EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1939 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part I: Lyon)

ENGLISH

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Getting to/from Lyon

Obviously, I chose not to fly direct to Lyon, haha. In fact, on both ways I had a transit at Paris-CDG. In general, all the flights were standard short-haul flights with Air France so I would not get to too much details here. There was only one “incident” on my way to Lyon that worth sharing, haha 😛 .

I had quite a tight connection at Paris-CDG, at only 50 minutes. So obviously I was not happy to find out that the departure of my flight AF1741 was delayed by 20 minutes! But it did not end there. Once all passengers boarded, the captain announced that Schiphol was very busy at the time and we only got a clearance for departure in another 20 minutes! The string of delays still did not finish here. When we finally left the terminal, it turned out we got a departure slot at:

Runway 36L aka the Polderbaan

Yes, the friggin’ Polderbaan So all in all, consequently we took off from Schiphol one hour (!) behind schedule.

But there was nothing I could do so I just tried to relax (and order some wine on board, lol). Though, I wasn’t all that worried. I already checked online and I found that Air France had a scheduled evening flight to Lyon from Paris-CDG later today. So even in the worst case scenario, I figured they would bump me into that flight. Sure it would cause some inconvenience in terms of my arrival time in Lyon, but I had been to Lyon before anyway so there would be not much that I would miss.

A small bottle of wine to enjoy the moment.

Anyway, 50 minutes later we landed at runway 09L of Paris-CDG. I walked briskly once I deboarded about 5 minutes before the scheduled departure of my connecting flight, on the slightest hope that my connecting flight would probably be delayed too. I checked the transit monitors and went to my gate.

And I found it surprising that my gate was the same gate that I just got off from. Yep, as it turned out, my connecting flight to Lyon would be operated with the same airplane (even with the same crew set)! This was the first time ever I took these kind of flights! Lol 😆 . So consequently the flight to Lyon was also delayed by around 45 minutes! Yep, at the end, everything worked out well (for me)! 😛

I took two different flights (AF1741 and AF7646) with this Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXA today!

Once all passengers to Lyon boarded, the captain apologized for the delay and explained this was due to late arrival from Amsterdam. Well, I could testify for that! Lol 😛 .

Lyon

Lion selfie in Lyon

It worths mentioning that this trip took place during a very warm weekend in Europe; and this was also true for Lyon. It was really warm when I was there, where the temperature came close to 30°C or so, haha. Despite this, though, obviously I still managed to get around the city, haha 😆 .

I bought a daily public transpotation card to get around Lyon. I stayed near Gare Part Dieu and that was quite some distance from Vieux Lyon (Old Lyon), the most attractive (and touristy) part of the city. Obviously I was not planning to walk there because of the temperature, lol 😆 . The Lyonese trams looked really cool, though. Here is one of them:

A Lyonese tram

Anyway, unsurprisingly it was a busy weekend in Lyon where the Vieux Port was full of people (read: tourists)! I crossed both the Rhone and Saone rivers and walked around the old town. After lunch, I took the funicular to the top of the Fourviere Hill here Lyon’s Notre Dame Basilica was located. The small park next to the basilica provided good bird’s eye view of the city too.

Notre Dame Fourviere in Lyon

I looked at the map and Theatre Gallo-Romains did not look very far away from the basilica. Fortunately this turned out to be true because I decided to walk there, haha 😆 . This Roman theatre appeared like how I remembered it from 2014, it was very well-preserved.

Theatre Gallo-Romains

From there, I took the other funicular line down back to Vieux Lyon. At this point, I felt like I had walked enough and it was really warm anyway, so I decided to: shop! Haha 😆 . Even at one point I decided to just go to the big mall near Gare Part Dieu because it had air-conditioner in it, haha 😆 .

The Food

Lyon is known as the gastronomy capital of France, so obviously food was one main element of this trip, haha, even though I did not go to any Michelin-starred restaurant, unlike the last time.

One dish which I did not have the chance to try the last time I was in Lyon was quenelle de brochet. And so I told myself to not miss it this time around (and gave it a go to miss the andouillette, another Lyon’s specialty, because I was traumatized by the mustard sauce the last time I had it (I hate French mustard)). Anyway, the quenelle tasted good. I would probably not call it my most favorite dish ever because I found the sauce to be really creamy and heavy, but it was definitely much better (for me) than andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Another dish surprised me, btw, because (1) it was, obviously, really good and (2) I told myself why I never thought about it before. It was a “fillet de canard” (duck breast) steak. Really, it tasted very good!! In fact, maybe I will try to cook one myself soon! Hmm 🤔

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Pergi ke Lyon

Jelas dong aku tidak terbang langsung dari Amsterdam ke Lyon, haha. Di kedua arah, aku transit dulu di Paris-CDG. Secara umum, semua penerbangannya adalah penerbangan standar jarak dekat dengan Air France sehingga aku tidak akan merincinya di sini. Hanya saja, ada satu “insiden” di perjalanan keberangkatanku ke Lyon yang layak diceritakan 😛 .

