EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2135 – In Paris for RG18

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

The Transport

As I shared in the Introduction post, my transport (read: flights 😛 ) routing for this trip looks like the following:

My routing this weekend. From gcmap.com

I was desperately looking for a non-direct return option and this was the best option (price-wise, schedule-wise, and routing-wise) which I could find at the time, haha 😀 .

Anyway, in this trip I found out that the food section Schengen KLM Crown Lounge had gone through some mini “renovations” with the introduction of some kitchenary which, to me, looked refreshing and better than before! I also felt like the warm food quality was better than usual; though for this I am not sure if this was due to the seasonal menu change or it was a real improvent.

It was perhaps minor but this rack was certainly a nice addition to the lounge!

My flight to Toulouse would leave from Paris-Orly Airport. I took the OrlyBus to get there, which would only be my second time since December 2012! Haha 🙂 . Btw, I also realized that it was better (location-wise) to go via Orly Airport when visiting Paris as it was closer to the city than Charles De Gaulle. Also, I felt like the OrlyBus was much more convenient than the RER B train; though, perhaps the next time I should try a Le Bus Direct service to the city center from Paris-CDG. I have used this bus service a couple of times already actually but both trips were between Paris-CDG and Paris-ORY while transferring between the two airports (this “airports shuttle” route was free with my Flying Blue status 😀 ) and I found the bus ride comfortable, hmm.

An OrlyBus at Denfert-Rochereau in Paris

My transfer time in Toulouse was only 50 minutes, which was quite tight. As I arrived quite early at Orly, I asked a check-in agent if it was possible for me to move to one of the two earlier Air France flights to Toulouse which would give me more of a leeway during transfer. She said my ticket allowed free change of flight BUT both flights were full already. Oh well…

And then, as with pretty much all other airports in France (with the exception of Charles De Gaulle), transferring experience at Toulouse Airport was horrible because I had to exit the airport and reentered it again meaning I would need to clear security again. It was such a hassle, especially with such a short connection time! It also happened that I was behind a young couple with a baby at security who brought a lot of stuffs which weren’t packed correctly! Lol 😆 .

A KLM Cityhopper’s Embraer E175 reg PH-EXW at Toulouse-Blagnac Airport

But nonetheless, in the end I made the connection. KLM Cityhopper’s brand new Embraer ERJ175 reg PH-EXW was just arriving in Amsterdam when I cleared security so I knew I was safe. Though, even if I missed it, I knew KLM still had two flights to Amsterdam later on today, haha. Having said that, this experience reminded me to book an option with longer transfer time while connecting in a French airport other than Paris-CDG! Haha 😆

Paris

Anyway because I arrived on Friday afternoon, I spent the entire Saturday at Roland Garros (see Part I), and Sunday was my flying day, I did not have a lot of time to explore Paris itself. But I didn’t mind as I have been there a few times already.

This year I went to Notre Dame in Paris

Though, I still managed to go to Notre Dame for my annual selfie with a Paris landmark on my Roland Garros trip, haha 😆 (I took a selfie with the Eiffel Tower four years ago, the Sacré-Cœur three years ago, the Arc De Triomphe two years ago, and the Louvre last year 😛 ). Btw, so actually I am wondering what should be the landmark for this selfie next year? Haha 😆 .

A delicious confit de canard in Paris!

Speaking Paris, it means French, and it also means French Food, one of my most favorite food in the world! And as usual, the French food did not disappoint! This time I also followed my “tradition” though as in the previous years. I had a confit de canard as my first dinner at a restaurant near Notre Dame, and an escalope de veau at a restaurant I knew nearby Roland Garros after visiting the tournament! And btw, the confit de canard was one of the better ones which I have ever had in Paris! The restaurant name was Le Lutece, and I should definitely write this name down somewhere (like here in this blog 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Transportasi

Seperti yang kusebutkan di posting Introduction, rute transportasiku (baca: penerbangan-penerbangan 😛 ) kali ini adalah kayak begini:

Ruteku di akhir pekan ini. Dari gcmap.com

Jelas dong aku maunya penerbangan pp yang tidak non-stop dan ini adalah opsi yang terbaik (dari segi harga tiket, jadwal, dan rute) yang bisa kutemukan waktu itu, haha 😀 .

Anyway, di perjalanan ini aku lihat bagian makanan di Crown Lounge Schengen-nya KLM sudah “direnovasi” sedikit loh dengan beberapa perabotan yang, bagiku, nampak menyegarkan dan lebih oke daripada sebelumnya! Juga, aku merasa kualitas makanan hangatnya lebih oke daripada biasanya; walaupun untuk yang ini aku tidak yakin apakah hanya dikarenakan perubahan menu musiman saja atau beneran kemajuan sih.

Mungkin sepele sih tapi rak roti ini adalah tambahan perabot yang oke untuk lounge-nya!

Penerbanganku ke Toulouse akan diberangkatkan dari Bandara Paris-Orly. Aku menaiki OrlyBus untuk pergi ke sana, yang mana adalah kali kedua aku menaikinya setelah yang pertama kali adalah di bulan Desember 2012! Haha 🙂 . Btw, aku juga baru benar-benar sadar bahwa dari segi lokasi, Bandara Orly ini lebih oke daripada Charles De Gaulle jika kita berniat mengunjungi Paris. Juga, aku merasa OrlyBus ini lebih nyaman daripada kereta regional RER B; walaupun mungkin lain kali aku akan mencoba layanan bus Le Bus Direct sih ke pusat kota dari Paris-CDG. Sebenarnya sih aku sudah pernah dua kali naik bus ini tapi di keduanya aku bepergian dari Paris-CDG ke Paris-ORY ketika transit di antara dua bandara ini (“Layanan antar bandara” ini gratis untukku karena status Flying Blue-ku 😀 ) dan perjalanan dengan busnya menurutku nyaman, hmm.

