EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1919 – 2017 Easter Long Weekend Trip (Zürich)

ENGLISH

Posts in the 2017 Easter Long Weekend Trip series:
1. Introduction
2. The Transport
3. Zürich

In short, Zürich was still as how I remembered it from 2011, it was a really beautiful city. It still stands as one of my favorite cities, haha 😆 . Though, this long weekend trip showed me the less nice side of the city too. Well, “less nice” from the perspective of a visitor/tourist.

A Zurich selfie

First of all, apparently almost everything was closed due to the Easter holiday. Consequently, there were not so much activities going on in the city. I just saw (quite many) other tourists walking around in the city centre, haha. This was already enough to make the city atmosphere “dead”.

It was not a busy weekend in Zurich

Though, possibly this was also accentuated by the weather. I have to say I was quite unlucky on this department in this trip. It was raining the entire time I was there. I had to take an umbrella (luckily my hotel provided some for guests to borrow) everytime I went out. You see, the combination of very little activities and rainy weather certainly was not the ideal one.

It was raining the whole time in Zurich

On top of that, everything in Zurich was still as expensive! At the end of the day it was still a Swiss city afterall, haha 😆 . Though, at least this time I was in a better situation financially than in 2011 when I was still living off a Master scholarships living cost allowance (at the time I still had not started my part-time job at the university either), lol 😆 . But still, of course the difference in the price of everything with the Netherlands was apparent, though I could still afford it 😛 .

RIP my money💸💸💸💸💸

Nonetheless, of course I still tried to enjoy it as much as I could, haha. I walked around the city (I didn’t feel like buying the public transport ticket), which was still pretty nice. I walked all the way from the Old Town to the Chinese Garden and back. For whatever reason, I remembered lying down on the grass in front of the Chinese Garden in 2011. It was still there, though obviously this time I did not do the same because of the rain, haha 😆 .

I was back at the Chinese Garden in Zurich

Anyway, this time I tried the Zurcher Geschnetzeltes, a Zurich local delicacy (I didn’t in 2011 as I was travelling on budget that time 😛 ). It was veal stripes served with cream sauce with mushroom and rosti. It was quite delicious and I liked it!! 🙂

Trying out a Zurcher Geschnetzeltes

Yeah, while the condition was not perfect that weekend, overall I still enjoyed my long weekend in one of my favorite cities 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Easter Long Weekend Trip:
1. Introduction
2. The Transport
3. Zürich

Dalam satu kalimat, Zürich masih seperti sebagaimana yang aku ingat dari tahun 2011, kotanya sungguh indah. Kotanya masih merupakan salah satu kota favoritku, haha 😆 . Walaupun, perjalanan long weekend ini juga mengungkapkan sisi kurang begitu manisnya sih. Yah “kurang begitu manis” bagi turis maksudnya, haha.

Zurich selfie dulu dong

Pertama-tama, ternyata hampir semuanya tutup akibat hari Paskah. Sebagai akibatnya, tidak ada banyak aktivitas yang berlangsung di kotanya. Aku hanya melihat (lumayan banyak) turis-turis lain yang berkeliaran di dalam kota, haha. Ini sendiri sudah cukup untuk membuat atmosfer kotanya terasa “mati”.

Di akhir pekan itu Zurich tidak sibuk

Walaupun, suasana ini juga mungkin diperkuat cuacanya sih. Harus kubilang aku cukup tidak beruntung di bidang ini dalam perjalanan ini. Hujan terus turun di sepanjang masa tinggalku di sana. Setiap kali aku pergi ke luar, aku harus membawa payung (untungnya, hotelku menyediakan payung-payung untuk dipinjam tamunya). Nah kan, kombinasi antara aktivitas yang memang tidak banyak dan hujan jelas bukanlah kombinasi yang ideal.

Hujan terus di Zurich

Di atas itu semua, apa-apa di Zurich tetap aja mahal! Yah, bagaimana pun juga Zurich adalah sebuah kota di Swiss sih ya, haha 😆 . Walaupun, setidaknya kali ini kondisi finansialku juga lebih baik sih daripada dulu di tahun 2011 ketika aku masih hidup dengan menggantungkan jatah living cost dari beasiswa (waktu itu pun aku masih belum pekerja paruh waktu di universitas jug), haha 😆 . Namun, jelas perbedaan harga dalam hal apa pun dengan Belanda ya masih terlihat lah, walaupun aku masih mampu membayarnya sih 😛 .

RIP uangku💸💸💸💸💸

Walaupun begitu, jelas aku masih berusaha untuk menikmatinya semaksimal mungkin, haha. Aku berjalan-kaki keliling kota (aku sedang malas untuk membeli tiket transportasi umum), yang mana toh masih asyik-asyik aja. Aku berjalan dari Kota Tua ke Chinese Garden dan kemudian kembali lagi. Entah mengapa, aku ingat dulu tidur-tiduran di rumput di lapangan di depan Chinese Garden di tahun 2011. Lapangan rumputnya masih ada kok, walaupun jelas kali ini aku tidak tidur-tiduran di sana karena sedang hujan, haha 😆 .

Aku kembali di Chinese Garden di Zurich

Anyway, kali ini aku mencoba Zurcher Geschnetzeltes, sebuah masakan lokal Zurich (di tahun 2011 aku tidak mencobanya karena waktu itu budget-ku terbatas 😛 ). Ini adalah masakan potongan daging sapi muda dengan saus krim dengan jamur dan rosti. Rasanya enak juga dan aku lumayan suka! 🙂

Mencoba Zurcher Geschnetzeltes

Ya, walaupun kondisinya tidak sempurna akhir pekan itu, secara keseluruhan aku masih menikmati long weekend di salah satu kota favoritku 🙂 .

Life in Holland · Zilko's Life

#1836 – My Luck with Rain Lately

ENGLISH

Let’s just say, it has not been great.