Waktu transitku cukup ketat di Paris-CDG, hanya 50 menit saja. Jadi jelas aku merasa tidak terlalu senang ketika tahu bahwa penerbangan AF1741ku dijadwalkan berangkat terlambat 20 menit hari ini! Masalahnya lagi, ternyata berita buruknya belum berakhir. Setelah semua penumpang naik pesawat, pilot mengumumkan bahwa Bandara Schiphol sangat sibuk waktu itu sehingga kami baru mendapatkan giliran untuk berangkat 20 menit kemudian! Disini pun masalahnya masih belum berakhir pula. Setelah akhirnya pesawat bergerak, ternyata keberangkatan kami adalah dari:

Landasan pacu 36L alias Polderbaan

Iyaa, Polderbaan laknat itu Semua ini mengakibatkan kami lepas landas satu jam (!) di belakang jadwal.

Berhubung toh semuanya di luar kuasaku, ya sudah aku pasrah saja dan berusaha santai (dan memesan wine dong di pesawat, haha). Tapi aku memang tidak begitu khawatir sih. Aku sudah cek di internet bahwa hari itu Air France memiliki penerbangan malam ke Lyon dari Paris-CDG. Jadi andaikata skenario terburuk terjadi, aku cukup yakin Air France akan memindahkanku ke penerbangan itu. Memang sih ini akan mengakibatkan sedikit ketidak-nyamanan dalam hal waktu tibaku di Lyon, tetapi toh aku sudah pernah ke Lyon sebelumnya jadi tidak terlalu banyak lah yang akan kulewatkan.

Sebotol kecil wine untuk memasrahkan diri kepada situasi.

Anyway, sekitar 50 menit kemudian kami mendarat di landasan pacu 09L Bandara Paris-CDG. Aku berjalan cepat-cepat begitu keluar dari pesawat sekitar 5 menit sebelum jadwal keberangkatan penerbangan lanjutanku, dengan berbekal harapan amat kecil penerbanganku selanjutnya mungkin terlambat juga, haha. Aku kemudian mengecek layar monitor transit di bandara untuk mengetahui gerbang keberangkatannya.

Aku cukup kaget ketika melihat bahwa gerbangnya adalah gerbang yang sama dari mana aku baru saja keluar. Iya, ternyata, penerbanganku ke Lyon akan dioperasikan dengan pesawat yang sama (bahkan dengan set kru yang sama)! Ini adalah kali pertama aku mengalami kejadian begini nih! Haha 😆 . Jadilah akibatnya penerbangan ke Lyon juga kena delay selama 45 menit! Iya, pada akhirnya, semuanya baik-baik saja (untukku)! 😛

Aku menaiki dua penerbangan berbeda (AF1741 dan AF7646) dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXA ini hari ini!

Setelah semua penumpang tujuan Lyon naik pesawat, pilotnya meminta-maaf atas keterlambatan ini dan menyebutkan ini disebabkan oleh keterlambatan penerbangan sebelumnya dari Amsterdam. Yah, aku bisa kok bersaksi untuk pernyataan ini! 😛

Lyon

Lion selfie di Lyon

Relevan untuk disebutkan bahwa perjalanan ini berlangsung di akhir pekan yang amat panas di Eropa; dan di Lyon juga demikian. Panas banget deh ketika aku di sana, dimana suhu udaranya mencapai 30°C, haha. Walaupun begini, toh aku masih sempat jalan-jalan di kotanya, haha 😆 .

Aku membeli tiket harian transportasi umum untuk berkeliling Lyon. Aku menginap di dekat Gare Part Dieu yang berjarak cukup jauh dari Vieux Lyon (Lyon Tua), bagian paling kece (dan paling penuh turis) dari Lyon. Jelas, aku ogah berjalan-kaki kesana apalagi lagi panas-panasnya begini, haha 😆 . Btw, disain tram di Lyon keren-keren loh. Berikut ini salah satunya:

Sebuah tramnya Lyon

Anyway, tidak mengherankan akhir pekan ini ramai banget di Lyon dimana Vieux Portnya penuh orang (baca: turis)! Aku menyebrangi kedua sungai Rhone dan Saone dan berjalan-kaki keliling kotanya. Setelah makan siang, aku naik funicular ke atas bukit Fourviere dimana Basilika Notre Dame-nya Lyon berada. Dari taman kecil di samping basilikanya kita bisa melihat pemandangan Lyon dari atas.

Notre Dame Fourviere di Lyon

Aku lihat di peta dan Teater Gallo-Romains nampak tidak jauh dari basilikanya. Untung ini benar karena aku memutuskan untuk berjalan-kaki kesana, haha 😆 . Teater Romawi ini masih seperti yang kuingat dari tahun 2014, sungguh terawat dengan amat baik.

Teater Gallo-Romains

Dari sana, aku menaiki funicular lain untuk turun kembali ke Vieux Lyon. Aku merasa sudah cukup jalan-jalannya dan toh udaranya panas banget, jadilah aku memutuskan untuk: shopping! Haha 😆 . Bahkan di satu waktu aku memutuskan untuk ngemall aja loh di sebuah mall besar di dekat Gare Part Dieu yang dilengkapi dengan AC, haha 😆 .

Makanannya

Lyon dikenal sebagai ibukota kulinernya Prancis, jadi jelas makanan adalah satu elemen penting dari perjalanan ini, haha, walaupun aku tidak pergi ke restoran berbintang Michelin sih kali ini, tidak seperti yang lalu.

