#2071 – A Wintery Weekend Trip to Bologna

ENGLISH

In the first weekend of February I went on a weekend trip to Bologna, which was the second of the two trips I did that week! Now it is time for the story before it becomes too late and obscure! 😀

The transport

My routing on this trip was Amsterdam – Lyon – Bologna – Amsterdam with KLM, HOP! Regional, and KLM Cityhopper, respectively. My flight to Lyon was with a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGN, my fifth (!) time flying this particular plane 😅. I had quite a long transit (about four hours) in Lyon before my HOP! Regional flight to Bologna with their Embraer ERJ145 reg F-GRGK. Because it was an Embraer ERJ145, of course I assigned myself a seat in the left side of the cabin which was a window AND aisle seat at the same time! Haha 😛 .

HOP! Regional’s Embraer ERJ145 reg F-GRGK which brought me to Bologna.

Then on Sunday I took KLM Cityhopper’s Embraer ERJ190 reg PH-EXF to go back to Amsterdam. There was a medical emergency on board this flight and so we tried to get as fast as possible to Schiphol. We landed at runway 36R, thus allowing quick taxi to the terminal, where a team of paramedics were already on standby and immediately entered the plane once the door was opened. All passengers were asked to wait for the patient to be taken care of and escorted out of the plane by the paramedics. It was quite a sight and amazing to see how professional everyone involved in this emergency situation was!

The Weather

Anyway, I went to Bologna thinking that the winter weather there should be “better” than Amsterdam. As it turned out, I was very wrong, lol. In fact, it was snowing in Bologna on the one full day that I was there! Lol 😆

It was snowing in Bologna!

The snow was, of course, not the biggest problem that I had; it was actually the rain! So the weather went alternatingly between the state of snowing and raining, which was really annoying to me, haha 😛 . But well, I tried to enjoy it as much as I could! 😛

The City of Bologna

Bologna

Speaking of Bologna, it had a cute and historical city center (Bologna Centro) with all the old buildings. It appeared to me whomever did the urban planning back then thought of this horrible weather I would have today. What I really liked the most, for this particular day, of the city center was that many tall buildings got their upper floors “extended” towards the sidewalk hence provided a coverage for the pedestrian from weather like this! Hahaha 😛 .

Yeay, a coverage for pedestrian in Bologna Centro

Anyway, the city center of Bologna was, indeed, really nice, especially the architecture. This was, of course, not that surprising to find in Italy, haha. The Centro is basically anchored around the landmark of the city, Le Due Torri, or “The Two Towers” in English (reminding us much of LOTR? 😆 ).

The Two Towers of Bologna

There was also a long straight avenue with a lot of shops connecting the center of the Centro to the railway station.

The Bolognese Food

While the city itself was nice, what stood out the most to me was definitely the food! Lol 😆 . And actually I was quite excited about it. I am quite sure you are likely to have heard of a special dish coming from the city’s region. Well, it is not really a dish, actually, but a “sauce”: the bolognese sauce used for pasta!! So you have ever tried spaghetti bolognese? It is “bolognese” because that sauce was supposed to originate from this city! Haha 😆 . And so it was a no brainer that my first ever dish in the city was a tortellini bolognese with ragu!! 😀

A tortellini bolognese with ragu in Bologna!

And then, a local recommended me to try out tortellini in brodo (tortellini in broth) while staying there. This was another special Bolognese dish, apparently, where the pasta was cooked in a different way. And this dish was perfect for the weather as well. And so I was really happy to find a restaurant serving this dish in the city center.

Tortellini in brodo

And I can tell you while the dish looked simple, it was really, really delicious!! I never thought pasta could be cooked this way! Hahaha 😀

BAHASA INDONESIA

Di akhir pekan pertama Februari, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan ke Bologna, yang mana perjalanan kedua dari dua perjalananku minggu itu! Ceritanya langsung aku tuliskan aja ya sebelum basi! 😀

Transportasi

Ruteku untuk perjalanan ini adalah Amsterdam – Lyon – Bologna – Amsterdam berturutan dengan KLM, HOP! Regional, dan KLM Cityhopper. Penerbanganku ke Lyon dioperasikan dengan Boeing 737-700nya KLM rego PH-BGN, kali kelima (!) aku terbang dengan pesawat yang satu ini dong 😅. Aku transit cukup lama di Lyon (sekitar empat jam) menunggu penerbangan lanjutanku dengan HOP! Regional Embraer ERJ145 rego F-GRGK ke Bologna. Karena pesawatnya Embraer ERJ145, jelas dong aku memilih kursi di sisi kiri pesawat yang mana adalah kursi jendela DAN lorong secara bersamaan! Haha 😛

Embraer ERJ145 milik HOP! Regional rego F-GRGK yang membawaku ke Bologna.

Lalu di hari Minggu aku kembali ke Amsterdam dengan Embraer ERJ190 milik KLM Cityhopper. Btw, di penerbangan ini terjadi kondisi darurat medis sehingga pilotnya berusaha secepat mungkin untuk mendarat di Schiphol. Kami mendarat di landasan pacu 36R, sehingga taxiing ke terminalnya nggak pakai lama, dimana di sana satu tim paramedis sudah siap siaga menunggu dan langsung masuk pesawat begitu pintu dibuka. Semua penumpang diminta untuk duduk dan menunggu untuk pasien darurat ini ditangani oleh paramedis dan diturunkan dari pesawat. Keren banget lah melihat bagaimana profesionalnya semua pihak yang terlibat dalam menangani situasi darurat ini!

Cuaca

Anyway, aku pergi ke Bologna mengira cuaca musim dingin di sana akan “lebih baik” daripada Amsterdam. Ternyata aku salah besar, haha. Malah, cuacanya bersalju dong di Bologna di satu hari penuhku di sana! Huahaha 😆 .

Bersalju loh di Bologna!

Saljunya sih, jelas, bukan masalah bagiku; yang jadi masalah adalah hujannya! Jadi cuacanya itu bergonta-ganti terus antara salju dan hujan, yang mana nyebelin dong ya, haha 😛 . Ah, tapi aku tetap berusaha menikmatinya sih! 😛

Kota Bologna

Bologna

Ngomongin Bologna, kota ini memiliki pusat kota bersejarah yang cantik banget (Bologna Centro) dengan gedung-gedung tuanya. Nah, sepertinya siapa pun yang mendisain tata kota ini dulu sudah memperkiranakn cuaca buruk yang akan aku hadapi hari ini deh. Yang aku paling suka, untuk hari ini terutama, dari pusat kotanya adalah lantai atas gedung-gedung tingginya dibuat “menjorok” ke arah trotoar gitu sehingga memayungi pejalan kaki dari cuaca macam begini! Hahaha 😛 .

Yeay, para pejalan-kaki dipayungi di Bologna Centro

Anyway, tapi bener kok pusat kota Bologna itu cantik banget, terutama arsitekturnya. Ini, tentu saja, nggak mengherankan sih namanya aja di Italia kan ya, haha. Centro-nya sendiri pada dasarnya berpusat di landmark kotanya, Le Due Torri, atau “Dua Menara” dalam bahasa Indonesia (namanya LOTR banget ya? Haha 😆 ).

Dua Menara di Bologna

Ada juga jalan besar lurus panjang yang dipenuhi dengan pertokoan yang menghubungkan pusat kota dan stasiun kereta.

Makanan a la Bologna

Walaupun kotanya sendiri cantik, yang paling spesial bagiku adalah makanannya! Haha 😆 . Dan sebenarnya aku excited banget terhadap yang satu ini. Aku cukup yakin pasti pada pernah mendengar masakan spesial yang asalnya dari daerah kota ini. Eh, bukan masakan sih sebenarnya, tetapi lebih ke “saus”, yaitu saus bolognese yang banyak digunakan untuk pasta!! Pernah makan spaghetti bolognese? Nah namanya “bolognese” karena sausnya itu asalnya adalah dari kota ini! Haha 😆 . Jadi jelas dong ya untuk makan malam pertamaku di kota ini aku memesan tortellini bolognese dengan ragu!! 😀

Tortellini bolognese dengan ragu di Bologna!

Dan kemudian, aku mendapatkan rekomendasi dari seorang lokal dari sana untuk mencoba tortellini in brodo (tortellini dengan kuah) selagi di Bologna. Ini adalah masakan spesial Bologna lainnya, ternyata, dimana pastanya dimasak dengan cara yang anti-mainstream. Kebetulan pula masakan ini cocok banget untuk cuaca macam begini kan ya. Jadilah aku senang banget ketika menemukan restoran di pusat kota yang menyediakannya.

Tortellini in brodo

Dan bisa aku bilang walaupun masakannya nampak sederhana, tetapi rasanya enak banget lho!! Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku deh kalau pasta bisa dimasak dengan cara ini! Hahaha 😀

Advertisements

#2068 – A Midweek Trip to Copenhagen

ENGLISH

At the end of January I went on a midweek trip to Copenhagen to attend the PhD defense and graduation of a friend of mine, which was one of the two trips I did that week! It is the time now for the story 😀

The transport

On this trip, I took Air France and KLM’s Amsterdam – Copenhagen – Paris – Amsterdam. The last two flights were regular comfortable Air France flights with an Airbus A318 (F-GUGM) and Airbus A321 (F-GTAJ) so I won’t get too much to it. The first KLM flight to Copenhagen was, however, interesting.

An Air France’s A318 reg F-GUGM at CPH

An Air France’s A321 reg F-GTAJ at AMS

Two days before the trip, I got an email from KLM saying that due to changes in the timetable, the flight to Copenhagen would be operated with a Transavia’s Boeing 737-800 but still with KLM service and staffed by KLM crews. In case you aren’t familiar, Transavia is KLM’s low cost carrier (LCC) subsidiary and there is no Europe business class or economy comfort seats on the plane. And so in Indonesia this would be like holding a Garuda Indonesia ticket but the flight, while still with Garuda’s level of service and crews, would be operated with a Citilink’s plane, haha.

