#2073 – A Star Trek: Voyager Tour in Los Angeles

ENGLISH

I have mentioned a few times (see Part VI and Part VII posts linked below) that I did a mini Star Trek: Voyager tour while in Los Angeles during my recent year end trip to California; pretty much similar to my Digimon Adventure tour in Tokyo almost three years ago. Btw, here are the main posts of this 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class

It was actually quite fun, btw, as it gave me a direction to spend some of my time in Los Angeles, haha. Anyway, so here is the story.

First of all, you might wonder how could I possibly do a Star Trek tour in Los Angeles. Wasn’t the setting of Star Trek in space? While indeed generally the setting of Star Trek was in space, there were, unsurprisingly, a few special Star Trek stories which took place on Earth. In this case, it was the double episode “Future’s End” in Star Trek: Voyager’s season three. Here is a promotional clip I could find of this episode:

A short recap: In the 24th century, Captain Braxton who came back in time from the 29th century wanted to destroy USS Voyager. Obviously the crews of Voyager weren’t going to just let a stranger destroy them and so they fought. During the fight, both parties were accidentally pulled into the 20th century as the graviton field Captain Braxton used to go back in time collapsed. Suddenly, USS Voyager found themselves to be orbiting Earth in the year 1996. The crews got strange reading from Los Angeles and decided to investigate it by beaming a team down there. Btw, this reading was indeed related to Captain Braxton who was thrown back in time to the year 1967.

***

For my tour, I basically followed this two-parter article (the movie stills below were taken from the article as well). And so I would like to thank whoever went into the trouble of writing that article! It was very helpful! Haha 😆 .

Griffith Observatory

Of the episode’s many scenes in Los Angeles, what I remembered the most was the Griffith Observatory scene.

And as you can see, the scene took place during the day. This was one of the reasons why I went to Griffith twice (see Part VI).

Tom Paris and Tuvok at the Griffith Observatory

Me at the Griffith Observatory some “21 years” later

There was also a phaser fight between Tom Paris and Tuvok versus one of Henry Starling’s henchman in front of the monument.

Tuvok firing a phaser

The drop-off area

Anyway, it turned out that the Griffith Observatory in 1996 was much less crowded than in 2017!! There were soo many people when I visited!! Lol 😆

Santa Monica

The episode’s first scene in Los Angeles was actually in the Santa Monica Pier (though in the story it was the Venice Boardwalk, which was not where it was shot). Chakotay, Janeway, Tuvok, and Paris stood in front of the carousel.

Chakotay, Janeway, Tuvok, and Paris in Santa Monica.

The Carousel building in Santa Monica Pier.

And then not long after, Chakotay and Janeway spotted the now-homeless Captain Braxton in front of the famous Hot Dog on a Stick stall.

Chakotay and Janeway in front of the Hot Dog on a Stick stall.

Me selfie-ing in front of the Hot Dog on a Stick stall.

They also had a short scene following the homeless Captain Braxton at the Palisides Cliffside Park just nearby the main gate of the Pier.

And obviously I was there too, hahaha 😆 .

The Palisides Cliffside Park in Santa Monica

Downtown Los Angeles

Some of the scenes also took place in Downtown Los Angeles. The Los Angeles Music Center Plaza with its famous Peace on Earth fountain was chosen as the place where Tuvok and Paris planned to kidnap Henry Starling.

Tuvok, Paris, and Rain attempted to trick Henry Starling.

The east side of the Los Angeles Music Center in 2017.

This plaza was also where the Doctor’s mobile holo emitter was introduced.

The Doctor in Los Angeles

The Los Angeles Music Plaza.

And last but not least, the exterior of Henry Starling’s office building was actually the Metro Building next to Los Angeles Union Station.

The Chronowerx Office Building.

The Metro Building

***

So, yeah, as you can see, I certainly was having fun with this “away mission” in Los Angeles! :mrgreen: . There were some other sites which I did not visit, though, mainly because it was quite tricky to get there, haha.

BAHASA INDONESIA

Aku sebutkan beberapa kali (baca Bagian VI dan Bagian VII melalui tautan di bawah) bahwa aku membuat tur mini Star Trek: Voyager di Los Angeles ketika sedang berlibur akhir tahun di sana baru-baru ini; mirip-mirip lah seperti tur Digimon Adventure-ku di Tokyo hampir tiga tahun yang lalu. Btw, berikut ini posting-posting berisi cerita utama dari seri 2017 Year End Trip-ku:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class

Tur ini seru lho, karena memberiku suatu “pedoman” untuk bagaimana menyusun rencanaku di Los Angeles, haha. Anyway, berikut ini ceritanya.

Pertama-tama, mungkin pada bertanya-tanya kok bisa sih tur Star Trek di Los Angeles? Bukannya cerita Star Trek mengambil tempat di luar angkasa? Walaupun secara umum memang ceritanya berlatar di luar angkasa, tetapi, tidak mengejutkan, ada beberapa cerita khusus Star Trek yang mengambil tempat di planet Bumi juga. Dalam kasus ini, yang kumaksud adalah episode dual “Future’s End” di musim ketiganya Star Trek: Voyager. Berikut ini iklan promo dari episode ini dulu:

Sinopsis episodenya begini nih: Di abad ke-24, Kapten Braxton yang kembali ke masa lalu dari abad ke-29 bermaksud menghancurkan USS Voyager. Jelas dong Voyager ogah buat dihancurkan dan mereka kemudian bertempur. Ketika sedang bertempur, kedua pihak tidak sengaja terseret ke abad ke-20 karena graviton field yang digunakan digunakan Kapten Braxton untuk kembali ke masa lalu melemah. Jadilah kru USS Voyager tiba-tiba berada di angkasa mengorbit planet Bumi di tahun 1996. Mereka mendapatkan sinyal aneh yang berasal dari kota Los Angeles dan memutuskan untuk menginvestigasinya dengan mengirimkan beberapa kru turun ke darat. Btw, sinyal ini memang berkaitan dengan Kapten Braxton yang mana terseret ke tahun 1967.

