#1619 – 2015 US Open

ENGLISH

It is that time of the year again. The fourth grandslam tournament of the year was concluded on Sunday, and here is a short review.

Women’s Singles

The difference between Serena Slam 1.0 and Serena Slam 2.0 was that in Serena Slam 2.0, Serena Williams’ fourth consecutive grandslam singles title was Wimbledon (where I was part of the final that time :mrgreen: ). This meant that this year, Serena got a chance to achieve something she had never done before, something which had not been done since 1988 by Steffi Graf: winning all four grandslam tournaments in the same year. And the last grandslam being the US Open, which Serena won in the last three years of the tournament, the odd looked good for her. And of course naturally all eyes were, again, on her.

Serena reached the semifinals, not without any trouble though where she overcame inspired Bethanie Mattek-Sands in the third round and had to play her best against her sister, Venus Williams, in the quarterfinals (which was a super good quality match). In the semifinals, she was facing someone who appeared to be extremely lucky to be there, the world no.43, Roberta Vinci from Italy. Serena was the huge favorite. Serena was, well, Serena. And it was Vinci’s first ever semifinals in a grandslam. Vinci had never beaten Serena before with Serena won their last encounter just four weeks prior. The odd for Vinci to beat Serena was 1:300.

But well, the beauty about sport is that the two players still have to play against each other. And they start from scratch in the match. And 1:300 is not zero. Guess what? Roberta Vinci ended Serena Williams’ 33 matches winning streak at the grandslams, beating the world no.1 2–6, 6–4, 6–4 (Lucky I did not watch that match though, I would have been so devastated, haha 😆 )!! Yeah, this shows that anything is possible, and that if you keep on trying, you will succeed.

Meanwhile in the other half of the draw, another Italian player scratched her way up to the finish line. Flavia Pennetta played her best tennis to beat the current world no.2, Simona Halep, 6–1, 6–3 in the semifinals. It was not completely a surprise to see Pennetta doing well here though. She has historically performed good at the US Open, and she loves American hard court tournaments.

In the all-Italian final, the 26th seeded Pennetta was clearly the favorite. Even though she did not play her best, her level was still enough to beat the still-tired Vinci. Pennetta won 7–6(4), 6–2 for her first ever grandslam title. During her trophy ceremony, she delivered a surprising news where she announced her retirement from tennis this season. This season is Pennetta’s last season and she will not defend her US Open title next year.

Yeah, I totally understand her decision. It is good to leave the sport while you are on top!!

Men’s Singles

One big story from this year’s men’s singles tournament was Rafael Nadal’s early exit in the third round, meaning that for the first time since 2004, he does not win any grandslam title in a year. While a lot of people scrutinized this fact, as Rafa said, we should look it the other way around, that for ten years since 2005 until 2014, Rafael Nadal had won at least one grandslam title every year. That is some achievement!!

Nevertheless, unsurprisingly, the top two seeds, Novak Djokovic and Roger Federer, reached the final. It was Djokovic’s fourth grandslam final this year and Federer’s first non-Wimbledon grandslam final since June 2011! In the end, Novak Djokovic, who is the in-form player of 2015, won in four sets, 6–4, 5–7, 6–4, 6–4 for his tenth grandslam title.

Flavia Pennetta won her maiden grandslam title at the 2015 US Open.Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America

Flavia Pennetta won her maiden and only grandslam singles title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America

Novak Djokovic won his 10th grandslam title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America

Novak Djokovic won his 10th grandslam singles title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America

BAHASA INDONESIA

Ya, tanggal-tanggal segini lagi. Turnamen grandslam keempat tahun ini berakhir hari Minggu lalu, dan berikut ini sebuah review mininya.

Tunggal Putri

Perbedaan dari Serena Slam 1.0 dan Serena Slam 2.0 adalah gelar grandslam keempat berturutannya Serena Williams di Serena Slam 2.0 adalah Wimbledon (yang mana aku adalah bagian dari penontonnya loh waktu itu :mrgreen: ). Yang mana artinya tahun ini, Serena memiliki kesempatan untuk mencapai suatu pencapaian yang belum pernah ia raih sebelumnya, sesuatu yang belum pernah diraih siapa pun semenjak tahun 1988 oleh Steffi Graf: memenangi keempat turnamen grandslam dalam tahun yang sama. Dan karena grandslam yang terakhir adalah US Open, sebuah grandslam yang Serena selalu menangi tiga tahun belakangan ini, pencapaian ini nampak sebagai pencapaian yang amat mungkin. Tetapi jelas akibatnya semua mata jadi tertuju padanya.

Serena mencapai babak semifinal, bukannya tanpa masalah sih dimana ia harus mengatasi Bethanie Mattek-Sands yang bermain bagus di babak ketiga dan harus bermain dengan prima melawan kakaknya sendiri, Venus Williams, di perempat-final (yang mana pertandingannya berkualitas super tinggi lho). Di semifinal, ia menghadapi seorang pemain yang nampak super beruntung bisa berada disana, petenis peringkat 43 dunia, Roberta Vinci dari Italia. Serena jelas adalah favorit untuk menang. Serena itu, yah, Serena. Dan ini adalah semifinal pertamanya Vinci di sebuah grandslam. Vinci belum pernah mengalahkan Serena sebelumnya dan pertemuan terakhir mereka hanyalah empat minggu sebelumnya. Di bursa taruhan, peluang Vinci menang adalah 1:300.

Tetapi, keindahan olahraga adalah kedua pemain tetap harus bertanding. Mereka harus memulai pertandingan dari nol. Dan 1:300 juga bukanlah nol. Dan apa yang terjadi? Roberta Vinci mengakhiri kemenangan beruntung 33 kalinya Serena Williams di grandslam, mengalahkan petenis peringkat 1 dunia itu 2–6, 6–4, 6–4 (Untungnya aku nggak nonton pertandingan ini, bisa depresi aku kalau nonton, haha 😆 )!! Ini menunjukkan bahwa apa pun itu mungkin, dan kalau kita terus berusaha, kita juga bisa berhasil.

Sementara itu di sisi lain undian, pemain Italia lainnya juga berjuang keras mencapai garis finish. Flavia Pennetta memainkan tenis terbaiknya untuk mengalahkan petenis peringkat 2 dunia, Simona Halep, 6–1, 6–3 di semifinal. Nggak heran sih melihat Pennetta berprestasi baik begini. Dari sejarahnya juga ia selalu bermain baik di US Open, dan ia juga menyukai turnamen lapangan keras di Amerika.

Di final yang sesama pemain Italia, Pennetta yang diunggulkan di tempat ke-26 adalah yang difavoritkan menang. Walaupun ia tidak bermain dengan yang terbaik, levelnya toh masih cukup untuk mengalahkan Vinci yang masih kelelahan. Pennetta menang 7–6(4), 6–2 untuk gelar grandslam pertamanya. Ketika mendapatkan pialanya btw, ia membagikan sebuah berita yang mengejutkan dimana ia mengumumkan bahwa ia akan pensiun dari tenis musim ini. Ini adalah musim terakhirnya Pennetta dan tahun depan ia tidak akan mempertahankan gelar US Opennya.

Ya, aku mengerti keputusannya. Memang keren ya pensiun ketika sedang berada di puncak!!

Tunggal Putra

Satu cerita besar dari turnamen tunggal putra tahun ini adalah kekalahannya Rafael Nadal di babak ketiga. Ini artinya bahwa untuk pertama kalinya semenjak tahun 2004, ia tidak memenangi satu grandslam pun dalam suatu tahun. Banyak orang yang mencecarnya dengan fakta ini, tetapi seperti yang dibilang Rafa, sebaiknya kita melihatnya dari sisi lain, dimana artinya selama sepuluh tahun dari tahun 2005 sampai 2014, Rafael Nadal selalu memenangi setidaknya satu gelar grandslam. Itu kan keren ya!!

Kembali ke topik, tidak mengejutkan, dua unggulan teratas, Novak Djokovic dan Roger Federer, mencapai babak final. Ini adalah final grandslam keempatnya Djokovic tahun ini dan final grandslam pertamanya Federer bukan di Wimbledon semenjak bulan Juni 2011! Pada akhirnya, Novak Djokovic, pemain yang memang sedang in-form banget tahun 2015 ini, menang dalam empat set, 6–4, 5–7, 6–4, 6–4 untuk gelar grandslam kesepuluhnya.

#1587 – 2015 Wimbledon Championships

ENGLISH

Earlier today, the third grandslam tournament of the year, the 2015 Wimbledon Championships, was concluded. As usual, here is a short review about it.

Ladies’ Singles

Prior to the tournament, all eyes were on Serena Williams. After winning the singles titles of the 2014 US Open, 2015 Australian Open, and 2015 French Open, she had an opportunity to complete what was called a “Serena Slam 2.0”. This means winning four consecutive grandslam tournaments but not in the same calendar year. And “2.0” means it would be the second time that Serena would have done it. She first did it 12.5 years ago (yes, twelve and a half YEARS ago) in 2002/2003 when she won the 2002 French Open, 2002 Wimbledon, 2002 US Open, and 2003 Australian Open. Btw, in those four finals in 2002/2003, she beat Venus Williams in all of them.

Talking about the pressure of creating history, eh?

When the draw came out, I felt a bit sad because the 16th seed, Venus Williams, was put on the same bracket as Serena, meaning they could potentially meet in the Round of 16 (fourth round); which they did. Nevertheless, Serena was able to overcome her packed half to reach another final. She beat local favorite, Heather Watson, in the third round, Venus Williams in the fourth round, Victoria Azarenka in the quarterfinals, and Maria Sharapova in the semifinals. Meanwhile the other half of the draw fell apart, leaving a widely open path to the final. Garbine Muguruza, the 20th seed, advanced to her first ever grandslam final.

The final went quite dramatic where Serena started nervous and immediately fell behind. She fought back though, clawed her way back in, won the first set, and led 5–1 in the second. Then she got nervous again and Muguruza clawed back. But the lead was already too wide that it was too late for Muguruza’s final fight. Serena won the match, her 6th Wimbledon singles title, her 21st grandslam singles title, and her second Serena Slam.

Wow!!

That is legendary stuff from a legendary tennis player!! Congratulations Serena Williams!!

Gentlemen’s Singles

Same old, same old story with the men’s side where it is a bit difficult to see someone outside of the Big Four to lift the trophy in the end (except that probably Rafael Nadal was a little bit out of the question this year while Stan Wawrinka was a little bit more).

One of the biggest stories was probably Rafael Nadal’s four consecutive early loss at Wimbledon to someone ranked with three-digits. In 2012, he lost in the second round to the 100th ranked Lukas Rosol; in 2013 he lost in the first round to the 135th ranked Steve Darcis; and in 2014 he lost in the fourth round to the 144th ranked Nick Kyrgios. This year, he lost in the second round to the 102th ranked Dustin Brown.

Anyway, in the end Novak Djokovic and Roger Federer made the final, thus repeating the final from last year. The match went tight especially in the first two set. In the third and fourth set, Djokovic was able to gain some advantage so he could close it out in four sets, defending his title and winning his third Wimbledon title.

Congratulations Nole!!

