#2126 – A Tennis Racket Story

ENGLISH

During my tennis lesson last week, this happened:

A broken tennis racket string

Yep, for the first time ever since I picked up a tennis racket, I had a broke string during play! Haha ๐Ÿ˜† . Thankfully it was during a tennis lesson so I could borrow a racket from the coach for the reminder of the session. Even though of course it wasn’t “optimal” for my game because, you know, every tennis player was accustomed to a certain “feel” of the racket (the grip, the stringing tension, the racket surface size, the presence of a damper, etc). And so it was unlikely that a borrowed racket would be a perfect match to one’s “feel”. But this was, of course, a much better situation than not having a racket to play tennis, haha ๐Ÿ˜› .

Anyway, I bought this racket in October 2015. Actually the racket still felt fine up to last week’s lesson, as since I started working in Amsterdam I haven’t been able to play as often as like when I was still in the university; so the racket hadn’t been *that* worn out. So this made me think that perhaps broken string had little to do with the “weariness” of a racket, haha.

Though, I’m not sure about Agnieszka Radwanska’s racket here ๐Ÿ˜†

This experience made me feel like a “professional player” though, in a way, who quite often had a broken string while playing a match! (Actually I had wondered why I had not had a broken string as I had played for years, whereas it felt like at least in one of two or three professional matches that I watched a string of one of the players’ rackets broke, haha).

Anyway so of course I could have had the racket restrung. But my last experience with racket restringing wasn’t the bestest one. At the time I felt like the string tension after restringing wasn’t the same and it didn’t “feel” right. Okay, a logical explanation for that was perhaps the tension was “wrong”.ย However, as Barney Stinson said…

and so I decided to just go with the easiest option and buy a new racket, haha ๐Ÿ˜› .

I went to a store in Amsterdam Centrum after work on Friday, though before that I already browsed for some options at an online tennis store. I knew that I would like a Wilson racket because Wilson was the brand the Williams sisters used, lol ๐Ÿ˜› (#truefans). I almost bought one at the store, but then I didn’t because at the very last second I decided to choose the model I had seen earlier online: the Blade 104 model used by Venus Williams, haha ๐Ÿ™ˆ. The store in Amsterdam didn’t have this particular model in stock at the time. And yesterday, my new racket was delivered to me ๐Ÿ˜€ . Btw, the nice thing about this online store was that they were able to customize the string too to my own specification! ๐Ÿ™‚

My new Wilson Blade 104 tennis racket

BAHASA INDONESIA

Di les tenisku minggu lalu, ini terjadi:

Senar raket tenis yang putus

Iya dong, untuk pertama kalinya semenjak aku mulai bermain tenis, aku mengalami yang namanya senar raketnya putus ketika aku bermain! Haha ๐Ÿ˜† . Untungnya kejadiannya adalah ketika les sih sehingga aku bisa meminjam raket dari pelatihnya untuk sisa dari sesi les kali itu. Walaupun jelas ini nggak “optimal” karena setiap pemain itu memiliki “feeling“-nya sendiri dengan raketnya (pegangannya, tegangan senarnya, luas permukaan raketnya, apakah pakai damper atau tidak, dll). Dan jadilah raket pinjaman itu seringnya tidak memiliki “feel” yang pas banget dengan kita. Ah, tapi ini adalah situasi yang lebih baik ya daripada main tenis tapi nggak punya raketnya, iya kan, haha ๐Ÿ˜› .

Anyway, raket ini aku beli di bulan Oktober 2015. Sebenarnya raketnya masih baik-baik saja kok sampai sesi les minggu lalu itu, karena toh semenjak aku mulai bekerja di Amsterdamย aku tidak bisa bermain tenis sesering dulu ketika masih di universitas; jadilah raketnya masih belum se-“usang” itu. Ini membuatku berpikir mungkin yang namanya senar yang putus itu tidak ada hubungannya dengan “keusangan” sebuah raket, haha.

Eh tapi kalau apa yang terjadi dengan raketnya Agnieszka Radwanska ini aku nggak tahu juga sih, haha ๐Ÿ˜†

Pengalaman ini membuatku merasa seperti “petenis profesional” nih, di satu sisi, yang mana nampak sering mengalami kejadian senar putus ketika bermain suatu pertandingan! (Sebenarnya sempat terpikirkan olehku lho mengapa kok aku tidak pernah mengalami senar raket tenis yang putus padahal aku sudah main tenis bertahun-tahun, sementara rasanya setidaknya di satu dari dua atau tiga pertandingan profesional yang aku tonton, senar dari salah satu raket yang digunakan pemainnya itu putus, haha).

Anywayย jelas sebenarnya bisa saja raketku di-restring. Tapi pengalaman terakhirku dengan me-restring raketkuย ternyata bukan pengalaman yang terbaik. Maksudnya, waktu itu rasanya tegangan senarnya setelah di-restring nggak sama sehingga “feel” raketnya rasanya jadi aneh gitu. Iya, iya, penjelasan logisnya adalah kemungkinan besar memang tegangannya aja yang waktu itu “salah”. Tapi, seperti katanya Barney Stinson kan…

dan jadilah aku memutuskan mengambil pilihan yang mudah aja dan membeli raket tenis baru, haha ๐Ÿ˜› .

