Aviation · EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#2004 – AvGeek Weekend Trip #13 (AMS โ€“ CDG โ€“ MUC โ€“ AMS)


Again, as my Instagram followers (@azilko) have known, I went on another AvGeek Weekend Tripย this Saturday. Here is the routing this weekend:

AMS-CDG-MUC-AMS. Created with gcmap.com

This AvGeek Weekend Trip was actually quite a last-minute trip. And so I felt lucky to find an interesting routing with reasonably priced ticket, haha ๐Ÿ˜† .ย Actually at the time, I was torn between an AvGeek Weekend Trip or a day city trip somewhere. But in the end I flipped the coin (well, not literally) and decided to go with the former, haha.

Anyway, I flew two Air France flights this time, obviously on the two flights involving Paris in one of the ends, and a KLM flight from Munich to Amsterdam. The Air France flights were operated by an Airbus A321-200 reg F-GTAZ and an Airbus A318-100 reg F-GUGE, while the KLM flight was with a Boeing 737-700 reg PH-BGK.

The Air France KLM Lounge signage at Munich Airport Terminal 1

This was also my first time visiting the lounge at Munich Airport, btw; as the last time I flew out of Munich was to satisfy my curiosity by flying a Meridiana flight to Milan-Linate, haha. And btw, my Paris to Munich flight departed from a remote stand at Paris – Charles De Gaulle Airport; only my second ever remote-stand departure from the airport (the first time being this March on my way to Lyon).

As for AvGeek Weekend Trip #11, I will not write anything in details about this trip beyond this post. So here are the pictures from the trip:


Lagi, seperti yang followers Instagramku (di @azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuahย AvGeek Weekend Tripย Sabtu kemarin ini. Kali ini, rutenya seperti ini:

AMS-CDG-MUC-AMS. Dibuat dengan gcmap.com

AvGeek Weekend Trip kali ini bisa dikatakan perjalanan dadakan sebenarnya. Makanya aku merasa cukup beruntung masih bisa menemukan rute yang cukup menarik dengan harga tiket yang masih masuk akal lah, haha ๐Ÿ˜† . Waktu itu, sebenarnya aku galau antara pergi dalam sebuah AvGeek Weekend Trip atau perjalanan satu hari ke suatu kota gitu. Tetapi pada akhirnya aku melempar koin (nggak dalam artian sebenarnya sih) dan memutuskan untuk memilih yang pertama, haha.

Anyway, aku terbang dengan dua penerbangannya Air France kali ini, tentunya di dua penerbangan yang melibatkan Paris di salah satu asal/tujuannya, dan KLM dari Munich ke Amsterdam. Penerbangannya Air France dioperasikan dengan sebuah Airbus A321-200 rego F-GTAZ dan sebuah Airbus A318-100 rego F-GUGE, sementara penerbangannya KLM adalah dengan Boeing 737-700 rego PH-BGK.

Penanda Lounge Air France KLM di Bandara Munich Terminal 1

Ini juga adalah kali pertama aku mengunjungi lounge di Bandara Munich, btw; karena terakhir kali aku terbang dari Munich adalah untuk memenuhi rasa penasaranku denganย terbang dengan Meridiana ke Milan-Linate, haha. Dan btw, penerbangan Paris ke Munichku diberangkatkan dari tempat parkir remote di Bandara Charles De Gaulle loh; hanya kedua kalinya aku berangkat dari tempat parkir remote di bandara iniย (kali pertama adalah Maret lalu di perjalananku ke Lyon).

Seperti AvGeek Weekend Trip #11, aku tidak akan menulis lebih detail tentang perjalanan ini di luar konteks posting ini. Jadi langsung saja di atas aku unggah foto-foto dari perjalanannya.

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1997 – A Weekend in Cardiff


Not too long ago I went on a weekend trip to Cardiff, a trip which “completed” my travel goal list of visiting all four countries in the United Kingdom, haha. And here is the story of that trip.

Cardiff selfie

Getting to/from Cardiff

I was flying direct to Cardiff Airport this time in both ways, partly due to non-stop flights being the only option with SkyTeam to get to Cardiff from Amsterdam, haha. The flights themselves were typical pleasant short-haul flights with KLM so there was not much to share here. The airplanes, however, were quite special.

The two flights I took were operated by two very “contrasting” airplane types: a Fokker 70 on the departure flight and an Embraer 175 on the returning flight. KLM Cityhopper is actually retiring all of its remaining Fokker 70s by the end of this month, including the 21.5 years old PH-KZB which took me to Cardiff, and is replacing them all with the much newer Embraer 175s, including the 4 months young PH-EXN which brought me back to Amsterdam!

A KLM Cityhopper’s 21.5 years old Fokker 70 reg PH-KZB at Cardiff
A KLM Cityhopper’s 4 months young Embraer 175 reg PH-EXN

Awesome, isn’t it? Even though, for sure I will miss those beautiful Fokker 70s even though the newer KLM’s Embraer 175s are super cool as well especially that they are equipped with the new winglets as well! Anyway, here is the landing video at runway 30 of Cardiff Airport with PH-KZB:

Oh how I will miss this beautiful view with the rear engine like this!!


One thing I noticed in Cardiff, the capital of Wales, was how proud the city was for being Welsh. Almost every signs were written in two languages (English and Welsh); and in this trip I learned that “Wales” was actually the “English” name of the country, which in Welsh was “Cymru”. To some degree this was probably similar to “Borneo” and “Kalimantan”, or “Celebes” and “Sulawesi”, haha. And they were particularly proud of their national symbol, which looked like this:

The Welsh Red Dragon

Well, certainly I understood them! Haha ๐Ÿ˜†

It was obvious that Cardiff was (or is) an industrial city; making it probably not the prettiest city ever. However, it was also obvious that the city had put efforts to make it look “nicer”, with the installement of a lot of art works (sculptures) here and there.

An art installment in Cardiff.

To me, there were two “parts” of Cardiff: the city centre and the Cardiff bay. I spent my entire first day in the city centre, where there were a lot of shops and a modern mall and was basically where the “pulse” of the city, I felt, ran. This was also the part of the city with more “historical” sites, like the Cardiff Castle. I found the entrance fee a bit too expensive so I did not feel like going in. Instead, I just went to the garden next to it and took some photos of the castle from there, haha ๐Ÿ˜› .

Cardiff Castle

I visited the Cardiff bay on my second day, which felt more “modern” to me. Again, there were also quite many art installments in this part of the city. There was a sporting event going on in Cardiff bay while I was there, called the “Survival of the Fittest”. In short it was basically like a race with a lot of physical, but (looked) fun, challenges along the way. The concept was, in a way, similar to the famous tv-show Ninja Warriors.

One obstacle at the “Survival of the Fittest”

Cardiff was definitely a “lively” city, btw. On Saturday evening, it was extremely difficult for me to get a seat at a restaurant! At one restaurant, the waitress informed me that I would have to wait for three hours (!) before I could get a seat. Of course I bailed! Haha. That evening, eventually I settled at a Japanese restaurant having a chicken ramen. Well, it had been awhile since the last time I had ramen anyway so it was okay, haha ๐Ÿ˜› .

A tasty buttermilk chicken

Speaking of food, I am afraid I didn’t really go on a culinary adventure there. Aside from the ramen, I had lunch at a Jamie’s Italian (As this was a choice which would never be wrong to me! Haha) and at The Dock, a restaurant in Cardiff Bay. I ordered a tasty buttermilk chicken with sweet potato chips and a dipping sauce. It was good!

So all in all, yeah, I enjoyed my time in Cardiff. It was definitely a nice way to “taste” what Wales was like. Though, for the next time, I would like to see more of what Wales could offer!


Belum lama lalu aku pergi dalam sebuahย perjalanan akhir pekan ke Cardiff, sebuah perjalanan yang akhirnya “melengkapi” daftar travel goal-ku untuk pergi ke semua empat negara di Inggris Raya (United Kingdom). Dan berikut ini cerita dari perjalanannya.

Cardiff selfie

Pergi ke/kembali dari Cardiff

Aku menaiki penerbangan langsung ke Bandara Cardiff di kedua arah, setengahnya karena penerbangan non-stop adalah satu-satunya pilihan dengan SkyTeam untuk pergi ke sana dari Amsterdam, haha. Penerbangannya sendiri adalah dua penerbangan standar dengan KLM sehingga tidak banyak yang bisa kuceritakan sekarang. Pesawatnya, tapinya, cukup spesial untuk diceritakan.

