#2114 – A Weekend and A Monday

ENGLISH

My general theme for this weekend was … definitely some rest! Haha ๐Ÿ˜† . Somehow I felt quite tired coming to this weekend, even though I only had a short week at work last week. But actually, the short week had something to do with the tiredness; as the week was “short” because I started itย in Budapest for a long weekend trip, haha.

I have also been quite excited because this weekend, the main draw rounds of this year’s French Open has started! I enjoy this time, btw, when tennis matches (of big tournaments of importance and prestige) are played at “convenient” time for me who is based in Europe, haha ๐Ÿ˜† . I mean, it is much less convenient to watch live matches being played in, say, New York for the US Open or Melbourne for the Australian Open with all those time zone differences with Europe, haha ๐Ÿ˜€ .

Though, too bad Venus Williams already lost in the first round of singles this yearย ๐Ÿ˜ญ

Anyway, this Monday was also quite unique to me as I had to work from home in the morning because I had to supervise theย annual air exhaust maintenance of my apartment. It was actually supposed to happen about two weeks ago, btw. But I forgot to confirm the appointment in time because I was so busy and occupied with work. And so we had to reschedule and we agreed on this Monday, haha ๐Ÿ˜† .

After the maintenance was done, I went to my office immediately. It was “nice” to go “this late”, though, because it made me miss the morning rush hour, especially on a Monday! Even though on the other hand theย public transport frequency was also lower than during the morning rush, haha ๐Ÿ˜† .

BAHASA INDONESIA

Tema utamaku akhir pekan kemarin ini adalah … jelas istirahat! Haha ๐Ÿ˜† . Entah mengapa aku merasa capek ketika memasuki akhir pekan ini, walaupun sebenarnya minggu kerjaku kemarin adalah minggu yang pendek. Tapi sebenarnya justru karena merupakan minggu yang pendek itu sih aku merasa capek; karena minggunya “pendek” karena aku memulainyaย di Budapest untuk sebuah perjalanan long weekend, haha.

Aku juga lumayan excitedย akhir pekan kemarin karena ronde babak utama dari turnamen French Open tahun ini sudah dimulai! Aku menikmati waktu sekarang-sekarang ini, btw, ketika pertandingan-pertandingan tenis (dari turnamen besar dan bergengsi) dimainkan di waktu yang “enak” untukku yang berbasis di Eropa, haha ๐Ÿ˜† . Maksudku, kan lebih nggak nyaman ya untuk menonton langsung pertandingan yang dimainkan di, misalnya, New York untuk US Open atau Melbourne untuk Australian Open dengan perbedaan waktunya dengan Eropa, haha ๐Ÿ˜€ .

Walaupun agak sebal dan sedih juga sih Venus Williams sudah kalah di babak pertama kompetisi tunggal tahun iniย ๐Ÿ˜ญ

Anyway, hari Senin kemarin ini jugalah cukup unik untukku karena aku harus bekerja dari rumah di pagi hari karena aku mesti mengawasi perawatan tahunan exhaust udara apartemenku. Seharusnya perawatannya berlangsung dua mingguan yang lalu sih. Tapi aku lupa mengkonfirmasi jadwalnya karena pikiranku teralihkan dengan kesibukan di kantor. Jadilah kami harus menjadwalkan-ulang, dan kami setuju untuk dilakukan di hari Senin kemarin ini, haha ๐Ÿ˜† .

Setelah perawatannya selesai, aku langsung berangkat ke kantor. “Asyik” juga berangkat “siang” begini, karena artinya aku jadi melewatkan rush hour pagi kan, apalagi di hari Senin! Walaupun di sisi lain frekuensi transportasi umumnya juga agak lebih jarang sih dibandingkan di waktu rush hour, haha ๐Ÿ˜† .

Advertisements

#2090 – One Year An Apartment Owner

ENGLISH

April 2018, this means that I have beenย a home owner for a year now! How does this feel?

Well, to be honest, it still feels kind of the same as before, haha ๐Ÿ˜† . I still have to spend some amount of euro each month to “pay” for my accommodation. So that post still exists in my monthly expense. The difference, though, before I paid rent whereas in the past year I have been paying my mortgage ๐Ÿ˜€ . There are, though, a few extra expenses which I have to spend as a home owner too, ranging from the apartment’s monthly maintenance cost and all the different taxes related to it, haha ๐Ÿ˜› .

