Life in Holland · Zilko's Life

#1924 – My Favorite Season: Spring

ENGLISH

I have shared before that I do not like Fall. So a relevant follow-up question is “What is your favorite, then?“. Well, to that, the answer is: definitely Spring! Haha 😆 .

First of all, here is a (good) Spring day in the Netherlands:

Yep, those are all flowers, not carpets! Lol 😆

Anyway, Spring is the opposite of Fall in many different levels, from the clear-cut scientific definition to how (my) life here is in general.

It is true, though, that even in Spring, the weather isn’t always perfect like in the video above. In fact, it is not most of the time. However, despite that, overall it is still “net positive”.

I think the fact that Winter preceeds Spring helps a lot. First of all, days are getting longer and longer each day. And I personally like longer days. Secondly, the same temperature as in Fall is perceived as “warmer”, haha.

This also affects people too. I observe that people are more in cheerful mood during the Spring, which sometimes is also reflected in how they dress. Ultimately, life feels much better and, as a consequence, I feel more productive at work too, which is always a good thing, haha 😛 .

Yeah, so, indeed, Spring is my most favorite season!!

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya telah kubagikan bahwa aku tidak suka musim gugur. Jadi pertanyaan berikutnya yang memang relevan adalah “Kalau begitu musim favoritmu musim apa dong?“. Untuk itu, jawabannya jelas adalah: musim semi! Haha 😆 .

Pertama-tama, hari (baik) musim semi di Belanda itu kayak gini:

Iyaa, itu semua bunga loh, bukan karpet! Haha 😆

Anyway, musim semi itu kebalikan dari musim gugur di banyak sisi, mulai dari definisi ilmiahnya yang jelas hingga bagaimana kehidupan(ku) secara umum di sini.

Memang sih, cuaca musim semi itu tidak selalu sempurna seperti di video di atas. Malahan, seringnya sih cuacanya nggak oke, haha. Toh walaupun begitu, secara keseluruhan masih “positif”.

Aku kira musim dingin yang mendahului musim semi jelas membantu banget. Pertama-tama, siang hari bertambah panjang terus setiap harinya. Dan aku sendiri suka banget dengan siang hari yang panjang. Yang kedua, suhu udara yang sama dengan di musim gugur jadi terasa “lebih hangat” gitu deh, haha.

Ini juga mempengaruhi orang-orang. Aku amati orang-orang ber-mood lebih ceria di musim semi, yang mana terkadang terpancar juga di pemilihan pakaiannya, haha. Jelas, ini membuat hidup terasa lebih enak dan, sebagai akibatnya, aku lebih produktif di kantor juga, yang mana jelas bagus dong ya, haha 😛 .

Jadi, iya, musim semi adalah musim favoritku!!

Photo Tales

#1899 – Photo Tales (39)

ENGLISH

Photo #86

A delicious Southern Italian dinner

Some weeks ago a friend of mine told me about this Italian restaurant ran by an Italian family in Rotterdam that was so good but only opened during the weekday. Quite strange, indeed. We joked that they had enough customers already that they did not feel the need to open their restaurants in the most popular time for people to go out and dine: the weekend, haha.

Finally, last Tuesday I got the chance to try it. And indeed it was good!! My friend and I decided to share a carpaccio as an appetizer to share, while for the main course I ordered a very delicious beef steak that was served with salad and, well, pasta!

Photo #87

Yeay it is Spring finally!

Finally, the past two weeks or so, Spring has come to full effect in the Netherlands!! Yeay for less layers of clothes to wear!! 😛

BAHASA INDONESIA

Foto #86

Makan malam ala Italia Selatan yang enak banget!

Beberapa minggu yang lalu seorang temanku memberi-tahuku mengenai restoran Italia yang dikelola oleh satu keluarga asal Italia di Rotterdam yang enak banget tetapi cuma buka di hari biasa (hari kerja/weekday) saja. Aneh ya. Kami sih bercanda sepertinya mereka sudah memiliki cukup pengunjung saking ramainya sehingga mereka merasa tidak perlu membuka restoran mereka di waktu populer orang-orang untuk keluar makan: akhir pekan, haha.

Nah, akhirnya hari Selasa minggu lalu aku berkesempatan mencobanya. Dan ternyata memang enak lho!! Aku dan temanku memesan carpaccio sebagai menu pembuka untuk dibagi dua. Untuk makanan utama, aku memesan steak yang memang enak dan disajikan dengan salad dan, tentu saja, pasta!

Foto #87

Hore akhirnya musim semi!

Akhirnya, dua minggu terakhir ini, musim semi sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya di Belanda!! Horee nggak harus memakai berlapis-lapis pakaian lagi!! 😛

 

EuroTrip · One Week Trip · Vacation

#1739 – Side Stories from Helsinki

ENGLISH

Posts on the 2016 Baltic Spring Trip series:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga
4. Part IV: Helsinki
5. Part V: Tallinn
6. Part VI: Tallink and Finnair

***

Here are a couple of things I experienced in Helsinki during my 2016 Baltic Spring Trip (see Part IV above).

Finnish Language

The Finnish language is not a member of the Indo-European language family which implies it does not belong to the Germanic language branch. It is also not an Austronesian language. These all mean that I was very unfamiliar with the language as I could not “connect” it with the few languages which I knew.

Nonetheless, probably Finland’s close proximity to Sweden meant there were a lot of Swedish people in the country, at least in the capital (Helsinki). As a result, most of the public signs in the city (at least the ones that I saw) were both in Finnish and Swedish. And I am glad about it!

Look, obviously I do not speak Swedish (lol). However, Swedish is a Germanic language which means it is easy to notice many resemblances with Dutch. And as a result, I still understood (or at least was able to guess) those signs while in Helsinki through my knowledge of Dutch which I could use to interpret Swedish, haha 😆 .

While I did not know what "Hätäuloskäynti" meant, I understood "nödutgång". Presumably, it was the Swedish equivalent of the Dutch word "nooduitgang"
While I did not know what “Hätäuloskäynti” meant, I understood “nödutgång”. Presumably, it was the Swedish equivalent of the Dutch word “nooduitgang”

Even so, this only worked when I had to read something though. Even though of the same language family, the Dutch and Swedish pronunciation were very different. And so when someone read something to me in Swedish, say for which I would understand if I would have just read it, I would most likely not understand what I was told about, haha 😆 .

Btw, indeed English is Germanic too but I feel like I understand Swedish much more from the Dutch side than the English side. So I guess the “distance” within the same family is different between each member. Not that it is surprising.