Sebuah OrlyBus di Denfert-Rochereau di Paris

Waktu transitku di Toulouse hanyalah 50 menit, yang mana lumayan mepet kan ya. Karena aku tiba agak kepagian di Orly, aku bertanya ke agen check-in-nya apakah bisa aku pindah ke salah satu dari dua penerbangan Air France ke Toulouse yang berangkat lebih awal sehingga waktu transitku agak panjangan gitu. Petugasnya berkata sebenarnya tiketku adalah tiket fleksibel yang membebaskanku untuk berpindah penerbangan tanpa dikenakan biaya TAPI masalahnya hari ini kedua penerbangan ini sudah full banget dong. Ya sudah lah ya…

Dan kemudian, seperti selayaknya bandara-bandara lain di Prancis (kecuali Charles De Gaulle sih), pengalaman transit di Bandara Toulouse itu parah nggak enak banget dah, haha. Aku harus keluar bandaranya dan kemudian memasukinya lagi yang mana artinya aku harus melewati pemeriksaan sekuriti lagi. Kan repot banget ya jadinya, apalagi dengan waktu transit yang mepet! Mana kebetulan pula di pemeriksaan sekuriti aku berada di belakangnya sepasang suami-istri muda dengan bayi mereka yang bawaannya ke kabin segambreng banget dan itu pun tidak di-pack dengan benar! Haha 😆

Sebuah Embraer E175 rego PH-EXW-nya KLM Cityhopper di Bandara Toulouse-Blagnac

Ah tapi pada akhirnya ternyata waktu transitnya cukup kok dimana aku tidak ketinggalan penerbangan lanjutanku, haha. Pesawat baru Embraer ERJ175 rego PH-EXWnya KLM Cityhopper baru saja tiba dari Amsterdam ketika aku selesai melewati pemeriksaan sekuritinya jadi aku tahu aku aman. Walaupun sebenarnya andaikata ketinggalan pun aku tahu KLM masih ada dua penerbangan ke Amsterdam sih sore harinya nanti, jadi aman banget lah ya, haha. Walaupun begitu, pengalaman ini mengingatkanku untuk sebaiknya membeli tiket dengan waktu transit yang agak panjangan jika transitnya di sebuah bandara Prancis selain di CDG! Haha 😆

Paris

Anyway karena aku tiba di Jumat sore, Sabtuku seharian aku habiskan di Roland Garros (baca Bagian I), dan di hari Minggu aku sudah pulang, aku tidak memiliki banyak waktu untuk jalan-jalan di Parisnya sendiri. Tapi nggak masalah sih karena toh aku sudah pernah beberapa kali kesana.

Tahun ini aku pergi ke Notre Dame di Paris

Walapun begitu, aku masih sempat pergi ke Notre Dame untuk selfie tahunanku di perjalanan Roland Garros ini dengan sebuah landmark-nya Paris, haha 😆 (Aku selfie dengan Menara Eiffel empat tahun yang lalu, dengan Sacré-Cœur tiga tahun lalu, dengan Arc De Triomphe dua tahun lalu, dan dengan Louvre tahun lalu  😛 ). Btw, jadi sebenarnya sekarang aku jadi bertanya-tanya nih enaknya tahun depan selfienya dengan landmark apa lagi ya? Haha 😆

Confit de canard yang enak banget di Paris!

Ngomongin Paris, artinya Prancis, artinya makanan Prancis, salah satu makanan favoritku! Dan seperti biasa, masakan Prancis itu tidak pernah mengecewakan! Kali ini aku juga mengikuti “tradisiku” seperti tahun-tahun yang lalu. Aku makan confit de canard di hari pertama dan escalope de veau di restoran langgananku di dekatnya Roland Garros setelah mengunjungi turnamennya! Dan btw, confit de canard yang ini adalah salah satu yang terenak yang pernah aku makan di Paris loh! Nama restorannya adalah Le Lutece, dan aku sepertinya harus menuliskannya nih supaya nggak lupa (seperti misalnya di blog ini 😛 ).

Advertisements
EuroTrip, Tennis, Vacation, Weekend Trip

#2131 – A Weekend in Roland Garros 2018

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

As usual, I arrived at the gate at around 9 AM. This was, of course, a little bit “too early” but this decision would ensure me to be at the front of the line to enter the ground when the gate would be opened 😛 . Anyway long story short, at 10 AM the gate was opened and, yes, I was back at Roland Garros again this year! 😀

The new Court No. 18 at Roland Garros

As I already had a breakfast at my hotel this morning, I decided to use the time to immediately explore the ground. While this was my seventh year in a row to go to Roland Garros, this year was quite “different” because some of the improvement work was already completed! There were three new courts which looked like three mini amphitheatres (as each was enclosed by layers of benches), which were really beautiful! The facilities had been redesigned and moved around as well, and at times this made me feel like it was my first time in Roland Garros as I wasn’t familiar with the layout! Haha 😆 .

Anyway, as usual, I decided to watch the women’s legends final at Court Suzanne Lenglen as my first event today. This year, the final was between Kim Clijsters/Nathalie Tauziat and Amelie Mauresmo/Nathalie Dechy. Yep, for my first time here, Martina Navratilova wasn’t involved! Haha 😀 . Anyway, the match was quite exciting, even though at the very end it was filled with chokes from both sides (Like, each team double-faulted on each of their own’s match point! 😅). But finally, Mauresmo/Dechy won 6-7(4), 6-4, [15-13].

Amelie Mauresmo and Nathalie Dechy won the women’s legends event

The match ended at around 1 PM so it was a perfect time for lunch. As I said, I initially wasn’t aware of where the restaurant was (as the “old” place was now part of the two new courts). I asked the information desk and apparently what previously was a store at the basement of Court Philippe Chatrier was now a restaurant! Haha 😀 . Anyway, this year the menu was also completely different where the warm meal options were a ham dish or a chicken dish. I opted for the chicken, which I had with pasta and some ratatouille as the side dish.

A chicken leg with pasta and ratatouille for lunch at Roland Garros

After going around for a little bit, I decided to go to my seat at Court Philippe Chatrier. Of course I chose to go in a little bit early so I would have all the time that I needed to take some pictures inside, haha 😆 . Btw, at the time Oliver Marach and Mate Pavic were warming up for their upcoming men’s doubles final.

At Court Philippe Chatrier again this year

Spectators filled in the stadium quite rapidly after that as people were getting ready for the main match today, the women’s singles final. The match would be contested between the current world no.1, Simona Halep, who up to this point had never won a grandslam title despite reaching the finals three times and lost in three sets in all of those (one of which was last year’s final against Jelena Ostapenko), and the world no.10, Sloane Stephens, a young American player who won the US Open last year.

The coin toss between Simona Halep and Sloane Stephens

Btw, I noticed that Simona Halep had a lot of fans coming to support her today. Around the ground, I saw a lot of people bringing Romanian attributes (flags, wearing clothes of the Romanian flag colours, chanting some yells clearly supporting Halep, etc). But interestingly, today I was sitting in an area of the stadium which somehow was filled by mostly Americans, or at least Sloane’s fans, haha 😛 . Some of them tried to chant “USA, USA, USA” in response to the “Simona, Simona…” chants by Halep’s supporters, haha.

Simona Halep fans at Roland Garros

Anyway, both players entered the stadium at 3 PM. Halep won the coin toss and elected to receive, meaning Sloane would serve first. I won’t go to too much details here, but Sloane started the match right on fire. She was immediately peaking and played unbelievable level of tennis. Her shots, strategy, movement, and basically everything was right and perfect! Like, she could do nothing wrong! And so she quite quickly took the first set 6–3 and immediately led 2–0 in the second set.

