My Interest, Review, TV Show

#2172 – Star Trek The Original Series


After finishing the entire four seasons of Black Mirror, I decided to give Star Trek The Original Series (TOS) a try.

Actually I had heard or read of great stuffs about this classic series from the 1960s. Basically all information that I got about this show was that it was highly recommended. However, you may call me shallow for this, but I hadn’t had the interest to watch this series mainly because of … the visual reason! Lol 😆 . I believed it would be very difficult for me to be able to enjoy a series with very “out of date” visual.

Btw I actually had watched some of the movies based on this series that were produced in the 1980s and the 1990s, and I actually enjoyed them. The one that left the most impression on my memory was Star Trek IV: The Voyage Home, which was released in 1986 but I only watched some ten years later in the 1990s (obviously as I hadn’t even been born yet in 1986 😛 ).

Anyway, I figured that trying out one episode of the series wouldn’t hurt. I decided to give it a go and to decide afterwards if I would like to continue or not. To my surprise, I actually enjoyed it!! The “outdate” visual did not bother me that much (Though, granted, I got the remastered version from my Netflix which improved the quality of the visual, especially the effect, a lot. This admittedly helped); and the story was actually great and “in line” with my “conception” of Star Trek. And so since then I decided to give it a go!! 😀 And I can say that I am glad now that apparently, I am not that “shallow” afterall, haha 😛 .

And indeed the series was a classic one! Needless to say, so far I have really been enjoying it; and I now wonder less why it was decided that the newer “installments” (the movies series that have been produced since 2009 and Star Trek: Discovery) would anchor on TOS rather than the “Next Generation” era. I believe part of that reason was that because TOS was more “raw”, as in the storyline was less political and focused less on human internal conflicts (hence “simpler”) which allowed for more “action”; but all these were still in good balance which made the series a classic one!

In a sentence: I truly enjoy this series! Too bad it only lasted for three seasons, though…

Having said that, being produced in the 1960s, certainly the series was also influenced by that era. One of the easiest thing to notice was the role of some of the female characters and how these characters were portrayed. Certainly it is not fair, nor right, to view this portrayal using today’s perspective, so let’s just say that I am very happy with how the human race has progressed in the last 50 years or so! Though, in a way the following line by Capt. Janeway in Star Trek: Voyager summarized this really well.

So, have any of you watched this series as well? And if so, what is your take on it?


Setelah selesai menonton keseluruhan empat musim dari Black Mirror, aku memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Star Trek The Original Series (TOS).

Sebenarnya sudah sering aku mendengar atau membaca hal-hal positif tentang serial klasik dari tahun 1960an. Pada dasarnya segala informasi yang kudapatkan tentangnya adalah acara ini sangat amat direkomendasikan. Masalahnya, boleh deh aku dibilang dangkal karena ini, sebelum ini aku tidak begitu tertarik untuk mengikutinya karena … alasan visual! Haha 😆 . Sulit kubayangkan aku bisa menikmati sebuah serial yang visualnya “ketinggalan zaman” banget.

Btw aku sebenarnya sudah pernah menonton beberapa film berdasarkan serial ini yang diproduksi di tahun 1980 dan 1990an, dan sebenarnya aku menikmatinya sih. Yang paling berkesan di ingatanku adalah Star Trek IV: The Voyage Home, yang dirilis di tahun 1986, tapi baru aku tonton sekitar 10an tahun kemudian di tahun 1990an (karena jelas lah ya bahkan aku belum lahir di tahun 1986, haha 😛 ).

Anyway, aku pikir menonton satu episode nggak apa-apa lah. Aku putuskan untuk mencicipinya dan setelahnya baru kuputuskan apakah mau lanjut menontonnya atau tidak. Yang mengejutkanku, ternyata aku menikmatinya dong!! Visualnya yang jelas “ketinggalan zaman” tidak begitu menggangguku (Walaupun memang sih, aku mendapatkan versi remastered-nya di Netflix yang mana kualitas visualnya juga sudah ditingkatkan dengan teknologi. Harus diakui ini sangat membantu); dan jalan ceritanya sendiri memang keren dan seru banget, dan “senada” dengan “konsepku” akan Star Trek. Dan jadilah aku putuskan aku akan menonton serial ini!! 😀 Dan juga sekarang aku bisa bilang bahwa aku lega karena ternyata aku tidak “sedangkal” itu, haha 😛 .

Dan memang serial ini klasik banget deh! Tak perlu kuceritakan lebih jauh bahwa aku menikmatinya; dan sekarang aku lebih tidak heran mengapa adaptasi-adaptasi barunya (seri film yang sudah diproduksi sejak tahun 2009 dan juga Star Trek: Discovery) bersandar ke TOS ini bukannya ke eranya “The Next Generation”. Aku lumayan yakin salah satu alasannya adalah TOS ini lebih “mentah”, dalam artian jalan ceritanya tidak begitu sarat politis ataupun fokus pada konflik internal kita sebagai manusia (sehingga bisa dibilang “lebih sederhana”) yang mana artinya lebih banyak bumbu “action” yang bisa dibubuhkan; tapi semua ini masih diatur dengan keseimbangan yang pas sehingga acaranya menjadi sebuah acara klasik!

Jadi secara singkatnya: Aku sungguh menikmati serial ini! Sayang cuma ada tiga musim sih…

Walaupun begitu, namanya aja diproduksi di tahun 1960an, jelas serial ini juga dipengaruhi oleh kehidupan di era tahun segituan lah ya. Salah satu aspek yang nampak jelas adalah pekerjaan dan posisi dari beberapa karakter perempuan dan penggambaran karakter-karakter ini. Eh, tentu sangat tidak adil, dan tidak benar, juga untuk memandang penggambaran ini dengan menggunakan kacamata zaman sekarang ya. Tapi setidaknya bisa kubilang bahwa aku sungguh senang akan kemajuan umat manusia dalam 50 tahun terakhir ini! Walaupun begitu, kebetulan banget satu kalimat dari Kapten Janeway di Star Trek: Voyager berikut ini merangkum semua ini dengan pas.

