EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2154 – A Weekend in Stuttgart

ENGLISH

Here is the story of myย short weekend trip in Stuttgart this July.

It was raining in Stuttgart.

I found it ironic that despite the really warm and pretty much rain-free Summer this year, the weather was horrible when I was in Stuttgart. “Horrible” as in it was raining (which meant cloudy) and also really warm during my entire time there.

My KLM Cityhopper flight KL1869 to Stuttgart was a morning flight, meaning I also arrived at Stuttgart in the morning. Getting to the Stuttgart city center from the airport with public transportation was very easy, though, as the airport was linked with two S-Bahn line (line S2 and S3). One way trip took approximately 20 minutes.

An S3 S-Bahn train at Stuttgart Airport

As I certainly did not feel like being outside while it was raining, the first thing I did after arriving at the city center was to go to my hotel. And it was my lucky day today as despite arriving really early (it wasn’t even noon), my room was already ready so I could check-in immediately! I then went to my room to put my stuffs and rest a little bit. It was still raining outside and I had had to get up really early that morning because of my morning flight, so I decided that the best use of my time was for … siesta! Hahaha ๐Ÿ™ˆ.

I didn’t nap for too long though, but it was a good nap as I felt really fresh after. My plan also worked, where despite still being quite cloudy, at least it wasn’t raining anymore. I freshened myself up, and then went out. As I have mentioned before, my plan for this weekend trip was to just explore the city centre and the Altstadt area, and to take it easy.

A Porsche car in Stuttgart

My hotel was located in the city center so it took me less than 5 minutes to get to the busy area, haha. Technically it wasn’t raining anymore but the raining atmosphere was still there, and so the first thing that I did there was … to shop! Hahaha ๐Ÿ™ˆ. I ended up buying a few (not many ๐Ÿ˜› ) clothes from two stores; and then decided it was enough as I only had my regular-sized backpack with me on this trip, haha.

Uniqlo in Stuttgart

And then I finally started my exploration of the city center. It was a busy Saturday in Stuttgart today, as there were a lot of people! Anyway, I found the city center to definitely be beautiful, but on the smaller side. It only took me less than an hour to go around it. Yep, granted I didn’t really “take it easy” by chilling at some of the parks nor did I enter some of the museums there ๐Ÿ˜› . So yeah in conclusion, in my opinion the two main attractions of Stuttgart were definitely the Mercedes Benz Museum and the Porsche Museum, both I already visited back in 2011 but not this time.

Stuttgart Hauptbahnhof and Mercedes Benz

And then I started to get hungry. I had a (too) big breakfast at KLM Crown Lounge in the morning (๐Ÿ™ˆ) and so I skipped lunch. So no wonder that I started to crave for dinner quite early today, haha. I decided to go to a German grill-food chain restaurant I saw in the city center. Of course, I ordered a medium-rare steak with french fries and a buffet salad. It was great!! ๐Ÿ˜€

BAHASA INDONESIA

Berikut ini cerita dariย perjalanan akhir pekan singkatku ke Stuttgart Juli kemarin ini.

Hujan dong di Stuttgart.

Aku merasa ironis bahwa dimana ketikaย musim panas tahun ini panas banget dan bisa dikatakan bebas-hujan, sekalinya aku jalan-jalan kok cuacanya pas jelek di Stuttgart. “Jelek” dalam artian hujan (yang mana artinya juga berawan tebal) dan juga panas di sepanjang waktuku di sana.

Penerbangan KLM Cityhopper KL1869 ke Stuttgart adalah penerbangan pagi, artinya aku juga tiba di Stuttgart di pagi hari. Transportasi umum dari Bandara Stuttgart ke pusat kota Stuttgart tidak sulit kok, karena bandaranya terhubung dengan dua jalur S-Bahn (kereta regionalnya Jerman), yaitu jalur S2 dan S3. Waktu tempuh perjalanannya adalah sekitar 20 menit satu arah.

Sebuah kereta S-Bahn S3 di Bandara Stuttgart

Karena aku jelas ogah untuk jalan-jalan di luar ketika sedang hujan, hal yang pertama yang kulakukan begitu sampai di pusat kota adalah pergi ke hotelku. Dan aku beruntung sekali hari ini, karena walaupun datang kepagian (bahkan waktu itu belum ada jam 12 siang), kamarku sudah siap dong sehingga aku bisa langsung check-in! Aku kemudian naik ke kamarku untuk menaruh barang-barangku dan sedikit beristirahat. Di luar masih hujan dan di pagi harinya tadi aku harus bangun awal sekali untuk mengejar penerbanganku. Jadilah aku merasa saat ini adalah waktu yang amat cocok untuk … tidur siang!ย Hahaha ๐Ÿ™ˆ.

Aku tidur siang hanya sebentar saja sih, tapi kualitas tidurnya baik sekali sehingga ketika bangun aku merasa amat segar. Rencanaku juga berhasil, dimana walaupun masih berawan, seenggaknya hujannya sudah berhenti. Aku kemudian membersihkan-diri dan kemudian bersiap-siap untuk keluar. Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, memang rencanaku untuk perjalanan kali ini adalah mengelilingi pusat kota dan area Kota Tuanya saja, dan semuanya dilakukan dengan bersantai-santai.

