#2110 – A Summery Spring in Munich

ENGLISH

I went on a short weekend trip to Munich in mid-April. As I have shared, I forgot to bring my pocket camera on the trip; which unintentionally turned the trip into an experiment for me to measure the “value” of a pocket camera during a trip of mine. As it turned out, it was very valuable because I noticed that I didn’t take as many pictures on the trip, and the trip was generally less enjoyable without my camera! Consequently, this post won’t have as many pictures as usual simply because I did not take enough for that.

Anyway, a bit uncharacteristically, I also took KLM’s direct return Amsterdam – Munich flights for this trip, i.e. without any transit! Both flights were operated by Boeing 737-800, PH-BCA named “Flamingo” on the way to Munich and PH-BXL named “Sperwere” on the way back to Amsterdam. Both were pleasant intra-European flights with KLM as usual and so there is not much too share.

A KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BCA

As I also had pretty much half a day in Munich this time, I decided to focus on the area which I had heard nice things about but didn’t yet visit on my first trip there two years ago. And the area was the famous Englischer Garten (The English Garden), a large park in the northeastern park of the city.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

It was supposed to be Spring in Western Europe, but the weather at the time was quite unique, where the it was really sunny and the temperature was hovering around the high 20s Centigrade. To be honest it felt more like Summer than Spring to me, a season which I preferred less, haha 😛 . Nonetheless, especially after a harsh and long Winter and the day being a Saturday, many people decided to take advantage of it by going to the garden. As a result, the Englischer Garten was so full of people, many of them were sunbathing, when I was there! Lol 😆 .

The English Garden in Munich when the weather was great

Anyway, I found the Englisher Garten to be beautiful, and it certainly made the city livable! It was also very big, but one needed not to worry because a lot of signages and maps were installed throughout the garden. Uniquely, and perhaps confusingly, one landmark of the garden was the Chinesischer Turm (the Chinese Tower). Yep, a “Chinese” tower in an “English” garden in Munich, “Germany”, haha 😆 .

A Chinese Tower in an English Garden in Germany

As you know, I am not the biggest fan of warm weather. While the weather today wasn’t very warm (I mean, it was nothing like the humid tropical condition on a sunny day!), it was still warm enough to make me feel a little bit uncomfortable outside. So after wandering in the Englischer Garten for about two hours, I decided to go back to the hotel to shower and rest.

Crispy knuckle of suckling pig

As for the food, of course I had local German cuisine on the two full meals I had there. For lunch, I had a turkey schnitzel, which was tasty with an ideal serving size (haha 😆 ). And for dinner, I had a rösche spanferkelhaxn, translated as crispy knuckle of suckling pig which was served with the Bavarian spitzkrout (sour cabbage) and kartoffelknödel (potato dumplings). While I liked the meat, just as before, I didn’t really enjoy the cabbage and potato, haha. It was overall very tasty, though 😀 .

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam perjalanan akhir pekan singkat ke Munich di pertengahan April. Seperti yang sudah kubilang, aku lupa membawa kamera sakuku di perjalanan ini; yang mana justru tidak sengaja membuat perjalanan ini menjadi suatu percobaan bagiku untuk mengukur “nilai” dari kamera saku di perjalananku. Ternyata, kamera saku itu amat bernilai. Ini kuamati dari tidak-banyaknya foto yang aku ambil di perjalanan ini, dan perjalanannya sendiri agak lebih kurang asyik sih tanpa kamera! Sebagai akibatnya, tidak banyak foto yang aku unggah di posting ini karena ya memang tidak ada banyak foto yang aku ambil.

Anyway, agak tidak seperti biasanya, aku terbang langsung pp Amsterdam – Munich dengan KLM di perjalanan ini, alias tanpa transit! Keduanya dioperasikan dengan Boeing 737-800, PH-BCA dengan nama “Flamingo” di keberangkatan dan PH-BXL dengan nama “Sperwer” di kepulangan. Keduanya adalah penerbangan reguler dan nyaman intra-Eropa dengan KLM sehingga tak banyak yang mau kuceritakan di sini.