Winter in Spring

Anyway, I was in Helsinki at the end of March and early of April, which means technically it was supposed to be Spring. And Spring is associated with flowers, trees, grass, sunlight, butterflies, etc. Definitely not with ice and snow. But while I was in Helsinki, I still found this:

Snow!!!
Snow!!!

Yes, there were still traces of ice and snow. It was literally the most snow I saw this last winter 😅😅😅😅😅. A little bit ironic indeed, haha 😆

Even the sea was still frozen
Even the sea was still frozen

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2016 Baltic Spring Trip:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga
4. Part IV: Helsinki
5. Part V: Tallinn
6. Part VI: Tallink and Finnair

***

Berikut ini dua buah cerita dari pengalamanku di Helsinki di perjalanan musim semi 2016ku ke Baltik (cerita utama di Bagian IV).

Bahasa Finlandia

Bahasa Finlandia tidaklah termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa language yang mana artinya bahasa ini juga tidak termasuk dalam rumpun bahasa Jermanik. Bahasa ini juga bukan lah bahasa Austronesia. Ini semua berarti aku sama sekali tidak familier dengan bahasanya karena aku jadi “tidak bisa” menghubungkannya dengan sedikit bahasa yang kukuasai.

Toh walaupun begitu, mungkin kedekatan geografisnya Finlandia dengan Swedia berarti ada banyak orang Swedia di negaranya, setidaknya di ibukotanya (Helsinki). Sebagai akibatnya, kebanyakan tanda-tanda di tempat umum (setidaknya yang kulihat) dituliskan dalam bahasa Finlandia dan Swedia. Dan aku senang mereka begitu!

Begini, jelas lah ya aku nggak bisa bahasa Swedia (lol). Namun, bahasa Swedia adalah bahasa Jermanik yang mana artinya mudah untuk menemukan kemiripannya dengan bahasa Belanda. Sebagai akibatnya, aku masih bisa mengerti (setidaknya menebak-nebak) arti dari tanda-tanda itu di Helsinki dengan kemampuan bahasa Belandaku yang bisa kugunakan untuk menebak-nebak arti dalam bahasa Swedia, haha 😆 .

While I did not know what "Hätäuloskäynti" meant, I understood "nödutgång". Presumably, it was the Swedish equivalent of the Dutch word "nooduitgang"
Walau aku tidak tahu apa arti dari “Hätäuloskäynti”, aku mengerti “nödutgång”. Aku asumsikan, ini adalah ekuivalen dalam bahasa Swedia dari kata “nooduitgang” dalam bahasa Belanda

Toh walaupun begitu, ini hanya bisa kulakukan jika aku harus membaca sesuatu sih. Walaupun masih dalam rumpun bahasa yang sama, pengucapan dalam bahasa Belanda dan Swedia itu berbeda banget. Jadi jika ada orang yang membacakan sesuatu dalam bahasa Swedia ke aku, walaupun andaikata pesannya bakal aku mengerti jika pesannya itu aku baca, kemungkinan besar aku nggak akan mengerti apa yang baru diucapkan ke aku deh, haha 😆 .

Btw, memang sih bahasa Inggris juga termasuk rumpun bahasa Jermanik. Namun, aku merasa aku bisa menebak arti dalam bahasa Swedia lebih melalui bahasa Belanda deh daripada bahasa Inggris. Jadi aku rasa “jarak” antara dua bahasa dalam suatu rumpun berbeda-beda ya satu sama lain. Yaa, nggak mengherankan juga sih.

Musim dingin di musim semi

Anyway, aku berada di Helsinki di akhir Maret dan awal April, yang mana artinya secara teknis itu sudah musim semi kan ya. Dan musim semi kan identik dengan bunga-bunga yang bermekaran, pohon-pohon yang menghijau, rumput-rumput yang tumbuh, sinar mahatari, kupu-kupu, dll. Jelas tidak dengan es dan salju kan ya. Namun, ketika di Helsinki aku menemukan ini dong:

Snow!!!
Saljuuu!!!

Iyaa, masih ada banyak bekas-bekas es dan salju loh. Dan ini adalah salju paling banyak yang aku lihat di musim dingin yang baru lewat ini 😅😅😅😅😅. Iya, ironis ya rasanya, haha 😆

Even the sea was still frozen
Bahkan lautnya pun masih beku
EuroTrip · One Week Trip · Vacation

#1728 – 2016 Baltic Spring Trip (Part IV: Helsinki)

ENGLISH

Previous posts on the 2016 Baltic Spring Trip series:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga

Previously on 2016 Baltic Spring Trip: Zilko went to the Baltic region for Spring this year. After spending three days in Stockholm and one day in Riga, he was now in the capital of Finland, Helsinki, and was eager to find out what Helsinki had to offer.

***

Helsinki

The Cathedral of Helsinki
The Cathedral of Helsinki

In general, I wasn’t as lucky in Helsinki weather-wise because it was foggy a lot during almost my entire stay in the city. Nevertheless, I still found Helsinki to be very interesting. While it was up there in the north, probably it was actually more “Russian” than “Scandinavian”; though this was not surprising at all given that Finland was not a Scandinavian country 😛 .

Apparently some architecture of some areas of the city was Russian that at some point, several American production companies shooted some movies in Helsinki to depict Russia, haha 😆 . The language was also very different, as its root was definitely not German (more on this in a later post, probably 😉 ). And so I am very glad that I chose to visit Helsinki as well in this trip. It felt really new and different!!

Downtown Helsinki

The biggest and most famous landmarks of Helsinki were in the form of cathedrals or churches. And obviously I did not skip them. The most impressive one was the #2 destination in Helsinki according to Trip Advisor: the Temppeliaukion kirkko (The Rock Church).

The amazing Rock Church in Helsinki
The amazing Rock Church in Helsinki

The name was self-explanatory, as you can see in the photo above. While the church was certainly not Saint Peter’s Basilica grandeur or Sagrada Familia majestic, I still found it to be very charming and unique! I just felt the combination of the natural rock and the man-made structure to be very balanced and thoughtfully designed!

Getting around Helsinki was also not very difficult. There was a decent public transportation system and I decided to buy a three-day pass for €16; quite a fair price in my opinion. I made use of this card to get around the city, where I visited a few nice parks and also some interesting neighbourhoods with unique architecture 🙂 .

I like Helsinki. The city appeared to be modern to me (with a lot of shops, modern buildings, etc) while at the same time still maintained a good-portion of its traditional heritage side as well.