Sloane Stephens started the match right on fire and on point, clicking in every department.

At this point, I started to feel bad for Halep because she was clearly trying and she was playing great herself (she was the more aggressive player of the two on court today); but her opponent was just playing unbelievable tennis and there was nothing could be done about that. But then something started to happen. At the twelfth game, Sloane’s level “finally” started to “drop” a little bit from this “peak”. And if you play tennis you would understand how this could be bad news for Sloane, especially given what was at stake here (a grandslam title). Somehow I feel like this got into Sloane’s mind and it went downward spiral there. Errors started to creep in her game. At the same time, this gave Halep the momentum that she needed. From that point, Halep played brilliantly and won 13 of the next 15 games; and finally clinching the title with a 3–6, 6–4, 6–1 victory! Yes, Simona Halep finally won a grandslam title she truly deserved; and I was feeling really happy for her!!

The moment Simona Halep finally won a grandslam.

The trophy ceremony followed afterwards. Coupe Suzanne Lenglen, which was stored in a Louis Vuitton box, haha, was brought to the court. Arantxa Sanchez then gave the trophy to Simona Halep, who finally was able to get rid of the “Slamless” title some people put on her.

I think Simona’s expression in this photo said it all! “FINALLY!!”

After uploading some Instagram Story videos (haha), I decided that I needed to stretch my leg and to fill my stomach with something; and that something being a subway sandwich, haha.

Learning from my experience two years ago, I knew that Court Philippe Chatrier was open for everyone for the doubles final. So instead of going back to my seat, I decided to try my luck by going to one of the courtside box. Luckily I went in right just in time where I still found a vacant great courtside seat!

My view for the men’s doubles final!

The men’s doubles final was contested between a French duo, Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut, who was seeded sixth, and the Austrian-Croatian duo, Oliver Marach/Mate Pavic, the second seed. Btw, Mate Pavic was ranked world no.1 in men’s doubles at the time. Both teams played different style, where Herbet/Mahut were more about the touch and technique whereas Marach/Pavic were more about power and aggression. The match had started when I entered the court and Herbert/Mahut were controlling the momentum already in the first set. They quickly won it 6–2.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut took control of the first set.

The second set was much more competitive and exciting. Both teams were pretty much even up to the middle of the set. Then after a poor service game by Marach, Herbet/Mahut gained some momentum by breaking Marach’s serve. But then it was Mahut’s turn to have a poor service game and the match went back even. But Marach/Pavic seized this momentum and got themselves a couple of set points. Herbert/Mahut fought hard and saved those set points so the second set had to go to a tiebreak. Herbet/Mahut played a great tiebreak where they immediately got some lead. In the end, they clinched it 6–2, 7–6(4) and, thus, won their first ever Roland Garros title.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut won the men’s doubles title of Roland Garros 2018

It was a great day to be French, for sure. The spectators chanted the French national anthem during the trophy ceremony too.

With the last match of the day being completed, it was time for me to leave as well. And yeah, I just had a great day at Roland Garros!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Seperti biasanya, aku tiba di gerbang masuk sekitar jam 9 pagi. Agak kepagian sih ini, tapi ini memastikan aku berada di posisi paling depan di antrian masuk ketika gerbangnya dibuka nanti, haha 😛 . Singkat cerita, gerbangnya dibuka jam 10 pagi dan, iya, aku kembali di Roland Garros lagi tahun ini! 😀

Lapangan No. 18 yang baru di Roland Garros

Karena aku sudah sarapan di hotel paginya, aku memutuskan untuk menggunakan waktuku untuk mengeksplor kompleks turnamennya. Walaupun ini adalah tahun ketujuh berturutan aku pergi ke Roland Garros, tahun ini terasa agak “berbeda” karena beberapa pekerjaan konstruksi pengembangan turnamennya sudah selesai! Misalnya saja ada tiga lapangan baru yang nampak seperti amphitheater mini (yang mana masing-masing dikelilingi oleh beberapa tingkat bangku), yang mana nampak indah! Fasilitas di sekitar kompleksnya juga sebagian sudah didisain dan ditata-ulang, sehingga terkadang membuatku merasa ini seperti kunjungan pertamaku di Roland Garros karena aku tidak familier dengan denahnya! Haha 😆

Anyway, seperti biasa, aku memutuskan untuk menonton final turnamen legenda putri di Lapangan Suzanne Lenglen hari ini. Tahun ini, finalnya adalah antara Kim Clijsters/Nathalie Tauziat dan Amelie Mauresmo/Nathalie Dechy. Yep, untuk pertama kalinya untukku, Martina Navratilova tidak terlibat dong! Haha 😀 . Anyway, pertandingannya lumayan menarik, walaupun bagian akhirnya dipenuhi dengan chokes dari kedua tim sih (Misalnya, kedua tim double-fault dong di match point-nya masing-masing!😅). Tapi pada akhirnya, Mauresmo/Dechy menang 6-7(4), 6-4, [15-13].

Amelie Mauresmo dan Nathalie Dechy memenangi gelar legenda putri.

Pertandingan berakhir sekitar jam 1 siang yang mana merupakan waktu yang pas untuk makan siang. Seperti yang kubilang, awalnya aku tidak tahu lokasi restorannya dimana (karena lokasi yang “lama” kini sudah menjadi bagian dari dua lapangan baru). Aku bertanya ke meja informasi dan ternyata apa yang dulunya toko di lantai basement Lapangan Philippe-Chatrier kini adalah restoran! Haha 😀 . Ngomong-ngomong, menu tahun ini juga berbeda banget dimana pilihan makanan hangatnya adalah daging ham atau ayam. Aku memilih ayam, yang mana aku temani dengan pasta dan ratatouille.

Paha ayam dengan pasta dan ratatouille untuk makan siang.

Setelah berkeliling sedikit, aku memutuskan untuk masuk menuju kursiku di Lapangan Philippe Chatrier. Jelas dong aku masuk agak awal supaya ada waktu untuk foto-foto dulu, haha 😆 . Btw, waktu itu Oliver Marach dan Mate Pavic sedang pemanasan untuk final ganda putra mereka nantinya.

Di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini.

Penonton mulai masuk ke lapangan dengan cepat setelahnya untuk menonton pertandingan utama hari ini, final tunggal putri. Pertandingannya akan dimainkan oleh pemain peringkat 1 dunia, Simona Halep, yang hingga waktu ini belum pernah menjuarai grandslam walaupun sudah masuk final tiga kali dan kalah dalam tiga set di semuanya (salah satunya adalah final tahun lalu melawan Jelena Ostapenko), dan petenis peringkat 10 dunia, Sloane Stephens, yang mana petenis muda dari Amerika yang menjuarai US Open tahun lalu.

