General Life · Tennis · Zilko's Life

#1838 – Some Stories This Week

ENGLISH

Here are some stories from this week.

A Future Plan

Lol, “a future plan” might sound so serious yet funny at the same time, indeed.

Anyway, when a plan exists, it means there is a goal that we (I) want to achieve. This is the case here. And I am really grateful that my company has played a bit of a role to make this the case. A near-term goal which I have had in mind for a while now, at least, has come to a less vague state. At least now I know some concrete steps which I want to take to achieve this goal.

So what goal that is? Well, as always, I like to be so cryptic and won’t share it here now; as it might jynx it 😛 . However, I have to say it is quite a big life goal. But as usual, when the time comes, for sure I will share what that goal is 😉 .

Having said that, it is still a long process from where I stand now. I guess I need to just make that first step soon and try to enjoy the process as much as possible, as for sure there will be valuable lessons and experiences along the way 😛

Tennis Lesson

Anyway, I have also had my tennis lesson started this week. So this summer I extended my Sports Card membership at TU Delft, making use of the student discount that was, then, still valid as I was still registered as a TU Delft employee 😛 . It was nice to finally hit some tennis balls again after a few weeks off; even though my rhythm was nowhere to be found this week 😛 .

Andy Murray = 2016 Year-End World Number 1!!

Speaking of tennis, I am really happy that by winning the year-end championships (ATP World Tour Finals) in London last week, Andy Murray officially ends 2016 as the world number 1 male tennis player!!

You know, two weeks prior he reached the world number 1 position for the first time ever in his career. To be honest, I had a bit of a worry this stint would only short-live because he had such a tough draw in London, at least on paper, while on the other hand, Novak Djokovic, the other player who could potentially snatch the number 1 ranking back, had an easier draw. So I am super glad he managed to get through that!

Congratulations, Andy! 😀

Andy Murray ended 2016 as the world number 1. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe
Andy Murray ended 2016 as the world number 1. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Berikut ini beberapa cerita dari minggu ini.

Sebuah Rencana Masa Depan

Huahaha, “sebuah rencana masa depan” terdengar serius banget tapi lucu juga ya.

Anyway, ketika sebuah rencana terbentuk, artinya ada tujuan yang ingin kita (aku) capai. Memang ini sih kasusnya di sini. Dan aku sungguh bersyukur kantorku sedikit membantuku untuk membuat ini terjadi. Sebuah tujuan jangka menengah yang sudah aku pertimbangkan selama beberapa waktu sekarang, setidaknya, sudah memasuki bentuk yang sedikit lebih jelas. Setidaknya sekarang aku sudah memiliki beberapa langkah kongkrit untuk mencapai tujuan ini.

Memang tujuan apa sih? Ah, mau tau aja atau mau tau banget? Haha. Ah, tapi seperti biasanya, aku mau sok misterius dulu deh sekarang dan tidak akan membagikan ceritanya dulu; takut nge-jynx euy 😛 . Namun, harus kubilang bahwa ini adalah sebuah tujuan yang besar banget lah. Tapi seperti biasa, nanti jika saatnya sudah tiba, tentu sebuah tujuan ini akan kuceritakan di sini 😉 .

Walaupun begitu, prosesnya masih panjang banget dari posisiku sekarang ini. Aku rasa memang aku sebaiknya menutup mata dan langsung membuat langkah pertama itu sih; dan kemudian berusaha menikmati prosesnya semaksimal mungkin karena aku yakin akan ada banyak pelajaran dan pengalaman berharga sepanjang jalan 😛 .

Les Tenis

Anyway, minggu ini les tenisku dimulai lagi. Jadi musim panas lalu aku memperpanjang keanggotaanku di pusat olahraganya TU Delft, memanfaatkan diskon mahasiswa ketika aku masih terdaftar resmi bekerja di TU Delft kan 😛 . Asyik aja akhirnya bisa memukul bola tenis lagi setelah absen beberapa minggu; walaupun ritmeku kacau banget sih minggu ini 😛 .

Andy Murray = Peringkat 1 Dunia Akhir Tahun 2016!!

Ngomongin tenis, aku senang sekali bahwa dengan memenangi turnamen tutup tahun (ATP World Tour Finals) di London minggu lalu, Andy Murray resmi mengakhiri tahun 2016 sebagai petenis pria peringkat 1 dunia!!

Tahun kan, dua minggu sebelumnya ia mencapai peringkat 1 dunia untuk pertama kalinya di kariernya. Sejujurnya, aku sedikit khawatir pencapaian ini akan berlangsung sebentar saja kali ini karena ia mendapatkan undian yang berat di London, setidaknya di atas kertas. Sementara itu, Novak Djokovic, pemain lainnya yang secara matematis bisa merebut peringkat 1 kembali, mendapatkan undian yang lebih ringan. Jadi aku lega deh ia berhasil melalui itu semua!

Selamat, Andy! 😀

 

General Life · Zilko's Life

#1829 – A Saturday Story

ENGLISH

A Meetup (Kopdar)

Early last week, Kutubuku messaged me on Instagram that she would be in Amsterdam for a weekend and invited me for a meetup at a bar on Saturday evening. My Saturday evening agenda was still free so of course I said yes. You see, not only the Indonesia-based bloggers who could organize a kopdar, the Europe-based could too! 😛

Fast forward to Saturday. I arrived a little bit early at Beer Temple, where we were set to meet, and the bar was full at the time. But luckily when we all met, a group (of tourists from England, I knew because I talked with one of the guys, lol 😆 ) just left so we could take their now vacant seats. She visited Amsterdam with ScandiGuy and a Danish friend.

In short, it was a fun evening. We tried many different beers and they showed me a beer app (which apparently was happening now which I was unaware of, lol 😆 ) they were using to collect badges. We ended up at the bar for a good 3.5 hours where we talked and talked about so many different things. I had to leave at 11:30 PM because there was a less frequent train service between Amsterdam and Delft today due to a maintenance. After we parted, though, I just realized that we forgot to take a picture together, lol 😆 . Well, I blame the beers for this, hahaha…

Andy Murray

Andy Murray won in two sets: 6–3, 6–3
Andy Murray in Rotterdam in 2014

Speaking of Saturday, a good tennis news (to me) was made. By advancing to the Paris Masters final, it was guaranteed that Andy Murray would be the new world no.1 when the ranking was updated this Monday, replacing Novak Djokovic at the top of the list.

To be honest, a few months ago looking at how Djokovic dominated tennis for the first half a year, I thought it would be pretty much impossible for someone else to dethrone him from the top this season. However, a combination of Djokovic’s dip in form after the French Open (where he completed the Nole Slam which I witnessed, btw) and Murray’s strong second half of the season (despite losing in the quarterfinals of the US Open) made this achievent a reality!

Wow!! So obviously I am super happy! In my opinion, Andy Murray is a great player in a golden tennis era; but this means the competition was super tough as well where he had to face Roger Federer, Rafael Nadal, and Novak Djokovic all in their prime years too. So to finally reach this pinnacle of the sport was definitely something he deserved. Especially for his perserverence, where he had to “wait” for more than seven years since the first time he hit number 2 (in August 2009) until he hit number 1 (in November 2016).

In a way, I could see this as a replacement for my disappointment when Serena Williams was dethroned from world no.1 in September, where Angelique Kerber took over the spot. I understood why it happened, though, as Serena was hampered by many physical problems this year and decided to focus only on the grandslams, something reasonable, and actually smart, given her age, of course. But still, as a fans I think it was normal to feel a little bit of disappointment from that, haha 😆 .

Anyway, congratulations, Andy!! 💪☝️

Andy Murray, world no. 1. Source: ATP World Tour

 

BAHASA INDONESIA

Kopdar

Awal minggu lalu, Kutubuku DM aku di Instagram bahwa ia akan berada di Amsterdam di akhir pekan dan mengajak untuk kopdaran di sebuah bar Sabtu malam. Karena agenda Sabtu malamku masih lowong, tentu saja aku setuju. Nah kan, yang namanya kopdaran itu nggak cuma mungkin untuk blogger-blogger yang berbasis di Indonesia loh, yang berbasis di Eropa juga bisa! 😛

Fast forward ke hari Sabtu. Aku tiba di Beer Temple, tempat dimana kami janjian, agak terlalu awal dan waktu itu barnya sedang penuh. Untungnya, ketika kami bertemu, ada satu grup (turis dari Inggris, aku tahu karena aku ngobrol sedikit dengan salah satu orangnya, haha 😆 ) baru saja keluar sehingga kita bisa duduk di kursi mereka yang sekarang kosong. Ia mengunjungi Amsterdam bersama ScandiGuy dan seorang teman dari Denmark.

