EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2128 – A Long Weekend in Budapest (Part III: Pest)

ENGLISH

Posts in the Long Weekend in Budapest series:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Accross the Danube River from Buda (See Part I) is Pest, one half of the city which makes up Budapest. As I previously mentioned, Buda and Pest are very different from each other and have different “personality”.

Buda and Pest were connected by this Chain Bridge.

For one, unlike the hilly Buda, Pest was flat, just like the Netherlands, haha 😛 . And unlike Buda with its “imperial” vibe, Pest was the complete opposite where it felt much more “populous”. It almost felt like if Budapest was the capital of a kingdom, Buda was where the monarchy lived while Pest was where the people lived.

I stayed at a hotel in Pest on this trip; and so my first impression of Budapest was, naturally, from Pest (As I arrived in the late afternoon so I first went to the hotel from the airport). The populous vibe of Pest immediately reminded me of Bucharest; where the buildings looked “dull” and not “as well-preserved” as, say, Western Europe in general.

A bulding in Pest

Though, in a way this screamed “Eastern European”, perhaps, haha… . Having said that, it felt like that Pest was actually where the “life” of Budapest was as I saw more locals there than in Buda which was flocked by a lot of tourists, haha 😆 .

But this did not mean that there was nothing to see for tourists in Pest. For once, the beautiful Parliament Building was located on the Pest-side of the Danube. Though, this would mean that one could enjoy the building from the Buda side 😛 . And also, the beautiful Heroes Square, which was the one place in Budapest I had been wanting to go to for some reasons, was in Pest.

Budapest selfie at the Heroes Square

In reality the Heroes Square was, somehow, much smaller than what I imagined, though. It was also very touristy but I expected this. Nonetheless, it was still very pretty! According to the map, there was a large garden beyond the square with several interesting (old) buildings, but unfortunately I didn’t have the time to explore this part of Pest. Perhaps for the next time then… .

Being where the “life” of the city was, Pest was also the location of many great restaurants. Though I didn’t do any research on this front, it felt to me like the restaurants in Pest looked much more inviting than those in Buda. Speaking of the food…

Hungarian Food

Even though I didn’t research any restaurants, I did look for some information of some must-try Hungarian dishes before I left. On this front, I found out that Hungary had its own interpretation of “goulash”. And there were two “versions” of it, one was in the form of a soup, called “gulyas”, and the other was more like the “regular” goulash we would think of, called pörkölt. Of course I was intrigued by both and I came to Budapest with the intention of trying both, haha 😆 .

A Hungarian veal pörkölt with some dumplings.

Both dishes turned out to be good. The gulyas wasn’t very “heavy”, which I liked from a soup. The pörkölt was also nice and was served with some egg dumplings.

I also saw a lot of street foods in Budapest. Though, to be honest I am not really a fans of “street food” (As, to me, it doesn’t represent the best value of money in general, haha 😆 (I, for one, much prefer to sit when I eat)). But I have to say that a lot of those looked good. The range was also really wide from the savoury spectrum to the snack/side-dish spectrum to the dessert spectrum. So if you love street food, I would say you would like Budapest!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Long Weekend in Budapest:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Di seberang Sungai Danube dari Buda (Baca Bagian I) adalah Pest, setengah dari apa yang membentuk kota Budapest. Seperti yang kusebutkan sebelumnya, Buda dan Pest adalah dua bagian yang sangat berbeda satu sama lain, yang juga memiliki “personality” yang amat berlainan.

Buda dan Pest dihubungkan oleh Jembatan Rantai (Chain Bridge) ini.

Pertama-tama, nggak kayak Buda yang berbukit-bukit, Pest itu rata, kayak Belanda dah, haha 😛 . Dan tidak seperti Buda yang memiliki aura “imperial”, Pest terasa amat berkebalikan dimana auranya terasa sangat “merakyat”. Rasanya seperti andaikata Budapest adalah ibukota dari suatu kerajaan, Buda adalah lokasi istana kerajaannya berada sementara Pest adalah lokasi dimana rakyatnya tinggal.

Aku menginap di sebuah hotel di Pest di perjalanan ini; dan jadilah kesan pertamaku akan Budapest datang dari Pest ini (Karena aku tiba di sore hari, jelas tujuan pertamaku setelah tiba dari bandara adalah hotelku). Aura merakyatnya mengingatkanku akan Bucharest; dimana bangunan-bangunannya nampak “kusam” dan tidak “seterawat” bangunan-bangunan di Eropa Barat.

Sebuah bangunan di Pest

Walaupun begitu, di satu sisi ini justru adalah ciri khas dari Eropa Timur sih ya, mungkin, haha… . Walaupun begitu, justru di Pest lah denyut nadi kehidupan di Budapest-nya terasa dimana aku melihat banyak warga setempat. Tidak seperti Buda yang diserbu oleh banyak sekali turis, haha 😆 .

Tapi ini bukan berarti tidak ada yang menarik bagi turis di Pest sih. Pertama-tama, Gedung Parlemen yang kece itu berlokasi di sisi Pest di tepian Sungai Danube. Walaupun ini juga berarti gedungnya bisa kita nikmati juga dari sisi Buda di seberang sungai, haha 😛 . Dan juga, Heroes Square yang kece itu, yang mana merupakan satu lokasi di Budapest yang ingin sekali aku kunjungi, berada di Pest.

Budapest selfie di Heroes Square

Pada kenyataannya, Heroes Square ternyata berukuran lebih kecil daripada apa yang aku bayangkan, haha. Lokasinya juga ramai dengan turis tapi ini sudah aku sangka sih. Walaupun begitu, masih cantik kok! Menurut peta, ada sebuah taman yang besar di belakang square-nya dengan beberapa bangunan (tua) yang kayaknya menarik, tapi sayangnya aku tidak memiliki cukup waktu untuk mengeksplor bagian dari Pest ini. Mungkin di lain kesempatan ya… .

