PhD Life, Zilko's Life

#2134 – Earlier This Week in Delft

ENGLISH

I went to Delft earlier this week. Yeah, I mentioned some time ago that I hadn’t been back to Delft since the day I moved to Amsterdam. Finally, this statement is now no longer true! Haha 😛

Obviously I did not go there just because and without a reason, haha 😆 . My PhD project consisted of two parts, each was handled by a PhD; one was myself, which I successfully defended earlier last year, and the other by another PhD candidate. And earlier this week, this other PhD candidate, who I obviously worked really closely during my PhD years, was defending her dissertation. And obviously I was not going miss it!!

Back in TU Delft this year

The defense was scheduled at 10 AM, which to me was really early because I had to get up a little bit earlier to make it! Haha 😆 . You know, this short trip to Delft reminded me a lot of my commuting life when I just started my job in Amsterdam and still lived in Delft where I had to spend about at least three hours every day just to commute, haha 😆 .

I felt quite a “strange” feeling when I arrived at Delft Station; as if I was drawn “back” to my previous stage of life in this little pretty town. Well, after all, I did spend 6.5 years there so feeling a little bit nostalgic was understandable, haha. Anyway, I took the bus to the university and went to the defense room in the Aula, which was the same room where I defended my dissertation last year.

The defense took place in this exact same room.

During the defense, I found it “funny” that there were some questions which would have been more appropriate to be directed at me than at her (As we were working on the same project but each of us had our own responsibilities and topics). But of course it was her defense so I couldn’t really say anything. But I felt like she handled those questions well, especially considering the mental roller coaster she must be riding during the moment. In the end, she successfully defended her dissertation and officially got her doctoral degree.

***

Me defending my dissertation last year; “against” a professor in statistics.

This particular PhD defense had deeper meaning than just the graduation of a PhD candidate to us involved in our research project. Symbolically, it also acted as the “closure” of the PhD research we started six years ago. We, and by “we” I mean not only me and my colleague, but also our professors and project supervisor, started this project together at almost the same time, and now everything is, finally, finished.

We all met together in Delft that day; well, except for my other supervisor who moved to Australia two years into my PhD, knowing that this perhaps would be the last occasion where we all met. And in my opinion this defense and graduation was the perfect setup for the closure!

The famous stairs photo (only for PhD graduates 😛 )

BAHASA INDONESIA

Aku pergi ke Delft awal minggu ini. Iya, aku sebutkan beberapa waktu yang lalu bahwa sudah lama juga aku tidak ke Delft, bahkan tidak pernah lagi semenjak aku pindahan ke Amsterdam. Akhirnya, pernyataan ini tidak lagi benar! Haha 😛

Jelas dong ya aku pergi ke Delft juga bukan tanpa alasan, haha 😆 . Proyek PhD (S3)-ku dulu terdiri dari dua bagian, masing-masing dipegang oleh satu kandidat PhD; satu aku pegang, yang mana sukses aku pertahankan dan aku lulus awal tahun lalu, dan yang satu lagi dipegang oleh seorang kandidat PhD lain. Dan awal minggu ini, kolegaku ini, yang mana aku jelas banyak bekerja bersamanya selama tahun-tahun PhDku dulu, akan menjalani sidang disertasinya. Dan jelas dong ya acara ini tidak akan aku lewatkan!!

Kembali di TU Delft tahun ini.

Sidangnya dijadwalkan jam 10 pagi, yang mana untukku pagi banget ini soalnya aku jadi harus bangun lebih pagi daripada biasanya! Haha 😆 . Perjalanan ke Delft ini mengingatkanku akan kehidupan nglaju-ku dulu ketika aku baru saja mulai bekerja di Amsterdam dan waktu itu masih tinggal di Delft; dimana setiap-harinya aku harus menghabiskan setidaknya tiga jam di jalan untuk nglaju, haha 😆 .

Aku merasakan perasaan yang agak “aneh” ketika tiba di Stasiun Delft; rasanya seperti “ditarik kembali” ke stase hidupku sebelumnya di kota kecil yang cantik ini. Yah, namanya aja 6,5 tahun hidupku memang aku habiskan di sana sih ya jadi merasa nostalgia juga lah wajar, haha. Anyway, aku menaiki bus untuk pergi ke universitas dan kemudian berjalan ke ruang sidangnya di Aula, yang mana adalah ruangan yang sama dimana aku sidang tahun lalu.

Sidangnya mengambil tempat di ruangan yang sama.

Di waktu sidang, agak “lucu” juga rasanya dimana ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya lebih pas untuk ditanyakan kepadaku daripada kolegaku (Karena kami kan bekerja di satu proyek yang sama tetapi masing-masing dari kami memiliki tanggung-jawab dan bidang/topiknya sendiri-sendiri). Ya tapi gimana juga, ini kan sidangnya kolegaku sehingga aku tidak bisa melakukan apa-apa juga. Tapi toh aku rasa ia meng-handle pertanyaan-pertanyaan ini dengan baik kok, apalagi dengan mempertimbangkan roller coaster mental yang waktu itu sedang ia naiki. Pada akhirnya, ia berhasil mempertahankan disertasinya sehingga ia resmi mendapatkan gelar doktoralnya.

***

Aku yang sedang mempertahankan disertasiku tahun lalu; “menghadapi” seorang profesor statistika.

Sidang PhD yang satu ini memiliki makna lebih mendalam daripada sekedar kelulusan seorang kandidat PhD bagi kami yang terlibat di proyek riset ini. Secara simbolis, sidang ini menandai “penutupan” dari riset PhD yang kami mulai enam tahun yang lalu. Kami, dan dengan “kami” maksudnya bukan hanya aku dan kolegaku ini saja, tetapi juga profesor-profesor kami dan juga supervisor proyeknya, memulai proyek ini bersama-sama hampir pada waktu yang bersamaan, dan sekarang semuanya, akhirnya, selesai.

Kami semua bertemu di Delft awal minggu ini; eh, kecuali pembimbingku yang satunya yang pindah ke Australia dua tahun setelah aku memulai PhDku, dan kami sadar bahwa mungkin ini adalah kali terakhir kami semua bertemu di acara yang sama. Dan bagiku, sidang dan kelulusan kolegaku ini adalah setting yang sempurna banget untuk penutupan ini!

Foto tangga khasnya TU Delft (untuk lulusan S3 aja)
Advertisements
General Life, Zilko's Life

#2095 – Rotterdam and the Spring This Week

ENGLISH

Rotterdam

I went to Rotterdam this Wednesday to attend the PhD defense and graduation of a good friend of mine there! 😀 The short trip made me realize that it had been awhile since I was in Rotterdam, more than a year actually!

Anyway, so I took an Intercity Direct service to Rotterdam Centraal, and from there a metro to Erasmus Medical Centre (MC) where my friend’s defense would take place. It was quite tricky to find exactly where the defense hall was (It had never been to Erasmus MC before; and the building was integrated with a hospital (pretty much) so there were a lot of doctors going around too, haha) but in the end finally I found it.

The photographer my friend had hired bailed last minute so I lent a hand in this department. Before the defense started, we were briefed by the beadle. Then we went to a “Walls of Fame” room where every graduating PhD candidate left their signature when graduating. Damn TU Delft doesn’t have this and I wish they had one!

