#2110 – A Summery Spring in Munich

ENGLISH

I went on a short weekend trip to Munich in mid-April. As I have shared, I forgot to bring my pocket camera on the trip; which unintentionally turned the trip into an experiment for me to measure the “value” of a pocket camera during a trip of mine. As it turned out, it was very valuable because I noticed that I didn’t take as many pictures on the trip, and the trip was generally less enjoyable without my camera! Consequently, this post won’t have as many pictures as usual simply because I did not take enough for that.

Anyway, a bit uncharacteristically, I also took KLM’s direct return Amsterdam – Munich flights for this trip, i.e. without any transit! Both flights were operated by Boeing 737-800, PH-BCA named “Flamingo” on the way to Munich and PH-BXL named “Sperwere” on the way back to Amsterdam. Both were pleasant intra-European flights with KLM as usual and so there is not much too share.

A KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BCA

As I also had pretty much half a day in Munich this time, I decided to focus on the area which I had heard nice things about but didn’t yet visit on my first trip there two years ago. And the area was the famous Englischer Garten (The English Garden), a large park in the northeastern park of the city.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

It was supposed to be Spring in Western Europe, but the weather at the time was quite unique, where the it was really sunny and the temperature was hovering around the high 20s Centigrade. To be honest it felt more like Summer than Spring to me, a season which I preferred less, haha 😛 . Nonetheless, especially after a harsh and long Winter and the day being a Saturday, many people decided to take advantage of it by going to the garden. As a result, the Englischer Garten was so full of people, many of them were sunbathing, when I was there! Lol 😆 .

The English Garden in Munich when the weather was great

Anyway, I found the Englisher Garten to be beautiful, and it certainly made the city livable! It was also very big, but one needed not to worry because a lot of signages and maps were installed throughout the garden. Uniquely, and perhaps confusingly, one landmark of the garden was the Chinesischer Turm (the Chinese Tower). Yep, a “Chinese” tower in an “English” garden in Munich, “Germany”, haha 😆 .

A Chinese Tower in an English Garden in Germany

As you know, I am not the biggest fan of warm weather. While the weather today wasn’t very warm (I mean, it was nothing like the humid tropical condition on a sunny day!), it was still warm enough to make me feel a little bit uncomfortable outside. So after wandering in the Englischer Garten for about two hours, I decided to go back to the hotel to shower and rest.

Crispy knuckle of suckling pig

As for the food, of course I had local German cuisine on the two full meals I had there. For lunch, I had a turkey schnitzel, which was tasty with an ideal serving size (haha 😆 ). And for dinner, I had a rösche spanferkelhaxn, translated as crispy knuckle of suckling pig which was served with the Bavarian spitzkrout (sour cabbage) and kartoffelknödel (potato dumplings). While I liked the meat, just as before, I didn’t really enjoy the cabbage and potato, haha. It was overall very tasty, though 😀 .

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam perjalanan akhir pekan singkat ke Munich di pertengahan April. Seperti yang sudah kubilang, aku lupa membawa kamera sakuku di perjalanan ini; yang mana justru tidak sengaja membuat perjalanan ini menjadi suatu percobaan bagiku untuk mengukur “nilai” dari kamera saku di perjalananku. Ternyata, kamera saku itu amat bernilai. Ini kuamati dari tidak-banyaknya foto yang aku ambil di perjalanan ini, dan perjalanannya sendiri agak lebih kurang asyik sih tanpa kamera! Sebagai akibatnya, tidak banyak foto yang aku unggah di posting ini karena ya memang tidak ada banyak foto yang aku ambil.

Anyway, agak tidak seperti biasanya, aku terbang langsung pp Amsterdam – Munich dengan KLM di perjalanan ini, alias tanpa transit! Keduanya dioperasikan dengan Boeing 737-800, PH-BCA dengan nama “Flamingo” di keberangkatan dan PH-BXL dengan nama “Sperwer” di kepulangan. Keduanya adalah penerbangan reguler dan nyaman intra-Eropa dengan KLM sehingga tak banyak yang mau kuceritakan di sini.

