#2126 – A Tennis Racket Story

ENGLISH

During my tennis lesson last week, this happened:

A broken tennis racket string

Yep, for the first time ever since I picked up a tennis racket, I had a broke string during play! Haha πŸ˜† . Thankfully it was during a tennis lesson so I could borrow a racket from the coach for the reminder of the session. Even though of course it wasn’t “optimal” for my game because, you know, every tennis player was accustomed to a certain “feel” of the racket (the grip, the stringing tension, the racket surface size, the presence of a damper, etc). And so it was unlikely that a borrowed racket would be a perfect match to one’s “feel”. But this was, of course, a much better situation than not having a racket to play tennis, haha πŸ˜› .

Anyway, I bought this racket in October 2015. Actually the racket still felt fine up to last week’s lesson, as since I started working in Amsterdam I haven’t been able to play as often as like when I was still in the university; so the racket hadn’t been *that* worn out. So this made me think that perhaps broken string had little to do with the “weariness” of a racket, haha.

Though, I’m not sure about Agnieszka Radwanska’s racket here πŸ˜†

This experience made me feel like a “professional player” though, in a way, who quite often had a broken string while playing a match! (Actually I had wondered why I had not had a broken string as I had played for years, whereas it felt like at least in one of two or three professional matches that I watched a string of one of the players’ rackets broke, haha).

Anyway so of course I could have had the racket restrung. But my last experience with racket restringing wasn’t the bestest one. At the time I felt like the string tension after restringing wasn’t the same and it didn’t “feel” right. Okay, a logical explanation for that was perhaps the tension was “wrong”.Β However, as Barney Stinson said…

and so I decided to just go with the easiest option and buy a new racket, haha πŸ˜› .

I went to a store in Amsterdam Centrum after work on Friday, though before that I already browsed for some options at an online tennis store. I knew that I would like a Wilson racket because Wilson was the brand the Williams sisters used, lol πŸ˜› (#truefans). I almost bought one at the store, but then I didn’t because at the very last second I decided to choose the model I had seen earlier online: the Blade 104 model used by Venus Williams, haha πŸ™ˆ. The store in Amsterdam didn’t have this particular model in stock at the time. And yesterday, my new racket was delivered to me πŸ˜€ . Btw, the nice thing about this online store was that they were able to customize the string too to my own specification! πŸ™‚

My new Wilson Blade 104 tennis racket

BAHASA INDONESIA

Di les tenisku minggu lalu, ini terjadi:

Senar raket tenis yang putus

Iya dong, untuk pertama kalinya semenjak aku mulai bermain tenis, aku mengalami yang namanya senar raketnya putus ketika aku bermain! Haha πŸ˜† . Untungnya kejadiannya adalah ketika les sih sehingga aku bisa meminjam raket dari pelatihnya untuk sisa dari sesi les kali itu. Walaupun jelas ini nggak “optimal” karena setiap pemain itu memiliki “feeling“-nya sendiri dengan raketnya (pegangannya, tegangan senarnya, luas permukaan raketnya, apakah pakai damper atau tidak, dll). Dan jadilah raket pinjaman itu seringnya tidak memiliki “feel” yang pas banget dengan kita. Ah, tapi ini adalah situasi yang lebih baik ya daripada main tenis tapi nggak punya raketnya, iya kan, haha πŸ˜› .

Anyway, raket ini aku beli di bulan Oktober 2015. Sebenarnya raketnya masih baik-baik saja kok sampai sesi les minggu lalu itu, karena toh semenjak aku mulai bekerja di AmsterdamΒ aku tidak bisa bermain tenis sesering dulu ketika masih di universitas; jadilah raketnya masih belum se-“usang” itu. Ini membuatku berpikir mungkin yang namanya senar yang putus itu tidak ada hubungannya dengan “keusangan” sebuah raket, haha.

Eh tapi kalau apa yang terjadi dengan raketnya Agnieszka Radwanska ini aku nggak tahu juga sih, haha πŸ˜†

Pengalaman ini membuatku merasa seperti “petenis profesional” nih, di satu sisi, yang mana nampak sering mengalami kejadian senar putus ketika bermain suatu pertandingan! (Sebenarnya sempat terpikirkan olehku lho mengapa kok aku tidak pernah mengalami senar raket tenis yang putus padahal aku sudah main tenis bertahun-tahun, sementara rasanya setidaknya di satu dari dua atau tiga pertandingan profesional yang aku tonton, senar dari salah satu raket yang digunakan pemainnya itu putus, haha).