Weather-wise, this Fall has not been that great in the Netherlands. It has been a bit colder than usual, really gloomy, and, worst of all, really wet!

Raining in Delft
Raining in Delft

And the last one really annoyed me, be when it happened or when it did not. Two times, recently, I had to soldier through the rain because I forgot to bring an umbrella. When this happened, of course, it reminded me of the old Indonesian saying which roughly translates to “Prepare an umbrella before it starts to rain“. The meaning of this saying can be both figurative or literal; but in this case of course the literal one was applicable 😛 . So the next days, I decided to bring an umbrella just in case it would rain. And guess what? It did not. Moreover, it was sunny! Lol 😆 .

Speaking of rain, one app which I find really useful for living peacefully in handling the rain is the Buienalarm. The app provides prediction of the rain precipitation in your chosen area for the coming hour so. This really helps me in my decision-making process. For instance, I did not just blindly “soldier through” the rain in the previous paragraph. I decided to based on the information that I got from the app, as follows:

Buienalarm
Buienalarm

It was about 6:02 PM in Delft station. A lot of people were stuck due to heavy rain (well, the app said moderate; but from my perspective, moderate rain was basically heavy when I did not have an umbrella with me 😛 ), including myself. It was predicted that the rain would last for the next 45 minutes or so. However, I saw a small opening there. For about five minutes starting from 6:05 PM, the rain would die down a little bit (it would still be raining, but not as hard). So I had an option to make use of this five minutes time-window or to wait 45 minutes before the rain was predicted to completely stop. Well, I chose the former 😛 .

So what I did was just to wait for three minutes more at Delft station. And at 6:05 PM, when the rain died down a little, I soldiered through the rain and ran to my apartment. I was still quite wet, of course, but not as much and I certainly did not have to get stuck at Delft station for another 45 minutes. In my opinion, that helped a lot! 😀

BAHASA INDONESIA

Begini aja deh ya, keberuntunganku dengan hujan akhir-akhir ini tidak lah begitu baik.

Dalam hal cuaca, musim gugur kali ini tidak lah begitu mengasyikkan di Belanda. Suhu udaranya lebih dingin daripada biasa, cuacanya sungguh gloomy, dan, yang paling nyebelin nih, sering hujan!

Raining in Delft
Hujan di Delft

Dan yang terakhir ini sungguh menyebalkanku, baik ketika terjadi maupun tidak. Dua kali, akhir-akhir ini, aku harus berjalan-kaki nekad menembus hujan karena aku lupa membawa payung. Ketika ini terjadi, tentu saja dong aku langsung teringat pepatah “Sedia payung sebelum hujan“. Haha, dalam kasus ini makna pepatah ini mah tersurat banget ya 😛 . Jadilah keesokan harinya, aku memutuskan untuk membawa payung unuk jaga-jaga andaikata hujan. Dan apa yang terjadi? Nggak hujan dong. Malahan, cuacanya cerah! Huahaha 😆 .

Ngomongin hujan, satu app yang aku rasa sungguh berguna untuk hidup damai tentram di Belanda dalam menghadapi hujan adalah Buienalarm. App ini memberikan prediksi curah hujan di tempat pilihan kita sepanjang satu jam-an ke depan. Ini sungguh membantu proses pembuatan-keputusanku. Contohnya, sebenarnya aku nggak hanya sekedar modal nekad aja sih dalam menembuh hujan yang kuceritakan di paragraf sebelumnya. Aku memutuskan begitu berdasarkan informasi yang kudapatkan dari app ini, sebagai berikut:

Buienalarm
Buienalarm

Waktu itu jam 6:02 sore di stasiun Delft. Banyak orang terjebak di sana karena hujan yang deras (yah, menutup app hujannya cuma sedang aja sih; tetapi dari sudut pandangku, hujan yang sedang aja mah sudah aku anggap deras ya soalnya aku kan harus berjalan-kaki dan aku tidak membawa payung 😛 ), termasuk aku. Hujannya diprediksi akan berlangsung selama 45an menit ke depan. Namun, aku melihat sebuah celah di sana. Selama sekitar lima menit mulai dari jam 6:05 sore, hujannya akan sedikit mereda (masih hujan sih, tapi nggak deras). Aku memiliki pilihan untuk menggunakan waktu lima menit ini atau menungguh 45 menit hingga hujannya diprediksikan berhenti. Aku memilih pilihan pertama 😛 .

Jadilah aku memutuskan untuk menunggu selama tiga menitan di Stasiun Delft. Jam 6:05 sore, ketika hujannya sedikit mereda, baru deh aku menembus hujan dan berlari menuju apartemenku. Jelas lah aku masih basah, tetapi nggak parah-parah amat dan jelas aku jadi tidak harus terjebak di Stasiun Delft selamat 45 menit kan. Menurutku, ini mah membantu banget! 😀

Life in Holland · Zilko's Life

#1589 – Summer and Rain

ENGLISH

If two weeks ago the Netherlands was struck by a heatwave, just the week later (last week), the weather here went back to its normal summer weather: cloudy and rainy, haha.

You know, this month I am also busy with moving my stuffs to my new apartment. This time, I like to do it in the morning on my way to the office. Twice last week, I did this exactly when it was raining (rain in the Netherlands normally does not last too long (most of the time less than 30 minutes)). But what was annoying was that when I arrived at my office or my apartment, the rain stopped!

The following comic strip (I found it here on 9gag) pretty much represents this experience of mine:

Rain
Rain

It is funny, I know. But it was annoying when it happened, lol 😆 .

BAHASA INDONESIA

Jika dua minggu lalu Belanda diterjang oleh gelombang panas, seminggu setelahnya (minggu lalu), cuacanya kembali ke cuaca normalnya musim panas deh: berawan dan sering hujan, haha.

