Thoughts · Zilko's Life

#1966 – No More Student Discount

ENGLISH

No longer being a student, I guess I need to make peace with the situation where I no longer can expect to get student discounts, lol 😆 . Look, obviously I prefer my situation now where I can afford more stuffs than during my student years. But still, there are times when I miss it.

Take my new membership at a tennis club nearby my place, for instance. When I first looked at how much the membership fee was, I was startled by it. I mean, I could afford it, of course, but it was a lot more than what I paid before. But then I remembered that “before”, I was a student (or was counted as one) so I could get all the benefits that came with it.

Tennis clay courts inside the balloon in TU Delft

You see, my previous tennis membership was at TU Delft’s Sports Centre; that was obviously highly subsidized by the university. In 2011, I joined the club as a Master student. I started my PhD in 2012 and while I got a full employment contract for that, the Sports Centre still recognized me as a student so I was still allowed the student price. Even then, during the first two years of my PhD TU Delft provided the “well-being allowance” for its employees. So basically my membership during those first two years was “free” because I could claim it back, haha. Why only the first two years, btw? Well, the financial situation (that was impacted by the European monetary crisis) was not getting much better so the university needed to cut cost here and there; one of which was this allowance. But still, with the student price, it was okay.

Back to present time, my new membership at the tennis club (including the lessons and everything) costs about seven times as much as my TU Delft one. Even then, technically I “only” get tennis while at TU Delft, I could use all the sports facilities there (football, hockey, volley ball, beach volley ball, badminton, basketball, etc), except the gym (which would have cost extra).

But indeed this is how things should work. I mean, I can afford it anyway so I definitely should not complain for not getting a subsidy. After all, I prefer being able to afford things than having to rely on subsidies 😛 .

In Paris for Roland Garros this year.

BAHASA INDONESIA

Bukan lagi pelajar/mahasiswa, aku harus berdamai dengan situasi dimana aku tidak lagi bisa mengharapkan mendapatkan diskon pelajar, haha 😆 . Begini, jelas dong aku lebih menyukai situasiku sekarang dimana aku lebih mampu secara finansial daripada waktu-waktuku dulu sebagai pelajar. Tetapi tetap aja rasanya kadang-kadang kangen gitu.

Mari kita ambil keanggotaan baruku di sebuah klub tenis di dekat rumahku sebagai contoh. Ketika aku pertama kali melihat biaya keanggotaannya, aku kaget sekali. Maksudku, aku mampu sih untuk membayarnya, tetapi biayanya jauh lebih besar daripada yang kubayarkan sebelumnya. Tetapi aku kemudian teringat bahwa “sebelumnya”, aku adalah pelajar/mahasiswa (atau dianggap demikian) sehingga aku juga bisa menikmati keuntungan yang datang dengannya.

Lapangan tenis tanah liat di dalam balon di TU Delft.

Keanggotaan tenisku sebelumnya adalah di Sports Centre-nya TU Delft; yang mana jelas dong disubsidi universitas. Di tahun 2011, aku bergabung sebagai mahasiswa Master/S2. Posisi PhD/S3-ku aku mulai di tahun 2012 dan walaupun aku mendapatkan kontrak kerja penuh untuknya, Sports Centre masih menghitungku sebagai mahasiswa sehingga aku masih diperbolehkan membayar harga pelajar. Itu pun di dua tahun pertama PhDku, TU Delft masih memberikan “tunjangan kesehatan” bagi karyawan-karyawannya. Jadi pada dasarnya keanggotaanku di dua tahun pertama itu “gratis” karena biayanya bisa aku klaim ke kantor, haha. Kok cuma dua tahun saja, ngomong-ngomong? Ya, soalnya kondisi finansial universitas (yang terkena dampak krisis moneter di Eropa) tidak kunjung membaik sehingga mereka harus memangkas biaya di sana-sini; salah satunya yang kena pangkas adalah tunjangan ini. Toh walaupun begitu, dengan harga pelajar mah nggak masalah banget lah.

Kembali ke masa kini, keanggotaan baruku di klub tenis ini (termasuk biaya les dan segalanya) adalah sekitar tujuh kali lipat daripada yang aku bayarkan ke TU Delft. Begitu pun, dengan keanggotaan ini aku “cuma” mendapatkan tenis saja padahal di TU Delft, aku bisa menggunakan semua fasilitas olahraga di sana (sepakbola, hockey, voli, voli pantai, bulu tangkis, basket, dll), kecuali gym (ada biaya ekstra untuk gym).

Ya tetapi memang begini sih ya yang benar. Maksudku, toh aku mampu untuknya sehingga aku tidak boleh protes karena tidak mendapatkan subsidi kan ya. Toh aku juga lebih memilih untuk mampu melakukan ini-itu daripada harus bergantung kepada yang namanya subsidi 😛 .

Di Paris untuk Roland Garros tahun ini.
Advertisements
Random Thoughts · Thoughts

#1200 – Photocopymen

ENGLISH

People who (maybe) are often taken for granted in Indonesia are the photocopymen (or women). Students or undergraduate students or graduate students often use their service. From copying papers, copying notes or books, binding together reports, thesis, etc.

How about here in the Netherlands? Well, there is no such service (at least not that I know of). For example, for my Master thesis defense in August last year, I had to bind together five copies of my thesis, and yes, myself. There is even a big desk with plenty of stuffs on it for students to do this kind of thing themselves in my building.

Yeah, this post will be a short one. Actually I was about to post one last night but decided to not to as after some closer looks, I didn’t think the materials were publishable, hahaha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Mereka yang (mungkin) sering terlupakan di Indonesia adalah tukang fotokopi. Pelajar atau mahasiswa pasti banyak menggunakan jasa mereka. Mulai dari sekedar mengopi berkas-berkas, mengopi catatan atau buku, menjilid laporan atau skripsi, dll.

Bagaimanakah dengan di Belanda? Ya, nggak ada loh layanan semacam itu (atau setidaknya setahuku sih nggak ada ya). Contohnya, untuk sidang thesis S2-ku Agustus tahun lalu, aku harus menjilid lima kopi thesisku, dan ya, semuanya harus aku lakukan sendiri. Bahkan ada meja besar yang di atasnya penuh berisi alat-alat yang bisa digunakan para mahasiswa untuk melakukan hal-hal ini loh di gedungku.