Sebuah Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BCA

Karena aku hanya memiliki waktu setengah harian saja di Munich kali ini, aku memutuskan untuk fokus di area yang aku dengar cantik tapi belum sempat aku kunjungi di perjalananku dua tahun yang lalu. Dan area ini adalah Englischer Garten (Taman Inggris), sebuah taman besar dan terkenal di timur laut kotanya.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

Waktu itu seharusnya adalah Musim Semi di Eropa Barat, tapi cuaca waktu itu cukup unik, dimana matahari bersinar cerah dan temperaturnya berada di kisaran hampir 30 derajat. Sejujurnya rasanya lebih kayak Musim Panas daripada Musim Semi deh, sebuah musim yang lebih tidak aku sukai, haha 😛 . Walaupun begitu, waktu itu kan Eropa baru saja melewati Musim Dingin panjang dan keras ya, jadilah banyak orang yang memanfaatkan cuaca ini dengan pergi ke tamannya. Sebagai akibatnya, Englischer Garten rame banget waktu itu, dimana tentu banyak yang berjemur! Haha 😆 .

Taman Inggris di Munich ketika cuaca cerah

Anyway, Englischer Garten memang indah, dan membuat kotanya enak untuk dibuat hidup! Tamannya juga besar, tetapi pengunjung tidak perlu khawatir akan tersasar karena ada banyak petunjuk dan papan peta di seluruh tamannya. Uniknya, dan mungkin membingungkan, satu landmark terkenal di tamannya adalah Chinesischer Turm (Menara China). Iya, menara “China” di sebuah taman “Inggris” di Munich di “Jerman”, haha 😆 .

Chinesischer Turm di Taman Inggris di Jerman

Tentu sudah pada tahu bahwa aku bukanlah seorang fans dari cuaca panas, haha. Walaupun cuaca di Munich hari ini nggak panas yang gila banget (Maksudnya, nggak kayak cuaca lembab di daerah Tropis ketika matahari bersinar cerah!), tetapi cuacanya sudah cukup panas untuk membuatku merasa agak tidak nyaman berada di luar berlama-lama, haha. Jadilah setelah jalan-jalan di Englischer Garten selama sekitar dua jam-an, aku memutuskan kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat.

Crispy knuckle of suckling pig

Untuk urusan makanan, jelas dong aku menikmati masakan setempat di dua kali makanku di sana. Untuk makan siang, aku makan schnitzel daging kalkun, yang mana enak dan ukuran porsinya pun ideal (haha 😆 ). Untuk makan malam, aku makan rösche spanferkelhaxn, yang mana kurang lebih berarti lutut babi crispy yang disajikan dengan spitzkrout (kubis asam) ala Bavaria dan kartoffelknödel (kentang). Walaupun aku suka dagingnya, seperti dulu, aku juga masih kurang bisa menikmati kubis dan kentangnya, haha. Tapi secara keseluruhan enak sih D: .

Advertisements

#2088 – Some Stories This Week

ENGLISH

On Monday earlier this week I was back from my 2018 Spring Trip to New Orleans and Chicago. And with seven hours of time difference between Chicago and Amsterdam (New Orleans was in the same time zone as Chicago), I have been battling the jetlag this week! Lol 😆

And the jetlag is not over yet, though, as I am still pretty much recovering from it. While thus far this jetlag hasn’t been as bad as the previous one, it has been very tricky to handle because I went back straight to work on Tuesday! Haha 😆 . But my tennis lesson on Thursday evening helped a lot in the recovery process! So indeed exercise actually helps a lot in jetlag fighting!

Speaking of work, this week has also been really busy to me. Especially yesterday where my entire day was pretty much filled with meetings! Lol 😆 . Anyway, I am glad now that it is a weekend already so I can finally have some rest 😀 . It also helps that Spring appears to have finally kicked in in the Netherlands 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Di hari Senin awal minggu ini aku kembali dari perjalanan musim semi 2018ku ke New Orleans dan Chicago. Dan perbedaan waktu tujuh jam antara Chicago dan Amsterdam (New Orleans berada di zona waktu yang sama dengan Chicago) berarti aku harus bertarung melawan jetlag minggu ini! Haha 😆

Dan jetlag-nya masih belum pulih benar nih, karena aku masih merasakan efeknya. Walaupun sejauh ini jetlag-nya tidak separah yang lalu, jetlag ini lumayan tricky karena aku langsung kembali kerja di hari Selasa! Haha 😆 . Tetapi les tenisku hari Kamis kemarin membantu sekali sih dalam proses pemulihannya! Jadi memang benar adanya bahwa olahraga itu membantu tubuh memulihkan diri dari jetlag!

