The Past, Zilko's Life

#2137 – A Knees Mystery of My Life, Solved


My rather recent knee injury made me google some information about the human’s knee (Well, as you might be aware from this blog that I am quite a curious person, haha 😆 ). This effort took an interesting turn when I stumbled upon some information which actually was irrelevant to the injury itself. However, this information inadvertently “solved” a life mystery of mine of the past 15-20 years!

Growing up in my early teens, I felt serious pains in both knees. To be more precise, the pain was felt just below the knee caps on the frontal side of my lower legs; and it was much more intense when I was doing certain activities which put some force on the knees, such as, and especially, kneeling. And the pain was not just a one-time or temporary thing. I felt the pain quite consistently, for years! However as years went by and I was growing up, the pain gradually faded and after some years I did not feel it anymore (Though, even now I can still feel some “residue” if I deliberately “stimulate” the part (e.g. to put some considerable force on either parts)).

I did not know what it was but speculated that perhaps it had something to do with growing up. As the pain eventually stopped at some point anyway, I did not put too much thought to it anymore. I just kept this as a memory from my early adolescent years 😛 .

This stayed like this as a “mystery” until I accidentally found an article about the Osgood-Schlatter disease some weeks ago after the knee injury! Its description pretty much checked everything in the list, thus believing me this was indeed what I experienced growing-up! In short, the pain was caused by irritation of the bone growth plate in the area, which was made of cartilage in a child, due to high stress (due to activities) in the area which, in time, caused the growth plate to hurt and swell. Apparently athletic young people were most commonly affected by this disease.

The swell resulted in permanent bumps just underneath my knees which I have now.

While I wouldn’t say I was super active growing up, at the very modest least I could say I was moderately active, haha. By the time I started to feel the pain, I had been going to a martial art lesson for quite some time, which involved a lot of kneeling (hence pressure on the parts). I have to be honest, though, while so far I have described the feeling as “pain”; at certain moment with certain “angle” the “pain” actually felt … “good”. Lol 😆 . Did this make me a masochist btw? Haha 😛 .

Anyway, of course I made my parents aware of my condition. And I remember vividly I got the impression that my dad knew exactly what was going on. He was really calm about it and so I wasn’t worried; despite the pain. I don’t remember if I was taken to a doctor for this, though; but now that I think about it, I gradually reduced my physical activity after that. I’m not sure if my parents knew exactly about this disease or not, but the important thing was that I got the right “treatment” for it. And this amazes me even more because all of this was in the era before the booming of the internet!

So, did anyone of you also (apparently) have this disease growing up? 😀


Cedera lututku baru-baru ini membuatku meng-google informasi mengenai lutut manusia (Ya kan memang aku anaknya pengen-tahuan ya, haha 😆 ). Upaya ini tiba-tiba menjadi menarik ketika tidak sengaja aku menemukan informasi yang sebenarnya tidak berhubungan dengan cederanya itu sendiri. Tapi, informasi ini, tidak disangka-sangka, malah “menyelesaikan” sebuah misteri hidupku selama 15-20an tahun terakhir!

Ketika memasuki masa remaja, aku merasakan rasa sakit di kedua lututku. Untuk lebih tepatnya, rasa sakitnya aku rasakan di bawah bagian depan lutut di kaki bawahku; dan rasa sakitnya sungguh intens terutama jika aku melakukan beberapa aktivitas yang memang memberikan tekanan lebih di lutut, misalnya, dan terutama, berlutut. Rasa sakitnya pun bukan cuma sesekali atau temporer saja, tapi aku rasakan bertahun-tahun! Namun, seiring berjalannya waktu dan aku terus bertumbuh, perlahan-lahan rasa sakitnya berkurang dan setelah beberapa tahun tidak aku rasakan sama sekali (Walaupun sekarang aku masih bisa merasakan “residu”-nya sih jika dengan sengaja aku men-“stimuli” bagian ini (misalnya dengan sengaja menerapkan tekanan di bagian ini)).

Aku tidak tahu penyebab rasa sakit ini tetapi aku duga ada hubungannya dengan aku yang waktu itu sedang bertumbuh. Karena toh pada akhirnya di satu waktu rasa sakitnya tidak lagi aku rasakan sama sekali, aku tidak lagi terlalu banyak memikirkannya. Pengalaman ini aku simpan sebagai memori dari masa awal remajaku 😛 .

Ini tersimpan sebagai “misteri” hingga beberapa minggu yang lalu ketika secara tidak sengaja aku menemukan informasi mengenai penyakit Osgood-Schlatter setelah cedera lututku itu! Deskripsinya sangat cocok dengan apa yang aku rasakan, sehingga aku yakin memang penyakit ini lah yang aku hadapi dulu di awal masa remajaku! Secara singkat, rasa sakitnya disebabkan oleh iritasi pada plat pertumbuhan tulang di area tersebut, yang mana masih berupa tulang rawan di anak-anak, yang mana akibat tekanan yang tinggi (akibat aktivitas-aktivitas fisik) menyebabkan, setelah beberapa waktu, platnya tertarik sehingga menjadi sakit dan bengkak. Ternyata kebanyakan anak pra-remaja yang aktif/atletis memang terkena penyakit ini.

Bengkaknya menyebabkan benjolan permanen di sebelah bawah lututku ini bahkan sampai saat ini.

Walaupun aku tidak akan membuat klaim aku sangat aktif ketika kecil dulu, tetapi setidaknya dengan rendah hati aku bisa bilang bahwa memang aku cukup aktif, haha. Ketika rasa sakitnya mulai aku rasakan, aku sudah mengikuti sebuah les bela diri selama beberapa tahun, dimana memang aku harus banyak berlutut (sehingga tekanan di bagian kakiku ini) untuknya. Sejujurnya nih ya, walaupun sejauh ini perasaannya aku deskripsikan sebagai “rasa sakit”; di satu waktu dan dari “sudut” terentu rasa “sakit”-nya itu sebenarnya terasa … “enak” loh, haha 😆 . Eh apa ini berarti jangan-jangan aku agak masokis ya? Haha 😛 .

Anyway, tentu saja aku memberi-tahu orangtuaku akan kondisiku ini. Dan aku ingat jelas aku mendapatkan kesan bahwa papaku tahu dan paham banget akan situasi ini. Ia kalem dan biasa-biasa saja tentangnya dan jadilah aku juga tidak begitu khawatir; walaupun rasa sakitnya terasa sih. Aku tidak ingat apakah aku dibawa pergi ke dokter karenanya atau tidak; tapi kalau aku ingat-ingat kembali, memang semenjak itu perlahan-lahan aktivitas fisikku dikurangi. Nah, aku tidak tahu apakah orangtuaku tahu akan penyakit ini atau tidak, tapi yang jelas aku mendapatkan “perawatan” yang tepat untuknya. Dan ini membuatku amat terkesan karena ini semua kan terjadi di sebelum eranya internet booming ya!

