EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2140 – A Short Weekend in Geneva

ENGLISH

I went on a weekend trip to Geneva at the end of June. Here is the story of that short trip…

I didn’t get that much sleep that night as I got back home late the night before due to the annual Summer Party, so I woke up feeling … , well, let’s just say I would need a lot of coffee to get through today’s travel! Haha 😆 . Long story short I arrived at Schiphol and, as usual, waited for my flight at the KLM Crown Lounge.

An Air France’s Airbus A321-100 reg F-GMZE

My first flight today would be operated by Air France with their Airbus A321-100 reg F-GMZE. It had been awhile since I flew this series of A321, and only my second time ever, actually (the first time being on an Alitalia’s three years ago). Being one of the older Air France frames mainly serving “secondary” routes, the seats on board F-GMZE were the “older” intra-European ones, though. Anyway, boarding commenced on time and I settled nicely onto my 1A seat.

The flight itself went pleasantly and it was really on time. Though, I felt like somehow the snack quality in economy on board short-haul Air France’s flights had deteriorated lately. On this flight, Air France served sandwiches with two options: tuna or egg. I chose the egg one, which looked sloppy:

The complimentary snack on board an Air France fight

and … cheap, didn’t it?

Anyway, transitting at Marseille Airport was also not as nice as I had to go out to the landside, changed terminal on foot under the 37°C Mediterranean heat, and cleared security to get back to the airside again. Though thankfully, unlike my previous transfer at Toulouse Airport, I had a long transfer time this time so I did not need to hurry, haha.

The second flight to Geneva was operated by HOP! Regional with their Embraer ERJ145 reg F-GRGD. Again, it was a pleasant, really smooth, and on time flight. I love flying with an ERJ145, though. It is a small plane so I just love taking this kind of selfies on board, haha:

The mandatory Embraer ERJ145 selfie on board HOP! Regional’s F-GRGD

I then checked in at my hotel after arriving in Geneva. After a quick rest, I went out for dinner. I knew I wanted the same steak that I had two years ago there. It wasn’t difficult to find the restaurant, haha. And the steak was still as delicious as it was two years ago! I was really satisfied!! 😀

This steak in Geneva was still as good as it was two years ago!

I went on a short walk after dinner but not for too long. While it hadn’t really been a long day, to my body it was because I didn’t get a good long sleep the night before. And so I decided to go back to the hotel not long after. Well, after enjoying the sunset and took a selfie to capture the moment, of course, haha…

A selfie with Le Jet d’Eau during sunset.

The next day I decided to take it easy again as I had nonetheless explored Geneva two years ago so I didn’t feel “rushed” at all. I had my complimentary breakfast at the hotel and checked-out just before 11 AM. I walked to Le Jet d’Eau, and then went to a Starbucks because it was really, really warm today! Starbucks did feel like an oasis! Haha 😛 .

Anyway, as Geneva was really close to the French border, I did notice a strong France influenced there. Most of the shops were closed on a Sunday! Even the main shopping street was “dead” with almost no store operating, haha… .

The food option at the Air France Lounge at Geneva Airport

I then went to the airport. I got my boarding pass at KLM’s checkin desk and proceeded to the Air France/KLM Lounge. I found the lounge decent enough especially if the waiting time was not too long. This was because the seats weren’t the most comfortable and, what I mainly missed, there was no warm food option, which I really missed.

Long story short, I boarded my KLM flight back to Amsterdam, which was operated with their Boeing 737-700 reg PH-BGR. As usual, it was a pleasant regular short-haul flight with KLM.

Yeah, that is the story of my short weekend in Geneva this summer! 😀

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan ke Geneva di akhir Juni yang lalu. Berikut ini cerita dari perjalanan singkat ini…

Aku tidak tidur lama di malam sebelum keberangkatan karena aku pulang malam semalam sebelumnya karena aku ikutan Summer Party tahunan kantorku, jadilah ketika bangun aku merasa … , hmm, aku bakal butuh kopi bergelas-gelas deh hari ini! Haha 😆 . Singkat cerita, tibalah aku di Schiphol dan seperti biasa aku menunggu penerbanganku di KLM Crown Lounge.

Sebuah Airbus A321-100 rego F-GMZEnya Air France.

Penerbangan pertamaku hari ini akan dioperasikan oleh Air France dengan pesawat Airbus A321-100 rego F-GMZE. Sudah lumayan lama semenjak terakhir aku terbang dengan seri A321 ini, dan ini hanya lah kali kedua sebenarnya (kali pertama adalah dengan Alitalia tiga tahun yang lalu). Karena merupakan salah satu pesawat tertuanya Air France yang kebanyakan melayani rute-rute “sekunder”, kursi di dalam F-GMZE adalah kursi intra-Eropa model lama. Anyway, boarding berlangsung tepat waktu dan aku duduk manis di kursi 1Aku.

Penerbangannya sendiri berlangsung nyaman dan tepat waktu banget. Walaupun begitu, aku kok merasa akhir-akhir ini kualitas snack di kelas ekonomi di penerbangan jarak dekatnya Air France menurun ya. Di penerbangan ini, Air France menawarkan sandwich dengan dua pilihan isi: tuna atau telur. Aku memilih yang isi telur, dan penampakannya tidak rapi kayak gini:

Layanan snack di penerbangannya Air France

dan … nampak murahan nggak sih?

Anyway, pindah pesawat di Bandara Marseille juga nggak begitu nyaman karena aku harus keluar bandara ke area landside, pindah terminal dengan berjalan-kaki di bawah terik matahari Mediterania yang panasnya 37°C, dan melewati pemeriksaan sekuriti untuk kembali ke area airside. Tapi tidak seperti pengalaman transitku sebelumnya di Bandara Toulouse, seenggaknya kali ini waktu transitku lama sih sehingga aku tidak perlu terburu-buru, haha.

Penerbangan kedua ke Geneva hari ini dioperasikan oleh HOP! Regional dengan pesawat Embraer ERJ145 rego F-GRGD. Lagi, penerbangan ini adalah penerbangan nyaman, mulus banget, dan tepat waktu. Aku suka banget deh terbang dengan ERJ145. Pesawatnya adalah pesawat kecil jadi seru aja gitu untuk berfoto selfie kayak gin, haha:

Selfie Embraer ERJ145 wajib di dalam F-GRGDnya HOP! Regional

Aku kemudian check-in di hotelku setelah tiba di Geneva. Setelah beristirahat sejenak, aku keluar untuk makan malam. Aku tahu aku ingin kembali di restoran steak yang kukunjungi dua tahun yang lalu. Nggak sulit kok untuk menemukan restorannya, haha. Dan steak-nya masih seenak dua tahun yang lalu! Puas banget deh!! 😀

Steak di Geneva ini masih seenak dua tahun yang lalu!!

Aku kemudian berjalan-kaki sejenak setelah makan malam tapi nggak lama sih. Walaupun sebenarnya bukan lah hari yang tergolong panjang, tapi bagi badanku hari ini sudah terasa panjang banget karena semalam sebelumnya aku tidak cukup beristirahat. Jadilah aku memutuskan untuk kembali ke hotel tak lama setelahnya. Yah, tentu saja setelah menikmati sunset yang lagi kece banget hari itu dan berfoto selfie untuk mengabadikan momennya, haha…

Selfie dengan Le Jet d’Eau ketika sunset.

Keesokan harinya juga aku memutuskan untuk bersantai saja karena toh aku sudah pernah mengelilingi Geneva dua tahun yang lalu sehingga aku tidak merasa “diburu-buru”. Aku sarapan di hotelku, yang mana kamarku sudah termasuk sarapan, dan kemudian check-out sekitar jam 11 pagi. Aku berjalan-kaki ke Le Jet d’Eau, dan kemudian mampir di Starbucks karena hari ini panas banget dong! Saking panasnya Starbucks jadi berasa seperti oasis! Haha 😆 .

Anyway, karena Geneva toh memang dekat dengan perbatasan dengan Prancis, aku merasakan pengaruh Prancis yang kuat di sana. Kebanyakan toko tutup di hari Minggu itu! Bahkan jalan pertokoan utamanya terasa “mati” karena hampir tidak ada toko yang buka, haha… .