Dua penerbangan yang kunaiki ini dioperasikan oleh dua tipe pesawat yang sangat “kontras” satu sama lain: Fokker 70 di penerbangan keberangkatan dan Embraer 175 di penerbangan kepulangan. Jadi ceritanya KLM Cityhopper akan memensiunkan semua pesawat Fokker 70nya di akhir bulan ini, termasuk PH-KZB yang sudah berumur 21,6 tahun yang membawaku ke Cardiff, dan menggantinya dengan pesawat generasi baru Embraer 175, termasuk dengan PH-EXN yang baru berumur 4 bulan yang membawaku pulang ke Amsterdam!

Sebuah Fokker 70-nya KLM Cityhopper yang berumur 21,5 tahun, PH-KZB
Sebuah Embraer 175-nya KLM Cityhopper yang berumur 4 bulan, PH-EXN

Keren kaaan? Walaupun iya sih aku jelas akan kangen dengan Fokker 70 yang kece itu walaupun Embraer 175nya KLM juga keren sih terutama karena dilengkapi dengan winglet generasi terbarunya! Ngomong-ngomong, berikut ini video pendaratannya di landasan pacu 30 Bandara Cardiff dengan PH-KZB:

Ah, aku jelas akan kangen dengan view yang melibatkan mesin belakang seperti ini!!


Satu hal yang aku perhatikan dari Cardiff, ibukotanya Wales, adalah kebanggaannya akan Wales. Hampir semua penanda dituliskan dalam dua bahasa (bahasa Inggris dan bahasa Wales); dan di perjalanan ini aku baru tahu dong bahwa “Wales” itu adalah nama “bahasa Inggris”-nya negara ini, yang mana dalam bahasa Wales disebut “Cymru”. Menurutku ini mirip dengan istilah “Borneo” dan “Kalimantan”, juga “Celebes” dan “Sulawesi”, haha. Dan mereka juga nampak bangga banget dengan simbol negaranya, yang mana berpenampakan kayak gini:

Naga Merahnya Wales

Yah, nggak mengherankan lah ya! Haha ๐Ÿ˜†

Nampak jelas bahwa Cardiff (dulunya) adalah kota industri; sehingga memang kotanya bukanlah kota yang paling indah gitu deh. Namun, nampak jelas pula bahwa kotanya telah berusaha untuk “mempercantik diri”, dengan memasang banyak karya-karya seni (patung-patung atau monumen gitu) dimana-mana.

Sebuah patung karya seni di Cardiff.

Untukku, ada dua “bagian” dari Cardiff: pusat kota dan Cardiff Bay. Aku menghabiskan hari pertamaku di pusat kota, dimana banyak terdapat pertokoan dan mall modern juga dan pada dasarnya merupakan tempat “denyut nadi” kota ini. Bagian ini juga lah bagian bersejarah dari kotanya, dimana, misalnya, Kastil Cardiff berlokasi. Aku merasa harga tiket masuknya agak terlalu mahal sehingga aku malas masuk waktu itu. Jadilah aku jalan-jalan di taman di sebelahnya dan foto-foto dari sana aja, haha ๐Ÿ˜› .

Kastil Cardiff

Aku mengunjungi Cardiff Bay di hari keduaku, yang mana terasa lebih “modern” untukku. Lagi, ada banyak karya seni di sana. Waktu itu sedang ada acara olahraga yang belangsung, bernama “Survival of the Fittest”. Secara singkat ini adalah semacam perlombaan dengan rintangan-rintangan yang nampakย physical gitu, tetapi (nampak) seru. Konsepnya, secara umum, mungkin mirip dengan acara tvย Ninja Warriors yang terkenal itu.

Satu rintangan di “Survival of the Fittest”

Cardiff jelas adalah kota yang “hidup”, btw. Di hari Sabtu malam, susah banget untukku mendapatkan kursi kosong di restoran! Di satu restoran, pelayannya memberi-tahuku bahwa restorannya sudah penuh dan aku harus menunggu tiga jam (!) sampai ada kursi kosong. Ih ya jelas aku batal mampir lah ya, haha. Malam itu, akhirnya aku makan di sebuah restoran Jepang dan memesan ramen ayam. Yah, sudah lumayan lama juga sih semenjak aku makan ramen jadi oke lah, haha ๐Ÿ˜› .

Seporsi buttermilk chicken yang enak.

Ngomongin makanannya, sayangnya aku tidak terlalu banyak berwisata-kuliner di sana. Selain ramen itu, aku makan siang di Jamie’s Italian (Pilihan ini nggak akan pernah salah untukku soalnya! Haha) dan The Dock, sebuah restoran di Cardiff Bay. Aku memesan ayam buttermilk dengan ubi (sweet potato) goreng dan saus. Enak!

Jadi secara keseluruhan, ya, aku menikmati waktuku di Cardiff. Perjalanan ini adalah perjalanan yang oke untuk “mencicipi” Wales. Untuk kali berikutnya, aku penasaran untuk melihat bagian lain dari Wales!

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1996 – AvGeek Weekend Trip #11 (AMS โ€“ LYS โ€“ CDG โ€“ AMS)


On Saturday, as my Instagram followers (@azilko), I went on another AvGeek Weekend Trip. The original routing was not new this time, in fact it was the exact reverse of my AvGeek Weekend Trip #7 this March:

My original routing this weekend, Amsterdam – Lyon ย – Paris – Amsterdam, the exact reverse of another AvGeek Weekend Trip from earlier this year. Created with gcmap.com

There was no other motivation this time other than my urge of flying, haha ๐Ÿ˜† . But this time, though, I only wanted the cheapest option available and so consequently, I didn’t put any effort to find a more interesting routing. Actually, I was slightly tempted to fly out of Amsterdam with KLM’s first flight to Lyon so that I could connect to Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner Lyon – Paris-CDG flight. I have taken this flight just this August, but taking a second flight with it wouldn’t be harmful, no? ๐Ÿ˜› But then, while officially the KLM and Air France flights were connected, the connection time was only 25 minutes. I wasn’t particularly comfortable with this and so I decided to let the idea go, haha ๐Ÿ˜› .

No 787 this weekend.

But then, what I thought would be a regular trip suddenly turned to be a dramatic one. On Friday afternoon, I was informed that my KLM’s Amsterdam – Lyon flight was cancelled and that I would be moved to another flight. But I was curious because the next flight to Lyon would be so late in the day that I would miss my connection to Paris. So I was intrigued on what the solution would be.

Later that day, I was informed that I was moved to an Amsterdam – Paris flight, a solution which I had thought about. But I noticed something weird. It was indicated that I had a Paris – Lyon connection after that replacement flight. Then, from Lyon I would fly back to Paris and then from Paris to Amsterdam. The problem with this “solution” was that the Paris – Lyon flight would arrive in Lyon three hours after the Lyon – Paris flight.

Moved to a Paris-bound flight with a connecting flight to Lyon, arriving in Lyon three hours after my supposedly 14:55 connecting flight out of Lyon.

From what I understood about the flight ticketing world, this was problematic because I couldn’t just “skip” the Paris – Lyon flight and wait in Paris until the time of my Paris – Amsterdam flight. If I skipped the Paris – Lyon flight, my ticket would be marked “no show” which would lead to my Paris – Amsterdam ticket being cancelled. A bad situation indeed.

And so I decided to call the KLM call centre on Friday evening. The very friendly agent spotted the problem and she was very helpful in solving this Lyon complicacy problem by eliminating Lyon altogether from my ticket. Though, indeed the outcome of this was that instead of flying Amsterdam – Lyon – Paris – Amsterdam this weekend, I only flew Amsterdam – Paris – Amsterdam, lol ๐Ÿ˜† .

My first original flight , indeed, got cancelled.