Jadi, aku penasaran apakah di sini ada yang juga (ternyata) terkena penyakit ini ketika tumbuh besar? 😀

General Life, Life in Holland, Zilko's Life

#2093 – One Year in Amsterdam


Having been a home owner for one year also means that I have lived in Amsterdam for (about) a year now!! How time flies! This month last year I was busy (and almost went crazy, lol) with moving from Delft to Amsterdam on top of making my Amsterdam apartment “habitable”, lol 😆 .

But it was all worth the effort! It has been a great year in Amsterdam to me; especially that I do not have to face three hours of commuting every day anymore. Though, as humanly as I have been, there were times in the past one year where I felt a bit annoyed during my (short, 30 minutes one-way) commute to my office (I wish it was much shorter). But everytime I had this feeling, I just reminded myself of the commuting life I had to endure for about half a year before moving here!

I don’t miss commuting during rush hour at all.

Despite having been in this amazing city for a year, to be honest I feel like I haven’t really “maximized” my Amsterdam experience. You know, in the past year I went on a lot of trips, mostly in weekends 🙈. The result of this was less time and opportunity for me to actually explore Amsterdam. The problem is that I have argued that since I live in Amsterdam, technically I can enjoy the city at any time anyway. But this argument has actually been counterproductive because it pushes Amsterdam way down in my priority list instead, lol 😆 .

Though, I guess this is a common problem. During my 6.5 years of life in Delft, I actually never went to the super famous Vermeer Museum; and I only climbed the Nieuwe Kerk tower once and it was only because a good friend of mine was visiting, lol 😆 .

Delft’s Nieuwe Kerk

Ah, speaking of Delft, I actually have not been back there since this month a year ago when I finalized my move to Amsterdam, haha. I don’t know, thus far I haven’t had a reason to visit the beautiful town (Well, actually there was. In the summer last year I was invited to a barbeque by a friend in Delft on a Saturday. The problem was at the time I was travelling to London to watch Venus Williams at Wimbledon). But it appears that I will have one later on this year. We will see…

Anyway, yeah, it has been a great year in Amsterdam! 🙂 Cheers to many more of it!



Telah menjadi pemilik rumah selama setahun juga berarti aku sudah tinggal di Amsterdam selama sekitar setahunan sekarang!! Waktu benar-benar cepat berlalu! Bulan ini tahun lalu aku sibuk (stress banget dah, haha ) dengan pindahan dari Delft ke Amsterdam, dan ini pun di samping kesibukan membuat apartemenku di Amsterdam “bisa dihuni”, haha 😆 .

Tapi itu semua worth it banget kok! Satu tahun di Amsterdam ini adalah satu tahun yang baik untukku; apalagi aku tidak harus lagi nglaju selama tiga jam setiap hari kan. Walaupun yang namanya manusia ya, ada lho beberapa kali dalam setahun belakangan dimana aku agak sebal dengan nglaju-ku (yang singkat, cuma 30an menit saja sekali jalan) ke kantor (Maksudnya aku berharap lebih singkat lagi gitu). Tapi setiap kali aku merasa demikian, aku selalu mengingatkan diriku akan kehidupan nglaju-ku yang harus aku jalani selama setengah tahun sebelum pindah ke kota ini!

Aku sama sekali nggak kangen dengan yang namanya nglaju di waktu rush hour dah.

Walaupun sudah tinggal di kota keren ini selama setahun, sejujurnya aku merasa aku belum terlalu “memaksimalkan” pengalaman Amsterdamku. Tahu kan setahun belakangan ini aku juga sering banget pergi jalan-jalan, terutama di akhir pekan 🙈. Akibat dari ini adalah waktu dan kesempatan untuk menjelajahi Amsterdam yang otomatis berkurang. Masalahnya adalah karena aku tinggal di Amsterdam, aku berargumen bahwa kan aku bisa menikmati kotanya kapan aja. Tapi argumen ini justru kontraproduktif karena malah membuat prioritas Amsterdam menjadi turun, hahaha 😆 .

Ah tapi ini masalah umum sih sebenarnya. Selama tinggal 6,5 tahun di Delft, tidak pernah sekali pun lho aku mengunjungi Museum Vermeer yang terkenal itu; dan hanya satu kali saja aku memanjat menaikit menaranya Nieuwe Kerk, itu pun karena pas waktu itu temanku sedang mengunjungiku, hahaha 😆 .

Nieuwe Kerk-nya Delft

Ah, ngomongin Delft nih, sebenarnya aku belum lagi mengunjunginya nih semenjak aku pindah ke Amsterdam bulan ini tahun lalu, haha. Ya habis gimana, sejauh ini aku belum ada alasan untuk mengunjungi kota yang cantik ini (Sebenarnya ada sih. Di musim panas tahun lalu aku diundang barbeque-an di Delft oleh temanku di suatu hari Sabtu. Masalahnya waktu itu aku sedang pergi ke London untuk menonton Venus Williams di Wimbledon). Tetapi sepertinya tidak lama lagi akan ada alasannya sih, haha. Kita lihat saja…

Anyway, ya intinya mah setahun terakhir di Amsterdam ini adalah setahun yang baik! 🙂 Jadi, tos untuk tahun-tahun selanjutnya yang lebih baik lagi!

Contemplation, Thoughts

#2038 – 2017 In Review


Previous years posts:
1. 2008
2. 2011
3. 2012
4. 2013
5. 2014
6. 2015
7. 2016

The year of 2017 has been a big one in my life, with a couple of life achievements I reached throughout the year. As the year is coming to an end soon, here is a post summarizing my life this year.


I started January in Yogyakarta, Indonesia for my year-end vacation. I went back to Europe during the first week by flying to Amsterdam via Bali, Shanghai, and Paris, haha. Upon arriving in Amsterdam, it happened that a good friend of mine was in transit for one night from the UK to Indonesia and so I spent the night there.

Mie goreng, mie godhog, and magelangan in Yogyakarta
An Air France’s Boeing 777-300ER reg F-GSQG in Shanghai

January 2017 was a big month in my life with me defending my PhD dissertation at the end of the month. This was the pinnacle of my life of the past four years and a half, where I was working for this moment! In the end, I succesfully defended my PhD and so I was awarded my “Doctorate” degree. From now on, I am entitled to call myself “Dr. Ir. Zilko”, or “Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D”. 😎

The moment I became a Doctor


As my parents and brother were travelling to Europe for my PhD defense, we spent the following week travelling to the northern-west region of Italy. We visited Genova, Cinque Terre, Florence, and Rome. From there, I went back to Amsterdam while they continued their trip to Spain. The weekend later, we met up in Marseille.

