#2032 – November 2017 Indonesia Trip (Part III: Yogyakarta)

ENGLISH

Posts in the November 2017 Indonesia Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

The Weather Situation

With the trip taking place in November, I knew that weather-wise it would not be ideal. This was definitely the case where I barely saw the sun during the almost two weeks there, haha. The upside of this, though, was that the temperature was generally cool during my entire stay there at roughly around 25°C.

However, I certainly did not expect the situation occurring in the second week:

The “Cempaka” Cyclone

A cyclone (named “Cempaka”) was formed to the south of Java and caused bad weather in many parts of the island, including Yogyakarta *Insert Insta Story’s “Superzoom” feature here*.  It was pouring non-stop for days and caused a lot of troubles, including floods and landslides. Thankfully I was fine.

Activities and Places

Anyway, let’s move on to the more fun topics. I spent a lot of my time in Yogyakarta hanging out with my friends. We went to some malls, many restaurants, even I got to play tennis for an hour at UGM, haha.

Embung Tambakboyo

I also found out a new-ish place in Yogyakarta called Embung Tambakboyo. This was a small reservoir to the northeast of Yogyakarta where locals used for recreational activities. I saw a lot of people jogging there, which was certainly fun to do especially when the temperature wasn’t that hot. I would say this was a place more for the locals than for tourists; and I am not saying this in a negative light because I believe a good city should provide a place for recreational activities for its people too! 🙂

Once we also planned to go to the currently “hip” Abhayagiri near Ratu Boko. However, we went there without a reservation and it happened that they were fully booked that day. Darn! As we were already there anyway, I decided to, at least, take a picture of the Prambanan Temple from the hill, haha 😛 .

The Prambanan Temple

The Food

This time, somehow I did not really go “full throttle” on the culinary aspect, i.e. the food, haha. This is not to say that I wasn’t savouring myself into the wide range of delicious Indonesian cuisine; but rather I was properly managing my diet during a trip, haha. As a result of this, though, I did not gain a lot of weight after the trip! 😛

Crispy tofu at Raisin Resto

Anyway, I am not going to list what I had there. I will just post them in the gallery below and let the photos speak for themselves 😛 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri November 2017 Indonesia Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

Situasi Cuaca

Karena perjalanannya mengambil waktu di bulan November, jelas dari awal aku sudah tahu sepertinya urusan cuaca tidak lah akan ideal. Dan memang ini lah yang beneran terjadi dimana aku hampir sama sekali nggak melihat yang namanya matahari di waktu hampir dua mingguku di sana, haha. Sisi positifnya dari ini adalah suhu udara yang terbilang sejuk di sepanjang waktuku di sana, yakni berkisar di suhu 25°C.

Namun, jelas aku sama sekali tidak menyangka ini akan terjadi di minggu keduaku:

Siklon “Cempaka”

Sebuah siklon (yang bernama “Cempaka”) terbentuk di selatan pulau Jawa dan menyebabkan cuaca buruk di banyak tempat di pulaunya, termasuk Yogyakarta *Masukkan fitur “Superzoom”-nua Insta Story di sini*.  Waktu itu hujan super deras terus-menerus selama sekian hari yang menyebabkan banyak sekali masalah, termasuk banjir dan tanah longsor. Untungnya aku baik-baik saja sih.

Aktivitas dan Tempat-Tempatnya

Anyway, mari ngomongin topik yang lebih menyenangkan saja. Aku menghabiskan banyak waktuku di Yogyakarta bersama teman-temanku. Kami pergi ke beberapa mall, banyak restoran, dan bahkan aku sempat bermain tenis selama satu jam loh di UGM, haha.

Embung Tambakboyo

Aku juga baru tahu ada tempat lumayan baru di Yogyakarta yang disebut Embung Tambakboyo. Tempat ini adalah sebuah waduk kecil di timur laut Yogyakarta dimana warga setempat menggunakannya untuk berekreasi. Waktu itu aku lihat ada banyak orang yang jogging di sana, yang mana tentu memang nyaman dilakukan ketika cuacanya nggak panas. Aku bilang tempat ini lebih untuk warga setempat sih daripada turis; dan aku tidak bilang ini adalah hal buruk lho ya karena menurutku sebuah kota yang baik adalah kota yang menyediakan tempat rekreasi bagi warganya! 🙂

Sekali waktu kami juga berencana pergi ke tempat yang lagi “kekinian”, yaitu Abhayagiri di dekat Ratu Boko. Namun, waktu itu kami pergi kesana tanpa membuat reservasi terlebih dahulu dan kebetulan hari itu tempatnya sudah fully booked dong. Sial! Tapi ya sudah lah, mau bagaimana lagi kan. Dan karena sudah jauh-jauh sampai di sana, aku memutuskan untuk, setidaknya, mengambil foto Candi Prambanan dari atas bukitnya, haha 😛 .

Candi Prambanan

Makanannya

Kali ini, aku tidak terlalu “gas pol” dalam urusan kuliner, haha. Eh ini bukan berarti aku tidak memanjakan diriku dengan masakan Indonesia yang enak-enak itu ya; tetapi lebih ke aku mengatur apa yang aku makan dengan lebih bijaksana di dalam sebuah perjalanan, haha. Sebagai akibatnya, ya memang berat badanku nggak naik banyak setelah perjalanan ini! 😛

Tahu crispy di Raisin Resto

Anyway, aku tidak akan mendaftar apa saja yang kumakan selama aku di sana. Aku hanya akan mengunggah fotonya ke galeri di atas dan membiarkan foto-fotonya berbicara sendiri dah 😛 .

Advertisements

#1933 – Photo Tales (41)

ENGLISH

Photo #91

Perusahaan Ketjap Kudus in Den Haag

Some time ago when I was grocery shopping, I spotted the following sweet soysauce at one of the racks. Okay, you probably need to speak Indonesian to understand why I bothered to take the photo (because it was quite funny in some ways 😛 ).

