#1939 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part I: Lyon)

ENGLISH

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Getting to/from Lyon

Obviously, I chose not to fly direct to Lyon, haha. In fact, on both ways I had a transit at Paris-CDG. In general, all the flights were standard short-haul flights with Air France so I would not get to too much details here. There was only one “incident” on my way to Lyon that worth sharing, haha 😛 .

I had quite a tight connection at Paris-CDG, at only 50 minutes. So obviously I was not happy to find out that the departure of my flight AF1741 was delayed by 20 minutes! But it did not end there. Once all passengers boarded, the captain announced that Schiphol was very busy at the time and we only got a clearance for departure in another 20 minutes! The string of delays still did not finish here. When we finally left the terminal, it turned out we got a departure slot at:

Runway 36L aka the Polderbaan

Yes, the friggin’ Polderbaan So all in all, consequently we took off from Schiphol one hour (!) behind schedule.

But there was nothing I could do so I just tried to relax (and order some wine on board, lol). Though, I wasn’t all that worried. I already checked online and I found that Air France had a scheduled evening flight to Lyon from Paris-CDG later today. So even in the worst case scenario, I figured they would bump me into that flight. Sure it would cause some inconvenience in terms of my arrival time in Lyon, but I had been to Lyon before anyway so there would be not much that I would miss.

A small bottle of wine to enjoy the moment.

Anyway, 50 minutes later we landed at runway 09L of Paris-CDG. I walked briskly once I deboarded about 5 minutes before the scheduled departure of my connecting flight, on the slightest hope that my connecting flight would probably be delayed too. I checked the transit monitors and went to my gate.

And I found it surprising that my gate was the same gate that I just got off from. Yep, as it turned out, my connecting flight to Lyon would be operated with the same airplane (even with the same crew set)! This was the first time ever I took these kind of flights! Lol 😆 . So consequently the flight to Lyon was also delayed by around 45 minutes! Yep, at the end, everything worked out well (for me)! 😛

I took two different flights (AF1741 and AF7646) with this Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXA today!

Once all passengers to Lyon boarded, the captain apologized for the delay and explained this was due to late arrival from Amsterdam. Well, I could testify for that! Lol 😛 .

Lyon

Lion selfie in Lyon

It worths mentioning that this trip took place during a very warm weekend in Europe; and this was also true for Lyon. It was really warm when I was there, where the temperature came close to 30°C or so, haha. Despite this, though, obviously I still managed to get around the city, haha 😆 .

I bought a daily public transpotation card to get around Lyon. I stayed near Gare Part Dieu and that was quite some distance from Vieux Lyon (Old Lyon), the most attractive (and touristy) part of the city. Obviously I was not planning to walk there because of the temperature, lol 😆 . The Lyonese trams looked really cool, though. Here is one of them:

A Lyonese tram

Anyway, unsurprisingly it was a busy weekend in Lyon where the Vieux Port was full of people (read: tourists)! I crossed both the Rhone and Saone rivers and walked around the old town. After lunch, I took the funicular to the top of the Fourviere Hill here Lyon’s Notre Dame Basilica was located. The small park next to the basilica provided good bird’s eye view of the city too.

Notre Dame Fourviere in Lyon

I looked at the map and Theatre Gallo-Romains did not look very far away from the basilica. Fortunately this turned out to be true because I decided to walk there, haha 😆 . This Roman theatre appeared like how I remembered it from 2014, it was very well-preserved.

Theatre Gallo-Romains

From there, I took the other funicular line down back to Vieux Lyon. At this point, I felt like I had walked enough and it was really warm anyway, so I decided to: shop! Haha 😆 . Even at one point I decided to just go to the big mall near Gare Part Dieu because it had air-conditioner in it, haha 😆 .

The Food

Lyon is known as the gastronomy capital of France, so obviously food was one main element of this trip, haha, even though I did not go to any Michelin-starred restaurant, unlike the last time.