Downtown Helsinki
Downtown Helsinki

Suomenlinna

If the Temppeliaukion kirrko was the #2 destination in Helsinki according to Trip Advisor, what was the first then? Well, it was the Suomenlinna, a sea fortress located on six small islands just off the coast of Helsinki. There was a regular ferry ride from Helsinki to the islands that was part of the Helsinki public transportation system. And so obviously I went there as well.

As I said above, it was foggy a lot when I was in Helsinki. And unfortunately, the time I went to Suomenlinna was no exception. Nonetheless, while the fog made it very difficult to take great pictures of the beautiful fortress, at the same time it actually made my visit really unique. Somehow, Suomenlinna felt a little bit “magical” to me with the fog! I think the combination of the fog and the old-style traditional houses and buildings there created this rather “spooky” but “cool” atmosphere.

Foggy Suomenlinna
Foggy Suomenlinna

Despite the fog, I still find Suomenlinna to be a beautiful place. And so I do recommend a visit to Suomenlinna if you are around in Helsinki and you have the time 🙂 .

The Food

Soy Ramen in Helsinki
Soy Ramen in Helsinki

I found it quite strange (at first) that it was not that easy to find a restaurant that served Finnish dish. During my entire stay in Helsinki, I had meals at Mexican, Japanese, American, burger, and pizza restaurants. You see? Lol 😆 . A little bit frustrated by this, one evening I opened my Trip Advisor app to look for a Finnish restaurant nearby me. Luckily I found one with a rather good review in the city center, and I went there. 

The menu choice looked interesting to me, with some of the dishes had really funny names. I decided to go for one, so I ordered a dish called “The weather may change but vendace stays the same“. Yeah, exactly! Like, what the hell was that? I googled “vendace” and turned out it was a kind of small Nordic fish. Okay, at least I had an idea that I would be eating fish that evening, lol 😆 . The dish turned out to look like this:

"The weather may change but vendace stays the same"
“The weather may change but vendace stays the same”

It did not look too bad, did it? 🙂 Taste-wise though, I found the fish to be a little bit too bland that I had to add salt and pepper to add some flavor to it 😐 .

I should have known better as obviously I fell into the funny name “trap”. I mean, maybe a funny name is chosen to a dish to attract some attention to compensate for its mediocrity?

Okay, to be fair, it was not bad though. The potatoes were actually cooked well and I liked the cucumbers and lemon slice as well 🙂 . The fish was actually cooked well, it was just my tongue preferred a little bit more flavor…

TO BE CONTINUED…

Next on 2016 Baltic Spring Trip:
– Crossing the Gulf of Finland
– One day in Tallinn, Estonia
– Having a meal cooked by one of the best chefs in the world
– Flying Finnair
– Back to the Netherlands

BAHASA INDONESIA

Posting-posting sebelumnya dalam seri 2016 Baltic Spring Trip:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga

Sebelumnya dalam 2016 Baltic Spring Trip: Zilko pergi ke daerah Baltic di musim semi tahun ini. Setelah menghabiskan tiga hari di Stockholm dan satu hari di Riga, ia kini berada di ibukotanya Finlandia, Helsinki.

***

Helsinki

The Cathedral of Helsinki
Katedral Helsinki

Secara umum, aku kurang beruntung dalam hal cuaca di Helsinki karena cuacanya amat berkabut di hampir keseluruhan masa tinggalku disana. Toh walaupun begitu, aku tetap merasa Helsinki adalah kota yang amat menarik. Walau lokasinya di utara sana, aku rasa kotanya lebih “Rusia” daripada “Skandinavia” gitu deh. Nggak mengherankan juga sih karena Finlandia kan memang bukanlah negara Skandinavia 😛 .

Ternyata arsitektur di beberapa bagian kota Helsinki bergaya Rusia sehingga pernah beberapa kali, beberapa rumah produksi filmnya Amerika syuting di Helsinki untuk menggambarkan Rusia, haha 😆 . Bahasanya juga amat berbeda karena bukan berakar dari bahasa Jerman (ini akan aku bahas di posting yang akan datang deh, kalau ingat 😉 ). Dan makanya aku sekarang lega aku memasukkan Helsinki ke dalam rencana perjalanan ini. Rasa mengunjungi tempat barunya aku dapatkan banget!!

Pusat Kota Helsinki

Tempat wisata terbesar dan paling terkenal di Helsinki adalah katedral-katedral dan gereja-gereja yang berada di seluruh penjuru kota. Jelas dong aku tidak melewatkan mereka. Yang paling mengagumkanku adalah tempat tujuan nomor #2 di Helsinki menurut Trip Advisor: Temppeliaukion kirkko (Gereja Batu).

The amazing Rock Church in Helsinki
Gereja Batu yang keren di Helsinki

Nama gerejanya memang sangat merepresentasikan gerejanya sendiri ya, seperti yang terlihat di foto di atas. Walaupun jelas gerejanya tidak seagung Basilika Santo Petrus atau se-wow Sagrada Familia, menurutku gerejanya memiliki daya tarik tersendiri yang unik! Kombinasi antara batu-batuan alami dan struktur buatan manusianya nampak sangat seimbang dan dipertimbangkan dengan matang!

Berkeliling Helsinki juga tidaklah sulit. Sistem transportasi umumnya cukup oke dan aku memutuskan untuk membeli kartu pas selama tiga hari seharga €16; harga yang masuk akal menurutku. Aku memanfaatkan kartu ini untuk mengelilingi kotanya, dimana aku mengunjungi beberapa taman yang menarik dan juga beberapa bagian kotanya yang menarik dengan arsitektur yang unik 🙂 .

Aku suka Helsinki. Kotanya nampak modern (ada banyak pertokoan, gedung-gedung modern, dll) sementara pada saat yang sama banyak bagian peninggalan tradisionalnya yang masih dijaga dan dirawat baik.

Downtown Helsinki
Helsinki

Suomenlinna

Jika Temppeliaukion kirrko adalah tujuan #2 di Helsinki menurut Trip Advisor, lantas nomor#1-nya apa dong? Jawabannya adalah Suomenlinna, sebuah benteng laut yang berlokasi di enam pulau di dekat Helsinki. Ada layanan kapal ferry reguler dari Helsinki kesana yang mana termasuk dalam sistem transportasi umumnya Helsinki. Jadilah jelas aku kesana juga.

