General Life · Zilko's Life

#2027 – A Very “Colorful” Week

ENGLISH

It has been a full working week since I got back home from my November 2017 Trip to Indonesia. So how has this week been?

Well, as in any other week following a long-haul flight crossing several different time zones, the week started with my body fighting the jetlag, haha. I went to work on Monday and it was quite annoying because the jetlag was still quite strong while at the same time I was tuning back to where I left off at work and tried to catch up on what has been going on while I was away.

Speaking of work, there was a track outing event this Thursday where we went: karaoke-ing after work! Haha 😛 . Btw it surprised me that karaoke won the votes (We voted for what activity we would like for the track outing). Anyway, it turned out to be really fun! 😛

Yeah, so my theme this week was, indeed, mainly about recovery. While generally I was getting better as the week passed by, I wasn’t feeling particularly well in the middle of the week. I think I caught a flu because of the jetlag and also the sudden switch of climate from tropical rainy season to European winter. While the flu wasn’t that bad, it was enough to affect my fitness that day a little bit.

I still managed to go to my tennis lesson this week but conflicting agenda and the flu prevented me from going to the gym. I actually thought of fighting through the flu and went to the gym in the middle of the week. But I have learned that I needed to listen to my body and to think of the bigger picture that is my work and upcoming personal plans. So I cancelled my gym plan and tried to not be too harsh on myself, haha. My health is a priority, right? 😛

Speaking of the European winter, this happened yesterday:

Yes, it was snowing!! No matter how many times before I have experienced snow, I still find it very beautiful!! 😍😍😍

So, yeah, this week indeed has been a really “colorful” week for me!!

BAHASA INDONESIA

Sudah satu minggu kerja penuh sekarang semenjak aku kembali dari perjalanan November 2017ku ke Indonesia. Jadi bagaimanakah mingguku ini?

Yah, seperti minggu-minggu lainnya setelah sebuah penerbangan jarak jauh melintasi beberapa zona waktu yang berbeda, minggu ini dimulai dengan badanku melawan efek jetlag yang masih kuat, haha. Aku pergi ke kantor di hari Senin dan hari itu cukup menyebalkan karena jetlagnya masih kuat sementara aku berusaha untuk mencoba mendapatkan ritme pekerjaanku kembali seperti sebelumnya dan di saat yang sama juga berusaha untuk catch up dengan semua perkembangan yang terjadi ketika aku sedang pergi.

Ngomongin kerjaan, ada acara track outing hari Kamis kemarin ini dimana kami pergi: karaokean sepulang kerja doong! Haha 😛 . Btw, tidak kusangka-sangka lho bahwa karaoke akan menang dalam voting (Sebelumnya kami voting aktivitas apa yang ingin kami lakukan di track outing). Anyway, ternyata seru banget lho! 😛

Ya, jadi ya memang begitu deh temaku minggu ini, pemulihan diri. Walaupun secara umum aku semakin pulih seiring dengan berlalunya minggu ini, aku sempat merasa kurang fit di pertengahan minggu. Kayaknya aku kena flu gitu deh karena kombinasi jetlag dan perubahan cuaca dari musim hujan tropis ke musim dingin Eropa. Walaupun nggak terlalu parah, flunya cukup mempengaruhi fitness-ku hari itu.

Aku masih sempat pergi ke les tenisku minggu ini sih tetapi jadwal agendaku yang tubrukan dan flunya itu membuatku sama sekali tidak bisa pergi ke gym minggu ini. Sebenarnya sempat terbesit pikiran untuk tidak menghiraukan flunya dan tetapi memaksakan diri untuk ke gym di pertengahan minggu itu. Tapi aku sudah belajar bahwa aku perlu untuk mendengarkan tubuhku dan memikirkan the bigger picture yaitu pekerjaanku dan rencanaku ke depan ini dalam waktu dekat. Jadilah rencanaku ke gym hari itu kubatalkan dan aku berusaha untuk tidak terlalu kerasa kepada diriku sendiri. Yang namanya kesehatan adalah nomor satu kan? 😛

Ngomongin musim dingin di Eropa, kemarin ini terjadi lhoo:

Iyaa, turun salju dooong!! Nggak peduli sudah berapa kali sebelumnya aku bersentuhan dengan yang namanya salju, bagiku salju itu masih indah bangettt!! 😍😍😍

Jadi, ya begitu lah. Minggu ini memang telah menjadi minggu yang sungguh “berwarna” bagiku!!

Advertisements
Life in Holland · Zilko's Life

#1883 – Wintery February

ENGLISH

As usual, this February has been the coldest month this winter 😛 . While in Amsterdam it was also snowing in January (only for a little bit, though), it was much more frequent in February. In fact, it was more than enough for the snow to pile up!

And those who have experienced snow would fully understand that, indeed, this is the best feeling ever:

Haha 😆

This winter is my seventh winter in the Netherlands. Even then, I still find snow to be really beautiful and magical! Haha 😆 And so obviously I am glad that the winter of 2013/2014 still remains as my only snowless winter 😛 .

BAHASA INDONESIA

Seperti biasa, Februari ini adalah bulan terdingin di musim dingin kali ini 😛 . Walaupun di Amsterdam juga bersalju sih Januari lalu (sedikit doang sih tapinya), saljunya lebih banyak turun di bulan Februari. Dan banyaknya cukup loh untuk saljunya cukup menumpuk gitu! Jadi kan kece ya.