One dish which I did not have the chance to try the last time I was in Lyon was quenelle de brochet. And so I told myself to not miss it this time around (and gave it a go to miss the andouillette, another Lyon’s specialty, because I was traumatized by the mustard sauce the last time I had it (I hate French mustard)). Anyway, the quenelle tasted good. I would probably not call it my most favorite dish ever because I found the sauce to be really creamy and heavy, but it was definitely much better (for me) than andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Another dish surprised me, btw, because (1) it was, obviously, really good and (2) I told myself why I never thought about it before. It was a “fillet de canard” (duck breast) steak. Really, it tasted very good!! In fact, maybe I will try to cook one myself soon! Hmm 🤔

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Pergi ke Lyon

Jelas dong aku tidak terbang langsung dari Amsterdam ke Lyon, haha. Di kedua arah, aku transit dulu di Paris-CDG. Secara umum, semua penerbangannya adalah penerbangan standar jarak dekat dengan Air France sehingga aku tidak akan merincinya di sini. Hanya saja, ada satu “insiden” di perjalanan keberangkatanku ke Lyon yang layak diceritakan 😛 .

Waktu transitku cukup ketat di Paris-CDG, hanya 50 menit saja. Jadi jelas aku merasa tidak terlalu senang ketika tahu bahwa penerbangan AF1741ku dijadwalkan berangkat terlambat 20 menit hari ini! Masalahnya lagi, ternyata berita buruknya belum berakhir. Setelah semua penumpang naik pesawat, pilot mengumumkan bahwa Bandara Schiphol sangat sibuk waktu itu sehingga kami baru mendapatkan giliran untuk berangkat 20 menit kemudian! Disini pun masalahnya masih belum berakhir pula. Setelah akhirnya pesawat bergerak, ternyata keberangkatan kami adalah dari:

Landasan pacu 36L alias Polderbaan

Iyaa, Polderbaan laknat itu Semua ini mengakibatkan kami lepas landas satu jam (!) di belakang jadwal.

Berhubung toh semuanya di luar kuasaku, ya sudah aku pasrah saja dan berusaha santai (dan memesan wine dong di pesawat, haha). Tapi aku memang tidak begitu khawatir sih. Aku sudah cek di internet bahwa hari itu Air France memiliki penerbangan malam ke Lyon dari Paris-CDG. Jadi andaikata skenario terburuk terjadi, aku cukup yakin Air France akan memindahkanku ke penerbangan itu. Memang sih ini akan mengakibatkan sedikit ketidak-nyamanan dalam hal waktu tibaku di Lyon, tetapi toh aku sudah pernah ke Lyon sebelumnya jadi tidak terlalu banyak lah yang akan kulewatkan.

Sebotol kecil wine untuk memasrahkan diri kepada situasi.

Anyway, sekitar 50 menit kemudian kami mendarat di landasan pacu 09L Bandara Paris-CDG. Aku berjalan cepat-cepat begitu keluar dari pesawat sekitar 5 menit sebelum jadwal keberangkatan penerbangan lanjutanku, dengan berbekal harapan amat kecil penerbanganku selanjutnya mungkin terlambat juga, haha. Aku kemudian mengecek layar monitor transit di bandara untuk mengetahui gerbang keberangkatannya.

Aku cukup kaget ketika melihat bahwa gerbangnya adalah gerbang yang sama dari mana aku baru saja keluar. Iya, ternyata, penerbanganku ke Lyon akan dioperasikan dengan pesawat yang sama (bahkan dengan set kru yang sama)! Ini adalah kali pertama aku mengalami kejadian begini nih! Haha 😆 . Jadilah akibatnya penerbangan ke Lyon juga kena delay selama 45 menit! Iya, pada akhirnya, semuanya baik-baik saja (untukku)! 😛

Aku menaiki dua penerbangan berbeda (AF1741 dan AF7646) dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXA ini hari ini!

Setelah semua penumpang tujuan Lyon naik pesawat, pilotnya meminta-maaf atas keterlambatan ini dan menyebutkan ini disebabkan oleh keterlambatan penerbangan sebelumnya dari Amsterdam. Yah, aku bisa kok bersaksi untuk pernyataan ini! 😛

Lyon

Lion selfie di Lyon

Relevan untuk disebutkan bahwa perjalanan ini berlangsung di akhir pekan yang amat panas di Eropa; dan di Lyon juga demikian. Panas banget deh ketika aku di sana, dimana suhu udaranya mencapai 30°C, haha. Walaupun begini, toh aku masih sempat jalan-jalan di kotanya, haha 😆 .