Of course the benefit of renting a placeย is the (almost) no strings attached commitment to it. If you don’t like it, you can easily leave. Especially in the Netherlands, a renter is very well protected by law so as a renter you have a lot of rights. On top of that, any maintenance cost related to the place you rent is normally the responsibility of the owner. I experienced this myself in the past year, where I had some non-negligible expenses related to the maintenance of my apartment; which I obviously had to cover myself.

Having said that, I actually enjoy the feeling of “owning” the place I live in. Somehow I value “owning” more than all those flexibilities as a renter here. I don’t know, perhaps this way I feel like I have more of a “surety” which, admittedly, provides more security feeling.

Yeah anyway, cheers to my apartment’s anniversary!

BAHASA INDONESIA

April 2018, artinya aku sudah menjadiย pemilik rumah selama satu tahun sekarang! Bagaimanakah rasanya?

Hmm, sejujurnya rasanya masih sama aja kayak sebelumnya sih, haha ๐Ÿ˜† . Setiap bulan aku masih harus menyisihkan sekian euro untuk “membayar” akomodasiku. Jadi pos ini masih tetap ada di pengeluaran bulananku. Bedanya, sebelumnya aku membayar sewa sementara setahun terakhir ini aku membayar hipotek, haha ๐Ÿ˜€ . Ada juga beberapa pengeluaran ekstra yang harus aku bayar sebagai pemilik rumah, mulai dari biaya bulanan maintenance apartemen hingga segala jenis pajak yang berkaitan dengannya, haha ๐Ÿ˜› .

Tentu saja keuntungan dari menyewa tempat adalah sifat komitmen (nyaris) no strings attached. Kalau nggak suka ya tinggal pindah. Apalagi di Belanda, penyewa rumah itu amat dilindungi oleh hukum loh dimana penyewa memiliki banyak sekali hak. Di atas itu semua, biaya maintenance dari tempat yang disewa adalah tanggung-jawab pemilik. Ini aku alami sendiri setahun belakangan ini, dimana aku ada beberapa pengeluaran yang lumayanย berkaitan dengan urusan maintenance apartemen ini; yang mana jelas harus aku tanggung sendiri.

Walaupun begitu, aku menikmati perasaan “memiliki” tempat tinggalku ini. Entah mengapa aku memberikan nilai lebih pada perasaan “memiliki” ini daripada fleksibilitas yang bisa didapatkan sebagai penyewa. Nggak tahu ya, mungkin ini membuatku merasa memiliki “pegangan” gitu yang memberikan perasaan “aman”.

Ya anyway, tos untuk satu tahun apartemenku!

#2063 – More IKEA Stuffs

ENGLISH

Last year I mentioned my strategy with the furniture for my apartment, where I chose to take it slowly and so I could afford good products without having to blow my budget at once. One side advantage of this strategy was that I had the capacity (in terms of space) to buy things that became needed along the way (As, obviously my need for furniture was not static over time); which also meant that my apartment was not full of stuffs I did not need, haha ๐Ÿ˜† .

My new wall cabinet

Anyway, in the last a few months or so, I realized that one thing has become needed: a bathroom wall cabinet to store my bathroom-related stuffs stock (shampoo, soap, toothpaste, toothbrush, etc). Thus far I stored those in a cabinet in the other room and I realized this was quite inconvenient, haha. And so I decided to browse IKEA’s product, and decided to order one which design I liked. While doing so, I also decided to buy a new hat/coat rack for the hallway because I felt like it was kind of needed for its practicality and to make my hallway looked “busier”, haha. What I liked was that the rack was hanging on the wall, so it did not make the hallway feel uncomfortably “narrower” for people to pass.

And while browsing through IKEA’s online catalogue, I also spotted a cool series of prints of water colour paintings depicting Paris’ Eiffel Tower and New York’s Brooklyn Bridge with cheerful colour. And so I decided to buy the series too!! In terms of colours, it pretty much went along with the print I bought the other day too, I thought. You know, as I said back then I have been looking for things to accessorize my apartment, haha. And this attempt is still not complete yet, btw. And as with my furniture strategy, I choose to take things slowly; though I already have things in mind on what I would like next in terms of these accessories ๐Ÿ˜€ .

Adding pieces of New York and Paris with cheerful mood to my place

Anyway, last week all these stuffs were delivered. And so my Saturday was quite busy assembling the new bathroom cabinet and the hallway hat/coat rack; plus putting the prints on the wall. You know, IKEA’s stuffs were affordable partly because the customers had to assemble the furniture themselves. While it was not that many stuffs that I bought, it was actually still quite tiring, to be honest! Haha ๐Ÿ˜† .