Dan mereka yang memiliki pengalaman dengan salju, pasti memahami banget deh bahwa yang berikut ini adalah best feeling ever:

Haha 😆

Musim dingin kali ini adalah musim dingin ketujuhku di Belanda. Walaupun begitu, bagiku salju itu masih nampak indah, keren, dan kece banget! Haha 😆 Jadi jelas lah ya tentu aku merasa lega bahwa musim dingin tahun 2013/2014 masih bertahan sebagai satu-satunya musim dinginku yang tanpa salju 😛 .

EuroTrip · One Week Trip · Vacation

#1739 – Side Stories from Helsinki

ENGLISH

Posts on the 2016 Baltic Spring Trip series:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga
4. Part IV: Helsinki
5. Part V: Tallinn
6. Part VI: Tallink and Finnair

***

Here are a couple of things I experienced in Helsinki during my 2016 Baltic Spring Trip (see Part IV above).

Finnish Language

The Finnish language is not a member of the Indo-European language family which implies it does not belong to the Germanic language branch. It is also not an Austronesian language. These all mean that I was very unfamiliar with the language as I could not “connect” it with the few languages which I knew.

Nonetheless, probably Finland’s close proximity to Sweden meant there were a lot of Swedish people in the country, at least in the capital (Helsinki). As a result, most of the public signs in the city (at least the ones that I saw) were both in Finnish and Swedish. And I am glad about it!

Look, obviously I do not speak Swedish (lol). However, Swedish is a Germanic language which means it is easy to notice many resemblances with Dutch. And as a result, I still understood (or at least was able to guess) those signs while in Helsinki through my knowledge of Dutch which I could use to interpret Swedish, haha 😆 .

While I did not know what "Hätäuloskäynti" meant, I understood "nödutgång". Presumably, it was the Swedish equivalent of the Dutch word "nooduitgang"
While I did not know what “Hätäuloskäynti” meant, I understood “nödutgång”. Presumably, it was the Swedish equivalent of the Dutch word “nooduitgang”

Even so, this only worked when I had to read something though. Even though of the same language family, the Dutch and Swedish pronunciation were very different. And so when someone read something to me in Swedish, say for which I would understand if I would have just read it, I would most likely not understand what I was told about, haha 😆 .

Btw, indeed English is Germanic too but I feel like I understand Swedish much more from the Dutch side than the English side. So I guess the “distance” within the same family is different between each member. Not that it is surprising.

Winter in Spring

Anyway, I was in Helsinki at the end of March and early of April, which means technically it was supposed to be Spring. And Spring is associated with flowers, trees, grass, sunlight, butterflies, etc. Definitely not with ice and snow. But while I was in Helsinki, I still found this:

Snow!!!
Snow!!!

Yes, there were still traces of ice and snow. It was literally the most snow I saw this last winter 😅😅😅😅😅. A little bit ironic indeed, haha 😆

Even the sea was still frozen
Even the sea was still frozen

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2016 Baltic Spring Trip:
1. Part I: Stockholm
2. Part II: Jumbo Stay and Air Baltic
3. Part III: Riga
4. Part IV: Helsinki
5. Part V: Tallinn
6. Part VI: Tallink and Finnair

***

Berikut ini dua buah cerita dari pengalamanku di Helsinki di perjalanan musim semi 2016ku ke Baltik (cerita utama di Bagian IV).

Bahasa Finlandia

Bahasa Finlandia tidaklah termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa language yang mana artinya bahasa ini juga tidak termasuk dalam rumpun bahasa Jermanik. Bahasa ini juga bukan lah bahasa Austronesia. Ini semua berarti aku sama sekali tidak familier dengan bahasanya karena aku jadi “tidak bisa” menghubungkannya dengan sedikit bahasa yang kukuasai.

Toh walaupun begitu, mungkin kedekatan geografisnya Finlandia dengan Swedia berarti ada banyak orang Swedia di negaranya, setidaknya di ibukotanya (Helsinki). Sebagai akibatnya, kebanyakan tanda-tanda di tempat umum (setidaknya yang kulihat) dituliskan dalam bahasa Finlandia dan Swedia. Dan aku senang mereka begitu!

Begini, jelas lah ya aku nggak bisa bahasa Swedia (lol). Namun, bahasa Swedia adalah bahasa Jermanik yang mana artinya mudah untuk menemukan kemiripannya dengan bahasa Belanda. Sebagai akibatnya, aku masih bisa mengerti (setidaknya menebak-nebak) arti dari tanda-tanda itu di Helsinki dengan kemampuan bahasa Belandaku yang bisa kugunakan untuk menebak-nebak arti dalam bahasa Swedia, haha 😆 .

While I did not know what "Hätäuloskäynti" meant, I understood "nödutgång". Presumably, it was the Swedish equivalent of the Dutch word "nooduitgang"
Walau aku tidak tahu apa arti dari “Hätäuloskäynti”, aku mengerti “nödutgång”. Aku asumsikan, ini adalah ekuivalen dalam bahasa Swedia dari kata “nooduitgang” dalam bahasa Belanda

Toh walaupun begitu, ini hanya bisa kulakukan jika aku harus membaca sesuatu sih. Walaupun masih dalam rumpun bahasa yang sama, pengucapan dalam bahasa Belanda dan Swedia itu berbeda banget. Jadi jika ada orang yang membacakan sesuatu dalam bahasa Swedia ke aku, walaupun andaikata pesannya bakal aku mengerti jika pesannya itu aku baca, kemungkinan besar aku nggak akan mengerti apa yang baru diucapkan ke aku deh, haha 😆 .

