EuroTrip · Miscellaneous · Photo Tales · Weekend Trip

#1969 – Photo Tales (43)

ENGLISH

The theme of this Photo Tales post is some side stories of my impulsive weekend trip in July 2017 to watch Venus Williams’ singles match at the final of Wimbledon. The main story of this series can be found at the following links:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

Photo #95

Venus (Shave)

As I already mentioned above, Venus Williams was the reason of this impromptu trip to London. And so I found it funny when I saw these shaves by Gillette being marketted as “Venus” at the on-board store in the ferry boat I took from Hoek van Holland to Harwich. I felt like the universe “knew” and so this coincidence 😛 .

Photo #96

A new Oyster Card

Anyway, during a similar impromptu weekend trip to Wimbledon two years prior, where I witnessed Serena Williams completing her second Serena Slam, I accidentally lost the Oyster Card I bought five years ago. And because I will definitely go back to London, I decided to buy a new Oyster Card this time, pictured above. To be honest, I was a little bit disappointed that it looked more “plain” than the colorful one I bought five years ago, haha 😆 .

Photo #97

Yeay, electric plugs!

The last-minute nature of the trip meant higher risk of me forgetting something. And unfortunately, I did forget something this time: my adapter. You see, the UK uses a different plug type than the rest of Europe (So annoying, I know!). And so not bringing an adapter with me made my life a little bit more difficult there. But fortunately, the hotel I stayed in provided several different plug types, even a USB one, which I found extremely useful!! I was really glad I chose to stay at this hotel! Haha 😆

BAHASA INDONESIA

Tema posting Photo Tales kali ini adalah beberapa cerita sampingan dari perjalanan dadakanku di bulan Juli 2017 untuk menonton pertandingan tunggalnya Venus Williams di finalnya Wimbledon. Posting-posting utama dari seri ini bisa dibaca melalui tautan-tautan berikut:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

Foto #95

Venus (Cukur)

Seperti yang kusebutkan di atas, Venus Williams adalah alasan aku pergi dalam perjalanan dadakan ke London ini. Makanya aku merasa lucu ketika melihat cukurnya Gillette yang dipasarkan dengan nama “Venus” ini di toko di dalam kapal ferry yang kunaiki dari Hoek van Holland ke Harwich. Aku merasa kok alam semesta ini “tahu” sehingga kebetulan ini terjadi, haha 😛 .

Foto #96

Oyster Card baru

Anyway, di perjalanan akhir pekan serupa ke Wimbledon dua tahun sebelumnya, dimana aku menyaksikan Serena Williams mencetak Serena Slam keduanya, tak sengaja kartu Oyster Card-ku yang kubeli lima tahun yang lalu hilang. Dan karena toh aku pasti akan kembali lagi ke London, aku memutuskan untuk membeli Oyster Card yang baru kali ini, yang kufoto di atas. Sejujurnya, aku sedikit kecewa soalnya disain Oyster Card ini nampak “biasa” banget alias terlalu polos gitu jika kubandingkan dengan yang berdisain warna-warni yang kubeli lima tahun lalu, haha 😆 .

Foto #97

Hore, colokan listrik!

Namanya perjalanan dadakan, artinya ada risiko lebih tinggi untukku kelupaan sesuatu. Dan sayangnya, aku beneran kelupaan sesuatu kali ini: adaptorku. Jadi ceritanya Inggris Raya itu kan menggunakan colokan yang modelnya berbeda dari semua negara Eropa lainnya gitu kan ya (Nyebelin memang!). Jadilah tidak membawa adaptor itu membuat hidupku agak sedikit lebih repot di sana, haha. Tetapi untungnya hotel tempatku menginap memiliki colokan listrik dengan beberapa tipe loh, bahkan ada colokan USB segala, yang mana sangat amat berguna untukku!! Aku lega banget deh aku memilih untuk menginap di hotel ini! Haha 😆 .

Advertisements
Miscellaneous · Photo Tales

#1958 – Photo Tales (42)

ENGLISH

The theme of this Photo Tales post is my latest experiments in the kitchen!

Photo #93

A duck fillet steak experiment

My long weekend trip to Lyon gave me a kitchen experiment inspiration for a duck fillet steak. At the time it hit me how I could never think about it as it appeared not very complicated!

