Tennis

#1619 – 2015 US Open

ENGLISH

It is that time of the year again. The fourth grandslam tournament of the year was concluded on Sunday, and here is a short review.

Women’s Singles

The difference between Serena Slam 1.0 and Serena Slam 2.0 was that in Serena Slam 2.0, Serena Williams’ fourth consecutive grandslam singles title was Wimbledon (where I was part of the final that time :mrgreen: ). This meant that this year, Serena got a chance to achieve something she had never done before, something which had not been done since 1988 by Steffi Graf: winning all four grandslam tournaments in the same year. And the last grandslam being the US Open, which Serena won in the last three years of the tournament, the odd looked good for her. And of course naturally all eyes were, again, on her.

Serena reached the semifinals, not without any trouble though where she overcame inspired Bethanie Mattek-Sands in the third round and had to play her best against her sister, Venus Williams, in the quarterfinals (which was a super good quality match). In the semifinals, she was facing someone who appeared to be extremely lucky to be there, the world no.43, Roberta Vinci from Italy. Serena was the huge favorite. Serena was, well, Serena. And it was Vinci’s first ever semifinals in a grandslam. Vinci had never beaten Serena before with Serena won their last encounter just four weeks prior. The odd for Vinci to beat Serena was 1:300.

But well, the beauty about sport is that the two players still have to play against each other. And they start from scratch in the match. And 1:300 is not zero. Guess what? Roberta Vinci ended Serena Williams’ 33 matches winning streak at the grandslams, beating the world no.1 2–6, 6–4, 6–4 (Lucky I did not watch that match though, I would have been so devastated, haha 😆 )!! Yeah, this shows that anything is possible, and that if you keep on trying, you will succeed.

Meanwhile in the other half of the draw, another Italian player scratched her way up to the finish line. Flavia Pennetta played her best tennis to beat the current world no.2, Simona Halep, 6–1, 6–3 in the semifinals. It was not completely a surprise to see Pennetta doing well here though. She has historically performed good at the US Open, and she loves American hard court tournaments.

In the all-Italian final, the 26th seeded Pennetta was clearly the favorite. Even though she did not play her best, her level was still enough to beat the still-tired Vinci. Pennetta won 7–6(4), 6–2 for her first ever grandslam title. During her trophy ceremony, she delivered a surprising news where she announced her retirement from tennis this season. This season is Pennetta’s last season and she will not defend her US Open title next year.

Yeah, I totally understand her decision. It is good to leave the sport while you are on top!!

Men’s Singles

One big story from this year’s men’s singles tournament was Rafael Nadal’s early exit in the third round, meaning that for the first time since 2004, he does not win any grandslam title in a year. While a lot of people scrutinized this fact, as Rafa said, we should look it the other way around, that for ten years since 2005 until 2014, Rafael Nadal had won at least one grandslam title every year. That is some achievement!!

Nevertheless, unsurprisingly, the top two seeds, Novak Djokovic and Roger Federer, reached the final. It was Djokovic’s fourth grandslam final this year and Federer’s first non-Wimbledon grandslam final since June 2011! In the end, Novak Djokovic, who is the in-form player of 2015, won in four sets, 6–4, 5–7, 6–4, 6–4 for his tenth grandslam title.

Flavia Pennetta won her maiden grandslam title at the 2015 US Open.Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Flavia Pennetta won her maiden and only grandslam singles title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Novak Djokovic won his 10th grandslam title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Novak Djokovic won his 10th grandslam singles title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America

BAHASA INDONESIA

Ya, tanggal-tanggal segini lagi. Turnamen grandslam keempat tahun ini berakhir hari Minggu lalu, dan berikut ini sebuah review mininya.

Tunggal Putri

Perbedaan dari Serena Slam 1.0 dan Serena Slam 2.0 adalah gelar grandslam keempat berturutannya Serena Williams di Serena Slam 2.0 adalah Wimbledon (yang mana aku adalah bagian dari penontonnya loh waktu itu :mrgreen: ). Yang mana artinya tahun ini, Serena memiliki kesempatan untuk mencapai suatu pencapaian yang belum pernah ia raih sebelumnya, sesuatu yang belum pernah diraih siapa pun semenjak tahun 1988 oleh Steffi Graf: memenangi keempat turnamen grandslam dalam tahun yang sama. Dan karena grandslam yang terakhir adalah US Open, sebuah grandslam yang Serena selalu menangi tiga tahun belakangan ini, pencapaian ini nampak sebagai pencapaian yang amat mungkin. Tetapi jelas akibatnya semua mata jadi tertuju padanya.

Serena mencapai babak semifinal, bukannya tanpa masalah sih dimana ia harus mengatasi Bethanie Mattek-Sands yang bermain bagus di babak ketiga dan harus bermain dengan prima melawan kakaknya sendiri, Venus Williams, di perempat-final (yang mana pertandingannya berkualitas super tinggi lho). Di semifinal, ia menghadapi seorang pemain yang nampak super beruntung bisa berada disana, petenis peringkat 43 dunia, Roberta Vinci dari Italia. Serena jelas adalah favorit untuk menang. Serena itu, yah, Serena. Dan ini adalah semifinal pertamanya Vinci di sebuah grandslam. Vinci belum pernah mengalahkan Serena sebelumnya dan pertemuan terakhir mereka hanyalah empat minggu sebelumnya. Di bursa taruhan, peluang Vinci menang adalah 1:300.

Tetapi, keindahan olahraga adalah kedua pemain tetap harus bertanding. Mereka harus memulai pertandingan dari nol. Dan 1:300 juga bukanlah nol. Dan apa yang terjadi? Roberta Vinci mengakhiri kemenangan beruntung 33 kalinya Serena Williams di grandslam, mengalahkan petenis peringkat 1 dunia itu 2–6, 6–4, 6–4 (Untungnya aku nggak nonton pertandingan ini, bisa depresi aku kalau nonton, haha 😆 )!! Ini menunjukkan bahwa apa pun itu mungkin, dan kalau kita terus berusaha, kita juga bisa berhasil.

Sementara itu di sisi lain undian, pemain Italia lainnya juga berjuang keras mencapai garis finish. Flavia Pennetta memainkan tenis terbaiknya untuk mengalahkan petenis peringkat 2 dunia, Simona Halep, 6–1, 6–3 di semifinal. Nggak heran sih melihat Pennetta berprestasi baik begini. Dari sejarahnya juga ia selalu bermain baik di US Open, dan ia juga menyukai turnamen lapangan keras di Amerika.

Di final yang sesama pemain Italia, Pennetta yang diunggulkan di tempat ke-26 adalah yang difavoritkan menang. Walaupun ia tidak bermain dengan yang terbaik, levelnya toh masih cukup untuk mengalahkan Vinci yang masih kelelahan. Pennetta menang 7–6(4), 6–2 untuk gelar grandslam pertamanya. Ketika mendapatkan pialanya btw, ia membagikan sebuah berita yang mengejutkan dimana ia mengumumkan bahwa ia akan pensiun dari tenis musim ini. Ini adalah musim terakhirnya Pennetta dan tahun depan ia tidak akan mempertahankan gelar US Opennya.

Ya, aku mengerti keputusannya. Memang keren ya pensiun ketika sedang berada di puncak!!

Tunggal Putra

Satu cerita besar dari turnamen tunggal putra tahun ini adalah kekalahannya Rafael Nadal di babak ketiga. Ini artinya bahwa untuk pertama kalinya semenjak tahun 2004, ia tidak memenangi satu grandslam pun dalam suatu tahun. Banyak orang yang mencecarnya dengan fakta ini, tetapi seperti yang dibilang Rafa, sebaiknya kita melihatnya dari sisi lain, dimana artinya selama sepuluh tahun dari tahun 2005 sampai 2014, Rafael Nadal selalu memenangi setidaknya satu gelar grandslam. Itu kan keren ya!!

Kembali ke topik, tidak mengejutkan, dua unggulan teratas, Novak Djokovic dan Roger Federer, mencapai babak final. Ini adalah final grandslam keempatnya Djokovic tahun ini dan final grandslam pertamanya Federer bukan di Wimbledon semenjak bulan Juni 2011! Pada akhirnya, Novak Djokovic, pemain yang memang sedang in-form banget tahun 2015 ini, menang dalam empat set, 6–4, 5–7, 6–4, 6–4 untuk gelar grandslam kesepuluhnya.

Advertisements
My Interest · Tennis · Zilko's Life

#1570 – 2015 French Open

ENGLISH

Unlike my usual grand slam tennis posts, this post will be very short-ish because I went to Paris this weekend to watch the women’s singles final of this year’s French Open! 😀

Women’s Singles

One conclusion that one can make from this year’s women’s singles event is just how “scary” Serena Williams’ level is. I think pretty much everyone agrees that when Serena Williams is playing her best tennis, noone can challenge her, let alone beat her. An example for this form is her performance at the 2012 Summer Olympics in London where she destroyed everyone in the field including the, then, world no.1, Victoria Azarenka, and no.3, Maria Sharapova.

But this also means that there are three situations where another player may have a chance to beat her: (1) when she is injured badly; (2) when she is extremely ill; or (3) when she is having a day off and plays like crap (hey, a bad day happens to anyone!). And guess what, all these three situations occurred to her in the fortnight of this year’s French Open. She injured her right elbow in Madrid and forced her to skip Rome, the last warm-up tournament before the French Open. She was still nurturing the injury in the first week of the tournament. Then, in the second week she caught a super bad flu. You know, the bad annoying flu which makes people not being able to get out of bed. And these two factors lead to the third factor to happen: she was not at her best level and played badly.

And so how did she fare at the tournament this year? Well:

Serena Williams won her 20th grandslam singles title at the French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe
Serena Williams won her 20th grandslam singles title at the French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Yes, even when those three situations occurred, somehow, she was still able to win the entire tournament! Her 20th grandslam singles title! 😯

How could it be possible? Well, IMO, there is always one quality that is never missing a presence inside a Serena Williams: her champion mentality and her willingness to win (for hating more to lose). We have learned that noone can underestimate her even when she is down three match points (ask Victoria Azarenka at Madrid this year for that). When she unleashes this quality, she will fight so hard and try to win, even though everything does not seem to be working for her. She showed this multiple times in this tournament. She was able to overcome poor play and still won the matches.

Wow, Serena Williams is, indeed, a legend. She did not even to show up with her best form to win a grandslam. “Scary”, isn’t it?

Men’s Singles

To me, this year was the most interesting men’s singles field in the past many years. The 9-time champion, Rafael Nadal, was in the worst form of his past 11 visits to Paris where he did not win any clay title in the main European clay season this Spring where he lost to Novak Djokovic, Andy Murray, Fabio Fognini, and Stan Wawrinka. As a result, the draw was (much) more open with the higher probability of other players to win. But still, the men’s singles tournament in a grandslam is with the best-of-five system so this, IMO, could help Rafa bit to slowly regain his form.