Pilihan makanan di Lounge Air France Lounge di Bandara Geneva

Jadilah kemudian aku pergi ke bandara. Aku mendapatkan boarding pass-ku di konter check-in-nya KLM dan kemudian menuju ke lounge-nya Air France/KLM. Aku merasa lounge-nya oke lah terutama jika waktu tunggu kita tidak lama. Ini karena kursinya sebenarnya tidak begitu nyaman banget dan, yang paling berpengaruh untukku, tidak ada pilihan makanan hangatnya, haha.

Singkat cerita aku kemudian menaiki penerbangan KLMku kembali ke Amsterdam, yang mana dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-700 rego PH-BGR hari ini. Seperti biasa, ini adalah penerbangan jarak-dekat reguler yang nyaman dengan KLM.

Jadi ya gitu deh cerita perjalanan singkatku ke Geneva di musim panas ini! 😀

Advertisements
EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2135 – In Paris for RG18

ENGLISH

Posts in the Tennis Weekend in Roland Garros 2018 series:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

The Transport

As I shared in the Introduction post, my transport (read: flights 😛 ) routing for this trip looks like the following:

My routing this weekend. From gcmap.com

I was desperately looking for a non-direct return option and this was the best option (price-wise, schedule-wise, and routing-wise) which I could find at the time, haha 😀 .

Anyway, in this trip I found out that the food section Schengen KLM Crown Lounge had gone through some mini “renovations” with the introduction of some kitchenary which, to me, looked refreshing and better than before! I also felt like the warm food quality was better than usual; though for this I am not sure if this was due to the seasonal menu change or it was a real improvent.

It was perhaps minor but this rack was certainly a nice addition to the lounge!

My flight to Toulouse would leave from Paris-Orly Airport. I took the OrlyBus to get there, which would only be my second time since December 2012! Haha 🙂 . Btw, I also realized that it was better (location-wise) to go via Orly Airport when visiting Paris as it was closer to the city than Charles De Gaulle. Also, I felt like the OrlyBus was much more convenient than the RER B train; though, perhaps the next time I should try a Le Bus Direct service to the city center from Paris-CDG. I have used this bus service a couple of times already actually but both trips were between Paris-CDG and Paris-ORY while transferring between the two airports (this “airports shuttle” route was free with my Flying Blue status 😀 ) and I found the bus ride comfortable, hmm.

An OrlyBus at Denfert-Rochereau in Paris

My transfer time in Toulouse was only 50 minutes, which was quite tight. As I arrived quite early at Orly, I asked a check-in agent if it was possible for me to move to one of the two earlier Air France flights to Toulouse which would give me more of a leeway during transfer. She said my ticket allowed free change of flight BUT both flights were full already. Oh well…

And then, as with pretty much all other airports in France (with the exception of Charles De Gaulle), transferring experience at Toulouse Airport was horrible because I had to exit the airport and reentered it again meaning I would need to clear security again. It was such a hassle, especially with such a short connection time! It also happened that I was behind a young couple with a baby at security who brought a lot of stuffs which weren’t packed correctly! Lol 😆 .

A KLM Cityhopper’s Embraer E175 reg PH-EXW at Toulouse-Blagnac Airport

But nonetheless, in the end I made the connection. KLM Cityhopper’s brand new Embraer ERJ175 reg PH-EXW was just arriving in Amsterdam when I cleared security so I knew I was safe. Though, even if I missed it, I knew KLM still had two flights to Amsterdam later on today, haha. Having said that, this experience reminded me to book an option with longer transfer time while connecting in a French airport other than Paris-CDG! Haha 😆

Paris

Anyway because I arrived on Friday afternoon, I spent the entire Saturday at Roland Garros (see Part I), and Sunday was my flying day, I did not have a lot of time to explore Paris itself. But I didn’t mind as I have been there a few times already.

This year I went to Notre Dame in Paris

Though, I still managed to go to Notre Dame for my annual selfie with a Paris landmark on my Roland Garros trip, haha 😆 (I took a selfie with the Eiffel Tower four years ago, the Sacré-Cœur three years ago, the Arc De Triomphe two years ago, and the Louvre last year 😛 ). Btw, so actually I am wondering what should be the landmark for this selfie next year? Haha 😆 .

A delicious confit de canard in Paris!

Speaking Paris, it means French, and it also means French Food, one of my most favorite food in the world! And as usual, the French food did not disappoint! This time I also followed my “tradition” though as in the previous years. I had a confit de canard as my first dinner at a restaurant near Notre Dame, and an escalope de veau at a restaurant I knew nearby Roland Garros after visiting the tournament! And btw, the confit de canard was one of the better ones which I have ever had in Paris! The restaurant name was Le Lutece, and I should definitely write this name down somewhere (like here in this blog 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Tennis Weekend in Roland Garros 2018:
1. Introduction
2. Part I: Roland Garros 2018
3. Part II: Paris

Transportasi

Seperti yang kusebutkan di posting Introduction, rute transportasiku (baca: penerbangan-penerbangan 😛 ) kali ini adalah kayak begini:

Ruteku di akhir pekan ini. Dari gcmap.com

Jelas dong aku maunya penerbangan pp yang tidak non-stop dan ini adalah opsi yang terbaik (dari segi harga tiket, jadwal, dan rute) yang bisa kutemukan waktu itu, haha 😀 .

Anyway, di perjalanan ini aku lihat bagian makanan di Crown Lounge Schengen-nya KLM sudah “direnovasi” sedikit loh dengan beberapa perabotan yang, bagiku, nampak menyegarkan dan lebih oke daripada sebelumnya! Juga, aku merasa kualitas makanan hangatnya lebih oke daripada biasanya; walaupun untuk yang ini aku tidak yakin apakah hanya dikarenakan perubahan menu musiman saja atau beneran kemajuan sih.

Mungkin sepele sih tapi rak roti ini adalah tambahan perabot yang oke untuk lounge-nya!

Penerbanganku ke Toulouse akan diberangkatkan dari Bandara Paris-Orly. Aku menaiki OrlyBus untuk pergi ke sana, yang mana adalah kali kedua aku menaikinya setelah yang pertama kali adalah di bulan Desember 2012! Haha 🙂 . Btw, aku juga baru benar-benar sadar bahwa dari segi lokasi, Bandara Orly ini lebih oke daripada Charles De Gaulle jika kita berniat mengunjungi Paris. Juga, aku merasa OrlyBus ini lebih nyaman daripada kereta regional RER B; walaupun mungkin lain kali aku akan mencoba layanan bus Le Bus Direct sih ke pusat kota dari Paris-CDG. Sebenarnya sih aku sudah pernah dua kali naik bus ini tapi di keduanya aku bepergian dari Paris-CDG ke Paris-ORY ketika transit di antara dua bandara ini (“Layanan antar bandara” ini gratis untukku karena status Flying Blue-ku 😀 ) dan perjalanan dengan busnya menurutku nyaman, hmm.

Sebuah OrlyBus di Denfert-Rochereau di Paris

Waktu transitku di Toulouse hanyalah 50 menit, yang mana lumayan mepet kan ya. Karena aku tiba agak kepagian di Orly, aku bertanya ke agen check-in-nya apakah bisa aku pindah ke salah satu dari dua penerbangan Air France ke Toulouse yang berangkat lebih awal sehingga waktu transitku agak panjangan gitu. Petugasnya berkata sebenarnya tiketku adalah tiket fleksibel yang membebaskanku untuk berpindah penerbangan tanpa dikenakan biaya TAPI masalahnya hari ini kedua penerbangan ini sudah full banget dong. Ya sudah lah ya…

Dan kemudian, seperti selayaknya bandara-bandara lain di Prancis (kecuali Charles De Gaulle sih), pengalaman transit di Bandara Toulouse itu parah nggak enak banget dah, haha. Aku harus keluar bandaranya dan kemudian memasukinya lagi yang mana artinya aku harus melewati pemeriksaan sekuriti lagi. Kan repot banget ya jadinya, apalagi dengan waktu transit yang mepet! Mana kebetulan pula di pemeriksaan sekuriti aku berada di belakangnya sepasang suami-istri muda dengan bayi mereka yang bawaannya ke kabin segambreng banget dan itu pun tidak di-pack dengan benar! Haha 😆

Sebuah Embraer E175 rego PH-EXW-nya KLM Cityhopper di Bandara Toulouse-Blagnac

Ah tapi pada akhirnya ternyata waktu transitnya cukup kok dimana aku tidak ketinggalan penerbangan lanjutanku, haha. Pesawat baru Embraer ERJ175 rego PH-EXWnya KLM Cityhopper baru saja tiba dari Amsterdam ketika aku selesai melewati pemeriksaan sekuritinya jadi aku tahu aku aman. Walaupun sebenarnya andaikata ketinggalan pun aku tahu KLM masih ada dua penerbangan ke Amsterdam sih sore harinya nanti, jadi aman banget lah ya, haha. Walaupun begitu, pengalaman ini mengingatkanku untuk sebaiknya membeli tiket dengan waktu transit yang agak panjangan jika transitnya di sebuah bandara Prancis selain di CDG! Haha 😆

Paris

Anyway karena aku tiba di Jumat sore, Sabtuku seharian aku habiskan di Roland Garros (baca Bagian I), dan di hari Minggu aku sudah pulang, aku tidak memiliki banyak waktu untuk jalan-jalan di Parisnya sendiri. Tapi nggak masalah sih karena toh aku sudah pernah beberapa kali kesana.