Btw, memang sih bahasa Inggris juga termasuk rumpun bahasa Jermanik. Namun, aku merasa aku bisa menebak arti dalam bahasa Swedia lebih melalui bahasa Belanda deh daripada bahasa Inggris. Jadi aku rasa “jarak” antara dua bahasa dalam suatu rumpun berbeda-beda ya satu sama lain. Yaa, nggak mengherankan juga sih.

Musim dingin di musim semi

Anyway, aku berada di Helsinki di akhir Maret dan awal April, yang mana artinya secara teknis itu sudah musim semi kan ya. Dan musim semi kan identik dengan bunga-bunga yang bermekaran, pohon-pohon yang menghijau, rumput-rumput yang tumbuh, sinar mahatari, kupu-kupu, dll. Jelas tidak dengan es dan salju kan ya. Namun, ketika di Helsinki aku menemukan ini dong:

Snow!!!
Saljuuu!!!

Iyaa, masih ada banyak bekas-bekas es dan salju loh. Dan ini adalah salju paling banyak yang aku lihat di musim dingin yang baru lewat ini 😅😅😅😅😅. Iya, ironis ya rasanya, haha 😆

Even the sea was still frozen
Bahkan lautnya pun masih beku
Life in Holland · Zilko's Life

#1699 – Finally, It Is Snowing!!

ENGLISH

Up until this morning I had already accepted the fact that this winter was a snow-free winter for me. I believe this was very reasonable given that this week is already the last week of February! And so this meant that this winter would be my only second snow-free winter since I moved to the Netherlands (the first one was the 2013/2014 winter).

Yeah, it had not been snowing at all in Delft this winter. I was travelling to some places this winter as well but it was not snowing in any of the destinations (well, not that I expected some snow in Mexico or Spain, lol 😆 ). I actually just “missed” (by two weeks) the blizzard striking some part of the American’s east coast (including New York and Massachusetts) this January. But looking at how bad it was, I was actually very lucky to miss that, though.

But then, this morning this happened:

😍😍😍😍😍

Yes, it was snowing in Delft this morning!! Not for long though, just for about 15 minutes. And it was wet snow too so the snow immediately melted once it touched the ground, but still, “😍“.

Yeah, finally I experienced some snow this winter; and it was in the last week of February 😆 . And so for now, the winter of 2013/2014 remains as the only snow-free winter for me, hahaha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Sampai pagi hari tadi aku sudah menerima kenyataan bahwa musim dingin kali ini nampak akan menjadi sebuah musim dingin tanpa-salju untukku. Yaa, menurutku sih ini masuk akal karena minggu ini kan sudah minggu terakhir di bulan Februari! Dan ini artinya musim dingin ini akan menjadi musim dingin tanpa-saljuku yang kedua semenjak aku pindah ke Belanda (yang pertama adalah musim dingin tahun 2013/2014).

Iya, selama musim dingin kali ini di Delft belum bersalju sama sekali loh. Dan tempat-tempat yang kukunjungi ketika jalan-jalan di musim dingin kali ini pun juga tidak saljuan (yaa, bukannya aku berekspektasi akan saljuan di Meksiko atau Spanyol sih, huahaha 😆 ). Eh, sebenarnya aku “melewatkan” (dua minggu) badai salju yang menerjang pantai timur Amerika (termasuk New York dan Massachusetts) loh Januari lalu. Tetapi kalau kita lihat betapa parahnya badai saljunya itu, sebenarnya aku malah beruntung sih ya untuk melewatkannya.

Tetapi kemudian, pagi tadi ini terjadi dong:

😍😍😍😍😍

Iya, tadi pagi bersalju loh di Delft!! Sebentar sih, cuma 15an menit aja. Dan saljunya yang turun pun adalah salju basah sehingga saljunya langsung meleleh begitu menyentuh tanah. Tetapi tetap aja lah ya, “😍“.

Iyaa, akhirnya aku mengalami turunnya salju juga musim dingin kali ini; dan ini terjadinya di minggu terakhir bulan Februari, haha 😆 . Dan jadilah untuk sekarang, musim dingin 2013/2014 tetap menjadi satu-satunya musim dingin tanpa-salju-ku deh, hahaha 😆 .

Uncategorized

#1550 – 2015 Spring Trip (Part III: Tokyo (3))

ENGLISH

Previous post on the 2015 Spring Trip to Japan series:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)

Previously on 2015 Spring Trip: Zilko went to Japan for a conference where he would later extend his stay in Japan for a trip after the conference where he would meet his parents and brother. He stayed in Tokyo for twelve days and this post is the third and final one of the Tokyo part of the trip.

***

Mount Fuji

Probably one of the most famous mountains in the entire planet, Mount Fuji was definitely in our itinerary to visit. To get there, we decided to just book a local tour so we did not have to arrange anything ourselves. We chose the Mount Fuji and Hakone one day tour with a Shinkansen (bullet train) ticket to go back to Tokyo (if we did not want the Shinkansen ticket, there was a cheaper tour for around €30 cheaper. But heck we were in Japan so obviously we needed to try the famous Shinkansen as well! 😀 )

Our tour departed at 9 AM from Hamamatsucho Bus Terminal. We arrived there a little bit early, at around 8:15 AM, and it turned out to be a blessing to us because at that time the queue for the tour was still tame. A few minutes later, the bus terminal was flocked with people going on tours (the tour agency organized a few different tour packages everyday, and it was Sunday) so the queue became crazy. Anyway, our bus departed a little bit late at around 9:15 AM. Our tour guide today was Katsu, whose name reminded me of “chicken katsu” or “beef katsu”, haha 😳 .