You see, it was soysauce by “Perusahaan Ketjap Kudus” (translated as “Kudus Soysauce Factory”), implying the factory’s location in Kudus, Central Java. However, it was stated at the bottom of the label that the production was actually in Den Haag, the Netherlands. Yeah, so a factory of an Indonesian product with an Indonesian name but with production in the Netherlands, haha.

Though, I might actually misunderstand its name, though. Instead of “Kudus” as a noun (thus, referring to the Central Javan region), it might actually be the adjective “kudus” (translation: “holy”). This would actually explain the phrase “selalu terpudji” (translation: “always commendable”) put below its name, haha 😆 .

Photo #92

Lamb shank at Mata Hari

Anyway, in the last week of May, a friend and I caught up in Amsterdam. And we decided to have dinner at a restaurant called “Mata Hari”, that was actually not an Indonesian restaurant, haha (“matahari” means “the sun” in Indonesian). It was actually a Mediterranean restaurant.

Thanks to Yelp, we chose this restaurant, because the food was really good! Plus, I found it to be quite fairly priced, especially considering its location (near the touristic area of Amsterdam, i.e. the infamous Red Light, haha 😛 ). Anyway, I decided to order a lamb shank and some french fries. The lamb shank and its salad was really good; though I regretted the french fries because I actually did not really need it as I got too full afterwards, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Foto #91

Perusahaan Ketjap Kudus di Den Haag

Beberapa waktu lalu ketika sedang belanja, aku melihat kecap manis ini di salah satu rak.

Nah lucu kan, kecap manis ini buatan “Perusahaan Ketjap Kudus”, yang menyiratkan lokasi pabriknya ada di Kudus, Jawa Tengah. Namun, di bagian bawah labelnya dituliskan bahwa produksinya di Den Haag, Belanda. Iya, pabrik sebuah komoditi Indonesia dengan nama Indonesia tetapi produksinya di Belanda, haha.

Eh, sebenarnya bisa saja aku salah mengerti sih. Bukannya “Kudus” yang merupakan kata benda (sehingga menunjukkan daerah di Jawa Tengah itu), bisa saja yang benar adalah kata sifat “kudus”. Ini justru menjelaskan frase “selalu terpudji” yang dicetak di bawah namanya itu kan, haha 😆 .

Foto #92

Lamb shank di Mata Hari

Anyway, di akhir bulan Mei, seorang teman dan aku catch up di Amsterdam. Dan kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran yang namanya “Mata Hari”, yang mana bukan lah restoran Indonesia loh. Ternyata ini adalah restoran Mediterania, haha.

Berkat Yelp nih kami memilih restoran ini, dan untung soalnya makanannya enak! Plus, menurutku harganya juga oke lah terutama dengan mempertimbangkan lokasinya (di dekat area turistiknya Amsterdam, yaitu area Red Light yang “terkenal” itu, haha 😛 ). Anyway, aku memutuskan untuk memesan sebuah lamb shank dan french friesLamb shank berserta saladnya enak loh; walaupun aku sedikit menyesal memesan french fries-nya sih karena kebanyakan! Akibatnya aku kekenyangan deh setelahnya, haha 😆 .

#1871 – 2016 Year End Trip (Part V: The Food in Yogyakarta)

ENGLISH

Posts in the 2016 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Amsterdam to Rome to Shanghai
3. Part II: Shanghai to Bali
4. Part III: Bali
5. Part IV: Yogyakarta
6. Part V: The Food in Yogyakarta
7. Part VI: Yogyakarta to Bali to Shanghai
8. Part VII: Shanghai to Paris to Amsterdam
9. Part VIII: A Weekend in Amsterdam

One big aspect of going to Yogyakarta was definitely the food, haha 😆 . By spending most of my time in this trip in Yogyakarta, I had the opportunity to go to a lot of my most favorite restaurants/places to eat in the city! Even then, I felt like there were many which I missed due to lack of time! Haha 🙊

This post summarizes this aspect. I will not go into words telling you what I ate there; which was a lot, btw, while thankfully I only gained 0.5 kg in total in this trip possibly due to the strict carbohydrate diet I applied throughout the entire trip 😛 . Anyway, I will just let the pictures do all the talking 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2016 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Amsterdam to Rome to Shanghai
3. Part II: Shanghai to Bali
4. Part III: Bali
5. Part IV: Yogyakarta
6. Part V: The Food in Yogyakarta
7. Part VI: Yogyakarta to Bali to Shanghai
8. Part VII: Shanghai to Paris to Amsterdam
9. Part VIII: A Weekend in Amsterdam

Satu aspek besar dari pergi ke Yogyakarta jelas adalah makanannya, haha 😆 . Dengan menghabiskan sebagian besar waktuku di perjalanan ini di Yogyakarta, aku jadi memiliki banyak kesempatan untuk makan di rumah/tempat makan favoritku di sana! Walaupun begitu, rasanya masih ada banyak sih yang kulewatkan karena keterbatasan waktu! Haha 🙊

Posting ini merangkum aspek ini. Aku tidak akan menuliskan dalam kata-kata apa saja yang aku makan di sana; yang mana banyak juga loh, btw, dan untungnya aku cuma naik 0,5 kg saja totalnya di perjalanan ini mungkin akibat diet karbohidrat ketat yang kuterapkan selama aku di sana 😛 . Anyway, aku akan membiarkan foto-foto saja yang berbicara, haha 🙂 .

 

#1858 – Some Stuffs from Indonesia

ENGLISH

It has been almost two weeks since my year end trip to Indonesia started. So here are a few stuffs/thoughts I encountered during these two weeks in the country:

1. Slow internet connection

Especially in the first week, I had to correspondence with a publisher in the Netherlands to print my books (read: PhD dissertations; and this was part of the preparation for my PhD defense).

There were a few files I needed to approve so they sent all those files via email. And guess what … I found the internet connection to be really, really slow! Lol. In the Netherlands, I needed much less than one minute to download those files; and here I needed more than fifteen minutes.