Tahun ini aku pergi ke Notre Dame di Paris

Walapun begitu, aku masih sempat pergi ke Notre Dame untuk selfie tahunanku di perjalanan Roland Garros ini dengan sebuah landmark-nya Paris, haha 😆 (Aku selfie dengan Menara Eiffel empat tahun yang lalu, dengan Sacré-Cœur tiga tahun lalu, dengan Arc De Triomphe dua tahun lalu, dan dengan Louvre tahun lalu  😛 ). Btw, jadi sebenarnya sekarang aku jadi bertanya-tanya nih enaknya tahun depan selfienya dengan landmark apa lagi ya? Haha 😆

Confit de canard yang enak banget di Paris!

Ngomongin Paris, artinya Prancis, artinya makanan Prancis, salah satu makanan favoritku! Dan seperti biasa, masakan Prancis itu tidak pernah mengecewakan! Kali ini aku juga mengikuti “tradisiku” seperti tahun-tahun yang lalu. Aku makan confit de canard di hari pertama dan escalope de veau di restoran langgananku di dekatnya Roland Garros setelah mengunjungi turnamennya! Dan btw, confit de canard yang ini adalah salah satu yang terenak yang pernah aku makan di Paris loh! Nama restorannya adalah Le Lutece, dan aku sepertinya harus menuliskannya nih supaya nggak lupa (seperti misalnya di blog ini 😛 ).

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2124 – A Long Weekend in Budapest (Part II: The Flights Drama)

ENGLISH

Posts in the Long Weekend in Budapest series:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Between stories of Buda and Pest, let me share a couple of stories of what happened to and during my flights; which both turned out to be “unusual”, in a very different way.

A Barf Bag Story

A “unique” incident happened during my KL1977 flight to Budapest. First of all, let me warn you that this incident is “gross” so if you don’t feel like reading it, I recommend you to skip this section altogether. Proceed on your own risk, haha…

The incident took place on board this KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BXY

At one point during the flight I was queuing for one of the two lavatories at the rear of the plane. Both cabins were occupied at the time and there were two ladies in the line in front of me. Then suddenly, a young guy stood up and briskly walked (it was almost “running” actually) towards the back of the plane, appearing to be “rushing”. For a split second I was a little bit annoyed because I thought he was intending to cut the lines but nonetheless I let him anyway; giving him the benefit of the doubt. This … turned out to be a great decision (for me) because …

literally after passing myself, he started to puke! Like, he was puking so bad that the puke sprayed over onto the lady at the front of the line (who then screamed out of shock) and onto the lower arm of the lady in front of me. I mean, WTF. Btw, it was a really “bad” puke, where he went on a few “rounds”. All of it, of course, spilled all over the floor of the rear galley because at the time both lavatories were occupied. As for myself, I was “safe”; and then I was asked to use the lavatory at the front of the plane.

When I came back to my seat, I checked if KLM provided a barf bag in each seat. And they did. So I was wondering why the guy did not use the barf bag instead. But perhaps it was his reflex to go to the toilet when feeling like puking or that perhaps he wasn’t aware of the barf bag … or both.

A KLM’s barf bag

The flight attendants were really professional, btw. Of course they had to wipe and clean the floor, which they did quickly; they also helped the guy and the unlucky lady who then (obviously) changed her clothes, and made sure that she, too, was alright.

Yeah, what an experience to witness!

A Delayed Flight Drama

Anyway, I mentioned in the Introduction post, here is the original routing of my flights for this trip:

To get back to Amsterdam, I was supposed to fly an Air France’s flight to Paris-CDG then transferred to KLM’s last Paris-CDG to Amsterdam that day, with only 40 minutes of transfer time. It was really tight, but doable.

The trip started smoothly as usual. I arrived a little bit early at the airport so the check-in desks were still closed. Nevertheless, I still could get my boarding pass via the self check-in machine. I then cleared security and went to the (small) lounge.

Then I noticed that my Air France flight to Paris would be delayed by 30 minutes. With only 40 minutes of transfer in Paris, of course I immediately understood that this was a signal of an upcoming problem; especially that I was transferring to Air France/KLM’s last flight to Amsterdam from Paris! I then asked the lounge agent who then informed me that there was no ticketing agent in the airside so I would need to get back to the check-in area in the landside to confirm my status. It would be very inconvenient, but I felt like this was the better alternative than just doing nothing and letting the situation unravel.

By the time I arrived at the check-in area (for the second time today), the delay had been extended to one hour.

The check-in desks were already opened at the time but the lines were uncharacteristically crowded, including the Priority line, haha. Anyway long story short I explained my situation to the check-in lady, who was nice and worked very efficiently. Fortunately, it was still in time for me to be transferred to KLM’s last direct flight back to Amsterdam today, and there were still quite some seats available! Of course Air France/KLM moved me to this direct flight free of charge; as otherwise they would likely need to provide me a big amount of compensation under the Flight Compensation Regulation 261 of the European Union Law, an amount that would have been a lot more than the ticket price I paid (i.e. I would have made a “profit” out of this trip, lol 😆 ).

Luckily it was still in time for me to get transferred to KLM’s last direct flight to Amsterdam with this Boeing 737-800 reg PH-BCA

So yeah, instead of flying the triangle AMS-BUD-CDG-AMS routing this long weekend, I ended up only flying the “efficient” AMS-BUD-AMS routing, haha. Btw, eventually the Air France flight to Paris was delayed for almost four hours, arriving at Paris-CDG only at 11:19 PM! If I had been taking that flight, I would have needed to stay overnight at Paris-CDG (which Air France/KLM would pay for, I assume) and, presumably, would have been transferred to one of Air France/KLM’s morning flights the next day to Amsterdam. Thankfully I was able to realize the upcoming of this problem and that I was being proactive in preventing it from unraveling in the first place!

Delayed AF1295

It would have been a huge inconvenience; and to be honest I am not sure if the compensation would have made up for it, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Long Weekend in Budapest:
1. Introduction
2. Part I: Buda of Budapest
3. Part II: The Flights Drama
4. Part III: Pest of Budapest

Di sela-sela cerita dari Buda dan Pest, aku isi dulu dengan dua cerita akan apa yang terjadi dengan dan dalam penerbangan-penerbanganku; yang mana keduanya adalah kejadian yang “tidak biasa”, dalam hal yang berbeda.

Cerita Kantong Mabuk Udara

Satu kejadian “unik” terjadi di penerbangan KL1977ku ke Budapest. Pertama-tama, aku peringatkan bahwa kejadian ini “menjijikkan” sehingga kalau ogah membaca beginian, bagian ini silakan dilewati saja. Jadi sudah pada paham risikonya ya, haha…

Kejadiannya mengambil tempat di dalam pesawat Boeing 737-800 rego PH-BXYnya KLM ini

Di satu waktu ketika sedang terbang aku mengantri untuk menggunakan satu dari dua toilet di bagian belakang pesawat. Kedua toiletnya sedang digunakan waktu itu dan ada dua ibu-ibu yang mengantri juga di depanku. Lalu tiba-tiba, seorang laki-laki muda berdiri dan berjalan cepat (nyaris “berlari” sih sebenarnya) ke bagian belakang pesawat, dan dia nampak terburu-buru. Untuk sepersekian detik aku merasa sebal karena kok kayaknya dia mau memotong antrian gitu tetapi pada akhirnya dia aku biarkan lewat; kan aku toh belum tahu motifnya apa kan ya. Ini … ternyata adalah keputusan yang bijak (untukku) karena …

begitu melewatiku, ia tiba-tiba muntah dong! Muntahnya parah banget dimana muntahannya keluar mengenai badan ibu-ibu yang mengantri paling depan (yang mana jelas teriak karena kaget dan syok) dan juga mengenai lengan bawah ibu-ibu di depanku. Maksudku, gila apa-apaan ini yang barusan terjadi! Btw, muntahannya “parah” karena keluarnya dalam beberapa “ronde” gitu. Semuanya, tentu saja, dikeluarkan di lorong bagian belakang pesawat karena waktu itu kedua toilet sedang dipakai. Untukku, aku sih “aman”; dan kemudian aku diminta untuk menggunakan toilet di bagian depan pesawat.