AnywayΒ jelas sebenarnya bisa saja raketku di-restring. Tapi pengalaman terakhirku dengan me-restring raketkuΒ ternyata bukan pengalaman yang terbaik. Maksudnya, waktu itu rasanya tegangan senarnya setelah di-restring nggak sama sehingga “feel” raketnya rasanya jadi aneh gitu. Iya, iya, penjelasan logisnya adalah kemungkinan besar memang tegangannya aja yang waktu itu “salah”. Tapi, seperti katanya Barney Stinson kan…

dan jadilah aku memutuskan mengambil pilihan yang mudah aja dan membeli raket tenis baru, haha πŸ˜› .

Aku pergi ke sebuah toko peralatan olahraga di Amsterdam Centrum sepulang kerja di hari Jumat; eh tapi sebelumnya aku sudah mengecek satu toko online juga sih. Aku sih sudah tahu aku akan membeli raketnya Wilson lagi karena merk ini adalah merk yang dipakai Williams bersaudari, haha πŸ˜› (#truefans). Aku nyaris membeli satu raket di tokonya, tapi kemudian last minute aku membatalkan niatan itu karena aku memutuskan untuk membeli model yang sudah aku lihat di internet sebelumnya: model Blade 104Β yang dipakai oleh Venus Williams, haha πŸ™ˆ. Btw tokonya di centrum pas kebetulan tidak memiliki stok model yang ini waktu itu.Β Dan kemarin, raket baruku akhirnya tiba di tanganku πŸ˜€ . Btw, asyiknya toko online ini adalah mereka bisa meng-customize string-nya sesuai dengan spesifikasi yang aku inginkan lho! πŸ™‚

Raket tenis Wilson Blade 104 baruku

Advertisements

#1959 -What I Like About My Apartment

ENGLISH

Some time ago I shared a couple of first world problemsΒ I had with my apartment. And so to balance things out, in this post I would like to share what I (really) like about it. Okay, there are many of reasons (otherwise why would I commit to the biggest purchase I have ever done, so far, in my life in the first place πŸ˜› ), and in this post I will start with one.

And that is that my apartment building is new. By new, I mean it was built in the 2000s. While this means that, indeed, from the outside it does not look like what you might picture of a Dutch house, probably something like this:

Buildings in Amsterdam centrum.

I actually prefer my apartment much better than those “cute” centuries-old Dutch buildings. Why?

First of all, as Barney Stinson’s one rule:


Yes, “new is always better”. Lol πŸ˜† .

In this particular case, especially, this rule is right. You see, science is progressing, even at exponential speed; which means people can build “better” (in whatever sense) buildings now.

My previous apartment in Delft was in the centrum and so it was built a few hundred years ago which, of course, made it look “cool” and very “Dutch”. However, while it was overall a nice apartment, to be honest I did not enjoy it at all during the hot summer days. Why? Well, my conjecture (based on my observation and experience) is that because old buildings appear to be designed to trap the heat inside (for winter time) and so this is exactly what they do. It became really, really uncomfortably hot during those days, even at night, due to the heat! I notice that new(er) buildings (also my previous apartment before that, which was built in the 1960s) tend to have better “air flow” in them, thus making them much more comfortable to live in during the summer as it was chill inside even without air conditioner.

Another “complaint” I have often heard from my colleagues living in old Dutch buildings in Amsterdam is that you would need to be “intimate” with your neighbours. In the sense that, well, they can hear any noise coming from your apartment and this means that the reverse is also true. If you know what I mean, lol πŸ˜† .

I know that I am quite a light sleeper so I would definitely much rather live in a soundproof apartment, haha πŸ˜† . And newer apartments tend to cater that need. The concrete structure is also a good barrier for noise!

Another common “problem” with old pretty Dutch houses in Amsterdam is: rodents! I had this problem in my first ever student studio apartment in Delft and I really, really hated it; even though the studio was relatively new. This was actually a point I made clear to my agent during my apartment hunt: I wanted a house with no rodents problem! Lol πŸ˜† (My agent’s wife bursted her laugh at the time, but she understood my concern). And of course, the best bet for that was new(er) buildings.

A new residential tower in Delft.

Beside, pretty buildings are high-maintenance as well, I believe. I mean, many of those in Amsterdam are also declared monuments. This means that even though you are the owner, you cannot just “renovate” your own place however you like as you would need to consult it first! I even heard sometimes this has to be settled at the court!

***

Well, despite all these, of course it does not mean that new apartment comes with no problems at all. I mean, just remember the mini renovation I had to do with my shower room not too long ago. But still, overall, I still believe there are more pros than cons with newer building than older one; especially when you plan to own it (or part of it)!!

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku menyebutkan dua first world problems yang berkenaan dengan apartemenku. Nah supaya adil, di posting ini aku akan menuliskan apa yang kusukai darinya. Oke, jelas ada banyak lah ya alasannya (nggak mungkin juga kan aku mau berkomitmen terhadap kesepakatan pembelian yang melibatkan nominal terbesar yang pernah kulakukan seumur hidup, sejauh ini, jika tidak πŸ˜› ), dan di posting ini aku mulai dengan salah satunya.