***

Untuk turku, pada dasarnya aku mengikuti arahan artikel dua bagian ini sih (screenshot dari episodenya yang aku posting di bawah berasal dari artikel tersebut). Jadi aku ingin berterima-kasih kepada orang yang sudah repot-repot menulis artikel tersebut! Membantu sekali lho! Haha 😆 .

Griffith Observatory

Dari adegan-adegan di Los Angeles, yang paling kuingat adalah adegan di Griffith Observatory.

Dan seperti yang bisa dilihat di atas, adegannya mengambil waktu di siang hari. Makanya aku pergi ke Griffith dua kali sewaktu di LA kemarin (baca Bagian VI).

Tom Paris dan Tuvok di Griffith Observatory.

Aku di Griffith Observatory “21 tahun” kemudian.

Terjadi pula pertarungan dengan phaser antara Tom Paris dan Tuvok melawan salah satu anak buahnya Henry Starling di depan monumennya itu.

Tuvok menembakkan phaser

Area drop-off di Griffith

Anyway, ternyata Griffith Observatory di tahun 1996 itu sepi ya, jauh lebih sepi daripada tahun 2017!! Kemarin sewaktu aku di sana rame banget dong!! Haha 😆 .

Santa Monica

Adegan pertama episodenya di Los Angeles sebenarnya mengambil tempat di Santa Monica Pier (walaupun di ceritanya tempatnya adalah Venice Boardwalk sih, tetapi syutingnya bukan di Venice). Chakotay, Janeway, Tuvok, dan Paris berdiri di depan gedung carousel.

Chakotay, Janeway, Tuvok, dan Paris di Santa Monica.

Gedung carousel di Santa Monica Pier di tahun 2017.

Dan kemudian tidak lama kemudian, Chakotay dan Janeway melihat Kapten Braxton yang menjadi gelandangan di depan kedai Hot Dog on a Stick yang terkenal itu.

Chakotay dan Janeway di depan kedai Hot Dog on a Stick.

Aku ber-selfie di depan kedai Hot Dog on a Stick di Santa Monica.

Mereka juga membuntuti Kapten Braxton di Taman Palisides Cliffside yang berada di dekat gerbang utama Pier-nya.

Dan jelas aku ada di sana juga doong, hahaha 😆 .

Taman Palisides Cliffside di Santa Monica

Downtown Los Angeles

Beberapa adegan lain juga mengambil tempat di Downtown Los Angeles. Los Angeles Music Center Plaza dengan air mancur Peace on Earth yang terkenal itu dipilih sebagai tempat dimana Tuvok dan Paris berencana menculik Henry Starling.

Tuvok, Paris, dan Rain mencoba menjebak Starling.

Sisi timur Los Angeles Music Center di tahun 2017.

Di plaza ini juga mobile holo emitter-nya The Doctor diperkenalkan.

The Doctor di Los Angeles.

Los Angeles Music Plaza.

Dan terakhir, eksterior dari gedung kantornya Henry Starling sebenarnya adalah Gedung Metro di sebelahnya Stasiun Union di Los Angeles.

Gedung kantor Chronowerx

Gedung Metro

***

Jadi, ya, seperti yang bisa dilihat, aku sungguh bersenang-senang dengan “misi” ini di Los Angeles! :mrgreen: . Sebenarnya masih ada beberapa tempat lain yang juga digunakan untuk syuting sih, tetapi agak repot untuk pergi kesananya, hahaha.

Advertisements

#2061 – Star Trek: Discovery (Season 1)

ENGLISH

In the last four to five months, I have been following Star Trek’s most recent series, Star Trek: Discovery. And just this weekend (Well, Monday for the Dutch Netflixer like me), the first season was concluded.

If I have to describe the first season of this new series, I will go with “a series full of plot twists“, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> You know, Ash Tyler was actually Voq, Gabriel Lorca was actually from the Mirror universe, Mirror Philippa Georgiou was the cruel and evil emperor of the Terran Empire, and the appointment of Mirror Philippa Georgiou as the captain of USS Discovery after being brought to the Prime (our) universe by Michael Burnham. <<Spoiler Done >> This made this series exciting, to me, as it led me to not know what to expect. Even though at some point I felt like it went overdose with the plot-twisting, lol 😆 .

On the other hand, and I have mentioned this before, this series focused a lot on the action part (Mainly the Federation vs Klingon war and getting trapped in the Mirror Universe and the return attempt) and not at all on the social/interpersonal/intrapersonal conflict aspect like the other Star Trek series. So this definitely gave a really different vibe of a Star Trek series to me.

Each episode was also made not independent of each other; and that one would need to follow the series from the beginning to know what was going on. When you watch one of Star Trek: Voyager‘s episodes, for instance, most of the time you would not need to watch the previous episodes to understand what was going on.