Jadi, apakah ada yang sudah menonton serial ini juga? Dan jika demikian, bagaimanakah pendapatmu?

TV Show

#2165 – Black Mirror


Some time ago when I asked for suggestions of a good TV show to watch, Fahrizinfa recommended Black Mirror. I then checked my Netflix and I was really glad to find its entire four seasons in the library! 😀

For those not familiar with the series, Black Mirror is a British science-fiction anthology (so it tells an independent story in each episode) which focuses on the “extrapolation” of current technologies and the consequences. Well, mostly not on the positive ones; but rather more on the opposite, unexpected ones which makes the series, to some degree, quite “vulgar” and could be “sickening” too. As such, the series felt really “dark” and “satirical”; but with great (implicit) messages which made me think of today’s life and society.

What happened next during this reality show audition would eff your mind (season 1, episode 2)

In one sentence: I LIKE this series!! :mrgreen: You know, in general I really like series which with its stories makes me “think” of something. Don’t get me wrong, I also enjoy “lighter” entertaining shows too, sometimes; but usually those that make me “think” would make better impression for me and, thus, “last” longer in my mind 😛 . Though, I give this show an extra bonus point because there is one Star Trek-themed episode too! Lol 😆

And the Star Trek-themed episode happens to be one I like the most too!! *an unbiased opinion here, haha 🙈 *. I really like the storyline (aside from the fact that it is Star Trek-themed 😛 ) and, coincidentally, Cristin Milioti, the actress who played “The Mother” in How I Met Your Mother, played the protagonist on this episode!! You see? Seeing Ted Mosby’s wife as a crew in a Star Trek-themed spaceship on a Black Mirror episode. Surreal!! 😛

Tracy McConnell, is that you? 😱

I have finished watching the entire series. Wait, didn’t I just say that there are four seasons of this series? How come I did it so quickly? Yep, if I have to name one “downside” of the series is the few number of episodes it has. In fact, the first two seasons only consist of three episode each, whereas the last two six. Adding in one special episode “between” season two and three, in total there are only 19 episodes overall, haha…

Though, of course not all episodes were created “equal”. I liked the third season the least, as I felt like the series went “off course” due to an overdose of horror and thriller element in some of the season’s episodes (And I personally don’t like these two genres). Coincidentally, this was also the first season after Netflix purchased the series in 2015. And the difference pre- and post- Netflix was contrasting enough that I could “feel” it when I started season 3. Well, perhaps this was also because I watched the show in marathon, haha 😆 .

Speaking of Netflix, apparently last year they released the following “crossover” clip between Black Mirror and Orange Is The New Black, titled “Orange Is The New Black Mirror“:

It was a good one, and you would understand why if you watched OITNB’s fourth season and Black Mirror’s “San Junipero” episode in season 3 (This was the best episode of the third season, IMO 😀 ).

Anyway, what excites me is that a fifth season has been announced earlier this year! I can’t wait!! So, has anyone else here watched this series as well? And, again, thanks Fahrizinfa for the great recommendation!! :mrgreen:


Beberapa waktu yang lalu ketika aku meminta saran akan acara TV bagus untuk ditonton, Fahrizinfa merekomendasikan Black Mirror. Jadilah kemudian aku mengecek Netflix-ku, dan aku senang ketika melihat keseluruhan empat musim dari serial ini ada di library-ku! 😀

Bagi yang tidak familier dengan acara ini, Black Mirror adalah sebuah antologi fiksi-ilmiah buatan Inggris (jadi setiap episode menceritakan cerita yang berbeda dan tidak berhubungan satu sama lain) yang berfokus pada “ekstrapolasi” dari teknologi saat ini dan konsekuensi darinya. Yah, kebanyakan bukan konsekuensi positifnya sih melainkan yang sebaliknya, yang tidak diharapkan, yang membuat acaranya, di satu sisi, agak “vulgar” dan bisa jadi “menjijikkan” juga. Sebagai akibatnya, serialnya memang bernuansa “gelap” dan “satir”; tetapi membawa pesan-pesan (implisit) yang bagus loh yang membuatku berpikir dan merefleksikan kehidupan dan masyarakat zaman ini.

Yang akan terjadi selanjutnya di audisi sebuah reality show ini akan mengacaukan pikiranmu (musim 1, episode 2)

Dalam satu kalimat: aku SUKA serial ini!! :mrgreen: Tahu kan, secara umum aku suka suatu acara yang ceritanya membuatku “berpikir” akan sesuatu. Jangan salah, aku juga terkadang menikmati acara hiburan yang “ringan” kok; tapi justru acara yang berat yang membuatku “berpikir” biasanya lebih berkesan untukku sehingga “bertahan” lebih lama deh di pikiranku 😛 . Eh, tapi untuk serial ini memang aku memberikan nilai bonus ekstra karena ada satu episode yang bertemakan Star Trek doong! Hahaha 😆

Dan episode yang bertemakan Star Trek ini juga “kebetulan” adalah episode favoritku!! *pendapat tidak bias loh ini, huahaha 🙈 *. Aku suka banget dengan jalan ceritanya (pun dengan mengesampingkan bahwa ceritanya bertemakan Star Trek) dan, kebetulan lagi, Cristin Milioti, aktris yang memainkan peran “The Mother” di How I Met Your Mother, juga memainkan protagonis di episode ini!! Nah kan? Jelas seru-seru kaget lah ya menonton istrinya Ted Mosby menjadi kru di sebuah pesawat luar angkasa bertemakan Star Trek di sebuah episodenya Black Mirror. Keren banget!! 😛

Tracy McConnell, kok ada kamu di sini?? 😱

Aku sudah selesai menonton keseluruhan seri ini. Eh tunggu dulu, bukannya di atas aku bilang sudah ada empat musim dari serial ini ya? Kok cepet banget selesainya? Nah, jika memang harus menyebutkan satu “kekurangan” dari serial ini, harus kubilang jumlah episodenya yang sedikit. Dua musim pertamanya masing-masing hanya terdiri atas tiga episode saja, sementara dua musim terakhir masing-masing memiliki enam. Ditambah satu episode khusus “di antara” musim kedua dan ketiga, totalnya hanya ada 19 episode saja sejauh ini, hahaha…

Walaupun jelas sih ya tentu nggak semua episodenya berkualitas “sama”. Secara keseluruhan menurutku musim ketiga adalah yang terburuk, karena aku merasa serialnya agak “keluar jalur” akibat overdosis elemen “horor” dan “thriller” yang disuntikkan ke beberapa episode di musim ini (Dan dua genre ini adalah dua genre yang paling tidak aku sukai). Kebetulan, ini adalah musim pertama yang diproduksi setelah Netflix membeli serialnya di tahun 2015. Dan perbedaan sebelum dan sesudah Netflix ini “terasa” banget dah ketika aku memulai musim ketiga. Yah, mungkin ini juga disebabkan karena aku menonton serialnya berturutan ya, haha 😆 .