It did, but it was not enough. Even though Rafa managed to reach the quarterfinals, he faced an in-form world no. 1, Novak Djokovic, there and lost in straight sets, his only second loss in the tournament in 11 years! With the loss of Roger Federer in the quarterfinals, this year the French Open would see a new champion. For this, Novak Djokovic saw a golden opportunity to achieve something extremely rare: a career grandslam (to win each of the grandslams at least one). The French Open is the one that he hasn’t won and with Nadal dominating the tournament for the past, literally, a decade, this year was clearly a golden opportunity for him.

He did reach the final, where he would face Stan Wawrinka, the man who knocked out Federer in the quarterfinals. Being the heavy favorite to win the title now, somehow Wawrinka surprised him by playing unbelievable final. Wawrinka’s game level was so high and he hardly made any mistake. As a result, the Swiss won the match in four sets; thus making Djokovic’s dream of a career grandslam on a halt.

Yeah, so, for the second time that Nadal lost early in the French Open, a Swiss guy took the opportunity and won the title, haha 🙂

Serena Williams won her third Roland Garros title in 2015. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe
Serena Williams won her third Roland Garros title in 2015. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe
Stan Wawrinka won his first Roland Garros title in 2015. Photo Credit: Dan Istitene/Getty Images Europe
Stan Wawrinka won his first Roland Garros title in 2015. Photo Credit: Dan Istitene/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Tidak seperti posting-posting report grandslam-ku biasanya, posting kali ini akan pendek deh karena aku baru saja kembali dari Paris akhir pekan ini untuk menonton final tunggal putrinya French Open tahun ini! 😀

Tunggal Putri

Sebuah kesimpulan yang bisa diambil dari tunggal putrinya French Open tahun ini adalah sebagaimana “menakutkannya” level permainan tenisnya Serena Williams. Aku rasa semua orang sekarang setuju bahwa ketika Serena Williams memainkan performa tenis terbaiknya, tidak ada satupun yang bisa menantangnya, apalagi mengalahkannya. Contoh nyata dari performa ini adalah di Olimpiade Musim Panas tahun 2012 di London dimana ia menghancurkan semua pemain yang berpartisipasi, termasuk pemain peringkat 1 dunia waktu itu, Victoria Azarenka, dan peringkat 3, Maria Sharapova.

Tetapi ini juga berarti ada tiga situasi dimana seorang pemain lain memiliki kesempatan untuk mengalahkannya: (1) ketika ia sedang cedera parah; (2) ketika ia sedang sakit parah; atau (3) ketika ia sedang mengalami bad day dimana ia bermain buruk (hey, siapa pun pasti pernah mengalami bad day kan). Dan apa yan terjadi? Ketiga situasi ini terjadi beneran di French Open tahun ini. Siku kanannya terkena cedera di Madrid yang memaksanya untuk mundur dari Roma, turnamen pemanasan terakhir sebelum French Open. Dan di minggu pertama turnamen ini ia masih harus memulihkan cedera ini. Lalu, di minggu kedua, ia terkena penyakit flu yang amat parah. Tahu kan, flu yang parah banget yang membuat kita merasa tidak bisa meninggalkan tempat tidur. Dan kedua faktor ini menyebabkan situasi ketiga terjadi: ia tidak bermain dengan baik, bahkan bermain amat buruk.

Dan trus gimana dong performanya di turnamen ini tahun ini? Yah:

Serena Williams won her 20th grandslam singles title at the French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe
Serena Williams menjuarai gelar tunggal grandslam ke-20nya di French Open. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Iya, walaupun ketiga situasi itu terjadi beneran, entah bagaimana ia masih bisa berhasil memenangi turnamennya! Gelar grandslam tunggal ke-20-nya! 😯

Kok bisa sih? Ya, menurutku nih ya, ada satu faktor yang tidak pernah absen di dalam diri seorang Serena Williams: mental juaranya dan keinginannya yang kuat untuk menang (dan amat benci dengan yang namanya kekalahan). Semua orang sudah belajar bahwa Serena Williams itu tidak bisa dipandang sebelah mata, termasuk ketika ia menghadapi tiga match point untuk lawan (coba deh tanya Victoria Azarenka di Madrid tahun ini untuk itu). Ketika kualitas ini ia tunjukkan di lapangan, ia akan bertarung dengan amat gigih dan mencoba untuk menang, walaupun segala faktor tidak mendukungnya. Ia sudah menunjukkan kualitas ini berkali-kali di turnamen ini. Ia berhasil membuat permain tenis yang buruk menjadi kemenangan.

Wow, Serena Williams memang adalah seorang legenda. Ia bahkan tidak perlu bermain dengan level baiknya untuk menjuarai sebuah turnamen grandslam. “Menakutkan” bukan?

Tunggal Putra

Untukku, tahun ini adalah tahun terseru untuk tunggal putra di banyak tahun belakangan ini. Juara 9-kali, Rafael Nadal, berada dalam performa terburuknya dari 11 kunjungan terakhirnya ke Paris dimana tahun ini ia sama sekali tidak menjuarai turnamen tanah liat di musim tanah liat di Eropa musim semi ini. Ia kalah terhadap Novak Djokovic, Andy Murray, Fabio Fognini, dan Stan Wawrinka. Sebagai akibatnya, undiannya menjadi (jauh) lebih terbuka dengan peluang yang lebih tinggi bagi pemain lain untuk menang. Tetapi tetap saja sih, karena turnamen tunggal putra di grandslam itu adalah dengan sistem best-of-five-sets, menurutku ini bisa membantu Rafa untuk secara perlahan-lahan meningkatkan performanya.

Kenyataannya memang begitu, sayangnya itu tidak cukup. Walaupun Rafa berhasil mencapai perempat-final, ia harus menghadapi peringkat 1 dunia yang sedang bermain bagus sekarang ini, Novak Djokovic, dan kalah dalam tiga set langsung, hanya kekalahannya yang kedua dalam 11 tahun! Dengan kalahnya Roger Federer di perempat final, artinya tahun ini French Open akan melihat seorang juara baru. Untuk ini, Novak Djokovic mengendus sebuah kesempatan emas untuk mencapai suatu raihan langka: karir grandslam (memenangi setiap turnamen grandslam minimal satu kali). French Open adalah satu-satunya grandslam yang belum pernah ia menangi dan dengan Nadal yang memonopoli turnamen ini selama satu dekade belakangan, tahun ini jelas adalah kesempatan emas untuknya dong ya.

Ia masuk final, dimana ia menghadapi Stan Wawrinka, pemain yang mengalahkan Federer di perempat-inal. Difavoritkan untuk juara, entah bagaimana Wawrinka mampu mengagetkan Djokovic dan bermain dengan amat ciamik di final. Level permainannya Wawrinka sungguh tinggi dan ia nyaris tidak membuat kesalahan sama sekali. Sebagai akibatnya, si pemain Swiss ini menang dalam empat set; sehingga mimpinya Djokovic untuk karir grandslam harus ditunda dulu dari kenyataan.

Yeah, jadi, untuk kali kedua dimana Nadal kalah awal di French Open, seorang Swiss yang memanfaatkan kesempatan ini dan meraih gelar juaranya, haha 🙂

My Interest · Tennis

#1412 – 2014 Wimbledon Championships

ENGLISH

Today, the third grandslam tournament of the year, the Wimbledon Championships, was concluded. As usual, here is a review and some of my takes on it.

Ladies’ Singles

The ladies’ singles was, as usual, very open. Even though Serena Williams was (still) the favorite coming to the tournament, she hadn’t been performing well in the grandslam this year. So she wasn’t as a heavy favorite coming to this tournament as last year.

In the end, the ladies’ singles draw fell apart once again. Serena Williams lost in the third round to Alize Cornet; in a match which, in my opinion, was strange because Serena was not herself in the second and third set by playing so passively. She was brilliant in the first set though, dominating the match which was the reason why she won it handily 6–1. So that is why I (still) do not understand why suddenly she “changed” this in the second and third (which ultimately cost her the match). Maria Sharapova lost in the fourth round to Angelique Kerber; Li Na lost in the third round as well. The best match of the tournament, in my opinion, was between the 2011 champion, Petra Kvitova, and the five time Wimbledon champion, Venus Williams. Too bad it had to happen in the third round. It was a high-quality match throughout, and in the end Kvitova won 5–7, 7–6(2), 7–5.

In the end, Petra Kvitova reached her second Wimbledon and grandslam final, where she would face a young rising Canadian, Eugenie Bouchard. Bouchard has been quite consistent this year, reaching the semifinals of the Australian Open and French Open as well (though, arguably, she also profited a little bit from her open draw; but nevertheless, she still did her job, which was winning these matches 🙂 ). Anyway, in the final, Kvitova played magnificently and showed that at the moment, she was in a different class than Bouchard. In the end, Kvitova won her second Wimbledon and grandslam title after beating Bouchard 6–3, 6–0 in just 55 minutes.

Gentlemen’s Singles

Andy Murray was the defending champion and he came to this tournament having just appointed Amelie Mauresmo as his coach; a decision which was quite controversial in the sense that Amelie is a woman (I mean, come on people. Does gender really matter? 🙄 ). He performed very well in the first week but lost to Grigor Dimitrov in the quarterfinals. Rafael Nadal also had a bad Wimbledon for the third straight time, failing to reach the quarterfinals after losing in four sets to a young rising player from Australia, Nick Kyrgios.

But in the end, the Big Four still pretty much showcased their dominance, where Novak Djokovic and Roger Federer reached the final. The final was an exciting match; and it offerred some drama as well. Djokovic was up 5–2 in the fourth set where he was already 2 sets up. He was serving for the match at 5–3 but then got broken, and at 5–4 on Federer’s serve, he got a championship point; which Federer saved with an ace. Federer won five games in a row in that set and sealed it 7–5! Djokovic also called the trainer early in the fifth set. But in the end, he was able to hang in there and finally won the match 6–7(7), 6–4, 7–6(4), 5–7, 6–4 to claim his second Wimbledon title.

Petra Kvitova won her second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Pool/Getty Images Europe
Petra Kvitova won her second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Pool/Getty Images Europe
Novak Djokovic won his second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Al Bello/Getty Images Europe
Novak Djokovic won his second Wimbledon title in 2014. Photo credit: Al Bello/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Hari ini, turnamen grandslam ketiga tahun ini, Kejuaraan Wimbledon, telah selesai. Seperti biasa, berikut ini review singkatku beserta pendapatku tentangnya.

Tunggal Putri

Tunggal putri, seperti biasa, sangat terbuka tahun ini. Walaupun Serena Williams (masih) yang paling difavoritkan, sejauh ini tahun ini ia masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan di turnamen-turnamen grandslam. Jadi ia tidak difavoritkan dengan amat berat di turnamen ini, tidak seperti tahun lalu.