Singkat cerita, ini adalah malam yang menyenangkan. Kami mencoba banyak bir dan mereka menunjukkanku sebuah app bir (yang mana ternyata lagi happening sekarang tapi aku nggak tahu dong, haha 😆 ) yang digunakan untuk mengoleksi badges. Akhirnya kami duduk-duduk di barnya selama 3,5an jam dimana kami ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai macam topik. Aku harus pergi jam 11:30 malam karena malam ini frekuensi kereta antara Amsterdam dan Delft lebih jarang daripada biasanya karena ada pekerjaan maintenance. Setelah kami berpisah, aku baru sadar dong kalau kita lupa foto-foto, haha 😆 . Ah, gara-gara birnya ini pasti, hahaha…

Andy Murray

Andy Murray won in two sets: 6–3, 6–3
Andy Murray di Rotterdam di tahun 2014

Ngomongin hari Sabtu, satu berita tenis yang baik (untukku) muncul. Dengan lolos ke babak final turnamen Paris Masters, telah tergaransi bahwa Andy Murray akan menjadi pemain peringkat 1 dunia ketika peringkatnya di-update hari Senin ini, menggantikan Novak Djokovic di posisi puncak ini.

Sejujurnya, beberapa bulan yang lalu dengan melihat dominasinya Djokovic di setegah tahun pertama, aku rasa nyaris mustahil bagi seseorang lain untuk menggusurnya dari posisi teratas musim ini. Namun, kombinasi dari turunnya performanya Djokovic setelah French Open (dimana ia mencetak Nole Slam yang mana aku saksikan, btw) dan performa kuatnya Murray di paruh kedua musim ini (walaupun ia kalah di perempat-final US Open), pencapaian ini menjadi kenyataan!

Wow!! Jadi jelas dong aku senang sekali! Menurutku, Andy Murray adalah pemain yang bagus di era emas tenis; tetapi ini juga berarti kompetisinya sulit sekali baginya dimana ia juga harus berhadapan dengan Roger Federer, Rafael Nadal, dan Novak Djokovic yang semuanya sedang dalam tahun-tahun puncaknya juga. Jadi untuk akhirnya mencapai pencapaian ini adalah sesueatu yang sungguh layak ia dapatkan. Terutama karena kegigihannya, dimana ia harus rela “menunggu” lebih dari tujuh tahun semenjak ia pertama kali mencapai peringkat 2 (di bulan Agustus 2009) hingga mencapai peringkat 1 (di bulan November 2016).

Di satu sisi, aku bisa memandang ini sebagai pengganti kekecewaanku dari turunnya Serena Williams dari posisi peringkat 1 dunia, setelah digeser oleh Angelique Kerber. Aku memahami mengapa ini terjadi sih, karena Serena sedang menghadapi masalah dengan cedera fisik dan memutuskan untuk lebih fokus di turnamen grandslam saja, sesuatu yang masuk akal, dan sebenarnya cerdas sih dengan mempertimbangkan usianya. Tapi, tetap aja lah ya sebagai fans tentu aku juga merasakan sedikit kekecewaan, haha 😆 .

Anyway, selamat, Andy!! 💪☝️

Andy Murray, peringkat 1 dunia. Sumber: ATP World Tour

 

EuroTrip · Tennis · Vacation · Weekend Trip

#1760 – My 2016 Roland Garros Trip (Part III: Roland Garros (Sunday))

ENGLISH

Posts in the My 2016 Roland Garros Trip series:

1. Introduction
2. Part I: Roland Garros (Saturday)
3. Part II: Paris
4. Part III: Roland Garros (Sunday)

***

While I arrived at Stade Roland Garros some 20 minutes later than my Saturday visit, I was still one of the first spectators to enter the site today, haha 😆 . Anyway, today I got a Ring 3 ticket (the furthest ring from the tennis court but offered the cheapest price) at Court Philippe Chatrier. These were the matches scheduled today:

  1. Women’s Doubles Final: [7] Ekaterina Makarova/Elena Vesnina (RUS/RUS) vs [5] Kristina Mladenovic/Caroline Garcia (FRA/FRA)
  2. Men’s Singles Final: [1] Novak Djokovic (SRB) vs [2] Andy Murray (GBR)

Exciting!

After entering the site, I went to my seat in Court Philippe Chatrier to see how the view would be from my seat. Well, it turned out it was okay but I knew it would be a bit more challenging to take good photos from up there, haha 😆 . Btw, this was my outfit today:

Making it clear regarding my side later on in the afternoon with what I wore
Making it clear regarding my side later on in the afternoon with what I wore

Yeah, #TeamMurray #TeamGB

I bought a couple cups of cappuccino and a couple of French pastries for breakfast today. For some reason I wasn’t feeling that hungry this morning. Upon checking the schedule, it turned out that the women’s doubles match was scheduled to start at 11:30 AM so I decided to come back to Court Philippe Chatrier after finishing my coffees.

Then, I saw an announcement in French. Okay, I don’t speak French but I was guessing it stated that for the women’s doubles final, the seating inside Court Philippe Chatrier was free, i.e. we could sit literally anywhere. But then of course I was not sure. So when I entered Philippe Chatrier, I asked the ticket checker girl if that was the case. She confirmed it and actually said that I could sit in one of the green boxes that were literally next to Court Philippe Chatrier if I wanted to!! 😱😱😱😱😱 I mean, those seats were even closer to the court than the Ring 1 seats and those were those super expensive premium seats for premium ticket holders!! 😱😱😱😱😱 So of course I did!! I mean, who wouldn’t?

I chose one box that was still empty that was just next to the court and I quickly settled into a seat in the first row. Yeah, so I was sitting literally in the first row of Court Philippe Chatrier for a grandslam final match!! 😱😱😱😱😱 IT. WAS. SO. AWESOME!!!

I secured one of the VIP seats at Court Philippe Chatrier!!
I secured one of the VIP seats at Court Philippe Chatrier this morning!!

1. Women’s Doubles Final: [7] Ekaterina Makarova/Elena Vesnina (RUS/RUS) vs [5] Kristina Mladenovic/Caroline Garcia (FRA/FRA)

First of all, to be consistent, from hereon I will call the team of Makarova/Vesnina as Makarova/Ayah. The reason why I am calling Elena Vesnina “Ayah” can be read in this post of my visit to Wimbledon final last year 😛 .

Anyway, the match did not start evenly where Mladenovic/Garcia were solid while Makarova/Ayah were kinda shaky. In just about 20 minutes, Makarova/Ayah found themselves trailing 0–5 in the first set. But then, they started to find their groove while Mladenovic/Garcia started to make some more errors, allowing Makarova/Ayah more into the first set. However, Mladenovic/Garcia had built too much of a lead and still secured the first set 6–3. In the second set, Makarova/Ayah kept their newly found momentum while Mladenovic/Garcia struggled to find some form. Makarova/Ayah took the second set 6–2. The third set went toe to toe until 4–4. Makarova’s serve was broken and Caroline Garcia held her serve. Hence the French team won their first grandslam title together 6–3, 2–6, 6–4

Caroline Garcia and Kristina Mladenovic won their first grandslam title
Caroline Garcia and Kristina Mladenovic won their first grandslam title

After the match, I tried to get some lunch but everything was super busy. I was queuing for the gourmet restaurant but the queue went super slow. So I left and decided to just buy a French sandwich and wrap (which I also had to queue for some time).

2. Men’s Singles Final: [1] Novak Djokovic (SRB) vs [2] Andy Murray (GBR)

This match is the highlight of the tournament, I guess. I mean, a match between the number 1 vs number 2 player in the world! Both had never won Roland Garros before so whoever won would do so. Even for Djokovic, the stake was higher as (1) Roland Garros was the only grandslam title missing in his collection and (2) After winning Wimbledon 2015, US Open 2015, and Australian Open 2016, he now had a chance to complete the “Nole Slam” by winning Roland Garros 2016.

Andy Murray started the match strongly
Andy Murray started the match strongly

Murray started the match strong where he was being more aggressive. He took the first set 6–3. But then, for some reasons, the situation completely flipped since the start of the second set. Somehow, Murray found himself in defensive position almost all the time allowing Djokovic to dictate most points. I knew that Murray realized this and tried to change the momentum. But it was difficult to do so against the already on-fire world number 1. As a result, Murray started to throw in a bit of more errors.

In the end, Novak Djokovic won his 12th grandslam title, completed the Career Grand Slam, and won the Nole Slam after defeating Andy Murray in four sets 3–6, 6–1, 6–2, 6–4. Murray gave a really heartwarming runner-up speech btw, where he said that we were very lucky to be in the attendance of the completion of the Nole Slam which was such a rarity in men’s tennis; but it sucked very much for him to be in the opposite site of the net today. Awwww….

Novak Djokovic completed the Nole Slam at Roland Garros 2016
Novak Djokovic completed the Nole Slam at Roland Garros 2016

After the match, I went to buy a new pair of tennis racket dampers. Then, I left Stade Roland Garros and my 2016 visit to this grandslam tournament this year officially ended 🙂 .