Riomaggiore in Cinque Terre, Italy
The famous David by Michaelangelo

February was also a big month for me where, somehowidth=”240″ w, I won the negotiation to buy my own apartment! I would not get the keys to my apartment until April though, as there were still some paperworks that needed to be done. But if it all went well, I would be a home-owner in two months!


While I did not travel that much in March, I was still very busy this month because I had to do furnitures shopping for my apartment! Haha 😆 . With all the purchasing costs needed to be paid during this month, I spent the most amount of money I had ever done in my life this month, haha 😆 . It was exciting and terrifying at the same time, though; so it was definitely a very interesting experience.

Actually I did an Avgeek Weekend Trip in March


Thankfully everything went well so I got the keys of my own apartment this month. The next matter to be taken care of was obviously assembling all the furnitures together and arranging all the necessary needs to make the apartment livable (e.g. internet connection). Of course I also needed to arrange my house moving from Delft to Amsterdam. This means that this month was my last month in Delft after more than 6.5 years living there!

The end of the Delft chapter of my life

However, I still managed to slip in an Easter trip to Zurich in the middle of the month. I was quite unlucky, though, where it was constantly raining in Zurich almost the whole time I was there!



Mainly I was still taking care of furnishing my apartment in May, where I got more stuffs in like a TV (plus its subscriptions) and also a cleaning robot! 😀

Lion selfie in Lyon

May was a month full of long weekends in the Netherlands. I made use one of them to go to Lyon for a long weekend trip.


I started June by going on another long weekend trip to Bremen. A weekend later, I went to Paris for my annual trip to Roland Garros. I watched the women’s singles final match which Jelena Ostapenko unexpectedly won against Simona Halep.

The Bremen Hauptbahnhof, Bremen
Jelena Ostapenko won Roland Garros

There were a couple of apartment matters needed to be taken care of this month. I forgot to take my keys which resulted in me having to change the locking system and also I needed to do a mini-renovation in my shower room. Both cost some amount of money, of course.


I started July in a very lucky manner where I got a ticket for the ladies’ singles final of Wimbledon between Garbine Muguruza and Venus Williams! Even though Venus lost that match, it was still an exciting experience overall for me to able to witness an official Venus Williams singles match, let alone a Wimbledon final!

Venus Williams serving
Strawberry and cream

At the end of July, for the first time ever I went to Berlin. I loved the city and actually thought why did I not go there earlier? Haha 😆

At the “Checkpoint Charlie” in Berlin

August – October

With a UK visa in my hand, I arranged another weekend trip to London in August as London was one of my most favorite cities in the world. At the end of the month, I went on an Avgeek Weekend Trip to Lyon to catch Air France’s Lyon – Paris flight on a Boeing 787-9 Dreamliner.

The London Eye and River Thames, London
An Air France’s Boeing 787-9 F-HRBA in Lyon

I travelled to Manchester and Cardiff in September. My trip to Cardiff made me officially have visited all four countries within the United Kingdom, with Wales finally being ticked off!

The Merchants’ Bridge in Manchester
Cardiff selfie, finally 4 out of 4 in the UK!

I went on three Avgeek Weekend Trips in October. The biggest one was the second one, where I went to London to catch Air France’s London – Paris flight on a Boeing 787-9 Dreamliner.

The SkyTeam Lounge at Heathrow

November – December

I went on a weekend trip to Newcastle to start November and visited London for a weekend again in December because I could 😛 .

Dusk in Newcastle upon Tyne
Lively London in December

The London trip one did not go exactly as planned due to the severe snow storm that hit Western Europe that weekend. As a result, I had to take the long way back from London to Amsterdam via land; which was an interesting experience on its own.

Taking a ferry from Dover to Dunkerque

I went to Indonesia for my brother’s wedding in the middle of November. And it was indeed a very festive occassion! During this trip, I also made stops at Jakarta and Solo, both cities I last visited in 2010.

Ready for the wedding
Grand Indonesia

To end the year, right now I am in California enjoying the Californian winter! :mrgreen:


Posting-posting tahun-tahun sebelumnya:
1. 2008
2. 2011
3. 2012
4. 2013
5. 2014
6. 2015
7. 2016

Tahun 2017 adalah tahun yang besar di dalam hidupku, dengan dua pencapaian hidup yang aku gapai di sepanjang tahun ini. Dan karena tahunnya akan segera berakhir, berikut ini sebuah posting untuk merangkumnya.


Januari aku mulai di Yogyakarta, Indonesia untuk liburan akhir tahun. Aku kembali ke Eropa di minggu pertama dengan terbang melalui Bali, Shanghai, dan Paris, haha. Begitu tiba di Amsterdam, kebetulan seorang teman baikku sedang transit selama satu malam di Amsterdam dari UK ke Indonesia jadilah aku menginap semalam di sana.

Soto Kadipiro yang legendaris di Yogyakarta.
Airbus A330-300 rego B6095nya China Eastern.

Januari 2017 adalah bulan besar di dalam hidupku karena aku akan menjalani sidang disertasi PhD (S3)-ku di akhir bulan. Ini adalah puncak dari kehidupanku selama empat setengah tahun terakhir sebelumnya, dimana aku bekerja-keras untuk momen ini! Pada akhirnya, aku sukses mempertahankan disertasi PhD-ku sehingga aku diberikan gelar “doktoral”. Jadi sejak waktu ini, aku bisa memanggil diriku dengan sebutan “Dr. Ir. Zilko”, atau “Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D”. 😎

Foto tangga yang terkenal itu.


Karena orangtua dan adikku pergi ke Eropa untuk sidang PhDku, kami menghabiskan seminggu setelahnya untuk liburan ke area barat lautnya Italia. Kami mengunjungi Genova, Cinque Terre, Florence, dan Roma. Dari Roma, aku kembali ke Amsterdam sementara mereka lanjut jalan-jalan ke Spanyol. Akhir pekan berikutnya, kami bertemu kembali di Marseille.


Februari jugalah bulan yang besar untukku dimana aku menang dalam negosiasi pembelian apartemenku! Aku baru akan mendapatkan kuncinya di bulan April sih karena akan ada beberapa dokumen yang harus diurus dulu sebelumnya. Namun, jika semuanya berjalan lancar, dalam waktu dua bulan aku akan menjadi seorang pemilik rumah!


Walaupun aku tidak jalan-jalan di bulan Maret, bulan ini adalah bulan yang cukup menyibukkan karena aku harus belanja perabotan rumah untuk apartemenku! Haha 😆 . Dan ditambah dengan semua biaya yang berkenaan dengan pembelian rumahnya yang harus dibayarkan di bulan ini, aku membayarkan nominal terbesar yang pernah aku lakukan seumur hidup di waktu ini deh, haha 😆 . Rasanya seru tetapi seram juga pada saat yang bersamaan; jadi ya memang ini adalah pengalaman yang unik.