Even though this was, certainly, quite “boring” to me, I felt like it was still quite a useful experience overall to have some ticketing disruption like this. Though, of course I would hope for a similar situation to never ever happen again! Anyway,ย I will not write any story of this trip beyond this post, though. So here are a few photos from the “boring” trip:


Sabtu kemarin, seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuah AvGeek Weekend Tripย lagi. Awalnya, rute kali ini tidak lah baru, malahan rutenya adalah kebalikan dari rute AvGeek Weekend Trip #7-ku Maret ini:

Rute awalku akhir pekan ini, Amsterdam – Lyon ย – Paris – Amsterdam, kebalikan dari rute AvGeek Weekend Trip lainnya awal tahun ini. Peta dibuat dengan gcmap.com

Tidak ada motivasi lain kali ini selain memang ingin naik pesawat aja, haha ๐Ÿ˜† . Kali ini, aku maunya terbang dengan pilihan termurah sehingga aku tidak berusaha untuk mencari rute lain yang lebih menarik. Sebenarnya, awalnya aku sedikit tergoda untuk berangkat dari Amsterdam dengan penerbangan pertamanya KLM ke Lyon sehingga aku bisa connect ke penerbangan Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France di rute Lyon – Paris-CDG. Memang sih aku sudah pernah menaikiย penerbangan ini Agustus ini, tetapi nggak ada salahnya dong ya naik lagi? ๐Ÿ˜› Tetapi kemudian, walaupun memang dua penerbangan KLM dan Air France ini terkoneksi, waktu transitnya hanyalah 25 menit saja. Aku merasa kurang nyaman dengan waktu transit yang hanya segini sehingga ide ini aku urungkan, haha ๐Ÿ˜› .

Nggak terbang dengan 787 deh akhir pekan ini.

Tetapi kemudian, apa yang kukira akan menjadi perjalanan biasa tiba-tiba berubah dramatis. Jumat siang, aku diberi kabar bahwa penerbangan KLM Amsterdam – Lyonku dibatalkan dan aku akan dicarikan penerbangan pengganti. Aku penasaran karena penerbangan selanjutnya ke Lyon adalah di sore hari yang mana dengan penerbangan ini, aku tidak akan sempat mengejar penerbangan lanjutanku ke Paris. Jadilah aku penasaran solusinya apa dong ya.

Sorenya di hari Jumat, aku diinformasikan bahwa aku dipindahkan ke penerbangan Amsterdam – Paris, sebuah solusi yang memang sudah aku duga. Tetapi aku melihat ada sesuatu yang aneh. Diindikasikan juga bahwa aku memiliki penerbangan lanjutan Paris – Lyon setelah penerbangan pengganti ke Paris itu. Lalu, dari Lyon aku akan terbang kembali ke Paris dan kemudian dari Paris ke Amsterdam. Masalah dengan “solusi” ini adalah penerbangan Paris – Lyonku akan tiba di Lyon tiga jam setelah penerbangan Lyon – Paris-nya.

Dipindahkan ke penerbangan dengan tujuan Paris dengan penerbangan lanjutan ke Lyon, dengan jadwal tiba di Lyon tiga jam setelah jadwal keberangkatan penerbanganku selanjutnya dari Lyon jam 14:55.

Nah, sependek pengetahuanku akan dunia pertiketan pesawat, situasi ini sungguh bermasalah karena aku tidak bisa “men-drop” begitu saja penerbangan Paris – Lyon ini dan kemudian tinggal di Paris sampai jadwal keberangkatan penerbangan Paris – Amsterdamku. Jika penerbangan Paris – Lyon ini aku drop, tiketku akan ditandai “no show” yang mana akan berakibat pada pembatalan tiket Paris – Amsterdam-ku. Kan berabe dong ya kalau begitu.

Nah, jadilah aku memutuskan untuk menelepon call centre-nya KLM Jumat malam. Petugasnya yang ramah banget membantuku banget dalam menyelesaikan komplikasi Lyon dengan mengeliminasi keterlibatan Lyon dari tiketku. Walaupun memang sih akibatnya perjalananku ini berubah dari bukannya Amsterdam – Lyon – Paris – Amsterdam akhir pekan ini menjadi Amsterdam – Paris – Amsterdam doang, haha ๐Ÿ˜† .

Penerbangan pertamaku memang dibatalkan.

Walaupun jelas rute pengganti ini “membosankan” untukku, toh secara umum aku tetap melihat pengalaman tiket yang terkacaukan ini adalah pengalaman yang berguna. Walaupun jelas lah aku berharap ini tidak akan pernah terjadi selama-lamanya lagi lah ya! Anyway,ย aku tidak akan menuliskan cerita dari perjalanan ini lebih jauh daripada posting ini sih. Jadi di atas aku langsung unggah saja beberapa fotonya.

Aviation · EuroTrip · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#1990 – AvGeek Weekend Trip #10 (AMS โ€“ OSL โ€“ CDG โ€“ AMS)


Not too long ago, I went on another AvGeek Weekend Trip with quite an interesting routing:

The routing this weekend. Map created with gcmap.com

At first, I didn’t plan to write a self-standing post of the trip. But I changed my mind after the experiences I had during the trip, which actually made the trip unique enough for a self-standing post. Anyway, this post is the self-standing post and let just the story begin…

KLM KL1143 (AMS – OSL)

Flight: KLM KL1143
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGQ named “Wielewaal”
ATD: 09:23 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 10:54 CET (Runway 01L of OSL)

To save some budget, I chose KLM’s 09:20 flight to Oslo (the 11:50 would have been better schedule-wise, but it was also much more expensive). Consequently, I had to depart from home quite early. And I departed a bit too early, actually, where I arrived at the tram stop some 20 minutes before the scheduled service! (I should have checked the transportation app indeed, so it was my fault).

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGQ which would take me to Oslo today.

Long story short, I arrived at Schiphol, waited and had my breakfast at KLM’s Crown Lounge, and boarded the plane: a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGQ. The flight itselft was a pleasant regular intra-European flight with KLM. I sat next to (I assume) a professor who was working on his grant proposal and was so into his work that he refused all the KLM service provided on his flight, haha.

Anyway, as I said in the teaser post, I was lucky that I was sitting on a window seat in the left side of the plane and the flight was landing at runway 01L. This provided me with a really cool bird’s eye view of the city of Oslo!

Oslo, not Solo!

Oslo-Gardermoen Airport

I have been to Oslo before, just a little over two years ago, actually. But somehow, I didn’t remember Oslo-Gardermoen Airport to be as good and cool as I encountered during this trip! Seriously, I found the terminal building to be really beautiful, one of the most beautiful one in Europe that I have been to!

Oslo-Gardermoen Airport

Anyway, one reason why I said KLM’s 11:50 flight would have been better scheduled-wise was that now, I had an almost six hours of transit, haha. I didn’t feel like going to the city of Oslo, so I was “stuck” at the (beautiful) airport. Though, I wasn’t worried at all as I knew that Air France/KLM had a cooperation with a lounge at the airport. The lounge was the OSL Lounge, located pretty much next to SAS’ business lounge.

OSL Lounge at Gardermoen Airport

The lounge itself was actually quite good! It wasn’t the most spacious lounge in terms of space, but the service and facilities were quite nice. There were quite some selections of drink and (typical lounge) food. The seats were generally comfortable as well. There was a row of three or four recliner chairs which I settled myself onto one of them. The chairs were quite old, actually, but they still worked fine and were still quite comfortable.

Air France AF1375 (OSL – CDG)

Flight: Air France AF1375 operated by HOP! Regional
Equipment: Embraer ERJ190 reg F-HBLE
ATD: 17:01 CET (Runway 01L of OSL)
ATA: 18:50 CET (Runway 26L of CDG)

I boarded my second flight today at around 16:10. It was an Air France flight that was operated by HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLE. I sat on my 3F seat in the 2-2 configured plane which was super comfortable today because the seat next to me was vacant, yeay! Haha ๐Ÿ˜† Long story short, the plane departed and took off from runway 01L of Oslo-Gardermoen Airport.

Taking off from runway 01L of OSL with HOP! Regional’s Embraer 190

Not long after take-off, the snack service was provided. And I was pleasantly surprised to see that the service standard was higher than the other regular intra-European Air France flights I had taken before. First of all, there were actually options for the sandwich service (chicken or vegetarian sandwich). And second of all, rosรฉ wine was available as one of the wine options! Options and rosรฉ wine were something I had never encountered in short-haul intra-European Air France flights before!

The service on board flight AF1375 from Oslo to Paris. Rosรฉ wine was available and there were chicken or vegetable choices for the sandwich!

I tried to figure out the reason behind this. And then, it hit me that this AF1375 was actually my first intra-European flight with Air France (though operated by HOP! Regional) that was blocked for more than two hours one-way (its scheduled departure time was 16:45 with arrival time of 19:10, making it a 2 hours 25 minutes flight). I knew KLM had different level of service for flights below and above two-hours block, so it was not surprising that Air France appeared to have one too!

Aside from that, it was a pleasant regular flight with Air France and at 18:50, we landed at runway 26L of Paris – Charles De Gaulle Airport. The plane parked at Terminal 2G so I had to take the transfer bus to Terminal 2F.

HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLE at Terminal 2G of Paris-CDG after arriving as flight AF1375 from Oslo.