Ketika aku kembali di kursiku, aku mengecek apakah KLM menyediakan kantong mabuk udara di setiap kursi. Dan ternyata memang ada kok. Jadilah aku penasaran mengapa ya laki-lakinya itu tidak menggunakan kantongnya. Tapi mungkin refleks ya untuk pergi ke toilet ketika merasa ingin muntah, atau mungkin dia tidak menyadari keberadaan kantong ini, … atau mungkin keduanya.

Kantong mabuk udaranya KLM.

Pramugarinya profesional sekali, btw. Jelas mereka harus mengelap (atau mengepel?) dan membersihkan lantainya dari muntahan, yang mana mereka lakukan dengan cepat; mereka juga membantu laki-laki dan ibu-ibu yang sedang sial itu yang mana (jelas) harus ganti baju, dan memastikan pula bahwa ibu-ibu ini juga tidak apa-apa.

Iya, sebuah kejadian tidak biasa!

Drama Penerbangan Delay

Anyway, kusebutkan di bagian Introduction bahwa rute awal penerbanganku untuk perjalanan ini adalah sebagai berikut:

Untuk kembali ke Amsterdam, aku memiliki tiket untuk terbang dengan Air France ke Paris-CDG dan kemudian transfer ke penerbangan terakhir Paris-CDG ke Amsterdam-nya KLM hari itu, dengan waktu tranfer yang hanya 40 menit. Mepet banget sih memang, tapi masih bisa dan sempat kok.

Perjalanannya dimulai dengan mulus seperti biasa. Aku tiba di bandaranya agak kepagian sehingga konter check-in-nya masih tutup. Toh biarpun begitu, aku masih bisa mendapatkan boarding pass-ku dengan menggunakan mesin self check-in. Aku kemudian melalui pemeriksaan sekuriti dan menunggu di lounge (yang berukuran nggak terlalu besar).

Lalu aku lihat di layar penerbangan Air France-ku ke Paris akan terlambat 30 menit dong. Dengan waktu transfer yang hanya 40 menit di Paris, aku langsung jelas memahami bahwa ini adalah sebuah pertanda akan masalah besar yang bakalan segera datang; terutama karena aku akan transfer ke penerbangan terakhir-nya Air France/KLM ke Amsterdam dari Paris hari ini! Aku kemudian bertanya ke petugas lounge-nya yang memberi-tahuku bahwa sayangnya tidak ada petugas tiket di airside bandara sehingga aku harus pergi ke luar kembali ke area check-in di sisi landside untuk memastikan statusku. Bakal nggak nyaman dan repot sih, tapi aku merasa ini adalah alternatif yang lebih baik daripada diam saja dan pasrah.

Ketika aku tiba kembali di area check-in, delay-nya sudah memanjang menjadi satu jam.

Kali ini konter check-in-nya sudah ramai dan kebetulan pula tidak seperti biasanya antriannya panjang, termasuk di jalur prioritas. Singkat cerita, aku jelaskan situasiku ke petugas check-in-nya, yang sangat membantu dan bekerja dengan sungguh efisien. Beruntung sekali masih ada cukup waktu untukku dipindahkan ke penerbangan langsung terakhirnya KLM ke Amsterdam hari ini, dan pas pula masih ada lumayan banyak kursi yang tersedia! Jelas Air France/KLM memindahkanku ke penerbangan langsung ini dengan tanpa biaya sama sekali; karena jika tidak kemungkinan besar mereka harus memberikan kompensasi yang sangat besar untukku berdasarkan Regulasi Kompensasi Penerbangan 261 di bawah Hukum Uni Eropa, yang mana besarnya jauh lebih banyak daripada total harga tiket pp-ku (dengan kata lain, aku bisa malah mendapatkan “untung” nih dari perjalanan ini, haha 😆 ).

Untungnya masih ada cukup waktuku untukku dipindahkan ke penerbangan langsung terakhirnya KLM ke Amsterdam dengan Boeing 737-800 rego PH-BCA ini

Jadi ya, bukannya terbang dengan rute segitiga AMS-BUD-CDG-AMS akhir pekan ini, aku malah terbang di rute “efisien” AMS-BUD-AMS, haha. Btw, pada akhirnya penerbangan Air France ke Parisnya itu delay sekitar hampir empat jam dong, dan baru tiba di Paris-CDG jam 11:19 malam! Andaikata aku terbang dengannya, aku bakalan harus menginap ekstra semalam di Paris-CDG (yang mana aku duga biayanya juga akan ditanggung Air France/KLM) dan, aku asumsikan, akan dipindahkan ke salah satu penerbangan paginya Air France/KLM keesokan harinya ke Amsterdam. Beruntung sekali aku bisa menyadari masalah yang akan terjadi ini dan aku bertindak proaktif untuk mencegahnya terjadi!

AF1295 yang terlambat

Pastinya bakal tidak nyaman banget kan ya; dan sejujurnya aku nggak yakin sih kompensasinya bakalan worth it, haha 😆 .

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2113 – A Koningsdag 2018 Weekend in Switzerland (Part I: Luzern)

ENGLISH

Posts in the Koningsdag 2018 Weekend in Switzerland:
1. Introduction
2. Part I: Luzern
3. Part II: Zürich

Getting to Luzern

As there was no airport in Luzern, I had to fly to Zürich, the closest city with an international airport, and then took the train from there. As my flight was scheduled to leave at 3:15 PM, I left my office for the airport just after lunch. As usual, at Schiphol I waited at the KLM Crown Lounge.

A KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BXZ at Schiphol

My flight today would be operated with a KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BXZ. Upon boarding, the gate notified me that I got upgraded to Europe Business Class again! Yeay! :mrgreen: And so I settled onto my new 1F seat on board PH-BXZ.

Got upgraded to Europe Business Class!!

Boarding went efficiently today where all passengers (the flight was completely full, 100% in economy and seven of the eight Europe Business Class seats were taken), but Zürich Airport was very busy so we had to wait before getting the clearance for departure. Long story short, we departed not long after and the one hour flight to Zürich started.

Not long after take off, the early dinner service was provided, which was a delicious salmon salad with some side dishes. As for the drink, I obviusly asked for the sparkling wine and a glass of water, haha. The rest of the flight was a pleasant and uneventful flight. At 4:35 PM we landed at runway 14 of Zürich Airport.

The early dinner service on KLM’s Europe Business Class flight to Zürich

At the airport, I bought a one-way train ticket to Luzern costing CHF 30. There was no direct connection departing shortly so I decided to take an option with a 20 minutes transit at Zürich HB. Long story short, I arrived at Luzern at about 6:30 PM.

Luzern

A Luzern selfie

Luzern was a very pretty Swiss town, though rather petite in size, haha. I stayed for two nights there and felt like this was definitely a little bit too much for the town itself. However, there were several other interesting places nearby the city, like the Pilatus Railway, which I didn’t get the chance to visit because I didn’t have the time, haha.

Anyway, the main attraction of Luzern was the impossible-to-miss Kapellbrücke (the Chapel Bridge), a wooden pedestrian bridge crossing the Reuss River in the Altstadt Area of the city. The bridge was also connected to the Wasserturm (Water Tower) which apparently was once used as a prison and torture chamber 😅.