Erasmus MC’s “Walls of Fame”

Anyway then the defense started at exactly 11:30 AM. Overall the defense went quite similarly with my PhD defense at TU Delft, with the biggest difference being the mandatory 15-minute presentation at the start of the defense hence leaving the defense part to be 45 minutes long (At TU Delft, the presentation part was optional, 30 minutes long, and prior to the (mandatory) 60 minutes defense session). I could sense my friend was a little bit nervous but overall she handled it well.

After 60 minutes was over, the beadle entered the room, chanted “Hora est!”, and the defense had to officially end. The committee went out of the room to discuss; and came back some 15 minutes later to award my friend with her PhD diploma and, hence, degree. A small reception then followed in the common area of the building.

Chicken club sandwich and polenta chips at Jamie’s Italian

My friend actually organized a dinner and a party in the evening; but unfortunately I had to go back to Amsterdam in the afternoon so I had to miss both ☹️. On my way back to Amsterdam, though, I made a stop at Blaak to have lunch at my favorite Jamie’s Italian at Rotterdam’s awesome Markthal! 😀 I had a chicken club sandwich with polenta chips; and a serving of ice cream because the weather was so warm today. My outfit choice of a denim long sleeve shirt wasn’t the best for the weather as well, lol 😆 . Anyway, as usual, Jamie’s Italian did not disappoint! 🙂

Otherwise…

this week has been another busy (but fun) week at work to me! As I said above, the weather was great, albeit being in the “warmer” side for my liking (the temperature was in the 20s (Celsius) during the day for most of the week). And at times it was verging on being “too warm” for me, as it felt much more like Summer than Spring; just like the temperature in Los Angeles this December,, lol 😆 . To think that the real feel was reaching –20°C at some point just about 1.5 months ago 😅.

Yeah, it seems that the Netherlands has finally moved on from the prolonged Winter! 🙂

Dessert goodness in this warm weather

BAHASA INDONESIA

Rotterdam

Aku pergi ke Rotterdam hari Rabu kemarin untuk menghadiri sidang dan wisuda PhD (S3)-nya seorang teman baikku di sana! 😀 Kunjungan singkat ini membuatku sadar bahwa sudah lumayan lama lho semenjak terakhir kali aku ke Rotterdam, sudah lebih dari satu tahun!

Anyway, aku naik kereta Intercity Direct ke Rotterdam Centraal, dan dari sana naik metro ke Erasmus Medical Centre (MC) dimana sidangnya temanku akan berlangsung. Agak tricky untuk bisa menemukan ruangan sidangnya (Aku belum pernah ke Erasmus MC sebelumnya; dan gedungnya sendiri terintegrasi dengan rumah sakit sehingga ada banyak dokter berseliweran di sana, haha) tetapi toh akhirnya aku berhasil menemukannya.

Ceritanya fotografer yang sudah disewa temanku tiba-tiba batal last minute dan jadilah aku membantu temanku untuk urusan foto-foto. Sebelum sidang dimulai, kami di-briefing oleh beadle-nya. Lalu kami pergi ke ruangan “Walls of Fame” dimana setiap kandidat PhD meninggalkan tanda-tangannya ketika sidang/wisuda. Ahhh, kok TU Delft nggak punya ruangan beginian ya, kan keren ya padahal!

“Walls of Fame” di Erasmus MC

Anyway lalu sidangnya dimulai tepat jam 11:30 pagi. Secara umum sidangnya berlangsung mirip dengan sidang PhDku di TU Delft, dengan perbedaan terbesar adalah sesi wajib presentasi sepanjang 15 menit di awal sidang sehingga bagian sidang (tanya-jawabnya) adalah sepanjang 45 menit (Di TU Delft, presentasi itu tidak wajib, panjangnya 30 menit, dan berlangsung sebelum sesi sidang (yang jelas wajib) sepanjang 60 menit). Aku perhatikan temanku cukup grogi di sidang ini tetapi secara umum ia menjalaninya dengan baik.

Setelah 60 menit berlalu, beadle masuk ke ruangan, mengucapkan “Hora est!”, dan sidang diharuskan berakhir. Komitenya kemudian keluar dari ruangan untuk berdiskusi; dan kembali sekitar 15 menit kemudian untuk menganugerahi temanku dengan diploma dan titel PhD-nya. Resepsi kecil kemudian berlangsung di bagian common area gedungnya.

Chicken club sandwich dan polenta chips di Jamie’s Italian

Temanku sebenarnya mengadakan acara makan malam dan party di malam harinya. Tetapi sayangnya aku harus kembali ke Amsterdam di sore harinya sehingga aku harus melewatkan keduanya ☹️. Di perjalanan kembali ke Amsterdam, aku mampir di Blaak untuk makan siang dulu di restoran favoritku: Jamie’s Italian di Markthal-nya Rotterdam yang kece banget itu! 😀 Aku memesan chicken club sandwich dan, jelas, polenta chips; dan seporsi es krim soalnya cuacanya panas banget nih hari itu. Pas juga sepertinya aku salah memilih kostum, kemeja lengan panjang berbahan denim jelas tidak cocok untuk cuaca hangat kayak gini lah ya, hahaha 😆 . Anyway, seperti biasa, Jamie’s Italian tidak mengecewakan lah! 🙂

Selain itu…

minggu ini adalah minggu yang menyibukkan (tapi asyik) di kantor untukku! Seperti yang kubilang di atas, cuacanya juga oke, walaupun tergolong lumayan “panas” sih untukku (temperaturnya berada di kisaran 20an Celsius di siang hari). Dan sempat beberapa kali temperaturnya cenderung “panas banget” untukku, yang mana membuatku merasa seperti sudah di Musim Panas bukan lagi Musim Semi; mirip lah seperti temperatur di Los Angeles Desember kemarin, hahahaha 😆 . Apalagi kalau ingat bahwa real feel-nya sempat mencapai –20°C sekitar 1.5 bulan yang lalu 😅.

Ya gitu deh, sepertinya Belanda akhirnya sudah move on juga dari Musim Dingin berkepanjangan kemarin! 🙂

Yang mana pencuci mulut ini cocok banget untuk cuaca kayak gini lah ya
EuroTrip, Half Week Trip, Vacation

#2068 – A Midweek Trip to Copenhagen

ENGLISH

At the end of January I went on a midweek trip to Copenhagen to attend the PhD defense and graduation of a friend of mine, which was one of the two trips I did that week! It is the time now for the story 😀

The transport

On this trip, I took Air France and KLM’s Amsterdam – Copenhagen – Paris – Amsterdam. The last two flights were regular comfortable Air France flights with an Airbus A318 (F-GUGM) and Airbus A321 (F-GTAJ) so I won’t get too much to it. The first KLM flight to Copenhagen was, however, interesting.