Seperti yang kubilang di atas, cuaca berkabut banget ketika aku di Helsinki. Sayangnya, cuacanya juga begini ketika aku ke Suomenlinna. Walaupun kabutnya membuat situasi menjadi sulit untuk mendapatkan foto yang oke di benteng yang indah ini, tetapi di sisi lain ini membuat kunjunganku menjadi unik juga. Suomenlinna, entah mengapa, terasa “ajaib” ketika berkabut begini! Aku rasa kombinasi kabut dan bangunan-bangunan tua disana menghasilkan suasana yang “seram-seram sedap” gitu deh, haha.

Foggy Suomenlinna
Suomenlinna yang berkabut

Walaupun berkabut, menurutku Suomenlinna adalah tempat yang indah. Jadilah aku memang merekomendasikan kunjungan ke Suomenlinna jika kebetulan berada di Helsinki dan ada waktu 🙂 .

Makanannya

Soy Ramen in Helsinki
Ramen di Helsinki

(Awalnya) aku merasa aneh bahwa tidak mudah untuk menemukan restoran yang menjual masakan ala Finlandia. Di masa tinggalku di Helsinki, aku makan di restoran Meksiko, Jepang, Amerika, burger, dan pizza. Nah kan? Hahaha 😆 . Merasa sedikit sebal karena ini, suatu sore aku menggunakan Trip Advisor untuk mencari rumah makan yang menjual makanan Finlandia. Untung aku menemukan satu yang reviewnya lumayan oke dan lokasinya di pusat kota, dan jadilah aku kesana.

Pilihan menunya menarik untukku, dimana beberapa menunya memiliki nama yang menarik. Aku memutuskan untuk memilih menu yang bernama “Cuaca mungkin berubah tetapi vendace selalu sama“. Iya, apa maksudnya ya itu? Haha. Kemudian aku meng-google vendace dan ternyata vendace adalah sejenis ikan kecil dari daerah Nordik. Oke deh, setidaknya aku jadi tahu malam itu aku akan makan ikan deh, haha 😆 . Penampakan menunya seperti ini:

"The weather may change but vendace stays the same"
“Cuaca mungkin berubah tetapi vendace selalu sama”

Penampakannya mah lumayan ya? 🙂 Tetapi sayangnya, aku rasa ikannya terlalu hambar sampai-sampai aku merasa mesti menambahkan garam dan merica ke ikannya untuk mendapatkan sedikit rasa 😐 .

Seharusnya aku sudah bisa menebaknya dan tidak jatuh ke dalam “jebakan” nama. Maksudku, mungkin nama suatu menu dibuat lucu agar menu itu menarik perhatian kan padahal rasanya mah biasa-biasa aja?

Oke, sebenarnya secara keseluruhan menunya bukannya tidak enak sih. Kentangnya dimasak dengan oke dan aku suka tambahan timun dan irisan lemonnya juga 🙂 . Ikannya sendiri sebenarnya dimasak dengan oke, hanya saja lidahku mengharapkan lebih banyak rasa…

BERSAMBUNG…

Selanjutnya dalam 2016 Baltic Spring Trip:
– Menyebrangi Teluk Finlandia
– Satu hari di Tallinn, Estonia
– Makan makanan yang dimasak oleh salah satu koki terbaik di dunia
– Terbang dengan Finnair
– Kembali ke Netherlands

General Life · Zilko's Life

#1722 – The Dutch Spring and Red Rice

ENGLISH

The Dutch Spring

It is April already. So if last month I still kinda understood it that maybe Spring had not yet arrived, at this point it would better have been, lol 😆 . And I was not the only one thinking this way, it seems the sakura trees around TU Delft also think the same. They have started blossoming!! 😍😍😍😍😍🌸🌸🌸🌸🌸

But then, when you think of the Dutch Spring, do not picture beautiful sunny picturesque view across the country. For sure you would end up disappointed most of the time! Lol 😆 . The Dutch weather is unpredictable, more in a not pleasant way unfortunately, where most of the time it is cloudy, windy, and rains a lot in Spring, with occassional sunny days (a day or two).

The following two pictures illustrate how this week has been regarding this. The left picture pretty much illustrates just another “regular” Spring day in the Netherlands while the right one, though nicer,  illustrates one of the few days where the weather is beautiful 🙂 .

Typical Dutch spring
Typical Dutch spring
Not typical Dutch spring
Not typical Dutch spring

Red Rice

Anyway, finally this week I finished my 4.5 kg basmati rice and so I could start consuming the healthier red and brown rice!! :mrgreen:

After coming back from my one month vacation in Indonesia in the summer last year, I was determined to live a healthier life. One of the many things that I do to reach that goal is watching what I eat. And one even more specific things about watching what I eat is to minimize my consumption of rice.

At that time I got an idea to switch to the healthier red or brown rice. So I bought a 1 kg package of brown rice and this was all my rice consumption in the entire September. I felt great afterwards and I planned to keep continuing doing so. However, at that time I also still had a full 4.5 kg package of basmati rice. So I thought I would finish the basmati rice first and then switch to brown or red rice afterwards.

Here is the thing, over the years here, to live healthier I have trained myself to consume much less rice. Five years ago, just after arriving in the Netherlands, I finished a 4.5 kg package of rice in just under a month. But now, it took me more than six months to finish this 4.5 kg package of basmati rice! Haha 😆 .

Anyway, finally now I can execute this plan of mine! And I start with red rice 🙂 .

Red rice
Red rice

BAHASA INDONESIA

Musim Semi di Belanda

Sudah bulan April sekarang. Jika satu bulan lalu aku masih lumayan memahami bahwa musim semi masih belum tiba, kalau sekarang mah sebaiknya musim seminya sudah tiba ya, haha 😆 . Dan bukan aku saja loh yang berpikir demikian, sepertinya pohon-pohon sakura di sekitar kampus TU Delft juga berpikiran sama. Mereka sudah mulai berbunga!! 😍😍😍😍😍🌸🌸🌸🌸🌸

Eh, tetapi kalau ingin membayangkan musim semi di Belanda, jangan membayangkan sebuah pemandangan yang indah dimana matahari bersinar cerah yah. Pasti akan kecewa deh, haha 😆 . Cuaca di Belanda itu amat tidak bisa diprediksi, sayangnya tidak bisa diprediksi dalam artian yang kurang menyenangkan sih, karena seringnya berawan tebal, berangin kencang, dan hujan di musim semi. Cuaca cerahnya mah kadang-kadang aja (sehari atau dua hari gitu).

Dua foto berikut ini menggambarkan minggu ini deh mengenai cuaca ini. Foto di kiri kurang lebih menggambarkan sebuah hari “biasa” di musim semi di Belanda sementara yang kanan, walaupun nampak kece, sebenarnya tidak sering terjadi 🙂 .