KLM KL1246 (CDG – AMS)

Flight: KLM KL1246
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGN named “Jan van Gent”
ATD: 20:25 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

After a super quick dinner at Salon Air France at Terminal 2F, I boarded my KLM flight back to Amsterdam today, that was a Boeing 737-700 reg PH-BGN flight KL1246, Air France/KLM’s last flight to Amsterdam from Paris. This was actually a pleasant regular short-haul flight with KLM so there was not much to tell from the flight itself.

However, though, from my side I encountered an “interesting” experience. Suddenly just after the snack service began, I started to feel a terrible stomachache where I needed to go to a toilet soon. But then, it was already halfway through the flight (which was a short one anyway) and the flight attendants were still very busy in the aisle distributing the service. On top of that, I was sitting on a window seat with both the aisle and middle seats next to me taken. And so I thought that it was a short flight anyway so we would land at Schiphol soon and in the meantime I could just “hold” it, haha.

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGN which brought me back to Amsterdam today.

But then, as I suspected as it was an evening flight and was the worst scenario for my situation, we landed at the friggin’ Polderbaan! Damn!! So we had to taxi for another like 15 minutes before arriving at Pier D of Schiphol. Even then, it turned out that the nearest toilet to the gate was under maintenance at the time!ย Well, talking about my “luck” this evening๐Ÿ˜….


Pertengahan September kemarin, aku pergi dalam sebuahย AvGeek Weekend Tripย lagi dengan rute yang cukup menarik:

Rute akhir pekan kali ini. Peta dibuat dengan gcmap.com

Awalnya, aku berencana untuk tidak menulis posting tersendiri tentangnya. Tetapi rencana ini harus kuubah karena setelah pengalaman-pengalamanku di perjalanan ini, yang mana membuat perjalanannya cukup unik untuk dijadikan sebuah posting tersendiri. Posting ini adalah posting tersebut, dan langsung kita mulai saja lah ya…

KLM KL1143 (AMS – OSL)

Penerbangan: KLM KL1143
Pesawat: Boeing 737-700 reg PH-BGQ bernama “Wielewaal”
ATD: 09:23 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 10:54 CET (Runway 01L of OSL)

Untuk mengirit biaya, aku memilih penerbangannya KLM jam 09:20 pagi ke Oslo (penerbangan yang jam 11:50 sebenarnya lebih enak sih dari segi jadwal, tetapi masalahnya tiketnya juga lebih mahal lumayan, haha). Sebagai akibatnya, aku harus berangkat pagi deh. Dan aku malah berangkat kepagian lho, dimana aku tiba di halte tramnya 20 menit sebelum tramnya dijadwalkan berangkat! (Iya, seharusnya aku mengecek app transportasi umum dulu sebelum berangkat. Salahku sih memang).

Sebuah Boeing 737-700nya KLM rego PH-BGQ yang akan membawaku ke Oslo hari ini.

Singkat cerita, aku tiba di Schiphol, menunggu sekalian sarapan di KLM Crown Lounge, dan menaiki pesawatku: sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGQ. Penerbangannya sendiri adalah penerbangan reguler intra-Eropa yang nyaman dengan KLM. Aku duduk di sebelah seorang (yang kuasumsikan) profesor gitu yang sibuk mengerjakan proposal permohonan funding untuk risetnya di sepanjang jalan. Ia sebegitu seriusnya dengan pekerjaannya sampai-sampai semua layanannya KLM di penerbangan ini ia tolak loh, haha.

Anyway, seperti yang kuceritakan di posting yang dulu, aku beruntung aku duduk di kursi jendela di sisi kiri pesawat dan penerbangannya sendiri mendarat di landasan pacu 01L. Ini memberikanku pemandangan kota Oslo dari atas yang mana kece banget!

Oslo, bukan Solo!

Bandara Oslo-Gardermoen

Aku sudah pernah ke Oslo sebelumnya,ย dua tahun lebih sedikit yang lalu, sebenarnya. Tetapi entah bagaimana, aku tidak ingat dong bahwa Bandara Oslo-Gardemoen itu keren banget seperti yang kulihat di perjalanan ini! Beneran deh, bagiku gedung terminalnya indah banget, termasuk salah satu yang terindah yang pernah kukunjungi di Eropa!

Bandara Oslo-Gardermoen

Anyway, satu alasan mengapa kubilang penerbangannya KLM yang jam 11:50 itu lebih ideal dari segi jadwal karena sekarang aku harus transit selama enam jam, haha. Aku sedang merasa malas untuk pergi ke kota Oslo dan jadilah aku jadi “terjebak” di bandaranya (yang kece banget) kan. Walaupun aku nggak khawatir juga sih karena aku tahu Air France/KLM memiliki kerja-sama dengan sebuah lounge di bandaranya. Lounge-nya adalah OSL Lounge, yang berlokasi di sebelah lounge kelas bisnisnya SAS.

OSL Lounge di Bandara Gardermoen

Lounge-nya sendiri cukup oke lho! Memang sih dari segi ukuran nggak sebegitu besar, tetapi layanan dan fasilitasnya memadai banget kok. Ada cukup banyak pilihan minuman dan makanan (yang mana tipikal makanan lounge gitu sih). Kursi-kursinya juga cukup nyaman. Ada sebaris kursi recliner yang mana salah satunya aku gunakan, haha. Kursinya sudah cukup tua sih, tetapi masih bekerja dengan baik dan cukup nyaman kok.

Air France AF1375 (OSL – CDG)

Penerbangan: Air France AF1375 dioperasikan oleh HOP! Regional
Pesawat: Embraer ERJ190 rego F-HBLE
ATD: 17:01 CET (Runway 01L of OSL)
ATA: 18:50 CET (Runway 26L of CDG)

Aku menaiki penerbangan keduaku sekitar jam 16:10. Ini adalah penerbangannya Air France yang dioperasikan oleh HOP! Regional dengan pesawat Embraer ERJ190 rego F-HBLE. Aku duduk di kursi 3F di pesawat yang dikonfigurasi 2-2 ini yang hari ini nyaman banget soalnya kursi di sebelahku kosong dong, hore! Haha ๐Ÿ˜† . Singkat cerita, pesawatnya berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 01L Bandara Oslo-Gardermoen.

Lepas landas dari landasan pacu 01L-nya OSL dengan Embraer 190nya HOP! Regional

Tak lama setelah lepas landas, layanan snack dibagikan. Dan aku dikejutkan (secara positif) dengan standar layanannya yang lebih tinggi daripada standar layanan di penerbangan-penerbangan intra-Eropanya Air France yang sudah pernah kunaiki sebelumnya. Pertama-tama, ada pilihan lho untuk menu sandwich-nya (ayam atau vegetarian). Dan yang kedua, bahkan ada anggur rosรฉ sebagai salah satu pilihan anggurnya! Pilihan dan anggur rosรฉ kan tidak pernah aku temui di penerbangan jarak dekat intra-Eropa dengan Air France sebelumnya!

Layanan di penerbangan AF1375 dari Oslo ke Paris. Anggur rosรฉ tersedia dan ada pilihan sandwich ayam atau vegetarian!

Aku mencoba menerka alasan di balik ini. Dan kemudian, barula aku sadar bahwa penerbangan AF1375 ini adalah penerbangan intra-Eropaku dengan Air France (walaupun dioperasikan oleh HOP! Regional) yang pertama yang diblok berdurasi lebih dari dua jam satu arah (penerbangannya dijadwalkan berangkat jam 16:45 dan tiba jam 19:10, artinya panjangnya 2 jam 25 menit). Aku tahu bahwa KLM memang memiliki pembedaan standar layanan untuk penerbangan di bawah atau di atas blok dua jam, jadi tidak mengherankan kalau Air France memiliki prosedur serupa ya!

Di samping itu, ini adalah penerbangan yang nyaman dengan Air France. Dan jam 18:50, pesawat mendarat di landasan pacu 26L Bandara Paris – Charles De Gaulle. Pesawat parkir di Terminal 2G sehingga aku harus menaiki bus transfer ke Terminal 2F.

Embraer ERJ190 rego F-HBLEnya HOP! Regional di Terminal 2G Paris – CDG setelah tiba dari Oslo sebagai penerbangan AF1375.