KLM operated my KL1125 flight to Copenhagen today with this Transavia’s Boeing 737-800 reg PH-HZL.

Transavia’s PH-HZL was chosen for my flight today. The gate officers and flight attendants apologized for this change of plane. I settled onto my 4A seat which was a typical LCC seat: it felt quite crammed! Haha 😛 . Thankfully, everything else was pretty much as per KLM standard. They even put the KLM in-flight magazines in the seat pocket, much to my delight because I wasn’t impressed at all with Transavia’s in-flight magazine on my latest flight with them 1.5 years ago, haha. KLM’s usual sandwich and drink service were served on board. The flight landed at Copenhagen – Kastrup Airport on time.

KLM magazines and Transavia Safety Card

A Danish PhD defense and graduation

My main agenda in Copenhagen was my good friend’s PhD defense and graduation. It was also my first time attending such an event outside of the Netherlands and so I was also curious to see the difference.

The defense started with a public presentation for about 45 minutes in a lecture room. I think my friend was quite composed during the presentation, which was really good. Then, a professor told the audience that there would be a 5 minutes break before the Q&A session would start. This next session could potentially take up to 2 hours and he said something along the line as “If you want to leave the room, this is your chance“, or at least this was how the message was conveyed to me, haha.

Actually I would like to stay and see maybe a few questions, as this session was usually where the interesting discussion took place. However, with only one door at the front of the room, what if I needed to, say, go to the toilet or get something to drink? It could potentially took two hours, damn it! I certainly would not want to be in the awkward situation of “interrupting” a fierce PhD defense discussion session because I needed to pee, haha. And so in the end I decided to leave the room, and so did all the other audiences leaving my friend only with the professor and thesis defense committee in the room.

A PhD graduation reception in Denmark

I then helped her colleague prepare for the reception afterwards in a cool hang out hall in the university. The Q&A session took, apparently, about an hour. My friend came to the room with the professors who then promoted her as a Doctor. The reception then started; and it actually went quite long as my friend organized a dinner as well, also at the same place. I stayed there until about 8:30 PM before I decided to leave as I was so tired. It had been a long day when I got up at 3 AM that morning! Hahaha 😛 .

So yeah, in conclusion, a PhD defense and graduation in Denmark was very different from the Netherlands. You can read how mine was here last year. In the Netherlands, it was much more traditional with all the rules and procession while in Denmark, at least on the surface, it looked much more relaxed and casual (There was even no dress code). The committee also consisted of more people in the Netherlands, at least in TU Delft. I also found it interesting that the reception (and dinner) was more like a DIY kind of stuffs, whereas in the Netherlands it was more “formal” with a caterer organizing the reception!

Copenhagen

The colours of Copenhagen

Because my main agenda in Copenhagen was to attend the defense and graduation, I did not have much time to go around the city. But I had visited this beautiful city twice before so I did not really mind this to be honest, haha.

I was glad that I still got the time to enjoy another awesome brunch in Copenhagen, btw (Copenhagen is famous for the amazing brunch places throughout the city). A friend and I headed out to Kalaset nearby the Nørreport Station for brunch, which was highly rated in Yelp. Obviously I ordered the non-vegetarian (lol) brunch, which was really, really good!! 😀

An amazing brunch in Copenhagen

So yeah, the next time you head out to Copenhagen, don’t forget to have brunch! And also the smørrebrød, which unfortunately I did not have this time, hahaha.

BAHASA INDONESIA

Di akhir bulan Januari aku pergi dalam perjalanan singkat di tengah minggu ke Kopenhagen untuk menghadiri sidang dan wisuda PhD (S3)-nya seorang teman baikku, yang mana adalah satu dari dua perjalananku minggu itu! Nah, mari ceritanya kita mulai 😀

Transportasi

Di perjalanan ini, aku terbang dengan Air France dan KLM dengan rute Amsterdam – Copenhagen – Paris – Amsterdam. Dua penerbangan terakhir adalah penerbangan reguler Air France dengan sebuah Airbus A318 (F-GUGM) dan Airbus A321 (F-GTAJ) sehingga tidak akan banyak aku ceritakan di sini. Penerbangan pertama dengan KLM ke Kopenhagen, tapinya, cukup menarik.

A318nya Air France dengan rego F-GUGM di CPH

A321nya Air France dengan rego F-GUGM di AMS

Dua hari sebelum berangkat, aku mendapatkan email dari KLM yang menyebutkan bahwa karena perubahan jadwal, penerbanganku ke Kopenhagen akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-800 milik Transavia; tetapi masih akan diterbangkan dengan layanannya KLM oleh stafnya KLM. Jika pada nggak paham nih, Transavia adalah anak perusahaan low cost (LCC)-nya KLM dan pesawat-pesawatnya tidak dilengkapi dengan kursi kelas bisnis Eropa maupun economy comfort. Jadi jika di Indonesia kurang lebih ini seperti situasi dimana kita memiliki tiket Garuda Indonesia tetapi penerbangannya, walaupun tetap berlayanan sesuai standar dan oleh kru Garuda, dioperasikan dengan pesawatnya Citilink, haha.

KLM mengoperasikan penerbangan KL1125 ke Kopenhagen hari ini dengan Boeing 737-800 rego PH-HZL milik Transavia ini.

PH-HZL milik Transavia dipilih untuk penerbanganku hari ini. Petugas di bandara dan awak kabinnya memohon-maaf atas perubahan pesawat ini. Aku duduk di kursi 4A yang mana seperti standar kursi ala LCC: rasanya sempit! Haha 😛 . Untungnya, semua sisi lain dari penerbangan ini sesuai standarnya KLM sih. Bahkan mereka menyediakan majalahnya KLM loh di kursinya, yang mana membuatku senang karena aku sungguh tidak terkesan dengan majalahnya Transavia di penerbanganku terakhir dengan mereka 1,5 tahun sebelumnya, haha. Layanan sandwich dan minum-nya KLM disajikan di penerbangan ini. Penerbangannya tiba di Bandara Kastrup di Kopenhagen tepat waktu.

Majalah KLM dan kartu keselamatan Transavia

Sidang dan wisuda PhD (S3) di Denmark

Agenda utamaku di Kopenhagen adalah sidang dan wisuda PhD (S3)-nya temanku. Ini adalah kali pertama aku menghadiria cara semacam ini di luar Belanda nih jadi aku juga penasaran untuk melihat perbedaannya.

Sidang dimulai dengan presentasi terbuka selama sekitar 45 menit di sebuah ruang perkuliahan. Aku rasa temanku presentasi dengan cukup tenang hari ini, yang mana bagus banget ya. Setelahnya, salah seorang profesornya mengumumkan bahwa akan ada jeda selama 5 menit sebelum sesi tanya-jawab dimulai. Sesi berikutnya ini bisa memakan waktu sampai 2 jam dan profesornya kurang lebih berkata “Jika kalian mau meninggalkan ruangan ini, sekarang lah kesempatan kalian!“, atau setidaknya begitu deh kesan yang aku tangkap, haha.

Sebenarnya aku ingin tetap duduk dan menonton mungkin beberapa pertanyaannya, karena di sini lah dimana biasanya diskusi yang menarik berlangsung kan. Tetapi masalahnya hanya satu pintu di ruangan itu yang lokasinya berada di depan. Nah, bagaimana dong jika misalnya aku butuh untuk ke toilet atau mengambil minuman dari luar? Sesinya bisa memakan waktu hingga dua jam loh! Jelas dong ya aku nggak mau menarik perhatian di tengah-tengah diskusi sengit sidang PhD karena aku harus buang air kecil, haha. Jadilah pada akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan ruangannya saja, dan ternyata semua penonton lainnya juga demikian sehingga temanku sendirian bersama profesor dan komite sidangnya untuk sesi tanya jawab.

Resepsi wisuda S3 di Denmark

Aku kemudian membantu seorang kolega temanku mempersiapkan resepsi setelahnya di sebuah ruangan kongkow-kongkow di universitasnya. Sesi tanya jawabnya ternyata memakan waktu sekitar satu jam. Temanku datang ke ruangannya diikuti oleh profesornya yang kemudian mempromosikannya menjadi seorang Doktor. Resepsi kemudian dimulai; yang mana ternyata berlangsung lumayan lama karena temanku mengadakan acara makan malam pula, juga di tempat yang sama. Aku berada di sana hingga sekitar jam 8:30 malam, dimana aku sudah mulai ngantuk! Iya sih, hari ini adalah hari yang panjang karena paginya aku harus bangun jam 3 subuh! Hahaha 😛 .

Jadi kesimpulannya, sidang dan wisuda PhD (S3) di Denmark memang berbeda sekali dari Belanda. Sidang dan wisudaku tahun lalu bisa dibaca di sini. Di Belanda, acaranya lebih tradisional dengan segala peraturan dan prosesinya sementara di Denmark, setidaknya yang nampak di permukaan, sepertinya lebih santai dan kasual (Bahkan nggak ada dress code loh). Komite sidang di Belanda juga rasanya lebih besar, setidaknya di TU Delft yah. Bagiku juga menarik dimana resepsi (dan makan malam) dipersiapkan sendiri, sementara di Belanda acara ini lebih “formal” yang dikerjakan oleh badan katering!

Kopenhagen

Warna-warna Kopenhagen

Karena agenda utamaku di Kopenhagen adalah menghadiri sidang dan wisuda temanku, aku tidak memiliki banyak waktu untuk berkeliling kota. Tetapi aku sudah pernah mengunjungi kota cantik ini dua kali sebelumnya sih sehingga aku tidak mempermasalahkan ini, haha.