Serena Williams completed her 2nd Serena Slam with her 6th Wimbledon title. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images Europe

Serena Williams completed her 2nd Serena Slam with her 6th Wimbledon title. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images Europe

Novak Djokovic won his 9th grandslam title with his 3rd Wimbledon triumph. Photo credit:  Julian Finney/Getty Images Europe

Novak Djokovic won his 9th grandslam title with his 3rd Wimbledon triumph this year. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Hari ini, turnamen grandslam ketiga tahun ini, Kejuaraan Wimbledon 2015, berakhir. Seperti biasa, berikut ini review-ku akan turnamen ini.

Tunggal Putri

Semua mata tertuju pada Serena Williams. Setelah menjuarai gelar tunggal putri di 2014 US Open, 2015 Australian Open, dan 2015 French Open, ia memiliki sebuah kesempatan unik untuk melengkapi apa yang disebut sebagai “Serena Slam 2.0”. Ini artinya adalah memenangi keempat turnamen grandslam berturutan tetapi tidak di tahun kalender yan sama. Dan “2.0” artinya ini akan menjadi kali kedua Serena melakukannya. Pertama kali ia sukses melakukan ini 12,5 tahun yang lalu (iya, dua belas setengah TAHUN yang lalu) di tahun 2002/2003 dimana ia menjuarai 2002 French Open, 2002 Wimbledon, 2002 US Open, dan 2003 Austalian Open. Btw, di keempat final itu di tahun 2002/2003, di semuanya ia harus melawan Venus Williams loh.

Ngomongin tentang tekanan untuk membuat sejarah bukan?

Ketika hasil undiannya keluar, aku merasa sedikit sedih bahwa unggulan ke-16, Venus Williams, berada di bracket yang sama dengan Serena, artinya mereka bisa bertemu di babak 16 besar (babak keempat), yang mana mereka beneran bertemu. Walaupun begitu, Serena mampu mengatasi undian yang sangat berat untuknya dimana ia akhirnya mencapai babak fial. Ia harus mengalahkan petenis lokal yang banyak didukung penonton, Heather Watson, di babak ketiga, Venus Williams di babak keempat, Victoria Azarenka di babak perempat final, dan Maria Sharapova di babak semifinal. Sementara itu, di setengah undian yang lain, undiannya kacau balau, dimana sisi ini adalah sisi yang amat terbuka bagi siapa pun untuk lolos ke final. Dari sisi ini, Garbine Muguruza, unggulan ke-20, berhasil masuk ke final grandslam pertamanya.

Finalnya berlangsung cukup dramatis dimana Serena memulainya dengan gugup sehingga ia langsung tertinggal. Ia kemudian melawan balik, berjuang keras, memenangi set pertama, dan unggul 5–1 di babak kedua. Ia lalu grogi lagi dan Muguruza berjuang balik. Tetapi Muguruza sudah tertinggal terlalu banyak sehingga perjuangannya sedikit terlambat. Serena memenangi pertandingannya, gelar tunggal Wimbledon ke-6nya, gelar tunggal grandslam ke-21nya, dan Serena Slam keduanya.

Wow!!

Ini adalah sebuah pencapaian legendaris dari seorang petenis legendaris!! Selamat Serena Williams!!

Tunggal Putra

Cerita untuk sisi putra masih cerita lama yang diulang-ulang terus: sulit melihat seseorang di luar Big Four untuk mengangkat tropinya di akhir turnamen (kecuali mungkin Rafael Nadal agak cenderung kurang difavoritkan tahun ini sementara Stan Wawrinka sedikit lebih difavoritkan).

Satu cerita terbesar tahun ini mungkin adalah kekalahannya Rafael Nadal di babak-babak awal empat kali berturutan di Wimbledon dari seseorang yang berperingkat tiga digit. Di tahun 2012, ia kalah dari Lukas Rosol di babak kedua yang berperingkat 100; di tahun 2013 ia kalah dari Steve Darcis di babak pertama yang berperingkat 135; dan di tahun 2014 ia kalah dari Nick Kyrgios di babak keempat yang berperingkat 144. Tahun ini, ia kalah di babak kedua dari Dustin Brown yang berperingkat 102.

Anyway, pada akhirnya Novak Djokovic dan Roger Federer masuk ke final, mengulangi final tahun lalu. Pertandingan berlangsung ketat terutama di dua set pertama. Di set ketiga dan keempat, Djokovic berhasil mendapatkan keuntungan sehingga ia bisa mengakhiri semuanya dalam empat set, mempertahankan gelarnya, dan memenangi gelar Wimbledon ketiganya.

Selamat Nole!!

#1482 – A Weekend Trip to the Capital of French Gastronomy (Part II)

ENGLISH

Previously on A Weekend Trip to the Capital of French Gastronomy: Zilko went to the capital city of French gastronomy, Lyon, for a weekend trip in mid-November. After spending one afternoon in Lyon, he was now ready to continue his exploration of the city.

Day 1 (Saturday, 15 November 2014) ~ continued

It was still around 17:45 when I left Vieux Lyon station in the old town. I was still quite full from my late lunch today so I was still not in the mood to look for some restaurants. So I decided to just walk around the city centre again, by walking on the side of the Saône river and then the Rhône river, at least this was the original plan.

Lyon was a beautiful city also in the evening since they went quite all out in lighting their buildings and landmarks. In short, they looked amazing! Too bad my camera’s battery gave up on me at around this time. I thought I brought a back up so I did not worry about splurging its power for the entire day; but it turned out the back up, which I indeed brought, was also empty, haha 😆 . But lucky I also had my power bank with me so I could charge my camera’s battery for a few minutes; so at least it could last for the evening.

The Saone river and the Saint Georges Church in Lyon during the dusk

The Saone river and the Saint Georges Church in Lyon during the dusk

I walked a lot this evening, like really a lot. My original plan was to walk on the side of the Saône river until the river met the Rhône river, and then turned to walk on the side of the Rhône river. But about approximately halfway, the street was closed down due to some construction work. Ok, so I just turned and walked straight to the Rhône river side. I was still not that hungry at this point but I felt like maybe it was better to start looking for a restaurant. I did not find anything particularly interesting. There were a lot of pizzeria, but I did not come to the capital of French gastronomy to eat some pizza, obviously; I have my February weekend trip for that 😛 . But then I found nothing; until I saw a pretentious building named Brasserie Georges. I saw the menu and I immediately chose this restaurant for two reasons: it offered a traditional Lyonese menu which I wanted to try and the price was good too, haha. Btw, it was probably around 18:45 when I arrived at Brasserie Georges, which meant I had been constantly walking for like three and a half hours (almost) non-stop! No wonder my legs were begging for some rest! Haha.

After looking at the menu again, I was torn between two choices: an andouillette or a quenelle. But in the end I decided to go with the andouillette since I was not that hungry and an andouillette was, basically, a sausage (made from pork tripes) so it wasn’t that big of a meal. Plus, I was able to request to change the mashed potatoes, which was supposed to come with the dish, with french fries. 😀 The andouillette came, and it was pretty good. Luckily to me the sauce was not too mustardy so I still could enjoy it (I don’t like mustard); even though in the end I could not finish the sauce after I finished the sausage because of, well, the mustard, haha.

A portion of andouillette

A portion of andouillette

After dinner, I took the tram to go back to my hotel for some rest (lucky there was a direct tram 😀 ). I entered at my hotel room, turned on the TV, and saw the second set of the doubles match semifinals of the ATP World Tour Finals in London between Bob and Mike Bryan vs Edouard Roger-Vasselin and Julien Benneteau. After about half an hour, however, I decided to leave and go back to the old town since, well, why would I just stay in the hotel in my only night in Lyon? 😛 . Even probably my room judged me if I did.

So I went to the old town again and walked around the area until around 22:30 when I really felt tired and wanted to rest, haha. My impression was that the city was not that “alive”, at least outside, in the evening. I mean, obviously people flocked in bars or restaurants or stuffs like that, but not outside. But now that I think about it, it was probably not that surprising. Anyway, after coming back at my hotel room, I turned my TV on again and now it was the time for the singles semifinals between Roger Federer and Stan Wawrinka (it was already the second set). It turned out to be quite an exciting match with Federer ended up winning in the third set.

The Notre Dame basilica of Lyon and the Palais De Justice

The Notre Dame basilica of Lyon and the Palais De Justice

Day 2 (Sunday, 16 November 2014)

I got up at around 09:00 this morning. And after taking a shower, I packed my stuffs (which was not that much) and checked out (my room rate did not include breakfast; which I liked anyway since I preferred to have breakfast at a French patisserie 😀 ). I still had about half a day to explore Lyon today so I left my luggage in the hotel’s concierge room as obviously I did not feel like carrying it around the city, haha 😆 .

In a patisserie in Lyon

In a patisserie in Lyon

I took the tram to somewhere quite close to the old town. I stopped by at a nice patisserie on my way there for a 30 cm panini as my breakfast for €4.50. I crossed the Rhône river and walked to the Place Antonin Poncet to sit there to have my panini. It was quite a chilly morning with breezy air, but I was just glad that it was not raining. After I finished my panini, I took some photos at the Place Antonin Poncet with the “Only Lyon” sign (well, a nice anagram play there I must say 😀 ). Then, I walked to the Vieux Lyon station passing the Place Bellecour with its red square.

At Vieux Lyon, I took the other funicular ride, this time heading to Saint Just station. My destination was none other than The Théâtres Gallo-Romains; so I got off at the Minimes station; the midpoint between Vieux Lyon and Saint Just. The Théâtres Gallo-Romains was basically just across the street from the gate of the funicular station, so the location was very convenient. The entrance fee to the site was none, aka gratuit, aka gratis, aka we did not have to pay anything (Yay! I love it!). The Théâtres Gallo-Romains was a Roman ancient site which was constructed in the year of 15 BC (Wow so that meant the site was already over 2000 years old today!); but I could tell that this site was maintained properly.

At the Théâtres Gallo-Romains with the Mark Zuckerberg pose

At the Théâtres Gallo-Romains with the Mark Zuckerberg pose

I spent about 45 minutes in the site, which obviously included taking a lot of pictures, haha 😆 , including one of my favorite pictures from this trip, which is just above this sentence 😛 .

At around noon, I left the site and went back down to Vieux Lyon with the funicular. Since it was noon already, I planned to look for something to eat. I had two one-Michelin-star restaurants in my list which I was also interested in going to. Both were located not so far away from my hotel so this meant I needed to get back to the area of my hotel. So at Vieux Lyon, I did not go out but instead went to the underground to take the metro. Yes, the first time ever I actually rode a metro in Lyon, haha.

Long story short, I arrived at my hotel area and then looked for the two restaurants. I did not have any preference on the two of them; so the plan was, the first one which I saw, that was the one I was going to try today. Then I started to notice something strange. A lot of things appeared to be closed and the neighborhood certainly did not look busy at all. It was more like a tranquil Sunday in the third biggest city in France. Strange, I thought. Then, I found one of the two restaurants in my list. Only to find that it was actually closed. Damn. I started to feel uneasy at this point. So I was looking for the other restaurant in my list, but somehow I could not find it.