Ngomongin kerjaan, minggu ini adalah minggu yang sibuk di kantor. Terutama kemarin dimana satu hariku penuh terisi dengan meeting dan meeting! Haha 😆 . Dan jadilah aku lega sekarang adalah akhir pekan sehingga akhirnya aku bisa beristirahat 😀 . Membantu juga dimana akhirnya sepertinya Musim Semi mulai berlangsung di Belanda 🙂 .

#2082 – A DST Weekend

ENGLISH

So yesterday was when the Daylight Saving Time (DST) officially kicked in in Europe, when the time was moved forward by one hour from 2 AM to 3 AM. This meant there were only 23 hours this Sunday.

I have mentioned here a few times that this is my less favorite DST of the year. And especially so this year because yesterday my Spring trip started! When I booked my ticket this January, I didn’t consider the DST and so I ended up with a morning flight departing out of Schiphol at 08:35 AM to start the trip! Lol 😆

And so to avoid this, which was a real risk that should never be underestimated:

(Forgetting to move the clock forward by an hour on a Spring DST like this Sunday would cause your alarm set at 4 AM to only beep at 5 AM due to the time change), I decided to spend a night at Schiphol on the evening prior to the trip. This way, the risk would be much lower. Plus, it would be less of a hassle for me because I would already be at the airport in the morning of departure. I would not need to worry about getting to Schiphol at the ungodly early hours on a Sunday, haha 😆 .

Having said that, this trip actually made the DST really unique. You know, my Sunday was supposed to be 23 hours in length. But my flights that day made my Sunday be 30 hours in length, due to the seven hours time difference between the Netherlands and Louisiana, haha. This was similar to my latest Winter Solstice when I was flying from Amsterdam to San Francisco that day. A day that was supposed to be short actually became (much) longer 😛 .

BAHASA INDONESIA

Kemarin adalah Daylight Saving Time (DST) di Eropa, dimana waktu dimajukan satu jam dari jam 2 subuh ke jam 3. Ini berarti hari Minggu kemarin hanya terdiri atas 23 jam saja.

Sudah beberapa kali kusebutkan bahwa DST ini adalah DST yang tidak aku sukai. Terutama tahun ini sih karena kebetulan kemarin adalah permulaan dari perjalanan musim semiku! Ketika tiketnya aku booking Januari ini, aku tidak mempertimbangkan DST sama sekali dan jadilah aku mendapatkan tiket keberangkatan dari Schiphol di pagi hari jam 08:35 pagi dong! Haha 😆 .

Dan untuk mencegah yang berikut ini kejadian, yang mana merupakan risiko yang jangan pernah disepelekan lho:

(Lupa memajukan jam selama satu jam di hari DST musim semi seperti hari Minggu kemarin menyebabkan alarm yang disetel jam 4 pagi untuk baru berbunyi jam 5 pagi karena pergeseran waktu), aku memutuskan untuk menginap di Schiphol semalam sebelum perjalanannya dimulai. Dengan begini, risikonya menjadi lebih kecil. Ditambah lagi, ini jelas lebih praktis karena aku sudah berada di bandara di pagi keberangkatan. Aku tidak perlu untuk pusing-pusing mencari cara untuk berangkat ke Schiphol di pagi-pagi buta di hari Minggu kan ya, haha 😆 .

Walaupun begitu, perjalanan ini justru membuat DST kali ini unik loh. Jadi seharusnya hari Mingguku memiliki panjang 23 jam kan. Tapi penerbangan-penerbanganku hari itu membuat hari Mingguku menjadi berpanjang 30 jam, karena perbedaan waktu tujuh jam antara Belanda dan Louisiana, haha. Mirip-mirip nih dengan Winter Solstice terakhirku ketika aku terbang dari Amsterdam ke San Francisco hari itu. Suatu hari yang seharusnya pendek menjadi (jauh) lebih panjang 😛 .

#1924 – My Favorite Season: Spring

ENGLISH

I have shared before that I do not like Fall. So a relevant follow-up question is “What is your favorite, then?“. Well, to that, the answer is: definitely Spring! Haha 😆 .

First of all, here is a (good) Spring day in the Netherlands:

Yep, those are all flowers, not carpets! Lol 😆

Anyway, Spring is the opposite of Fall in many different levels, from the clear-cut scientific definition to how (my) life here is in general.

It is true, though, that even in Spring, the weather isn’t always perfect like in the video above. In fact, it is not most of the time. However, despite that, overall it is still “net positive”.