Tetapi aku lega aku masih sempat menikmati brunch yang enak banget di Kopenhagen (Kopenhagen ini terkenal dengan tempat-tempat brunch-nya yang enak-enak di seluruh penjuru kota). Aku dan seorang teman memutuskan untuk mampir di Kalaset di dekat Stasiun Nørreport untuk brunch, yang ber-rating tinggi di Yelp. Jelas aku memilih menu yang non-vegetarian (haha), yang mana beneran enak banget!! 😀

Brunch yang enak banget di Kopenhagen

Jadi, kalau ke Kopenhagen memang wajib banget deh brunch! Dan juga smørrebrød-nya, yang mana sayangnya tidak sempat aku makan kali ini, hahaha.

#2065 – 2017 Year End Trip (Part VIII: KLM KL 602 LAX-AMS in World Business Class)

ENGLISH

Posts in the 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL602
Equipment: Boeing 747-400 reg PH-BFL named “City of Lima”
ATD: 14:22 PST (Runway 25R of LAX)
ATA: 08:56 CET (Runway 18R of AMS)

Tom Bradley International Terminal

I arrived quite early at the Tom Bradley International Terminal (TBIT) at Los Angeles International Airport, but thankfully KLM’s check-in desks were already open. It was not long before I checked my luggage in and was handed my boarding pass.

Tom Bradley International Terminal

After clearing security, I went to the Korean Air Lounge because I thought I was flying a SkyTeam airline and the Korean Air Lounge was the only SkyTeam lounge at TBIT. However, the lounge attendant told me that because I was flying KLM’s business class today, I was actually welcomed at the OneWorld Business Class Lounge. I was probably given this information at check-in but somehow I had missed it, haha.

The OneWorld Lounge at TBIT

The OneWorld Lounge at TBIT

Initially I thought this was strange because OneWorld was one of SkyTeam’s rivals, but as it turned out at TBIT the OneWorld Business Class Lounge was generally regarded to be better than the Korean Air Lounge. The lounge was indeed nice, with good food and drink selection; and it was spacious!

The Flight

My flight today would be with this KLM’s Boeing 747-400 reg PH-BFL named “City of Lima”

Today’s flight would be operated by a KLM’s Boeing 747-400 reg PH-BFL named “City of Lima”. Long story short, upon boarding the plane via door L1 (a door exclusively for business class and economy comfort passengers), I was asked to turn left. A flight attendant welcomed me on board and took my coat off to stow it in the closet. Yep, a closet to story my coat! In economy, oh, well … . I then settled easily onto my very comfortable seat 1A at the nose of the Queen of the Skies.

Home for the next 10 hours flight on board KLM’s Boeing 747-400 reg PH-BFL

The flight attendant then served the pre-departure drink service, which I went for a glass of champagne. Then the amenity kit was distributed, which consisted of an eye mask, an ear plug, a pair of sock, a toothbrush and toothpaste, all in a cool Jan Taminiau poach. Oh, and btw, the seat was equipped with a KLM branded noise-cancelling headphone which was really good!

The mandatory World Business Class selfie on board a KLM’s Boeing 747

It felt like boarding went quickly today (or that time just generally went much faster when flying business class, haha 😆 ). Anyway, then the door was closed and the pushback started. As we were taxiing to runway 25R, the safety demo was played. Speaking of the demo, it made me realize that the AVOD IFE onboard this Boeing 747-400 was still of the older generation, though, even in business class.

During the safety demo. Behind those blue doors was the closet.

We took off from runway 25R and then turned around northeast towards Amsterdam, flying over the city of Los Angeles. I could see Santa Monica and Downtown Los Angeles clearly from my windows (yep, plural, as I had three of them all for myself, lol 😆 ). Not long after take-off, a warm towel service started, followed by a snack service which consisted of a bowl of nuts and some drinks, which I asked for another champagne, haha 🙈 .

The post-takeoff snack and champagne service.

The one thing one needs not to worry when flying business class is the space. The seat was very spacious! On my way to the airport, I actually worried about where I would put my camera and iPhone as I was wearing a sweater with no pocket. Oh boy what a silly thought this was, lol 😆 . Seat 1A on board this KLM’s Boeing 747-400 was also awesome because it was a window AND aisle seat at the same time. My favorite kind of seat! The seat was also great because it was a flat bed seat, i.e. it could be turned fully horizontal! 😀

Seat 1A in full flat bed mode

The flat bed seat selfie

About an hour into the flight, the (fine) three-course dinner service started with the flight attendant putting a white tablecloth onto my seat’s tray. The choices for appetizer were barbeque smoked salmon with balsamic glace or creamy mushroom soup. I mean, obviously I chose the former! Haha 😆 . I decided to accompany it with another glass of champagne (and water) 🙈. And indeed it was very delicious and the quantity was definitely on the generous side for an appetizer!

Barbeque smoked salmon with balsamic glace as the appetizer

There were three choices for the main course: agnolotti pasta, chicken tikka masala, or beef stew Provençale. I opted for the beef stew. As for the drink, I asked for KLM’s signature cocktail The Flying Dutchman (I probably should have ordered it during the snack service but I forgot 😛 ), which was great, btw!

Beef Stew Provençale as the main course

Then the dessert followed, which choices were a cheese plate, an apricot tartlet, or an apple pie. I chose the tartlet which was yummy! The flight attendant recommended me to pair the tartlet with the Lillypilly dessert wine; and I was really glad I followed his recommendation because it was really good!!

Apricot tartlet, fresh fruit, and a dessert wine as the dessert

A chocolate and tea/coffee service followed the dinner. It was such a generous dinner service that I actually felt really full after it. I don’t think I had ever felt that full after a meal service on a plane before that, haha. Anyway, I watched the Battle of the Sexes during dinner. It was such a great movie about an actual historical event in tennis, where Billie Jean King defeated Bobby Riggs in 1973.

As it turned out we had flown for about 4.5 hours by the time I finished the dinner and the movie. Damn, it was already almost half way! And so I decided to flatten my seat, put on the eye mask and blanket (which was way much nicer and much more comfortable than in economy), and tried to sleep.

It had been four and a half hours, time flew!

Trying to get some sleep in business class

I was able to “sleep” for almost three hours. Well, I did not go into  “deep sleep” state but it was still quite good, haha. It might have something to do with the dry air on board a Boeing 747-400. No matter how cool the plane was, it was still a 26 year old plane (PH-BFL first flew in 1991). I have noticed that newer generation planes tend to be more comfortable in terms of humidity on board. Thankfully KLM provided face moisturizer in the business class lavatories, which helped a lot!

The World Business Class lavatory

About two hours before arrival, the cabin light was turned on and a warm towel service commenced. It was followed with a breakfast service with choices of sweet potato strata, apple pie strata, or yoghurt with granola. I chose the apple pie strata and accompanied it with warm croissant and hot roll, hard-boiled egg, fruit, and cheese and ham. Oh, and coffee too, of course. It was good!

The breakfast service

Breakfast was immediately followed with the service I had been waiting for from this flight. A service which tipped me over to choose to fly directly to Amsterdam with KLM’s business class instead of via Paris with Air France’s business class (with their Boeing 777-300ER of course, not their Airbus A380-800 with those outdated business class seats!). Anyway, it was the legendary KLM Delft Blue house service!!

KLM’s legendary Delft Blue Houses service!!

A flight attendant came to the cabin with a tray full of the Delft Blue houses which contained Bols’ gin inside. Each World Business Class passenger could take one as a souvenir. As this was my first time ever, I chose the one with the house design I liked the most, which was house number 25, haha. Btw, this service is so exclusive that you can only get the house from flying KLM’s World Business Class! 😀

A KLM’s Delft Blue House

Not long after, we were already on approach to Schiphol Airport. Long story short, we landed at the Polderbaan. I was not complaining this time because this meant slightly longer time for me to enjoy my seat 1A on this flight! Haha 😆 .

Thanks for the amazing ride, PH-BFL!

PH-BFL parked at Gate F2 and here my amazing World Business Class flight with KLM ended. I disembarked from the plane, cleared immigration, took my luggage (I had to wait a little bit but not too long), and took the train back to Amsterdam.

And here, my two-week year end trip to California also officially ended.

THE END.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL602
Pesawat: Boeing 747-400 reg PH-BFL bernama “City of Lima”
ATD: 14:22 PST (Runway 25R of LAX)
ATA: 08:56 CET (Runway 18R of AMS)

Tom Bradley International Terminal

Aku tiba agak kepagian di Tom Bradley International Terminal (TBIT) di Bandara Internasional Los Angeles, tetapi untungnya kios check-in-nya KLM sudah dibuka. Tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk memasukkan bagasi dan mendapatkan boarding pass.

Tom Bradley International Terminal

Setelah melewati pemeriksaan sekuriti, aku berjalan ke Korean Air Lounge karena aku akan terbang dengan maskapai SkyTeam hari ini dan Korean Air Lounge adalah satu-satunya lounge SkyTeam di TBIT. Namun, resepsionisnya berkata bahwa karena aku terbang di kelas bisnis dengan KLM hari ini, aku diundang untuk menunggu di One World Business Class Lounge. Kalau nggak salah sebenarnya aku diberi-tahu ini juga ketika check-in sih tetapi aku lupa, haha.

OneWorld Lounge di TBIT

OneWorld Lounge di TBIT

Awalnya aku merasa ini cukup aneh karena OneWorld kan salah satu rivalnya SkyTeam, tetapi ternyata di TBIT OneWorld Business Class Lounge umumnya dipandang sebagai lounge yang lebih baik daripada Korean Air Lounge. Lounge-nya memang nyaman sih, dengan pilihan makanan dan minuman yang cukup lengkap; dan juga luas!

Penerbangannya

Penerbanganku hari ini adalah dengan Boeing 747-400nya KLM rego PH-BFL bernama “City of Lima” ini.