Ngomongin Netflix, ternyata tahun lalu mereka merilis klip “crossover” antara Black Mirror dan Orange Is The New Black, yang berjudul “Orange Is The New Black Mirror“:

Bagus, dan pasti akan paham mengapa jika sudah menonton musim keempat OITNB dan episode “San Junipero”-nya Black Mirror di musim ketiga (Episode ini adalah episode terbaik di musim ketiga menurutku 😀 ).

Anyway, yang membuatku merasa senang adalah musim kelima juga sudah diumumkan akan diproduksi loh tahun ini! Nggak sabar nih!! Nah jadi, apakah ada yang sudah menonton serial ini juga? Dan, sekali lagi, terima kasih ya Fahrizinfa atas rekomendasinya yang oke banget!! :mrgreen:

My Interest, TV Show, Zilko's Life

#2142 – Star Trek TNG and Enterprise


So last year I decided to marathon-watch Star Trek: Voyager via Netflix. And obviously by now I have finished the entire seven seasons of the series, haha.

Since then, as my Instagram followers (@azilko) through the cool Instagram Story feature would have perhaps known, I have actually decided to rewatch two other Star Trek series: Star Trek: Enterprise (2001-2005) and the super popular Star Trek: The Next Generation (1987-1994)!

I rewatched Star Trek: Enterprise first. Call me shallow, I made this decision because this series was the newest of all (well, apart from Star Trek Discovery of course), which would imply it had the best visual/graphic of all the series. I mean, I have to admit that visual plays a great role in my enjoyment of a TV-series. And obviously, having been spoiled with the recent advancement in this department put the older series in serious disadvantage in my eyes!

Anyway, while overall I still enjoyed the series, I understood why this series was cancelled just after four seasons. The first two seasons were so “bad”, in the sense that I felt like they focused on the “wrong” things with generally shallower content AND much less action. The third season was the best one with the exciting Xindi-arc; but the damage had already been done by the first two seasons so I could imagine the rating was difficult to recover. I found the fourth season not as exciting as the third but was still better than the first two, haha.

After I completed Star Trek: Enterprise, I hesitatingly decided to give the super popular Star Trek: The New Generation (TNG) a chance. To my pleasant surprise, apparently a few years ago there was a remastering project going for the entire series, which basically improved the visual/graphic A LOT! It happened that my Netflix contained this remastered version!! I love you Netflix! Haha 😛 .

Btw, I did watch quite some episodes of this series when I was a kid, but I didn’t remember most of them as those were from before the Voyager era, even the first season was premiered a year before I was born! Lol 😆 .

Anyway, this series blew my mind! It was, indeed, really, really good; and I do appreciate it much more now than I perhaps was when I was just a kid!! No wonder it was THAT popular! This was the Star Trek that I (unconsciously) remembered, the benchmark which I used when reviewing the first season of Discovery. Except for the visual effect, TNG beat Discovery in pretty much all aspects, IMO, haha.

The story was amazing, as it was relatable to our (my) daily life. It was very easy to perceive the USS Enterprise-D like my real office. There was a lot of focus on interpersonal relationship between the crews in the starship, which I could easily interpret like my real interpersonal relationship with my colleagues at work. Even some of the stories were actually really relevant to some of my current situations at work, which put me into perspective and think about my own career, both in the short- and long-term.

And it was not boring too. There were a few humorous and full-of-action episodes here and there. Though, of course there were a few bad apples here and there; but those were not significant. In short, this series was just amazing. And, as you know, this series was the source of many popular internet memes too, haha 😛 .

And fittingly, the series was closed with such a great ender in the episode “All Good Things…”. It was definitely one of the best Star Trek episodes I have ever watched!


It was unfortunate that I watched Enterprise just before TNG, as the contrast in quality became really glaring. Well, at least it was an upward experince that I had to go through, haha. And it was also quite funny that Enterprise’s last episode actually took place in the Holodeck of USS Enterprise-D; as if it was an episode of TNG, haha.

Anyway, so, do you watch Enterprise and TNG?


Tahun lalu aku memutuskan untuk menonton ulang Star Trek: Voyager secara marathon melalui Netflix. Dan jelas dong ya sekarang aku sudah selesai menonton-ulang kesemua tujuh musimnya, haha.

Semenjak waktu itu, seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui melalui fitur InstaStory yang lagi happening ini, aku telah memutuskan untuk menonton-ulang dua seri Star Trek yang lainnya, yaitu: Star Trek: Enterprise (2001-2005) dan Star Trek: The Next Generation (1987-1994) yang sangat amat populer itu!

Star Trek: Enterprise aku tonton ulang terlebih dahulu. Bilang saja aku shallow atau receh, keputusan ini aku buat karena ini adalah seri yang paling baru (di luar Star Trek Discovery tentunya), yang mana berarti visual/grafiknya juga yang paling baik kan dari semua serinya. Maksudku, aku harus mengakui bahwa faktor visual itu penting banget bagiku dari sebuah acara TV untuk bisa aku nikmati. Dan jelas saja sudah dimanjakan dengan kemajuan teknologi di bidang ini membuat posisi seri-seri lawas menjadi tidak diuntungkan bagi mataku.