Aku pergi ke sebuah toko peralatan olahraga di Amsterdam Centrum sepulang kerja di hari Jumat; eh tapi sebelumnya aku sudah mengecek satu toko online juga sih. Aku sih sudah tahu aku akan membeli raketnya Wilson lagi karena merk ini adalah merk yang dipakai Williams bersaudari, haha ๐Ÿ˜› (#truefans). Aku nyaris membeli satu raket di tokonya, tapi kemudian last minute aku membatalkan niatan itu karena aku memutuskan untuk membeli model yang sudah aku lihat di internet sebelumnya: model Blade 104ย yang dipakai oleh Venus Williams, haha ๐Ÿ™ˆ. Btw tokonya di centrum pas kebetulan tidak memiliki stok model yang ini waktu itu.ย Dan kemarin, raket baruku akhirnya tiba di tanganku ๐Ÿ˜€ . Btw, asyiknya toko online ini adalah mereka bisa meng-customize string-nya sesuai dengan spesifikasi yang aku inginkan lho! ๐Ÿ™‚

Raket tenis Wilson Blade 104 baruku

Advertisements

#2120 – Photo Tales (47)

ENGLISH

The theme of this edition of Photo Tales post is new(-ish) things which I just bought recently.

Photo #102

A new mp3 player

On my way to Munich for a weekend trip back in April, I had a problem with my mp3 player which, at the time, I thought was the usual earphone problem (where suddenly one of the two speakers did not work anymore); as it had been awhile since the last time I bought the earphone. So at Schiphol I decided to buy a new earphone which, at first, appeared to fix the problem. And so my trip and life moved on as usual…

But then at one point in Munich, the same problem reappeared! I found it strange and highly unlikely that I just bought a defect earphone, which would lead to the conclusion that the problem was in the mp3 player itself, not the earphone. And so once I was back in the Netherlands, I decided to order online a new mp3 player, which was delivered to me the day after. This time, thankfully I was correct as this solved the problem.

As a side note, I was slightly annoyed that I just wasted a perfectly-fine earphone (and some money for a new one, which apparently I hadn’t yet needed at the time). But well, what could I do? Haha…

Photo #103

Two new airplane models, an Air France’s A320-200 F-GKXU and A380-800 F-HPJA

In May, I decided to add two new plane models to my collection. This time, I got myself an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXU (which I have flown once last year) and an Air France’s Airbus A380-800 reg F-HPJA.

Initially, I was actually eyeing on the A320-200 model only. But then upon placing my order, I decided to add the (much more expensive) A380-800 model as well, haha ๐Ÿ˜† . I am happy with both products ๐Ÿ™‚ .

BAHASA INDONESIA

Tema posting Photo Tales kali ini adalah barang-barang baru yang belum lama ini aku beli.

Foto #102

Sebuah mp3 player baru

Di perjalananku keย Munich untuk sebuah perjalanan akhir pekan April kemarin, aku mendapatkan masalah dengan mp3 playerku yang, waktu itu, aku kira adalah masalah earphone seperti biasanya (dimana salah satu speaker-nya tiba-tiba mati); karena memang sudah lumayan lama earphone ini aku beli. Jadilah di Schiphol aku membeli earphone baru yang, awalnya, nampak memecahkan masalah ini. Jadilah perjalanan dan hidupku move on seperti biasanya…

Tapi kemudian di Munich, masalah yang sama muncul kembali dong! Aku merasa aneh dan sepertinya nyaris mustahil bahwa earphone yang baru saja aku beli itu produk yang cacat, yang mana ini berarti kemungkinan besar masalahnya justru berada di mp3 player-nya itu sendiri, bukan di earphone-nya. Jadilah sekembalinya aku di Belanda, aku memutuskan untuk membeli online mp3 player yang baru, yang diantarkan sehari kemudian. Kali ini, untungnya diagnosaku benar karena masalahnya terpecahkan.

Sebagai catatan samping nih, agak sedikit sebal juga aku membuang earphone yang sebenarnya masih bagus (dan juga biaya yang kukeluarkan untuk yang baru itu sih, yang mana sebenarnya belum kubutuhkan waktu itu). Tapi ya sudah lah ya, haha…

Foto #103

Dua model pesawat baru, A320-200 F-GKXU dan A380-800 F-HPJAnya Air France

Di bulan Mei kemarin, aku memutuskan untuk membeli dua model pesawat baru untuk koleksiku. Kali ini, aku membeli Airbus A320-200 rego F-GKXU (yang sudah pernah kuterbangi satu kaliย tahun lalu) dan Airbus A380-800 rego F-HPJA. Keduanya milik Air France.

Awalnya, sebenarnya aku hanya berencana membeli model A320-200nya saja. Tapi ketika sedang memesan, aku memutuskan untuk menambahkan model A380-800nya (yang mana jauh lebih mahal) karena sudah sekalian, haha ๐Ÿ˜† . Aku suka dengan kedua produknya kok ๐Ÿ™‚ .