Penerbangan hari ini dioperasikan dengan pesawat Boeing 747-400nya KLM dengan rego PH-BFL bernama “City of Lima”. Singkat cerita, ketika aku naik ke pesawat melalui pintu L1 (pintu khusus untuk penumpang kelas bisnis dan economy comfort) dan aku diarahkan untuk berbelok ke arah kiri. Seorang pramugara menyambutku dan membantuku melepas mantel untuk kemudian disimpan di dalam kloset. Iya dong ada kloset buat menyimpan mantel! Di ekonomi mah boro-boro ya, haha 😆 . Aku kemudian duduk nyaman di kursi 1Aku di hidung Queen of the Skies ini.

Rumahku selama 10 jam ke depan di dalam Boeing 747-400nya KLM dengan rego PH-BFL

Pramugaranya kemudian membagikan layanan minuman sebelum keberangkatan, yang mana jelas aku memilih champagne, haha. Amenity kit juga kemudian dibagikan, yang berisi penutup mata, sumbat telinga, kaus kaki, sikat dan pasta gigi, semuanya disimpan di dalam poach Jan Taminiau yang keren. Oh, dan btw, di kursinya juga sudah tersedia noise-cancelling headphone bermerk KLM yang mana enak banget lho!

Selfie wajib World Business Class di dalam Boeing 747nya KLM.

Rasanya hari ini boarding berlangsung cepat loh (atau memang waktu yang berlalunya lebih cepat sih ketika terbang di kelas bisnis, haha 😆 ). Anyway, pintu kemudian ditutup dan pushback dimulai. Ketika taxiing ke landasan pacu 25R, video peragaan keselamatan dimainkan. Ngomongin peragaannya, ini membuatku sadar bahwa AVOD di pesawat Boeing 747-400 ini adalah tipe yang agak lama, bahkan di kelas bisnis.

Ketika video peragaan keselamatan dimainkan. Di balik pintu berwarna birunya itu adalah kloset untuk mantel.

Kami lepas landas dari landasan pacu 25R dan kemudian berbelok menuju timur laut ke arah Amsterdam, dengan melintasi langit di atas kota Los Angeles. Aku bisa melihat Santa Monica dan Downtown Los Angeles dengan jelas melalui jendela-jendelaku (iya, jamak soalnya aku mendapatkan tiga jendela untukku sendiri, haha 😆 ). Tak lama setelah lepas landas, layanan handuk hangat dibagikan, yang kemudian diikuti dengan layanan snack yang terdiri atas semangkuk kacang dan minuman, yang mana aku memilih champagne lagi, haha 🙈 .

Layanan snack dan champagne setelah lepas landas.

Satu hal yang tidak perlu dikhawatirkan ketika terbang dengan kelas bisnis adalah keleluasaan ruangan. Kursinya luas banget lho! Dalam perjalanan ke bandara, aku sempat sedikit khawatir bagaimana enaknya menyimpan kamera dan iPhone-ku di pesawat karena sweater-ku tidak memiliki kantong. Duh, kekhawatiran yang konyol banget ya, haha 😆 . Kursi 1A di Boeing 747-400nya KLM juga keren banget soalnya kursi ini adalah kursi jendela DAN lorong pada saat yang bersamaan. Jenis kursi favoritku ini! Kursi ini juga keren karena adalah kursi flat bed, sehingga bisa dibuat horizontal! 😀

Kursi 1A di mode flat bed

Selfie dulu di kursi flat bed-ku

Sekitar satu jam setelah berangkat, layanan makan malam three course disajikan yang dimulai dengan pramugara menjabarkan taplak meja putih di meja di kursiku. Pilihan untuk makanan pembuka hari ini adalah salmon asap barbeque dengan saus balsam atau sup jamur creamy. Aku jelas memilih yang pertama! Haha 😆 . Aku memutuskan untuk menemaninya dengan segelas champagne lagi (dan air) 🙈. Dan rasanya memang enak banget lho, dan kuantitasnya juga banyak untuk ukuran makanan pembuka!

Salmon asap barbeque dengan saus balsam sebagai makanan pembuka

Ada tiga pilihan untuk menu utama: pasta agnolotti, ayam tikka masala, atau beef stew Provençale. Aku memilih beef stew. Untuk minumannya, aku memilih cocktail spesialnya KLM, The Flying Dutchman (Seharusnya aku memesan cocktail ini untuk layanan snack tadi tetapi aku lupa, haha 😛 ), yang mana rasanya enak, btw!

Beef Stew Provençale sebagai menu utama.

Kemudian makan malam ditutup dengan pencuci mulut, yang mana pilihannya adalah sepiring keju, tartlet aprikot, atau pie apel. Aku memilih tartlet-nya yang mana rasanya juga enak banget! Pramugaranya menyarankanku untuk memasangkan tartlet-nya dengan anggur pencuci mulut Lillypilly; dan aku lega aku mengikuti sarannya karena memang enak dan cocok banget!!

Tartlet aprikot, buat segar, dan minuman anggur pencuci mulut untuk menutup makan malam hari ini.

Layanan coklat dan teh/kopi disajikan setelah makan malam selesai. Makan malam ini adalah makan malam yang oke banget dan aku merasa kenyang loh setelahnya. Rasanya belum pernah deh aku sekenyang itu setelah layanan makanan di suatu penerbangan, haha. Ngomong-ngomong, aku makan malam sambil menonton Battle of the Sexes. Menurutku film ini bagus, yang menceritakan suatu event historis di dunia tenis dimana Billie Jean King mengalahkan Bobby Riggs di tahun 1973.

Ternyata aku sudah terbang selama 4,5 jam ketika makan malam dan filmku selesai. Ah, kok tiba-tiba sudah hampir setengah jalan begini ya! Haha. Jadilah kemudian kursiku aku rebahkan horizontal, memasang penutup mata dan selimut (yang mana lebih bagus dan bahannya jauh lebih nyaman daripada selimut di kelas ekonomi), dan mencoba untuk tidur.

Sudah empat setengah jam, waktu cepat sekali berlalu!

Mencoba untuk tidur dengan nyaman di kelas bisnis.

Aku berhasil “tidur” selama hampir tiga jam. Tidurku tidak sampai fase tidur nyenyak sih tetapi masih lumayan lah, haha. Mungkin ini ada hubungannya dengan udara di dalam pesawat Boeing 747-400 yang kering banget. Nggak peduli seberapa keren pesawatnya, bagaimana pun pesawat ini kan sudah berumur 26 tahun ya (PH-BFL pertama kali terbang di tahun 1991). Aku perhatikan pesawat tipe lebih baru cenderung lebih nyaman dalam segi kelembaban udara di dalam kabin. Untungnya sih KLM menyediakan moisturizer untuk wajah di toilet kelas bisnis, yang mana sangat membantu!

Toilet di kelas bisnis

Sekitar dua jam sebelum mendarat, lampu kabin dinyalakan kembali dan layanan handuk hangat kembali dibagikan. Sarapan kemudian dimulai dengan pilihan strata ubi manis, strata pie apel, atau yoghurt dengan granola. Aku memilih strata pie apel dan menemaninya dengan croissant dan roti roll hangat, telur rebus, buah-buahan, dan keju dan ham. Oh, dan tentu tidak lupa secangkir kopi ya. Enak!

Layanan sarapan.

Sarapan diikuti langsung oleh layanan yang sudah aku tunggu-tunggu sekali di penerbangan ini. Layanan yang membuatku memilih untuk terbang langsung ke Amsterdam dengan kelas bisnisnya KLM, bukannya via Paris dengan kelas bisnisnya Air France (dengan Boeing 777-300ERnya tentunya ya bukan dengan Airbus A380-800nya yang kelas bisnisnya ketinggalan zaman itu). Anyway, layanan ini adalah layanan legendaris rumah-rumahan keramik Delft Blue-nya KLM yang berisi minuman gin-nya Bols!!

Layanan legendaris rumah-rumahan Delft Blue-nya KLM!!

Seorang pramugari datang ke kabin membawa senampan penuh rumah-rumahan keramik Delft Blue yang cantik-cantik, dimana setiap penumpang Kelas Bisnis Dunia diperbolehkan mengambil satu. Karena ini adalah kali pertamaku, aku memilih rumah yang disainnya aku paling suka, yaitu rumah dengan nomor 25, haha. Btw, layanan ini eksklusif banget lho dimana kita hanya bisa mendapatkan rumah-rumahan ini dengan terbang di Kelas Bisnis Dunianya KLM! 😀

Sebuah rumah-rumahan Delft Blue-nya KLM.

Tak lama kemudian, pesawat mulai turun menuju Bandara Schiphol. Singkat cerita, kami mendarat di Polderbaan. Aku nggak komplain deh kali ini karena artinya aku jadi bisa duduk di kursi 1Aku sedikit lebih lama! Haha 😆 .

Terima kasih atas penerbangannya, PH-BFL!

PH-BFL parkir di Gate F2 dan di sini lah penerbangan Kelas Bisnis Duniaku yang asyik dengan KLM berakhir. Aku turun dari pesawat, melewati imigrasi, mengambil bagasiku (yang mana aku harus sedikit menunggu tapi nggak lama-lama banget), dan naik kereta untuk kembali ke Amsterdam.

Dan di sini, perjalanan dua mingguku ke California juga resmi berakhir.

SELESAI.

#2057 – Recapping Last Week

ENGLISH

Last week was, indeed, a unique week for me because I had … two separate trips within the week! Lol 😆 .

I already mentioned that I was in Copenhagen in Denmark on Tuesday for the PhD defense of a good friend of mine. And of course this trip had to last until Wednesday because a reception and a party followed the defense which I definitely would not miss, haha.

Copenhagen, Denmark

And later on in the week, as my Instagram (@azilko) followers have known, I went on a weekend trip! And this time, I went to … Bologna in Italy! This weekend trip was one of the longer one where I departed on Friday, instead of Saturday, and went back to Amsterdam on Sunday. I chose to depart on Friday mainly because I found an interesting routing from Amsterdam to Bologna via Lyon on that day, haha 😛 .

A tortellini bolognese with ragu in Bologna!