Sebuah mobil Porsche di Stuttgart

Hotelku berada di pusat kota sehingga aku hanya perlu berjalan-kaki sekitar 5 menit untuk mencapai keramaian, haha. Nah, walaupun hujannya sudah berhenti, tapi aura-aura hujannya masih kuat sehingga hal pertama yang aku lakukan adalah … masuk ke toko-toko di pusat kotanya! Hahaha ๐Ÿ™ˆ. Pada akhirnya aku membeli beberapa (nggak banyak kok ๐Ÿ˜› ) baju baru dari dua toko; dan kemudian memutuskan bahwa segini sudah cukup banget karena aku hanya membawa tas ransel berukuran biasa di perjalanan ini, haha.

Uniqlo di Stuttgart

Dan barulah kemudian aku baru mulai berjalan-jalan di kotanya. Hari Sabtu ini kotanya ramai sekali! Menurutku, pusat kotanya indah sih, tapi memang berukuran kecil. Aku hanya membutuhkan waktu satu jam-an saja untuk mengelilinginya. Iya sih, aku nggak beneran “bersantai-santai” dengan misalnya duduk-duduk di tamannya atau masuk ke museum-museumnya, haha. Jadi ya memang kesimpulannya, menurutku dua atraksi paling utama di Stuttgart adalah Museum Mercedes Benz dan Museum Porsche, yang mana keduanya sudahย aku kunjungi di tahun 2011 dulu tetapi kali ini tidak (soalnya kan dulu sudah pernah, haha).

Stuttgart Hauptbahnhof dan Mercedes Benz

Dan kemudian aku mulai merasa lapar. Aku sarapan besar (banget) di Crown Lounge-nya KLM pagi itu sehingga aku merasa kenyang sekali dan kemudian memutuskan untuk tidak makan siang. Jadi nggak mengherankan sih aku merasa lapar untuk makan malam agak awal hari ini, haha. Aku memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran chain Jerman dengan tema grilled yang aku lihat di pusat kota. Jelas, aku memesanย steak medium-rare dengan french fries dan salad buffet. Enak!! ๐Ÿ˜€

Advertisements
EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2147 – Two Side Stories from My Geneva Trip

ENGLISH

Here are a couple of side stories from my weekend trip to Genevaย at the end of June.

A medium rare steak and Instagram

Steak for dinner in Geneva.

The restaurant I went to for dinner only served one meal: steak; and as I mentioned, they cooked the steak really, really nicely!ย Anyway, so upon obviously being asked about how I would like the steak to be cooked, I said medium rare.

And here is the thing. This restaurant served this steak on a chafer with a mini fire lit underneath to keep the steak warm. And because of this, the sauce got a little bit “bubbly” and “smokey”, haha ๐Ÿ˜› , like this:

Warm steak!

And I, as a true typical millennial (lol ๐Ÿ˜† ), obviously took some photos first (and even some Boomerang video for an Instagram Story (and for the gif above), hahaย ๐Ÿ™ˆ ) before starting my dinner. I mean, this was super important, won’t you agree? ๐Ÿ˜› The middle-aged waitress saw this and perhaps got a little bit confused. And so she told me, “Sir, if you don’t start eating your steak, it might turn well done!“. LOL!! ๐Ÿ˜†

Summer in Amsterdam

Anyway, last year I mentioned how crowded (with tourists) Amsterdam was in the summer. Obviously, this summer has been no different.

And on this trip, I especially felt the effect of this on another level. Obviously I took the train to get back to Amsterdam from Schiphol at the end of the trip. And the train I took was perhaps the most crowded train trip I had ever taken to/from Schiphol!! I mean, it was like this!!

Crowded airport train in the Summer

BAHASA INDONESIA

Berikut ini dua cerita sampingan dariย perjalanan akhir pekanku ke Genevaย diย akhir bulan Juni yang lalu.

Steak medium rare dan Instagram

Steak untuk makan malam di Geneva.

Restoran tempatku makan malam hanya menyajikan satu jenis masakan saja: steak; dan seperti yang kubilang, mereka memasak satu jenis masakan ini dengan sangat amat enak! Anyway, jelas aku ditanya steak-nya ingin dimasak bagaimana, dan tentu aku minta medium rare.

Jadi begini ceritanya. Restoran ini menyajikan steak-nya di atas chafer gitu (Apa sih bahasa Indonesianya?) yang mana di bawahnya api kecil dinyalakan agar steak-nya tetap hangat. Dan karena api ini, bahkan sausnya pun sampai ada “buih” dan asap-asap-nya gitu, haha ๐Ÿ˜› , kayak gini maksudnya:

Steak-nya hangat!

Dan jelas dong ya sebagai anak milenial sejati (haha ๐Ÿ˜† ) aku foto-foto dulu (dan bahkan mengambil beberapa video Boomerang untuk InstaStory (dan gif di atas), haha ๐Ÿ™ˆ) sebelum akhirnya mulai makan. Ini penting banget kan ya? ๐Ÿ˜› . Pelayannya yang sudah setengah baya melihat ini dan mungkin sedikit bingung. Jadilah ia kemudian berkata “Pak, kalau nggak segera dimakan, nanti steak-nya bakal jadi well done loh!” Huahahaha ๐Ÿ˜†

Musim panas di Amsterdam

Anyway, tahun lalu aku sebutkan bagaimana ramainya Amsterdam (dengan turis) di musim panas. Jelas tahun ini juga begitu lah situasinya.

