General Life, Zilko's Life

#2123 – A Couple of Recent Sporting Stories

ENGLISH

French Open Coverage

So last week the French Open was concluded. I even went to Paris for the women’s singles final and men’s doubles final last weekend.

Anyway related to this tennis tournament, last year I was happy with my tv cable subscription as it also had two (sometimes three) channels covering some of the main tennis tournaments, including the French Open. This year, however, I was slightly disappointed with the coverage of the French Open 😛 . This was because, especially in the first week of the tournament, quite often the matches that I were most interested in were not aired in those channels (There were more channels for tennis but I would need extra subscription for those).

Though, Venus Williams’ match was aired. Though the result was not what I wished…

It wasn’t “deliberate” or anything, as it was more of my bad luck with the scheduling. I mean, once the channel aired the first round match between Kiki Bertens and Aryna Sabalenka over Serena Williams’ first grandslam match since giving birth to her daughter versus Kristýna Plíšková, haha. I mean, I got it that Kiki Bertens was Dutch and so this was why she got the “priority” as it happened that both matches took place concurrently, but still 😛 (Thankfully, a Belgian channel covered Serena’s match so afterall it was ok).

But you know, somehow I got the general feeling of “disappointment” with this year’s coverage of the French Open in the first week, haha…

The Injury

Anyway speaking of sport, last week I mentioned that I just realized I had a slight knee injury which frustrated me a little bit because it hindered me from my short-term goal of intensifying my cardio training a little bit more to accelerate my body fat percentage loss, haha.

Actually on my gym session that day I published the post, I decided to “test the water” right away by intensifying my cardio session a little bit. Obviously the injury hadn’t been healed yet but at the same time I would like to know how “bad” it actually was. And it turned out to be not as bad as I thought, haha. While I still “felt” it, it didn’t prevent me from finishing my cardio. Though, of course I still used my common sense by not really pushing it too much.

But so far so good! 😀

BAHASA INDONESIA

Penayangan French Open

Jadi ceritanya minggu lalu turnamen tenis French Open selesai. Aku bahkan pergi ke Paris untuk menonton babak final tunggal putri dan ganda putranya akhir pekan kemarin ini.

Anyway berkaitan dengan turnamen tenis ini, tahun lalu aku merasa senang dengan keputusanku untuk berlangganan tv kabel karena aku jadi memiliki dua (kadang tiga) saluran tv yang menayangkan beberapa turnamen-turnamen tenis besar, termasuk French Open ini. Tahun ini, tapinya, aku sedikit merasa kecewa dengan penayangan French Open-nya 😛 . Terutama di minggu pertama turnamennya sih, dimana ada beberapa pertandingan yang mana aku tertarik tetapi tidak ditayangkan di saluran-saluran tersebut (Sebenarnya ada lebih banyak saluran lagi yang menayangkan semua pertandingannya tetapi aku harus berlangganan ekstra untuk itu).

Eh tapi pertandingannya Venus Williams ditayangkan sih. Walaupun hasil pertandingannya tidak sesuai harapanku…

Ini bukannya “disengaja” atau gimana sih, karena sebenarnya ya ini adalah kesialanku aja dengan jadwal pertandingannya. Misalnya, suatu kali salurannya menayangkan pertandingan babak pertama antara Kiki Bertens dan Aryna Sabalenka dong dan bukannya pertandingan grandslam pertama-nya Serena Williams setelah melahirkan anak perempuannya melawan Kristýna Plíšková, haha. Iya sih aku paham Kiki Bertens itu adalah pemain Belanda jadilah ia mendapatkan “prioritas” karena kedua pertandingan ini kebetulan kok dimainkan bersamaa, tapi tetap aja lah ya 😛 (Untungnya waktu itu ada saluran Belgia yang menayangkan pertandingannya Serena sih jadi nggak apa-apa lah).

Tapi intinya adalah, entah mengapa tahun ini aku kok merasa “kecewa” gitu dengan penayangan dari turnamen French Open ini, terutama di minggu pertama, haha…

Cedera

Anyway mumpung ngomongin olahraga, minggu lalu aku ceritakan tentang cedera lutut minorku yang menyebalkanku karena cederanya menjadi penghalang bagiku dalam mencapai tujuan jangka pendekku yaitu meningkatkan intensitas latihan kardio untuk mempercepat proses penurun persentase lemak tubuhku, haha.

