#1869 – The Williamses at the Australian Open 2017

ENGLISH

It is not a secret that my two most favorite female tennis players, ever, are Venus Williams and Serena Williams. Currently, they are in their mid-30s and still play great tennis; especially Serena who is considered to be the greatest female tennis player of all time.

This January, the first grandslam tournament of the year was held, the Australian Open in Melbourne, Australia. Fortunately, both Venus and Serena were drawn into different halves, meaning they could only meet each other in the final (to be honest, nowadays I do feel like they are more often drawn in the same half of the draw than not, which is annoying to me, haha).

After six rounds, the tournament’s draw looked like this:

The women's singles draw of Australian Open 2017, after the semifinals

The women’s singles draw of Australian Open 2017, after the semifinals. Source: Wikipedia

Yes people, both Venus and Serena Williams made the final!! This Venus’ reaction after winning her semifinals match against the 25 year-old Coco Vandeweghe pretty much summed up my emotion as well:

Australian Open GIF - Find & Share on GIPHY

You might wonder why a player of Venus Williams’ calibre was that excited just by reaching a grandslam final. There is a reason why.

In 2011, Venus announced to the world that she was diagnosed with Sjögren’s syndrome, an auto-immune disease which zapped energy and caused pains. This was definitely not ideal for someone whose profession was a professional athlete. Consequently, she struggled with her tennis since then, losing matches to players she should have never lost and her ranking dropped. Many people wondered why she did not just retire, because to that point she had won so much anyway (be in tennis or financially (she already owned a few companies as well)). But she loved tennis. So much to the point that she was not going to let the incurable disease stop her.

Slowly she learned how to manage her disease while competing professionally. In the past two years or so, it started to pay off. She won more matches and bigger tournaments, ended 2015 ranked no.7, and spent much of 2016 in the top 10. But one thing was still missing: deep runs in the grandslams. She reached the semifinals of Wimbledon last year, but lost there to Angelique Kerber. Finally, her time came at this Australian Open, where she reached the final!!

Australian Open GIF - Find & Share on GIPHY

Better, in the final she played her sister, Serena Williams! Yes, the first all-Williams grandslam final since Wimbledon 2009, which happened to be Venus’ last singles grandslam final prior to this one as well!

I took it for granted in 2009, though, confident that another all-Williams grandslam final would, for sure, happen again. Oh, little did I know that I would have to wait seven and a half years before the next one! At one point, I already made a peace with myself that it might never come to reality, haha. However, this made me enjoy this moment even more!

It was difficult for me to pick a side for the final, really. As I wanted both to win, haha. Amazingly, though, both played for different historical tennis record. For Venus, obviously, to win her eighth grandslam at the age of 36 would be amazing. For Serena, a victory would earn her her 23rd grandslam singles title, thus surpassing Steffi Graf’s 22 and becoming the winningest tennis player, male or female, in the open-era!

So it was indeed a win-win situation to me, haha. The only thing I could do was to watch the match and enjoy this moment!! Not that I was complaining, of course! Watching the match felt quite weird, though, where I was genuinely happy with every single point, as all of them were won by the player I was supporting! Lol 😆

In the end, the result was as expected where Serena Williams ended up winning 6–4, 6–4. Thus surpassing Steffi Graf’s record and putting herself just one shy of Margaret Court’s all-time 24 grandslam singles title record. As a cherry on top, she also returned to world no.1 due to the victory, replacing Angelique Kerber from the top of the ranking.

Yup, overall, I am super happy with the result of this year’s women’s singles of the Australian Open!!

Serena Williams won her 7th Australian Open singles title and returned to world no.1. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac

Serena Williams won her 7th Australian Open singles title and returned to world no.1. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac

BAHASA INDONESIA

Bukan rahasia lagi bahwa dua petenis wanita favoritku, sepanjang masa, adalah Venus Williams dan Serena Williams. Sekarang ini, mereka berada di pertengahan umur 30an dan masih bermain tenis dengan ciamik; terutama Serena yang dianggap sebagai petenis wanita terhebat sepanjang masa.

Januari ini, turnamen grandslam pertama diadakan, Australian Open di Melbourne, Australia. Beruntung, Venus dan Serena berada di sisi undian yang berlawan, artinya mereka hanya bisa bertanding di babak final saja (sejujurnya, akhir-akhir ini kok aku merasa mereka lebih sering berada di sisi undian yang sama ya, yang mana menyebalkan bagiku, haha).

Setelah enam ronde, undian turnamennya nampak seperti ini:

The women's singles draw of Australian Open 2017, after the semifinals

Undian tunggal putri Australian Open 2017 setelah babak semifinal. Sumber: Wikipedia

Iyaaa, Venus dan Serena Williams masuk final doong!! Reaksinya Venus setelah memenangi pertandingan semifinalnya melawan Coco Vandeweghe yang berumur 25 tahun ini mewakili emosiku banget:

Australian Open GIF - Find & Share on GIPHY

Haha, mungkin ada yang heran mengapa kok pemain sekaliber Venus Williams se-excited itu padahal cuma baru masuk babak final saja (kan belum juara). Ada alasannya.

Di tahun 2011, Venus mengumumkan bahwa ia didiagnosa menderita sindrom Sjögren, sebuah penyakit kekebalan tubuh yang menghisap energi penderitanya dan menyebabkan nyeri tubuh luar biasa. Kondisi begini jelas tidak ideal bagi seseorang yang profesinya adalah atlet profesional. Sebagai akibatnya, prestasi tenis Venus menurun, kalah dari pemain-pemain yang seharusnya tidak akan pernah menang melawannya, dan peringkatnya otomatis juga jatuh. Banyak yang heran mengapa ia tidak pensiun saja, toh sampai waktu itu dia sudah banyak menang juga kan (baik di tenis maupun secara finansial (ia sudah memiliki beberapa perusahaan sendiri)). Tetapi ia cinta tenis. Cinta sekali sampai-sampai ia tidak akan membiarkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini menghentikannya.

Perlahan-lahan ia belajar bagaimana mengelola penyakitnya sambil bertanding secara profesional. Dua tahun belakangan, usahanya mulai membuahkan hasil. Ia mulai lebih banyak memenangi pertandingan dan turnamen-turnamen cukup besar, mengakhiri tahun 2015 dengan peringkat 7, dan berada di peringkat 10 besar di hampir sepanjang tahun 2016. Tetapi ada satu hal yang masih hilang: prestasi yang baik di turnamen grandslam. Ia masuk babak semifinalnya Wimbledon tahun lalu, tetapi kalah dari Angelique Kerber. Akhirnya, waktunya tiba juga di Australian Open ini, dimana ia masuk final!!

Australian Open GIF - Find & Share on GIPHY

Lebih seru lagi, di final ia bertanding melawan adiknya, Serena Williams! Iyaaa, final grandslam all-Williams pertama semenjak Wimbledon 2009, yang mana kebetulan juga kali terakhir Venus masuk babak final tunggal putri grandslam sebelum ini!!

Di tahun 2009 aku meremehkan situasi, dimana aku percaya banget final grandslam all-Williams selanjutnya pasti akan terjadi lagi. Oh, nggak tahu bahwa aku harus menunggu tujuh setengah tahun sampai yang selanjutnya! Di satu waktu, aku sudah rela untuk menerima kemungkinan bahwa mungkin itu tidak akan menjadi kenyataan, haha. Ah, tapi ini justru membuatku untuk lebih menikmati waktu ini sih!

Sulit bagiku untuk memihak di babak final ini, beneran. Aku ingin keduanya menang aja deh, haha. Kerennya, keduanya bermain untuk menorehkan rekor bersejarah di tenis. Untuk Venus, memenangi gelar grandslam kedelapannya di usia 36 tahun tentu keren banget. Untuk Serena, kemenangan akan memberikannya gelar tunggal grandslam ke-23, artinya melewati rekor 22nya Steffi Graf dan menjadi petenis, putra atau pun putri, yang paling banyak menang di sepanjang sejarah Era Terbuka tenis!

Haha, jadi memang situasinya win-win sih untukku. Yang bisa aku lakukan adalah menonton pertandingannya dan menikmati waktu dan kesempatan ini!! Tentu saja aku tidak komplain! Menonton pertandingan ini rasanya aneh sih, dimana aku merasa senang di setiap poin, karena semuanya dimenangi oleh pemain yang aku dukung! Haha 😆

Namun, pada akhirnya hasilnya sih sesuai dengan perkiraan banyak orang dimana Serena Williams menang 6–4, 6–4. Artinya ia telah memecahkan rekornya Steffi Graf dan sekarang kurang satu saja untuk menyamai rekor all-time-nya Margaret Court sebanyak 24 gelar tunggal grandslam. Sebagai bonus, ia juga kembali ke posisi peringkat 1 dunia akibat kemenangan ini, melengserkan Angelique Kerber dari puncak ranking.

Yup, secara keseluruhan, aku sungguh merasa senang banget dengan hasil tunggal putri Australian Open tahun ini!!

#1829 – A Saturday Story

ENGLISH

A Meetup (Kopdar)

Early last week, Kutubuku messaged me on Instagram that she would be in Amsterdam for a weekend and invited me for a meetup at a bar on Saturday evening. My Saturday evening agenda was still free so of course I said yes. You see, not only the Indonesia-based bloggers who could organize a kopdar, the Europe-based could too! 😛

Fast forward to Saturday. I arrived a little bit early at Beer Temple, where we were set to meet, and the bar was full at the time. But luckily when we all met, a group (of tourists from England, I knew because I talked with one of the guys, lol 😆 ) just left so we could take their now vacant seats. She visited Amsterdam with ScandiGuy and a Danish friend.