An Air France’s A318 reg F-GUGM at CPH
An Air France’s A321 reg F-GTAJ at AMS

Two days before the trip, I got an email from KLM saying that due to changes in the timetable, the flight to Copenhagen would be operated with a Transavia’s Boeing 737-800 but still with KLM service and staffed by KLM crews. In case you aren’t familiar, Transavia is KLM’s low cost carrier (LCC) subsidiary and there is no Europe business class or economy comfort seats on the plane. And so in Indonesia this would be like holding a Garuda Indonesia ticket but the flight, while still with Garuda’s level of service and crews, would be operated with a Citilink’s plane, haha.

KLM operated my KL1125 flight to Copenhagen today with this Transavia’s Boeing 737-800 reg PH-HZL.

Transavia’s PH-HZL was chosen for my flight today. The gate officers and flight attendants apologized for this change of plane. I settled onto my 4A seat which was a typical LCC seat: it felt quite crammed! Haha 😛 . Thankfully, everything else was pretty much as per KLM standard. They even put the KLM in-flight magazines in the seat pocket, much to my delight because I wasn’t impressed at all with Transavia’s in-flight magazine on my latest flight with them 1.5 years ago, haha. KLM’s usual sandwich and drink service were served on board. The flight landed at Copenhagen – Kastrup Airport on time.

KLM magazines and Transavia Safety Card

A Danish PhD defense and graduation

My main agenda in Copenhagen was my good friend’s PhD defense and graduation. It was also my first time attending such an event outside of the Netherlands and so I was also curious to see the difference.

The defense started with a public presentation for about 45 minutes in a lecture room. I think my friend was quite composed during the presentation, which was really good. Then, a professor told the audience that there would be a 5 minutes break before the Q&A session would start. This next session could potentially take up to 2 hours and he said something along the line as “If you want to leave the room, this is your chance“, or at least this was how the message was conveyed to me, haha.

Actually I would like to stay and see maybe a few questions, as this session was usually where the interesting discussion took place. However, with only one door at the front of the room, what if I needed to, say, go to the toilet or get something to drink? It could potentially took two hours, damn it! I certainly would not want to be in the awkward situation of “interrupting” a fierce PhD defense discussion session because I needed to pee, haha. And so in the end I decided to leave the room, and so did all the other audiences leaving my friend only with the professor and thesis defense committee in the room.

A PhD graduation reception in Denmark

I then helped her colleague prepare for the reception afterwards in a cool hang out hall in the university. The Q&A session took, apparently, about an hour. My friend came to the room with the professors who then promoted her as a Doctor. The reception then started; and it actually went quite long as my friend organized a dinner as well, also at the same place. I stayed there until about 8:30 PM before I decided to leave as I was so tired. It had been a long day when I got up at 3 AM that morning! Hahaha 😛 .

So yeah, in conclusion, a PhD defense and graduation in Denmark was very different from the Netherlands. You can read how mine was here last year. In the Netherlands, it was much more traditional with all the rules and procession while in Denmark, at least on the surface, it looked much more relaxed and casual (There was even no dress code). The committee also consisted of more people in the Netherlands, at least in TU Delft. I also found it interesting that the reception (and dinner) was more like a DIY kind of stuffs, whereas in the Netherlands it was more “formal” with a caterer organizing the reception!

Copenhagen

The colours of Copenhagen

Because my main agenda in Copenhagen was to attend the defense and graduation, I did not have much time to go around the city. But I had visited this beautiful city twice before so I did not really mind this to be honest, haha.

I was glad that I still got the time to enjoy another awesome brunch in Copenhagen, btw (Copenhagen is famous for the amazing brunch places throughout the city). A friend and I headed out to Kalaset nearby the Nørreport Station for brunch, which was highly rated in Yelp. Obviously I ordered the non-vegetarian (lol) brunch, which was really, really good!! 😀

An amazing brunch in Copenhagen

So yeah, the next time you head out to Copenhagen, don’t forget to have brunch! And also the smørrebrød, which unfortunately I did not have this time, hahaha.

BAHASA INDONESIA

Di akhir bulan Januari aku pergi dalam perjalanan singkat di tengah minggu ke Kopenhagen untuk menghadiri sidang dan wisuda PhD (S3)-nya seorang teman baikku, yang mana adalah satu dari dua perjalananku minggu itu! Nah, mari ceritanya kita mulai 😀

Transportasi

Di perjalanan ini, aku terbang dengan Air France dan KLM dengan rute Amsterdam – Copenhagen – Paris – Amsterdam. Dua penerbangan terakhir adalah penerbangan reguler Air France dengan sebuah Airbus A318 (F-GUGM) dan Airbus A321 (F-GTAJ) sehingga tidak akan banyak aku ceritakan di sini. Penerbangan pertama dengan KLM ke Kopenhagen, tapinya, cukup menarik.

A318nya Air France dengan rego F-GUGM di CPH
A321nya Air France dengan rego F-GUGM di AMS

Dua hari sebelum berangkat, aku mendapatkan email dari KLM yang menyebutkan bahwa karena perubahan jadwal, penerbanganku ke Kopenhagen akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-800 milik Transavia; tetapi masih akan diterbangkan dengan layanannya KLM oleh stafnya KLM. Jika pada nggak paham nih, Transavia adalah anak perusahaan low cost (LCC)-nya KLM dan pesawat-pesawatnya tidak dilengkapi dengan kursi kelas bisnis Eropa maupun economy comfort. Jadi jika di Indonesia kurang lebih ini seperti situasi dimana kita memiliki tiket Garuda Indonesia tetapi penerbangannya, walaupun tetap berlayanan sesuai standar dan oleh kru Garuda, dioperasikan dengan pesawatnya Citilink, haha.

KLM mengoperasikan penerbangan KL1125 ke Kopenhagen hari ini dengan Boeing 737-800 rego PH-HZL milik Transavia ini.

PH-HZL milik Transavia dipilih untuk penerbanganku hari ini. Petugas di bandara dan awak kabinnya memohon-maaf atas perubahan pesawat ini. Aku duduk di kursi 4A yang mana seperti standar kursi ala LCC: rasanya sempit! Haha 😛 . Untungnya, semua sisi lain dari penerbangan ini sesuai standarnya KLM sih. Bahkan mereka menyediakan majalahnya KLM loh di kursinya, yang mana membuatku senang karena aku sungguh tidak terkesan dengan majalahnya Transavia di penerbanganku terakhir dengan mereka 1,5 tahun sebelumnya, haha. Layanan sandwich dan minum-nya KLM disajikan di penerbangan ini. Penerbangannya tiba di Bandara Kastrup di Kopenhagen tepat waktu.

Majalah KLM dan kartu keselamatan Transavia

Sidang dan wisuda PhD (S3) di Denmark

Agenda utamaku di Kopenhagen adalah sidang dan wisuda PhD (S3)-nya temanku. Ini adalah kali pertama aku menghadiria cara semacam ini di luar Belanda nih jadi aku juga penasaran untuk melihat perbedaannya.

Sidang dimulai dengan presentasi terbuka selama sekitar 45 menit di sebuah ruang perkuliahan. Aku rasa temanku presentasi dengan cukup tenang hari ini, yang mana bagus banget ya. Setelahnya, salah seorang profesornya mengumumkan bahwa akan ada jeda selama 5 menit sebelum sesi tanya-jawab dimulai. Sesi berikutnya ini bisa memakan waktu sampai 2 jam dan profesornya kurang lebih berkata “Jika kalian mau meninggalkan ruangan ini, sekarang lah kesempatan kalian!“, atau setidaknya begitu deh kesan yang aku tangkap, haha.