Tahu kan, bulan ini aku juga sibuk memindahkan barang-barangku ke apartemen baruku. Kali ini, aku suka melakukannya di pagi hari sekalian berangkat ke kantor. Dua kali ya minggu lalu, aku melakukannya ketika hujan dong (hujan di Belanda biasanya tidak berlangsung lama (seringnya sih di bawah 30 menit saja)). Tetapi yang menyebalkan adalah, ketika aku tiba di kantor atau di apartemen, hujannya berhenti!! 

Komik berikut ini (yang aku temukan disini di 9gag) mewakili pengalamanku banget deh:

Rain
Balada hujan

Memang sih, lucu ya. Tetapi rasanya menyebalkan banget loh ketika terjadi, haha 😆 .

EuroTrip · Weekend Trip

#1525 – Napoli Weekend Trip (Part II: Pompeii and Napoli)

ENGLISH

Previously on Napoli Weekend Trip: Zilko went to Naples for a weekend trip in early February. After a day full of flying drama where he missed his connection flight in Paris, he finally arrived in Naples and was ready to explore the Campania region nearby.

***

Pompeii

One of the biggest reason I chose Naples as the destination of this weekend trip was because Naples was the closest city (with an airport) to a site in my bucket list: Pompeii, an old Roman town which was buried under the ash and pumice of the eruption of Mount Vesuvius in the year 79 (as in 0079, yes, as in 1936 years ago). So obviously Pompeii was in my top priority in this trip.

On Saturday morning, after having a nice (complimentary) breakfast at the hotel, I went to the train station to take the regional Circumvesuviana line train to get there. I took the line with the end destination of Sorrento since this was the only Circumvesuviana line which stopped in Pompeii. The normal train ticket cost €2.60 one way, a very good price for a 40 minutes journey I must say. The train condition was quite poor though in my opinion, as my coach was actually leaking! But the view was quite nice as I could see the Mount Vesuvius itself on the north east side! 😀

Mount Vesuvius in Campania
Mount Vesuvius in Campania

Anyway, so I got off at Pompeii Scavi station where the gate to the site of Pompeii was just outside the train station. So it was, indeed, very convenient. I bought the entrance ticket for €11 and borrowed an audio-guide for €6.50 which came with the map of the site. I could not bring my backpack inside so I had to leave it at a deposit centre just outside the gate. In my opinion, this was quite inconvenient as I could not bring my mineral water with me. Given that the site was huge and the “drinking” water there actually tasted strange, I knew I had to be careful not to get dehydrated very soon.

So how was Pompeii? Well, it was cool! It was basically the ruins of an entire town from almost 2000 years ago. My decision to borrow the audio-guide was a good one too as it provided me with a lot of stories of a lot of the remains there. Not just the important ones like the temples, markets, colloseum, theatre, etc; but also the normal houses and apartments. Even apparently there was one luxurious apartment which was open for rent by someone named Primus in one side of the town when the eruption happened.

Pompeii
Pompeii
Pompeii
Pompeii


A Roman theatre in Pompeii
A Roman theatre in Pompeii
The main road of the town of Pompeii
The main road of Pompeii

But to be honest, it was so big that after some time I got a little bit underwhelmed. I mean, it was cool and stuff but basically the entire town was in ruins. You went to different parts of the town and you would still see ruins, anywhere. But overall it was still very beautiful though 😀 .

It was a bit of a pity that the weather had not been the best that weekend. I think it might have just rained in the morning so there was a lot of puddle everywhere.

Puddle everywhere
Puddle everywhere

Was it busy? Well, not really. I mean, there were many other visitors as well but because the town was so big, it did not feel crowded at all; which was good in my opinion. And it definitely was not as hot as how I read in the internet before I left. So this probably meant that most people visited the site in the summer where I can imagine it being extremely hot down there in Italy! Lol 😆

The City of Naples

As I said, the weather had not been the best this weekend. And unfortunately, this continued on Saturday where just after I came back from Pompeii, this happened:

It was raining really hard
It was raining really hard

Yeah, it was raining, and like really hard! And as you could deduce, I was inside a building when it happened. If you did, then you were correct. Luckily, before the rain started, I decided to stop by at a restaurant for lunch (the story about the food is a bit later down in this post 😉 ).

After that lunch, I decided to walk for around 12.5 kilometer, haha 😆 . Obviously I went around the city to see what Naples looked like. Architecture-wise it was like other Italian cities; and I have been to Italy a few times before so I was not overly amazed by it, haha 😆 . But I did feel the city to be a little bit “dirtier” or “slummier” (is this a word? 😆 ) than the others though.

A cute shop in Naples
A cute shop in Naples

The Food

When talking about Italian food, I bet the top two names that come out in people’s mind are pizza and pasta. And obviously these two names were the theme of the culinary side of this trip to Naples 😛 .

I had two spaghetti dishes during this trip: a spaghetti carbonara and a seafood spaghetti. Both were delicious; but I suspect the seafood spaghetti which I had was the culprit of my allergy reaction that came out not long after 😦 . So I guess the seafood (prawns) that they used there was probably not good. When I had the spaghetti carbonara btw, I also ordered a mozzarella as an appetizer, and it was SO good! It was basically just cutted mozzarella cheese though, but it was really tasty! 😀

A shell-shaped pastry from Naples called the sfogliatella. So delicious with very crusty crust!
A shell-shaped pastry from Naples called the sfogliatella. So delicious with very crusty crust!

But my culinary highlight of this trip was the pizza. If you have ever been to Italy, you would know that one of the most popular pizza in Italy is pizza margherita. I am not sure though if it is popular because people genuinely do love the topping or because the topping resembles the Italian flag (color-wise) with the use of tomato sauce (red), mozzarella cheese (white), and basil (green), haha 😆 .

Pizza margherita was invented in 1889 when a pizza maker in Naples was commissioned to create a pizza in honor of Queen Margherita. The pizza maker created three different pizzas and Queen Margherita loved the one with the tomato sauce, mozzarella cheese, and basil. And supposedly, this type of pizza, then, became famous and known as pizza margherita.