Ya, ini adalah posting yang singkat deh. Sebenarnya semalam aku sudah nyaris mem-posting satu sih tapi akhirnya nggak jadi karena setelah dipikir-pikir materinya nggak mau aku publish buat umum, hahaha 😆 .

General Life · My Student Life · Zilko's Life

#1128 – Tale of the Weekend

ENGLISH

My weekend was more than just going to Den Haag to buy a flap case for my new smartphone. In Den Haag, I also stopped by at the orientalmarkt there to buy some stuffs for a small dinner party I was hosting later on that Saturday. Anyway, this visit to the orientalmarkt made me think that, apparently, the orientalmarkt in Delft had more product variety than the one in Den Haag though, hmmm.

Small Party

Anyway, so I was hosting a small party in my apartment last Saturday. It was kind of a “farewell” party for the MSc program I had the past two years. You know, after this MSc program ended, life would take each of us to different locations in the world for different opportunities. And so I thought that while (most of) my friends (I made through this MSc program) were still here in the Netherlands, we could have like one last small dinner party.

Obviously not all of us will stay in the Netherlands. In fact, Donghua has already moved to Copenhagen. Diana is going to move there as well later on this week. Dan is going back to Romania. Dana, Liuxin, and Qian are looking for jobs in the Netherlands. If they find something, of course they will stay; if they don’t, well, noone knows. Boris, Carolyn, Nikita (though he never came to any party nor any social activity we did even though we always invited him), and myself are definitely staying as the four of us are doing PhD in the Netherlands. Yeah, see? Life has already started to do its “thing”: bringing people to different directions.

Anyway, enough for the melancholic stuff. So for the party, of course, I decided to cook something. Well, I did not plan to cook that much though so I just cooked two dishes: fried noodle and rendang, huahaha 😆 . There was not so much to write here as I often cooked these two dishes when we had this kind of dinner party. So it was nothing new for me, except that I accidentally put too much salt in the rendang which caused me to add extra water (to neutralize the extra saltiness) which as an effect, the sauce became a bit too watery, huahaha 😆 .

Cleaning Duty

Beside hosting a party and going to Den Haag, I also had another duties this weekend: to clean the apartment and to wash my laundry! 😯 Huahaha, yeah, so many things to do indeed 😆 . I washed my laundry on Friday evening (so that my Saturday and Sunday would not be too full of activities) and cleaned the apartment on Sunday…

Speaking of my apartment, I wrote here last week that one of my roommates moved out. Well, later on last week, a new roommate moved in, huahaha 😆 . He is from China and he just moved to the Netherlands for a PhD position this week.

Meals at the dinner party
Dinner party (Boris taking the picture)

BAHASA INDONESIA

Akhir pekanku lebih dari sekedar pergi ke Den Haag buat beli flap case untuk smartphone baruku. Di Den Haag, aku sekalian mampir di orientalmarkt untuk membeli beberapa barang sebagai persiapan untuk sebuah party makan malam kecil yang mana aku adalah tuan rumahnya Sabtu malamnya itu. Anyway, kunjungan ke orientalmarkt ini membuatku berpikir bahwa, ternyata, orientalmarkt yang di Delft itu barangnya lebih bervariasi daripada yang di Den Haag loh, hmmm.

Party Kecil

Anyway, jadi, aku menjadi tuan rumah party kecil Sabtu lalu. Party ini ya semacam party “perpisahan” gitu deh untuk program S2 yang kujalani dua tahun belakangan ini. Ngerti lah ya, setelah program S2 ini berakhir, misteri kehidupan akan membawa masing-masing dari kami ke lokasi-lokasi yang berbeda di dunia ini dengan berbagai macam kesempatan yang berbeda. Dan jadilah aku berpikir bahwa mumpung (sebagian besar) teman-temanku (yang aku kenal melalui program S2 ini) masih di Belanda, ya kami bisa mengadakan satu party makan malam terakhir kan.

Tentu saja tidak semua dari kami akan tinggal di Belanda. Malahan, Donghua sudah pindah ke Copenhagen. Diana juga akan pindah kesana nanti di minggu ini. Dan akan pulang ke Romania. Dana, Liuxin, dan Qian sedang berusaha mencari pekerjaan di Belanda. Kalau mereka mendapat sesuatu, ya mereka akan tinggal; kalau enggak, ya nggak tahu deh. Boris, Carolyn, Nikita (walau dia nggak pernah datang sih di party atau aktivitas apa yang kami lakukan gitu, padahal dia sudah selalu diundang loh), dan aku jelas akan tinggal disini karena kami berempat mengambil PhD di Belanda. Nah, lihat kan? Hidup sudah mulai melakukan apa yang ia selalu lakukan: membawa orang-orang ke berbagai macam tujuan yang berlainan.

Anyway, cukup ah ngomongin hal melankolisnya. Untuk party-nya, jelas dong aku memutuskan untuk memasak sesuatu. Yah, aku nggak berencana untuk masak banyak-banyak sih sehingga aku masak dua menu saja: mi goreng dan rendang, huahaha 😆 . Nggak banyak deh yang bisa ditulis disini karena aku sudah sering masak dua menu ini di party-party makan malam semacam ini. Jadi ya nggak baru gitu deh, kecuali kalau kemarin ini aku tidak sengaja memasukkan terlalu banyak garam ke rendangnya sehingga aku jadi harus menambah ekstra air (untuk menetralisasi keasinannya) yang mana sebagai akibatnya, kuahnya jadi agak terlalu encer deh, huahaha 😆 .

Bersih-bersih

Di samping menjadi tuan rumah sebuah party dan pergi ke Den Haag, aku juga ada dua kewajiban lainnya loh akhir pekan ini: bersih-bersih apartemen dan mencuci pakaian-pakaianku! 😯 Huahaha, banyak banget kan kerjaannya, 😆 . Aku mencuci pakaian-pakaianku di Jumat malam (supaya aku nggak terlalu sibuk di hari Sabtu dan Minggunya) dan membersihkan apartemen di hari Minggu…

Ngomongin apartemenku, kutulis disini minggu lalu bahwa salah satu roommates-ku pindah kan. Nah, kemudian di minggu yang sama, ada satu roommate baru yang datang loh, huahaha 😆 . Ia baru saja datang dari China minggu ini untuk sebuah posisi PhD di Belanda gitu.