Anyway, walau secara keseluruhan serinya masih bisa aku nikmati, aku paham mengapa seri ini kok hanya bertahan empat musim saja. Dua musim pertamanya itu jelek banget, dalam artian aku merasa serinya fokus pada hal-hal yang “salah” yang mana receh dan dangkal gitu, ditambah pula action-nya sedikit. Musim ketiga adalah musim yang terbaik dengan jalan cerita Xindi di sepanjang musim ini yang amat seru; tapi ya kerusakan sudah terlanjur dibuat di dua musim pertama sehingga nggak mengherankan juga rating-nya sulit dipulihkan. Musim keempat bagiku tidak seseru musim ketiga tapi masih jauh lebih baik daripada dua musim pertama, haha.

Setelah menyelesaikan Star Trek: Enterprise, dengan agak ragu aku memutuskan untuk mulai menonton-ulang Star Trek: The New Generation (TNG) yang sangat amat populer itu. Yang mengejutkanku, ternyata beberapa tahun yang lalu seri ini melalui sebuah proyek remastering, yang mana pada dasarnya visual/grafiknya diperbaiki secara signifikan! Kebetulan pula Netflix menayangkan versi yang sudah di-remastered ini!! I love you Netflix! Haha 😛 .

Btw, sewaktu kecil aku menonton lumayan banyak episode dari seri ini sebenarnya, tapi aku juga tidak ingat karena seri ini kan bahkan dari era sebelumnya Voyager ya, bahkan musim pertamanya ditayangkan setahun sebelum aku dilahirkan! Haha 😆 .

Anyway, dan pilihanku untuk menonton-ulang ini adalah keputusan yang tepat karena seri ini benar-benar mengagumkanku lho! Serinya beneran bagus, bagus, bagus banget; dan aku bisa lebih memahami dan menghargainya sekarang daripada sewaktu kecil dulu!! Nggak heran deh mengapa serinya bisa sepopuler ITU! Ini adalah Star Trek yang (secara tidak aku sadari) aku ingat, yang menjadi patokan dalam upayaku me-review musim pertamanya Discovery. Selain efek visualnya, TNG jauh lebih superior daripada Discovery di hampir semua aspek, menurutku, haha.

Cerita-ceritanya keren banget, dan banyak yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari(ku). Sangat mudah untuk mengasosiasikan pesawat USS Enterprise-D dengan kantorku. Ada banyak banget cerita yang fokus kepada hubungan interpersonal antar kru pesawatnya, yang mana bisa dengan mudah aku asosiasikan dengan hubungan interpersonalku yang nyata dengan kolega-kolegaku di kantor. Bahkan ada beberapa ceritanya yang sangat amat pas dan bisa pas banget cocok dengan situasi yang sedang aku hadapi di kantor, yang memberikanku sebuah perspektif baru dan membuatku berpikir akan langkah-langkahku dalam meniti karirku, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dan acaranya juga tidak membosankan. Ada banyak episode yang fokus terhadap sisi humor atau action. Walaupun tentu saja ada beberapa episode yang nggak bagus juga sih tapi jumlahnya tidak banyak. Secara singkat, seri ini keren dan bagus banget. Dan mungkin pada tahu bahwa seri ini juga lah sumber dari banyak meme internet yang terkenal, haha 😛 .

Dan cocoknya, serinya diakhiri dengan episode “All Good Things…” yang mana sangat amat keren sekali. Episode ini adalah salah satu episodenya Star Trek yang terbaik yang pernah aku tonton!


Agak disayangkan juga sih aku menonton Enterprise tepat sebelum TNG, karena perbedaan di kualitasnya jadi terasa kontras sekali. Yah, setidaknya sih pengalaman yang aku rasakan mengarah naik sih, haha. Dan sebenarnya kalau dipikir-pikir lucu juga episode terakhirnya Enterprise mengambil tempat di Holodeck-nya USS Enterprise-D; seakan-akan episode ini adalah satu episodenya TNG.

Anyway, apakah ada yang juga menonton Enterprise dan TNG?

The Past, Zilko's Life

#2129 – A Blogging Theory


This post has sat in my Draft section for about half a year now. And so I figure it might be a good time to let it live here as an actual post, haha 😛


It is no secret that I enjoy blogging, a lot. And this is something which I don’t consciously think about a lot, let alone analyze. I just go with the flow. However, just not too long ago something suddenly popped up in my mind, something which might explain why I enjoy this activity so much that I have been constantly doing for more than 13 years now.

You know, last Fall I decided to rewatch Star Trek: Voyager. After four seasons of it, for whatever reason I remembered my childhood time when I first watched the series. At the time, one aspect of the show which I was obsessed with was, interestingly, the star date! You see, in (almost) every episode, the captain (usually, otherwise it would some other crew member) would narrate a log (it could be personal or work-related) and tag it with a star date (basically a time system used in the series). At the time, I was obsessed with the star date and actually listed the star dates that appeared in each episode! Haha 😆 .

While mini Zilko was obsessed with the star date, probably unknowingly the entire concept of the captain or crew’s logging habit was absorbed as well along with it. Think about it, in a way blogging can be seen as a way of logging my life, isn’t it? While this might not be the only purpose of blogging in general, it certainly fits with how I write and shape my own blog.

In a slightly unrelated story, I also remember the evening my dad took me and my little brother to Gramedia. That evening, we bought a badminton racket for each of us; and also an empty diary book. I still vividly remember what my dad said to us that evening, that one of his biggest regret from his childhood was to not log his life in a diary. So much memory was, then, forgotten. So he encouraged me and my brother to write anything in the book. Like, literally anything, no matter how “trivial” the matter was. Of course at the time I didn’t immediately embrace it. In fact, I think the book was left mostly empty in the end (I remember at least I wrote one “post” there, though 😛 . In fact, I still remember what it was: a blackout in Yogyakarta! Haha 😆 ).

And then 2005 came, where I was introduced to what was called a blog. And the rest … is history.


Posting ini sudah duduk manis di Draft blog-ku ini selama setengah tahunan sekarang. Dan jadilah aku pikir mungkin ini adalah waktu yang baik untuk menjadikannya posting beneran, haha 😛 .