It was probably around 13:00 so at this point I was just looking for a restaurant to have lunch. My plan was, I was going to walk back towards my hotel; if I found nothing interesting, then I would just have my lunch at the hotel’s restaurant which actually looked rather nice. However, not only I did not find anything interesting, it was because nothing, like really nothing, was open today! WTF! Even the supermarket was closed so the option of buying cheap sandwich at the supermarket was non-existent. Then I arrived at my hotel, only to find out that their restaurant was not open too. I mean, really?? 🙄

Okay, but I knew I needed to eat something. So I took the tram to go back to the city centre where, at least, there was some life there. But even there, I could only find two types of restaurants which were open: McDonald’s or kebab shops. Both choices were very not ideal for me since one reason I chose France was for the French food, and now I was presented with these two options. But I did not have any option and time anymore. This afternoon I had to go back to the Netherlands so if I wanted to eat something, at the moment the choices were only these two. Well, to me, the lesser of the devil between these two were obviously the kebabs, so I had kebab for my last meal on this weekend trip 😆 .

A portion of kebab of lunch, it was delicious though

A portion of kebab of lunch, it was delicious though.

After finishing my kebab, I went back to my hotel. I sat at one of the sofa in the lobby for some rest (and for their free wifi too 😛 ) as my legs were still begging for some rest after apparently an intense weekend with a lot of walking, lol 😆 . I stayed there until around 15:00 when I left the hotel and walked to Part-Dieu station to go to the airport.

Today, I chose to go with the express tram, the Rhônexpress, to the airport. But then, all four ticket vending machines for the tram broke down! Damn! But then, luckily we still could buy the ticket on board from the officer where normally this would cost an extra €1 of service fee. But this time, since it was because none of the machine worked, they didn’t charge this €1 fee, haha. The express tram was, indeed, express btw. It reached the airport in just 30 minutes. It followed the same route of Lyon – Meyzieu – Saint Exupéry Airport; but from Meyzieu to the airport, the tram moved so fast! I think it was at around 80 km/h or 100 km/h, definitely the fastest tram ride I have ever been on, haha 😆 .

The Rhônexpress, the fast tram service

The Rhônexpress, the fast tram service

Anyway, today, I decided not to check any luggage in (for practicality reason so I would not have to waste time at Schiphol waiting for my luggage). And I have checked in online too. So I felt like trying something new: flying paperless!! Hahaha 😀 . Since I already checked-in online, KLM sent me an electronic boarding pass to my email which I had downloaded to my smartphone. Because I did not have any check in luggage, I could literally go directly to the gate once arriving at the airport. When boarding commenced, they scanned the screen of my phone for the barcode in the e-boarding pass which they sent. It was super cool!!

Btw, at around 17:05, a KLM Cityhopper Embraer ERJ190 reg PH-EZL landed at Lyon. At 17:20, the boarding process started. As usual, it was an efficient process and at 17:45, our KL1416 flight departed. We took off from runway 18R for our 90 minutes to Schiphol Airport.

The city of Lyon in the evening

The city of Lyon in the evening

It was another normal flight with KLM. Even though I noticed a little bit difference in their service. Probably because it was a flight during dining time, instead of the usual savoury or sweet snack, they offered a sandwich instead; which was really delicious!! Anyway, at 19:00, our flight landed at runway 18R of Schiphol Airport in Amsterdam. Here is the landing video:

We parked at gate B and I immediately went to the train station where I literally missed my train by 5 seconds (damn). So I had to wait for the next train to Delft (via Leiden) 15 minutes later, haha. Anyway, here, my weekend trip to the French capital of gastronomy this November came to an end.

THE END.

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam A Weekend Trip to the Capital of French Gastronomy: Zilko pergi ke ibukota kulinernya Prancis, Lyon, untuk sebuah perjalanan akhir pekan di pertengahan bulan November. Setelah menghabiskan satu siang di Lyon, kini ia siap untuk menjelajah kotanya lebih dalam lagi.

Hari 1 (Sabtu, 15 November 2014) ~ lanjutan

Masih sekitar jam 17:45 ketika aku meninggalkan Vieux Lyon di kota tua. Karena masih merasa kenyang dari makan siangku hari ini, aku masih belum terlalu berniat untuk makan malam. Jadilah aku memutuskan untuk berjalan mengelilingi pusat kotanya lagi, dengan berjalan di tepian sungai Saône dan kemudian sungai Rhône, setidaknya ini rencana awalnya.

Lyon adalah kota yang indah loh kalau malam hari dalam artian mereka all out banget dengan pencahayaan di gedung-gedung dan landmarks kotanya. Secara singkat, keren dah! Sayangnya baterai kameraku mati di sekitar waktu itu. Hari ini aku kira aku membawa satu baterai cadangan sehingga seharian aku santai aja dalam memakai kameraku; dan ternyata baterai cadangannya, yang memang aku bawa sih, juga sama-sama kosong dong, huahaha 😆 . Untungnya aku juga membawa power bank baruku  sih sehingga aku masih bisa sedikit menge-charge baterai kameraku selama beberapa menit. Jadi setidaknya untuk malam ini aman lah.

The Saone river and the Saint Georges Church in Lyon during the dusk

Sungai Saone dan Gereja Santo Georges di Lyon di saat senja.

Aku banyak berjalan loh malam ini, dan yang aku maksud dengan banyak itu ya banyak banget. Rencana awalnya adalah berjalan di sepanjang sisi sungai Saône sampai sungainya bertemu dengan sungai Rhône, kemudian berbelok dan berjalan di sepanjang sisi sungai Rhône. Tetapi kira-kira setengah jalan, ternyata jalannya sedang ditutup karena ada pekerjaan konstruksi. Ya udah deh aku berbelok dan langsung berjalan ke sisi sungai Rhône-nya saja. Sebenarnya di saat ini masih belum lapar-lapar banget sih tetapi aku kira mungkin ini sudah waktunya untuk mulai mencari-cari restoran deh. Hanya saja kok aku tidak menemukan apa-apa yang menarik ya. Ada banyak pizzeria sih, tetapi aku tidak datang jauh-jauh ke ibukota kulinernya Prancis untuk makan pizza kan; perjalanan akhir pekanku Februari nanti dah yang untuk itu 😛 . Tetapi kemudian aku tidak menemukan apa-apa dong; sampai aku melihat sebuah bangunan megah yang namanya Brasserie Georges. Aku lihat menunya apa dan tanpa ragu aku masuk deh karena dua alasan: mereka menawarkan menu tradisional Lyon yang ingin aku coba dan harganya oke banget, haha. Btw, saat ini mungkin sudah sekitar jam 18:45 ketika aku masuk di Brasserie Georges, yang mana artinya aku sudah berjalan-kaki non-stop selama sekitar tiga setengah jam! Nggak heran deh kakiku berteriak meminta istirahat! Haha.

Setelah melihat-lihat menunya lagi, aku galau apakah aku ingin memesan seporsi andouillette atau seporsi quenelle. Tetapi pada akhirnya aku memutuskan untuk memesan andouillette saja karena aku tidak terlalu lapr dan andoullitte kan, pada dasarnya, hanyalah sebuah sosis gitu (yang terbuat dari jeroan babi) sehingga porsinya nggak besar-besar amat lah. Ditambah lagi, aku boleh menukar mashed potatoes-nya (seharusnya masakan ini disajikan dengan mashed potatoes) dengan french fries. 😀 Andouillette-nya datang, dan rasanya enak juga. Untungnya rasa mustard di sausnya tidak terlalu keras sehingga aku masih bisa menikmatinya (aku tidak suka rasa mustard btw); walaupun pada akhirnya toh sausnya tidak bisa aku habiskan setelah sosisnya habis sih karena, yah, rasa mustard-nya itu yang masih terasa, haha.

A portion of andouillette

Seporsi andouillette

Setelah makan malam, aku menaiki tram untuk kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar (untungnya ada tram yang langsung ke arah hotel dah 😀 ). Aku memasuki kamarku, menyalakan TV, dan ternyata pertandingan semifinal ganda dari turnamen ATP World Tour Finals di London antara Bob dan Mike Bryan melawan Edouard Roger-Vasselin dan Julien Benneteau sedang dimainkan. Setelah beristirahat selama sekitar setengah jam, aku memutuskan untuk pergi lagi dan kembali ke kota tua. Malu dong ya ceritanya sama ranjang kamar hotel kok sudah ditiduri padahal baru jam 20:00 juga, huahaha 😆 .

Jadilah aku kembali ke kota tua lagi dan berjalan-jalan mengelilingi areanya sampai sekitar jam 22:30 dimana aku beneran merasa capek banget dan butuh beristirahat, haha. Kesanku akan kotanya adalah kotanya nggak “ramai-ramai” amat loh, setidaknya di luar ya, ketika malam Minggu. Maksudku, jelas sih kebanyakan orang ya pada berkumpul di bar atau restoran gitu, tetapi tidak di luar. Haha, ya iya lah ya, nggak mengherankan juga sih kalau dipikir-pikir. Anyway, lalu aku kembali ke kamar hotelku, menyalakan TV lagi, dan kali ini adalah giliran pertandingan semifinal antara Roger Federer dan Stan Wawrinka (sudah set kedua waktu itu). Ternyata pertandingan ini menjadi pertandingan yang seru dimana Federer menang di set ketiga.

The Notre Dame basilica of Lyon and the Palais De Justice

Basilika Notre Dame di Lyon dan Palais De Justice

Hari 2 (Minggu, 16 November 2014)

Aku bangun sekitar jam 09:00 pagi ini. Dan setelah mandi, aku mengepak barang-barangku (yang nggak banyak sih) dan langsung check-out (harga kamarku tidak termasuk breakfast; yang mana mending begini sih karena aku lebih suka breakfast di patisserie (toko roti) Prancis dong ya 😀 ). Karena aku masih memiliki waktu sekitar setengah hari untuk menjelajahi Lyon hari ini, jadilah aku menitipkan bagasiku di ruang penyimpanan barang di hotel karena jelas aku malas lah berkeliling kota sambil menggeret tas, haha 😆 .

In a patisserie in Lyon

Di sebuah patisserie di Lyon

Aku menaiki tram sampai kota tua lagi. Aku mampir di sebuah patisserie yang nampak amat menarik di jalan kesana dan membeli sebuah panini yang panjangnya kira-kira 30 cm untuk sarapan seharga €4.50. Aku menyebrangi sungai Rhône dan berjalan ke Place Antonin Poncet untuk duduk-duduk disana memakan paniniku. Pagi ini lumayan sejuk dingin loh udaranya dan angin dingin bertiup juga, tetapi aku lega deh karena yang penting nggak hujan, haha. Setelah menyelesaikan paniniku, aku foto-foto di Place Antonin Poncet itu dengan tulisan “Only Lyon”-nya (haha, permainan anagram yang pintar ya 😀 ). Lalu, aku berjalan ke stasiun Vieux Lyon dengan melewati Place Bellecour dengan lapangan merahnya.

