#1909 – The Mental Roller Coaster of My PhD Defense

ENGLISH

This post has been sitting in the Draft section for quite some time, patiently waiting for its turn to get published. Well, before the topic becomes too outdated, I share it now 🙂 .

***

Some time ago, I shared how my PhD defense and graduation went. In that post, I concentrated on what happened during that day, one of the most important days in my life. This post will cover a different aspect of the defense: the emotional roller-coaster I had to “ride” – the one that peaked during the defense, haha.

Defending

During my PhD thesis defense

I think it is not surprising that a PhD defense could be “terrifying” for the PhD candidate. Well, it is basically “the” moment the candidate has been working for. All of his/her life in the last four to five (maybe even more) years is for this moment. So when the moment is approaching, so is the tension.

Luckily for me, though, about ten days before the defense, I attended a really, really big and awesome party. I have to say the party helped channel out a lot of the tension away.

The party involved me dressing up in a Star Trek uniform too 😛

Then exactly a week before the defense, my supervisor organized a “practice” session between me, her, and a professor who was not directly involved in my PhD research. The idea was that I would get bombarded with questions; and involving an “outsider” was certainly a good idea to open up new perspective I might have not thought of. And I did well in this session. We planned this session for an hour but it ended up being two hours, haha. This, certainly, raised my confidence level as well, making me feel that I was, in fact, ready for the defense.

The day before the defense, I went to Amsterdam with my parents and my brother. While having lunch at a Japanese restaurant, I started to feel not really good. I wasn’t sick, but it felt like I was going to get sick. It was weird as I was completely fine before, so I thought it might be because the tension of the defense started to crawl in and it affected my brain. Whatever it was (I am sure it wasn’t the food, though 😛 ), what I knew was that I needed some rest. So immediately after lunch, we went back to Delft.

A bowl of ramen for lunch

A bowl of ramen for lunch

On the day of the defense, I misread the bus number which caused us to take the wrong bus to go to the venue of my defense. As a result, we had to walk to the Aula before my defense, haha. On the flip this, this mistake was good to make as it made me realize I was not in the “best” mental state. I needed to take a deep breath and calm down.

Though, it was much easier said than done, haha. I felt really crazily nervous during the defense; though the advices from the British stand-up comedian appeared to work and I looked perfectly fine 😛 . Obviously my brain was still functioning fine in processing the questions and providing the answers. Actually it worked at 100% performance capacity, though it felt like some good portion of that was spent to manage the anxiety, haha. But this was part of the defense “game”, indeed 😉 .

Defending

Defending my thesis and arguments

And so it was also unsurprising that I felt really tired once the defense was finished, haha. But at the same time, I also felt glad it was over 🙂 .

Then, the graduation followed immediately. As I mentioned before, this part was the most “emotional” part of all. This was the moment every PhD candidate was hoping and working towards for. And now, this moment was mine. I was, finally, there.

Following my graduation was a speech by my supervisor. As I also mentioned, we had known each other for almost seven years. She was actually the one who opened the door for me to move to Europe in 2010, when she awarded me the full Master scholarship to TU Delft. And now, here we were, seven years later, and I was standing in front of her (all other people as well) just after becoming a Doctor. For a short moment, I had tears in my eyes. Just a little bit, though 😛 .

A graduation speech

My graduation speech

My mental state gradually went back to normal from thereon. The reception and dinner that followed brought up the festive feeling in me, thus neutralizing the melancholy that had formed.

Then, what I felt was the feeling of “freedom”. Not that I was not “free” before, but more like a “free” feeling once I achieved what I had been working so hard for. This, of course, came with a sense of satisfaction and some level of confidence 🙂 .

***

Yeah, indeed that was an interesting period of my life; not only the actual real stuffs that I needed to take care of, but also the mental aspect that needed to be managed. This period was, indeed, a unique period in the entirety of my PhD years. And I will cherish that.

BAHASA INDONESIA

Posting ini sudah cukup lama duduk manis di Draft menunggu giliran dengan sabar untuk di-publish. Sebelum topiknya menjadi basi, sekarang aku bagikan aja deh ya, hehehe 🙂 .

***

Beberapa waktu yang lalu, aku menceritakan bagaimana sidang dan wisuda PhD/S3-ku berlangsung. Di posting itu, aku konsentrasi pada apa yang terjadi hari itu, salah satu hari terpenting dalam hidupku. Posting ini akan membahas aspek lain dari sidang ini: roller-coaster emosi yang harus aku “naiki” – yang mana puncaknya adalah pada saat sidang itu, haha.

Defending

Pada saat sidang PhDku

Aku rasa tak mengejutkan bahwa sidang PhD itu bisa menjadi “menakutkan” bagi banyak mahasiswa PhD. Iya kan, momen ini adalah momen yang sudah sangat amat dikejar dan diusahakan. Seluruh kehidupannya selama empat sampai lima (bahkan mungkin lebih) tahun adalah untuk momen ini. Jadi ketika momennya beneran datang, kan tekanannya juga terasa semakin tinggi ya.

Untungnya untukku, sekitar sepuluh hari sebelum sidang, ada sebuah party besar dan seru banget. Nah, party-nya benar-benar membantuku untuk menyalurkan banyak tekanan itu keluar.

Di party-nya aku berkostum seragam Star Trek 😛

Lalu, tepat seminggu sebelum sidang, pembimbingku dan aku mengadakan sesi “latihan” antara aku, ia, dan seorang profesor yang tidak terlibat langsung dalam riset PhDku. Tujuannya adalah untuk membombardirku dengan pertanyaan-pertanyaan; dan melibatkan “orang luar” adalah ide yang baik untuk mendapatkan perspektif baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Dan aku menjalani sesi ini dengan cukup baik. Sesi yang kami rencanakan selama satu jam ini akhirnya berlangsung dua jam, haha. Ini, jelas, meningkatkan rasa percaya-diriku juga, dimana aku menjadi lebih yakin bahwa memang aku sudah siap untuk menjalani sidang.

Sehari sebelum sidang, aku pergi ke Amsterdam bersama orangtua dan adikku. Ketika makan siang di sebuah restoran Jepang, tiba-tiba aku mulai merasa nggak enak badan dong. Aku nggak sakit sih, tetapi kok rasanya muncul pertanda ke arah sana gitu. Aneh banget karena sebelumnya aku baik-baik saja lho, jadi aku duga sih ini adalah tekanan bawah sadar akibat sidang yang akan kujalani keesokan harinya mulai merembet masuk ke otakku. Apa pun itu (aku yakin bukan karena makanannya kok 😛 ), aku tahu aku perlu beristirahat. Jadilah setelah makan siang, kami kembali ke Delft.

A bowl of ramen for lunch

Ramen untuk makan siang

Di hari sidang, aku salah membaca nomor bus yang menyebabkan kami naik bus yang salah untuk menuju lokasi sidang. Sebagai akibatnya, kami harus berjalan kaki ke Aula sebelum sidang, haha. Sisi baiknya dari kesalahan ini adalah, aku disadarkan bahwa saat itu kondisi mentalku sedang tidak “prima”. Aku perlu menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan-diri.

Tapi semua itu mudah diucapkan tapi prakteknya lebih susah sih, haha. Aku merasa amat gugup ketika sidang; walaupun saran-saran dari stand-up comedian asal Inggris bekerja dengan baik sehingga dari luar aku nampak baik-baik saja 😛 . Jelas otakku masih berfungsi dengan baik dalam memproses pertanyaan-pertanyaan dan memberikan jawaban-jawabanku untuknya. Sebenarnya, aku merasa otakku saat itu bekerja dalam kapasitas 100% kok, walaupun rasanya sebagian darinya digunakan untuk mengatur ketegangan yang kurasakan, haha. Tetapi ya memang ini lah bagian dari “permainan” sidang PhD ini sih 😉 .