So, yeah, my apartment has just got a little bit “busier”, and I like it! ๐Ÿ™‚

Assembling IKEA’s cabinet

BAHASA INDONESIA

Tahun lalu, kuceritakanย strategiku mengenai mebelย untukย apartemenku, dimana aku memutuskan untuk tidak terburu-buru dalam memenuhi apartemenku sehingga aku mampu untuk membeli produk-produk yang baik tanpa harus membuat budget-ku membengkak parah. Satu keuntungan sampingan dari strategi ini adalah aku jadi memiliki kapasitas (dalam hal ruangan) untuk membeli barang-barang yang kemudian menjadi dibutuhkan sewaktu-waktu (Karena jelas kan kebutuhan kita akan mebel itu tidak statik terhadap waktu); yang mana artinya juga apartemenku tidak jadi penuh oleh barang-barang yang tidak aku butuhkan, haha ๐Ÿ˜† .

Lemari dinding baruku

Anyway, beberapa bulan belakangan ini aku baru menyadari bahwa satu mebel menjadi kubutuhkan: lemari yang digantung di dinding untuk kamar mandi untuk menyimpang barang-barang yang berkaitan dengan kamar mandiku (maksudnya kayak stok shampoo, sabun, sikat gigi, pasta gigi, dll gitu). Sebelum ini, stoknya aku simpan di rak di ruangan lain yang mana baru aku sadar ternyata nggak praktis ya (Menurut ngana? Haha ๐Ÿ˜† ). Dan jadilah aku mulai melihat-lihat katalognya IKEA, dan memutuskan untuk memesan satu yang disainnya aku suka. Sembari melihat-lihat itu, aku juga memutuskan untuk sekalian memesan rak mantel/topi untuk koridor apartemenku karena memang aku butuhkan juga sih untuk kepraktisan dan juga sekalian berfungsi membuat koridornya lebih “ramai”, haha. Yang aku suka, raknya yang model digantung begitu jadi nggak membuat koridornya terasa lebih sempit untuk jalan.

Nah ketika melihat-lihat katalognya itu, kebetulan aku juga melihat seri prints dari lukisan cat airnya Menara Eiffelnya Paris dan Jembatan Brooklyn-nya New York dengan warna yang ceria. Dan jadilah serinya sekalian aku beli!! Dari segi warna, prints ini serasi denganย print yang kapan hari aku beli, menurutku. Masih ingat kan, waktu itu aku ceritakan bahwa aku sedang mencari hal-hal untuk mendekorasi apartemenku gitu, haha. Dan upaya ini masih belum selesai loh. Dan seperti dengan strategiku untuk mebel, aku juga memutuskan untuk santai-santai saja dalam hal ini; walaupun aku sudah ada bayangan sih mengenai apa yang aku inginkan selanjutnya dalam hal dekorasi ๐Ÿ˜€ .

Menambahkan potongan-potongan New York dan Paris dengan mood ceria ke apartemenku

Anyway, minggu lalu semua pesananku ini diantar. Jadilah hari Sabtu kemarin aku sibuk memasang lemari kamar mandi dan rak mantel/topi koridorku itu; ditambah juga menggantung prints-nya di dinding. Ya tahu kan, barang-barangnya IKEA itu harganya cukup terjangkau setengahnya karena customer harus memasang sendiri mebelnya. Walaupun nggak banyak yang aku beli, tetapi ternyata masih cukup melelahkan juga loh sejujurnya! Haha ๐Ÿ˜† .

Jadi, ya, apartemenku sudah menjadi agak “ramean” sedikit nih, dan aku suka! ๐Ÿ™‚

Memasang lemari IKEAku

#2049 – A Story of Fire Alarm Battery

ENGLISH

Here is an experience of mine which shows that the internet is a powerful tool in empowering people by providing information which, in the pre-internet era, could be difficult to get.

***

Not too long ago, the fire alarm in my room started to beep in periodic interval. I remembered facing a similar situation years ago in my first studio (student) apartment in Delft; and if I recalled correctly, it was because the battery would need to be replaced soon. I googled it (just to make sure), and this seemed to be the case.

So that evening I tried to take the fire alarm off to see which battery type it used. But somehow, I couldn’t take the fire alarm off its base. I knew there must be a “trick” to do it but I just couldn’t figure it out. So I went back to Google and I quickly learned how to do it (using a screwdriver (the tool btw not the drink ๐Ÿ˜› )). And so I got to see the battery type. A few days later I went to a store to buy a new one and re-installed the fire alarm back on its base.