I think the fact that Winter preceeds Spring helps a lot. First of all, days are getting longer and longer each day. And I personally like longer days. Secondly, the same temperature as in Fall is perceived as “warmer”, haha.

This also affects people too. I observe that people are more in cheerful mood during the Spring, which sometimes is also reflected in how they dress. Ultimately, life feels much better and, as a consequence, I feel more productive at work too, which is always a good thing, haha 😛 .

Yeah, so, indeed, Spring is my most favorite season!!

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya telah kubagikan bahwa aku tidak suka musim gugur. Jadi pertanyaan berikutnya yang memang relevan adalah “Kalau begitu musim favoritmu musim apa dong?“. Untuk itu, jawabannya jelas adalah: musim semi! Haha 😆 .

Pertama-tama, hari (baik) musim semi di Belanda itu kayak gini:

Iyaa, itu semua bunga loh, bukan karpet! Haha 😆

Anyway, musim semi itu kebalikan dari musim gugur di banyak sisi, mulai dari definisi ilmiahnya yang jelas hingga bagaimana kehidupan(ku) secara umum di sini.

Memang sih, cuaca musim semi itu tidak selalu sempurna seperti di video di atas. Malahan, seringnya sih cuacanya nggak oke, haha. Toh walaupun begitu, secara keseluruhan masih “positif”.

Aku kira musim dingin yang mendahului musim semi jelas membantu banget. Pertama-tama, siang hari bertambah panjang terus setiap harinya. Dan aku sendiri suka banget dengan siang hari yang panjang. Yang kedua, suhu udara yang sama dengan di musim gugur jadi terasa “lebih hangat” gitu deh, haha.

Ini juga mempengaruhi orang-orang. Aku amati orang-orang ber-mood lebih ceria di musim semi, yang mana terkadang terpancar juga di pemilihan pakaiannya, haha. Jelas, ini membuat hidup terasa lebih enak dan, sebagai akibatnya, aku lebih produktif di kantor juga, yang mana jelas bagus dong ya, haha 😛 .

Jadi, iya, musim semi adalah musim favoritku!!

#1899 – Photo Tales (39)

ENGLISH

Photo #86

A delicious Southern Italian dinner

Some weeks ago a friend of mine told me about this Italian restaurant ran by an Italian family in Rotterdam that was so good but only opened during the weekday. Quite strange, indeed. We joked that they had enough customers already that they did not feel the need to open their restaurants in the most popular time for people to go out and dine: the weekend, haha.

Finally, last Tuesday I got the chance to try it. And indeed it was good!! My friend and I decided to share a carpaccio as an appetizer to share, while for the main course I ordered a very delicious beef steak that was served with salad and, well, pasta!

Photo #87

Yeay it is Spring finally!

Finally, the past two weeks or so, Spring has come to full effect in the Netherlands!! Yeay for less layers of clothes to wear!! 😛

BAHASA INDONESIA

Foto #86

Makan malam ala Italia Selatan yang enak banget!

Beberapa minggu yang lalu seorang temanku memberi-tahuku mengenai restoran Italia yang dikelola oleh satu keluarga asal Italia di Rotterdam yang enak banget tetapi cuma buka di hari biasa (hari kerja/weekday) saja. Aneh ya. Kami sih bercanda sepertinya mereka sudah memiliki cukup pengunjung saking ramainya sehingga mereka merasa tidak perlu membuka restoran mereka di waktu populer orang-orang untuk keluar makan: akhir pekan, haha.

Nah, akhirnya hari Selasa minggu lalu aku berkesempatan mencobanya. Dan ternyata memang enak lho!! Aku dan temanku memesan carpaccio sebagai menu pembuka untuk dibagi dua. Untuk makanan utama, aku memesan steak yang memang enak dan disajikan dengan salad dan, tentu saja, pasta!

Foto #87

Hore akhirnya musim semi!

Akhirnya, dua minggu terakhir ini, musim semi sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya di Belanda!! Horee nggak harus memakai berlapis-lapis pakaian lagi!! 😛

 

#1739 – Side Stories from Helsinki

ENGLISH

Posts on the 2016 Baltic Spring Trip series:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga
4. Part IV: Helsinki
5. Part V: Tallinn
6. Part VI: Tallink and Finnair

***

Here are a couple of things I experienced in Helsinki during my 2016 Baltic Spring Trip (see Part IV above).