Our first destination today was Mount Fuji Visitor Centre which was around 2 hours drive from Tokyo. On the way, Katsu gave a nice lecture on general information about Japan, like the size, the number of population, the season, etc; on the Japanese language, like the reason for the existence of the hiragana, katakana, and kanji characters; and on the geological history of Mount Fuji. I was probably one of the few people on the bus who actually listened to him, haha 😆 . But honestly, it was a good lecture actually!

Katsu giving a lecture on the Japanese geography
Katsu giving a lecture on the Japanese geography

Anyway at 11 AM we arrived at the Mount Fuji Visitor Centre where apparently our sole purpose there was a toilet break, haha 😆 . We had 20 minutes and thanks God I was a guy so there was no queue in the men’s restroom, haha. So I had a few minutes to take picture of the majestic Mount Fuji there; which turned out as a blessing because this turned out to be the last place today where I could get good view of the mountain.

Fujiyama
Mount Fuji as seen from the Visitor Center

The weather was not the best today. And by not being the best I mean it was actually snowing quite hard in Mount Fuji. Snowing as in when we were there, the snow was actually falling down! WOW!! It has really been awhile since I experienced that! The past two winters in the Netherlands have been tame so it was quite nice to experience an actual winter weather in Japan! Haha. But because of it, the road to Mount Fuji’s 5th Station was closed so we could only go to the 4th station.

Here is a short vlogging video from Mount Fuji’s 4th Station:

From the 4th station, we went back down to have lunch at a pre-arranged restaurant somewhere in Kawaguchi. The lunch was, unfortunately, extremely horrible. It was basically a bowl of horrible soup with noodles. They made distinction between vegetarian and non-vegetarian but I honestly saw only very little difference between the two options.

I would be lying if I said I enjoyed this meal
I would be lying if I said I enjoyed this meal

From there, we went to Hakone where we were taken to the Hakone Ropeway. Initially, the plan was to go to the Hakone Komagatake Ropeway but due to poor weather, the Komagatake Ropeway was closed today. So they changed the plan and went to the other one instead. Even here, we only had like literally 3 minutes at the top of the Hakone Ropeway at Owakudani where I managed to snap a few shots before having to go back down immediately.

Really bad weather at the Hakone Ropeway
Really bad weather at the Hakone Ropeway today 😦
Owakudani at the top of the Hakone Ropeway
Owakudani at the top of the Hakone Ropeway

From there, they took us to Lake Ashi where we were supposed to take a boat ride. At first I thought the boat would look like this:

A pirate-themed ship
A pirate-themed ship

but then it turned out to be a “normal” catamaran boat:

A catamaran
A catamaran

haha 😆 .

After the boat trip finished, we were taken by bus to Odawara where we would catch our Shinkansen train back to Tokyo. As if we had not been unlucky enough today, the traffic from Lake Ashi to Odawara was also horrible today with a long traffic jam. Instead of the normal 40 minutes ride to Odawara, it took us 1.5 hours! 😦 .

The Kodama Shinkansen 

Long story short, we arrived at Odawara Station and took the Kodama Shinkansen train back to Tokyo. We got the unreserved seat ticket so we got into the unreserved coach where we could sit literally at any empty seat. Luckily I found an empty window seat so I sat there, haha 😆 .

#ShinkansenSelfie
#ShinkansenSelfie

The Shinkansen ride turned out to be just okay to me, if not a little bit underwhelming. I mean, it was a cool high-speed train indeed but it was not my first time riding a high-speed train. I have tried Thalys a few times, Eurostar, TGV, and Eurostar Italia before and I have to say that this Shinkansen ride was no better than any of the European high speed train. It was okay (but indeed extremely punctual though). Even actually I think the seats in the European high-speed trains are wider than Shinkansen; even though it seems that the seat pitch in Shinkansen is longer.

Asakusa and Ueno Park

Asakusa

A giant lantern in the Sensoji Shrine in Asakusa
A giant lantern in the Sensoji Shrine in Asakusa

In Tokyo, we stayed in Asakusa. So naturally our first destination in Tokyo was the famous Sensoji Temple in Asakusa. It was on a Friday so it was full of people! And it was beautiful! In Sensoji, we decided to also enter the garden next to it which was only opened in the spring. In Asakusa, we also went to the Kunitsu Sumida Park just by the Sumida River.

Ueno Park

The reason why Spring is the best time to visit Japan is none other than the cherry blossom, or sakura, which blossoming is peaking in, usually, early April and the local celebrates it as the Hanami season. So obviously we know that we must enjoy this given that we are in Japan in exactly this period! Haha 😆

So on the day where we knew the weather would be good, we decided to go to Ueno Park; a park in the heart of Tokyo where many deemed as one of the best place in Tokyo to enjoy the cherry blossom.

And it was, indeed, AMAZING!! I don’t think any word can fully describe the awesomeness of the cherry blossom season in Japan, especially the Ueno Park! It was just very stunning!!