Nah jadi sebenarnya di sesi gym-ku di hari posting itu aku publikasikan, aku memutuskan untuk “cek-cek ombak” dengan langsung meningkatkan intensitas sesi kardioku sedikit. Jelas waktu itu cederanya masih belum sembuh, tetapi pada saat yang sama aku juga ingin tahu seberapa “parah” sebenarnya cederanya kan. Dan ternyata tidak separah yang aku takutkan, haha. Walaupun cederanya masih “terasa”, tetapi tidak sampai membuatku tidak bisa menyelesaikan target kardioku kok. Ah, tapi jelas aku masih menggunakan akal sehat juga lah ya dimana aku juga tidak terlalu memaksakan target yang tinggi-tinggi amat dulu.

Tapi sejauh ini, so far so good kok! 😀

Advertisements
General Life, Zilko's Life

#2118 – Some Recent Health Stories

ENGLISH

The title sounds dramatic I know, and it brings the impression that sounds much worse than it actually is, haha. So first of all, let me first state that I am fine. I am not ill or anything, haha 😛 .

Anyway having said that, currently I have a slight knee injury. Well, it is not the knee itself, though, but the muscle just slightly lower to the side of the knee (so I’m not sure if this counts as a “knee” injury? 😛 ). Perhaps I inadvertently pulled the muscle or something not too long ago, hmm. I understand that a way to treat this is by to let it heal naturally. And this can be accelerated by not forcing too much pressure on it. In other words, I need to be easy on my knee, haha.

In a way, this has been slightly frustrating because it has hindered my exercise rhythm and plan. So not too long ago I have decided that I would like to intensify my cardio training a little bit to lower my body fat percentage a bit faster, haha. But most cardio trainings which I have access to depend so much on the use of knees (running/biking/stairs climbing/etc). Of course some are less demanding on the knees than the others. But still, this narrows down the list of options and this is quite challenging 😛 .

Though, I have learned that I need to listen to my body in order to optimally achieve my goal without sacrificing my health, haha. So I guess this is the instance where I need to watch my exercise and be mindful of the current situation.

Having said that, of course I still go to my weekly tennis lesson; and tennis, to me, is also a form of cardio because I need to move and run a lot during the lesson, haha 😛 . But the running is less demanding on the knee because the lesson is on a clay court, where the surface is softer. Though, of course tennis is more than just the running as we need to use and control our body weight on each shot; and the knees are actually under higher pressure because some shots would require you to pivot most of your body weight on one of your knees, haha. For instance, as a right-handed player, I pivot my body weight on my right knee when I hit a backhand, and on my left knee when hitting a forehand or a serve.

But well, I find tennis super fun and the “fun” is what I am after from this lesson as well. My mental well being feeds on the “fun”, and this is also important to take care of, haha 😆 .

Tennis is fun

BAHASA INDONESIA

Judulnya drama banget memang, dan memang memberikan impresi yang lebih buruk daripada kenyataannya, haha. Jadi pertama-tama, aku sebutkan dulu bahwa aku tidak apa-apa kok. Aku tidak sakit atau apa lah, haha 😛 .

Anyway walaupun begitu, saat ini aku sedang agak cedera lutut, haha. Eh, bukan lututnya sih sebenarnya, tetapi otot di sebelah samping dan agak ke bawah dari lututnya (jadi ini termasuk cedera “lutut” bukan sih? 😛 ). Mungkin tidak sengaja beberapa waktu yang lalu ototnya tertarik atau bagaimana gitu, hmm. Aku paham bahwa satu cara perawatannya sih adalah dengan membiarkannya sembuh sendiri. Dan ini bisa dipercepat dengan tidak terlalu banyak memberikan tekanan kepadanya. Dengan kata lain, aku mesti membiarkan lututku beristirahat, haha.

Di satu sisi, kondisi ini agak menyebalkan karena terus-terang ini mengganggu ritme dan rencana latihan olahragaku. Belum lama ini sudah kuputuskan aku ingin sedikit meningkatkan intensitas latihan cardio-ku untuk mempercepat penurunan body fat percentage-ku, haha. Tapi kebanyakan jenis latihan cardio yang bisa kulakukan membutuhkan kondisi lutut yang prima nih (lari/sepedaan/naik tangga/dll). Memang sih sebagian lebih ramah lutut daripada yang lainnya. Tapi ini mengakibatkan pilihan jenis latihan yang lebih sedikit dan situasi ini agak challenging 😛

Tapi aku sudah belajar bahwa aku perlu untuk mendengarkan tubuhku sendiri untuk mencapai tujuanku secara optimal tanpa mengorbankan kesehatanku, haha. Jadi aku rasa ini adalah kasus dimana aku perlu berhati-hati dengan olahraga yang aku lakukan dan paham akan situasinya saat ini ya.