Finnish Language

The Finnish language is not a member of the Indo-European language family which implies it does not belong to the Germanic language branch. It is also not an Austronesian language. These all mean that I was very unfamiliar with the language as I could not “connect” it with the few languages which I knew.

Nonetheless, probably Finland’s close proximity to Sweden meant there were a lot of Swedish people in the country, at least in the capital (Helsinki). As a result, most of the public signs in the city (at least the ones that I saw) were both in Finnish and Swedish. And I am glad about it!

Look, obviously I do not speak Swedish (lol). However, Swedish is a Germanic language which means it is easy to notice many resemblances with Dutch. And as a result, I still understood (or at least was able to guess) those signs while in Helsinki through my knowledge of Dutch which I could use to interpret Swedish, haha 😆 .

While I did not know what "Hätäuloskäynti" meant, I understood "nödutgång". Presumably, it was the Swedish equivalent of the Dutch word "nooduitgang"

While I did not know what “Hätäuloskäynti” meant, I understood “nödutgång”. Presumably, it was the Swedish equivalent of the Dutch word “nooduitgang”

Even so, this only worked when I had to read something though. Even though of the same language family, the Dutch and Swedish pronunciation were very different. And so when someone read something to me in Swedish, say for which I would understand if I would have just read it, I would most likely not understand what I was told about, haha 😆 .

Btw, indeed English is Germanic too but I feel like I understand Swedish much more from the Dutch side than the English side. So I guess the “distance” within the same family is different between each member. Not that it is surprising.

Winter in Spring

Anyway, I was in Helsinki at the end of March and early of April, which means technically it was supposed to be Spring. And Spring is associated with flowers, trees, grass, sunlight, butterflies, etc. Definitely not with ice and snow. But while I was in Helsinki, I still found this:

Snow!!!

Snow!!!

Yes, there were still traces of ice and snow. It was literally the most snow I saw this last winter 😅😅😅😅😅. A little bit ironic indeed, haha 😆

Even the sea was still frozen

Even the sea was still frozen

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2016 Baltic Spring Trip:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga
4. Part IV: Helsinki
5. Part V: Tallinn
6. Part VI: Tallink and Finnair

***

Berikut ini dua buah cerita dari pengalamanku di Helsinki di perjalanan musim semi 2016ku ke Baltik (cerita utama di Bagian IV).

Bahasa Finlandia

Bahasa Finlandia tidaklah termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa language yang mana artinya bahasa ini juga tidak termasuk dalam rumpun bahasa Jermanik. Bahasa ini juga bukan lah bahasa Austronesia. Ini semua berarti aku sama sekali tidak familier dengan bahasanya karena aku jadi “tidak bisa” menghubungkannya dengan sedikit bahasa yang kukuasai.

Toh walaupun begitu, mungkin kedekatan geografisnya Finlandia dengan Swedia berarti ada banyak orang Swedia di negaranya, setidaknya di ibukotanya (Helsinki). Sebagai akibatnya, kebanyakan tanda-tanda di tempat umum (setidaknya yang kulihat) dituliskan dalam bahasa Finlandia dan Swedia. Dan aku senang mereka begitu!

Begini, jelas lah ya aku nggak bisa bahasa Swedia (lol). Namun, bahasa Swedia adalah bahasa Jermanik yang mana artinya mudah untuk menemukan kemiripannya dengan bahasa Belanda. Sebagai akibatnya, aku masih bisa mengerti (setidaknya menebak-nebak) arti dari tanda-tanda itu di Helsinki dengan kemampuan bahasa Belandaku yang bisa kugunakan untuk menebak-nebak arti dalam bahasa Swedia, haha 😆 .

While I did not know what "Hätäuloskäynti" meant, I understood "nödutgång". Presumably, it was the Swedish equivalent of the Dutch word "nooduitgang"

Walau aku tidak tahu apa arti dari “Hätäuloskäynti”, aku mengerti “nödutgång”. Aku asumsikan, ini adalah ekuivalen dalam bahasa Swedia dari kata “nooduitgang” dalam bahasa Belanda

Toh walaupun begitu, ini hanya bisa kulakukan jika aku harus membaca sesuatu sih. Walaupun masih dalam rumpun bahasa yang sama, pengucapan dalam bahasa Belanda dan Swedia itu berbeda banget. Jadi jika ada orang yang membacakan sesuatu dalam bahasa Swedia ke aku, walaupun andaikata pesannya bakal aku mengerti jika pesannya itu aku baca, kemungkinan besar aku nggak akan mengerti apa yang baru diucapkan ke aku deh, haha 😆 .