Satu menu yang tidak sempat aku cobain ketika terakhir kali aku di Lyon adalah quenelle de brochet. Jadilah aku berencana untuk tidak melewatkannya kali ini (dan tidak berkeberatan untuk melewatkan andouillette, sebuah makanan khasnya Lyon yang satunya, karena aku trauma dengan saus mustard-nya waktu itu (aku tidak suka mustard Prancis!)). Anyway, quenelle-nya enak juga ternyata. Mungkin aku tidak akan mengklaimnya sebagai masakan terfavoritku karena aku merasa sausnya creamy dan “berat” banget, tetapi (untukku) tetap jauh lebih enak daripada andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Satu menu mengagetkanku, btw, karena (1) jelas, rasanya enak banget dan (2) Kok aku nggak kepikiran sebelumnya ya? Haha. Menu ini adalah steak “fillet de canard” (dada bebek). Beneran loh, rasanya enak banget!! Malahan, aku berpikir untuk sekali-sekali mencoba membuatnya sendiri nih! Hmm 🤔

Advertisements
Miscellaneous · Photo Tales

#1485 – Photo Tales (13)

ENGLISH

This is another special edition of the series Photo Tales, which means consecutive special edition after the previous one was too, haha. Anyway, so these three photos were taken during my weekend trip to Lyon in mid-November.

Photo #24

What was that?
What was that?

I still no idea what that was. Well, of course not the Airbus A319-112 owned by Brussels Airlines with registration code OO-SSC in the special Star Alliance livery which just landed at runway 18R of Lyon Saint Exupéry airport as flight SN 3587 from Brussels in the foreground, obviously. But the steam/smoke in the background…

Photo #25

The symbol of Lyon as mounted in the Notre Dame basilica
The symbol of Lyon as mounted in the Notre Dame basilica

If someone asked you what was likely to be the symbol of the city of Lyon (assuming you are not from Lyon nor French and have no knowledge whatsoever about the city before, other than this city exists in France), what would be your best guess? To me, judging from its name, I would go with a lion (as Lyon ≈ lion), haha. I mean, it was so obvious, wasn’t it?

And it was apparently the right answer btw!

The photo of a statue of a lion with wings above was taken just outside the Notre Dame basilica in the Fourvière hill in Lyon.

Photo #26

The River Saône was high
The River Saône was high

So the rivers were high when I was in Lyon, as it turned out. Like this one from the banks of the Saône river in the city centre, for example. Actually, down the stairs, there was a riverside boulevard. But as you can see, you cannot see it because of the water level height 😆 .

Well, I am just glad that it did not go worse, as in, for instance, it flooded the city like my experience in Lourdes about two years prior where the River Pau was flooding Lourdes due to the unusually high precipitation in the area.

BAHASA INDONESIA

Ini adalah edisi spesial lagi dari rangkaian posting Photo Tales, yang mana artinya ini adalah edisi spesial berturut-turut setelah yang sebelumnya juga dong ya, haha. Anyway, berikut ini tiga buah foto yang aku ambil di perjalanan akhir pekanku ke Lyon pertengahan November lalu.

Foto #24

What was that?
Apakah itu?

Aku masih tidak tahu apa itu lho. Eh, tentu saja bukan pesawat Airbus A319-112 milik Brussels Airlines dengan kode registrasi OO-SSC dengan livery special Star Alliance yang baru saja mendarat di landasan pacu 18R Bandara Lyon Saint Exupéry dengan nomor penerbangan SN 3587 dari Brussels itu yah; kalau pesawat ini kan jelas banget kan ya itu, haha. Maksudku adalah asap/uap yang ada di belakangnya itu…

Foto #25

The symbol of Lyon as mounted in the Notre Dame basilica
Simbol kota Lyon seperti yang terpasang di Basilika Notre Dame

Jika seseorang bertanya kepadamu kira-kira apakah simbol dari kota Lyon (dengan asumsi kamu tidak berasal dari Lyon dan bukan orang Prancis dan sama sekali tidak tahu tentang kota ini sebelumnya, kecuali bahwa ini adalah sebuah kota di Prancis), kira-kira apakah tebakanmu? Untukku sih, berdasarkan namanya, aku akan menebak singa deh (kan Lyon ≈ lion = singa), haha. Lah, soalnya jelas gitu kan ya?

Dan ternyata ini adalah jawaban yang benar loh btw!

Foto sebuah patung singa bersayap di atas aku ambil di luar Basilika Notre Dame di atas bukit Fourvière di Lyon.

Foto #26

The River Saône was high
Sungai Saône sedang pasang

Jadi ceritanya sungai-sungai di Lyon sedang pasang ketika aku disana. Seperti yang nampak di foto ini yang aku ambil di tepian sungai Saône di pusat kotanya, misalnya. Jadi seharusnya di bawah tangganya itu ada boulevard di tepian sungai gitu. Tetapi seperti yang bisa kita lihat, kita tidak bisa melihatnya karena permukaan airnya sedang tinggi, haha 😆 .

Yah, aku sih masih bersyukur aja ya ini tidak menjadi situasi yang lebih buruk, dalam artian, misalnya, tiba-tiba kotanya jadi banjir gitu. Seperti pengalamanku di Lourdes sekitar dua tahun sebelumnya dimana kala itu Sungai Pau membanjiri Lourdes akibat curah hujan yang jauh lebih tinggi daripada biasanya di area sekitar sana.