Di Vieux Lyon,  aku menaiki funicular satunya, kali ini ke arah stasiun Saint Just. Tujuanku tidak lain dan tidak bukan adalah Théâtres Gallo-Romains; sehingga aku turun di stasiun Minimes yang berada tepat di tengah-tengah di antara Vieux Lyon dan Saint Just. Théâtres Gallo-Romains berlokasi di seberang jalan dari gerbang stasiun funicular-nya, jadi lokasinya mudah sekali dicapai. Biaya masuknya tidak ada loh, alias gratuit, alias gratis, alias nggak harus bayar buat masuk (Hore, suka banget deh kalau masuknya gratisan begini, huahaha 😆 ). Théâtres Gallo-Romains adalah bangunan kuno peninggalan kekaisaran Romawi dan dulu dibangun di tahun 15 SM (Sebelum Masehi). Wuih, berarti hari ini umurnya sudah lebih dari 2000 tahun dong ya! Tetapi bisa aku lihat bahwa struktur ini dirawat dengan baik loh.

At the Théâtres Gallo-Romains with the Mark Zuckerberg pose

Di Théâtres Gallo-Romains dengan pose Mark Zuckerberg

Kurang lebih 45 menit aku habiskan disana, tentu saja termasuk foto-foto juga dong ya, haha 😆 , dan salah satu favoritku dari perjalanan ini juga aku ambil disana, yang fotonya berada tepat di atas kalimat ini 😛 .

Sekitar jam 12 siang, aku meninggalkan lokasinya dan turun ke Vieux Lyon dengan funicular lagi. Karena sudah tengah hari, aku berencana untuk mencari tempat untuk makan siang deh. Ada dua restoran dengan satu bintang Michelin yang berada di daftarku yang ingin aku coba. Keduanya berlokasi tidak jauh dari hotelku yang mana artinya sekarang aku perlu kembali ke area di sekitar hotel deh. Jadilah di Vieux Lyon aku tidak keluar tetapi turun ke bawah tanah untuk menaiki kereta bawah tanahnya Lyon. Iya, kali pertama aku menaiki kereta bawah tanahnya Lyon nih, hehe.

Singkat cerita, tibalah aku di area di sekitar hotel dan aku langsung mencari dua restoran ini. Kedua-duanya yang mana pun tidak masalah sih untukku; jadi rencananya adalah, yang mana yang ketemu duluan, aku makan disitu aja, haha. Lalu, aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh. Kebanyakan tempat nampak tutup gitu dan daerah situ nampak lengang tidak begitu ramai. Rasanya seperti hari Minggu yang tenang di kota terbesar ketiga di negeri Prancis. Aneh, pikirku. Lalu, aku menemukan salah satu dari dua restoran di daftarku ini. Hanya saja, restorannya tutup. Sial. Mulai deh aku merasa gelisah di waktu ini. Aku mencari restoran yang satunya dan tidak berhasil kutemukan.

Mungkin sudah sekitar jam 13:00 di waktu ini jadilah aku memutuskan pokoknya sekarang mencari restoran aja lah, nggak harus yang berbintang Michelin. Rencanaku adalah, aku akan berjalan ke arah hotel; dan kalau di jalan tidak menemukan apa pun yang menarik, aku akan makan siang di restorannya hotel aja karena toh restorannya nampak lumayan menarik kok. Namun, bukan hanya aku tidak menemukan apa pun yang menarik, bahkan tidak ada sesuatu pun, dalam artian nggak ada satu pun, yang buka! WTF! Bahkan ya, supermarket pun tutup loh hari ini jadi pilihan membeli sandwich murah di supermarket pun tidak berlaku hari ini. Lalu, aku tiba di hotelku, dan ternyata restorannya tutup juga dong. Ah, yang bener aja ini!! 🙄

Oke, karena aku tahu aku harus makan sesuatu, pergilah aku kembali ke pusat kota dimana setidaknya disana masih ada denyut kehidupan dong ya. Tetapi, bahkan disana pun, hanya ada dua tipe restoran yang buka: McDonald’s atau kedai kebab. Ah, kedua pilihan sama sekali tidak ideal untukku karena alasan aku pergi ke Prancis kan karena ingin makan masakan Prancis, dan sekarang kok pilihannya dua ini. Tetapi aku harus realistis juga dong ya dimana aku kehabisan pilihan dan waktu. Sore ini aku harus kembali ke Belanda jadi kalau aku mau makan sesuatu, sekarang ini aku harus memilih satu di antara kedua ini. Yah, untukku, yang mendingan dari pilihan ini jelas kedai kebab lah ya, haha. Jadilah menu makanan yang terakhir aku makan di perjalanan akhir pekan kali ini adalah kebab dong, huahaha 😆 .

A portion of kebab of lunch, it was delicious though

Seporsi kebab untuk makan siang, yang mana sebenarnya rasanya enak sih.

Setelah menyelesaikan kebabku, aku kembali ke hotel. Aku duduk di sofa di lobby hotel untuk beristirahat (sekalian memanfaatkan wifi gratisannya juga 😛 ) karena kakiku ternyata masih kecapean setelah jalan kaki intens di akhir pekan ini, huahaha 😆 . Aku duduk-duduk disana sampai sekitar jam 15:00 dimana aku meninggalkan hotel dan pergi ke stasiun Part-Dieu untuk pergi ke bandara.

Hari ini, aku memilih untuk mencoba layanan tram ekspres, Rhônexpress, ke bandara. Tetapi, keempat mesin penjual tiketnya tiba-tiba rusak aja dong! Nah loh! Tetapi untungnya kita masih bisa membeli tiketnya di petugasnya di atas tram dimana dalam situasi biasa, ini akan dikenakan biaya servis tambahan sebesar €1. Tetapi karena kali ini mesinnya yang memang rusak, jadilah biaya tambahan ini tidak dikenakan. Layanan tram ekspresnya beneran ekspres loh. Aku tiba di bandara dalam waktu setengah jam saja. Ini mengikuti rute yang sama yaitu Lyon – Meyzieu – Bandara Saint Exupéry; tetapi dari Meyzieu ke Bandara, tramnya bergerak amat cepat! Kayaknya kecepatannya mencapai 80 km/jam atau 100 km/jam deh, jelas tram tercepat yang pernah aku naiki, haha 😆 .

The Rhônexpress, the fast tram service

Rhônexpress, layanan tram ekspress di Lyon

Ngomong-ngomong, hari ini, aku memutuskan untuk tidak memasukkan bagasi (supaya praktis aja karena aku malas harus menunggu bagasi lama banget di Schiphol). Dan aku sudah check-in online juga. Jadi aku merasa penasaran untuk mencoba sesuatu yang baru: terbang tanpa kertas!! Hahaha 😀 . Karena aku check-in online, KLM mengirimkan boarding pass elektronik ke emailku yang mana sudah aku unduh dan aku simpan di smartphone-ku. Karena aku tidak memasukkan bagasi, aku bisa langsung pergi ke gate-nya loh begitu tiba di bandara. Ketika proses boarding dimulai, petugasnya meng-scan layar smartphone-ku gitu deh dengan barcode di boarding pass elektroniknya. Keren dah!!

Btw, sekitar jam 17:05, sebuah Embraer ERJ190 milik KLM Cityhopper dengan kode registrasi PH-EZL mendarat di lyon. Jam 17:20, proses naik pesawat dimulai. Seperti biasa, prosesnya berlangsung efisien sehingga jam 17:45, penerbangan KL1416 berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 18R menuju Bandara Schiphol.

The city of Lyon in the evening

Kota Lyon di malam hari

Penerbangan ini adalah penerbangan biasa saja dengan KLM. Walaupun aku mengamati ada yang sedikit berbeda dari layanannya sih. Mungkin karena penerbangannya terbang di waktu makan malam, mereka tidak memberikan pilihan snack asin atau manis, tetapi yang ditawarkan adalah sandwich loh; yang mana rasanya enaaak!! Lalu, jam 19:00, penerbangan kami mendarat di landasan pacu 18R Bandara Schiphol di Amsterdam. Berikut ini video pendaratannya:

Kami parkir di gerbang B dan langsung deh aku pergi ke stasiun kereta dimana aku ketinggalan kereta karena terlambat, dalam artian sebenarnya, LIMA DETIK dong (sial). Ya udah deh aku harus menunggu kereta berikutnya untuk kembali ke Delft (via Leiden) 15 menit kemudian, haha. Dan disinilah perjalanan akhir pekanku ke ibukota kuliner di Prancis, Lyon, di bulan November ini resmi berakhir.

SELESAI.

#1441 – 2014 US Open

ENGLISH

So this is the time of the year again, where the final grandslam tournament of the year, the 2014 US Open, has just been concluded. And as usual, here is a short review about it 🙂

Women’s Singles

All eyes were set on Serena Williams. After finishing 2013 brilliantly, she was subpar in the first three grandslam tournaments this year; losing in the fourth round, second round, and third round of the Australian Open, French Open, and Wimbledon, respectively. She has not had a totally disastrous year overall though, as she performed quite decently on the regular WTA tournaments. However, as a player at her calibre, who is chasing tennis record to break; grandslam performance obviously gets the priority.

After the disappointing Wimbledon, she has built her tennis form, collecting a 12-1 win/loss record on the US Open warming up tournaments; with the one loss came in the hand of her sister, Venus Williams, in the semifinals of Montreal. So she was in a good form coming to the US Open. But the cloud of doubt still lingered as the US Open was a grandslam; and she hasn’t been performing well at the grandslams this year.

Speaking of which, the draw fell apart once again. The second and third seed, Simona Halep and Petra Kvitova, lost in the third round. The fourth seed, Agnieszka Radwanska, even lost in the second round. The fifth seed, Maria Sharapova, lost in the fourth round. In fact, Serena Williams was the only top 8 seed that advanced to the quarterfinals round. In the end, Serena reached the final by not only without dropping a set, but also not dropping more than three games per set. She would face her very good friend, Caroline Wozniacki, who was competing in her second grandslam final, after the same tournament five years ago. Serena was able to continue this streak, beating Wozniacki 6–3, 6–3 in the final.

This title means Serena has just set a very historical milestone in her legendary career:
– This is her 18th grandslam singles title, thus officially tying two tennis legends, Chris Evert and Martina Navratilova; the second most in the Open Era (only behind Steffi Graf at 22)
– By winning the tournament AND performing the best during the US Open Series, she received a total prize money of $4,000,000. The most any tennis player, male or female, has received in a single event in a tournament in history! (Last year she shared the, then, record of $3,600,000 with Rafael Nadal).

Men’s Singles

Due to the nature of the Big Four’s dominance basically in the last many years, it was, again, a bit hard to see someone else other than them (except for Nadal, who withdrew from the tournament due to an injury) lifting the trophy in the end. However, this year, the dominance seems to have entered the resurgence phase, where more players were able to challenge them in the big stages. But still, nevertheless, they (especially Novak Djokovic and Roger Federer) were the favorites.

Both of them did advance to the semifinals where Djokovic would face Kei Nishikori and Federer would face Marin Čilić. It appeared as it would be another Djokovic – Federer final. But boy oh boy, this was tennis; and everyone must play the actual tennis match before being declared a winner is for a reason, a good one. First, Nishikore upsetted Djokovic in four sets. Later on, Čilić defeated Federer in straight sets! 😯 One word: WOW!! So finally, for the first time since the Australian Open 2005 (that was literally 9.5 years ago), the final of a grandslam men’s singles does not involve either Novak Djokovic, Rafael Nadal, Roger Federer, or Andy Murray!