Pada akhirnya, sisi tunggal putrinya benar-benar terbuka lagi. Serena Williams kalah di babak ketiga dari Alize Cornet; di sebuah pertandingan yang, menurutku, sangat aneh karena Serena tidak seperti dirinya sendiri di set kedua dan ketiga dimana ia bermain dengan amat pasif. Ia bermain dengan brilian di set pertama sih, sehingga bisa memenanginya dengan mudah 6–1. Makanya aku (masih) belum mengerti mengapa kok tiba-tiba ia “mengubah” permainannya di set kedua dan set ketiga itu yang mana akhirnya mengakibatkan ia kalah. Maria Sharapova kalah di babak keempat dari Angelique Kerber; dan Li Na kalah di babak ketiga juga. Pertandingan terserunya sendiri, menurutku, sih antara juara tahun 2011, Petra Kvitova, dan juara Wimbledon lima kali, Venus Williams. Sayang banget pertandingan klasik ini harus terjadi di babak ketiga. Kualitasnya sungguh tinggi di sepanjang pertandingan, dan pada akhirnya Kvitova menang tipis 5–7, 7–6(2), 7–5.

Pada akhirnya, Petra Kvitova mencapai babak final Wimbledon dan grandslam keduanya, dimana ia akan bermain melawan pemain muda dari Kanada, Eugenie Bouchard. Bouchard sendiri telah tampil cukup konsisten tahun ini, dimana ia juga mencapai babak semifinalnya Australian Open dan French Open juga (walaupun bisa dikatakan ia beruntung sih karena sisi undiannya terbuka lebar; tetapi walaupun begitu toh hanya ia yang mampu meyelesaikan tugasnya, yaitu bermain dan terus menang 🙂 ). Ngomong-ngomong, di final, Kvitova bermain dengan amat luar biasa dan menunjukkan pada waktu itu bahwa ia berada di kelas yang berbeda dari Bouchard. Pada akhirnya, Kvitova memenangi gelar Wimbledon dan grandslam keduanya dengan mengalahkan Bouchard 6–3, 6–0 hanya dalam waktu 55 menit.

Tunggal Putra

Andy Murray adalah juara bertahan dan ia masuk ke turnamen ini dengan baru saja menunjuk Amelie Mauresmo sebagai pelatihnya; sebuah keputusan yang cukup kontroversial karena Amelie adalah seorang wanita (Duh, plis deh ya masak zaman sekarang hal beginian masih dipermasalahkan sih? 🙄 ). Ia bermain dengan amat baik di minggu pertama tetapi kemudian kalah dari Grigor Dimitrov di perempat final. Rafael Nadal juga mengalami Wimbledon yang buruk untuk ketiga tahun berturut-turut dimana ia kalah sebelum perempat final. Kali ini ia kalah dalam empat set dari pemain muda asal Australia, Nick Kyrgios.

Toh pada akhirnya, Big Four di tenis putra masih menunjukkan dominasinya, dimana Novak Djokovic dan Roger Federer berhasil menembus putaran final. Finalnya berlangsung amat seru; dan ada dramanya juga loh. Djokovic sebenarnya unggul 5–2 di set keempat dimana ia sudah memenangi 2 set. Ia memegang servis untuk memenangi pertandingan di posisi 5–3 tetapi servisnya dipatahkan, dan di posisi 5–4 di servisnya Federer sebenarnya ia mendapatkan sebuah championship point; yang mana diselamatkan Federer dengan sebuah pukulan ace. Federer memenangi lima games berturut-turut di set keempat itu dan memenanginya 7–5! Djokovic juga memanggil trainer di awal set kelima. Tetapi pada akhirnya ia mampu bertahan disana dan akhirnya menang 6–7(7), 6–4, 7–6(4), 5–7, 6–4 untuk merebut gelar Wimbledon keduanya.

EuroTrip · Half Week Trip · Tennis · Vacation · Weekend Trip

#1403 – 2014 Paris Roland Garros Trip (Part III)

ENGLISH

Previously on 2014 Paris Roland Garros Trip: Zilko went to Paris during the Ascension Day long weekend to watch the second grandslam tournament of the year, the French Open. He had spent two full days at Stade Roland Garros and now was ready to go on his third and final day of visit this year.

***

Day 4 (Saturday, 31 May 2014)

My morning went pretty much similarly as the previous two days. Well, except that this morning I also checked in for my flight back to the Netherlands tomorrow (with KLM/Air France we can check-in online since 30 hours prior to departure). This was especially important for me because I always wanted to pick my own seat! Hahaha 😛 . Anyway so I arrived a little bit later at the queue today, at around 9:20. But I was still quite at the front of the line so it was fine.

Btw, here is the schedule for my Philippe Chatrier seat today:

The line-up at Court Philippe Chatrier today
The line-up at Court Philippe Chatrier today

It was still a good lineup obviously. But in a way I was a little bit disappointed that they did not put Andy Murray on Court Philippe Chatrier. I mean, up to this point, he had never played in Philippe Chatrier this year (it was Suzanne Lenglen in round 1, Court No.1 in round 2, and now Suzanne Lenglen again in round 3). Damn! 😦

Anyway, again, at around 9:40 they opened the gate. And, again, my ritual was pretty much the same. I went around the venue to see the players warming up and preparing themselves. This morning I saw Petra Kvitova, Lucie Hradecka, Cara Black, Jean-Julien Rojer, and Horia Tecau. Yeah, not so many that I saw this morning.

Being a Mom on the WTA Tour. Cara Black with her husband and toddler.
Being a Mom on the WTA Tour. Cara Black with her husband and toddler.

At around 10:45, I went to my seat at Philippe Chatrier. This seat was very close to my seat on Day 3 (so it provided pretty much similar view), but better because now I got row 1! 😯 Haha. Btw the other benefit of sitting in row 1 is that I can use the “fence” in front of me as my personal footrest, huahaha 😛 .

Anyway, at 11:00, both players for the first match at Philippe Chatrier entered the ground: the fifth seed, Petra Kvitova, and the 27th seed and 2009 champion here, Svetlana Kuznetsova.

And this match, ladies and gentlemen, turned out to be the most epic WTA match I had ever seen live in person in my life!! It was a tight match with such high quality that ended in three sets!

Svetlana Kuznetsova
Svetlana Kuznetsova

The first set went quite tight. Even though Kvitova got an early break, Kuznetsova was able to break back. And they went toe-to-toe so that a tiebreak had to be played. Kvitova played a good tiebreak and won it 7–3. Despite so, actually Kuznetsova won 47 points in the set while Kvitova only won 46 points. This means that Kvitova played the important points better.

At the start of the second set, maybe a small thing bothered Kvitova so she had to call a trainer. They then went to the locker room for awhile and Kvitova came back with her right hip being taped. She appeared to be bothered at first; and this made Kuznetsova easily sealed the second set 6–1. So a third set must be played.

Watching the most epic WTA match I have ever seen LIVE in person. A tight match between Petra Kvitová and Svetlana Kuznetsova.
Watching the most epic WTA match I have ever seen LIVE in person. A tight match between Petra Kvitová and Svetlana Kuznetsova.

And the third set could not be any more better! Kvitova got her rhythm again and went firing in all cylinder. But Kuznetsova was also a good player that she defended all those attacks really well! And she could fire too; though not as aggressively as Kvitova! Kvitova was the one who got the first advantage by breaking Kuznetsova’s serve and was serving for the match at 5–4. But then she was a little bit shaky (while at the same time Kuznetsova played really well) so Kuznetsova broke back.

Two games later, down 5–6 and serving, Kvitova was down 15–40; meaning Kuznetsova had two match points. Kuznetsova needed to just win one of the next two points to win the match. And you know what? An amazing thing happened. Kvitova saved the first match point with a powerful forehand drive volley down the line (FDVDTL) winner that bounced literally on the baseline!! 😯 😆 ON THE LINE!! If you play tennis, you would know that there was (almost) nothing Kuznetsova could do to return that FDVDTL shot. It was a hella good of a shot!! Okay, but there was still a second match point for Kuznetsova. And at this point, Kvitova also hit a powerful forehand winner! 😯 I mean, WOW!! That was hella good from Kvitova!! She was so pumped after both occasions (well no wonder)!!

Petra Kvitova saving the first match point with a FDVDTL winner.
Petra Kvitova saving the first match point with a FDVDTL winner.
Petra Kvitova saving the second match point with a forehand winner.
Petra Kvitova saving the second match point with a forehand winner.

Kvitova carried this on by, again, breaking Kuznetsova’s serve in the next game and, for the second time in the match, she was serving for the match at 7–6. But then, Kuznetsova fought so hard and made some amazing shots to level the match back to 7–7. I mean, these two ladies, none of them wanted to lose! Lol 😆 .

Kuznetsova held easily in the next game. And serving down 7–8, Kvitova played a bit more tentatively and finally, this time Kuznetsova was able to seal the deal after Kvitova’s last shot went long. So, after 3 hours and 13 minutes, Svetlana Kuznetsova won 6–7(3), 6–1, 9–7 to advance to the fourth round!!

Kuznetsova won the third set 9–7!!
Kuznetsova won the third set 9–7!!

It was amazing. For me, I even felt tired after just watching the match, haha 😆 . Actually, before the match started I did not expect it to last that long as at 14:00, I wanted to go to RG Lab as Tomas Berdych was scheduled to be there to give autographs. But then, this match went so tight and I already invested my emotion on it that I felt like I must stay until the end of the match to see the outcome! Hahaha 😆 . It was such an amazing experience!! 🙂 I mean, I am sure it was also amazing match if we watched it on TV or in the internet; but trust me, it was in a much different level when we witnessed it first hand, in person!! 🙂

I stayed for the first several games of the next match at PC between Rafael Nadal and Leonardo Mayer before deciding that I needed some rest and lunch, haha 😆 . So I went to the restaurant and had the same thing that I did the day before, a steak. After lunch, I stretched my leg by going around the venue again. At one point I saw that the Nadal-Mayer match was at 2–2 in the third set so I thought it was quite tight and I had time to go around one more time. But then, a few minutes later it was already 5–2 40–0 in Nadal’s favor. I mean, damnit! I would very likely miss the conclusion of the match because at this point I was outside the Philippe Chatrier court! Haha 😛

Rafael Nadal
Rafael Nadal

Before getting back to my seat for the third match of the day, I saw a crowd flocking just outside a door in Philippe Chatrier. This was a special door as this was the entrance to the official part of the court (read: the door where the players got in/out Court PC). And Rafael Nadal would come out from this door soon so people were waiting for him! Haha. At first I joined it (I mean why not?) but then he took so long (I guess he needed to do a press conference as well there) so I decided to leave and just got back to my seat.

The third match at PC had already undergone at this point. It was between Andrea Petkovic and a local player, Kristina Mladenovic. This match, even though not as intense as the Kvitova – Kuznetsova match, was also very tough. Btw wow, we had good women’s matches at Philippe Chatrier today!! Petkovic comfortably won the first set 6–4. But Mladenovic, with the help of the French crowd, fought back and won the second 6–4. But in the end Petkovic was too strong for Mladenovic and she won the match 6–4, 4–6, 6–4 to move to the fourth round.