Sebuah Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BCA

Karena aku hanya memiliki waktu setengah harian saja di Munich kali ini, aku memutuskan untuk fokus di area yang aku dengar cantik tapi belum sempat aku kunjungi di perjalananku dua tahun yang lalu. Dan area ini adalah Englischer Garten (Taman Inggris), sebuah taman besar dan terkenal di timur laut kotanya.

Mid-April and one layer of clothes in Munich. Say whaaatt?

Waktu itu seharusnya adalah Musim Semi di Eropa Barat, tapi cuaca waktu itu cukup unik, dimana matahari bersinar cerah dan temperaturnya berada di kisaran hampir 30 derajat. Sejujurnya rasanya lebih kayak Musim Panas daripada Musim Semi deh, sebuah musim yang lebih tidak aku sukai, haha 😛 . Walaupun begitu, waktu itu kan Eropa baru saja melewati Musim Dingin panjang dan keras ya, jadilah banyak orang yang memanfaatkan cuaca ini dengan pergi ke tamannya. Sebagai akibatnya, Englischer Garten rame banget waktu itu, dimana tentu banyak yang berjemur! Haha 😆 .

Taman Inggris di Munich ketika cuaca cerah

Anyway, Englischer Garten memang indah, dan membuat kotanya enak untuk dibuat hidup! Tamannya juga besar, tetapi pengunjung tidak perlu khawatir akan tersasar karena ada banyak petunjuk dan papan peta di seluruh tamannya. Uniknya, dan mungkin membingungkan, satu landmark terkenal di tamannya adalah Chinesischer Turm (Menara China). Iya, menara “China” di sebuah taman “Inggris” di Munich di “Jerman”, haha 😆 .

Chinesischer Turm di Taman Inggris di Jerman

Tentu sudah pada tahu bahwa aku bukanlah seorang fans dari cuaca panas, haha. Walaupun cuaca di Munich hari ini nggak panas yang gila banget (Maksudnya, nggak kayak cuaca lembab di daerah Tropis ketika matahari bersinar cerah!), tetapi cuacanya sudah cukup panas untuk membuatku merasa agak tidak nyaman berada di luar berlama-lama, haha. Jadilah setelah jalan-jalan di Englischer Garten selama sekitar dua jam-an, aku memutuskan kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat.

Crispy knuckle of suckling pig

Untuk urusan makanan, jelas dong aku menikmati masakan setempat di dua kali makanku di sana. Untuk makan siang, aku makan schnitzel daging kalkun, yang mana enak dan ukuran porsinya pun ideal (haha 😆 ). Untuk makan malam, aku makan rösche spanferkelhaxn, yang mana kurang lebih berarti lutut babi crispy yang disajikan dengan spitzkrout (kubis asam) ala Bavaria dan kartoffelknödel (kentang). Walaupun aku suka dagingnya, seperti dulu, aku juga masih kurang bisa menikmati kubis dan kentangnya, haha. Tapi secara keseluruhan enak sih D: .

Advertisements

#2097 – A Weekend Story

ENGLISH

My Instagram followers (@azilko) would have known by now that I went on another weekend trip this weekend. The destination was not new to me, though, as I have been there in May 2016. Yep, I went back on a short trip to Munich! 😀

When I was looking at my April travelling schedule, I was itching to go somewhere in the middle of the month. I saw a good deal on flights to Munich, and I thought “Why not?“. I got great impression of the city from my May 2016 trip and I remember thinking I didn’t have enough time to explore it. So this felt like the perfect opportunity!

And, indeed, Munich was just as how I remembered from 2016. It was awesome!! 😀 Though, the weather there was also similar to how it was in Amsterdam (and the Netherlands) for the week: it was verging on being “so warm” especially for Spring. It felt like it was Summer already! (And you know I prefer cold to warm weather, haha 😆 ). But aside from the temperature (which was in the late 20s Centigrade), the weather was actually beautiful.