In short, it was a fun evening. We tried many different beers and they showed me a beer app (which apparently was happening now which I was unaware of, lol 😆 ) they were using to collect badges. We ended up at the bar for a good 3.5 hours where we talked and talked about so many different things. I had to leave at 11:30 PM because there was a less frequent train service between Amsterdam and Delft today due to a maintenance. After we parted, though, I just realized that we forgot to take a picture together, lol 😆 . Well, I blame the beers for this, hahaha…

Andy Murray

Andy Murray won in two sets: 6–3, 6–3

Andy Murray in Rotterdam in 2014

Speaking of Saturday, a good tennis news (to me) was made. By advancing to the Paris Masters final, it was guaranteed that Andy Murray would be the new world no.1 when the ranking was updated this Monday, replacing Novak Djokovic at the top of the list.

To be honest, a few months ago looking at how Djokovic dominated tennis for the first half a year, I thought it would be pretty much impossible for someone else to dethrone him from the top this season. However, a combination of Djokovic’s dip in form after the French Open (where he completed the Nole Slam which I witnessed, btw) and Murray’s strong second half of the season (despite losing in the quarterfinals of the US Open) made this achievent a reality!

Wow!! So obviously I am super happy! In my opinion, Andy Murray is a great player in a golden tennis era; but this means the competition was super tough as well where he had to face Roger Federer, Rafael Nadal, and Novak Djokovic all in their prime years too. So to finally reach this pinnacle of the sport was definitely something he deserved. Especially for his perserverence, where he had to “wait” for more than seven years since the first time he hit number 2 (in August 2009) until he hit number 1 (in November 2016).

In a way, I could see this as a replacement for my disappointment when Serena Williams was dethroned from world no.1 in September, where Angelique Kerber took over the spot. I understood why it happened, though, as Serena was hampered by many physical problems this year and decided to focus only on the grandslams, something reasonable, and actually smart, given her age, of course. But still, as a fans I think it was normal to feel a little bit of disappointment from that, haha 😆 .

Anyway, congratulations, Andy!! 💪☝️

Andy Murray, world no. 1. Source: ATP World Tour

 

BAHASA INDONESIA

Kopdar

Awal minggu lalu, Kutubuku DM aku di Instagram bahwa ia akan berada di Amsterdam di akhir pekan dan mengajak untuk kopdaran di sebuah bar Sabtu malam. Karena agenda Sabtu malamku masih lowong, tentu saja aku setuju. Nah kan, yang namanya kopdaran itu nggak cuma mungkin untuk blogger-blogger yang berbasis di Indonesia loh, yang berbasis di Eropa juga bisa! 😛

Fast forward ke hari Sabtu. Aku tiba di Beer Temple, tempat dimana kami janjian, agak terlalu awal dan waktu itu barnya sedang penuh. Untungnya, ketika kami bertemu, ada satu grup (turis dari Inggris, aku tahu karena aku ngobrol sedikit dengan salah satu orangnya, haha 😆 ) baru saja keluar sehingga kita bisa duduk di kursi mereka yang sekarang kosong. Ia mengunjungi Amsterdam bersama ScandiGuy dan seorang teman dari Denmark.

Singkat cerita, ini adalah malam yang menyenangkan. Kami mencoba banyak bir dan mereka menunjukkanku sebuah app bir (yang mana ternyata lagi happening sekarang tapi aku nggak tahu dong, haha 😆 ) yang digunakan untuk mengoleksi badges. Akhirnya kami duduk-duduk di barnya selama 3,5an jam dimana kami ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai macam topik. Aku harus pergi jam 11:30 malam karena malam ini frekuensi kereta antara Amsterdam dan Delft lebih jarang daripada biasanya karena ada pekerjaan maintenance. Setelah kami berpisah, aku baru sadar dong kalau kita lupa foto-foto, haha 😆 . Ah, gara-gara birnya ini pasti, hahaha…

Andy Murray

Andy Murray won in two sets: 6–3, 6–3

Andy Murray di Rotterdam di tahun 2014

Ngomongin hari Sabtu, satu berita tenis yang baik (untukku) muncul. Dengan lolos ke babak final turnamen Paris Masters, telah tergaransi bahwa Andy Murray akan menjadi pemain peringkat 1 dunia ketika peringkatnya di-update hari Senin ini, menggantikan Novak Djokovic di posisi puncak ini.

Sejujurnya, beberapa bulan yang lalu dengan melihat dominasinya Djokovic di setegah tahun pertama, aku rasa nyaris mustahil bagi seseorang lain untuk menggusurnya dari posisi teratas musim ini. Namun, kombinasi dari turunnya performanya Djokovic setelah French Open (dimana ia mencetak Nole Slam yang mana aku saksikan, btw) dan performa kuatnya Murray di paruh kedua musim ini (walaupun ia kalah di perempat-final US Open), pencapaian ini menjadi kenyataan!

Wow!! Jadi jelas dong aku senang sekali! Menurutku, Andy Murray adalah pemain yang bagus di era emas tenis; tetapi ini juga berarti kompetisinya sulit sekali baginya dimana ia juga harus berhadapan dengan Roger Federer, Rafael Nadal, dan Novak Djokovic yang semuanya sedang dalam tahun-tahun puncaknya juga. Jadi untuk akhirnya mencapai pencapaian ini adalah sesueatu yang sungguh layak ia dapatkan. Terutama karena kegigihannya, dimana ia harus rela “menunggu” lebih dari tujuh tahun semenjak ia pertama kali mencapai peringkat 2 (di bulan Agustus 2009) hingga mencapai peringkat 1 (di bulan November 2016).

Di satu sisi, aku bisa memandang ini sebagai pengganti kekecewaanku dari turunnya Serena Williams dari posisi peringkat 1 dunia, setelah digeser oleh Angelique Kerber. Aku memahami mengapa ini terjadi sih, karena Serena sedang menghadapi masalah dengan cedera fisik dan memutuskan untuk lebih fokus di turnamen grandslam saja, sesuatu yang masuk akal, dan sebenarnya cerdas sih dengan mempertimbangkan usianya. Tapi, tetap aja lah ya sebagai fans tentu aku juga merasakan sedikit kekecewaan, haha 😆 .

Anyway, selamat, Andy!! 💪☝️

Andy Murray, peringkat 1 dunia. Sumber: ATP World Tour

 

#1769 – A Weekend with Wimbledon

ENGLISH

The main theme of my weekend was definitely the final stage of this year’s Wimbledon, the third grandslam tournament of the year, haha 😆 .

This Wimbledon was great for my favorites. While it was not surprising at all that Serena Williams went deep in the tournament, I was very happy that Venus Williams also reached the semifinal stage! It was her first grandslam semifinal appearance since US Open 2010, and first in Wimbledon since Wimbledon 2009! So for this reason I had a mixed feeling after the semifinal stage: Serena advanced to the final while Venus was stopped by Angelique Kerber. Obviously I was sad that there would be no all-Williams final this year. On the other hand, I knew I would have felt a really huge and deep regret had both Williams reached the final because I would have not been able to go to London and watch the match live because I did not have a valid UK visa! Haha 😆 . I was thinking of applying for one a few months ago but I ended up not doing that. #Indonesianpassportholdersproblem

Back in Wimbledon this year!!

I wish I was in Wimbledon this year!! This was from last year

Anyway, here is the plot: Prior to Wimbledon, Serena had reached the finals of the two other grandslams this year. However, the results were untypical: she lost both. To Kerber in Australia and to Garbiñe Muguruza in France (a match which I actually witnessed with my own eyes 😦 ). So while she was still the favorite coming to this final, a bigger question mark had formed.

Serena and Kerber played a great ladies singles final where both players pretty much went toe to toe. Kerber, especially, was very impressive with her defensive skill where she was able to handle the barrage of Serena’s attack. This was one of the main reasons how she beat Serena in Australia, though. However, Serena was ready for it this time and was in a very solid mental state. Kerber showed glimpse of lapse of concentration in both sets, which cost her the match. Serena won 7–5, 6–3. Finally, she won her 22nd grandslam singles title and, thus, tying the open-era record set by Steffi Graf in 1999. This released huge amount of pressure from herself, and I love her reaction after the victory:

Yess!! 22 Baby!!

Meanwhile in the ladies doubles draw’, the Williams sisters, ranked 251st in the world (due to inactivity), also made the final. Later on that evening, they beat the fifth seed Timea Babos and Yaroslava Shvedova 6–3, 6–4 to win their sixth Wimbledon doubles title!!

So, yeah, all in all I am very happy with the outcome but I still feel just a little bit sad for not being able to witness that day myself 😛 . I mean, my last-minute visit to Wimbledon last year was amazing so I imagine that had I been able to come to London this year, it would probably have been even more amazing!! But well…

Serena and Venus Williams won the ladies doubles title in 2016. Their first grandslam doubles title since Wimbledon 2012! Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Serena and Venus Williams won the ladies doubles title in 2016. Their first grandslam doubles title since Wimbledon 2012! Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

In the men’s singles draw, Novak Djokovic surprisingly fell in the third round, suddenly making Andy Murray, my favorite male tennis player now, the big favorite to win the title. Funnily, though, Murray’s plot this year was very similar with Serena’s. Murray reached the final in Australia and France where he lost both to Djokovic (in Paris, I also witnessed this match myself 😦 ).