Coin toss antara Simona Halep dan Sloane Stephens

Btw, ada banyak loh fansnya Simona Halep yang datang untuk mendukungnya. Di sekitaran kompleks, ada banyak banget orang-orang yang membawa atribut Romania (bendera, pakaian dengan warna bendera Romania, bahkan mereka memiliki yel-yel sendiri untuk mendukung Halep, dll). Tapi menariknya, hari ini aku bisa-bisanya duduk di area stadionnya yang dipenuhi kebanyakan oleh orang Amerika, atau seenggaknya pendukungnya Sloane Stephens, haha 😛 . Beberapa dari mereka bersorak “USA, USA, USA” untuk meladeni yel-yel “Simona, Simona…” dari pendukungnya Halep, haha.

Fansnya Simona Halep di Roland Garros

Anyway, kedua pemain memasuki lapangan jam 3 sore. Halep memenangi coin toss dan memilih untuk receive, yang berarti Sloane akan servis duluan. Aku tidak akan menuliskan detailnya di sini, tapi Sloane memulai pertandingan dengan sempurna sekali. Pukulan-pukulannya, strateginya, dan pergerakannya pas dan sempurna banget! Ia seperti tidak mampu membuat kesalahan gitu, segala yang dilakukannya benar dan tepat! Dan jadilah ia dengan lumayan cepat mengambil set pertama  6–3 dan langsung unggul 2–0 di set kedua.

Sloane Stephens memulai pertandingan dengan sempurna, segalanya “klik” banget.

Di waktu ini, aku sedikit merasa kasihan terhadap Halep karena ia jelas terus berusaha dan sebenarnya bermain dengan bagus juga (ia bermain lebih agresif daripada Sloane); tapi ya memang lawannya sedang bermain tenis dengan level sempurna dan ini jelas tidak bisa diapa-apakan. Tapi sesuatu mulai terjadi di game kedua-belas. Levelnya Sloane “akhirnya” mulai sedikit “turun” dari level “puncak” ini. Dan jika kamu bermain tenis, pasti paham mengapa ini adalah berita buruk untuk Sloane, terutama dengan mempertimbangkan apa yang dipertaruhkan di sini (gelar grandslam). Entah mengapa rasanya ini masuk ke pikirannya Sloane dan semuanya dengan cepat terjun bebas dari sana. Kesalahan-kesalahan mulai muncul di permainannya. Di waktu yang sama, ini memberikan Halep momentum yang ia butuhkan. Dan dari waktu itu, Halep bermain dengan sangat baik dan memenangi 13 dari 15 game selanjutnya. Akhirnya, ia mendapatkan gelarnya dengan kemenangan 3–6, 6–4, 6–1! Iya, Simona Halep akhirnya menjuarai grandslam yang memang berhak ia dapatkan; dan aku ikut merasa senang untuknya!!

Momen dimana Simona Halep akhirnya menjuarai grandslam.

Upacara pemberian piala berlangsung setelahnya. Coupe Suzanne Lenglen, yang disimpan di dalam kotak Louis Vuitton, haha, dibawa ke lapangan. Arantxa Sanchez memberikan pialanya kepada Simona Halep, yang mana akhirnya berhasil menghilangkan gelar “Slamless” disematkan beberapa orang kepadanya.

Aku rasa ekspresinya Simona di foto ini mengungkapkan semuanya! “AKHIRNYA!!”

Setelah upload beberapa video InstaStory (haha), aku meluruskan kakiku dan memutuskan untuk mengganjal perutku dengan sandwich, haha.

Berdasarkan pengalamanku dua tahun yang lalu, aku tahu bahwa Philippe Chatrier dibuka untuk umum di final ganda putra. Jadilah bukannya kembali ke kursiku, aku mencoba peruntunganku dengan pergi ke salah satu kotak di samping lapangannya. Beruntung sekali aku masuk di waktu yang tepat dimana aku masih bisa menemukan beberapa kotak yang kosong dengan pandangan yang oke banget!

Pandanganku untuk final ganda putra!

Final ganda putranya dimainkan antara duo Prancis, Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut, unggulan keenam, dan duo Austria-Kroasia Oliver Marach/Mate Pavic, unggulan kedua. Btw, Mate Pavic merupakan pemain peringkat 1 dunia di ganda putra waktu itu. Kedua tim bermain dengan gaya yang berbeda, dimana Herbet/Mahut lebih tentang touch dan teknik sementara Marach/Pavic lebih tentang kekuatan dan keagresifan. Pertandingannya sudah dimulai ketika aku masuk ke lapangan dan waktu itu Herbet/Mahut sudah mengontrol momentuk di babak pertama. Mereka dengan cepat memenanginya 6–2.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut mengontrol babak pertama.

Babak keduanya lebih kompetitif dan seru. Kedua tim bermain seimbang hingga pertengahan set. Setelah game servis yang buruk dari Marach, Herbet/Mahut mendapatkan momentum dari patahnya servis Marach. Tapi kemudian datanglah giliran Mahut untuk memainkan game servis yang buruk dan pertandingannya kembali seimbang. Tapi Marach/Pavic memanfaatkan momentum ini dan berhasil mendapatkan beberapa set point untuk mereka. Herbert/Mahut berjuang keras menyelamatkan set point-set point tersebut dan berhasil memaksakan tiebreak untuk dimainkan di akhir set kedua. Herbet/Mahut memainkan tiebreak yang baik dimana mereka langsung mengambil kontrolnya. Pada akhirnya mereka menang 6–2, 7–6(4) dan mendapatkan gelar Roland Garros pertama mereka.

Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut memenangi ganda putra di Roland Garros 2018

Ini adalah hari yang baik untuk orang Prancis, tentunya. Penonton menyanyikan lagu nasional Prancis di upacara pemberian pialanya juga.

Dengan pertandingan terakhir selesai dimainkan; sudah waktunya untukku pulang juga. Dan ya, aku baru saja menghabiskan satu hari yang seru di Roland Garros!

EuroTrip, Tennis, Vacation, Weekend Trip

#2121 – A Tennis Weekend Story

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

So the main draw of this year’s French Open started about two weeks ago, which means this weekend was, finally, the time for my annual trip to Paris for the tournament this year. Yeay!! 😀

At Court Philippe Chatrier again this year

As my ticket this year was for Philippe Chatrier on Saturday, I would get the women’s singles final and men’s doubles final. The “fun” thing was that these two events were, perhaps, the most “unpredictable” ones of all based on the current dynamic of professional tennis. In other words, when the tournament started it was very difficult to predict which players I would watch in both finals! Haha 😆 .

At last Simona Halep won a grandslam title!