I did not watch the final though (because it was Monday night in the Netherlands, and I had to work on Tuesday), but in the end, Marin Čilić won his first grandslam title with a 6–3, 6–3, 6–3 victory over Kei Nishikori.

Men’s Doubles

Back to a legendary achievement, Bob & Mike Bryan also reached a very big milestone in this tournament. They won their 16th grandslam doubles title together; and on top of that, this title was their 100th title together! 😯 Wow that is some records!

BAHASA INDONESIA

Sudah tanggal-tanggal segini lagi, jadi artinya turnamen grandslam terakhir tahun ini, US Open 2014, baru saja berakhir. Dan seperti biasanya, berikut ini review tentangnya 🙂

Tunggal Putri

Semua mata tertuju pada Serena Williams. Setelah ia mengakhiri tahun 2013 dengan brilian, ia tampil mengecewakan di ketiga turnamen grandslam lainnya tahun ini; kalah di babak keempat, babak kedua, dan babak ketiga dari Australia Terbuka, Prancis Terbuka, dan Wimbledon, secara berturutan. Sebenarnya secara keseluruhan musim ini nggak parah-parah amat sih baginya, karena toh ia mendapatkan hasil yang tidak buruk di turnamen-turnamen regulernya WTA. Namun, pemain sekaliber dirinya, yang saat ini sedang mengejar untuk memecahkan rekor-rekor di tenis; tentu saja performa di turnamen grandslam lah yang mendapatkan prioritas.

Setelah turnamen Wimbledon yang amat mengecewakan, permainan tenisnya ia bangun kembali, dan akhirnya mengantongi rekor menang/kalah 12-1 di turnamen-turnamen pemanasan US Open; dengan satu-satunya kekalahan ia derita dari kakaknya sendiri, Venus Williams, di babak semifinal di Montreal. Jadi ia berada dalam kondisi yang baik memasuki US Open ini. Tetapi keraguan masih tetap menghantuinya karena US Open adalah turnamen grandslam; padahal tahun ini ia belum tampil baik di grandslam.

Ngomong-ngomong, undian di grandslam terbuka kembali tahun ini. Unggulan kedua dan ketiga, Simona Halep dan Petra Kvitova, kalah di babak ketiga. Unggulan keempatnya, Agnieszka Radwanska, bahkan kalah di babak kedua. Unggulan lima, Maria Sharapova, kalah di babak keempat. Bahkan, Serena Williams adalah satu-satunya pemain unggulan 8 besar yang masuk babak perempat-final loh. Dan akhirnya, Serena berhasil masuk final tidak hanya dengan tanpa kehilangan satu set pun, tetapi kehilangan tidak lebih dari tiga games di setiap set tersebut. Ia akan melawan teman baiknya di final, Caroline Wozniacki, yang berada di final grandslam keduanya, setelah turnamen yang sama lima tahun lalu. Serena mampu mempertahankan momentum ini, dan ia mengalahkan Wozniacki 6–3, 6–3 di final.

Gelar ini berarti Serena baru saja menorehkan sejarah penting di karier legendarisnya:
– Ini adalah gelar grandslam tunggal ke-18-nya, artinya kini ia menyamai dua petenis legendaris, Chris Evert dan Martina Navratilova; kedua terbanyak di Era Terbuka (hanya tertinggal dari Steffi Graf yang mengoleksi 22 gelar)
– Dengan memenangi turnamen ini DAN tampil terbaik di US Open Series, ia menerima total hadiah sebesar $4 juta loh. Ini adalah rekor hadiah terbanyak yang pernah dimenangi seorang atlet tenis, baik putra maupun putri, dari satu event di satu turnamen! (Tahun lalu ia memegang rekor ini, yaitu $3,6 juta, bersama dengan Rafael Nadal).

Tunggal Putra

Karena dominasi Big Four selama banyak tahun belakangan, rasanya, lagi-lagi, sulit untuk melihat seseorang selain mereka (kecuali Nadal, yang mundur dari turnamen ini karena cedera) mengangkat piala turnamen ini di akhir turnamen. Namun, tahun ini, dominasi mereka nampak mulai mengendor, dimana ada beberapa pemain yang mulai unjuk gigi melawan mereka di panggung-panggung besar. Tetapi, rasanya masih saja merekalah (terutama Novak Djokovic dan Roger Federer) yang difavoritkan untuk menang.

Keduanya lolos ke babak semifinal dimana Djokovic akan melawan Kei Nishikori dan Federer melawan Marin Čilić. Awalnya, finalnya nampak akan menjadi final Djokovic – Federer lagi. Tetapi ini adalah tenis; dan semuanya masih harus memainkan pertandingan sebelum dinyatakan sebagai pemenang karena sebuah alasan, dan sebuah alasan yang baik. Pertama-tama, Nishikori mengejutkan Djokovic dengan menang dalam empat set. Kemudian, Čilić mengalahkan Federer melalui straight sets! 😯 Satu kata: WOW!! Jadi akhirnya, untuk pertama kalinya semenjak Australian Open 2005 (artinya lebih dari 9,5 tahun yang lalu!), final tunggal putra sebuah turnamen grandslam tidak melibatkan Novak Djokovic, Rafael Nadal, Roger Federer, atau Andy Murray!

Aku sendiri tidak menonton finalnya sih (karena ditayangkan Senin malam waktu Belanda, dan kan aku harus kerja di hari Selasa), tetapi pada akhirnya, Marin Čilić memenangi gelar grandslam pertamanya dengan skor 6–3, 6–3, 6–3 atas Kei Nishikori.

Ganda Putra

Kembali ke pencapaian yang legendaris, Bob & Mike Bryan juga baru saja mencapai pencapaian amat besar di turnamen ini. Mereka memenangi gelar grandslam ke-16-nya mereka; dan di atas itu, ini adalah gelar mereka yang ke-100! 😯 Keren banget ya rekornya!

#1412 – 2014 Wimbledon Championships

ENGLISH

Today, the third grandslam tournament of the year, the Wimbledon Championships, was concluded. As usual, here is a review and some of my takes on it.

Ladies’ Singles

The ladies’ singles was, as usual, very open. Even though Serena Williams was (still) the favorite coming to the tournament, she hadn’t been performing well in the grandslam this year. So she wasn’t as a heavy favorite coming to this tournament as last year.

In the end, the ladies’ singles draw fell apart once again. Serena Williams lost in the third round to Alize Cornet; in a match which, in my opinion, was strange because Serena was not herself in the second and third set by playing so passively. She was brilliant in the first set though, dominating the match which was the reason why she won it handily 6–1. So that is why I (still) do not understand why suddenly she “changed” this in the second and third (which ultimately cost her the match). Maria Sharapova lost in the fourth round to Angelique Kerber; Li Na lost in the third round as well. The best match of the tournament, in my opinion, was between the 2011 champion, Petra Kvitova, and the five time Wimbledon champion, Venus Williams. Too bad it had to happen in the third round. It was a high-quality match throughout, and in the end Kvitova won 5–7, 7–6(2), 7–5.

In the end, Petra Kvitova reached her second Wimbledon and grandslam final, where she would face a young rising Canadian, Eugenie Bouchard. Bouchard has been quite consistent this year, reaching the semifinals of the Australian Open and French Open as well (though, arguably, she also profited a little bit from her open draw; but nevertheless, she still did her job, which was winning these matches 🙂 ). Anyway, in the final, Kvitova played magnificently and showed that at the moment, she was in a different class than Bouchard. In the end, Kvitova won her second Wimbledon and grandslam title after beating Bouchard 6–3, 6–0 in just 55 minutes.

Gentlemen’s Singles

Andy Murray was the defending champion and he came to this tournament having just appointed Amelie Mauresmo as his coach; a decision which was quite controversial in the sense that Amelie is a woman (I mean, come on people. Does gender really matter? 🙄 ). He performed very well in the first week but lost to Grigor Dimitrov in the quarterfinals. Rafael Nadal also had a bad Wimbledon for the third straight time, failing to reach the quarterfinals after losing in four sets to a young rising player from Australia, Nick Kyrgios.

But in the end, the Big Four still pretty much showcased their dominance, where Novak Djokovic and Roger Federer reached the final. The final was an exciting match; and it offerred some drama as well. Djokovic was up 5–2 in the fourth set where he was already 2 sets up. He was serving for the match at 5–3 but then got broken, and at 5–4 on Federer’s serve, he got a championship point; which Federer saved with an ace. Federer won five games in a row in that set and sealed it 7–5! Djokovic also called the trainer early in the fifth set. But in the end, he was able to hang in there and finally won the match 6–7(7), 6–4, 7–6(4), 5–7, 6–4 to claim his second Wimbledon title.

Petra Kvitova won her second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Pool/Getty Images Europe

Petra Kvitova won her second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Pool/Getty Images Europe

Novak Djokovic won his second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Al Bello/Getty Images Europe

Novak Djokovic won his second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Al Bello/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Hari ini, turnamen grandslam ketiga tahun ini, Kejuaraan Wimbledon, telah selesai. Seperti biasa, berikut ini review singkatku beserta pendapatku tentangnya.

Tunggal Putri

Tunggal putri, seperti biasa, sangat terbuka tahun ini. Walaupun Serena Williams (masih) yang paling difavoritkan, sejauh ini tahun ini ia masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan di turnamen-turnamen grandslam. Jadi ia tidak difavoritkan dengan amat berat di turnamen ini, tidak seperti tahun lalu.

Pada akhirnya, sisi tunggal putrinya benar-benar terbuka lagi. Serena Williams kalah di babak ketiga dari Alize Cornet; di sebuah pertandingan yang, menurutku, sangat aneh karena Serena tidak seperti dirinya sendiri di set kedua dan ketiga dimana ia bermain dengan amat pasif. Ia bermain dengan brilian di set pertama sih, sehingga bisa memenanginya dengan mudah 6–1. Makanya aku (masih) belum mengerti mengapa kok tiba-tiba ia “mengubah” permainannya di set kedua dan set ketiga itu yang mana akhirnya mengakibatkan ia kalah. Maria Sharapova kalah di babak keempat dari Angelique Kerber; dan Li Na kalah di babak ketiga juga. Pertandingan terserunya sendiri, menurutku, sih antara juara tahun 2011, Petra Kvitova, dan juara Wimbledon lima kali, Venus Williams. Sayang banget pertandingan klasik ini harus terjadi di babak ketiga. Kualitasnya sungguh tinggi di sepanjang pertandingan, dan pada akhirnya Kvitova menang tipis 5–7, 7–6(2), 7–5.

Pada akhirnya, Petra Kvitova mencapai babak final Wimbledon dan grandslam keduanya, dimana ia akan bermain melawan pemain muda dari Kanada, Eugenie Bouchard. Bouchard sendiri telah tampil cukup konsisten tahun ini, dimana ia juga mencapai babak semifinalnya Australian Open dan French Open juga (walaupun bisa dikatakan ia beruntung sih karena sisi undiannya terbuka lebar; tetapi walaupun begitu toh hanya ia yang mampu meyelesaikan tugasnya, yaitu bermain dan terus menang 🙂 ). Ngomong-ngomong, di final, Kvitova bermain dengan amat luar biasa dan menunjukkan pada waktu itu bahwa ia berada di kelas yang berbeda dari Bouchard. Pada akhirnya, Kvitova memenangi gelar Wimbledon dan grandslam keduanya dengan mengalahkan Bouchard 6–3, 6–0 hanya dalam waktu 55 menit.