It was a coincidence that these two trips were so close to each other. I already planned my Bologna trip since months ago while I planned my Copenhagen trip just about three weeks ago, haha. I still got myself a return Air France/KLM ticket to Copenhagen (with a routing via Paris on the way back 😛 ), even though it was not the cheapest flight ticket per se. However, the cheapest return flight (with Norwegian) would require me to stay an extra night in Copenhagen plus an extra half a day off of my holiday allowance. So I figured that all things considered, my trip would cost “less” in total if I bought the seemingly more expensive Air France/KLM ticket. And so as a bonus, I also got quite some miles from this ticket, haha. Anyway, so in the end here is the route map of the flights I did last week.

My routing last week. Created with gcmap.com

Work-wise, indeed it was an interesting week for me last week; because I only worked on Monday and Thursday! You see, I had a weekend, then a day of work (Monday), then two days of vacation, then a day of work (Thursday), then a “long” weekend! It indeed felt a little bit like I was taking two breaks from vacation for work! Lol 😆

To sum it up, it was indeed such a fun week. Here are some photos from the two trips as teasers:

BAHASA INDONESIA

Minggu lalu adalah minggu yang unik untukku karena aku … pergi dalam dua perjalanan yang berbeda dalam satu minggu! Hahaha 😆 .

Sudah kusebutkan di sini bahwa aku berada di Kopenhagen di Denmark di hari Selasa untuk menghadiri sidang dan wisuda PhD (S3)-nya seorang teman baikku. Dan tentu saja perjalanan ini harus berlanjut sampai hari Rabu karena wisudanya diikuti dengan resepsi dan pesta yang mana jelas aku nggak mau lewatkan dong ya.

Kopenhagen, Denmark

Dan kemudian, seperti yang followers Instagramku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan! Dan kali ini, aku pergi ke … Bologna di Italia! Perjalanan akhir pekan ini tergolong yang cukup panjang karena aku berangkat di hari Jumat, bukannya Sabtu, dan kembali ke Amsterdam di hari Minggu. Aku memutuskan untuk berangkat di hari Jumat karena aku menemukan penerbangan yang rutenya unik dari Amsterdam ke Bologna, yaitu via Lyon hari itu, haha 😛 .

Tortellini bolognese dengan ragu di Bologna!

Kebetulan banget dua perjalanan ini berlangsung dalam waktu yang berdekatan begini. Perjalanan ke Bologna sudah kurencanakan semenjak berbulan-bulan lalu sementara perjalananku ke Kopenhagen baru kurencanakan tiga minggu yang lalu, haha. Aku membeli tiket pp dengan Air France/KLM ke Kopenhagen (dengan rute via Paris di perjalanan kembalinya), walaupun tiket ini bukanlah tiket pesawat yang termurah. Namun dengan tiket yang termurah (dengan Norwegian), aku harus menginap semalam ekstra di Kopenhagen plus aku harus mengambil cuti setengah hari lebih panjang. Jadilah ketika semuanya aku hitung, total biaya perjalananku justru akan “lebih rendah” apabila aku membeli tiket pesawat Air France/KLM yang dari luarnya nampak lebih mahal ini, haha. Dan sebagai bonus, miles yang kudapat dari tiket ini juga tergolong banyak! Haha 😆 . Ngomong-ngomong, pada akhirnya berikut ini deh peta rute penerbangan yang aku naiki minggu lalu.

Ruteku minggu lalu. Dibuat dengan gcmap.com

Dari segi kerjaan, minggu lalu menjadi minggu yang menarik untukku; karena aku hanya masuk kerja di hari Senin dan Kamis! Iya kan, weekend, kemudian aku masuk satu hari (Senin), lalu liburan dua hari, lalu masuk sehari (Kamis), lalu “long” weekend! Jadilah minggu lalu sedikit terasa seperti aku mengambil dua cuti dari liburan untuk bekerja! Huahaha 😆

Jadi sebagai kesimpulannya, minggu lalu memang adalah minggu yang amat seru bagiku. Di atas juga aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari dua perjalanan ini.

#2056 – Some Leftover Stories from January

ENGLISH

A Conference

About three weeks ago an internal conference was held in my office which, for me, brought me up to speed with what my colleagues had been working on in a fun set up. It also provided me with an oppotunity to meet other people; and realized how fast we were growing! So yeah, indeed it was such a nice conference! Btw, I also liked the conference venue because it was in between my apartment and my office, so that day I slashed like half of my commute time! Lol 😆 .

Of course I did not dress like this for the conference. Btw, this was the “costume” some of you asked some weeks ago 😛 .

Two Big Trips

Anyway, in January, KLM also had what they called the “Werelddeal Weken” promotion!

Well, darn! 🙈

You know, I mentioned at the end of December last year that I would to “spice” things up with my flights this year. And then in January KLM had this promotion! Lol, what a timing 😆 . And so consequently, two big trips are already planned for this year!! Hahaha 🙈. This is not yet the right time to reveal the details, but as usual, I will do when the time comes!! :mrgreen:

BAHASA INDONESIA

Sebuah Konferensi

Sekitar tiga minggu yang lalu, ada sebuah konferensi internal yang diadakan oleh kantorku yang, bagiku, menjadi sebuah platform untuk mengetahui apa yang kolega-kolegaku kerjakan dalam sebuah set up yang asyik. Ini juga memberikanku kesempatan untuk bertemu orang lain; dan menyadari bahwa kami berkembang dengan pesat! Ya, jadi konferensi ini memang lah sebuah konferensi yang seru! Btw, aku juga suka lokasi konferensinya yang berada di antara apartemen dan kantorku, sehingga hari itu waktu nglaju-ku terpotong sebanyak setengahnya, haha 😆

Yang mana jelas dong ya aku tidak berpenampilan begini di konferensinya. Btw, ini adalah “kostum” yang ditanyakan oleh beberapa dari kalian beberapa minggu yang lalu 😛 .

Dua perjalanan besar

Ngomong-ngomong, di bulan Januari kemarin ini KLM juga menggelar promo “Werelddeal Weken” nih!

Hmm, sialan! 🙈

Tahu kan, di akhir Desember tahun kemarin aku bilang aku ingin membuat penerbanganku tahun ini “lebih seru”. Dan kemudian di bulan Januarinya kok KLM menggelar promosi ini! Timing-nya kok bisa pas gitu ya, haha 😆 . Dan jadilah sebagai akibatnya, dua perjalanan besar sudah terencanakan dong untuk tahun ini!! Hahaha 🙈. Sekarang masih belum waktunya untuk aku ungkap lebih jauh sih, tetapi seperti biasa nanti pasti aku ceritakan kalau waktunya tiba!! :mrgreen:

#2048 – 2017 Year End Trip (Part I: KLM KL 605 AMS-SFO in Economy)

ENGLISH

Posts in the 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD named “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

I managed to snatch seat 10K, a window seat in the first row of economy comfort, while checking-in online the day before the trip. I was able to get this seat in economy comfort for free thanks to my new Platinum status (Normally, one would have had to pay €160 extra just to sit there on this flight to San Francisco!). Anyway, seat 10K was actually the second best seat for me on this flight. The best one would have been seat 10A because it would provide a bird’s eye view of San Francisco upon landing but that seat had already been taken, damn! Haha 😛 .

Checking in for my flight KL 605

Long story short, I arrived at Schiphol and checked my luggage in, upon which I also got a paper boarding pass. I waited for the flight at the KLM Crown Lounge and then went to the gate about 20 minutes before boarding time. The flight today would be operated with a Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD which KLM named “Bougainville”.

KLM’s Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD was ready to go to SFO

As you could see in the photo above, the weather at Schiphol today was not at the best condition. After all passengers at the gate boarded, the captain informed us that we were not given the green light to depart yet because we were still waiting for some connecting passengers whose coming flights to Amsterdam were delayed due to Schiphol’s current limited runway capacity. And so we had to sit in the plane for about an hour before we were finally given the permission to go. We took off from runway 24 and PH-BHD turned northwest towards California.

Finally taking off from runway 24 of AMS

Let’s start with the seat. KLM configured their Boeing 787-9 Dreamliner with the 3-3-3 layout in economy. This layout was actually fine. But to me, the “problem” was, just about two weeks prior I was flying a Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER which Garuda also configured with the 3-3-3 layout (While many other airlines, including KLM, chose to configure their Boeing 777s with the 3-4-3 layout). However, a Boeing 777-300ER was a bigger airplane, hence wider cabin, than a Boeing 787-9 Dreamliner. I guess because of this, somehow PH-BHD’s cabin felt a little bit “crammed” to me, haha.

A KLM Dreamliner selfie

Anyway, shortly after take-off, a snack and drink service was provided. The snack was a delicious roasted almond and I chose to pair it with white wine, haha. After the snack service, the flight attendants distributed the warm tissues service, a typical KLM’s long-haul service in economy which was really nice IMO.

I then started to watch the classic movie The Graduate at the AVOD IFE. Speaking of the AVOD, I wasn’t that much impressed with the content (in terms of movies and songs) this time, unfortunately. Though, perhaps the fact that there had been not a lot of new movies which excited me in the past several months might play a role in this too, haha.

The lunch service on board KLM flight KL605

The lunch service was provided not long after; with the choice being a vegetarian or a meatball dish. Obviously I opted for the meatball one, haha 😛 . And it was good!

Just after lunch, the map showed that we were already flying above … Greenland! I was of course excited about this and looked out the window! Greenland was, unlike its name, fully white as it was covered with snow and ice, haha.

Greenland, which looked more white than green to me.

PH-BHD then continued to fly towards Canada, upon which an ice cream snack service was provided. After finishing The Graduate, I decided to watch a second movie, Guardians of The Galaxy Vol. 2. And also, I tried KLM’s wifi which were available on their Boeing 787-9 Dreamliners. The wifi access was based on data instead of time, which was a factor I did not really like. But in terms of price, I thought their pricing was fair enough, even though a few times I had small problems with the connectivity.