KLM KL1246 (CDG – AMS)

Penerbangan: KLM KL1246
Pesawat: Boeing 737-700 rego PH-BGN bernama “Jan van Gent”
ATD: 20:25 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

Setelah makan malam super kilat di Salon Air France di Terminal 2F, aku menaiki penerbangan KLMku untuk kembali ke Amsterdam. Penerbangannya dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-700 rego PH-BGN penerbangan KL1246, penerbangan Air France/KLM terakhir ke Amsterdam dari Paris hari ini. Ini adalah penerbangan reguler yang nyaman dengan KLM seperti biasanya sehingga sebenarnya nggak banyak yang bisa diceritakan dari penerbangannya sendiri.

Tetapi, aku mengalami kejadian yang “menarik”. Tiba-tiba setelah layanan snack dimulai, aku mulai sakit perut yang cukup parah yang membuatku merasa perlu untuk pergi ke toilet. Tetapi masalahnya, penerbangannya sudah berlangsung setengah jalan (mana ini adalah penerbangan singkat pula) dan pramugari/a-nya juga sedang sibuk di lorong untuk membagikan snack dan minuman. Ditambah lagi, aku duduk di kursi jendela sementara kursi lorong dan tengah di sebelahku terisi. Jadilah aku pikir karena toh penerbangannya singkat, nggak lama lagi pesawat akan mendarat di Schiphol dan untuk sementara itu bisa lah aku “tahan”, haha.

Sebuah Boeing 737-700 rego PH-BGN-nya KLM yang membawaku kembali ke Amsterdam hari ini.

Tetapi kemudian, seperti yang kuduga karena penerbangan malam dan merupakan skenario terburuk untuk situasiku, kami mendarat di Polderbaan laknat itu dong! Sialan!! Pesawat harus taxiing selama sekitar 15 menit sebelum tiba di Pier D di Bandara Schiphol. Setelah itu pun, ternyata toilet yang terdekat dengan gate-nya sedang direnovasi dong waktu itu! ย Ini Dewi Fortunaku lagi “liburan” atau bagaimana ini ya malam iniย ๐Ÿ˜….

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1987 – A Weekend in Manchester


I went to Manchester for a weekend not too long ago. So let’s start the story ๐Ÿ˜€

Getting to/back from Manchester

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGL at Schiphol

I flew on three segments this weekend, a direct Amsterdam – Manchester flight with a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGL and Manchester – Paris and Paris – Amsterdam with Air France’s Airbus A320-200 reg F-HEPA and Airbus A319-100 reg F-GRXE, respectively, haha ๐Ÿ˜› .

The weather in the weekend was not in the best condition, though; where there were quite many minor turbulences along the wayย especially on the two Air France flights I took on Sunday, even more so on the AF1188 flight to Amsterdam. The KLM flight was smooth, though, even though we had to land during rain at Manchester. Here is the landing video was we were landing at runway 23R of the airport:

The KLM flight to Manchester was a little bit “unusual”, though. I was just flying economy but mid-flight, the purser came to my seat, addressed me by name (“Mr. Zilko”), and asked if everything about the flight was alright to me. Wow! As I said before, usually the flight attendants use the neutral “Sir/Ma’am/Miss” in economy! She mentioned that she wanted to make sure everything was alright as she knew that I was flying a lot with KLM/SkyTeam (and for this reason she didn’t ask my seatmates at all, haha ๐Ÿ˜› ). Oh wow, I was really impressed by this and was certainly felt really respected for my loyalty. You know, small things like this sometimes can go very far, can’t they? ๐Ÿ™‚


Manchester Town Hall

I forgot to take into the account the time I would need to spend waiting at immigration when I booked the ticket. The KLM flight was scheduled to land just before 1 PM UK time, so I thought I would have quite plenty of time to spend in Manchester without having to get up too early that day to get to Schiphol, haha. But it turned out that this schedule coincided with the arrival schedule of several other flights from all over Europe as well, thus creating long lines at immigration! And with Manchester Airport’s Terminal 3 being located quite far away from the train station, all in all I could only check-in at my hotel in Manchester just after 3 PM! Haha ๐Ÿ˜† .

As I said above, the weather was also not in the best shape today, where it was raining constantly. So I decided to rest at the hotel while waiting for the rain to stop. I knew this would leave me with very little time to explore Manchester; but nonetheless I had been there once before anyway so it was not like I was going to miss much. Especially that I stayed for four nights the last time I was there, haha.

The (famous) Merchants’ Bridge in Castlefield, Manchester

And so I decided to make use of my short exploring time to go to a site I didn’t visit back then in 2013-2014: Castlefield. In my previous trip I saw the famous Merchants’ Bridge in Castlefield from the tram rides but back then I did not know that it was famous, haha. Since then, I have seen a few movies/tv-series with scenes taking place there, so I told myself the next time I would be in Manchester, I needed to cross that bridge, haha ๐Ÿ˜† . Castlefield was indeed a nice cute part of the industrial Manchester.

Speaking of the city, one difference I noticed was that I saw more homeless people in the street now than 3.5 years ago. This was certainly not a good sign of the state of the economy, perhaps. But I am not going to get into this as social politics or economy are not the scope of this personal blog at all. So I will just leave it here.

Bridges in Manchester

The Food

I decided to consult to Yelp to find a place for dinner. There, I stumbled across Burger and Lobster that was not amongst the best rated in the app but the “lobster” part in the name caught my attention and made me want some lobster, haha. Now that I think about it, the last time I had a lobster was probably almost two years ago at the famous Neptune Oyster in Boston!

When looking at the menu, I was torn between a full lobster dish (steamed or grilled) or a lobster beef burger. I decided to go with the burger because that was the freaking name of the restaurant: burger and lobster, haha ๐Ÿ˜† . A lady sitting across me apparently ordered a full lobster dish and when her order was served, I regretted a little bit that I didn’t opt for that one. But then, I also saw that eating a full lobster was actually not that simple with all the claws and shells and all that; so my regret was immediately gone, haha.

A lobster beef burger

Anyway, the lobster burger was good. I felt like the burger itself was in the smaller size, though; but this was quite possibly because of the expensive lobster meat in it. Though, this was compensated by the chips and side-salad. It was a decent dish, I must say.

The next morning for breakfast, I went to a Frankie and Benny’s. As I entered the restaurant, I realized that it was the same Frankie and Benny’s I had dinner at on New Year’s Eve 3.5 years ago! Somehow it felt really nostalgic! Haha ๐Ÿ˜†

Traditional English Breakfast

Anyway, the reason I went there was because I remembered from my previous trip that they served traditional English breakfast. And this time, I felt like having one, haha. And it was, indeed, good! ๐Ÿ™‚ It was also nice that the hot drink was “bottomless” so I could ask for a refill for my cafe latte, haha ๐Ÿ˜› .


Aku pergi ke Manchester di sebuah akhir pekan belum lama ini. Jadi mari ceritanya kita mulai ๐Ÿ˜€ .

Perjalanan ke/dari Manchester

Sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGL di Schiphol

Aku menaiki tiga penerbangan kali ini, sebuah penerbangan langsung Amsterdam – Manchester dengan Boeing 737-700 rego PH-BGLnya KLM, dan Manchester – Paris dan Paris – Amsterdam dengan Airbus A320-200 rego F-HEPA dan Airbus A319-100 rego F-GRXEnya Air France, haha ๐Ÿ˜› .

Cuaca di akhir pekan ini sedang kurang baik sih, dimana ada cukup banyak turbulensi minor di sepanjang jalan terutama di dua penerbangan Air France yang kunaiki di hari Minggu; terutama di penerbangan AF1188 ke Amsterdam yang rasanya kok penuh turbulensi di sepanjang jalan, haha. Penerbangannya KLM sendiri sih mulus, walaupun kami harus mendarat ketika sedang hujan di Manchester. Berikut ini video pendaratan di landasan pacu 23Rnya:

Penerbangan KLM ke Manchester ini agak sedikit “tidak biasa” untukku. Aku hanya terbang di kelas ekonomi saja tetapi di tengah perjalanan, purser-nya datang ke kursiku, menyapaku dengan nama (“Mr. Zilko”), dan bertanya apakah semuanya baik-baik saja denganku di penerbangan ini. Wow! Sepertiย yang kubilang sebelumnya, biasanya pramugara/i menggunakan panggilan netral “Sir/Ma’am/Miss” di ekonomi kan! Ia menyebutkan bahwa ia ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja untukku karena ia tahu aku sering terbang dengan KLM/SkyTeam (dan karena alasan ini lah hanya aku saja yang disapa sementara penumpang-penumpang di sebelahku tidak, haha ๐Ÿ˜› ). Oh wow, aku sungguh terkesan dengan ini dan merasa loyalitasku dihargai banget. Tahu lah, kadang hal-hal kecil/sepele semacam ini justru bisa berdampak jangka panjang kan ya? ๐Ÿ™‚