While the cooking part was not that complicated, indeed; the grocery shopping part was, haha 😆 . It appeared to me that duck meat was not *that* popular here in the Netherlands. I mean, the supermarket sold it; but it was not as “visible” and “plenty” as the other types of meat. As I could not find it in my first attempt, I resorted to Google to find out that the supermarket only sold one “type” of duck fillet. It was boxed and was put in a special chiller for boxed stuffs, haha. It certainly made the meat look more “premium”, though, and this might partly explain the price, haha.

Anyway, I liked it! Though I am not sure if I am going to cook it that often, due to the higher proportion of fat (thanks, my nutrition app). Even though this might be because of the skin; in which case the fat would not be a problem if I just ignored the skin. But you know, ignoring a crispy skin on your plate in front of you sounds like a difficult thing to do, haha 😆 .

Photo #94

A high protein meal experiment

Speaking of the nutrition app, aside from reducing my consumption of fat, I am also trying to increase my consumption of protein. And this motivated this experiment to cook the pictured high protein meat, haha.

Lean red meat is obviously low in fat and is delicious for a steak, so that is a given. And then we all know that tempe (I know it is spelled “tempeh” in English but it just feels weird for me to type so. So I am typing it in the original Indonesian spelling here 😛 ) is rich in protein. And before I moved to Amsterdam, my ex-housemate told me about the existence of this “bimi” vegetables, which is a hybrid between brocolli and kailan and also has high amount of protein.

Surprisingly (or not?), the dish worked well!! 😀 For this one, though, I am sure I am cooking this more often (at least more often than the duck fillet dish 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Tema dari posting Photo Tales kali ini adalah percobaanku akhir-akhir ini di dapur!

Foto #93

Percobaan steak filet bebek

Perjalanan akhir pekanku ke Lyon memberiku inspirasi untuk mencoba memasak steak filet bebek. Waktu itu, aku cukup heran mengapa aku tidak pernah kepikiran sebelumnya karena nampaknya masakan ini tidak begitu sulit untuk dibuat!

Walaupun memang bagian masakanya nggak begitu rumit; ternyata justru bagian belanjanya yang agak rumit, haha 😆 . Ternyata daging bebek itu nggak begitu populer di Belanda. Maksudku, memang sih dagingnya dijual di supermarket; tetapi nggak begitu “kelihatan” dan “banyak” seperti tipe-tipe daging lainnya gitu. Karena gagal menemukannya di usaha pertamaku untuk membelinya, aku meng-google-nya dan ternyata supermarketnya cuma menjual satu “jenis” filet bebek. Filet ini dibungkus dalam kotak dan ditaruh di satu chiller khusus bersama dengan daging-daging kotakan lainnya, haha. Memang sih ini membuat dagingnya nampak lebih “premium” dan mungkin ini sedikit menjelaskan harganya, haha.

Anyway, tapi aku suka! Walaupun aku nggak yakin sih aku akan sering-sering memasaknya karena tingginya kandungan lemak (thanks, app nutrisiku). Walaupun mungkin ini disebabkan oleh kulit bebeknya sih; yang mana jika demikian artinya tidak akan masalah jika kulitnya aku abaikan. Tapi tahu lah, susaaah untuk mengabaikan kulit crispy yang tersaji di piring di depan kita kan, hahaha 😆 .

Foto #94

Percobaan menu kaya protein

Ngomingin app nutrisi, di samping mengurangi konsumsi lemak, aku juga berusaha meningkatkan konsumsi protein. Dan ini memotivasiku untuk memasak makanan kaya protein di foto di atas, haha.

Daging merah rendah lemak jelas rendah kandungan lemaknya (menurut ngana? 😆 ) dan enak untuk dimasak steak. Dan kita tahu lah tempe itu kaya protein. Dan sebelum aku pindah ke Amsterdam, mantan housemate-ku memberi-tahuku mengenai keberadaan sayuran yang bernama “bimi”, yang merupakan hasil persilangan brokoli dan kailan dan memiliki kandungan protein yang tinggi.

Dan ternyata, aku juga suka masakan ini!! 😀 Nah, untuk yang ini, aku yakin aku akan memasaknya lebih sering sih (setidaknya lebih sering daripada steak bebek filet 😛 ).