Btw, memang sih bahasa Inggris juga termasuk rumpun bahasa Jermanik. Namun, aku merasa aku bisa menebak arti dalam bahasa Swedia lebih melalui bahasa Belanda deh daripada bahasa Inggris. Jadi aku rasa “jarak” antara dua bahasa dalam suatu rumpun berbeda-beda ya satu sama lain. Yaa, nggak mengherankan juga sih.

Musim dingin di musim semi

Anyway, aku berada di Helsinki di akhir Maret dan awal April, yang mana artinya secara teknis itu sudah musim semi kan ya. Dan musim semi kan identik dengan bunga-bunga yang bermekaran, pohon-pohon yang menghijau, rumput-rumput yang tumbuh, sinar mahatari, kupu-kupu, dll. Jelas tidak dengan es dan salju kan ya. Namun, ketika di Helsinki aku menemukan ini dong:

Snow!!!

Saljuuu!!!

Iyaa, masih ada banyak bekas-bekas es dan salju loh. Dan ini adalah salju paling banyak yang aku lihat di musim dingin yang baru lewat ini 😅😅😅😅😅. Iya, ironis ya rasanya, haha 😆

Even the sea was still frozen

Bahkan lautnya pun masih beku

#1728 – 2016 Baltic Spring Trip (Part IV: Helsinki)

ENGLISH

Previous posts on the 2016 Baltic Spring Trip series:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga

Previously on 2016 Baltic Spring Trip: Zilko went to the Baltic region for Spring this year. After spending three days in Stockholm and one day in Riga, he was now in the capital of Finland, Helsinki, and was eager to find out what Helsinki had to offer.

***

Helsinki

The Cathedral of Helsinki

The Cathedral of Helsinki

In general, I wasn’t as lucky in Helsinki weather-wise because it was foggy a lot during almost my entire stay in the city. Nevertheless, I still found Helsinki to be very interesting. While it was up there in the north, probably it was actually more “Russian” than “Scandinavian”; though this was not surprising at all given that Finland was not a Scandinavian country 😛 .

Apparently some architecture of some areas of the city was Russian that at some point, several American production companies shooted some movies in Helsinki to depict Russia, haha 😆 . The language was also very different, as its root was definitely not German (more on this in a later post, probably 😉 ). And so I am very glad that I chose to visit Helsinki as well in this trip. It felt really new and different!!

Downtown Helsinki

The biggest and most famous landmarks of Helsinki were in the form of cathedrals or churches. And obviously I did not skip them. The most impressive one was the #2 destination in Helsinki according to Trip Advisor: the Temppeliaukion kirkko (The Rock Church).

The amazing Rock Church in Helsinki

The amazing Rock Church in Helsinki

The name was self-explanatory, as you can see in the photo above. While the church was certainly not Saint Peter’s Basilica grandeur or Sagrada Familia majestic, I still found it to be very charming and unique! I just felt the combination of the natural rock and the man-made structure to be very balanced and thoughtfully designed!

Getting around Helsinki was also not very difficult. There was a decent public transportation system and I decided to buy a three-day pass for €16; quite a fair price in my opinion. I made use of this card to get around the city, where I visited a few nice parks and also some interesting neighbourhoods with unique architecture 🙂 .

I like Helsinki. The city appeared to be modern to me (with a lot of shops, modern buildings, etc) while at the same time still maintained a good-portion of its traditional heritage side as well.

Downtown Helsinki

Downtown Helsinki

Suomenlinna

If the Temppeliaukion kirrko was the #2 destination in Helsinki according to Trip Advisor, what was the first then? Well, it was the Suomenlinna, a sea fortress located on six small islands just off the coast of Helsinki. There was a regular ferry ride from Helsinki to the islands that was part of the Helsinki public transportation system. And so obviously I went there as well.

As I said above, it was foggy a lot when I was in Helsinki. And unfortunately, the time I went to Suomenlinna was no exception. Nonetheless, while the fog made it very difficult to take great pictures of the beautiful fortress, at the same time it actually made my visit really unique. Somehow, Suomenlinna felt a little bit “magical” to me with the fog! I think the combination of the fog and the old-style traditional houses and buildings there created this rather “spooky” but “cool” atmosphere.