Defending

Mempertahankan disertasi dan argumenku

Sehingga tidak mengherankan ketika aku merasa lelah ketika sidangnya berakhir, haha. Tetapi di waktu yang sama, aku juga lega semuanya telah berlalu 🙂 .

Kemudian, sidang dilanjutkan dengan wisuda. Seperti yang kusebutkan yang lalu, bagian ini adalah bagian paling “emosional” dari semuanya. Ini lah momen yang mana setiap kandidat PhD harapkan dan bekerja untuknya. Dan kini, momen ini adalah milikku. Akhirnya, aku tiba juga di sana.

Setelah diwisuda, pembimbingku memberikan kata sambutan dan ucapan selamat. Seperti yang pernah kubilang, kami sudah mengenal satu sama lain sekitar tujuh tahunan. Ia lah yang membukakan pintu untukku pindah ke Eropa di tahun 2010, ketika ia menganugerahiku beasiswa penuh S2 ke TU Delft. Dan sekarang, di sini lah kami, tujuh tahun kemudian, aku berdiri di hadapannya (dan orang-orang lain) tepat setelah mendapatkan gelar Doktor. Selama sedikit detik, tanpa terasa aku merasakan sedikit air keluar dari mataku. Sedikit doang kok, haha 😛 .

A graduation speech

Sambutan wisudaku

Kondisi mentalku perlahan-lahan berangsur normal setelahnya. Wisudaku diikuti dengan resepsi dan makan malam yang membawa perasaan senang di dalam hatiku, sehingga menetralisir perasaan melankolis yang telah terbentuk.

Lalu, aku merasakan “kebabasan”. Bukannya aku tidak “bebas” sebelumnya, tetapi lebih seperti perasaan “bebas” ketika aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan dan aku telah bekerja-keras banget untuknya, haha. Ini, tentunya, juga datang lengkap dengan kepuasan dan rasa percaya-diri 🙂 .

***

Yeah, memang ini adalah periode yang menarik dari hidupku; tidak hanya harus menghadapi hal-hal yang memang harus aku urus, tetapi aku juga harus bergular dengan aspek mentalnya. Memang periode ini adalah periode yang unik dari tahun-tahun PhDku. Dan aku akan selalu menghargainya.

#1881 – My PhD Defense and Graduation

ENGLISH

At the end of January, I successfully defended my PhD dissertation and, therefore, was awarded my PhD degree. And here is the story of how that day, one of the most important days of my entire life, went.

1. The suiting up

There was a strict dress code that I must follow for the defense. And by strict, I could not just dress formally as I would like or do. For the professors, they even determined the specific shade of gray ( 😛 ) for their ties (seriously!).

The suit rental shop in Delft

The suit rental shop in Delft

Anyway, thankfully there is a suit rental shop in Delft who knows all these rules and caters for this kind of event. For today, I made an appointment with them at 10:30 to get my tuxedo. I picked my parents and brother up at their hotel and went to this shop. There, I was suited up and met two associate professors in my committees who would need to rent their designated suits for the event too.

The whole look was very nice, though. My mom especially loved the fabric of the vest, haha. Well, having to pay €99 just for renting the whole outfit (plus €25 for the shoes), I expected that, lol 😆 .

Suited-up!

Suited-up!

2. The trip to the defense room

Then, we had to go to the defense room in TU Delft Aula. I planned to take bus number 69 which stopped just in front of the aula so it was very convenient. But then, bus number 60 arrived and somehow I saw the “0” as “9” causing me to take the wrong bus! Duh! Drama which I certainly did not need for today 😣.

As a result, we got off at a bus stop that was quite far away from the aula. There was no scheduled bus service towards the Aula, so our best option was to walk there 😣. Well, luckily I put some time margins in our plan so we still had the time to go there. But still…

Before the defense started

Before the defense started

Long story short, we arrived at the defense room. I was greeted by the beadle (the MC, sort of) who briefed me with everything and helped me to prepare myself. It was still 40 minutes before the start of the defense. My family tried to calm me down by taking some photos, haha. Then, my guests also started to arrive. (This was an open defense so basically all people were allowed to come and watch).

3. The defense

The starting point of the defense

How the defense started

At exactly 12:30 PM, the beadle and my thesis defense committees (consisting of eight members, of which five were full professors) entered the room. We all had to stand up and the eight committee members sat at their designated places. The audiences were asked to sit down while I was asked to go to the podium.

The rector magnificus (chairman), who acted as the moderator, introduced the eight committee members to the audience. Then, the one-hour long questioning started….

Listening seriously to the question being asked

Listening seriously to the question being asked

To be honest, I was very nervous during the defense, haha. But I expected it, though. One week prior, a British stand-up comedian presented (at a work event) giving some advice on how to do public speaking in an intimidating event. I decided to give this advice a try!

Defending

Defending

Overall, I think I did fine in answering the questions thrown at me. Some of those were like “What the hell?” questions, lol, but I handled them well. My promotor, who got the last turn to ask, just finished his first question when I saw the beadle entering the room, meaning the 3600 seconds of defense time was almost over. I had not got the chance to fully answer the question when the beadle finally said “Hora est!“. And everything must stop as it had been exactly one hour.

Almost "Hora Est!"

Almost “Hora Est!”

I was asked to return to my seat. The eight committee members followed the beadle to a separate room to discuss the result.

4. The agonizing wait

As they left the room, the audience gave me a big applause. As for me, I just felt tired. And relieved. But mostly tired, though, haha.

Some of my guests came to my seat to congratulate me. The advice from the British stand-up comedian turned out to be a really good one, as they told me I looked composed and was very confidence in defending my work and arguments. I told them that in the inside, I was crazy nervous as hell! Haha 😆

I was so tired that I did not feel like standing at this time so I pretty much just sat the whole time. I felt like my defense went well, but still there was a bit of anxiety over what the committees were discussing at this time.

5. The graduation

The committee marching with my diploma to the defense room

The committee marching with my diploma to the defense room

About 15 minutes later after the defense, the beadle, followed by the eight committee members, entered the room. As before, everyone had to stand up while the nine people took their places.

I was, then, asked to go forward to stand before the rector magnificus. He declared that I had successfully defended my thesis and the committees had all agreed that I deserved to be awarded the degree of “Doctor”.

The rector magnificus then gave the floor to my promotor, who officially “awarded” me with my degree and handed over my (big) diploma. And, thus, as of 13:48 Dutch time today, officially I was promoted to Dr. Ir. A. A. Zilko.

The moment I became a Doctor

The moment I became a Doctor.

Then, the rector magnificus swore me my responsibility to the society now that I had become a Doctor, an independent scholar. With this, my argument and opinion could affect the society so I must be wise with it. After my promotion, the eight committee members and the audiences were asked to sit down (they were standing the whole time during my promotion).

A graduation speech

A graduation speech

Then, the rector magnificus gave the floor to my copromotor (my daily supervisor). As I worked very closely with her during my PhD years, she was given the opportunity to be the first person to officially address me as “Dr. Zilko” and gave a speech about my promotion and the years we have worked together. Actually, we had known each other for almost seven years, as she was also the one who awarded me my Master scholarship to the Netherlands in early 2010, a big turning-point event of my life. So, yeah, it was quite emotional indeed 🙂 .

6. The reception

My graduation was followed with a reception. But first, the mandatory official group photo at the famous stairs just in front of the defense room:

The famous stairs photo

The famous stairs photo

The reception took place in the common area downstairs. Everything had been set up according to my request (Weeks before, I must determine, among other things, how many pieces of cookies I would want to serve in the reception. Seriously! 😅)

With my diploma

With my diploma

Anyway, I was led to a table by the beadle, who opened the diploma and presented it on the table for me. My parents and brother were asked to stand by my left. Then, the guests formed a line to congratulate me (then my parents and brother) one by one, starting with the committees 🙂 . During the reception, I also received a lot of gifts from my colleagues and friends! Thank you guys!! ☺️

Gifts!!