Typical Dutch spring
Tipikal musim semi di Belanda
Not typical Dutch spring
Bukan tipikal musim semi di Belanda

Nasi Merah

Ngomong-ngomong, akhirnya minggu ini beras basmati sebanyak 4,5 kg aku habiskan juga sehingga aku bisa mulai mengonsumsi beras merah atau coklat yang lebih sehat itu!! :mrgreen:

Ceritanya setelah kembali dari liburan satu bulanku di Indonesia musim panas yang lalu, aku bertekad untuk hidup lebih sehat lagi. Salah satu caranya adalah dengan memperhatikan apa yang aku makan. Lebih spesifik lagi, aku berusaha sekali mengurangi konsumsi nasi.

Waktu itu, aku mendapatkan ide untuk beralih ke beras merah atau coklat yang lebih sehat itu. Jadilah aku membeli satu bungkus 1 kg beras coklat dan ini lah konsumsi nasiku di sepanjang bulan September. Aku suka sekali dengan manfaat yang aku rasakan sehingga aku berencana untuk melanjutkannya. Masalahnya, waktu itu aku masih memiliki satu bungkus 4,5 kg beras basmati. Jadilah aku pikir aku akan menghabiskan beras basmatinya dulu dan baru kemudian beralih ke beras coklat atau merah.

Nah, ini nih masalahnya. Beberapa tahun terakhir, untuk hidup lebih sehat, aku sudah melatih diriku untuk tidak banyak mengonsumsi nasi. Lima tahun yang lalu, tidak lama setelah tiba di Belanda, aku menghabiskan satu bungkus 4,5 kg beras dalam waktu kurang dari satu bulan. Sekarang ini, aku membutuhkan lebih dari enam bulan untuk menghabiskan satu bungkus 4,5 kg beras basmati! Haha 😆

Ngomong-ngomong, akhirnya sekarang aku bisa melaksanakan rencana ini juga! Dan ini aku mulai dengan beras merah 🙂 .

Red rice
Red rice
General Life · Zilko's Life

#1710 – Some Mid-March Stories

ENGLISH

It is already halfway through March, and here are some stories from Delft this month:

Cold

Ironically, I feel like this month of March has been the coldest month this winter (I am writing this sentence just after coming back home at 9 PM on a Wednesday evening). To be honest I find this really strange because as we are supposed to be entering Spring soon, I would expect it would get a little bit warmer. But nope, it hasn’t been 😆 .

There was actually a sign that this would come, though; when it was snowing for the first time this winter in Delft at the end of February. You know, I was glad that it was snowing so this winter does not become a snow-free winter to me; though actually I should not worry much as it was snowing in Warsaw when I went there for a weekend trip anyway 😆

Well, turned out it was #snowing in #Warszawa anyway 🌨🇵🇱. #Zilkos2016weekendtrip

A post shared by Aurelius Zilko (@azilko) on

Longer Days

If the temperature has been difficult to predict (not surprising afterall after having lived in the Netherlands for more than 5.5 years now 😆 ), there is, at least, one thing that is certain and follows an exact pattern: the days have constantly been longer and longer, yay!! 😀

You know, I have been waiting for this! I do like longer days because it is easier for me to get up early and I become more productive at work as well!!

The Amazing Race 28

Anyway, let us talk about something completely different: The Amazing Race. This February, the 28th season of The Amazing Race was premiered and, of course, I have been following this amazing reality show!

This season is a little bit unique where the contestants are all social-media personalities; in a way like a “celebrity” season of The Amazing Race. To be honest, at first I was quite skeptical about this format. But then it turned out brilliantly! I have been enjoying this season a lot and I do think, at least so far, this season has been much better than the previous one! Too bad they are on a break until early April now, though.

While on it, a spoiler alert here, btw, I read somewhere that they visited Indonesia again this season! Not a new destination though, as it was rumored to be Bali (they already visited Bali in season 22). I think this “rumour” is true though as there are a few shots in this season’s opening that look a lot like Bali. Judge them by yourself:

If you don’t catch them, a very quick shot at 0:44 clearly shows two Balinese dancers 😆 .

BAHASA INDONESIA

Sekarang bulan Maret sudah setengah jalan dan berikut ini beberapa cerita dari Delft bulan ini:

Dingin

Ironis rasanya bulan Maret ini adalah bulan paling dingin musim dingin kali ini (kalimat ini aku tulis setelah pulang ke rumah jam 9 malam di hari Rabu malam). Sejujurnya, aku merasa ini agak sedikit aneh karena seharusnya kita akan memasuki musim semi segera kan ya, jadi aku menyangkanya seharusnya akan bertambah hangat gitu. Eh ternyata tidak 😆

Sebenarnya sudah ada pertanda ini akan terjadi sih: ketika di Delft akhirnya bersalju untuk pertama kalinya musim dingin kali ini. Tahu kan, waktu itu aku senang sekali bahwa salju turun sehingga musim dingin ini tidak menjadi musim dingin tanpa salju untukku; walaupun sebenarnya ternyata aku nggak harus khawatir juga sih karena toh bersalju juga di Warsawa ketika aku kesana untuk sebuah perjalanan akhir pekan 😆

Well, turned out it was #snowing in #Warszawa anyway 🌨🇵🇱. #Zilkos2016weekendtrip

A post shared by Aurelius Zilko (@azilko) on

Hari yang lebih panjang

Jika suhu udara disini susah diprediksi (nggak mengherankan sih sebenarnya, setelah tinggal di Belanda selama lebih dari 5,5 tahun 😆 ), ada satu hal yang lebih pasti dan mengikuti pola yang pasti: siang hari sudah bertambah panjang terus sekarang. Hore!! 😀

Tahu kan, aku sudah menunggu-nunggu ini! Aku suka banget siang yang panjang karena aku jadi lebih mudah untuk bangun pagi dan di kantor aku juga lebih produktif!!

The Amazing Race 28

Anyway, mari ngomongin suatu hal yang amat berbeda: The Amazing Race. Bulan Februari lalu, musim ke-28 dari acara ini mulai ditayangkan dan, jelas lah, aku sudah mengikuti musim ini juga!

Musim kali ini agak unik karena kontestannya adalah para seleb social-media yang followers-nya banyak gitu; jadi di satu sisi musim ini bisa dipandang sebagai semacam musim “selebriti”.  Awalnya aku agak skeptikal akan format ini. Tetapi ternyata kereeen! Sejauh ini, musim ini amat aku nikmati lho dan menurutku, sejauh ini juga, musim ini lebih menarik daripada musim yang sebelumnya! Sayang sih sekarang ini mereka sedang hiatus hingga awal April nanti.