Dan di perjalanan ini, aku merasakan efek dari ini di level yang berbeda. Jelas dong aku naik kereta untuk kembali ke Amsterdam dari Schiphol di akhir dari perjalanan ini. Dan kereta yang aku naiki ini mungkin adalah perjalanan kereta dari bandara yang paling penuh dan ramai yang pernah kunaiki dari/ke Schiphol!! Maksudku, kayak gini nih:

Kereta bandara yang ramai banget di musim panas.
North America Trip, USA, Vacation

#2104 – 2018 Spring Break (Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food)

ENGLISH

Posts in the 2018 Spring Break series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8. Part VII: Back to Europe in Business Class

In Chicago, I paid a visit (literally) to two attractions in the city (The “free” attractions were covered in Part V), the Museum of Contemporary Art (MCA) and the Chicago Skydeck.

The MCA

The MCA was located near the Hancock Tower in the Magnificent Mile. At first I wasn’t so sure if I would like to come in. But then it was quite some walk already from the hotel and I had some time anyway, and so I decided to pay a visit.

Chicago’s Museum of Contemporary Art

The MCA turned out to be quite cool, though rather small in size despite its five stories building, haha. The exhibitions were, as the museum’s name, contemporary; so some of the artists played more with our senses (than just visual) with their creations. This visit reminded me a little bit of my visit to a contemporary art museum in Salzburg back in 2011, in which sometimes I felt like some of the “artworks” were difficult to understand, or way too “simplistic” and made me think “Even I could make this“, lol ๐Ÿ™ˆ.

A contemporary artwork in Chicago

Nonetheless, the museum was beautiful. Did it worth the $15 admission? Well, it was rather on the steep side to me but it was still okay, haha ๐Ÿ˜› .

The Chicago Skydeck

Willis Tower was the tallest building in Chicago. It had an observation deck, called the Skydeck, on the 103rd floor that was equipped with four glass balconies. The balconies had glass floor so visitors could literally look at the street and everything else 412 meters below. So obviously I would like to pay a visit.

Willis Tower

I went to Willis Tower after my visit to the MCA. Upon entering the building, I was told that there was a line of 2.5 hours before I would get access to the Skydeck. This was Saturday afternoon (of an Easter long weekend) and was my last full day in Chicago; so I didn’t have any other alternative. Upon reaching the ticket kiosk, there was a “Fast Pass” ticket that came with a priority queuing line (with only 40 minutes of waiting time) but cost $49. I felt cheap today so I just went with the general admission ticket which only cost $24, haha.

The queue for the Skydeck

I was thinking they must have exaggerated the “2.5 hours” queueing time; but it turned out they were being serious, lol ๐Ÿ˜† . But free wifi was provided and it helped a lot to pass the time, haha. Long story short, I finally got my turn to take the elevator up to the 103rd floor. The elevator moved really fast, btw.

The Skydeck provided 360 degree view of Chicago. I went to one window which faced The Loop, and admired the awesome view of Chicago City Center from 412 meters above the ground.

The business district of Chicago from Skydeck

The balconies were in the other side of the room; and, unsurprisingly but rather annoyingly, there was another line for those! I chose one of the line (each balcony had its own line(s)); and this line felt like moving at a much slower pace than the previous line!

The queue for the balconies at the SkyDeck

It was another half an hour of queueing before finally I got my turn at one of the balconies. By this time I was already so tired from the three hours of queueing and just wanted to get my pictures taken, lol ๐Ÿ˜† . And so I didn’t have a lot of time and energy to look down and “felt the height” under me. Though, I did manage to snap one picture of it; and it wasn’t “that” scary to be honest, haha.

The view of the glass bottom deck at 412 meters (103rd floor) above the ground

It was cool though that each balcony was managed by an officer who made sure the lines were respected and each visitor wouldn’t take too much time in the balcony (to be courteous to other visitors still waiting in the lines). My officer also helped me to take a few photos, haha ๐Ÿ˜† .

Sky Deck Chicago

After my about 1 minute turn (lol ๐Ÿ˜† ) at the balcony was over, I went down the elevator and left the Willis Tower.

Was the Skydeck worth a visit? Yes, definitely! Perhaps just choose a better timing than I did. I mean, a Saturday afternoon in the middle of a long weekend was probably not the most ideal time to pay a visit there, haha ๐Ÿ˜† . Ah, and don’t forget to check the weather forecast too to make sure you would get good view of the city from up there!

The Food in Chicago

Coming to Chicago, I knew that I would like to try out their famous deep dish pizza! And I wasted no time. I went to two restaurants, Pizano and Giordano’s, and at both I ordered this dish. There were many different choices of toppings but those were mostly for small-and-up sized pizza. For the individual sized one which I was after, the topping variety wasn’t that wide; but what I was after, the cheesy one, thankfully came in this size.

A Chicago’s cheesy deep dish pizza

And indeed, it was delicious!! The pizza looked thick but it was thick with the topping, not the crust! Years ago when I was still in Indonesia, someone told me that Pizza Hut’s pizza was Chicago-style. And now, I can say that this person was lying to my face! It wasn’t like Pizza Hut’s pizza!! Lol ๐Ÿ˜†

Anyway, I learned that deep dish pizza took a long time to cook, at least in these two restaurants that I went to. Even at Giordano’s, I had to wait for nearly an hour! The waitress told me about this when I was placing my order, though.

A delicious steak in Chicago

Another dish that one should try while in Chicago was the steak! Apparently Chicago was a steak city; and for my last dinner there I went to a pub that served steak. And the sirloin steak was delicious, and unique in its own way! It was served with fried onion with Worcestershire sauce, a combination I had never seen for a steak before! ๐Ÿ˜€

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2018 Spring Break:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8.ย Part VII: Back to Europe in Business Class

Di Chicago, aku masuk ke dua atraksi berbayar (Atraksi “gratisan”-nya sudah kuceritakan di Bagian V), yaitu Museum of Contemporary Art (MCA) dan Chicago Skydeck.