Walaupun begitu, tentu saja aku tetap pergi ke les tenisku setiap minggu, haha; dan tenis, untukku, adalah satu bentuk cardio juga karena aku harus banyak bergerak dan berlari di sepanjang lesnya, haha 😛 . Tapi larinya sedikit lebih ramah di lutut sih karena lesnya diadakan di lapangan tanha liat, yang mana permukaannya lebih empuk. Walaupun begitu, tentu saja tenis itu lebih dari sekedar lari dimana kita harus menggunakan dan mengontrol berat badan di setiap pukulan; dan sebenarnya justru lutut berada dalam tekanan yang lebih besar sih karena untuk beberapa jenis pukulan kita harus mem-pivot-kan berat badan di salah satu lutut, haha. Misalnya, karena aku adalah pemain non-kidal, aku mem-pivot-kan berat badanku di lutut kanan ketika memukul backhand, dan di lutut kiri ketika memukul forehand atau serve.

Ah, tapi kan tenis itu super seru ya dan “keseruan” ini yang aku cari dari les tenis ini. Kesehatan mentalku kan terjaga dengan adanya “keseruan” ini dalam aktivitasku, dan ini juga penting untuk dijaga dong ya, haha 😆 .

General Life, Life in Holland, Zilko's Life

#2059 – Sporting in January

ENGLISH

Needless to say that January was quite an eventful month for me. While it was certainly fun, the downside of that was that it was a little bit challenging to get my “sporting rhythm” back! Lol 😆 .

The month started off with the terrible jetlag I got after coming back from my year end trip to California. It took awhile before my body adjusted to the Central European Time (CET). Once it did, some interesting special events took place at work, haha. And then of course there was the two trips in a week I did at the end of the month to two places with great food like the following 😛 .

Another amazing brunch in Copenhagen
A tortellini bolognese with ragu in Bologna!

All of these made my sporting pattern to be quite “sporadic”. It was a little bit annoying because a few times I felt like I started to get some of the “groove” back (via the combination of my visit to the gym and a new tennis lesson season (which will be longer this season)), but then an “elongated break” must follow hence killing off some of the groove, haha 😛 . But hey, a sporadic pattern was better than nothing, right? Beside, looking at the positives, it was actually really nice to have these events “spicing up” what otherwise would have been a dull winter month of January (a cold winter month following a festive Christmas and New Year holiday season), haha 😛 .

Nonetheless, I am glad that my schedule in February thus far and what have been planned ahead seem to look more “regular”. And so I hope I would get my rhythm back as soon as possible!

BAHASA INDONESIA

Sudah jelas ya bulan Januariku kemarin adalah bulan yang cukup berwarna untukku. Walaupun jelas seru, di sisi lain warna-warna itu menjadi tantangan tersendiri untukku mendapatkan kembali “ritme berolahraga”-ku! Hahaha 😆 .

Bulan kemarin ini aku mulai dengan jetlag parah akibat dari perjalanan akhir tahunku ke California. Badanku membutuhkan waktu cukup lama untuk membiasakan kembali dengan zona waktu Central European Time (CET). Begitu adaptasinya selesai, beberapa acara menarik diadakan di kantor, haha. Dan tentu saja adanya dua perjalanan dalam seminggu di akhir bulan ke dua tempat yang makanannya enak-enak seperti berikut ini 😛 .

Brunch yang enak banget di Kopenhagen
Tortellini bolognese dengan ragu di Bologna!

Semua ini membuat pola olahragaku di bulan ini “sporadis”. Rasanya sedikit menyebalkan soalnya beberapa kali begitu aku merasa mulai mendapatkan “groove“-nya kembali (melalui kunjunganku ke gym dan kelas les tenis baru (yang mana kali ini akan lebih panjang dari semester yang lalu)), eh aku harus “absen lumayan panjang” yang mana mengurangi level groove-nya, haha 😛 . Ah, tetapi pola yang sporadis masih mendingan daripada tidak berolahraga sama sekali kan ya? Di samping itu, kalau dilihat dari sisi positifnya, sebenarnya acara-acara itu justru membuat Januari menjadi seru sih, bukannya bulan yang menyebalkan di musim dingin (bulan musim dingin yang, hmm, dingin setelah musim liburan Natal dan Tahun Baru yang seru), haha 😛 .