Yang namanya dimana denyut nadi kehidupan kotanya berada, Pest juga lah lokasi dari banyak restoran yang kece-kece. Walaupun sebenarnya aku tidak melakukan riset akan topik ini, rasanya untukku restoran-restoran di Pest nampak lebih mengundang daripada di Buda. Ngomongin makanan nih…

Masakan Hungaria

Walaupun aku sama sekali tidak meriset restoran, aku sempat mencari-cari informasi mengenai masakan Hungaria yang patut dicoba. Nah, jadilah aku baru tahu bahwa Hungaria memiliki interpretasi uniknya akan “goulash”. Ada dua “versi” sih, yang pertama adalah versi sup, yang disebut “gulyas”, dan yang lainnya berpenampilan seperti goulash “reguler” yang disebut pörkölt. Tentu saja aku penasaran dengan keduanya dan aku datang ke Budapet dengan keinginan untuk mencobanya, haha 😆 .

Sebuah pörkölt daging sapi ala Hungaria dengan dumplings.

Dan keduanya memang enak kok. Gulyasnya tidak terasa “berat”, yang mana merupakan karakteristik yang aku suka dari yang namanya sup. Pörkölt-nya juga enak yang mana disajikan dengan egg dumplings.

Aku juga melihat ada banyak street food yang dijajakan di Budapest. Tapi, sejujurnya, aku bukanlah fans dari “street food” (Karena, untukku, ini tidak memberikan nilai yang maksimal dari harga yang pada umumnya ditawarkan, haha 😆 (Aku, misalnya, lebih suka untuk duduk ketika makan)). Tapi harus aku bilang bahwa memang nampak menarik kok. Pilihannya pun beragam sekali mulai dari spektrum savoury ke spektrum camilan/makanan ringan ke spektrum pencuci mulut. Jadi kalau kamu suka street food, aku rasa kamu bakalan suka Budapest!

Advertisements
EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2122 – A Long Weekend in Budapest (Part I: Buda)

ENGLISH

Posts in the Long Weekend in Budapest series:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

The Danube River flows from north to south and splits the Hungarian capital into, basically, two parts. The western part is a region called “Buda” while the eastern part is another region called “Pest”, hence the city’s name, “Budapest”. The two parts have very different characteristics and personality, which makes Budapest really interesting. I will start this series with Buda 😀

Buda and Pest were connected by this Chain Bridge.

One glaring characteristic of Buda was that it was very hilly. It also had this “imperial” vibe because the Buda Castle district, which was a palace and a castle complex, was located there. The district was located on top of the Castle Hill. To get up to the district, one could, of course, hike up; but I decided to go with the more convenient option of taking the funicular! I mean, I planned on taking some selfies up there so I did not want to be all sweaty when I was at the top! Haha 😆 .

The Budapest funicular

I found the castle really unique because, unlike any other castles/palaces I have been to, there was an open market in the complex! And not just a market with stalls, but also some performers as well! There were a group of young people playing some live classical music, some dance performance, and a group of orchestra too! Unsurprisingly the complex was also very busy at the time of my visit. And so the uniqueness. The complex radiated this “imperial” vibe through its buildings but the people made it feel more “populous”! Haha 😛 .

An open market at Buda Castle

My favorite part of the complex was definitely the Fisherman’s Bastion, a terrace with neo-Gothic and neo-Romanesque style which made the Buda “Castle” name really proper, IMO. This building was relatively new in comparison to the other parts of the complex so indeed it looked “cleaner” and, overall, somehow felt “more modern”. What made me love it was the amazing design of the Bastion, which consisted of seven towers which I would associate with a castle! 😀 It was really, really beautiful!

Budapest, not a Disneyland castle

Being on top of a hill, naturally one would find a great view of Budapest from the complex. Well, more like the flat Pest district across the river and also the much calmer and residential western part of Buda. This district was also the location of the Saint Matthias Church which roof had really unique, colorful, and beautiful pattern! 😀

The Saint Matthias Church and its beautiful roof, don’t you think so?

The Castle Hill wasn’t the only hill in Buda. Next to it was the Gellért Hill which was much more “green” than the Castle Hill. Though, there were also some structures, including the Citadella and the Liberty Statue of Budapest. At first I planned to hike up this hill as well but I changed my mind after visiting the Castle Hill and due to the heat which made me not feel like hiking, haha 😆 .

Budapest is seriously pretty

Buda was more than just the hills and the residential area. Its part alongside the Danube River was also very beautiful with great path for pedestrians to enjoy the city. If you didn’t feel like walking, trams ran alongside the river too.

So yeah, all in all, I loved Buda. It felt touristic, true, but there was a reason for that. This was because Buda was indeed very beautiful! 🙂

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Long Weekend in Budapest:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Sungai Danube mengalir dari utara ke selatan membelah ibukota Hungaria ini menjadi dua bagian. Bagian baratnya adalah daerah yang bernama “Buda” sementara bagian timurnya adalah daerah lain yang bernama “Pest”, jadilah nama kotanya “Budapest”, haha. Dua bagian kota ini memiliki karakteristik dan sifat yang sangat berbeda, yang membuat Budapest sungguh menarik. Seri ini akan aku mulai dengan Buda 😀 .

Buda dan Pest dihubungkan oleh Jembatan Rantai (Chain Bridge) ini.

Satu karakteristik dari Buda dalah daerahnya berbukit-bukit. Daerahnya juga memiliki aura “imperial” karena distrik Kastil Buda, yang mana sebuah kompleks istana dan kastil, berlokasi di sini. Distrik ini berlokasi di atas Bukit Kastil. Untuk naik ke atas, jelas aja kita bisa berjalan-kaki; tapi aku sih memilih untuk naik alat transportasi yang lebih nyaman yaitu funicular! Jadi kan aku berencana foto-foto ya dari atas bukitnya jadi jelas dong aku ogah untuk berkondisi berkeringat akibat baru saja berjalan-kaki menaiki bukit ketika saatnya foto-foto! Haha 😆

Funicular di Budapest

Bagiku kastilnya terasa amat unik karena, tidak seperti kastil-kastil/istana-istana lain yang pernah kukunjungi, ada pasar terbukanya dong di kompleksnya! Dan nggak cuma pasar dengan para pedagang saja, tapi ada juga beberapa performers yang tampil! Ada satu grup anak muda yang bermain musik klasik live, penampilan tarian tradisional, dan juga bahkan ada satu grup orkestra segala lho! Tidak mengherankan kompleks ini ramai banget ketika aku berkunjung. Jadilah keunikan yang kusebutkan di atas kan. Kompleksnya sebenarnya memancarkan aura “imperial” melalui bangunan-bangunannya tetapi aktivitas dan keramaian manusianya membuat kompleksnya juga terasa “merakyat” sekali! Haha 😛 .