MCA

MCA berlokasi di dekat Menara Hancock tidak jauh dari Magnificent Mile. Awalnya aku nggak yakin apakah aku mau masuk atau tidak. Tetapi berhubung aku sudah berjalan-kaki jauh dari hotel dan toh ada waktu, aku memutuskan untuk masuk.

Museum of Contemporary Art di Chicago

MCA ternyata lumayan keren juga lho, walaupun ukurannya tergolong cukup kecil sih untukku biarpun ada lima lantai, haha. Yang dipamerkan, sesuai nama museumnya, ber-genre kontemporer; dimana beberapa artisnya bermain dengan indra-indra kita (lebih dari sekedar visual) dengan karya-karyanya. Kunjungan ini mengingatkanku akan kunjunganku ke museum seni kontemporer di Salzburg di tahun 2011 dulu, yang mana aku merasa beberapa “karya seni”-nya sulit dimengerti, atau sebagian yang saking “terlalu sederhana”-nya membuatku berpikir “Begini mah gue juga bisa“, huahahahaย ๐Ÿ™ˆ.

Sebuah karya seni kontemporer di Chicago

Walaupun begitu, museumnya secara keseluruhan indah kok. Apakah layak dengan rate tiket masuknya yang $15? Hmm, memang sih rate segini tergolong lumayan mahal tapi masih nggak papa lah, haha ๐Ÿ˜› .

Chicago Skydeck

Menara Willis adalah bangunan paling tinggi di Chicago. Menara ini memiliki dek observasi, yang disebut Skydeck, di lantai 103 yang dilengkapi dengan empat balkon. Balkon-balkon ini berlantaikan kaca sehingga pengunjung bisa melihat bebas ke jalanan dan menara-menara di bawah kaki yang berada 412 meter di bawahnya. Jadi jelas dong ya aku ingin mengunjunginya juga.

Menara Willis

Aku pergi ke Menara Willis setelah kunjunganku ke MCA. Ketika memasuki gedungnya, aku diberi-tahu bahwa antrian untuk akses ke Skydeck adalah 2,5 jam. Waktu itu adalah hari Sabtu siang (di long weekend Paskah pula) dan adalah hari penuh terakhirku di Chicago; jadilah aku tidak memiliki alternatif lain. Ketika mencapai loket tiketnya, aku diberi-tahu akan tiket “Fast Pass” dengan jalur prioritas antrian (sehingga antriannya hanya 40 menit) tetapi seharga $49. Karena sedang merasa pelit hari itu, aku membeli tiket yang biasa saja yang hanya seharga $24, haha.

Antrian Skydeck jalur biasa

Awalnya aku berpikir pasti petugasnya melebih-lebihkan lah dengan waktu tunggu “2,5 jam” itu; tetapi ternyata memang beneran segitu dong, haha ๐Ÿ˜† . Tetapi di antriannya ada free wifi sih sehingga ini membantu sekali untuk melewatkan waktu, haha. Singkat cerita, aku akhirnya mendapatkan giliranku naik lift ke lantai 103. Liftnya bergerak naik dengan amat cepat loh, btw.

Skydeck menawarkan pemandangan 360 derajat akan Chicago. Aku pergi ke salah satu jendelanya yang mengarah ke The Loop, dan dari sana aku mendapatkan pemandangan kece distrik bisnisnya Chicago dari ketinggian 412 meter di atas tanah.

Distrik bisnisnya Chicago dari Skydeck

Balkon-balkonnya berada di sisi lain ruangannya; dan, tidak mengherankan tetapi menjengkelkannya, ada antrian untuknya lagi dong! Aku memilih salah satu antriannya (masing-masing balkon memiliki antriannya sendiri-sendiri); dan antrian kali ini rasanya bergerak lebih lamban daripada yang sebelumnya!

Antri lagi untuk balkon-balkon di SkyDeck

Kira-kira aku harus mengantri setengah jam lagi sebelum akhirnya mendapatkan giliranku di salah satu balkonnya. Di waktu ini aku sudah lelah dari yang namanya tiga jam mengantri dan ingin cepat-cepat foto-foto saja, haha ๐Ÿ˜† . Dan aku pun tidak memiliki banyak waktu dan energi untuk melihat ke bawah untuk “merasakan” ketinggian di bawahku waktu itu. Walaupun aku sempat mengambil satu fotonya sih; dan sebenarnya nggak “seram-seram amat” menurutku, haha.

Pemandangan ke bawah dari dek kaca di ketinggian 412 meter (lantai 103) di atas tanah.

Keren lho di setiap balkonnya terdapat petugas yang memastikan antriannya berjalan mulus dan setiap pengunjung tidak memakan waktu di balkonnya terlalu lama (ya mesti juga memikirkan pengunjung-pengunjung lain yang sedang mengantri kan ya). Petugas di balkonku juga membantuku foto-foto, haha ๐Ÿ˜† .

Sky Deck Chicago

Setelah giliranku selama 1 menitan (haha ๐Ÿ˜† ) berakhir, aku turun dengan lift-nya dan meninggalkan Menara Willis.

Apakah Skydeck worth it? Iya banget! Tapi waktu kunjungannya bisa dipilih yang lebih baik daripada waktuku kemarin ini deh. Maksudku, Sabtu siang di pertengahan long weekend jelas bukan waktu yang ideal untuk mengunjunginya kan ya, haha ๐Ÿ˜† . Ah, dan jangan lupa mengecek ramalan cuaca untuk memastikan pemandangan kotanya lagi kece dari atas sana!