***

You see, not in a million years I would claim that I was a “mechanical” person with this kind of work. Even to be honest, I don’t enjoy doing this kind of work. However, of course there would be times where I would have to do it, like this time with the fire alarm battery situation for instance, so I just got to suck it up and do it.

To be honest, without the internet, this would have been more difficult (and exponentially more frustrating) to do! For sure. The internet allows me to learn useful information much faster, which enables me to finish a task I don’t enjoy doing before I get too frustrated and perhaps even give up on doing, haha.

So, yeay to the internet!!

Btw, back then in Delft I just asked the caretaker of my apartment to fix it for me ๐Ÿ˜› .

BAHASA INDONESIA

Berikut ini sebuah pengalaman yang menunjukkan bahwa internet adalah alat yang ampuh untuk memberdayakan manusia dengan menyediakan informasi yang, di masa-masa sebelum internet, cukup sulit didapatkan.

***

Belum lama ini, alarm kebakaran di kamarku mulai berbunyi dengan interval periodik. Aku ingat aku pernah mengalami situasi serupa dulu di apartemen (mahasiswa) studio pertamaku di Delft. Dan jika ingatanku benar, kemungkinan ini disebabkan karena baterainya sudah mau habis. Aku meng-google-nya untuk memastikan bahwa ingatanku ini benar, dan sepertinya memang demikian.

Jadilah malamnya aku mencoba melepas alarmnya untuk mengecek tipe baterainya. Tetapi entah bagaimana, aku tidak bisa melepaskan alarmnya dari alasnya. Aku tahu pasti ada “trik” untuk melakukannya tetapi aku tidak kepikiran sama sekali. Jadilah aku kembali lagi ke Google dan dengan cepat aku mendapatkan informasi mengenai caranya (yang mana ternyata mesti menggunakan obeng). Jadilah aku bisa melihat tipe baterainya dan beberapa hari kemudian aku bisa mampir ke toko untuk membelinya dan memasang kembali alarmnya di alasnya.

***

Aku tidak akan pernah melabeli diriku sebagai seseorang yang “mekanikal” dalam urusan beginian. Bahkan, aku sama sekali tidak menikmati pekerjaan semacam ini. Hanya saja, jelas lah ya bakal ada waktu-waktu dimana aku tetap harus melakukannya, seperti misalnya situasi baterai alarm ini, jadi ya aku tetap harus memaksakan diri untuknya.

Sejujurnya, tanpa internet, pekerjaan ini bakal jauh lebih sulit dilakukan (dan akan jauh, jauh lebih menyebalkan)! Pasti banget ini. Internet memungkinkanku mendapatkan informasi dengan cepat, sehingga aku bisa menyelesaikan pekerjaan ini sebelum aku mencapai titik dimana aku merasa amat sebal dan mungkin menyerah, haha.

Jadi, hore untuk internet!!

Btw, dulu ketika di Delft sih aku tinggal meminta caretaker dari apartemenku untuk memperbaikinya untukku, haha ๐Ÿ˜›

#2045 – Jetlag, Utrecht, and A Saturday

ENGLISH

Jetlag

My big theme this week was definitely recovery. You know, trying to get back to my normal daily routine after my two weeks vacation in California which ended last week. And the biggest recovery challenge which I must face this week was definitely the jetlag! Haha ๐Ÿ˜† .

It was probably one of the worst jetlag I have ever faced. I guess the nine hours of time difference between California and Amsterdam played a big role in that! It was the worst early this week close to the weekend but got better and better everyday as the week went on. I am not fully recovered yet now, though, but the jetlag is no longer that bad, haha…

Utrecht

This Wednesday a friend of mine and I decided to catch up in Utrecht. She has decided not to extend her work contract there so we felt like we should meet in Utrecht before her contract would end. It was also because there was this awesome Belgian restaurant/bar called Olivier in the centrum which we had wanted to try for ages but hadn’t got the chance to because it was always very busy!

Olivier in Utrecht

So we went to Olivier at 6 PM and it was, as usual, very busy. The waiter told us we would need to wait for like 20-30 minutes. Well, we were fine with it as we could already start ordering some drinks from the bar anyway. We concluded that the place used to be a small church as indicated by the large organ at one side of the room and statues of Joseph and Mary at the other, haha.

Anyway, indeed Olivier was a great place (a millions time better than where we went to on our last dinner outing in Utrecht). I ordered the beef tenderloin medallions which was really good! The beer was great as well, though this was unsurprisingย  from Belgian beers.