THE END.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri My 2016 Roland Garros Trip:

1. Introduction
2. Part I: Roland Garros (Saturday)
3. Part II: Paris
4. Part III: Roland Garros (Sunday)

***

Walaupun aku tiba di Stade Roland Garros 20 menit lebih siang daripada kunjungan hari Sabtuku, toh aku masih termasuk salah satu yang pertama yang masuk loh, haha 😆 . Ngomong-ngomong, hari ini aku hanya memiliki tiket Ring 3 saja (Ring terjauh dari lapangan tenisnya tetapi harga tiketnya juga yang termurah) di Lapangan Philippe Chatrier. Berikut ini jadwal pertandingan hari ini:

  1. Final Ganda Putri: [7] Ekaterina Makarova/Elena Vesnina (RUS/RUS) vs [5] Kristina Mladenovic/Caroline Garcia (FRA/FRA)
  2. Final Tunggal Putra: [1] Novak Djokovic (SRB) vs [2] Andy Murray (GBR)

Seruuu!

Begitu masuk, aku mengecek kursiku di Court Philippe Chatrier untuk mengetes bagaimana kah view yang akan kudapatkan nantinya. Ternyata masih oke-oke saja sih walaupun memang jelas akan lebih sulit untuk mendapatkan foto yang bagus dari atas sana, haha 😆 . Btw, berikut ini outfit-ku hari ini:

Making it clear regarding my side later on in the afternoon with what I wore
Membuat jelas mengenai sisi yang kudukung siang nanti dengan apa yang aku pakai

Yeah, #TeamMurray #TeamGB

Aku membeli dua cangkir kopi cappuccino dan dua buah roti Prancis untuk sarapan. Pagi ini memang aku tidak merasa begitu lapar. Kemudian ketika mengecek jadwalnya, ternyata final ganda putri akan dimulai jam 11:30 pagi di Philippe Chatrier. Jadilah aku langsung kembali ke Philippe Chatrier setelah menyelesaikan kopi dan rotiku.

Lalu, aku melihat sebuah pengumuman dalam bahasa Prancis. Oke, aku nggak bisa bahasa Prancis tetapi dengan ilmu tebak-menebak arti, aku kira pengumuman itu berarti untuk final ganda putri, penonton dibebaskan duduk dimana pun di dalam Philippe Chatrier. Tetapi tentu saja dong ya aku masih nggak yakin. Jadilah ketika memasuki Philippe Chatrier, aku menanyakan ini ke petugas pemeriksa tiketnya. Petugasnya mengiyakan dan bahkan berkata kalau mau, aku juga boleh loh duduk di kotak-kotak hijau di sebelah lapangan tennisnya itu!! 😱😱😱😱😱 Aku syok dong karena kursi-kursi itu kan bahkan lebih dekat ke lapangan tenisnya daripada kursi Ring 1 dan kursi-kursi itu adalah kursi-kursi premium super mahal yang bisa diakses dengan pemegang tiket premium!! 😱😱😱😱😱 Ya jelas aku mau dong ya!! Siapa yang nggak mau coba?

Aku memilih satu kotak yang masih kosong tepat di samping lapangannya dan aku langsung duduk di kursi di barisan pertama. Iya, pagi itu aku duduk di barisan pertama Lapangan Philippe Chatrier untuk menonton sebuah pertandingan final turnamen grandslam!! 😱😱😱😱😱 GILA. KEREN. ABISSS!!!

I secured one of the VIP seats at Court Philippe Chatrier!!
Aku diperbolehkan duduk di salah satu kursi VIP di Lapangan Philippe Chatrier pagi ini!!

1. Final Ganda Putri: [7] Ekaterina Makarova/Elena Vesnina (RUS/RUS) vs [5] Kristina Mladenovic/Caroline Garcia (FRA/FRA)

Pertama-tama, supaya konsisten, mulai sekarang aku akan menyebut tim Makarova/Vesnina sebagai Makarova/Ayah. Alasan mengapa aku memanggil Elena Vesnina “Ayah” bisa dibaca di posting ini mengenai kunjunganku ke final Wimbledon tahun lalu 😛 .

Anyway, pertandingannya tidak dimulai dengan level yang seimbang dimana Mladenovic/Garcia bermain solid sementara Makarova/Ayah masih belum klik. Dalam 20 menit, Makarova/Ayah langsung tertinggal 0–5 di set pertama. Tetapi kemudian, mereka mulai menemukan momentum sementara Mladenovic/Garcia mulai membuat error, sehingga Makarova/Ayah mulai mendapatkan kontrol di set pertama. Tetapi, Makarova/Garcia sudah terlanjur unggul jauh sehingga set pertama berhasil mereka amankan 6–3. Di set kedua, Makarova/Ayah memanfaatkan momentum tersebut sementara Mladenovic/Garcia mulai kesulitan sendiri. Makarova/Ayah memenangi set kedua 6–2. Set ketiga berlangsung berimbang hingga posisi 4–4. Servisnya Makarova kemudian terpatahkan dan Caroline Garcia bisa mempertahankan servisnya. Akhirnya tim Prancis ini memenangi gelar grandslam pertama mereka 6–3, 2–6, 6–4

Caroline Garcia and Kristina Mladenovic won their first grandslam title
Caroline Garcia dan Kristina Mladenovic menjuarai gelar grandslam pertama mereka

Setelah pertandinganya, aku mencoba mencari makan siang tetapi semua tempat makannya ramai. Aku mengantri di restoran gourmet tetapi antriannya maju dengan sangat amat pelan. Jadilah aku membatalkan rencana makan disana dan memutuskan membeli sandwich dan wrap ala Prancis aja (yang mana untuk itu aku juga harus cukup mengantri).

2. Final Tunggal Putra: [1] Novak Djokovic (SRB) vs [2] Andy Murray (GBR)

Pertandingan ini adalah highlight dari turnamen ini. Maksudku, pertandingan antara pemain peringkat 1 dan 2 dunia gitu! Keduanya belum pernah menang Roland Garros sebelumnya. Bahkan untuk Djokovic, yang dipertaruhkan lebih tinggi karena (1) Roland Garros adalah satu-satunya gelar grandslam yang belum ia menangi dan (2) Setelah menjuarai Wimbledon 2015, US Open 2015, dan Australian Open 2016, ia berkesempatan untuk membuat “Nole Slam” menjadi kenyataan dengan titel Roland Garros 2016.

Andy Murray started the match strongly
Andy Murray memulai pertandingan dengan kuat

Murray memulai pertandingan dengan kuat dimana ia bermain agresif. Akibatnya, set pertama ia amankan 6–3. Tetapi kemudian, entah mengapa, situasinya berbalik mulai di set kedua. Entah bagaimana, Murray bermain lebih defensif sehingga Djokovic bisa mengontrol lebih banyak poin. Aku tahu Murray menyadari ini sehingga ia mencoba mengubah ritme pertandingan untuk mengubah momentum. Masalahnya, tidak mudah untuk melakukan ini ketika lawannya adalah petenis peringkat 1 dunia yang sedang on fire. Sebagai akibatnya Murray mulai membuat lebih banyak kesalahan sendiri.

Pada akhirnya, Novak Djokovic memenangi gelar grandslam ke-12nya, melengkapi Career Grand Slam, dan mencetak Nole Slam dengan mengalahkan Andy Murray dalam empat set 3–6, 6–1, 6–2, 6–4. Murray memberikan ucapan yang menyentuh btw, dimana ia berkata bahwa kami semua beruntung berada di sana sebagai audiens untuk menyaksikan terciptanya Nole Slam yang mana sangat amat jarang terjadi di tenis putra; tetapi baginya ini terasa sakit sekali sebagai seseorang yang berada di sisi lain dari net hari ini. Awwww….

Novak Djokovic completed the Nole Slam at Roland Garros 2016
Novak Djokovic membuat Nole Slam menjadi kenyataan di Roland Garros 2016

Setelah pertandingannya, aku membeli sepasang dampers untuk raket tenisku. Kemudian, aku meninggalkan Stade Roland Garros dan kunjungan tahun 2016ku ke sana resmi berakhir 🙂 .

SELESAI.

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1752 – My 2016 Roland Garros Trip (Introduction)

ENGLISH

Posts in the My 2016 Roland Garros Trip series:

1. Introduction
2. Part I: Roland Garros (Saturday)
3. Part II: Paris
4. Part III: Roland Garros (Sunday)

***

As my Instagram followers (@azilko) would have known by now, this weekend was the weekend of my annual trip to Paris to watch the 2016 French Open (Roland Garros). Yes, I went to Paris this weekend! :mrgreen:

Paris, as usual, was amazing (but still busy and full of tourists here and there, lol 😆 ). The food, per usual, was generally great as well. Of course, as the capital of France, whose food is one of my most favorite cuisine in the world, this was basically a given, haha 😆 . Even though this time I did not have the bestest culinary experience in Paris in general though but this was because food was not in the top of my agenda of course 😛 .

