnya atau gimana. Bagi yang familer dengan Berlin, apakah memang seperti itu di sana? Soalnya, di kota-kota Jerman lainnya, aku tidak pernah menghadapi situasi se-straight-forward ini.

Currywurst di Berlin.

Anyway, aku suka banget currywurst yang nampak lebih gourmet sebagai makan siang pertamaku di sana. Sosisnya disajikan dengan kentang goreng dan salad, dan tidak terasa seperti currywurst “murahan” yang banyak dijual di jalanan di seluruh Jerman. Rasanya lebih “proper” gitu, haha. Selain itu, aku malah makan steak ala Argentina dan schnitzel. Steak-nya sendiri enak tetapi schnitzelnya standar lah.

#1955 – Some June Stories from Work

ENGLISH

In general, we in the Netherlands were quite lucky with the weather in June where there were quite many days with great summer weather! This was perfect because there were several summer events organized by my office in June which became much more fun with the summer weather 😀 .

A Day Out

My department organized a Day Out on a Friday in mid-June. The event was held in Westergasfabriek, a former gasworksfactory that is now used to host events, which was really, really cool!! 😀 For instance, here is how the main presentation room looked like:

Westergasfabriek

The day was filled with presentations (ranging from the very serious business-related presentations to the more relaxed working-environment-related presentations), which I found interesting and useful.

The presentations were followed with a big pub quiz, where we were randomly assigned to a team (in total there were about 170 teams). Of course there were some prizes for the winner (including a trophy, haha). My team finished the quiz ranked 17th, not bad, I guess, haha.

Obviously they had to ask the classic Monty Hall problem, which I hit a homerun on obviously *looking at my Bachelor’s, Master’s, and Doctoral’s diplomas* 😛

And to close the day was a barbeque for dinner, which was quite nice (especially the chicken that was really good!).

BBQ

Speaking of barbeque, some of my colleagues decided to organize another barbeque event to enjoy the (rare) summer weather. Unfortunately the timing did not work for me because I had to supervise the mini-renovation work I had in my apartment that time. Well…

Summer Party

And to top it all off, my office organized a summer party on the last Friday of the month! It was held literally after work, at the Kromhouthal, a former factory still “equipped” with the original steel-clad pillars and cranes (Yeah, there are so many cool places for events in Amsterdam! 😉 ).

However, as I previously shared, my plan to attend the party was ruined because of a delivery. I had to miss the party and now I regret about it a lot because of my colleagues’ descriptions about it; that was awesome!! Well, but I guess I just need to suck it up as we can’t get everything we want in life anyway. Attending this party might be one of those for me, haha…

BAHASA INDONESIA

Secara umum, kami di Belanda cukup beruntung dalam hal cuaca di sepanjang bulan Juni dimana ada cukup banyak hari dengan cuaca musim panas yang oke! Ini pas banget karena kantorku juga mengadakan beberapa acara musim panas di sepanjang bulan Juni yang menjadi semakin asyik dengan cuaca musim panas itu 😀 .

Sebuah Day Out

Departemenku mengadakan sebuah Day Out di sebuah Jumat di pertengahan Juni. Acaranya diadakan di Westergasfabriek, dulunya sebuah tempat pengelolaan gas gitu yang sekarang digunakan untuk mengadakan acara-acara, yang mana tempatnya kece banget!! 😀 Misalnya, berikut ini penampakan ruang presentasi utamanya:

Westergasfabriek

Hari itu dipenuhi oleh presentasi-presentasi (yang materinya bervariasi dari presentasi mengenai bisnis yang serius hingga yang lebih santai seperti misalnya tentang suasana pekerjaan di kantor), yang mana bagiku menarik dan berguna juga.

Setelah presentasi-presentasinya selesai, sebuah pub quiz diadakan, dimana secara acak kami dimasukkan ke dalam tim (totalnya ada sekitar 170an tim). Tentu saja ada hadiah bagi pemenang kuisnya (termasuk piala segala loh, haha). Pada akhirnya, timku mengakhiri kuis di posisi 17, lumayan lah ya, haha.

Jelas dong salah satu pertanyaannya adalah masalah Monty Hall yang klasik itu, yang mana jelas aku jawab dengan amat mudah *melirik ijazah S1, S2, dan S3-ku* 😛

Dan hari itu ditutup dengan barbeque untuk makan malam, yang mana lumayan oke juga (terutama barbeque ayamnya yang mana enak banget!).