Delicious beef tenderloin medallions at Olivier

A Saturday

My office is organizing a themed party next week and as per this morning I had not yet got a costume, which partly was because the especially difficult and rather unintriguing theme this year to me, haha. Anyway, so I went shopping today. Luckily, I got some idea on what to wear while I was at H&M today, and I decided to buy the “costume”. Well, it was more like an “outfit” than a “costume”, though, but whatever ๐Ÿ˜› .

While in the centrum, I also decided to actually start buying stuffs to accessorize my apartment. For a really long time now I have had an idea to put some paintings/prints/photos on the wall. But thus far this idea never materialized because I was too lazy to shop around, haha. And so today I decided to actually start implementing this idea as I was already in the centrum anyway. I decided to buy a print of Joop Plasmeijer’s cheerful “Havengezicht” (Harbour View).

A print of Joop Plasmeijer’s paintings of Amsterdam

BAHASA INDONESIA

Jetlag

Tema utamaku minggu ini adalah pemulihan. Ya begitu deh, berusaha untuk kembali ke ritme harianku setelahย liburan dua minggu di Californiaย yangย berakhir minggu lalu. Dan tantangan pemulihan terbesar yang harus aku hadapi minggu ini adalah jetlag! Haha ๐Ÿ˜† .

Mungkin ini adalah jetlag terparah yang pernah aku hadapi deh. Aku rasa perbedaan waktu sebanyak sembilan jam antara California dan Amsterdam berperan di sini! Jetlagnya parah banget terutama awal minggu ini tetapi semakin membaik kok setiap harinya. Sekarang pun sebenarnya aku masih belum 100% pulih sih tetapi jetlag-nya sudah nggak separah itu lah, haha…

Utrecht

Hari Rabu kemarin aku dan seorang teman memutuskan untuk catch up di Utrecht. Ia telah memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerjanya sehingga kami merasa perlu untuk ketemuan di Utrecht sebelum kontrak kerjanya berakhir. Ini juga karena kebetulan ada restoran/bar Belgia bernama Olivier yang terkenal banget di centrum dan kami belum pernah berkesempatan mencobanya sebelumnya karena tempatnya selalu ramai banget!

Olivier di Utrecht

Jadilah kami pergi ke Olivier jam 6 sore dan, seperti biasa, rame banget! Menurut pelayannya, kami harus menunggu 20-30 menitan sebelum ada meja yang tersedia. Kami nggak masalah dengan ini sih karena toh kami juga sudah bisa mulai memesan minum dari barnya kok sembari menunggu. Nah, kami berkesimpulan bahwa tempat ini dulunya gereja gitu karena ada piano organ besar di satu sisi ruangan dan patung Yosef dan Maria di sisi lainnya, haha.

Anyway, memang Olivier adalah tempat yang oke banget (jauuh lebih oke daripada restoran yang kami kunjungi di acara makan malam kami sebelumnya di Utrecht). Aku memesan menu daging sapi tenderloin medallions yang mana enak banget lho! Birnya juga enak, walaupun ini tentu tidak mengherankan karena namanya aja bir Belgia kan.

Beef tenderloin medallions-nya Olivier yang enak banget.

Sebuah hari Sabtu

Kantorku akan mengadakan pesta bertema minggu depan dan per pagi ini aku masih belum punya kostum untuk itu dong, yang mana setengahnya karena tema tahun ini agak sulit dan tidak begitu membuat excited sih, haha. Anyway, jadilah karena ini aku pergi shopping hari ini. Untungnya, aku mendapatkan ide untuk apa yang akan aku pakai di pestanya di H&M, dan “kostum”-nya langsung aku beli. Eh, sebenarnya lebih ke “outfit” sih daripada “kostum”, tapi ya biar aja lah ya ๐Ÿ˜› .

Nah, selagi di centrum, aku juga memutuskan untuk akhirnya beneran memulai mendekorasi apartemenku. Sudah lama banget aku memiliki ide untuk menggantung lukisan/prints/foto-foto gitu di dinding.ย Tetapi selama ini ide ini belum terealisasikan sama sekali karena aku malas untuk keluar dan melihat-lihat, haha. Dan makanya hari ini ide ini aku materialisasikan karena toh sekalian aku sudah berada di centrum juga. Aku memutuskan untuk membeli sebuah print dari lukisan Havengezicht (Pandangan Pelabuhan)-nya Joop Plasmeijer yang warnanya ceria dan aku suka.