Bukan rahasia lagi bahwa aku amat menikmati yang namanye ngeblog. Dan ini adalah sesuatu yang tidak pernah aku sengaja pikirkan mengapa, apalagi analisa. Go with the flow aja gitu deh. Namun, belum lama ini tiba-tiba sesuatu terpikirkan di pikiranku, sesuatu yang mungkin menjelaskan mengapa aku amat menikmati aktivitas yang telah kulakukan rutin selama lebih dari 13 tahun ini.

Sudah kuceritakan kan bahwa musim gugur kemarin ini aku mulai menonton ulang Star Trek: Voyager. Setelah empat musim, entah mengapa tiba-tiba aku teringat masa kecilku ketika aku pertama menonton serial ini. Waktu itu, aku terobsesi dengan salah satu aspek dari serialnya, yaitu tanggal bintangnya! Jadi ceritanya di (hampir) setiap episode, kapten kapalnya (biasanya, atau terkadang “digantikan” oleh anggota kru lainnya) menarasikan sebuah catatan harian gitu deh (bisa berupa catatan personal atau catatan pekerjaan) dan membubuhkannya dengan tanggal bintang (sebuah sistem waktu yang digunakan di serial ini). Waktu itu, aku terobsesi dengan tanggal bintang ini dan membuat daftar tanggal bintang-tanggal bintang yang muncul di setiap episodenya! Haha 😆

Walaupun Zilko kecil terobsesi dengan tanggal bintangnya, mungkin tanpa ia sadari keseluruhan konsep dari kebiasaan kapten atau krunya dalam menyimpan catatan harian ini juga ikut teresap dengannya. Benar juga kan? Di satu sisi ngeblog itu bisa dipandang sebagai pencatatan rekaman hidup? Walaupun memang ini bukan lah satu-satunya fungsi dari blog secara umum, jelas tujuan ini lah yang memotivasiku untuk ngeblog.

Di cerita yang agak tidak berhubungan dengannya, aku juga ingat suatu malam ketika papaku mengajakku dan adikku ke Gramedia. Malam itu, kami membeli raket badminton untukku dan adikku; dan juga sebuah buku diary kosong. Aku masih ingat jelas apa yang dikatakan papaku malam itu, dimana salah satu penyesalan terbesar di hidupnya adalah tidak mencatat kehidupannya dalam sebuah diary. Jadilah banyak memori yang, akibatnya, terlupakan. Jadilah waktu itu ia mendorongku dan adikku untuk menulis apa pun di buku itu. Apa pun, seberapa “nggak penting”-nya juga nggak apa-apa. Jelas lah waktu itu aku tidak langsung menerima konsep ini, haha. Malahan, buku itu pada akhirnya tetap nyaris kosong (Aku ingat setidaknya aku menuliskan satu posting-an di sana sih 😛 . Bahkan topiknya pun masih aku ingat lho: mati lampu di Yogyakarta! Haha 😆 ).

Dan lalu tiba lah tahun 2005, dimana aku dikenalkan dengan yang namanya blog. Dan selanjutnya … tahu sendiri lah bagaimana.

North America Trip, USA, Vacation

#2073 – A Star Trek: Voyager Tour in Los Angeles


I have mentioned a few times (see Part VI and Part VII posts linked below) that I did a mini Star Trek: Voyager tour while in Los Angeles during my recent year end trip to California; pretty much similar to my Digimon Adventure tour in Tokyo almost three years ago. Btw, here are the main posts of this 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class

It was actually quite fun, btw, as it gave me a direction to spend some of my time in Los Angeles, haha. Anyway, so here is the story.

First of all, you might wonder how could I possibly do a Star Trek tour in Los Angeles. Wasn’t the setting of Star Trek in space? While indeed generally the setting of Star Trek was in space, there were, unsurprisingly, a few special Star Trek stories which took place on Earth. In this case, it was the double episode “Future’s End” in Star Trek: Voyager’s season three. Here is a promotional clip I could find of this episode:

A short recap: In the 24th century, Captain Braxton who came back in time from the 29th century wanted to destroy USS Voyager. Obviously the crews of Voyager weren’t going to just let a stranger destroy them and so they fought. During the fight, both parties were accidentally pulled into the 20th century as the graviton field Captain Braxton used to go back in time collapsed. Suddenly, USS Voyager found themselves to be orbiting Earth in the year 1996. The crews got strange reading from Los Angeles and decided to investigate it by beaming a team down there. Btw, this reading was indeed related to Captain Braxton who was thrown back in time to the year 1967.


For my tour, I basically followed this two-parter article (the movie stills below were taken from the article as well). And so I would like to thank whoever went into the trouble of writing that article! It was very helpful! Haha 😆 .

Griffith Observatory

Of the episode’s many scenes in Los Angeles, what I remembered the most was the Griffith Observatory scene.

And as you can see, the scene took place during the day. This was one of the reasons why I went to Griffith twice (see Part VI).

Tom Paris and Tuvok at the Griffith Observatory
Me at the Griffith Observatory some “21 years” later

There was also a phaser fight between Tom Paris and Tuvok versus one of Henry Starling’s henchman in front of the monument.

Tuvok firing a phaser
The drop-off area

Anyway, it turned out that the Griffith Observatory in 1996 was much less crowded than in 2017!! There were soo many people when I visited!! Lol 😆

Santa Monica

The episode’s first scene in Los Angeles was actually in the Santa Monica Pier (though in the story it was the Venice Boardwalk, which was not where it was shot). Chakotay, Janeway, Tuvok, and Paris stood in front of the carousel.

Chakotay, Janeway, Tuvok, and Paris in Santa Monica.
The Carousel building in Santa Monica Pier.

And then not long after, Chakotay and Janeway spotted the now-homeless Captain Braxton in front of the famous Hot Dog on a Stick stall.

Chakotay and Janeway in front of the Hot Dog on a Stick stall.
Me selfie-ing in front of the Hot Dog on a Stick stall.

They also had a short scene following the homeless Captain Braxton at the Palisides Cliffside Park just nearby the main gate of the Pier.