My Student Life · Zilko's Life

#1111 – Master of Science

ENGLISH

As I said before, I was having my thesis defense for my Master study on 15 August, 2012; which was today. And so, yes, I had my thesis defense earlier today. And because I chose to have an ‘individual graduation ceremony’, I also received my diploma today. And how was it?? Well, first of all:

I passed and got the M.Sc title

Obviously (hahaha :P), I passed the thesis defense and in the end I got the M.Sc title. So yeah, I can use that title behind my name now. And btw, because I also completed this two year programme in the Netherlands, apparently I am also entitled for the equivalent title in the Dutch educational system, which is ‘Ingenieur’ (or ‘IR’). Yeah, it is the same ‘IR’ title as some people who graduated from technical programmes in Indonesia obtained prior to the 1990s (I think ❓ ). So actually ‘IR’ is equivalent to a Master level study…

Anyway, how was the thesis defense itself? Well, it went excellently well, hehehe. As I said previously, I was not nervous at all going to the defense, except that I would have a 40-minute presentation session while when I practiced, I took like 53 minutes for the whole presentation, hahaha 😆 . But I managed to compress some slides and omitted some of the less-important ones. Aside from the unexpected technical problem with the room I booked (of course this was out of my control) which caused us to change room for the thesis defense, it went really well. I presented well and smoothly, well of course a few things could have been better but this is always the case in any presentations one performs anyway, and I think I answered the questions from the thesis committees well. And I was not feeling nervous at all during the defense, which kinda surprised me a little bit but I was really glad with it, hahaha.

Cum Laude

Anyway, now it is already the time to reveal the second target I have had for the past many months or so. This second target is “to graduate with Distinction (Cum Laude) predicate”, huahaha 😆 . I have been working like crazy the past one year to achieve this target. And after getting a 9 as my thesis’ grade, I finally achieved this. Hardwork (or smartwork) does pay off people, trust me!! 🙂 😎

In TU Delft (at least at my faculty, I think maybe other faculties have different rules or policies regarding this), to graduate with this predicate, a student has to fulfill three criteria: (1) to finish the Master study not longer than two years; (2) to get a minimum grade of 9 in the Master thesis; and (3) to have an average grade of minimum 8 in all courses not including the thesis. And in a university which is known to be “stingy” in grading, where a lot of students are (sometimes) thankful for getting a 6 (because it means they pass the course), fulfilling the third criterion has been very challenging for me :). Well, it may not be that ‘challenging’ if you are a genius (one of my colleagues is, I would say, a genius btw, where he always got like 9, 9.5, 8.5, 10 in his grades, hahaha. He is Russian btw). And I am glad that in the end I managed to achieve it.

Raising the Target

Actually, when I first came to TU Delft two years ago, honestly, I did not go for this Cum Laude predicate. My mindset at the time was to graduate on time, because my scholarship only covered two years of my study at TU Delft (which was a standard study period for an M.Sc programme here). If my study duration extended longer than that period, I would have to pay the ‘excess’ myself; and I did not want to do that. Wouldn’t the money be better spent on something else?? huahaha 😆 . So, I was, sort of, in this mindset during the first year of my study. But after one year passed, especially after passing this super crazy exam last year, I evaluated my performance up to that point. And it turned out to be well; unless I did something stupid or crazy, I would be able to graduate on time. At this point, I also realized that this Cum Laude predicate was well within reach. Well, of course I had to work hard for the thesis to get that 9 grade (I had not started my thesis yet at this point last year); but aside from that, I would also have to do something to make my average grade to be at least 8. And it was not impossible, mathematically. But of course I had to work hard (or ‘smart’ as I prefer to call it) to achieve it. So I made some strategies and executed them with the hope of achieving that target in the end. And in the end, obviously, I succeeded, hahaha…

Well, why did I raise my target there and not be ‘happy’ with the first target which was already, practically, in my hand?? Well, first of all, it was a challenge for myself, hehe 🙂 Beside, I think it is ‘easier’ to be even more motivated to work on something when there is a target (or reward) to reach at the end of the work, right? Second of all, in my opinion, being able to accomplish the Cum Laude predicate is something that is very wonderful and a big privilege, of course. It is, sort of, a testament that we have been taking our study very seriously and working hard on that; and this distinction is the fruit of that. Well, I am not saying people without this title are not hard-working. This title is just one of many possible indications of someone’s hardwork. 🙂 Third of all, because it was possible for me to grab this distinction, I was thinking that I should just, at least, try. I might not get it in the end, but at least I have tried. I knew I would regret it in the future if I just gave it up withouth a ‘fight’, hehehe 🙂

***

Anyway, this post turns out to be much longer than I expected before, so I think I should stop here. So anyway, yeah, I am free now! 🙂

BAHASA INDONESIA

Seperti yang kubilang sebelumnya, aku menghadapi sidang tesis untuk masa studi S2-ku di tanggal 15 Agustus 2012; yang mana hari ini dong ya. Dan jadilah tadi pagi aku sidang tesis gitu deh. Dan karena aku memilih ‘individual graduation ceremony‘, aku juga telah menerima ijazahku hari ini. Dan bagaimanakah acaranya tadi?? Ya, pertama-tama:

Aku lulus dan mendapatkan gelar M.Sc

Tentu saja (hahaha :P) aku lulus sidang tesisnya dan pada akhirnya aku mendapatkan gelar M.Sc itu. Jadi, ya, aku bisa menggunakan gelar itu di belakang namaku sekarang. Dan btw, karena aku menyelesaikan program S2 selama dua tahun ini di Belanda, ternyata aku juga berhak mendapatkan gelar ekuivalennya dalam sistem pendidikan Belanda loh, yang mana adalah ‘Ingenieur’ (atau disingkat ‘IR’). Ya, memang ini adalah ‘IR’ yang sama dengan gelar yang didapat lulusan sekolah teknik di Indonesia sebelum tahun 1990an sih (kayaknya ya ❓ ). Jadi, sebenarnya gelar ‘IR’ itu setara dengan level S2 loh…