Sebuah print dari lukisan Amsterdamnya Joop Plasmeijer.

#1970 – Seven Years in Europe

ENGLISH

My life in Europe, well, the Netherlands ๐Ÿ˜› , started on this day seven years ago, when I got off Garuda Indonesia’s Airbus A330-200 reg PK-GPI at Schiphol Airport as flight GA88 from Jakarta (via Dubai). A total random note: PK-GPI no longer flies for Garuda and is now operated by Chinese’s Beijing Capital Airlines with reg B-8221 ๐Ÿ˜› .

The seventhย year in retrospect

If last year I mentioned my sixth year was a big one for me, then the seventh year was even a bigger one!

I completed my PhD research this year and so now I can attach the title “PhD” or “Doctor” next to my name if I want to (Well, I earned this ๐Ÿ˜› ). I have also decided to leave academia and switch to industry, with me starting my new job in Amsterdam last October. On top of that, I bought myself an apartment earlier this year!

So I guess I do not need to explain why I say my seventh year was bigger than my sixth. In fact, it might be the biggest one since seven years ago. So maybe it is not really an exaggeration to say that I now feel the most “fulfilled” since the day I moved to Europe.

Travelling

Unsurprisingly, I also travelled a lot in the seventh year. I added two new European countries to my list this year, bringing the total to 25 with the addition of Romania and Greece. I also explored further several European countries I had visited before, with my visit to the German’s famous Christmas Market and the wonderful Cinque Terre in Italy. There were also several city trips which I did throughout the year.

I also went on two intercontinental trips this past year. The first one was to my dream destination: Sint Maarten in the Caribbean; and the second one was to Indonesia for Christmas and New Year, the first time I was in Indonesia for both events since I moved to Europe. Both trips were so much fun!

Going to the eighth

My eighth year appears to be like an exciting one at this point. I learned a lot during my seventh year, mainly because of my switch to industry, and I expect to learn even more in this coming year. Oh, and I also already have a few fun trips planned out at this point ๐Ÿ˜› .

So yeah, the eighth year indeed sounds like going to be an exciting one!! ๐Ÿ˜€

I got my PhD degree in my seventh year in Europe.

BAHASA INDONESIA

Kehidupanku di Eropa, ehm, di Belanda ๐Ÿ˜› , dimulai di hari ini tujuh tahun lalu, ketika aku turun dari pesawat Airbus A330-200nya Garuda Indonesia dengan rego PK-GPI di Bandara Schiphol sebagai penerbangan GA88 dari Jakarta (via Dubai). Btw, info random nih: PK-GPI tidak lagi terbang untuk Garuda loh dan sekarang dioperasikan oleh maskapai China, Beijing Capital Airlines, dengan regoย B-8221ย ๐Ÿ˜› .

Refleksi tahun ketujuh

Jikaย tahun laluย aku sebutkan bahwa tahun keenam adalah tahun yang besar untukku, artinya tahun ketujuh ini adalah tahun yang lebih besar lagi!

Riset PhD (S3)-ku resmi aku selesaikan di tahun ini jadi sekarang aku bisa menambahkan gelar “PhD” atau “Doktor” ke namaku suka-suka gitu deh kalau aku mau (Jelas dong aku berhak untuk melakukan ini ๐Ÿ˜› ). Aku juga sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia akademia dan pindah ke industri (dunia kerja “reguler”), dengan pekerjaan baru yang aku mulai bulan Oktober lalu di Amsterdam. Di atas itu semua, aku juga membeli sebuah apartemen awal tahun ini!

Jadi aku rasa aku tidak perlu menjelaskan mengapa aku bilang tahun ketujuh ini lebih besar daripada tahun keenam yah. Malahan, mungkin tahun ini adalah yang terbesar semenjak tujuh tahun yang lalu lho. Jadi mungkin tidak berlebihan pula jika kubilang aku merasa paling “komplit” semenjak aku pindah ke Eropa.

Jalan-jalan

Tidak mengherankan, aku juga banyak jalan-jalan dong di tahun ketujuh ini. Aku menambahkan dua negara Eropa baru ke daftarku tahun ini, sehingga totalnya menjadi 25 dengan tambahan Romania dan Yunani. Aku juga mengeksplor lebih dalam beberapa negara Eropa lainnya yang sudah pernah kukunjungi, dengan kunjunganku ke Christmas Market di Jerman yang terkenal banget itu dan Cinque Terre yang kece di Italia. Ada juga beberapa perjalanan city trips ke beberapa kota di sepanjang tahun.