Sebenarnya aku ada satu Avgeek Weekend Trip sih di bulan ini


Untungnya semua lancar sehingga aku mendapatkan kunci apartemenku di bulan ini. Hal selanjutnya yang harus diurus adalah pemasangan perabotan rumah itu dan juga mengurus semua hal yang diperlukan untuk membuat apartemennya bisa aku huni (misalnya: koneksi internet). Tentu saja aku juga harus mengurus pindahan dari Delft ke Amsterdam. Ini berarti bulan ini adalah bulan terakhirku di Delft setelah 6,5 tahun lebih tinggal di sana!

Bye, bye, Delft.

Walaupun sibuk, aku masih sempat menyempilkan satu perjalanan Paskah ke Zurich di pertengahan bulan. Aku kurang beruntung, sayangnya, dimana hujan terus-terusan dong di Zurich!

Zurich dari Lindenhof


Umumnya aku masih mengurus urusan perabotan apartemenku di bulan Mei, dimana aku membeli barang-barang elektronik lain seperti misalnya TV (sekalian urusan kabelnya) dan juga robot bersih-bersih! 😀

Mei adalah bulan penuh long weekend di Belanda. Salah satunya kumanfaatkan dengan pergi ke Lyon.

Saint Georges di Lyon


Juni kumulai dengan perjalanan long weekend lagi ke Bremen. Seminggu kemudian, aku pergi ke Paris untuk perjalanan tahunanku ke Roland Garros. Aku menonton final tunggal putri yang tak disangka-sangka, dimenangi oleh Jelena Ostapenko yang mengalahkan Simona Halep.

Kota Bremen, Jerman
J. Ostapenko vs S. Halep

Ada dua urusan apartemen yang harus kuurus di bulan ini. Aku kelupaan kunciku di sekali waktu yang mana sebagai akibatnya sistem perkunciannya harus diganti dan juga aku harus melakukan renovasi mini di ruang shower. Tentu saja aku harus keluar agak banyak untuk keduanya.


Juli kumulai dengan amat beruntung dimana aku mendapatkan tiket untuk menonton final tunggal putri Wimbledon antara Garbine Muguruza dan Venus Williams! Walaupun Venus kalah, pengalaman ini masih lah pengalaman yang seru karena aku berkesempatan menyaksikan pertandingan resmi tunggalnya Venus Williams, ditambah lagi di final Wimbledon!

Wimbledon Centre Court
Venus Williams

Di akhir Juli, aku pergi ke Berlin untuk pertama kalinya. Aku amat suka kotanya dan sempat terpikir kok baru sekarang aku ke sana ya? Haha 😆

Berliner Dom

Agustus – Oktober

Dengan visa UK di tangan, aku pergi dalam sebuah perjaanan akhir pekan ke London di bulan Agustus karena kota ini adalah salah satu kota yang paling aku sukai. Di akhir bulan, aku pergi dalam sebuah perjalanan Avgeek Weekend Trip ke Lyon untuk naik penerbangannya Air France dari Lyon ke Paris yang dioperasikan dengan Boeing 787-9 Dreamliner.

Selfie yang sangat amat turistik banget di London!
Kelas Ekonomi Premium di dalam Boeing 787-9nya AF

Aku pergi ke Manchester dan Cardiff di bulan September. Perjalananku ke Cardiff membuatku resmi telah mengunjungi semua empat negara di Inggris Raya, dengan Wales akhirnya tercentang dari daftarnya juga!

Cymru Wales

Aku pergi dalam tiga Avgeek Weekend Trip di bulan Oktober. Yang paling seru adalah yang kedua, dimana aku pergi ke London untuk naik penerbangannya Air France dari London ke Paris dengan Boeing 787-9 Dreamliner.

Boeing 787-9 rego F-HRBCnya Air France.

November – Desember

Aku pergi dalam perjalanan akhir pekan ke Newcastle untuk memulai November dan menunjungi London lagi di sebuah akhir pekan di bulan Desember karena aku bisa, haha 😛 .

Selfie Newcastle
Piccadilly Circus

Perjalananku ke London tidak berlangsung sesuai dengan rencana akibat badai salju yang menerjang Eropa Barat di akhir pekan itu. Sebagai akibatnya, aku harus kembali ke Belanda melalui jalur darat; yang mana di satu sisi adalah pengalaman yang menarik sih.

Naik bus ke Belanda dari London.

Aku pergi ke Indonesia di pertengahan November untuk pesta pernikahannya adikku. Dan memang ini adalah pesta perayaan yang ramai banget! Di perjalanan ini, aku juga berkesempatan mampir di Jakarta dan Solo, dua kota yang terakhir kukunjungi di tahun 2010.

Kue pengantin
Kembali di Solo

Untuk menutup tahun besar ini, saat ini aku berada di California untuk menikmati musim dingin California! :mrgreen:

Big Days, Contemplation, Zilko's Life

#1970 – Seven Years in Europe


My life in Europe, well, the Netherlands 😛 , started on this day seven years ago, when I got off Garuda Indonesia’s Airbus A330-200 reg PK-GPI at Schiphol Airport as flight GA88 from Jakarta (via Dubai). A total random note: PK-GPI no longer flies for Garuda and is now operated by Chinese’s Beijing Capital Airlines with reg B-8221 😛 .

The seventh year in retrospect

If last year I mentioned my sixth year was a big one for me, then the seventh year was even a bigger one!

I completed my PhD research this year and so now I can attach the title “PhD” or “Doctor” next to my name if I want to (Well, I earned this 😛 ). I have also decided to leave academia and switch to industry, with me starting my new job in Amsterdam last October. On top of that, I bought myself an apartment earlier this year!

So I guess I do not need to explain why I say my seventh year was bigger than my sixth. In fact, it might be the biggest one since seven years ago. So maybe it is not really an exaggeration to say that I now feel the most “fulfilled” since the day I moved to Europe.


Unsurprisingly, I also travelled a lot in the seventh year. I added two new European countries to my list this year, bringing the total to 25 with the addition of Romania and Greece. I also explored further several European countries I had visited before, with my visit to the German’s famous Christmas Market and the wonderful Cinque Terre in Italy. There were also several city trips which I did throughout the year.

I also went on two intercontinental trips this past year. The first one was to my dream destination: Sint Maarten in the Caribbean; and the second one was to Indonesia for Christmas and New Year, the first time I was in Indonesia for both events since I moved to Europe. Both trips were so much fun!