Pizza margherita was invented here
Pizza margherita was invented here

The pizza maker was Raffaele Esposito, who owned a pizzeria in Naples. And this pizzeria still exists up to now; known as Pizzeria Brandi. So obviously I knew I had to dine there and ordered a pizza margherita. It literally did not get more original than that, did it? Lol 😎

The original pizza margherita
The original pizza margherita

And how was it? Well, as always, it was delicious! I did taste that the dough was a little bit different from the other Italian pizza from different regions though. It tasted a bit more chewy, which I actually really liked. I ordered one pizza (in Italy, generally pizza is served with only one size) and I finished it myself, muahaha 😆 . Well, I was walking for more than 20 kilometers today I believed, so it was okay, haha 😆 .

Back to the Netherlands

Luckily, my trip back to the Netherlands was drama-free. Both flights (Naples – Rome and Rome – Amsterdam) were also on time 😀 .

Flight 1:
Flight: Alitalia AZ 1264 (NAP-FCO)
Equipment: Airbus A320-216 EI-DSD

For my first flight, I chose the window seat on the left because I thought if the flight took off from runway 24, I should get a good view of the city of Naples under me with the beautiful Gulf of Naples. But then, not only the flight did not take off from runway 24 (it was from runway 06 instead), the flight path was so perfect for people sitting on the window seat on the right because we flew over the west side of Rome upon approaching Rome-Fiumicino Airport. Basically, this meant that the people sitting on the window seat on the right would be able to get a super good bird’s eye view of Rome!! Daamn!! 😦

Anyway, so we landed at runway 16L or Rome – Fiumicino Airport after a short 40 minutes flight from Naples. Here is the landing video:

Flight 2:
Flight: Alitalia AZ 110 (FCO-AMS)
Equipment: Airbus A321-112 EI-IXH

I was excited for my second flight too. Even though technically I had flown twice with Airbus A321 before (actually I just flew on one just two days prior from Amsterdam to Paris), but both flights were with a -200 series. This time, I would fly with an Airbus A321-100, so the -100 series, for the first time ever! Haha 😆 .

The flight went quite routine. We took off from runway 25 of Fiumicino Airport, and 2 hours and 10 minutes later we landed at runway 06 of Amsterdam Schiphol Airport. Here is the landing video:

I didn’t have any checked-in luggage so I directly went to Schiphol train station to catch a train to Delft. However, it turned out that due to maintenance work, there was no train service between Den Haag and Delft today. So as a result I got off at Den Haag and took the tram to Delft.

THE END.

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam Napoli Weekend Trip: Zilko pergi ke Napoli untuk sebuah perjalanan akhir pekan di bulan Februari. Setelah satu hari penuh drama dengan penerbangan dimana ia ketinggalan penerbangan koneksinya di Paris, ia akhirnya sampai juga di Napoli dan kini telah siap untuk jalan-jalan di regio Campania ini.

***

Pompeii

Salah satu alasan utamaku aku memilih Napoli sebagai tempat tujuan dari perjalanan akhir pekan kali ini adalah karena Napoli merupakan kota besar terdekat (yang memiliki bandara) ke sebuah tempat yang berada di bucket list-ku: Pompeii, sebuah kota dari zaman Romawi kuno yang terkubur di bawah abu letusan Gunung Vesuvius di tahun 79 (maksudnya 0079, dan iya, maksudnya letusannya itu terjadi 1936 tahun yang lalu). Jadi jelas dong Pompeii ini berada di prioritas utama di perjalanan ini.

Sabtu pagi, setelah sarapan yang enak di hotel (termasuk di rate hotelnya 😀 ), aku pergi ke stasiun kereta api untuk menaiki kereta regional jalur Circumvesuviana. Aku menaiki kereta dengan tujuan akhir Sorrento karena hanya inilah kereta di jalur Circumvesuviana yang berhenti di Pompeii. Harga normal tiket keretanya adalah €2,60 (sekitar Rp 38.000,-) satu arah, murah ya untuk perjalanan sepanjang 40 menit. Tetapi sayangnya kondisi keretanya kurang baik sih, karena gerbongku bocor dong! Tetapi pemandangannya oke loh, soalnya di jalan aku mendapatkan pemandangan Gunung Vesuvius jika aku memandang ke sisi timur laut! 😀

Mount Vesuvius in Campania
Gunung Vesuvius di Campania

Aku turun di stasiun Pompeii Scavi dimana gerbang masuk ke Pompeii-nya berada di seberang stasiun kereta. Jadi memang gampang banget deh akses kesana. Aku membeli tiket masuk sebesar €11 dan sekalian meminjam audio-guide seharga €6,50 yang mana termasuk peta dengan harga segitu. Aku tidak boleh membawa tas ranselku masuk sehingga aku harus menitipkannya di tempat penitipan tas di luar gerbang. Menurutku, ini sangat kurang nyaman karena aku jadi tidak bisa membawa bekal air mineralku masuk. Karena Pompeii sendiri berukuran besar dan air “minum” (dari kran) yang disediakan di dalam itu rasanya aneh gimana gitu, jadilah aku harus berhati-hati banget agar tidak cepat dehidrasi (haus).

Nah, bagaimanakah Pompeii sendiri? Keren! Ya, pada dasarnya ini adalah reruntuhan dari sebuah kota dari hampir 2000 tahun yang lalu ya. Keputusanku untuk meminjam audio guide adalah keputusan yang ok karena dengannya aku jadi mendapatkan banyak informasi mengenai reruntuhan-reruntuhannya. Informasinya nggak hanya tentang bangunan-bangunan penting semacam kuil, pasar, koloseum, teater, dll loh; tetapi termasuk rumah dan apartemen biasa. Btw, ternyata disana itu dulu ada sebuah apartemen mewah yang sedang disewakan oleh seorang bernama Primus di salah satu sisi kotanya ketika Gunung Vesuvius meletus.