#2085 – A New Camera

ENGLISH

I bought a new pocket camera in July 2016. This purchase was an experiment, to some degree, as I switched to a (big) brand I had never tried before. To be honest, I had high expectation of it because of the brand. Unfortunately, thus far it hasn’t really lived up to it in terms of the photo quality. On top of that, its dimension was slightly larger than all my previous pocket cameras so it wasn’t as practical to hold, haha. Nonetheless, it worked well and so I decided to deal with this “limitation”.

This was all until the end of my weekend trip to Bordeaux.

At the very end of the trip, I stopped by at a toilet at Schiphol after getting off my flight KL1416 from Lyon. I put my camera in my pocket, which turned out to be not that deep. In the toilet booth, my lower arm nudged this pocket and pushed the camera out … into the toilet!

Yep, of all the space in that toilet booth, it decided to fall into the toilet bowl! I mean … talking about luck hereย ๐Ÿ˜…. At least at the time I hadn’t used the toilet so it was still clean, lol ๐Ÿ˜† .

I quickly took it off, took out the battery and also the memory card. Some time later I found out that, thankfully, the memory card was alright. The camera, however, appeared to have a problem with the lenses even though I still could turn it on (after letting it dry, of course).

Then it occurred to me that it was time for, yet, a new camera.

The timing couldn’t be “better” actually. My camera decided to “retire” (or, rather, “killed itself” lol ๐Ÿ˜† ) at the very end of a weekend trip without damaging the memory card. It was also about two weeks before the start ofย my 2018 Spring Trip so there was plenty of time for me to get a new one. I mean, of course this incident wasn’t pleasant; but if it had to happen anyway, I felt like this was one of the better time for it.

Of course, I was looking for another pocket camera as a replacement; because I still felt like this type was the most “optimal” one for me: a good balance between quality and practicality to carry around, haha ๐Ÿ˜† . About the brand, I decided to go back to my previous pocket cameras’ brand: Sony.

I browsed the selection online and at one point I almost purchased one model. But then I hesitated a little bit and did not complete the purchase at the time. About a week later when I was more certain with it, I went back to the online store. It still remembered my previous selection, but for whatever reason the price had been lowered byย โ‚ฌ14, lol ๐Ÿ˜† . This certainly made things easier and I finalized the purchase, haha ๐Ÿ˜† . And one day later, my new camera was delivered to my office.

So yeah, March was quite interesting to me in terms of my electronics. A new power bank and a new pocket camera, lol ๐Ÿ˜† .

BAHASA INDONESIA

Aku membeliย sebuah kamera saku baru di bulan Juli 2016. Pembelian ini adalah sebuah percobaan, di satu sisi, dimana aku mencoba produk sebuah merk (besar) yang belum pernah kugunakan sebelumnya. Sejujurnya, ekspektasiku tinggi karena merknya. Sayangnya, sejauh ini produknya tidak memenuhi ekspektasiku itu dalam hal kualitas foto. Di samping itu, ukuran kameranya sedikit lebih besar daripada kamera-kamera sakuku sebelumnya sehingga pegangannya kurang begitu nyaman, haha. Tetapi biarpun begitu kameranya bekerja dengan baik sih sehingga aku membiasakan dengan “keterbatasan” ini.

Situasi ini bertahan hingga akhir dari perjalanan akhir pekanku ke Bordeaux.

Di penghujung banget perjalanan ini, aku mampir di toilet di Bandara Schiphol setelah turun dari penerbangan KL1416ku dari Lyon. Kameraku aku simpan di kantong jaket, yang mana ternyata kantongnya nggak dalam-dalam amat. Di dalam bilik toiletnya, lenganku menyenggol kantong ini sehingga kameranya terjatuh keluar dan … tercemplung ke dalam toiletnya!

Iya dong ya itu dari semua ruangan di dalam bilik toiletnya, kenapa harus jatuhnya ke dalam jamban toiletnya! Kok bisa sihย ๐Ÿ˜…. Setidaknya waktu itu aku masih belum menggunakan toiletnya sih sehingga masih bersih, haha ๐Ÿ˜† .

Langsung kameranya kuambil, baterainya aku lepas dan juga memory card-nya. Beberapa waktu kemudian, aku cek, untungnya, memory card-nya masih baik-baik saja. Namun, kameranya nampak bermasalah dengan lensanya walaupun sebenarnya masih bisa aku nyalakan (setelah aku keringkan, tentu saja).

Dan langsung lah aku sadar bahwa sudah saatnya untukku membeli kamera baru.

Timingย nggak bisa “lebih baik” daripada ini sih. Kameraku memutuskan untuk “pensiun” (eh, atau “mematikan dirinya sendiri” ya? Haha ๐Ÿ˜† ) di penghujung sebuah perjalanan akhir pekan tanpa merusak memory card-nya. Waktunya juga lah dua minggu sebelum permulaan perjalanan musim semi 2018kuย sehingga aku memiliki banyak waktu untuk mencari penggantinya. Maksudku, jelas lah ya insiden ini tidak menyenangkan; tetapi kalau harus terjadi, waktu kejadiannya adalah termasuk yang paling baik deh ini.