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1482 – A Weekend Trip to the Capital of French Gastronomy (Part II)

ENGLISH

Previously on A Weekend Trip to the Capital of French Gastronomy: Zilko went to the capital city of French gastronomy, Lyon, for a weekend trip in mid-November. After spending one afternoon in Lyon, he was now ready to continue his exploration of the city.

Day 1 (Saturday, 15 November 2014) ~ continued

It was still around 17:45 when I left Vieux Lyon station in the old town. I was still quite full from my late lunch today so I was still not in the mood to look for some restaurants. So I decided to just walk around the city centre again, by walking on the side of the Saône river and then the Rhône river, at least this was the original plan.

Lyon was a beautiful city also in the evening since they went quite all out in lighting their buildings and landmarks. In short, they looked amazing! Too bad my camera’s battery gave up on me at around this time. I thought I brought a back up so I did not worry about splurging its power for the entire day; but it turned out the back up, which I indeed brought, was also empty, haha 😆 . But lucky I also had my power bank with me so I could charge my camera’s battery for a few minutes; so at least it could last for the evening.

The Saone river and the Saint Georges Church in Lyon during the dusk
The Saone river and the Saint Georges Church in Lyon during the dusk

I walked a lot this evening, like really a lot. My original plan was to walk on the side of the Saône river until the river met the Rhône river, and then turned to walk on the side of the Rhône river. But about approximately halfway, the street was closed down due to some construction work. Ok, so I just turned and walked straight to the Rhône river side. I was still not that hungry at this point but I felt like maybe it was better to start looking for a restaurant. I did not find anything particularly interesting. There were a lot of pizzeria, but I did not come to the capital of French gastronomy to eat some pizza, obviously; I have my February weekend trip for that 😛 . But then I found nothing; until I saw a pretentious building named Brasserie Georges. I saw the menu and I immediately chose this restaurant for two reasons: it offered a traditional Lyonese menu which I wanted to try and the price was good too, haha. Btw, it was probably around 18:45 when I arrived at Brasserie Georges, which meant I had been constantly walking for like three and a half hours (almost) non-stop! No wonder my legs were begging for some rest! Haha.

After looking at the menu again, I was torn between two choices: an andouillette or a quenelle. But in the end I decided to go with the andouillette since I was not that hungry and an andouillette was, basically, a sausage (made from pork tripes) so it wasn’t that big of a meal. Plus, I was able to request to change the mashed potatoes, which was supposed to come with the dish, with french fries. 😀 The andouillette came, and it was pretty good. Luckily to me the sauce was not too mustardy so I still could enjoy it (I don’t like mustard); even though in the end I could not finish the sauce after I finished the sausage because of, well, the mustard, haha.

A portion of andouillette
A portion of andouillette

After dinner, I took the tram to go back to my hotel for some rest (lucky there was a direct tram 😀 ). I entered at my hotel room, turned on the TV, and saw the second set of the doubles match semifinals of the ATP World Tour Finals in London between Bob and Mike Bryan vs Edouard Roger-Vasselin and Julien Benneteau. After about half an hour, however, I decided to leave and go back to the old town since, well, why would I just stay in the hotel in my only night in Lyon? 😛 . Even probably my room judged me if I did.

So I went to the old town again and walked around the area until around 22:30 when I really felt tired and wanted to rest, haha. My impression was that the city was not that “alive”, at least outside, in the evening. I mean, obviously people flocked in bars or restaurants or stuffs like that, but not outside. But now that I think about it, it was probably not that surprising. Anyway, after coming back at my hotel room, I turned my TV on again and now it was the time for the singles semifinals between Roger Federer and Stan Wawrinka (it was already the second set). It turned out to be quite an exciting match with Federer ended up winning in the third set.

The Notre Dame basilica of Lyon and the Palais De Justice
The Notre Dame basilica of Lyon and the Palais De Justice

Day 2 (Sunday, 16 November 2014)

I got up at around 09:00 this morning. And after taking a shower, I packed my stuffs (which was not that much) and checked out (my room rate did not include breakfast; which I liked anyway since I preferred to have breakfast at a French patisserie 😀 ). I still had about half a day to explore Lyon today so I left my luggage in the hotel’s concierge room as obviously I did not feel like carrying it around the city, haha 😆 .

In a patisserie in Lyon
In a patisserie in Lyon

I took the tram to somewhere quite close to the old town. I stopped by at a nice patisserie on my way there for a 30 cm panini as my breakfast for €4.50. I crossed the Rhône river and walked to the Place Antonin Poncet to sit there to have my panini. It was quite a chilly morning with breezy air, but I was just glad that it was not raining. After I finished my panini, I took some photos at the Place Antonin Poncet with the “Only Lyon” sign (well, a nice anagram play there I must say 😀 ). Then, I walked to the Vieux Lyon station passing the Place Bellecour with its red square.

At Vieux Lyon, I took the other funicular ride, this time heading to Saint Just station. My destination was none other than The Théâtres Gallo-Romains; so I got off at the Minimes station; the midpoint between Vieux Lyon and Saint Just. The Théâtres Gallo-Romains was basically just across the street from the gate of the funicular station, so the location was very convenient. The entrance fee to the site was none, aka gratuit, aka gratis, aka we did not have to pay anything (Yay! I love it!). The Théâtres Gallo-Romains was a Roman ancient site which was constructed in the year of 15 BC (Wow so that meant the site was already over 2000 years old today!); but I could tell that this site was maintained properly.