Oh, mumpung ngomongin ini, sedikit spoiler nih, btw, aku baca dimana gitu katanya musim ini mereka ke Indonesia lagi loh! Destinasinya sendiri bukan destinasi baru sih, karena mereka kembali ke Bali (mereka sudah mengunjungi Bali di musim 22). Aku rasa “rumor” ini sih benar adanya karena ada beberapa cuplikan di pembukaannya musim ini yang nampak Bali banget. Coba deh lihat sendiri:

Jika misalnya nggak menangkapnya, sebuah cuplikan super kilat di detik 0:44 dengan jelas menampilkan dua orang penari Bali kan 😆 .

Asia Trip · East Asia · Vacation

#1552 – 2015 Spring Trip (Part IV: Hakodate)

ENGLISH

Previous post on the 2015 Spring Trip to Japan series:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)
4. Part III: Tokyo (3)

Previously on 2015 Spring Trip: Zilko went to Japan for a conference where he would later extend his stay in Japan for a trip after the conference where he met his parents and brother. After staying in Tokyo for twelve days, it was time for him to leave the city and fly north to the island of Hokkaido.

In total, I spent four days in Hokkaido and so the story is divided over two posts.

***

Getting to Hokkaido (Hakodate)

We decided that the first city in Hokkaido to visit was the third largest city in Hokkaido, Hakodate, which was located at almost the south tip of the island. The reason was simple, it seemed more convenient to do so because geographically it was closer to Tokyo than, say, Sapporo. Plus, we also read a few positive articles about Hakodate so we were curious about it.

The flight route map today from Tokyo - Haneda (HND) to Hakodate (HKD). Map created with: gcmap.com
The flight route map today from Tokyo – Haneda (HND) to Hakodate (HKD). Map created with: gcmap.com

Originally we planned to take the trains (yes, plural) to get to Hakodate; but upon further research, I calculated that the optimal solution (price-wise and time-wise) for our trip was to use the “Air Pass” ticket (more about this in a later post); which means that we would fly to Hakodate. Well, much to my delight of course 😉 .

And to get there, we would fly with All Nippon Airways (ANA) so it would be my first time this year to fly with a Star Alliance member, haha 😆 . Speaking of which, I found it cool that my last three flights up to this point were with members of three different airlines alliance: (1) Amsterdam – Paris with KLM (SkyTeam); then (2) Paris – Tokyo-Narita with Japan Airlines (Oneworld); and now (3) Tokyo-Haneda – Hakodate with ANA (Star Alliance), haha 😆 .

ANA's Boeing 777-200 reg JA 8198 which would bring me to Hakodate as NH553 today
ANA’s Boeing 777-200 reg JA 8198 which would bring me to Hakodate as NH553 today

Another reason I was excited today was that the flight would be operated with a Boeing 777-200!! Yes, on the short domestic sector from Tokyo to Hakodate, ANA operated a Boeing 777-200 which could carry 405 passengers! 😯

Anyway, long story short, we checked-in and walked to the gate. Oh, I found Tokyo-Haneda Airport to be more aesthetically beautiful in the eyes than Tokyo-Narita Airport btw. At 10 AM, we boarded our plane: the 19 year old Boeing 777-200 reg JA8198 flight NH 553 to Hakodate. It was not a busy day today, where I estimated the flight was just around 20 – 30% full.

See you, Tokyo!!!!
See you, Tokyo!!!!

Then, we took off from runway 34R of Tokyo-Haneda Airport. The flight itself was quite uneventful as the Boeing 777-200 was not equipped with any IFE. The service on board was just complimentary drinks (but the flight attendants were so cute btw 😛 ). About 1 hour and 20 minutes later, we landed at runway 12 of Hakodate Airport. Here is the landing video:

Hakodate

Despite being the third largest city in Hokkaido, Hakodate was a very quiet city. It was definitely not like Tokyo where anywhere you turned around, you would see some activities. Okay, it is probably not really proper to use the word “quiet” here because of the negative nuance that the word brings; instead “serene” or “peaceful” are probably more fitting, haha 😆 .

The city of Hakodate
Serene afternoon in Hakodate
Seafood in Hokkaido
Seafood in Hokkaido

But seriously though, it was also nice to travel somewhere where there was no other tourist around. With the exception of the super famous Mount Hakodate Ropeway (I will get to this shortly), I barely found any other tourist in the city. But the problem was, there was not much going on in the city itself too. While there was almost no tourist in the city, I also do not recall seeing a lot of activities by the locals in Hakodate. When we strolled around the city randomly (Okay, not really “randomly” though. We did take the route randomly but it was still towards the Mount Hakodate Ropeway, haha), we also did not see a lot of people. Probably most of them were having their life inside though because it was still quite cold in Hokkaido in early April.

Mount Hakodate Ropeway

One place in Hakodate which we knew we must visit was the Mount Hakodate Ropeway where we could take a cable car to go to the top of Mount Hakodate. So the geography of Hakodate was extremely unique where the city was sandwiched by two curvy bays. So if we could somehow see it from above PLUS doing that in the evening when the light had been turned on, that would be amazing, wouldn’t it be? And the answer to that was, indeed, the top of Mount Hakodate. You see, indeed the geography of Hakodate was really unique with two bays and a small mountain just literally next to it, haha.

My. Hakodate Ropeway
Mt. Hakodate Ropeway

Anyway, we arrived at the ropeway station in the city a little bit earlier than expected. But whatever, we bought a return ticket each and went straight up to the top. Because we were early, the cable car was almost empty at the time of our ride. Beside us, there was just one other guy who was going up, haha 😆 .

So we were up there, took a few pictures of the city during the day, and looked around at the shop. We noticed there was a cafe which we figured would have provided extremely beautiful view of the city. It was still closed by the time we were there but there was an announcement that they would open at 4:30 PM. It was 4 PM already and we were okay with waiting a little bit. But then it turned out the cafe opened at 5 PM, haha 😦 .

It was coffee time in Hakodate!!
It was coffee time in Hakodate!!

But indeed the view from the cafe was stunning btw. We chose the table that was just next to the window facing the city. So we could enjoy the view by relaxing on the nice table. We were there until around 7 PM, just after the sunset so indeed we witnessed how the view dramatically change from the day view to the night view. It was quite cool!