Tapi bagaimana pun juga, sekarang aku merasa lega dengan jadwalku di bulan Februari ini yang sejauh ini dan ke depannya nampak akan lebih “reguler”. Jadi mudah-mudahan ritmeku segera aku dapatkan kembali!

General Life, Zilko's Life

#1983 – Finally, Tennis!

ENGLISH

Finally, this week the tennis lesson at my new tennis club started! “Finally” because, you know, I have been a member of the club since June but the lesson starts just now, haha 😆 . Plus, the last time I played tennis was actually back in December 2016 in Delft, meaning that prior to this week I literally had not played at all this year!! On top of that, I mistakenly thought the tennis lesson would have started two weeks ago. And so it felt like I had been waiting for even longer! Haha 😆

Obviously I was really rusty during my first lesson this week. This was unsurprising as this was the longest “tennis-free” streak I have had since I first picked up a tennis racket in 2011, haha. I am sure I am going to (maybe slowly) get my rhythm back, I just need more time. Even though admittedly it was quite frustrating to miss a lot of easy shots, haha.

I am really glad, though, that finally the tennis lesson has started. To be honest, I have been feeling quite worried with my exercise routine because before this week, I only went to the gym. This meant the lack of variety and I actually went to the gym about four to five times a week. While it was working fine this past a few months, I was slightly concerned with how this would pan out in the longer term. Of course, occassionally I also jogged or biked on weekends, which added some variety, but these activities could not be done regularly given my frequent weekend trips ( 😛 ) and that sometimes I felt the need to just rest and recharge myself on weekends.

I am quite confident this tennis lesson will help a lot. Not only that I get to regularly do a sport exercise that I love, this also provides me the opportunity of meeting other tennis enthusiasts nearby and hence perhaps even more occassional friendly tennis activities outside of the lesson hour! 🙂

So, yeah, I am excited about this! 🙂

BAHASA INDONESIA

Akhirnya, minggu ini les tenis di klub tenis baruku dimulai juga! “Akhirnya” karena, tahu lah, aku sudah mendaftar menjadi anggota klubnya semenjak Juni kemarin tetapi lesnya baru dimulai sekarang, haha 😆 . Ditambah lagi, terakhir kali aku main tenis adalah di bulan Desember 2016 di Delft, artinya sebelum minggu ini aku belum pernah sekali pun bermain tenis tahun ini dong!! Apalagi, awalnya aku salah ingat dimana kukira lesnya bakal dimulai dua minggu yang lalu. Jadilah “penantianku” semakin panjang rasanya ya, haha.

Tentu saja permainanku karatan banget di les pertamaku minggu ini. Nggak mengherankan lah karena ini adalah “tennis-freestreak terpanjang semenjak aku pertama kali belajar les tenis di tahun 2011, haha. Aku yakin kok aku akan (perlahan-lahan) mendapatkan ritmeku kembali, aku hanya butuh waktu saja. Walaupun harus kuakui, sebal banget rasanya ketika membuat kesalahan sendiri di banyak pukulan-pukulan yang sebenarnya gampang, haha 😛 .

Aku lega lho akhirnya les tenis ini dimulai juga. Sejujurnya, aku sudah mulai merasa agak khawatir dengan rutinitas olahragaku karena sebelum minggu ini, aku hanya pergi ke gym saja. Ini berarti tidak ada banyak varietas dan aku pergi ke gym sebanyak empat sampai lima kali seminggu. Walaupun kondisi ini bukanlah masalah selama beberapa bulan terakhir ini, aku sedikit khawatir bagaimana rutinitas semacam ini bisa bertahan dalam jangka panjang. Memang sih, kadang-kadang aku jogging atau sepedaan juga di akhir pekan, yang mana lumayan dalam hal varietas. Masalahnya, aktivitas-aktivitas ini tidak bisa kulakukan secara rutin akibat perjalanan akhir pekanku yang sering itu ( 😛 ) dan terkadang aku merasa perlu untuk beristirahat saja di akhir pekan.