<< Spoiler Alert, Again >>

Ironically, though, IMO the season finale was the “most Star Trek” episode. An away mission (finally!) down to an establishment on an alien planet (Klingon’s Qo’Nos) and ending the war with a (to some degree) diplomacy. On one hand this could feel anticlimatic because most of the preceding episodes were full of fights and wars, that one (or I, at least) would expect to see some “actions” in the finale. But on the other hand this made a lot of sense. The story arc in those preceding episodes was “controlled” by a Terran (Mirror Gabriel Lorca and Mirror Philippa Georgiou), who loved and lived on fights and wars. In this episode, the “real” Starfleet and Federation finally took charge, via the lead of Michael Burnham.

So in the end, I was overall satisfied with the finale! Though, one thing disappointed me a little bit, where they only used one line mentioning that the spore technology was off the table (Starfleet was committed to finding non-human interface, according to Stamets (which, obviously, wasn’t successful in the end)). But to top it off, this season ended with the most coolest cliff-hanger ever, where the USS Discovery crew encountered a distress call from … the USS Enterprise!!

Damn now I cannot wait for season two!!

<< Spoiler Ends >>

***

At the end of the day, the biggest and most important question is: “Did I enjoy this new series?” And the answer to this was “Yes!“. Haha 😆 So despite the “shift” in the characteristics of Star Trek series (despite the very Star Trek finale), overall I still felt like the writers (and everyone involved) did a great job in creating an enjoyable and exciting series, which made me look forward to it everytime I went back from work on Monday!

And so certainly I am excited that a second season has been ordered, and I am looking forward to it! Even though I still have a little bit of hope that the overall tone of second season will be a little bit “more Star Trek”. But nonetheless, we will see!!

BAHASA INDONESIA

Dalam empat atau lima bulan belakangan, aku telah mengikuti seri terbarunya Star Trek yang dinamai Star Trek: Discovery. Dan akhir pekan kemarin ini (Eh, hari Senin ding untuk pengguna Netflix Belanda kayak aku), musim pertama dari seri ini berakhir.

Jika musim pertama dari seri ini harus aku deskripsikan, aku akan menjawabnya dengan “sebuah seri yang penuh plot twists”, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> Ya tahu kan, dari Ash Tyler yang mana ternyata adalah Voq, Gabriel Lorca yang ternyata berasal dari alam semesta paralel (Mirror), Philippa Georgiou versi Mirror ternyata adalah kaisar yang kejam dan jahat dari Kekaisaran Terran, dan penunjukkan Philippa Georgiou paralel ini sebagai kapten USS Discovery setelah ia “diculik” oleh Michael Burnham ke alam semesta Prime (alam semesta kita). << Spoiler Selesai >> Ini membuat acaranya seru sih, bagiku, soalnya aku jadi tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun juga pernah di satu titik rasanya seri ini agak overdosis dengan plot-twisting sih, haha 😆 .

Di sisi lain, dan sudah kusebutkan sebelumnya, seri ini berfokus di sisi action (Dengan garis besar di jalan cerita Perang Federasi vs Klingon dan terjebaknya kru USS Discovery di alam semesta paralel Mirror dan upaya mereka untuk pulang) dan sama sekali tidak menyentuh aspek konflik sosial/interpersonal/intrapersonal seperti di seri-seri Star Trek lainnya. Sebagai akibatnya, nuansa seri ini terasa berbeda sekali dari seri-seri Star Trek lainnya untukku.

Setiap episode juga tidak dibuat independen satu sama lain; jadi seorang penonton harus mengikuti ceritanya dari awal untuk memahami jalan ceritanya. Ketika kamu menonton satu episodenya Star Trek: Voyager, misalnya, kemungkinan besar kamu masih akan paham jalan ceritanya tanpa harus menonton episode-episode sebelumnya.

<< Spoiler Alert, Lagi >>

Ironisnya, menurutku episode terakhir musim ini justru adalah episode yang “paling Star Trek” dari semua episodenya Discovery. Misi away (akhirnya!) turun ke suatu kota di planet alien (Planet Qo’Nos-nya Klingon) dan mengakhiri perang dengan (kurang lebih) diplomasi. Di satu sisi ini terasa agak anti-klimaks karena episode-episode sebelumnya kan penuh dengan pertarungan dan peperangan, sehingga (bagiku, setidaknya) aku sudah mempersiapkan diriku untuk menonton final yang penuh “action” gitu kan. Tetapi di sisi lain ini sebenarnya justru masuk akal banget lho. Jalan cerita di episode-episode sebelumnya ceritanya kan “dikontrol” oleh bangsa Terran (Gabriel Lorca dan Philippa Georgiou dari alam semesta paralel Mirror), yang memang suka dan hidup dalam pertarungan dan peperangan. Di episode ini, Starfleet dan Federasi “yang sebenarnya” mengambil kontrol kembali, dengan dipimpin oleh Michael Burnham.

Jadi pada akhirnya, aku sungguh puas dengan akhir dari musim ini! Walaupun satu hal kecil mengecewakanku sedikit sih, dimana hanya satu kalimat saja yang menyebutkan bahwa teknologi spora tidak lagi digunakan (Starfleet berkomitmen untuk mencari cara pemanfaatan teknologi ini tanpa menggunakan manusia, menurut Stamets (yang mana, jelas, upaya yang pada akhirnya gagal)). Tetapi, musim ini diakhiri dengan cliff-hanger yang paling keren banget, dimana kru USS Discovery mendapatkan panggilan darurat dari … USS Enterprise!!

Ahhhh, aku jadi makin nggak sabar kan menunggu musim kedua!!