Andrea Petkovic reached the fourth round
Andrea Petkovic reached the fourth round

I was so tired that I decided not to stay for the last match of the day between Richard Gasquet and Fernando Verdasco. So I left my seat and went back to my hotel.

But before actually going back to my hotel, I stopped at a restaurant to have dinner. I chose a three course dinner tonight. The appetizer was a tomato mozarella salad, the main course was a medium-rare beef steak with shallot sauce, and for dessert I chose the famous crème brûlée. It was quite nice 😀

Day 5 (Sunday, 1 June 2014)

The agenda today was just to go to Charles de Gaulle Airport to go back to the Netherlands. As I said, I was very excited today because finally I would be flying with an Airbus A321, haha 😛 .

I checked out at around 9:00; bought a sandwich as breakfast at Paul before taking an RER service to the airport. Long story short, I arrived at the airport, checked in, and entered the gate. At around 11:10, the boarding call was made and I boarded my plane: an Air France’s Airbus A321-212 reg F-GTAR flight AF 1640 to Amsterdam.

The actual flight AF 1640 route map today from CDG to AMS. Source: http://www.flightradar24.com/data/flights/af1640/#3775dc1
The actual flight AF 1640 route map today from CDG to AMS. Source: http://www.flightradar24.com/data/flights/af1640/#3775dc1

At 11:40, my flight took off from runway 27L of Paris Charles de Gaulle Airport and about 50 minutes later, she landed at runway 06 of Schiphol Airport. Here is the landing video:

Then it was the normal thing. I took my luggage and took the train service back to Delft. And here, my long weekend trip to Paris to watch the French Open this year officially ended.

THE END.

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam 2014 Paris Roland Garros Trip: Zilko pergi ke Paris dalam rangka long weekend Hari Raya Pantekosta untuk menonton turnamen grandslam kedua tahun ini, French Open. Ia sudah menghabiskan dua hari penuh di Stade Roland Garros dan kini sudah siap untuk menyongsong hari ketiga sekaligus hari terakhirnya di kunjungannya tahun ini.

***

Hari 4 (Sabtu, 31 Mei 2014)

Pagiku berlangsung kurang lebih sama seperti dua hari sebelumnya. Eh, kecuali pagi ini aku juga check in online untuk penerbanganku kembali ke Belanda keesokan harinya sih (kalau terbang dengan KLM/Air France, kita bisa check-in semenjak 30 jam sebelum waktu keberangkatan). Ini penting banget dong untukku karena aku kan harus memilih kursiku sendiri di pesawat kan ya! Hahaha 😛 . Ngomong-ngomong, aku tiba di antriannya agak lebih siang hari ini, sekitar jam 9:20an. Tetapi posisiku masih cukup berada di depan antriannya sih jadi nggak masalah juga.

Btw, berikut ini jadwal untukku di Lapangan Philippe Chatrier hari ini:

The line-up at Court Philippe Chatrier today
Jadwal di Lapangan Philippe Chatrier hari ini

Masih jadwal yang bagus sih. Tetapi sedikit banyak aku merasa kecewa karena mereka tidak menjadwalkan Andy Murray di Lapangan Philippe Chatrier. Maksudku, sampai saat ini, ia belum pernah bermain di Philippe Chatrier loh tahun ini (ia bermain di Suzanne Lenglen di babak pertama, Lapangan No.1 di babak kedua, dan kini di Suzanne Lenglen lagi untuk babak ketiga). Sial! 😦

Anyway, lagi-lagi, sekitar jam 9:40, mereka membuka gerbangnya. Dan, lagi, ritualku pagi itu kurang lebih sama sih. Aku mengelilingi arena turnamennya untuk menonton beberapa pemain pemanasan dan memperiapkan diri. Pagi ini aku melihat Petra Kvitova, Lucie Hradecka, Cara Black, Jean-Julien Rojer, dan Horia Tecau. Iya, nggak banyak-banyak amat ya pagi ini.

Being a Mom on the WTA Tour. Cara Black with her husband and toddler.
Menjadi seorang ibu di tur WTA. Cara Black bersama dengan suami dan anak batitanya.

Sekitar jam 10:45, aku pergi ke kursiku di Philippe Chatrier. Kursiku ini lokasinya dekat sekali dengan kursiku di Hari 3 (jadi pandangan ke lapangannya kurang lebih sama lah), tetapi lebih oke karena sekarang kursiku ada di barisan nomor 1 loh! 😯 Haha. Btw, keuntungan duduk di barisan nomor 1 adalah aku bisa menggunakan “pagar” kecil di depanku sebagai tempat sandaran kaki gitu deh, huahaha 😛 .

Ngomong-ngomong, sekitar jam 11 pagi, kedua pemain dari pertandingan pertama memasuki Lapangan Philippe Chatrier: unggulan kelima, Petra Kvitova, dan unggulan ke-27 dan juara tahun 2009 disini, Svetlana Kuznetsova.

Dan pertandingan ini, saudara dan saudari sekalian, ternyata menjadi pertandingan WTA ter-SERU yang pernah aku tonton langsung dengan mata kepala sendiri seumur hidup!! Benar-benar sebuah pertandingan yang ketat dengan kualitas tinggi yang berakhir dalam tiga set!

Svetlana Kuznetsova
Svetlana Kuznetsova

Set pertama berlangsung cukup ketat. Walaupun Kvitova berhasil mematahkan servisnya Kuznetsova duluan, Kuznetsova kemudian berhasil membalasnya. Dan mereka bermain seimbang sehingga set pertama harus diakhiri dengan sebuah tiebreak. Kvitova memainkan tiebreak yang bagus dan memenanginya 7–3. Walaupun begitu, sebenarnya Kuznetsova memenangi 47 poin di sepanjang set pertama sementara Kvitova hanya 46 poin saja. Ini artinya Kvitova bermain di poin-poin penting dengan lebih baik.

Di permulaan set kedua, mungkin ada hal kecil yang mengganggu Kvitova sehingga ia memanggil trainer. Mereka kemudian pergi ke ruang ganti sebentar dan Kvitova kembali dengan paha kananna diperban. Ia nampak sedikit terganggu awalnya; dan ini membuat Kuznetsova berhasil merebut set kedua dengan mudah 6–1. Jadi set ketiga harus dimainkan.

Watching the most epic WTA match I have ever seen LIVE in person. A tight match between Petra Kvitová and Svetlana Kuznetsova.
Menonton pertandingan WTA ter-SERU yang pernah aku tonton LANGSUNG dengan mata kepala sendiri. Pertandingan antara Petra Kvitová dan Svetlana Kuznetsova.

Dan set ketiganya berlangsung dengan sungguh amat seru sekali! Kvitova berhasil mendapatkan ritmenya kembari dan terus menyerang dengan gas maksimum. Tetapi Kuznetsova jugalah pemain yang bagus dan pertahanan dari serangan-serangan Kvitova juga sungguh ciamik! Dan ia juga bisa menerang juga; walaupun memang tidak seagresif Kvitova! Kvitova adalah yang pertama yang mendapatkan posisi unggul dengan berhasil mematahkan satu servisnya Kuznetsova dan servis untuk memenangkan pertandingan (serving for the match) di posisi 5–4. Tetapi kemudian ia agak sedikit kehilangan konsentrasi (sementara pada saat yang sama Kuznetsova juga bermain baik) sehingga Kuznetsova mematahkan servisnya balik.

Dua game kemudian, tertinggal 5–6 dan memegang servis, Kvitova tertinggal 15–40; yang mana artinya Kuznetsova memiliki dua match point. Kuznetsova hanya perlu memenangi salah satu dari dua poin selanjutnya untuk memenangi pertandingan. Dan apa yang terjadi? Hal super keren! Kvitova menyelamatkan match point pertama dengan pukulan winner forehand drive volley down the line (FDVDTL) yang sangat keras yang mengenai baseline-nya!! 😯 😆 Iya loh PAS GARIS aja gitu!! Kalau tahu tenis, tahulah (nyaris) tidak ada yang bisa dilakukan Kuznetsova untuk mengembalikan pukulan FDVDTL itu. Itu sebuah pukulan yang amat luar biasa!! Oke, tetapi toh Kuznetsova masih memiliki match point kedua kan. Dan untuk yang kali ini, Kvitova kembali menyelamatkannya dengan pukulan forehand winner yang amat keras! 😯 Maksudku, WOW banget kan!! Benar-benar permainan yang bagus dari Kvitova!! Ia juga bersemangat dan meluapkan emosinya setelah itu (ya nggak heran lah ya)!!

Petra Kvitova saving the first match point with a FDVDTL winner.
Petra Kvitova menyelamatkan match point pertama dengan pukulan FDVDTL winner.
Petra Kvitova saving the second match point with a forehand winner.
Petra Kvitova menyelamatkan match point kedua dengan pukulan forehand winner.

Kvitova membawa momentum ini dan mematahkan servis Kuznetsova di game selanjutnya, sehingga untuk kedua kalinya di pertandingan ini ia akan serving for the match di posisi unggul 7–6. Tetapi kemudian, Kuznetsova sungguh berjuang dengan keras dan membuat beberapa pukulan kelas dunia untuk kembali menyamakan kedudukan menjadi 7–7. Ah, benar-benar banget nih ya dua wanita, sama-sama nggak ada yang mau kalah! Huahaha 😆 .

Kuznetsova berhasil mempertahankan servisnya di game berikutnya. Dan ketika memegang servis di posisi 7–8, Kvitova bermain sedikit lebih tentatif, dan kali ini Kuznetsova berhasil menembus garis finish ketika pukulan terakhirnya Kvitova keluar lapangan. Jadi, setelah 3 jam 13 menit, Svetlana Kuznetsova menang 6–7(3), 6–1, 9–7 untuk melaju ke babak keempat!!

Kuznetsova won the third set 9–7!!
Kuznetsova memenangi set ketiga 9–7!!