Sebuah pasar terbuka di Kastil Buda

Bagian favoritku dari kompleksnya adalah Benteng Nelayan (Fisherman’s Bastion), sebuah teras yang bergaya neo-Gothic dan neo-Romanesque yang membuat nama “Kastil” Buda ini sungguh cocok, menurutku. Bangunannya sendiri relatif baru jika dibandingkan dengan bagian-bagian lain dari kompleksnya sehingga memang nampak “lebih bersih” dan, secara umum, terasa “lebih modern”. Yang aku suka adalah disainnya, yang terdiri dari tujuh menara yang bentuknya sungguh aku asosiasikan dengan yang namanya kastil! 😀 Indah banget!

Budapest, bukan kastil Disneyland

Berdiri di atas bukit, jelas kita bisa melihat pemandangan Budapest yang kece banget dari kompleksnya. Eh, lebih ke distrik Pest yang datar di seberang sungai dan area perumahan di sisi baratnya Buda ding. Distrik ini jugalah lokasi dari Gereja Saint Matthias yang memiliki atap yang unik, berwarna-warni, dan berpola kece banget! 😀

Gereja Saint Matthias dengan atapnya yang indah, bukankah demikian?

Bukit Kastil bukan lah satu-satunya bukit di Buda. Di sebelahnya terdapat Bukit Gellért yang “lebih hijau” daripada Bukit Kastil. Eh, tapi ada beberapa bangunan juga sih di atasnya, termasuk Citadella dan Patung Liberty-nya Budapest. Awalnya aku berencana untuk menaiki bukit ini juga tetapi akhirnya rencana ini aku batalkan setelah kunjunganku ke Bukit Kastil dan karena panasnya hari itu yang membuatku malas berjalan-kaki mendaki bukit sambil berpanas-panasan, haha 😆 .

Budapest yang beneran indah banget

Buda itu lebih daripada sekedar bukit-bukit dan area perumahannya. Bagiannya di tepian Sungai Danube juga indah sekali dengan jalanan untuk pejalan-kaki menikmati kotanya. Kalau malas berjalan-kaki, tram juga berjalan menyusuri sungainya juga.

Jadi ya, secara umum, aku suka sekali dengan Buda. Memang sih terasa “turistik” sekali, tapi ada alasannya. Yaitu karena memang Buda itu sungguh indah! 🙂

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2111 – A Long Weekend Story

ENGLISH

Posts in the Long Weekend in Budapest series:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

As my Instagram (@azilko) followers have known now, I went on a trip this weekend taking the advantage that it was a long weekend! 😀 This Monday was the Whit Monday (Pentecost Monday) which was a public holiday in the Netherlands. Btw, this was the last public holiday in this country this year until Christmas in late December!! 😣

In a way I have made it my goal this year to make my travels more “interesting”. One way to achieve this is by going to new places, preferably those destinations I have wanted to go to but haven’t got the opportunity. And this weekend, I went to one of those destinations: Budapest, in Hungary! 😀

Budapest selfie

I have heard and read many stories from people about how amazing Budapest was for travelling! Naturally this intrigues me a lot! 😀 But Budapest, somehow, hasn’t been the “easiest” destination for me because, as you know, I am very picky with my flights and its location that is quite far away from the Netherlands. Consequently, there are only “few” options for me because a regular weekend trip wouldn’t be enough time-wise, I feel. This means I would need to make use of a long weekend, but of course it is more difficult to find a good deal on flight tickets for a long weekend. I found a reasonable deal with Air France/KLM back in November last year (The ticket wasn’t super cheap per se, but it was reasonable for a long weekend) and decided to grab it, haha 😀 .

Though, the deal was to return to Amsterdam via Paris (with a tight 40 minutes connection) on Tuesday (more on this later as things unraveled interestingly for this one), meaning I had to “extend” the long weekend by one day in Budapest. Yeah, I did take one day of my holiday allowances for a long weekend this year despite what I wrote two weeks ago, haha 😛 . But it would be well worth-it for Budapest, I felt, which made it acceptable 😛 .

Budapest is seriously pretty

Anyway, so how was Budapest? Indeed, Budapest was seriously really, really pretty! I was also especially lucky with the weather as well where it was pretty much sunny (only with few cloud) during my entire stay there. Plus, coming from Western Europe, everything also felt cheap! Hahaha 😆 .

Here are some photos as teasers:

 

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Long Weekend in Budapest:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Seperti yang followers Instagram (@azilko)-ku ketahui, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan kemarin ini karena adalah long weekend! 😀 Senin kemarin ini adalah Whit Monday (Pentekosta Senin) yang merupakan tanggal merah di Belanda. Btw, ini adalah tanggal merah terakhir di negara ini tahun ini sebelum Natal akhir Desember nanti dong!! 😣

Kurang lebih sudah kubulatkan tekad bahwa salah satu tujuanku tahun ini adalah membuat acara jalan-jalanku lebih “menarik”. Nah, satu cara untuk mencapainya adalah dengan pergi ke tempat-tempat baru, terutama tempat-tempat yang memang sudah ingin aku kunjungi tapi belum kesampaian. Dan akhir pekan kemarin ini, aku pergi ke salah satunya: Budapest di Hungaria! 😀