Jadi aku merasa percaya diri les tenis ini akan membantu banget. Selain aku jadi bisa berolahraga permainan favoritku secara reguler, les ini juga memberiku kesempatan untuk berkenalan dengan beberapa penyuka tenis lainnya di dekatku sehingga mungkin kadang-kadang kan bisa main tenis sendiri di luar jam les gitu! 🙂

Jadi, ya, aku sungguh bersemangat akan hal ini! 🙂

About Myself, Contemplation, The Past, Thoughts, Zilko's Life

#1973 – People *Can* Change

ENGLISH

I came across something interesting when preparing some material for this post. It was not something surprising in general, but I was quite “wowed” to see that, apparently, I was a living proof for something. And that something was: people *can* change.

In that post I linked to a post of mine from 2011, in where I explicitly wrote:

Well, actually I am not really a sport guy …

Oh wow, how things have changed!!

Okay, I am not going to claim I am a sport guy now because the definition of that is rather vague. However, I can say that now I exercise regulary, a lot lot more regularly than back then. In fact, I feel guilty if I don’t exercise at least once within 48 hours, except when I am on a trip (which I often am 😛 ) where I give myself more leeway. But then again, I walk a lot while on a trip, sometimes even up to 15 km in a day, which is also a form of exercise actually 🤔.

I do like to walk while travelling, like this time in Stonehaven, Scotland in 2015.

In 2011, I still had the mindset I had built since I was, probably, in elementary school. You see, back then I never excelled in sports/gym class at school. Not that I did bad, I was just average. On the other hand, I excelled academically and I decided to put all my focus on this. It was fine for me to not excel in sports, as that was not my forte anyway, because I knew that “brain” was my thing. Brain over brawn. And, maybe in a way, I might try to build my identity around this idea. The problem with this? Nothing, except that I kindof took my health for granted, which had unintentionally become part of that identity as well.

Clearly something has changed since 2011. I cannot pinpoint what exactly happened and when, so maybe the mindset change was a gradual process. But what I know is that over time, I started to understand that I could not, and should not, take my health for granted. And I knew that this had to be for the long-term goal. I started to do more exercises; one baby step at a time, as otherwise it would not work. I also started to watch what I eat. I use brown/red rice at home now. It is more expensive, but my health is more important. I also eat much less rice nowadays. Even one time during lunch at the office, my colleague pointed out that I did not take any rice that day even though the menu was a lamb curry and rice was abundantly provided.

In my first week in the Netherlands in 2010
At Court Philippe Chatrier in 2016

And I do see, and feel, the result; and this might be one factor which keeps the motivation running and burning also. While not obese (Thankfully 😛 ), I was quite overweight back then. Since then, I have lost about 25 kg (This was over a period of 2 years, I think; since then I have managed to maintain my current weight). A friend here even often jokes that I was three times bigger when we first met in my first month in the Netherlands, lol 😆 . Not surprising, though. The two pictures above showed me in my first week in the Netherlands in 2010 (left) and when I went to Roland Garros last year (right). 🙈 More importantly, I also feel much, much, much better in the inside. I feel like my mind is clearer, and I feel much happier overall than I was before. The classic Latin phrase “Mens sana in corpore sano” is no bullshit. I really mean this.

It might be a bit “unusual” but I feel like I am in better physical and mind shape now, when I am in my late 20s, than years ago in my late teens or early 20s.

***

To me, this is interesting. Something which I believed was part of my identity could change over time, just by the power of will and patience and time, thankfully for the good. Thank to this blog, though, that I can make this observation (Hey this is one of my reasons to blog anyway 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Aku mendapatkan suatu obervasi menarik ketika mempersiapkan materi posting ini beberapa waktu lalu. Walaupun nggak mengherankan secara umum, aku cukup dibuat “terpana” karenanya, ternyata karena aku adalah bukti hidup untuk suatu hal. Dan hal itu adalah: orang *bisa* berubah.

Jadi begini, di posting itu aku memberikan tautan ke sebuah posting-ku di tahun 2011, dimana waktu itu secara eksplisit aku tulis:

Yah, sebenarnya aku kan bukan orang yang sporty banget yah …

Oh wow, bagaimana situasi sudah berubah banget sekarang!!