At the Théâtres Gallo-Romains with the Mark Zuckerberg pose
At the Théâtres Gallo-Romains with the Mark Zuckerberg pose

I spent about 45 minutes in the site, which obviously included taking a lot of pictures, haha 😆 , including one of my favorite pictures from this trip, which is just above this sentence 😛 .

At around noon, I left the site and went back down to Vieux Lyon with the funicular. Since it was noon already, I planned to look for something to eat. I had two one-Michelin-star restaurants in my list which I was also interested in going to. Both were located not so far away from my hotel so this meant I needed to get back to the area of my hotel. So at Vieux Lyon, I did not go out but instead went to the underground to take the metro. Yes, the first time ever I actually rode a metro in Lyon, haha.

Long story short, I arrived at my hotel area and then looked for the two restaurants. I did not have any preference on the two of them; so the plan was, the first one which I saw, that was the one I was going to try today. Then I started to notice something strange. A lot of things appeared to be closed and the neighborhood certainly did not look busy at all. It was more like a tranquil Sunday in the third biggest city in France. Strange, I thought. Then, I found one of the two restaurants in my list. Only to find that it was actually closed. Damn. I started to feel uneasy at this point. So I was looking for the other restaurant in my list, but somehow I could not find it.

It was probably around 13:00 so at this point I was just looking for a restaurant to have lunch. My plan was, I was going to walk back towards my hotel; if I found nothing interesting, then I would just have my lunch at the hotel’s restaurant which actually looked rather nice. However, not only I did not find anything interesting, it was because nothing, like really nothing, was open today! WTF! Even the supermarket was closed so the option of buying cheap sandwich at the supermarket was non-existent. Then I arrived at my hotel, only to find out that their restaurant was not open too. I mean, really?? 🙄

Okay, but I knew I needed to eat something. So I took the tram to go back to the city centre where, at least, there was some life there. But even there, I could only find two types of restaurants which were open: McDonald’s or kebab shops. Both choices were very not ideal for me since one reason I chose France was for the French food, and now I was presented with these two options. But I did not have any option and time anymore. This afternoon I had to go back to the Netherlands so if I wanted to eat something, at the moment the choices were only these two. Well, to me, the lesser of the devil between these two were obviously the kebabs, so I had kebab for my last meal on this weekend trip 😆 .

A portion of kebab of lunch, it was delicious though
A portion of kebab of lunch, it was delicious though.

After finishing my kebab, I went back to my hotel. I sat at one of the sofa in the lobby for some rest (and for their free wifi too 😛 ) as my legs were still begging for some rest after apparently an intense weekend with a lot of walking, lol 😆 . I stayed there until around 15:00 when I left the hotel and walked to Part-Dieu station to go to the airport.

Today, I chose to go with the express tram, the Rhônexpress, to the airport. But then, all four ticket vending machines for the tram broke down! Damn! But then, luckily we still could buy the ticket on board from the officer where normally this would cost an extra €1 of service fee. But this time, since it was because none of the machine worked, they didn’t charge this €1 fee, haha. The express tram was, indeed, express btw. It reached the airport in just 30 minutes. It followed the same route of Lyon – Meyzieu – Saint Exupéry Airport; but from Meyzieu to the airport, the tram moved so fast! I think it was at around 80 km/h or 100 km/h, definitely the fastest tram ride I have ever been on, haha 😆 .

The Rhônexpress, the fast tram service
The Rhônexpress, the fast tram service

Anyway, today, I decided not to check any luggage in (for practicality reason so I would not have to waste time at Schiphol waiting for my luggage). And I have checked in online too. So I felt like trying something new: flying paperless!! Hahaha 😀 . Since I already checked-in online, KLM sent me an electronic boarding pass to my email which I had downloaded to my smartphone. Because I did not have any check in luggage, I could literally go directly to the gate once arriving at the airport. When boarding commenced, they scanned the screen of my phone for the barcode in the e-boarding pass which they sent. It was super cool!!

Btw, at around 17:05, a KLM Cityhopper Embraer ERJ190 reg PH-EZL landed at Lyon. At 17:20, the boarding process started. As usual, it was an efficient process and at 17:45, our KL1416 flight departed. We took off from runway 18R for our 90 minutes to Schiphol Airport.

The city of Lyon in the evening
The city of Lyon in the evening

It was another normal flight with KLM. Even though I noticed a little bit difference in their service. Probably because it was a flight during dining time, instead of the usual savoury or sweet snack, they offered a sandwich instead; which was really delicious!! Anyway, at 19:00, our flight landed at runway 18R of Schiphol Airport in Amsterdam. Here is the landing video:

We parked at gate B and I immediately went to the train station where I literally missed my train by 5 seconds (damn). So I had to wait for the next train to Delft (via Leiden) 15 minutes later, haha. Anyway, here, my weekend trip to the French capital of gastronomy this November came to an end.

THE END.

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam A Weekend Trip to the Capital of French Gastronomy: Zilko pergi ke ibukota kulinernya Prancis, Lyon, untuk sebuah perjalanan akhir pekan di pertengahan bulan November. Setelah menghabiskan satu siang di Lyon, kini ia siap untuk menjelajah kotanya lebih dalam lagi.