The Chapel Bridge and the Water Tower in Luzern

The Altstadt itself was also beautiful, as the buildings from the Medieval age were very well-preserved! The Kapellbrücke wasn’t the only wooden bridge in Luzern, btw. A bit further down the Reuss, there was the shorter Spreuerbrücke which was also a beautiful wooden bridge. This other bridge was located next to a dam on the river which also served as a recreational area. Oh btw, I was very lucky this weekend where the weather was amazing so many people took the chance to go out as well, hence the lively atmosphere!

Anyway, just like Zürich, Luzern was also quite hilly in the Altstadt. On top of one of the hills, btw, stood a Medieval fortification with several towers that were open for public (and were free of charge to visit). It was so well the effort to climb all the way up there, because the view was magnificent! Lake Luzern was visible with a backdrop of the amazing Alps Mountain. Incredible!!

Lake Luzern and the Alps in the background.

The Kapellbrücke and the Altstadt weren’t the only “tourist” destinations in the city. Das Löwendenkmal (the Lion Monument), a rock relief of a mortally-wounded lion, was also famous; and beautiful! You could really feel the mourn the sculptor would like to portray with it.

The Lion Monument in Luzern

Anyway, food-wise I was happy that I got the chance to have a raclette on this trip to Luzern! It didn’t look as I expected (As somehow I expected the waitress to pour the molten cheese to my plate in front of me; and the dish was served ready), but it tasted great!! 😀

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Akhir Pekan Koningsdag 2018 di Swiss:
1. Introduction
2. Part I: Luzern
3. Part II: Zürich

Menuju Luzern

Karena di Luzern tidak ada bandara, aku harus terbang ke Zürich, kota terdekat dengan bandara internasional, dan dari sana naik kereta menuju Luzern. Karena penerbanganku dijadwalkan berangkat jam 3:15 sore, aku berangkat dari kantor setelah makan siang. Seperti biasa, di Schiphol aku menunggu di Crown Lounge-nya KLM.

Sebuah Boeing 737-800 milik KLM rego PH-BXZ di Schiphol

Penerbanganku hari ini akan dioperasikan KLM dengan Boeing 737-800 rego PH-BXZ. Ketika boarding, gerbangnya memberi-tahuku bahwa aku di-upgrade ke Kelas Bisnis Eropa lagi dong! Hore! :mrgreen: Dan jadilah kemudian aku duduk di kursi 1F di dalam PH-BXZ.

Di-upgrade ke Kelas Bisnis Eropa!!

Boarding berlangsung efisien hari ini (dimana penerbangannya penuh, kelas ekonomi penuh 100% dan tujuh dari delapan kursi Kelas Bisnis Eropa terisi), tetapi Bandara Zürich amat sibuk sehingga kami harus menunggu sebentar sebelum diizinkan berangkat. Singkat cerita, kami berangkat tak lama kemudian dan penerbangan satu jam ke Zürich dimulai.

Tak lama setelah lepas landas, layanan makan sore ringan disajikan, yang mana berupa salad ikan salmon dan beberapa menu sampingan. Untuk minuman, jelas dong ya aku meminta sparkling wine dan segelas air putih, haha. Sisa perjalanannya berlangsung nyaman dan uneventful. Jam 4:35 sore, pesawat mendarat di landasan pacu 14 Bandara Zürich.

Layanan makan sore di Kelas Bisnis Eropa KLM KL1961 menuju Zürich

Di bandaranya, aku membeli tiket kereta satu arah ke Luzern seharga CHF30. Tidak ada layanan langsung yang akan segera diberangkatkan waktu itu sehingga aku memutuskan untuk memilih opsi dengan transit 20 menit di Zürich HB. Singkat cerita, aku akhirnya tiba di Luzern sekitar jam 6:30 sore.

Luzern

Selfie di Luzern

Luzern adalah kota kecil di Swiss yang kece banget, walaupun ukurannya tergolong kecil, haha. Aku menginap dua malam di sana dan rasanya waktu segini jelas terlalu panjang untuk kotanya saja. Namun, ada beberapa tempat yang juga menarik di sekitar kotanya, misalnya Pilatus Railway, yang mana tidak sempat aku kunjungi karena tidak sempat, haha.

Anyway, atraksi paling utama di Luzern adalah Kapellbrücke (Jembatan Kapel) yang nggak mungkin terlewatkan deh. Ini adalah sebuah jembatan kayu untuk pejalan-kaki menyeberangi Sungai Reuss di area Altstadt. Jembatannya juga terhubung dengan Wasserturm (Menara Air) yang mana ternyata dulu pernah digunakan sebagai penjara dan ruang penyiksaan 😅.

Jembatan Kapel dan Menara Air di Luzern

Altstadt-nya sendiri juga indah, dimana gedung-gedungnya yang dari abad pertengahan dirawat dengan baik! Oh iya, Kapellbrücke bukanlah satu-satunya jembatan kayu di Luzern, btw. Di sungai Reuss juga terdapat jembatan Spreuerbrücke yang lebih pendek dan juga merupakan jembatan kayu. Jembatan lain ini berlokasi di sebelah sebuah dam yang juga berfungsi sebagai area rekreasi. Oh iya, aku beruntung sekali akhir pekan ini dimana cuacanya sedang oke banget sehingga banyak orang yang memanfaatkannya dengan pergi ke luar. Sebagai akibatnya, atmosfer kotanya terasa hidup!

Anyway, seperti Zürich, Luzern jugalah berbukit-bukit di Altstadt-nya. Di salah satu bukitnya berdiri benteng dari abad pertengahan dengan beberapa menara yang dibuka untuk umum (dan tanpa dikenakan biaya masuk). Worth it banget deh memanjat ke puncak salah satu menaranya, karena pemandangannya kece banget! Danau Luzern terlihat jelas dengan latar belakang Pegunungan Alpen. Indah banget!!

Danau Luzern dan Pegunungan Alpen sebagai latar belakang.

Kapellbrücke dan Altstadt bukanlah satu-satunya atraksi “turis” di kota ini. Das Löwendenkmal (Monumen Singa), sebuah relief batu akan seekor singa yang nyaris mati karena terluka parah, juga terkenal; dan indah! Perasaan muram benar-benar terpancarkan dari karya seni ini!!

Monumen Singa di Luzern

Anyway, untuk urusan makanan aku senang aku mendapatkan kesempatan untuk makan raclette di perjalanan ke Luzern ini! Penampakan masakannya tidak seperti bayanganku sih food-wise (Entah bagaimana aku bayangkan pelayannya akan menuangkan keju yang sudah dilelehkan ke piring di depanku; sementara kenyataannya masakannya disajikan “sudah jadi”), tetapi yang penting mah rasanya enak ya!! 😀

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2110 – A Summery Spring in Munich

ENGLISH

I went on a short weekend trip to Munich in mid-April. As I have shared, I forgot to bring my pocket camera on the trip; which unintentionally turned the trip into an experiment for me to measure the “value” of a pocket camera during a trip of mine. As it turned out, it was very valuable because I noticed that I didn’t take as many pictures on the trip, and the trip was generally less enjoyable without my camera! Consequently, this post won’t have as many pictures as usual simply because I did not take enough for that.

Anyway, a bit uncharacteristically, I also took KLM’s direct return Amsterdam – Munich flights for this trip, i.e. without any transit! Both flights were operated by Boeing 737-800, PH-BCA named “Flamingo” on the way to Munich and PH-BXL named “Sperwere” on the way back to Amsterdam. Both were pleasant intra-European flights with KLM as usual and so there is not much too share.

A KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BCA

As I also had pretty much half a day in Munich this time, I decided to focus on the area which I had heard nice things about but didn’t yet visit on my first trip there two years ago. And the area was the famous Englischer Garten (The English Garden), a large park in the northeastern park of the city.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

It was supposed to be Spring in Western Europe, but the weather at the time was quite unique, where the it was really sunny and the temperature was hovering around the high 20s Centigrade. To be honest it felt more like Summer than Spring to me, a season which I preferred less, haha 😛 . Nonetheless, especially after a harsh and long Winter and the day being a Saturday, many people decided to take advantage of it by going to the garden. As a result, the Englischer Garten was so full of people, many of them were sunbathing, when I was there! Lol 😆 .

The English Garden in Munich when the weather was great

Anyway, I found the Englisher Garten to be beautiful, and it certainly made the city livable! It was also very big, but one needed not to worry because a lot of signages and maps were installed throughout the garden. Uniquely, and perhaps confusingly, one landmark of the garden was the Chinesischer Turm (the Chinese Tower). Yep, a “Chinese” tower in an “English” garden in Munich, “Germany”, haha 😆 .