Gifts!!

The reception lasted for almost an hour. After everyone left, I took care of the payment stuffs with the staff there, and then I left the Aula.

7. The aftermath (rest)

We took the right bus to go back to the Delft centrum this time, haha. I asked my parents and brother to head back to their hotel for some rest, while I returned to the suit rental shop to returned my tuxedo. Along the way, a lot of strangers congratulated me. I guess it was very visible when a guy with a full tuxedo holding a big red cylinder, then he must have just successfully defended his PhD dissertation!

8. The dinner

Beef cutlet as the main course

Beef cutlet as the main course

I also decided to organize a dinner with the committee members in the evening in a nice restaurant in the city center of Delft (its rating in Yelp and Trip Advisor was superb). Unfortunately my promotor could not attend due to his recurring asthma problem. One of the professors was late due to an emergency at work, so we started dinner rather quite late.

My choice of restaurant turned out to be great, as the dinner was really nice! Overall it was a nice evening; even my supervisor advised my parents to practise more conversational English, haha 😆 .

Graduation dinner groupfie

Graduation dinner groupfie

***

Yeah, that is it. The story of one of the biggest days of my entire life. And I feel blessed to be able to have that experience! ☺️

BAHASA INDONESIA

Di akhir bulan Januari, aku sukses menjalani sidang disertasi PhD/S3-ku dan, oleh karenanya, aku mendapatkan gelar S3ku. Nah, posting ini akan berisi cerita bagaimana hari itu, salah satu hari terpenting di keseluruhan hidupku, berlangsung.

1. Suiting up

Ada aturan dress code super ketat yang harus aku patuhi untuk mengikuti sidang. Dan dengan ketat, maksudku aku tidak bisa hanya mengenakan pakaian formal seperti biasanya. Bahkan bagi profesor-profesornya, mereka harus memakai dasi abu-abu yang mana shade of gray-nya ( 😛 ) sudah ditentukan dong, jadi nggak bisa asal sembarang warna abu-abu (beneran!).

The suit rental shop in Delft

Toko persewaan pakaian formal di Delft

Anyway, untungnya ada toko persewaan pakaian formal di Delft yang sudah paham semua aturan ini dan melayani acara-acara semacam ini. Jadilah untuk hari ini aku membuat janji dengan mereka jam 10:30 pagi untuk mendapatkan tuksedoku. Aku menjemput orangtua dan adikku di hotel mereka dan berjalan ke tokonya. Di sana, aku dipakaikan pakaianku dan juga bertemu dua associate professors yang juga merupakan anggota komite sidang disertasiku yang akan mengambil pakaian mereka.

Penampilan tuksedonya memang keren sih. Mamaku terutama suka bahan rompinya. Yah, yang namanya harus membayar €99 (sekitar Rp 1,4 juta) cuma buat menyewa pakaiannya aja (untuk sepatu aku harus menambah €25 (sekitar Rp 350 ribu) loh), jelas aku berekspektasi amat tinggi lah ya, haha 😆 .

Suited-up!

Suited-up!

2. Perjalanan ke ruang sidang

Lalu, kami harus pergi ke ruangan sidangku di Aula-nya TU Delft. Aku berencana menaiki bus nomor 69 yang berhenti tepat di depan Aula sehingga nyaman kan ya. Tetapi kemudian, bus nomor 60 datang dan entah bagaimana aku membaca “0” sebagai “9” dong sehingga kami salah naik bus!! Duh! Drama begini jelas tidak aku butuhkan buat hari seperti ini lah ya 😣.

Sebagai akibatnya, kami harus turun di halte bus yang agak jauh dari Aula. Karena tidak ada layanan bus kesana, pilihan terbaik kami adalah berjalan kaki 😣. Untungnya sih aku memang sudah memasukkan waktu ekstra di perencanaanku sehingga kami masih ada waktu untuk kesana. Tetapi tetap aja lah ya…

Before the defense started

Foto-foto dulu sebelum sidang

Singkat cerita, kami tiba di ruangan sidangnya. Aku disambut oleh bedel-ku (bisa dipandang sebagai semacam MC gitu) yang menjelaskan semuanya kepadaku dan membantuku untuk mempersiapkan diriku. Masih ada 40 menit sebelum sidang dimulai. Keluargaku berusaha menenangkanku dengan foto-foto, haha. Lalu, tamu-tamuku juga mulai berdatangan satu-satu (ini adalah sidang terbuka sehingga semua orang umum diperbolehkan menonton).

3. Sidang

The starting point of the defense

Bagaimana sidang dimulai

Tepat jam 12:30, bedel dan komite sidang disertasiku (terdiri atas delapan anggota, dimana lima di antaranya adalah profesor) memasuki ruangan. Kami semua diharuskan berdiri ketika mereka masuk dan duduk di tempatnya masing-masing. Kemudian, para penonton diminta duduk sementara aku diminta maju ke podium.

Rector magnificus (pemimpin sidang), yang bertugas sebagai moderator, memperkenalkan delapan anggota komite ini ke para penonton. Lalu, sidang yang berisi cecaran pertanyaan bertubi-tubi selama satu jam dimulai…

Listening seriously to the question being asked

Serius mendengarkan pertanyaan yang sedang disampaikan

Jujur, aku sungguh gugup sekali di sidang ini. Tetapi aku sudah menyangkanya sih. Kebetulan satu minggu sebelumnya, seorang stand-up comedian asal Inggris presentasi di kantor memberikan masukan-masukan untuk public speaking di sebuah acara yang mengintimidasi. Nah, aku memutuskan untuk mencoba mempraktekkan masukan-masukannya itu!

Defending

Disidang

Secara keseluruhan, rasanya aku menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan kepadaku dengan baik. Beberapa pertanyaannya adalah “pertanyaan macam apa sih ini?“, huahaha, tetapi aku juga bisa meladeninya dengan lumayan lah. Profesor promotor-ku, yang mendapatkan giliran terakhir bertanya, baru saja menyelesaikan pertanyaan pertamanya ketika aku melihat bedelnya memasuki ruangan, artinya waktu 3600 detik untuk sidang ini sudah nyaris selesai. Aku tidak memiliki cukup waktu untuk menjawab pertanyaannya dengan komplit, ketika bedel berkata “Hora est!“. Dan semuanya harus berhenti karena sidang sudah berlangsung selama tepat satu jam.

Almost "Hora Est!"

Nyaris “Hora Est!”

Aku diminta untuk kembali ke kursiku. Delapan anggota komite mengikuti bedel memasuki ruangan lain untuk mendiskusikan hasil sidang.

4. Menunggu hasil

Tepat setelah mereka meninggalkan ruangan sidang, para penonton memberikan aplaus kepadaku. Untukku sih, aku merasa lelah. Dan lega juga sih. Tetapi lebih banyak lelahnya sih, haha.

Beberapa tamuku mendatangiku di kursiku untuk menyelamatiku. Ternyata masukan-masukan dari stand-up comedian asal Inggris itu adalah masukan-masukan yang bagus, karena mereka berkata aku nampak sungguh tenang dan percaya-diri sekali dalam mempertahankan pekerjaan dan argumen-argumenku. Padahal di dalam hati gila aku sungguh tegang dan grogi banget! Haha 😆

Aku lelah sekali sampai-sampai aku merasa malas untuk berdiri sehingga aku duduk saja deh sepanjang waktu ini. Aku merasa sidangku berjalan baik sih, tetapi tetap aja lah ya was-was juga kira-kira apa ya yang didiskusikan komiteku saat ini.