The French Open was super fun per usual. Being a grandslam tournament, it was much “more” than any other “regular” tennis tournaments. The players and the fans care about this tournament more, thus making the atmosphere electric. To be honest, before going on this trip, I was a little bit worried about the tournament scheduling though after the heavy rain which hit Paris early in the second week of the tournament which messed up the whole schedule. But luckily they were able to catch up in the end, even though not without some controversies from the players’ point of view.

From the results point of view, to be honest I had mixed feeling. While I was certainly happy my favorite players made it to the final so I could watch them play those finals live in person, literally all of them lost the matches so I could not leave Stade Roland Garros with the most joyous feeling ever 😦 . But this is the reality of sport. You win some, you lose some. This is what makes it exciting and the competitive nature is what stimulates the players to keep improving and fighting. But as a fans I am hoping they will all do better in the next big tournament, Wimbledon, haha 😆 .

Nevertheless, I am still very very very lucky. Last year, I witnessed the realization of Serena Slam 2.0 when Serena Williams won Wimbledon 2015 (by doing so, she was holding the titles of all four grandslams simultaenously). This weekend, I witnessed the realization of Nole Slam in Paris. Novak Djokovic won Roland Garros 2016 which means that now he holds the titles of the four grandslams! This feat is much rarer in the men’s field where the last time this happened was in 1969 when Rod Laver won all four grandslam tournaments that year.

So all in all, it was such a fun trip and I am glad I was able to make it!! As per usual, here are some teasers from this trip! 😉

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri My 2016 Roland Garros Trip:

1. Introduction
2. Part I: Roland Garros (Saturday)
3. Part II: Paris
4. Part III: Roland Garros (Sunday)

***

Seperti yang followers Instagramku (@azilko) tentu sudah ketahui sekarang, akhir pekan ini adalah akhir pekan perjalanan tahunanku ke Paris untuk menonton turnamen French Open 2016 (Roland Garros). Iyaa, akhir pekan ini aku berada di Paris! :mrgreen:

Seperti biasa, Paris itu kece dah (tetapi ya masih sibuk dan penuh turis seperti biasanya sih, hahaha 😆 ). Makanannya, seperti biasa, secara umum jelas enak-enak, haha. Nggak mengherankan lah ya, namanya aja ibukotanya Prancis, yang mana makanannya adalah salah satu makanan favoritku di dunia, jadi ini jelas lah ya, haha 😆 . Walaupun makanan yang kumakan di perjalanan kali ini bukan yang paling enak banget yang pernah kumakan di Paris sih; tetapi ini dikarenakan makanan bukanlah prioritas utama di perjalananku kali ini, haha 😛 .

French Open-nya sendiri seru seperti biasanya. Sebagai turnamen grandslam, turnamen ini “lebih” daripada sekedar turnamen-turnamen “biasa” lainnya. Para petenis dan fans jelas memedulikan turnamen ini lebih daripada turnamen lain, sehingga akibatnya atmosfernya seru banget. Sejujurnya, sebelum berangkat, aku sedikit khawatir dengan penjadwalan turnamen ini akibat hujan deras yang mengguyur Paris di awal minggu kedua turnamen ini yang mengakibatkan kacaunya jadwal pertandingan. Tetapi untungnya pada akhirnya mereka berhasil mengejar ketertinggalan sih dari segi jadwal, walaupun tentu bukannya tanpa kontroversi juga dari sudut pandang petenisnya.

Dari sisi hasil pertandingan, sejujurnya aku merasa sedikit kecewa. Walaupun aku merasa senang petenis favoritku masuk final sehingga aku bisa menonton mereka langsung, semuanya kalah dong di final sehingga aku tidak bisa meninggalkan Stade Roland Garros dengan perasaan yang paling senang 😦 . Tetapi ya memang beginilah realita olahraga ya. Kadang menang kadang kalah. Ini yang membuatnya seru dan aura kompetisinya lah yang mendorong pemain untuk terus meningkatkan kemampuan dan terus bertarung. Tetapi sebagai fans aku sih berharap mereka akan mendapatkan hasil yang lebih baik di turnamen besar selanjutnya, Wimbledon, haha 😆 .

Toh walaupun begitu, aku sebenarnya masih sangat sangat sangat beruntung loh. Tahun lalu, aku menyaksikan terwujudnya Serena Slam 2.0 ketika Serena Williams memenangi Wimbledon 2015 (dengan kemenangan itu, ia memegang keempat gelar juara turnamen grandslam bersamaan). Nah, akhir pekan ini, aku menyaksikan terwujudnya Nole Slam di Paris. Novak Djokovic memenangi Roland Garros 2016 yang mana artinya kini ia lah pemegang gelar juara keempat turnamen grandslam! Pencapaian ini jauh lebih jarang di sisi putra dimana terakhir kali ini terjadi adalah di tahun 1969 ketika Rod Laver memenangi kesemua gelar grandslam tahun itu.

Kesimpulannya, perjalanan ini adalah perjalanan yang amat seru dan aku bersyukur banget aku bisa pergi ke Paris!! Seperti biasanya, di atas aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini! 😉

Tennis

#1619 – 2015 US Open

ENGLISH

It is that time of the year again. The fourth grandslam tournament of the year was concluded on Sunday, and here is a short review.

Women’s Singles

The difference between Serena Slam 1.0 and Serena Slam 2.0 was that in Serena Slam 2.0, Serena Williams’ fourth consecutive grandslam singles title was Wimbledon (where I was part of the final that time :mrgreen: ). This meant that this year, Serena got a chance to achieve something she had never done before, something which had not been done since 1988 by Steffi Graf: winning all four grandslam tournaments in the same year. And the last grandslam being the US Open, which Serena won in the last three years of the tournament, the odd looked good for her. And of course naturally all eyes were, again, on her.

Serena reached the semifinals, not without any trouble though where she overcame inspired Bethanie Mattek-Sands in the third round and had to play her best against her sister, Venus Williams, in the quarterfinals (which was a super good quality match). In the semifinals, she was facing someone who appeared to be extremely lucky to be there, the world no.43, Roberta Vinci from Italy. Serena was the huge favorite. Serena was, well, Serena. And it was Vinci’s first ever semifinals in a grandslam. Vinci had never beaten Serena before with Serena won their last encounter just four weeks prior. The odd for Vinci to beat Serena was 1:300.

But well, the beauty about sport is that the two players still have to play against each other. And they start from scratch in the match. And 1:300 is not zero. Guess what? Roberta Vinci ended Serena Williams’ 33 matches winning streak at the grandslams, beating the world no.1 2–6, 6–4, 6–4 (Lucky I did not watch that match though, I would have been so devastated, haha 😆 )!! Yeah, this shows that anything is possible, and that if you keep on trying, you will succeed.

Meanwhile in the other half of the draw, another Italian player scratched her way up to the finish line. Flavia Pennetta played her best tennis to beat the current world no.2, Simona Halep, 6–1, 6–3 in the semifinals. It was not completely a surprise to see Pennetta doing well here though. She has historically performed good at the US Open, and she loves American hard court tournaments.

In the all-Italian final, the 26th seeded Pennetta was clearly the favorite. Even though she did not play her best, her level was still enough to beat the still-tired Vinci. Pennetta won 7–6(4), 6–2 for her first ever grandslam title. During her trophy ceremony, she delivered a surprising news where she announced her retirement from tennis this season. This season is Pennetta’s last season and she will not defend her US Open title next year.

Yeah, I totally understand her decision. It is good to leave the sport while you are on top!!

Men’s Singles

One big story from this year’s men’s singles tournament was Rafael Nadal’s early exit in the third round, meaning that for the first time since 2004, he does not win any grandslam title in a year. While a lot of people scrutinized this fact, as Rafa said, we should look it the other way around, that for ten years since 2005 until 2014, Rafael Nadal had won at least one grandslam title every year. That is some achievement!!

Nevertheless, unsurprisingly, the top two seeds, Novak Djokovic and Roger Federer, reached the final. It was Djokovic’s fourth grandslam final this year and Federer’s first non-Wimbledon grandslam final since June 2011! In the end, Novak Djokovic, who is the in-form player of 2015, won in four sets, 6–4, 5–7, 6–4, 6–4 for his tenth grandslam title.

Flavia Pennetta won her maiden grandslam title at the 2015 US Open.Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Flavia Pennetta won her maiden and only grandslam singles title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Novak Djokovic won his 10th grandslam title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America
Novak Djokovic won his 10th grandslam singles title at the 2015 US Open. Photo credit: Maddie Meyer/Getty Images North America

BAHASA INDONESIA

Ya, tanggal-tanggal segini lagi. Turnamen grandslam keempat tahun ini berakhir hari Minggu lalu, dan berikut ini sebuah review mininya.