Sebenarnya aku ingin tetap duduk dan menonton mungkin beberapa pertanyaannya, karena di sini lah dimana biasanya diskusi yang menarik berlangsung kan. Tetapi masalahnya hanya satu pintu di ruangan itu yang lokasinya berada di depan. Nah, bagaimana dong jika misalnya aku butuh untuk ke toilet atau mengambil minuman dari luar? Sesinya bisa memakan waktu hingga dua jam loh! Jelas dong ya aku nggak mau menarik perhatian di tengah-tengah diskusi sengit sidang PhD karena aku harus buang air kecil, haha. Jadilah pada akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan ruangannya saja, dan ternyata semua penonton lainnya juga demikian sehingga temanku sendirian bersama profesor dan komite sidangnya untuk sesi tanya jawab.

Resepsi wisuda S3 di Denmark

Aku kemudian membantu seorang kolega temanku mempersiapkan resepsi setelahnya di sebuah ruangan kongkow-kongkow di universitasnya. Sesi tanya jawabnya ternyata memakan waktu sekitar satu jam. Temanku datang ke ruangannya diikuti oleh profesornya yang kemudian mempromosikannya menjadi seorang Doktor. Resepsi kemudian dimulai; yang mana ternyata berlangsung lumayan lama karena temanku mengadakan acara makan malam pula, juga di tempat yang sama. Aku berada di sana hingga sekitar jam 8:30 malam, dimana aku sudah mulai ngantuk! Iya sih, hari ini adalah hari yang panjang karena paginya aku harus bangun jam 3 subuh! Hahaha 😛 .

Jadi kesimpulannya, sidang dan wisuda PhD (S3) di Denmark memang berbeda sekali dari Belanda. Sidang dan wisudaku tahun lalu bisa dibaca di sini. Di Belanda, acaranya lebih tradisional dengan segala peraturan dan prosesinya sementara di Denmark, setidaknya yang nampak di permukaan, sepertinya lebih santai dan kasual (Bahkan nggak ada dress code loh). Komite sidang di Belanda juga rasanya lebih besar, setidaknya di TU Delft yah. Bagiku juga menarik dimana resepsi (dan makan malam) dipersiapkan sendiri, sementara di Belanda acara ini lebih “formal” yang dikerjakan oleh badan katering!

Kopenhagen

Warna-warna Kopenhagen

Karena agenda utamaku di Kopenhagen adalah menghadiri sidang dan wisuda temanku, aku tidak memiliki banyak waktu untuk berkeliling kota. Tetapi aku sudah pernah mengunjungi kota cantik ini dua kali sebelumnya sih sehingga aku tidak mempermasalahkan ini, haha.

Tetapi aku lega aku masih sempat menikmati brunch yang enak banget di Kopenhagen (Kopenhagen ini terkenal dengan tempat-tempat brunch-nya yang enak-enak di seluruh penjuru kota). Aku dan seorang teman memutuskan untuk mampir di Kalaset di dekat Stasiun Nørreport untuk brunch, yang ber-rating tinggi di Yelp. Jelas aku memilih menu yang non-vegetarian (haha), yang mana beneran enak banget!! 😀

Brunch yang enak banget di Kopenhagen

Jadi, kalau ke Kopenhagen memang wajib banget deh brunch! Dan juga smørrebrød-nya, yang mana sayangnya tidak sempat aku makan kali ini, hahaha.

Contemplation, PhD Life, Thoughts

#2054 – A Year A Doctor

ENGLISH

This day last year, officially I got my PhD degree and so since then I have been entitled to use the title “Doctor”, haha 😛 .

Doctor Evil. Source: https://9gag.com/tag/evil

So how has this one year been in relation to this title? Well to be honest, it has been as how it was before my graduation in the sense that I did not “use” the title a lot, haha. I mean, life (even at work) is very casual here in the Netherlands where we don’t even use “Mr.” or “Mrs.” or the likes, let alone academic degree! Even at work we are all in first name basis, even when I address the CEO of my company 🙂 . This was also true in the university. I addressed the head of my research group, who was a professor, with his first name without his “Professor” title.

But an academic degree is much more than just adding some title into your name. What “in the inside” is what matter much more. As to me personally, I feel like this title has given me a sense of accomplishment, which instills self confidence. I can legitimately say that I did the (hard and long) process of obtaining the degree and succeeded. And hopefully along the way the process has shaped me into a better person, be it professionally or personally.

***

Anyway, today I am going to Copenhagen for, coincidentally, the PhD defense of a good friend of mine! Yeah, exactly a year after mine, my friend is going to get hers! It is quite funny how things unravel at times…

One year ago in Delft.

BAHASA INDONESIA

Tepat hari ini tahun lalu, resmi aku mendapatkan gelar PhD (S3)-ku dan semenjak itu aku berhak menggunakan titel “Doktor” di depan namaku, haha 😛 .

Doctor Evil. Sumber: https://9gag.com/tag/evil

Nah bagaimana nih setahun ini berkaitan dengan gelar ini? Ya sejujurnya sih, sama aja sih seperti sebelum kelulusanku dimana gelar ini tidak banyak “dipakai”, haha. Maksudku, di Belanda kan kehidupan itu (termasuk kehidupan di kantor) kasual ya dimana bahkan panggilan “Bapak” atau “Ibu” atau semacamnya itu tidak pernah digunakan, apalagi gelar akademik! Di kantor kami saling memanggil satu sama lain dengan nama depan loh, bahkan termasuk ketika aku memanggil CEO kantorku 🙂 . Situasi di universitas juga seperti ini. Aku memanggil kepala grup risetku, yang mana seorang profesor, dengan nama depan saja tanpa embel-embel titel “Profesor”-nya.

Tetapi gelar akademik itu kan lebih dari sekedar titel untuk ditempelkan ke nama kan ya. Yang “di dalam” lah yang jauh lebih penting. Untukku pribadi, aku merasa titel ini memberikanku rasa pencapaian, yang mana membangkitkan rasa percaya diri. Aku bisa kan bilang bahwa aku sudah melakukan dan melalui proses (berat dan panjang) untuk mendapatkan gelarnya dan berhasil. Dan mudah-mudahan proses itu telah membentukku menjadi pribadi yang lebih baik, baik itu secara profesional maupun secara personal.

***

Anyway, hari ini aku pergi ke Copenhagen untuk, kebetulan banget, sidang PhDnya seorang teman baikku! Iya lho, tepat satu tahun setelah sidangku, temanku akan mendapatkan gelar PhDnya! Terkadang kebetulan itu lucu banget ya…

Contemplation, Thoughts

#2038 – 2017 In Review

ENGLISH

Previous years posts:
1. 2008
2. 2011
3. 2012
4. 2013
5. 2014
6. 2015
7. 2016

The year of 2017 has been a big one in my life, with a couple of life achievements I reached throughout the year. As the year is coming to an end soon, here is a post summarizing my life this year.