The English Garden in Munich when the weather was great

As for how to get there, obviously I chose to fly, haha 😆 . However uncharacteristically, I hose a direct return flight to Munich this time. I don’t exactly remember why, though; but it was likely that I didn’t find good or acceptable deal on the non-direct options, 😛 .

This trip also, unintentionally, became a platform for an experiment that I have had in mind for a long time but I haven’t been “brave” enough to do. That is to measure the “value” of the “role” of my pocket camera in a trip. Due to my forgetfulness, I left my pocket camera at home! And so on this trip I was stuck only with my smartphone’s camera. But this actually allowed me to feel how a trip was without my pocket camera; and so I would be able to measure its importance!

Anyway, here are some teasers from the trip:

BAHASA INDONESIA

Followers Instagramku (@azilko) tentu sudah tahu sekarang bahwa aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan lagi weekend kemarin. Tujuannya bukanlah tujuan baru untukku sih, karena aku sudah pernah kesana di bulan Mei 2016. Iya, aku pergi dalam sebuah perjalanan singkat ke Munich! 😀

Ketika aku melihat jadwal travelling-ku di bulan April, kakiku gatal ingin jalan-jalan kemana gitu di pertengahan bulan. Kebetulan aku melihat tiket pp promo yang menarik ke Munich, jadilah aku pikir “Mengapa tidak?“. Kesanku akan kotanya kan oke banget ya dari perjalanan Mei 2016ku dulu dan aku ingat aku merasa aku tidak memiliki cukup waktu untuk mengeksplornya waktu itu. Jadilah rasanya ini adalah kesempatan yang sangat pas!

Dan memang, Munich memang sekece ingatanku tahun 2016!! 😀 Walaupun cuacanya ternyata mirip dengan cuaca di Amsterdam (dan Belanda) selama seminggu kemarin: cenderung “terlalu panas” apalagi untuk ukuran Musim Semi. Rasanya kayak sudah Musim Panas aja deh ini, haha! (Dan tahu kan aku lebih suka cuaca dingin daripada panas, haha 😆 ). Tetapi sebenarnya di samping urusan suhu udara (yang mana berada di kisaran 20an atas), cuacanya sebenarnya indah banget sih.

English Garden di Munich ketika cuacanya oke

Mengenai transportasi kesana, nggak usah ditanya lah ya jelas aku naik pesawat, haha 😆 . Namun tidak seperti biasanya, aku memutuskan untuk terbang pp ke Munich kali ini. Aku nggak ingat persisnya alasannya sih; tetapi kemungkinan besar sih karena aku tidak melihat deal yang cukup oke untuk dijustifikasi di pilihan-pilihan non-penerbangan langsungnya, haha 😛 .

Perjalanan ini juga, tanpa direncanakan, menjadi platform untuk percobaan yang sempat muncul di pikiranku tetapi sejauh ini belum cukup “berani” untuk aku jalankan. Yaitu percobaan untuk mengukur “nilai” dari “peran” kamera sakuku dalam sebuah perjalanan. Akibat faktor kelupaan, kamera sakuku ketinggalan di rumah dong! Jadilah dalam perjalanan singkat ini aku stuck dengan kamera hapeku saja. Tapi dengan begini aku justru jadi bisa merasakan bagaimana rasanya jalan-jalan tanpa kamera saku; dan dengan demikian aku jadi bisa mengukur kepentingannya kan!

Anyway, di atas adalah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini.

#1965 – A Weekend in Berlin

ENGLISH

I went to Berlin for a weekend trip at the end of July. Here is the story of that trip.