Tunggal Putri

Perbedaan dari Serena Slam 1.0 dan Serena Slam 2.0 adalah gelar grandslam keempat berturutannya Serena Williams di Serena Slam 2.0 adalah Wimbledon (yang mana aku adalah bagian dari penontonnya loh waktu itu :mrgreen: ). Yang mana artinya tahun ini, Serena memiliki kesempatan untuk mencapai suatu pencapaian yang belum pernah ia raih sebelumnya, sesuatu yang belum pernah diraih siapa pun semenjak tahun 1988 oleh Steffi Graf: memenangi keempat turnamen grandslam dalam tahun yang sama. Dan karena grandslam yang terakhir adalah US Open, sebuah grandslam yang Serena selalu menangi tiga tahun belakangan ini, pencapaian ini nampak sebagai pencapaian yang amat mungkin. Tetapi jelas akibatnya semua mata jadi tertuju padanya.

Serena mencapai babak semifinal, bukannya tanpa masalah sih dimana ia harus mengatasi Bethanie Mattek-Sands yang bermain bagus di babak ketiga dan harus bermain dengan prima melawan kakaknya sendiri, Venus Williams, di perempat-final (yang mana pertandingannya berkualitas super tinggi lho). Di semifinal, ia menghadapi seorang pemain yang nampak super beruntung bisa berada disana, petenis peringkat 43 dunia, Roberta Vinci dari Italia. Serena jelas adalah favorit untuk menang. Serena itu, yah, Serena. Dan ini adalah semifinal pertamanya Vinci di sebuah grandslam. Vinci belum pernah mengalahkan Serena sebelumnya dan pertemuan terakhir mereka hanyalah empat minggu sebelumnya. Di bursa taruhan, peluang Vinci menang adalah 1:300.

Tetapi, keindahan olahraga adalah kedua pemain tetap harus bertanding. Mereka harus memulai pertandingan dari nol. Dan 1:300 juga bukanlah nol. Dan apa yang terjadi? Roberta Vinci mengakhiri kemenangan beruntung 33 kalinya Serena Williams di grandslam, mengalahkan petenis peringkat 1 dunia itu 2–6, 6–4, 6–4 (Untungnya aku nggak nonton pertandingan ini, bisa depresi aku kalau nonton, haha 😆 )!! Ini menunjukkan bahwa apa pun itu mungkin, dan kalau kita terus berusaha, kita juga bisa berhasil.

Sementara itu di sisi lain undian, pemain Italia lainnya juga berjuang keras mencapai garis finish. Flavia Pennetta memainkan tenis terbaiknya untuk mengalahkan petenis peringkat 2 dunia, Simona Halep, 6–1, 6–3 di semifinal. Nggak heran sih melihat Pennetta berprestasi baik begini. Dari sejarahnya juga ia selalu bermain baik di US Open, dan ia juga menyukai turnamen lapangan keras di Amerika.

Di final yang sesama pemain Italia, Pennetta yang diunggulkan di tempat ke-26 adalah yang difavoritkan menang. Walaupun ia tidak bermain dengan yang terbaik, levelnya toh masih cukup untuk mengalahkan Vinci yang masih kelelahan. Pennetta menang 7–6(4), 6–2 untuk gelar grandslam pertamanya. Ketika mendapatkan pialanya btw, ia membagikan sebuah berita yang mengejutkan dimana ia mengumumkan bahwa ia akan pensiun dari tenis musim ini. Ini adalah musim terakhirnya Pennetta dan tahun depan ia tidak akan mempertahankan gelar US Opennya.

Ya, aku mengerti keputusannya. Memang keren ya pensiun ketika sedang berada di puncak!!

Tunggal Putra

Satu cerita besar dari turnamen tunggal putra tahun ini adalah kekalahannya Rafael Nadal di babak ketiga. Ini artinya bahwa untuk pertama kalinya semenjak tahun 2004, ia tidak memenangi satu grandslam pun dalam suatu tahun. Banyak orang yang mencecarnya dengan fakta ini, tetapi seperti yang dibilang Rafa, sebaiknya kita melihatnya dari sisi lain, dimana artinya selama sepuluh tahun dari tahun 2005 sampai 2014, Rafael Nadal selalu memenangi setidaknya satu gelar grandslam. Itu kan keren ya!!

Kembali ke topik, tidak mengejutkan, dua unggulan teratas, Novak Djokovic dan Roger Federer, mencapai babak final. Ini adalah final grandslam keempatnya Djokovic tahun ini dan final grandslam pertamanya Federer bukan di Wimbledon semenjak bulan Juni 2011! Pada akhirnya, Novak Djokovic, pemain yang memang sedang in-form banget tahun 2015 ini, menang dalam empat set, 6–4, 5–7, 6–4, 6–4 untuk gelar grandslam kesepuluhnya.

My Interest · Tennis

#1587 – 2015 Wimbledon Championships

ENGLISH

Earlier today, the third grandslam tournament of the year, the 2015 Wimbledon Championships, was concluded. As usual, here is a short review about it.

Ladies’ Singles

Prior to the tournament, all eyes were on Serena Williams. After winning the singles titles of the 2014 US Open, 2015 Australian Open, and 2015 French Open, she had an opportunity to complete what was called a “Serena Slam 2.0”. This means winning four consecutive grandslam tournaments but not in the same calendar year. And “2.0” means it would be the second time that Serena would have done it. She first did it 12.5 years ago (yes, twelve and a half YEARS ago) in 2002/2003 when she won the 2002 French Open, 2002 Wimbledon, 2002 US Open, and 2003 Australian Open. Btw, in those four finals in 2002/2003, she beat Venus Williams in all of them.

Talking about the pressure of creating history, eh?

When the draw came out, I felt a bit sad because the 16th seed, Venus Williams, was put on the same bracket as Serena, meaning they could potentially meet in the Round of 16 (fourth round); which they did. Nevertheless, Serena was able to overcome her packed half to reach another final. She beat local favorite, Heather Watson, in the third round, Venus Williams in the fourth round, Victoria Azarenka in the quarterfinals, and Maria Sharapova in the semifinals. Meanwhile the other half of the draw fell apart, leaving a widely open path to the final. Garbine Muguruza, the 20th seed, advanced to her first ever grandslam final.

The final went quite dramatic where Serena started nervous and immediately fell behind. She fought back though, clawed her way back in, won the first set, and led 5–1 in the second. Then she got nervous again and Muguruza clawed back. But the lead was already too wide that it was too late for Muguruza’s final fight. Serena won the match, her 6th Wimbledon singles title, her 21st grandslam singles title, and her second Serena Slam.

Wow!!

That is legendary stuff from a legendary tennis player!! Congratulations Serena Williams!!

Gentlemen’s Singles

Same old, same old story with the men’s side where it is a bit difficult to see someone outside of the Big Four to lift the trophy in the end (except that probably Rafael Nadal was a little bit out of the question this year while Stan Wawrinka was a little bit more).

One of the biggest stories was probably Rafael Nadal’s four consecutive early loss at Wimbledon to someone ranked with three-digits. In 2012, he lost in the second round to the 100th ranked Lukas Rosol; in 2013 he lost in the first round to the 135th ranked Steve Darcis; and in 2014 he lost in the fourth round to the 144th ranked Nick Kyrgios. This year, he lost in the second round to the 102th ranked Dustin Brown.

Anyway, in the end Novak Djokovic and Roger Federer made the final, thus repeating the final from last year. The match went tight especially in the first two set. In the third and fourth set, Djokovic was able to gain some advantage so he could close it out in four sets, defending his title and winning his third Wimbledon title.

Congratulations Nole!!

Serena Williams completed her 2nd Serena Slam with her 6th Wimbledon title. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images Europe
Serena Williams completed her 2nd Serena Slam with her 6th Wimbledon title. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images Europe
Novak Djokovic won his 9th grandslam title with his 3rd Wimbledon triumph. Photo credit:  Julian Finney/Getty Images Europe
Novak Djokovic won his 9th grandslam title with his 3rd Wimbledon triumph this year. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Hari ini, turnamen grandslam ketiga tahun ini, Kejuaraan Wimbledon 2015, berakhir. Seperti biasa, berikut ini review-ku akan turnamen ini.

Tunggal Putri

Semua mata tertuju pada Serena Williams. Setelah menjuarai gelar tunggal putri di 2014 US Open, 2015 Australian Open, dan 2015 French Open, ia memiliki sebuah kesempatan unik untuk melengkapi apa yang disebut sebagai “Serena Slam 2.0”. Ini artinya adalah memenangi keempat turnamen grandslam berturutan tetapi tidak di tahun kalender yan sama. Dan “2.0” artinya ini akan menjadi kali kedua Serena melakukannya. Pertama kali ia sukses melakukan ini 12,5 tahun yang lalu (iya, dua belas setengah TAHUN yang lalu) di tahun 2002/2003 dimana ia menjuarai 2002 French Open, 2002 Wimbledon, 2002 US Open, dan 2003 Austalian Open. Btw, di keempat final itu di tahun 2002/2003, di semuanya ia harus melawan Venus Williams loh.