2. Food, food, and … food

After a few days in Indonesia, I realized that my Instagram (@azilko) uploads were mostly about … food! Lol 😆

You see, the last two times I went to Indonesia for vacation (in 2014 and 2015), I gained about 5 kg EACH (though I managed to burn those extra weight in the following months, each time)! Well, this time my time in Indonesia is much shorter than those two occasions so I don’t expect to gain that much, first of all. But still, overall I also don’t want to gain anything, lol 😆 .

But on the other hand, it is difficult to resist the temptation of Indonesian food! Damn! 😡

3. Raining season, but overall lucky

Going to Indonesia in December/January, I expected to get a lot of rainy days, being in the middle of the raining season. While it was, indeed, raining for a few days during my stay, I have to say overall I am still quite lucky. Most rain fell in the night time so I was not really bothered, haha. Well, except for the one time this Wednesday and Thursday when it rained cats and dogs in Yogyakarta for a few hours in the afternoon!! It had really been awhile since I had that kind of tropical rain! Haha 😆

4. Traffic jam everywhere

Again, going to Indonesia, especially Bali and Yogyakarta, during the Christmas and New Year holiday season means that I had to expect to experience a lot of traffic jams everywhere, lol 😆 .

This was, indeed, the case. However, I did feel like that overall, especially in Yogyakarta, it was not as crowded as it was the last time I was here during the Christmas and New Year holiday season. But that was seven years ago, in 2009. Hmm…

BAHASA INDONESIA

Sudah dua mingguan semenjak perjalanan akhir tahunku ke Indonesia dimulai. Nah, berikut ini beberapa hal/pikiran yang aku dapatkan selama dua minggu di negeri ini:

1. Koneksi internet yang lamban

Terutama di minggu pertamaku, aku harus berkorespondensi dengan sebuah perusahaan percetakan di Belanda untuk mencetak bukuku (baca: disertasi PhD/S3-ku; dan ini adalah bagian dari persiapan sidang PhDku nanti).

Ceritanya ada beberapa dokumen yang membutuhkan persetujuanku dan dokumen-dokumen ini dikirim melalui email. Dan apa yang terjadi … aku merasa koneksi internetnya itu lambaaan sekali! Ahahah. Di Belanda, aku hanya perlu menyisihkan waktu kurang dari satu menit untuk mengunduh dokumen-dokumen itu; dan di sini aku membutuhkan lebih dari lima belas menit!

2. Makanan, makanan, dan … makanan

Setelah beberapa hari di Indonesia, aku menyadari bahwa kebanyakan foto yang aku upload di Instagramku (@azilko) adalah foto … makanan! Huahaha 😆

Jadi ceritanya, dua kali terakhir aku berlibur ke Indonesia (di tahun 2014 dan 2015), berat badanku naik sekitar 5 kg dong SETIAP KALI (walaupun akhirnya bisa aku turunkan lagi sih di bulan-bulan berikutnya, setiap kali)! Yah, toh kali ini aku di Indonesia tidak selama itu sehingga aku tidak menyangka akan naik sebanyak itu lah. Tapi tetap aja lah ya, aku maunya mah nggak naik, haha 😆 .

Tapi di sisi lain, susaaah menahan godaan makanan Indonesia itu! Sial! 😡

3. Musim hujan, tetapi beruntung secara umum 

Yang namanya pergi ke Indonesia di bulan Desember/Januari, aku sih sudah menduga akan mendapatkan banyak hari dengan hujan, yang namanya di tengah-tengah musim hujan kan. Walaupun, memang, hujan sih di beberapa hari, secara umum aku bisa bilang aku masih cukup beruntung. Kebanyakan hujannya turun di malam hari sehingga tidak terlalu menggangguku. Eh, kecuali hari Rabu dan Kamis ini sih ketika di siang hari hujan deras (banget) turun di Yogyakarta selama beberapa jam!! Kalau dipikir-pikir sudah cukup lama juga semenjak terakhir kali aku menghadapi hujan tropis sederas itu!! Haha 😆

4. Macet dimana-mana

Lagi, yang namanya pergi ke Indonesia, terutama Bali dan Yogyakarta, di masa-masa liburan Natal dan Tahun Baru, artinya aku harus siap untuk menghadapi kemacetan lalu-lintas dimana-mana, huahaha 😆 .

Dan ini beneran kejadian lho. Eh, tetapi secara umum aku rasakan, terutama di Yogyakarta nih, sepertinya keramaiannya tidak seperti terakhir kali aku di sini di masa-masa liburan Natal dan Tahun Baru deh. Tetapi itu tujuh tahun yang lalu sih, di tahun 2009. Hmm…

#1847 – International Food

ENGLISH

In this day and age, it is not very uncommon to live somewhere and eat something originating from another country/culture, especially if we live in a big urban city/area. The geographical boundary has become less of a constraint nowadays for this to occur; and (modern) people, at least based on my observation, seem to embrace it more and more.

It, however, creates potential confusion as the locals might not be very familiar with the type of food and there is no direct translation of the food’s name in the local language, simply because the translation does not exist. When this happens, usually they would translate it to the closest name in the local language, and add a little bit of a description. Not the perfect translation indeed, but they hope it is close enough.

Sometimes, though, this makes me chuckle a little bit. Here are four of my own experiences:

1. Gyoza

This May, I went to Rennes for a weekend trip and I mentioned that I had a nice dinner at a fusion French-Asian restaurant. When looking at the menu, I came across the following:

Gyoza in Rennes

Gyoza in Rennes.

Yes, they served chicken gyoza (gyoza aux poulets) as an appetizer. I was quite familiar with gyoza so I had no trouble at all understanding what it was. However, notice that they put a short description there, that gyoza was a “Japanese ravioli” (raviolis Japonais), lol 😆 . I mean, it was not exactly right as gyoza was not really a ravioli, but on the other hand I got the idea.