Murray reached the final where he faced Milos Raonic on Sunday. It was Murray’s 11 grandslam finals and for the first time ever, he did not have to face either Djokovic or Roger Federer. In the end, Murray won in straight sets to win his second Wimbledon and third grandslam title overall!!

Yeah, this weekend was a good weekend for my favorite!! 😀 Collectively, this result is the best one (to me) since the US Open 2012! haha 😛 .

Serena Williams won Wimbledon 2016. Photo credit: Adam Pretty/Getty Images Europe

Serena Williams won Wimbledon 2016. Photo credit: Adam Pretty/Getty Images Europe

Andy Murray won Wimbledon 2016. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

Andy Murray won Wimbledon 2016. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Tema utama akhir pekanku kemarin jelas adalah babak finalnya Wimbledon, turnamen grandslam ketiga tahun ini, haha 😆 .

Wimbledon kali ini baik bagi petenis favoritku. Ketika jelas tidak mengagetkan bahwa Serena Williams masuk babak akhir dari turnamen ini, aku senang banget Venus Williams masuk ke babak semifinal! Ini adalah semifinal grandslam pertamanya semenjak US Open 2010, dan pertama di Wimbledon semenjak Wimbledon 2009! Oleh karena alasan itu lah perasaanku campur aduk dengan hasil babak semifinalnya: Serena maju ke final sementara Venus kalah di semifinal dari Angelique Kerber. Jelas aku sedih lah ya final all-Williams tidak terjadi tahun ini. Di sisi lain, aku tahu aku sungguh akan merasa sangat amat menyesal andaikata kedua Williams masuk ke final karena aku tidak akan bisa pergi ke London untuk menonton finalnya langsung karena aku nggak punya visa UK yang masih berlaku! Haha 😆 . Beberapa bulan lalu aku sempat kepikiran untuk mengajukan visa UK lagi tetapi nggak aku lakukan. #Masalahpemegangpasporijo

Back in Wimbledon this year!!

Ugh, andaikata aku pergi ke Wimbledon tahun ini!! Foto ini dari tahun lalu

Anyway, berikut ini jalan ceritanya: Sebelum Wimbledon ini, Serena mencapai babak final di dua turnamen grandslam sebelumnya. Masalahnya, hasilnya nggak biasa banget: ia kalah di keduanya. Kalah dari Kerber di Australia dan dari Garbiñe Muguruza di Prancis (sebuah pertandingan yang kusaksikan langsung dengan mata kepala sendiri 😦 ). Jadi walaupun ia masih lah favorit untuk menang di final ini, ada sebuah tanda tanya besar yang menggantung.

Serena dan Kerber bermain final tunggal putri yang sangat seru dimana kedua pemain bermain seimbang. Kerber, terutama, impresif banget dengan kemampuan defensifnya dimana ia bisa melayani hujan serangannya Serena. Ini adalah satu alasan mengapa ia bisa menang dari Serena di Australia. Namun, kali ini Serena sudah siap untuk itu dan berada pada kondisi fokus mental yang tepat. Konsentrasi Kerber hilang sebentar di kedua set, dan ini menyebabkan kekalahannya. Serena menang 7–5, 6–3. Akhirnya, gelar grandslam ke-22 ia dapatkan juga dan, dengan ini, ia menyamai rekor era terbuka yang ditorehkan Steffi Graf di tahun 1999. Ini melepaskan banyak sekali tekanan dari dirinya, dan aku sukaaa banget reaksinya setelah kemenangannya:

Iyaaaa!! 22 Baby!!

Sementara itu, di sisi ganda putri, Williams bersaudari yang berperingkat 251 sedunia (karena sudah lama nggak main ganda) juga masuk di babak final. Di malam harinya, mereka mengalahkan Timea Babos dan Yaroslava Shvedova 6–3, 6–4 untuk memenangi gelar ganda Wimbledon keenam mereka!!

Jadi, ya, secara keseluruhan jelas aku senang sekali dengan hasil ini walaupun agak sedih juga sih nggak bisa menontonnya secara langsung 😛 . Maksudku, perjalanan dadakanku ke Wimbledon tahun lalu kan seru banget ya sehingga aku bayangkan andaikata tahun ini aku juga bisa ke London, pasti bakal lebih seru lagi deh dengan hasil yang seperti ini!! Ah, sudahlah…

Serena and Venus Williams won the ladies doubles title in 2016. Their first grandslam doubles title since Wimbledon 2012! Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Serena dan Venus Williams menjuarai gelar ganda putri Wimbledon 2016. Gelar grandslam ganda pertama mereka semenjak Wimbledon 2012!  Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Di sisi tunggal putra, secara mengejutkan Novak Djokovic kalah di babak ketiga sehingga Andy Murray, petenis putra favoritku sekarang, adalah favorit untuk juara. Lucunya, jalan cerita Murray tahun ini mirip dengan jalan cerita Serena. Murray mencapai babak final di Australia dan Prancis dimana di keduanya ia kalah dari Djokovic (di Paris, pertandingan ini juga kusaksikan dengan mata kepala sendiri 😦 ).

Murray mencapai babak final dimana ia menghadapi Milos Raonic di hari Minggu. Ini adalah final grandslamnya Murray yang kesebelas dimana untuk pertama kalinya, ia tidak harus menghadapi Djokovic atau Roger Federer. Pada akhirnya, Murray menang straight sets untuk memenangi gelar Wimbledon kedua dan grandslam ketiganya!!

Iyaa, akhir pekan ini adalah akhir pekan yang baik untuk favoritku!! 😀 Secara keseluruhan, hasil ini adalah hasil terbaik (untukku) semenjak US Open 2012! haha 😛 .

#1757 – My 2016 Roland Garros Trip (Part I: Roland Garros (Saturday))

ENGLISH

Posts in the My 2016 Roland Garros Trip series:

1. Introduction
2. Part I: Roland Garros (Saturday)
3. Part II: Paris
4. Part III: Roland Garros (Sunday)

***

Today, I got a Ring 1 ticket in Court Philippe Chatrier so the view from my seat was very good because the seat was quite close to the court. And so naturally today I was feeling very excited because these were the scheduled matches in Philippe Chatrier:

  1. Women’s Singles Final: [1] Serena Williams (USA) vs [4] Garbiñe Muguruza (ESP)
  2. Men’s Doubles Final: [15]Feliciano López/Marc López (ESP/ESP) vs [5] Mike Bryan/Bob Bryan (USA/USA)

And you all know that Serena Williams and Bob/Mike Bryan are amongst my favorite players! It was awesome!!

Anyway so I left my hotel at a few minutes passed 8 AM. After buying a few French pastries for breakfast, I took the metro to get to Stade Roland Garros.

Back at Roland Garros!

Back at Roland Garros!

I noticed a significant improvement has been done in this year’s edition of the tournament (compared to previous years):

  1. There are more security checks to enter Stade Roland Garros. Well, considering those infamous events which have happened multiple time in Europe within the last one year or so, this is hardly surprising and I am extremely glad they did so. This certainly made me feel much safer during my visit.
  2. Free wifi was now provided in certain areas in Stade Roland Garros!! Yeay!! 😛

As usual, the gate was opened just a few minutes before 10 AM. The weather was not the best this morning where it was very cloudy and a few drops of rain fell here and there but at least it was not raining (it was not even drizzling). I immediately went to Court Suzanne Lenglen and I bought myself a hotdog package for breakfast (the few French pastries were certainly not enough for the longer run 😛 ).

The main event at Court Philippe Chatrier would start just at 3 PM. And so to start the day I decided to watch two matches (well, one and half actually) in Court Suzanne Lenglen which started at 11 AM. They are:

1. Women’s Legends Doubles Final: Lindsay Davenport/Martina Navratilova (USA/USA) vs Conchita Martinez/Nathalie Tauziat (ESP/FRA)

It was nice to see these retired players played some tennis. Obviously they were not as fast nor athletic nor powerful as they used to be but even so, I felt like none of the four women were at their potential best during the day. In the end, Davenport/Navratilova won the match rather easily, 6–3, 6–2.

Martina Navratilova and Lindsay Davenport won the women's legends event

Martina Navratilova and Lindsay Davenport won the women’s legends event

2. Men’s Legends Over 45 Doubles Round Robin: Yannick Noah/Cedric Pioline (FRA/FRA) vs Mansour Bahrami/Richard Krajicek (FRA/NED)

This experience was my first time watching a men’s legends match. And here, I have to say that these men knew how to put up a very entertaining show in the form of a tennis match. The match was just a legends’ event so it was like “just” an exhibition match and there was no need to be extremely serious. And this was even more true especially when Mansour Bahrami was playing.

Mansour Bahrami

Mansour Bahrami

You see, nowadays Mansour Bahrami has the reputation as “fun” and “funky” in an exhibition match. And now I could see, with my own eyes, why. He was very funny on the court! Moreover, the other three players also played along so it became such an entertaining exhibition tennis “match” display.

For instance, at 5-all in the tiebreak of the first set, Yannick Noah hit a really good pass which neither Krajicek or Bahrami could chase. So while failingly trying to chase the ball, Bahrami threw a ball he kept in his pocket back to his opponents’ side. Obviously by this rule this was illegal and Bahrami/Krajicek lost the point. But the umpire played along with this stint and awarded the point to Bahrami/Krajicek. Obviously Noah and Pioline “protested” and so this happened:

So this happened

A protest

Haha 😆 .

Yeah, it was very funny!!

***

I decided to leave Court Suzanne Lenglen after the first set because I was hungry for lunch. So I went to the gourmet restaurant and ordered my favorite dish at Roland Garros: steak with Mediterranean ratatouille.

