#2076 – A Tale of Power Bank Hunting

ENGLISH

I have previously mentioned that not too long ago I bought a new power bank because my older one was broken; and I had found power bank to be very useful. At the time I wasn’t very happy with it because I found it to be too large and was rather heavy, thus making it quite inconvenient for my travels. Yeah, I bought the product online and it was, indeed, my mistake that I did not carefully check these dimensions; the downside of online shopping, haha. On the other hand it had a lot of capacity and was still well within the allowed range to be brought to a flight cabin.

A new power bank (left) and the old one (right)

However, after some (quick) consideration I decided to return the product because I couldn’t look past the inconvenience of it on my travels .Yeah, the cool thing about purchasing stuffs in the Netherlands is the “cooling off” period where we can return a product we have just bought (and, of course, get a refund)! But of course this is not for all products. This was my first time, ever, returning a product because I changed my mind, though, haha πŸ˜† . Btw, I bought the power bank from a big electronic store in the Netherlands who had a cooperation with the postal service, so returning the product was free of charge! Haha πŸ˜€ .

The process went very smoothly, btw. I got a confirmation from the store in about 24 hours that they had received my shipment (Even they bothered to take two pictures of the shipment πŸ˜…) and that my payment would be fully refunded. Technically the process was much quicker than that as the part which took the most time of that 24 hours was the shipping back, haha πŸ˜† .Β The refund took place about three working days later where I got it in my credit card account.

But of course at the end of the day I still needed a new power bank; and so I went to the store one day after work (No online shopping this time around! I felt like I needed to touch and see the product first before buying one! Lol πŸ˜† ). Long story short, I bought one with much smaller capacity but with convenient size and weight to carry around. It actually was roughly similar, dimension-wise, to my old one, haha.

A new(er) power bank (left) and the old one (right)

Thus far, I am quite happy with it!

Yeah, this is the story of me getting a new power bank this monthΒ πŸ˜†.

BAHASA INDONESIA

Sudah kuceritakan sebelumnya belum lama ini bahwa aku membeli power bank baru karena yang lamaΒ rusak; dan sejauh ini aku merasa power bank itu sungguh berguna. Waktu itu aku tidak terlalu puas dengan produk baru ini karena bagiku terasa terlalu besar dan agak berat, sehingga kurang praktis untuk dibawa-bawa ketika jalan-jalan. Iya, barangnya aku beli online dan memang sih salahku aku tidak mengecek dua dimensi ini dengan teliti; ya sisi buruk dari belanja online memang ini, haha. Di sisi lain, sebenarnya produk ini berkapasitas besar banget dan dimensinya masih di dalam batas untuk diperbolehkan dibawa ke kabin pesawat sih.

Power bank baru (kiri) dan yang lama (kanan)

Namun, setelah pertimbangan (kilat), akhirnya aku memutuskan untuk mengembalikan (retur) produk ini karena bagiku ketidak-praktisannya untuk dibawa jalan-jalan itu mengganggu banget. Iya, asyiknya belanja di Belanda adalah adanya periode “cooling off” dimana kita bisa mengembalikan produk yang baru saja kita beli (dan, tentu saja, uangnya dikembalikan)! Eh setahuku ini nggak berlaku untuk semua produk sih tapinya. Biarpun begini, ini adalah pertama kalinya sih aku mengembalikan suatu produk karena aku berubah pikiran, haha πŸ˜† . Btw, aku membeli power bank-nya dari toko elektronik besar di Belanda yang bekerja-sama dengan layanan pos, sehingga ongkir pengembalian produknya pun gratis loh! Haha πŸ˜€ .

Proses returnya pun berjalan dengan amat mulus, btw. Aku mendapatkan konfirmasi dari tokonya dalam waktu 24 jam bahwa barangnya sudah mereka terima kembali (Bahkan mereka mengirimkan dua foto barangnya segala loh πŸ˜…) dan pembayaranku akan dikembalikan penuh. Secara teknis sebenarnya prosesnya jauh lebih cepat daripada itu karena yang memakan waktu paling banyak dari 24 jam itu adalah pengirimannya, haha πŸ˜† .Β Pengembalian pembayarannya sendiri berlangsung sekitar tiga hari kerja kemudian dimana pembayaranku dikembalikan di akun kartu kreditku.