Seru banget deh. Untukku, bahkan aku ikutan merasa capek loh padahal aku kan cuma menonton pertandingannya aja ya, haha 😆 . Sebenarnya, sebelum pertandingannya dimulai, aku tidak menyangka ini akan berlangsung selama itu. Karena jam 2 siang, rencananya aku ingin pergi ke RG Lab karena disana Tomas Berdych dijadwalkan untuk hadir untuk membagikan tanda tangan gitu deh. Tetapi kemudian, pertandingan ini berlangsung sangat ketat dan aku sudah terlanjur menginvestasikan emosiku ke pertandingan ini sehingga aku merasa harus menonton sampai akhir deh untuk mengetahui hasil akhirnya! Hahaha 😆 . Benar-benar sebuah pengalaman yang fantastis!! 🙂 Maksudku, aku yakin kalau kita melihatnya di TV atau di internet juga seru sih; tetapi percaya deh, tingkat keseruannya berbeda banget kalau kita menyaksikannya langsung dengan mata kepala sendiri dimana kita duduk di samping lapangannya!! 🙂

Aku bertahan disana untuk beberapa game pertama dari pertandingan PC berikutnya antara Rafael Nadal dan Leonardo Mayer sebelum memutuskan untuk beristirahat dan makan siang, haha 😆 . Jadilah aku kemudian pergi ke restorannya dan memesan menu yang sama seperti sehari sebelumnya, steak. Setelah makan siang, aku meregangkan kakiku dengan berkeliling arenanya lagi. Waktu itu aku melihat bahwa pertandingan Nadal-Mayer berada di posisi 2–2 di set ketiga jadi aku kira masih cukup ketat dan ada waktu lah ya untuk berkeliling lagi. Tetapi kemudian, tiba-tiba beberapa menit kemudian skornya sudah 5–2 40–0 untuk Nadal aja dong. Ah, sial nih! Kemungkinan sangat besar aku akan melewatkan momen kemenangannya Nadal karena waktu itu aku berada di luar Lapangan Philippe Chatrier. Haha 😛

Rafael Nadal
Rafael Nadal

Sebelum kembali ke kursiku untuk pertandingan ketiga hari ini, aku melihat orang-orang mengerumuni sebuah pintu di Philippe Chatrier. Ini adalah pintu khusus tempat keluar masuk-nya para pemain di Lapangan Philippe Chatrier. Dan kabarnya Rafael Nadal akan keluar dari pintu itu segera jadi orang-orang ini sedang menunggunya! Haha. Awalnya tentu dong aku ikutan menunggu (mengapa tidak?) tetapi kemudian lama banget deh Nadal nggak keluar-keluar (sepertinya sih ia harus menjalankan press conference dulu di dalam sana) jadi aku memutuskan untuk pergi dan kembali ke kursiku di PC saja.

Pertandingan ketiga di PC sudah dimulai sewaktu aku masuk. Ini adalah pertandingan antara Andrea Petkovic dan pemain tuan rumah, Kristina Mladenovic. Pertandingan ini, walaupun nggak seintens pertandingannya Kvitova – Kuznetsova, juga sangat ketat loh. Btw, hari ini pertandingan putri di Philippe Chatrier seru-seru ya!! Petkovic menang mudah di set pertama 6–4. Tetapi Mladenovic, dengan dukungan para supporter Prancisnya, terus melawan dan berhasil merebut set kedua 6–4. Tetapi pada akhirnya Petkovic terlalu kuat bagi Mladenovic dan ia memenangi pertandingannya 6–4, 4–6, 6–4 untuk lolos ke babak keempat.

Andrea Petkovic reached the fourth round
Andrea Petkovic melaju ke babak keempat

Aku merasa lelah sekali sehingga aku memutuskan untuk tidak tinggal untuk pertandingan terakhir hari itu antara Richard Gasquet dan Fernando Verdasco. Jadilah aku meninggalkan kursiku dan kembali ke hotel.

Eh, sebelum beneran kembali ke hotel aku makan malam dulu sih di sebuah restoran. Kali ini aku memilih paket tiga menu untuk makan malam. Untuk makanan pembuka, aku memilih salad tomat dengan keju mozarella. Makanan utamanya adalah steak sapi dimasak medium-rare dengan saus bawang merah. Dan untuk makanan penutup aku memesan crème brûlée yang terkenal itu. Enak deh 😀

Hari 5 (Minggu, 1 Juni 2014)

Agenda hari ini adalah pergi ke Bandara Charles de Gaulle untuk kembali ke Belanda. Seperti yang aku bilang, aku amat bersemangat hari ini karena akhirnya hari ini aku akan terbang dengan sebuah Airbus A321, haha 😛 .

Aku check out dari hotel sekitar jam 9 pagi; membeli sandwich untuk sarapan di Paul, sebelum naik layanan RER ke bandara. Singkat cerita, tibalah aku di bandara, check in, dan memasuki gerbangnya. Jam 11:10, proses boarding dimulai dan aku menaiki pesawatku: sebuah Airbus A321-212 milik Air France dengan kode registrasi F-GTAR dengan nomor penerbangan AF 1640 ke Amsterdam.

The actual flight AF 1640 route map today from CDG to AMS. Source: http://www.flightradar24.com/data/flights/af1640/#3775dc1
Rute penerbangan AF 1640 yang sebenarnya hari ini dari CDG ke AMS. Sumber: http://www.flightradar24.com/data/flights/af1640/#3775dc1

Jam 11:40, penerbanganku lepas landas dari landasan pacu 27L Bandara Paris Charles de Gaulle dan sekitar 50 menit kemudian, mendarat di landasan pacu 06 Bandara Schiphol. Berikut ini video pendaratannya:

Lalu seperti biasa sih. Aku mengambil bagasiku dan naik kereta untuk kembali ke Delft. Dan disini, perjalanan long weekend-ku ke Paris untuk menonton French Open resmi berakhir.

SELESAI.

 

EuroTrip · Half Week Trip · Tennis · Vacation · Weekend Trip

#1400 – 2014 Paris Roland Garros Trip (Part II)

ENGLISH

Previously on 2014 Paris Roland Garros Trip: Zilko went to Paris during the Ascension Day long weekend to watch the second grandslam tournament of the year, the French Open. After arriving in Paris on Wednesday, now he was more than ready and excited to start his visit to Roland Garros for the third year in a row.

***

Day 2 (Thursday, 29 May 2014)

To summarize my morning, after leaving my hotel and having a quick breakfast menu at McDonald’s, I arrived at Stade Roland Garros, the venue of the tournament, in the west part of Paris at around 09:00. As usual, the gate was opened at around 09:40 so I still had to queue in front of the gate. I was one of the first people there so it was really nice knowing I would be the first to enter the venue 😛 .

I got a first ring Court Philippe Chatrier (PC) ticket today (well, actually I got first ring PC tickets for all the three days of my visit there); and here was the line-up at PC today:

The line-up at Court Philippe Chatrier today
The line-up at Court Philippe Chatrier today

Not a bad line-up for second round matches, I must say.

At around 9:30, the security process started and at around 9:40, the gate was opened. I immediately entered the venue and took a look at which player was warming up on Court No.2. It was Svetlana Kuznetsova at that time.

As usual, I went around the entire tennis venue to see many tennis players warming up and preparing themselves for their matches. This was why I came to the venue early; especially since it was still the earlier rounds so a lot of players were still alive in the tournament. So it was such a good opportunity to see (and meet) many of them! 🙂

The singles defending champions this year: Rafael Nadal and Serena Williams
The singles defending champions this year: Rafael Nadal and Serena Williams

This morning, I felt like there were more WTA (women) players warming up than ATP (men). I saw Camilla Giorgi, Anastasia Pavlyuchenkova, the Chan sisters, Casey Dellacqua, Yvonne Meusburger, Liezel Huber, Shahar Peer, Cara Black, Sania Mirza, Ekaterina Makarova, Magdalena Rybarikova, Yaroslava Shvedova, Zhang Shuai, Kevin Anderson, Rohan Bopanna, Aisam ul-Haq Qureshi, etc to name a few (see? More women than men this morning!).

After buying an overpriced sandwich for breakfast, I decided to go to my seat at Court Philippe Chatrier. I got a good first ring seat today, with a perfect view of the court. Here is the view from my seat today btw:

The view from my seat at Philippe Chatrier today. Super!
The view from my seat at Philippe Chatrier today. Super!

Anyway, at 11:00, Jelena Jankovic and Kurumi Nara entered the court. Long story short, the match started and the first set actually went toe to toe until 5-all. But then Jankovic broke Nara’s serve to go 6–5 up and close the first set 7–5. From there, Jankovic had all the momentum and maintained it throughout the rest of the match, and easily won the second set 6–0.

Not long after, the second match between the King of Clay, the world no.1, and the defending champion, Rafael Nadal, and Dominic Thiem started. In my opinion this should be an interesting match because I knew Thiem was a good player and had a very dangerous forehand.

I felt like I needed to stretch my legs so I stayed for the first several games before deciding to leave for a walk a little bit (and I had time since the men’s singles match at a grandslam is a best of five sets match anyway; so each match should last at least (par retirement) three sets).

I came back just in time before Nadal won the match. In the end he was still the stronger player on clay and won 6–2, 6–2, 6–3 (Thiem actually was up a break in the third set).

Jeu, set et Match, Nadal.
Jeu, set et Match, Nadal.

The third match of the day was between a favorite local player, Richard Gasquet, versus an Argentinian, Carlos Berlocq. Gasquet won 7–6(5), 6–4, 6–4 to reach the third round. And finally, the fourth match of the day was between Ana Ivanovic, the 2008 champion here, and Elina Svitolina. I only stayed for the first set because at the end of it I felt so tired so I decided to leave the venue.

I did not go back to my hotel straight away though as I still had not had my dinner yet. And today I felt like eating KFC so I went to one, huahaha 😆 . After my dinner at KFC, I went back to my hotel 😀 . But before that, I stopped by at a supermarket nearby to buy some sandwiches and snacks for tomorrow.

Day 3 (Friday, 30 May 2014)

Again, I arrived at the venue at around 9:10. A little bit later than the day before but I was still one of the first people on the line so it was still good. Just like the day before, they opened the venue at around 9:45; and my ritual was pretty much similar. I went around first to see the players warming up and preparing themselves for their matches 🙂 .

This morning I saw Alexander Peya, Bruno Soares, Donald Young, Juan Monaco, Robin Haase, Andre Begemann, Marin Cilic, Goran Ivanisevic (an ex-player who became Cilic’s coach now), Zheng Saisai, Vera Dushevina, Peng Shuai, Hsieh Su-Wei, Jarmila Gajdosova, and Klara Koukalova to name a few.

The current women's doubles world no.1 and no.2, Peng Shuai and Hsieh Su-Wei, warming up
The current women’s doubles world no.1 and no.2, Peng Shuai and Hsieh Su-Wei, warming up

Then at around 10:45, I went to my seat at Philippe Chatrier. Btw, this was the schedule for Court PC today:

The line-up at Court Philippe Chatrier today
The line-up at Court Philippe Chatrier today

Again, not a bad lineup! 😉 Btw, I had a different seat than the day before. The view was not as good but it was still okay and quite close to the court. This was the view today:

The view from my seat at Philippe Chatrier today
The view from my seat at Philippe Chatrier today

At 11:00, the first match started with the two players entering the court: the third seed, Agnieszka Radwanska from Poland, and a Roland Garros debutant, Ajla Tomljanovic. As the highest seed left (third; the first seed, Serena Williams, and second seed, Li Na, had already lost their matches at this point), Radwanska was obviously the favorite to win the match.