5. Wisuda

The committee marching with my diploma to the defense room

Komiteku berbaris memasuki ruangan sidang dengan diplomaku

Sekitar 15 menit setelah sidang, bedel, diikuti oleh delapan anggota komiteku, memasuki ruangan. Seperti sebelumnya, semua orang diminta berdiri ketika mereka masuk dan menempati tempat mereka.

Kemudian aku diminta maju untuk berdiri di hadapan rector magnificus. Ia mengumumkan bahwa aku telah sukses mempertahankan disertasiku dan semua anggota komite telah menyetujui bahwa aku berhak untuk menyandang gelar “Doktor”.

Setelahnya, profesor promotorku secara resmi “menganugerahiku” dengan gelar Doktor dan memberikan ijazah (yang ukurannya besar banget, haha). Dan, jadilah, tepat jam 13:48 waktu Belanda hari ini, secara resmi aku dipromosikan menjadi Dr. Ir. A. A. Zilko.

The moment I became a Doctor

Momen-momen aku menjadi seorang Doktor.

Lalu, oleh rector magnificus aku disumpah dengan tanggung-jawab terhadap masyarakat karena sekarang aku telah menjadi seorang Doktor, seorang ilmuwan independen. Dengan gelar ini, pendapat dan pandanganku bisa mempengaruhi banyak orang sehingga aku harus menggunakannya dengan bijak. Setelah promosiku, kedelapan anggota komite dan penonton dipersilakan duduk (mereka diharuskan berdiri di sepanjang proses wisudaku).

A graduation speech

Sebuah sambutan kelulusan

Kemudian, kopromotorku (pembimbing harianku) dipersilakan untuk memberikan sambutan. Karena dengan ia lah aku banyak bekerja selama tahun-tahun PhDku, ia diberikan kesempatan untuk menjadi orang pertama yang memanggilku dengan sebutan “Dr. Zilko” dan dipersilakan memberikan sambutan dan kesan-pesan mengenai wisuda dan tahun-tahun dimana kami bekerja bersama. Sebenarnya, kami sudah kenal selama sekitar tujuh tahun loh, karena ia pula lah yang memberikan beasiswa Master/S2 kepadaku ke Belanda di awal tahun 2010, sebuah titik-balik dalam hidupku. Iyaa, memang agak emosional begitu deh 🙂 .

6. Resepsi

Wisudaku diikuti dengan resepsi. Tetapi sebelum itu, kami harus membuat foto grup wajib resmi di tangga di depan ruang sidang yang terkenal itu:

The famous stairs photo

Foto tangga yang terkenal itu

Resepsinya sendiri bertempat di area umum di lantai bawah. Semuanya sudah dipersiapkan sesuai permintaanku (Beberapa minggu sebelumnya, aku harus memutuskan, salah satunya, berapa potong biskuit yang ingin aku sajikan di resepsi ini. Iya loh segitunya! 😅)

With my diploma

Harus berpose dengan ijazahku lah ya, haha

Anyway, aku dipandu ke sebuah meja oleh bedel, yang membuka ijazah dan memamerkannya di meja untukku. Orangtua dan adikku diminta untuk berdiri di sisi kiriku. Lalu, para tamu berbaris untuk menyelamatiku (dan kemudian orangtua dan adikku) satu per satu, dimulai oleh anggota komiteku 🙂 . Di sepanjang resepsi ini, aku juga menerima banyak hadiah dari kolega-kolega dan teman-temanku! Terima kasih ya semuanya!! ☺️

Gifts!!

Kado!!

Resepsi berlangsung sekitar satu jam. Setelah semuanya pulang, aku menyelesaikan urusan pembayaran dengan staf di sana dan kemudian aku pulang.

7. Setelah sidang dan wisuda (istirahat sejenak)

Untuk pulangnya kami menaiki bus yang benar, haha. Orangtua dan adikku aku minta pulang ke hotel saja, sementara aku mengembalikan tuksedoku di toko persewaan pakaian formalnya. Di sepanjang jalan, ada banyak orang yang tidak aku kenal menyelamatiku. Aku kira kelihatan banget ya ketika seseorang dengan tuksedo super rapi berjalan-kaki sambil membawa sebuah silinder raksasa berwarna merah, pasti ia baru saja menjalani sidang disertasi PhDnya!

8. Makan malam

Beef cutlet as the main course

Beef cutlet sebagai menu utama

Aku juga memutuskan untuk mengadakan acara makan malam dengan anggota komiteku malam ini di sebuah restoran yang oke di pusat Delft (rating-nya di Yelp dan Trip Advisor tinggi, haha). Sayangnya, promotorku tidak bisa datang karena asmanya yang kumat. Salah satu profesorku juga datang akibat urusan mendadak di kantor, jadilah makan malamnya dimulai agak terlambat.

Pilihan restoranku adalah pilihan yang baik, karena makan malamnya enak! Secara keseluruhan, ini adalah malam yang oke; dimana pembimbingku menyarankan orangtuaku untuk les bahasa Inggris untuk memperlancar conversation-nya! Haha 😆 .

Graduation dinner groupfie

Goupfie makan malam wisuda dan kelulusanku

***

Yak, begitu deh. Cerita dari salah satu hari terpenting dalam sepanjang hidupku. Dan aku merasa beruntung aku bisa menjalani pengalaman ini! ☺️

#1870 – Dr. Ir. A. A. Zilko

ENGLISH

Just a really quick update. As of a few hours ago today, officially I can call myself:

Dr. Ir. A. A. Zilko.

Or, using my international titles:

A. A. Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D.

Haha 😆

Yep, this afternoon I had my PhD defense. Obviously it went well and so this post 😛 .

Anyway, I must stop here as this is all I have for now!! 🙂

The moment I became a Doctor

The moment I became a Doctor

BAHASA INDONESIA

Update kilat nih. Per beberapa jam yang lalu hari ini, secara resmi aku berhak memanggil diriku:

Dr. Ir. A. A. Zilko.

Atau, dengan menggunakan gelar yang internasional:

A. A. Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D.

Haha 😆

Yep, siang tadi aku menjalani sidang PhD/S3ku. Jelas sidangnya berjalan dengan baik sehingga posting ini muncul kan 😛 .

Anyway, untuk sementara segini dulu ya!! 🙂

#1742 – Writing A Journal Paper

ENGLISH

As currently I am in Munich for a conference, so I feel like the posts I publish this week should also revolve a little bit around my work, haha 😆 .

So here is a topic.

One of my responsibilities as a PhD candidate is to publish (a few) journal papers. Here, a journal paper is defined as a scientific paper that is anonymously peer-reviewed (by other scientists/researches in the same/a similar field) and (if accepted) is published in a scientific journal.

Certainly publishing a journal paper is by no means easy. In fact, it has been the most difficult writing-related task I have ever done in my life, lol 😆 . Yes, to me, it was more difficult to write a journal paper than writing my Master thesis (I am still in the process of writing my PhD dissertation so I can’t really compare it with that yet). So if I am allowed to be cynical, if someone says that writing a Bachelor thesis is difficult, well, the following reaction of Serena Williams pretty much sums my opinion up:

Serena Williams Wimbledon 2009

The process is long (normally, unless you are a genius or your research is really at the cutting edge of the scientific world, like the famous gravitational waves paper published earlier this year) and really exhausts your mental and emotional reserve.

I will probably get more into technical details about writing a journal paper in a later post (if I don’t forget and if I still feel like to 😛 ).

***

If you remember, I had half a week at the end of October 2015 where I was extremely stressed at work. It was very stressful that even having meal and having my night sleep felt like wasting my time!! At that time, I was in the process of submitting the first revision of a journal paper we (my co-author (read: my supervisor) and I) submitted to a computational mathematics journal. We originally submitted the paper in June last year and got the first round of the (anonymous) peer-review back in early September with a revision deadline at the end of October.