<< Spoiler Selesai >>

***

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar dan paling penting adalah: “Apakah aku menikmati seri baru ini?” Dan untuk pertanyaan ini jawabanku adalah “Iya!“. Haha 😆 . Jadi biarpun adalahnya “pergeseran” karakteristik dari seri-seri Star Trek lainnya (walaupun episode terakhirnya Star Trek banget sih), secara keseluruhan toh aku masih merasa penulis naskahnya (dan semua yang terlibat) telah menghasilkan suatu seri yang bagus dan seru, yang mana selalu membuatku bersemangat ketika pulang kantor di hari Senin!

Makanya aku merasa excited dengan berita dimana musim kedua sudah dipesan, sehingga aku nggak sabar untuk menontonnya! Walaupun aku juga sedikit berharap mudah-mudahan nuansa umum musim kedua nanti bakal “lebih Star Trek” sih. Ah, tapi kita lihat saja lah ya!!

#2046 – A Boat Trip and Star Trek: Discovery

ENGLISH

Boat Trip

Last week’s Monday, my team at the office (well, not officially a “team”, but I won’t get too much to details here as that is not point, haha) was able to secure our company’s private boat for an evening tour in the canal of Amsterdam. Last year we had the same event at around the same time but I had to miss it because of a major train disruption; which prevented me from going to Amsterdam as I still lived in Delft at the time. And so obviously I was never going to miss this event this year! Haha 😆 . And also especially because the Amsterdam Light Festival was still on, making the trip even more exciting!

The tour departed at 4 PM where we boarded the company’s private boat in front of the office. Even boxes of pizzas and drinks (including glühwein! 😍) were already prepared on the boat! We were quite lucky that the weather was great that day, despite it being quite cold with temperature at around 1°C, haha. The tour lasted for about 2.5 hours, and so indeed it was really nice!!

Star Trek: Discovery

Speaking of that Monday, the second part of Star Trek: Discovery was also finally released! Yep, after a (short-ish) break from mid-November, finally I got to watch the continuation!!

In short, I enjoyed the episode and thought that as a show, it was written well. Even though as I said before, indeed the whole series now has dropped the interpersonal/intrapersonal/social conflict aspect, which was core in many episodes of the other previous series, at the most part. Having said that, I am still excited to watch the coming episodes which shows that for whatever reason, this writing works on me!

Glad that this was settled right away.

BAHASA INDONESIA

Tur Kapal

Hari Senin minggu lalu, timku di kantor (eh, bukan “tim” resmi sih sebenarnya, tapi ini tidak akan aku bahas sekarang deh karena bukan ini intinya, haha) bisa mem-booking kapal milik kantor untuk tur malam di kanalnya Amsterdam. Tahun lalu, kami juga mengadakan acara serupa di tanggal-tanggal seginian juga tetapi acaranya harus aku lewatkan karena gangguan besar di jaringan kereta api di Belanda hari itu; yang mana membuatku tidak bisa pergi ke Amsterdam (karena waktu itu aku masih tinggal di Delft). Jadi jelas dong ya aku nggak ingin melewatkan acara ini tahun ini! Haha 😆 . Dan apalagi juga Amsterdam Light Festival kan masih berlangsung, sehingga jelas turnya akan menjadi lebih seru!

Tur dimulai jam 4 sore dimana kami menaiki kapal kantor kami di depan kantor. Bahkan beberapa kotak pizza dan minuman (termasuk glühwein juga dong! 😍) sudah disiapkan di dalam kapal! Kami juga beruntung hari itu dimana cuacanya sedang kebetulan oke juga, walaupun dingin sih dengan temperatur sekitar 1°C, haha. Turnya mengambil waktu 2,5 jam-an, jadi memang seru banget!!

Star Trek: Discovery

Ngomongin hari Senin itu, bagian kedua dari Star Trek: Discovery juga akhirnya dirilis lho! Iya, setelah ada jeda (sejenak) semenjak pertengahan November, akhirnya aku berkesempatan menonton kelanjutannya!!

Secara singkat, aku menikmati episodenya sih dan sebagai sebuah acara, bagiku naskahnya ditulis dengan baik. Walaupun seperti yang kubilang sebelumnya, memang seri ini secara keseluruhan sudah sangat amat mengurangi aspek konflik interpersonal/intrapersonal/sosial, sebuah aspek yang menjadi inti di banyak episode seri-seri lainnya. Walaupun begitu, toh aku masih excited menunggu episode-episode berikutnya nih jadi pada akhirnya, strategi penulisan naskah seperti ini ternyata berhasil juga ya untuk menarik minatku!

Dan aku juga lega hal ini langsung dijelaskan dari awal.

#2035 – Some Side Star Trek Stories

ENGLISH

So you know this Fall I was following the new Star Trek: Discovery and remarathoning Star Trek: Voyager. Of course I use Netflix for both series; and you know Netflix comes with the cool language options feature. Here are a couple about this feature which I found … amusing!

Star Trek in … Klingon and … Indonesian!!

So as you see in the photo above, using the feature we can watch Star Trek: Discovery dubbed in: Indonesian with subtitles in … Klingon! Lol 😆 .

I think this is a very nice touch of this new series! Though, speaking of the Klingon, this language is widely spoken in the series in the first place anyway (as the Klingons are portrayed as the antagonist). So somehow this feature choice, to me, becomes “less comical” and is actually more in line with the story line. I am not sure what is the original intention, though…

Speaking of the language, while Klingon is not available as a subtitle in the Star Trek: Voyager in Netflix, the Indonesian sub still is! I tried it once to see how the result would be. And here is a short clip of one of my most favorite quotes from Captain Kathryn Janeway from season 1:

To me, it sounds … very strange! Haha 😛 Somehow, perhaps I have associated the characters with their (original) voices so hearing them “speak” in another language does not make it feel “right” to me, haha.