Miscellaneous · Photo Tales

#1933 – Photo Tales (41)

ENGLISH

Photo #91

Perusahaan Ketjap Kudus in Den Haag

Some time ago when I was grocery shopping, I spotted the following sweet soysauce at one of the racks. Okay, you probably need to speak Indonesian to understand why I bothered to take the photo (because it was quite funny in some ways 😛 ).

You see, it was soysauce by “Perusahaan Ketjap Kudus” (translated as “Kudus Soysauce Factory”), implying the factory’s location in Kudus, Central Java. However, it was stated at the bottom of the label that the production was actually in Den Haag, the Netherlands. Yeah, so a factory of an Indonesian product with an Indonesian name but with production in the Netherlands, haha.

Though, I might actually misunderstand its name, though. Instead of “Kudus” as a noun (thus, referring to the Central Javan region), it might actually be the adjective “kudus” (translation: “holy”). This would actually explain the phrase “selalu terpudji” (translation: “always commendable”) put below its name, haha 😆 .

Photo #92

Lamb shank at Mata Hari

Anyway, in the last week of May, a friend and I caught up in Amsterdam. And we decided to have dinner at a restaurant called “Mata Hari”, that was actually not an Indonesian restaurant, haha (“matahari” means “the sun” in Indonesian). It was actually a Mediterranean restaurant.

Thanks to Yelp, we chose this restaurant, because the food was really good! Plus, I found it to be quite fairly priced, especially considering its location (near the touristic area of Amsterdam, i.e. the infamous Red Light, haha 😛 ). Anyway, I decided to order a lamb shank and some french fries. The lamb shank and its salad was really good; though I regretted the french fries because I actually did not really need it as I got too full afterwards, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Foto #91

Perusahaan Ketjap Kudus di Den Haag

Beberapa waktu lalu ketika sedang belanja, aku melihat kecap manis ini di salah satu rak.

Nah lucu kan, kecap manis ini buatan “Perusahaan Ketjap Kudus”, yang menyiratkan lokasi pabriknya ada di Kudus, Jawa Tengah. Namun, di bagian bawah labelnya dituliskan bahwa produksinya di Den Haag, Belanda. Iya, pabrik sebuah komoditi Indonesia dengan nama Indonesia tetapi produksinya di Belanda, haha.

Eh, sebenarnya bisa saja aku salah mengerti sih. Bukannya “Kudus” yang merupakan kata benda (sehingga menunjukkan daerah di Jawa Tengah itu), bisa saja yang benar adalah kata sifat “kudus”. Ini justru menjelaskan frase “selalu terpudji” yang dicetak di bawah namanya itu kan, haha 😆 .

Foto #92

Lamb shank di Mata Hari

Anyway, di akhir bulan Mei, seorang teman dan aku catch up di Amsterdam. Dan kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran yang namanya “Mata Hari”, yang mana bukan lah restoran Indonesia loh. Ternyata ini adalah restoran Mediterania, haha.

Berkat Yelp nih kami memilih restoran ini, dan untung soalnya makanannya enak! Plus, menurutku harganya juga oke lah terutama dengan mempertimbangkan lokasinya (di dekat area turistiknya Amsterdam, yaitu area Red Light yang “terkenal” itu, haha 😛 ). Anyway, aku memutuskan untuk memesan sebuah lamb shank dan french friesLamb shank berserta saladnya enak loh; walaupun aku sedikit menyesal memesan french fries-nya sih karena kebanyakan! Akibatnya aku kekenyangan deh setelahnya, haha 😆 .

Aviation · Miscellaneous · Photo Tales

#1921 – Photo Tales (40)

ENGLISH

This edition of Photo Tales is aviation related, haha 😛 .

Photo #88

easyJet and RyanAir at Rome – Fiumicino

While flying from Rome to Amsterdam for my Post-PhD Trip, I spotted these two birds side by side at Rome – Fiumicino Airport. Yep, the two airlines that, for better or for worse, revolutionized the (European) airlines industry, RyanAir and easyJet (And, to some degree, Southeast Asia too because easyJet inspired Tony Fernandes to make AirAsia as it is today).