After lunch, I went to Court Philippe Chatrier and settled in my seat. I was quite early there and at that time, Novak Djokovic was still practicing for his tomorrow’s men’s singles final against Andy Murray. A few minutes later, he left the court.

At Court Philippe Chatrier

At Court Philippe Chatrier. I carefully chose this outfit of mine. Can you guess why so?

The main event today started with a ceremony of the induction of Amelie Mauresmo to the International Tennis Hall of Fame. After that, the main showdown of today, the women’s singles final, started.

3. Women’s Singles Final: [1] Serena Williams (USA) vs [4] Garbiñe Muguruza (ESP)

This women’s singles final was a rematch of last year’s Wimbledon final, which I also watched live 😛 . Anyway, I was very excited when Serena Williams entered the court:

And I noticed that my hand was shaking when I was taking that short video. I don’t know if it was because I was being nervous or just due to my excitement, haha 😆 .

You all know that Serena Williams is one of my most favorite tennis players, ever. But you might not know that actually I also like Garbiñe Muguruza. Moreover, I do think that she can be on the top of the women’s game some day (sidelining very bad injury of course), and that some day might actually come quite soon. However, in the battle between these two, obviously I would have to go with which of the two which I liked the more; and in this case it was Serena, haha 😆 .

Serena William serving

Serena Williams. Yes so I chose my outfit so that the color would match Serena’s dress #truefans

But as you might already know by now, Muguruza won 7–5, 6–4. Serena did not play at her best (her first serve percentage was quite low which allowed Muguruza too much look on her second serve) but it was obvious that she was fighting hard, including saving four championships points in the second set. However, it was not enough as Muguruza was in the zone today. Muguruza’s strategy today was clear to me: to go for her shots, playing high risk tennis. This was reasonable because if she did not do so, she would most definitely lose the match given her opposition in the final. And her strategy paid off where she basically “painted the lines” in many occassions during the match.

The reward for Muguruza? Well, her first grandslam singles title!!

Garbiñe Muguruza won her first grandslam title at Roland Garros 2016

Garbiñe Muguruza won her first grandslam title at Roland Garros 2016

Congratulations, Garbiñe!!

As for Serena, I do hope she wakes up just in time for Wimbledon and the upcoming US Open this year. Come on Serena, you can do it!!

4. Men’s Doubles Final: [15] Feliciano López/Marc López (ESP/ESP) vs [5] Mike Bryan/Bob Bryan (USA/USA)

Following the women’s singles final was the men’s doubles final between Feliciano López/Marc López and Mike Bryan/Bob Bryan.

The López got an early break in the first set which they managed to hold upon until the end of the set, thus winning it 6–4. The second set was much tighter that a tiebrak was forced to be played. The Bryans saved one championships point during the tiebreak and took claimed the set by winning the tiebreak (8–6).

Feliciano López and Marc López

Feliciano López and Marc López

After the second set, somehow I felt very tired. I think I was more affected by the disappointment of Serena’s loss than I thought I was, haha 😆 . And so I decided to leave the stadium. Well, I still had one day the next day so my justification was that I needed to have a good rest 😛 .

Anyway, it turned out that Feliciano López/Marc López won the third set 6–3 thus the Spaniards won their first grandslam title.

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri My 2016 Roland Garros Trip:

1. Introduction
2. Part I: Roland Garros (Saturday)
3. Part II: Paris
4. Part III: Roland Garros (Sunday)

***

Hari ini, aku memiliki sebuah tiket Ring 1nya Lapangan Philippe Chatrier sehingga pandangan dari kursiku oke banget karena lokasi kursinya yang cukup dekat dengan lapangan tenisnya. Dan jelas dong sebagai akibatnya hari ini aku amat bersemangat karena pertandingan-pertandingan yang dijadwalkan di Philippe Chatrier adalah sebagai berikut:

  1. Final Tunggal Putri: [1] Serena Williams (USA) vs [4] Garbiñe Muguruza (ESP)
  2. Final Ganda Putral: [15]Feliciano López/Marc López (ESP/ESP) vs [5] Mike Bryan/Bob Bryan (USA/USA)

Dan pasti sudah pada tahu deh Serena Williams dan Bob/Mike Bryan adalah salah sekian dari petenis favoritku! Seruu!!

Anyway jadilah aku berangkat dari hotelku jam 8 pagi lewat sedikit. Setelah membeli beberapa roti Prancis untuk sarapan, aku menaiki metro untuk pergi ke Stade Roland Garros.

Back at Roland Garros!

Kembali di Roland Garros!

Aku amati ada perubahan signifikan di edisi tahun ini dari turnamen ini (dibandingkan tahun-tahun sebelumnya):

  1. Ada beberapa pemeriksaan sekuriti ekstra untuk memasuki Stade Roland Garros. Yaa, mengingat apa yang terjadi di Eropa beberapa kali selama setahun belakangan ini, ini nggak mengherankan lah ya. Ini jelas membuatku merasa jauh lebih aman ketika di sana.
  2. Sekarang ada wifi gratisannya loh di beberapa area di Stade Roland Garros!! Horee!! *penting ini* 😛

Seperti biasa, gerbang masuk dibuka beberapa menit sebelum jam 10 pagi. Cuaca hari ini kurang begitu baik deh dimana langit berawan tebal dan beberapa butiran air terasa jatuh di sana-sini. Tetapi untungnya nggak sampai hujan sih (bahkan nggak gerimis juga). Aku langsung pergi ke area Lapangan Suzanne Lenglen dan membeli satu paket hotdog untuk sarapan (roti Prancisnya jelas cuma mengganjal perut aja kan ya 😛 ).

Pertandingan utama di Philippe Chatrier baru dijadwalkan jam 3 sore. Jadilah hari ini aku mulai dengan menonton dua pertandingan (satu setengah sih sebenarnya) di Suzanne Lenglen yang dimulai jam 11 pagi. Dua pertandingan ini adalah:

1. Final Legenda Putri: Lindsay Davenport/Martina Navratilova (USA/USA) vs Conchita Martinez/Nathalie Tauziat (ESP/FRA)

Seru deh rasanya melihat petenis yang sudah pensiun bermain tenis. Tentu mereka sudah tidak secepat, seatletis, atau sekuat dulu ya. Namun, walaupun begitu aku merasa keempat pemainnya tidak bermain yang terbaik deh hari ini. Pada akhirnya, Davenport/Navratilova menang dengan cukup mudah, 6–3, 6–2.

Martina Navratilova and Lindsay Davenport won the women's legends event

Martina Navratilova dan Lindsay Davenport memenangi gelar ganda legenda putri

2. Babak Round Robin Legenda Putra Di Atas 45 Tahun: Yannick Noah/Cedric Pioline (FRA/FRA) vs Mansour Bahrami/Richard Krajicek (FRA/NED)

Pengalaman ini adalah kali pertama aku menonton pertandingan legenda putra. Dan dengan ini, harus kubilang bahwa pemain-pemain ini tahu bagaimana mengadakan pertunjukan yang amat menghibur dalam rupa sebuah pertandingan tenis. Karena hanya turnamen legenda saja, di satu sisi pertandingan ini seperti pertandingan ekshibisi gitu sehingga tentu mereka tidak perlu serius-serius amat. Dan pernyataan ini benar sekali terutama ketika Mansour Bahrami berpartisipasi.

Mansour Bahrami

Mansour Bahrami

Mansour Bahrami sekarang terkenal sebagai pemain yang “seru” dan “lucu” di pertandingan ekshibisi. Dan sekarang bisa kusaksikan sendiri bahwa pernyataan ini benar adanya. Dia lucu bangett! Lebih jauh lagi, ketiga pemain lainnya juga ikutan tampil lucu sehingga sebuah pertunjukan ekshibisi tenis yang lucu dan menghibur terciptakan.

Misalnya, di posisi 5-sama di tiebreak set pertama, Yannick Noah memukul sebuah pukulan pass yang bagus sehingga Krajicek atau Bahrami tidak bisa mencapainya. Jadilah ketika berusaha mencoba mengejar bolanya (tentu ia gagal), Bahrami melemparkan sebuah bola tenis yang ia simpan di kantong celananya ke sisi lawan. Jelas dong menurut aturan ini ilegal dan Bahrami/Krajicek kehilangan poin ini. Tetapi wasit pertandingannya ikutan bermain dengan skemanya Bahrami ini adan memberikan poin untuk Bahrami/Krajicek. Nah, jelas dong Noah dan Pioline “protes” sehingga ini terjadi:

So this happened

Sebuah protes

Haha 😆 .

Iyaa, lucu banget memang!!

***

Aku meninggalkan Lapangan Suzanne Lenglen setelah set pertama karena aku merasa lapar. Jadilah aku pergi ke restoran gourmet untuk makan siang disana dan memesan menu favoritku di Roland Garros: steak dengan ratatouille ala Mediteranea.

Setelah makan siang, aku ke Philippe Chatrier untuk duduk di kursiku. Aku datang agak awal dan waktu itu, Novak Djokovic sedang berlatih untuk pertandingan finalnya keesokan harinya melawan Andy Murray. Beberapa menit setelah aku datang, ia meninggalkan lapangannya.

At Court Philippe Chatrier

Di Philippe Chatrier. Outfit ini aku pilih sedemikian rupa lho. Ada yang bisa menebak mengapa aku memilihnya?

Hari ini acara dimulai dengan upacara masuknya Amelie Mauresmo ke International Tennis Hall of Fame. Setelahnya, acara dimulai dengan event utama: final tunggal putri.