Tentu saja aku juga mencari kamera saku untuk penggantinya; karena aku merasa tipe ini masih lah yang paling “optimal” untukku: seimbang lah antara kualitas dan kepraktisan untuk dibawa-bawa, haha ๐Ÿ˜† . Untuk merk, aku memutuskan untuk kembali ke merk yang sebelumnya saja: Sony.

Aku melihat-lihat produk-produknya online dan di satu waktu nyaris membeli satu model. Tetapi kemudian aku ragu sehingga pembeliannya tidak aku selesaikan. Sekitar seminggu kemudian ketika aku sudah lebih yakin, aku mengecek toko online-nya kembali. Tokonya masih ingat pilihanku sebelumnya dan entah mengapa harga produknya sudah diturunkan โ‚ฌ14 (sekitar Rp 240 ribu) loh, haha ๐Ÿ˜† . Lumayan lah ya. Ini jelas mempermudah untukku membuat keputusannya lah ya dan pembeliannya langsung aku finalisasi, haha ๐Ÿ˜† . Dan sehari kemudian, kameranya diantar ke kantorku.

Jadi, ya, Maret kemarin adalah bulan yang menarik untukku dalam hal barang elektronik. Sebuah power bank baruย dan sebuah kamera saku baru, hahaha ๐Ÿ˜† .

#2076 – A Tale of Power Bank Hunting

ENGLISH

I have previously mentioned that not too long ago I bought a new power bank because my older one was broken; and I had found power bank to be very useful. At the time I wasn’t very happy with it because I found it to be too large and was rather heavy, thus making it quite inconvenient for my travels. Yeah, I bought the product online and it was, indeed, my mistake that I did not carefully check these dimensions; the downside of online shopping, haha. On the other hand it had a lot of capacity and was still well within the allowed range to be brought to a flight cabin.

A new power bank (left) and the old one (right)

However, after some (quick) consideration I decided to return the product because I couldn’t look past the inconvenience of it on my travels .Yeah, the cool thing about purchasing stuffs in the Netherlands is the “cooling off” period where we can return a product we have just bought (and, of course, get a refund)! But of course this is not for all products. This was my first time, ever, returning a product because I changed my mind, though, haha ๐Ÿ˜† . Btw, I bought the power bank from a big electronic store in the Netherlands who had a cooperation with the postal service, so returning the product was free of charge! Haha ๐Ÿ˜€ .

The process went very smoothly, btw. I got a confirmation from the store in about 24 hours that they had received my shipment (Even they bothered to take two pictures of the shipment ๐Ÿ˜…) and that my payment would be fully refunded. Technically the process was much quicker than that as the part which took the most time of that 24 hours was the shipping back, haha ๐Ÿ˜† .ย The refund took place about three working days later where I got it in my credit card account.

But of course at the end of the day I still needed a new power bank; and so I went to the store one day after work (No online shopping this time around! I felt like I needed to touch and see the product first before buying one! Lol ๐Ÿ˜† ). Long story short, I bought one with much smaller capacity but with convenient size and weight to carry around. It actually was roughly similar, dimension-wise, to my old one, haha.

A new(er) power bank (left) and the old one (right)

Thus far, I am quite happy with it!

Yeah, this is the story of me getting a new power bank this monthย ๐Ÿ˜†.

BAHASA INDONESIA

Sudah kuceritakan sebelumnya belum lama ini bahwa aku membeli power bank baru karena yang lamaย rusak; dan sejauh ini aku merasa power bank itu sungguh berguna. Waktu itu aku tidak terlalu puas dengan produk baru ini karena bagiku terasa terlalu besar dan agak berat, sehingga kurang praktis untuk dibawa-bawa ketika jalan-jalan. Iya, barangnya aku beli online dan memang sih salahku aku tidak mengecek dua dimensi ini dengan teliti; ya sisi buruk dari belanja online memang ini, haha. Di sisi lain, sebenarnya produk ini berkapasitas besar banget dan dimensinya masih di dalam batas untuk diperbolehkan dibawa ke kabin pesawat sih.

Power bank baru (kiri) dan yang lama (kanan)

Namun, setelah pertimbangan (kilat), akhirnya aku memutuskan untuk mengembalikan (retur) produk ini karena bagiku ketidak-praktisannya untuk dibawa jalan-jalan itu mengganggu banget. Iya, asyiknya belanja di Belanda adalah adanya periode “cooling off” dimana kita bisa mengembalikan produk yang baru saja kita beli (dan, tentu saja, uangnya dikembalikan)! Eh setahuku ini nggak berlaku untuk semua produk sih tapinya. Biarpun begini, ini adalah pertama kalinya sih aku mengembalikan suatu produk karena aku berubah pikiran, haha ๐Ÿ˜† . Btw, aku membeli power bank-nya dari toko elektronik besar di Belanda yang bekerja-sama dengan layanan pos, sehingga ongkir pengembalian produknya pun gratis loh! Haha ๐Ÿ˜€ .