Budapest selfie

Aku sudah sering mendengar atau membaca banyak cerita dari orang-orang tentang kecenya Budapest untuk jalan-jalan! Ya jelas dong ya aku kan jadi penasaran! 😀 Tetapi Budapest sejauh ini menjadi tujuan yang “tidak mudah” untuk kukunjungi karena, tahu lah, aku kan picky banget ya untuk urusan penerbangannya dan juga lokasi kotanya yang mana lumayan jauh dari Belanda. Sebagai akibatnya, hanya ada “sedikit” pilihan untukku karena perjalanan akhir pekan biasa bakalan kurang panjang, aku rasa. Ini berarti aku harus memanfaatkan long weekend, tetapi tentu saja lebih sulit mendapatkan tiket promo di long weekend kan ya. Aku melihat ada deal yang oke lah dengan Air France/KLM di bulan November tahun lalu (Tiketnya nggak murah-murah banget sih, tapi oke lah dengan mempertimbangkan tanggalnya yang berada di long weekend) dan memutuskan untuk membelinya, haha 😀 .

Walaupun, untuk memanfaatkan deal ini aku harus kembali ke Amsterdam via Paris (dengan waktu transit yang ketat (40 menit)) di hari Selasa (Eh ada lanjutannya sih tentang ini, ceritanya kusimpan untuk nanti deh karena situasinya menarik), sehingga aku harus “memperpanjang” long weekend-ku selama satu hari di Budapest. Iya, akhirnya aku mengambil satu hari cuti untuk long weekend tahun biarpun aku menulis ini dua minggu yang lalu, haha 😛 . Tetapi karena tujuannya adalah Budapest, aku rasa bakal worth-it lah 😛 .

Budapest itu memang cantik banget

Anyway, jadi bagimana nih Budapest? Budapest memang beneran cantik banget! Aku juga beruntung terutama dengan urusan cuaca dimana cuacanya cerah (hanya sedikit awan) di keseluruhan masa tinggalku di sana. Ditambah lagi, datang dari Eropa Barat, apa-apa juga terasa murah! Huahaha 😆 .

Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini.

Life in Holland, working life, Zilko's Life

#2106 – A “Long” Weekend and Chitato

ENGLISH

A “Long” Weekend

This Thursday was the Ascension Day which was a public holiday in the Netherlands. So technically, this weekend could become a “long” weekend if one decided to take Friday off, which many of my colleagues did.

I, however, didn’t and so I worked as usual on Friday, even though it was a bridging day, haha 😆 . The main reason for it was that I couldn’t find a good deal for a trip this weekend, on top of still having to take one day off nonetheless if I would make use of the opportunity. I felt like my holiday allowance was more valuable when used for a “bigger” trip than for “just” a long weekend.

So there I was, still having to work on Friday when quite many of my colleagues were away somewhere. As a result, my office felt “peaceful” and quier that day, haha 😆 . But it was fine, though, as I could finish off one project I was busy week and so tomorrow I can start my week on a cleaner state for the other projects in my backlog, haha 😆 .

Chitato in the Netherlands

Anyway, I was very excited when I spotted Chitato Indomie Goreng the last time I was in Indonesia. Btw here are the main posts of this most recent trip there:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

At the time I even mentioned that it was practically impossible to get this product in Europe. This statement, however, turned out to be quite premature. Earlier this week when I went to the orientalmarkt, I spotted the following:

Yes, Chitato Indomie Goreng was, for now, available too in the Netherlands 😍!

I was really excited about it and actually impulsively decided to buy two of them. Indeed I went to the shop before having my dinner, lol 😆 . But well, it was worth it and certainly cheat days were allowed here and there, no? 😛

And so how was it? I actually liked it, even though I also found it to be spicy! Hahaha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Sebuah “Long” Weekend

Hari Kamis kemarin adalah Hari Kenaikan Isa Al-Masih yang merupakan tanggal merah di Belanda. Jadi sebenarnya akhir pekan ini bisa dibuat menjadi “long” weekend jika kita mengambil cuti di hari Jumat, yang mana banyak dilakukan oleh kolegaku.

Aku, tapinya, tidak dan jadilah aku bekerja seperti biasa di hari Jumat, biarpun hari itu sebenarnya adalah hari kejepit, haha 😆 . Alasan utamanya adalah karena aku tidak menemukan tiket promo yang oke, di samping toh masih harus mengambil cuti satu hari kalau mau memanfaatkannya. Aku merasa jatah cutiku lebih berharga untuk digunakan di perjalanan yang “lebih besar” daripada “hanya sekedar” long weekend, haha.

Jadi ya gitu deh, aku masih harus bekerja di hari Jumat ketika banyak kolegaku yang sedang berlibur kemana gitu. Sebagai akibatnya, kantorku terasa “sepi” banget, haha 😆 . Tapi nggak apa-apa sih, dengan begini justru aku bisa menyelesaikan satu proyek yang menyibukkanku sebelumnya dan besok aku bisa memulai minggu baru dengan bersih untuk proyek-proyek lain yang berada di backlog-ku, haha 😆 .

Chitato di Belanda

Anyway, aku merasa excited ketika aku melihat Chitato Indomie Goreng terakhir kali aku di Indonesia. Btw, berikut ini posting-posting utama cerita dari perjalananku ini kesana:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

Waktu itu aku sebutkan bahwa bisa dibilang mustahil untuk bisa mendapatkan produk ini di Eropa. Pernyataan ini, ternyata, aku keluarkan terlalu dini. Awal minggu ini ketika aku pergi ke orientalmarkt, aku melihat ini dong:

Iya, Chitato Indomie Goreng, untuk saat ini, juga tersedia di Belanda 😍!

Aku merasa excited sehingga aku spontan membeli dua bungkus. Memang sih aku pergi ke tokonya sebelum makan malam, haha 😆 . Ah, tapi worth it kok dan toh cheat days juga sekali-sekali nggak apa-apa kan 😛

Dan bagaimanakah rasanya? Aku suka loh, walaupun agak terlalu pedas sih untukku! Hahaha 😆 .