3. Final Tunggal Putri: [1] Serena Williams (USA) vs [4] Garbiñe Muguruza (ESP)

Final tunggal putri ini adalah ulangan final Wimbledon tahun lalu, yang mana juga aku tonton 😛 . Anyway, aku merasa bersemangat banget loh ketika Serena Williams memasuki lapangannya:

Dan kuperhatikan ternyata tanganku bergetar juga ketika video singkat di atas aku ambil. Entah karena aku grogi atau saking senangnya, haha 😆 .

Tentu sudah pada tahu bahwa Serena Williams adalah salah satu petenis favoritku sepanjang masa. Tetapi mungkin banyak yang belum tahu bahwa aku juga suka Garbiñe Muguruza. Lebih jauh lagi, aku kira ia bisa menjadi petenis nomor satu di sisi putri suatu hari (dengan mengesampingkan faktor cedera tentunya), dan suatu hari itu mungkin akan segera datang. Namun, di pertandingan antara dua petenis ini, jelas aku memihak yang lebih kufavoritkan dong ya, yang mana dalam hal ini adalah Serena, haha 😆 .

Serena William serving

Serena Williams. Iya, outfit-ku aku pilih supaya warnanya kembaran dengan dress-nya Serena #fanssejati

Tetapi seperti yang mungkin sudah pada tahu sekarang, Muguruza menang 7–5, 6–4. Serena tidak dalam performa terbaiknya (persentasi servis pertamanya terlalu rendah sehingga Muguruza mendapatkan banyak kesempatan di servis kedua) tetapi jelas bahwa ia berjuang segigih mungkin, termasuk ketika menyelamatkan empat championships points di set kedua. Namun, itu tidak cukup karena Muguruza sedang in the zone banget hari ini. Aku bisa membaca jelas strateginya Muguruza: untuk mengambil risiko tinggi. Ini strategi yang masuk akal sih karena kalau tidak, ia sudah hampir dipastikan kalah mengingat siapa lawannya. Dan strateginya berhasil dimana ia “menyapu garis” beberapa kali di momen-momen penting pertandingan ini.

Hadiahnya bagi Muguruza? Yah, gelar grandslam pertamanya!!

Garbiñe Muguruza won her first grandslam title at Roland Garros 2016

Garbiñe Muguruza memenangi gelar grandslam pertamanya di Roland Garros 2016

Selamat, Garbiñe!!

Untuk Serena, mudah-mudahan ia segera bangun deh sebelum Wimbledon dan US Open tahun ini. Ayo Serena, kamu bisa!!

4. Final Ganda Putra: [15] Feliciano López/Marc López (ESP/ESP) vs [5] Mike Bryan/Bob Bryan (USA/USA)

Mengikuti final tunggal putri adalah final ganda putra antara Feliciano López/Marc López dan Mike Bryan/Bob Bryan.

Pasangan López berhasil mematahkan servis lawan di awal pertandingan dan berhasil mempertahankannya sampai akhir set, dan menang 6–4. Set kedua berlangsung lebih ketat dimana tiebreak harus dimainkan. Si kembar Bryan menyelamatkan satu championships point di tiebreak ini dan berhasil mengamankannya dengan memenangi tiebreak-nya (8–6).

Feliciano López and Marc López

Feliciano López dan Marc López

Setelah set kedua, entah mengapa aku merasa amat lelah. Aku kira pengaruh dari kekecewaanku karena kalahnya Serena lebih kuat daripada yang kukira deh, haha 😆 . Dan jadilah setelahnya aku memutuskan untuk pulang. Yaa, aku kan masih memiliki satu hari lagi besoknya ya sehingga justifikasiku adalah aku perlu istirahat 😛 .

Anyway, ternyata Feliciano López/Marc López memenangi set ketiga 6–3 sehingga petenis Spanyol ini memenangi grandslam pertama mereka.

BERSAMBUNG…

#1752 – My 2016 Roland Garros Trip (Introduction)

ENGLISH

Posts in the My 2016 Roland Garros Trip series:

1. Introduction
2. Part I: Roland Garros (Saturday)
3. Part II: Paris
4. Part III: Roland Garros (Sunday)

***

As my Instagram followers (@azilko) would have known by now, this weekend was the weekend of my annual trip to Paris to watch the 2016 French Open (Roland Garros). Yes, I went to Paris this weekend! :mrgreen:

Paris, as usual, was amazing (but still busy and full of tourists here and there, lol 😆 ). The food, per usual, was generally great as well. Of course, as the capital of France, whose food is one of my most favorite cuisine in the world, this was basically a given, haha 😆 . Even though this time I did not have the bestest culinary experience in Paris in general though but this was because food was not in the top of my agenda of course 😛 .

The French Open was super fun per usual. Being a grandslam tournament, it was much “more” than any other “regular” tennis tournaments. The players and the fans care about this tournament more, thus making the atmosphere electric. To be honest, before going on this trip, I was a little bit worried about the tournament scheduling though after the heavy rain which hit Paris early in the second week of the tournament which messed up the whole schedule. But luckily they were able to catch up in the end, even though not without some controversies from the players’ point of view.

From the results point of view, to be honest I had mixed feeling. While I was certainly happy my favorite players made it to the final so I could watch them play those finals live in person, literally all of them lost the matches so I could not leave Stade Roland Garros with the most joyous feeling ever 😦 . But this is the reality of sport. You win some, you lose some. This is what makes it exciting and the competitive nature is what stimulates the players to keep improving and fighting. But as a fans I am hoping they will all do better in the next big tournament, Wimbledon, haha 😆 .

Nevertheless, I am still very very very lucky. Last year, I witnessed the realization of Serena Slam 2.0 when Serena Williams won Wimbledon 2015 (by doing so, she was holding the titles of all four grandslams simultaenously). This weekend, I witnessed the realization of Nole Slam in Paris. Novak Djokovic won Roland Garros 2016 which means that now he holds the titles of the four grandslams! This feat is much rarer in the men’s field where the last time this happened was in 1969 when Rod Laver won all four grandslam tournaments that year.

So all in all, it was such a fun trip and I am glad I was able to make it!! As per usual, here are some teasers from this trip! 😉

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri My 2016 Roland Garros Trip:

1. Introduction
2. Part I: Roland Garros (Saturday)
3. Part II: Paris
4. Part III: Roland Garros (Sunday)

***

Seperti yang followers Instagramku (@azilko) tentu sudah ketahui sekarang, akhir pekan ini adalah akhir pekan perjalanan tahunanku ke Paris untuk menonton turnamen French Open 2016 (Roland Garros). Iyaa, akhir pekan ini aku berada di Paris! :mrgreen:

Seperti biasa, Paris itu kece dah (tetapi ya masih sibuk dan penuh turis seperti biasanya sih, hahaha 😆 ). Makanannya, seperti biasa, secara umum jelas enak-enak, haha. Nggak mengherankan lah ya, namanya aja ibukotanya Prancis, yang mana makanannya adalah salah satu makanan favoritku di dunia, jadi ini jelas lah ya, haha 😆 . Walaupun makanan yang kumakan di perjalanan kali ini bukan yang paling enak banget yang pernah kumakan di Paris sih; tetapi ini dikarenakan makanan bukanlah prioritas utama di perjalananku kali ini, haha 😛 .

French Open-nya sendiri seru seperti biasanya. Sebagai turnamen grandslam, turnamen ini “lebih” daripada sekedar turnamen-turnamen “biasa” lainnya. Para petenis dan fans jelas memedulikan turnamen ini lebih daripada turnamen lain, sehingga akibatnya atmosfernya seru banget. Sejujurnya, sebelum berangkat, aku sedikit khawatir dengan penjadwalan turnamen ini akibat hujan deras yang mengguyur Paris di awal minggu kedua turnamen ini yang mengakibatkan kacaunya jadwal pertandingan. Tetapi untungnya pada akhirnya mereka berhasil mengejar ketertinggalan sih dari segi jadwal, walaupun tentu bukannya tanpa kontroversi juga dari sudut pandang petenisnya.

Dari sisi hasil pertandingan, sejujurnya aku merasa sedikit kecewa. Walaupun aku merasa senang petenis favoritku masuk final sehingga aku bisa menonton mereka langsung, semuanya kalah dong di final sehingga aku tidak bisa meninggalkan Stade Roland Garros dengan perasaan yang paling senang 😦 . Tetapi ya memang beginilah realita olahraga ya. Kadang menang kadang kalah. Ini yang membuatnya seru dan aura kompetisinya lah yang mendorong pemain untuk terus meningkatkan kemampuan dan terus bertarung. Tetapi sebagai fans aku sih berharap mereka akan mendapatkan hasil yang lebih baik di turnamen besar selanjutnya, Wimbledon, haha 😆 .

Toh walaupun begitu, aku sebenarnya masih sangat sangat sangat beruntung loh. Tahun lalu, aku menyaksikan terwujudnya Serena Slam 2.0 ketika Serena Williams memenangi Wimbledon 2015 (dengan kemenangan itu, ia memegang keempat gelar juara turnamen grandslam bersamaan). Nah, akhir pekan ini, aku menyaksikan terwujudnya Nole Slam di Paris. Novak Djokovic memenangi Roland Garros 2016 yang mana artinya kini ia lah pemegang gelar juara keempat turnamen grandslam! Pencapaian ini jauh lebih jarang di sisi putra dimana terakhir kali ini terjadi adalah di tahun 1969 ketika Rod Laver memenangi kesemua gelar grandslam tahun itu.