Btw, as usual in a long-haul KLM flight, the flight attendants went on many rounds around the cabin bringing a tray of drinks for the passengers, which was, of course, such a very nice service! More snacks were also available at the galley. As we were entering the United States air space, the late lunch service was provided, which was also tasty.

The late lunch service on board KLM flight KL605

Long story short, at around 1 PM local time we started our descent towards San Francisco International Airport. We were not able to recover from our departure delay, though; and so we still arrived in San Francisco about one hour behind schedule. At 1:28 PM, we landed at runway 28L of San Francisco International Airport, here is the landing video:

PH-BHD parked at the International Terminal where I saw Emirates’, Japan Airlines’, Korean Air’s, Air France’s, and Aeromexico’s planes. Our delay meant that we arrived after all these airlines resulting in: very long lines at immigration! 😖 I had to wait for more than an hour before clearing immigration! And so when I arrived at the baggage area, my bag was already waiting for me nicely there, haha.

I exited the terminal and went to the BART station to take the train to Downtown San Francisco. And here, my two weeks vacation in California started!!

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD bernama “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

Aku berhasil mengamankan kursi 10K, kursi jendela di baris pertama kelas economy comfort, ketika check-in online sehari sebelum berangkat. Aku bisa mendapatkan kursi economy comfort ini dengan gratis loh berkat status Platinum baruku ini (Normalnya, seorang penumpang harus membayar ekstra €160 (sekitar Rp 2,6 juta) untuk duduk di kursi ini di penerbangan ke San Francisco!). Anyway, kursi 10K sebenarnya adalah kursi terbaik kedua di penerbangan ini bagiku. Yang terbaik adalah kursi 10A karena dari sana aku akan mendapatkan pandangan San Francisco dari atas ketika mendarat. Tetapi sialnya kursi itu sudah diambil orang lain nih! Haha 😛 .

Check in untuk penerbangan KL 605

Singkat cerita, aku tiba di Schiphol, meng-check-in-kan bagasiku, dan mendapatkan boarding pass fisik. Aku menunggu penerbanganku di KLM Crown Lounge dan kemudian berjalan ke gate sekitar 20 menit sebelum waktu boarding. Penerbangan hari ini akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD yang KLM beri nama “Bougainville”.

Pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM rego PH-BHD siap untuk berangkat ke SFO

Seperti yang terlihat di foto di atas, cuaca di Schiphol hari ini memang sedang kurang oke. Setelah semua penumpang yang berada di gate naik ke dalam pesawat, kaptennya memberi-tahu bahwa kami masih belum diberikan lampu hijau untuk berangkat karena ternyata kami masih harus menunggu beberapa penumpang connecting yang penerbangannya terlambat mendarat di Schiphol akibat kapasitas landasan pacu bandara yang dikurangi karena kondisi cuaca. Jadilah kami harus duduk di dalam pesawat selama satu jam-an sebelum akhirnya bisa berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 24 dan kemudian PH-BHD berbelok ke arah barat laut menuju California.

Akhirnya lepas landas dari landasan pacu 24nya AMS

Mari ngomongin masalah kursi. KLM mengonfigurasi Boeing 787-9 Dreamliner mereka dengan layout 3-3-3 di ekonomi. Layout ini sebenarnya oke-oke aja sih. Yang jadi “masalah” bagiku adalah baru sekitar dua minggu sebelumnya aku terbang dengan pesawat Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia yang mana Garuda konfigurasi dengan layout 3-3-3 juga (Padahal banyak maskapai lain, termasuk KLM, memilih layout 3-4-3 untuk pesawat tipe Boeing 777 ini). Namun, Boeing 777-300ER kan adalah tipe pesawat yang lebih besar ya, yang mana artinya juga memiliki kabin lebih besar, daripada Boeing 787-9 Dreamliner. Aku duga karena ini, kabinnya PH-BHD ini jadi terasa “sempit” untukku, haha.

KLM Dreamliner selfie

Anyway, tidak lama setelah lepas landas, layanan snack dan minuman diberikan. Snack-nya berupa kacang almond panggang yang mana rasanya enak banget loh; dan tentu saja aku temani dengan white wine, haha. Setelah layanan snack, awak kabin membagikan layanan tisu hangat, sebuah layanan khasnya KLM di ekonomi yang menurutku oke.

Aku kemudian mulai menonton film klasik The Graduate di AVOD IFE. Nah, ngomongin AVODnya nih, aku kok agak kecewa ya dengan isinya (dalam hal pilihan film dan lagu), sayangnya. Mungkin ini diakibatkan karena memang tidak ada banyak film yang menarik sih beberapa bulan belakangan ini, haha.

Layanan makan siang di penerbangan KLM KL605

Layanan makan siang disajikan tak lama setelahnya; yang mana pilihannya adalah menu vegetarian atau menu bola daging. Ya jelas lah ya aku memilih bola daging, haha 😛 . Dan rasanya enak!

Setelah makan siang, peta menunjukkan bahwa ternyata kami sudah berada di atasnya … Greenland! Jelas dong aku excited dan langsung menengok keluar jendela! Greenland itu, tidak seperti namanya, berwarna putih banget karena memang terselimuti salju dan es, haha.

Greenland, yang nampak lebih putih daripada hijau untukku.

PH-BHD kemudian lanjut terbang menuju Kanada, dimana layanan es krim dibagikan. Setelah selesai menonton The Graduate, aku memutuskan untuk menonton film kedua, Guardians of The Galaxy Vol. 2. Oh iya, pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM juga dilengkapi dengan wifi loh. Tetapi wifi-nya menggunakan kuota paket data sih, bukannya waktu, yang mana merupakan satu faktor yang aku kurang begitu suka. Tetapi untuk masalah biaya, aku rasa harga aksesnya cukup fair juga, walaupun terkadang aku konektivitasnya bermasalah sih.

Btw, seperti biasa di penerbangan jarak jauhnya KLM, awak kabinnya aktif berkeliling kabin sambil membawa nampan berisi minuman untuk para penumpang yang mana, jelas, adalah pelayanan yang oke banget! Snack juga disediakan di dapur pesawat. Ketika kami memasuki area udara Amerika, layanan makan siang kedua dibagikan, yang mana rasanya juga lumayan.

Layanan makan siang kedua di penerbangan KLM KL605

Singkat cerita, sekitar jam 1 siang waktu setempat pesawat mulai turun menuju Bandara Internasional San Francisco. Kami tidak berhasil memotong waktu keterlambatan kami, sehingga kami tiba di San Francisco sekitar satu jam terlambat. Jam 1:28 siang, pesawat mendarat di landasan pacu 28L Bandara Internasional San Francisco, berikut ini video pendaratannya:

PH-BHD parkir di Terminal Internasional dimana aku melihat sudah ada pesawatnya Emirates, Japan Airlines, Korean Air, Air France, dan Aeromexico. Keterlambatan kami berarti kami baru tiba setelah semua maskapai lain ini yang berakibat pada: antrian yang panjang banget di imigrasi! 😖 Aku harus mengantri selama lebih dari satu jam loh! Dan jadilah ketika tiba di area bagasi, bagasiku sudah menungguku di sana, haha.

Aku keluar dari terminal dan berjalan menuju stasiun kereta BART untuk naik kereta menuju Downtown San Francisco. Dan di sini, liburan dua mingguku di California resmi dimulai!!

BERSAMBUNG…

#2047 – A Winter Weekend in London (Part II: The Long Way Home)

ENGLISH

Posts in the A Winter Weekend in London mini series:
1. Introduction
2. Part I: London
3. Part II: The Long Way Home

With the departure of my new flight being scheduled at 11:45 AM, I planned to check out at around 8. But before that of course I planned to have the complimentary breakfast that was already included in my reservation. The breakfast was amazing, btw! 🙂

The amazing hotel breakfast

Anyway, it was snowing quite hard when I was checking out. The problem was, it turned out to still be quite early on a Sunday that there was still no overground train running from the station near my hotel. So it appeared that I had no other option than to soldier through the snow and walked to the nearest Piccadilly line Tube station from where I could catch a tube to Heathrow.

Soldiering through snow in London

While at least it was snowing (and not raining) hence “soldiering through it” was still doable, it was still not the most pleasant experience ever! Haha 😆 I arrived at the Tube station like a mess with my coat and body covered in snow, lol 😆 . Long story short, I caught the first metro to Terminal 4 of Heathrow and about 45 minutes later I arrived at the airport.

I checked-in and then cleared the security check via the priority lane thanks to my SkyTeam Elite Plus status 😛 . And then, obviously I went to the awesome SkyTeam Lounge at the airport. I settled myself onto one of the seats and treated myself with some sweets and drinks. I felt like I deserved it after the rough morning I had with the snow, haha 😛 .

The awesome drinks section at the SkyTeam Lounge at Heathrow

Upon checking-in at the lounge, the receptionist asked me if I would like to sign up for the complimentary 15 minutes facial spa treatment by Clarins. Oh wow, this was so awesome and was similar to the same lounge treatment I experienced at the Air France lounge at John F. Kennedy Airport in New York! Obviously I said yes! Haha 😛 The spa treatment was very nice and relaxing; and at the end of it the beautician also gave me a small package of Clarins moisturizer as a gift! :mrgreen:

Facial spa treatment at the SkyTeam Lounge at Heathrow

By checking my Flightradar24 app, I knew my flight would be delayed. It was not surprising given the weather. Even at Heathrow it was snowing quite bad at times. And indeed at around 11:30 AM, it was announced that my flight had been delayed to 1:20 PM. And so I just enjoyed my time at the lounge and, in the meantime, had some lunch as well.

It was snowing badly at Heathrow too

However I kept seeing no sign of a KLM bird departing from Schiphol to Heathrow via my app. On the other hand, it was 1:30 PM already and the departure monitor still indicated the 1:20 PM departure. I then asked the reception and at the time she just got the information from KLM that my flight had been cancelled! 😱She informed me to go back to the KLM ticketing counter in front of the check-in area from where the KLM people would be able to assist me.