Hari 1 (Sabtu, 15 November 2014) ~ lanjutan

Masih sekitar jam 17:45 ketika aku meninggalkan Vieux Lyon di kota tua. Karena masih merasa kenyang dari makan siangku hari ini, aku masih belum terlalu berniat untuk makan malam. Jadilah aku memutuskan untuk berjalan mengelilingi pusat kotanya lagi, dengan berjalan di tepian sungai Saône dan kemudian sungai Rhône, setidaknya ini rencana awalnya.

Lyon adalah kota yang indah loh kalau malam hari dalam artian mereka all out banget dengan pencahayaan di gedung-gedung dan landmarks kotanya. Secara singkat, keren dah! Sayangnya baterai kameraku mati di sekitar waktu itu. Hari ini aku kira aku membawa satu baterai cadangan sehingga seharian aku santai aja dalam memakai kameraku; dan ternyata baterai cadangannya, yang memang aku bawa sih, juga sama-sama kosong dong, huahaha 😆 . Untungnya aku juga membawa power bank baruku  sih sehingga aku masih bisa sedikit menge-charge baterai kameraku selama beberapa menit. Jadi setidaknya untuk malam ini aman lah.

The Saone river and the Saint Georges Church in Lyon during the dusk
Sungai Saone dan Gereja Santo Georges di Lyon di saat senja.

Aku banyak berjalan loh malam ini, dan yang aku maksud dengan banyak itu ya banyak banget. Rencana awalnya adalah berjalan di sepanjang sisi sungai Saône sampai sungainya bertemu dengan sungai Rhône, kemudian berbelok dan berjalan di sepanjang sisi sungai Rhône. Tetapi kira-kira setengah jalan, ternyata jalannya sedang ditutup karena ada pekerjaan konstruksi. Ya udah deh aku berbelok dan langsung berjalan ke sisi sungai Rhône-nya saja. Sebenarnya di saat ini masih belum lapar-lapar banget sih tetapi aku kira mungkin ini sudah waktunya untuk mulai mencari-cari restoran deh. Hanya saja kok aku tidak menemukan apa-apa yang menarik ya. Ada banyak pizzeria sih, tetapi aku tidak datang jauh-jauh ke ibukota kulinernya Prancis untuk makan pizza kan; perjalanan akhir pekanku Februari nanti dah yang untuk itu 😛 . Tetapi kemudian aku tidak menemukan apa-apa dong; sampai aku melihat sebuah bangunan megah yang namanya Brasserie Georges. Aku lihat menunya apa dan tanpa ragu aku masuk deh karena dua alasan: mereka menawarkan menu tradisional Lyon yang ingin aku coba dan harganya oke banget, haha. Btw, saat ini mungkin sudah sekitar jam 18:45 ketika aku masuk di Brasserie Georges, yang mana artinya aku sudah berjalan-kaki non-stop selama sekitar tiga setengah jam! Nggak heran deh kakiku berteriak meminta istirahat! Haha.

Setelah melihat-lihat menunya lagi, aku galau apakah aku ingin memesan seporsi andouillette atau seporsi quenelle. Tetapi pada akhirnya aku memutuskan untuk memesan andouillette saja karena aku tidak terlalu lapr dan andoullitte kan, pada dasarnya, hanyalah sebuah sosis gitu (yang terbuat dari jeroan babi) sehingga porsinya nggak besar-besar amat lah. Ditambah lagi, aku boleh menukar mashed potatoes-nya (seharusnya masakan ini disajikan dengan mashed potatoes) dengan french fries. 😀 Andouillette-nya datang, dan rasanya enak juga. Untungnya rasa mustard di sausnya tidak terlalu keras sehingga aku masih bisa menikmatinya (aku tidak suka rasa mustard btw); walaupun pada akhirnya toh sausnya tidak bisa aku habiskan setelah sosisnya habis sih karena, yah, rasa mustard-nya itu yang masih terasa, haha.

A portion of andouillette
Seporsi andouillette

Setelah makan malam, aku menaiki tram untuk kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar (untungnya ada tram yang langsung ke arah hotel dah 😀 ). Aku memasuki kamarku, menyalakan TV, dan ternyata pertandingan semifinal ganda dari turnamen ATP World Tour Finals di London antara Bob dan Mike Bryan melawan Edouard Roger-Vasselin dan Julien Benneteau sedang dimainkan. Setelah beristirahat selama sekitar setengah jam, aku memutuskan untuk pergi lagi dan kembali ke kota tua. Malu dong ya ceritanya sama ranjang kamar hotel kok sudah ditiduri padahal baru jam 20:00 juga, huahaha 😆 .

Jadilah aku kembali ke kota tua lagi dan berjalan-jalan mengelilingi areanya sampai sekitar jam 22:30 dimana aku beneran merasa capek banget dan butuh beristirahat, haha. Kesanku akan kotanya adalah kotanya nggak “ramai-ramai” amat loh, setidaknya di luar ya, ketika malam Minggu. Maksudku, jelas sih kebanyakan orang ya pada berkumpul di bar atau restoran gitu, tetapi tidak di luar. Haha, ya iya lah ya, nggak mengherankan juga sih kalau dipikir-pikir. Anyway, lalu aku kembali ke kamar hotelku, menyalakan TV lagi, dan kali ini adalah giliran pertandingan semifinal antara Roger Federer dan Stan Wawrinka (sudah set kedua waktu itu). Ternyata pertandingan ini menjadi pertandingan yang seru dimana Federer menang di set ketiga.