Oke, aku tidak akan mengklaim bahwa aku orang yang sporty sekarang karena definisi sporty sendiri tidak jelah saklek/pasti. Namun, aku bisa bilang bahwa sekarang aku berolahraga secara rutin, jauh, jauh lebih rutin daripada dulu. Bahkan, aku akan merasa bersalah apabila aku tidak berolahraga minimal sekali dalam selang waktu 48 jam, kecuali ketika sedang jalan-jalan (yang mana sering aku lakukan sih 😛 ) dimana aku lebih tidak ketat akan hal ini. Namun lagi, ketika jalan-jalan aku hampir selalu berjalan-kaki sih, bahkan terkadang bisa mencapai 15an km dalam satu hari. Dan ini kan salah satu bentuk olahraga juga yah 🤔.

Aku suka berjalan-kaki ketika jalan-jalan, seperti misalnya kala ini di Stonehaven, Skotlandia di tahun 2015.

Di tahun 2011, aku masih memiliki mindset yang sudah kutanam semenjak, mungkin, sewaktu aku SD. Jadi ceritanya dulu aku tidak unggul di pelajaran olahraga gitu deh. Bukannya jelek sih, tapi aku biasa-biasa aja lah. Di sisi lain, secara akademis aku sangat unggul dan aku memutuskan untuk memfokuskan diriku total ke sisi ini. Nggak apa-apa aku nggak unggul di olahraga, toh memang olahraga bukanlah keahlianku kok, karena aku tahu aku unggul dalam hal “otak”. Brain over brawn gitu deh ceritanya. Dan mungkin, di satu sisi, aku juga membangun identitas diriku berdasarkan ide ini. Masalah dari ini? Nggak ada sih sebenarnya, kecuali bahwa aku menjadi cukup menyepelekan urusan kesehatan yang, sayangnya, tidak sengaja menjadi bagian dari identitas ini.

Jelas sesuatu sudah berubah semenjak tahun 2011. Aku sendiri tidak bisa menunjukkan apa yang terjadi dan kapan persisnya, jadi aku rasa perubahan mindset-ku adalah sebuah proses. Yang kutahu adalah seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa aku tidak boleh, dan memang sebaiknya tidak, menyelepekan urusan kesehatanku. Dan aku tahu ini harus lah untuk tujuan jangka panjang. Aku mulai berolahraga lebih rutin; pelan-pelan saja tapi pasti karena kalau tidak, pasti tidak akan jalan secara jangka panjang. Aku juga mulai lebih memperhatikan apa yang aku makan. Aku menggunakan beras coklat/merah sekarang. Lebih mahal memang, tetapi kesehatanku lebih penting. Aku juga mengurangi banyak konsumsi nasiku. Bahkan suatu waktu ketika makan siang di kantor, seorang kolegaku bertanya mengapa aku tidak mengambil nasi padahal menu yang disajikan hari itu adalah kari kambing yang ditemani dengan nasi.

Di minggu pertamaku di Belanda tahun 2010
Di Lapangan Philippe Chatrier tahun 2016

Dan aku sendiri melihat, dan merasakan, hasilnya; dan memang ini adalah satu faktor yang membantu motivasiku untuk tetap menyala. Walaupun nggak sampai obesitas (untungnya 😛 ), aku bisa dikatakan agak overweight dulu, haha. Semenjak waktu itu, beratku sudah turun sekitar 25an kg (Penurunan ini dalam periode 2 tahunan sih kalau nggak salah; dan semenjak itu beratku aku pertahankan). Seorang temanku bahkan sering bercanda menyebutkan bahwa dulu aku berukuran tiga kali lebih besar ketika kami pertama kali bertemu di bulan pertamaku di Belanda, haha 😆 . Nggak mengherankan juga sih. Dua foto di atas menunjukkan aku di minggu pertamaku di Belanda di tahun 2010 (kiri) dan ketika aku pergi ke Roland Garros tahun lalu (kanan). 🙈 Lebih penting lagi, aku juga merasa jauh, jauh, jauh lebih baik secara mental. Aku merasa pikiranku lebih jernih, dan aku merasa jauh lebih bahagia secara keseluruhan daripada dulu. Ungkapan Latin klasik “Mens sana in corpore sano” itu bukan omong kosong. Dan aku bersungguh-sungguh dengan pernyataan ini.

Mungkin agak “tidak biasa” tetapi aku merasa berada dalam kondisi fisik dan mental yang lebih baik sekarang, di penghujung umur 20anku, daripada bertahun-tahun lalu di penghujung umur remajaku atau awal 20an.