It was quite a long hassle to go from the airside to the ticketing counter at the landside of Heathrow, btw, as this was a British airport so I would need to clear immigration as well! And when I was there, long lines had been formed in front of the counter, including the SkyPriority lane! There was nothing I could do at this point than to just wait patiently and see.

Long queues of cancelled passengers at Heathrow

While I was waiting, some officers distributed the compensation guideline from KLM. They also informed us that all flights to Amsterdam had been cancelled today and there was high uncertainty on how things would go the next day. They assured us that KLM was working on rebooking us to the next available flights; but this would take some time because the bad weather problem was at Schiphol, KLM’s base; meaning KLM was facing a huge chaos at the moment.

Cancelled flight

While waiting, I started to look for room availability at the hotels nearby Heathrow. Thankfully I still found some with reasonable last-minute price; which assured me a little bit. I was standing in the line, which only barely moving, for more than an hour.

Until up to a point, the ticketing lady asked if any of us were passengers with Amsterdam as our final destination. Probably around 50 people raised their hands, including myself. She informed us that if we were still to fly, it appeared that we would not be able to fly until Tuesday because Monday’s weather forecast was even worse than today’s (Today was a Sunday). As an alternative, KLM had hired a bus to get to Schiphol with very soon departure. While this was certainly not pleasant, at least we would be able to arrive in Amsterdam on Monday early morning. The bus was totally optional and if we did not want it, KLM would still rebook us to the next available flight to Amsterdam.

The approximated route with the bus if we were up for it.

I decided to take the bus because at this point, I still was not given my new flight confirmation. Beside, this would actually mean the fulfillment of a long forgotten bucket list item of mine, that was to travel with all means of public transportation between the Netherlands and London. Bus was the only one missing (the others were: flights, trains, and ferry services); and perhaps this was the “answer” to this item, haha. Upon signing in, KLM also gave us each a £4.50 voucher for us to spend on food and drink for the bus trip.

When all flights to Amsterdam from London get cancelled due to heavy snow at Schiphol and KLM (the airline) arranges a bus service between the two as the best possible solution due to tomorrow's forecast that isn't any better. Funnily I don't think it is that bad because this actually means the fulfillment of a long forgotten bucket list item of mine that is to travel between the Netherlands and London with all possible means of public transport. Bus was the only one missing as I have (obviously) taken many flights, the Eurostar trains, and the ferry boat services! Lol #Zilkos2017WeekendTrip #travelexperience #selfie #Heathrow #HeathrowSelfie #London #England #travelling #travelwoes #winter #winterproblems #snowproblems #UK #🇬🇧 #✈️ #experience #bucketlist #thisislife #KL1010 #LHRAMS #KLM #frequentflyer #instaselfie #selfienation #thisiswhyitravel #instawinter #wintergram #HeathrowTerminal4 #instaHeathrow

A post shared by Aurelius Zilko (@azilko) on

Long story short, the bus arrived at the bus stop in front of the terminal. I settled onto one of the seats and thankfully the bus was not full and the seat next to me was empty, haha. I was hoping for the bus to have wifi but unfortunately it did not 😛 . After all passengers boarded, we began our land trip to the Netherlands. Yeah, somehow we were all thinking of a comfortable 1 hour flight from London to Amsterdam this morning and we all ended up taking a bus on this route. What an adventure this day had been!

Taking the bus KLM arranged as an alternative to get to Schiphol via land.

During the trip, I got a notification from KLM that I had been rebooked to the first available flight, that would be flight KL1002 with departure time at 08:40 on: Tuesday morning! Haha. Well, I was quite glad that I took this bus option at the time.

Also, the attendee found out that the Channel Tunnel was closed due to the weather. This unfortunately meant we would need to take the slow way to cross the Channel Strate: by the ferry boat. About three hours after departure, we arrived at the Port of Dover where the ferry would depart from. Originally, we planned to take the 19:55 service to Calais in France because (1) it was the earliest scheduled one and (2) it was the shorter ferry route to France from Dover (You know, a ferry boat moves slowly so minimizing the time on the boat would be crucial to minimize the total travel time). However, the ferry would be delayed until 21:30 and so the attendee decided to take the 20:00 to Dunkerque in France. It would be a slightly longer ferry route but this was the fastest possible option that evening. As a side note, it was quite cool though that the security and immigration check were done even without us, the passengers, needing to leave the bus!

Port of Dover in England.

Long story short, we boarded the ferry boat just before 20:00. The total ferrying time would be around two hours so obviously they would not “trap” us inside the bus during the whole time. They let us out to the passengers area in the ferry. With only nine decks, the ferry was much smaller than my “usual” twelve decks Hoek van Holland – Harwich ferry. I went to the restaurant and had a chicken schnitzel (which mushroom sauce tasted weird IMO) as a dinner.

The total journey was two hours. Being a smaller ship, its “sway” was also more promiment than the Hoek van Holland – Harwich ferry I took before. To prevent myself from catching a sea sickness because of this, I decided to walk around the two passengers deck during the entire time, haha. There was one shop, two restaurants, a bar/cafe, an arcade game area, and several lounges on board the ship.

On board the Dover – Dunkerque ferry boat

At around 23:00 local time, we were docking at Dunkerque in France. We went back to our bus and after the door opened, we continued our trip to Schiphol via Belgium. The journey took a little bit longer than expected because the driver needed to be careful with the slippery road due to the snow.  I was already super tired at this time and so I slept pretty much all the way to Schiphol!

About 20 minutes before arriving, the attendee woke us up notifying that we almost arrived at the destination. He wished us well and reminded us not to forget anything on the bus because he, the driver, and the bus would immediately return to the UK after dropping us off at Schiphol! :O That was insane indeed! And so we gave him a round of applause for all the trouble of taking us safely to the Netherlands!

It felt so good to finally arrive at Schiphol!

We arrived at Schiphol at around 3 AM on Monday morning. There I also saw a lot of stranded passengers staying overnight at the troubled airport. As there was no convenient public transport option at this ungodly hour, I decided to take a cab to go straight home. This was, btw, my first time ever taking a cab from Schiphol! Haha 😆 .

And finally after about 30 minutes more of taxi trip which cost €60 (which, in the end, KLM was willing to reimburse as a customer service gesture 😍), I arrived at home!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam mini seri A Winter Weekend in London:
1. Introduction
2. Part I: London
3. Part II: The Long Way Home

Dengan keberangkatan penerbangan baruku yang jam 11:45 pagi, aku berencana untuk check out sekitar jam 8. Tetapi tentu saja sebelumnya aku sarapan dulu dong karena sarapan sudah termasuk di dalam reservasi kamarku. Sarapannya sendiri enak banget, btw! 🙂

Sarapan yang asyik banget di hotel

Di luar sedang bersalju ketika aku check out. Masalahnya, karena ternyata masih kepagian di suatu hari Minggu maka belum ada kereta yang dijadwalkan berangkat dari stasiun di dekat hotelku. Jadilah nampaknya aku tidak ada pilihan lain selain berjalan kaki menembus salju menuju stasiun tube jalur Piccadilly terdekat dari mana aku bisa naik tube menuju Heathrow.

Berjalan menembus salju di London

Walaupun setidaknya ini hanya lah salju (dan bukannya hujan) sehingga “berjalan menembusnya” masih adalah pilihan yang bisa dilakukan, tetap aja ini bukan lah hal yang mengasyikkan! Haha 😆 . Aku tiba di stasiunnya dengan kacau banget deh dimana mantel dan tubuhku terlumuri salju semua, haha 😆 . Singkat cerita, akhirnya aku menaiki tube dan tiba di Terminal 4 Bandara Heathrow sekitar 45 menit kemudian.

Aku check-in dan kemudian melalui pemeriksaan sekuriti melalui jalur prioritas berkat status SkyTeam Elite Plusku 😛 . Dan kemudian, jelas aku masuk ke Lounge SkyTeam yang kece banget di bandara ini. Aku duduk di salah satu kursinya dan menraktir diriku sendiri dengan kue-kue dan minuman yang enak-enak deh. Ya habis rasanya aku berhak dihadiahi gitu kan setelah pagi keras dengan salju yang baru saja aku hadapi, haha 😛 .

Bagian minumannya Lounge SkyTeam yang kece banget di Heathrow

Nah, ketika check-in di lounge-nya, resepsionisnya bertanya apakah aku mau didaftarkan untuk komplimen facial spa treatment selama 15 menit dari Clarins. Oh wow, asyik banget nih ya dan sama seperti fasilitas di lounge yang aku dapatkan di Lounge Air France di Bandara John F. Kennedy di New York! Jelas aja lah ya aku mau! Huahaha 😛 . Spa treatment-nya asyik banget lho dan memang relaxing banget lah; dan setelahnya beautician-nya juga memberiku satu botol kecil moisturizer-nya Clarins sebagai hadiah! :mrgreen:

Facial spa treatment di Lounge SkyTeam di Heathrow

Melalui app Flightradar24-ku, aku tahu bahwa penerbanganku akan terlambat. Nggak mengherankan sih karena cuacanya. Bahkan di Heathrow-pun juga bersalju lumayan parah lho. Dan memang, sekitar jam 11:30 pagi diumumkan bahwa penerbanganku telah ditunda hingga jam 1:20 siang. Dan jadilah aku bersantai saja di lounge-nya, sekalian makan siang juga.

Di Heathrow juga bersalju lumayan deras

Namun, tetap aja aku tidak melihat tanda-tanda adanya pesawat KLM yang berangkat dari Schiphol ke Heathrow di app-ku. Di sisi lain, jam sudah menunjukkan pukul 1:30 sementara monitornya masih menunjukkan jadwal jam 1:20 siang itu. Jadilah aku bertanya ke resepsionisnya yang mana ketika itu baru saja diberi-tahu bahwa penerbangan KLMku resmi dibatalkan! 😱 Ia memberi-tahuku untuk kembali ke konter tiketnya KLM di area check in dari mana petugasnya KLM akan bisa membantuku.