At the time, we generally got positive review. However, there was one on-point question which made us think and come up with an idea to significantly improve the paper’s content and our research. This, however, of course required some a lot of extra work (simulation and experiment) to be done. So from this point of view, my ten day trip to India in October did not come at the best time. This made my October to be extremely hectic, especially that half a week at the end of the month just before the deadline! 😆

Nonetheless, we managed to submit the revision just before the deadline but we knew a second round of revision was likely to come. This is because, to be honest, we were not happy with the presentation (more on the “cosmetics” side, e.g. the formulation of some of the ideas, our choices of words and sentences, the grammatical errors here and there, etc; but we were (at least I was) quite happy with the quality of the content).

In December I received the second round of review. The comments and questions were just minor and we were suggested to rewrite some parts of the paper better, just as we expected.

I submitted the revision in January (after coming back from my year-end trip to North America) and in February, the paper was accepted for publication.

***

Actually, almost simulatenously I submitted another journal paper to another scientific journal which focused more on the application area of my research. So in a way, indeed, I was juggling between these two papers (and other working responsibilities as well) in the last almost one year of my working life, lol 😆 .

Even though the journal was different, the process was pretty much the same. This other paper went much smoother though as I did not have to tweak the content a lot and just needed to answer the questions the reviewers had.

I submitted the original version of this other paper in October 2015 and in late April this year, it also got accepted for publication in one of the top journal in the application field of my research 😛 .

***

Yeah, that is my experience of writing a two journal papers. It has become an integral part of my PhD years and has truly given me a taste on how an academic career would feel like. This will help me tremendously in making life decision regarding what I want to do next… 😉

Btw, you can find my two publications via these links:

  1. Math(-ish) paper: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0167947316300895 (in press)
  2. Application (train stuff) paper: http://authors.elsevier.com/a/1SyiG,M0mR1nCS

Note that each link only gives free access for a certain period after the manuscript is available. So if you read this post waay in the future, you might not get the free access to the article (from which I literally receive 0% royalty. More about this in a later post).

BAHASA INDONESIA

Karena saat ini aku sedang berada di Munich untuk konferensi, aku jadi merasa posting-posting-ku minggu ini sebaiknya berkisar tentang urusan kerjaan saja deh, haha 😆 . #pencitraan

Oke, berikut ini satu topik tentang itu.

Satu tanggung-jawabku sebagai kandidat PhD (mahasiswa S3) adalah mempublikasikan (beberapa) journal paper. Disini, yang kumaksud dengan sebuah journal paper adalah sebuah paper ilmiah yang di-review secara anonim (biasanya oleh peneliti/ilmuwan lain di bidang yang sama/mirip) dan (kalau diterima) diterbitkan di sebuah jurnal ilmiah.

Jelas mempublikasikan sebuah journal paper itu tidak lah mudah. Bahkan, ini adalah tugas tulis-menulis paling sulit yang pernah kukerjakan seumur hidup, haha 😆 . Iya, untukku, lebih sulit untuk menulis sebuah journal paper daripada menulis thesis S2-ku dulu (Sekarang ini aku masih sedang dalam proses menulis disertasi S3-ku sehingga aku masih belum bisa membandingkannya dengan ini). Jadi kalau aku diperbolehkan sinis, jika ada yang bilang kepadaku bahwa menulis skripsi S1 itu sulit, reaksinya Serena Williams berikut ini mewakili opiniku deh:

Serena Williams Wimbledon 2009

Prosesnya sungguh memakan waktu lama (biasanya sih, kecuali jika kamu adalah seorang jenius atau risetmu kebetulan berada di bidang paling mutakhir nan canggih di dunia ilmiah, misalnya paper tentang gelombang gravitasi yang dipublikasikan awal tahun ini yang menghebohkan banget itu) dan juga sungguh menguras mental dan emosi.

Aku mungkin akan menuliskan detail teknis tentang penulisan sebuah jurnal ilmiah di sebuah posting yang akan datang (kalau ingat dan nggak malas 😛 ).

***

Jika ada yang ingat, setengah minggu terakhirku di bulan Oktober 2015 adalah setengah minggu yang sangat amat menyibukkan dan membuat stress di kantor. Waktu itu adalah saat-saat yang sungguh membuat stress bahkan makan dan tidur malam terasa seperti membuang-buang waktu bagiku saat itu!! Waktu itu, aku sedang dalam proses memasukkan revisi pertama dari sebuah journal paper yang kami (aku dan co-author-ku (baca: pembimbingku)) kirimkan ke sebuah jurnal matematika komputasi. Versi asli paper-nya kami masukkan di bulan Juni tahun lalu dan kami mendapatkan review anonim ronde pertama di awal September dengan deadline untuk revisi adalah akhir bulan Oktober.

Waktu itu, sebenarnya kami mendapatkan review yang secara umum positif. Namun, ada satu pertanyaan yang memang tepat sasaran yang membuat kami berpikir dan mendapatkan ide untuk secara signifikan meningkatkan kualitas isi dari paper dan riset kami. Ini, tapinya, jelas membutuhkan beberapa buanyak pekerjaan ekstra (simulasi dan eksperimen). Dari sudut pandang ini, perjalanan sepuluh hariku ke India bulan Oktober lalu tidak berlangsung di waktu yang enak. Ini membuat Oktoberku menjadi terasa semakin sibuk, terutama di setengah minggu terakhir bulan itu tepat sebelum deadline-nya! 😆

Toh walaupun begitu, untungnya kami masih keburu untuk memasukkan revisinya tepat sebelum deadline tetapi kami cukup yakin bahwa revisi ronde kedua akan menanti kami. Ini dikarenakan, sejujurnya, kami sendiri juga kurang puas dengan presentasinya (lebih di sisi “kosmetik”-nya, misalnya formulasi ide-idenya, pilihan-pilihan kata dan kalimat, kesalahan tata-bahasa disana-sini, dll; tetapi kami (setidaknya aku sih) sudah cukup puas dengan kualitas isinya).

Di bulan Desember, review ronde kedua kami dapatkan. Seperti yang kuduga, komentar dan pertanyaannya cenderung minor dan kami memang disarankan untuk mempermak ulang beberapa bagian paper-nya agar lebih enak dibaca.

Revisi aku masukkan di bulan Januari (setelah kembali dari perjalanan akhir-tahunku ke Amerika Utara) dan di bulan Februari, paper-ku dinyatakan lolos untuk dipublikasikan.

***

Sebenarnya, nyaris bersamaan aku juga memasukkan sebuah journal paper lain ke sebuah jurnal ilmiah lainnya yang berfokus di area aplikasi risetku. Jadi, di satu sisi memang aku juggling antara dua paper ini (dan juga kerjaan-kerjaan lainnya) selama nyaris setahun belakangan ini di kantor, haha 😆 .

Walaupun jurnalnya berbeda, tetapi prosesnya kurang lebih sama. Proses review paper yang satunya ini jauh lebih mulus dimana aku tidak harus banyak mengubah isi paper-nya. Aku hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan yang ditanyakan reviewer-reviewer-nya.

Versi asli paper ini aku masukkan di bulan Oktober 2015 dan di akhir April tahun ini, paper ini juga dinyatakan lolos untuk dipublikasikan di sebuah jurnal paling bergengsi dan top di bidang aplikasi risetku 😛 . #sombong

***

Yah, begitu deh pengalamanku menulis sebuah dua buah journal paper. Pengalaman ini telah menjadi sebuah pengalaman yang menyatu dengan tahun-tahun S3ku dan telah membuatku mencicipi yang namanya karier di dunia akademik. Ini akan sangat amat membantuku untuk membuat keputusan hidup penting nantinya mengenap apa langkahku selanjutnya… 😉 .