Well, whatever helped to explain to the French, I guess, haha 😆 .

2. Pierogi

When I went to Warsaw this February, I really liked the pierogi that I had. So when an Indonesian friend of mine had a plan to visit Warsaw, I recommended him to try it as well. A few days later, he told me that he still preferred the Asian dimsum more than the pierogi that he had.

Pierogi

The pierogi I had in Warsaw 😋.

Well, I mean, both were dumplings, indeed; but I would not say that a pierogi is the same as dimsum? Haha 😆

3. Bibimbap

Many years ago when I was still a high-school student in Yogyakarta, my friends and I went to a famous Korean restaurant in the city. It was before the Korean drama boom in Indonesia so at the time Korean food was not as well-known as it is nowadays.

Anyway, so a friend was looking at the menu and came across a “bibimbap”. He did not know what it was so he asked the waitress. And the waitress described it as “the Korean pecel“, lol 😆 . (Pecel is like an Indonesian salad; and yes, this description is another example of this topic 😉  ).

4. Soto

Indonesian food is quite well-known in the Netherlands, thanks to the historical tie between the two countries. But it does not mean that the Dutch are familiar with ALL Indonesian food.

Indonesian chicken soup

Indonesian chicken soup

Some weeks ago, in the morning my office’s cafeteria announced that they would serve “Indonesian chicken soup” for lunch. And so I started to have some expectation of the Indonesian soup, haha 😆 . But then, during lunch, it turned out that what they meant was a “chicken soto”. Lol 😆 .

Okay, I understand that in a way soto can be seen as a form of soup. But in my mind, soto and soup are two different dishes, lol 😆 . To be honest, in general I like soto more than soup anyway so this instance in particular was a good experience, but still, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Di zaman sekarang ini, rasanya tidak aneh untuk hidup di suatu tempat dan makan suatu makanan yang berasal dari negara/budaya lain, terutama jika kita tinggal di kota/area urban yang besar. Batasan geografis bukan lagi suatu halangan yang besar sih ya sekarang; dan orang-orang (modern), setidaknya dari sepengamatanku, cenderung menerima fenomena ini dengan tangan terbuka.

Namun, ini juga menimbulkan suatu potensi kebingungan karena warga setempat mungkin tidak begitu familier dengan tipe makanannya; sementara tidak ada terjemahan langsung dari nama makanan itu di dalam bahasa lokal, ya memang karena terjemahannya tidak ada. Ketika ini terjadi, biasanya namanya akan diterjemahkan ke padanan terdekat dalam bahasa lokal, dan kemudian sebuah deskripsi singkat diberikan. Bukan terjemahan yang sempurna memang, tetapi mudah-mudahan cukup dekat lah ya.

Ketika menghadapi ini, kadang aku merasa sedikit lucu juga. Berikut ini empat pengalamanku:

1. Gyoza

Bulan Mei lalu, aku pergi ke Rennes untuk sebuah perjalanan akhir pekan dan kusebutkan bahwa waktu itu aku makan malam di sebuah restoran fusion Prancis-Asia. Ketika melihat-lihat menunya, ini menarik perhatianku:

Gyoza in Rennes

Gyoza di Rennes.

Ya, mereka menyajikan gyoza ayam (gyoza aux poulets) sebagai makanan pembuka. Aku tahu gyoza itu apa sehingga aku tidak kesulitan untuk memahaminya. Namun, lihat deh di sana diberikan pula sebuah deskripsi singkat, dimana dikatakan bahwa gyoza adalah “ravioli ala Jepang” (raviolis Japonais), huahaha 😆 . Maksudku, terjemahan ini tidak sepenuhnya benar karena gyoza itu bukan ravioli kan ya, tetapi aku mengerti maksudnya sih.

Yah, yang penting mah jelas bagi orang Prancis kan ya, haha 😆 .

2. Pierogi

Ketika aku pergi ke Warsawa Februari lalu, aku suka sekali dengan pierogi yang kumakan waktu itu. Jadilah ketika seorang temanku dari Indonesia akan berkunjung ke Warsawa, aku rekomendasikan pierogi ini. Beberapa hari kemudian, ia bilang bahwa ia masih lebih suka dimsum ala Asia itu daripada pierogi yang ia makan.

Pierogi

Pierogi yang kumakan di Warsawa 😋.

Yah, maksudku, dua-duanya memang dumplings sih; tetapi aku nggak akan bilang bahwa pierogi itu sama seperti dimsum? Haha 😆

3. Bibimbap

Bertahun-tahun lalu ketika aku masih duduk di bangku SMA di Yogyakarta, aku dan beberapa teman pergi ke sebuah restoran Korea terkenal di kota itu. Waktu itu, drama Korea masih belum booming di Indonesia seperti sekarang sehingga makanan Korea juga belum terlalu dikenal.

Anyway, seorang temanku membaca menunya dan melihat sebuah masakan yang bernama “bibimbap”. Ia tidak tahu ini menu apa sehingga ia bertanya kepada pelayannya. Dan pelayannya mendeskripsikannya sebagai “pecel ala Korea”, huahaha 😆 .

4. Soto

Makanan Indonesia secara umum cukup dikenal di Belanda, ini berkat ikatan sejarah yang ada. Tapi bukan berarti semua orang Belanda familier dengan SEMUA makanan Indonesia sih.

Indonesian chicken soup

Indonesian chicken soup

Beberapa minggu yang lalu, di pagi hari kantin di kantorku mengumumkan bahwa mereka akan menyajikan “sop ayam ala Indonesia” untuk makan siang. Nah, jadilah aku mulai berekspektasi akan sop Indonesia itu kan ya, haha 😆 . Tapi kemudian, ketika makan siang, ternyata yang mereka maksud itu adalah “soto ayam” dong. Huahaha 😆 .