While, arguably, they targetted different “market” from more traditional full-service airlines, their impact was so big that it forced those more established airlines to adjust. As one consequence, now, the ticket price of those so-called full service airlines also has become more affordable, in general. However, there is more to that, which brings us to the next photo…

Photo #89

A British Airways’ Boeing 767 at Schiphol

One flight I am super interested to try is British Airways’ Boeing 767 daily service between London and Amsterdam (especially after Garuda Indonesia stopped its Amsterdam – London Gatwick route last year), haha 😛 . I always find it fascinating to fly wide-body on a short-haul flight! Haha 😛 .

Anyway, but there are two things which make me hesitate to book a return trip with them (well, three if you consider the visa requirement 😛 ). First of all, British Airways is a member of OneWorld, while as you know I am more of a SkyTeam fans nowadays.

Secondly, as per earlier this year, British Airways stopped providing complimentary snack and drink in any of its short-haul flights. Instead, it now offers buy-on-board (BoB) stuffs, just a la an LCC. You see, clearly this is an (negative) effect of LCC on the full service airline. Well, given that British Airways’ CEO used to be the CEO of Vueling (a Spanish LCC), this was, somewhat, not really “out of nowhere”. But still, you see another “effect” of LCCs to mainline airlines?

Photo #90

An American Airlines’ Boeing 757 at Schiphol

Anyway, on a separate note, I spotted an American Airlines’ Boeing 757 at Schiphol this March. Yes, American Airlines, meaning the plane was used to fly North Atlantic; and, yes, a 757, a.k.a. a (long-ish) narrow-body plane! 😱

I don’t know about you. But to me, I much prefer to fly wide-body when flying medium to long-haul. My longest narrow-body flight was AeroMexico’s Boeing 737-700 flight from Boston to Mexico City (3,663 km). And it was in economy class without personal IFE! Lol 😆 . Anyway, so I certainly will avoid crossing the Atlantic from/to Amsterdam with American Airlines, then 😛 (Beside, they are OneWorld too 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Edisi Photo Tales kali ini akan berkaitan dengan pesawat, haha 😛 .

Foto #88

easyJet dan RyanAir di Rome – Fiumicino

Ketika terbang dari Roma ke Amsterdam dalam perjalanan Pasca-Phdku, aku melihat dua burung besi ini parkir bersebelahan di Bandara Roma – Fiumicino. Iya, dua maskapai yang, baik secara positif maupun negatif, merevolusionsasi dunia penerbangan (Eropa), RyanAir dan easyJet (Dan, sedikit-banyak, Asia Tenggara juga karena easyJet menginspirasi Tony Fernandes untuk membuat AirAsia seperti sekarang ini).

Walaupun, di satu sisi, mereka menarget pasar yang berbeda dari maskapai-maskapai full service yang lebih tradisional, efeknya cukup terasa juga sehingga maskapai-maskapai yang sudah lebih lama ada tersebut harus menyesuaikan diri. Salah satu konsekuensinya, sekarang, harga tiket dari maskapai-maskapai full service tersebut juga menjadi relatif lebih murah secara umum. Namun, efeknya tidak hanya sebatas itu saja, yang membawa kita ke foto selanjutnya…

Foto #89

Sebuah Boeing 767nya British Airways di Schiphol

Satu rute penerbangan yang sangat ingin aku cobain adalah penerbangan hariannya British Airways dengan pesawat Boeing 767 di rute London – Amsterdam (terutama setelah Garuda Indonesia menutup rute Amsterdam – London Gatwick tahun lalu (masih belum bisa move on)), haha 😛 . Seru aja kan terbang dengan pesawat berbadan lebar di penerbangan jarak dekat! Haha 😛 .

Anyway, tetapi ada dua hal yang masih membuatku ragu untuk membeli tiket pp dengan mereka (eh, tiga ding kalau persyaratan visa diikut-sertakan 😛 ). Pertama-tama, British Airways adalah anggota OneWorld sementara sekarang ini kan aku lebih suka SkyTeam.