Hakodate during the day
Hakodate during the day
Hakodate with its geographically unique location. The city faces two sides of sea
The iconic night view of Hakodate

We went out the cafe and found out that the station had been packed with tourists! Haha 😆 . Indeed the best time to visit Mount Hakodate Ropeway was during the dark so this was why. We went up one more time and took some other pictures before finally going down with the cable car. Btw, on the way down, unsurprisingly, the cable car was packed as well 🙂 .

The Morning Market

Being famous for its seafood, apparently Hakodate’s morning market (which obviously only opened in the morning) was also an attraction to visit. We visited it a little bit only to find out that the price there, even though being only a “market”, was actually quite outrageous. Some were even more expensive than the price we would find in a restaurant!

Hakodate Morning Market
Hakodate Morning Market
Hakodate Morning Market
Hakodate Morning Market

But anyway, it was still quite nice to see the array of seafood products which they sold there. Boy they had giant crabs over there which looked so delicious!

The Food

We did not try a lot of Japanese food while we were in Hakodate because (1) we only stayed there for one night; and (2) as I said above, there appeared to be no life in the city so we felt it was a little bit difficult to find an inviting restaurant. In fact, two of our meals there were in KFC and McDonald’s, lol 😆 .

Salmon roe
Salmon roe

But luckily, at least we still got a “proper” dinner in our only evening there, where unsurprisingly we decided to have dinner at a seafood restaurant. My brother ordered literally a box of salmon roe, which apparently came with rice underneath (lol 😆 ); and I have to say that I just could not enjoy it. He said it was good though; so probably salmon roe was just not my cup of tea. I myself chose to play it safe by ordering a genghis khan (it was actually the name of the dish 😆 ), a popular dish from Hokkaido which I knew I would want to try. It was quite good, even though at the time I couldn’t wait to compare it with the one in Sapporo.

Genghis Khan
Genghis Khan

TO BE CONTINUED…

Next on 2015 Spring Trip:
– Sapporo
– Otaru
– Kyoto
– Osaka
– Back to the Netherlands

BAHASA INDONESIA

Posting-posting sebelumnya dalam seri 2015 Spring Trip ke Jepang:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)
4. Part III: Tokyo (3)

Sebelumnya dalam 2015 Spring Trip: Zilko pergi ke Jepang untuk sebuah konferensi dimana ia akan memperpanjang masa tinggalnya di Jepang setelah konferensinya selesai dimana ia bertemu dengan orangtua dan adiknya. Setelah tinggal di Tokyo selama dua belas hari, sudah waktunya baginya untuk meninggalkan kotanya dan terbang ke utara ke pulau Hokkaido.

Totalnya, aku menghabiskan empat hari di Hokkaido dan ceritanya aku bagi ke dua posting.

***

Pergi ke Hokkaido (Hakodate)

Kami memutuskan bahwa kota pertama di Hokkaido yang akan kami kunjungi adalah kota terbesar ketiga di Hokkaido, Hakodate, yang terletak di ujung selatan pulaunya. Alasannya sederhana saja sih, karena secara geografis kotanya nampak enak karena lokasinya lebih dekat ke Tokyo daripada, katakanlah, Sapporo. Apalagi, aku membaca banyak artikel tentang Hakodate yang membuatku penasaran dengan kota ini.

The flight route map today from Tokyo - Haneda (HND) to Hakodate (HKD). Map created with: gcmap.com
Rute penerbangan hari ini dari Tokyo – Haneda (HND) ke Hakodate (HKD). Peta dibuat dengan: gcmap.com

Awalnya rencana kami adalah naik dua kereta untuk pergi ke Hakodate; tetapi setelah aku riset lebih jauh, solusi optimal bagi perjalanan kami (dari segi biaya dan waktu) adalah dengan menggunakan tiket “Air Pass” (akan aku jelaskan lebih mendetail di sebuah posting yang akan datang); yang mana artinya kami akan naik pesawat loh ke Hakodatenya. Jelas aku senang banget dong 😉 .

Dan untuk kesana, kami akan terbang dengan maskapai All Nippon Airways (ANA) yang mana artinya ini akan menjadi kali pertama tahun ini aku terbang dengan maskapai anggotanya Star Alliance, haha 😆 . Ngomong-ngomong, aku rasa keren juga lho bahwa tiga penerbangan terakhirku hingga saat itu adalah dengan tiga maskapai dari tiga aliansi yang berbeda: (1) Amsterdam – Paris dengan KLM (SkyTeam); lalu (2) Paris – Tokyo-Narita dengan Japan Airlines (Oneworld); dan sekarang (3) Tokyo-Haneda – Hakodate dengan ANA (Star Alliance), haha 😆 .

ANA's Boeing 777-200 reg JA 8198 which would bring me to Hakodate as NH553 today
Sebuah Boeing 777-200 milik ANA dengan registrasi JA8198 yang akan membawaku ke Hakodate hari ini sebagai NH553

Satu alasan lain aku senang dengan penerbangan hari ini adalah karena penerbangannya akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 777-200 loh!! Iya, di penerbangan sektor domestik jarak pendek ini ANA mengoperasikan Boeing 777-200 loh yang kapasitasnya 405 kursi! 😯

Singkat cerita, kami check-in dan berjalan ke gerbang keberangkatan. Oh, aku merasa bahwa Bandara Tokyo-Haneda itu lebih enak dipandang mata daripada Bandara Tokyo-Narita loh btw. Jam 10 pagi, kami naik pesawatnya: sebuah Boeing 777-200 yang berumur 19 tahun dengan registrasi JA8198 dengan nomor penerbangan NH553 ke Hakodate. Penerbangan hari ini cukup sepi, dimana pesawatnya aku kira hanya terisi sekitar 20 – 30% saja.

See you, Tokyo!!!!
Sampai jumpa, Tokyo!!!!