Going to the eighth

My eighth year appears to be like an exciting one at this point. I learned a lot during my seventh year, mainly because of my switch to industry, and I expect to learn even more in this coming year. Oh, and I also already have a few fun trips planned out at this point 😛 .

So yeah, the eighth year indeed sounds like going to be an exciting one!! 😀

I got my PhD degree in my seventh year in Europe.


Kehidupanku di Eropa, ehm, di Belanda 😛 , dimulai di hari ini tujuh tahun lalu, ketika aku turun dari pesawat Airbus A330-200nya Garuda Indonesia dengan rego PK-GPI di Bandara Schiphol sebagai penerbangan GA88 dari Jakarta (via Dubai). Btw, info random nih: PK-GPI tidak lagi terbang untuk Garuda loh dan sekarang dioperasikan oleh maskapai China, Beijing Capital Airlines, dengan rego B-8221 😛 .

Refleksi tahun ketujuh

Jika tahun lalu aku sebutkan bahwa tahun keenam adalah tahun yang besar untukku, artinya tahun ketujuh ini adalah tahun yang lebih besar lagi!

Riset PhD (S3)-ku resmi aku selesaikan di tahun ini jadi sekarang aku bisa menambahkan gelar “PhD” atau “Doktor” ke namaku suka-suka gitu deh kalau aku mau (Jelas dong aku berhak untuk melakukan ini 😛 ). Aku juga sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia akademia dan pindah ke industri (dunia kerja “reguler”), dengan pekerjaan baru yang aku mulai bulan Oktober lalu di Amsterdam. Di atas itu semua, aku juga membeli sebuah apartemen awal tahun ini!

Jadi aku rasa aku tidak perlu menjelaskan mengapa aku bilang tahun ketujuh ini lebih besar daripada tahun keenam yah. Malahan, mungkin tahun ini adalah yang terbesar semenjak tujuh tahun yang lalu lho. Jadi mungkin tidak berlebihan pula jika kubilang aku merasa paling “komplit” semenjak aku pindah ke Eropa.


Tidak mengherankan, aku juga banyak jalan-jalan dong di tahun ketujuh ini. Aku menambahkan dua negara Eropa baru ke daftarku tahun ini, sehingga totalnya menjadi 25 dengan tambahan Romania dan Yunani. Aku juga mengeksplor lebih dalam beberapa negara Eropa lainnya yang sudah pernah kukunjungi, dengan kunjunganku ke Christmas Market di Jerman yang terkenal banget itu dan Cinque Terre yang kece di Italia. Ada juga beberapa perjalanan city trips ke beberapa kota di sepanjang tahun.

Aku juga pergi dalam dua perjalanan antar-benua setahun belakangan ini. Yang pertama adalah ke tempat impianku: Sint Maarten di Karibia; dan yang kedua ke Indonesia untuk Natal dan Tahun Baru, pertama kalinya aku berada di Indonesia untuk Natal dan Tahun Baru semenjak pindah ke Eropa. Jelas keduanya seru banget!

Masuk ke tahun kedelapan

Sekarang, tahun kedelapan nampak akan menjadi tahun yang seru. Aku banyak belajar di tahun ketujuh, terutama karena kepindahanku ke industri, dan aku yakin aku akan belajar lebih banyak lagi di tahun yang akan datang ini. Oh, dan juga aku sudah merencanakan beberapa perjalanan yang seru nih 😛 .

Jadi, ya, tahun kedelapan memang sepertinya akan menjadi tahun yang amat seru!! 😀

Zilko's Life

#1900 – Amsterdam, Here I Come!!


Since starting working in Amsterdam last October, I have been commuting every working day between Delft and Amsterdam. My observation at the time turned out to be robust enough, where I needed to spend about three hours everyday just to commute; unless when there was a train disruption, in which case it would be longer.

While I started to get used to it, I realized this was still not sustainable in the long run. There was basically less and less rationale for me to still live in Delft as time went on. The cheaper rent in Delft became irrelevant anyway (it has been so since I started working actually), as I got more than good enough salary to afford Amsterdam’s (expensive *cough*) accommodation, haha. And now that I have officially finished my PhD in TU Delft, I can say there is no more reason for me to still live in Delft.

The moment I became a Doctor, also the moment where living in Delft became significantly less reasonable.

Yep, it is now all obvious to me. I have decided that I am moving to Amsterdam.

I write this post because I have made concrete steps in realizing this decision. In fact, it is already confirmed that I am moving to the capital this month, haha 😆 . Further details into this shall become one special upcoming post. So stay tuned for that! 🙂

But yeah, after moving to Delft almost seven years ago, it is about time for me to close the Delft chapter of my life really soon. Yep, this might sound super dramatic considering Amsterdam is only about 55 km from Delft, haha. But still… .

Having lived in Delft this long. In this town I got my Master and Doctorate (PhD) degrees. In this town my life in Europe started. Yup, Delft will always be a big and important part of my life 🙂 .

Marktplein in Delft as viewed from the top of the Nieuwe Kerk


Semenjak mulai bekerja di Amsterdam bulan Oktober lalu, aku telah nglaju di setiap hari kerja antara Delft dan Amsterdam. Pengamatanku waktu itu cukup akurat, dimana setiap hari aku perlu menghabiskan sekitar tiga jam di jalan; kecuali jika ada gangguan kereta api yang mana dalam kasus ini waktunya tentu lebih lama lagi.

Walaupun aku mulai terbiasa dengan rutinitas ini, aku menyadari bahwa ini tetap sama sekali tidak berkelanjutan (sustainable) untuk jangka panjang. Seiring berjalannya waktu, semakin sedikit keuntungan bagiku untuk tetap tinggal di Delft. Biaya sewa akomodasi yang lebih murah di Delft juga (sebenarnya semenjak awal mulai kerja) tidak relevan, karena toh aku mendapatkan gaji yang jauh lebih dari cukup untuk mampu tinggal di sebuah akomodasi di Amsterdam (yang mahal itu *uhuk*), haha. Dan juga sekarang aku telah menyelesaikan PhD (S3)-ku di TU Delft, artinya semakin tidak ada lagi alasan untukku tetap tinggal di Delft.

Momen aku menjadi seorang Doktor, juga momen dimana tinggal di Delft menjadi jauh lebih tidak masuk akal lagi.

Yep, kini semuanya sudah jelas untukku. Aku telah memutuskan untuk pindah ke Amsterdam.