Kesimpulannya, perjalanan ini adalah perjalanan yang amat seru dan aku bersyukur banget aku bisa pergi ke Paris!! Seperti biasanya, di atas aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini! 😉

#1746 – A Weekend in Rennes (Part III: The French Food)

ENGLISH

Posts in the A Weekend in Rennes series:

1. Introduction
2. Part I: Rennes
3. Part II: Le Mont Saint-Michel
4. Part III: The French Food

***

The duration of the long weekend trip (from Thursday afternoon to Sunday morning) allowed me to have several takings of one of my favorite cuisines in the world: the French food. And so for this reason, this topic clearly deserves a self-standing post, haha 😆 . Anyway, here we go…

Crepes

When I was collecting information of Rennes prior to the trip, one food that kept popping up in my search was crepes. Apparently crepes, indeed, originated from Brittany, a French region where Rennes was in. And I liked crepes so while in Rennes, obviously I needed to have one, haha 😆 .

A crepe for breakfast

A crepe for breakfast

Unsurprisingly it was not difficult to find a creperie, as there were creperies pretty much everywhere I went to in Rennes. Luckily, there was a nice-looking creperie near my hotel so in one morning, I decided to have my breakfast there. Obviously, I ordered a serving of warm chocolate crepe served with vanilla ice cream and coconut spread. I can tell you now, it was SO delicious! 😋In fact, (real) crepe is now my favorite French breakfast (it used to be croissant for so long before but now the title must change hands 😛 ).

Magret De Canard

In my first evening in Rennes, I already chose a restaurant in Yelp where I would want to have my dinner. However, since that day was a public holiday, it turned out the restaurant was closed 😦 . So I went to a nice-looking restaurant just accross the street (which turned out to be recommended to me in Yelp as well but wasn’t in the top five or so). It was, indeed, a nice restaurant and after looking at their menu, I decided to order their magret de canard dish, which looked like this:

French food never fails to satisfy my taste bud!!

Magret de Canard with orange and carrot puree

And just as it looked, it was very yummy!! The duck meat was cooked perfectly and all element of the dish worked well together and “made sense”. This dish made me realize I was back in France and I knew it was the start of a delicious trip to me 😛 .

The black sauce was the worchestershire sauce. At the time, I found it surprising that worchestershire sauce was involved in a French dish; but it worked well so obviously I wasn’t complaining. When I was back at my hotel, I checked the restauant at Yelp and it turned out that it was a French restaurant with an Asian fusion! Ah, it made sense now! Not only the sauce, but the vegetables in that dish was cooked in Asian style, the name of the restaurant (Le Moon), and the decoration! Yeah, I get it now! 🙂

A Three Course Meal

The next evening, I was back at the restaurant recommended by Yelp that was closed on my first evening in Rennes. Luckily, they opened on Friday and I did not need a reservation to get a seat (it was quite busy though). After looking at the menu, I decided to go with their three course menu for €31 (the cheapest one, there were other options) and ordered my choices from the list that I was given.

L’escargot

Finally after all these years, I was able to summon enough gut to order an exotic French dish which I had been wanting to try but “afraid” (of the “grossness”) at the same time to have one, haha 😆 . It was an escargot (snails) dish.

Finally losing my escargot "virginity" :P

Finally losing my escargot “virginity” 😛

It was actually okay. The snails were a little bit chewy and, in a way, tasted like mussels. However, the most difficult part was, indeed, my brain that kept telling me “You literally have snails in your mouth right now“, lol 😆 .

Black Angus Bavette

As my main course, I ordered a more “inside the box” black angus bavette, which was basically like a steak though not really. I forgot to request to change the mashed potatoes with some fries or something else, but nonetheless it was still a good dish. The meat was cooked to medium-rare, just what I requested and the sauce was delicious!

A Black Angus bavette

A Black Angus bavette

Dessert

For dessert, I ordered an ice cream nougat with a praline cracker and dark chocolate mousse. And it was very delicious!!

A dessert

A dessert

Overall, I was very impressed by this three course meal and I did find it so worthed the €31. I am glad I followed what Yelp suggested me because I felt like it helped me reach an optimal cost-benefit spending on my meal in Rennes, haha 😆 .

The Rest

Serena Williams

In one afternoon in Rennes, I decided to go to a cafe to take some rest. It turned out that the cafe didn’t serve tea (I didn’t expect that, lol) so I had to look through their drink menu. At first I wasn’t sure what I wanted given the many options available there, but then I spotted a drink with a really unique name under the mocktail section: “Serena Williams”. And so suddently I wasn’t unsure anymore and, as a big fans of Serena, I immediately ordered the drink, lol 😆 .

A glass of Serena Williams

A glass of Serena Williams

It was good and refreshing, even though I found it to be too sweet 😛 .

Entrecote and Creme Brulee

For my last dinner in Rennes I decided to order a menu which I always love: an entrecote. It was good! And really big! I mean, the smallest one was like 300 gram or so! 😲

A 300 gr entrecot

A 300 gr entrecote

And also to follow my Magret de Canard dish above, I ordered a creme brulee for dessert. It was good as well.

Not using Yelp

In my afternoon in Rennes, I decided to do a small experiment: “What would happen if I just choose a restaurant without the help of Yelp?“. So in the Old Town (see Part I), I went to a restaurant with a good deal for lunch. I ordered a chicken with mushroom sauce as my main course and a chocolate mousse for dessert. They turned out to just be okay. They weren’t bad, but were not that special either. But at least it was a good deal as well, so in a sense actually I got what I paid for 😛 .

THE END.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri A Weekend in Rennes:

1. Introduction
2. Part I: Rennes
3. Part II: Le Mont Saint-Michel
4. Part III: The French Food

***

Durasi perjalanan long weekend ini (dari Kamis siang hingga Minggu pagi) memungkinkanku untuk beberapa kali makan salah satu makanan favoritku di dunia: makanan Prancis. Dan karena ini lah topik ini berhak menjadi satu posting tersendiri, haha 😆 . Anyway, berikut ini ceritanya…

Crepes

Ketika mengumpulkan informasi mengenai Rennes sebelum perjalanan ini, satu nama makanan yang selalu muncul adalah crepes. Ternyata, crepes itu asalnya dari Brittany loh, sebuah daerah di Prancis yang memang dimana Rennes berlokasi. Dan karena toh aku suka crepes, jadilah ketika di Rennes aku harus mencoba makanan tradisional mereka ini kan ya, haha 😆

A crepe for breakfast

Crepe untuk sarapan

Tidak mengherankan, tidak sulit kok untuk mencari sebuah creperie, karena ada banyak creperie dimana-mana di Rennes. Bahkan ada satu yang nampak menarik di dekat hotelku sehingga di suatu pagi, aku memutuskan untuk sarapan disana saja. Jelas, aku memesan sebuah crepe hangat berisi coklat yang disajikan dengan es krim vanilla dan taburan kelapa. Dan bisa kubilang bahwa rasanya enaaak BANGET! 😋Malahan, crepe (yang beneran) sekarang adalah menu sarapan Prancis favoritku deh (sebelumnya, gelar ini dipegang oleh croissant tetapi sekarang harus berpindah tangan 😛 ).

Magret De Canard

Di malam pertamaku di Rennes, aku sudah memilih satu restoran dengan Yelp untuk makan malam. Namun, karena hari itu tanggal merah, ternyata restorannya tutup 😦 . Jadilah aku pergi ke sebuah restoran yang penampakannya menarik di seberang jalan (yang mana ternyata juga direkomendasikan Yelp tetapi tidak termasuk peringkat lima teratas gitu). Ternyata ini adalah restoran yang memang oke dan setelah mempelajari menunya, aku memesan magret de canard yang penampilannya seperti ini:

French food never fails to satisfy my taste bud!!

Magret de Canard dengan puree jeruk dan wortel

Dan seperti penampakannya, makanannya beneran enaak!! Daging bebeknya dimasak sempurna dan semua elemen yang terlibat juga nyambung dan “masuk akal”. Masakan ini membuatku menyadari bahwa aku berada di Prancis dan aku tahu ini adalah awal dari perjalanan yang nikmat untukku 😛 .

Saus berwarna hitamnya adalah saus inggris. Waktu itu, aku cukup kaget bahwa saus inggris digunakan di sebuah masakan Prancis; ah tetapi nyatanya enak juga kok jadi aku tidak protes. Ketika aku kembali di hotel, aku mengecek restorannya di Yelp. Ternyata restorannya adalah restoran Prancis dengan fusion Asia! Ah, sekarang semuanya masuk akal! Tidak hanya sausnya kan, tetapi sayur di masakannya itu juga dimasak ala Asia (mirip seperti cap cay gitu), nama restorannya (Le Moon), dan juga dekorasi interiornya! Ah, aku paham banget sekarang! 🙂

Sebuah Menu Three Course

Keesokan malamnya, aku kembali ke restoran yang direkomendasikan Yelp malam sebelumnya tetapi tutup itu. Untungnya kali ini mereka buka dan aku tidak perlu reservasi dulu untuk mendapatkan kursi (restorannya lumayan ramai sih waktu itu). Setelah melihat-lihat menunya, aku memutuskan untuk makan paket menu three course seharga €31 (sekitar Rp 465 ribu, menu yang termurah tetapi ada pilihan lain kok) dan memilih dari daftar yang mereka berikan.

L’escargot

Akhirnya setelah bertahun-tahun ini, aku berhasil mengumpulkan cukup keberanian untuk makan sebuah masakan Prancis yang eksotis yang sudah lama banget ingin aku cobain tetapi juga “takur” (lebih ke “jijik” sih) pada saat yang sama, haha 😆 . Ini adalah sebuah masakan escargot (bekicot).