Aku juga pergi dalam dua perjalanan antar-benua setahun belakangan ini. Yang pertama adalah ke tempat impianku: Sint Maarten di Karibia; dan yang kedua ke Indonesia untuk Natal dan Tahun Baru, pertama kalinya aku berada di Indonesia untuk Natal dan Tahun Baru semenjak pindah ke Eropa. Jelas keduanya seru banget!

Masuk ke tahun kedelapan

Sekarang, tahun kedelapan nampak akan menjadi tahun yang seru. Aku banyak belajar di tahun ketujuh, terutama karena kepindahanku ke industri, dan aku yakin aku akan belajar lebih banyak lagi di tahun yang akan datang ini. Oh, dan juga aku sudah merencanakan beberapa perjalanan yang seru nih ๐Ÿ˜› .

Jadi, ya, tahun kedelapan memang sepertinya akan menjadi tahun yang amat seru!! ๐Ÿ˜€

#1959 -What I Like About My Apartment

ENGLISH

Some time ago I shared a couple of first world problemsย I had with my apartment. And so to balance things out, in this post I would like to share what I (really) like about it. Okay, there are many of reasons (otherwise why would I commit to the biggest purchase I have ever done, so far, in my life in the first place ๐Ÿ˜› ), and in this post I will start with one.

And that is that my apartment building is new. By new, I mean it was built in the 2000s. While this means that, indeed, from the outside it does not look like what you might picture of a Dutch house, probably something like this:

Buildings in Amsterdam centrum.

I actually prefer my apartment much better than those “cute” centuries-old Dutch buildings. Why?

First of all, as Barney Stinson’s one rule:


Yes, “new is always better”. Lol ๐Ÿ˜† .

In this particular case, especially, this rule is right. You see, science is progressing, even at exponential speed; which means people can build “better” (in whatever sense) buildings now.

My previous apartment in Delft was in the centrum and so it was built a few hundred years ago which, of course, made it look “cool” and very “Dutch”. However, while it was overall a nice apartment, to be honest I did not enjoy it at all during the hot summer days. Why? Well, my conjecture (based on my observation and experience) is that because old buildings appear to be designed to trap the heat inside (for winter time) and so this is exactly what they do. It became really, really uncomfortably hot during those days, even at night, due to the heat! I notice that new(er) buildings (also my previous apartment before that, which was built in the 1960s) tend to have better “air flow” in them, thus making them much more comfortable to live in during the summer as it was chill inside even without air conditioner.

Another “complaint” I have often heard from my colleagues living in old Dutch buildings in Amsterdam is that you would need to be “intimate” with your neighbours. In the sense that, well, they can hear any noise coming from your apartment and this means that the reverse is also true. If you know what I mean, lol ๐Ÿ˜† .

I know that I am quite a light sleeper so I would definitely much rather live in a soundproof apartment, haha ๐Ÿ˜† . And newer apartments tend to cater that need. The concrete structure is also a good barrier for noise!

Another common “problem” with old pretty Dutch houses in Amsterdam is: rodents! I had this problem in my first ever student studio apartment in Delft and I really, really hated it; even though the studio was relatively new. This was actually a point I made clear to my agent during my apartment hunt: I wanted a house with no rodents problem! Lol ๐Ÿ˜† (My agent’s wife bursted her laugh at the time, but she understood my concern). And of course, the best bet for that was new(er) buildings.

A new residential tower in Delft.

Beside, pretty buildings are high-maintenance as well, I believe. I mean, many of those in Amsterdam are also declared monuments. This means that even though you are the owner, you cannot just “renovate” your own place however you like as you would need to consult it first! I even heard sometimes this has to be settled at the court!

***

Well, despite all these, of course it does not mean that new apartment comes with no problems at all. I mean, just remember the mini renovation I had to do with my shower room not too long ago. But still, overall, I still believe there are more pros than cons with newer building than older one; especially when you plan to own it (or part of it)!!

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku menyebutkan dua first world problems yang berkenaan dengan apartemenku. Nah supaya adil, di posting ini aku akan menuliskan apa yang kusukai darinya. Oke, jelas ada banyak lah ya alasannya (nggak mungkin juga kan aku mau berkomitmen terhadap kesepakatan pembelian yang melibatkan nominal terbesar yang pernah kulakukan seumur hidup, sejauh ini, jika tidak ๐Ÿ˜› ), dan di posting ini aku mulai dengan salah satunya.