And obviously I was there too, hahaha 😆 .

The Palisides Cliffside Park in Santa Monica

Downtown Los Angeles

Some of the scenes also took place in Downtown Los Angeles. The Los Angeles Music Center Plaza with its famous Peace on Earth fountain was chosen as the place where Tuvok and Paris planned to kidnap Henry Starling.

Tuvok, Paris, and Rain attempted to trick Henry Starling.
The east side of the Los Angeles Music Center in 2017.

This plaza was also where the Doctor’s mobile holo emitter was introduced.

The Doctor in Los Angeles
The Los Angeles Music Plaza.

And last but not least, the exterior of Henry Starling’s office building was actually the Metro Building next to Los Angeles Union Station.

The Chronowerx Office Building.
The Metro Building


So, yeah, as you can see, I certainly was having fun with this “away mission” in Los Angeles! :mrgreen: . There were some other sites which I did not visit, though, mainly because it was quite tricky to get there, haha.


Aku sebutkan beberapa kali (baca Bagian VI dan Bagian VII melalui tautan di bawah) bahwa aku membuat tur mini Star Trek: Voyager di Los Angeles ketika sedang berlibur akhir tahun di sana baru-baru ini; mirip-mirip lah seperti tur Digimon Adventure-ku di Tokyo hampir tiga tahun yang lalu. Btw, berikut ini posting-posting berisi cerita utama dari seri 2017 Year End Trip-ku:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class

Tur ini seru lho, karena memberiku suatu “pedoman” untuk bagaimana menyusun rencanaku di Los Angeles, haha. Anyway, berikut ini ceritanya.

Pertama-tama, mungkin pada bertanya-tanya kok bisa sih tur Star Trek di Los Angeles? Bukannya cerita Star Trek mengambil tempat di luar angkasa? Walaupun secara umum memang ceritanya berlatar di luar angkasa, tetapi, tidak mengejutkan, ada beberapa cerita khusus Star Trek yang mengambil tempat di planet Bumi juga. Dalam kasus ini, yang kumaksud adalah episode dual “Future’s End” di musim ketiganya Star Trek: Voyager. Berikut ini iklan promo dari episode ini dulu:

Sinopsis episodenya begini nih: Di abad ke-24, Kapten Braxton yang kembali ke masa lalu dari abad ke-29 bermaksud menghancurkan USS Voyager. Jelas dong Voyager ogah buat dihancurkan dan mereka kemudian bertempur. Ketika sedang bertempur, kedua pihak tidak sengaja terseret ke abad ke-20 karena graviton field yang digunakan digunakan Kapten Braxton untuk kembali ke masa lalu melemah. Jadilah kru USS Voyager tiba-tiba berada di angkasa mengorbit planet Bumi di tahun 1996. Mereka mendapatkan sinyal aneh yang berasal dari kota Los Angeles dan memutuskan untuk menginvestigasinya dengan mengirimkan beberapa kru turun ke darat. Btw, sinyal ini memang berkaitan dengan Kapten Braxton yang mana terseret ke tahun 1967.


Untuk turku, pada dasarnya aku mengikuti arahan artikel dua bagian ini sih (screenshot dari episodenya yang aku posting di bawah berasal dari artikel tersebut). Jadi aku ingin berterima-kasih kepada orang yang sudah repot-repot menulis artikel tersebut! Membantu sekali lho! Haha 😆 .

Griffith Observatory

Dari adegan-adegan di Los Angeles, yang paling kuingat adalah adegan di Griffith Observatory.

Dan seperti yang bisa dilihat di atas, adegannya mengambil waktu di siang hari. Makanya aku pergi ke Griffith dua kali sewaktu di LA kemarin (baca Bagian VI).

Tom Paris dan Tuvok di Griffith Observatory.
Aku di Griffith Observatory “21 tahun” kemudian.

Terjadi pula pertarungan dengan phaser antara Tom Paris dan Tuvok melawan salah satu anak buahnya Henry Starling di depan monumennya itu.

Tuvok menembakkan phaser
Area drop-off di Griffith

Anyway, ternyata Griffith Observatory di tahun 1996 itu sepi ya, jauh lebih sepi daripada tahun 2017!! Kemarin sewaktu aku di sana rame banget dong!! Haha 😆 .

Santa Monica

Adegan pertama episodenya di Los Angeles sebenarnya mengambil tempat di Santa Monica Pier (walaupun di ceritanya tempatnya adalah Venice Boardwalk sih, tetapi syutingnya bukan di Venice). Chakotay, Janeway, Tuvok, dan Paris berdiri di depan gedung carousel.

Chakotay, Janeway, Tuvok, dan Paris di Santa Monica.
Gedung carousel di Santa Monica Pier di tahun 2017.

Dan kemudian tidak lama kemudian, Chakotay dan Janeway melihat Kapten Braxton yang menjadi gelandangan di depan kedai Hot Dog on a Stick yang terkenal itu.

Chakotay dan Janeway di depan kedai Hot Dog on a Stick.
Aku ber-selfie di depan kedai Hot Dog on a Stick di Santa Monica.

Mereka juga membuntuti Kapten Braxton di Taman Palisides Cliffside yang berada di dekat gerbang utama Pier-nya.

Dan jelas aku ada di sana juga doong, hahaha 😆 .

Taman Palisides Cliffside di Santa Monica

Downtown Los Angeles

Beberapa adegan lain juga mengambil tempat di Downtown Los Angeles. Los Angeles Music Center Plaza dengan air mancur Peace on Earth yang terkenal itu dipilih sebagai tempat dimana Tuvok dan Paris berencana menculik Henry Starling.

Tuvok, Paris, dan Rain mencoba menjebak Starling.
Sisi timur Los Angeles Music Center di tahun 2017.

Di plaza ini juga mobile holo emitter-nya The Doctor diperkenalkan.

The Doctor di Los Angeles.
Los Angeles Music Plaza.

Dan terakhir, eksterior dari gedung kantornya Henry Starling sebenarnya adalah Gedung Metro di sebelahnya Stasiun Union di Los Angeles.