Yang kedua, per awal tahun ini, British Airways tidak lagi memberikan layanan snack dan minuman gratis di penerbangan jarak dekat mereka. Dan sekarang, yang ditawarkan adalah produk-produk buy-on-board (BoB) gitu deh, a la penerbangan LCC lah. Nah kan, jelas ini adalah efek (negatif) dari LCC ke maskapai full service. Eh, tapi dengan mempertimbangkan CEOnya British Airways yang mana dulunya adalah CEOnya Vueling (sebuah maskapai LCCnya Spanyol), ini mungkin tidak terlalu mengherankan yah. Tetapi tetap aja lah, terlihat kan “efek”nya LCC di maskapai-maskapai besar lainnya?

Foto #90

Sebuah Boeing 757nya American Airlines di Schiphol

Anyway, mari kita berganti topik, aku melihat Boeing 757nya American Airlines di Schiphol bulan Maret ini. Iya loh, American Airlines, artinya pesawatnya dipakai untuk terbang menyebrangi Samudra Atlantik; dan, iya, Boeing 757, alias pesawat berbadan kecil (tapi agak panjangan)! 😱

Aku nggak tahu dengan kalian yah, tetapi untukku sih aku lebih suka terbang dengan pesawat berbadan lebar ketika terbang jarak menengah dan jauh. Penerbangan terjauhku dengan pesawat berbadan kecil adalah dengan Boeing 737-700nya AeroMexico dari Boston ke Mexico City (jaraknya 3.663 km). Dan penerbangan itu di kelas ekonomi dan tanpa IFE personal pula! Haha 😆 . Anyway, jelas deh aku akan menghindari terbang menyebrangi Samudra Atlantik dari/ke Amsterdam dengan American Airlines kalau begitu 😛 (Di samping itu, mereka juga anggota OneWorld sih 😛 ).

Photo Tales

#1899 – Photo Tales (39)

ENGLISH

Photo #86

A delicious Southern Italian dinner

Some weeks ago a friend of mine told me about this Italian restaurant ran by an Italian family in Rotterdam that was so good but only opened during the weekday. Quite strange, indeed. We joked that they had enough customers already that they did not feel the need to open their restaurants in the most popular time for people to go out and dine: the weekend, haha.

Finally, last Tuesday I got the chance to try it. And indeed it was good!! My friend and I decided to share a carpaccio as an appetizer to share, while for the main course I ordered a very delicious beef steak that was served with salad and, well, pasta!

Photo #87

Yeay it is Spring finally!

Finally, the past two weeks or so, Spring has come to full effect in the Netherlands!! Yeay for less layers of clothes to wear!! 😛

BAHASA INDONESIA

Foto #86

Makan malam ala Italia Selatan yang enak banget!

Beberapa minggu yang lalu seorang temanku memberi-tahuku mengenai restoran Italia yang dikelola oleh satu keluarga asal Italia di Rotterdam yang enak banget tetapi cuma buka di hari biasa (hari kerja/weekday) saja. Aneh ya. Kami sih bercanda sepertinya mereka sudah memiliki cukup pengunjung saking ramainya sehingga mereka merasa tidak perlu membuka restoran mereka di waktu populer orang-orang untuk keluar makan: akhir pekan, haha.

Nah, akhirnya hari Selasa minggu lalu aku berkesempatan mencobanya. Dan ternyata memang enak lho!! Aku dan temanku memesan carpaccio sebagai menu pembuka untuk dibagi dua. Untuk makanan utama, aku memesan steak yang memang enak dan disajikan dengan salad dan, tentu saja, pasta!

Foto #87

Hore akhirnya musim semi!

Akhirnya, dua minggu terakhir ini, musim semi sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya di Belanda!! Horee nggak harus memakai berlapis-lapis pakaian lagi!! 😛

 

Miscellaneous · Photo Tales

#1888 – Photo Tales (38)

ENGLISH

Photo #84

Two movies
Two movies

Lastweek, within five days I went to the cinema twice!! Haha 😆 . I don’t recall if this had ever happened before since I moved to Europe, though 😛 .

Anyway, I watched John Wick: Chapter 2 and the recently-involved-in-an-Oscar-blunder Moonlight. As this is a Photo Tales post, I am not going to go to any details about these two. But I would just say that my low-ish expectation on John Wick 2 made me enjoyed the movie more while my rather high expectation on Moonlight made me feel a little bit underwhelmed, haha. A case of the right dose of expectation, eh? 😛

Photo #85

A four course Saturday dinner
A four course Saturday dinner

On Saturday, two friends and I decided to catch up and had dinner at Rotterdam! Haha 😀 . Earlier this week we found a good deal at Hangar 85 so we went there.