The Notre Dame basilica of Lyon and the Palais De Justice
Basilika Notre Dame di Lyon dan Palais De Justice

Hari 2 (Minggu, 16 November 2014)

Aku bangun sekitar jam 09:00 pagi ini. Dan setelah mandi, aku mengepak barang-barangku (yang nggak banyak sih) dan langsung check-out (harga kamarku tidak termasuk breakfast; yang mana mending begini sih karena aku lebih suka breakfast di patisserie (toko roti) Prancis dong ya 😀 ). Karena aku masih memiliki waktu sekitar setengah hari untuk menjelajahi Lyon hari ini, jadilah aku menitipkan bagasiku di ruang penyimpanan barang di hotel karena jelas aku malas lah berkeliling kota sambil menggeret tas, haha 😆 .

In a patisserie in Lyon
Di sebuah patisserie di Lyon

Aku menaiki tram sampai kota tua lagi. Aku mampir di sebuah patisserie yang nampak amat menarik di jalan kesana dan membeli sebuah panini yang panjangnya kira-kira 30 cm untuk sarapan seharga €4.50. Aku menyebrangi sungai Rhône dan berjalan ke Place Antonin Poncet untuk duduk-duduk disana memakan paniniku. Pagi ini lumayan sejuk dingin loh udaranya dan angin dingin bertiup juga, tetapi aku lega deh karena yang penting nggak hujan, haha. Setelah menyelesaikan paniniku, aku foto-foto di Place Antonin Poncet itu dengan tulisan “Only Lyon”-nya (haha, permainan anagram yang pintar ya 😀 ). Lalu, aku berjalan ke stasiun Vieux Lyon dengan melewati Place Bellecour dengan lapangan merahnya.

Di Vieux Lyon,  aku menaiki funicular satunya, kali ini ke arah stasiun Saint Just. Tujuanku tidak lain dan tidak bukan adalah Théâtres Gallo-Romains; sehingga aku turun di stasiun Minimes yang berada tepat di tengah-tengah di antara Vieux Lyon dan Saint Just. Théâtres Gallo-Romains berlokasi di seberang jalan dari gerbang stasiun funicular-nya, jadi lokasinya mudah sekali dicapai. Biaya masuknya tidak ada loh, alias gratuit, alias gratis, alias nggak harus bayar buat masuk (Hore, suka banget deh kalau masuknya gratisan begini, huahaha 😆 ). Théâtres Gallo-Romains adalah bangunan kuno peninggalan kekaisaran Romawi dan dulu dibangun di tahun 15 SM (Sebelum Masehi). Wuih, berarti hari ini umurnya sudah lebih dari 2000 tahun dong ya! Tetapi bisa aku lihat bahwa struktur ini dirawat dengan baik loh.

At the Théâtres Gallo-Romains with the Mark Zuckerberg pose
Di Théâtres Gallo-Romains dengan pose Mark Zuckerberg

Kurang lebih 45 menit aku habiskan disana, tentu saja termasuk foto-foto juga dong ya, haha 😆 , dan salah satu favoritku dari perjalanan ini juga aku ambil disana, yang fotonya berada tepat di atas kalimat ini 😛 .

Sekitar jam 12 siang, aku meninggalkan lokasinya dan turun ke Vieux Lyon dengan funicular lagi. Karena sudah tengah hari, aku berencana untuk mencari tempat untuk makan siang deh. Ada dua restoran dengan satu bintang Michelin yang berada di daftarku yang ingin aku coba. Keduanya berlokasi tidak jauh dari hotelku yang mana artinya sekarang aku perlu kembali ke area di sekitar hotel deh. Jadilah di Vieux Lyon aku tidak keluar tetapi turun ke bawah tanah untuk menaiki kereta bawah tanahnya Lyon. Iya, kali pertama aku menaiki kereta bawah tanahnya Lyon nih, hehe.

Singkat cerita, tibalah aku di area di sekitar hotel dan aku langsung mencari dua restoran ini. Kedua-duanya yang mana pun tidak masalah sih untukku; jadi rencananya adalah, yang mana yang ketemu duluan, aku makan disitu aja, haha. Lalu, aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh. Kebanyakan tempat nampak tutup gitu dan daerah situ nampak lengang tidak begitu ramai. Rasanya seperti hari Minggu yang tenang di kota terbesar ketiga di negeri Prancis. Aneh, pikirku. Lalu, aku menemukan salah satu dari dua restoran di daftarku ini. Hanya saja, restorannya tutup. Sial. Mulai deh aku merasa gelisah di waktu ini. Aku mencari restoran yang satunya dan tidak berhasil kutemukan.