BBQ

Ngomongin barbeque, beberapa kolegaku mengadakan acara barbeque sendiri gitu untuk menikmati cuaca musim panas (yang jarang itu). Sayangnya, waktunya kurang pas bagiku karena hari itu aku harus mengawasi pekerjaan renovasi mini di apartemenku. Yah…

Summer Party

Dan untuk mengakhiri itu semua, kantorku mengadakan sebuah summer party di hari Jumat terakhir bulan itu! Acaranya diadakan tepat setelah jam kerja, di Kromhouthal, sebuah tempat yang dulunya pabrik dan masih “dilengkapi” dengan pilar-pilar besi dan dereknya gitu (Iya, memang ada banyak banget tempat-tempat kece di Amsterdam untuk mengadakan suatu acara! 😉 ).

Namun, seperti yang sebelumnya aku ceritakan, rencanaku untuk menghadiri summer party ini gagal total dikarenakan sebuah pengiriman barang. Aku harus melewatkan pestanya dan sekarang aku sungguh menyesalinya karena kolegaku bercerita bagaimana seru acaranya berlangsung!! Ah, aku rasa sebaiknya aku move on aja karena toh nggak semua yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan kan. Menghadiri pesta ini mungkin adalah salah satunya, haha…

#1941 – Summer Solstice 2017

ENGLISH

This Wednesday was the summer solstice this year, i.e. the longest day of the year.

You see, one feature of summer that I really like is the longer days. And this Wednesday was the peak for that, when it looked like this at 10:30 PM:

10:30 PM in Amsterdam during summer solstice this year

Since then, the days are getting shorter and shorter until we hit the winter solstice in December.

So naturally, the day of the summer solstice is one of my most favorite days in a year. You can even trace that here in this blog where I write about it every year, haha 😆 . Which brings me to last year’s summer solstice because for whatever reason, I feel nostalgic for this day last year. Even though that day was just a regular day in my life.

At the time I was very busy working on my PhD dissertation and preparing my sabbatical month in September. I decided to make that day my cardio day where I went biking in the evening to the Delftse Hout. Yeah, for whatever reason, I remembered that day. Well, probably because a lot have happened in my life in between, haha.

One of which was getting my PhD degree 😀

Anyway, yeah, so we have now just entered the less favorite half of the year for me where days are getting shorter and shorter each day. Haha…

Speaking of the weather, though, there was a yellow warning for hot temperature in the Netherlands earlier this week. Apparently, a heat wave is striking the country (and Europe) now. And this is the reason why summer cannot be my most favorite season of all, haha (I hate the heat 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Hari Rabu ini adalah summer solstice tahun ini, yaitu hari dengan siang terpanjang dalam satu tahun.

Jadi salah satu karakteristik musim panas yang kusukai adalah siangnya yang lama. Dan hari Rabu kemarin ini adalah puncaknya, dimana suasana jam 10:30 malam adalah seperti ini:

Jam 10:30 malam di Amsterdam di waktu summer solstice tahun ini

Semenjak itu, setiap hari siang selalu bertambah pendek hingga kita mencapai winter solstice bulan Desember nanti.

Nah, jadi jelas dong hari summer solstice adalah salah satu hari terfavoritku dalam satu tahun. Ini juga nampak kok di blog ini dimana aku selalu menuliskannya setiap tahun, haha 😆 . Yang mana membawaku ke hari summer solstice tahun lalu karena, entah mengapa, aku merasa nostalgia banget dengan hari ini tahun lalu. Padahal sebenarnya hari itu adalah hari yang biasa-biasa saja.

Waktu itu aku sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan disertasi PhD/S3ku dan juga mempersiapkan acara sabatikalku di bulan September. Hari itu aku tetapkan sebagai hari kardio dimana aku bersepeda di malam harinya ke Delftse Hout. Iya, entah mengapa, aku teringat hari itu deh. Yah, mungkin karena banyak yang terjadi di hidupku selama satu tahun belakangan ini ya, haha.

Yang mana salah satunya adalah mendapatkan gelar PhD (S3)-ku 😀 .

Anyway, iya, jadi sekarang kita sudah memasuki periode setengah tahun yang bukan favoritku dimana siang bertambah pendek terus setiap hari. Haha…

Ngomongin cuaca, minggu ini ada peringatan kuning untuk suhu udara yang sangat panas di Belanda. Ternyata, gelombang panas sedang menerjang negeri ini (dan Eropa) sekarang. Dan ini lah alasan mengapa musim panas bukan lah musim favoritku, haha (Aku benci cuaca panas 😛 ).