Tetapi tentu saja ya pada akhirnya toh aku masih membutuhkan power bank baru; jadilah suatu sore aku mampir di tokonya sepulang kerja (Nggak mau belanja online deh kali ini! Aku merasa perlu untuk memegang dan melihat barangnya dulu sebelum membeli! Haha πŸ˜† ). Singkat cerita, aku membeli satu yang kapasitasnya lebih kecil tetapi ukuran dan beratnya praktis banget untuk dibawa jalan-jalan. Ukurannya kurang lebih sama sih dengan power bank lamaku, haha.

Power bank yang (lebih) baru (kiri) dan yang lama (kanan).

Sejauh ini, aku cukup puas dengannya!

Yak, begini lah ceritaku membeli power bank bulan ini, huahaha πŸ˜†.

Advertisements

#2074 – “Warm” Temperature and A Power Bank

ENGLISH

Warm, because of the cold!

You know, last week the Netherlands was hit by the Beast from the East where, at one point, the real feel of the temperature was –20Β°C.

The Beast from the East

In short, it was really, really cold, haha. However, since last week’s Sunday, thankfully the temperature has started to go back to normal; and it helped that the weather has generally been really nice too.

There turns out to be a side effect of that, though. While the Beast from the East only hit Amsterdam for about half a week, apparently it was enough to alter my perception of “cold”. I was really surprised when earlier this week the temperature’s real feel was in the 5°–10Β°C range, I found it really, really warm! It felt like I did not need my coat! Haha πŸ˜† . Well, technically, it was 25°–30Β° “warmer” than last week so perhaps this was less surprising, but still! Haha πŸ˜† .

Power bank

Anyway, just before my weekend trip to Nice I realized that my power bank, which I bought in August 2014 in Yogyakarta, was apparently broken. All this time this power bank had been very useful on my (many) trips so I knew I would like and need to buy a new one. I decided to buy one online and earlier this week the product was delivered to me.

A new power bank (left) and the old one (right)

However, I was surprised by its size because it was: huge (and kind of heavy)! To be honest I did not really check the size indeed when placing the order; and so my mistake indeed. And so I checked if a power bank with this specification was allowed in a plane cabin. Luckily, it was still well within the limit and so this was fine, I guess, haha…

BAHASA INDONESIA

Hangat, karena dingin!

Tahu kan, minggu lalu Belanda diterjang oleh Beast from the EastΒ dimana, di satu waktu, real feel dari suhu udaranya mencapai –20Β°C.

The Beast from the East

Singkatnya, waktu itu dingin banget, haha. Namun, untungnya semenjak hari Minggu yang lalu, temperaturnya mulai berangsur kembali ke rentang normal; dan cuaca yang secara umum oke juga membantu banget dah.

Tetapi ternyata ada efek sampingnya juga lho. Walaupun Beast from the East hanya menerjang Amsterdam selama sekitar setengah minggu saja, ternyata ini pun sudah cukup untuk menggeser perspektifku akan yang namanya “dingin”. Aku merasa kaget awal minggu ini ketika merasa bahwa real feel temperatur di rentang 5°–10Β°C itu terasa hangat banget! Rasanya aku pengen melepas mantel aja dan pakai baju pantai aja deh *lebay*! Haha πŸ˜† . Yah, secara teknis mah suhu segitu memang 25°–30Β° “lebih hangat” daripada minggu lalu sih jadi mungkin ini tidak begitu mengherankan ya! Hahaha πŸ˜† .

Power bank

Anyway, tepat sebelumΒ perjalanan akhir pekanku ke NiceΒ aku baru menyadari bahwa power bank-ku, yangΒ aku beli di bulan Agustus 2014 di Yogyakarta, ternyata rusak dong. Sejauh ini power bank ini telah berguna sekali di (banyak) perjalanan-perjalananku sehingga aku tahu aku perlu membeli yang baru. Aku memutuskan untuk memesan satu online dan awal minggu ini barangnya diantar.

Sebuah power bank baru (kiri) dan yang lama (kanan)

Namun, aku dikagetkan sekali dengan ukurannya karena rasanya besar sekali (dan agak berat)! Sejujurnya memang sih aku lupa mengecek ukurannya ketika memesan; jadi sebenarnya ini salahku sendiri sih. Jadilah kemudian aku cek apakah power bank dengan ukuran ini diperbolehkan untuk dibawa ke kabin pesawat. Untungnya, spesifikasinya masih berada di dalam batasΒ limitΒ yang diizinkan sehingga sebenarnya tidak begitu masalah sih ya, haha…

#1436 – Earlier This Week in Yogyakarta

ENGLISH

Here is the story of the last two days of my stay in Yogyakarta earlier this week during my one month Indonesia trip this year.