In the end, it turned out the current world no.1, Simona Halep, and the reigning US Open champion, Sloane Stephens, made the women’s singles final. And the teams of Pierre-Hugues Herbet/Nicolas Mahut and Oliver Marach/Mate Pavic made the men’s doubles final. So it turned out both matches would be very interesting, and I was excited for these! 😀

Anyway, how was Paris? Well, I didn’t have a lot of time to spend in the city itself, but it was beautiful as always! Haha.

This year I visited Notre Dame in Paris

Btw, as I mentioned before, since the beginning I already knew that I would like to fly for this year’s trip to Paris. And of course I would like to, as much as possible, avoid direct return flights! Haha 😆 . And so I made myself the following routing:

My routing this weekend. From gcmap.com

Haha 😛 . Yep, I was back in Toulouse (Airport) for the first time since 2012! 😛 There was actually another routing with cheaper fare which also was more interesting as it (1) involved an airport I had never used before (Clermont-Ferrand); (2) involved a flight with an airline I had never flown before (Trade Air, which was leased by Air France this summer); and (3) involved a Fokker 100, which would have been my first time flying this type in the 21st century (As a kid, I had flown this type with Sempati Air, haha). But this routing only spared a 25 minutes of transfer tim at Clermont-Ferrand, which was really tight and I was not comfortable with. And so I decided to set aside this otherwise fun routing.

Anyway, so yeah, my weekend was fun! 😀 As usual, here are some teasers from the trip:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Jadi babak utama turnamen tenis French Open tahun ini dimulai sekitar dua minggu yang lalu, yang mana berarti, akhirnya, akhir pekan kemarin adalah waktunya untuk perjalanan tahunanku ke Paris untuk turnamen ini tahun ini. Hore!! 😀

Di Lapangan Philippe Chatrier lagi tahun ini.

Karena tiketku tahun ini adalah Philippe Chatrier di hari Sabtu, aku akan mendapatkan pertandingan final tunggal putri dan final ganda putra. “Keseruan” dari dua pertandingan ini adalah dua events ini adalah yang paling “sulit diprediksi” dari semua events yang dimainkan berdasarkan dinamika dunia tenis profesional saat ini. Dengan kata lain, sebelum turnamen ini dimulai, sulit sekali untuk memprediksikan siapa yang akan aku tonton di kedua final! Haha 😆 .

Akhirnya Simona Halep menjuarai gelar grandslam juga!

Pada akhirnya, petenis yang saat ini menduduki peringkat 1 dunia, Simona Halep, dan juara bertahan US Open tahun lalu, Sloane Stephens, masuk final tunggal putri. Dan Pierre-Hugues Herbert/Nicolas Mahut dan Oliver Marach/Mate Pavic memasuki final ganda putra. Jadi ternyata kedua pertandingannya akan menjadi pertandingan yang sangat menarik, dan aku merasa sangat excited untuk menonton keduanya!

Anyway, Parisnya sendiri bagaimana? Ya, nggak banyak sih waktu yang bisa aku habiskan di kotanya ini sendiri, tetapi kotanya masih indah kok seperti biasanya! Haha.

Tahun ini aku mengunjungi Notre Dame di Paris

Btw, seperti yang aku sebutkan sebelumnya, sejak awal untuk tahun ini aku sudah tahu aku akan naik pesawat untuk pergi ke Paris. Dan tentu saja sedapat mungkin aku menhindari penerbangan pp kan ya! Haha 😆 . Dan jadilah pada akhirnya aku memilih rute berikut ini:

Ruteku akhir pekan ini. Dari gcmap.com

Haha 😛 . Iya, akhirnya aku kembali juga di (Bandara) Toulouse untuk pertama kalinya semenjak 2012! 😛 Sebenarnya ada rute lain dengan harga tiket yang lebih murah dan lebih menarik sih karena (1) melibatkan bandara baru yang belum pernah aku lalui sebelumnya (Clermont-Ferrand); (2) melibatkan satu penerbangan dengan maskapai baru yang belum pernah aku terbangi sebelumnya (Trade Air, yang mana disewa oleh Air France musim panas ini); dan (3) melibatkan pesawat Fokker 100, yang mana akan menjadi kali pertama aku terbang dengan pesawat ini lagi di abad ke-21 (Sewaktu kecil aku pernah terbang dengan pesawat ini dengan maskapai Sempati Air, haha). Namun dengan rute ini, waktu transitku di Clermont-Ferrand hanya lah 25 menit, yang mana mepet banget dan membuatku tidak merasa sreg dengannya. Jadilah rute yang sebenarnya menarik ini aku kesampingkan.

Anyway, jadi ya gitu deh, akhir pekanku kemarin ini seru banget! Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini.

EuroTrip, Tennis, Vacation, Weekend Trip

#2081 – This Year’s Annual Trip to Paris

ENGLISH

Every year since 2012, I always arrange a trip to Paris to watch the French Open (Roland Garros) tennis tournament. This year, obviously, is no difference.

Earlier this week the tickets for this year’s tournament was sold to the general public. Of course I had marked this date since months before (lol) and scheduled my working day accordingly 😀 .

As usual since 2015, the ticketing website was scheduled to be opened at 10 AM so I had been prepared in front of my screen since minutes before that, haha 😆 . However when the clocked striked 10, I had a similar encounter as last year where I got a “502 Bad Gateway” error message when trying to access the website. At least it wasn’t as bad as last year, as I finally established the access about two minutes later. But this meant that my position in the queue was not nearly as great as two years ago, as this year I was:

My position in the queue this year

Yep, the 12,545th person in it, haha. However, the queue went much faster than last year, though; as I got to the front of the line in only a little over half an hour (compared to last year’s 2+ hours after being place 35,476th).

Anyway, originally I had a plan to visit the tournament during the middle weekend, when the 3rd and 4th round stages of the tournament. This would be a change after going only for the finals in the last three years (Thus witnessing Serena Williams, Garbine Muguruza, Novak Djokovic, and Jelena Ostapenko won the singles titles). There would be more matches in the middle weekend, as more players would still be “alive” in the tournament.

However, I quickly realized that the tickets for the middle week were much higher than I anticipated, haha. Under the usual circumstances, this would not have been that problematic to me, though. However, considering that I would have another big trip planned for later in the year, I felt like it would actually be better and more optimal if I … would go for the women’s singles final again this year! Haha 😆 .

At Court Philippe Chatrier last year

Yeah, so exciting! Though with the current state of women’s tennis, it is very difficult to predict which two players I would watch in this year’s final. At least, Serena Williams is in the mix after her maternity leave which caused her to miss last year’s tournament 😀 .

I haven’t fully finalized the trip yet, btw, even though I have booked a hotel. Having said that, I have decided that this year I will, unsurprisingly, just fly to Paris, haha. It is just that I haven’t found an exciting return flight combination yet so I am still playing the wait and see game at the moment, haha 😀 .