Proses returnya pun berjalan dengan amat mulus, btw. Aku mendapatkan konfirmasi dari tokonya dalam waktu 24 jam bahwa barangnya sudah mereka terima kembali (Bahkan mereka mengirimkan dua foto barangnya segala loh ๐Ÿ˜…) dan pembayaranku akan dikembalikan penuh. Secara teknis sebenarnya prosesnya jauh lebih cepat daripada itu karena yang memakan waktu paling banyak dari 24 jam itu adalah pengirimannya, haha ๐Ÿ˜† .ย Pengembalian pembayarannya sendiri berlangsung sekitar tiga hari kerja kemudian dimana pembayaranku dikembalikan di akun kartu kreditku.

Tetapi tentu saja ya pada akhirnya toh aku masih membutuhkan power bank baru; jadilah suatu sore aku mampir di tokonya sepulang kerja (Nggak mau belanja online deh kali ini! Aku merasa perlu untuk memegang dan melihat barangnya dulu sebelum membeli! Haha ๐Ÿ˜† ). Singkat cerita, aku membeli satu yang kapasitasnya lebih kecil tetapi ukuran dan beratnya praktis banget untuk dibawa jalan-jalan. Ukurannya kurang lebih sama sih dengan power bank lamaku, haha.

Power bank yang (lebih) baru (kiri) dan yang lama (kanan).

Sejauh ini, aku cukup puas dengannya!

Yak, begini lah ceritaku membeli power bank bulan ini, huahaha ๐Ÿ˜†.

#2074 – “Warm” Temperature and A Power Bank

ENGLISH

Warm, because of the cold!

You know, last week the Netherlands was hit by the Beast from the East where, at one point, the real feel of the temperature was โ€“20ยฐC.

The Beast from the East

In short, it was really, really cold, haha. However, since last week’s Sunday, thankfully the temperature has started to go back to normal; and it helped that the weather has generally been really nice too.

There turns out to be a side effect of that, though. While the Beast from the East only hit Amsterdam for about half a week, apparently it was enough to alter my perception of “cold”. I was really surprised when earlier this week the temperature’s real feel was in the 5ยฐโ€“10ยฐC range, I found it really, really warm! It felt like I did not need my coat! Haha ๐Ÿ˜† . Well, technically, it was 25ยฐโ€“30ยฐ “warmer” than last week so perhaps this was less surprising, but still! Haha ๐Ÿ˜† .

Power bank

Anyway, just before my weekend trip to Nice I realized that my power bank, which I bought in August 2014 in Yogyakarta, was apparently broken. All this time this power bank had been very useful on my (many) trips so I knew I would like and need to buy a new one. I decided to buy one online and earlier this week the product was delivered to me.

A new power bank (left) and the old one (right)

However, I was surprised by its size because it was: huge (and kind of heavy)! To be honest I did not really check the size indeed when placing the order; and so my mistake indeed. And so I checked if a power bank with this specification was allowed in a plane cabin. Luckily, it was still well within the limit and so this was fine, I guess, haha…

BAHASA INDONESIA

Hangat, karena dingin!

Tahu kan, minggu lalu Belanda diterjang oleh Beast from the Eastย dimana, di satu waktu, real feel dari suhu udaranya mencapai โ€“20ยฐC.

The Beast from the East

Singkatnya, waktu itu dingin banget, haha. Namun, untungnya semenjak hari Minggu yang lalu, temperaturnya mulai berangsur kembali ke rentang normal; dan cuaca yang secara umum oke juga membantu banget dah.

Tetapi ternyata ada efek sampingnya juga lho. Walaupun Beast from the East hanya menerjang Amsterdam selama sekitar setengah minggu saja, ternyata ini pun sudah cukup untuk menggeser perspektifku akan yang namanya “dingin”. Aku merasa kaget awal minggu ini ketika merasa bahwa real feel temperatur di rentang 5ยฐโ€“10ยฐC itu terasa hangat banget! Rasanya aku pengen melepas mantel aja dan pakai baju pantai aja deh *lebay*! Haha ๐Ÿ˜† . Yah, secara teknis mah suhu segitu memang 25ยฐโ€“30ยฐ “lebih hangat” daripada minggu lalu sih jadi mungkin ini tidak begitu mengherankan ya! Hahaha ๐Ÿ˜† .

Power bank

Anyway, tepat sebelumย perjalanan akhir pekanku ke Niceย aku baru menyadari bahwa power bank-ku, yangย aku beli di bulan Agustus 2014 di Yogyakarta, ternyata rusak dong. Sejauh ini power bank ini telah berguna sekali di (banyak) perjalanan-perjalananku sehingga aku tahu aku perlu membeli yang baru. Aku memutuskan untuk memesan satu online dan awal minggu ini barangnya diantar.