Getting To/Back From Berlin

Deboarding a KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BCD at Berlin-Tegel Airport

I flew direct with KLM between Amsterdam and Berlin in both directions. There was not much to tell about my departure flight with PH-BCD, a KLM’s Boeing 737-800, which was a regular pleasant short-haul flight with KLM. My returning flight with PH-BGX, a KLM’s Boeing 737-700, however, was far more interesting because: I got upgraded to Europe Business Class, again! Yeay!! 😎

The main difference between the two cabins, IMO, is not the seat, as the seats in Europe Business Class are the same as in economy except with blocked middle seat and a bit of extra legroom. It is, definitely, the food service. The following were the services on my departure flight to Berlin in economy (left) and my return flight from Berlin in Europe Business Class (right):

Snack service in Economy Class

Service in Europe Business Class

Obviously Europe Business Class comes with a sparkling wine (champagne) as a drink option as well 😆 . After the meal the purser went around asking if we (the business class passengers) wanted anything else for a drink. I asked for a tea.

Btw, in business class the purser also referred me as “Mr. Zilko”. When she served my meal, she said something along the line as “Mr. Zilko, here is your meal, enjoy“; whereas in economy the flight attendants normally just use the neutral “Sir/Ma’m/Miss“.

Cheers from 41,000 feet

Berlin

As I said before, Berlin turned out to be a very vibrant and nice city that it immediately became my most favorite German city; and actually one of my most favorite European cities as well. Mostly it was the atmosphere, though, where it did not feel like “business-centric” a la Frankfurt or “too touristic”. I don’t know, it is a little bit difficult to describe. Another reason is obviously the very many interesting places across the very big city.

Alexanderplatz and Berlin Mitte

Berliner Dom, the cathedral of Berlin

Most of Berlin’s attractions are located in the Mitte area, stretching from Alexanderplatz in the east, possibly the busiest square in the city, to Tiergarten in the west. On Saturday, I walked all the way from Alexanderplatz up to the Siegessäule in Tiergarten, which I can tell you know was a long walk of almost 5 km. I walked for a total of around 15.2 km on Saturday, btw 😆 .

But indeed a long the way lied many of Berlin’s famous landmarks and architectures, such as the Berlin TV Tower, the cathedral of Berlin, and the Branderburg Gate. So unsurprisingly, this was probably the most touristy area of the city as well where I saw a lot of horse carriages and rickshaws running on the main street.

The famous Brandenburg Gate

Berlin Wall and the “Dark” History

Another aspect Berlin is famous (or, rather, infamous) for is its “dark” history. You must have heard about the existence of the Berlin Wall, a wall dividing the city into West and East Berlin during the Cold War that was torn down starting in 1989 thus unifiying the city back together. Part of that wall still exists and now becomes some sort of monument. I like the one in the east side, called the East Side Gallery, where one side of the wall is used for murals.

A remnant of the Berlin Wall which divided the city into West and East Berlin during the Cold War.

Another remnant of the cold war was Checkpoint Charlie, a Berlin Wall crossing point between the two parts of the city. The guard house still exists (sort of) and now becomes a tourist attraction. Even now there are actors dressed as allied military policemen standing in front of the guard house.

At the “Checkpoint Charlie” in Berlin

Not so far way from the Brandenburg Gate was the Holocaust Memorial, a memorial to the victims of the Holocaust. I really found the design of the memorials really beautiful and artsy which formed some sort of maze.

The Holocaust Memorial in Berlin.

Summer Heat

Anyway, going to Berlin in the middle of summer, I mistakenly did not expect a lot of heat. Well, this was actually due to the weather forecast from which I learned that it would be cloudy a lot during the weekend but low precipitation so I didn’t really need to bring an umbrella. However, I was wrong big time because not only that it was not cloudy, it was actually scorching hot and apparently at some point the temperature was:

38.5 Celsius!!

Crazy!! 😖

The Food

In general I liked the food in Berlin as well, also that overall I did not find it to be expensive (especially in comparison to the Netherlands). However, though, I felt like the waiters there were very “forefront” about tipping, even directly asking me how much I would tip them. I am not sure if this was because probably I dined in touristy area or so. But for those more familiar with Berlin, is this really the general practice there? I mean, in other German cities I have been to, I never experienced this straight-forwardness.