Tunggal Putra

Andy Murray adalah juara bertahan dan ia masuk ke turnamen ini dengan baru saja menunjuk Amelie Mauresmo sebagai pelatihnya; sebuah keputusan yang cukup kontroversial karena Amelie adalah seorang wanita (Duh, plis deh ya masak zaman sekarang hal beginian masih dipermasalahkan sih? 🙄 ). Ia bermain dengan amat baik di minggu pertama tetapi kemudian kalah dari Grigor Dimitrov di perempat final. Rafael Nadal juga mengalami Wimbledon yang buruk untuk ketiga tahun berturut-turut dimana ia kalah sebelum perempat final. Kali ini ia kalah dalam empat set dari pemain muda asal Australia, Nick Kyrgios.

Toh pada akhirnya, Big Four di tenis putra masih menunjukkan dominasinya, dimana Novak Djokovic dan Roger Federer berhasil menembus putaran final. Finalnya berlangsung amat seru; dan ada dramanya juga loh. Djokovic sebenarnya unggul 5–2 di set keempat dimana ia sudah memenangi 2 set. Ia memegang servis untuk memenangi pertandingan di posisi 5–3 tetapi servisnya dipatahkan, dan di posisi 5–4 di servisnya Federer sebenarnya ia mendapatkan sebuah championship point; yang mana diselamatkan Federer dengan sebuah pukulan ace. Federer memenangi lima games berturut-turut di set keempat itu dan memenanginya 7–5! Djokovic juga memanggil trainer di awal set kelima. Tetapi pada akhirnya ia mampu bertahan disana dan akhirnya menang 6–7(7), 6–4, 7–6(4), 5–7, 6–4 untuk merebut gelar Wimbledon keduanya.

#1400 – 2014 Paris Roland Garros Trip (Part II)

ENGLISH

Previously on 2014 Paris Roland Garros Trip: Zilko went to Paris during the Ascension Day long weekend to watch the second grandslam tournament of the year, the French Open. After arriving in Paris on Wednesday, now he was more than ready and excited to start his visit to Roland Garros for the third year in a row.

***

Day 2 (Thursday, 29 May 2014)

To summarize my morning, after leaving my hotel and having a quick breakfast menu at McDonald’s, I arrived at Stade Roland Garros, the venue of the tournament, in the west part of Paris at around 09:00. As usual, the gate was opened at around 09:40 so I still had to queue in front of the gate. I was one of the first people there so it was really nice knowing I would be the first to enter the venue 😛 .

I got a first ring Court Philippe Chatrier (PC) ticket today (well, actually I got first ring PC tickets for all the three days of my visit there); and here was the line-up at PC today:

The line-up at Court Philippe Chatrier today

The line-up at Court Philippe Chatrier today

Not a bad line-up for second round matches, I must say.

At around 9:30, the security process started and at around 9:40, the gate was opened. I immediately entered the venue and took a look at which player was warming up on Court No.2. It was Svetlana Kuznetsova at that time.

As usual, I went around the entire tennis venue to see many tennis players warming up and preparing themselves for their matches. This was why I came to the venue early; especially since it was still the earlier rounds so a lot of players were still alive in the tournament. So it was such a good opportunity to see (and meet) many of them! 🙂

The singles defending champions this year: Rafael Nadal and Serena Williams

The singles defending champions this year: Rafael Nadal and Serena Williams

This morning, I felt like there were more WTA (women) players warming up than ATP (men). I saw Camilla Giorgi, Anastasia Pavlyuchenkova, the Chan sisters, Casey Dellacqua, Yvonne Meusburger, Liezel Huber, Shahar Peer, Cara Black, Sania Mirza, Ekaterina Makarova, Magdalena Rybarikova, Yaroslava Shvedova, Zhang Shuai, Kevin Anderson, Rohan Bopanna, Aisam ul-Haq Qureshi, etc to name a few (see? More women than men this morning!).

After buying an overpriced sandwich for breakfast, I decided to go to my seat at Court Philippe Chatrier. I got a good first ring seat today, with a perfect view of the court. Here is the view from my seat today btw:

The view from my seat at Philippe Chatrier today. Super!

The view from my seat at Philippe Chatrier today. Super!

Anyway, at 11:00, Jelena Jankovic and Kurumi Nara entered the court. Long story short, the match started and the first set actually went toe to toe until 5-all. But then Jankovic broke Nara’s serve to go 6–5 up and close the first set 7–5. From there, Jankovic had all the momentum and maintained it throughout the rest of the match, and easily won the second set 6–0.

Not long after, the second match between the King of Clay, the world no.1, and the defending champion, Rafael Nadal, and Dominic Thiem started. In my opinion this should be an interesting match because I knew Thiem was a good player and had a very dangerous forehand.

I felt like I needed to stretch my legs so I stayed for the first several games before deciding to leave for a walk a little bit (and I had time since the men’s singles match at a grandslam is a best of five sets match anyway; so each match should last at least (par retirement) three sets).

I came back just in time before Nadal won the match. In the end he was still the stronger player on clay and won 6–2, 6–2, 6–3 (Thiem actually was up a break in the third set).

Jeu, set et Match, Nadal.

Jeu, set et Match, Nadal.

The third match of the day was between a favorite local player, Richard Gasquet, versus an Argentinian, Carlos Berlocq. Gasquet won 7–6(5), 6–4, 6–4 to reach the third round. And finally, the fourth match of the day was between Ana Ivanovic, the 2008 champion here, and Elina Svitolina. I only stayed for the first set because at the end of it I felt so tired so I decided to leave the venue.

I did not go back to my hotel straight away though as I still had not had my dinner yet. And today I felt like eating KFC so I went to one, huahaha 😆 . After my dinner at KFC, I went back to my hotel 😀 . But before that, I stopped by at a supermarket nearby to buy some sandwiches and snacks for tomorrow.

Day 3 (Friday, 30 May 2014)

Again, I arrived at the venue at around 9:10. A little bit later than the day before but I was still one of the first people on the line so it was still good. Just like the day before, they opened the venue at around 9:45; and my ritual was pretty much similar. I went around first to see the players warming up and preparing themselves for their matches 🙂 .

This morning I saw Alexander Peya, Bruno Soares, Donald Young, Juan Monaco, Robin Haase, Andre Begemann, Marin Cilic, Goran Ivanisevic (an ex-player who became Cilic’s coach now), Zheng Saisai, Vera Dushevina, Peng Shuai, Hsieh Su-Wei, Jarmila Gajdosova, and Klara Koukalova to name a few.

The current women's doubles world no.1 and no.2, Peng Shuai and Hsieh Su-Wei, warming up

The current women’s doubles world no.1 and no.2, Peng Shuai and Hsieh Su-Wei, warming up

Then at around 10:45, I went to my seat at Philippe Chatrier. Btw, this was the schedule for Court PC today:

The line-up at Court Philippe Chatrier today

The line-up at Court Philippe Chatrier today

Again, not a bad lineup! 😉 Btw, I had a different seat than the day before. The view was not as good but it was still okay and quite close to the court. This was the view today:

The view from my seat at Philippe Chatrier today

The view from my seat at Philippe Chatrier today

At 11:00, the first match started with the two players entering the court: the third seed, Agnieszka Radwanska from Poland, and a Roland Garros debutant, Ajla Tomljanovic. As the highest seed left (third; the first seed, Serena Williams, and second seed, Li Na, had already lost their matches at this point), Radwanska was obviously the favorite to win the match.

Their game style could not be any more different where Radwanska’s was more about touch and variety (not so much power), while Tomljanovic’s was the complete opposite, very aggressive with a lot more power. Today was a good day for Tomljanovic where she edged a little bit better on important points so she was able to win 6–4, 6–4! Kudos for her to hold her nerve in that second set!

The third seed, Agnieszka Radwanska, is out!

The third seed, Agnieszka Radwanska, is out!

Btw, I felt like I was experiencing a dejavu though. Exactly two years ago, on the same day, at the same stage of the tournament, I was also there sitting at Court Philippe Chatrier watching Agnieszka Radwanska’s third round match. But at that time she was playing Svetlana Kuznetsova. However, the final result was the same. Radwanska lost in straight sets (it was a 6–1, 6–2 loss two years ago).

The second match immediately followed where the hugely popular tennis legend, Roger Federer, would play against Dmitry Tursunov. Btw, my seat was just like literally ten meter away from Federer’s box though. So I was able to see Federer’s family (his wife, Mirka Federer, and his first set of twins sitting there (the second set of twins (yes he has two sets of twins) were not there, I think). And, not surprisingly, people were taking pictures of the family, hahaha 😀

You know you are so famous when these many people want to take pictures of your wife and kids.

You know you are so famous when these many people want to take pictures of your wife and kids.

Anyway so the match started. Then, I felt quite hungry so I decided to leave after several games and decided to have lunch at the restaurant there. Today I had a steak for lunch. I also made use of this time to stretch my leg and went around the tournament venue again. It was such a nice festive anyway, you know, a grandslam tournament 😉 .

I went back to my seat just in time before Federer won his match 7–5, 6–7(9), 6–2, 6–4. The third match quickly followed where Maria Sharapova and Paula Ormaechea entered the court. After warming up, they played the first game where it went to 40–40 before it started drizzling. So they had to stop the play.

The delay was just around 30 minutes though before they resumed all matches again. But from hereon, it was a one way traffic only. It was an uneven match where Ormaechea could not match Sharapova and got double-bagelled. In case you are not familiar with tennis terms, it means Sharapova won 6–0, 6–0.

The fourth match followed suit where it was between another local player, Gilles Simon, and the eight seed, Milos Raonic, from Canada. I stayed for the first set before deciding to leave to have dinner somewhere 😀 .

Hardcore Canadian fans

Hardcore Canadian fans

After leaving the venue, I decided to explore the area a little bit. This was the third year I went to Roland Garros but actually I had never gone around the area! Anyway, I decided to stop by at a French restaurant and ordered escalope de veau for dinner today. They also had a TV airing live the Simon-Raonic match so I did not completely miss the match, haha 🙂 .

The escalope de veau was, of course, very nice! I think this was the second time I had it though; as I am sure I had it once during my first visit to Paris in 2011. But I am not sure if I had had it another time between that first time and this time, haha. Anyway, so the menu came with pasta that was also cooked nicely. It was delicious. But then, right after I finished it, I just realized that on my table I had a pot of parmesan powder!! 😯 Damnit!! I know it would have been even much more delicious had I sprinkled the parmesan powder to the pasta!! Ah, regret always came later, haha 😛

Escalope de veau

Escalope de veau

After dinner, I left the restaurant and then took the metro to go back to my hotel. I took a different route though this time. Just like the day before, I stopped by at the supermarket first before going back to my hotel to buy some sandwiches and snacks for tomorrow.