Sebuah power bank baru (kiri) dan yang lama (kanan)

Namun, aku dikagetkan sekali dengan ukurannya karena rasanya besar sekali (dan agak berat)! Sejujurnya memang sih aku lupa mengecek ukurannya ketika memesan; jadi sebenarnya ini salahku sendiri sih. Jadilah kemudian aku cek apakah power bank dengan ukuran ini diperbolehkan untuk dibawa ke kabin pesawat. Untungnya, spesifikasinya masih berada di dalam batasย limitย yang diizinkan sehingga sebenarnya tidak begitu masalah sih ya, haha…

#2063 – More IKEA Stuffs

ENGLISH

Last year I mentioned my strategy with the furniture for my apartment, where I chose to take it slowly and so I could afford good products without having to blow my budget at once. One side advantage of this strategy was that I had the capacity (in terms of space) to buy things that became needed along the way (As, obviously my need for furniture was not static over time); which also meant that my apartment was not full of stuffs I did not need, haha ๐Ÿ˜† .

My new wall cabinet

Anyway, in the last a few months or so, I realized that one thing has become needed: a bathroom wall cabinet to store my bathroom-related stuffs stock (shampoo, soap, toothpaste, toothbrush, etc). Thus far I stored those in a cabinet in the other room and I realized this was quite inconvenient, haha. And so I decided to browse IKEA’s product, and decided to order one which design I liked. While doing so, I also decided to buy a new hat/coat rack for the hallway because I felt like it was kind of needed for its practicality and to make my hallway looked “busier”, haha. What I liked was that the rack was hanging on the wall, so it did not make the hallway feel uncomfortably “narrower” for people to pass.

And while browsing through IKEA’s online catalogue, I also spotted a cool series of prints of water colour paintings depicting Paris’ Eiffel Tower and New York’s Brooklyn Bridge with cheerful colour. And so I decided to buy the series too!! In terms of colours, it pretty much went along with the print I bought the other day too, I thought. You know, as I said back then I have been looking for things to accessorize my apartment, haha. And this attempt is still not complete yet, btw. And as with my furniture strategy, I choose to take things slowly; though I already have things in mind on what I would like next in terms of these accessories ๐Ÿ˜€ .

Adding pieces of New York and Paris with cheerful mood to my place

Anyway, last week all these stuffs were delivered. And so my Saturday was quite busy assembling the new bathroom cabinet and the hallway hat/coat rack; plus putting the prints on the wall. You know, IKEA’s stuffs were affordable partly because the customers had to assemble the furniture themselves. While it was not that many stuffs that I bought, it was actually still quite tiring, to be honest! Haha ๐Ÿ˜† .

So, yeah, my apartment has just got a little bit “busier”, and I like it! ๐Ÿ™‚

Assembling IKEA’s cabinet

BAHASA INDONESIA

Tahun lalu, kuceritakanย strategiku mengenai mebelย untukย apartemenku, dimana aku memutuskan untuk tidak terburu-buru dalam memenuhi apartemenku sehingga aku mampu untuk membeli produk-produk yang baik tanpa harus membuat budget-ku membengkak parah. Satu keuntungan sampingan dari strategi ini adalah aku jadi memiliki kapasitas (dalam hal ruangan) untuk membeli barang-barang yang kemudian menjadi dibutuhkan sewaktu-waktu (Karena jelas kan kebutuhan kita akan mebel itu tidak statik terhadap waktu); yang mana artinya juga apartemenku tidak jadi penuh oleh barang-barang yang tidak aku butuhkan, haha ๐Ÿ˜† .

Lemari dinding baruku

Anyway, beberapa bulan belakangan ini aku baru menyadari bahwa satu mebel menjadi kubutuhkan: lemari yang digantung di dinding untuk kamar mandi untuk menyimpang barang-barang yang berkaitan dengan kamar mandiku (maksudnya kayak stok shampoo, sabun, sikat gigi, pasta gigi, dll gitu). Sebelum ini, stoknya aku simpan di rak di ruangan lain yang mana baru aku sadar ternyata nggak praktis ya (Menurut ngana? Haha ๐Ÿ˜† ). Dan jadilah aku mulai melihat-lihat katalognya IKEA, dan memutuskan untuk memesan satu yang disainnya aku suka. Sembari melihat-lihat itu, aku juga memutuskan untuk sekalian memesan rak mantel/topi untuk koridor apartemenku karena memang aku butuhkan juga sih untuk kepraktisan dan juga sekalian berfungsi membuat koridornya lebih “ramai”, haha. Yang aku suka, raknya yang model digantung begitu jadi nggak membuat koridornya terasa lebih sempit untuk jalan.

Nah ketika melihat-lihat katalognya itu, kebetulan aku juga melihat seri prints dari lukisan cat airnya Menara Eiffelnya Paris dan Jembatan Brooklyn-nya New York dengan warna yang ceria. Dan jadilah serinya sekalian aku beli!! Dari segi warna, prints ini serasi denganย print yang kapan hari aku beli, menurutku. Masih ingat kan, waktu itu aku ceritakan bahwa aku sedang mencari hal-hal untuk mendekorasi apartemenku gitu, haha. Dan upaya ini masih belum selesai loh. Dan seperti dengan strategiku untuk mebel, aku juga memutuskan untuk santai-santai saja dalam hal ini; walaupun aku sudah ada bayangan sih mengenai apa yang aku inginkan selanjutnya dalam hal dekorasi ๐Ÿ˜€ .