A Chinese Tower in an English Garden in Germany

As you know, I am not the biggest fan of warm weather. While the weather today wasn’t very warm (I mean, it was nothing like the humid tropical condition on a sunny day!), it was still warm enough to make me feel a little bit uncomfortable outside. So after wandering in the Englischer Garten for about two hours, I decided to go back to the hotel to shower and rest.

Crispy knuckle of suckling pig

As for the food, of course I had local German cuisine on the two full meals I had there. For lunch, I had a turkey schnitzel, which was tasty with an ideal serving size (haha 😆 ). And for dinner, I had a rösche spanferkelhaxn, translated as crispy knuckle of suckling pig which was served with the Bavarian spitzkrout (sour cabbage) and kartoffelknödel (potato dumplings). While I liked the meat, just as before, I didn’t really enjoy the cabbage and potato, haha. It was overall very tasty, though 😀 .

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam perjalanan akhir pekan singkat ke Munich di pertengahan April. Seperti yang sudah kubilang, aku lupa membawa kamera sakuku di perjalanan ini; yang mana justru tidak sengaja membuat perjalanan ini menjadi suatu percobaan bagiku untuk mengukur “nilai” dari kamera saku di perjalananku. Ternyata, kamera saku itu amat bernilai. Ini kuamati dari tidak-banyaknya foto yang aku ambil di perjalanan ini, dan perjalanannya sendiri agak lebih kurang asyik sih tanpa kamera! Sebagai akibatnya, tidak banyak foto yang aku unggah di posting ini karena ya memang tidak ada banyak foto yang aku ambil.

Anyway, agak tidak seperti biasanya, aku terbang langsung pp Amsterdam – Munich dengan KLM di perjalanan ini, alias tanpa transit! Keduanya dioperasikan dengan Boeing 737-800, PH-BCA dengan nama “Flamingo” di keberangkatan dan PH-BXL dengan nama “Sperwer” di kepulangan. Keduanya adalah penerbangan reguler dan nyaman intra-Eropa dengan KLM sehingga tak banyak yang mau kuceritakan di sini.

Sebuah Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BCA

Karena aku hanya memiliki waktu setengah harian saja di Munich kali ini, aku memutuskan untuk fokus di area yang aku dengar cantik tapi belum sempat aku kunjungi di perjalananku dua tahun yang lalu. Dan area ini adalah Englischer Garten (Taman Inggris), sebuah taman besar dan terkenal di timur laut kotanya.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

Waktu itu seharusnya adalah Musim Semi di Eropa Barat, tapi cuaca waktu itu cukup unik, dimana matahari bersinar cerah dan temperaturnya berada di kisaran hampir 30 derajat. Sejujurnya rasanya lebih kayak Musim Panas daripada Musim Semi deh, sebuah musim yang lebih tidak aku sukai, haha 😛 . Walaupun begitu, waktu itu kan Eropa baru saja melewati Musim Dingin panjang dan keras ya, jadilah banyak orang yang memanfaatkan cuaca ini dengan pergi ke tamannya. Sebagai akibatnya, Englischer Garten rame banget waktu itu, dimana tentu banyak yang berjemur! Haha 😆 .

Taman Inggris di Munich ketika cuaca cerah

Anyway, Englischer Garten memang indah, dan membuat kotanya enak untuk dibuat hidup! Tamannya juga besar, tetapi pengunjung tidak perlu khawatir akan tersasar karena ada banyak petunjuk dan papan peta di seluruh tamannya. Uniknya, dan mungkin membingungkan, satu landmark terkenal di tamannya adalah Chinesischer Turm (Menara China). Iya, menara “China” di sebuah taman “Inggris” di Munich di “Jerman”, haha 😆 .

Chinesischer Turm di Taman Inggris di Jerman

Tentu sudah pada tahu bahwa aku bukanlah seorang fans dari cuaca panas, haha. Walaupun cuaca di Munich hari ini nggak panas yang gila banget (Maksudnya, nggak kayak cuaca lembab di daerah Tropis ketika matahari bersinar cerah!), tetapi cuacanya sudah cukup panas untuk membuatku merasa agak tidak nyaman berada di luar berlama-lama, haha. Jadilah setelah jalan-jalan di Englischer Garten selama sekitar dua jam-an, aku memutuskan kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat.

Crispy knuckle of suckling pig

Untuk urusan makanan, jelas dong aku menikmati masakan setempat di dua kali makanku di sana. Untuk makan siang, aku makan schnitzel daging kalkun, yang mana enak dan ukuran porsinya pun ideal (haha 😆 ). Untuk makan malam, aku makan rösche spanferkelhaxn, yang mana kurang lebih berarti lutut babi crispy yang disajikan dengan spitzkrout (kubis asam) ala Bavaria dan kartoffelknödel (kentang). Walaupun aku suka dagingnya, seperti dulu, aku juga masih kurang bisa menikmati kubis dan kentangnya, haha. Tapi secara keseluruhan enak sih D: .

Aviation, Life in Holland, My Interest, Zilko's Life

#2103 – An Afternoon at Schiphol

ENGLISH

I went to Schiphol last Friday afternoon; but this trip was not like any others. I didn’t go to the airport terminal for a flight to start a weekend trip somewhere nor to pick someone up. Instead, I went to the Schiphol-Oost area where the KLM Engineering and Maintenance department was located.

I don’t make it discreet that I love planes and flights. And it happens that the husband of a friend of mine works at KLM. And so he invited his wife and me to come visit him at Schiphol-Oost where he would give us a quick tour including to the KLM’s maintenance hangars! In the inside, I was like:

because it would be my first time ever to visit a plane hangar! Huahaha 🙈.

Anyway so my friend and I took an Uber after work on Friday, where we had an interesting conversation with the driver about politics and history, lol 😆 . The traffic was quite bad at Amsterdam due to the Dodenherdenking (the National Remembrance Day) so it took us a bit longer to Schiphol-Oost than expected, where my friend’s husband was already waiting for us at the entrance.

Long story short, after getting the visitor badges, we entered the KLM Engineering and Maintenance complex. As expected, the complex was really large! Haha 😆 . We were first taken to the office of my friend’s husband which was in the same building as where the engines maintenance and repair were done. There were many engines being maintained and repaired at the time, and they weren’t only KLM’s; as I saw Jet2’s, United’s, and Vietnam Airlines’ engines too.

An engine maintenance

We then walked to the hangars. We were lucky that the weather was amazing this afternoon! I saw two Vueling’s Airbus A320s and a KLM’s brand new Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHO being parked. At the time, three of KLM’s wide-body birds, an Airbus A330-200 reg PH-AOD, a Boeing 777-200ER reg PH-BQD, and a Boeing 747-400 Combi reg PH-BFH, were on the engines testing stage. They were parked just outside the hangar in an area enclosed with tall jet-blast deflectors. It was PH-BFH’s turn for the test and it was amazing to be able to experience first hand the noise the Queen of the Skies’ engines could produce! Haha 😆 .

KLM’s A330-200 PH-AOD, B777-200ER PH-BQD, and B747-400M PH-BFH during the engines testing.

We then entered one of the hangars which was, of course, very large in size is it could fit two wide-body planes. This hangar was empty at the time so we walked to the next one. I was excited because I saw the SkyTeam livery which meant: it was KLM’s Boeing 777-300ER reg PH-BVD at the next hangar! There were two planes at this hangar, as KLM’s Airbus A330-200 reg PH-AOA was also there. But of course I was more interested with PH-BVD as I was secretly hoping to be able to take a photo with one of its GE90-115B engines, which was the most powerful commercial jet engine; and it happened to also be PH-BVD with the beautiful SkyTeam livery! 😀

With PH-BVD’s gigantic GE90-115B engine!

The next hangar was also empty and so we went to the next one after that, which was much larger in size and could accommodate more planes. A KLM’s Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD was there. I have flown PH-BHD before, btw, on my KL605 flight from Amsterdam to San Francisco just this December.