Aku membeli tiket harian transportasi umum untuk berkeliling Lyon. Aku menginap di dekat Gare Part Dieu yang berjarak cukup jauh dari Vieux Lyon (Lyon Tua), bagian paling kece (dan paling penuh turis) dari Lyon. Jelas, aku ogah berjalan-kaki kesana apalagi lagi panas-panasnya begini, haha 😆 . Btw, disain tram di Lyon keren-keren loh. Berikut ini salah satunya:

Sebuah tramnya Lyon

Anyway, tidak mengherankan akhir pekan ini ramai banget di Lyon dimana Vieux Portnya penuh orang (baca: turis)! Aku menyebrangi kedua sungai Rhone dan Saone dan berjalan-kaki keliling kotanya. Setelah makan siang, aku naik funicular ke atas bukit Fourviere dimana Basilika Notre Dame-nya Lyon berada. Dari taman kecil di samping basilikanya kita bisa melihat pemandangan Lyon dari atas.

Notre Dame Fourviere di Lyon

Aku lihat di peta dan Teater Gallo-Romains nampak tidak jauh dari basilikanya. Untung ini benar karena aku memutuskan untuk berjalan-kaki kesana, haha 😆 . Teater Romawi ini masih seperti yang kuingat dari tahun 2014, sungguh terawat dengan amat baik.

Teater Gallo-Romains

Dari sana, aku menaiki funicular lain untuk turun kembali ke Vieux Lyon. Aku merasa sudah cukup jalan-jalannya dan toh udaranya panas banget, jadilah aku memutuskan untuk: shopping! Haha 😆 . Bahkan di satu waktu aku memutuskan untuk ngemall aja loh di sebuah mall besar di dekat Gare Part Dieu yang dilengkapi dengan AC, haha 😆 .

Makanannya

Lyon dikenal sebagai ibukota kulinernya Prancis, jadi jelas makanan adalah satu elemen penting dari perjalanan ini, haha, walaupun aku tidak pergi ke restoran berbintang Michelin sih kali ini, tidak seperti yang lalu.

Satu menu yang tidak sempat aku cobain ketika terakhir kali aku di Lyon adalah quenelle de brochet. Jadilah aku berencana untuk tidak melewatkannya kali ini (dan tidak berkeberatan untuk melewatkan andouillette, sebuah makanan khasnya Lyon yang satunya, karena aku trauma dengan saus mustard-nya waktu itu (aku tidak suka mustard Prancis!)). Anyway, quenelle-nya enak juga ternyata. Mungkin aku tidak akan mengklaimnya sebagai masakan terfavoritku karena aku merasa sausnya creamy dan “berat” banget, tetapi (untukku) tetap jauh lebih enak daripada andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Satu menu mengagetkanku, btw, karena (1) jelas, rasanya enak banget dan (2) Kok aku nggak kepikiran sebelumnya ya? Haha. Menu ini adalah steak “fillet de canard” (dada bebek). Beneran loh, rasanya enak banget!! Malahan, aku berpikir untuk sekali-sekali mencoba membuatnya sendiri nih! Hmm 🤔

#1754 – 3 Things I Don’t Like About Schiphol

ENGLISH

Well as you know I fly a lot in recent years. Okay, the definition of “a lot” is indeed shaky as it differs from one person to another. But let’s side that aside and just assume that my definition of “a lot” here is universally accepted, haha. Anyway, as I am based in the Netherlands, this means that my frequency of using the Netherlands’ main airport, Amsterdam Schiphol, is high (in 2015, 23.96% of my total flying activities (take-offs and landings) were at Schiphol)).

Amsterdam Schiphol Airport

Amsterdam Schiphol Airport

Amsterdam Schiphol is a great airport. It has consistently been ranked as one of the top European airports (and world-wide actually) so for sure you can make a really long list of the good stuffs about this airport, which I would agree.

But of course not everything is perfect in this world, and so is Schiphol. Here are three things which I do not really like about this airport:

1. Runway 18R/36L (The “Polderbaan”)

Amsterdam Schiphol Airport is equipped with six runways (Soekarno-Hatta in Jakarta only has two and construction of the third is hampered with the “usual” problems). While most people might not give a damn on which runway their flight uses when flying in/out of Schiphol, I do. There is one runway which I despise (and the other five are equally okay for me 😛 ), that is runway 18R/36L or the “Polderbaan”. And you may have noticed this dislike from some of my posts here 🙂 .

Why? Well, because Polderbaan is the farthest runway from the terminal buildings! Just take a look at the Google Map printscreen below:

Polderbaan in Schiphol

Polderbaan in Schiphol

An approximate straight line distance from one end of the Polderbaan to Schiphol’s terminal buildings is 4.27 km! This means that in reality, airplanes that use Polderbaan (either for take-off or landing) have to taxi longer than that between the runway and the terminal. Just to give you an idea, it can take about 10 – 20 minutes of taxi (assuming no traffic at the airport). And I hate that, lol 😆 .