Anyway, bagaimanakah sidang tesisnya? Yah, sidangnya berjalan dengan sangat amat lancar, hehehe. Seperti yang kubilang sebelumnya, aku tidak merasa gugup sama sekali loh sebelum sidang, kecuali bahwa aku akan memiliki waktu presentasi selama 40 menit sementara pada saat latihan, aku membutuhkan waktu 53 menit dong untuk keseluruhan presentasinya, hahaha 😆 . Jadilah aku mempersingkat beberapa slide dan membuang beberapa yang relatif tidak terlalu penting. Di samping masalah teknis tak disangka-sangka dengan ruangan yang aku pesan (tentu saja ini di luar kontrolku ya) yang menyebabkan kami harus pindah ke ruangan lain, presentasinya berjalan dengan amat lancar. Aku presentasi dengan baik dan mulus, yah tentu saja ada beberapa hal yang mungkin bisa lebih baik lah ya tapi toh ini adalah kasus di presentasi apa pun yang dilakukan semua orang, dan aku rasa aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anggota komite tesisku dengan baik. Dan aku nggak merasa gugup sama sekali loh selama sidang, yang mana cukup mengejutkanku juga, dan aku bangga karenanya, hahaha.

Cum Laude

Anyway, sekarang adalah saatnya untuk mengungkapkan target kedua yang sudah aku incar selama banyak bulan belakangan ini. Target ini adalah “untuk lulus dengan pujian (predikat Cum Laude)”, huahaha 😆 . Aku sudah bekerja gila-gilaan dah setahun terakhir ini untuk mencapai target ini. Dan setelah mendapatkan nilai 9 di tesisku tadi, akhirnya target ini tercapai juga. Kerja keras (atau kerja cerdas) bener-bener akan membuahkan hasil loh, percaya deh!! 🙂 😎

Di TU Delft (atau setidaknya di fakultasku sih, karena sepertinya sih fakultas-fakultas lain gitu memiliki kebijakannya sendiri tentang ini), untuk lulus dengan predikat ini, seorang mahasiswa harus memenuhi tiga kriteria ini: (1) menyelesaikan program S2 tidak lebih dari dua tahun; (2) mendapatkan nilai minimal 9 di tesis S2-nya; dan (3) mendapatkan nilai rata-rata minimal 8 di semua mata kuliah yang diambil tidak termasuk tesis. Dan di sebuah universitas yang dikenal “pelit banget” dalam hal pemberian nilai, dimana banyak mahasiswa yang (kadang) bakal bersyukur banget kalau sudah mendapat nilai 6 (soalnya artinya mereka lulus), kriteria ketiga itu cukup menantang bagiku :). Eh, tapinya kalau jenius sih mungkin nggak terlalu ‘menantang’ ya (ada loh satu kolegaku yang, menurutku, jenius banget, dimana nilainya itu selalu 9, 9.5, 8.5, 10 gitu deh, hahaha. Dia orang Rusia btw). Dan akhirnya aku lega karena pada akhirnya aku berhasil mencapainya.

Menaikkan Target

Sebenarnya, ketika aku pertama kali tiba di TU Delft dua tahun yang lalu, jujur ya, aku tidak mengejar predikat Cum Laude ini. Yang ada dalam pikiranku waktu itu adalah untuk lulus tepat waktu, karena beasiswaku kan hanya meng-cover masa studi selama dua tahun di TU Delft (yang mana merupakan masa studi standar untuk sebuah program S2 disini). Nah, kalau masa studiku melebihi ini, ya ‘kelebihannya’ itu aku harus bayar sendiri deh; dan tentunya aku nggak mau begitu dong. Uangnya mending buat yang lain aja kan?? huahaha 😆 . Jadi, ya, selama setahun pertama aku berada pada mindset ini. Namun, setelah setahun berlalu, terutama setelah aku lulus ujian yang gila ini tahun lalu, aku mengevaluasi performaku sampai saat itu. Dan ternyata, hasil yang sudah aku dapatkan bagus juga; kecuali aku melakukan suatu hal tolol atau gila, aku akan lulus tepat waktu. Nah, di waktu ini, aku juga menyadari bahwa predikat Cum Laude ini berada dalam jangkauan untuk bisa diraih. Ya, tentu saja aku harus bekerja keras supaya mendapatkan nilai 9 di tesis itu (kan setahun lalu aku belum mulai mengerjakan tesis); dan di samping itu, aku juga harus melakukan sesuatu agar nilai rata-rataku 8. Dan ini bukannya tidak mungkin ya, setidaknya secara perhitungan matematis. Tapi tentu saja aku harus bekerja keras (atau aku lebih suka menyebutnya bekerja ‘cerdas’) untuk mencapainya. Jadilah aku membuat beberapa strategi dan menjalankannya dengan harapan target tercapai. Dan akhirnya, jelaslah, targetnya berhasil tercapai, hahaha…

Eh, kenapa sih kok aku menaikkan target seperti itu dan nggak ‘puas’ dengan target pertama yang, pada dasarnya, sudah berada di genggaman tangan?? Hmm, pertama-tama, tentu ini adalah untuk memberikan tantangan gitu deh, hehe 🙂 Di samping itu, rasanya akan lebih ‘mudah’ untuk termotivasi dalam mengerjakan sesuatu jika ada target (atau hadiah/penghargaan) yang hendak diraih kan? Yang kedua, menurutku, dapat lulus dengan predikat Cum Laude itu adalah sesuatu yang indah dan merupakan suatu kehormatan. Ini adalah, kurang lebih, sebuah cap bahwa kita telah serius sekali selama masa studi kita dan bekerja keras dan niat selama itu; dan predikat ini adalah buah dari kerja keras itu. Eh, aku bukannya menyatakan bahwa mereka yang tidak mendapatkan predikat ini bukan pekerja keras ya. Predikat ini tuh hanyalah satu dari banyaknya indikasi akan kerja keras dari seseorang. 🙂 Yang ketiga, karena predikat ini berada dalam jangkauan untuk diraih, aku berpikir bahwa sebaiknya aku, setidaknya, mencoba meraihnya. Memang ada kemungkinan pada akhirnya akan gagal diraih sih, tapi setidaknya tuh aku sudah berusaha. Aku tahu aku akan menyesal di kemudian hari apabila aku merelakannya terlepas dari genggaman tanpa ‘usaha’, hehehe 🙂 .