Btw, dua publikasiku bisa ditemukan di tautan berikut ini:

  1. Paper (yang agak-agak-) matematis: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0167947316300895 (in press)
  2. Paper aplikatif (di bidang perkereta-apian): http://authors.elsevier.com/a/1SyiG,M0mR1nCS

Oh iya, kedua tautan di atas hanya memberikan akses gratis selama periode waktu terbatas setelah paper-nya dipublikasikan. Jadi jika posting ini dibaca jauuuh di masa depan, ada kemungkinan akses ke paper-nya tidak lagi gratis (yang mana aku menerima royalti sebesar 0% loh. Lebih jauh tentang ini di sebuah posting yang akan datang).

#1606 – Five Years in Europe

ENGLISH

Today five years ago, an Airbus A330-200 reg PK-GPI which belonged to Garuda Indonesia landed at runway 27 of Amsterdam Schiphol Airport and I was one passenger of this flight. That was the first time I set my feet on the European soil. That was the starting point of my life in Europe.

Just like last year though, at the moment indeed I am not in Europe. Actually now I am at Senai International Airport waiting for my AirAsia flight to Yogyakarta. But as this is just a vacation to me, so technically I do live in Europe now, haha 😛 .

Anyway, let the sentimental post begin now…

First of all, five years! Wow! That is half a decade! That is sixty months! Time does fly. I have had amazing time here in Europe that I can’t believe it has been five years!

The Fifth Year in Retrospect

Since this time last year, well, my working life as a PhD has been extremely busy and much much much more stressful than before. The pressure I felt from my project was really big that I felt it was difficult for me to get a mental grip. To be completely honest, at some point I almost cried because of this. Yes, this third year did teach me that getting a PhD is by no means an “easy” task.

Lucky (I think) I finally was able to somehow channel the stress out and made a more peaceful mind. The trick turned out to be very simple: to look at the bigger picture, not to put too much unnecessary pressure/expectation or negative thoughts on myself, and the belief that everything will be alright. And this worked like magic because it turned out to be a cyclic process. A calmer and positive outlook of the process actually made me work and get some results better. And this further triggered even calmer and more positive outlook.

So yeah, if you ask me now, even though I still have tons of tasks to do in the coming year, I feel like I am in a much better state of mind and mental than this time last year. Maybe one can say that I feel happier now 🙂 .

Travelling

One effect of my stressed state of mind in the past year was, well, I am sure you have noticed: I travelled a lot in the past year. As I said, travelling (which involves planes and flying 😛 ) is my way of dealing with stress. I didn’t visit any new European countries so my European country count is still stuck at 18 at the moment. However, I did explore France, Italy, and Norway more this year with my trips to Lyon, Naples, and Oslo.

On the other hand, I had two intercontinental trip in the past one year: a year end trip to India with a group of friends and a Spring trip to Japan for a conference and an extension with my family. Both were incredible and simply amazing!

Going to the Sixth

As I said, the coming year will be a year full of hard work and, again, stress. However, the past year has taught me so much that I will use this experience going into the sixth year. I know it is going to be alright. And I know it is going to be very exciting! 🙂

#KoningsdagSelfie

#KoningsdagSelfie this April

BAHASA INDONESIA

Hari ini lima tahun yang lalu, sebuah pesawat Airbus A330-200 beregistrasi PK-GPI milik Garuda Indonesia mendarat di landasan pacu 27 Bandara Amsterdam Schiphol dan aku adalah salah satu penumpang penerbangan ini. Itu adalah kali pertama aku menjejakkan kaki di Eropa. Itu adalah titik awal mula kehidupanku di Eropa.

Seperti tahun lalu, saat ini memang aku sedang tidak berada di Eropa. Malah sebenarnya aku sedang berada di Bandar Udara Internasional Senai menunggu penerbangan AirAsia-ku kembali ke Yogyakarta. Tetapi karena ini hanya liburan, jadi secara teknis sekarang aku masih tinggal di Eropa dong ya, haha 😛 .

Anyway, mari posting sentimentalnya kita mulai…

Pertama-tama, lima tahun! Wow! Itu kan setengah dekade ya! Itu kan enam puluh bulan! Waktu sungguh berlalu dengan cepat. Waktuku selama lima tahun ini sungguhlah seru dan menyenakgna di Eropa sampai-sampai aku tidak percaya bahwa sudah lima tahun saja gitu!

Refleksi Tahun Kelima

Semenjak waktu ini tahun lalu, yah, kehidupan pekerjaanku sebagai PhD amatlah sibuk dan jauh sangat sangat sangat lebih stressful daripada sebelumnya. Tekanan yang aku rasakan dari proyekku sangatlah besar sehingga aku merasa amat sulit untuk dapat berdiri kokoh secara mental. Sejujurnya saja ya, di beberapa waktu aku nyaris menangis loh karena tekanan ini. Iya, tahun ketiga ini memang mengajarkanku bahwa proses mendapatkan gelar PhD (S3) itu bukanlah sebuah tugas yang “gampang”.

Untungnya (kayaknya), aku berhasil menyalurkan stress ini keluar dan membuat pikiranku lebih damai. Triknya ternyata sederhana saja: pandanglah proses ini dari big picture-nya, jangan menaruh tekanan/ekspektasi tidak penting atau pikiran negatif ke diri sendiri, dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan ini bekerja dengan baik karena ternyata semuaya itu siklik. Pandangan yang positif dan sikap yang kalem membuatku bekerja dan mendapatkan hasil yang lebih baik. Dan lebih jauh lagi ini membuat pikiran lebih tenang dan positif kan.

Jadi ya, kalau pada bertanya, walaupun aku masih memiliki banyak sekali tugas dan kerjaan selama satu tahun ke depan, aku merasa bahwa pikiranku berada di kondisi yan lebih baik daripada tahun ini tahun lalu. Mungkin bisa dikatakan aku merasa lebih bahagia sekarang 🙂 .

Travelling

Satu efek dari perasaan stress yang aku hadapi setahun belakangan ini adalah, ya, pasti sudah pada sadar sih: aku banyak sekali jalan-jalannya setahun belakangan ini. Seperti yang kubilang, jalan-jalan (yang melibatkan pesawat dan terbang 😛 ) adalah caraku untuk meng-handle stress. Aku tidak mengunjungi negara Eropa baru sih setahun belakangan ini sehingga jumlah negara Eropa yang pernah aku kunjungi masih berada di angka 18 aja sekarang. Namun, aku mengeksplor Prancis, Italia, dan Norwegia lebih jauh tahun ini dengan perjalananku ke Lyon, Napoli, dan Oslo.

Di sisi lai, aku memiliki dua perjalanan antar benua selama setahun belakangan ini: sebuah perjalanan akhir tahun ke India dengan teman-temanku disini dan sebuah perjalanan musim semi ke Jepang untuk sebuah konferensi dan mengekstensinya dengan keluargaku. Keduanya adalah perjalanan yang seru banget!

Masuk ke tahun keenam

Seperti yang kubilang, setahun ke depan adalah setahun yang penuh dengan kerja keras dan, lagi-lagi, stres. Namun, setahun belakangan ini sudah banyak mengajarkanku dan aku akan menggunakan pengalaman ini untuk menghadapi satu tahun ke depan. Aku tahu semuanya akan baik-baik saja. Dan aku tahu ini akan menjadi tahun yang seru dan menarik! 🙂

#1464 – A Gloomy Week

ENGLISH

… both in literal and figurative sense.

***

Because of the fall season, usually the month of October is quite a gloomy (or “depressing”, if I may say that) month. The day gets dark sooner and sooner, and usually the weather does not help at all. Just like this week. It has been foggy, drizzling, and gloomy all week. I don’t recall seeing much sunlight this week here.