What do you think?

BAHSA INDONESIA

Jadi ceritanya musim gugur kali ini aku mengikuti serial baru Star Trek: Discovery dan menonton ulang Star Trek: Voyager. Tentu saja aku menggunakan Netflix untuk keduanya; dan tahu kan Netflix itu dilengkap dengan fitur pilihan bahasa yang keren. Berikut ini dua hal tentang fitur ini yang aku rasa … menarik dan lucu!

Star Trek dalam … bahasa Klingon dan … bahasa Indonesia!!

Seperti yang bisa dilihat di foto di atas, dengan fitur ini kita bisa menonton Star Trek: Discovery yang di-dubbing dalam: bahasa Indonesia dan dengan teks dalam … bahasa Klingon! Huahaha 😆 .

Aku merasa ini adalah sentuhan yang oke untuk seri ini! Walaupu, ngomongin bahasa Klingonnya, bahasa ini kan toh ceritanya banyak digunakan di serinya itu sendiri ya (karena bangsa Klingon ditampilkan sebagai antagonis di seri ini). Jadi entah bagaimana pemilihan fitur ini, bagiku, terasa “tidak begitu untuk lucu-lucuan” dan malah menjadi cukup nyambung dengan jalan ceritanya. Tapi aku nggak tahu apakah ini hanya kebetulan belaka sih.

Ngomongin bahasa, walaupun bahasa Klingon tidak tersedia di fitur teks untuk Star Trek: Voyager di Netflix, dubbing bahasa Indonesianya masih ada lho! Sekali aku iseng mengaktifkannya untuk melihat produk akhirnya seperti apa. Dan berikut ini klip singkat dari salah satu quote favoritku dari Kapten Katrhyn Janeway di musim 1:

Untukku malah jadi terdengar … aneh banget! Haha 😛 . Entah bagaimana, sepertinya aku sudah mengasosiasikan karakternya dengan suara-suara aslinya sehingga mendengar mereka “berbicara” dalam bahasa lain justru membuatnya terasa “janggal” untukku, haha.

Bagaimana menurut kalian?

#2021 – Discovery, First Chapter

ENGLISH

So the first chapter (i.e. the first nine episodes) of the first season (that is scheduled to have fifteen episodes) of the new Star Trek: Discovery has been concluded in mid-November. Of course I was really excited when the series was premiered earlier in the Fall; but now I have watched enough episodes to formulate my own opinion of the series. And here I would like to share that…

First of all, I have been enjoying the show. I find it exciting and the general story arc to be well written. Moreover, to me the characters are also very, very interesting as they focus not only on the senior officers (like typical other Star Trek series) but also on the “grass root” crewman level. The captain appears to be, at least a little bit, a “troubled” person, a trait which of course makes a show more exciting, and there seems to be a “silver bullet” in the Klingon side, the “antagonist” side of the series. Overall, I feel like the series is very rich in terms of the characters, that in my opinion is one of its strongest point.

There are a few details which I don’t like, however, mainly the spore drive technology which could make instantaneous travel to anywhere in the universe in no time (I find it “absurd” and it does not feel “right” especially considering that the series’ timeline to be before The Original Series let alone The Next Generation and Voyager). I also don’t like the design of the USS Discovery; but I have been feeling this way since the beginning anyway, haha 😆 .

Having said that, there is one big factor which disappoints me. To me this series has lost a big part of a Star Trek show: the social/interpersonal/intrapersonal conflict aspect present in many episodes of the other series. You see, unfortunately the excitement of the story arc comes with the price of a lot of focus on the “action” side of thing (thus the “excitement”). The side effect of this is that, to me, despite watching a show involving Star Trek characters and setting, it does not feel like watching a Star Trek series.

One of the many reasons I like the Star Trek series is that many of their episodes portray certain interesting social interactions/conflicts which I can relate to my life (be it personal or professional), even to the point of challenging a status quo and presenting strong ethical conflict. These episodes make me think about the dilemma in those situations and in some of those about what would I do if I were in those situations; which I find enjoyable. Of course not all episodes are like this, where there are times here and there where action-oriented episodes are produced as well to keep the excitement level up. I understand that focusing too much on the social aspect could lead to a “boring” show which could translate to lower rating (which in my opinion is a reason why Enterprise in the early 2000s “failed”); but stripping this part off the show also feels like stripping off an identity of the series. Well, at least to me…

To be fair, it is not like the writers completely take the social conflict out of the script. There are still some, for instance in the episode where Captain Lorca was captured by the Klingon and Discovery was attempting to save him. The only way for the crew to do so was to torture an animal. However, these are still too few to my liking and even those conflicts feel, well, “juvenile”.

***

Ingeniously, the first chapter ended with a cliff hanger, where the last “spore jump” they attempted went incomplete, stranding USS Discovery nobody knew where, and Lt. Paul Stamets, whom had to steer the ship physically in each jump, reached the limit of the side effect and broke down. I felt like this was an opportunity the writers made to “kill off” the spore drive idea (As we knew it would not work eventually anyway, otherwise the entire Star Trek: Voyager became irrelevant and stupid); and to start “fresh” the next chapter.

***

Nevertheless, I guess the most important thing is that I still enjoy the show after all. It is just that I feel like the Star Trek identity has been lost a little bit. So it is interesting to see how the second chapter will pan out, and even the second season which apparently has been ordered!!

Do you watch the series? And if so, what do you think about it?