Makanan di Chicago

Dari awal, aku sudah tahu aku ingin banget makan deep dish pizza di Chicago yang memang terkenal banget itu! Dan aku fokus banget dengan ini. Aku pergi ke dua restoran, Pizano dan Giordano’s, dan di keduanya aku memesan menu ini. Pilihan topping-nya ada bermacam-macam tetapi kebanyakan untuk pizza ukuran small ke atas. Untuk ukuran individu seperti yang kuinginkan, pilihan topping-nya tiak sebanyak itu; tetapi yang memang aku inginkan, topping keju, untungnya tersedia di ukuran ini.

Sebuah deep dish pizza yang berkeju banget di Chicago

Dan memang beneran enak banget lho!! Pizzanya nampak tebal tetapi tebal oleh topping-nya, bukan oleh crust-nya! Jadi ceritanya dulu ketika masih di Indonesia, aku diberi-tahu bahwa pizza-nya Pizza Hut itu bergaya Chicago. Dan sekarang, aku bisa bilang bahwa siapa pun yang memberi-tahuku waktu itu itu jahat bohong! Soalnya pizza-nya nggak mirip sama sekali dengan pizza-nya Pizza Hut!! Haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, memasak deep dish pizza ini membutuhkan waktu lama banget, setidaknya di dua restoran yang kukunjungi ini. Bahkan di Giordano’s, aku harus menunggu hampir satu jam! Pelayannya sudah memberi-tahuku ini ketika memesannya sih.

Steak yang enak banget di Chicago

Menu lainnya yang perlu dicoba di Chicago adalah steak-nya! Ternyata Chicago adalah kota steak; dan untuk makan malamku di sana aku pergi ke sebuah pub yang menyediakan steak. Dan steak sirloinnya memang enak banget, dan unik! Steak-nya disajikan dengan bawang goreng tepung dengan saus Inggris, kombinasi yang belum pernah kudapatkan sebelumnya! ๐Ÿ˜€

BERSAMBUNG…

working life, Zilko's Life

#2011 – Some Dining Events

ENGLISH

Team Dinner

To close the previous quarter cycle, my team at work decided to throw a team wide dinner at a nice fine-dining restaurant in Amsterdam Centrum.

A bit of a back story to this event, in the invitation that was sent around a few weeks prior, we were also asked to mention if we really did not ask fish. To me, well, to be honest I am not the biggest fan of fish but having said that, I also wouldn’t say I really don’t like it, haha. So I ended up rsvp-ing the event without mentioning anything about the presumably fish dish they would serve at the restaurant.

The appetizer was a salmon tartar

On the D-day, we went first to a bar nearby the office before going to the restaurant. To much of my delight, it turned out we were having a three-course meal with two options for the main course where, unsurprisingly, one of those was a seabass dish. But of course I ended up picking the other option, that was a boar tenderloin dish! (Anything but the fish, please! ๐Ÿ˜› ).

I opted for the boar tenderloin for my main course

As I said it was a three-course fine dining dinner, where wine was free flowing (there was no moment during my stay there when my wine glass was emptyย ๐Ÿ™ˆ). It started with a plate of delicious salmon tartar as the appetizer. Then, the main course came, which actually was my first time ever consuming a boar meat and it turned out to be delicious! After that, a chocolaty dessert was served, which was just okay but good nonetheless.

The chocolaty dessert

Utrecht Catch Up

Last week, a good friend of mine and I decided to catch up over dinner. Upon discussion, we decided to meet in Utrecht because it had been awhile since I went there and the last time we caught up was in Amsterdam; so it was due for a change, haha.

We went to a restaurant we had been after for months but, mistakenly, without making any reservation. Consequently there was quite a long waiting list already and we decided to eat somewhere else. And so we chose the top rated restaurant provided in Google maps (well, not the actual “top” one as that one was our original restaurant which was already full, haha); which turned out to be just okay. Nonetheless, it was such a fun night catching up with a friend!

Iron steak in Utrecht

BAHASA INDONESIA

Makan Malam Satu Tim

Untuk menutup siklus kuarter (tiga bulanan) yang lalu, timku di kantor memutuskan untuk mengadakan acara makan malam untuk satu tim di sebuah restoran fine dining di Amsterdam Centrum.

Sedikit cerita di balik acara ini. Di undangan yang dikirimkan beberapa minggu sebelumnya, kami diminta untuk menyebutkan apabila kami sangat tidak suka ikan. Untukku, sejujurnya ikan bukanlah makanan yang paling aku favoritkan (*Eh bisa dimarahin Menteri Susi ini ya? Haha ๐Ÿ˜› *) tapi biar pun begitu, bukan berarti aku sangat tidak suka ikan juga sih, haha. Jadilah aku meng-rsvp acaranya tetapi aku juga tidak menyebutkan apa-apa mengenai menu yang aku asumsikanย akan melibatkan ikan di restorannya.

Makanan pembukanya adalah salmon tartar

Di hari-H, awalnya kami pergi ke bar dulu sebelum berangkat bareng-bareng ke restorannya. Yang aku suka, ternyata malam ini modelnya adalah menu three course gitu dengan dua pilihan untuk menu utama dimana, tidak mengejutkan, salah satunya adalah menu ikan sea bass. Tetapi jelas pada akhirnya aku memilih menu yang satunya, yang mana merupakan daging babi hutan tenderloin! (Ya apa pun lah pokoknya bukan ikan! Haha ๐Ÿ˜› ).