Anyway, yeah, this is exciting!! 😀

BAHASA INDONESIA

Setiap tahun semenjak tahun 2012, aku selalu membuat perjalanan ke Paris untuk menonton turnamen tenis French Open (Roland Garros). Nah, tahun ini juga jelas sama dong ya.

Awal minggu ini tiket untuk edisi tahun ini dari turnamennya mulai dijual untuk umum. Tentu saja tanggal ini sudah kutandai semenjak berbulan-bulan yang lalu (haha) dan jadwal kerjaku kemarin juga sudah kususun untuk menyesuaikan dengannya 😀 .

Seperti biasa semenjak 2015, tiketnya dijadwalkan untuk mulai dijual jam 10 pagi dan jadilah semenjak beberapa menit sebelumnya aku sudah duduk siap di depan layar komputer, haha 😆 . Namun, ketika jam tepat menunjukkan pukul 10, aku mendapati situasi yang mirip seperti tahun lalu dimana aku mendapatkan pesan error “502 Bad Gateway” ketika mencoba mengakses website-nya. Setidaknya masalahnya tidak separah tahun lalu, dimana aku berhasil mendapatkan akses sekitar dua menit kemudian. Tetapi ini artinya posisiku di antriannya tidak semengasyikkan dua tahun yang lalu deh, karena kali ini:

Nomor antrianku tahun ini

Yep, aku adalah orang ke 12.545 di antriannya, haha. Namun, antriannya bergerak dengan cepat sih untungnya; dimana aku sampai di depan antrian dalam waktu setengah jam lebih sedikit saja (nggak seperti tahun lalu yang mana aku harus menunggu 2 jam lebih setelah berada di posisi 35.476 di antriannya).

Anyway, awalnya aku berencana untuk mengunjungi turnamen ini di middle weekend, di babak ketiga dan keempat turnamennya. Ya kan supaya ada pergantian suasana begitu ya setelah hanya pergi ke finalnya sama selama tiga tahun belakangan (Yang mana membuatku menyaksikan Serena Williams, Garbine Muguruza, Novak Djokovic, dan Jelena Ostapenko memenangi gelar tunggalnya). Di middle weekend, ada lebih banyak pertandingan yang dimainkan karena bakal ada lebih banyak petenis yang masih “hidup” di turnamennya.

Namun, aku amati ternyata harga tiket untuk middle week itu lebih mahal daripada sangkaanku, haha. Sebenarnya ini nggak begitu masalah sih. Namun, dengan mempertimbangkan rencana perjalanan besar berikutnya di paruh kedua tahun ini nanti, aku merasa akan lebih baik dan optimal jika … aku pergi untuk menonton final tunggal putri lagi tahun ini! Haha 😆 .

Di Court Philippe Chatrier tahun lalu

Iya, seru deh! Walaupun sulit sekali sih untuk memprediksi tenis putri sekarang. Sulit untuk memprediksi siapa dua pemain yang akan kutonton di final tahun ini. Setidaknya, Serena Williams termasuk di dalamnya lah setelah “cuti” hamil yang menyebabkannya melewatkan turnamen ini tahun lalu 😀 .

Perjalanan kali ini belum aku finalisasi sih, walaupun aku sudah booking hotel. Walaupun begitu, aku sudah memutuskan bahwa tahun ini, tidak mengherankan tentunya, aku ingin naik pesawat untuk pergi ke Parisnya. Hanya saja aku belum menemukan kombinasi pp yang seru nih sehingga aku masih wait and see saat ini, haha 😀 .

Anyway, ini akan menjadi perjalanan yang seru!! 😀

EuroTrip, Trip Report, Vacation, Weekend Trip

#1946 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part III: Thalys and Paris)

ENGLISH

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Thalys First Class

Aside from, obviously, the tennis tournament, one thing I was excited about this trip was how to get (and back from) to Paris, as I was travelling First Class with the high-speed train, Thalys.

A Thalys high-speed train at Gare Du Nord

I went straight from work to Amsterdam Centraal Station, well ahead of the departure because I was curious with the NS International Lounge which I could, of course, access with my ticket. In short, the lounge was underwhelming. While it was nice to be able to sit on a comfortable sofa while waiting for the train, that was pretty much it. Each person was only entitled to one serving of non-alcoholic drink as the service (They served alcohols (beers, wines) but were not free of charge). So the next time I travel first class, I wouldn’t bother to arrive at the station early just for the lounge, haha.

NS International Lounge at Amsterdam Centraal

Thalys arranges a 1-2 seat configuration in their First Class coaches (and 2-2 in Second Class). Upon booking, obviously I chose the “1” seat as it was a window AND aisle seat at the same time. My favorite kind of seat! Haha 😆 . The seat itself was quite comfortable. While it couldn’t be turned into a “flat” seat, who would need a flat seat anyway on a max. 3.5 hours train ride? Each seat also had an electric socket and each passenger was allowed to a 100 Mb complimentary data package, which was quite generous IMO.

On board Thalys’ First Class coach

There were a light snack and a dinner service on my outbound trip and a lunch service on my inbound trip. The heavy meal was served between Brussels and Paris. It made sense, as this was the longest leg and appeared to be the busiest one too. Overall, though, the meal service was just okay; pretty much similar to what you could expect on economy class long-haul flights with full service airlines. Though, this was certainly better than Second Class because nothing was served there, haha. What stood out, for me was that they served rosé wine as one option for the drinks! 😀

The dinner service on board Thalys’ First Class to Paris. The soft cheese was really good!!

From my observation, the crews appeared to be “mixed” in terms of their level of service. Some were really good and attentive, some others were not really.

Anyway, travelling with a high-speed train was always fun! Especially when travelling at full speed next to a highway, just like this:

Yep, at approximately 300 km/hour, obviously those cars in the highway were so “slow”, haha. And yep, the ride was super smooth.

Paris and French Food

Arriving on Friday evening, spending the entire Saturday at Stade Roland Garros, and leaving on Sunday at around noon meant that I did not have any time to explore Paris. Well, to be honest I did not mind at all because I have been to Paris a few times before, haha.

Though, I still managed to stop by at Louvre for my Paris selfie this year 😛

Another aspect of Paris that I really loved was, obviously, the food!!

The positive side of the, rather, underwhelming dinner service on board the Thalys ride to Paris was that I was still quite hungry upon arrival. So I went to a restaurant and ordered my must-have dish everytime I went to Paris: confit de canard! Haha 😆 . This confit de canard was not the best one, but I liked it much better than the one I had last year which did not come with any salad, haha.