Monday

For lunch on Monday afternoon, my parents, my grandma, and I went to the original Mang Engking restaurant in Sendangrejo, which was really far away from the city of Yogyakarta, haha. Btw, it has been awhile since the last time I went there. After some digging of my blog about it, the latest post I could find was this one; which means the last time I was there was 31 December 2008. Yes, it has been 5.5 years!! Well, honestly, I thought it was more recent than that though; so either I was wrong or I did not write the more recent visit, haha 😎 .

Mang Engking Restaurant

Mang Engking Restaurant

Anyway, Mang Engking has changed quite a lot since the last time I was there. Now they have more huts and offer more activities (boat rowing, etc). In some sense it reminded me of some restaurants near Pakem to the north of Yogyakarta, which offered similar atmosphere. Speaking of Mang Engking, it has been amazing to see how this business evolves. I still remember the first time I went there. It was in 2002 or 2003, when I was still in Junior High School, and Mang Engking was still an unknown restaurant located super far away from Yogyakarta, almost literally in the middle of nowhere. They only had two very simple huts in the middle of the rice field then, and the kitchen was in a house in the village nearby. So they had to bring all the food from the house to the huts, which was quite some distance. And now? Well, they already have several restaurants in Indonesia!

We ordered udang bakar madu (grilled prawns with honey sauce), two versions of guramis (I love this fresh-water fish! :D), and several vegetables. It was delicious as usual! πŸ™‚

We went back home after that and arrived at around 15:00. Then, my mom and I went to a phone shop to try to see what I could do with my broken Samsung Galaxy S3, haha. But apparently the damage was really bad that it would cost quite a lot to repair. Plus, since I bought it in the Netherlands, it was a bit difficult to sell it in Indonesia because of some official stuffs. Well, okay then. After that, we went to some other shops to do power bank hunting.

Then, we had dinner at Ayam Lombok Idjo. Btw, again, I just dug my old blog and the most recent reference to Ayam Lombok Idjo was this post, so it was in October 2008. Really? I thought my latest visit there was much more recent than that! Haha πŸ˜› . Anyway, it was another nice meal as usual πŸ™‚ .

Later in the evening, I went out with my friends as it was my last evening in Yogyakarta. We decided to go karaokeing (at first we planned to watch a movie but then decided that karaokeing would be a nicer experience). Well, it has been awhile since the last time I was karaokeing. I still remember this trivia, the last time was in January 2011 during one of my friends’ birthday here in the Netherlands πŸ˜€ . Anyway, this time we just took one hour for it since one of my friends would have a class for his Master’s study the day after.

But then we decided to drop by at Mary Anne’s cafe for a late dessert (read: ice cream, lol πŸ˜† ). There were more than 50 choices for the flavour. Wow, cool, isn’t it? Well, true, but only until when you have to decide about which flavour do you want to have, haha πŸ˜› . Anyway, we stayed there until 23:30.

A lot of choices at Mary Anne's

A lot of choices at Mary Anne’s

On the way back home, we had a really good conversation about life in general. It was such an inspiring and relieving conversation to have; especially given the timing as it was on the last evening of my stay in Yogyakarta and that they were some of my very closest friends. It was one of the best highlight of this one month trip to Indonesia!

Tuesday

On Tuesday morning, I accompanied my mom to a BCA office to fix her blocked internet banking account. Then, I helped my parents booked some AirAsia tickets (thanks to their FREE tickets offer this week πŸ˜€ ) for an upcoming trip in 2015. I will be involved in this trip too but I will keep the story for a (much) later time πŸ˜‰ . So stay tuned! πŸ™‚

Then, after lunch, I went out with my friends again. So actually from Mary Anne’s the evening before, we got some vouchers and we felt like why we did not use one of them, which was another free karaoke voucher for one hour, haha πŸ˜€ . But then, because of the many traffic jams in Yogyakarta due to the scarcity of fuel (gas), we arrived a little bit late (than planned) at the karaoke place. To use the ticket we must book the room for at least two hours in, at least, a medium-sized room; plus we had to wait for another 45 minutes because all rooms were occupied. At first we almost dropped it but then we found out that a small room was available in about 10 minutes; so we decided to book this one for one hour. So there we went again, another hour of karaokeing, haha πŸ˜› . Btw, at first we kinda had problem with the computer (it was a different karaoke place than the evening before and it was the first time for all of us there), but in the end we figured it out.