I believe that the weather is correlated with someone’s mood. When the day presents someone with his/her favorite weather, it will boost his/her mood up; and so the otherwise. So probably what I have been feeling this week is also affected by this gloomy weather.

In general, I have been feeling also gloomy this week. As of late obviously my life has centered around work, this PhD research. I know I haven’t been talking that much about my research here. Even when I do, it has always been the brighter side of it. But honestly, I would be lying if I say there has been no problem, or “challenge” for some people, at all and my research has been smooth-sailing. A PhD research is no easy. It is no smooth ride in a comfortable luxury car. Hell yeah we are trying to solve problems which noone in the entire world has solved. So honestly, yeah, sometimes I feel frustrated as well. But I don’t think this situation is unique only for me.

Talks with some colleagues, friends, and my housemates (who are doing their PhDs as well, even though in different field than mine) reveal that everyone doing a PhD, at least at one point during their study, must have endured the same feeling, the same situation. But still, knowing this does not make it easier, because we still have to face it anyway. We all know the way out is to face it, fight hard, and keep on trying. But to do that, we need to be in the right mindset; and, oh, in the right mood too. If you are not in the mood to do some difficult work, you won’t be able to work efficiently, or creatively.

So that is why it is nice to have some colleagues in the office. Probably this is the reason why they pack more than one PhD student in an office room. We are meant to talk with each other, to encourage each other. And encouragement from our colleague is one of the strongest, at least in my opinion as of now (probably I will change my mind in the future, lol 😆 ), since they exactly know our situation. Being colleagues, at least we are in the same or very similar field. We know the people, we know the professors who are also our supervisors, we know the situation in our department. Obviously any form of encouragement from other people help too. But we can say they are not in our shoes; hell they probably do not know what shoes we are wearing now. But our colleagues, well, at least they are familiar with our shoes.

This reminds me of something. My blog. This blog. I believe another good way to channel out my frustration is through writing. Just write a post as open and honest as I can about what the situation is and how I feel about it. However, due to the nature of the possible situation, I don’t feel comfortable at all if I am writing a public post about it.

But then I remembered something. One of the reasons I chose WordPress as the host of this blog was the possibility to write a password-protected post. Thus far I have never used this feature. But maybe it is about time to finally make use of it.

***
Now that I should close this post shortly, I realize that it has been such a gloomy post, haha 😆 . Probably at the moment the gloominess is peaking. It is Friday evening now when I am writing this post, it is already dark outside, and it is foggy. Yeah, probably the weather today (and this week) has something to do with it 😛

Such gloomy and foggy weather it has been this week

Such gloomy and foggy weather it has been this week

BAHASA INDONESIA

… baik dalam artian sebenarnya maupun sebagai sebuah ungkapan.

***

Karena sudah musim gugur, biasanya bulan Oktober adalah sebuah bulan yang memang muram, alias gloomy (atau “bikin depresi” kalau boleh dibilang begitu). Siang menjadi semakin pendek dan semakin pendek, dan biasanya cuacanya juga tidak mendukung pula. Seperti minggu ini deh. Selama satu minggu cuacanya terus-terusan berkabut, gerimis, dan pokoknya gloomy gitu sepanjang minggu. Rasanya aku tidak banyak melihat sinar matahari deh minggu ini.

Aku percaya bahwa cuaca itu berkorelasi dengan mood-nya seseorang. Jika cuaca di suatu hari adalah cuaca favoritnya seseorang, ini akan meningkatkan mood seseorang itu; dan juga sebaliknya. Nah, mungkin perasaanku minggu ini terpengaruh oleh cuaca gloomy ini.

Secara umum, aku juga merasa gloomy sepanjang minggu ini. Jelas bahwa kehidupanku akhir-akhir ini berkisar di sekitaran pekerjaan, riset S3-ku sekarang. Memang aku tidak banyak menceritakannya disini sih. Bahkan ketika aku menulis sesuatu tentangnya, biasanya aku hanya bercerita yang baik-baiknya saja. Tetapi sejujurnya yah, aku jelas berbohong andaikata aku bilang bahwa tidak ada masalah sama sekali, atau mungkin istilah “tantangan” lebih disukai sebagian orang, dan risetku mulus-mulus aja tanpa masalah. Nggak mungkin. Yang namanya riset S3 itu sulit. Selain itu juga ini bukanlah mengendarai mobil mewah di jalan yang mulus. Ya iya lah, namanya aja kita berusaha memecahkan suatu permasalahan yang tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu caranya. Jadi, sejujurnya, ya, kadang aku jelas merasakan yang namanya frustrasi juga. Tetapi aku rasa situasi ini bukan aku saja yang mengalami.

Perbincangan dengan beberapa kolega, teman, dan housemates-ku (yang mana juga sedang ambil S3 juga, tetapi bidangnya lain dariku) membukakan mataku bahwa semua orang yang sedang mengambil S3, setidaknya satu kali waktu di masa studinya, pasti pernah merasakan hal yang sama. Ah, tetapi mengetahui ini jelas tidak membuatnya menjadi lebih mudah ya, karena toh kita harus tetap menghadapinya. Kita tahu bahwa satu-satunya jalan keluar adalah dengan menghadapinya, berjuang keras, dan terus mencoba. Tetapi untuk itu, kita harus memiliki mindset yang tepat; dan, oh, mood yang mendukung juga. Jika kita tidak sedang dalam mood yang baik ketika akan melakukan suatu pekerjaan yang sulit, kita tidak akan bisa bekerja dengan efisien, apalagi kreatif.

Jadilah mengapa asyik rasanya memiliki kolega di kantor. Mungkin inilah alasan mengapa mereka menentukan bahwa satu ruangan kantor diisi oleh lebih dari satu mahasiswa S3. Kami dimaksudkan untuk berbincang satu sama lain, untuk saling mendukung juga. Dan bentuk dukungan dari kolega itu termasuk salah satu yang terkuat lho, menurutku sekarang sih (bisa saja kapan-kapan pendapatku ini berubah, haha 😆 ), karena mereka benar-benar tahu situasi kita. Karena mereka adalah kolega kita, jelas artinya bidang kita sama atau mirip satu sama lain. Kita juga tahu orang-orangnya, tahu para profesor yang merupakan pembimbing-pembimbing kita, dan juga situasi di jurusan. Memang sih bentuk dukungan dari siapa pun jelas menghangatkan perasaan. Tetapi kita bisa bilang bahwa mereka tidak berada di situasi kita. They are not in our shoes, ungkapan bahasa Inggrisnya. Mereka bahkan tidak tahu sepatu apa yang kita pakai. Tetapi kolega-kolega kita, yah, setidaknya mereka lumayan familiar dengan sepatu ini. Kan?

Ini mengingatkanku akan sesuatu loh. Blogku. Blog ini. Aku tahu bahwa bagiku, salah satu cara lain untuk menyalurkan rasa frustrasi adalah dengan menulis. Menulis sebuah posting seterbuka dan sejujur mungkin mengenai sebuah situasi yang membuatku frustrasi dan bagaimana perasaanku saat itu tentangnya. Masalahnya, karena konten dari situasinya, kadang aku merasa tidak nyaman kalau posting semacam ini terbuka untuk umum, alias public.

Tetapi kemudian aku teringat sesuatu. Salah satu alasan aku memilih untuk pindah ke WordPress ini adalah kemungkinan untuk menulis sebuah posting yang diproteksi dengan password. Selama ini aku belum pernah menggunakan fitur ini sih. Tetapi mungkin saat untuk akhirnya menggunakannya akan segera tiba, haha.