Mungkin sudah sekitar jam 13:00 di waktu ini jadilah aku memutuskan pokoknya sekarang mencari restoran aja lah, nggak harus yang berbintang Michelin. Rencanaku adalah, aku akan berjalan ke arah hotel; dan kalau di jalan tidak menemukan apa pun yang menarik, aku akan makan siang di restorannya hotel aja karena toh restorannya nampak lumayan menarik kok. Namun, bukan hanya aku tidak menemukan apa pun yang menarik, bahkan tidak ada sesuatu pun, dalam artian nggak ada satu pun, yang buka! WTF! Bahkan ya, supermarket pun tutup loh hari ini jadi pilihan membeli sandwich murah di supermarket pun tidak berlaku hari ini. Lalu, aku tiba di hotelku, dan ternyata restorannya tutup juga dong. Ah, yang bener aja ini!! 🙄

Oke, karena aku tahu aku harus makan sesuatu, pergilah aku kembali ke pusat kota dimana setidaknya disana masih ada denyut kehidupan dong ya. Tetapi, bahkan disana pun, hanya ada dua tipe restoran yang buka: McDonald’s atau kedai kebab. Ah, kedua pilihan sama sekali tidak ideal untukku karena alasan aku pergi ke Prancis kan karena ingin makan masakan Prancis, dan sekarang kok pilihannya dua ini. Tetapi aku harus realistis juga dong ya dimana aku kehabisan pilihan dan waktu. Sore ini aku harus kembali ke Belanda jadi kalau aku mau makan sesuatu, sekarang ini aku harus memilih satu di antara kedua ini. Yah, untukku, yang mendingan dari pilihan ini jelas kedai kebab lah ya, haha. Jadilah menu makanan yang terakhir aku makan di perjalanan akhir pekan kali ini adalah kebab dong, huahaha 😆 .

A portion of kebab of lunch, it was delicious though
Seporsi kebab untuk makan siang, yang mana sebenarnya rasanya enak sih.

Setelah menyelesaikan kebabku, aku kembali ke hotel. Aku duduk di sofa di lobby hotel untuk beristirahat (sekalian memanfaatkan wifi gratisannya juga 😛 ) karena kakiku ternyata masih kecapean setelah jalan kaki intens di akhir pekan ini, huahaha 😆 . Aku duduk-duduk disana sampai sekitar jam 15:00 dimana aku meninggalkan hotel dan pergi ke stasiun Part-Dieu untuk pergi ke bandara.

Hari ini, aku memilih untuk mencoba layanan tram ekspres, Rhônexpress, ke bandara. Tetapi, keempat mesin penjual tiketnya tiba-tiba rusak aja dong! Nah loh! Tetapi untungnya kita masih bisa membeli tiketnya di petugasnya di atas tram dimana dalam situasi biasa, ini akan dikenakan biaya servis tambahan sebesar €1. Tetapi karena kali ini mesinnya yang memang rusak, jadilah biaya tambahan ini tidak dikenakan. Layanan tram ekspresnya beneran ekspres loh. Aku tiba di bandara dalam waktu setengah jam saja. Ini mengikuti rute yang sama yaitu Lyon – Meyzieu – Bandara Saint Exupéry; tetapi dari Meyzieu ke Bandara, tramnya bergerak amat cepat! Kayaknya kecepatannya mencapai 80 km/jam atau 100 km/jam deh, jelas tram tercepat yang pernah aku naiki, haha 😆 .

The Rhônexpress, the fast tram service
Rhônexpress, layanan tram ekspress di Lyon

Ngomong-ngomong, hari ini, aku memutuskan untuk tidak memasukkan bagasi (supaya praktis aja karena aku malas harus menunggu bagasi lama banget di Schiphol). Dan aku sudah check-in online juga. Jadi aku merasa penasaran untuk mencoba sesuatu yang baru: terbang tanpa kertas!! Hahaha 😀 . Karena aku check-in online, KLM mengirimkan boarding pass elektronik ke emailku yang mana sudah aku unduh dan aku simpan di smartphone-ku. Karena aku tidak memasukkan bagasi, aku bisa langsung pergi ke gate-nya loh begitu tiba di bandara. Ketika proses boarding dimulai, petugasnya meng-scan layar smartphone-ku gitu deh dengan barcode di boarding pass elektroniknya. Keren dah!!

Btw, sekitar jam 17:05, sebuah Embraer ERJ190 milik KLM Cityhopper dengan kode registrasi PH-EZL mendarat di lyon. Jam 17:20, proses naik pesawat dimulai. Seperti biasa, prosesnya berlangsung efisien sehingga jam 17:45, penerbangan KL1416 berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 18R menuju Bandara Schiphol.

The city of Lyon in the evening
Kota Lyon di malam hari

Penerbangan ini adalah penerbangan biasa saja dengan KLM. Walaupun aku mengamati ada yang sedikit berbeda dari layanannya sih. Mungkin karena penerbangannya terbang di waktu makan malam, mereka tidak memberikan pilihan snack asin atau manis, tetapi yang ditawarkan adalah sandwich loh; yang mana rasanya enaaak!! Lalu, jam 19:00, penerbangan kami mendarat di landasan pacu 18R Bandara Schiphol di Amsterdam. Berikut ini video pendaratannya:

Kami parkir di gerbang B dan langsung deh aku pergi ke stasiun kereta dimana aku ketinggalan kereta karena terlambat, dalam artian sebenarnya, LIMA DETIK dong (sial). Ya udah deh aku harus menunggu kereta berikutnya untuk kembali ke Delft (via Leiden) 15 menit kemudian, haha. Dan disinilah perjalanan akhir pekanku ke ibukota kuliner di Prancis, Lyon, di bulan November ini resmi berakhir.

SELESAI.