Aku memilih menu babi hutan tenderloin untuk makanan utamanya.

Seperti yang kubilang ini adalah makan malam fine dining, dimana anggur juga mengalir terus gitu nggak berhenti-berhenti (tidak ada satu waktu pun selama aku disana dimana gelas anggurku kosong dongย ๐Ÿ™ˆ). Makan malam dimulai dengan sepiring salmon tartar yang enak banget sebagai makanan pembuka. Kemudian menu utama disajikan, yang mana adalah kali pertama aku makan daging babi hutan dan ternyata enak juga ya rasanya! Setelahnya, pencuci mulut yang terbuat dari cokelat diberikan, yang mana rasanya tidak terlalu spesial namun masih enak-enak saja kok.

Pencuci mulut cokelat

Catch Up di Utrecht

Minggu lalu, aku dan seorang teman baikku memutuskan untuk catch up sambil makan malam. Ketika berdiskusi masalah lokasi, kami memutuskan untuk bertemu di Utrecht saja karena sudah lumayan lama semenjak terakhir kali aku ke sana dan terakhir kali kami catch up adalah di Amsterdam; jadi sekarang kami memilih tempat lain gitu, haha.

Kami pergi ke sebuah restoran yang sudah lumayan lama kami incar tetapi, salahnya kami, tanpa membuat reservasi terlebih dahulu. Akibatnya waktu itu waiting list-nya sudah panjang banget dan kami memutuskan untuk makan di tempat lain. Jadilah kami memilih restoran yang berada di peringkat rekomendasi teratas di Google maps (yah, bukan yang “teratas” sih sebenarnya karena yang teratas adalah restoran yang awalnya kami incar tetapi sudah penuh itu, haha); yang mana ternyata biasa-biasa saja deh. Toh walaupun begitu, tetap seri rasanya catch up bersama seorang teman lama!

Iron steak di Utrecht
Miscellaneous, Photo Tales

#1958 – Photo Tales (42)

ENGLISH

The theme of this Photo Tales post is my latest experiments in the kitchen!

Photo #93

A duck fillet steak experiment

My long weekend trip to Lyon gave me a kitchen experiment inspiration for a duck fillet steak. At the time it hit me how I could never think about it as it appeared not very complicated!

While the cooking part was not that complicated, indeed; the grocery shopping part was, haha ๐Ÿ˜† . It appeared to me that duck meat was not *that* popular here in the Netherlands. I mean, the supermarket sold it; but it was not as “visible” and “plenty” as the other types of meat. As I could not find it in my first attempt, I resorted to Google to find out that the supermarket only sold one “type” of duck fillet. It was boxed and was put in a special chiller for boxed stuffs, haha. It certainly made the meat look more “premium”, though, and this might partly explain the price, haha.

Anyway, I liked it! Though I am not sure if I am going to cook it that often, due to the higher proportion of fat (thanks, my nutrition app). Even though this might be because of the skin; in which case the fat would not be a problem if I just ignored the skin. But you know, ignoring a crispy skin on your plate in front of you sounds like a difficult thing to do, haha ๐Ÿ˜† .

Photo #94

A high protein meal experiment

Speaking of the nutrition app, aside from reducing my consumption of fat, I am also trying to increase my consumption of protein. And this motivated this experiment to cook the pictured high protein meat, haha.

Lean red meat is obviously low in fat and is delicious for a steak, so that is a given. And then we all know that tempe (I know it is spelled “tempeh” in English but it just feels weird for me to type so. So I am typing it in the original Indonesian spelling here ๐Ÿ˜› ) is rich in protein. And before I moved to Amsterdam, my ex-housemate told me about the existence of this “bimi” vegetables, which is a hybrid between brocolli and kailan and also has high amount of protein.

Surprisingly (or not?), the dish worked well!! ๐Ÿ˜€ For this one, though, I am sure I am cooking this more often (at least more often than the duck fillet dish ๐Ÿ˜› ).

BAHASA INDONESIA

Tema dari postingย Photo Talesย kali ini adalah percobaanku akhir-akhir ini di dapur!

Foto #93

Percobaan steak filet bebek

Perjalanan akhir pekanku ke Lyonย memberiku inspirasi untuk mencoba memasak steak filet bebek. Waktu itu, aku cukup heran mengapa aku tidak pernah kepikiran sebelumnya karena nampaknya masakan ini tidak begitu sulit untuk dibuat!

Walaupun memang bagian masakanya nggak begitu rumit; ternyata justru bagian belanjanya yang agak rumit, haha ๐Ÿ˜† . Ternyata daging bebek itu nggak begitu populer di Belanda. Maksudku, memang sih dagingnya dijual di supermarket; tetapi nggak begitu “kelihatan” dan “banyak” seperti tipe-tipe daging lainnya gitu. Karena gagal menemukannya di usaha pertamaku untuk membelinya, aku meng-google-nya dan ternyata supermarketnya cuma menjual satu “jenis” filet bebek. Filet ini dibungkus dalam kotak dan ditaruh di satu chiller khusus bersama dengan daging-daging kotakan lainnya, haha. Memang sih ini membuat dagingnya nampak lebih “premium” dan mungkin ini sedikit menjelaskan harganya, haha.