Finally losing my escargot "virginity" :P

Finally losing my escargot “virginity” 😛

Ternyata rasanya oke-oke aja kok. Bekicotnya agak kenyal dan, sedikit banyak, terasa seperti kerang gitu. Namun, bagian yang tersulit adalah otakku yang terus-terusan ngomong “Eh ada bekicot loh di dalam mulutmu“, huahaha 😆 .

Black Angus Bavette

Sebagai makanan utama, aku memutuskan menu yang mainstream aja, black angus bavette, yang mana pada dasarnya mirip seperti steak tetapi bukan juga sih. Aku lupa untuk meminta menukar mashed potatoes-nya dengan french fries atau apa gitu, tetapi toh rasanya enak kok. Dagingnya dimasak ke level medium-rare, sesuai dengan pesananku, dan sausnya juga enaak!

A Black Angus bavette

Black Angus bavette

Pencuci Mulut

Untuk pencuci mulut, aku memesan es krim nougat dengan praline cracker dan mousse coklat hitam. Enaaak!!

A dessert

Sebuah pencuci mulut

Sevara keseluruhan, aku sungguh terkesan dengan menu three course ini dan aku merasa puas dengan €31 yang harus kubayarkan itu. Aku lega aku mengikuti yang disarankan Yelp karena aku merasa app ini telah membantuku mengoptimalisasi pengeluaranku dalam hal cost-benefit di Rennes, haha 😆 .

Sisanya

Serena Williams

Di suatu sore di Rennes, aku ingin duduk-duduk di kafe untuk beristirahat. Eh ternyata kafenya tidak menyediakan teh loh (tidak kusangka nih) sehingga aku melihat-lihat daftar menu yang mereka miliki. Awalnya aku nggak yakin aku ingin apa karena pilihannya ada banyak banget, tetapi kemudian sebuah menu menarik perhatianku yang mana merupakan sebuah minuman dengan nama unik di bagian mocktail: “Serena Williams”. Dan jadilah aku langsung tahu apa yang ingin kupesan, sebagai fans-nya Serena, jelas dong ya aku memesan minuman ini, huahaha 😆 .

A glass of Serena Williams

Segelas Serena Williams

Rasanya enak dan memang menyegarkan, walaupun untukku agak kemanisan sih 😛 .

Entrecote dan Creme Brulee

Makan malam terakhirku di Rennes, aku memutuskan untuk memesan menu yang aku tahu aku suka: entrecote. Dan rasanya enaak! Dan besaar! Maksudku, masa yang paling kecil berukuran 300 gram loh! 😲

A 300 gr entrecot

Sebuah entrecote 300 gram

Dan aku juga memesan creme brulee untuk menemani menu Magret de Canard di atas. Rasanya juga enak.

Tidak menggunakan Yelp

Di suatu siang di Rennes, aku memutuskan untuk melakukan sebuah percobaan kecil: “Apa yang terjadi andaikata aku tidak menggunakan bantuan Yelp?“. Jadilah di Kota Tua (baca Bagian I), aku memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran dengan deal yang oke untuk makan siang. Aku memesan ayam dengan saus jamur dan mousse coklat. Ternyata rasanya biasa-biasa aja. Bukannya nggak enak sih, hanya saja nggak spesial aja. Ah, tetapi seenggaknya harganya memang murah sih, jadilah aku mendapatkan apa yang kubayarkan kan ya 😛 .

SELESAI.

#1677 – 2015 Year End Trip (Part I: Getting to North America)

ENGLISH

Ok, let the story of my super amazing year end trip to the USA and Mexico begin with this post. As I had to, well, fly to cross the Atlantic pond ocean, the story will also start with a trip report on how to get there 🙂 .

My first destination in North America was the city of Boston in Massachusetts. To get there, I deliberately did not choose the direct Amsterdam – Boston flight, but instead one with a transit at New York – John F. Kennedy. This means my route of today was pretty much like this:

Flight route map of today. Created with gcmap.com

Flight route map of today. Created with gcmap.com

For both flights, I would fly with an American airline for the first time ever in my life: Delta; so this made the beginning of this adventure even more exciting for me 😛 .

Getting to Schiphol

As my DL49 flight to New York was scheduled to depart at 10 AM, I got up early today and left home at around 5:45 AM. I took the Intercity train and about 50 minutes later I arrived at Schiphol. I already checked-in online btw, in which I was able to select my seat and I was so surprised that I had the option to sit on the Delta Comfort Plus seats FOR FREE thanks to my Flying Blue Gold membership! It was basically a free upgrade because these seats provided much better seat pitch, hence more spacious and comfortable seating. Normally, one would have had to pay a lot (approximately US$100 if I am not mistaken) to sit on one of these seats! So of course I chose one! 😛

Anyway, after checking my luggage in, I went to the KLM Crown Lounge to have some quick breakfast there. At around 8:30 AM I left the lounge where just outside, there was a dedicated document check for passengers flying into the United States.

DL 49 (Amsterdam – New York JFK)

DL_Logo
Flight: Delta DL49
Equipment: Boeing 777-200ER reg N865DA
ATD: 10:30 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 12:47 EST (Runway 22L of JFK)

I boarded the airplane, a 16 year old Boeing 777-200ER reg N865DA, and quickly settled onto my Delta Comfort Plus seat, which was indeed very spacious!! 😀 Too bad though it was a full flight today so both seats next to me were taken 😛 . Anyway, after all passengers boarded, we departed and took off from runway 24 of Schiphol Airport. Here is the take-off video:

After take-off, I quickly settled into the IFE to see what they offered. And the first song which I selected to play was this:

Frank Sinatra

Frank Sinatra

Yes, as I was flying to New York, it was super appropriate to play Frank Sinatra’s “New York, New York”, right? 🙂

A small snack service, which was lightly salted peanuts and drinks, was distributed not long afterwards followed by the lunch service. The choice for lunch was chicken or vegetarian pasta so I naturally chose the chicken dish, lol 😆 . It turned out to be okay even though I found it to be too oily. Then, it was followed by an ice cream service.

The chicken dish

The chicken dish

I spent my time on the flight watching Pixel (in which, apparently, my favorite tennis player, Serena Williams, made a cameo 😛 ) and played some games on the IFE. About an hour before landing, a big snack service was given and was a choice between a pastrami or vegetable sandwich. I had no idea what pastrami was so I went for it 😛 . It was good!

At around noon (local time), we were approaching New York – John F. Kennedy International Airport. The airplane aligned with runway 22L and once it did, it approached the runway. As I was sitting on the right side of the plane, I got one of the most magnificent skyline view I had ever seen in my life:

The skyline which requires no caption

The skyline which requires no caption

Yes, it was the skyline of Manhattan, in New York. It felt very surreal that, now, I was seeing it directly with my own eyes!!

Anyway, we landed smoothly at runway 22L, and here is the landing video:

A Transit at JFK

We were quite lucky that the immigration control was not crowded at all today so I could pass it without having to wait for too long.

The regulation of JFK Airport was that, apparently, everyone must take their luggage at the airport, including all transit passengers. This means that even though my luggage was already tagged all the way to Boston, in New York I still had to take it myself, cleared the custom, and rechecked-in the luggage at the luggage transfer desk.

The view from JFK

The view from JFK

So I did, but my luggage took forever to come out even though it was tagged with a priority label 😦 .

Anyway, long story short, I passed the security check and was on the air-side of the domestic flights out of JFK. JFK was a big airport though, but do not expect it to be very modern. Some Asian airports (like Dubai or Changi) are much more modern 😛 . After finding my gate, I went to the Delta lounge to get some things for lunch (one perk of being a high-level frequent flyer: not having to spend money on food in airports 😛 ).

At around 3 PM, boarding started. This flight was quite exciting as it would be on a new airplane for me: a Bombardier CRJ900 😀  (a slightly smaller version of a CRJ1000).

An Endeavor Air's Bombardier CRJ 900 reg N918XJ

An Endeavor Air’s Bombardier CRJ 900 reg N918XJ

DL 4012 (New York JFK – Boston)

Endeavor_Air

Flight: Delta DL4012 operated by Endeavor Air
Equipment: Bombardier CRJ900 reg N918XJ
ATD: 15:10 CET (Runway 22R of JFK)
ATA: 16:40 EST (Runway 27 of BOS)

The flight attendant of this flight was super friendly. She asked me if I was going back home to Boston, which of course I answered with “No” and told her that I came from the Netherlands. And then she became quite excited as she had been wanting to go to the Netherlands 😛 .

Anyway, after boarding completed, we took off from runway 22R of New York John F. Kennedy International Airport. Here is the take-off video:

We made a turn to the northeast heading to Boston. Having just flown on a Boeing 777-200ER, I did feel the difference with flying on a regional jet of CRJ900. The weather was not in the best shape today so it was quite a shaky ride to Boston, though not that much. My earlier Delta flight, which took pretty much the same path, had no problem with the weather as it smoothed through it, haha 😆 .

The service on board was this:

The service on board

The service on board

Yes, as in there was NO service on board, pretty much to my disappointment (not even a round of mineral water or something 🙄 ). So now I understand why people say the service on American airlines is poor in comparison to European airlines (and more so top-leading Asian airlines). Let me remind you, Delta is supposed to be a full-service airline, just like KLM or Garuda Indonesia.

At 16:40 local time, we landed at runway 27 of Boston Logan International Airport. Here is the landing video:

I took my luggage at the arrival area and then took the free Silver Line bus to Downtown Boston.