Manchester Town Hall

Aku lupa memperhitungkan waktu menunggu pemeriksaan imigrasi ketika membeli tiket. Penerbangan KLMnya dijadwalkan mendarat sebelum jam 1 siang waktu Inggris sehingga aku kira masih ada cukup banyak waktu lah untukku hari itu jalan-jalan di Manchester tanpa harus bangun pagi banget untuk berangkat ke Schiphol, haha. Tetapi ternyata jadwal ketibaan ini bebarengan dengan jadwal ketibaan beberapa penerbangan maskapai lain dari Eropa sehingga antrian di imigrasinya jadi panjang banget! Dan lagi lokasi Terminal 3 Bandara Manchester yang lumayan jauh dari stasiun keretanya, akhirnya totalnya aku baru bisa check-in di hotelku di Manchester lewat jam 3 sore loh! Haha ๐Ÿ˜†

Seperti yang kusebutkan sebelumnya, cuaca hari ini memang sedang kurang oke, dimana hujan terus-terusan turun. Jadilah aku memutuskan untuk beristirahat dulu di hotel sambil menunggu hujan reda. Aku tahu ini akan berakibat pada waktuku untuk jalan-jalan di Manchester menjadi semakin sempit lagi; tetapi toh aku sudah pernah kesana sebelumnyaย sehingga nggak akan banyak yang terlewatkan kan ya. Terutama lagi dulu aku kan menginap empat malam di sana, haha.

Jembatan Merchants’ (yang terkenal) di Castlefield, Manchester

Dan jadilah waktu yang sedikit itu kumanfaatkan untuk jalan-jalan di area yang dulu di tahun 2013-2014 belum sempat aku kunjungi: Castlefield. Di perjalanan dulu aku melihat Jembatan Merchants’ di Castlefield yang terkenal itu dari tram tetapi dulu aku kan nggak tahu kalau jembatannya terkenal, haha. Semenjak waktu itu, aku sudah menonton beberapa film/acara tv yang mana pernah syuting di jembatannya. Jadilah aku pikir kalau aku ke Manchester lagi, aku akan mampir, haha ๐Ÿ˜† . Castlefield memang adalah satu bagian Manchester yang menarik dan oke kok untuk jalan-jalan.

Ngomongin kotanya, satu perbedaan yang kuperhatikan adalah ada lebih banyak gelandangan sekarang daripada 3,5 tahun yang lalu. Ini jelas bukan pertanda baik dari ekonominya, mungkin. Ah, tetapi aku nggak akan ngomongin ini karena sosial politik dan ekonomi bukanlah cakupan dari blog personal ini kan ya. Jadi aku berhenti di sini saja deh.

Jembatan-jembatan di Manchester


Aku memutuskan untuk berkonsultasi dengan Yelp untuk makan malam. Di sana, aku melihat restoran Burger and Lobster yang sebenarnya bukan termasuk yang dinilai tinggi-tinggit amat tetapi bagian “lobster” dari namanya menarik perhatianku sampai-sampai aku jadi ingin makan lobster, haha. Kalau dipikir-pikir lagi, kalau nggak salah terakhir kali aku makan lobster adalah nyaris dua tahun yang lalu loh di Neptune Oyster di Bostonย yang memang terkenal banget itu!

Ketika melihat menunya, aku galau antarai memilih menu lobster utuh (dikukus atau dibakar) atau burger sapi dan lobster. Aku memutuskan untuk memilih burger pada akhirnya karena sesuai dengan nama restorannya kan ya: burger dan lobster, haha ๐Ÿ˜† . Nah, seorang wanita yang duduk di seberangku ternyata memesan satu lobster utuh dan ketika pesanannya diantarkan, aku sedikit menyesal aku tidak memesannya. Tetapi kemudian, aku baru ingat bawa makan satu lobster utuh itu ribet karena ada capitnya dan kulitnya itu kan; jadilah penyesalanku langsung sirna, haha.

Sebuah burger sapi dan lobster

Anyway, burgernya sendiri lumayan enak kok. Ukuran burgernya cenderung kecil sih; dan aku duga ini dikarenakan daging lobster yang memang mahal kan. Walaupun begitu, kentang goreng dan saladnya membantu banget kok. Lumayan lah secara keseluruhan.

Keesokan paginya untuk sarapan, aku mampir di Frankie and Benny’s. Ketika aku memasuki restorannya, aku baru menyadari bahwa ini adalah Frankie and Benny’s yang sama dengan dimana aku makan malam diย malam tahun baru 3,5 tahun yang lalu! Rasanya kok jadi agak-agak nostalgia gitu! Haha ๐Ÿ˜†

Sarapan tradisional ala Inggris

Anyway, alasan aku mampir kesana adalah aku ingat dari perjalananku yang laluย bahwa mereka menyediakan sarapan tradisional ala Inggris untuk sarapan. Dan kali ini, aku sedang ingin sarapan itu, haha. Dan memang enak kok! ๐Ÿ™‚ Aku juga suka bahwa minuman hangatnya itu bottomless loh, dimana aku bisa meminta refill untuk cafe latte-ku, haha ๐Ÿ˜› .

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1985 – A Saturday Story


Yesterday, as my Instagram followers (@azilko) have known, I went on another AvGeek Weekend Trip! Here is the routing this time:

The routing this weekend. Map created with gcmap.com

About a month ago when I was looking at my flights record this year, it appeared to me that I hadn’t flown to anywhere to the northeast of the Netherlands so the map looked rather “bleak”. And so in an attempt to make my flying map “prettier” this year, I figured I would need to somehow fly to this part of Europe, haha ๐Ÿ˜† . Of the three possible candidates (Copenhagen, Stockholm, and Oslo), I found the best option (in terms of schedule, fare, and airlines) would be Oslo, haha. And so I booked the ticket.

Where I have flown to/from Amsterdam Schiphol Airport this year prior to yesterday. Notice the lack of red edges to the north of Amsterdam ๐Ÿ˜› . Created with gcmap.com

I was flying with KLM from Amsterdam to Oslo and Paris to Amsterdam, and with Air France (operated by HOP! Regional) from Oslo to Paris. As usual, it was such a fun Saturday to me where I flew on three flights on a day. I just realized though that I have not done this since May 2017! Hahaha ๐Ÿ˜† . Anyway, I was quite lucky to seat on a window seat in the left side of the plane on my flight to Oslo and the flight landed at runway 01L of Oslo-Gardermoen Airport. With this flight path, the plane had to fly above the city of Oslo and so I could snap a shot of it from above:

Oslo, not Solo!

At first, I didn’t think I would writeย anything in much more details about this trip. But after the trip, I changed my mind as I feel like the experience worth a stand-alone post! For instance, I was a little bit disappointed that the two KLM flights were operated using two Boeing 737-700s which I had flown before: PH-BGQย andย PH-BGN. And so consequently, I couldn’t add new KLM registration toย my flying log. Haha ๐Ÿ˜† . Anyway, here are a few teasers from the trip:


Kemarin, seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuah AvGeek Weekend Tripย lagi loh! Berikut ini rutenya kali ini:

Rute akhir pekan ini. Peta dibuat dengan gcmap.com

Sekitar satu bulan yang lalu ketika aku iseng mengecek catatan penerbanganku tahun ini, aku perhatikan aku belum terbang ke suatu tujuan di arah timur lautnya Belanda sehingga petanya nampak “membosankan” gitu deh. Nah jadilah supaya membuat peta penerbanganku tahun ini lebih “berwarna”, aku memutuskan bahwa aku perlu nih pergi ke daerah ini di Eropa, huahaha ๐Ÿ˜† *alasan macam apa ini*. Nah dari tiga kandidat tujuannya (Kopenhagen, Stockholm, dan Oslo), aku temukan pilihan terbaik (dari segi jadwal, harga tiket, dan maskapai) adalah Oslo, haha. Jadilah tiketnya aku beli.