Their game style could not be any more different where Radwanska’s was more about touch and variety (not so much power), while Tomljanovic’s was the complete opposite, very aggressive with a lot more power. Today was a good day for Tomljanovic where she edged a little bit better on important points so she was able to win 6–4, 6–4! Kudos for her to hold her nerve in that second set!

The third seed, Agnieszka Radwanska, is out!
The third seed, Agnieszka Radwanska, is out!

Btw, I felt like I was experiencing a dejavu though. Exactly two years ago, on the same day, at the same stage of the tournament, I was also there sitting at Court Philippe Chatrier watching Agnieszka Radwanska’s third round match. But at that time she was playing Svetlana Kuznetsova. However, the final result was the same. Radwanska lost in straight sets (it was a 6–1, 6–2 loss two years ago).

The second match immediately followed where the hugely popular tennis legend, Roger Federer, would play against Dmitry Tursunov. Btw, my seat was just like literally ten meter away from Federer’s box though. So I was able to see Federer’s family (his wife, Mirka Federer, and his first set of twins sitting there (the second set of twins (yes he has two sets of twins) were not there, I think). And, not surprisingly, people were taking pictures of the family, hahaha 😀

You know you are so famous when these many people want to take pictures of your wife and kids.
You know you are so famous when these many people want to take pictures of your wife and kids.

Anyway so the match started. Then, I felt quite hungry so I decided to leave after several games and decided to have lunch at the restaurant there. Today I had a steak for lunch. I also made use of this time to stretch my leg and went around the tournament venue again. It was such a nice festive anyway, you know, a grandslam tournament 😉 .

I went back to my seat just in time before Federer won his match 7–5, 6–7(9), 6–2, 6–4. The third match quickly followed where Maria Sharapova and Paula Ormaechea entered the court. After warming up, they played the first game where it went to 40–40 before it started drizzling. So they had to stop the play.

The delay was just around 30 minutes though before they resumed all matches again. But from hereon, it was a one way traffic only. It was an uneven match where Ormaechea could not match Sharapova and got double-bagelled. In case you are not familiar with tennis terms, it means Sharapova won 6–0, 6–0.

The fourth match followed suit where it was between another local player, Gilles Simon, and the eight seed, Milos Raonic, from Canada. I stayed for the first set before deciding to leave to have dinner somewhere 😀 .

Hardcore Canadian fans
Hardcore Canadian fans

After leaving the venue, I decided to explore the area a little bit. This was the third year I went to Roland Garros but actually I had never gone around the area! Anyway, I decided to stop by at a French restaurant and ordered escalope de veau for dinner today. They also had a TV airing live the Simon-Raonic match so I did not completely miss the match, haha 🙂 .

The escalope de veau was, of course, very nice! I think this was the second time I had it though; as I am sure I had it once during my first visit to Paris in 2011. But I am not sure if I had had it another time between that first time and this time, haha. Anyway, so the menu came with pasta that was also cooked nicely. It was delicious. But then, right after I finished it, I just realized that on my table I had a pot of parmesan powder!! 😯 Damnit!! I know it would have been even much more delicious had I sprinkled the parmesan powder to the pasta!! Ah, regret always came later, haha 😛

Escalope de veau
Escalope de veau

After dinner, I left the restaurant and then took the metro to go back to my hotel. I took a different route though this time. Just like the day before, I stopped by at the supermarket first before going back to my hotel to buy some sandwiches and snacks for tomorrow.

TO BE CONTINUED…

Next on 2014 Paris Roland Garros Trip:
– More from Roland Garros
– Watching the most epic WTA match I have ever seen in person
– Back to the Netherlands

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam 2014 Paris Roland Garros Trip: Zilko pergi ke Paris di long weekend hari raya Pantekosta untuk menonton turnamen grandslam kedua tahun ini, French Open. Setelah tiba di Paris di hari Rabu, sekarang ia sudah siap banget untuk memulai kunjungannya ke Roland Garros untuk tahun ketiga berturut-turut.

***

Hari 2 (Kamis, 29 Mei 2014)

Untuk meringkas cerita pagiku, setelah meninggalkan hotel dan sarapan kilat di McDonald’s, aku tiba di Stade Roland Garros, tempat diadakannya turnamen ini, yang berada di kota Paris sebelah barat, sekitar jam 9 pagi. Seperti biasa, gerbangnya sih baru dibuka sekitar jam 9:40an jadi aku harus mengantri dulu di depan gerbangnya. Aku termasuk yang datangnya awal sih jadi enaknya aku berada di antrian bagian depan sehingga seru kan karena artinya aku adalah salah satu penonton pertama yang masuk 😛 .

Aku mendapatkan tiket first ring di Lapangan Philippe Chatrier (PC) hari ini (sebenarnya di ketiga hari kunjunganku, semuanya aku juga mendapatkan tiket first ring sih); dan berikut ini jadwal pertandingan di PC hari ini:

The line-up at Court Philippe Chatrier today
Jadwal pertandingan di Lapangan Philippe Chatrier hari ini.

Lumayan banget lah ya untuk ukuran pertandingan babak kedua.

Sekitar jam 9:30 pagi, proses pengecekan sekuritinya dimulai, dan gerbang dibuka sekitar jam 9:40. Aku langsung masuk ke arenanya dan melihat siapa yang sedang pemanasan di Lapangan nomor 2. Ternyata pagi itu Svetlana Kuznetsova yang sedang pemanasan disana.

Seperti biasa, aku mengelilingi arena turnamennya untuk melihat banyak pemain yang sedang pemanasan dan mempersiapkan diri untuk pertandingan mereka. Inilah mengapa aku datang ke arenanya lebih awal; terutama karena masih babak-babak awal sehingga sebagian besar pemain masih “hidup” kan di turnamennya. Jadi ini adalah kesempatan emas untuk melihat (dan bertemu) mereka! 🙂

The singles defending champions this year: Rafael Nadal and Serena Williams
Juara bertahan untuk kategori tunggal tahun ini: Rafael Nadal dan Serena Williams

Pagi ini, rasanya kok lebih banyak pemain WTA (putri) ya yang pemanasan daripada ATP (putra). Aku melihat, di antaranya, Camilla Giorgi, Anastasia Pavlyuchenkova, Chan bersaudari, Casey Dellacqua, Yvonne Meusburger, Liezel Huber, Shahar Peer, Cara Black, Sania Mirza, Ekaterina Makarova, Magdalena Rybarikova, Yaroslava Shvedova, Zhang Shuai, Kevin Anderson, Rohan Bopanna, Aisam ul-Haq Qureshi, dll (Nah kan? Lebih banyak pemain putri daripada putra pagi ini!).

Setelah membeli sandwich yang mark-up harganya gila-gilaan untuk sarapan, aku memutuskan untuk duduk ke kursiku di Lapangan Philippe Chatrier. Aku mendapatkan kursi yang bagus loh hari ini, dengan pandangan yang enak banget dah ke lapangannya. Berikut ini pandangan dari kursiku hari ini btw:

The view from my seat at Philippe Chatrier today. Super!
Pandangan dari kursiku di Philippe Chatrier hari ini. Keren!

Anyway, jam 11:00, Jelena Jankovic dan Kurumi Nara memasuki lapangannya. Singkat cerita, pertandingannya dimulai dan set pertama berlangsung ketat hingga skor 5-sama. Tetapi kemudian Jankovic mematahkan servisnya Nara untuk memimpin 6–5 dan menutup set pertama dengan kemenangan 7–5. Dari sana, Jankovic memegang kendali permainan dan terus menjaganya di sepanjang sisa pertandingan, dan dengan mudah memenangi set kedua 6–0.

Tidak lama kemudian, pertandingan kedua antara si Raja Tanah Liat, pemain peringkat 1 dunia, dan juara bertahan, Rafael Nadal, melawan Dominic Thiem diadakan. Menurutku ini seharusnya menjadi pertandingan yang menarik karena aku tahu Thiem adalah pemain yang bagus dan memiliki forehand yang sangat berbahaya.

Tetapi aku mulai merasa perlu untuk meregangkan kaki nih jadilah setelah beberapa games pertama aku memutuskan untuk meninggalkan kursiku dan berjalan-jalan sedikit (dan toh ada waktu karena pertandingan tunggal putra di grandslam kan sistemnya best of five sets; jadi setiap pertandingan minimal (kecuali pemain menyerah/mundur) berlangsung tiga set).

Aku kembali tepat waktu sebelum Nadal memenangi pertandingannya. Akhirnya dia masih terlalu kuat bagi Thiem di lapangan tanah liat dan menang 6–2, 6–2, 6–3 (Thiem sebenarnya sempat unggul satu break loh di set ketiga).

Jeu, set et Match, Nadal.
Jeu, set et Match, Nadal.

Pertandingan ketiga adalah antara pemain tuan rumah, Richard Gasquet, melawan pemain Argentina, Carlos Berlocq. Gasquet menang 7–6(5), 6–4, 6–4 untuk mencapai babak ketiga. Lalu akhirnya, pertandingan keempat antara Ana Ivanovic, juara disini di tahun 2008, dan Elina Svitolina dimainkan. Aku hanya menonton set pertama karena aku merasa lelah jadi aku memutuskan untuk meninggalkan arenanya.

Aku nggak langsung pulang ke hotelku sih karena aku masih belum makan malam kan. Dan khusus hari ini kok aku ngidam KFC ya, huahaha 😆 . Jadilah aku mampir di sebuah KFC. Setelah makan malam di KFC itu, barulah aku kembali ke hotel 😀 . Tetapi sebelumnya aku mampir dulu di supermarket untuk membeli beberapa sandwich dan snack untuk besok.

Hari 3 (Jumat, 30 Mei 2014)

Lagi, hari ini aku tiba di arena turnamennya sekitar jam 9:10. Sedikit lebih siang sih daripada kemarin tetapi aku masih termasuk yang paling depan di antrian loh jadi nggak masalah deh. Seperti kemarin, hari ini gerbangnya dibuka sekitar jam 9:45; dan ritualku kurang lebih sama sih. Aku berkeliling dulu untuk melihat para pemain pemanasan dan mempersiapkan diri untuk pertandingan-pertandingan mereka 🙂 .

Pagi ini aku melihat, di antaranya: Alexander Peya, Bruno Soares, Donald Young, Juan Monaco, Robin Haase, Andre Begemann, Marin Cilic, Goran Ivanisevic (mantain pemain yang sekarang jadi pelatihnya Cilic), Zheng Saisai, Vera Dushevina, Peng Shuai, Hsieh Su-Wei, Jarmila Gajdosova, dan Klara Koukalova.