***

Untukku, ini menarik. Sesuatu yang dulunya aku kira bagian dari identitasku bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu, hanya karena kekuatan pikiran dan kesabaran dan waktu, untungnya untuk hal yang positif. Berkat blog ini juga sih aku bisa membuat observasi ini (Hey, memang ini kan salah satu alasan ngeblog 😀 ).

Thoughts

#1972 – The Egg Contamination Scandal

ENGLISH

You might have heard of the egg contamination scandal in Europe from earlier this month. So several farms were closed in the Netherlands, Belgium, France, and Germany after it had been found out that the farms used fipronil, insectiside used to combat lice and banned in EU for use in the food industry.

And don’t worry, I am not going to talk about news or politics on this one, haha…

As for me, indeed I noticed a strange pattern at my office’s canteen for lunch. Starting from the first week of August or so, somehow the canteen didn’t serve boiled eggs. I found it weird because in the ten months of my time here, the canteen had always served boiled eggs. Always. But at the end of the day it was just boiled eggs matter so I didn’t think about it too much, haha.

And it started to make more sense when this news came out. If the eggs supply had been massively disturbed (even eggs (from the affected suppliers) were withdrawn from supermarkets), an obvious consequence of that would indeed be less egg-based dish to serve.

At home, I decided to throw away the remaining eggs I still had at that point. And I have been on egg abstinence for a short period of time. You know, just to be on the safe side, haha. Though, I am not sure how long this will go as eggs have been part of many people’s daily food consumption. So it will be hard to totally avoid egg-based product!

This makes me think, though, that it is extremely difficult to know everything about what you put into your body. You see, unless you produce everything you consume by yourself, which of course is close to impossibility, IMO, you would never know. Possibly the most convenient thing to do is to rely on the regulator and trust that they do their job properly. I mean, it feels like due to the impossibility I mentioned above, it is not worth my time and energy to dwell too much on this matter on our own, don’t you think?

Though, I am also curious. What would you do in this situation?

A possible solution: bio eggs? 🤔

BAHASA INDONESIA

Mungkin sudah pada dengar skandal kontaminasi telur yang lagi rame banget di Eropa awal bulan ini. Jadi ceritanya beberapa peternakan telur di Belanda, Belgia, Prancis, dan Jerman ditutup karena ditemukan bahwa fipronil, insektisida yang digunakan untuk melawan hama kutu (lice) dan penggunaannya dilarang di Uni Eropa di industri makanan, digunakan.

Tenang aja, aku nggak akan membahas berita ini atau pun sisi politiknya kok, haha…

Untukku, memang awalnya aku memperhatikan ada pola yang aneh di kantin kantorku untuk makan siang. Mulai sekitar awal Agustus gitu, entah mengapa kantinnya tidak lagi menyediakan telur rebus. Bagiku ini aneh karena selama sepuluh bulanan aku bekerja di sini, setiap hari kantinnya selalu menyediakan telur rebus gitu. Setiap hari. Tapi berhubung ini cuma masalah telur rebus doang sehingga ini tidak terlalu aku pikirkan lah ya, haha.

Dan semuanya menjadi semakin masuk akal ketika berita ini mencuat. Kalau memang pasokan telurnya terganggu banget (bahkan telur-telur (dari supplier-supplier yang terkena imbasnya) juga ditarik loh dari supermarket), konsekuensinya jelas akan terasa di penyediaan makanan yang berbasis telur kan ya.

Di rumah, aku memutuskan untuk langsung membuang telur-telur yang masih tersisa sampai waktu itu. Dan untuk sementara ini aku memutuskan untuk puasa telur dulu aja ah. Ya kan untuk jaga-jaga gitu, demi amannya kan, haha. Walaupun, nggak yakin juga sih ini bakal bertahan berapa lama karena bagaimana pun juga telur kan sudah menjadi bagian dari gaya konsumsi sehari-hari ya, haha. Jadi jelas sulit banget lah untuk sama sekali menghindari produk berbasis telur!

Tapi aku jadi kepikiran nih, bahwa sulit sekali untuk benar-benar mengetahui semuanya dan apa saja yang kita masukkan ke dalam tubuh kita. Kecuali kita benar-benar memproduksi sendiri semuanya, yang mana menurutku sih mustahil ya, kita tidak akan pernah seyakin itu. Mungkin keputusan yang paling nyaman dan logis ya mempercayakan ini kepada regulator bahwa mereka menjalankan tugas mereka dengan baik. Maksudku, rasanya akibat kemustahilan yang kusebutkan di atas, rasanya nggak worth it lah ya untuk menghabiskan waktu, energi, dan pikiran kita untuk khawatir akan permasalahan ini sendiri, iya nggak sih?