***

Anyway, posting ini kayaknya udah panjang banget deh ya, lebih panjang daripada perkiraanku sebelumnya, jadi kayaknya aku berhenti disini saja deh. Jadi intinya adalah, ya, aku bebas deh sekarang! 🙂

My Student Life · Zilko's Life

#1110 – Thesis Defense Season

ENGLISH

You know it is a thesis defense season when you receive many invitations to thesis defenses of your friends (or ‘colleagues’ to make it sound like more professional, lol), and you even have one for yourself too.

Yes, lately, thesis defense is pretty much the theme of my life.

You know, I have one coming up this Wednesday; and that is why I have been busy preparing my presentation lately. I have had a lot of time before the defense, which was really good because it allowed me to really take my time and not rush in the presentation-slide making. I have also had the concept about the presentation since months before so it also helped; I did not need to start from zero this week. The slide is done now, and I have 46 slides (including 1 cover, 1 outline, and 1 ‘thank you’ slide :D) for a 40 minutes presentation, hopefully the time is enough, hahaha…

Nervous??

As a matter of fact: NO (at least for now). For this thesis project, I have had a more ‘intimidating’ experience when I had to present my work in an international workshop in Norway last June. Compared to that, I think, the pressure of thesis defense is (supposed to be) nothing. Beside, I am quite confident with the results and work that I have done. Aside from that presentation in Norway, my work has also been presented (by my supervisor) at a global conference in Helsinki (Finland) and at a summer school in Munich (Germany) within the last two months. So, well, I have all the reasons to be confident, right? hahaha 🙂 But we will see, hahaha 🙂

Invitation

And of course I am not the only one who is taking a thesis defense soon. A lot of (or all) my friends (or colleagues) are also having theirs soon. So, yeah, there are a lot of invitations already to attend their defenses as well, hahaha 🙂 This thesis defense season has started since like about three weeks ago actually as I have already attended two of my friends’ thesis defenses… . Yeah, it is going to be fun 🙂

BAHASA INDONESIA

Kita tahu bahwa suatu saat itu sedang musim sidang tesis apabila kita menerima banyak undangan sidang tesis dari teman-teman (atau ‘kolega’ deh ya supaya terdengar lebih profesional, lol), dan kita sendiri juga memiliki jadwal sidang tesis.

Ya, memang akhir-akhir ini, sidang tesis ini adalah tema kehidupanku deh.

Tahu dong, sidang tesisku akan diadakan hari Rabu ini; dan inilah mengapa aku akhir-akhir ini sedang sibuk mempersiapkan presentasiku. Aku memiliki banyak waktu sebelum sidangnya, yang mana bagus juga karena aku jadi bisa mengerjakannya dengan santai dan tak perlu terburu-buru. Aku sudah memiliki konsep mengenai presentasinya sih semenjak beberapa bulan yang lalu yang mana ini membantu juga; jadi minggu ini aku nggak harus memulai dari nol gitu. Slide-nya sudah selesai sekarang, dan aku memiliki 46 slide (termasuk 1 cover, 1 outline, dan 1 slide ‘terima kasih’ :D) untuk sebuah sesi presentasi selama 40 menit, mudah-mudahan waktunya cukup deh, hahaha…

Gugup??

Sebenarnya sih: TIDAK kok (setidaknya untuk saat ini). Untuk proyek tesisku ini, aku memiliki pengalaman yang lebih ‘mengintimidasi’ ketika aku harus mempresentasikan hasil pekerjaanku di sebuah workshop internasional di Norwegia Juni lalu. Dibandingkan dengan itu, aku rasa, tekanan dari sidang tesis itu (seharusnya) nggak ada apa-apanya lah ya. Selain itu, toh aku juga percaya diri dengan hasil dan pekerjaanku yang telah kulakukan. Di samping presentasiku di Norwegia itu, pekerjaanku juga telah dipresentasikan (oleh pembimbingku) di sebuah konferensi global di Helsinki (Finlandia) dan di sebuah summer school di Munich (Jerman) selama dua bulan belakangan ini. Jadi, ya, memang seharusnya aku percaya diri kan ya? hahaha 🙂 Tapi kita lihat saja deh, hahaha 🙂

Undangan

Dan tentu saja aku bukanlah satu-satunya yang akan menghadapi sidang tesis dalam waktu dekat. Kebanyakan (atau semua) teman-temanku (atau kolega-kolegaku) juga akan menghadapi sidangnya masing-masing segera. Jadi, ya, sudah ada banyak undangan gitu deh untuk menghadiri sidangnya mereka juga, hahaha 🙂 Musim sidang tesis ini sudah dimulai semenjak sekitar tiga minggu yang lalu sepertinya sih ya dan sejauh ini aku sudah menghadiri dua sidang tesisnya teman… . Jadi, ya, sepertinya akan mengasyikkan 🙂

Conference Trip · EuroTrip · My Student Life · One Week Trip · Travelling · Vacation · Zilko's Life

#1091 – Busy and A Teaser

ENGLISH

Busy

I am really busy now. Yesterday afternoon, I just got back from my one week trip to Norway and tomorrow morning I am off to England for the entire week!! 😯 So, there are tons of things to do today; ranging from doing my laundry and that kind of stuffs, and also preparing this London trip! Well, I am really glad now that I decided to give myself one day between the two trips (as actually my original plan was that I would just go to London the very next day after coming back from Norway). Ah, but it is busy fun, so it is okay, hahaha 🙂

A Little Teaser of My Norway Trip

Of course today I do not have any time to write about this Norway trip, I will do that after coming back from London. And so what I am going to do now is just to write a very short preview of the trip as a teaser, hehehe 🙂

First of All

As you (may) know, the main reason I went to Norway this week was to attend an international workshop there to present my thesis research after the committee accepted the abstract of my research for the workshop. Had I not had this workshop agenda, I wouldn’t have made any trip to Norway this June. Sometime in the future, sure, but definitely it wouldn’t have been this June.