Oke, iya sih soto memang bisa dipandang sebagai satu jenis sop. Tapi di pikiranku mah soto dan sop itu adalah dua masakan yang berbeda, huahaha 😆 . Sejujurnya sih, secara umum aku memang lebih suka soto daripada sop sehingga pengalaman yang satu ini adalah pengalaman yang baik, tetapi tetap aja lah ya, hahaha 😆 .

#1727 – A Weekend Story

ENGLISH

Batman V Superman

On Friday evening, a friend convinced me to watch Batman V Superman in Delft. Yeah, actually I had no plan of watching a movie that day but I thought, well, why not 😛 .

Batman V Superman

Batman V Superman

I knew that the movie was generally negatively reviewed so I came to the cinema with very little expectation. But then, it turned out that I actually enjoyed the movie. In opinion, it was not that bad. Sure, the story line and conflict were rather simple but this was not necessarily a bad thing, or was it? The beginning was long but, to me, it was good because the source of the main conflict in the movie was introduced here. Indeed the movie felt rather “grim” but again, I just didn’t see what was wrong about that. And there is no need to even talk about the visual effect 😆 . So, yeah, overall I did enjoy the movie and if I had to grade, I would give 7.5 out of 10 😛 .

*** Warning: the following section contains spoilers to some degree ***

Stepping a little bit aside here. While watching the movie, somehow I was reminded of two random things in the Indonesian entertainment business 😛 . First, when Bruce Wayne found the secret picture of Diana Prince which revealed her to be Wonder Woman, I immediately remembered this song:

Ahahahaha 😆 . 🙈🙈🙈🙈🙈

Secondly, near the end of the movie after Superman sacrificed himself to kill Doomsday with the Kryptonite spear, the headline of the Daily Planet newspaper was “Superman Dead” and somehow I remembered there was an Indonesian rock band called “Superman Is Dead”. And my memory was right:

LOL 😆

*** Spoiler ends here ***

A Saturday Story

I decided to go to work on Saturday, haha 😆 . Was I that busy? Well, I am very busy generally at work nowadays anyway given the stage of my PhD research I am in now 😛 . So there was this one minor writing stuff which I had to do but I did not want to spend my normal working-day brain power, time, and effort just to tackle this simple task. I just did not think it was a wise way to plan my normal working-day, haha 😆 . But I still had to do it, of course, and so the solution was to do it (and similar tasks) in a weekend 🙂 . Well, I did not go on a weekend trip this weekend anyway so why not, right? 😛

Anyway, last week a friend of mine was in the Netherlands for work and he invited people for a drink on Saturday evening. And obviously I was in. It was really nice that we met at about 6 PM, went to a bar, we drank and chat and somehow it was 11:30 PM already, lol 😆 . We even forgot that we had to eat something! So at 11:30 PM we left the bar but obviously most “proper” restaurants had already been closed that late at night in Delft. So we went to a kebab shop instead, haha 😆 .

Speaking of which, my friend ordered a “loempia” dish (yes apparently the kebab shop sold lumpia as well, lol 😆 ) for €6 which I thought it was a lot for a lumpia. But then I thought maybe he got a few pieces with that price. In the end, he only got one piece of lumpia, but it was HUGE!! It was literally the biggest piece of lumpia I have ever seen in my life, lol 😆 . I guess I will try it out the next time I am there…

Yeah, it was such a fun weekend 🙂 .

Such a big lumpia

Such a big lumpia

BAHASA INDONESIA

Batman V Superman

Jumat malam, seorang teman mengajakku untuk menonton Batman V Superman di Delft. Iya, sebenarnya aku tidak memiliki rencana untuk nonton hari itu tetapi, why not lah aku pikir 😛 .

Batman V Superman

Batman V Superman

Dari awal aku sudah tahu bahwa review film ini secara umum negatif sehingga aku datang ke bioskop dengan ekspektasi serendah mungkin deh. Namun, ternyata toh aku masih bisa menikmati filmnya kok. Menurutku, filmnya nggak sejelek itu lah. Memang sih jalan cerita dan konfliknya sangat sederhana tetapi ini bukan berarti hal buruk kan? Bagian awalnya memang panjaang tetapi, untukku, ini bagus karena di sana lah konflik cerita di film ini dibeberkan. Memang nuansa filmnya terasa “gelap” tetapi, lagi, aku rasa nggak ada yang salah juga dengan ini. Dan kalau masalah efek visual mah nggak perlu dibahas lagi ya, haha 😆 . Iya, secara keseluruhan aku menikmati filmnya dan jika harus aku beri nilai, aku beri 7,5 dari skala 10 deh 😛 . I

*** Peringatan: bagian selanjutnya ini mengandung sedikit spoilers *** 

Sedikit agak oot nih. Ketika menonton filmnya, aku teringatkan akan dua hal random yang berhubungan dengan dunia entertainment di Indonesia deh 😛 . Pertama, ketika Bruce Wayne menemukan foto rahasianya Diana Prince yang membeberkan identitasnya sebagai Wonder Woman, aku tiba-tiba teringat lagu ini:

Ahahahaha 😆 . 🙈🙈🙈🙈🙈

Kedua, di bagian akhir filmnya setelah Superman mengorbankan dirinya untuk membunuh Doomsday dengan tombak Kryptonite, headline di koran Daily Planet-nya adalah “Superman Dead” dan entah mengapa aku teringat bahwa kalau tidak salah ada band ber-genre rock Indonesia yang bernama “Superman Is Dead” kan ya. Dan ternyata ingatanku benar juga:

LOL 😆

*** Spoiler berakhir disini ***

Cerita Sabtu

Aku memutuskan untuk bekerja di hari Sabtu, haha 😆 . Apakah aku sesibuk itu? Yaa, secara umum memang aku sibuk banget sih di kantor akhir-akhir ini yang mana wajar dengan mempertimbangkan stase riset S3ku saat ini 😛 . Jadi ceritanya ada sebuah pekerjaan kecil yang berhubungan dengan menulis/mengetik yang harus aku kerjakan tetapi aku tidak mau mengalokasikan waktu, tenaga, dan brain power di hari kerja biasaku untuknya yang hanya merupakan pekerjaan sangat amat sederhana. Aku rasa itu bukanlah perencanaan yang bijak untuk hari kerja biasaku, haha 😆 . Tetapi jelas aku harus menyelesaikannya kan ya dan solusinya adlah aku mengerjakannya (dan tugas-tugas serupa) di akhir pekan aja deh 🙂 . Iya, toh aku nggak kemana-mana juga sih akhir pekan ini jadi mengapa tidak kan? 😛

Anyway, kebetulan pula minggu lalu seorang teman sedang berada di Belanda untuk urusan kerjaan dan ia mengundang anak-anak untuk pergi ke bar di hari Sabtu malam. Dan jelas aku ikutan dong ya. Seru banget loh dimana kami ketemuan jam 6 sore, trus ke bar, minum dan ngobrol geje macam-macam, dan tiba-tiba sudah jam 11:30 malam aja dong, haha 😆 . Bahkan kami lupa untuk makan malam! Jadilah jam 11:30 malam itu kami keluar dari barnya dan mencari tempat makan. Karena sudah semalam itu, jelas semua restoran (yang beneran) sudah pada tutup kan di Delft. Jadilah kami pergi ke warung kebab, haha 😆 .

Ngomong-ngomong, temanku memesan menu “loempia” (iya ternyata warung kebabnya jualan lumpia juga, haha 😆 ) seharga €6 (sekitar Rp 90 ribu) yang menurutku kok mahal banget untuk lumpia doang gitu. Tetapi aku pikir mungkin seporsi itu terdiri atas beberapa lumpia sehingga harganya segitu. Namun ternyata, ia hanya mendapatkan satu buah lumpia saja loh, tetapi ukurannya GEDE BANGET!! Beneran deh itu adalah lumpia terbesar yang pernah aku lihat seumur hidup, haha 😆 . Lain kali kalau kesana lagi aku coba ah…

Iyaa, akhir pekan kemarin seruu 🙂 .

#1612 – 2015 SEA Trip (Part I: Bandung)

ENGLISH

So, without further a do, let us start the story of my 2015 SEA Trip with the first destination: Bandung 🙂 .

Getting to Bandung

Wings Air Logo

Flight: Wings Air IW 1811
Equipment: ATR 72-600 reg PK-WGY
ATD: 12:50 WIB (Runway 09 of JOG)
ATA: 14:10 WIB (Runway 29 of BDO)

Wings Air's ATR 72-600 reg PK-WGY

Wings Air’s ATR 72-600 reg PK-WGY

My parents and I arrived at Adisucipto Airport at around 11:30. We were dropped at the Blue Sky lounge and asked their staff to take care of our check-in procedure 😀 . Long story short, we boarded our flight on time at 12:30 PM. Today, IW 1811 was operated with a 5 months young ATR 72-600 reg PK-WGY. It would be my first flight this year with a propeller plane 😀 .

We departed on time at around 12:50 PM. We took off from runway 09 and made a westward u-turn to Bandung. It was a pretty much typical propeller flight operated by a low-cost airline: rather uneventful with no service, except that the plane was vibrating a little bit upon take-off. Anyway, after making a few turns above Bandung, we landed at runway 29 of Husein Sastranegara Airport in Bandung at 14:10. Here is the landing video:

We took our luggage (in the cramped arrival area of BDO) and got a taxi to go to our hotel for check-in.

Bandung

Nostalgia and Reunion

Such a nostalgic view in Bandung

Such a nostalgic view in Bandung

For 46 months of my life, I lived in Bandung. So travelling to Bandung brought up some of those old memories 🙂 . Since months before, I already contacted my friends from my Bachelor time in Bandung for a short reunion. The timing was not the best though because I could only spare a Thursday evening while obviously my friends were all working people. So we could only meet for dinner. But it was still much better than nothing, haha 😆 . After some discussions, we would have dinner at Miss Bee; an unknown location to me because this restaurant started to exist after I left Bandung, haha.

So we decided to meet just in front of Parahyangan University (Unpar). At around 7 PM, I met some of my friends and we immediately went to the restaurant. At the restaurant, a few other joined in. It was such a fun evening!! Too bad because it was Thursday evening, we could only meet for about 2.5 hours. At 9:30 PM, we all had to leave because all of my friends would have to work the next day 😦 . Well, I should arrange a better schedule for the next time then!

Graduation

One main reason I was visiting Bandung this time was because my brother would have his Bachelor graduation that weekend. So this graduation was pretty much the theme of my Saturday in Bandung.

Unpar's Graduation day at Sabuga

Unpar’s Graduation day at ITB

Since the invitation was only for our parents, my brother’s girlfriend and I went to the site at noon while my brother and our parents had attended the ceremony since, like, 7 AM (while I was still in the land of dream, muahaha 😆 ). Anyway, it was quite funny this year that the ceremony did not take place in Unpar (where my brother did his Bachelor) but in Sabuga in ITB (due to the main hall in Unpar being renovated or something). Some of my brother’s friends also came to ITB to congratulate him. Long story short, at around 1 PM, the ceremony (finally) finished. Then, we all (including my brother’s closest friends) went to Ma’ Uneh to have some lunch celebration.

After lunch, we went to a photo studio for the important graduation family photo session, haha 😆 (this is a big deal in Indonesia 😀 ). Unsurprisingly, it was a busy day at the studio. But we already made a reservation so it was okay. Our turn was at 5 PM and we took like 30 minutes or so, haha. Afterwards, we chose our photos and then left for dinner.

Lembang and Bandung

On Friday, we decided to go to Lembang to visit two sites: Lembang Floating Market and Dusun Bambu (Bamboo Village).