TO BE CONTINUED…

Next on 2014 Paris Roland Garros Trip:
– More from Roland Garros
– Watching the most epic WTA match I have ever seen in person
– Back to the Netherlands

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam 2014 Paris Roland Garros Trip: Zilko pergi ke Paris di long weekend hari raya Pantekosta untuk menonton turnamen grandslam kedua tahun ini, French Open. Setelah tiba di Paris di hari Rabu, sekarang ia sudah siap banget untuk memulai kunjungannya ke Roland Garros untuk tahun ketiga berturut-turut.

***

Hari 2 (Kamis, 29 Mei 2014)

Untuk meringkas cerita pagiku, setelah meninggalkan hotel dan sarapan kilat di McDonald’s, aku tiba di Stade Roland Garros, tempat diadakannya turnamen ini, yang berada di kota Paris sebelah barat, sekitar jam 9 pagi. Seperti biasa, gerbangnya sih baru dibuka sekitar jam 9:40an jadi aku harus mengantri dulu di depan gerbangnya. Aku termasuk yang datangnya awal sih jadi enaknya aku berada di antrian bagian depan sehingga seru kan karena artinya aku adalah salah satu penonton pertama yang masuk 😛 .

Aku mendapatkan tiket first ring di Lapangan Philippe Chatrier (PC) hari ini (sebenarnya di ketiga hari kunjunganku, semuanya aku juga mendapatkan tiket first ring sih); dan berikut ini jadwal pertandingan di PC hari ini:

The line-up at Court Philippe Chatrier today

Jadwal pertandingan di Lapangan Philippe Chatrier hari ini.

Lumayan banget lah ya untuk ukuran pertandingan babak kedua.

Sekitar jam 9:30 pagi, proses pengecekan sekuritinya dimulai, dan gerbang dibuka sekitar jam 9:40. Aku langsung masuk ke arenanya dan melihat siapa yang sedang pemanasan di Lapangan nomor 2. Ternyata pagi itu Svetlana Kuznetsova yang sedang pemanasan disana.

Seperti biasa, aku mengelilingi arena turnamennya untuk melihat banyak pemain yang sedang pemanasan dan mempersiapkan diri untuk pertandingan mereka. Inilah mengapa aku datang ke arenanya lebih awal; terutama karena masih babak-babak awal sehingga sebagian besar pemain masih “hidup” kan di turnamennya. Jadi ini adalah kesempatan emas untuk melihat (dan bertemu) mereka! 🙂

The singles defending champions this year: Rafael Nadal and Serena Williams

Juara bertahan untuk kategori tunggal tahun ini: Rafael Nadal dan Serena Williams

Pagi ini, rasanya kok lebih banyak pemain WTA (putri) ya yang pemanasan daripada ATP (putra). Aku melihat, di antaranya, Camilla Giorgi, Anastasia Pavlyuchenkova, Chan bersaudari, Casey Dellacqua, Yvonne Meusburger, Liezel Huber, Shahar Peer, Cara Black, Sania Mirza, Ekaterina Makarova, Magdalena Rybarikova, Yaroslava Shvedova, Zhang Shuai, Kevin Anderson, Rohan Bopanna, Aisam ul-Haq Qureshi, dll (Nah kan? Lebih banyak pemain putri daripada putra pagi ini!).

Setelah membeli sandwich yang mark-up harganya gila-gilaan untuk sarapan, aku memutuskan untuk duduk ke kursiku di Lapangan Philippe Chatrier. Aku mendapatkan kursi yang bagus loh hari ini, dengan pandangan yang enak banget dah ke lapangannya. Berikut ini pandangan dari kursiku hari ini btw:

The view from my seat at Philippe Chatrier today. Super!

Pandangan dari kursiku di Philippe Chatrier hari ini. Keren!

Anyway, jam 11:00, Jelena Jankovic dan Kurumi Nara memasuki lapangannya. Singkat cerita, pertandingannya dimulai dan set pertama berlangsung ketat hingga skor 5-sama. Tetapi kemudian Jankovic mematahkan servisnya Nara untuk memimpin 6–5 dan menutup set pertama dengan kemenangan 7–5. Dari sana, Jankovic memegang kendali permainan dan terus menjaganya di sepanjang sisa pertandingan, dan dengan mudah memenangi set kedua 6–0.

Tidak lama kemudian, pertandingan kedua antara si Raja Tanah Liat, pemain peringkat 1 dunia, dan juara bertahan, Rafael Nadal, melawan Dominic Thiem diadakan. Menurutku ini seharusnya menjadi pertandingan yang menarik karena aku tahu Thiem adalah pemain yang bagus dan memiliki forehand yang sangat berbahaya.

Tetapi aku mulai merasa perlu untuk meregangkan kaki nih jadilah setelah beberapa games pertama aku memutuskan untuk meninggalkan kursiku dan berjalan-jalan sedikit (dan toh ada waktu karena pertandingan tunggal putra di grandslam kan sistemnya best of five sets; jadi setiap pertandingan minimal (kecuali pemain menyerah/mundur) berlangsung tiga set).

Aku kembali tepat waktu sebelum Nadal memenangi pertandingannya. Akhirnya dia masih terlalu kuat bagi Thiem di lapangan tanah liat dan menang 6–2, 6–2, 6–3 (Thiem sebenarnya sempat unggul satu break loh di set ketiga).

Jeu, set et Match, Nadal.

Jeu, set et Match, Nadal.

Pertandingan ketiga adalah antara pemain tuan rumah, Richard Gasquet, melawan pemain Argentina, Carlos Berlocq. Gasquet menang 7–6(5), 6–4, 6–4 untuk mencapai babak ketiga. Lalu akhirnya, pertandingan keempat antara Ana Ivanovic, juara disini di tahun 2008, dan Elina Svitolina dimainkan. Aku hanya menonton set pertama karena aku merasa lelah jadi aku memutuskan untuk meninggalkan arenanya.

Aku nggak langsung pulang ke hotelku sih karena aku masih belum makan malam kan. Dan khusus hari ini kok aku ngidam KFC ya, huahaha 😆 . Jadilah aku mampir di sebuah KFC. Setelah makan malam di KFC itu, barulah aku kembali ke hotel 😀 . Tetapi sebelumnya aku mampir dulu di supermarket untuk membeli beberapa sandwich dan snack untuk besok.

Hari 3 (Jumat, 30 Mei 2014)

Lagi, hari ini aku tiba di arena turnamennya sekitar jam 9:10. Sedikit lebih siang sih daripada kemarin tetapi aku masih termasuk yang paling depan di antrian loh jadi nggak masalah deh. Seperti kemarin, hari ini gerbangnya dibuka sekitar jam 9:45; dan ritualku kurang lebih sama sih. Aku berkeliling dulu untuk melihat para pemain pemanasan dan mempersiapkan diri untuk pertandingan-pertandingan mereka 🙂 .

Pagi ini aku melihat, di antaranya: Alexander Peya, Bruno Soares, Donald Young, Juan Monaco, Robin Haase, Andre Begemann, Marin Cilic, Goran Ivanisevic (mantain pemain yang sekarang jadi pelatihnya Cilic), Zheng Saisai, Vera Dushevina, Peng Shuai, Hsieh Su-Wei, Jarmila Gajdosova, dan Klara Koukalova.

The current women's doubles world no.1 and no.2, Peng Shuai and Hsieh Su-Wei, warming up

Pemaiin ganda putri yang kini berperingkat 1 dan 2 dunia: Peng Shuai dan Hsieh Su-Wei, sedang pemanasan

Lalu, sekitar jam 10:45, aku pergi ke kursiku di Philippe Chatrier. Btw, inilah jadwal pertandingan di Lapangan PC hari ini:

The line-up at Court Philippe Chatrier today

Jadwal pertandingan di Lapangan Philippe Chatrier hari ini

Lagi, lumayan banget ya pertandingan-pertandingannya! 😉 Btw, kursiku berbeda dengan kemarin. Pandangannya nggak sebagus yang kemarin sih tetapi masih oke lah dan cukup dekat ke lapangannya. Beginilah pandangan dari kursiku hari ini:

The view from my seat at Philippe Chatrier today

Pandangan dari kursiku di Philippe Chatrier hari ini

Jam 11 pagi, pertandingan pertama dimulai dengan kedua pemain memasuki arena: pemain unggulan ketiga asal Polandia, Agnieszka Radwanska, dan pemain yang baru pertama kali ikutan Roland Garros, Ajla Tomljanovic (btw, ini namanya dibacanya “Ayla” ya, bukan “Ajla” seperti pakai ejaan bahasa Indonesia 😛 #pentingdibahas ). Sebagai pemain unggulan tertinggi yang tersisa (unggulan ketiga; unggulan pertama, Serena Williams, dan unggulan kedua, Li Na, sudah kalah), Radwanska tentulah difavoritkan untuk menang.

Gaya permainan mereka berbeda banget; dimana Radwanska bermain dengan touch dan varietas pukulan-pukulan (tidak bergantung pada power) sementara Tomljanovic berkebalikannya, sangat agresif dengan banyak pukulan-pukulan keras. Hari ini adalah hari baik bagi Tomljanovic dimana ia bermain lebih baik di poin-poin penting dan berhasil menang 6–4, 6–4! Salut deh karena ia tetap kalem dan tenang di set kedua!

The third seed, Agnieszka Radwanska, is out!

Unggulan ketiga, Agnieszka Radwanska, tersisih!

Btw, aku merasa dejavu di waktu ini. Tepat dua tahun sebelumnya, di hari yang sama, di babak yang sama dari turnamen ini, dan bahkan waktu itu aku juga duduk di Lapangan Philippe Chatrier menonton pertandingan babak ketiganya Agnieszka Radwanska. Bedanya waktu itu ia bermain melawan Svetlana Kuznetsova. Hanya saja, hasilnya sama loh. Radwanska kalah dua set langsung (dua tahun yang lalu ia kalah dengan skor 6–1, 6–2).

Pertandingan keduanya langsung mengikuti dimana pemain tenis legendaris yang super terkenal, Roger Federer, akan bermain melawan Dmitry Tursunov. Btw, kursiku hanya sekitar sepuluhan meter loh dari kursi-kursi untuk rekannya Federer. Jadi aku bisa melihat keluarganya Federer (istrinya, Mirka Federer, dan sepasang anak kembar pertamanya duduk disana (sementara sepasang anak kembar keduanya (iya dong dua kali istrinya hamil dan dua kali pula anaknya kembar) nggak berada disana, kayaknya sih). Dan, nggak mengherankan, orang-orang pada mengambil fotonya ya, hahaha 😀

You know you are so famous when these many people want to take pictures of your wife and kids.

Indikasi bahwa Anda adalah seseorang yang super terkenal: bahkan orang-orang sebanyak ini pada ingin mengambil foto istri dan anak-anak Anda.

Anyway lalu pertandinganna dimulai. Nah, kemudian aku mulai merasa lapar jadilah aku meninggalkan kursiku setelah beberapa games dan memutuskan untuk makan di restoran. Hari ini aku memilih menu steak untuk makan siang. Aku juga sekalian memanfaatkan waktu ini untuk meregangkan kaki dan mengelilingi kompleks turnamennya lagi sih. Suasananya sungguh menyenangkan sekali lho, tahulah, yang namanya turnamen grandslam kan 😉 .