Ngomongin tentang tekanan untuk membuat sejarah bukan?

Ketika hasil undiannya keluar, aku merasa sedikit sedih bahwa unggulan ke-16, Venus Williams, berada di bracket yang sama dengan Serena, artinya mereka bisa bertemu di babak 16 besar (babak keempat), yang mana mereka beneran bertemu. Walaupun begitu, Serena mampu mengatasi undian yang sangat berat untuknya dimana ia akhirnya mencapai babak fial. Ia harus mengalahkan petenis lokal yang banyak didukung penonton, Heather Watson, di babak ketiga, Venus Williams di babak keempat, Victoria Azarenka di babak perempat final, dan Maria Sharapova di babak semifinal. Sementara itu, di setengah undian yang lain, undiannya kacau balau, dimana sisi ini adalah sisi yang amat terbuka bagi siapa pun untuk lolos ke final. Dari sisi ini, Garbine Muguruza, unggulan ke-20, berhasil masuk ke final grandslam pertamanya.

Finalnya berlangsung cukup dramatis dimana Serena memulainya dengan gugup sehingga ia langsung tertinggal. Ia kemudian melawan balik, berjuang keras, memenangi set pertama, dan unggul 5–1 di babak kedua. Ia lalu grogi lagi dan Muguruza berjuang balik. Tetapi Muguruza sudah tertinggal terlalu banyak sehingga perjuangannya sedikit terlambat. Serena memenangi pertandingannya, gelar tunggal Wimbledon ke-6nya, gelar tunggal grandslam ke-21nya, dan Serena Slam keduanya.

Wow!!

Ini adalah sebuah pencapaian legendaris dari seorang petenis legendaris!! Selamat Serena Williams!!

Tunggal Putra

Cerita untuk sisi putra masih cerita lama yang diulang-ulang terus: sulit melihat seseorang di luar Big Four untuk mengangkat tropinya di akhir turnamen (kecuali mungkin Rafael Nadal agak cenderung kurang difavoritkan tahun ini sementara Stan Wawrinka sedikit lebih difavoritkan).

Satu cerita terbesar tahun ini mungkin adalah kekalahannya Rafael Nadal di babak-babak awal empat kali berturutan di Wimbledon dari seseorang yang berperingkat tiga digit. Di tahun 2012, ia kalah dari Lukas Rosol di babak kedua yang berperingkat 100; di tahun 2013 ia kalah dari Steve Darcis di babak pertama yang berperingkat 135; dan di tahun 2014 ia kalah dari Nick Kyrgios di babak keempat yang berperingkat 144. Tahun ini, ia kalah di babak kedua dari Dustin Brown yang berperingkat 102.

Anyway, pada akhirnya Novak Djokovic dan Roger Federer masuk ke final, mengulangi final tahun lalu. Pertandingan berlangsung ketat terutama di dua set pertama. Di set ketiga dan keempat, Djokovic berhasil mendapatkan keuntungan sehingga ia bisa mengakhiri semuanya dalam empat set, mempertahankan gelarnya, dan memenangi gelar Wimbledon ketiganya.

Selamat Nole!!

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1576 – 2015 French Open Trip (Part II: Roland Garros)

ENGLISH

Previously on 2015 French Open Trip: Zilko went to Paris to watch the second grandslam tournament of the year: the 2015 French Open. Now, it is time for the story from the tournament itself.

***

Lucky Boy

I got a ticket for Saturday, which was for the women’s singles final and men’s doubles final. I was happy with the result of these two events so far, because both matches would involve my favorite players: Serena Williams in the women’s singles final and the Bryan brothers in the men’s doubles final.

But then, on Friday evening, the day where the men’s singles semifinals were played, the second match of the day between the male tennis player world number 1, Novak Djokovic, and the world no.3, Andy Murray, had to be suspended at 6–3, 6–3, 5–7, 3–3, because of darkness. As a result, they had to resume the match the day after, which was Saturday, the day I got a ticket! Yes, so that Saturday I got a bonus of a semifinal match between Novak Djokovic and Andy Murray as well! HELL YEAH!!!

The Experience

Because of this bonus match, I decided to come early to Roland Garros. The women’s singles final was scheduled at 3 PM but the resumption of the men’s singles semifinals was scheduled at 1 PM. So I arrived at the grounds at around 9 AM, haha. The gate was still closed at that time so we had to wait for a bit before they opened the gate at around 10 AM.

I have to say that that morning in Stade Roland Garros was much more lively than I expected. I mean, it was the finals day, so only a few players (who reached the finals) were still alive in the draw. So I expected it to be much less crowded than the first week (all my previous visits to Roland Garros were in the first week). But then, even though indeed it was not as crowded, it was still quite lively with a lot of junior players and some retired players (who competed in the Legend’s event) were there as well!

Juan Carlos Ferrero
For instance, I saw Juan Carlos Ferrero in the morning

So it was quite nice.

The Matches

I watched four matches today:

  1. Women’s legend’s final between Martina Navratilova (USA)/Kim Clijsters (BEL) vs Lindsay Davenport (USA)/Mary Joe Fernandez (USA).
  2. Men’s singles semifinals between [1] Novak Djokovic (SRB) and [3] Andy Murray (GBR)
  3. Women’s singles final between [1] Serena Williams (USA) vs [13] Lucie Šafářová (CZE)
  4. Men’s doubles final between [1] Bob Bryan (USA)/Mike Bryan (USA) vs [3] Ivan Dodig (CRO)/Marcelo Melo (BRA)

The first one was held in Court Suzanne Lenglen (my first time in Suzanne Lenglen actually) and the next three were in Court Philippe Chatrier.

Women’s legend’s final between Martina Navratilova (USA)/Kim Clijsters (BEL) vs Lindsay Davenport (USA)/Mary Joe Fernandez (USA)

The legend’s event at a grandslam tournament is always interesting for tennis fans because it always brings out the nostalgia atmosphere. For instance, here, I could see the 58 year old Martina Navratilova playing a tennis match. She was playing with the 32 year old Kim Clijsters who retired in 2012. Against them were the three-time grandslam champion, Lindsay Davenport, and a former top 4 player in the 1990s, Mary Joe Fernandez.

Kim Clijsters and Martina Navratilova won the Woman's Legend event
Kim Clijsters and Martina Navratilova won the Woman’s Legend event

The four players still played good tennis. Obviously the level was not as high as the professional players. But here, I can see that two things do not get away with age or rust: champion mentality and technique. In the super-tiebreak, Navratilova/Clijsters were down two match points at 7–9. But then, Martina Navratilova saved both points with her legendary touch at the net!! In the end, Navratilova/Clijsters won 2–6, 6–2, [11–9].

Men’s singles semifinal between [1] Novak Djokovic (SRB) and [3] Andy Murray (GBR)

Andy Murray is my favorite male tennis player now. But honestly, I did not expect a lot from him today because he was facing a tough opponent, Novak Djokovic, on Murray’s historically weakest surface, clay. So I was just hoping him to make it a closer contest. The match being 2–1 in sets for Djokovic and it was tied at 3–3 in the fourth set, there was a chance it could be over in just three games, lol 😆 .

Novak Djokovic preparing to hit a serve
Novak Djokovic preparing to hit a serve
Andy Murray returning a Novak Djokovic's serve
Andy Murray returning a Novak Djokovic’s serve

But luckily, Murray was able to win the fourth set 7–5 and so he forced a fifth set to be played. Djokovic, however, was playing amazingly in the fifth set, especially at the crucial points. Murray did not play bad, but Djokovic just outclassed him and won 6–1, even though the score did not justify the fifth set.

Men’s doubles final between [1] Bob Bryan (USA)/Mike Bryan (USA) vs [3] Ivan Dodig (CRO)/Marcelo Melo (BRA)

I have watched the Bryans brothers played in Roland Garros before in 2012. But it was in the first round so it was nice that I could watch their match in the final now. Against them were a team who were in their second grandslam final (they lost to the Bryans in Wimbledon in 2013), Ivan Dodig and Marcelo Melo. Btw, this match made me realize there were so many Brazilians there today. They were supporting Melo who was Brazilian, haha.

The Bryan brothers strategizing
The Bryan brothers strategizing

The match turned out to be a very good and close match. Both teams held their serve in the first set where the Bryans sneaked it out in the tiebreak. In the second set, the Bryans were able to gain an early break advantage. But at some point, Dodig/Melo squandered it back on Mike Bryan’s serve and the Croatian/Brazilian team took the second set in the tiebreak. The third set was very neck to neck where now both teams played good doubles tennis. At 5 all on Mike Bryan’s serve, however, Dodig/Melo were able to sneak out a break advantage and eventually closed the match out 7–5. It was their first grandslam title.