Pompeii
Pompeii
Pompeii
Pompeii


A Roman theatre in Pompeii
Teater Romawi di Pompeii
The main road of the town of Pompeii
Jalan utama di kota Pompeii

Tetapi sejujurnya nih, akibat ukurannya yang memang amat luas, setelah beberapa waktu rasanya jadi bosan karena semuanya ya gitu-gitu aja. Maksudku, keren sih tetapi pada dasarnya keseluruhan kotanya kan ya reruntuhan gitu ya. Mau pergi ke sisi yang mana pun juga yang dilihat reruntuhan gitu deh. Tetapi secara keseluruhan memang indah kok tempatnya 😀 .

Agak disayangkan juga waktu itu cuacanya sedang kurang bersahabat. Sepertinya pagi itu hujan disana sehingga dimana-mana becek gitu deh.

Puddle everywhere
Becek dimana-mana, nggak ada ojek lagi #eh

Ramaikah tempatnya? Nggak terlalu sih. Maksudku, memang ada banyak pengunjung lain tetapi karena kotanya besar, aku jadi tidak merasa ramai sama sekali; yang mana asyik dong ya. Dan juga jelas tidak sepanas yang dideskripsikan beberapa artikel di internet yang aku baca sebelum berangkat. Jadi mungkin artinya kebanyakan orang berkunjung kesana di saat musim panas dimana bisa aku bayangkan deh, pasti panas banget di Italia sana! Haha 😆

Kota Napoli

Seperti yang aku bilang di atas, cuaca akhir pekan ini amat tidak bersahabat. Dan sayangnya, ini berlanjut di hari Sabtu itu dimana begitu aku kembali dari Pompeii, ini terjadi:

It was raining really hard
Hujan deras

Iya, hujan loh, dan lebat lagi! Dan seperti yang bisa disimpulkan dari foto di atas, waktu itu aku memang sedang berada di dalam sebuah bangunan. Jadi ceritanya untungnya waktu itu, sebelum hujan mulai turun, aku memutuskan untuk mampir di sebuah rumah makan untuk makan siang (cerita makan siangnya ada di bawah 😉 ).

Setelah makan siang itu, aku memutuskan untuk berjalan kaki sejauh 12,5 kilometer, haha 😆 . Jelas aku mengelilingi kota Napolinya untuk melihat kotanya seperti apa. Secara arsitektur sih kotanya nampak seperti kota-kota di Italia lainnya; dan aku sudah beberapa kali ke Italia sebelumnya jadi aku nggak terlalu merasa wah atau kagum yang gimana gitu deh, haha 😆 . Tetapi aku merasa kok kotanya agak lebih “kotor” dan “kumuh” gitu ya dibandingkan dengan kota-kota lain?

A cute shop in Naples
Sebuah toko yang lucu di Napoli

Makanannya

Kalau ngomongin yang namanya makanan Italia, aku yakin dua nama yang langsung muncul di pikiran orang-orang adalah pizza dan pasta. Dan jelas saja kedua makanan ini adalah tema utama dari sisi kuliner perjalanan ke Napoli ini 😛 .

Aku makan dua menu spaghetti di perjalanan ini: sebuah spaghetti carbonara dan spaghetti seafood. Keduanya enak; tetapi aku curiga bahwa spaghetti seafood-nya adalah penyebab reaksi alergiku kumat lagi tidak lama kemudian 😦 . Jadi aku duga seafood-nya (udang) yang mereka gunakan mungkin tidak bagus. Ketika aku memesan spaghetti carbonara itu btw, aku juga memesan keju mozzarella sebagai makanan pembuka, dan rasanya enak BANGET! Padahal cuma keju mozzarella biasa yang dipotong gitu loh, tapi enak banget! 😀

A shell-shaped pastry from Naples called the sfogliatella. So delicious with very crusty crust!
Sebuah kue berbentuk kerang khasnya Napoli yang bernama sfogliatella. Enak dan kulitnya itu crispy banget!

Tetapi fokus utama dari perjalanan kuliner kali ini berada di pizza. Jika pernah ke Italia, pasti pada tahu bahwa salah satu pizza paling populer di Italia adalah pizza margherita. Aku nggak tahu deh ini pizza-nya populer karena orang-orangnya memang suka rasa topping-nya atau karena topping-nya mewakili warna bendera Italia gitu dimana yang digunakan adalah saus tomat (merah), keju mozzarella (putih), dan basil (hijau), haha 😆 .

Pizza margherita ditemukan di tahun 1889 ketika seorang pembuat pizza di Napoli ditugaskan untuk menciptakan pizza baru untuk menghormati Ratu Margherita. Si pembuat pizza ini kemudian membuat tiga jenis pizza baru dan Ratu Margherita paling menyukai salah satunya yang dibuat dengan saus tomat, keju mozzarella, dan basil. Dan, konon ceritanya, jenis pizza ini kemudian menjadi terkenal dan dikenal dengan nama pizza margherita.

Pizza margherita was invented here
Pizza margherita diciptakan disini

Pembuat pizza itu adalah Raffaele Esposito, yang memiliki sebuah pizzeria di Napoli. Dan pizzeria-nya masih berdiri loh sampai sekarang ini; yang mana sekarang dikenal dengan nama Pizzeria Brandi. Jadi jelas dong ya aku harus makan disana dan memesan pizza margherita. Sudah nggak mungkin ada lagi lebih original/asli daripada ini kan ya? 😎

The original pizza margherita
Pizza margherita yang asli

Dan bagaimana kah pizzanya? Ya, seperti biasa, enak! Eh, aku merasa bahwa adonan rotinya itu agak berbeda daripada pizza-pizza di daerah-daerah lain di Italia sih. Yang ini aku rasakan agak lebih kenyal gitu, yang mana justru aku suka banget loh. Aku memesan satu buah pizza (di Italia biasanya pizza ya hanya ada satu ukuran aja yang mana ukurannya kira-kira di antaranya pizza ukuran medium dan large-nya sebuah jaringan rumah makan pizza yang banyak bertebaran di Indonesia 😛 ) dan itu aku habisin sendiri loh, muahahaha 😆 . Eh, tapi total hari ini kan aku sudah berjalan kaki sejauh 20an kilometer ya, jadi nggak papa dong, haha 😆 .