And now, after making the trip, it is very important to write that it was such a complete privilege for me to be able to make the trip for the international workshop that I attended. The caliber of the workshop was unbelievable! There were only 45 participants (I was one of them); and the most unbelievable thing was: most professors and scientists from all around the world (not just Europe, but also from MIT and other parts of the world, like China) who were (or are) the main brain force behind the topic of the workshop, which was Ensemble Kalman Filter (EnKF) (or Data Assimilation in general), were there.

In fact, the professor who invented the method was also there! 😯 . When Remus, one of my supervisors who asked me to submit my abstract in the first place, told me that the guy who was standing behind me was the inventor of EnKF, I was so shocked and I was thinking: “‘Invented’ as in the method was non-existing before and he ‘invented’ it so it became existing and now a lot of people base their operations and researches on this method?” Wow! 😯 To some degree, it was like going to a meeting about Physics and Stephen Hawking and all his colleagues who were at ‘his level’ were there. Amazing! And I could be part of the meeting! Wow! It was such an honor and a very nice experience for me! I definitely learned a lot, and witnessed how abundant amount of experience, knowledge, and intelligence all these guys had. And it opened my eyes that experience is, indeed, a very important and precious thing to have. Experience supports, strongly, knowledge and intelligence.

Anyway, so, I am really grateful with the opportunity and I am thanking Remus a lot for that. And of course I am also thanking my main supervisor, Anca; and also the head of the research group at TU Delft, Arnold, who was willing to pay the expenses to make the trip to Norway 🙂 Yes, the workshop part of the trip was free for me; but the most precious thing, and it was priceless, was the experience!!

No Night in Norway, Literally

If at the previous post I shared to you how 10 PM looks like in Delft during summer and some people were surprised with that; well, they will be more surprised when I tell them that there is literally NO NIGHT in Norway during summer!  So, in the first day, I arrived at the hotel at 12 AM, or midnight, and at the time, it was like this:

How midnight looks like in Norway in summer

I was like: “What the hell? It is freaking midnight now and the sky is still blue??” About forty minutes later, of course it got darker; and the darkest it became was like this:

This is how the darkest part of a day in the summer in Norway looks like

and not long after that, the sun rose again!  So, yeah, it NEVER reached the point where it became really dark like a night is supposed to be.

So, one day in the summer in Norway goes pretty much like this: dawn – morning – day (starting at 4 AM until like midnight) – dusk – dawn (yeah, skipping the “night” part) – and so on.

Well, I guess all of us already studied this phenomenon in the science class in elementary school so actually none of us should be “surprised” by this. But here is what I can say: even though we understand the phenomenon, it still feels different when you experience it first hand! It is like, you know it is true and ‘normal’, but it still feels so ‘weird’, hahaha 😆 .

Super Beautiful

Anyway, to finally conclude this post, which turns out to be already quite long (huahaha 😆 ), I am uploading some pictures of my vacation part of the trip. In short, Norway is super amazing and beautiful! Look at the four pictures below!! To know more about the story behind them, just wait for my posts about the trip 😀

A glacier! In the summer!
One view during the cruise at the fjord
Cruising at the fjord
A scenic scenery in Norway

BAHASA INDONESIA

Sibuk

Ah, aku sibuk sekali nih sekarang. Kemarin sore, aku baru saja kembali dari perjalanan semingguku ke Norwegia dan besok pagi aku akan pergi ke Inggris selama seminggu dong!! 😯 Ah, ada banyak banget nih yang harus dilakukan hari ini; mulai dari mencuci baju dan kawan-kawannya, hingga mempersiapkan perjalanan ke London ini! Hmm, aku lega sih sekarang karena aku memutuskan untuk memberi diriku waktu selama satu hari di antara dua perjalanan ini (karena pada awalnya aku berencana untuk langsung pergi ke London sehari setelah kembali dari Norwegia loh). Ah, tapi ini sibuk yang menyenangkan sih, jadi nggak papa deh, hahaha 🙂

Sedikit teaser tentang perjalanan ke Norwegiaku

Tentu saja sekarang aku tidak memiliki waktu untuk menulis cerita mengenai perjalanan ke Norwegia ini, aku akan melakukannya setelah kembali dari London nanti. Nah, jadi yang akan aku lakukan sekarang adalah menulis sebuah preview pendek mengenai perjalananku ini sebagai teaser gitu deh, hehehe 🙂

Pertama-tama

Seperti yang (mungkin) sudah pada tahu, alasan utama aku pergi ke Norwegia minggu ini adalah untuk menghadiri sebuah workshop internasional disana untuk mempresentasikan riset tesisku setelah panitianya menerima abstrak risetku untuk workshop-nya. Andaikata tidak ada agenda untuk workshop ini, nggak akan deh perjalanan ke Norwegia kali ini terlaksana. Maksudku, jelas lah aku tetap akan pergi ke Norwegia kapan-kapan gitu, tapi tidak bakalan terjadi di bulan Juni ini.

Dan kini, setelah kembali dari perjalanannya, sangat penting untuk aku utarakan bahwa perjalanan untuk menghadiri workshop internasional ini adalah sebuah privilege besar buatku dan adalah sebuah kehormatan besar bagiku untuk bisa turut serta! Kaliber dari workshop-nya keren (baca: amat tinggi) banget dong! Hanya ada 45 peserta saja (dan aku adalah seorang di antaranya); dan yang paling gila adalah: hampir semua profesor dan ilmuwan dari seluruh dunia (nggak cuma Eropa saja, tapi juga dari MIT dan belahan dunia lain, seperti China misalnya) yang merupakan brain force dari topik workshop ini, yang merupakan Ensemble Kalman Filter (EnKF) (atau Asimilasi Data secara umum), hadir di acara ini.