Yaitu bahwa gedung apartemenku adalah gedung baru. Dengan baru, maksudku gedungnya dibangun di tahun 2000an. Walaupun memang ini berarti dari luar penampakannya mungkin tidak seperti yang kalian bayangkan akan rumah-rumah Belanda, mungkin seperti ini:

Gedung-gedung di centrum-nya Amsterdam.

Aku sebenarnya malah lebih suka begini loh daripada gedung-gedung Belanda “kece” yang sudah berusia ratusan tahun itu. Kok begitu?

Pertama-tama, seperti satu aturannya Barney Stinson:


Yup, “new is always better“. Huahaha ๐Ÿ˜† .

Dan di kasus ini, aturan ini benar sekali. Jelas dong iptek terus berkembang maju, bahkan dengan laju eksponensial; yang mana artinya sekarang manusia bisa membangun bangunan yang “lebih baik” (dalam sudut pandang tertentu).

Apartemenku sebelumnya di Delft berlokasi di centrum yang berarti dibangun sekian ratus tahun yang lalu, sehingga memang penampakannya “kece” dan “Belanda” banget gitu deh. Namun, walaupun apartemennya nyaman, sejujurnya aku tidak terlalu bisa menikmatinya di hari-hari panas di musim panas. Mengapa? Konjekturku (berdasarkan observasi dan pengalamanku) adalah karena bangunan-bangunan tua itu sepertinya dulu didisain untuk memerangkap energi panas (untuk musim dingin) sehingga ya ini lah yang bangunannya lakukan. Sebagai akibatnya, apartemennya sungguh amat tidak nyaman untuk ditinggali di hari-hari musim panas itu, bahkan di malam hari, saking panasnya! Nah, aku perhatikan gedung-gedung yang (lebih) baru (juga apartemenku yang sebelum itu, yang dibangun di tahun 1960an) cenderung memiliki “aliran udara” yang lebih baik di dalamnya, sehingga jauh lebih nyaman untuk ditinggali di musim panas karena tetap terasa ademย bahkan tanpa AC.

Satu “komplain” lain yang kerap kudengar dari kolega-kolegaku yang tinggal di gedung-gedung Belanda tua di Amsterdam adalah mau tidak mau kita harus “intim” dengan tetangga-tetangga kita. Dalam artian, mereka bisa mendengar segala suara dari apartemen kita dan artinya yang sebaliknya juga berlaku. If you know what I mean, huahaha ๐Ÿ˜† .

Yah, aku kan memangย light sleeperย ya sehingga jelas aku lebih suka tinggal di apartemen yang kedap suara, haha ๐Ÿ˜† . Dan apartemen-apartemen baru cenderung memenuhi kebutuhan ini. Struktur betonnya juga berfungsi sebagai peredam suara yang baik!

Satu “masalah” umum lain dengan rumah-rumah tua Belanda di Amsterdam adalah: tikus! Aku memiliki masalah iniย di apartemen studio mahasiswa pertamaku di Delft dan aku sungguh, sungguh membencinya; walaupun studio itu relatif baru sih. Poin ini bahkan aku tegaskan ke agenku lho ketika di tahap pencarian apartemen: Aku tidak mau rumah yang ada tikusnya! Haha ๐Ÿ˜† (Istri dari agenku sampai tertawa loh waktu itu, tetapi ia paham banget dengan keinginanku ini kok ๐Ÿ˜› ). Dan tentu saja, untuk itu pilihan yang aman adalah gedung-gedung yang (lebih) baru.

Sebuah menara tempat tinggal bari di Delft.

Di samping itu, gedung-gedung cantik itu juga high-maintenance lah. Maksudku, banyak lho gedung-gedung itu di Amsterdam yang dideklarasikan sebagai monumen (mungkin seperti golongan “cagar budaya” gitu kalau di Indonesia). Ini artinya walaupun kita adalah pemilik rumah itu, kita tidak bisa seenaknya “merenovasi” rumah kita karena kita harus mengonsultasikannya dulu! Dengar-dengar bahkan urusannya bisa sampai di pengadilan juga!

***

Yah, walaupun begitu, tentu bukan berarti apartemen baru tidak memiliki masalah lah ya. Misalnya saja, renovasi mini yang mesti kulakukan di kamar mandiku belum lama yang lalu. Tetapi tetap saja, secara keseluruhan aku rasa lebih banyak keuntungan daripada kerugiannya dari tinggal di gedung yang baru; terutama jika kita berencana untuk memilikinya (atau sebagian darinya)!!