Tapi aku juga penasaran sih. Apa yang akan kalian lakukan dalam situasi ini?

Apakah telur yang bio adalah satu kandidat solusi? 🤔
General Life, Zilko's Life

#1963 – The Nutrition App and Morning Tram

ENGLISH

The Nutrition App – The Aftermath

In July I shared about an app nutrition I downloaded in June which helped me track my daily consumption of food. At the time, I already had doubts on my usage of this app in the long run due to the tedious amount of work required to make it work, haha. And this turned out to be true. I stopped using it just a few weeks after I published that post, haha 😆 .

But as I said there, what I actually needed from the app was not the actual daily intake of what I ate everyday, as the data “noise” appeared to be great anyway. The main usage of the app was to provide an overview of my eating habit, broken down by the nutrients. With this, I would be able to analyze my habit and make some needed adjustments to reach my goal. And for this, a few days of data would have been enough anyway, haha.

So while I would guess that my daily intake now might not be as “efficient” as back then when I was still using the app everyday, at the very least I hope it is still better than how it was before the app! Haha 😛

Though, yesterday I succumbed to the temptation of this dessert at the office. But a cheat day once in awhile never hurts, right? Haha 😆

Tram

Anyway, let’s move on to a completely different subject. One day not too long ago I got up a little bit earlier than usual and so I decided to also go to work a little bit earlier as well. And that day, I learned that it would actually be better for me to go to work at my normal time, haha. As it turned out, going to work earlier would coincide with the busier part of the rush hour where the tram to the city center was really full. At my usual time, I always find a vacant seat so it is really convenient. But that day, I had to stand all the way! Haha 😆

Ok then, lesson learned.

BAHASA INDONESIA

App Nutrisi – Pada Akhirnya

Juli kemarin aku bercerita mengenai sebuah app nutrisi yang aku unduh di bulan Juni yang membantuku merekam apa saja makanan yang aku konsumsi setiap harinya. Waktu itu, aku sudah memiliki keraguan akan penggunaan app ini dalam jangka panjang karena ribet dan banyaknya hal yang harus dilakukan agar app-nya bekerja, haha. Dan ternyata ini benar kok. Aku berhenti menggunakannya hanya beberapa minggu setelah posting itu aku publikasikan, haha 😆 .

Tapi seperti yang kubilang di sana, yang sebenarnya aku butuhkan dari app-nya bukanlah rekaman apa yang aku konsumsi setiap hari, karena toh datanya juga “noisy” banget. Kegunaan utama app-nya untukku adalah rangkuman mengenai kebiasaan makanku, lengkap dengan nutrisi-nutrisinya. Dengan ini, aku bisa menganalisa kebiasaanku dan membuat perubahan untuk mencapai tujuanku. Dan untuk ini, sebenarnya data dari beberapa hari saja toh sudah cukup lah ya, haha.

Jadi walaupun aku rasa apa yang kumakan sekarang tidak “seefisien” kemarin ketika app-nya masih aku gunakan, setidaknya aku berharap ini masih lebih baik daripada sebelum aku memiliki app itu! Haha 😛

Walaupun kemarin aku jatuh ke dalam godaan dessert ini di kantor sih. Eh, tapi kan cheat day sekali-sekali nggak papa lah ya, haha 😆 .

Tram

Anyway, mari ngomongin topik lain. Suatu hari belum beberapa lama ini aku bangun lebih pagi dari biasanya dan aku memutuskan untuk berangkat kerja juga lebih pagi. Dan hari itu, aku baru menyadari bahwa sebaiknya aku tetap berangkat kerja di waktu seperti biasa saja, haha. Ternyata, berangkat kerja lebih awal itu justru akan bertepatan dengan periode rush hour yang lebih sibuk sehingga tram ke pusat kotanya ramai banget. Di waktu keberangkatan biasaku, aku selalu menemukan setidaknya satu kursi kosong jadi enak lah ya. Tapi di hari itu, aku harus berdiri di sepanjang jalan! Haha 😆 .

Ok deh, lesson learned!