Agak repot lho untuk kembali dari airside ke konter penjualan tiketnya di landside-nya Heathrow karena ini adalah bandara Inggris yang mana artinya aku harus melewati pemeriksaan imigrasi pula! Dan ketika aku di sana, antrian panjang telah terbentuk di depan konternya, termasuk jalur SkyPrority! Ya sudah, tak ada yang lebih yang bisa kulakukan pada waktu ini kecuali menunggu dengan sabar dan pasrah.

Antrian panjang penumpang yang penerbangannya terbatalkan di Heathrow.

Sembari menunggu, beberapa petugas membagikan petunjuk kompensasi dari KLM. Mereka juga menginformasikan bahwa semua penerbangan tujuan Amsterdam telah dibatalkan hari ini dan ketidak-pastiannya yang amat tinggi untuk keesokan harinya. Mereka meyakinkan kami bahwa KLM sedang berupaya memindahkan kami ke penerbangan pertama yang tersedia; tetapi ini akan memakan waktu karena yang terkena masalah cuaca parah adalah Bandara Schiphol, bandara pusat aktivitasnya KLM. Artinya KLM sendiri sedang menghadapi situasi chaos yang amat besar saat ini.

Penerbanganku dibatalkan.

Sembari menunggu, sekalian aku mencari kamar hotel di dekat Heathrow. Untungnya, aku masih menemukan beberapa dengan harga last minute yang masih masuk akal; yang mana sedikit menenangkanku. Aku menunggu di antriannya, yang nyaris tak bergerak sama sekali, selama lebih dari satu jam.

Hingga di satu waktu, petugas tiketnya bertanya siapa saja kah penumpang dengan tujuan akhir Amsterdam. Mungkin sekitar 50 penumpang mengacungkan jari, termasuk aku. Ia memberi-tahu kami bahwa jika kami masih mau naik pesawat, kemungkinan kami baru bisa berangkat di hari Selasa karena ramalan cuaca hari Seninnya bahkan lebih buruk daripada hari ini (Minggu). Sebagai alternatif, KLM telah menyiapkan sebuah bus untuk mengantarkan kami ke Schiphol yang akan segera diberangkatkan. Jelas ini tidak akan menjadi perjalanan yang nyaman , tetapi setidaknya kami akan dipastikan tiba di Amsterdam di hari Senin subuh. Pilihan bus ini tidak lah wajib sama sekali btw dan jika kami tidak menghendakinya, KLM masih akan tetap memindahkan kami ke penerbangan pertama ke Amsterdam yang memungkinkan.

Perkiraan rutenya apabila kami memilih perjalanan dengan bus.

Aku memutuskan untuk mengambil alternatif dengan bus ini karena juga waktu itu aku belum mendapatkan kepastian konfirmasi penerbangan penggantiku. Di samping itu, ini juga berarti terpenuhinya satu item di bucket list-ku yang sebenarnya sudah terlupakan dan tersisihkan, yaitu untuk bepergian dengan semua moda transportasi umum di antara Belanda dan London. Hanya bus lah satu-satunya yang tersisa (lainnya adalah: pesawat, kereta api, dan kapal feri); jadi ini terasa seperti “jawaban” alam semesta akan item ini, haha. Ketika mendaftarkan-diri di busnya, KLM juga memberikan voucher senilai £4,50 untuk membeli bekal untuk perjalanan panjang dengan bus ini.

When all flights to Amsterdam from London get cancelled due to heavy snow at Schiphol and KLM (the airline) arranges a bus service between the two as the best possible solution due to tomorrow's forecast that isn't any better. Funnily I don't think it is that bad because this actually means the fulfillment of a long forgotten bucket list item of mine that is to travel between the Netherlands and London with all possible means of public transport. Bus was the only one missing as I have (obviously) taken many flights, the Eurostar trains, and the ferry boat services! Lol #Zilkos2017WeekendTrip #travelexperience #selfie #Heathrow #HeathrowSelfie #London #England #travelling #travelwoes #winter #winterproblems #snowproblems #UK #🇬🇧 #✈️ #experience #bucketlist #thisislife #KL1010 #LHRAMS #KLM #frequentflyer #instaselfie #selfienation #thisiswhyitravel #instawinter #wintergram #HeathrowTerminal4 #instaHeathrow

A post shared by Aurelius Zilko (@azilko) on

Singkat cerita, bus kami tiba di depan terminal. Setelah naik, aku duduk di salah satu kursinya dan untungnya busnya tidak penuh sehingga kursi di sebelahku kosong, haha. Aku berharap busnya dilengkapi dengan wifi tetapi sayangnya harapanku tidak dikabulkan 😛 . Setelah semua penumpang naik, perjalanan darat kami ke Belanda dimulai. Iya, entah bagaimana kami memulai hari ini dengan berpikir akan naik penerbangan nyaman selama satu jam dari London ke Amsterdam dan kenyataannya kami sekarang berada di atas bus di rute yang sama. Sungguh sebuah hari yang penuh petualangan ya!

Menaiki bus yang sudah disediakan KLM sebagai alternatif untuk menuju Schiphol melalui jalur darat.

Di perjalanan ini, aku mendapatkan notifikasi dari KLM bahwa aku sudah digantikan tiket di penerbangan pertama yang tersedia, yaitu di penerbangan KL1002 dengan keberangkatan jam 08:40 di: hari Selasa pagi! Haha. Ya, waktu itu sih aku cukup lega aku memilih alternatif dengan bus ini.

Juga, petugas pengantar kami mendapatkan informasi bahwa Terowongan Channel ditutup karena cuaca buruk. Sayangnya, ini berarti kami harus menyeberangi Selat Channel dengan cara yang pelan: yaitu dengan menumpang kapal feri. Jadilah tiga jam setelah keberangkatan, kami tiba di Pelabuhan Dover darimana kapal ferinya akan berangkat. Awalnya, kami berencana naik kapal feri jam 19:55 dengan tujuan Calais di Prancis karena (1) ini adalah jadwal paling awal dan (2) rute ini adalah rute yang lebih pendek ke Prancis (Karena kecepatan kapal feri yang rendah, artinya meminimalisasi waktu di kapal feri juga berarti minimalisasi total waktu perjalanan). Namun, kapal ferinya ternyata terlambat malam itu dan baru akan diberangkatkan jam 21:30. Jadilah petugas pengantar kami memutuskan untuk naik kapal jam 20:00 dengan tujuan Dunkerque di Prancis. Rute feri ini sedikit lebih jauh tetapi ini adalah pilihan tercepat malam itu. Btw untuk catatan sampingan nih, keren lho pemeriksaan sekuriti dan imigrasinya dilakukan tanpa kami, para penumpang, harus turun dari bus!

Pelabuhan Dover di Inggris.

Singkat cerita, kami menaiki kapalnya tepat sebelum jam 20:00. Total perjalanan dengan kapal ferinya adalah dua jam sehingga tentu saja kami tidak akan “dikurung” di dalam bus di perjalanan ini. Kami “dilepas” ke area penumpang di kapalnya. Dengan hanya sembilan dek, kapal ini jauh lebih kecil daripada kapal feri “biasa”-ku dari Hoek van Holland – Harwich yang memiliki dua belas dek. Aku pergi ke restorannya dan memesan schnitzel ayam (yang mana saus jamurnya terasa aneh banget menurutku) untuk makan malam.

Total perjalanannya adalah sekitar dua jam. Karena kaparnya lebih kecil, “goyangan”-nya juga lebih terasa daripada kapal feri Hoek van Holland – Harwich yang kunaiki sebelumnya. Untuk mencegah diriku mabuk laut, aku memutuskan untuk jalan-jalan aja mengelilingi dua dek area penumpang di dalam kapalnya, haha. Ada sebuah toko, dua restoran, sebuah bar/kafe, area game, dan beberapa lounge di kapal ini.

Di dalam kapal feri Dover – Dunkerque

Sekitar jam 23:00 waktu setempat, kami merapat di Dunkerque di Prancis. Kami kembali ke bus dan setelah pintu kapal dibuka, kami melanjutkan perjalanan ke Schiphol dengan melintasi Belgia. Perjalanannya sedikit lebih lama dari perkiraan karena sopirnya harus berhati-hati dengan jalanan yang licin akibat salju. Aku sendiri sangat lelah sehingga aku tertidur di sepanjang perjalanan ke Schiphol!

Sekitar 20 menit sebelum mendarat, pengantarnya membangunkan kami dan memberi-tahu bahwa kami sudah nyaris tiba di tujuan. Ia mengucapkan salam kepada kami dan mengingatkan kami untuk tidak melupakan apa pun di dalam busnya karena ia, sopirnya, dan busnya akan langsung kembali ke Inggris begitu menurunkan kami di Schiphol! :O Gila ya! Dan jadilah kami memberikan tepuk tangan kepada mereka karena telah bercapek-capek mengantarkan kami ke Belanda.

Rasanya senang sekali akhirnya tiba di Schiphol!

Kami tiba di Schiphol sekitar jam 3 subuh di hari Senin. Aku lihat ada banyak penumpang terlantar yang harus menginap semalam di bandara yang lalu-lintasnya terganggu dan kacau balau ini. Karena tidak ada transportasi umum yang jadwalnya enak di jam-jam kayak begini, aku memutuskan untuk naik taksi untuk langsung pulang ke rumah. Ini, btw, adalah pertama kalinya aku naik taksi dari Schiphol lho! Haha 😛 .

Dan akhirnya setelah perjalanan dengan taksi selama 30an menit yang menghabiskan biaya €60 (hampir Rp 1 juta 😅; yang mana ditanggung KLM sebagai customer service gesture 😍), aku akhirnya tiba di rumah juga!