Anyway, tapi aku suka! Walaupun aku nggak yakin sih aku akan sering-sering memasaknya karena tingginya kandungan lemak (thanks, app nutrisiku). Walaupun mungkin ini disebabkan oleh kulit bebeknya sih; yang mana jika demikian artinya tidak akan masalah jika kulitnya aku abaikan. Tapi tahu lah, susaaah untuk mengabaikan kulit crispy yang tersaji di piring di depan kita kan, hahaha ๐Ÿ˜† .

Foto #94

Percobaan menu kaya protein

Ngomingin app nutrisi, di samping mengurangi konsumsi lemak, aku juga berusaha meningkatkan konsumsi protein. Dan ini memotivasiku untuk memasak makanan kaya protein di foto di atas, haha.

Daging merah rendah lemak jelas rendah kandungan lemaknya (menurut ngana? ๐Ÿ˜† ) dan enak untuk dimasak steak. Dan kita tahu lah tempe itu kaya protein. Dan sebelum aku pindah ke Amsterdam, mantan housemate-ku memberi-tahuku mengenai keberadaan sayuran yang bernama “bimi”, yang merupakan hasil persilangan brokoli dan kailan dan memiliki kandungan protein yang tinggi.

Dan ternyata, aku juga suka masakan ini!! ๐Ÿ˜€ Nah, untuk yang ini, aku yakin aku akan memasaknya lebih sering sih (setidaknya lebih sering daripada steak bebek filet ๐Ÿ˜› ).

Photo Tales

#1899 – Photo Tales (39)

ENGLISH

Photo #86

A delicious Southern Italian dinner

Some weeks ago a friend of mine told me about this Italian restaurant ran by an Italian family in Rotterdam that was so good but only opened during the weekday. Quite strange, indeed. We joked that they had enough customers already that they did not feel the need to open their restaurants in the most popular time for people to go out and dine: the weekend, haha.

Finally, last Tuesday Iย got the chance to try it. And indeed it was good!!ย My friend and I decided to share a carpaccio as an appetizer to share, while for the main course I ordered a very delicious beef steak that was served with salad and, well, pasta!

Photo #87

Yeay it is Spring finally!

Finally, the past two weeks or so, Spring has come to full effect in the Netherlands!! Yeay for less layers of clothes to wear!! ๐Ÿ˜›

BAHASA INDONESIA

Foto #86

Makan malam ala Italia Selatan yang enak banget!

Beberapa minggu yang lalu seorang temanku memberi-tahuku mengenai restoran Italia yang dikelola oleh satu keluarga asal Italia di Rotterdam yang enak banget tetapi cuma buka di hari biasa (hari kerja/weekday) saja. Aneh ya. Kami sih bercanda sepertinya mereka sudah memiliki cukup pengunjung saking ramainya sehingga mereka merasa tidak perlu membuka restoran mereka di waktu populer orang-orang untuk keluar makan: akhir pekan, haha.

Nah, akhirnya hari Selasa minggu laluย akuย berkesempatan mencobanya. Dan ternyata memang enak lho!! Akuย dan temanku memesan carpaccio sebagai menu pembuka untuk dibagi dua. Untuk makanan utama, aku memesan steak yang memang enak dan disajikan dengan salad dan, tentu saja, pasta!

Foto #87

Hore akhirnya musim semi!

Akhirnya, dua minggu terakhir ini, musim semi sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya di Belanda!! Horee nggak harus memakai berlapis-lapis pakaian lagi!! ๐Ÿ˜›

 

North America Trip, The Caribbean, Vacation

#1823 โ€“ September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean (Part IV: Saint Martin)

ENGLISH

Posts in the September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Sint Maarten
3. Part II: Sint Maarten
4. Part III: The Maho Beach
5. Part IV: Saint Martin
6. Part V: Back to the Netherlands

***

Dutch-French border in the Caribbean
Dutch-French border in the Caribbean
As I mentioned in the Introduction, the island of St.Martin is governed by two countries: the Kingdom of the Netherlands in the south (the Sint Maarten area) and France in the north (the Saint Martin area). There is a free-movement right between the two parts and so obviously we explored both parts with our rental car. In Part II, I focused on the Dutch side. In this post, I focus on the French side.

***

If the Dutch side appeared more developed, the French side was, in general, more scenic to me. Hills, fields, coastlines (obviously) with beautiful view were there to enjoy.

A coastal road in the French side
A coastal road in the French side
Speaking of the coastline, we went to a few beaches and once drove on a coastal road in the eastern part of the island. The beaches were, of course, beautiful even though not that much different from the Dutch-side beaches (It was a small island anyway so why would we expect the two parts to be so different in nature? Lol ๐Ÿ˜† ). However, I found that the beaches in the French part were slightly less clean than the Dutch counterpart. No, no, not like there was a lot of (human) trash nor the water was polluted, it was just that seaweed remain (I think?) that had turned dark lied there on the beaches.

The Orient Bay in the French side
The Orient Bay in the French side, the dark stuff I mention above is visible here.
Generally, the French side was less busy that the Dutch side. It appeared to me that the island’s economy center was the Dutch side, with more factories and, thus, trade. The French side was, probably, more for living as it felt much calmer. This was reflected by the location of some of the resorts, which were rather “secluded” and probably aimed to blend in more with the nature.

The capital of the French side was a town called Marigot, that was smaller than the Dutch’s Philipsburg (for the obvious reason). I liked Marigot; and, actually, I liked it more than Philipsburg. While in general the town was less busy than Philipsburg, at certain times traffic jams could occur too though. This was mainly due to the narrow streets ๐Ÿ˜› .