And my 2.5 weeks North America adventure has just begun :mrgreen: .

TO BE CONTINUED…

Next on 2015 Year End Trip:
– The Massachusetts Institute of Technology (MIT) and Harvard University
– Lobster Galore in Boston
– Boston
– Mexico
– New York

BAHASA INDONESIA

Ok,  cerita dari perjalanan akhir tahunku ke Amerika Serikat dan Meksiko yang seru banget ini akan aku mulai dengan posting ini. Karena jelas aku harus terbang untuk menyeberangi Samudra Atlantik, cerita akan aku mulai dengan sebuah trip report bagaimana aku berangkat kesana 🙂 .

Tujuan pertamaku di Amerika Utara adalah kota Boston di Massachusetts. Untuk kesana, sengaja aku tidak memilih penerbangan langsung Amsterdam – Boston, melainkan dengan sebuah transit di New York – John F. Kennedy. Ini artinya rute penerbanganku hari ini kurang lebih seperti ini:

Flight route map of today. Created with gcmap.com

Peta rute penerbangan hari ini. Aku buat dengan gcmap.com

Untuk kedua penerbangan ini, aku akan terbang dengan sebuah maskapai penerbangan Amerika untuk pertama kalinya seumur hidupku: Delta; jadilah ini membuat permulaan perjalanan ini menjadi lebih seru untukku.

Ke Schiphol

Karena penerbangan DL49-ku dijadwalkan berangkat jam 10 pagi, hari ini aku bangun pagi dan berangkat dari rumah sekitar jam 5:45 pagi. Aku menaiki kereta Intercity dan sekitar 50 menit kemudian tiba di Schiphol. Aku sudah check-in di internet btw, yang mana aku bisa memilih kursiku dan amat terkejut ketika aku memiliki pilihan untuk duduk di kursi Delta Comfort Plus GRATIS karena status Flying Blue Gold-ku! Ini sih bisa dibilang sebuah upgrade gratis karena kursi ini memiliki seat pitch yang lebih oke, yang mana lebih lapang dan nyaman. Biasanya, seorang penumpang harus membayar mahal loh (sekitar US$100an kalau nggak salah) untuk bisa duduk di kursi ini! Jadilah aku memilih satu! 😛

Anyway, setelah memasukkan bagasiku, aku pergi ke KLM Crown Lounge untuk sarapan disana. Jam 8:30, aku meninggalkan lounge-nya dimana di luarnya ada sebuah meja khusus untuk pengecekan dokumen penting untuk penumpang bertujuan Amerika.

DL 49 (Amsterdam – New York JFK)

DL_Logo
Penerbangan: Delta DL49
Pesawat: Boeing 777-200ER reg N865DA
ATD: 10:30 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 12:47 EST (Runway 22L of JFK)

Aku menaiki pesawatnya, sebuah Boeing 777-200ER berregistrasi N865DA berusia 16 tahun, dan langsung duduk pewe di kursi Delta Comfort Plusku, yang mana memang beneran lapang!! 😀 Sayangnya penerbangan hari ini penuh sehingga kedua kursi di sebelahku terisi semua, haha 😛 . Setelah semua penumpang naik, kami berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 24 Bandara Schiphol. Berikut ini video lepas landasnya:

Setelah lepas landas, aku mengecek IFEnya untuk melihat isinya apa saja. Dan lagu pertama yang aku pilih untuk aku mainkan adalah ini:

Frank Sinatra

Frank Sinatra

Ya, karena aku sedang terbang ke New York, jelas cocok banget untuk memainkan “New York, New York”-nya Frank Sinatra kan? 🙂

Layanan snack ringan, berupa kacang asin dan minuman, dibagikan tidak lama kemudian yang diikuti dengan layanan makan siang. Pilihan makan siangnya adalah ayam atau pasta vegetarian. Jadi jelas aku memilih menu ayam dong ya, haha 😆 . Ternyata rasanya biasa saja walaupun untukku makanannya terlalu berminyak banget. Setelah makan siang selesai, pramugari/a membagikan layanan es krim.

The chicken dish

Menu ayam

Waktuku di pesawat aku habiskan dengan menonton Pixel (yang mana ternyata petenis favoritku, Serena Williams, ada kameo disitu juga loh 😛 ) dan memainkan beberapa games di IFEnya. Sekitar satu jam sebelum mendarat, layanan snack besar dibagikan yang berupa sebuah sandwich dengan pilihan isi pastrami atau sayuran. Karena nggak tahu pastrami itu apa, aku justru memilihnya. Ternyata enak!

Sekitar tengah hari (waktu setempat), kami mulai mendekati Bandara Internasional John F. Kennedy di New York. Pesawat mengepaskan diri dengan landasan pacu 22L dan kemudian bergerak untuk mendarat di landasan pacu ini. Karena aku duduk di sisi kanan pesawat, aku disuguhi sebuah pemandangan skyline kota yang paling keren yang pernah aku lihat seumur hidup:

The skyline which requires no caption

Skyline yang tidak perlu untuk dikenalkan lagi

Ya, skyline-nya Manhattan, di New York. Rasanya sureal banget bahwa saat itu aku melihat pemandangan ini langsung dengan mata kepala sendiri!!

Anyway, kami mendarat mulus di landasan pacu 22L, berikut ini video pendaratannya:

Transit di JFK

Beruntung waktu itu tidak ada antrian di pemeriksaan imigrasi sehingga aku tidak perlu mengantri berlama-lama disana.

Regulasi di Bandara JFK adalah semua penumpang harus mengambil bagasi masing-masing di bandara, termasuk penumpang transit. Ini artinya walaupun bagasiku sudah di-tag sampai ke Boston, di New York aku masih harus mengambilnya dulu, melewati pemeriksaan bea cukai, dan memasukkannya lagi di meja transfer untuk bagasi.

The view from JFK

Pemandangan di JFK

Ya sudah prosedurnya aku ikuti saja, walaupun bagasiku lama dong keluarnya padahal sudah dilabeli label prioritas 😦 .

Anyway, singkat cerita, aku melewati pemeriksaan sekuriti dan tiba di area keberangkatan domestiknya JFK. JFK adalah bandara yang besar, walaupun nggak modern-modern amat sih. Beberapa bandara di Asia (misalnya Dubai atau Changi) jelas lebih modern deh 😛 . Setelah menemukan gerbang keberangkatanku, aku mampir sebentar di lounge-nya Delta untuk makan siang dulu disana (satu keuntungan memiliki frequent flyer level tinggi kan: nggak perlu keluar duit untuk makan di bandara 😛 ).

Sekitar jam 3 sore, proses naik pesawat dimulai. Penerbangan ini juga seru untukku karena akan dioperasikan dengan sebuah pesawat yang belum pernah aku naiki sebelumnya: Bombardier CRJ900 😀 (versi yang sedikit lebih kecil daripada CRJ1000).

An Endeavor Air's Bombardier CRJ 900 reg N918XJ

Sebuah Bombardier CRJ900 milik Endeavor Air reg N918XJ

DL 4012 (New York JFK – Boston)

Endeavor_Air

Penerbangan: Delta DL4012 dioperasikan olehEndeavor Air
Pesawat: Bombardier CRJ900 reg N918XJ
ATD: 15:10 CET (Runway 22R of JFK)
ATA: 16:40 EST (Runway 27 of BOS)

Pramugari penerbangan ini ramah lho. Dia bertanya kepadaku apakah aku sedang pulang kampung ke Boston, yang mana jelas aku jawab “Engga”, haha 😆 , dan aku bilang bahwa aku baru saja datang dari Belanda. Dan lalu ia excited sendiri karena ia sudah lama ingin pergi ke Belanda 😛 .

Setelah semua penumpang naik pesawat, kami lepas landas dari landasan pacu 22R Bandara Internasional John F. Kennedy. Berikut ini video lepas landasnya:

Kami belok ke arah timur laut menuju Boston. Baru saja terbang dengan Boeing 777-200ER, perbedaan terbang dengan sebuah pesawat regional CRJ900 terasa banget yah. Cuaca hari ini sedang kurang oke sehingga penerbangannya berguncang terus hingga Boston (tetapi nggak berguncang parah sih). Di penerbangan Delta sebelumnya, yang mana penerbangannya juga melewati ruang udara yang sama, kondisi cuaca ini nggak masalah loh karena terbangnya mah mulus-mulus aja, haha 😆 .

Servis di penerbangan singkat ini adalah seperti berikut ini:

The service on board

Servis di penerbangan ini

Iya, maksudnya memang NGGAK ADA layanan apa pun dong di pesawatnya, kecewa deh saya (bahkan nggak ada pembagian air putih gitu). Jadilah sekarang aku paham mengapa banyak yang bilang servis di maskapai Amerika itu kurang oke jika dibandingkan dengan servis maskapai Eropa (apalagi maskapai top Asia). Aku ingatkan nih, Delta itu seharusnya adalah sebuah maskapai full-service lho, seperti KLM atau Garuda Indonesia.

Jam 16:40 sore, kami mendarat di landasan pacu 27 Bandara Internasional Boston Logan. Berikut ini video pendaratannya:

Aku mengambil bagasi di area ketibaan dan kemudian menaiki layanan bus Silver Line gratis menuju kota Boston.

Dan disini, petualanganku di Amerika selama 2,5 minggu ke depan baru saja dimulai :mrgreen: .

BERSAMBUNG…

Selanjutnya dalam 2015 Year End Trip:
– Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Harvard University
– Pesta lobster di Boston
– Boston
– Meksiko
– New York