Gedung kantor Chronowerx
Gedung Metro


Jadi, ya, seperti yang bisa dilihat, aku sungguh bersenang-senang dengan “misi” ini di Los Angeles! :mrgreen: . Sebenarnya masih ada beberapa tempat lain yang juga digunakan untuk syuting sih, tetapi agak repot untuk pergi kesananya, hahaha.

My Interest, TV Show

#2061 – Star Trek: Discovery (Season 1)


In the last four to five months, I have been following Star Trek’s most recent series, Star Trek: Discovery. And just this weekend (Well, Monday for the Dutch Netflixer like me), the first season was concluded.

If I have to describe the first season of this new series, I will go with “a series full of plot twists“, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> You know, Ash Tyler was actually Voq, Gabriel Lorca was actually from the Mirror universe, Mirror Philippa Georgiou was the cruel and evil emperor of the Terran Empire, and the appointment of Mirror Philippa Georgiou as the captain of USS Discovery after being brought to the Prime (our) universe by Michael Burnham. <<Spoiler Done >> This made this series exciting, to me, as it led me to not know what to expect. Even though at some point I felt like it went overdose with the plot-twisting, lol 😆 .

On the other hand, and I have mentioned this before, this series focused a lot on the action part (Mainly the Federation vs Klingon war and getting trapped in the Mirror Universe and the return attempt) and not at all on the social/interpersonal/intrapersonal conflict aspect like the other Star Trek series. So this definitely gave a really different vibe of a Star Trek series to me.

Each episode was also made not independent of each other; and that one would need to follow the series from the beginning to know what was going on. When you watch one of Star Trek: Voyager‘s episodes, for instance, most of the time you would not need to watch the previous episodes to understand what was going on.

<< Spoiler Alert, Again >>

Ironically, though, IMO the season finale was the “most Star Trek” episode. An away mission (finally!) down to an establishment on an alien planet (Klingon’s Qo’Nos) and ending the war with a (to some degree) diplomacy. On one hand this could feel anticlimatic because most of the preceding episodes were full of fights and wars, that one (or I, at least) would expect to see some “actions” in the finale. But on the other hand this made a lot of sense. The story arc in those preceding episodes was “controlled” by a Terran (Mirror Gabriel Lorca and Mirror Philippa Georgiou), who loved and lived on fights and wars. In this episode, the “real” Starfleet and Federation finally took charge, via the lead of Michael Burnham.

So in the end, I was overall satisfied with the finale! Though, one thing disappointed me a little bit, where they only used one line mentioning that the spore technology was off the table (Starfleet was committed to finding non-human interface, according to Stamets (which, obviously, wasn’t successful in the end)). But to top it off, this season ended with the most coolest cliff-hanger ever, where the USS Discovery crew encountered a distress call from … the USS Enterprise!!

USS Discovery meets USS Enterprise. Source: Copyright: CBS/Netflix

Damn now I cannot wait for season two!!

<< Spoiler Ends >>


At the end of the day, the biggest and most important question is: “Did I enjoy this new series?” And the answer to this was “Yes!“. Haha 😆 So despite the “shift” in the characteristics of Star Trek series (despite the very Star Trek finale), overall I still felt like the writers (and everyone involved) did a great job in creating an enjoyable and exciting series, which made me look forward to it everytime I went back from work on Monday!

And so certainly I am excited that a second season has been ordered, and I am looking forward to it! Even though I still have a little bit of hope that the overall tone of second season will be a little bit “more Star Trek”. But nonetheless, we will see!!


Dalam empat atau lima bulan belakangan, aku telah mengikuti seri terbarunya Star Trek yang dinamai Star Trek: Discovery. Dan akhir pekan kemarin ini (Eh, hari Senin ding untuk pengguna Netflix Belanda kayak aku), musim pertama dari seri ini berakhir.

Jika musim pertama dari seri ini harus aku deskripsikan, aku akan menjawabnya dengan “sebuah seri yang penuh plot twists”, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> Ya tahu kan, dari Ash Tyler yang mana ternyata adalah Voq, Gabriel Lorca yang ternyata berasal dari alam semesta paralel (Mirror), Philippa Georgiou versi Mirror ternyata adalah kaisar yang kejam dan jahat dari Kekaisaran Terran, dan penunjukkan Philippa Georgiou paralel ini sebagai kapten USS Discovery setelah ia “diculik” oleh Michael Burnham ke alam semesta Prime (alam semesta kita). << Spoiler Selesai >> Ini membuat acaranya seru sih, bagiku, soalnya aku jadi tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun juga pernah di satu titik rasanya seri ini agak overdosis dengan plot-twisting sih, haha 😆 .

Di sisi lain, dan sudah kusebutkan sebelumnya, seri ini berfokus di sisi action (Dengan garis besar di jalan cerita Perang Federasi vs Klingon dan terjebaknya kru USS Discovery di alam semesta paralel Mirror dan upaya mereka untuk pulang) dan sama sekali tidak menyentuh aspek konflik sosial/interpersonal/intrapersonal seperti di seri-seri Star Trek lainnya. Sebagai akibatnya, nuansa seri ini terasa berbeda sekali dari seri-seri Star Trek lainnya untukku.

Setiap episode juga tidak dibuat independen satu sama lain; jadi seorang penonton harus mengikuti ceritanya dari awal untuk memahami jalan ceritanya. Ketika kamu menonton satu episodenya Star Trek: Voyager, misalnya, kemungkinan besar kamu masih akan paham jalan ceritanya tanpa harus menonton episode-episode sebelumnya.