Rute-rute yang sudah kuterbangi dari/ke Bandara Schiphol di Amsterdam tahun ini sampai dua hari yang lalu. Perhatikan ketiadaan garis merah di arah utara Amsterdam. Peta dibuat dengan gcmap.com

Aku terbang dengan KLM dari Amsterdam ke Oslo dan Paris ke Amsterdam, dan dengan Air France (penerbangannya dioperasikan oleh HOP! Regional sih) dari Oslo ke Paris. Seperti biasa, ini adalah hari Sabtu yang seru untukku dimana aku terbang tiga kali dalam satu hari. Dan aku baru sadar loh terahir kali aku melakukan ini adalah di bulanย Mei 2017! Huahaha ๐Ÿ˜† Anyway, aku beruntung duduk di kursi jendela di kiri pesawat di penerbangan ke Oslo dan penerbangannya mendarat di landasan pacu 01L Bandara Oslo-Gardermoen. Ini karena dengan rute ini, pesawatnya terbang di atas kota Oslo sehingga aku bisa memfotonya dari atas:

Oslo, bukan Solo!

Awalnya, kukira aku tidak akan menuliskan detail perjalanan ini lebih jauh. Tetapi setelah perjalanannya, aku harus mengubah pendapatku ini karena aku rasa pengalamannya berhak untuk dijadikan satu posting tersendiri! Misalnya saja, aku cukup sebal dong dua penerbangan KLMnya dioperasikan dengan dua Boeing 737-700 yang sudah pernah kunaiki sebelumnya: PH-BGQ dan PH-BGN. Kan flying log-ku jadi nggak bertambah dengan registrasi KLM baru tuh. Haha ๐Ÿ˜† Anyway, di atas aku posting beberapa teasers dari perjalanannya.

Aviation · EuroTrip · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#1971 – A Summer Weekend in London (Part I: The Flights)


Posts in the A Summer Weekend in London series:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: London


I was quite excited for this trip because it would be the first time I flew on a non-Schengen flight out of Schiphol since September 2016 when I flew to Sint Maarten! Haha ๐Ÿ˜† . This also meant that I hadn’t used KLM’s non-Schengen Crown Lounge since then. I just realized though that I liked the Schengen lounge better actually.

Anyway, obviously I chose a KLM flight to get to London-City; and what excited me even more was the flight would be operated with one of the two Avro RJ85s they leased from CityJet! Yep, Avro RJ85! The cute regional jet with four engines!!

Flight: KLM KL 977 operated by CityJet
Equipment: Avro RJ85 reg EI-RJU
ATD: 12:11 CET (Runway 36L of AMS)
ATA: 11:55 BST (Runway 27 of LCY)

Boarding was slightly delayed today, but it went on quite smoothly.ย After all passengers boarded, however, the captain announced that due to a congestion on the departure runway (due to bad weather in Amsterdam today), we were only cleared to depart in 20 minutes. But not long after, the captain announced that the Polderbaan was open for departure and if he agreed to use this runway, we could depart now. He thought the long taxi there was better than sitting in the tarmac for 20 minutes doing nothing, haha; and I fully agreed with him on this case. So there we went, another departure from Polderbaan! Haha ๐Ÿ˜†

Another departure from Polderbaan

Anyway, I loved flying the Avro RJ85. It was a small plane but was very stable on air; thus comfortable even though the 3-3 configuration felt a little bit “cramped” in my opinion for its fuselage size. As it was a flight operated for KLM, the snack service was as per KLM’s standard:

The snack service on board CityJet’s flight KL977

which was decent for a short 45 minutes. Having said that, the cabin crews were CityJet’s, even when the flight was operated for KLM. Well, at least they wore CityJet’s uniform.

An aspect I was excited for this particular flight was the landing. I was really, really hoping we would land at runway 09 of London-City Airport. The view while landing there would be spectacular as the plane would have to descend above the city of London along with the cool skyscrapers! This was one of the reasons why LCY was my favorite. I landed there in 2013 but didn’t take a video so I planned to do so this time, haha.

But then, as we were flying from the east, we kept descending and descending above the River Thames without making any turn. Then I realized that we were NOT landing at runway 09 but at runway 27 instead! DAMN!!! Damn you wind direction!! Here is the landing video at runway 27:

Well, I guess this means I would need to fly to London City again in the future? Hahaha ๐Ÿ˜† .

Anyway, another reason why I loved London City Airport was its small and compact size. A small airport meant short taxi and quick line at immigration (and baggage belt). I got off the airport in, like, literally less than 20 minutes since EI-RJU touched down at runway 27.

Deboarding at London City Airport from this CityJet’s Avro RJ 85 reg EI-RJU.


To go back to Amsterdam, I chose a KLM flight that was operated by KLM Cityhopper. Btw, KLM’s mainline Boeing 737 fleet cannot fly to London City Airport because the airport is too small for them. The runway length is just 1,508 meter; that is only around 2/3 of, say, the length of Adisutjipto Airport’s runway in Yogyakarta.

It was a small airport and unfortunately SkyTeam did not have a lounge partner there. But the general waiting area was nonetheless comfortable, especially that I scored a seat by the window which had electrical plugs and free wifi and offered this view:

An amazing view at the departure area of London City Airport


I sat there for a good two-hour, haha.

Flight: KLM KL 994 operated by KLM Cityhopper
Equipment: Embraer ERJ190 reg PH-EZF
ATD: 18:08 BST (Runway 27 of LCY)
ATA: 19:51 CET (Runway 36R of AMS)

Boarding today was, unfortunately, quite chaotic. I found it weird actually that given the high frequency of KLM flights between London City and Amsterdam (up to 7 times daily on a weekday), there was no SkyPriority sign and line to help the boarding process. Sure SkyPriority passengers were announced to board first but it was basically useless as there was no actual line and in reality passengers standing closer to the gate would board first anyway.

A KLM Cityhopper’s Embraer ERJ190 reg PH-EZF

Btw, when scanning my mobile boarding pass, the scanner notified the boarding agent that, apparently, I had been upgraded to Europe Business Class! YESSS!!! Haha ๐Ÿ˜† . I was moved from my original 9F seat to 1D and was given a new boarding pass. The downside of this, though, was that I no longer had a window seat ๐Ÿ˜ž. Anyway, so I boarded PH-EZF, a KLM Cityhopper’s Embraer ERJ190, and settled onto my 1D seat. And of course the legroom was amazing, haha ๐Ÿ˜† .

Amazing legroom in Europe Business Class; row 1

It was literally a full flight today, i.e. the load factor in both economy and Europe business class were 100%. So I was intrigued with our take-off today given London City Airport’s short runway, haha. We took off from runway 27; and it turned out that a full Embraer ERJ190 didn’t always need the full 1,508 meter of runway length to take off.

Take off was quite bumpy today, as we were making a u-turn above the city of London (which beautiful view I couldn’t really see due to my aisle seat) towards Amsterdam. After the fasten seat belt sign was turned off, the flight attendant offered any drink to us, which I asked for a cup of green tea. She brought me my green tea and my dinner service. Upon which I also asked for a bottle of champagne, hahahaย ๐Ÿ˜›.

The dinner service on board flight KL994 in Europe Business Class

To my delight, the dinner service today was different from the dinner service on board my previous KLM Europe Business Class flight just two weeks earlier. The main dish was salad with chicken teriyaki skewer and two pieces of warm bread which were really nice. A small cup of potato-salmon salad was also served as the appetizer along with a small cup of chocolate and caramel dessert. This dish kept me busy during the entire flight, where we had started our descent towards Schiphol when I finished it. Though, I still had about a third glass of champagne which I finished in one gulp (๐Ÿ™ˆ) because the crews already had to prepare for landing, haha.

Anyway, we landed at runway 36R of Schiphol and it was not a long taxi to the Fokker Farm. We were taken by a bus to the terminal. I cleared immigration, and went back home to Amsterdam.


Posting-posting dalam seri A Summer Weekend in London:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: London


Aku cukup excited dengan perjalanan ini karena ini adalah kali pertama aku terbang di penerbangan non-Schengen dari Bandara Schiphol semenjak September 2016 ketika aku terbang ke Sint Maarten! Haha ๐Ÿ˜† . Ini juga berarti KALI itu adalah kali terakhir aku mampir di lounge Crown Lounge-nya KLM yang non-Schengen. Aku baru menyadari bahwa aku lebih suka lounge Schengen daripada non-Schengen-nya deh.

Anyway, jelas dong aku memilih penerbangannya KLM untuk pergi ke London City; dan yang membuat bersemangat pagi ini adalah penerbangannya akan dioperasikan dengan satu dari dua pesawat Avro RJ 85 yang mereka sewa dari CityJet! Iyaa, pesawat Avro RJ 85 itu! Pesawat jet regional imut dengan empat mesin!!