Foggy Suomenlinna

Foggy Suomenlinna

Despite the fog, I still find Suomenlinna to be a beautiful place. And so I do recommend a visit to Suomenlinna if you are around in Helsinki and you have the time 🙂 .

The Food

Soy Ramen in Helsinki

Soy Ramen in Helsinki

I found it quite strange (at first) that it was not that easy to find a restaurant that served Finnish dish. During my entire stay in Helsinki, I had meals at Mexican, Japanese, American, burger, and pizza restaurants. You see? Lol 😆 . A little bit frustrated by this, one evening I opened my Trip Advisor app to look for a Finnish restaurant nearby me. Luckily I found one with a rather good review in the city center, and I went there. 

The menu choice looked interesting to me, with some of the dishes had really funny names. I decided to go for one, so I ordered a dish called “The weather may change but vendace stays the same“. Yeah, exactly! Like, what the hell was that? I googled “vendace” and turned out it was a kind of small Nordic fish. Okay, at least I had an idea that I would be eating fish that evening, lol 😆 . The dish turned out to look like this:

"The weather may change but vendace stays the same"

“The weather may change but vendace stays the same”

It did not look too bad, did it? 🙂 Taste-wise though, I found the fish to be a little bit too bland that I had to add salt and pepper to add some flavor to it 😐 .

I should have known better as obviously I fell into the funny name “trap”. I mean, maybe a funny name is chosen to a dish to attract some attention to compensate for its mediocrity?

Okay, to be fair, it was not bad though. The potatoes were actually cooked well and I liked the cucumbers and lemon slice as well 🙂 . The fish was actually cooked well, it was just my tongue preferred a little bit more flavor…

TO BE CONTINUED…

Next on 2016 Baltic Spring Trip:
– Crossing the Gulf of Finland
– One day in Tallinn, Estonia
– Having a meal cooked by one of the best chefs in the world
– Flying Finnair
– Back to the Netherlands

BAHASA INDONESIA

Posting-posting sebelumnya dalam seri 2016 Baltic Spring Trip:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga

Sebelumnya dalam 2016 Baltic Spring Trip: Zilko pergi ke daerah Baltic di musim semi tahun ini. Setelah menghabiskan tiga hari di Stockholm dan satu hari di Riga, ia kini berada di ibukotanya Finlandia, Helsinki.

***

Helsinki

The Cathedral of Helsinki

Katedral Helsinki

Secara umum, aku kurang beruntung dalam hal cuaca di Helsinki karena cuacanya amat berkabut di hampir keseluruhan masa tinggalku disana. Toh walaupun begitu, aku tetap merasa Helsinki adalah kota yang amat menarik. Walau lokasinya di utara sana, aku rasa kotanya lebih “Rusia” daripada “Skandinavia” gitu deh. Nggak mengherankan juga sih karena Finlandia kan memang bukanlah negara Skandinavia 😛 .

Ternyata arsitektur di beberapa bagian kota Helsinki bergaya Rusia sehingga pernah beberapa kali, beberapa rumah produksi filmnya Amerika syuting di Helsinki untuk menggambarkan Rusia, haha 😆 . Bahasanya juga amat berbeda karena bukan berakar dari bahasa Jerman (ini akan aku bahas di posting yang akan datang deh, kalau ingat 😉 ). Dan makanya aku sekarang lega aku memasukkan Helsinki ke dalam rencana perjalanan ini. Rasa mengunjungi tempat barunya aku dapatkan banget!!

Pusat Kota Helsinki

Tempat wisata terbesar dan paling terkenal di Helsinki adalah katedral-katedral dan gereja-gereja yang berada di seluruh penjuru kota. Jelas dong aku tidak melewatkan mereka. Yang paling mengagumkanku adalah tempat tujuan nomor #2 di Helsinki menurut Trip Advisor: Temppeliaukion kirkko (Gereja Batu).

The amazing Rock Church in Helsinki

Gereja Batu yang keren di Helsinki

Nama gerejanya memang sangat merepresentasikan gerejanya sendiri ya, seperti yang terlihat di foto di atas. Walaupun jelas gerejanya tidak seagung Basilika Santo Petrus atau se-wow Sagrada Familia, menurutku gerejanya memiliki daya tarik tersendiri yang unik! Kombinasi antara batu-batuan alami dan struktur buatan manusianya nampak sangat seimbang dan dipertimbangkan dengan matang!