With angklungs at the Floating Market

With angklungs at the Floating Market

The first one that we visited was the Floating Market, which was quite cool! We did not buy any of the tokens though (there, we should use the tokens to buy something) which turned out to be a good idea since we ended buying nothing anyway, haha. To me, the best part of the Floating Market was the miniature train park!! So, before becoming obsessed with (commercial) airplanes, mini Zilko was also very obsessed with trains (I still do like trains now too, btw). So this miniature train park was like a dream to me! :mrgreen: And it was a real miniature train park with actually moving trains! Like this one:

Coooool!!!!

From the Floating Market, we went to Dusun Bambu. This place, though, was a little bit underwhelming for me. Not that it was not beautiful. No. It was still pretty. The problem was, their pictures that were around in the internet were super beautiful that, somehow, put my expectation to apparently be too high, haha. Plus, their restaurants were overwhelmingly overpriced so I could not really enjoy the site. Too bad.

Dusun Bambu

Dusun Bambu

In Bandung, aside from the culinary tour (haha), we did not visit too many places. Well, we did visit my favorite mall in Bandung though, Paris Van Java, where I shopped a little bit. But that was pretty much it.

Hotels Hopping

Padma Hotel, Bandung

Padma Hotel, Bandung

We were for four nights in Bandung but we stayed in three different hotels, haha 😆 . Yeah, indeed we did a “hotels hopping” in Bandung. Quite fun though. For the first night, we stayed at Hilton Hotel near the railway station. Then, we moved to H Clarity in Cihampelas. And lastly, we moved to Padma Hotel in Ciumbuleuit. Fare-wise, Padma had the highest fare, followed by Hilton, then H Clarity. Indeed, Padma offered a lot of super cool activities around the hotel (too bad I did not have too much time to enjoy them) while, IMO, Hilton had the best room. On the other hand, H Clarity offered the best and most complete breakfast out of the three. So, yeah, each hotel turned out to have their own offers 🙂 .

The Food

Sundanese lunch at Ma' Uneh

Sundanese lunch at Ma’ Uneh

Unsurprisingly, I ate a lot in Bandung, haha 😆 . It could have been an entire post if I want to write the details of the food I ate there. So I will just sum everything up and list three of the most memorable dishes to me: tahu sumedang, the Sundanese lunch at Ma’ Uneh, and fine dining at my favorite restaurant in Dago Pakar: The Sierra, haha 🙂 .

Speaking of The Sierra, I couldn’t believe myself that the first time I dined there was ten years prior, back in July 2005! It has been literally a decade!

TO BE CONTINUED…

Next on 2015 SEA Trip:
– KLM’s fifth freedom flight from Indonesia to Malaysia
– Kuala Lumpur
– Langkawi
– Singapore
– Johor Bahru

BAHASA INDONESIA

Jadi, langsung saja kita mulai cerita dari 2015 SEA Trip-ku dengan destinasi pertama: Bandung 🙂 .

Pergi ke Bandung

Wings Air Logo

Penerbangan: Wings Air IW 1811
Pesawat: ATR 72-600 reg PK-WGY
ATD: 12:50 WIB (Runway 09 of JOG)
ATA: 14:10 WIB (Runway 29 of BDO)

Wings Air's ATR 72-600 reg PK-WGY

Wings Air’s ATR 72-600 reg PK-WGY

Orangtuaku dan aku tiba di Bandara Adisucipto sekitar jam 11:30 pagi. Kami turun di lounge Blue Sky dan meminta staf mereka untuk melakukan check-in untuk kami 😀 . Singkat cerita, kami menaiki penerbangan kami tepat waktu, jam 12:30. Hari ini, IW 1811 akan dioperasikan dengan sebuah ATR 72-600 berusia 5 bulan dengan registrasi PK-WGY. Ini akan menjadi penerbangan pertamaku tahun ini yang dioperasikan dengan pesawat baling-baling 😀 .

Penerbangan berangkat tepat waktu sekitar jam 12:50 siang. Kami lepas landas dari landasan pacu 09 dan kemudian berputar ke arah barat menuju Bandung. Ini adalah sebuah penerbangan biasa dengan sebuah pesawat baling-baling dengan maskapai low-cost: uneventful gitu deh dengan tanpa diberikan servis apa pun, kecuali bahwa pesawatnya agak bergetar gitu deh ketika lepas landas. Anyway, setelah berbelok-belok di atas langit Bandung, kami mendarat di landasan pacu 29 Bandara Husein Sastranegara di Bandung jam 2:10 siang. Berikut ini video pendaratannya:

Kami mengambil bagasi kami (di area kedatangannya BDO yang super kecil itu) dan kemudian memesan taksi untuk menuju hotel untuk check-in.

Bandung

Nostalgia dan Reunian

Such a nostalgic view in Bandung

Sungguh pemandangan yang membuat nostalgia di Bandung

Selama 46 bulan dalam hidupku, aku tinggal di Bandung. Jadi jalan-jalan ke Bandung jelas membawa memori-memori dari masa itu dong ya 🙂 . Nah, semenjak beberapa bulan sebelumnya, aku sudah mengontak beberapa temanku dari masa kuliah S1-ku dulu di Bandung untuk reunian kecil. Waktunya memang bukan yang terbaik karena aku hanya bisa menyisihkan hari Kamis malam padahal jelas teman-temanku kan pada bekerja semua ya. Jadilah kami hanya bisa bertemu untuk makan malam saja. Ah, tetapi masih mendingan lah daripada tidak sama sekali kan, haha 😆 . Setelah berdiskusi sana-sini, kami akan makan malam di Miss Bee; sebuah restoran yang lokasinya aku kurang familiar karena restorannya baru buka setelah aku pindah dari Bandung, haha.

Jadilah kami memutuskan untuk bertemu di depannya Universitas Parahyangan (Unpar). Sekitar jam 7 malam, aku bertemu dengan beberapa temanku dan kami langsung pergi ke restorannya. Disana, beberapa teman yang lain juga ikut bergabung. Seru deh malam itu!! Sayang banget ya waktu itu Kamis malam sehingga kami hanya bisa bertemu selama 2,5 jam-an. Jam 9:30 malam, kami harus berpisah karena keesokan harinya teman-temanku pada harus bekerja semua 😦 . Ya sudah deh, lain kali artinya aku harus mengalokasikan waktu yang lebih enakan ya!