Lalu, kami lepas landas dari landasan pacu 34R Bandara Tokyo-Haneda. Penerbangannya sendiri sih biasa-biasa saja dan cenderung uneventful karena Boeing 777-200-nya tidak dilengkapi dengan IFE. Servis di dalam penerbangannya juga hanyalah minuman saja (eh tetapi pramugarinya cute-cute loh). Sekitar 1 jam 20 menit kemudian, kami mendarat di landasan pacu 12 Bandara Hakodate. Berikut ini video pendaratannya:

Hakodate

Walaupun merupakan kota terbesar ketiga di Hokkaido, Hakodate adalah kota yang sepi. Jelas berbeda banget dari Tokyo dimana kemanapun kita memalingkan muka, kita akan melihat orang-orang beraktivitas. Oke, mungkin kata “sepi” bukanlah kata yang tepat untuk digunakan disini karena nuansa negatif yang dibawanya; jadi mungkin kata “tenang” dan “damai” mungkin lebih tepat, haha 😆

The city of Hakodate
Siang yang tenang di Hakodate
Seafood in Hokkaido
Seafood di Hokkaido

Eh, serius lho, seru juga jalan-jalan ke sebuah tempat dimana tidak ada turis lain yang berkeliaran, haha. Dengan mengecualikan Mount Hakodate Ropeway (ini akan aku bahas segera), aku nyaris tidak melihat keberadaan turis lain loh di kota ini. Tetapi masalahnya adalah, tidak terlalu ada banyak kegiatan lain yang nampak berlangsung di kota ini juga. Ketika kami berjalan-jalan random di kotanya (Oke, nggak random juga sih. Walaupun memang kami asal mengambil jalan tetapi arahnya adalah ke arah Mount Hakodate Ropeway, haha), kami tidak melihat ada banyak orang. Mungkin sih kehidupan disana lebih banyak di dalam ruangan ya mengingat waktu itu, di bulan April, masih cukup dingin di Hokkaido.

Mount Hakodate Ropeway

Satu tempat di Hakodate yang kami tahu harus kami kunjungi adalah Mount Hakodate Ropeway dimana kami bisa menaiki kereta gantung ke puncak Gunung Hakodate. Jadi secara geografis kota Hakodate itu amatlah unik dimana kotanya diapit oleh dua pantai yang berbeda yang lekukannya aduhai *apaseh*. Jadi kalau kita bisa melihatnya dari atas, somehow gitu, DITAMBAH LAGI dengan suasana malam hari ketika lampu kotanya sudah dinyalakan, pasti keren banget kan ya? Dan jawaban untuk itupertanyaan ini adalah puncak Gunung Hakodate. Nah kan, geografinya Hakodate ini memang sungguh unik dengan dua pantai itu dan sebuah gunung kecil tepat di sebelah kotanya, haha.

My. Hakodate Ropeway
Mt. Hakodate Ropeway

Kami tiba di stasiun kereta gantungnya agak lebih awal dari yang kami perkirakan. Nggak masalah sih, dan jadilah kami membeli tiket pulang pergi dan langsung naik ke atas. Karena masih awal, kereta gantungnya nyaris kosong loh ketika kami naik. Selain kami, hanya adalah satu orang lain yang juga naik ke atas, haha 😆 .

Jadilah kami naik ke atas sana, mengambil foto kotanya ketika masih siang, dan melihat-lihat toko di atasnya. Kami melihat keberadaan sebuah kafe yang mana kami duga pemandangan dari kafenya pasti premium banget deh. Sayangnya kafenya masih tutup waktu itu tetapi ada pengumuman bahwa kafenya akan dibuka jam 4:30 sore. Karena sudah jam 4 sore, ya nggak masalah deh kami tunggu. Eh ternyata baru bukanya jam 5 sore dong, haha 😦 .

It was coffee time in Hakodate!!
Saatnya ngopi di Hakodate!!

Tetapi pemandangan dari kafenya beneran keren banget deh. Kami memilih meja tepat di samping jendelanya yang menghadap ke arah kota. Kami bisa menikmati pemandangan itu sambil bersantai di meja kami yang enak. Kami duduk-duduk disana sampai sekitar jam 7 malam, setelah matahari terbenam sehingga kami menyaksikan bagaimana pemandangannya berubah dari siang ke malam. Keren abis!

Hakodate during the day
Hakodate di siang hari
Hakodate with its geographically unique location. The city faces two sides of sea
Hakodate di malam hari

Kami keluar dari kafenya dan baru tahu bahwa di luar sekarang ramai banget penuh dengan turis! Haha 😆 . Memang waktu terbaik untuk mengunjungi Mount Hakodate Ropeway adalah di saat gelap sih jadi memang inilah alasannya. Kami naik ke atas sekali lagi dan mengambil foto kotanya lagi. Kali ini di malam hari. Kemudian kami akhirnya turun dengan kereta gantung. Btw, di perjalanan turun, jelas kereta gantungnya penuh! 🙂

Pasar Pagi

Terkenal dengan seafood-nya, ternyata Pasar Paginya Hakodate (yang jelas bukanya pagi doang) terkenal untuk dikunjungi juga lho. Kami mengunjunginya sebentar tetapi kami kaget ketika mengetahui bahwa, walaupun namanya “pasar”, harganya itu gila-gilaan lho mahalnya. Bahkan lebih mahal daripada harga yang bisa kami temukan di restoran!

Hakodate Morning Market
Pasar Pagi Hakodate
Hakodate Morning Market
Pasar Pagi Hakodate

Tetapi, masih asyik-asyik juga sih melihat-lihat bermacam-macamnya produk seafood yang dijual disana. Wow itu kepitingnya raksasa banget dan nampak enak!

Makanannya

Kami tidak mencoba banyak makanan Jepang di Hakodate karena (1) kami hanya semalam disana; dan (2) seperti yang kubilang di atas, ternyata tidak banyak kegiatan di kotanya sehingga kami merasa sulit untuk menemukan satu restoran yang mengundang untuk dikunjungi. Bahkan ya, dua dari makanan yang kami makan disana adalah KFC dan McDonald’s loh, hahaha 😆 .

Salmon roe
Salmon roe

Tetapi untungnya, setidaknya kami masih mendapatkan makan malam yang “pantas” sih di satu-satunya malam kami disana, dimana tidak mengejutkan bahwa kami makan di sebuah restoran seafood. Adikku memesan satu kotak (dalam artian sebenarnya) salmon roe, yang mana ternyata di bawahnya itu ada nasi (haha 😆 ); dan harus aku akui bahwa aku tidak bisa menikmatinya. Menurutnya enak sih; jadi mungkin memang lidahku saja yang tidak cocok dengan salmon roe. Aku sendiri memutuskan untuk main aman dengan memesan genghis khan (ini adalah nama menu makanannya loh 😆 ), sebuah makanan asli Hokkaido yang amat populer dan pengen aku coba banget. Lumayan enak juga, walaupun waktu itu aku masih penasaran dengan genghis khan di Sapporo.

Genghis Khan
Genghis Khan

BERSAMBUNG…

Selanjutnya dalam 2015 Spring Trip:
– Sapporo
– Otaru
– Kyoto
– Osaka
– Kembali ke Belanda