The Lempuyangan Flyover in Yogyakarta

The Lempuyangan Flyover in Yogyakarta

After one hour, we left the karaoke place. We stopped by at a Toga Mas bookstore to look for some books but I did not find anything that interesting (I almost bought some though). Then, they dropped me off at home.

Then, after having dinner at home, I took all my luggage and left for Adisucipto Airport to get back to the Netherlands

BAHASA INDONESIA

Berikut ini cerita tentang dua hari terakhirku di Yogyakarta awal minggu ini dalam rangka liburan di Indonesia selama satu bulanku tahun ini.

Senin

Untuk makan siang dai hari Senin, orangtua-ku, omaku, dan aku pergi ke Rumah Makan Mang Engking di Sendangrejo, yang mana jauh banget loh dari kota Yogyakarta, haha. Dari Yogyakarta, lokasinya masih terus deh dari Godean. Btw, sudah lama juga semenjak terakhir kali aku makan disana. Setelah mengubek-ubek blogku tentangnya, posting terakhir tentangnya yang bisa kutemukan adalah yang satu ini; yang mana artinya terakhir kali aku kesana adalah tanggal 31 Desember 2008. Wih, iya loh, sudah 5,5 tahun aja gitu!! Eh, seujurnya sih awalnya aku kira kunjungan terakhirku lebih baru daripada itu sih; jadi ya antara aku salah ingat atau kunjunganku yang lebih baru itu tidak aku tulis, haha 😎 .

Mang Engking Restaurant

Rumah Makan Mang Engking

Ngomong-ngomong, yang jelas sih Mang Engking sudah berubah banget semenjak terakhir kali aku kesana. Sekarang mereka memiliki lebih banyak gubuk dan menawarkan lebih banyak aktivitas (mendayung perahu, dll). Sedikit banyak model restorannya mengingatkanku akan beberapa restoran serupa di dekat Pakem di utaranya kota Yogyakarta, yang menawarkan suasana yang mirip-mirip. Ngomongin Mang Engking, seru banget melihat perkembangan bisnisnya. Aku masih ingat banget kali pertama aku kesana. Waktu itu tahun 2002 atau 2003, ketika aku masih SMP, dan Mang Engking masih berupa sebuah rumah makan yang kurang banyak dikenal yang lokasinya super jauh banget dari Yogyakarta, bisa dibilang di tempat antah berantah dah. Waktu itu mereka hanya memiliki dua gubuk super sederhana di tengah-tengah sawah, dan dapurnya berada di sebuah rumah di desa di dekat situ. Jadi makanannya harus mereka bawa dari rumahnya ke gubuknya itu, yang mana lumayan jauh juga. Dan sekarang? Yah, mereka sudah memiliki beberapa rumah makan di Indonesia!

Kami memesan udang bakar madu, dua masakan gurami (Duh, ikan air tawar ini juara banget memang ya! :D), dan beberapa jenis sayur-sayuran. Enak deh seperti biasanya! πŸ™‚

Kami pulang setelahnya dan tiba di rumah sekitar jam 15:00. Lalu, mamaku dan aku pergi ke sebuah toko hape untuk mencoba melihat apa yang bisa aku lakukan terhadapΒ Samsung Galaxy S3-ku yang rusak, haha. Nah, ternyata kerusakannya sudah terlalu parah yang mana ongkosnya akan mahal banget kalau mau diperbaiki. Ditambah lagi, karena aku belinya di Belanda, jadi lebih sulit deh menjualnya di Indonesia karena beberapa aturan resmi. Ya sudah deh. Setelah itu, kami pergi ke beberapa toko lain untuk mencari dan membeli power bank.

Lalu, kami makan malam di Ayam Lombok Idjo. Btw, lagi-lagi, aku juga baru saja mengecek blog lamaku dan ternyata posting terakhir tentang Ayam Lombok Idjo adalahΒ yang ini, jadi di bulan Oktober 2008. Eh, masa sih? Aku rasa kunjungan terakhirku jauh lebih baru daripaa itu deh! Haha πŸ˜› . Ngomong-ngomong, makanannya sih enak seperti biasanya juga πŸ™‚ .