Posting ini aku tulis karena aku telah membuat langkah-langkah nyata untuk merealisasikan keputusan ini (jadi bukan omdo, haha 😛 ). Malahan, sudah terkonfirmasi kok bahwa aku akan pindah ke ibukota bulan ini, haha 😆 . Cerita lebih mendetail mengenai ini adalah bahan satu posting yang akan datang. Jadi ditunggu aja ceritanya! 🙂

Tetapi, ya, jadilah semenjak aku pindah ke Delft nyaris tujuh tahun yang lalu, kini sudah waktunya untukku menutup bab Delft dalam hidupku. Iyaa, memang terdengar dramatis dan berlebihan banget ya. Apalagi Amsterdam kan cuma sekitar 55 km aja dari Delft, haha. Tetapi tetap aja… .

Aku sudah tinggal di Delft sedemikian lama. Di kota ini lah aku mendapatkan gelar Master (S2) dan Doktoral (S3)-ku. Di kota ini lah kehidupanku di Eropa dimulai. Ya, Delft akan tetap menjadi satu bagian besar dan penting dalam hidupku 🙂 .

Big Days, PhD Life, Zilko's Life

#1881 – My PhD Defense and Graduation


At the end of January, I successfully defended my PhD dissertation and, therefore, was awarded my PhD degree. And here is the story of how that day, one of the most important days of my entire life, went.

1. The suiting up

There was a strict dress code that I must follow for the defense. And by strict, I could not just dress formally as I would like or do. For the professors, they even determined the specific shade of gray ( 😛 ) for their ties (seriously!).

The suit rental shop in Delft
The suit rental shop in Delft

Anyway, thankfully there is a suit rental shop in Delft who knows all these rules and caters for this kind of event. For today, I made an appointment with them at 10:30 to get my tuxedo. I picked my parents and brother up at their hotel and went to this shop. There, I was suited up and met two associate professors in my committees who would need to rent their designated suits for the event too.

The whole look was very nice, though. My mom especially loved the fabric of the vest, haha. Well, having to pay €99 just for renting the whole outfit (plus €25 for the shoes), I expected that, lol 😆 .


2. The trip to the defense room

Then, we had to go to the defense room in TU Delft Aula. I planned to take bus number 69 which stopped just in front of the aula so it was very convenient. But then, bus number 60 arrived and somehow I saw the “0” as “9” causing me to take the wrong bus! Duh! Drama which I certainly did not need for today 😣.

As a result, we got off at a bus stop that was quite far away from the aula. There was no scheduled bus service towards the Aula, so our best option was to walk there 😣. Well, luckily I put some time margins in our plan so we still had the time to go there. But still…

Before the defense started
Before the defense started

Long story short, we arrived at the defense room. I was greeted by the beadle (the MC, sort of) who briefed me with everything and helped me to prepare myself. It was still 40 minutes before the start of the defense. My family tried to calm me down by taking some photos, haha. Then, my guests also started to arrive. (This was an open defense so basically all people were allowed to come and watch).

3. The defense

The starting point of the defense
How the defense started

At exactly 12:30 PM, the beadle and my thesis defense committees (consisting of eight members, of which five were full professors) entered the room. We all had to stand up and the eight committee members sat at their designated places. The audiences were asked to sit down while I was asked to go to the podium.

The rector magnificus (chairman), who acted as the moderator, introduced the eight committee members to the audience. Then, the one-hour long questioning started….

Listening seriously to the question being asked
Listening seriously to the question being asked

To be honest, I was very nervous during the defense, haha. But I expected it, though. One week prior, a British stand-up comedian presented (at a work event) giving some advice on how to do public speaking in an intimidating event. I decided to give this advice a try!


Overall, I think I did fine in answering the questions thrown at me. Some of those were like “What the hell?” questions, lol, but I handled them well. My promotor, who got the last turn to ask, just finished his first question when I saw the beadle entering the room, meaning the 3600 seconds of defense time was almost over. I had not got the chance to fully answer the question when the beadle finally said “Hora est!“. And everything must stop as it had been exactly one hour.

Almost "Hora Est!"
Almost “Hora Est!”

I was asked to return to my seat. The eight committee members followed the beadle to a separate room to discuss the result.

4. The agonizing wait

As they left the room, the audience gave me a big applause. As for me, I just felt tired. And relieved. But mostly tired, though, haha.

Some of my guests came to my seat to congratulate me. The advice from the British stand-up comedian turned out to be a really good one, as they told me I looked composed and was very confidence in defending my work and arguments. I told them that in the inside, I was crazy nervous as hell! Haha 😆

I was so tired that I did not feel like standing at this time so I pretty much just sat the whole time. I felt like my defense went well, but still there was a bit of anxiety over what the committees were discussing at this time.

5. The graduation

The committee marching with my diploma to the defense room
The committee marching with my diploma to the defense room

About 15 minutes later after the defense, the beadle, followed by the eight committee members, entered the room. As before, everyone had to stand up while the nine people took their places.

I was, then, asked to go forward to stand before the rector magnificus. He declared that I had successfully defended my thesis and the committees had all agreed that I deserved to be awarded the degree of “Doctor”.

The rector magnificus then gave the floor to my promotor, who officially “awarded” me with my degree and handed over my (big) diploma. And, thus, as of 13:48 Dutch time today, officially I was promoted to Dr. Ir. A. A. Zilko.

The moment I became a Doctor
The moment I became a Doctor.

Then, the rector magnificus swore me my responsibility to the society now that I had become a Doctor, an independent scholar. With this, my argument and opinion could affect the society so I must be wise with it. After my promotion, the eight committee members and the audiences were asked to sit down (they were standing the whole time during my promotion).

A graduation speech
A graduation speech

Then, the rector magnificus gave the floor to my copromotor (my daily supervisor). As I worked very closely with her during my PhD years, she was given the opportunity to be the first person to officially address me as “Dr. Zilko” and gave a speech about my promotion and the years we have worked together. Actually, we had known each other for almost seven years, as she was also the one who awarded me my Master scholarship to the Netherlands in early 2010, a big turning-point event of my life. So, yeah, it was quite emotional indeed 🙂 .

6. The reception

My graduation was followed with a reception. But first, the mandatory official group photo at the famous stairs just in front of the defense room:

The famous stairs photo
The famous stairs photo

The reception took place in the common area downstairs. Everything had been set up according to my request (Weeks before, I must determine, among other things, how many pieces of cookies I would want to serve in the reception. Seriously! 😅)

With my diploma
With my diploma

Anyway, I was led to a table by the beadle, who opened the diploma and presented it on the table for me. My parents and brother were asked to stand by my left. Then, the guests formed a line to congratulate me (then my parents and brother) one by one, starting with the committees 🙂 . During the reception, I also received a lot of gifts from my colleagues and friends! Thank you guys!! ☺️


The reception lasted for almost an hour. After everyone left, I took care of the payment stuffs with the staff there, and then I left the Aula.