Menambahkan potongan-potongan New York dan Paris dengan mood ceria ke apartemenku

Anyway, minggu lalu semua pesananku ini diantar. Jadilah hari Sabtu kemarin aku sibuk memasang lemari kamar mandi dan rak mantel/topi koridorku itu; ditambah juga menggantung prints-nya di dinding. Ya tahu kan, barang-barangnya IKEA itu harganya cukup terjangkau setengahnya karena customer harus memasang sendiri mebelnya. Walaupun nggak banyak yang aku beli, tetapi ternyata masih cukup melelahkan juga loh sejujurnya! Haha ๐Ÿ˜† .

Jadi, ya, apartemenku sudah menjadi agak “ramean” sedikit nih, dan aku suka! ๐Ÿ™‚

Memasang lemari IKEAku

#1992 – BookWithMatrix

ENGLISH

It is well-known that the best way to know the existenceย of the best flight tickets, especially for long-haul ones for me, is through Google’s itamatrix software. The definition of “best” here can be anything, not just limited to, for instance, the cheapest possible one. For instance, say I want to travel from Amsterdam to Tokyo-Narita and my definition of “best” is: “the cheapest one with a SkyTeam airline with transits in Paris and Shanghai but not in Seoul with no transit longer than four hours and no overnight stops, on subclass L or N, and no flight with a propeller plane” on my departure flight and “the cheapest one with a SkyTeam airline with transit Seoul but not Rome with no transit longer than four hours, on subclass L or N, no flight with a propeller plane, and no redeye flight” on my return flight. I can ask the software to find a solution for me (provided that a solution exists). All I need to do is to not get overwhelmed by the few “programming” tricks to enter those conditions, haha.

Yep, I found a solution with my requirements above. As you see, all the airlines are SkyTeam, no transits of more than four hours, transits in Paris and Shanghai and not Seoul on the departure trip, transit in Seoul and not in Rome on the return trip, no propeller plane, all subclasses are L or N, and no redeye on the return trip. It might be funny that five or the six flights are officially AirFrance’s though none of the six are flown on an AirFrance’s metal, haha ๐Ÿ˜† .

However, the biggest problem with this software is that it only looks for the existence to a solution. The softwareย is not a travel agency and so you cannot purchase the ticket you have discovered that you might have liked. And as you can see, sometimes you end up with quite a complicated itinerary that wouldn’t show up in a regular online travel agency (OTA) website.

And as of recently, I have discovered a solution to that. So for an upcoming big trip of mine involving intercontinental flights (still yet to be revealed ๐Ÿ˜› ), I was looking for a good-value return ticket for months. Some conditions made my trip a little bit more complicated where I would need an open-jaw ticket (a ticket where I return from a different airport than where I originally arrive) with a specific airline with a specific subclass of travel. It was quite difficult as with the conventional OTAs, including the airline’s website itself, I only found tickets with higher subclass of travel making them much more expensive. However, I found a solution to my wants in itamatrix so it made the search a little bit annoying.

I found my return ticket with China Eastern to Bali last year with the help of itamatrix.

And then I came across BookWithMatrix. In short, it helps you find some OTAs which would issue the ticket you have just found in itamatrix. To be honest, at first I found it quite sketchy as what I would need to do is to literally select all, copy, and paste the entire page of the itinerary in itamatrix there. Though now that I think about it, it is not that weird with the advance of image recognition technology we have these days, haha. Anway, and so I was looking for some reviews and I found some articles, including those written by well-known travel bloggers, about their positive experience with the website. So I started to trust this awesomely-sound tool more.

Anyway, so I decided to just give the tool a try; with no expectation whatsoever. And you know what? I did FIND the ticket at an OTA with this tool!! The OTA itself was a famous one (I know about it) so I knew that it was legit, haha. I decided to just eff it and purchase the ticket (The OTA promised 24-hour of free cancellation anyway, haha). Then I got the confirmation email and the usual stuffs from the OTA. I checked online in the airline’s website, and I did find my reservation there so it was indeed legit. Just to be even more sure, I called the airline’s representative in the Netherlands and they did say the ticket was confirmed and it was all like I wanted.

Oh wow!! I guess I just found some gold here!! So farย I am really happy with this tool!! And I guess this will come in very handy in the future!!

Have any of you guys used this tool as well? ๐Ÿ™‚

BAHASA INDONESIA

Sudah banyak diketahui bahwa cara terbaik untuk mengetahui ada atau tidaknyaย tiket pesawat terbaik, terutama untuk penerbangan jarak jauh untukku, adalah dengan software itamatrix-nya Google. Definisi “terbaik” di sini bisa bermacam-macam lho, tidak hanya sebatas, misalnya, yang paling murah. Misalnya saja, katakanlah aku ingin pergi dari Amsterdam ke Tokyo-Narita dan definisi “terbaikku” adalah: “tiket yang paling murah dengan maskapai SkyTeam dengan transit di Paris dan Shanghai tetapi tidak di Seoul dimana per transitnya tidak lebih lama dari empat jamย dan tidak melibatkan transit yang harus menginap, di subclass L atau N, dan tidak mau terbang dengan pesawat baling-baling” di penerbangan keberangkatan dan “yang termurah dengan maskapai SkyTeam dengan transit di Seoul tetapi tidak di Roma dengan per transit tidak lebih lama dari empat jam, di subclass L atau N, tidak mau terbang dengan pesawat baling-baling, dan tidak mau penerbangan malam/redeye” di penerbangan kepulanganku. Aku bisa meminta software-nya untuk mencarikan solusinya untukku (dengan catatan jika solusinya ada ya). Yang perlu kulakukan adalah tidak perlu terlalu “takut” dengan sedikit trik “programming” untuk memasukkan kondisi-kondisi ini, haha.