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#1943 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part II: Bremen)

ENGLISH

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Getting to/from Bremen

The routing this long weekend to Bremen. Created with: gcmap.com

To get to Bremen, I transitted in Paris, haha 😆 . Even, I actually spent a night there where I arrived late in the afternoon and my flight to Bremen was scheduled on Sunday morning. I flew KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BXY to get to Paris. It was a regular short-haul KLM flight so I wouldn’t get to too much details. Only that it was delayed but this, obviously, did not bother me that much.

Air France’s new lounge at Terminal 2G of Paris-CDG

Another reason I chose this routing was that my flight to Bremen would depart from Terminal 2G. A few months back, I read that Air France had just opened a new lounge in this terminal. Their old lounge there was very small and felt cramped; so I was curious how the new lounge was. And, wow, I was actually impressed!

The lounge was much more spacious than the old one!

For once, it was much more spacious than the old one. The food, drinks, etc were pretty much as per the standard of their other lounges at Paris-CDG, though. However, one feature made this lounge my favorite one at the airport: the unobstructed view towards runway 26L and 26R, making it a perfect (and comfortable) planespotting spot! 😍

Spotting a Vietnam Airlines’ Airbus A350-900 landing at runway 26L

Anyway, my AF1324 flight to Bremen was operated by HOP! Regional’s Embraer ERJ170 reg F-HBXN today. The flight was not busy at all, with load factor I estimated to be at around 25-30% only.

From Bremen, I went straight to Amsterdam. And as I mentioned, one factor I chose this flight was because KLM Cityhopper deployed one of their remaining Fokker 70s, which was PH-KZL today! KLM Cityhopper is retiring this type this Fall, and so I get to catch them while I can!! 😀 Btw, I arrived at the airport too early today and so when I went to the lounge, I was the only passenger there! Yes, the entire lounge was for myself! Haha 😛

I will definitely miss this Fokker 70’s unique 2-3 layout AND spacious legroom (an expensive commodity when flying in economy these days)!!

Bremen

The first thing I noticed about Bremen was that, apparently it was a city of tram! How did I notice? Well, it was literally stated at the tram stop at the airport, haha 😆

Bremen – City of Trams

Anyway, overall I found Bremen to be a nice little town. So actually, as a tourist, I don’t think you would need trams to go around the city center, where most of the city attractions are located. Well, probably unless you stay somewhere quite far away.

The Altstadt of Bremen

Bremen was the setting (sort of) of a popular German fairy tale, Die Bremer Stadtmusikanten (The Town Musicians of Bremen). I was introduced to this story when I was in elementary school, through one of my good friends back then who was really good at drawing (Once he made some comic strips based on this story). The story was so popular that it became the “symbol” of the city. And even there was a famous bronze statue there by the Rathaus, which I obviously took a selfie with 😛 . I was really happy that I could visit it, especially that it reminisced me about my childhood as well 🙂 . Btw there is a statue based on the same story in Riga, Latvia. So I guess the story is indeed famous in Eastern Europe as well.

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

In my opinion, the most interesting part of Bremen was the Altstadt (Old Town) with all the beautiful old German buildings. Probably because I was there during a national holiday, I only saw people (possibly tourists) in the Altstadt. Everywhere else I went to, I saw no people and most shops appeared to be closed! Haha…

It was not a busy day in Bremen

As for the food, unfortunately I did not have a lot of opportunity to explore, haha. I had steak as my first lunch there. Then, I went to a tapas bar for dinner because thick cloud was hanging low appearing like it was going to rain so that I would not have the privilege to choose my restaurant, lol 😆 . Well, at least the bar was still having its happy hour for their cocktails (40% discount! 😛 ), which I ordered a good glass of long island ice tea, and the paella was good! And as my last brunch there, I had a Viennese schnitzel, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Pergi ke/dari Bremen

Ruteku long weekend ini ke Bremen. Dibuat dengan: gcmap.com

Untuk berangkat ke Bremen, aku transit dulu di Paris, haha 😆 . Bahkan, aku menginap semalam loh di sana dimana aku tiba di malam hari dan penerbanganku ke Bremen dijadwalkan berangkat Minggu pagi. Aku terbang dengan Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BXY ke Paris. Ini adalah penerbangan standar jarak dekatnya KLM sehingga aku nggak akan bercerita tentangnya. Hanya saja penerbangannya sedikit terlambat sih tetapi jelas ini tidak mempengaruhiku.

Lounge barunya Air France di Terminal 2G Bandara Paris-CDG

Satu alasan lain aku memilih rute ini adalah karena penerbanganku ke Bremen akan berangkat dari Terminal 2G. Beberapa bulan sebelumnya, aku membaca bahwa Air France baru saja membuka lounge baru di terminal ini. Lounge lamanya mereka di sana berukuran kecil banget dan, karenanya, terasa amat sesak; jadi jelas lah ya aku penasaran dengan yang baru ini. Dan, wow, aku sungguh terkesan lho!

Lounge barunya jauh lebih luas dan lapang daripada yang lama!

Pertama-tama, ukurannya jauh lebih luas dan lapang daripada yang lama. Makanan dan minumannya sih berstandar kurang lebih sama lah dengan lounge-lounge lain mereka di Paris-CDG. Namun, ada satu fitur yang membuat lounge ini menjadi favoritku di bandara ini: pandangan tak terhalang ke landasan pacu 26L dan 26R, sehingga tempat ini menjadi tempat yang sempurna (dan nyaman) untuk planespotting! 😍

Spotting sebuah Airbus A350-900nya Vietnam Airlines mendarat di landasan pacu 26L

Anyway, penerbanganku ke Bremen dioperasikan oleh Embraer ERJ170nya HOP! Regional dengan rego F-HBXN. Penerbangan hari ini sama sekali tidak penuh, aku perkirakan kursinya hanya terisi sekitar 25-30% saja.