Women’s singles final between [1] Serena Williams (USA) vs [13] Lucie Šafářová (CZE)

And here is the match which was the reason I felt so blessed for getting a ticket for the final. As a fan of Serena Williams, it was a blessing that I was able to witness her playing in a grandslam final. I mean, it was my opportunity to see her in the best tennis stage! Realistically, she is 33 years of age now, so who knows how many more years she will be playing, right? So while she is still playing, I want to enjoy watching her playing as much as possible, and now I gotta watch her play a grandslam final! 😀

The coint toss for the women's singles final
The coint toss for the women’s singles final

Anyway, as we all could see, the match was all Serena’s. She appeared to have passed the worst stage of the flu which clearly hampered her in her semifinal match (she could not even practice the day before the final because of it). She started the match really strongly, building a 6–3, 4–1 (40–15) lead. To this moment I was feeling normal because it looked like it would be a routine win for Serena.

But then she started to look a little bit nervous and tight, starting to make uncharacteristic errors. Sensing this, Lucie took an advantage and imposed her game more. Somehow, she was able to bring the second set back to level and forced a tiebreak, which she won. She carried this momentum to the third set, building a 2–0 lead immediately. And here, I have started to feel more nervous and was mentally so into the match, haha 😆 . But then, being a champion that she was, Serena unleashed her champion mentality, regrouped, and won the next six games. Thus, winning the match 6–3, 6–7(2), 6–2 and her 20th grandslam singles title!

Lucie Šafářová hitting a backhand
Lucie Šafářová hitting a backhand
Serena Williams hitting a forehand
Serena Williams hitting a forehand

During the match though, I was annoyed with an old man who was sitting behind me who kept yelling “Allez Lucie!!” on pretty much every single point, including when Serena made some errors, haha 😆 . As to me? Well, I tried to keep calm and keep everything within myself even though deep down I was nervous and at the same time annoyed with that old man (and some other ladies who were also cheering for Šafářová, haha). But when Serena finally got her first match point, I could not hold it anymore and screamed “Come on Serena!!!“, hahaha 😆 . And when Serena won, I screamed “Yeeesssssss!!!!” really loudly, haha 😛 . I was so happy that I was shaking! Really!!

Serena Williams expressing her emotiong after winning the title
I pretty much shared the same emotion with Serena Williams here: “Yeaaaaah!!!”

This “drama” of Serena somehow losing grounds for a bit and Lucie taking an advantage of it made the match more “exciting” actually and made me get into the match more and become involved mentally. Seriously, this match had a lot of interesting stuffs: from Serena being forced to hit a left-handed forehand (Serena is a right-hander), like this:

Serena Williams hitting a left-handed forehand in the final. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe
Serena Williams hitting a left-handed forehand in the final. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Btw, at that moment, I was like “Did I just see that? That Serena just hit a left-handed forehand? And it went in? Wow!“. Lol, I could not believe what I just saw. And then in the heat of the moment, apparently Serena cursed a few times (“apparently” as I did not hear iy myself but indeed she got a warning from the umpire). Yeah, the match turned out to be a quite dramatic one, haha 😆 .

Serena Williams and Le Coupe Suzanne Lenglen
Serena Williams and Le Coupe Suzanne Lenglen

The Experience (continued)

So yeah, now I can say that a grandslam final is the best tennis match we can ever see as tennis fans. This is because everyone cares about this match, because there is no other match that is more important than a grandslam final. Everyone is involved. The players. The officials. The spectators. So the atmosphere in the stadium is really amazing.

Me with Serena Williams, haha
It was so great that I got a photo with Serena Williams, haha

The Food

Anyway, so let’s talk about the food here. Being there for just one day, I only had a breakfast and a late lunch during my stay there. For breakfast, I went with the normal tuna sandwich.

Beef steak with ratatouille
Beef steak with ratatouille, my favorite dish at Roland Garros

For lunch, I ordered my favorite dish for lunch at Roland Garros: a beef steak with ratatouille. It is not the most delicious steak in the entire planet indeed; but somehow I just love this dish! Every year when I go to Roland Garros, I always order one! 😀

THE END.

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam 2015 French Open Trip: Zilko pergi ke Paris untuk menonton turnamen grandslam kedua tahun ini: French Open 2015. Sekarang adalah saatnya untuk cerita dari turnamen bergengsi ini.

***

Beruntung

Aku memiliki tiket untuk hari Sabtu, yang mana jadwalnya adalah final tunggal putri dan final ganda putra. Aku cukup senang dengan hasil dari turnamen ini sejauh ini, karena kedua pertandingannya akan melibatkan petenis favoritku: Serena Williams di final tunggal putri dan Bryan bersaudara di final ganda putra.

Tetapi kemudian, Jumat malam, hari dimana semifinal tunggal putra dimainkan, pertandingan semifinal kedua antara petenis putra peringkat 1 dunia, Novak Djokovic, dan peringkat 3 dunia, Andy Murray, harus dihentikan di posisi 6–3, 6–3, 5–7, 3–3 karena sudah gelap. Pertandingannya baru bisa dilanjutkan sehari setelahnya, yaitu hari Sabtu, hari dimana aku memiliki sebuah tiket! Iya, sebagai akibatnya, di hari Sabtu aku mendapatkan bonus pertandingan semifinal antara Novak Djokovic dan Andy Murray dong! ASYIK BANGETTTT!!!

Pengalamannya

Karena pertandingan bonus ini, aku memutuskan untuk datang awal deh ke Roland Garros. Final tunggal putri dijadwalkan mulai jam 3 sore tetapi semifinal tunggal putranya dijadwalkan jam 1 siang. Jadilah aku tiba di arenanya sekitar jam 9 pagi, haha. Gerbangnya masih ditutup waktu itu jadi aku harus menunggu sebentar sampai mereka membukanya sekitar jam 10 pagi.

Harus aku bilang bahwa pagi itu, Stade Roland Garros lebih ramai daripada bayanganku. Maksudku, ini kan sudah final ya jadi hanya sedikit pemain saja (yang mencapai babak final) yang masih hidup di turnamennya kan. Jadi aku kira suasananya bakalan jauh lebih sepi daripada minggu pertama turnamen (sebelum ini, semua kunjunganku ke Roland Garros adalah di minggu pertama). Tetapi kemudian, walaupun memang tidak seramai minggu pertama, tetapi masih cukup ramai juga kok dimana banyak petenis junior dan beberapa eks-pemain (yang berkompetisi di event legenda) hadir juga!

Juan Carlos Ferrero
Misalnya, pagi itu aku melihat Juan Carlos Ferrero

Jadi asyik lah.

Pertandingan Tenis

Aku menonton empat pertandingan tenis hari ini:

  1. Final legenda putri antara Martina Navratilova (USA)/Kim Clijsters (BEL) vs Lindsay Davenport (USA)/Mary Joe Fernandez (USA).
  2. Semifinal tunggal putra antara [1] Novak Djokovic (SRB) vs [3] Andy Murray (GBR)
  3. Final tunggal putri antara [1] Serena Williams (USA) vs [13] Lucie Šafářová (CZE)
  4. Final ganda putra antara [1] Bob Bryan (USA)/Mike Bryan (USA) vs [3] Ivan Dodig (CRO)/Marcelo Melo (BRA)

Pertandingan pertama diadakan di Lapangan Suzanne Lenglen (kali pertama aku memasuki Lapangan Suzanne Lenglen loh ini) dan ketiga selanjutnya di Lapangan Philippe Chatrier.

Final legenda putri antara Martina Navratilova (USA)/Kim Clijsters (BEL) vs Lindsay Davenport (USA)/Mary Joe Fernandez (USA)

Event legenda di sebuah grandslam selalu menarik untuk ditonton bagi penggemar tenis karena membawa banyak memori nostalgia dengannya. Misalnya saja, kali ini, aku bisa menyaksikan Martina Navratilova yang berumur 58 tahun bermain sebuah pertandingan tenis loh. Ia berpasangan dengan Kim Clijsters yang berusia 32 tahun yang pensiun di tahun 2012. Lawan mereka hari itu adalah juara grandslam tiga kali, Lindsay Davenport, dan mantan pemain 4 besar di tahun 1990an, Mary Joe Fernandez.

Kim Clijsters and Martina Navratilova won the Woman's Legend event
Kim Clijsters dan Martina Navratilova memenangi gelar legenda putri

Keempat pemain ini masih memainkan tenis dengan baik. Jelas lah ya levelnya sudah tidak setinggi level pemain profesional lagi. Tetapi disini, aku amati ada dua hal yang tidak bisa hilang dengan waktu dan usia: mental juara dan teknik. Di super-tiebreak, Navratilova/Clijsters menghadapi dua match point untuk lawan di posisi 7–9. Tetapi kemudian, Martina Navratilova menyelamatkan kedua poin itu dengan touch legendarisnya di net!! Dan pada akhirnya Navratilova/Clijsters menang 2–6, 6–2, [11–9].