Malamnya, aku keluar dengan teman-temanku karena ini kan malam terakhir aku di Yogyakarta. Kami memutuskan untuk karaokean (awalnya rencananya mau nonton film aja tetapi rencananya kemudian diganti karena sepertinya karaokean lebih seru deh). Yah, sudah lumayan lama juga semenjak terakhir kali aku karaokean. Masih ingat deh aku kalau trivia yang satu ini, terakhir kali adalah di bulan Januari 2011 di acara ulang tahunnya seorang teman di Belanda sini πŸ˜€ . Kali ini kami mengambil sejam aja karena salah satu temanku akan ada kelas untuk studi S2-nya keesokan harinya.

Tetapi kemudian kami memutuskan untuk mampir di Kafe Mary Anne’s untuk dessert tengah malam (baca: es krim, huahaha πŸ˜† ). Disana ada lebih dari 50 pilihan rasa es krim loh. Keren, iya kan? Yah, memang benar sih, tetapi hanya sampai waktu ketika kita harus memutuskan mau memilih rasa yang mana, haha πŸ˜› . Kami disana sampai sekitar jam 23:30.

A lot of choices at Mary Anne's

Banyak sekali pilihan rasa es krim di Mary Anne’s

Dalam perjalanan pulang, kami mengobrol dengan amat seru, terbuka, dan dalam tentang kehidupan secara umum. Benar-benar sebuah percakapan yang menginspirasi dan melegakan dah pokoknya; apalagi kebetulan timing-nya pas di malam terakhir dari acara liburanku di Yogyakarta dan juga mereka adalah beberapa teman paling terdekatku. Percakapan ini adalah salah satu highlight terbaik dari acara liburan satu bulanku di Indonesia ini dah!

Selasa

Di hari Selasa pagi, aku menemani mamaku ke kantor BCA untuk memperbaiki akun internet banking-nya yang terblokir. Lalu, aku membantu orangtuaku memesan beberapa tiket AirAsia (berkat promosi tiket GRATIS-nya mereka minggu ini nih πŸ˜€ ) untuk sebuah perjalanan nanti di tahun 2015. Ceritanya aku juga akan terlibat di perjalanan ini tetapi ceritanya lebih baik aku simpan untuk nanti-nanti aja πŸ˜‰ . Jadi ditunggu aja deh ceritanya! πŸ™‚

Kemudian, setelah makan siang, aku keluar dengan teman-temanku lagi. Jadi sebenarnya, dari Mary Anne’s semalam sebelumnya, kami mendapatkan beberapa voucher dan kami merasa bahwa sebaiknya salah satu voucher-nya lebih baik langsung dipakai aja deh, yang mana voucher karaoke gratis selama satu jam, haha πŸ˜€ . Tetapi kemudian, karena kemacetan di jalanan Yogyakarta akibat kelangkaan BBM, kami tiba agak terlambat (dari rencana awal) di tempat karaokenya. Untuk menggunakan voucher-nya, kami harus memesan selama minimal dua jam di, setidaknya, ruang ukuran medium; ditambah lagi, kami harus menunggu selama 45 menit sebelum ada ruangan yang tersedia karena penuh. Awalnya nyaris kami batalkan tuh, tetapi kemudian ternyata ada ruangan small yang akan siap dalam waktu 10 menit; jadi kami memutuskan untuk memesan yang ini selama sejam aja karena tanggung sudah sampai sana juga kan. Dan begitulah, karaokean lagi deh selama sejam, haha πŸ˜› . Btw, awalnya kami kurang familier dengan penggunaan komputernya (tempat karaokenya berbeda daripada semalam sebelumnya dan ini adalah kunjungan pertama kami semua kesana), tetapi akhirnya bisa juga sih.

Setelah satu jam, kami pulang deh. Di jalan, kami mampir sebentar di Toko Buku Toga Mas untuk melihat-lihat beberapa buku. Tetapi aku tidak menemukan apa pun yang menarik (aku nyaris beli beberapa sih sebenarnya). Kemudian, mereka menurunkanku di rumahku.

The Lempuyangan Flyover in Yogyakarta

Jembatan Layang Lempuyangan di Yogyakarta

Lalu, setelah makan malam di rumah, aku mengambil bagasiku dan kemudian pergi ke Bandara Adisucipto untuk kembali ke Belanda