Kembali ke Belanda

Untungnya perjalananku kembali ke Belanda bebas drama. Kedua penerbananku (Napoli – Roma dan Roma – Amsterdam) juga tepat waktu 😀 .

Penerbangan 1:
Penerbangan: Alitalia AZ 1264 (NAP-FCO)
Pesawat: Airbus A320-216 EI-DSD

Untuk penerbangan pertamaku, aku memilih kursi jendela di sebelah kiri karena aku kira jika pesawatnya lepas landas dari landasan pacu 24, aku seharusnya mendapatkan pemandangan kota Napoli yang oke banget dengan Teluk Napolinya itu. Tetapi kemudian, nggak hanya penerbangannya lepas landas tidak dari landasan pacu 24 (jadinya dari landasan pacu 06), rute penerbangannya juga sempurna banget untuk yang duduk di sisi kanan pesawat dong. Ini karena sebelum mendarat di Roma, pesawatnya terbang dulu di sisi barat kota Roma sehingga yang duduk di sisi kanan pesawat bisa melihat kota Roma yang indah itu dari udara!! Siaaal!! 😦

Ngomong-ngomong, kami mendarat di landasan pacu 16L Bandara Roma – Fiumicino setelah penerbangan singkat selama 40 menit dari Napoli. Berikut ini video pendaratannya:

Penerbangan 2:
Penerbangan: Alitalia AZ 110 (FCO-AMS)
Pesawat: Airbus A321-112 EI-IXH

Aku juga merasa senang dengan penerbangan keduaku. Walaupun secara teknis aku sudah pernah terbang dengan sebuah Airbus A321 sebelumnya (sebenarnya dua hari sebelumnya aku baru saja terbang dengan satu dari Amsterdam ke Paris), tetapi kedua pengalamanku itu adalah dengan seri -200. Nah, kali ini aku akan terbang dengan Airbus A321-100, alias seri -100nya, untuk pertama kalinya! Haha 😆

Penerbangannya berlangsung rutin. Kami lepas landas dari landasan pacu 25 Bandara Roma-Fiumicino, dan 2 jam 10 menit kemudian mendarat di landasan pacu 06 Bandara Schiphol di Amsterdam. Berikut ini video pendaratannya:

Aku tidak memasukkan bagasi jadi aku langsung pergi ke stasiun kereta api Schiphol untuk naik kereta kembali ke Delft. Namun, ternyata akibat pekerjaan maintenance, hari itu tidak ada kereta di jalur Den Haag dan Delft. Jadilah akibatnya aku turun di Den Haag dan naik tram untuk kembali ke Delft.

SELESAI.

General Life · Life in Holland · Zilko's Life

#1457 – Fall Season (Literally)

ENGLISH

If on Tuesday I was talking about the fall TV season, now I am going to talk about the actual fall season, haha 😆 . Since it is October already, we are already entering the fall season, or het najaar in Dutch, in the Netherlands. And here are something that I have to deal with because of this season:

Getting Colder

I have to accept the fact that it has started to get gradually colder now. The temperature has consistently floated within the teens of Celsius. which is fine and this band of temperature is actually my favorite. However, after a beautiful summer this year (with relatively less rain, yay!) and my one month trip to the tropics (read: Indonesia), I do have to make an effort to accept that the temperature has, indeed, gone colder.

And by this I mean I have had to open my winter cabinet, haha 😆 . No more days where we can just wear a t-shirt and shorts to get out. Well, actually noone would prohibit you from doing so though, lol 😆 . Noone would prohibit you from doing so, but risk is at your own 😛 . Now at least I must wear long jeans or trousers and a sweater, or at least long-sleeves. I still feel that I don’t need my winter jackets yet though, so they are still stored neatly in the cabinet. But I have taken some of my sweaters out.

I don’t know, the psychology about fall is a little bit strange in my experience. It seems that we (or probably just me? Lol 😆 ) don’t want to accept that fall has started (which equivalently means summer is over). So we tend to postpone opening our winter cabinet as long as possible until we come to the conclusion that “Yes, fall is here, I need my warmer clothes otherwise I will suffer outside“; this the point which I refer to as the “acceptance”-that-fall-has-come point, haha 😆 .

It is the complete opposite with spring, where we would happily store all our winter outfits in the cabinet and start wearing our summer clothes; even though the temperature is also in the teens.

Getting Darker

One thing that, for sure, I will miss from the summer time is the long daylight. In the summer, most of the time the sun sets at or after 21:00 in the Netherlands, which peaks at around 22:30 in June. Now, well, this week the sun sets at around 19:00; and it will get sooner and sooner as winter approach. Plus, we will have a DST later on this month as well which will make it even earlier.

I love long daylight. I feel like I can be more productive when the day is longer. Plus, I tend to be in better mood when the sun is out, especially for work-related stuffs. Working when the sky is dark does feel more depressing than the counterpart.

Getting Rainier

But the most annoying thing with this fall weather, to me, is the more frequent rain. Twice this week only has rain played around with me. On Wednesday, after I finished working out at the gym, apparently it was raining quite heavily (for Dutch standard) outside. Obviously I did not know this before since the gym was inside the Sport Centre main building. I waited for a little bit and decided to just bike through it since at one point it seemed that the rain had started to die down a little. But then, when I was still almost halfway back home, it started pouring again. Damn!

The second one was a day later, while I was having my tennis lesson. Midway through the lesson, it started to rain. Damn! We took a shelter in a small hut for about five minutes before continuing the lesson again when the rain had come a little bit lighter. But the rain did change my rhythm and the courts a lot, since the courts were clay courts. So the ball bounce changed quite dramatically. Even though playing tennis through the rain is not really foreign to me, I still prefer playing when it is not, haha 😆 .