And it was really good! We had their four course meal package and the wine pairing to accompany it. It started with an amuse bite followed by a very delicious tataki beef appetizer accompanied by two glasses of rosé (I especially loved the tataki that nowadays I am a little bit obsessed with it in the kitchen!). The first main course was a delicious pork belly paired with a light red wine. The second main course was cod paired with white wine. A dessert closed out the dinner paired with red wine which I regretfully forgot the name because it was really tasty!). Haha 😛

Anyway, and of course, it was always nice to be able to catch up with some friends (but I have said this a lot here, I know 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Foto #84

Two movies
Dua film

Minggu lalu, dalam lima hari aku nonton di bioskop dua kali loh!! Haha 😆 . Sejauh yang aku ingat, ini belum pernah terjadi deh semenjak aku pindah ke Eropa 😛 .

Anyway, aku menonton John Wick: Chapter 2 dan film yang baru-baru ini terlibat di blunder-nya Oscar Moonlight. Karena posting ini adalah posting Photo Tales, aku tidak akan menuliskan banyak detail mengenai dua film ini. Tetapi aku hanya ingin merangkum bahwa ekspektasiku yang nggak tinggi-tinggi amat untuk John Wick 2 malah membuatku menikmati film ini dengan lebih sementara ekspektasiku yang agak tinggi untuk Moonligh justru membuatku sedikit kecewa. Kasus klasik penetapan ekspektasi yang tepat ini ya? Haha 😛

Foto #85

A four course Saturday dinner
Makan malam four course di hari Sabtu

Sabtu kemarin, dua teman dan aku memutuskan untuk catch up dan makan malam bareng di Rotterdam! haha 😀 . Awal minggu ini kami kebetulan menemukan promo yang lumayan di Hangar 85 sehingga jadilah kami kesana.

Dan masakannya enak-enak banget! Kami memesan paket menu four course dan paket wine pairing untuk menemaninya. Makan malam dimulai dengan amuse satu suapan dan diikuti dengan menu pembuka daging sapi tataki yang enak banget yang ditemani dengan dua gelas rosé (Aku suka banget tatakinya sampai-sampai sekarang aku cukup terobsesi (di dapur) dengannya nih!). Menu utama pertama adalah pork belly enak banget yang ditemani dengan anggur merah yang tidak terlalu berat. Menu utama kedua adalah ikan cod yang ditemani dengan anggur putih. Seporsi makanan penutup menutup makan malam ini yang ditemani dengan anggur merah yang enak banget yang mana aku menyesal banget lupa namanya apa (soalnya anggurnya enak banget!). Haha 😛 .

Dan, tentu saja, senang rasanya bertemu teman-teman lama (dan kalimat ini kayaknya sudah sering banget aku tuliskan di sini yah, haha 😛 ).

Miscellaneous · Photo Tales

#1782 – Photo Tales (36)

ENGLISH

The country Monaco is pretty much synonymous to glamorous lifestyle, the casinos, and all the rich people who live there. However, the problem with Monaco is the non-existence of an international airport in the country. The closest airport to Monaco is Nice Cote D’Azur International Airport serving the city of Nice in France, some 20 km away. As a result, you could see “the effect” of Monaco at Nice Airport as well. The following are two of them which I observed during my Avgeek Weekend Trip there in mid-July.

Photo #80

Private jets at Nice Cote D'Azur International Airport
Private jets at Nice Cote D’Azur International Airport

This was the view as we were taking off from runway 04R of the airport.

So what do we see here? Well those are private jets!! 😮😮😮I mean, I guess it is not surprising? haha 😆 .

Photo #81

If you are a resident of Monaco and you are going back home, obviously you would need to get to Monaco after landing in Nice.

In 2012, I took the public bus 100 service from the city center of Nice to Monaco which cost €1 one way (I heard the fare has increased a little bit in recent years). But then of course as a resident of Monaco you would avoid the public bus because public bus is only for the commoners. You might risk some allergy reactions to get triggered! Taxi then? Well, a taxi is also not in your league obviously. Call your country’s consulate/embassy to request for a pick up? Well, you would risk getting “online-shamed” by your country’s people then (This was actually done by some Indonesian politicians. Like, seriously ).