The current women's doubles world no.1 and no.2, Peng Shuai and Hsieh Su-Wei, warming up
Pemaiin ganda putri yang kini berperingkat 1 dan 2 dunia: Peng Shuai dan Hsieh Su-Wei, sedang pemanasan

Lalu, sekitar jam 10:45, aku pergi ke kursiku di Philippe Chatrier. Btw, inilah jadwal pertandingan di Lapangan PC hari ini:

The line-up at Court Philippe Chatrier today
Jadwal pertandingan di Lapangan Philippe Chatrier hari ini

Lagi, lumayan banget ya pertandingan-pertandingannya! 😉 Btw, kursiku berbeda dengan kemarin. Pandangannya nggak sebagus yang kemarin sih tetapi masih oke lah dan cukup dekat ke lapangannya. Beginilah pandangan dari kursiku hari ini:

The view from my seat at Philippe Chatrier today
Pandangan dari kursiku di Philippe Chatrier hari ini

Jam 11 pagi, pertandingan pertama dimulai dengan kedua pemain memasuki arena: pemain unggulan ketiga asal Polandia, Agnieszka Radwanska, dan pemain yang baru pertama kali ikutan Roland Garros, Ajla Tomljanovic (btw, ini namanya dibacanya “Ayla” ya, bukan “Ajla” seperti pakai ejaan bahasa Indonesia 😛 #pentingdibahas ). Sebagai pemain unggulan tertinggi yang tersisa (unggulan ketiga; unggulan pertama, Serena Williams, dan unggulan kedua, Li Na, sudah kalah), Radwanska tentulah difavoritkan untuk menang.

Gaya permainan mereka berbeda banget; dimana Radwanska bermain dengan touch dan varietas pukulan-pukulan (tidak bergantung pada power) sementara Tomljanovic berkebalikannya, sangat agresif dengan banyak pukulan-pukulan keras. Hari ini adalah hari baik bagi Tomljanovic dimana ia bermain lebih baik di poin-poin penting dan berhasil menang 6–4, 6–4! Salut deh karena ia tetap kalem dan tenang di set kedua!

The third seed, Agnieszka Radwanska, is out!
Unggulan ketiga, Agnieszka Radwanska, tersisih!

Btw, aku merasa dejavu di waktu ini. Tepat dua tahun sebelumnya, di hari yang sama, di babak yang sama dari turnamen ini, dan bahkan waktu itu aku juga duduk di Lapangan Philippe Chatrier menonton pertandingan babak ketiganya Agnieszka Radwanska. Bedanya waktu itu ia bermain melawan Svetlana Kuznetsova. Hanya saja, hasilnya sama loh. Radwanska kalah dua set langsung (dua tahun yang lalu ia kalah dengan skor 6–1, 6–2).

Pertandingan keduanya langsung mengikuti dimana pemain tenis legendaris yang super terkenal, Roger Federer, akan bermain melawan Dmitry Tursunov. Btw, kursiku hanya sekitar sepuluhan meter loh dari kursi-kursi untuk rekannya Federer. Jadi aku bisa melihat keluarganya Federer (istrinya, Mirka Federer, dan sepasang anak kembar pertamanya duduk disana (sementara sepasang anak kembar keduanya (iya dong dua kali istrinya hamil dan dua kali pula anaknya kembar) nggak berada disana, kayaknya sih). Dan, nggak mengherankan, orang-orang pada mengambil fotonya ya, hahaha 😀

You know you are so famous when these many people want to take pictures of your wife and kids.
Indikasi bahwa Anda adalah seseorang yang super terkenal: bahkan orang-orang sebanyak ini pada ingin mengambil foto istri dan anak-anak Anda.

Anyway lalu pertandinganna dimulai. Nah, kemudian aku mulai merasa lapar jadilah aku meninggalkan kursiku setelah beberapa games dan memutuskan untuk makan di restoran. Hari ini aku memilih menu steak untuk makan siang. Aku juga sekalian memanfaatkan waktu ini untuk meregangkan kaki dan mengelilingi kompleks turnamennya lagi sih. Suasananya sungguh menyenangkan sekali lho, tahulah, yang namanya turnamen grandslam kan 😉 .

Aku kembali ke kursiku tepat waktu banget sebelum Federer menang 7–5, 6–7(9), 6–2, 6–4. Pertandingan ketiga dengan cepat menyusul dimana Maria Sharapova dan Paula Ormaechea memasuki lapangannya. Setelah pemanasan, mereka mulai memainkan game pertama dimana ketika skornya 40-sama, gerimis mulai turun. Jadilah pertandingannya harus dihentikan sementara.

Untungnya gerimisnya nggak lama, cuma setengah jam-an aja, dan setelahnya pertandingan kembali dilanjutkan. Tetapi mulai dari sini, pertandingannya berlangsung satu arah dan nggak seru. Pertandingannya sungguh tidak seimbang dimana Ormaechea tidak bisa mengimbangi Sharapova dan dia di-double-bagel. Misalnya kurang familier dengan istilah di dalam tenis, ini artinya Sharapova menang 6–0, 6–0.

Pertandingan keempat kemudian mengikuti dimana pemain tuan rumah, Gilles Simon, akan bermain melawan pemain unggulan delapan, Milos Raonic, dari Kanada. Aku menonton set pertama sebelum memutuskan untuk meninggalkan arenanya untuk mencari makan malam 😀

Hardcore Canadian fans
Fans berat Kanada

Setelah meninggalkan arenanya, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di area sekitar sana. Ini adalah tahun ketiga aku ke Roland Garros tetapi sebelum-sebelumnya aku nggak pernah loh berkeliling areanya! Akhirnya aku memutuskan untuk mampir di sebuah restoran Prancis dan memesan escalope de veau untuk makan malam hari ini. Kebetulan mereka juga ada TV yang sedang menyiarkan pertandingan antara Simon dan Raonic itu jadi aku nggak ketinggalan pertandingannya, haha 🙂 .

Escalope de veau-nya, tentu saja, enaak! Aku rasa ini adalah kali kedua aku memakannya deh; karena aku yakin banget aku pernah sekali memakannya di kunjungan pertamaku ke Paris di tahun 2011. Tetapi aku nggak yakin apakah aku juga pernah memakannya di antara kali pertama itu dan kali ini, haha. Anyway, jadi ceritanya salah satu bagian masakannya adalah pasta yang dimasak dengan baik. Enak banget dah. Tetapi kemudian, tepat setelah aku menyelesaikan porsiku, aku baru sadar dong di mejaku ternyata ada satu pot bubuk keju parmesan!! 😯 Siaaaal!! Kurang ajar! Kok aku nggak sadar sih sebelumnya? Tahu gitu kan pastanya aku taburi dengan taburan bubuk keju parmesan itu dan rasanya akan menjadi bahkan lebih enak lagi kan!! Ah, yang namanya penyesalan selalu datang terlambat ya, haha 😛

Escalope de veau
Escalope de veau

Setelah makan malam, aku meninggalkan restorannya dan naik metro untuk kembali ke hotel. Aku menaiki rute yang bukan biasanya deh kali ini. Seperti kemarin, kali ini aku juga mampir di supermarket dulu sebelum kembali ke hotelku untuk membeli sandwich dan snack untuk keesokan harinya.

BERSAMBUNG…

Selanjutnya dalam 2014 Paris Roland Garros Trip:
– Lebih banyak cerita dari Roland Garros
– Menonton pertandingan WTA ter-epic yang pernah aku tonton langsung dengan mata kepala sendiri
– Kembali ke Belanda

My Interest · Tennis

#1398 – 2014 French Open

ENGLISH

Today, the second grandslam tournament of the year, the 2014 French Open, was concluded; so it is the time for me to write a brief review about it, as usual, haha 😛 . Btw, I will publish the next part of my long weekend trip to the French Open later on this week; so stay tuned! 😀

Men’s Singles

As usual, it is very hard to imagine someone other than the Big Four to win this title. Well, especially for this year, someone other than the current top 2 in the world, Rafael Nadal and Novak Djokovic. However, unlike all the previous years where Nadal had always been the favorite to win this grandslam, this year he came to the tournament not as the overwhelming favorite. I mean, sure, he was still the favorite (at least in my book), but it was not that overwhelming. He had unexpected loss to David Ferrer and Nicolas Almagro in Monte Carlo and Barcelona, respectively, this year. And Kei Nishikori troubled him in the final of Madrid. And of course his loss to Novak Djokovic in the final of Rome.

And indeed, these two players advanced to the final. And this final would put everything on the line. Obviously the winner would get another grandslam title; but on top of that was that whoever came out on top, he would be the world no.1.

In the final, Novak Djokovic took the first initiative by winning the first set 6–3. But after a very tight second set which ended with a few superb shots by Nadal at the end of it where he clinched it 7–5, Nole went a little bit awry in the third and early of the fourth set. He was able to regroup but in the end Rafa was a little bit stronger. So Rafael Nadal won his ninth French Open title beating Djokovic 3–6, 7–5, 6–2, 6–4, establishing (even) stronger than Stade Roland Garros is his playground.

Women’s Singles

The women’s side is, as always in the past a few years, very open. Well, probably not that open as the previous years though because Serena Williams defended her title in Rome so she was, once again, the favorite to defend her French Open title. However, she surprisingly lost in the second round. As usual though, everytime Serena lost in a big tournament, suddenly it feels like the draw got wide open, haha 😆 . And the fact that the other highest seeded players lost early as well (second seed Li Na lost in the first round, third seed Agnieszka Radwanska lost in the third, and fifth seed Petra Kvitova in the third as well) did not help the case.

But the remaining favorites somehow hanged on and stayed alive in the draw; even though not without their own problems. Maria Sharapova came from behind in three consecutive matches to reach the final; while Simona Halep did not drop a set en route to her first grandslam final.

The final match turned out to be a tight three setter that lasted three hours. Sharapova, however, was always a little bit in front in the entire match; even though Halep was able to play the catch-up game to keep toe in toe. However, in the end Sharapova won her fifth grandslam title with a 6–4, 6–7(5), 6–4 victory over Simona Halep.

This was the first time in her career that Maria Sharapova won a grandslam singles title more than once.

Rafael Nadal won his ninth French Open title in 2014. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe
Rafael Nadal won his ninth French Open title in 2014. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe
Maria Sharapova won her second French Open title in 2014. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe
Maria Sharapova won her second French Open title in 2014. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Hari ini, turnamen grandslam kedua tahun ini, French Open 2014, selesai; dan sekarang tentulah waktu bagiku untuk menulis review singkat tentangnya kan ya, seperti biasa, haha 😛 . Btw, tenang aja, bagian selanjutnya dari cerita perjalanan long weekend-ku ke French Open akan segera aku posting minggu ini; ditunggu aja ya! 😀

Tunggal Putra

Seperti biasa, sulit membayangkan seseorang di luar Big Four untuk menang. Yah, terutama untuk tahun ini sih, seseorang di luar dua besar sih, Rafael Nadal dan Novak Djokovic. Namun, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya dimana Nadal adalah favorit untuk menjuarai turnamen ini, tahun ini ia datang ke turnamen ini tetap sebagai favorit tetapi dengan tidak terlalu overwhelming. Secara mengejutkan ia kalah dari David Ferrer dan Nicolas Almagro di Monte Carlo dan Barcelona, berturutan, tahun ini. Dan Kei Nishikori juga menyulitkannya di final di Madrid. Dan tentu saja kekalahannya ddari Novak Djokovic di finalnya Roma.