Dari Bremen, aku langsung kembali ke Amsterdam. Seperti yang kusebutkan, satu alasan aku memilih penerbangan ini adalah karena KLM Cityhopper menggunakan salah satu Fokker 70nya, yang mana hari ini adalah PH-KZL! KLM Cityhopper akan memensiunkan tipe ini musim gugur ini sehingga aku harus sebisa mungkin terbang dengannya dulu dong ya! 😀 Btw, aku tiba di bandara agak awal hari ini sehingga ketika aku pergi ke lounge-nya, aku adalah satu-satunya penumpang di sana loh! Iyaa, satu lounge buat aku sendiri! Haha 😛 .

Aku jelas akan kangen dengan layout 2-3nya Fokker 70 yang unik ini DAN legroom-nya yang lega banget (sebuah komoditas mahal ketika terbang di kelas ekonomi sekarang ini)!!

Bremen

Hal pertama yang aku tangkap dari Bremen adalah, ternyata kota ini adalah kota tram loh! Kok tahu? Yaa, soalnya tertulis begitu sih di halte tram di bandaranya, haha 😆 .

Bremen – Kota Tram

Anyway, secara keseluruhan Bremen adalah kota kecil yang cantik. Jadi sebenarnya, sebagai turis, aku rasa kita tidak membutuhkan tramnya sih untuk berkeliling pusat kotanya, dimana kebanyakan atraksinya berada. Eh, mungkin kecuali kalau kita menginap agak di luar kotanya ya.

Altstadt di Bremen

Bremen adalah setting (kurang lebih) dari sebuah cerita rakyat Jerman yang terkenal, Die Bremer Stadtmusikanten (Para Musisi Kota Bremen). Aku mengenal cerita ini ketika masih SD dulu melalui seorang teman baikku waktu itu yang jago menggambar (Sekali waktu ia membuat comic strips gitu berdasarkan cerita ini). Ceritanya populer banget sampai-sampai menjadi “simbol” dari kota ini loh. Bahkan ada sebuah patung perunggu yang terkenal banget yang berlokasi di sebelahnya Rathaus, yang mana jelas aku selfie di situ dong 😛 . Senang sekali rasanya aku bisa mampir di sana, sedikit mengingatkanku akan masa kecil dulu 🙂 . Btw ada sebuah patung berdasarkan cerita yang sama juga loh di Riga, Latvia. Jadi sepertinya ceritanya populer juga ya di Eropa Timur.

Selfie wajib di Bremen dengan Die Bremer Stadtmusikanten

Menurutku, bagian paling menarik dari Bremen adalah Altstadt-nya (Kota Tua) dimana terdapat bangunan-bangunan tua ala Jerman. Mungkin karena aku di sana ketika tanggal merah, aku hanya melihat keramaian (mungkin oleh turis) di Altstadt. Selebih dari itu, di lokasi-lokasi lain aku nyaris tidak melihat orang loh, bahkan kebanyakan tokonya pun tutup! Haha…

Ini bukanlah hari yang ramai di Bremen

Untuk urusan makanan, sayangnya aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk mencoba ini-itu, haha. Aku makan steak sebagai makan siang pertamaku di sana. Lalu, aku pergi ke sebuah bar tapas untuk makan malam karena awan tebal menggantung sehingga nampak seperti akan hujan deras sehingga aku tidak memiliki kebebasan untuk pilih-pilih restoran, haha 😆 . Setidaknya waktu itu masih happy hour sih di barnya untuk cocktail (diskon 40% loh, lumayan!), yang mana aku memesan segelas long island ice tea, dan paellanya juga enak! , Dan untuk brunch keesokan harinya, aku makan schnitzel ala Vienna, haha 😆 .

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#1939 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part I: Lyon)

ENGLISH

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Getting to/from Lyon

Obviously, I chose not to fly direct to Lyon, haha. In fact, on both ways I had a transit at Paris-CDG. In general, all the flights were standard short-haul flights with Air France so I would not get to too much details here. There was only one “incident” on my way to Lyon that worth sharing, haha 😛 .

I had quite a tight connection at Paris-CDG, at only 50 minutes. So obviously I was not happy to find out that the departure of my flight AF1741 was delayed by 20 minutes! But it did not end there. Once all passengers boarded, the captain announced that Schiphol was very busy at the time and we only got a clearance for departure in another 20 minutes! The string of delays still did not finish here. When we finally left the terminal, it turned out we got a departure slot at:

Runway 36L aka the Polderbaan

Yes, the friggin’ Polderbaan So all in all, consequently we took off from Schiphol one hour (!) behind schedule.

But there was nothing I could do so I just tried to relax (and order some wine on board, lol). Though, I wasn’t all that worried. I already checked online and I found that Air France had a scheduled evening flight to Lyon from Paris-CDG later today. So even in the worst case scenario, I figured they would bump me into that flight. Sure it would cause some inconvenience in terms of my arrival time in Lyon, but I had been to Lyon before anyway so there would be not much that I would miss.

A small bottle of wine to enjoy the moment.

Anyway, 50 minutes later we landed at runway 09L of Paris-CDG. I walked briskly once I deboarded about 5 minutes before the scheduled departure of my connecting flight, on the slightest hope that my connecting flight would probably be delayed too. I checked the transit monitors and went to my gate.

And I found it surprising that my gate was the same gate that I just got off from. Yep, as it turned out, my connecting flight to Lyon would be operated with the same airplane (even with the same crew set)! This was the first time ever I took these kind of flights! Lol 😆 . So consequently the flight to Lyon was also delayed by around 45 minutes! Yep, at the end, everything worked out well (for me)! 😛

I took two different flights (AF1741 and AF7646) with this Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXA today!

Once all passengers to Lyon boarded, the captain apologized for the delay and explained this was due to late arrival from Amsterdam. Well, I could testify for that! Lol 😛 .

Lyon

Lion selfie in Lyon

It worths mentioning that this trip took place during a very warm weekend in Europe; and this was also true for Lyon. It was really warm when I was there, where the temperature came close to 30°C or so, haha. Despite this, though, obviously I still managed to get around the city, haha 😆 .