A rainy evening in Delft
A rainy evening in Delft

BAHASA INDONESIA

Jika Selasa lalu aku membicarakan mengenai musim gugur di acara-acara TV, kali ini aku ingin bercerita tentang musim gugur yang sebenarnya, hahaha 😆 . Jadi karena sekarang ini sudah bulan Oktober, kami sudah mulai memasuki musim gugur, alias het najaar dalam bahasa Belanda, di Belanda. Dan berikut ini beberapa hal yang harus aku hadapi berkaitan dengan musim ini:

Menjadi Semakin Dingin

Aku harus menerima kenyataan bahwa sekarang temperatur perlahan-lahan telah turun dan menjadi semakin dingin. Sekarang ini suhu udara sudah stabil berada di kisaran belasan derajat Celsius, yang mana sebenarnya baik-baik saja sih dan kisaran temperatur ini sebenarnya adalah temperatur favoritku loh. Namun, setelah musim panas yang indah tahun ini (dengan relatif sedikit hujan, hore!) dan juga perjalananku selama satu bulan ke daerah tropis (baca: Indonesia), aku benar-benar harus berusaha untuk menerima kenyataan bahwa memang suhu udaranya sudah semakin dingin.

Dan dengan ini maksudku adalah aku harus membuka lemari musim dinginku, haha 😆 . Nggak ada lagi deh hari-hari dimana kita bisa keluar dengan kaus dan celana pendek aja. Eh, sebenarnya bisa-bisa aja sih kalau mau mah, haha 😆 . Siapa juga yang melarang. Cuma risikonya mah ditanggung sendiri ya, haha 😛 . Sekarang setidaknya aku harus mengenakan celana panjang dan sweater deh, setidaknya lengan panjang lah. Aku masih merasa belum perlu mengenakan jaket musim dinginku sih, jadi mereka masih tersimpan rapi di dalam lemari. Tapi aku sudah mulai mengeluarkan beberapa sweater-ku.

Nggak tahu ya, psikologi di musim gugur itu agak lucu berdasarkan pengalamanku. Sepertinya kita ini (Eh, “kita”? Jangan-jangan cuma aku aja ya, huahaha 😆 ) sulit menerima kenyataan bahwa musim gugur sudah dimulai (yang mana ekuivalen dengan pernyataan bahwa musim panas sudah berakhir). Jadi kita cenderung menunda-nunda membuka lemari musim dingin selama mungkin, sampai pada akhirnya kita menyerah dan mengakui “Ya, musim gugur memang sudah datang, jadi aku perlu mengenakan pakaian yang lebih hangat karena kalau tidak di luar bakal menderita“; dan di saat inilah aku bilang bahwa kita “menerima” bahwa musim gugur sudah datang, haha 😆 .

Ini berkebalikan dengan musim semi, dimana kita dengan sukaria menyimpang semua pakaian musim dingin ke dalam lemari dan mulai mengenakan pakaian musim panas; walaupun sebenarnya suhu udaranya juga berada di kisaran belasan.

Menjadi Semakin Gelap

Satu hal yang pasti akan aku rindukan dari musim panas adalah siang hari yang panjang. Di musim panas, biasanya matahari terbenam pada atau setelah jam 21:00 di Belanda, yang mana puncaknya adalah sekitar jam 22:30 di bulan Juni. Sekarang, yah, minggu ini sih matahari terbenam sekitar jam 19:00; dan jam ini akan semakin maju dan semakin maju karena musim dingin segera tiba. Apalagi akan ada DST di akhir bulan ini nanti yang mana akan membuat waktu matahari terbenam ini semakin maju.

Aku suka siang yang panjang. Aku merasa aku bisa lebih produktif ketika siangnya panjang. Ditambah lagi, rasanya mood-nya lebih menyenangkan gitu ketika matahari bersinar, terutama ketika harus bekerja. Bekerja ketika langit gelap itu rasanya lebih membuat depresi daripada kebalikannya loh.

Menjadi Lebih Sering Hujan

Tetapi yang paling menyebalkan dari musim gugur ini, untukku ya, adalah hujan yang menjadi lebih sering. Dua kali sudah minggu ini aku dikerjain oleh hujan. Di hari Rabu, setelah selesai berolahraga di gym, ternyata di luar sedang hujan lumayan deras loh (untuk ukuran Belanda). Tentu saja aku tidak tahu ini sebelumnya karena gym-nya kan berada di dalam gedung utama Sport Centre. Aku menunggu sedikit dan akhirnya memutuskan untuk bersepeda menerjang hujan, karena hujannya nampak mulai reda. Tetapi kemudian, belum ada setengah jalan, hujannya malah bertambah deras dong. Sial!

Yang kedua adalah sehari setelahnya, ketika aku sedang mengikuti les tenisku. Di tengah-tengah les, hujan mulai turun. Sial! Kami berteduh sebentar di bawah pondokan di dekat lapangan selama sekitar lima menit sebelum lesnya dilanjutkan lagi ketika hujannya sudah agak reda. Tapi hujannya telah mempengaruhi ritmeku dan juga lapangannya, karena lapangannya kan lapangan tanah liat. Jadi pantulan bolanya jadi berubah total deh. Walaupun bermain tenis di saat hujan bukanlah konsep yang asing untukku, aku masih lebih memilih bermain ketika nggak hujan deh, haha 😆 .

General Life · Zilko's Life

#1386 – The Story This Week

ENGLISH

Terrible Weather

The weather this week has been really terrible. I mean, really terrible, and it applied to basically the entire week. It has been very windy and also rained a lot.

Like on Thursday, I was excited for my weekly tennis lesson but it was raining at that time. It was not raining tropical hard though, but still, it was hard for a Dutch weather standard. Also, that day was an anomaly too as it was constantly raining. But as there was no notification I still went to the tennis courts after work; and the lesson started normally, under the light drizzling weather.