January

I started January in Yogyakarta, Indonesia for my year-end vacation. I went back to Europe during the first week by flying to Amsterdam via Bali, Shanghai, and Paris, haha. Upon arriving in Amsterdam, it happened that a good friend of mine was in transit for one night from the UK to Indonesia and so I spent the night there.

Mie goreng, mie godhog, and magelangan in Yogyakarta
An Air France’s Boeing 777-300ER reg F-GSQG in Shanghai

January 2017 was a big month in my life with me defending my PhD dissertation at the end of the month. This was the pinnacle of my life of the past four years and a half, where I was working for this moment! In the end, I succesfully defended my PhD and so I was awarded my “Doctorate” degree. From now on, I am entitled to call myself “Dr. Ir. Zilko”, or “Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D”. 😎

The moment I became a Doctor

February

As my parents and brother were travelling to Europe for my PhD defense, we spent the following week travelling to the northern-west region of Italy. We visited Genova, Cinque Terre, Florence, and Rome. From there, I went back to Amsterdam while they continued their trip to Spain. The weekend later, we met up in Marseille.

Riomaggiore in Cinque Terre, Italy
The famous David by Michaelangelo

February was also a big month for me where, somehowidth=”240″ w, I won the negotiation to buy my own apartment! I would not get the keys to my apartment until April though, as there were still some paperworks that needed to be done. But if it all went well, I would be a home-owner in two months!

March

While I did not travel that much in March, I was still very busy this month because I had to do furnitures shopping for my apartment! Haha 😆 . With all the purchasing costs needed to be paid during this month, I spent the most amount of money I had ever done in my life this month, haha 😆 . It was exciting and terrifying at the same time, though; so it was definitely a very interesting experience.

Actually I did an Avgeek Weekend Trip in March

April

Thankfully everything went well so I got the keys of my own apartment this month. The next matter to be taken care of was obviously assembling all the furnitures together and arranging all the necessary needs to make the apartment livable (e.g. internet connection). Of course I also needed to arrange my house moving from Delft to Amsterdam. This means that this month was my last month in Delft after more than 6.5 years living there!

The end of the Delft chapter of my life

However, I still managed to slip in an Easter trip to Zurich in the middle of the month. I was quite unlucky, though, where it was constantly raining in Zurich almost the whole time I was there!

Zurich

May

Mainly I was still taking care of furnishing my apartment in May, where I got more stuffs in like a TV (plus its subscriptions) and also a cleaning robot! 😀

Lion selfie in Lyon

May was a month full of long weekends in the Netherlands. I made use one of them to go to Lyon for a long weekend trip.

June 

I started June by going on another long weekend trip to Bremen. A weekend later, I went to Paris for my annual trip to Roland Garros. I watched the women’s singles final match which Jelena Ostapenko unexpectedly won against Simona Halep.

The Bremen Hauptbahnhof, Bremen
Jelena Ostapenko won Roland Garros

There were a couple of apartment matters needed to be taken care of this month. I forgot to take my keys which resulted in me having to change the locking system and also I needed to do a mini-renovation in my shower room. Both cost some amount of money, of course.

July

I started July in a very lucky manner where I got a ticket for the ladies’ singles final of Wimbledon between Garbine Muguruza and Venus Williams! Even though Venus lost that match, it was still an exciting experience overall for me to able to witness an official Venus Williams singles match, let alone a Wimbledon final!

Venus Williams serving
Strawberry and cream

At the end of July, for the first time ever I went to Berlin. I loved the city and actually thought why did I not go there earlier? Haha 😆

At the “Checkpoint Charlie” in Berlin

August – October

With a UK visa in my hand, I arranged another weekend trip to London in August as London was one of my most favorite cities in the world. At the end of the month, I went on an Avgeek Weekend Trip to Lyon to catch Air France’s Lyon – Paris flight on a Boeing 787-9 Dreamliner.

The London Eye and River Thames, London
An Air France’s Boeing 787-9 F-HRBA in Lyon

I travelled to Manchester and Cardiff in September. My trip to Cardiff made me officially have visited all four countries within the United Kingdom, with Wales finally being ticked off!

The Merchants’ Bridge in Manchester
Cardiff selfie, finally 4 out of 4 in the UK!

I went on three Avgeek Weekend Trips in October. The biggest one was the second one, where I went to London to catch Air France’s London – Paris flight on a Boeing 787-9 Dreamliner.

The SkyTeam Lounge at Heathrow

November – December

I went on a weekend trip to Newcastle to start November and visited London for a weekend again in December because I could 😛 .

Dusk in Newcastle upon Tyne
Lively London in December

The London trip one did not go exactly as planned due to the severe snow storm that hit Western Europe that weekend. As a result, I had to take the long way back from London to Amsterdam via land; which was an interesting experience on its own.

Taking a ferry from Dover to Dunkerque

I went to Indonesia for my brother’s wedding in the middle of November. And it was indeed a very festive occassion! During this trip, I also made stops at Jakarta and Solo, both cities I last visited in 2010.

Ready for the wedding
Grand Indonesia

To end the year, right now I am in California enjoying the Californian winter! :mrgreen:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting tahun-tahun sebelumnya:
1. 2008
2. 2011
3. 2012
4. 2013
5. 2014
6. 2015
7. 2016

Tahun 2017 adalah tahun yang besar di dalam hidupku, dengan dua pencapaian hidup yang aku gapai di sepanjang tahun ini. Dan karena tahunnya akan segera berakhir, berikut ini sebuah posting untuk merangkumnya.

Januari

Januari aku mulai di Yogyakarta, Indonesia untuk liburan akhir tahun. Aku kembali ke Eropa di minggu pertama dengan terbang melalui Bali, Shanghai, dan Paris, haha. Begitu tiba di Amsterdam, kebetulan seorang teman baikku sedang transit selama satu malam di Amsterdam dari UK ke Indonesia jadilah aku menginap semalam di sana.

Soto Kadipiro yang legendaris di Yogyakarta.
Airbus A330-300 rego B6095nya China Eastern.

Januari 2017 adalah bulan besar di dalam hidupku karena aku akan menjalani sidang disertasi PhD (S3)-ku di akhir bulan. Ini adalah puncak dari kehidupanku selama empat setengah tahun terakhir sebelumnya, dimana aku bekerja-keras untuk momen ini! Pada akhirnya, aku sukses mempertahankan disertasi PhD-ku sehingga aku diberikan gelar “doktoral”. Jadi sejak waktu ini, aku bisa memanggil diriku dengan sebutan “Dr. Ir. Zilko”, atau “Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D”. 😎

Foto tangga yang terkenal itu.

Februari

Karena orangtua dan adikku pergi ke Eropa untuk sidang PhDku, kami menghabiskan seminggu setelahnya untuk liburan ke area barat lautnya Italia. Kami mengunjungi Genova, Cinque Terre, Florence, dan Roma. Dari Roma, aku kembali ke Amsterdam sementara mereka lanjut jalan-jalan ke Spanyol. Akhir pekan berikutnya, kami bertemu kembali di Marseille.

Manarola
Vatican

Februari jugalah bulan yang besar untukku dimana aku menang dalam negosiasi pembelian apartemenku! Aku baru akan mendapatkan kuncinya di bulan April sih karena akan ada beberapa dokumen yang harus diurus dulu sebelumnya. Namun, jika semuanya berjalan lancar, dalam waktu dua bulan aku akan menjadi seorang pemilik rumah!