<< Spoiler Alert, Lagi >>

Ironisnya, menurutku episode terakhir musim ini justru adalah episode yang “paling Star Trek” dari semua episodenya Discovery. Misi away (akhirnya!) turun ke suatu kota di planet alien (Planet Qo’Nos-nya Klingon) dan mengakhiri perang dengan (kurang lebih) diplomasi. Di satu sisi ini terasa agak anti-klimaks karena episode-episode sebelumnya kan penuh dengan pertarungan dan peperangan, sehingga (bagiku, setidaknya) aku sudah mempersiapkan diriku untuk menonton final yang penuh “action” gitu kan. Tetapi di sisi lain ini sebenarnya justru masuk akal banget lho. Jalan cerita di episode-episode sebelumnya ceritanya kan “dikontrol” oleh bangsa Terran (Gabriel Lorca dan Philippa Georgiou dari alam semesta paralel Mirror), yang memang suka dan hidup dalam pertarungan dan peperangan. Di episode ini, Starfleet dan Federasi “yang sebenarnya” mengambil kontrol kembali, dengan dipimpin oleh Michael Burnham.

Jadi pada akhirnya, aku sungguh puas dengan akhir dari musim ini! Walaupun satu hal kecil mengecewakanku sedikit sih, dimana hanya satu kalimat saja yang menyebutkan bahwa teknologi spora tidak lagi digunakan (Starfleet berkomitmen untuk mencari cara pemanfaatan teknologi ini tanpa menggunakan manusia, menurut Stamets (yang mana, jelas, upaya yang pada akhirnya gagal)). Tetapi, musim ini diakhiri dengan cliff-hanger yang paling keren banget, dimana kru USS Discovery mendapatkan panggilan darurat dari … USS Enterprise!!

USS Discovery bertemu USS Enterprise. Sumber: Copyright: CBS/Netflix

Ahhhh, aku jadi makin nggak sabar kan menunggu musim kedua!!

<< Spoiler Selesai >>


Pada akhirnya, pertanyaan terbesar dan paling penting adalah: “Apakah aku menikmati seri baru ini?” Dan untuk pertanyaan ini jawabanku adalah “Iya!“. Haha 😆 . Jadi biarpun adalahnya “pergeseran” karakteristik dari seri-seri Star Trek lainnya (walaupun episode terakhirnya Star Trek banget sih), secara keseluruhan toh aku masih merasa penulis naskahnya (dan semua yang terlibat) telah menghasilkan suatu seri yang bagus dan seru, yang mana selalu membuatku bersemangat ketika pulang kantor di hari Senin!

Makanya aku merasa excited dengan berita dimana musim kedua sudah dipesan, sehingga aku nggak sabar untuk menontonnya! Walaupun aku juga sedikit berharap mudah-mudahan nuansa umum musim kedua nanti bakal “lebih Star Trek” sih. Ah, tapi kita lihat saja lah ya!!

General Life, working life, Zilko's Life

#2046 – A Boat Trip and Star Trek: Discovery


Boat Trip

Last week’s Monday, my team at the office (well, not officially a “team”, but I won’t get too much to details here as that is not point, haha) was able to secure our company’s private boat for an evening tour in the canal of Amsterdam. Last year we had the same event at around the same time but I had to miss it because of a major train disruption; which prevented me from going to Amsterdam as I still lived in Delft at the time. And so obviously I was never going to miss this event this year! Haha 😆 . And also especially because the Amsterdam Light Festival was still on, making the trip even more exciting!

The tour departed at 4 PM where we boarded the company’s private boat in front of the office. Even boxes of pizzas and drinks (including glühwein! 😍) were already prepared on the boat! We were quite lucky that the weather was great that day, despite it being quite cold with temperature at around 1°C, haha. The tour lasted for about 2.5 hours, and so indeed it was really nice!!

Star Trek: Discovery

Speaking of that Monday, the second part of Star Trek: Discovery was also finally released! Yep, after a (short-ish) break from mid-November, finally I got to watch the continuation!!

In short, I enjoyed the episode and thought that as a show, it was written well. Even though as I said before, indeed the whole series now has dropped the interpersonal/intrapersonal/social conflict aspect, which was core in many episodes of the other previous series, at the most part. Having said that, I am still excited to watch the coming episodes which shows that for whatever reason, this writing works on me!

Glad that this was settled right away.


Tur Kapal

Hari Senin minggu lalu, timku di kantor (eh, bukan “tim” resmi sih sebenarnya, tapi ini tidak akan aku bahas sekarang deh karena bukan ini intinya, haha) bisa mem-booking kapal milik kantor untuk tur malam di kanalnya Amsterdam. Tahun lalu, kami juga mengadakan acara serupa di tanggal-tanggal seginian juga tetapi acaranya harus aku lewatkan karena gangguan besar di jaringan kereta api di Belanda hari itu; yang mana membuatku tidak bisa pergi ke Amsterdam (karena waktu itu aku masih tinggal di Delft). Jadi jelas dong ya aku nggak ingin melewatkan acara ini tahun ini! Haha 😆 . Dan apalagi juga Amsterdam Light Festival kan masih berlangsung, sehingga jelas turnya akan menjadi lebih seru!

Tur dimulai jam 4 sore dimana kami menaiki kapal kantor kami di depan kantor. Bahkan beberapa kotak pizza dan minuman (termasuk glühwein juga dong! 😍) sudah disiapkan di dalam kapal! Kami juga beruntung hari itu dimana cuacanya sedang kebetulan oke juga, walaupun dingin sih dengan temperatur sekitar 1°C, haha. Turnya mengambil waktu 2,5 jam-an, jadi memang seru banget!!

Star Trek: Discovery

Ngomongin hari Senin itu, bagian kedua dari Star Trek: Discovery juga akhirnya dirilis lho! Iya, setelah ada jeda (sejenak) semenjak pertengahan November, akhirnya aku berkesempatan menonton kelanjutannya!!

Secara singkat, aku menikmati episodenya sih dan sebagai sebuah acara, bagiku naskahnya ditulis dengan baik. Walaupun seperti yang kubilang sebelumnya, memang seri ini secara keseluruhan sudah sangat amat mengurangi aspek konflik interpersonal/intrapersonal/sosial, sebuah aspek yang menjadi inti di banyak episode seri-seri lainnya. Walaupun begitu, toh aku masih excited menunggu episode-episode berikutnya nih jadi pada akhirnya, strategi penulisan naskah seperti ini ternyata berhasil juga ya untuk menarik minatku!

Dan aku juga lega hal ini langsung dijelaskan dari awal.