But as the training went on, the drizzle didn’t stop that the courts became more and more slippery. Even I was a little bit reluctant to move since I felt like my feet could not get good grips on the ground. So after about fifty minutes, the coach decided that it was too dangerous to play and the training had to stop.

I went back home after that; and then I realized that I was soaking wet, hahaha 😆 .

Coffee No More…

So I was evaluating my daily habit last weekend (because I had the time since it was a long weekend, haha 😆 ) and somehow I came to the conclusion that I wanted to be on coffee sabatical for an undetermined period of time, mainly for health reason. Okay, I am (or was) not a big coffee drinker anyway though, as usually I only had (maximum of) two cups in the morning (read: before noon). I already built a habit of never (okay, “very rarely” would be a more precise statement) drinking coffee (here “caffeine” would be a more precise word too) after 1 PM.

I already did the same attempt back in 2011 and it went really well for about a year (well except for one time where I had a decaf cappuccino; but since it was decaf so it didn’t really count anyway 😛 ). But this time I need to have much stronger will since now I have the privilege of free unlimited coffee in my office with the coffee vending machine. Okay, it is just coffee from a coffee vending machine; but still, it is free, haha 😆 .

As a substitute, I switched to tea. And to support this idea, earlier this week I bought a new teapot for my table (so I would not need to go back and forth to the kitchen to make tea). I bought the better (read: more expensive) teapot which could sustain the warmth longer. We also get free (bagged) tea in our office; but after trying (real) Chinese tea my officemate gave me, I realized that the free tea is super horrible (well it is free, so what can you expect? Haha 😆 ). So I also buy my own tea now, hahaha 😆 .

I hope I can make this my habit; and this week will be the starting point of all that 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Cuaca Jelek

Cuaca minggu ini jelek banget dah. Maksudku, beneran jelek banget, dan ini berlaku sepanjang satu minggu penuh. Jadi ceritanya cuacanya sangat berangin dan juga banyak hujan.

Misalnya di hari Kamis, aku bersemangat untuk les tenis mingguanku kan tetapi hari itu hujan. Hujannya bukan hujan deras ala hujan tropis gitu sih, tetapi bisa dikategorikan deras lah untuk ukuran cuaca Belanda. Juga, hari itu kebetulan cuacanya aneh karena hujannya turun terus-menerus. Tapi karena tidak ada pemberitahuan apa pun jadilah aku tetap pergi ke lapangan tenis setelah kerja; dan lesnya dimulai seperti biasa sih, di bawah guyuran hujan gerimis tapinya.

Tapi gerimisnya nggak berhenti-berhenti loh dan lapangannya menjadi bertambah licin. Bahkan aku sampai merasa agak was-was untuk bergerak di atasnya karena aku merasa kakiku tidak bisa mencengkeram tanahnya dengan kuat. Setelah sekitar lima puluh menit, pelatihnya merasa bahwa ini sudah terlalu berbahaya untuk diteruskan dan latihannya harus dibubarkan.

Aku pulang setelahnya; dan barulah aku sadar bahwa aku beneran basah kuyup banget, hahaha 😆 .

Tiada Lagi Kopi…

Jadi ceritanya akhir minggu lalu aku mengevaluasi kebiasaan harianku (aku punya waktu untuk itu karena akhir pekan lalu kan long weekend, haha 😆 ) dan entah bagaimana aku sampai di kesimpulan dimana aku ingin berhenti minum kopi untuk batas waktu yang tidak bisa ditentukan; terutama untuk alasan kesehatan aja sih. Oke, sebenarnya toh aku juga bukanlah peminum kopi yang berat kok, karena biasanya aku hanya minum (maksimal) dua cangkir aja setiap pagi (baca: sebelum tengah hari). Aku sudah berhasil membentuk kebiasaan untuk tidak pernah (disini istilah “sangat amat jarang” sepertinya lebih tepat sih) minum kopi (disini “kafein” juga lebih tepat deh) setelah jam 1 siang.

Aku pernah mencoba hal yang sama lho di tahun 2011 dan usaha itu cukup sukses karena berlangsung sepanjang sekitar satu tahun (eh, kecuali satu kali dimana aku minum cappuccino decaf sih; tapi kan decaf ya jadi nggak dihitung dong 😛 ). Nah kali ini aku membutuhkan niat yang jauh lebih kuat karena sekarang ini aku mendapatkan fasilitas kopi gratis tak terbatas di mesin kopi otomatis di kantorku. Oke, memang sih toh kopinya cuma kopi dari mesin; tapi kan gratis gitu ya *pecinta gratisan*, haha 😆 .

Sebagai gantinya, aku beralih ke teh saja deh. Dan untuk mendukung usaha ini, awal minggu ini aku membeli sebuah teko teh baru untuk mejaku (jadi aku tidak perlu berjalan bolak-balik ke dapur untuk membuat teh). Aku membeli teko yang lebih bagus (baca: lebih mahal) yang mampu menyimpan kehangatan lebih lama. Aku juga mendapatkan teh celup gratis sih di kantor; tetapi setelah mencoba teh Cina (asli) yang diberikan oleh kolegaku, aku menyadari bahwa teh gratisan ini nggak enak banget (ya iyalah namanya aja gratisan, haha 😆 ). Jadilah sekarang aku juga membeli tehku sendiri, hahaha 😆 .

Mudah-mudahan ini bisa menjadi kebiasaan juga deh; dan minggu ini adalah titik mula dari itu semua 🙂 .

Miscellaneous · Photos

#1347 – Life in Delft in Pictures Lately

ENGLISH

So it has been awhile since I published a post with only photos. So here we go…

BAHASA INDONESIA

Sudah lumayan lama juga ya semenjak aku posting sebuah posting yang isinya foto aja. Ya udah deh mari kita mulai aja kalau begitu…