Aku kembali ke kursiku tepat waktu banget sebelum Federer menang 7–5, 6–7(9), 6–2, 6–4. Pertandingan ketiga dengan cepat menyusul dimana Maria Sharapova dan Paula Ormaechea memasuki lapangannya. Setelah pemanasan, mereka mulai memainkan game pertama dimana ketika skornya 40-sama, gerimis mulai turun. Jadilah pertandingannya harus dihentikan sementara.

Untungnya gerimisnya nggak lama, cuma setengah jam-an aja, dan setelahnya pertandingan kembali dilanjutkan. Tetapi mulai dari sini, pertandingannya berlangsung satu arah dan nggak seru. Pertandingannya sungguh tidak seimbang dimana Ormaechea tidak bisa mengimbangi Sharapova dan dia di-double-bagel. Misalnya kurang familier dengan istilah di dalam tenis, ini artinya Sharapova menang 6–0, 6–0.

Pertandingan keempat kemudian mengikuti dimana pemain tuan rumah, Gilles Simon, akan bermain melawan pemain unggulan delapan, Milos Raonic, dari Kanada. Aku menonton set pertama sebelum memutuskan untuk meninggalkan arenanya untuk mencari makan malam 😀

Hardcore Canadian fans

Fans berat Kanada

Setelah meninggalkan arenanya, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di area sekitar sana. Ini adalah tahun ketiga aku ke Roland Garros tetapi sebelum-sebelumnya aku nggak pernah loh berkeliling areanya! Akhirnya aku memutuskan untuk mampir di sebuah restoran Prancis dan memesan escalope de veau untuk makan malam hari ini. Kebetulan mereka juga ada TV yang sedang menyiarkan pertandingan antara Simon dan Raonic itu jadi aku nggak ketinggalan pertandingannya, haha 🙂 .

Escalope de veau-nya, tentu saja, enaak! Aku rasa ini adalah kali kedua aku memakannya deh; karena aku yakin banget aku pernah sekali memakannya di kunjungan pertamaku ke Paris di tahun 2011. Tetapi aku nggak yakin apakah aku juga pernah memakannya di antara kali pertama itu dan kali ini, haha. Anyway, jadi ceritanya salah satu bagian masakannya adalah pasta yang dimasak dengan baik. Enak banget dah. Tetapi kemudian, tepat setelah aku menyelesaikan porsiku, aku baru sadar dong di mejaku ternyata ada satu pot bubuk keju parmesan!! 😯 Siaaaal!! Kurang ajar! Kok aku nggak sadar sih sebelumnya? Tahu gitu kan pastanya aku taburi dengan taburan bubuk keju parmesan itu dan rasanya akan menjadi bahkan lebih enak lagi kan!! Ah, yang namanya penyesalan selalu datang terlambat ya, haha 😛

Escalope de veau

Escalope de veau

Setelah makan malam, aku meninggalkan restorannya dan naik metro untuk kembali ke hotel. Aku menaiki rute yang bukan biasanya deh kali ini. Seperti kemarin, kali ini aku juga mampir di supermarket dulu sebelum kembali ke hotelku untuk membeli sandwich dan snack untuk keesokan harinya.

BERSAMBUNG…

Selanjutnya dalam 2014 Paris Roland Garros Trip:
– Lebih banyak cerita dari Roland Garros
– Menonton pertandingan WTA ter-epic yang pernah aku tonton langsung dengan mata kepala sendiri
– Kembali ke Belanda

#1340 – 2014 Australian Open

ENGLISH

So, it is already this time of the year again, hahaha 😆 . The first grandslam tournament of the year, the Australian Open, has just been concluded so it is time to make my report about it 😀 . But I will try to do it differently this year; where in this post I will try to write more of my opinion rather than an actual report of the tournament as, well, you can find abundant amount of tournament reports accross the internet anyway, right? Anyway, so here we go…

General Impression

For some reasons, maybe my busy-ness at work played a part, I was not as excited nor committed to this tournament as I normally would. I mean, I was still excited and stuffs, but just not as much. I don’t know, maybe also because some of my favorites lost early in this tournament? Hahaha 😆

Upsets

Speaking of which, yes, there were quite a lot of upsets in this tournament, especially in the women’s draw. The hot favorite for the title, Serena Williams, lost in the fourth round to Ana Ivanovic, revealing she injured her back during her practice before her third round match against Daniela Hantuchová (she still won the match against Hantuchová though). Following her loss, Maria Sharapova was ousted in the fourth round too the very next day; and the defending champion, Victoria Azarenka, lost to Agnieszka Radwańska in the quarterfinals.

My favorite for the men’s doubles, Bob and Mike Bryan, were also ousted in the third round. The three time defending champion in men’s singles, Novak Djokovic, lost in the quarterfinals. Andy Murray lost in the quarterfinals (even though to Roger Federer).

The Champions

But in the end, someone would still win the tournament despite the upsets. In the women’s singles, Li Na took advantage of this (she herself nearly lost in the third round too where she had to save a match point) by winning her second grandslam title without having to play a single top 20 player on the way to the title (the highest ranked opponent she faced was Ekaterina Makarova, who was ranked 22nd, in the fourth round). But still, Li Na deserved to win of course. 🙂 And the best part for me? Well, her on stage winning speech!

Very hilarious! Congratulations Li Na!

In the men’s singles, for the first time since the 2009 US Open (or the second time since the 2005 Australian Open to get further beyond and to make a point on how big this is), a man other than the “big four” (Rafael Nadal, Djokovic, Federer, and Murray) won the title. And Stanislas Wawrinka did it with style, by defeating Djokovic in an epic five-setter in the quarterfinals and the world no. 1, Nadal, in the final in four sets. A truly deserved victory considering how magnificent he played in the final! And as a reward for him, he would become the world no.3 when the new ranking is released and, probably a bigger matter for him too, he would be the Swiss number 1; surpassing Roger Federer. After years and years staying under Federer’s shadow, this seems to be like a sweet result, no? 🙂

Congratulations Stanislas Wawrinka!

But Still A Little Disappointment

One small thing that disappointed me this year was that they did not run the Australian Open Pick ‘Em game anymore (they did in the previous two editions of the tournament). It was a simple game, where participants would predict who would be the winner of some (8 to 10) matches everyday and they would earn points from every correct answer. It was such a fun game for the fans, in my opinion. So that is why I was a bit sad that they discontinued it this year 😦 .

Li Na won her second grandslam title at the Australian Open in 2014. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac

Li Na won her second grandslam title at the Australian Open in 2014. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac

Stanislas Wawrinka won his first grandslam title at the 2014 Australian Open. Photo credit: Mark Kolbe/Getty Images AsiaPac

Stanislas Wawrinka won his first grandslam title at the 2014 Australian Open. Photo credit: Mark Kolbe/Getty Images AsiaPac

BAHASA INDONESIA

Ya, sudah tanggal-tanggal segini lagi ya, hahaha 😆 . Turnamen grandslam pertama tahun ini, Australian Open, baru saja berakhir sehingga inilah saatnya untuk menulis ceritaku mengenainya 😀 . Ah, tapi aku akan menulis sesuatu yang berbeda ah mulai sekarang; dimana di posting ini aku akan menulis lebih banyak mengenai pendapatku daripada sekedar laporan tentang turnamennya kan karena, toh, ada banyak banget artikel berisi laporan turnamennya di internet kan? Anyway, mari kita mulai saja…

Kesan Umum

Entah karena apa, mungkin kesibukanku di kantor agak berperan serta juga ya, aku tidak terlalu excited atau berkomitmen terhadap turnamen ini daripada biasanya. Maksudnya, ya masih excited juga sih, tetapi nggak yang gimana-gimana banget gitu. Nggak tahu dah, mungkin juga karena para pemain favoritku pada bertumbangan lumayan awal kali ya? Hahaha 😆

Kejutan

Nah, ngomongin itu, ya, memang ada beberapa kejutan di turnamen ini, terutama di tunggal putri. Favorit juara turnamen ini, Serena Williams, kalah di babak keempat dari Ana Ivanovic, dan kemudian mengungkapkan bahwa ternyata ia mencederai punggungnya di saat pemanasan sebelum pertandingan babak ketiganya melawan Daniela Hantuchová (ia masih bisa menang melawan Hantuchová sih). Setelah kekalahan itu, keesokan harinya Maria Sharapova juga kalah; dan juara bertahannya, Victoria Azarenka, juga kalah dari Agnieszka Radwańska di perempat final.

Favoritku untuk ganda putra, Bob dan Mike Bryan, juga kalah di babak ketiga. Juara bertahan tiga kali, Novak Djokovic, kalah di perempat final. Andy Murray kalah juga di perempat final (walau kalahnya dari Roger Federer sih).

Sang Juara

Toh, pada akhirnya, seseorang harus juara juga kan walaupun ada kejutan-kejutan itu. Di tunggal putri, Li Na memanfaatkan kesempatan ini dengan baik (walaupun ia sendiri nyaris banget kalah di babak ketiga sih, dimana ia harus menyelamatkan satu match point) dengan memenangi gelar grandslam keduanya tanpa harus bermain melawan satu pun pemain berperingkat 20 besar (pemain berperingkat tertinggi yang ia hadapi adalah Ekaterina Makarova di babak keempat, yang mana berperingkat 22 waktu itu). Ah, tapi toh menurutku Li Na masih berhak untuk juara kok tentu saja. 🙂 Dan hal terbaiknya menurutku? Pidato kemenangannya!

Lucu banget! Selamat Li Na!

Di tunggal putra, untuk pertama kalinya semenjak US Open tahun 2009 (atau untuk kedua kalinya semenjak Australian Open tahun 2005 untuk melihat fakta ini lebih jauh dan menekankan akan bagaimana besarnya ini), seorang pemain yang bukan merupakan anggota “empat besar” (Rafael Nadal, Djokovic, Federer, dan Murray) menjuarai turnamen grandslam. Dan Stanislas Wawrinka berhasil melakukannya dengan penuh gaya dimana ia mengalahkan Djokovic melalui pertandingan epik lima set di perempat final dan pemain peringkat 1 dunia, Nadal, di final dalam empat set. Sebuah kemenangan yang amat berhak ia dapatkan dengan melihat bagaimana indahnya ia bermain di final! Dan sebagai hadiah untuknya, ia akan berperingkat 3 di dunia ketika daftar peringkat baru dirilis dan, mungkin lebih besar baginya pula, ia akan menjadi pemain nomor 1 di Swiss; menyalip Roger Federer. Setelah bertahun-tahun selalu berada di bayang-bayang Federer, rasanya ini adalah sesuatu yang amat manis yang berhasil ia dapatkan kan? 🙂 

Selamat Stanislas Wawrinka!

Sedikit Kecewa

Satu hal yang mengecewakanku sedikit tahun ini adalah game Australian Open Pick ‘Em nggak dimainkan lagi dong (mereka mengadakannya di dua edisi sebelumnya). Ini adalah game sederhana dimana para peserta harus menebak pemenang dari beberapa (8 sampai 10) pertandingan setiap hari dan mereka mendapatkan sejumlah poin dari setiap tebakan yang benar. Game-nya mengasyikkan banget lho sebenarnya, menurutku sih. Makanya aku agak kecewa juga tahun ini kok nggak dimainkan lagi 😦 .