BAHASA INDONESIA

Jadi bab pertama (baca: sembilan episode pertama) dari musim pertama (yang dijadwalkan akan terdiri atas lima belas episode) seri baru Star Trek: Discovery sudah selesai ditayangkan pertengahan November ini. Tentu saja aku excited banget ketika acaranya mulai ditayangkan awal musim gugur ini; tetapi sekarang aku sudah menonton cukup episode untuk membentuk opiniku akan seri ini. Dan di posting ini aku akan membagikannya…

Pertama-tama, sejauh ini aku menikmati acaranya. Aku merasa acaranya seru banget dan jalan ceritanya juga ditulis dengan baik. Lebih jauh lagi, untukku karakter-karakternya juga amat menarik karena mereka tidak hanya fokus terhadap pejabat senior (seperti di seri-seri Star Trek lainnya) tetapi juga fokus kepada kru berpangkat “rendahan”. Kaptennya sendiri juga nampak, sedikitnya, seperti seseorang yang “bermasalah” yang mana tentu membuat jalan ceritanya semakin menarik, dan sepertinya juga ada tokoh “peluru perak” di sisi Klingon, sisi “antagonis” dari seri ini. Jadi secara umum aku merasa bahwa seri kali ini sangat amat “kaya” dari segi karakter, yang mana merupakan satu poin kelebihan dari seri kali ini.

Ada beberapa detail yang tidak aku sukai, tapinya, yang mana terutama adalah teknologi berbasis spora jamur yang memunginkan mereka bisa bepergian secara instan ke seluruh penjuru alam semesta (Aku merasa konsepnya “konyol” dan membuatku amat tidak “sreg” terutama mempertimbangkan waktu jalan cerita seri ini yang adalah sebelum masanya The Original Series apalagi The Next Generation dan Voyager). Aku juga tidak suka disain kapal USS Discovery-nya; yang mana sudah aku sebutkan semenjak dulu sih, haha 😆 . I

Namun, ada satu faktor besar lainnya yang mengecewakanku. Bagiku seri ini kehilangan satu identitas dari suatu seri Star Trek: konflik sosial/interpersonal/intrapersonal yang diangkat di banyak episode seri-seri Star Trek lainnya. Nah kan, sayangnya keseruan dari jalan ceritanya harus dibayar dengan banyak fokus di sisi “action” (yang mana mengakibatkan keseruan terbentuk). Efek samping dari ini adalah, bagiku, walaupun aku menonton suatu acara yang melibatkan karakter-karakter dan setting-nya Star Trek, entah mengapa aku merasa tidak seperti menonton suatu seri Star Trek.

Satu dari banyak alasan aku menyukai seri Star Trek adalah banyak episodenya yang mengangkat tema interaksi/konflik sosial/batin yang bisa aku hubungkan dengan kehidupanku (baik itu pribadi ataupun profesional), bahkan terkadang juga mempertanyakan status quo dan mengangkat tema konflik etika yang kental. Episode-episode ini membuatku berpikir akan dilema di situasi-situasi tersebut dan di beberapa darinya membuatku berpikir apakah yang akan kulakukan andaikata aku berada di situasi itu; sesuatu yang sangat aku nikmati. Tentu saja tidak semua episodenya seperti ini ya, dimana ada beberapa episode yang fokus kepada sisi action-nya supaya tingkat keseruannya masih terjaga. Aku paham sih kebanyakan fokus ke sisi sosialnya akan membuat acaranya menjadi “membosankan” yang ujung-ujungnya menyebabkan rating yang rendah (Menurutku ini lah alasan Enterprise di awal tahun 2000an “gagal”); tetapi di sisi lain sama sekali menghilangkan aspek ini dari acaranya juga terasa seperti menghilangkan satu identitas dari acaranya. Yah, setidaknya bagiku sih… .

Sebenarnya bukannya juga penulis sama sekali menghilangkan aspek konflik sosial dari jalan ceritanya sih. Masih ada kok, misalnya di episode dimana Kapten Lorca menjadi tawanan Klingon dan Discovery berusaha menyelamatkannya. Satu-satunya cara bagi krunya untuk bisa melaksanakan tugas itu adalah dengan menyiksa seekor binatang. Namun, bagiku konflik-konflik ini masih terlalu sedikit dan konflik yang ada pun terasa, hmm, “kekanakan”.

***

Bagusnya, bab pertama ini berakhir dengan cliff hanger, dimana “loncatan spora” terakhir yang mereka lakukan tidak berlangsung secara penuh, sehingga USS Discovery terdampat entah dimana, dan Lt. Paul Stamets, yang harus secara fisik menyetir pesawatnya di setiap loncatan, mencapai batas dari efek samping yang harus ia derita darinya dan ambruk. Aku merasa ini adalah kesempatan yang memang dibuat oleh penulisnya untuk “membuang” ide mesin spora ini (Karena toh kita tahu mesin ini pasti pada akhirnya tidak akan bekerja, karena jika tidak keseluruhan cerita Star Trek: Voyager menjadi tidak relevan dan bodoh); dan untuk memulai bab selanjutnya dengan “segar”.

***

Walaupun begitu, aku rasa yang paling penting sih toh aku masih menikmati acaranya ya. Hanya saja memang rasanya satu identitasnya Star Trek sedikit hilang. Jadi menarik juga melihat bagaimana bab duanya akan berlangsung, dan bahkan musim kedua yang mana ternyata sudah dipesan!!

Apakah Kamu juga menonton acara ini? Jika iya, apakah pendapatmu sejauh ini?

#2012 – Fall TV Season

ENGLISH

Traditionally the Fall TV season has been my favorite because new seasons of series are, usually, premierred at this time. And this season, thankfully, is no different 😛 .