Penerbangan: KLM KL 977 dioperasikan oleh CityJet
Pesawat: Avro RJ85 reg EI-RJU
ATD: 12:11 CET (Runway 36L of AMS)
ATA: 11:55 BST (Runway 27 of LCY)

Boardingย berlangsung sedikit terlambat hari ini, tetapi lancar. Setelah semua penumpang naik, sayangnya kapten mendapatkan berita bahwa akibat kemacetan di landasan pacu keberangkatan (akibat cuaca buruk di Amsterdam saat itu), kami baru mendapatkan giliran berangkat 20 menit kemudian. Tetapi tak lama setelahnya, kaptennya mengumumkan bahwa Polderbaan baru saja dibuka untuk keberangkatan dan jika ia setuju untuk menggunakan landasan pacu ini, kami diperbolehkan berangkat saat itu juga. Menurut pertimbangannya, lebih baik taxiing lama kesanaย daripada diam saja di tarmac selama 20an menit kan, haha; dan aku setuju dengannya kali ini. Jadi ya gitu deh, satu keberangkatan dari Schiphol melalui Polderbaan lagi untukku, haha ๐Ÿ˜† .

Keberangkatan dari Polderbaan lagi

Anyway, aku suka deh terbang dengan Avro RJ 85. Pesawatnya kecil tetapi terbangnya stabil banget; sehingga nyaman walaupun konfigurasi kursi 3-3nya terasa “sesak” sih menurutku untuk ukuran lebar kabin yang hanya segitu. Karena penerbangannya dioperasikan untuk KLM, layanan snack-nya juga sesuai standarnya KLM:

Layanan snack di penerbangan KL 977nya CityJet

yang mana oke lah untuk penerbangan singkat selama 45 menit. Walaupun snack-nya adalah dari KLM, sepertinya pramugarinya adalah pramugarinya CityJet. Yah, setidaknya sih mereka mengenakan seragamnya CityJet.

Satu aspek yang membuatku bersemangat dengan penerbangan ini adalah pendaratannya di London. Aku sungguh berharap kami akan mendarat di landasan pacu 09 Bandara London City. Pemandangan ketika mendarat di sana akan spektakuler banget karena pesawatnya harus bergerak turun di atas kota London di antara pencakar-pencakar langitnya itu. Kan kece banget yaaa!! Inilah salah satu alasan mengapa LCY adalah bandara favoritku, haha. Aku mendarat di sana di tahun 2013ย tetapi waktu itu tidak aku video sehingga kali ini aku ingin mem-videonya, haha.

Tetapi kemudian, karena kami terbang dari arah timur, kami terus turun dan turun di atas Sungai Thames tanpa berbelok. Jadilah aku menyadari bahwa kami TIDAK sedang mendarat di landasan pacu 09ย melainkan di landasan pacu 27 dong! SIAALL!!! Dasar nihย arah anginnyaย kok nyebelin begini hari ini, haha ๐Ÿ˜› !! Berikut ini video pendaratannya:

Yah, mungkin ini artinya aku harus terbang lagi ke London City kapan-kapan gitu? Hahaha ๐Ÿ˜† .

Anyway, satu faktor lain yang aku suka Bandara London City adalah ukurannya yang kecil. Sebuah bandara kecil juga berarti taxiing yang singkat dan antri imigrasi yang nggak panjang (juga bagasi), haha. Hari ini, aku bisa keluar dari bandara sekitar kurang dari 20 menit loh semenjak EI-RJU menyentuh landasan pacu 27.

Menuruni pesawat Avro RJ85nya CityJet dengan rego EI-RJU ini di Bandara London City.


Untuk kembali ke Amstedam, aku memilih penerbangannya KLM yang dioperasikan oleh KLM Cityhopper. Btw, pesawat mainline Boeing 737-nya KLM tidak bisa mendarat di Bandara London City karena ukuran bandaranya terlalu kecil untuknya. Bayangkan, panjang landasan pacunya hanya 1.508 meter saja; yaitu sekitar 2/3 dari, misalnya, panjang landasan pacunya Bandara Adisutjipto di Yogyakarta.

Ini adalah bandara kecil sehingga sayangnya SkyTeam tidak memiliki lounge di sana. Tetapi toh ruang tunggunya cukup nyaman kok, apalagi aku mendapatkan satu kursi di sebelah jendela yang dilengkapi dengan wifi gratis dan colokan listrik dengan pemandangan kayak gini:

Pemandangan yang kece banget dari area keberangkatan Bandara London City


Aku duduk di sana sekitar dua jam-an lah, haha.

Penerbangan: KLM KL 994 dioperasikan oleh KLM Cityhopper
Pesawat: Embraer ERJ190 reg PH-EZF
ATD: 18:08 BST (Runway 27 of LCY)
ATA: 19:51 CET (Runway 36R of AMS)

Boardingย hari ini, sayangnya, berlangsung kacau. Aku merasa aneh sebenarnya dengan frekuensi cukup tingginya penerbangannya KLM dari Bandara London City ke Amsterdam (sampai 7 kali sehari di hari biasa), kok tidak ada tanda SkyPriority dan antrian yang berbeda gitu untuk mempercepat proses boarding. Memang sih diumumkan bahwa penumpang SkyPriority diminta naik pesawat duluan, tapi kenyataannya mah percuma aja karena nggak ada antrian dan yang berdiri paling dekat dengan gerbangnya ya bakal naik pesawat duluan, haha.

Sebuah Embraer ERJ190nya KLM Cityhopper dengan rego PH-EZF

Btw, ketika meng-scan mobile boarding pass-ku, scanner-nya mengeluarkan bunyi dan memberi-tahu petugasnya bahwa, ternyata, aku telah di-upgrade ke kelas bisnis Eropa dooong! YESSS!!! Haha ๐Ÿ˜† . Aku dipindahkan dari kursi 9F ke kursi 1D dan diberikan boarding pass baru. Tapi sisi nggak enaknya adalah aku jadi tidak lagi duduk di kursi jendela nihย ๐Ÿ˜ž. Anyway, jadilah aku menaiki PH-EZF, sebuah Embraer ERJ190nya KLM Cityhopper, dan duduk di kursi 1Dku. Jelas legroom-nya mantap lah, haha ๐Ÿ˜† .

Legroom yang mantap di kelas bisnis Eropa, baris 1.

Penerbangan hari ini adalam penerbangan yang penuh, dalam artian load factor di kelas ekonomi dan kelas bisnis Eropa adalah 100% di kedua kelas. Jadilah aku penasaran bagaimana lepas landasnya dari Bandara London City yang landasan-pacunya pendek itu, haha. Kami lepas landas dari landasan pacu 27, dimana mesin langsung dimaksimalkan dari awal; dan ternyata dengan begini sebuah Embraer ERJ190 yang penuh toh tidak membutuhkan keseluruhan panjang 1.508 meter landasan pacu itu untuk terbang.

Lepas landas sendiri berlangsung cukup bumpy hari ini, ketika kami berputar balik di atasnya kota London (yang mana pemandangan kecenya tidak bisa kulihat karena kursi aisle-ku) menuju Amsterdam. Setelah lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan, pramugarinya menawarkan minuman, dan aku meminta segelas teh hijau. Ia membawakan teh hijauku beserta layanan makanannya. Jadilah sekalian aku minta champagne juga dong ya, hahahaย ๐Ÿ˜›.

Layanan makan malam di kelas bisnis Eropa penerbangan KL994.

Yang membuatku senang, menu layanan makan malam kali ini berbeda loh daripada menu layanan makan malam di penerbangan kelas bisnis Eropaku dengan KLM sebelumnya, yang mana dua minggu sebelumnya. Menu utamanya adalah salad dengan sate ayam dengan saus teriyaki dengan dua potong roti hangat yang mana rasanya enak. Satu cup kecil salad kentang-salmon juga disajikan sebagai hidangan pembuka dengan satu cup kecil coklat dan karamel untuk pencuci mulut. Menghabiskan satu menu ini memakan waktu keseluruhan penerbangannya untukku, haha, dimana pesawat sudah mulai turun menuju Bandara Schiphol ketika aku selesai. Walaupun, sekitar 1/3 gelas champagne-nya masih tersisa sih yang langsung aku habiskan sekali teguk (๐Ÿ™ˆ) karena pramugari/a-nya sudah harus bersiap-siap untuk mendarat, haha.

Anyway, kami mendarat di landasan pacu 36R Bandara Schiphol dan pesawat parkir di Fokker Farm. Kami diantar dengan bus ke terminalnya. Setelah pengecekan imigrasi, aku naik kereta kembali ke Amsterdam.