***
Nah, karena sekarang sudah saatnya bagiku untuk segera mengakhirki posting ini, aku baru sadar bahwa nuansa posting ini kok amatlah gloomy juga ya, haha 😆 . Ah, mungkin ke-gloomy-annya sedang memuncak sekarang. Saat ini adalah hari Jumat malam ketika aku mengetik posting ini, di luar sudah gelap, dan juga berkabut. Ya, mungkin ada hubungannya dengan cuaca hari ini (dan minggu ini) 😛

#1443 – People Come and Go, Even in PhD Life

ENGLISH

Doing a PhD research, or any work in general actually, is more than often not just about the work itself. Since many people are involved, sometimes there are things related to people (I am not sure if I can call it “social interaction” or not; but no matter what the correct term is, I hope you get my message) that ones have to deal with.

Those who read PhD comics may be somewhat familiar with the drama that can happen to (or around) anyone doing a PhD research. The author finished his PhD degree in the United States so it was based more on the PhD life there; which is, from what I know, (at least) a little bit different from the PhD life in Europe (or at least in the Netherlands to be more on the safer side). But still, there is some connection so I can still relate to the portrayed situation 🙂 .

And now, I am experiencing one of this drama. And here is the story…

***

For this PhD research, I have two daily supervisors who are supervising me. This is a little bit unusual since usually a PhD student only has one. But I have two, so it is cool, yes? 😀 .

A few days before my trip to Indonesia this year started, one of them told me that she was leaving for Australia. “Leaving” as in she was going to resign from her position in the university (after she got the Australian working visa of course) and then she would move to Australia and it was likely that she would settle there. “Settle” as in her entire family (her husband and daughter) would move there as well. So it would be a different situation than my first year of PhD where my other supervisor was in Singapore for one year for a research-visit position. At that time, I knew that my supervisor would come back to Delft after the one year ended.

And it is going to happen soon, as in she is moving in two weeks. For my research, this is not a big problem because I still have one other supervisor who is more than capable to supervise the rest of my PhD research. So research-wise, I am still fine.

But still, I still feel a little bit sad (and shocked). One of the reasons I took this PhD position (which I did not mention in this post two years ago) was that because I enjoyed working with her a lot during my master’s thesis time (she was the main supervisor of my master’s thesis). I mean, I also enjoy working with my other supervisor too though; but still, I think it is quite normal to feel a little bit sad, no?

But well, I guess that is the reality of life. People come and go. And working life is no difference. And as a subset of working life, naturally a PhD life is no difference too. At some point everyone will surely face it, albeit in slightly different settings. And (obviously), this is not the first time in my life I am facing a situation like this. When I finished my master’s degree, when I finished my bachelor’s degree, when I finished high school, even when I was still in middle school or even elementary school, I also faced it. People do come and go, all the time. That is just life.

So it seems that there is nothing more I can say except that I wish her the best for the next stage in her life in Australia 🙂 .

***

The skeleton of this post was written when I heard the news, which was a few days before I flew to Indonesia for my one month Indonesia trip. So what is in this post was, indeed, my first reaction towards the news. And earlier today, we had farewell drinks in the pub in my faculty.

With my supervisor during my master's graduation in 2012

With my supervisor during my master’s graduation in 2012

BAHASA INDONESIA

Melakukan yang namanya riset S3 (PhD), atau pekerjaan apa pun juga sih sebenarnya, seringnya bukan hanya sekedar pekerjaan atau risetnya itu sendiri. Karena ada banyak orang yang terlibat, kadang-kadang ada hal-hal yang berkaitan dengan orang-orang ini (aku tidak yakin apakah aku bisa memanggilnya “interaksi sosial” atau tidak; tetapi apa pun istilah tepatnya, yang penting mudah-mudahan pada mengerti apa maksudku deh) yang harus kita hadapi.

Mereka yang membaca PhD comics mungkin sedikit banyak familier dengan drama yang dapat terjadi ke (atau di sekitar) siapa pun yang melakukan riset S3. Pengarangnya menyelesaikan jenjang S3-nya di Amerika Serikat sih jadi ceritanya lebih berdasarkan pengalaman kehidupan S3-nya disana; yang mana, sejauh yang aku tahu, (setidaknya) sedikit berbeda dari kehidupan S3 di Eropa (atau di Belanda deh demi amannya). Tetapi masih ada pula kesamaan-kesamaan sehingga aku masih bisa menghubungkan apa yang aku alami dengan apa yang diceritakan di komik itu 🙂 .

Nah, sekarang ini, aku sedang mengalami salah satu drama ini. Dan berikut ini ceritanya…

***

Di riset S3-ku ini, ceritanya aku memiliki dua orang pembimbing harian yang membimbingku. Ini sedikit tidak biasa karena biasanya seorang mahasiswa S3 memiliki satu pembimbing harian saja. Tetapi aku punya dua loh, keren kan? 😀 .

Beberapa hari sebelum liburanku ke Indonesia dimulai, salah satunya berkata kepadaku bahwa ia akan pindah ke Australia. “Pindah” dalam artian ia akan mengundurkan diri dari posisinya di universitas (setelah ia mendapatkan visa izin kerja di Australia tentunya), lalu ia akan pindah ke Australia, dan sangat mungkin untuk menetap disana. “Menetap” dalam artian keluarganya (suami dan anaknya) juga akan ikut pindah kesana. Jadi situasinya berbeda dengan tahun pertama S3-ku dimana pembimbingku yang satunya berada di Singapura selama satu tahun untuk posisi peneliti tamu disana. Waktu itu, aku tahu bahwa pembimbingku itu akan kembali ke Delft setelah waktu satu tahun itu berakhir.

Dan ini akan terjadi segera, karena dua minggu lagi ia akan berangkat. Untuk risetku, ini bukanlah masalah besar karena aku masih memiliki satu pembimbing yang lebih dari mampu untuk membimbingku di sepanjang sisa riset S3-ku ini. Jadi secara riset, aku aman dan baik-baik saja.

Tetapi tetap saja, aku merasa sedikit sedih (dan juga kaget). Salah satu alasan aku mengambil posisi S3 ini (yang tidak aku sebutkan di posting ini dua tahun lalu) adalah karena aku sangat menikmati bekerja dengannya di masa-masa aku mengerjakan thesis S2-ku (ia juga merupakan pembimbing utama thesis S2-ku dulu). Maksudku, aku juga menikmati bekerja bersama pembimbingku yang satunya kok; tetapi masih aja lah ya, rasanya wajar juga untuk masih merasa sedih?

Ah, kalau dipikir-pikir lagi, memang inilah yang namanya realita kehidupan. Orang-orang datang dan pergi. Dan kehidupan pekerjaan juga tidak berbeda dari itu. Dan sebagai himpunan bagian dari kehidupan pekerjaan, kehidupan riset S3 juga sama saja lah. Di satu waktu di hidupnya, seseorang pasti akan menghadapinya, walau mungkin setting-nya sedikit berbeda. Dan (tentu saja), jelas ini bukan kali pertama seumur hidup aku menghadapi situasi seperti ini. Ketika aku menyelesaikan studi S2-ku, ketika aku menyelesaikan studi S1-ku, ketika aku lulus SMA, atau bahkan ketika aku masih duduk di SMP dan SD, aku juga menghadapinya. Orang-orang datang dan pergi silih berganti, kapan pun dimana pun. Memang begitulah yang namanya hidup.

Yah, memang sepertinya saat ini tidak ada hal lain yang bisa kukatakan kecuali mendoakan dan mengharapkan yang terbaik bagi pembimbingku ini di tahapan berikutnya dari hidupnya di Australia 🙂 .

***

Kerangka utama dari posting ini aku tulis ketika aku baru saja mendapatkan kabar ini, yaitu beberapa hari sebelum aku terbang ke Indonesia untuk acara liburanku selama satu bulan di Indonesia. Jadi posting ini memang kurang-lebih reaksi awalku terhadap berita ini. Dan sore tadi hari ini, diselenggarakanlah acara minum-minum perpisahan di pub di fakultas kami.