My must-have dish every time I am in Paris: confit de canard

After my visit to Roland Garros, I went to my favorite restaurant nearby and ordered an escalope de veau. Actually I ordered this dish there every year, haha. Another dish which I had was bavette boeuf. Well, what can I say, French food never disappoints!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Thalys First Class

Di samping, jelas, turnamen tenisnya, satu hal lain yang aku tunggu-tunggu dari perjalanan ini mode transportasiku pergi ke (dan kembali dari) Paris, karena aku akan naik First Class-nya kereta super cepat, Thalys.

Kereta super cepat Thalys di Gare Du Nord

Aku langsung pergi ke Stasiun Amsterdam Centraal sepulang kerja, cukup lama sebelum waktu keberangkatan karena aku penasaran dengan Lounge Internasionalnya NS di sana yang bisa kuakses dengan tiketku. Secara singkat, lounge-nya ternyata underwhelming. Memang sih enak bisa menunggu sambil duduk-duduk di sofa yang nyaman, tetapi ya sudah itu aja. Setiap pengunjung hanya mendapatkan jatah satu minuman non-alkohol (Mereka juga menyediakan minuman beralkohol tetapi tidak cuma-cuma). Jadi lain kali ketika aku naik First Class lagi, aku nggak akan membela-belain diri datang awal hanya untuk lounge-nya deh, haha.

NS International Lounge di Amsterdam Centraal

Susunan kursi di First Class-nya Thalys adalah 1-2 (sementara 2-2 di Second Class). Ketika memesan tiket, jelas dong aku memilih kursi “1” karena ini adalah kursi window DAN aisle pada saat yang bersamaan. Kursi favoritku nih yang begini! Haha 😆 . Kursinya sendiri cukup nyaman. Memang sih nggak bisa dibuat menjadi kursi “rata”, tetapi siapa juga yang membutuhkan kursi rata di perjalanan maksimal 3,5 jam-an aja kan? Setiap kursi juga dilengkapi dengan colokan listrik dan setiap penumpang mendapatkan paket data 100 Mb secara cuma-cuma, lumayan sih menurutku.

Di dalam gerbong First Class-nya Thalys

Ada layanan snack ringan dan makan malam di perjalanan keberangkatanku dan layanan makan siang di perjalanan kepulangan. Layanan makan beratnya selalu disajikan di antara Brussels dan Paris. Masuk akal sih, karena ini adalah bagian terpanjang dan yang, nampaknya, paling ramai juga. Secara umum, untukku layanan makanannya biasa saja deh; kurang lebih seperti apa yang kita dapatkan di penerbangan jarak jauh di kelas ekonomi dengan maskapai full-service. Walaupun begitu, ini sudah lebih baik daripada Second Class sih karena di sana kan nggak diberikan apa-apa ya, haha. Yang asyik adalah, mereka menyediakan rosé wine sebagai salah satu pilihan minumannya! 😀

Layanan makan malam di First Classnya Thalys ke Paris. Kejunya enak banget!!

Sepengamatanku, krunya sendiri “campur-campur” dalam hal level pelayanannya. Beberapa sangat baik dan perhatian, sementara yang lainnya kurang begitu baik.

Anyway, naik kereta super cepat itu selalu seru loh! Terutama ketika keretanya sedang bergerak dengan kecepatan penuh di sebelah sebuah jalan tol, seperti berikut ini:

Yup, dengan kecepatan sekitar 300 km/jam, jelas dong ya itu mobil-mobil di jalan tol pada disalipin dengan mudah saking “pelan”-nya, haha. Dan iya, keretanya memang mulus banget.

Paris dan Masakan Prancis

Tiba di Jumat malam, seharian di Stade Roland Garros di hari Sabtu, dan pulang di tengah hari Minggu, artinya memang aku tidak memiliki waktu untuk jalan-jalan di Paris. Yah, sejujurnya sih aku tidak masalah dengan itu karena toh aku sudah pernah ke Paris beberapa kali sebelumnya, haha.

Walaupun begitu, aku masih menyempatkan diri mampir di Louvre untuk Paris selfie-ku tahun ini 😛 .

Satu aspek lain dari Paris yang aku suka adalah, jelas, makanannya!!

Sisi positif dari layanan makan malam yang agak mengecewakan di perjalanan dengan Thalys ke Paris adalah aku masih merasa cukup lapar ketika tiba di sana. Jadilah aku mencari restoran yang menyajikan masakan yang harus aku makan setiap kali aku ke Paris: confit de canard! Haha 😆 . Confit de canard yang ini bukan lah yang paling enak yang pernah kumakan sih, tetapi aku masih lebih menyukainya daripada yang kudapatkan tahun lalu yang nggak ada saladnya dong, haha.

Masakan yang harus selalu kupesan setiap kali ke Paris: confit de canard

Setelah kunjunganku ke Roland Garros, aku pergi ke restoran favoritku di dekat sana dan memesan escalope de veau. Sebenarnya aku selalu memesan masakan ini sih setiap kali di sana, haha. Satu masakan lain yang kupesan adalah bavette boeuf. Ah, yang namanya masakan Prancis mah memang nggak pernah mengecewakan!

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#1937 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Introduction)

ENGLISH

So you know, in the last three weeks I had three weekend trips in three consecutive weekends: Lyon, then Bremen, then Paris, haha. So I was thinking of wrapping these three trips under one “theme”, and what I came up with was “Early Summer 2017 Weekend TripS” series 😛 .

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Having three consecutive weekend trips was actually unintentional, though it was situational so it probably was not all that coincidental, haha.

Lion selfie in Lyon

You see, the few public holidays in the Netherlands are not uniformly spread throughout the year; and most of them fall in between April and May. And as I like to make use of them for some short trips, this results in several trips within a short period of time, haha. And the fact that the French Open is always held at the end of May/early June definitely plays a factor too 😛 .

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

Two of the three trips were driven by good flight deals that I found. Well, also because Lyon was a nice city and I had never been to Bremen. Also for Bremen, my flight back from there would be with a Fokker 70, which KLM is retiring by the end of this year. So gotta catch them while I can!!

Back at Court Philippe Chatrier this year

I have to say, though, that it is also quite tiring, haha. I am taking a rest now and have no travelling plan (as of yet) in the coming a few weeks 😛 . Though, who knows if I decide to change my mind soon too! Hahaha 😛 .

BAHASA INDONESIA

Pada sudah baca kan, tiga minggu belakangan ini aku baru saja pergi dalam tiga perjalanan akhir pekan di tiga akhir pekan berturutan: Lyon, lalu Bremen, lalu Paris, haha. Nah jadilah aku berkeinginan untuk memberikan sebuah “tema” untuk tiga perjalanan ini, dan yang kepikiran adalah seri “Early Summer 2017 Weekend TripS” 😛 .

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Tiga perjalanan akhir pekan yang berturutan sebenarnya terjadi tidak sengaja, walaupun ini juga dikarenakan situasi sih sehingga mungkin bukan lah kebetulan juga, haha.