I bought a daily public transpotation card to get around Lyon. I stayed near Gare Part Dieu and that was quite some distance from Vieux Lyon (Old Lyon), the most attractive (and touristy) part of the city. Obviously I was not planning to walk there because of the temperature, lol 😆 . The Lyonese trams looked really cool, though. Here is one of them:

A Lyonese tram

Anyway, unsurprisingly it was a busy weekend in Lyon where the Vieux Port was full of people (read: tourists)! I crossed both the Rhone and Saone rivers and walked around the old town. After lunch, I took the funicular to the top of the Fourviere Hill here Lyon’s Notre Dame Basilica was located. The small park next to the basilica provided good bird’s eye view of the city too.

Notre Dame Fourviere in Lyon

I looked at the map and Theatre Gallo-Romains did not look very far away from the basilica. Fortunately this turned out to be true because I decided to walk there, haha 😆 . This Roman theatre appeared like how I remembered it from 2014, it was very well-preserved.

Theatre Gallo-Romains

From there, I took the other funicular line down back to Vieux Lyon. At this point, I felt like I had walked enough and it was really warm anyway, so I decided to: shop! Haha 😆 . Even at one point I decided to just go to the big mall near Gare Part Dieu because it had air-conditioner in it, haha 😆 .

The Food

Lyon is known as the gastronomy capital of France, so obviously food was one main element of this trip, haha, even though I did not go to any Michelin-starred restaurant, unlike the last time.

One dish which I did not have the chance to try the last time I was in Lyon was quenelle de brochet. And so I told myself to not miss it this time around (and gave it a go to miss the andouillette, another Lyon’s specialty, because I was traumatized by the mustard sauce the last time I had it (I hate French mustard)). Anyway, the quenelle tasted good. I would probably not call it my most favorite dish ever because I found the sauce to be really creamy and heavy, but it was definitely much better (for me) than andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Another dish surprised me, btw, because (1) it was, obviously, really good and (2) I told myself why I never thought about it before. It was a “fillet de canard” (duck breast) steak. Really, it tasted very good!! In fact, maybe I will try to cook one myself soon! Hmm 🤔

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Pergi ke Lyon

Jelas dong aku tidak terbang langsung dari Amsterdam ke Lyon, haha. Di kedua arah, aku transit dulu di Paris-CDG. Secara umum, semua penerbangannya adalah penerbangan standar jarak dekat dengan Air France sehingga aku tidak akan merincinya di sini. Hanya saja, ada satu “insiden” di perjalanan keberangkatanku ke Lyon yang layak diceritakan 😛 .

Waktu transitku cukup ketat di Paris-CDG, hanya 50 menit saja. Jadi jelas aku merasa tidak terlalu senang ketika tahu bahwa penerbangan AF1741ku dijadwalkan berangkat terlambat 20 menit hari ini! Masalahnya lagi, ternyata berita buruknya belum berakhir. Setelah semua penumpang naik pesawat, pilot mengumumkan bahwa Bandara Schiphol sangat sibuk waktu itu sehingga kami baru mendapatkan giliran untuk berangkat 20 menit kemudian! Disini pun masalahnya masih belum berakhir pula. Setelah akhirnya pesawat bergerak, ternyata keberangkatan kami adalah dari:

Landasan pacu 36L alias Polderbaan

Iyaa, Polderbaan laknat itu Semua ini mengakibatkan kami lepas landas satu jam (!) di belakang jadwal.

Berhubung toh semuanya di luar kuasaku, ya sudah aku pasrah saja dan berusaha santai (dan memesan wine dong di pesawat, haha). Tapi aku memang tidak begitu khawatir sih. Aku sudah cek di internet bahwa hari itu Air France memiliki penerbangan malam ke Lyon dari Paris-CDG. Jadi andaikata skenario terburuk terjadi, aku cukup yakin Air France akan memindahkanku ke penerbangan itu. Memang sih ini akan mengakibatkan sedikit ketidak-nyamanan dalam hal waktu tibaku di Lyon, tetapi toh aku sudah pernah ke Lyon sebelumnya jadi tidak terlalu banyak lah yang akan kulewatkan.

Sebotol kecil wine untuk memasrahkan diri kepada situasi.

Anyway, sekitar 50 menit kemudian kami mendarat di landasan pacu 09L Bandara Paris-CDG. Aku berjalan cepat-cepat begitu keluar dari pesawat sekitar 5 menit sebelum jadwal keberangkatan penerbangan lanjutanku, dengan berbekal harapan amat kecil penerbanganku selanjutnya mungkin terlambat juga, haha. Aku kemudian mengecek layar monitor transit di bandara untuk mengetahui gerbang keberangkatannya.

Aku cukup kaget ketika melihat bahwa gerbangnya adalah gerbang yang sama dari mana aku baru saja keluar. Iya, ternyata, penerbanganku ke Lyon akan dioperasikan dengan pesawat yang sama (bahkan dengan set kru yang sama)! Ini adalah kali pertama aku mengalami kejadian begini nih! Haha 😆 . Jadilah akibatnya penerbangan ke Lyon juga kena delay selama 45 menit! Iya, pada akhirnya, semuanya baik-baik saja (untukku)! 😛

Aku menaiki dua penerbangan berbeda (AF1741 dan AF7646) dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXA ini hari ini!

Setelah semua penumpang tujuan Lyon naik pesawat, pilotnya meminta-maaf atas keterlambatan ini dan menyebutkan ini disebabkan oleh keterlambatan penerbangan sebelumnya dari Amsterdam. Yah, aku bisa kok bersaksi untuk pernyataan ini! 😛

Lyon

Lion selfie di Lyon

Relevan untuk disebutkan bahwa perjalanan ini berlangsung di akhir pekan yang amat panas di Eropa; dan di Lyon juga demikian. Panas banget deh ketika aku di sana, dimana suhu udaranya mencapai 30°C, haha. Walaupun begini, toh aku masih sempat jalan-jalan di kotanya, haha 😆 .