The Food

Another superb restaurant which we visited during our trip to Tokyo was the Mutekiya ramen. For this, I must say my biggest thank you to Jendluvu who posted a story about her visit there which inspired me to pay a visit as well, haha 😆 .

The ramen restaurant was in Ikebukuro and was not that far away from the JR Ikebukuro station. It was not that difficult to find the restaurant; but probably to add a bit of more detail to what Jen described in her post on how to get there, it was indeed just across the Junkudo building and was exactly in the corner of the main intersection with traffic lights.

Mutekiya Ramen was just accross this building
Mutekiya Ramen was just accross this building

We knew it was a super famous restaurant so we decided to come early for an early dinner at 4:30 PM, hoping to find no queue. But when we arrived at 4:30 PM, it was already like this:

The queue for Mutekiya Ramen at 4:30 PM
The queue for Mutekiya Ramen at 4:30 PM

Dang! Haha 😆 .

What I immediately liked about this restaurant was its efficiency. The queueing time was actually quite productive where they asked us to place our order while we were queuing. Therefore, inside we would just sit and not long after our orders would be served right away! Great job!

We ordered while queuing
We ordered while queuing

And how was the ramen? Well:

IT. WAS. THE. BEST.

From the scale of 0 to 10, I score it 11! Seriously! It was just SOO GOOD!! Everything about it was just so perfect. The noodles. The broth. The vegetables. The pork slices. Everything! We ordered three different kind of ramen dish, and all of them were so good. Seriously!

Three extremely delicious ramen at Mutekiya
Three extremely delicious ramen at Mutekiya

If you ever come to Tokyo, this small ramen shop is A MUST to visit! Heck if I am back in Tokyo in the future, for sure I will pay a visit again!

TO BE CONTINUED…

Next on 2015 Spring Trip:
– Hakodate
– Sapporo
– Otaru
– Kyoto
– Osaka

BAHASA INDONESIA

Posting-posting sebelumnya dalam seri 2015 Spring Trip ke Jepang:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)

Sebelumnya dalam 2015 Spring Trip: Zilko pergi ke Jepang untuk sebuah konferensi dimana nantinya ia akan memperpanjang masa tinggalnya di Jepang setelah konferensi berakhir dimana ia akan bertemu dengan orangtua dan adiknya. Ia tinggal di Tokyo selama dua belas hari dan posting ini adalah posting ketiga dan terakhir dari bagian Tokyo dari perjalanan ini.

***

Gunung Fuji

Salah satu dari gunung paling terkenal di dunia, Gunung Fuji, jelas berada di dalam itinerary kami di perjalanan ini. Untuk kesana, kami memutuskan untuk menggunakan jasa tur lokal sehingga kami tidak perlu repot-repot mengurus segalanya sendiri. Kami memilih paket tur satu hari Gunung Fuji dan Hakone dengan tiket kereta Shinkansen (kereta peluru) untuk kembali ke Tokyo (kalau kami tidak mau tiket Shinkansennya, ada tur yang harganya sekitar €30 (sekitar Rp 450.000) lebih murah. Tetapi berhubung kami sudah berada di Jepang jadi kami harus nyobain yang namanya Shinkansen lah ya! 😀 )

Tur kami berangkat jam 9 pagi dari Terminal Bus Hamamatsucho. Kami tiba disana agak terlalu awal, sekitar jam 8:15 pagi, yang mana ternyata malah menjadi berkat bagi kami karena jam segitu antrian di turnya masih oke. Beberapa menit kemudian, terminalnya penuh oleh orang-orang yang ingin ikutan tur-turnya (agen turnya menyediakan beberapa paket yang berbeda setiap hari, dan hari itu adalah hari Minggu) jadi antriannya menggila dah. Akhirnya, bus kami berangkat agak terlambat, jam 9:15 pagi. Oh iya, pemandu tur kami hari ini adalah Katsu, yang mana namanya kok mengingatkanku akan “chicken katsu” dan “beef katsu” ya? Haha 😳 .

Destinasi pertama kami adalah Pusat Pengunjung Gunung Fuji yang mana lokasinya sekitar dua jam perjalanan dari Tokyo. Di sepanjang perjalanan, Katsu memberikan sebuah kuliah tentang Jepang, seperti ukurannya, jumlah penduduk, musim, dsb; kuliah tentang bahasa Jepang, seperti misalnya alasan terdapatnya aksara hiragana, katakana, dan kanji; dan juga kuliah tentang sejarah geologisnya Gunung Fuji. Aku mungkin adalah satu dari tidak banyak orang di bus yang memperhatikan kuliahnya, haha 😆 . Eh, tetapi kuliahnya adalah kuliah yang bagus lho!

Katsu giving a lecture on the Japanese geography
Katsu memberikan kuliah tentang geografi Jepang

Jam 11 pagi, kami tiba di Pusat Pengunjung Gunung Fuji yang mana ternyata satu-satunya tujuan kami berhenti disini adalah istirahat untuk mampir di toiletnya, haha 😆 . Kami memiliki waktu 20 menit dan untungnya aku laki-laki dimana tidak ada antrian di toilet laki-laki, haha. Jadilah aku memiliki beberapa menit untuk foto-foto Gunung Fuji yang keren banget itu dari sana; yang mana ternyata adalah berkat juga karena ini adalah kali terakhir hari ini aku bisa mendapatkan pemandangan yang bagus tentang gunungnya.