So you can imagine the situation (which happens often) when you land at runway 18R of Schiphol, your airplane starts to taxi but 20 minutes later, it still has not come to a complete stop at the gate, lol 😆 .

Polderbaan and Schiphol

Polderbaan and Schiphol in real life

Polderbaan is the newest runway of Schiphol (and longest at 3,800 meter as well). The runway was opened in 2003 and the location was chosen to reduce the noise pollution to the surrounding of the busy Schiphol Airport.

2.  The arrival baggage handling

One factor which, in my opinion, Schiphol can really improve (by a lot of margin) is the arrival baggage handling.

Schiphol’s arrival baggage handling is infamously known (at least within the group of people that I know 😛 ) to be very slow that it takes forever before your checked-in luggage comes out at the belt. I know that Schiphol is a very busy airport (Even though (or rather “because of” due to the complexity of transfer luggage handling?) 60.5% of Schiphol Airport’s 58.3 million passengers in 2015 were transit passengers), but still, I would think one of their middle-term goal should be to resolve this issue. In 2013, while coming back from my 2013 one month trip to Asia with a full Emirates’ Airbus A380-800 flight, it just so happened that my luggage was one of the last to be delivered. And I had to wait for a really long time (almost an hour) in front of the baggage belt.

Okay, to be honest, I haven’t used this service for some time. The last time I checked-in a luggage was on my way back from my 2015 Year End Trip to North America earlier this year actually. But even then, my bag took really really awhile to come out (while it was actually tagged with a priority label) so that I thought it was lost!

Learning from these experiences, if I don’t need to, I always avoid travelling with a checked-in luggage especially when flying to Schiphol. And, for the time being, I recommend you too.

3.  Nothing big really

Except if I nitpick a few local things here and there, at the moment I don’t think I am able to name another thing about Schiphol which I don’t like.

Really, aside from the two points I mentioned above, overall I think Schiphol is a really great airport. As you can see from the number of passengers above, apparently Schiphol is also a great airport for transit. Well, I have never transitted at Schiphol before (obviously 😛 ) but looking at the one-terminal airport design and my own experience there, I am not surprised about this 😉 .

***

So what about you? Have you ever flown through Schiphol and if so, do you have another aspect you don’t like about the airport?

BAHASA INDONESIA

Seperti yang sudah pada tahu, beberapa tahun belakangan ini aku sering terbang. Oke, memang sih definisi “sering” itu tidak jelas karena tergantung dari persepsi masing-masing individu. Tetapi, mari untuk posting ini ketidak-jelasan ini kita kesampingkan dulu dan kita asumsikan definisiku akan “sering” di sini diterima secara umum. Anyway, karena basisku adalah di Belanda, ini berarti frekuensiku menggunakan layanan bandara utamanya Belanda, Amsterdam Schiphol, tinggi (di tahun 2015, 23,96% dari total aktivitas terbangku (lepas landas dan mendarat) adalah di Schiphol).

Amsterdam Schiphol Airport

Bandar Udara Amsterdam Schiphol

Amsterdam Schiphol adalah bandara yang keren. Bandara ini secara konsisten termasuk peringkat teratas dari bandara-bandara di Eropa (dan dunia sih sebenarnya) jadi pasti mudah deh membuat daftar panjang kelebihan bandara yang satu ini, yang mana aku pasti setuju-setuju aja.

Tetapi tentu saja tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, termasuk Schiphol. Berikut ini tiga hal yang kurang aku sukai dari bandara ini:

1. Landasan Pacu 18R/36L (“Polderbaan”)

Bandara Amsterdam Schiphol memiliki enam buah landasan pacu (banyak ya, Bandara Soekarno-Hatta aja cuma punya dua dan pembangunan yang ketiga pun ributnya lama). Kalau kebanyakan orang nggak peduli landasan pacu mana yang dipakai di penerbangannya dari/ke Schiphol, aku peduli banget dong. Jadi ceritanya satu landasan pacunya itu tidak aku sukai banget (sementara yang lima lainnya sih oke semua deh untukku 😛 ) yaitu landasan pacu 18R/36L, atau yang dinamai “Polderbaan” di sini. Dan ketidak-sukaan ini memang sudah kuutarakan di beberapa posting di sini, mungkin ada yang ingat 😛 .