7. The aftermath (rest)

We took the right bus to go back to the Delft centrum this time, haha. I asked my parents and brother to head back to their hotel for some rest, while I returned to the suit rental shop to returned my tuxedo. Along the way, a lot of strangers congratulated me. I guess it was very visible when a guy with a full tuxedo holding a big red cylinder, then he must have just successfully defended his PhD dissertation!

8. The dinner

Beef cutlet as the main course
Beef cutlet as the main course

I also decided to organize a dinner with the committee members in the evening in a nice restaurant in the city center of Delft (its rating in Yelp and Trip Advisor was superb). Unfortunately my promotor could not attend due to his recurring asthma problem. One of the professors was late due to an emergency at work, so we started dinner rather quite late.

My choice of restaurant turned out to be great, as the dinner was really nice! Overall it was a nice evening; even my supervisor advised my parents to practise more conversational English, haha 😆 .

Graduation dinner groupfie
Graduation dinner groupfie


Yeah, that is it. The story of one of the biggest days of my entire life. And I feel blessed to be able to have that experience! ☺️


Di akhir bulan Januari, aku sukses menjalani sidang disertasi PhD/S3-ku dan, oleh karenanya, aku mendapatkan gelar S3ku. Nah, posting ini akan berisi cerita bagaimana hari itu, salah satu hari terpenting di keseluruhan hidupku, berlangsung.

1. Suiting up

Ada aturan dress code super ketat yang harus aku patuhi untuk mengikuti sidang. Dan dengan ketat, maksudku aku tidak bisa hanya mengenakan pakaian formal seperti biasanya. Bahkan bagi profesor-profesornya, mereka harus memakai dasi abu-abu yang mana shade of gray-nya ( 😛 ) sudah ditentukan dong, jadi nggak bisa asal sembarang warna abu-abu (beneran!).

The suit rental shop in Delft
Toko persewaan pakaian formal di Delft

Anyway, untungnya ada toko persewaan pakaian formal di Delft yang sudah paham semua aturan ini dan melayani acara-acara semacam ini. Jadilah untuk hari ini aku membuat janji dengan mereka jam 10:30 pagi untuk mendapatkan tuksedoku. Aku menjemput orangtua dan adikku di hotel mereka dan berjalan ke tokonya. Di sana, aku dipakaikan pakaianku dan juga bertemu dua associate professors yang juga merupakan anggota komite sidang disertasiku yang akan mengambil pakaian mereka.

Penampilan tuksedonya memang keren sih. Mamaku terutama suka bahan rompinya. Yah, yang namanya harus membayar €99 (sekitar Rp 1,4 juta) cuma buat menyewa pakaiannya aja (untuk sepatu aku harus menambah €25 (sekitar Rp 350 ribu) loh), jelas aku berekspektasi amat tinggi lah ya, haha 😆 .


2. Perjalanan ke ruang sidang

Lalu, kami harus pergi ke ruangan sidangku di Aula-nya TU Delft. Aku berencana menaiki bus nomor 69 yang berhenti tepat di depan Aula sehingga nyaman kan ya. Tetapi kemudian, bus nomor 60 datang dan entah bagaimana aku membaca “0” sebagai “9” dong sehingga kami salah naik bus!! Duh! Drama begini jelas tidak aku butuhkan buat hari seperti ini lah ya 😣.

Sebagai akibatnya, kami harus turun di halte bus yang agak jauh dari Aula. Karena tidak ada layanan bus kesana, pilihan terbaik kami adalah berjalan kaki 😣. Untungnya sih aku memang sudah memasukkan waktu ekstra di perencanaanku sehingga kami masih ada waktu untuk kesana. Tetapi tetap aja lah ya…

Before the defense started
Foto-foto dulu sebelum sidang

Singkat cerita, kami tiba di ruangan sidangnya. Aku disambut oleh bedel-ku (bisa dipandang sebagai semacam MC gitu) yang menjelaskan semuanya kepadaku dan membantuku untuk mempersiapkan diriku. Masih ada 40 menit sebelum sidang dimulai. Keluargaku berusaha menenangkanku dengan foto-foto, haha. Lalu, tamu-tamuku juga mulai berdatangan satu-satu (ini adalah sidang terbuka sehingga semua orang umum diperbolehkan menonton).

3. Sidang

The starting point of the defense
Bagaimana sidang dimulai

Tepat jam 12:30, bedel dan komite sidang disertasiku (terdiri atas delapan anggota, dimana lima di antaranya adalah profesor) memasuki ruangan. Kami semua diharuskan berdiri ketika mereka masuk dan duduk di tempatnya masing-masing. Kemudian, para penonton diminta duduk sementara aku diminta maju ke podium.

Rector magnificus (pemimpin sidang), yang bertugas sebagai moderator, memperkenalkan delapan anggota komite ini ke para penonton. Lalu, sidang yang berisi cecaran pertanyaan bertubi-tubi selama satu jam dimulai…

Listening seriously to the question being asked
Serius mendengarkan pertanyaan yang sedang disampaikan

Jujur, aku sungguh gugup sekali di sidang ini. Tetapi aku sudah menyangkanya sih. Kebetulan satu minggu sebelumnya, seorang stand-up comedian asal Inggris presentasi di kantor memberikan masukan-masukan untuk public speaking di sebuah acara yang mengintimidasi. Nah, aku memutuskan untuk mencoba mempraktekkan masukan-masukannya itu!


Secara keseluruhan, rasanya aku menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan kepadaku dengan baik. Beberapa pertanyaannya adalah “pertanyaan macam apa sih ini?“, huahaha, tetapi aku juga bisa meladeninya dengan lumayan lah. Profesor promotor-ku, yang mendapatkan giliran terakhir bertanya, baru saja menyelesaikan pertanyaan pertamanya ketika aku melihat bedelnya memasuki ruangan, artinya waktu 3600 detik untuk sidang ini sudah nyaris selesai. Aku tidak memiliki cukup waktu untuk menjawab pertanyaannya dengan komplit, ketika bedel berkata “Hora est!“. Dan semuanya harus berhenti karena sidang sudah berlangsung selama tepat satu jam.

Almost "Hora Est!"
Nyaris “Hora Est!”

Aku diminta untuk kembali ke kursiku. Delapan anggota komite mengikuti bedel memasuki ruangan lain untuk mendiskusikan hasil sidang.

4. Menunggu hasil

Tepat setelah mereka meninggalkan ruangan sidang, para penonton memberikan aplaus kepadaku. Untukku sih, aku merasa lelah. Dan lega juga sih. Tetapi lebih banyak lelahnya sih, haha.