Dan memang, dua pemain ini yang akhirnya masuk ke final. Dan di final ini semua dipertaruhkan loh. Tentu saja yang menang bakal mendapatkan satu gelar grandslam lagi; tetapi di atas itu semua, siapa pun yang juara juga akan mendapatkan peringkat 1 dunia.

Di final, Novak Djokovic mengambil inisiatif pertama dan memenangi set pertama 6–3. Tetapi setelah set kedua yang amat ketat yang diakhiri dengan beberapa pukulan menakjubkan dari Nadal di akhir set tersebut; dimana ia memenanginya 7–5, Nole jadi agak sedikit kurang terkontrol di set ketiga dan awal set keempat. Ia berhasil fokus kembali sih tetapi pada akhirnya Rafa masih sedikit terlalu kuat. Jadilah Rafael Nadal memenangi gelar French Open kesembilannya dengan mengalahkan Djokovic 3–6, 7–5, 6–2, 6–4, (semakin) menancapkan ide bahwa Stade Roland Garros adalah tempat bermainnya.

Tunggal Putri

Sisi putri, seperti biasa di beberapa tahun belakangan ini, sangat terbuka. Yah, mungkin tidak seterbuka itu sih karena Serena Williams berhasil mempertahankan gelarnya di Roma sehingga ia, sekali lagi, difavoritkan untuk mempertahankan gelarnya di French Open juga. Namun, secara mengejutkan ia kalah di babak kedua. Seperti biasanya sih, setiap kali Serena kalah di turnamen besar, tiba-tiba rasanya undiannya menjadi sangatlah terbuka, haha 😆 . Dan kondisi dimana banyak pemain unggulan teratas lainnya yang juga kalah awal (unggulan kedua Li Na kalah di babak pertama, unggulan ketiga Agnieszka Radwanska di babak ketiga, dan unggulan kelima Petra Kvitova di babak ketiga juga) jelas tidak membantu.

Tetapi pemain favorit lainnya yang tersisa berhasil bertahan dan tetap hidup; walaupun tidak dengan masalahnya sendiri-sendiri. Maria Sharapova harus berjuang dari ketertinggalan di tiga pertandingan berturut-turut untuk masuk ke final; sementara Simona Halep tidak kehilangan satu set pun untuk masuk ke final grandslam pertamanya.

Pertandingan finalnya ternyata menjadi final tiga set ketat yang berlangsung tiga jam. Namun, Sharapova selalu sedikit lebih unggul di sebagian besar pertandingan ini; walaupun beberapa kali Halep berhasil mengejar dan membuatnya tetap ketat. Namun, pada akhirnya Sharapova menjuarai gelar grandslam kelimanya dengan mengalahkan Simona Halep 6–4, 6–7(5), 6–4.

Ini adalah kali pertama di karirnya Maria Sharapova dimana ia memenangi sebuah turnamen grandslam lebih dari sekali.

My Interest · Tennis

#1340 – 2014 Australian Open

ENGLISH

So, it is already this time of the year again, hahaha 😆 . The first grandslam tournament of the year, the Australian Open, has just been concluded so it is time to make my report about it 😀 . But I will try to do it differently this year; where in this post I will try to write more of my opinion rather than an actual report of the tournament as, well, you can find abundant amount of tournament reports accross the internet anyway, right? Anyway, so here we go…

General Impression

For some reasons, maybe my busy-ness at work played a part, I was not as excited nor committed to this tournament as I normally would. I mean, I was still excited and stuffs, but just not as much. I don’t know, maybe also because some of my favorites lost early in this tournament? Hahaha 😆

Upsets

Speaking of which, yes, there were quite a lot of upsets in this tournament, especially in the women’s draw. The hot favorite for the title, Serena Williams, lost in the fourth round to Ana Ivanovic, revealing she injured her back during her practice before her third round match against Daniela Hantuchová (she still won the match against Hantuchová though). Following her loss, Maria Sharapova was ousted in the fourth round too the very next day; and the defending champion, Victoria Azarenka, lost to Agnieszka Radwańska in the quarterfinals.

My favorite for the men’s doubles, Bob and Mike Bryan, were also ousted in the third round. The three time defending champion in men’s singles, Novak Djokovic, lost in the quarterfinals. Andy Murray lost in the quarterfinals (even though to Roger Federer).

The Champions

But in the end, someone would still win the tournament despite the upsets. In the women’s singles, Li Na took advantage of this (she herself nearly lost in the third round too where she had to save a match point) by winning her second grandslam title without having to play a single top 20 player on the way to the title (the highest ranked opponent she faced was Ekaterina Makarova, who was ranked 22nd, in the fourth round). But still, Li Na deserved to win of course. 🙂 And the best part for me? Well, her on stage winning speech!

Very hilarious! Congratulations Li Na!

In the men’s singles, for the first time since the 2009 US Open (or the second time since the 2005 Australian Open to get further beyond and to make a point on how big this is), a man other than the “big four” (Rafael Nadal, Djokovic, Federer, and Murray) won the title. And Stanislas Wawrinka did it with style, by defeating Djokovic in an epic five-setter in the quarterfinals and the world no. 1, Nadal, in the final in four sets. A truly deserved victory considering how magnificent he played in the final! And as a reward for him, he would become the world no.3 when the new ranking is released and, probably a bigger matter for him too, he would be the Swiss number 1; surpassing Roger Federer. After years and years staying under Federer’s shadow, this seems to be like a sweet result, no? 🙂

Congratulations Stanislas Wawrinka!

But Still A Little Disappointment

One small thing that disappointed me this year was that they did not run the Australian Open Pick ‘Em game anymore (they did in the previous two editions of the tournament). It was a simple game, where participants would predict who would be the winner of some (8 to 10) matches everyday and they would earn points from every correct answer. It was such a fun game for the fans, in my opinion. So that is why I was a bit sad that they discontinued it this year 😦 .

Li Na won her second grandslam title at the Australian Open in 2014. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac
Li Na won her second grandslam title at the Australian Open in 2014. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac
Stanislas Wawrinka won his first grandslam title at the 2014 Australian Open. Photo credit: Mark Kolbe/Getty Images AsiaPac
Stanislas Wawrinka won his first grandslam title at the 2014 Australian Open. Photo credit: Mark Kolbe/Getty Images AsiaPac

BAHASA INDONESIA

Ya, sudah tanggal-tanggal segini lagi ya, hahaha 😆 . Turnamen grandslam pertama tahun ini, Australian Open, baru saja berakhir sehingga inilah saatnya untuk menulis ceritaku mengenainya 😀 . Ah, tapi aku akan menulis sesuatu yang berbeda ah mulai sekarang; dimana di posting ini aku akan menulis lebih banyak mengenai pendapatku daripada sekedar laporan tentang turnamennya kan karena, toh, ada banyak banget artikel berisi laporan turnamennya di internet kan? Anyway, mari kita mulai saja…

Kesan Umum

Entah karena apa, mungkin kesibukanku di kantor agak berperan serta juga ya, aku tidak terlalu excited atau berkomitmen terhadap turnamen ini daripada biasanya. Maksudnya, ya masih excited juga sih, tetapi nggak yang gimana-gimana banget gitu. Nggak tahu dah, mungkin juga karena para pemain favoritku pada bertumbangan lumayan awal kali ya? Hahaha 😆

Kejutan

Nah, ngomongin itu, ya, memang ada beberapa kejutan di turnamen ini, terutama di tunggal putri. Favorit juara turnamen ini, Serena Williams, kalah di babak keempat dari Ana Ivanovic, dan kemudian mengungkapkan bahwa ternyata ia mencederai punggungnya di saat pemanasan sebelum pertandingan babak ketiganya melawan Daniela Hantuchová (ia masih bisa menang melawan Hantuchová sih). Setelah kekalahan itu, keesokan harinya Maria Sharapova juga kalah; dan juara bertahannya, Victoria Azarenka, juga kalah dari Agnieszka Radwańska di perempat final.

Favoritku untuk ganda putra, Bob dan Mike Bryan, juga kalah di babak ketiga. Juara bertahan tiga kali, Novak Djokovic, kalah di perempat final. Andy Murray kalah juga di perempat final (walau kalahnya dari Roger Federer sih).

Sang Juara

Toh, pada akhirnya, seseorang harus juara juga kan walaupun ada kejutan-kejutan itu. Di tunggal putri, Li Na memanfaatkan kesempatan ini dengan baik (walaupun ia sendiri nyaris banget kalah di babak ketiga sih, dimana ia harus menyelamatkan satu match point) dengan memenangi gelar grandslam keduanya tanpa harus bermain melawan satu pun pemain berperingkat 20 besar (pemain berperingkat tertinggi yang ia hadapi adalah Ekaterina Makarova di babak keempat, yang mana berperingkat 22 waktu itu). Ah, tapi toh menurutku Li Na masih berhak untuk juara kok tentu saja. 🙂 Dan hal terbaiknya menurutku? Pidato kemenangannya!

Lucu banget! Selamat Li Na!

Di tunggal putra, untuk pertama kalinya semenjak US Open tahun 2009 (atau untuk kedua kalinya semenjak Australian Open tahun 2005 untuk melihat fakta ini lebih jauh dan menekankan akan bagaimana besarnya ini), seorang pemain yang bukan merupakan anggota “empat besar” (Rafael Nadal, Djokovic, Federer, dan Murray) menjuarai turnamen grandslam. Dan Stanislas Wawrinka berhasil melakukannya dengan penuh gaya dimana ia mengalahkan Djokovic melalui pertandingan epik lima set di perempat final dan pemain peringkat 1 dunia, Nadal, di final dalam empat set. Sebuah kemenangan yang amat berhak ia dapatkan dengan melihat bagaimana indahnya ia bermain di final! Dan sebagai hadiah untuknya, ia akan berperingkat 3 di dunia ketika daftar peringkat baru dirilis dan, mungkin lebih besar baginya pula, ia akan menjadi pemain nomor 1 di Swiss; menyalip Roger Federer. Setelah bertahun-tahun selalu berada di bayang-bayang Federer, rasanya ini adalah sesuatu yang amat manis yang berhasil ia dapatkan kan? 🙂 

Selamat Stanislas Wawrinka!

Sedikit Kecewa

Satu hal yang mengecewakanku sedikit tahun ini adalah game Australian Open Pick ‘Em nggak dimainkan lagi dong (mereka mengadakannya di dua edisi sebelumnya). Ini adalah game sederhana dimana para peserta harus menebak pemenang dari beberapa (8 sampai 10) pertandingan setiap hari dan mereka mendapatkan sejumlah poin dari setiap tebakan yang benar. Game-nya mengasyikkan banget lho sebenarnya, menurutku sih. Makanya aku agak kecewa juga tahun ini kok nggak dimainkan lagi 😦 .