Mengapa? Yah, karena Polderbaan itu adalah landasan pacu yang paling berlokasi jauuh dari gedung terminalnya Schiphol! Lihat saja di printscreen Google Map di bawah ini:

Polderbaan in Schiphol

Polderbaan di Schiphol

Perkiraan jarak garis lurus dari Polderbaan ke gedung terminal Schiphol adalah sekitar 4,27 kilometer! Ini artinya pada kenyataannya, pesawat-pesawat yang menggunakan Polderbaan (baik untuk lepas landas atau pun mendarat) harus taxiing lebih jauh dari itu kan di antara landasan pacu dan terminalnya. Untuk tahu saja nih, waktu taxiing-nya rata-rata adalah 10 – 20 menit loh (dengan asumsi traffic di bandaranya sedang tidak ramai). Dan aku benciii itu, hahaha 😆 .

Jadi bisa dibayangkan situasi (yang sering terjadi) dimana kita mendarat di landasan pacu 18R Bandara Schiphol, trus pesawatnya taxiing kan tetapi sampai 20 menit kemudian pun masih belum sampai di gedung terminalnya padahal nggak macet, hahaha 😆 .

Polderbaan and Schiphol

Polderbaan dan Schiphol di foto nyata

Polderbaan adalah landasan pacu terbarunya Schiphol (dan yang terpanjang pula dimana panjangnya 3.800 meter). Landasan pacu ini dibuka di tahun 2003 dan lokasi ini dipilih untuk mengurangi dampak polusi suara di sekitar Bandara Schiphol yang sibuk.

2.  Layanan bagasi kedatangan

Satu faktor dimana, menurutku, Schiphol benar-benar bisa memperbaiki diri (dengan banyak) adalah layanan bagasi kedatangannya.

Layanan bagasi kedatangan di Bandara Schiphol itu terkenal (setidaknya terkenal di kalangan orang yang kukenal sih 😛 ) lama nan lelet dalam pengeluaran bagasinya. Aku tahu bahwa Schiphol adalah bandara yang sibuk (Walaupun (atau mungkin “karena” ya karena pengurusan bagasi penumpang transit kan rumit juga) 60,5% dari total 58,3 juta penumpang yang menggunakan Schiphol di tahun 2015 adalah penumpang transit), tetapi tetap saja aku rasa satu goal jangka menengah tepat sasaran yang patut dibuat adalah menyelesaikan masalah ini. Di tahun 2013, ketika dalam perjalanan pulang dari perjalananku ke Asia selama sebulan dengan sebuah Airbus A380-800nya Emirates yang terisi penuh, kebetulan banget bagasiku adalah salah satu yang terakhir yang keluar. Dan waktu itu aku harus menunggu bagasiku lama banget (hampir satu jam) di depan baggage belt-nya.

Oke, sejujurnya, sudah lama sih aku tidak menggunakan layanan ini. Terakhir kali aku meng-check-in-kan bagasiku adalah ketika aku pulang dari perjalanan akhir tahun 2015ku ke Amerika Utara awal tahun ini sih. Tetapi waktu itu pun, bagasiku keluarnya lamaa banget (padahal bagasiku mendapatkan label prioritas) sampai-sampai aku mengira bagasiku hilang!

Belajar dari pengalaman-pengalaman ini, sekarang ini jika memungkinkan aku memilih untuk tidak memasukkan bagasi terutama ketika bepergian menuju Schiphol. Dan untuk saat ini, aku merekomendasikan ini bagi mereka yang hendak ke Schiphol juga.

3.  Nggak ada lagi sih…

Kecuali jika aku mencari-cari kesalahan banget dengan menyebutkan hal-hal sepele yang nggak enak disana-sini, sekarang ini aku tidak bisa menyebutkan hal lain yang tidak aku suka dari Schiphol deh.

Beneran deh, selain dua poin yang kusebutkan di atas, Schiphol adalah bandara yang keren banget. Seperti yang bisa dilihat di jumlah penumpang di atas, ternyata Schiphol adalah bandara yang nyaman untuk transit. Yaa, aku belum pernah transit di Schiphol sih sebelumnya (buat apa juga 😛 ) tetapi melihat disain satu-terminalnya dan pengalamanku disana, aku tidak kaget dengan ini 😉 .

***

Nah, bagaimanakah dengan kalian? Apakah pernah terbang melalui Bandara Schiphol dan jika iya, aspek apakah yang tidak kalian sukai dari bandara ini?