Yaitu bahwa gedung apartemenku adalah gedung baru. Dengan baru, maksudku gedungnya dibangun di tahun 2000an. Walaupun memang ini berarti dari luar penampakannya mungkin tidak seperti yang kalian bayangkan akan rumah-rumah Belanda, mungkin seperti ini:

Gedung-gedung di centrum-nya Amsterdam.

Aku sebenarnya malah lebih suka begini loh daripada gedung-gedung Belanda “kece” yang sudah berusia ratusan tahun itu. Kok begitu?

Pertama-tama, seperti satu aturannya Barney Stinson:


Yup, “new is always better“. Huahaha πŸ˜† .

Dan di kasus ini, aturan ini benar sekali. Jelas dong iptek terus berkembang maju, bahkan dengan laju eksponensial; yang mana artinya sekarang manusia bisa membangun bangunan yang “lebih baik” (dalam sudut pandang tertentu).

Apartemenku sebelumnya di Delft berlokasi di centrum yang berarti dibangun sekian ratus tahun yang lalu, sehingga memang penampakannya “kece” dan “Belanda” banget gitu deh. Namun, walaupun apartemennya nyaman, sejujurnya aku tidak terlalu bisa menikmatinya di hari-hari panas di musim panas. Mengapa? Konjekturku (berdasarkan observasi dan pengalamanku) adalah karena bangunan-bangunan tua itu sepertinya dulu didisain untuk memerangkap energi panas (untuk musim dingin) sehingga ya ini lah yang bangunannya lakukan. Sebagai akibatnya, apartemennya sungguh amat tidak nyaman untuk ditinggali di hari-hari musim panas itu, bahkan di malam hari, saking panasnya! Nah, aku perhatikan gedung-gedung yang (lebih) baru (juga apartemenku yang sebelum itu, yang dibangun di tahun 1960an) cenderung memiliki “aliran udara” yang lebih baik di dalamnya, sehingga jauh lebih nyaman untuk ditinggali di musim panas karena tetap terasa ademΒ bahkan tanpa AC.

Satu “komplain” lain yang kerap kudengar dari kolega-kolegaku yang tinggal di gedung-gedung Belanda tua di Amsterdam adalah mau tidak mau kita harus “intim” dengan tetangga-tetangga kita. Dalam artian, mereka bisa mendengar segala suara dari apartemen kita dan artinya yang sebaliknya juga berlaku. If you know what I mean, huahaha πŸ˜† .

Yah, aku kan memangΒ light sleeperΒ ya sehingga jelas aku lebih suka tinggal di apartemen yang kedap suara, haha πŸ˜† . Dan apartemen-apartemen baru cenderung memenuhi kebutuhan ini. Struktur betonnya juga berfungsi sebagai peredam suara yang baik!

Satu “masalah” umum lain dengan rumah-rumah tua Belanda di Amsterdam adalah: tikus! Aku memiliki masalah iniΒ di apartemen studio mahasiswa pertamaku di Delft dan aku sungguh, sungguh membencinya; walaupun studio itu relatif baru sih. Poin ini bahkan aku tegaskan ke agenku lho ketika di tahap pencarian apartemen: Aku tidak mau rumah yang ada tikusnya! Haha πŸ˜† (Istri dari agenku sampai tertawa loh waktu itu, tetapi ia paham banget dengan keinginanku ini kok πŸ˜› ). Dan tentu saja, untuk itu pilihan yang aman adalah gedung-gedung yang (lebih) baru.

Sebuah menara tempat tinggal bari di Delft.

Di samping itu, gedung-gedung cantik itu juga high-maintenance lah. Maksudku, banyak lho gedung-gedung itu di Amsterdam yang dideklarasikan sebagai monumen (mungkin seperti golongan “cagar budaya” gitu kalau di Indonesia). Ini artinya walaupun kita adalah pemilik rumah itu, kita tidak bisa seenaknya “merenovasi” rumah kita karena kita harus mengonsultasikannya dulu! Dengar-dengar bahkan urusannya bisa sampai di pengadilan juga!

***

Yah, walaupun begitu, tentu bukan berarti apartemen baru tidak memiliki masalah lah ya. Misalnya saja, renovasi mini yang mesti kulakukan di kamar mandiku belum lama yang lalu. Tetapi tetap saja, secara keseluruhan aku rasa lebih banyak keuntungan daripada kerugiannya dari tinggal di gedung yang baru; terutama jika kita berencana untuk memilikinya (atau sebagian darinya)!!