Aku membeli tiket harian transportasi umum untuk berkeliling Lyon. Aku menginap di dekat Gare Part Dieu yang berjarak cukup jauh dari Vieux Lyon (Lyon Tua), bagian paling kece (dan paling penuh turis) dari Lyon. Jelas, aku ogah berjalan-kaki kesana apalagi lagi panas-panasnya begini, haha 😆 . Btw, disain tram di Lyon keren-keren loh. Berikut ini salah satunya:

Sebuah tramnya Lyon

Anyway, tidak mengherankan akhir pekan ini ramai banget di Lyon dimana Vieux Portnya penuh orang (baca: turis)! Aku menyebrangi kedua sungai Rhone dan Saone dan berjalan-kaki keliling kotanya. Setelah makan siang, aku naik funicular ke atas bukit Fourviere dimana Basilika Notre Dame-nya Lyon berada. Dari taman kecil di samping basilikanya kita bisa melihat pemandangan Lyon dari atas.

Notre Dame Fourviere di Lyon

Aku lihat di peta dan Teater Gallo-Romains nampak tidak jauh dari basilikanya. Untung ini benar karena aku memutuskan untuk berjalan-kaki kesana, haha 😆 . Teater Romawi ini masih seperti yang kuingat dari tahun 2014, sungguh terawat dengan amat baik.

Teater Gallo-Romains

Dari sana, aku menaiki funicular lain untuk turun kembali ke Vieux Lyon. Aku merasa sudah cukup jalan-jalannya dan toh udaranya panas banget, jadilah aku memutuskan untuk: shopping! Haha 😆 . Bahkan di satu waktu aku memutuskan untuk ngemall aja loh di sebuah mall besar di dekat Gare Part Dieu yang dilengkapi dengan AC, haha 😆 .

Makanannya

Lyon dikenal sebagai ibukota kulinernya Prancis, jadi jelas makanan adalah satu elemen penting dari perjalanan ini, haha, walaupun aku tidak pergi ke restoran berbintang Michelin sih kali ini, tidak seperti yang lalu.

Satu menu yang tidak sempat aku cobain ketika terakhir kali aku di Lyon adalah quenelle de brochet. Jadilah aku berencana untuk tidak melewatkannya kali ini (dan tidak berkeberatan untuk melewatkan andouillette, sebuah makanan khasnya Lyon yang satunya, karena aku trauma dengan saus mustard-nya waktu itu (aku tidak suka mustard Prancis!)). Anyway, quenelle-nya enak juga ternyata. Mungkin aku tidak akan mengklaimnya sebagai masakan terfavoritku karena aku merasa sausnya creamy dan “berat” banget, tetapi (untukku) tetap jauh lebih enak daripada andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Satu menu mengagetkanku, btw, karena (1) jelas, rasanya enak banget dan (2) Kok aku nggak kepikiran sebelumnya ya? Haha. Menu ini adalah steak “fillet de canard” (dada bebek). Beneran loh, rasanya enak banget!! Malahan, aku berpikir untuk sekali-sekali mencoba membuatnya sendiri nih! Hmm 🤔

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#1937 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Introduction)

ENGLISH

So you know, in the last three weeks I had three weekend trips in three consecutive weekends: Lyon, then Bremen, then Paris, haha. So I was thinking of wrapping these three trips under one “theme”, and what I came up with was “Early Summer 2017 Weekend TripS” series 😛 .

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Having three consecutive weekend trips was actually unintentional, though it was situational so it probably was not all that coincidental, haha.

Lion selfie in Lyon

You see, the few public holidays in the Netherlands are not uniformly spread throughout the year; and most of them fall in between April and May. And as I like to make use of them for some short trips, this results in several trips within a short period of time, haha. And the fact that the French Open is always held at the end of May/early June definitely plays a factor too 😛 .

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

Two of the three trips were driven by good flight deals that I found. Well, also because Lyon was a nice city and I had never been to Bremen. Also for Bremen, my flight back from there would be with a Fokker 70, which KLM is retiring by the end of this year. So gotta catch them while I can!!

Back at Court Philippe Chatrier this year

I have to say, though, that it is also quite tiring, haha. I am taking a rest now and have no travelling plan (as of yet) in the coming a few weeks 😛 . Though, who knows if I decide to change my mind soon too! Hahaha 😛 .

BAHASA INDONESIA

Pada sudah baca kan, tiga minggu belakangan ini aku baru saja pergi dalam tiga perjalanan akhir pekan di tiga akhir pekan berturutan: Lyon, lalu Bremen, lalu Paris, haha. Nah jadilah aku berkeinginan untuk memberikan sebuah “tema” untuk tiga perjalanan ini, dan yang kepikiran adalah seri “Early Summer 2017 Weekend TripS” 😛 .

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Tiga perjalanan akhir pekan yang berturutan sebenarnya terjadi tidak sengaja, walaupun ini juga dikarenakan situasi sih sehingga mungkin bukan lah kebetulan juga, haha.

Lion selfie di Lyon

Jadi tanggal merah di Belanda (yang sedikit itu) tidak tersebar merata di sepanjang tahun; dan kebanyakan jatuh di bulan April dan Mei. Dan karena aku suka memanfaatkannya untuk acara jalan-jalan, ini berakibat pada beberapa perjalanan dalam periode waktu yang singkat, haha. Dan French Open yang selalu diadakan di akhir Mei/awal Juni juga tentu berkontribusi juga 😛 .

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

Dua dari tiga perjalanan ini didasari oleh tiket promo yang aku temukan. Dan juga karena memang Lyon adalah kota yang indah dan aku belum pernah ke Bremen sebelumnya sih. Dan untuk Bremen, penerbanganku kembali dari sana dioperasikan dengan pesawat Fokker 70, yang mana akan dipensiunkan KLM di paruh kedua tahun ini. Jadi aku harus menerbanginya selagi bisa kan ya!!

Kembali lagi di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini

Harus diakui sih, ini cukup melelahkan juga, haha. Sekarang aku beristirahat saja deh dan tidak memiliki rencana jalan-jalan dalam beberapa (nggak banyak sih) minggu ke depan 😛 . Eh, tapi nggak tahu juga sih siapa tahu aku berubah pikiran! Haha 😛 .