Bahkan, profesor yang menemukan metodenya itu juga hadir loh! 😯 Ketika Remus, salah seorang pembimbingku yang menyuruhku mengumpulkan abstrak untuk pertemuan ini, berkata kepadaku bahwa lelaki yang berdiri di belakangku adalah penemu EnKF, aku kaget sekali dan berpikir dalam hati: “‘Menemukan’ dalam artian metode ini tidak ada sebelumnya dan ia ‘menemukannya’ sehingga metode ini jadi ada dan sekarang dipakai banyak orang sebagai dasar operasi dan riset mereka?” Wow! 😯 Bisa dibilang, ini seperti pergi ke pertemuan tentang Fisika gitu dan Stephen Hawking dan koleganya (yang berada di ‘level’ yang sama dengannya) hadir pula di pertemuan itu. Gila! Dan aku berkesempatan untuk ambil bagian di pertemuan itu! Wow! Jadi, ya, memang merupakan sebuah kehormatan bagiku dan ini merupakan sebuah pengalaman yang amat berharga! Aku belajar amat banyak, dan menyaksikan sendiri bagaimana luasnya pengalaman, pengetahuan, dan inteligensia para tokoh ini. Dan ini amat membuka mataku bahwa pengalaman itu, memanglah, sebuah hal yang amat berharga untuk kita miliki. Pengalaman itu menyokong pengetahuan dan inteligensia dengan kuat.

Anyway, oleh karenanya, aku amat bersyukur telah mendapatkan kesempatan ini dan aku berterima-kasih dengan amat banyak kepada Remus karenanya. Dan tentu saja aku juga berterima kasih kepada pembimbing utamaku, Anca; dan juga kepala grup risetku di TU Delft, Arnold, yang telah bersedia membiayai perjalananku ke Norwegia ini 🙂 Ya, bagian workshop dari perjalananku ini kan gratis buatku; tetapi yang jauh lebih berharga daripada itu, yang mana adalah sesuatu yang amat tak ternilai, adalah pengalamannya!!

Nggak ada malam di Norwegia, dalam arti sebenarnya

Kalau di posting sebelumnya aku tunjukkan bagaimana suasana jam 10 malam di Delft di musim panas dan beberapa orang ada yang kaget karenanya; hmm, mereka akan lebih kaget lagi kalau aku ceritakan bahwa di Norwegia itu, dalam artian sebenarnya, NGGAK ADA MALAM loh di musim panas!  Jadi,di hari pertama aku baru tiba di hotelku jam 12 malam, alias tengah malam, dan suasana waktu itu kayak gini:

Tengah malam di Norwegia di musim panas itu kayak gini

 Reaksiku: “Apa-apaan ini maksudnya? Ini kan udah tengah malam gitu ya dan kok ini masih terang??” Sekitar empat puluh menit kemudian, tentu saja suasana menjadi lebih gelap; dan segelap-gelapnya malam disana itu kayak gini:

Dalam satu hari penuh, paling gelap itu seperti ini

dan nggak lama setelahnya, mataharinya udah terbit lagi dong!  Jadi, ya gitu deh, NGGAK PERNAH deh dalam suatu hari penuh tercapai titik dimana suasana menjadi gelap seperti bagaimana malam seharusnya.

Jadi, sati hari di Norwegia di musim panas itu berlangsung seperti ini: subuh – pagi – siang (dari jam 4 pagi sampai kurang lebih tengah malam) – senja – subuh (yoi, nggak pakai “malam”) – dst.

Hmm, aku rasa kita semua sudah pernah mempelajari fenomena ini di kelas IPA sewaktu SD sih jadi seharusnya nggak perlu “kaget” lah ya karenanya. Tapi ini deh yang mau aku bilang: walau kita memahami fenomena ini, tetap aja rasanya berbeda gitu ketika kita mengalaminya secara langsung! Maksudku, kita sangat memahami bahwa nggak ada yang aneh dengannya dan fenomena ini tuh ‘normal-normal’ aja, tapi tetap aja rasanya ‘aneh’, hahaha 😆

Sangat Indah

Anyway, untuk menutup posting ini, yang mana ternyata panjang juga ya padahal tadi rencananya mau menulis pendek aja (huahaha 😆 ), aku mengunggah beberapa foto dari bagian jalan-jalan dari perjalanan ini. Secara singkat, Norwegia itu sangat amat indah sekali loh! Lihat deh foto-foto di atas!! Untuk mengetahui cerita di balik foto-foto tersebut, tunggu saja posting-ku selanjutnya tentang perjalanan ini 😀

My Student Life · Zilko's Life

#1066 – Smoke Detector, Grade, and Norway

ENGLISH

Okay, before starting posting posts about my weekend trip to Scotland last week, I would like to update a little bit of my life lately first, hehehe 🙂 (For those who are waiting for the story of my trip to Scotland, please be patient for just a little bit more; and thanks for the understanding, hehe 😛 *well, it is my blog after all so I can write whatever and whenever and in whichever order I want, right? hahaha :P* ).

Exhausted and Smoke Detector

As I wrote before, my flight from Edinburgh landed at Schiphol Airport on Tuesday afternoon (at 4 PM to be precise) and I arrived at my apartment at almost 6 PM. I was so exhausted that day. At almost 8 PM, Diana invited me to hang out in a bar in the centrum with friends from my research group. Well, with all of our own thesis projects this semester, this kind of occasion is a very rare occasion. We have our own schedules and works to do, so, you know, right? So I didn’t want to miss it. Plus, two cups of coffee I had earlier that day in Edinburgh also helped a little bit that I became a bit energetic the whole day, hahaha 🙂 Therefore I decided to go to the centrum at 8.30 PM. Of course we didn’t stay there for too long and I already went back home at 10.30 PM. I was so exhausted after all, hahaha…

That night, when I was trying to sleep, the fire alarm/smoke detector made annoying noise. It chirped once every one minute. And it was quite a loud beep. You know, so every time I reached the point where I almost slept, it “woke” me up with the annoying beep. I was able to sleep eventually, but of course I reported this condition to the caretaker the day after. I think it was because it needed new battery.