Semifinal tunggal putra antara [1] Novak Djokovic (SRB) vs [3] Andy Murray (GBR)

Andy Murray adalah petenis putra favoritku sekarang. Tetapi jujur saja, aku tidak berharap banyak darinya hari ini karena ia menghadapi lawan yang amat berat, Novak Djokovic, di permukaan terlemahnya Murray, tanah liat. Jadi aku hanya berharap mudah-mudahan Murray bisa membuat ini menjadi pertandingan yang menarik. Dan karena pertandingannya berada di posisi 2–1 dalam hal set untuk Djokovic dan sedang imbang 3–3 di set keempat, ada kemungkinan pertandingan ini bisa beres dalam tiga games saja kan ya, haha 😆 .

Novak Djokovic preparing to hit a serve
Novak Djokovic akan memukul sebuah serve
Andy Murray returning a Novak Djokovic's serve
Andy Murray mengembalikan serve-nya Djokovic

Tetapi untungnya, Murray berhasil memenangi set keempat 7–5 dan memaksa set kelima untuk dimainkan. Djokovic, tapinya, kemudian bermain dengan brilian di set kelima, terutama di poin-poin penting. Murray tidak bermain buruk, tetapi Djokovic yang terlalu bagus sehingga menang 6–1, walaupun skor ini tidak mengindikasikan ketatnya set kelima sih.

Final ganda putra antara [1] Bob Bryan (USA)/Mike Bryan (USA) vs [3] Ivan Dodig (CRO)/Marcelo Melo (BRA)

Aku sudah pernah menonton Bryan bersaudara di Roland Garros sebelumnya di tahun 2012. Tetapi waktu itu hanyalah babak pertama sehingga tetap seru dong ya sekarang aku bisa menonton mereka di final. Lawan mereka adalah tim yang baru memasuki final grandslam keduanya (mereka kalah dari si kembar Bryan di Wimbledon tahun 2013), Ivan Dodig dan Marcelo Melo. Btw, pertandingan ini membuatku menyadari bahwa hari itu ada banyak banget orang Brazil disana loh. Mereka semua mendukung Melo yang mana memang berasal dari Brazil, haha.

The Bryan brothers strategizing
Bryan bersaudara mendiskusikan strategi

Pertandingannya ternyata adalah pertandingan yang amat seru dan ketat. Kedua tim mempertahankan servisnya di set pertama dimana Bryan bersaudara memenanginya di tiebreak. Di set kedua, Bryan bersaudara mendapatkan keuntungan satu break. Tetapi kemudian, Dodig/Melo merebutnya kembali di servisnya Mike Bryan dan tim dari Kroasia/Brazil ini memenangi set kedua di tiebreak. Set ketiga berlangsung amat ketat dimana kedua tim memainkan tenis ganda berlevel tinggi. Di posisi 5 sama, servisnya Mike Bryan terpatahkan lagi. Kemudian Dodig/Melo berhasil menutup pertandingan dengan skor 7–5. Ini adalah gelar grandslam pertama mereka.

Final tunggal putri antara [1] Serena Williams (USA) vs [13] Lucie Šafářová (CZE)

Dan inilah pertandingan yang paling aku tunggu-tunggu dan membuatku senang sekali aku memiliki tiket untuk finalnya. Sebagai fans-nya Serena Williams, jelas aku bersyukur banget dong ya aku bisa menyaksikannya memainkan sebuah final grandslam. Maksudku, ini adalah kesempatan untuk menontonnya bermain di panggung tenis terbaik di dunia! Realistis saja, di usianya yang sudah 33 tahun, tidak ada yang tahu berapa lama lagi ia akan bermain kan? Jadi mumpung ia masih bermain, aku ingin menikmati permainannya semaksimal mungkin, dan sekarang aku bisa menontonnya di final grandslam! 😀

The coint toss for the women's singles final
Coin toss untuk final tunggal putri

Seperti yang bisa kita lihat, pertandingannya secara keseluruhan tergantung dari Serena. Ia nampak sudah melewati fase terburuk dari sakit flunya yang jelas mempengaruhi performanya di semifinal (ia bahkan tidak bisa berlatih sehari sebelum final karena ini). Ia memulai pertandingan dengan baik dan langsung unggul 6–3, 4–1 (40–15). Sampai saat ini aku merasa biasa saja (tetapi senang) karena pertandingannya nampak akan menjadi sebuah kemenangan rutin bagi Serena.

Tetapi kemudian, ia mulai nampak grogi dan tegang sehingga mulai membuat kesalahan-kesalahan sendiri yang tidak biasa. Merasakan ini, Lucie memanfaatkannya dan mulai masuk ke pertandingannya. Entah bagaimana, ia bisa menyamakan kembali kedudukan di set kedua dan memaksa tiebreak untuk dimainkan, yang mana ia menangi. Ia membawa momentum ini ke set ketiga dan langsung membangun keunggulan 2–0. Dan disini, aku mulai merasa tegang dan deg-degan nih dan secara mental aku mulai masuk juga ke pertandingannya, haha 😆 . Tetapi kemudian, disini lah Serena mengeluarkan mental juaranya. Ia menenangkan dirinya kembali dan langsung memenangi enam game selanjutnya. Pada akhirnya, Serena Williams menang 6–3, 6–7(2), 6–2 dan juga gelar grandslam ke-20nya!

Lucie Šafářová hitting a backhand
Lucie Šafářová memukul backhand
Serena Williams hitting a forehand
Serena Williams memukul forehand

Di sepanjang pertandingan ini, aku merasa sebal sama bapak-bapak tua di belakangku yang selalu berteriak “Allez Lucie!!” (“Ayo, Lucie!!” dalam bahasa Prancis) di setiap poin, termasuk ketika Serena membuat kesalahan, haha 😆 . Untukku sendiri? Ya, aku berusaha untuk tetap kalem dan menyimpan semua gejolak emosi di dalam diriku deh walaupun pada saat yang sama sebenarnya aku deg-degan dan emosi banget sama bapak-bapak itu (dan beberapa ibu-ibu di depan yang mendukung Šafářová, haha). Tetapi ketika akhirnya Serena mencapai match point pertamanya, aku tidak bisa membendungnya lagi dan berteriak “Come on Serena!!!“, hahaha 😆 . Dan ketika akhirnya Serena menang, aku berteriak “Yeeesssssss!!!!” dengan keras, haha 😛 . Saking senangnya, aku sampai gemetaran loh. Beneran! Haha 😆

Serena Williams expressing her emotiong after winning the title
Kurang lebih emosiku mirip seperti emosinya Serena Williams di foto ini deh: “Yeaaaaah!!!”

“Drama” akibat kegrogiannya Serena yang dimanfaatkan Lucie ini sebenarnya membuat pertandingannya menjadi lebih “seru” dan membuatku terlibat secara emosional lebih dalam. Beneran loh, pertandingan ini memiliki banyak kejadian menarik: mulai dari Serena dipaksa memukul sebuah forehand kidal (Serena tidak kidal), seperti ini:

Serena Williams hitting a left-handed forehand in the final. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe
Serena Williams memukul forehand kidal di final. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Btw, waktu ini terjadi, reaksiku adalah “Eh, apa yang barusan aku lihat? Serena memukul forehand kidal? Dan bolanya masuk? Wow!“. Haha, aku memang tidak bisa mempercayai apa yang baru saja aku saksikan. Dan saking tegangnya, ternyata Serena juga bersumpah-serapah beberapa kali (“ternyata” karena aku sih tidak mendengarnya dari kursiku tetapi ia memang mendapatkan teguran dari wasit). Ya, pertandingannya memang menjadi sebuah pertandingan yang dramatis, haha 😆 .

Serena Williams and Le Coupe Suzanne Lenglen
Serena Williams dan Le Coupe Suzanne Lenglen

Pengalamannya (lanjutan)

Begitulah, sekarang aku bisa bilang bahwa final grandslam adalah pertandingan tenis terbaik yang bisa kita lihat sebagai fans. Ini adalah karena semua orang peduli dengan pertandingan ini, tidak ada pertandingan lain yang lebih penting. Semuanya terlibat. Pemainnya. Panitianya. Penontonnya. Sebagai akibatnya, atmosfer di stadionnya juga amatlah seru.

Me with Serena Williams, haha
Seru banget dimana aku mendapatkan sebuah foto bersama Serena Williams, haha

Makanannya

Anyway, mari kita membicarakan makanan. Karena disana hanya sehari, aku hanya sarapan dan makan siang telat disana. Untuk sarapan, aku memesan tuna sandwich.

Beef steak with ratatouille
Steak sapi dan ratatouille, makanan favoritku di Roland Garros

Untuk makan siang, aku memesan menu favoritku di Roland Garros: steak sapi dengan ratatouille. Ini memang bukanlah steak paling enak di seluruh dunia ya; tetapi aku suka saja gitu! Setiap tahun setiap kali ke Roland Garros, aku selalu memesan satu! 😀

SELESAI.