Fujiyama
Gunung Fuji seperti yang terlihat dari Pusat Pengunjung

Cuaca hari ini bukanlah yang terbaik. Dan dengan bukan yang terbaik maksudku adalah hari ini bersalju lumayan banyak loh di Gunung Fuji. Bersalju dalam artian ketika kami berada disana, saljunya itu sedang turun! WOW!! Sudah lama juga kan ya semenjak terakhir kali aku mengalaminya! Dua musim dingin terakhir di Belanda habisnya jinak sih jadi sebenarnya asyik juga malah merasakan turunnya salju di Jepang! Haha. Tetapi karena cuaca yang seperti ini, jalan ke Stasiun Kelima Gunung Fuji ditutup sehingga kami hanya bisa mencapai Stasiun Keempat saja.

Berikut ini sebuah video vlogging singkat dari Stasiun Keempat Gunung Fuji (dalam bahasa Inggris):

Dari Stasiun keempat, kami turun untuk makan siang di sebuah restoran yang sudah ditentukan di area Kawaguchi. Makan siangnya, sayangnya, nggak enak banget. Pada dasarnya hanyalah semangkok sup dengan mie. Sebenarnya ada dua pilihan untuk menu vegetarian dan non-vegetarian tetapi menurutku kedua pilihan ini pada kenyataannya hampir sama.

I would be lying if I said I enjoyed this meal
Aku bohong kalau bilang aku menikmati makanan ini

Dari sana, kami pergi ke Hakone dimana kami dibawa ke Hakone Ropeway. Awalnya, rencananya adalah pergi ke Hakone Komagatake Ropeway. Tetapi akibat cuaca yang kurang baik, Komagatake Ropeway-nya ditutup hari ini. Oleh karenanya rencananya diubah dan kami dibawa ke kereta gantung yang satunya deh. Itu pun kami hanya memiliki waktu 3 menit saja dong di puncaknya Hakone Ropeway itu di Owakudani dimana aku untungnya masih sempat menjepret beberapa foto sebelum harus langsung turun.

Really bad weather at the Hakone Ropeway
Cuaca yang amat buruk di Hakone Ropeway 😦
Owakudani at the top of the Hakone Ropeway
Owakudani di puncaknya Hakone Ropeway

Darisana kami dibawa ke Danau Ashi dimana kami akan menaiki sebuah kapalnya. Awalnya aku kira kapalnya bakal berbentuk kayak gini:

A pirate-themed ship
Kapal dengan tema bajak laut

tetapi ternyata kapalnya adalah kapal catamaran “biasa”:

A catamaran
Sebuah catamaran

haha 😆 .

Setelah perjalanan dengan kapalnya selesai, kami dibawa dengan bus ke Odawara dimana dari sana kami akan menaiki kereta Shinkansen untuk kembali ke Tokyo. Karena kesialan kami masih belum cukup, lalu lintas dari Danau Ashi ke Odawara juga buruk banget hari ini dimana kami terjebak macet panjang. Waktu tempuh yang seharusnya 40 menit saja ke Odawara molor menjadi 1,5 jam! 😦 .

Shinkansen Kodama 

Singkat cerita, tibalah kami di Stasiun Odawara dan kami menaiki kereta Shinkansen Kodama untuk kembali ke Tokyo. Kami mendapatkan tiket tanpa kursi sehingga kami menaiki gerbong unreserved dimana kami bisa duduk di kursi kosong yang mana pun. Untungnya aku menemukan satu kursi jendela yang kosong dan duduklah aku disana, haha 😆 .

#ShinkansenSelfie
#ShinkansenSelfie

Perjalanan dengan Shinkansen rasanya biasa saja untukku ternyata, kalau tidak mau dibilang agak di bawah ekspektasi. Maksudku, memang sih ini kereta super cepat yang amat keren tetapi ini bukanlah kali pertama aku menaiki kereta super cepat. Aku sudah pernah mencoba Thalys beberapa kali, Eurostar, TGV, dan Eurostar Italia sebelumnya dan harus aku bilang pengalaman dengan Shinkansen ini tidak banyak bedanya dengan pengalaman naik kereta super cepatnya Eropa. Biasa saja gitu (tetapi memang sangat amat tepat waktu sih). Bahkan menurutku kursi di kereta super cepatnya Eropa lebih lebar daripada yang di Shinkansen loh, walaupun sepertinya seat pitch-nya kursi di Shinkansen memang lebih lapang sih.

Asakusa dan Taman Ueno

Asakusa

A giant lantern in the Sensoji Shrine in Asakusa
Lentera raksasas di Kuil Sensoji di Asakusa

Di Tokyo, kami menginap di Asakusa. Jadi jelas tujuan pertama kami di Tokyo adalah Kuil Sensoji yang terkenal itu di Asakusa. Hari itu adalah hari Jumat jadi kuilnya penuh orang! Dan memang indah banget! Mumpung disana, kami juga memasuki taman di sampingnya yang hanya dibuka di musim semi saja. Di Asakusa, kami juga mampir di Taman Kunitsu Sumida di sampingnya Sungai Sumida.