For once, obviously there is Star Trek: Discovery!! Anyway, I feel like the focus of this series has been more on the “action” side rather than on the “social/interpersonal/intrapersonal conflict” that is easy to relate to our daily lives normally present in other series. So this is why I have been feeling different “vibes” from this series. Having said that, thankfully the writers do not forget on the character development side, I feel. Nonetheless, all in all, I still enjoy this series, though!

Speaking about Star Trek, actually when I was wondering what should I watch after I finished remarathoning the entire nine seasons of HIMYM, I decided to remarathon Star Trek: Voyager, haha. There were seven seasons of Voyager and because each episode was around 45 minutes (each episode was made for a one-hour show, thus 15-ish minutes for advertisement which I could entirely skip thanks to Netflix, yeay!) so I knew it would take some time before I finished them all. Well, now I am already at the last season, though, haha 😛 .

Fall also means the return of one of my most favorite reality show: The Apprentice UK! Yes, BBC One runs its thirteenth series this year (including its spin-off, The Apprentice: You’re Fired, on BBC Two)!! And as always, it has been as interesting as ever!! 😀

These three shows have kept me “busy” enough that I don’t have the time to watch some other series at the moment! Haha 😀 . Anyway, another good news for a reality show (to me) is that The Amazing Race 30 started filming about a month ago, indicating that a 30th season is, well, a reality! Yeay 😀 . It will probably air next Spring, though; but with these three other series already keeping myself busy, I am actually glad it is for next year! Haha 😛

BAHASA INDONESIA

Biasanya musim gugur untuk urusan per-TV-an adalah musim favoritku karena biasanya musim-musim terbaru dari beberapa acara TV kan dimulai di waktu ini ya. Dan musim gugur kali ini, untungnya, juga begitu 😛 .

Pertama-tama, jelas dong ya ada Star Trek: Discovery!! Ngomong-ngomong, aku kok merasa fokus dari acara ini berada lebih di sisi “action“-nya ya daripada “urusan konflik sosial/interpersonal/intrapersonal” yang mudah kita kaitkan dengan kehidupan sehari-hari kita seperti yang sering diangkat di seri-seri Star Trek lainnya. Oleh karenanya, aku merasa “aura” seri ini agak berbeda dari seri-seri lainnya itu. Walaupun begitu, untungnya setidaknya penulisnya masih tidak melupakan urusan perkembangan karakternya sih. Namun, secara keseluruhan aku masih menikmati seri ini kok!

Ngomong-ngomong tentang Star Trek, sebenarnya ketika aku galau mesti nonton apa setelah aku selesai menonton ulang keseluruhan sembilan musimnya HIMYM, aku memutuskan untuk menonton ulang Star Trek: Voyager, haha. Voyager terdiri dari tujuh musim dan karena setiap episode mengambil waktu 45an menit (setiap episode dibuat untuk penayangan satu jam di TV, jadi 15an menit untuk iklan gitu yang mana bisa aku lewatkan berkat Netflix, hore!) sehingga aku tahu akan memakan waktu lumayan juga lah ya sampai menamatkannya. Eh tetapi sekarang aku sudah sampai di musim terakhir sih, haha 😛 .

Musim gugur juga berarti kembalinya dari salah satu reality show favoritku: The Apprentice UK! Iya, BBC One menayangkan musim ketiga-belasnya tahun ini (dan juga termasuk spin-off-nya The Apprentice: You’re Fired di BBC Two)!! Dan seperti biasa, acara ini selalu menarik untukku!! 😀

Tiga acara ini sudah membuatku cukup “sibuk” sehingga aku tidak memiliki waktu untuk menonton acara-acara lain! Haha 😀 . Ngomong-ngomong, ada berita baik loh (untukku sih) dimana The Amazing Race 30 sudah mulai filming nih sebulanan yang lalu, yang berarti sudah ada kepastian akan musim ke-30 lah ya! Hore 😀 . Acaranya mungkin baru ditayangkan musim semi tahun depan sih; tetapi dengan tiga acara lain ini yang sudah memakan semua waktuku, sebenarnya aku justru lega deh ini baru ditayangkan tahun depan! Haha 😛

#1998 – Star Trek: Discovery

ENGLISH

Not too long ago, I mentioned about the (what I had thought) neutral Star Trek: Voyager topic which suddenly “lost” its neutrality so I, to some degree, was “forced” to publish it asap. And here is the reason why:

In an unexpected (for me) turn of event of the year, it turned out that a new Star Trek series was released this September: Star Trek: Discovery!! 😱

Yes people, there was a new Star Trek series!! As in a new one after Star Trek: Enterprise that was aired in the early 2000s!

Obviously as a self-proclaimed Trekkies, I was very excited about this! Luckily to me, I could find this series in the Dutch Netflix! So I guess afterall I would not need to worry about finding a new series to follow after marathoning the entire nine seasons of HIMYM anyway, haha 😛 .

***

The first two episodes of the series were actually just “prologue”, where not even all of the main characters were introduced yet. I found it interesting that watching those first two episodes actually felt more like watching a Star Trek movie (though with a cliff-hanger ending) rather than a two-part episode of a Star Trek TV-series. But I guess this was intended 🙂 .

This made the start of the show and the general outlook a “breathe of fresh air”, IMO. The main character of the show, Michael Burnham, was sentenced for life at the end of the prologue. We entered the main setting of the show, USS Discovery, in the third episode following her point of view, as a “newbie” and an “outcast” (Remember that she is a prisoner) in an already established crew and ship in the middle of their mission. She was invited to join the crew by the USS Discovery’s captain, Gabriel Lorca, himself who was, obviously, well aware of Burnham’s status which he didn’t care about.