Maret

Walaupun aku tidak jalan-jalan di bulan Maret, bulan ini adalah bulan yang cukup menyibukkan karena aku harus belanja perabotan rumah untuk apartemenku! Haha 😆 . Dan ditambah dengan semua biaya yang berkenaan dengan pembelian rumahnya yang harus dibayarkan di bulan ini, aku membayarkan nominal terbesar yang pernah aku lakukan seumur hidup di waktu ini deh, haha 😆 . Rasanya seru tetapi seram juga pada saat yang bersamaan; jadi ya memang ini adalah pengalaman yang unik.

Sebenarnya aku ada satu Avgeek Weekend Trip sih di bulan ini

April

Untungnya semua lancar sehingga aku mendapatkan kunci apartemenku di bulan ini. Hal selanjutnya yang harus diurus adalah pemasangan perabotan rumah itu dan juga mengurus semua hal yang diperlukan untuk membuat apartemennya bisa aku huni (misalnya: koneksi internet). Tentu saja aku juga harus mengurus pindahan dari Delft ke Amsterdam. Ini berarti bulan ini adalah bulan terakhirku di Delft setelah 6,5 tahun lebih tinggal di sana!

Bye, bye, Delft.

Walaupun sibuk, aku masih sempat menyempilkan satu perjalanan Paskah ke Zurich di pertengahan bulan. Aku kurang beruntung, sayangnya, dimana hujan terus-terusan dong di Zurich!

Zurich dari Lindenhof

Mei

Umumnya aku masih mengurus urusan perabotan apartemenku di bulan Mei, dimana aku membeli barang-barang elektronik lain seperti misalnya TV (sekalian urusan kabelnya) dan juga robot bersih-bersih! 😀

Mei adalah bulan penuh long weekend di Belanda. Salah satunya kumanfaatkan dengan pergi ke Lyon.

Saint Georges di Lyon

Juni 

Juni kumulai dengan perjalanan long weekend lagi ke Bremen. Seminggu kemudian, aku pergi ke Paris untuk perjalanan tahunanku ke Roland Garros. Aku menonton final tunggal putri yang tak disangka-sangka, dimenangi oleh Jelena Ostapenko yang mengalahkan Simona Halep.

Kota Bremen, Jerman
J. Ostapenko vs S. Halep

Ada dua urusan apartemen yang harus kuurus di bulan ini. Aku kelupaan kunciku di sekali waktu yang mana sebagai akibatnya sistem perkunciannya harus diganti dan juga aku harus melakukan renovasi mini di ruang shower. Tentu saja aku harus keluar agak banyak untuk keduanya.

Juli

Juli kumulai dengan amat beruntung dimana aku mendapatkan tiket untuk menonton final tunggal putri Wimbledon antara Garbine Muguruza dan Venus Williams! Walaupun Venus kalah, pengalaman ini masih lah pengalaman yang seru karena aku berkesempatan menyaksikan pertandingan resmi tunggalnya Venus Williams, ditambah lagi di final Wimbledon!

Wimbledon Centre Court
Venus Williams

Di akhir Juli, aku pergi ke Berlin untuk pertama kalinya. Aku amat suka kotanya dan sempat terpikir kok baru sekarang aku ke sana ya? Haha 😆

Berliner Dom

Agustus – Oktober

Dengan visa UK di tangan, aku pergi dalam sebuah perjaanan akhir pekan ke London di bulan Agustus karena kota ini adalah salah satu kota yang paling aku sukai. Di akhir bulan, aku pergi dalam sebuah perjalanan Avgeek Weekend Trip ke Lyon untuk naik penerbangannya Air France dari Lyon ke Paris yang dioperasikan dengan Boeing 787-9 Dreamliner.

Selfie yang sangat amat turistik banget di London!
Kelas Ekonomi Premium di dalam Boeing 787-9nya AF

Aku pergi ke Manchester dan Cardiff di bulan September. Perjalananku ke Cardiff membuatku resmi telah mengunjungi semua empat negara di Inggris Raya, dengan Wales akhirnya tercentang dari daftarnya juga!

Manchester
Cymru Wales

Aku pergi dalam tiga Avgeek Weekend Trip di bulan Oktober. Yang paling seru adalah yang kedua, dimana aku pergi ke London untuk naik penerbangannya Air France dari London ke Paris dengan Boeing 787-9 Dreamliner.

Boeing 787-9 rego F-HRBCnya Air France.

November – Desember

Aku pergi dalam perjalanan akhir pekan ke Newcastle untuk memulai November dan menunjungi London lagi di sebuah akhir pekan di bulan Desember karena aku bisa, haha 😛 .

Selfie Newcastle
Piccadilly Circus

Perjalananku ke London tidak berlangsung sesuai dengan rencana akibat badai salju yang menerjang Eropa Barat di akhir pekan itu. Sebagai akibatnya, aku harus kembali ke Belanda melalui jalur darat; yang mana di satu sisi adalah pengalaman yang menarik sih.

Naik bus ke Belanda dari London.

Aku pergi ke Indonesia di pertengahan November untuk pesta pernikahannya adikku. Dan memang ini adalah pesta perayaan yang ramai banget! Di perjalanan ini, aku juga berkesempatan mampir di Jakarta dan Solo, dua kota yang terakhir kukunjungi di tahun 2010.

Kue pengantin
Kembali di Solo

Untuk menutup tahun besar ini, saat ini aku berada di California untuk menikmati musim dingin California! :mrgreen:

working life, Zilko's Life

#1968 – On My Holiday Allowances

ENGLISH

One consequence I must face with my decision to switch from academia to industry is the much more limited holiday allowances that I get now. If two years ago I got 50 days for the year, I only get about half of that this year, haha 😆 . Though, as in the standard in the Netherlands, I still do have the right to buy some (or sell as well, for that matter; but I don’t think it is worth to sell some, especially considering the tax that comes with it 😆 ).

Anyway, but my office provides a way where we can get extra allowances (aside from special events, like wedding, child birth, exam (luckily my PhD defense counted as an exam 😀 ), moving (which I took in April), etc). And that is through having no sick days, haha. So if within a 6 month period since 1 January or 1 July we do not call in sick even once, we immediately get one extra holiday allowance. And if we do not call in sick for the entire calendar year, we get another extra allowance. So in total, we can get up to three extra allowances each year. Not a lot, but still helpful, IMO.

And so because I did not call in sick in the first half of this year, I just got an extra allowance! Yeay!! 😀

Speaking of holiday allowances, what I really like about it here is that your office never makes a fuss on when you would want to use them, because those are your right (Well, of course unless it is stated in the contract where usually it is because your presence and work are essential in certain period of time). Last year when I submitted my application for my year end trip to Indonesia while still being new at the company (I had been there less than two months), it got accepted in literally twenty seconds 😀 .