Taman Ueno

Alasan mengapa waktu terbaik untuk mengunjungi Jepang adalah di musim semi adalah bunga sakura yang mekar kembangnya memuncak, biasanya, di awal April dan masyarakat setempat merayakannya dengan nama Hanami. Jadi kami tahu jelas kami harus menikmatinya dong ya karena kami berada di Jepang tepat di musim ini! Haha 😆

Jadilah di hari dimana kami tahu cuacanya akan bagus, kami memutuskan untuk mengunjungi Taman Ueno; taman di jantung kota Tokyo yang banyak dibilang orang sebagai tempat terbaik di Tokyo untuk menikmati bunga sakuranya.

Dan ternyata tamannya itu memang KEREN BANGET!! Aku rasa tidak ada kata-kata yang mampu mendeskripsikan keindahannya musim bunga sakura di Jepang deh, terutama Taman Ueno! Benar-benar menakjubkan!!

Makanannya

Satu restoran lagi yang amat enak yang kami kunjungi di Tokyo adalah Ramen Mutekiya. Untuk ini, aku harus berterima-kasih kepada Jendluvu yang mem-posting cerita kunjunganya kesana yang menginspirasiku untuk mengunjunginya juga, haha 😆 .

Restoran ramennya berlokasi di Ikebukuro dan tidak jauh dari stasiun JR Ikebukuro. Tidak sulit kok untuk menemukan restorannya; dan mungkin untuk memberikan petunjuk tempatnya dengan lebih detail daripada yang dituliskan Jen di posting-nya: lokasinya di seberangnya gedung Junkudo dan tepat berada di pojok perempatan utama dengan lampu merah.

Mutekiya Ramen was just accross this building
Ramen Mutekiya berada di seberang gedung ini

Kami tahu restoran ini amat terkenal sehingga kami memutuskan untuk datang awal saja jam 4:30 sore, berharap tidak ada antrian gitu. Tetapi ketika kami tiba jam 4:30 sore, antriannya sudah kayak gini dong:

The queue for Mutekiya Ramen at 4:30 PM
Antriannya Ramen Mutekiya jam 4:30 sore

Sial! Haha 😆 .

Yang langsung kusuka dari restoran ini adalah tingkat efisiensinya. Waktu mengantri kami lumayan produktif karena sembari menunggu kami diminta untuk sekalian memesan makanannya. Jadilah ketika sudah di dalam kami tinggal duduk dan tidak lama kemudian pesanan kami langsung disajikan! Idenya bagus ya!

We ordered while queuing
Kami memesan makanannya sembari mengantri

Dan bagaimanakah ramennya? Well:

RAMENNYA. ENAK. BANGET.

Dari skala 0 sampai 10, aku beri nilai 11 deh! Beneran! Karena memang ramennya itu ENAAK BANGETT!! Semua elemen dari ramennya sungguh sempurna. Mienya. Kuahnya. Sayurannya. Potongan daging babinya. Semuanya! Kami memesan tiga jenis ramen, dan semuanya enak. Serius!

Three extremely delicious ramen at Mutekiya
Tiga ramen yang terlampau enak di Mutekiya

Jadi kalau akan berkunjung ke Tokyo (dan bisa makan makanan non-halal), ramen ini WAJIB untuk dikunjungi! Kalau aku kembali lagi ke Tokyo nanti kapan-kapan, aku yakin aku pasti akan mampir lagi!

BERSAMBUNG…

Selanjutnya dalam 2015 Spring Trip:
– Hakodate
– Sapporo
– Otaru
– Kyoto
– Osaka

General Life · Zilko's Life

#1512 – Snow, Racket Restringing, and The Imitation Game

ENGLISH

Snow

After not seeing each other for almost two years now (lol, 😆 ), finally last week and this week I got the chance to see snow in the Netherlands! Yay! Haha 😆 . Okay it did not really snow that much, (I already call something like this ‘much’ btw; let alone like this 😆 ), but still, finally! Haha 😆 .

Hello there (snow), long time no see!!
Hello there (snow), long time no see!!

Okay, actually it was not the first time this winter it was snowing in Delft. It was also snowing here in late December, apparently; but at that time I was in Tamil Nadu for my year end trip to India so I did not experience it, haha. But obviously at that time I prefered to be in India than staying in Delft for the Christmas and new year’s holiday season, haha 😆 . So no regret.

Racket Restringing

Okay, so, since I bought it more than three years ago, I have never done anything to the string of my racket. And last week when I was playing with a friend, I started to feel a little bit strange with it and my friend actually suggested why I did not have it restrung. Well, fair point, I thought. So, finally, after more than three years, I finally have my tennis racket restrung! Haha 😆 .

The Imitation Game

Last Sunday, I decided to watch the Imitation Game in the cinema. The Imitation Game was a movie based on the true story of Alan Turing, a mathematician who is regarded as the father of modern computer. At the time where everything was done manually, he got this idea of a machine which could be reprogrammable. Such a brilliant idea because my PhD research now is only possible because of the existence of this kind of machine (my computer), due to the complexity of the calculation I am trying to “solve” 😛 .

Overall, it was such a very good movie. I score it 8 out of 10. Recommended! Btw, one line in the movie by the 27 years old Alan Turing pretty much slapped me in the face though:

Well, Newton discovered binomial theorem aged 22. Einstein wrote four papers that changed the world[1] by the age of 26. As far as I can tell, I’ve barely made par.

Daaaamn!!