Yup, solusi yang memenuhi mauku di atas ada loh. Seperti yang bisa dilihat, semua maskapainya adalah SkyTeam, tidak ada transit yang lebih lama dari empat jam, transit di Paris dan Shanghai dan tidak di Seoul di penerbangan keberangkatan, transit di Seoul dan tidak di Roma di penerbangan kepulangan, tidak melibatkan pesawat baling-baling, subclass-nya L atau N, tidak ada penerbangan malam/redeye di penerbangan pulang. Eh mungkin agak lucu ya lima dari enam penerbangannya secara resmi adalah dengan AirFrance tetapi tidak satu pun penerbangannya menggunakan pesawatnya AirFrance, haha ๐Ÿ˜† .

Namun, masalah terbesar dari itamatrix adalah software-nya hanya mencariย ada atau tidaknya suatu solusi.ย Softwareย ini bukanlah travel agentย sehingga kita tidak bisa membeli tiket yang kita temukan di sana padahal tiketnya kita suka. Dan seperti yang bisa dilihat, bisa jadi kadang kita menemukan itinerary yang cukup rumit sehingga pilihan tiket ini tidak akan muncul di website online travel agency (OTA) biasa.

Akhir-akhir ini, kebetulan aku menemukan solusi untuk itu. Jadi untuk sebuah perjalanan besarku yang akan datang ย yang melibatkan penerbangan-penerbangan antar-benua (masih belum saatnya kuceritakan nih ๐Ÿ˜› ), aku telah mencari tiket pp yang value-nya oke selama berbulan-bulan. Beberapa kondisi membuat perjalanan ini cukup rumit dimana aku membutuhkan tiket open-jaw (tiket dimana aku pulang dari bandara yang berbeda dari bandara ketibaanku di keberangkatan) dengan sebuah maskapai spesifik dengan sebuah subclass spesifik. Aku tidak bisa menemukannya dengan OTA biasa, bahkan juga di website maskapainya sendiri, dimana aku hanya menemukan tiket dengan subclass lebih tinggi yang mana artinya harganya juga mahal. Namun, aku menemukan solusinya di itamatrix makanya rasanya gemes lah ya.

Aku menemukan tiket pp-ku dengan China Eastern ke Bali tahun lalu dengan bantuan itamatrix.

Dan kemudian aku menemukan BookWithMatrix. Secara singkat, ini adalah alat untuk menemukan OTA yang bisa menjual tiket sesuai spesifikasi yang kita temukan di itamatrix. Sejujurnya, awalnya aku sedikit curiga soalnya yang perlu kita lakukan adalah men-select all, copy, dan paste halaman itinerary di itamatrix di sana. Walaupun sekarang kalau dipikir-pikir lagi sih, nggak aneh juga sih ya dengan kemajuan teknologi di bidang image recognition zaman sekarang, haha. Anyway, jadilah aku mencari review-nya dan aku menemukan beberapa artikel, termasuk yang ditulis oleh beberapa travel bloggers terkenal, mengenai pengalaman positif mereka dengan alat ini. Jadilah aku lebih percaya, haha.

Anyway, jadilah aku memutuskan untuk mencobanya; tanpa ekspektasi apa pun lah. Dan apa yang terjadi? Aku MENEMUKAN tiketnya dijual di satu OTA dong!! OTAnya sendiri adalah OTA besar (aku tahu namanya gitu) sehingga aku cukup yakin ini legit, haha. Aku memutuskan untuk nekad aja dan membeli tiketnya (OTAnya sendiri menjanjikan free cancellation selama 24 jam sih jadi mestinya aman lah ya, haha).ย Lalu seperti biasanya aku mendapatkan email konfirmasi dan sebagainya dari OTAnya. Untuk memastikan, aku cek langsung di website maskapainya dan ternyata aku bisa menemukan reservasiku di sana sehingga artinya ini legit lah ya. Untuk lebih memastikan lagi, aku menelepon langsung kantor maskapainya di Belanda dan mereka juga memastikan tiketku sudah terkonfirmasi di sistemnya dan semuanya sesuai seperti yang kuinginkan.

Oh wow!! Rasanya seperti baru menemukan harta karun nih!! Sejauh ini aku senang banget deh dengan alat ini!! Dan aku rasa ini akan berguna banget buat ke depannya!!

Apakah sudah ada yang pernah menggunakannya juga? ๐Ÿ™‚