Indeed it is interesting that the captain here arguably is not the lead character of the show, unlike other Star Trek series!! On top of that, casting Jason Isaacs, the actor who played Lucius Malfoy in the Harry Potter movies, as the captain was a brilliant decision because the captain was depicted, somehow, like a “freak” at the beginning of the series. So I think it was a perfect match 🙈.

Anyway, the storyline took place at about 10 years before Star Trek: The Original Series timeline, and about 100 years before The Next Generation and Voyager. And so it felt a little bit funny to me that the technology in this series, due to the latest and more advanced CGI technique, appeared to be more advanced than those three other series while in the story, this series should have been much less advanced, haha 😛 .

***

When I first learned about the timeline, to be honest I was a little bit disappointed. I mean, the “reboot” movie installments (which three movies have been produced since 2009) also “anchored” themselves around The Original Series. And so I wish for the TV series, the writers would have chosen to fall closer to The Next Generation or Voyager timeline. But this was probably me being biased, as I was more familiar with The Next Generation or Voyager.

Oh, and one more thing, somehow I don’t really like the design of USS Discovery.

Ah well, there is no use in complaining for now. I guess, it is better for me to just sit back, relax, and enjoy this unexpected surprise!! 🙂

BAHASA INDONESIA

Belum berapa lama yang lalu, aku sebutkan bahwa topik yang (dulunya kukira) netral: Star Trek: Voyager tiba-tiba kehilangan “kenetralannya” sehingga “memaksaku” untuk mempublikasikan posting itu segera. Nah, ini lah alasan di balik itu:

Ternyata, tidak disangka-sangka (bagiku), sebuah seri baru Star Trek dirilis dong bulan September ini: Star Trek: Discovery!! 😱

Iyaaa, satu seri baru dari Star Trek!! Baru dalam artian sekarang ada seri selanjutnya setelah Star Trek: Enterprise di awal 2000an!

Jelas dong sebagai orang yang mengaku-aku sebagai Trekkies, aku excited banget dengan ini! Beruntungnya aku, aku bisa menemukan seri ini di Netflix-nya Belanda loh! Jadi sepertinya memang aku tidak perlu galau mau menonton seri baru apa setelah selesai maraton menonton kesemua sembilan musim dari HIMYM, haha 😛 .

***

Dua episode pertama dari seri ini ternyata hanyalah “prolog” saja, dimana bahkan belum semua karakter utamanya diperkenalkan. Bagiku menarik dimana menonton dua episode pertama justru serasa seperti menonton filmnya Star Trek (walaupun dengan cliff hanger di ending-nya) bukannya episode dengan dua bagian dari serial TV-nya Star Trek. Tetapi mungkin memang sengaja dibeginikan sih ya 🙂 .

Ini membuat permulaan serinya dan serinya secara umum terasa “segar” untukku. Karakter utama seri ini, Michael Burnham, ceritanya dihukum penjara seumur hidup di akhir prolog. Nah, kita diajak memasuki setting seri ini, USS Discovery, di episode ketiga dengan mengikuti sudut pandangnya, sebagai “anak baru” dan “anak yang dijauhi/ditakuti/dibenci” (Ingat, dia ini berstatus tahanan penjara/napi) di dalam kru dan kapal yang sudah cukup “mapan” di tengah-tengah misi mereka. Ia diajak bergabung ke dalam kru langsung oleh kapten USS Discovery sendiri, Gabriel Lorca, yang mana tentu tahu mengenai status tahanan Burnham ini tetapi tidak ia pedulikan.

Memang menarik bahwa di seri ini, kaptennya bisa dikatakan bukan karakter paling utama dari acaranya, tidak seperti seri-seri Star Trek lainnya!! Di atas itu semua, pemilihan Jason Isaacs, aktor yang memainkan Lucius Malfoy di film-film Harry Potter, sebagai kaptennya juga adalah pilihan yang brilian karena kaptennya digambarkan seperti seorang yang “freak” gitu di awal serinya, haha. Jadi cocok kan ya 🙈.

Anyway, jalan ceritanya berlangsung kurang lebih 10 tahun sebelum masanya Star Trek: The Original Series, dan sekitar 100an tahun sebelum masanya The Next Generation dan Voyager. Jadilah rasanya lucu juga dimana aku merasa teknologi di seri ini, akibat CGInya yang jelas lebih modern dan canggih di zaman sekarang kan, nampak lebih “maju” daripada di tiga seri lainnya itu; padahal dari segi lini masa kan seharusnya masih belum semaju itu ya 😛 .

***

Btw, ketika aku pertama kali tahu mengenai lini masa ini, sejujurnya aku sedikit kecewa. Maksudku, seri film “reboot“-nya (yang mana tiga film layar lebar sudah diproduksi sampai saat ini) kan juga “berpatokan” pada The Original Series. Jadilah bagiku seri TV ini akan lebih oke andaikata lebih dekat ke linimasanya The Next Generation atau Voyager kan; supaya adil gitu. Tetapi pendapatku ini mungkin sedikit bias sih, karena aku lebih familier dengan The Next Generation atau Voyager.

Oh iya, penting banget nih. Entah mengapa aku kurang menyukai disain pesawat USS Discovery, haha.

Ah sudahlah, nggak ada gunanya komplain sekarang kan. Aku rasa, sekarang ini lebih baik aku duduk manis, bersantai, dan menikmati kejutan tak terduga ini!! 🙂