A KLM’s Boeing 787-9 Dreamliner PH-BHD during engine maintenance

The “tour” finished here as we walked back to a parking space near the entrance. In conclusion, it was such a nice tour especially for me! First of all, I got “unusual angles” to see the planes, haha. Then, and more interestingly, I got a peek on the backstage of an airlines’ operation. On top of that, of course, I gained a lot of new knowledge about the operation too, which really, really excited me! 😀

BAHASA INDONESIA

Aku pergi ke Schiphol Jumat siang yang lalu; tetapi perjalanan ini tidaklah seperti perjalanan lainnya. Aku tidak pergi ke terminal bandaranya untuk mengejar penerbangan untuk sebuah perjalanan akhir pekan kemana gitu, ataupun bukan pula untuk menjemput seseorang di bandara. Aku pergi ke area Schiphol-Oost dimana departemen KLM Engineering and Maintenance berada.

Aku tidak menutup-nutupi bahwa aku suka dengan yang namanya pesawat dan penerbangan. Dan kebetulan banget suaminya seorang temanku di kantor bekerja di KLM. Jadilah suatu ketika ia mengundang istrinya dan aku untuk mengunjunginya di Schiphol-Oost dimana dia akan mengajak kami berkeliling untuk sebuah tur mini termasuk untuk mengunjungi hanggar-hanggar perawatan pesawatnya KLM! Jadilah di dalam hati aku bereaksi:

karena ini akan menjadi kali pertamaku mengunjungi yang namanya hanggar pesawat! Huahaha 🙈.

Anyway jadilah sepulang kerja di hari Jumat aku dan temanku naik Uber, dimana kami terlibat dalam percakapan mengenai politik dan sejarah dengan sopirnya, haha 😆 . Lalu-lintas hari itu lumayan ramai di Amsterdam akibat Dodenherdenking sehingga perjalanannya memakan waktu sedikit lebih lama. Setibanya di Schiphol-Oost, suaminya temanku sudah menunggu kami di pintu masuk.

Singkat cerita, setelah mendapatkan pas masuk pengunjung, kami memasuki kompleks KLM Engineering and Maintenance. Seperti yang aku sangka, kompleks-nya luas banget! Haha 😆 . Pertama-tama kami diajak ke kantornya suami temanku yang mana berada di gedung yang sama dengan tempat perawatan dan perbaikan mesin. Waktu itu ada banyak mesin yang sedang dirawat dan diperbaiki, dan mesin-mesinnya bukan hanya milik KLM; dimana aku juga melihat mesin-mesinnya Jet2, United, dan Vietnam Airlines.

Perawatan mesin pesawat

Kami kemudian berjalan ke hanggarnya. Beruntung banget cuaca siang itu cerah banget! Ada dua Airbus A320nya Vueling dan satu Boeing 787-9 Dreamliner barunya KLM dengan rego PH-BHO yang diparkir di sana. Waktu itu, tiga pesawat badan lebarnya KLM, sebuah Airbus A330-200 rego PH-AOD, sebuah Boeing 777-200ER rego PH-BQD, dan sebuah Boeing 747-400 Combi rego PH-BFH, sedang dalam tahap pengecekan mesin. Ketiganya diparkir di depan hanggar di area yang dilengkapi dengan deflektor jet-blast yang tinggi banget. Waktu itu adalah gilirannya PH-BFH untuk dites dan keren banget rasanya bisa merasakan tingkat keberisikan yang bisa dihasilkan oleh mesin Queen of the Skies ini! Haha 😆 .

Pesawat A330-200 PH-AOD, B777-200ER PH-BQD, dan B747-400M PH-BFH KLM yang mana sedang dalam tahap pengecekan mesin.

Kami kemudian memasuki salah satu hanggarnya yang mana, jelas, berukuran besar banget dan muat untuk dua pesawat berbadan-lebar. Hanggar ini kosong waktu itu dan jadilah kami berjalan ke hanggar di sebelahnya. Aku merasa excited karena aku melihat livery SkyTeam yang berarti: Boeing 777-300ER rego PH-BVDnya KLM! Ada dua pesawat di hanggar ini, dimana Airbus A330-200 PH-AOAnya KLM juga sedang berada di sana. Tapi jelas aku lebih tertarik dengan PH-BVD karena sebenarnya aku berharap bisa berfoto dengan salah satu mesim GE90-115B-nya Boeing 777-300ER, yang mana merupakan mesin jet yang paling kuat! Kebetulan pula pesawatnya adalah PH-BVD dengan livery SkyTeam yang kece banget itu kan!

Dengan mesin GE90-115B raksasanya PH-BVD!

Hanggar sebelahnya juga kosong sehingga kami pergi ke yang sebelahnya lagi, yang berukuran lebih besar dan bisa muat lebih banyak pesawat. Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM dengan rego PH-BHD berada di sana. Aku pernah terbang dengan PH-BHD sebelumnya loh, yaitu di penerbangan KL605 dari Amsterdam ke San Francisco Desember kemarin ini.

Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD-nya KLM dalam perawatan mesin

“Tur”-nya selesai di sini dimana kami kemudian berjalan ke tempat parkir mobil di dekat pintu masuk. Kesimpulannya, tur ini seru banget deh untukku! Pertama-tama, aku mendapatkan “sudut yang tidak biasa” untuk melihat pesawat-pesawat itu, haha. Kemudian, dan menariknya, aku bisa mengintip sisi backstage dari operasional sebuah maskapai. Dan tentu saja aku juga mendapatkan banyak pengetahuan baru yang mana sangat amat menarik! 😀

Aviation, EuroTrip, Trip Report, Vacation, Weekend Trip

#2083 – The Flights to Bordeaux

ENGLISH

I went on a weekend trip to Bordeaux in a weekend in early March. I have decided to split the story into two parts; with this post being the first one covering the part of the trip about the flights, haha…

First of all, unsurprisingly, I took an interesting routing on this trip. Here it was:

The routing to Bordeaux. Created with gcmap.com

Getting to Bordeaux

The first leg of the trip was with a KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BGB flight KL1263 to Nice. The flight was delayed by almost half an hour due to, apparently, a shortage of grounds baggage handlers today. I had quite a tight connection in Nice but half an hour wasn’t that much of a problem, as usually there was some buffer time already included in the schedule so there was some room for recovery.

Anyway, it was a pleasant KLM flight to Nice. Nice Cote D’Azur was one of my most favorite airports in the world mainly because of the beautiful scenery around it. On this flight, here was a view at one point just before landing:

Monaco

Yep, the entire country of Monaco! Hahaha 😆 . Anyway, as I thought, we recovered from the departure delay and actually landed at Nice Cote D’Azur Airport on time.

The inconvenient thing about having a connection in France, other than Paris-Charles De Gaulle, was that I had to exit the terminal and cleared security again, which took some time. I had about 10 minutes in the terminal which I spent at the Infinity Lounge. Then I went to the gate to board my second flight.

A HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLC

My flight to Bordeaux was operated with a HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLC. I was assigned seat 22C, which I initially wasn’t super happy about given it was an aisle seat AND at the back of the plane. But then, it turned out that somehow the entire rear cabin, from row 23 to 26, were literally empty, so I could move to whichever seat I would like! I found it quite strange though because all seats from row 1 to 22 were occupied! Anyway, so I moved to seat 23A.

An empty rear section on board HOP! Regional’s ERJ190 F-HBLC

Again, it was a pleasant short domestic flight with HOP!. I managed to sleep a little bit during the flight; and about one hour later we were flying above the city of Bordeaux and landed at runway 23.

Back to Amsterdam

The Air France Lounge at Bordeaux Airport turned out to be quite nice and comfortable, certainly much better than their lounge at Lyon Airport! And most appropriately, they served these as well:

Bordeaux red wine at Salon Air France at Bordeaux Airport

Haha 😛

Anyway, my Air France’s AF5372 flight to Lyon turned out to be quite unique and interesting. It would be operated by Air Explore, a Slovakian airline wet-leased by Air France to operate some of their domestic routes for HOP!. Today, this flight would be operated by their Boeing 737-800 reg OM-GEX which looked like this:

An Air Explore’s Boeing 737-800 reg OM-GEX in plain white livery

Yeah, a very boring plain white livery, haha 😆 . But I guess it wasn’t that unreasonable given Air Explore’s business model in the wet-leasing market. As Air France wet-leased this plane, the flight was operated by Air Explore’s crews even though the service was as per HOP!’s standard.