Wisuda

Alasan utama aku mengunjungi Bandung adalah karena adikku akan mengikuti upacara wisuda S1-nya akhir pekan itu. Jadilah wisuda ini adalah tema utama hari Sabtuku itu di Bandung.

Unpar's Graduation day at Sabuga

Wisuda Unpar di ITB

Karena undangannya cuma untuk orangtua aja, pacarnya adikku dan aku baru berangkat ke lokasinya tengah hari dimana adikku dan orangtua kami sudah berangkat dari jam 7 pagi (dimana aku masih enak-enak tidur dong ya, muahahaha 😆 ). Ngomong-ngomong, lucu juga lho kali ini dimana upacaranya tidak dilangsungkan di Unpar (universitasnya adikku) tetapi malah di Sabuga di ITB (kayanya sih karena gedung serbagunanya Unpar sedang direnovasi atau gimana gitu). Beberapa temannya adikku juga datang ke ITB untuk menyelamatinya. Singkat cerita, jam 1 siang (akhirnya) upacaranya beres juga. Dari sana, kami semua (termasuk teman-temannya adikku) pergi ke Ma’ Uneh untuk makan-makan bersama.

Setelah makan siang, kami pergi ke studio foto untuk acara sesi foto keluarga edisi wisuda (ini penting nih di Indonesia 😀 ). Tidak mengherankan, studio fotonya rame banget. Jelas kami sudah membuat reservasi sih jadi nggak masalah juga. Giliran kami adalah jam 5 sore dan kami foto-foto selama sekitar setengah jam deh, haha. Setelahnya, kami memilih-milih fotonya dan kemudian makan malam.

Lembang dan Bandung

Di hari Jumat, kami pergi ke Lembang untuk mengunjungi dua tempat: Floating Market dan Dusun Bambu.

With angklungs at the Floating Market

Angklung di Floating Market

Yang kami kunjungi pertama adalah Floating Market, yang mana keren juga! Kami tidak membeli koinnya sih (disana, kami harus menggunakan koin untuk membeli sesuatu) yang mana ternyata keputusan yang tepat juga karena toh kami nggak membeli apa-apa, haha. Untukku, bagian terkeren dari Floating Market-nya adalah taman kereta api mininya!! Jadi, ceritanya sebelum terobsesi dengan pesawat (komersial), mini Zilko juga terobsesi dengan kereta gitu deh (sekarang juga masih suka kereta loh). Jadi taman miniatur ini jelas adalah seperti mimpi bagiku ya! :mrgreen: Dan ini adalah taman miniatur yang beneran loh dimana keretanya juga bergerak! Kayak ini:

Kereeeeen!!!!

Dari Floating Market, kami pergi ke Dusun Bambu. Tempat ini, sayangnya, agak mengecewakan untukku. Bukannya tidak indah sih. Bukan. Tempatnya bagus kok. Masalahnya, foto-fotonya yang bertebaran di internet itu super indah banget sehingga ekspektasiku akan tempat ini ternyata menjadi terlalu tinggi gitu deh, haha. Ditambah lagi, restorannya kok overpriced banget sehingga membuatku jadi kurang bisa menikmati tempatnya. Sayang deh.

Dusun Bambu

Dusun Bambu

Di Bandung, di samping tur kuliner (haha), kami tidak banyak mengunjungi tempat-tempat gitu deh. Ya, kami juga berkunjung ke mall favoritku di Bandung sih, Paris Van Java, dimana aku belanja sedikit. Tetapi ya udah cuma itu aja sih.

Hotels Hopping

Padma Hotel, Bandung

Padma Hotel, Bandung

Kami menghabiskan empat malam di Bandung tetapi kami menginap di tiga hotel yang berbeda, haha 😆 . Ya, kami memang melakukan hotel hopping gitu deh di Bandung. Cukup seru juga. Malam pertama, kami di Hotel Hilton di dekat stasiun kereta. Lalu, kami pindah ke H Clarity di Cihampelas. Dan terakhir, kami menginap di Hotel Padma di Ciumbuleuit. Dari segi tarif, Padma memiliki tarif yang tertinggi, diikuti oleh Hilton, lalu H Clarity. Tetapi Padma memang menawarkan banyak sekali aktivitas menarik di sekitar hotelnya sih (sayangnya aku justru tidak memiliki banyak waktu untuk menikmatinya) sementara, menurutku, Hilton memiliki kamar yang terenak. Sementara itu, sarapan terbaik diberikan oleh H Clarity dengan pilihan yang sungguh lengkap dan beragam. Jadi, ya, memang masing-masing hotel menawarkan keunggulannya masing-masing 🙂 .

Makanannya

Sundanese lunch at Ma' Uneh

Makan siang ala Sunda di Ma’ Uneh

Tidak mengherankan, aku makan banyak deh di Bandung, haha 😆 . Bakalan menjadi satu posting sendiri kalau setiap makanannya mau aku sebutkan disini. Jadi aku akan ringkas saja ya dan menyebutkan tiga makanan yang paling berkesan untukku: tahu sumedang, makan siang ala Sunda di Ma’ Uneh, dan fine dining di restoran favoritku di Dago Pakar: The Sierra, haha 🙂 .

Ngomongin The Sierra, aku sendiri nggak percaya lho bahwa pertama kali aku makan disana adalah sepuluh tahun sebelumnya, yaitu di bulan Juli 2005! Sudah satu dekade dalam artian sebenarnya!!

BERSAMBUNG…

Selanjutnya dalam 2015 SEA Trip:
– Penerbangan kebebasan kelima KLM dari Indonesia ke Malaysia
– Kuala Lumpur
– Langkawi
– Singapore
– Johor Bahru