Marigot
Marigot
Speaking of Marigot and the French side, the best food we had during our entire stay in Sint Maarten was found in Marigot! Well, come to think about it, it was not surprising at all, given that I love French food, haha ๐Ÿ˜† . There were a lot of French restaurants, run by French people, in Marigot (and in the French side overall).

A delicious French meal in the French side
A serving of escargot, bavette with pasta, and cappuccino at L’Arhawak
Once we had lunch at L’Arhawak, a family restaurant run by a super friendly French family in Marigot. The guy thought I spoke French because apparently I pronounced “bonjour” perfectly, lol ๐Ÿ˜† . Well, those frequent trips to France and flights with Air France paid off, I guess, lol ๐Ÿ˜† . Anyway, I had a bavette for lunch and we shared a serving of escargot as a side dish. It was my second time ever eating escargot (my first time was this May in Rennes), and this escargot in Marigot was much better! ๐Ÿ™‚

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Sint Maarten
3. Part II: Sint Maarten
4. Part III: The Maho Beach
5. Part IV: Saint Martin
6. Part V: Back to the Netherlands

***

Dutch-French border in the Caribbean
Perbatasan Belanda dan Prancis di Karibia
Seperti yang kusebutkan di posting Pendahuluan, pulau St. Martin diperintah oleh dua negara: Kerajaan Belanda di selatan (area Sint Maarten) dan Prancis di utara (area Saint Martin). Ada hak untuk bebas berpindah di antara dua bagian ini sehingga jelas dong kami memanfaatkannya untuk menjelajahi pulau dengan mobil sewaan kami. Di posting Bagian II, aku fokus di bagian Belandanya. Nah, di posting ini, aku akan menceritakan bagian Prancisnya.

***

Jika bagian Belanda nampak lebih maju, bagian Prancis, secara umum, nampak lebih permai bagiku. Ada bukit-bukit, padang-padang, dan (kelas) pantai-pantai yang pemandangannya kece untu dinikmati.

A coastal road in the French side
Sebuah jalan tepi pantai di sisi Prancis
Ngomongin garis pantai, kami mengunjungi beberapa pantai di sana dan sempat juga sekali menyusuri jalan tepian pantai di sisi timur pulaunya. Pantai-pantainya, jelas, cakep-cakep deh walaupun memang mirip-mirip sih dengan yang di sisi Belanda (Namanya aja pulau kecil, nggak mengherankan juga kan dua bagiannya mirip-mirip alamnya? Haha ๐Ÿ˜† ). Namun, aku merasa pantai-pantai di sisi Prancis itu sedikit lebih kotor dibandingkan yang di sisi Belanda. Bukan, bukan kotor karena sampah (manusia) atau air lautnya terpolusi, tetapi kotor karena sisa-sisa rumput laut (kayaknya?) yang sudah menghitam yang banyak terlihat di pasir pantainya.

The Orient Bay in the French side
Pantai Orient di sisi Prancis, yang hitam-hitam yang kusebutkan di atas terlihat kan di foto ini.
Secara umum, sisi Prancis lebih tidak sibuk dibandingkan sisi Belanda. Nampaknya memang pusat perekonomian pulau ini tersentralisasi di sisi Belanda deh, dimana di sana juga banyak terdapat pabrik dan, akibatnya, perdagangan. Mungkin sisi Prancis lebih digunakan untuk hidup ya karena memang lebih tenang. Ini terefleksikan juga sih dari beberapa lokasi hotel-hotel resort yang mana cukup “terisolasi”; mungkin memang tujuannya adalah agar lebih menyatu dengan alam.

Ibukota sisi Prancis adalah kota Marigot, yang berukuran lebih kecil daripada Philipsburg di sisi Belanda (ya iya lah ya). Aku suka Marigot; dan, bahkan, aku lebih menyukainya daripada Philipsburg loh. Walaupun secara umum kotanya juga lebih tidak sibuk dibandingkan Philipsburg, tetapi di waktu-waktu tertentu di kotanya bisa ada kemacetan lalu-lintas juga, haha. Ini disebabkan jalanannya yang sempit-sempit ๐Ÿ˜› .

Marigot
Marigot
Ngomongin Marigot dan sisi Prancis, makanan terenak yang kami makan sepanjang waktu kami di Sint Maarten kami temukan di Marigot! Yah, dipikir-pikir lagi mah memang tidak mengherankan sama sekali ya, apalagi aku kan memang suka makanan Prancis, haha ๐Ÿ˜† . Ada banyak sekali restoran Prancis, yang dikelola oleh orang Prancis loh, di Marigot (dan juga di keseluruhan sisi Prancis secara umum).

A delicious French meal in the French side
Seporsi escargot, bavette dengan pasta, dan cappuccino di L’Arhawak
Suatu ketika kami makan siang di restoran L’Arhawak, sebuah restoran keluarga yang dikelola oleh sekeluarga Prancis yang super ramah banget. Bapak-bapaknya awalnya mengira aku bisa berbahasa Prancis karena ternyata aku mengucapkan “bonjour” dengan sempurna, huahaha ๐Ÿ˜† . Yah, sering jalan-jalan ke Prancis dan terbang dengan Air France ternyata ada buahnya juga ya, haha ๐Ÿ˜† . Anyway, aku memesan bavette untuk makan siang dan kami berbagi seporsi escargot untuk makanan sampingan. Ini adalah kali kedua seumur-hidup aku makan escargot (kali pertama adalah Mei ini di Rennes) dan escargot di Marigot ini rasanya lebih enak loh! ๐Ÿ™‚