Lion selfie di Lyon

Jadi tanggal merah di Belanda (yang sedikit itu) tidak tersebar merata di sepanjang tahun; dan kebanyakan jatuh di bulan April dan Mei. Dan karena aku suka memanfaatkannya untuk acara jalan-jalan, ini berakibat pada beberapa perjalanan dalam periode waktu yang singkat, haha. Dan French Open yang selalu diadakan di akhir Mei/awal Juni juga tentu berkontribusi juga 😛 .

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

Dua dari tiga perjalanan ini didasari oleh tiket promo yang aku temukan. Dan juga karena memang Lyon adalah kota yang indah dan aku belum pernah ke Bremen sebelumnya sih. Dan untuk Bremen, penerbanganku kembali dari sana dioperasikan dengan pesawat Fokker 70, yang mana akan dipensiunkan KLM di paruh kedua tahun ini. Jadi aku harus menerbanginya selagi bisa kan ya!!

Kembali lagi di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini

Harus diakui sih, ini cukup melelahkan juga, haha. Sekarang aku beristirahat saja deh dan tidak memiliki rencana jalan-jalan dalam beberapa (nggak banyak sih) minggu ke depan 😛 . Eh, tapi nggak tahu juga sih siapa tahu aku berubah pikiran! Haha 😛 .

EuroTrip, Tennis, Vacation, Weekend Trip

#1935 – A Roland Garros Weekend Trip

ENGLISH

After going to Lyon two weekends ago and Bremen last weekend, this weekend I went on another weekend trip, hoho 😆 . Yep, three weekend trips on three consecutive weekends!! Woohoo!!

As my Instagram followers (@azilko) would have known, this weekend was the time for my annual Roland Garros trip this year. Yep, indeed I went to Paris 🙂 .

At Court Philippe Chatrier this year

As I shared in April, though, I was less excited for the trip this year (this does not mean I was not excited, I still was, overall, of course!) because of Serena Williams’ withdrawal due to her pregnancy. And so the women’s singles field this year, which final was the main attraction of my trip, was probably the most “open” in recent years with no clear favorite.

Nonetheless, it turned out to still be very fun! The atmosphere of a grandslam tournament was, indeed, one of a kind. Even though Venus Williams did not reach the final (it was not that expected, anyway, as clay was clearly her least favorite surface), the field turned out to still be interesting. In the end, the final was between an unseeded player (because of her 47th ranking), Jelena Ostapenko, and the third seed, Simona Halep, who would ascend to world number 1 if she would win the final! Exciting, wasn’t it?

Jelena Ostapenko won her first singles title ever, and it was Roland Garros

As you might have known by this point, Jelena Ostapenko ended up winning the title! More importantly for me, the final match was such a close match between two players with very different style (Ostapenko with her hyper aggressive game and Halep with her defensive game) and different level of experience (Ostapenko’s highest ranking was 33rd while Halep is a seasonal top 5 players in the last three years or so). To add even more drama, Ostapenko was down 0–3 and 1–3 in the second and third set before, somehow, turned it around and won! Moreover, this was Ostapenko’s first ever singles title. How amazing that it was a grandslam!

Paris selfie this year at Louvre

Anyway, Paris itself was a beautiful city, even though I did not have any time to spend in the city itself. Plus, I was really looking forward to my first class train travels with Thalys to get to and back from there, haha.

Yeah, so overall this was another fun weekend for me. And so understandably now I feel quite tired too 😛 . As usual, here are a few teasers from the trip.

BAHASA INDONESIA

Setelah pergi ke Lyon dua akhir pekan yang lalu dan ke Bremen akhir pekan kemarin, akhir pekan ini aku pergi dalam sebuah perjalanan lagi loh, hoho 😆 . Iyaaa, tiga perjalanan akhir pekan di tiga akhir pekan berturutan!! Woohoo!!

Seperti yang followers Instagramku (@azilko) ketahui, akhir pekan ini adalah waktunya untuk perjalanan tahunanku ke Roland Garros tahun ini. Yup, aku pergi ke Paris 🙂 .

Di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini

Seperti yang kuceritakan April kemarin, aku sedikit kurang excited untuk perjalanan ini tahun ini (bukan berarti aku tidak excited sih, secara keseluruhan sih jelas masih excited lah!) karena mundurnya Serena Williams akibat kehamilannya. Dan jadilah akibatnya turnamen tunggal putri tahun ini, yang mana babak finalnya adalah atraksi utama perjalananku, mungkin adalah yang paling “terbuka” dalam beberapa tahun belakangan dimana tidak ada satu pemain pun yang benar-benar difavoritkan.

Toh walaupun begitu ternyata perjalanannya masih seru! Atmosfer sebuah turnamen grandslam memang berbeda! Walaupun beneran Venus Williams tidak mencapai babak final (tidak mengherankan sih, karena tanah liat memang bukan permukaan favoritnya Venus), toh draw-nya masih cukup menarik. Pada akhirnya, babak finalnya adalah antara pemain muda yang tidak diunggulkan (karena berperingkat 47), Jelena Ostapenko, melawan unggulan ketiga, Simona Halep, yang akan naik ke peringkat 1 dunia apabila ia menang di final. Seru kan?

Jelena Ostapenko menjuarai gelar tunggal pertamanya, dan ini adalah gelar Roland Garros

Mungkin sudah pada tahu sekarang, Jelena Ostapenko akhirnya keluar sebagai juara! Yang paling penting bagiku, ternyata pertandingan finalnya berlangsung seru banget! Pertandingan ini dimainkan oleh dua pemain dengan gaya permainan berbeda (Ostapenko dengan gaya hiper agresifnya sementara Halep dengan gaya defensifnya) dan level pengalaman yang berbeda (peringkat tertinggi Ostapenko sebelum ini adalah 33, sementara Halep konsisten berada di 5 besar selama tiga tahunan terakhir). Lebih dramatisnya lagi, Ostapenko tertinggal 0–3 dan 1–3 di set kedua dan ketiga loh sebelum, entah bagaimana, membalikkan posisi dan menang! Lebih keren lagi, ini adalah gelar tunggal pertamanya Ostapenko. Keren banget kan gelar pertamanya adalah gelar grandslam!

Paris selfie tahun ini di Museum Louvre

Ngomong-ngomong, jelas Paris adalah kota yang indah, walaupun aku tidak memiliki waktu untuk jalan-jalan di kotanya sendiri sih. Plus, aku sungguh excited dengan perjalananku dengan kereta super cepat Thalys di first class, haha.

Iya, jadi secara keseluruhan akhir pekan ini adalah akhir pekan yang seru lagi untukku. Dan tentu aku juga merasa capek sih, haha 😛 . Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa teasers dari perjalanan ini.