Berkeliling Helsinki juga tidaklah sulit. Sistem transportasi umumnya cukup oke dan aku memutuskan untuk membeli kartu pas selama tiga hari seharga €16; harga yang masuk akal menurutku. Aku memanfaatkan kartu ini untuk mengelilingi kotanya, dimana aku mengunjungi beberapa taman yang menarik dan juga beberapa bagian kotanya yang menarik dengan arsitektur yang unik 🙂 .

Aku suka Helsinki. Kotanya nampak modern (ada banyak pertokoan, gedung-gedung modern, dll) sementara pada saat yang sama banyak bagian peninggalan tradisionalnya yang masih dijaga dan dirawat baik.

Downtown Helsinki

Helsinki

Suomenlinna

Jika Temppeliaukion kirrko adalah tujuan #2 di Helsinki menurut Trip Advisor, lantas nomor#1-nya apa dong? Jawabannya adalah Suomenlinna, sebuah benteng laut yang berlokasi di enam pulau di dekat Helsinki. Ada layanan kapal ferry reguler dari Helsinki kesana yang mana termasuk dalam sistem transportasi umumnya Helsinki. Jadilah jelas aku kesana juga.

Seperti yang kubilang di atas, cuaca berkabut banget ketika aku di Helsinki. Sayangnya, cuacanya juga begini ketika aku ke Suomenlinna. Walaupun kabutnya membuat situasi menjadi sulit untuk mendapatkan foto yang oke di benteng yang indah ini, tetapi di sisi lain ini membuat kunjunganku menjadi unik juga. Suomenlinna, entah mengapa, terasa “ajaib” ketika berkabut begini! Aku rasa kombinasi kabut dan bangunan-bangunan tua disana menghasilkan suasana yang “seram-seram sedap” gitu deh, haha.

Foggy Suomenlinna

Suomenlinna yang berkabut

Walaupun berkabut, menurutku Suomenlinna adalah tempat yang indah. Jadilah aku memang merekomendasikan kunjungan ke Suomenlinna jika kebetulan berada di Helsinki dan ada waktu 🙂 .

Makanannya

Soy Ramen in Helsinki

Ramen di Helsinki

(Awalnya) aku merasa aneh bahwa tidak mudah untuk menemukan restoran yang menjual masakan ala Finlandia. Di masa tinggalku di Helsinki, aku makan di restoran Meksiko, Jepang, Amerika, burger, dan pizza. Nah kan? Hahaha 😆 . Merasa sedikit sebal karena ini, suatu sore aku menggunakan Trip Advisor untuk mencari rumah makan yang menjual makanan Finlandia. Untung aku menemukan satu yang reviewnya lumayan oke dan lokasinya di pusat kota, dan jadilah aku kesana.

Pilihan menunya menarik untukku, dimana beberapa menunya memiliki nama yang menarik. Aku memutuskan untuk memilih menu yang bernama “Cuaca mungkin berubah tetapi vendace selalu sama“. Iya, apa maksudnya ya itu? Haha. Kemudian aku meng-google vendace dan ternyata vendace adalah sejenis ikan kecil dari daerah Nordik. Oke deh, setidaknya aku jadi tahu malam itu aku akan makan ikan deh, haha 😆 . Penampakan menunya seperti ini:

"The weather may change but vendace stays the same"

“Cuaca mungkin berubah tetapi vendace selalu sama”

Penampakannya mah lumayan ya? 🙂 Tetapi sayangnya, aku rasa ikannya terlalu hambar sampai-sampai aku merasa mesti menambahkan garam dan merica ke ikannya untuk mendapatkan sedikit rasa 😐 .

Seharusnya aku sudah bisa menebaknya dan tidak jatuh ke dalam “jebakan” nama. Maksudku, mungkin nama suatu menu dibuat lucu agar menu itu menarik perhatian kan padahal rasanya mah biasa-biasa aja?

Oke, sebenarnya secara keseluruhan menunya bukannya tidak enak sih. Kentangnya dimasak dengan oke dan aku suka tambahan timun dan irisan lemonnya juga 🙂 . Ikannya sendiri sebenarnya dimasak dengan oke, hanya saja lidahku mengharapkan lebih banyak rasa…

BERSAMBUNG…

Selanjutnya dalam 2016 Baltic Spring Trip:
– Menyebrangi Teluk Finlandia
– Satu hari di Tallinn, Estonia
– Makan makanan yang dimasak oleh salah satu koki terbaik di dunia
– Terbang dengan Finnair
– Kembali ke Netherlands