BAHASA INDONESIA

Salju

Setelah tidak bertemu selama nyaris dua tahun sekarang (huahaha 😆 ), akhirnya minggu lalu dan minggu ini aku berkesempatan untuk melihat salju lagi di Belanda! Hore! Haha 😆 . Oke, memang saljunya nggak banyak sih, (yang kayak gini ini sudah aku anggap ‘banyak’ btw; apalagi yang kayak begini ya 😆 ), tetapi tetap aja lah ya, akhirnya! Haha 😆 .

Hello there (snow), long time no see!!
Halo salju, lama kita tak bersua!!

Oke, sebenarnya ini bukanlah kali pertama di musim dingin ini di Delft bersalju. Di akhir bulan Desember juga ternyata disini bersalju; tetapi waktu itu aku sedang di Tamil Nadu untuk perjalanan akhir tahunku ke India sehingga aku melewatkannya deh, haha. Tetap jelas tentu saja waktu itu aku lebih memilih untuk berada di India dong ya daripada di Delft aja untuk liburan Natal dan tahun baru, haha 😆 .

Bahkan hari Rabu kemarin hujan salju loh.

Racket Restringing

Oke, semenjak aku membelinya lebih dari tiga tahun lalu, senar raket tenisku belum pernah aku apa-apakan loh. Dan minggu lalu ketika aku bermain tenis dengan seorang teman, aku merasa agak aneh dengannya dan temanku menyarankan untuk me-restring (Apa sih bahasa Indonesianya? Pokoknya maksudnya senarnya diganti dan tegangannya di-setting lagi gitu) raketku aja. Benar juga ya, pikirku. Jadilah setelah tiga tahun lebih, akhirnya raketku memiliki senar baru! Haha 😆

The Imitation Game

Hari Minggu lalu, aku memutuskan untuk menonton the Imitation Game di bioskop. The Imitation Game adalah sebuah film yang berdasarkan kisah nyatanya Alan Turing, seorang matematikawan yang dianggap sebagai bapaknya komputer modern. Di waktu dimana semuanya dikerjakan secara manual, ia memiliki ide untuk membuat sebuah mesin yang bisa diprogram ulang. Sebuah ide brilian karena riset PhD (S3)-ku sekarang ini bisa berjalan hanya karena keberadaan mesin yang seperti itu (komputerku), akibat saking kompleksnya perhitungan yang ingin aku “selesaikan” 😛 .

Secara keseluruhan, ini adalah film yang bagus banget. Aku beri skor 8 dari 10 deh. Sangat aku rekomendasikan! Btw, satu kalimatnya Alan Turing umur 27 tahun di filmnya benar-benar menamparku di muka dong:

Well, Newton memformulasikan teorema binomial ketika ia berumur 22 tahun. Einstein menulis empat buah paper yang mengubah dunia[1] ketika ia berumur 26 tahun. Jadi menurut saya, saya ini masih bukanlah apa-apa.

Daaaamn!! Sakitnya tuh disiniii *nunjuk otak*

Life in Holland · Zilko's Life

#1358 – No Snow This Winter

ENGLISH

Since it is March already and the weather today has been perfect (more on this, probably, in a later post), I guess I have to accept the fact the the streak is officially over. What streak? Well, the streak that I ALWAYS experienced snow in winter in the Netherlands, huahaha 😆 . Yes, I experienced snow in the 2010/2011 winter, 2011/2012 winter, and the 2012/2013 winter. A few posts about each of them are this, this, and this, respectively, for example.

But this 2013/2014 winter? Well, yes, I did not experience any snow!! Hahaha 😆 . Actually I heard that it was snowing in some parts of the Netherlands at some point in the winter though, but it was not my part. I did go on a trip abroad for the new year holiday, but I went to west England where it was also not snowing (but raining a lot), haha 😆 .

Actually I heard this kind of winter is the typical Dutch winter though, how the Dutch winter should be like; where it is not too cold nor too hot; and it rarely snows. Okay, so it means that I have experienced the actual Dutch winter, right? 😉

BAHASA INDONESIA

Karena sudah bulan Maret dan cuaca hari ini sempurna banget tadi (mungkin akan aku tulis di sebuah posting yang akan datang deh), aku rasa aku harus menerima kenyataan bahwa sebuah rekor telah berakhir deh. Rekor apaan memang? Rekor dimana aku SELALU mengalami salju di setiap musim dingin di Belanda, huahaha 😆 . Iya, aku mengalami yang namanya cuaca bersalju di musim dingin tahun 2010/2011, lalu 2011/2012, dan juga 2012/2013. Beberapa posting mengenai masing-masing tentangnya bisa dibaca disini, disini, dan disini, berturutan, misalnya.

Nah, musim dingin 2013/2014 ini bagaimana? Yah, jadi ceritanya aku tidak mengalami yang namanya hari bersalju loh!! Hahaha 😆 . Sebenarnya sih katanya di beberapa bagian Belanda sempat bersalju sebentar, hanya saja bukan di bagian dimana aku tinggal. Dan aku juga sempat pergi ke luar negeri di musim dingin kali ini, tetapi aku perginya ke Inggris barat dimana disana juga nggak bersalju (tapi sering hujan), haha 😆 .

Sebenarnya sih cuaca seperti ini justru merupakan cuaca yang biasa dan seharusnya dari musim dingin di Belanda sih; dimana temperaturnya nggak terlalu dingin atau panas’; dan jarang bersalju. Oke deh, jadi sekarang bisa dibilang bahwa aku sudah pernah merasakan yang namanya musim dingin Belanda yang sebenarnya kan ya? 😉