Last year when my PhD contract at TU Delft ended in August, I still had about 20 unused holiday allowances. So technically I could have used them all, meaning taking the entire August off AND still got my full salary (haha 😆 ) and then went straight into my sabbatical month in September; otherwise, I would lose all my right over these 20 days. They would all be just gone like that. However, at the time I could not afford to take August off because I was in the very intense period of my PhD where I had to finish everything up before my contract ended. And it was hell a lot of work, I can tell you; and so I needed August for that. But this meant that indeed I would have to just let my right of those 20 days go. But well, I guess the “return” that I got from that was my PhD degree I got in January. And to me, 20 days of holiday allowances is a very cheap price for a PhD degree, 😛 .

BAHASA INDONESIA

Satu konsekuensi yang harus aku hadapi dengan keputusanku untuk berpindah dari dunia akademia ke dunia kerja (industri) adalah jatah cutiku sekarang yang jauh lebih terbatas. Jika dua tahun yang lalu aku mendapatkan 50 hari jatah cuti dalam setahun, sekarang aku cuma mendapatkan kira-kira setengahnya lah dalam setahun, haha 😆 . Walaupun, sebagaimana biasanya di Belanda, aku juga masih memiliki hak untuk membeli beberapa jatah cuti sih (atau juga menjualnya; tapi dengan jumlah segini mah nggak worth it lah ya untuk dijual, apalagi dengan mempertimbangkan potongan pajak dari hasil penjualannya itu lho, 😆 ).

Anyway, tetapi kantorku juga memberikan cara dimana kita bisa mendapatkan jatah cuti ekstra (di samping acara-acara khusus seperti misalnya pernikahan, kelahiran anak, ujian (untungnya sidang PhDku bisa dihitung sebagai ujian waktu itu 😀 ), pindahan (yang aku gunakan April lalu), dll tentunya). Dan cara itu adalah dengan tidak mengambil absen karena sakit. Jadi jika dalam periode 6 bulan semenjak 1 Januari atau 1 Juli kita tidak absen sakit, otomatis kita mendapatkan satu jatah cuti ekstra. Dan jika dalam satu tahun kalender penuh kita tidak absen sakit, kita dapat satu ekstra lagi. Jadi totalnya, kita bisa mendapatkan tiga jatah cuti ekstra per tahun. Nggak banyak sih, tapi lumayan lah ya.

Dan karena aku tidak absen sakit selama setengah tahun pertama ini, aku baru saja mendapatkan satu jatah cuti ekstra ini! Hore!! 😀

Ngomongin jatah cuti, yang aku suka dengan situasi di Belanda ini adalah kantor nggak akan pernah mempermasalahkan kapan kita mau ambil cuti, karena mengambil cuti kan hak kita (Kecuali disebutkan di dalam kontrak sih yang mana ini biasanya karena kehadiran dan pekerjaan kita penting banget di suatu periode waktu). Tahun lalu ketika aku memasukkan permohonan cuti untuk perjalanan akhir tahunku ke Indonesia ketika pun masih anak baru di perusahaannya (waktu itu aku belum ada dua bulan lah di kantorku ini), permohonanku langsung di-approve dalam waktu dua puluh detik loh 😀 .

Tahun lalu ketika kontrak PhD/S3ku di TU Delft berakhir di bulan Agustus, aku sebenarnya masih memiliki 20 jatah cuti yang belum kupakai. Jadi sebenarnya bisa-bisa aja semuanya aku pakai waktu itu, artinya cuti di sepanjang bulan Agustus DAN masih digaji penuh (haha 😆 ) dan kemudian langsung deh masuk ke bulan sabatikalku Septembernya; karena kalau tidak, aku akan kehilangan hakku akan 20 hari ini. Ya, hangus begitu saja. Namun, waktu itu aku tidak sanggup untuk mengambil cuti di bulan Agustus karena waktu itu adalah periode super intense di masa PhDku dimana ada banyak hal dan urusan yang harus kuselesaikan sebelum kontrakku berakhir. Buanyak banget deh, dan aku memerlukan bulan Agustus untuk itu. Tapi memang ini artinya aku harus merelakan 20 hari itu untuk hangus sih. Ah, tapi toh bisa dibilang “imbalan” yang kudapatkan dari merelakannya adalah gelar PhD/S3 yang kudapatkan Januari lalu. Dan untukku, merelakan 20 hari jatah cuti untuk hangus adalah harga yang murah untuk sebuah gelar S3 deh 😛 .

PhD Life, Zilko's Life

#1909 – The Mental Roller Coaster of My PhD Defense

ENGLISH

This post has been sitting in the Draft section for quite some time, patiently waiting for its turn to get published. Well, before the topic becomes too outdated, I share it now 🙂 .

***

Some time ago, I shared how my PhD defense and graduation went. In that post, I concentrated on what happened during that day, one of the most important days in my life. This post will cover a different aspect of the defense: the emotional roller-coaster I had to “ride” – the one that peaked during the defense, haha.

Defending
During my PhD thesis defense

I think it is not surprising that a PhD defense could be “terrifying” for the PhD candidate. Well, it is basically “the” moment the candidate has been working for. All of his/her life in the last four to five (maybe even more) years is for this moment. So when the moment is approaching, so is the tension.

Luckily for me, though, about ten days before the defense, I attended a really, really big and awesome party. I have to say the party helped channel out a lot of the tension away.

The party involved me dressing up in a Star Trek uniform too 😛

Then exactly a week before the defense, my supervisor organized a “practice” session between me, her, and a professor who was not directly involved in my PhD research. The idea was that I would get bombarded with questions; and involving an “outsider” was certainly a good idea to open up new perspective I might have not thought of. And I did well in this session. We planned this session for an hour but it ended up being two hours, haha. This, certainly, raised my confidence level as well, making me feel that I was, in fact, ready for the defense.

The day before the defense, I went to Amsterdam with my parents and my brother. While having lunch at a Japanese restaurant, I started to feel not really good. I wasn’t sick, but it felt like I was going to get sick. It was weird as I was completely fine before, so I thought it might be because the tension of the defense started to crawl in and it affected my brain. Whatever it was (I am sure it wasn’t the food, though 😛 ), what I knew was that I needed some rest. So immediately after lunch, we went back to Delft.

A bowl of ramen for lunch
A bowl of ramen for lunch

On the day of the defense, I misread the bus number which caused us to take the wrong bus to go to the venue of my defense. As a result, we had to walk to the Aula before my defense, haha. On the flip this, this mistake was good to make as it made me realize I was not in the “best” mental state. I needed to take a deep breath and calm down.

Though, it was much easier said than done, haha. I felt really crazily nervous during the defense; though the advices from the British stand-up comedian appeared to work and I looked perfectly fine 😛 . Obviously my brain was still functioning fine in processing the questions and providing the answers. Actually it worked at 100% performance capacity, though it felt like some good portion of that was spent to manage the anxiety, haha. But this was part of the defense “game”, indeed 😉 .

Defending
Defending my thesis and arguments

And so it was also unsurprising that I felt really tired once the defense was finished, haha. But at the same time, I also felt glad it was over 🙂 .

Then, the graduation followed immediately. As I mentioned before, this part was the most “emotional” part of all. This was the moment every PhD candidate was hoping and working towards for. And now, this moment was mine. I was, finally, there.