Beberapa tamuku mendatangiku di kursiku untuk menyelamatiku. Ternyata masukan-masukan dari stand-up comedian asal Inggris itu adalah masukan-masukan yang bagus, karena mereka berkata aku nampak sungguh tenang dan percaya-diri sekali dalam mempertahankan pekerjaan dan argumen-argumenku. Padahal di dalam hati gila aku sungguh tegang dan grogi banget! Haha 😆

Aku lelah sekali sampai-sampai aku merasa malas untuk berdiri sehingga aku duduk saja deh sepanjang waktu ini. Aku merasa sidangku berjalan baik sih, tetapi tetap aja lah ya was-was juga kira-kira apa ya yang didiskusikan komiteku saat ini.

5. Wisuda

The committee marching with my diploma to the defense room
Komiteku berbaris memasuki ruangan sidang dengan diplomaku

Sekitar 15 menit setelah sidang, bedel, diikuti oleh delapan anggota komiteku, memasuki ruangan. Seperti sebelumnya, semua orang diminta berdiri ketika mereka masuk dan menempati tempat mereka.

Kemudian aku diminta maju untuk berdiri di hadapan rector magnificus. Ia mengumumkan bahwa aku telah sukses mempertahankan disertasiku dan semua anggota komite telah menyetujui bahwa aku berhak untuk menyandang gelar “Doktor”.

Setelahnya, profesor promotorku secara resmi “menganugerahiku” dengan gelar Doktor dan memberikan ijazah (yang ukurannya besar banget, haha). Dan, jadilah, tepat jam 13:48 waktu Belanda hari ini, secara resmi aku dipromosikan menjadi Dr. Ir. A. A. Zilko.

The moment I became a Doctor
Momen-momen aku menjadi seorang Doktor.

Lalu, oleh rector magnificus aku disumpah dengan tanggung-jawab terhadap masyarakat karena sekarang aku telah menjadi seorang Doktor, seorang ilmuwan independen. Dengan gelar ini, pendapat dan pandanganku bisa mempengaruhi banyak orang sehingga aku harus menggunakannya dengan bijak. Setelah promosiku, kedelapan anggota komite dan penonton dipersilakan duduk (mereka diharuskan berdiri di sepanjang proses wisudaku).

A graduation speech
Sebuah sambutan kelulusan

Kemudian, kopromotorku (pembimbing harianku) dipersilakan untuk memberikan sambutan. Karena dengan ia lah aku banyak bekerja selama tahun-tahun PhDku, ia diberikan kesempatan untuk menjadi orang pertama yang memanggilku dengan sebutan “Dr. Zilko” dan dipersilakan memberikan sambutan dan kesan-pesan mengenai wisuda dan tahun-tahun dimana kami bekerja bersama. Sebenarnya, kami sudah kenal selama sekitar tujuh tahun loh, karena ia pula lah yang memberikan beasiswa Master/S2 kepadaku ke Belanda di awal tahun 2010, sebuah titik-balik dalam hidupku. Iyaa, memang agak emosional begitu deh 🙂 .

6. Resepsi

Wisudaku diikuti dengan resepsi. Tetapi sebelum itu, kami harus membuat foto grup wajib resmi di tangga di depan ruang sidang yang terkenal itu:

The famous stairs photo
Foto tangga yang terkenal itu

Resepsinya sendiri bertempat di area umum di lantai bawah. Semuanya sudah dipersiapkan sesuai permintaanku (Beberapa minggu sebelumnya, aku harus memutuskan, salah satunya, berapa potong biskuit yang ingin aku sajikan di resepsi ini. Iya loh segitunya! 😅)

With my diploma
Harus berpose dengan ijazahku lah ya, haha

Anyway, aku dipandu ke sebuah meja oleh bedel, yang membuka ijazah dan memamerkannya di meja untukku. Orangtua dan adikku diminta untuk berdiri di sisi kiriku. Lalu, para tamu berbaris untuk menyelamatiku (dan kemudian orangtua dan adikku) satu per satu, dimulai oleh anggota komiteku 🙂 . Di sepanjang resepsi ini, aku juga menerima banyak hadiah dari kolega-kolega dan teman-temanku! Terima kasih ya semuanya!! ☺️


Resepsi berlangsung sekitar satu jam. Setelah semuanya pulang, aku menyelesaikan urusan pembayaran dengan staf di sana dan kemudian aku pulang.

7. Setelah sidang dan wisuda (istirahat sejenak)

Untuk pulangnya kami menaiki bus yang benar, haha. Orangtua dan adikku aku minta pulang ke hotel saja, sementara aku mengembalikan tuksedoku di toko persewaan pakaian formalnya. Di sepanjang jalan, ada banyak orang yang tidak aku kenal menyelamatiku. Aku kira kelihatan banget ya ketika seseorang dengan tuksedo super rapi berjalan-kaki sambil membawa sebuah silinder raksasa berwarna merah, pasti ia baru saja menjalani sidang disertasi PhDnya!

8. Makan malam

Beef cutlet as the main course
Beef cutlet sebagai menu utama

Aku juga memutuskan untuk mengadakan acara makan malam dengan anggota komiteku malam ini di sebuah restoran yang oke di pusat Delft (rating-nya di Yelp dan Trip Advisor tinggi, haha). Sayangnya, promotorku tidak bisa datang karena asmanya yang kumat. Salah satu profesorku juga datang akibat urusan mendadak di kantor, jadilah makan malamnya dimulai agak terlambat.

Pilihan restoranku adalah pilihan yang baik, karena makan malamnya enak! Secara keseluruhan, ini adalah malam yang oke; dimana pembimbingku menyarankan orangtuaku untuk les bahasa Inggris untuk memperlancar conversation-nya! Haha 😆 .

Graduation dinner groupfie
Goupfie makan malam wisuda dan kelulusanku


Yak, begitu deh. Cerita dari salah satu hari terpenting dalam sepanjang hidupku. Dan aku merasa beruntung aku bisa menjalani pengalaman ini! ☺️

PhD Life

#1870 – Dr. Ir. A. A. Zilko


Just a really quick update. As of a few hours ago today, officially I can call myself:

Dr. Ir. A. A. Zilko.

Or, using my international titles:

A. A. Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D.

Haha 😆

Yep, this afternoon I had my PhD defense. Obviously it went well and so this post 😛 .

Anyway, I must stop here as this is all I have for now!! 🙂

The moment I became a Doctor
The moment I became a Doctor


Update kilat nih. Per beberapa jam yang lalu hari ini, secara resmi aku berhak memanggil diriku:

Dr. Ir. A. A. Zilko.

Atau, dengan menggunakan gelar yang internasional:

A. A. Zilko, S.Si, M.Sc, Ph.D.

Haha 😆

Yep, siang tadi aku menjalani sidang PhD/S3ku. Jelas sidangnya berjalan dengan baik sehingga posting ini muncul kan 😛 .

Anyway, untuk sementara segini dulu ya!! 🙂