Then what? Well, this:

Helicopter transfer, this way
Helicopter transfer, this way

Yes, why not take a private helicopter to go from Nice to Monaco (and the other way around)? Lol 😆

***

Btw, while writing this post, I actually got curious though about how much it would actually cost to take a helicopter ride, in all seriousness. So after a bit of googling, I was led to this page which listed two helicopter companies with services between Nice and Monaco.

Helicopter 1
Helicopter 1

I made dummy bookings to see the tariff. In this case one company appeared to be cheaper than the other (I did not go further than that because to continue, I would need to create an account which I was too lazy to do; so I do not know if there was some extra service fee, tax, etc which had not yet been imposed on these fares).

Helicopter 2
Helicopter 2

But all in all, while obviously still a lot, somehow it was not as much as I thought it would have been! Haha 😆 . What about you?

BAHASA INDONESIA

Negara Monako bisa dibilang identik dengan kehidupan glamor, kasino-kasinonya, dan orang-orang kaya yang tinggal disana. Namun, ketidak-enakannya tinggal di Monako adalah ketiadaan bandara internasional di negaranya. Bandara terdekat dari Monako adalah Bandara Internasional Nice Cote D’Azur di kota Nice di Prancis yang berjarak sekitar 20an km dari sana. Sebagai akibatnya, kita bisa melihat “efek”-nya Monako di Bandara Nice. Berikut ini dua di antaranya yang kuamati di perjalananan Avgeek Weekend Trip ke sana pertengahan Juli lalu.

Foto #80

Private jets at Nice Cote D'Azur International Airport
Pesawat-pesawat jet pribadi di Bandara Internasional Nice Cote D’Azur

Ini adalah pemandangan ketika lepas landas dari landasan pacu 04R bandaranya.

Apakah yang kita lihat di sini? Itu adalah barisan pesawat-pesawat jet pribadi dong!! 😮😮😮Kalau dipikir-pikir lagi mah tidak mengherankan ya? haha 😆 .

Foto #81

Jika kamu adalah penduduk Monako dan sedang dalam perjalanan pulang kesana, tentu transportasi dari Nice ke Monako masih perlu dipikirkan.

Di tahun 2012, aku menggunakan bus umum nomor 100 dari pusat kota Nice ke Monako yang mana tarifnya adalah €1 satu arah (sekitar Rp 14.500,- tetapi dengar-dengar sih beberapa waktu terakhir tarifnya sudah naik sedikit). Tetapi tentu saja sebagai penduduk Monako, transportasi umum perlu dihindari lah ya soalnya bus umum gitu kan untuk rakyat jelata. Bisa gatal-gatal nanti sebagai akibatnya. Naik taksi kalau begitu? Ah, taksi mah tentu masih nggak level lah. Menelepon konsulat jenderal atau kedutaan negara kita agar jemputan dipersiapkan? Wah, bisa-bisa nanti di-bully rakyat satu negara dong ya .

Nah, trus apa dong? Ini:

Helicopter transfer, this way
Transit dengan helikopter, melalui pintu ini

Iya, mengapa tidak menaiki helikopter pribadi gitu untuk bepergian dari Nice ke Monako (dan sebaliknya)? Huahaha 😆

***

Btw, gara-gara menulis posting ini, aku jadi penasaran sendiri nih ingin tahu berapa biaya naik helikopter begini. Jadilah setelah googling sebentar, aku tiba di halaman ini yang mencantumkan dua perusahaan helikopter yang menawarkan layanan di antara Nice dan Monako.

Helicopter 1
Helikopter 1

Iseng aku membuat dummy bookings untuk mengecek tarifnya. Dalam kasus ini, satu perusahaan nampak lebih murah daripada yang satunya (aku tidak mengecek lebih jauh dari ini karena untuk memasuki halaman selanjutnya, aku harus membuat akun yang mana aku sedang malas membuatnya; jadilah aku tidak tahu apakah tarif ini sudah termasuk biaya servis, pajak, dll atau belum).

Helicopter 2
Helikopter 2

Walaupun jelas mahal, tetapi ternyata biayanya nggak sebanyak yang awalnya aku bayangkan deh. Haha 😆 . Bagaimana menurut kalian?