Following my graduation was a speech by my supervisor. As I also mentioned, we had known each other for almost seven years. She was actually the one who opened the door for me to move to Europe in 2010, when she awarded me the full Master scholarship to TU Delft. And now, here we were, seven years later, and I was standing in front of her (all other people as well) just after becoming a Doctor. For a short moment, I had tears in my eyes. Just a little bit, though 😛 .

A graduation speech
My graduation speech

My mental state gradually went back to normal from thereon. The reception and dinner that followed brought up the festive feeling in me, thus neutralizing the melancholy that had formed.

Then, what I felt was the feeling of “freedom”. Not that I was not “free” before, but more like a “free” feeling once I achieved what I had been working so hard for. This, of course, came with a sense of satisfaction and some level of confidence 🙂 .

***

Yeah, indeed that was an interesting period of my life; not only the actual real stuffs that I needed to take care of, but also the mental aspect that needed to be managed. This period was, indeed, a unique period in the entirety of my PhD years. And I will cherish that.

BAHASA INDONESIA

Posting ini sudah cukup lama duduk manis di Draft menunggu giliran dengan sabar untuk di-publish. Sebelum topiknya menjadi basi, sekarang aku bagikan aja deh ya, hehehe 🙂 .

***

Beberapa waktu yang lalu, aku menceritakan bagaimana sidang dan wisuda PhD/S3-ku berlangsung. Di posting itu, aku konsentrasi pada apa yang terjadi hari itu, salah satu hari terpenting dalam hidupku. Posting ini akan membahas aspek lain dari sidang ini: roller-coaster emosi yang harus aku “naiki” – yang mana puncaknya adalah pada saat sidang itu, haha.

Defending
Pada saat sidang PhDku

Aku rasa tak mengejutkan bahwa sidang PhD itu bisa menjadi “menakutkan” bagi banyak mahasiswa PhD. Iya kan, momen ini adalah momen yang sudah sangat amat dikejar dan diusahakan. Seluruh kehidupannya selama empat sampai lima (bahkan mungkin lebih) tahun adalah untuk momen ini. Jadi ketika momennya beneran datang, kan tekanannya juga terasa semakin tinggi ya.

Untungnya untukku, sekitar sepuluh hari sebelum sidang, ada sebuah party besar dan seru banget. Nah, party-nya benar-benar membantuku untuk menyalurkan banyak tekanan itu keluar.

Di party-nya aku berkostum seragam Star Trek 😛

Lalu, tepat seminggu sebelum sidang, pembimbingku dan aku mengadakan sesi “latihan” antara aku, ia, dan seorang profesor yang tidak terlibat langsung dalam riset PhDku. Tujuannya adalah untuk membombardirku dengan pertanyaan-pertanyaan; dan melibatkan “orang luar” adalah ide yang baik untuk mendapatkan perspektif baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Dan aku menjalani sesi ini dengan cukup baik. Sesi yang kami rencanakan selama satu jam ini akhirnya berlangsung dua jam, haha. Ini, jelas, meningkatkan rasa percaya-diriku juga, dimana aku menjadi lebih yakin bahwa memang aku sudah siap untuk menjalani sidang.

Sehari sebelum sidang, aku pergi ke Amsterdam bersama orangtua dan adikku. Ketika makan siang di sebuah restoran Jepang, tiba-tiba aku mulai merasa nggak enak badan dong. Aku nggak sakit sih, tetapi kok rasanya muncul pertanda ke arah sana gitu. Aneh banget karena sebelumnya aku baik-baik saja lho, jadi aku duga sih ini adalah tekanan bawah sadar akibat sidang yang akan kujalani keesokan harinya mulai merembet masuk ke otakku. Apa pun itu (aku yakin bukan karena makanannya kok 😛 ), aku tahu aku perlu beristirahat. Jadilah setelah makan siang, kami kembali ke Delft.

A bowl of ramen for lunch
Ramen untuk makan siang

Di hari sidang, aku salah membaca nomor bus yang menyebabkan kami naik bus yang salah untuk menuju lokasi sidang. Sebagai akibatnya, kami harus berjalan kaki ke Aula sebelum sidang, haha. Sisi baiknya dari kesalahan ini adalah, aku disadarkan bahwa saat itu kondisi mentalku sedang tidak “prima”. Aku perlu menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan-diri.

Tapi semua itu mudah diucapkan tapi prakteknya lebih susah sih, haha. Aku merasa amat gugup ketika sidang; walaupun saran-saran dari stand-up comedian asal Inggris bekerja dengan baik sehingga dari luar aku nampak baik-baik saja 😛 . Jelas otakku masih berfungsi dengan baik dalam memproses pertanyaan-pertanyaan dan memberikan jawaban-jawabanku untuknya. Sebenarnya, aku merasa otakku saat itu bekerja dalam kapasitas 100% kok, walaupun rasanya sebagian darinya digunakan untuk mengatur ketegangan yang kurasakan, haha. Tetapi ya memang ini lah bagian dari “permainan” sidang PhD ini sih 😉 .

Defending
Mempertahankan disertasi dan argumenku

Sehingga tidak mengherankan ketika aku merasa lelah ketika sidangnya berakhir, haha. Tetapi di waktu yang sama, aku juga lega semuanya telah berlalu 🙂 .

Kemudian, sidang dilanjutkan dengan wisuda. Seperti yang kusebutkan yang lalu, bagian ini adalah bagian paling “emosional” dari semuanya. Ini lah momen yang mana setiap kandidat PhD harapkan dan bekerja untuknya. Dan kini, momen ini adalah milikku. Akhirnya, aku tiba juga di sana.

Setelah diwisuda, pembimbingku memberikan kata sambutan dan ucapan selamat. Seperti yang pernah kubilang, kami sudah mengenal satu sama lain sekitar tujuh tahunan. Ia lah yang membukakan pintu untukku pindah ke Eropa di tahun 2010, ketika ia menganugerahiku beasiswa penuh S2 ke TU Delft. Dan sekarang, di sini lah kami, tujuh tahun kemudian, aku berdiri di hadapannya (dan orang-orang lain) tepat setelah mendapatkan gelar Doktor. Selama sedikit detik, tanpa terasa aku merasakan sedikit air keluar dari mataku. Sedikit doang kok, haha 😛 .

A graduation speech
Sambutan wisudaku

Kondisi mentalku perlahan-lahan berangsur normal setelahnya. Wisudaku diikuti dengan resepsi dan makan malam yang membawa perasaan senang di dalam hatiku, sehingga menetralisir perasaan melankolis yang telah terbentuk.

Lalu, aku merasakan “kebabasan”. Bukannya aku tidak “bebas” sebelumnya, tetapi lebih seperti perasaan “bebas” ketika aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan dan aku telah bekerja-keras banget untuknya, haha. Ini, tentunya, juga datang lengkap dengan kepuasan dan rasa percaya-diri 🙂 .

***

Yeah, memang ini adalah periode yang menarik dari hidupku; tidak hanya harus menghadapi hal-hal yang memang harus aku urus, tetapi aku juga harus bergular dengan aspek mentalnya. Memang periode ini adalah periode yang unik dari tahun-tahun PhDku. Dan aku akan selalu menghargainya.