We were delayed by about 50 minutes, though. The flight itself was pleasant even though we encountered minor turbulences along the way due to the weather. The crews were nice but I could see they were still not quite used to with HOP!’s service standard yet. Well, I checked that it appeared to be their third day operating for HOP! so it wasn’t surprising to be honest.

Anyway, we landed about 45 minutes at Lyon but this wasn’t a problem to me because I had a 3 hour transit, haha. But not for some other passengers though who had to run to try to catch their connections.

KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGU

My last flight of this trip would be with a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGU to Amsterdam. Upon boarding, I was told by the gate agent that I had been upgraded to Europe Business Class, again! Haha 😆 . I was assigned an aisle seat, though.

After all passengers boarded, the captain announced that we were asked to remain on the ground for 30 minutes more due to poor weather condition at Schiphol which forced them to reduce the airport’s capacity. About 30 minutes later we were finally allow to depart, indeed the crew tried their best to make up the lost time as much as possible. The Boeing 737-700 didn’t need the entire runway length for take-off so we saved some time by taking off from about 1/3 into the 4,000 meter runway.

Anyway, after take-off, the dinner service was provided. The menu was quite “vegetarian” today where the main dish was a salad with beetroot burger. It was quite nice, though, and helped me fill my stomach as it was dinner time. I accompanied it with a bottle of sparkling wine (of course), haha 😀 .

The dinner service in Europe Business Class on board KLM flight KL1416

After dinner, a warm drink service was provided and, as usual, I asked for a green tea. Not long after, we were approaching Schiphol and landed at runway 18C. We parked at Gate D2, and I took the train to go back to Amsterdam.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan ke Bordeaux di awal Maret. Aku putuskan untuk membagi ceritanya menjadi dua bagian; dengan posting ini adalah bagian yang pertama dimana aku fokus pada penerbangan-penerbangannya, haha…

Pertama-tama, tidak mengherankan, aku mengambil rute yang menarik untuk perjalanan ini. Berikut ini rutenya:

Rute ke Bordeaux. Dibuat dengan gcmap.com

Berangkat ke Bordeaux

Bagian pertama dari perjalanan ini adalah dengan Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BGB penerbangan KL1263 ke Nice. Penerbangannya terlambat sekitar setengah jam karena, ternyata, adanya kekurangan staf bagasi hari ini. Waktu transitku di Nice cukup ketat tetapi delay setengah jam tidak begitu masalah lah, apalagi kan di jadwal penerbangannya toh sudah dimasukkan buffer time sehingga penerbangannya masih bisa pulih dari delay ini.

Anyway, penerbangannya sendiri nyaman kok dengan KLM. Bandara Nice Cote D’Azur masih lah salah satu bandara terfavoritku di dunia karena pemandangan alam di sekitarnya yang kece banget. Di penerbangan ini, di satu waktu sebelum mendarat pemandangannya kayak gini loh:

Monako

Iya, satu negara Monako! Hahaha 😆 . Anyway, seperti yang kukira, kami beneran pulih dari keterlambatan tadi dan mendarat di Bandara Nice Cote D’Azur masih tepat waktu.

Nggak nyamannya dari transit di Prancis selain di Paris – Charles De Gaulle adalah aku harus keluar gedung terminalnya dan melewati pemeriksaan sekuriti lagi, yang mana tentu juga memakan waktu. Aku akhirnya hanya memiliki waktu 10an menit saja di terminalnya yang mana kuhabiskan di Infinity Lounge. Setelahnya aku langsung pergi ke gate untuk menaiki penerbangan lanjutanku.

Embraer ERJ190nya HOP! Regional rego F-HBLC

Penerbanganku ke Bordeaux dioperasikan dengan Embraer ERJ190nya HOP! Regional dengan rego F-HBLC. Aku diberi kursi 22C, yang mana awalnya tidak begitu aku suka karena adalah kursi lorong dan lokasinya di bagian belakang pesawat. Tetapi ternyata malah bagian belakang kabinnya, dari baris 23 hingga 26, itu kosong melompong dong sehingga aku bisa pindah ke kursi mana pun yang kusuka! Rasanya aneh lho karena baris 1 hingga 22 di pesawatnya itu penuh! Anyway, jadilah aku memindahkan diri ke kursi 23A, haha.

Kabin bagian belakang ERJ190nya HOP! Regional rego F-HBLC yang kosong

Lagi, penerbangan ini adalah penerbangan domestik jarak pendek yang nyaman dengan HOP!. Aku tertidur sedikit di penerbangan ini; dan sekitar satu jam kemudian kami sudah terbang di atas kota Bordeaux dan kemudian mendarat di landasan pacu 23.

Kembali ke Amsterdam

Lounge Air France Lounge di Bandara Bordeaux ternyata cukup nyaman, dan jelas jauh lebih bagus daripada yang di Bandara Lyon! Dan selayaknya, mereka menyajikan ini juga:

Anggur merah Bordeaux di Salon Air France di Bandara Bordeaux

Haha 😛 .

Anyway, penerbangan Air France AF5372ku ke Lyon hari ini unik dan menarik loh. Penerbangannya akan dioperasikan oleh Air Explore, sebuah maskapai Slowakia yang di-wet-lease Air France untuk mengoperasikan beberapa rute domestik mereka untuk HOP!. Hari ini, pesawat Boeing 737-800 rego OM-GEX mereka digunakan, yang mana penampakannya kayak gini:

Boeing 737-800 rego OM-GEX milik Air Explore dengan livery putih polos.

Iya, livery pesawatnya putih polos yang mana boring abis ya, haha 😆 . Tapi aku rasa ini masuk akal juga sih mengingat model bisnisnya Air Explore yang memang bergerak di pasar wet-leasing pesawat. Karena Air France meng-wet-lease pesawat ini, penerbangannya juga dioperasikan oleh krunya Air Explore walaupun layanannya sih sesuai dengan standarnya HOP!. A

Penerbangannya terlambat sekitar 50 menit. Penerbangannya sendiri sih cukup nyaman walaupun penuh turbulensi kecil di sepanjang jalan karena alasan cuaca. Krunya sendiri oke tetapi bisa kulihat mereka masih belum terbiasa dengan standar layanannya HOP!. Yah, aku cek sepertinya memang hari itu baru lah hari ketiga mereka dengan HOP! sehingga nggak mengherankan sih ya.

Anyway, kami mendarat terlambat sekitar 45 menit di Lyon tetapi ini bukanlah masalah untukku karena waktu transitku 3 jam, haha. Tetapi tidak demikian bagi beberapa penumpang lain yang harus berlari mencoba mengejar penerbangan lanjutan mereka.

Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGU

Penerbangan terakhirku di perjalanan ini adalah dengan Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGU ke Amsterdam. Ketika naik pesawat, aku diberi-tahu bahwa aku di-upgrade ke Kelas Bisnis Eropa lagi! haha 😆 . Tetapi sayangnya aku diberikan kursi lorong sih.

Setelah semua penumpang naik, kapten penerbangan memberi-tahu bahwa sayangnya kami telah diminta untuk tidak berangkat dulu selama 30 menit karena cuaca buruk di Schiphol yang memaksa mereka untuk mengurangi kapasitas bandara. Sekitar 30 menit kemudian ketika kami diizinkan berangkat, krunya kemudian berusaha untuk mengurangi waktu keterlambatan ini semaksimal mungkin. Boeing 737-700 tidak membutuhkan keseluruhan panjang landasan pacunya Bandara Lyon untuk lepas landas sehingga kami menghemat waktu dengan mulai lepas landas dari sekitar 1/3 dari ujung landasan pacu sepanjang 4.000 meter itu.

Anyway, setelah lepas landas, layanan makan malam disajikan. Menu kali ini agak “vegetarian” dimana makanan utamanya adalah salad dengan burger beetroot.Rasanya lumayan juga sih dan cukup mengganjal perut di waktu makan malam ini. Oh, dan jelas untuk minumnya aku meminta sparkling wine lah ya, haha 😆 .

Layanan makan malam di Kelas Bisnis Eropa di penerbangan KL1416nya KLM

Setelah makan malam, layanan minuman hangat dibagikan dan, seperti biasa, aku meminta teh hijau. Tak lama setelahnya, kami mulai turun menuju Schiphol dan mendarat di landasan pacu 18C. Pesawat diparkir di gerbang D2, dan kemudian aku menaiki kereta kembali ke Amsterdam.