Grade

Anyway, the grade for this exam has now been published. As I expected, that stupid miscalculation costed me a little bit. But at the end of the day I still got the grade I needed (even though I got this after a little bit of discussion with my professor about it and the ambiguity in one of the problem), so I did not really complain, hehe. Btw, yes, I took this exam to get a better grade for this course.

Okay, now, I can focus much more on my thesis.

Abstract Accepted! Norway here I come!

Speaking about my thesis project, I have just got good news. Actually, at this meeting, my supervisors and I discussed not only about my thesis’ blueprint, but also a possibility to present my thesis research at an international workshop that will be held in Norway this mid-June. I had to write an abstract about the project, submitted it, and the committee would decide whether it was accepted or not. If it got accepted, because it would be like a “work-related trip” (I would have to present my research in Norway), all of my expenses would be covered by the research group and the research’s sponsor. And that was why I was like: “Sure, I am in!!“, huahaha 😆 😎 . First of all, who didn’t love free trip? Second of all, and the most important one, I think it would be a very good experience for me and also for my CV, hehehe.

Last week, I got an email from the committee that my abstract was accepted!! Yaaay!!  So it means that I am going to Bergen, in Norway, this mid-June for the workshop! Yes, I am (finally) going to Scandinavia (and it will be for free (unless I decide to extend my stay a little bit))!! huahaha 😆

BAHASA INDONESIA

Oke, sebelum rangkaian posting tentang perjalanan akhir pekanku ke Skotlandia minggu lalu, aku ingin menulis satu posting tentang kehidupanku akhir-akhir ini dulu ya, hehehe 🙂 (Bagi yang menantikan ceritaku ke Skotlandia, sabar dulu ya; terima kasih atas pengertiannya, hehe 😛 *eh, tapi ini kan blogku gitu ya jadi sebenarnya ya suka-suka aku dong apa yang mau aku tulis dan kapan aku menulisnya? hahaha 😛 *).

Capek dan Smoke Detector

Seperti yang aku tulis sebelumnya, penerbanganku dari Edinburgh mendarat di Bandara Schiphol di hari Selasa sore (jam 4 sore tepatnya) dan aku tiba di apartemenku hampir jam 6 sore. Aku capek banget deh hari itu. Sekitar hampir jam 8 malam, Diana mengajakku untuk kumpul-kumpul bareng teman-teman dari grup risetku malamnya di sebuah bar di centrum. Hmm, dengan segala proyek tesis dan semua pekerjaan semester ini, acara kumpul-kumpul kayak gini jelaslah sesuatu yang sangatlah langka. Masing-masing memiliki agenda dan jadwalnya sendiri-sendiri, jadi ya gitu deh, tahu kan maksudku? Nah, jadilah aku nggak mau melewatkannya. Di samping itu, dua cangkir kopi yang aku minum awal hari itu di Edinburgh kayaknya cukup membantu karena membuatku sedikit lebih energetic sepanjang hari, hahaha 🙂 Oleh karenanya, aku memutuskan untuk pergi ke centrum jam 8.30 malam. Tentu saja kami nggak lama-lama amat juga disananya dan jam 10.30 malam aku juga sudah pulang. Kan bagaimanapun aku juga sudah capek banget gitu ya, hahaha…

Malamnya, ketika aku berusaha untuk tidur, alarm kebakaran/smoke detector di kamarku mengeluarkan suara yang menyebalkan dong. Jadi smoke detector ini mengeluarkan suara “biip” setiap satu menit. Jadi ya gitu deh, begitu aku sudah nyaris tertidur, jadi “terbangun” lagi karena suara yang menyebalkan ini.  Akhirnya aku bisa tidur juga sih, tapi tentunya keesokan harinya aku laporkan masalah ini ke caretaker apartemenku. Aku duga sih ini karena baterainya harus diganti deh.

Nilai

Anyway, nilai dari ujian yang ini sudah diumumkan loh. Seperti yang sudah diduga, kesalahan hitung tolol yang aku buat itu sedikit mempengaruhi nilaiku. Tapi pada akhirnya aku masih mendapatkan nilai yang aku butuhkan sih (walau ini juga setelah sedikit diskusi dengan profesorku tentangnya dan tentang sebuah ambiguitas di salah satu soalnya), jadi ya aku nggak komplain deh, hehe. Btw, ya, aku mengambil ujian ini untuk mendapatkan nilai lebih bagus aja di kelas ini.

Oke, sekarang, jadilah aku bisa lebih fokus pada tesisku nih.

Abstrak Diterima! Norwegia, Aku Datang! 

Ngomongin tentang proyek tesisku, aku baru saja mendapat berita bagus loh. Jadi sebenarnya, pada pertemuan waktu ini, pembimbing-pembimbingku dan aku tidak hanya berdiskusi mengenai cetak biru perencanaan riset tesisku, tetapi juga kemungkinan untuk mempresentasikan riset tesisku di sebuah workshop internasional yang akan diadakan di Norwegia pertengahan Juni nanti. Aku harus menulis sebuah abstrak untuk proyekku, mengumpulkannya, dan kemudian panitia akan memutuskan apakah abstrakku itu diterima atau tidak. Kalau diterima, karena perjalanan itu bakalan menjadi semacam “perjalanan dinas” (aku harus mempresentasikan risetku di Norwegia), semua biayanya akan ditanggung grup riset dan perusahaan sponsor deh. Dan tentu saja reaksiku adalah: “Tentu saja aku mau ikutan“, huahaha 😆 😎 . Pertama-tama, siapa juga yang nggak mau bepergian dibayarin? Yang kedua, dan lebih penting sih, ini akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat berharga dan bagus pula untuk CV-ku kan, hehehe.

Minggu lalu, aku mendapatkan email dari panitia yang menyatakan bahwa abstrakku diterima loh!! Yaaay!!  Jadi ini artinya aku akan pergi ke Bergen, di Norwegia, gitu deh pertengahan Juni nanti untuk workshop itu! Ya, (akhirnya) aku akan pergi ke Skandinavia juga (dan kali ini perginya gratis loh (kecuali kalau aku memutuskan sekalian extend disana beberapa hari gitu))!! huahaha 😆