Currywurst in Berlin.

Anyway, I really liked the gourmet-ish currywurst that I had in my first afternoon there. It came with fries and salad, so it did not taste anything like the “cheap” currywurst sold on the street in the entire Germany. It tasted much more “proper”, in my opinion 😛 . Other than that, though, I had an Argentinian steak and a schnitzel during my stay there. The steak was great, but the schnitzel was standard.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi ke Berlin untuk sebuah perjalanan akhir pekan di akhir Juli. Berikut ini ceritanya.

Pergi ke/dari Berlin

Turun dari pesawat Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BCD di Bandara Berlin-Tegel.

Aku terbang langsung dengan KLM di perjalanan ke Berlin dan kembalinya. Nggak banyak sih yang ingin kuceritakan dari penerbangan keberangkatanku dengan PH-BCD, sebuah Boeing 737-800nya KLM, yang mana merupakan penerbangan reguler yang nyaman dengan KLM di rute jarak pendek. Penerbangan kepulangannya dengan PH-BGX, sebuah Boeing 737-700nya KLM, tapinya, jauh lebih menarik karena: aku di-upgrade ke Kelas Bisnis Eropa, lagi dong! Horee!! 😎

Perbedaan utama dari dua kabin ini, menurutku, bukanlah kursinya, karena kursi di Kelas Bisnis Eropa itu pada dasarnya sama aja kayak kursi di kelas ekonomi tetapi kursi tengahnya dikosongi dan dengan legroom yang lebih lapang. Perbedaan utamanya jelaslah di layanan makanannya. Berikut ini adalah layanan di penerbangan keberangkatanku ke Berlin di kelas ekonomi (kiri) dan penerbangan kepulanganku dari Berlin di kelas bisnis Eropa (kanan):

Layanan makanan di kelas ekonomi

Layanan makanan di kelas bisnis Eropa

Jelas lah ya kelas bisnis Eropa juga menawarkan champagne sebagai salah satu pilihan minumannya, haha 😆 . Dan setelah selesai makan, purser-nya berkeliling bertanya apakah kami (penumpang kelas bisnis) ingin minum apa lagi gitu. Aku meminta segelas teh hangat.

Btw, di kelas bisnis purser-nya juga memanggilku dengan sebutan “Mr. Zilko” loh. Ketika menyajikan makananku, ia kurang lebih berkata “Mr. Zilko, here is your meal, enjoy“; sementara kalau di ekonomi kan paling pramugari/a-nya menggunakan panggilan netral semacam “Sir/Ma’m/Miss” gitu ya, haha.

Cheers dari ketinggian 41.000 kaki

Berlin

Seperti yang sudah kusebutkan, ternyata Berlin adalah kota yang hidup banget dan asyik sehingga otomatis langsung menjadi kota di Jerman favoritku; dan bahkan sebagai salah satu kota favoritku di Eropa loh. Utamanya karena atmosfernya sih, asyik banget gitu dimana tidak terasa “bisnis banget” a la Frankfurt tetapi tidak juga “terlalu touristy“. Hmm, memang cukup sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata, haha. Salah satu alasan lainnya jelas karena ada banyak banget tempat menarik di kota yang berukuran besar ini.

Alexanderplatz dan Berlin Mitte

Berliner Dom, katedralnya Berlin

Kebanyakan atraksinya Berlin berada di area Mitte, yang terentang dari Alexanderplatz di timur, mungkin lapangan paling sibuknya Berlin, sampai ke Tiergarten di barat. Di hari Sabtu, aku berjalan-kaki loh dari Alexanderplatz sampai Siegessäule di Tiergarten, yang mana ternyata jauh juga dimana jaraknya hampir 5 km. Btw hari Sabtu itu aku berjalan-kaki sejauh sekitar 15,2 km loh totalnya, haha 😆 .

Tetapi memang kok di sepanjang jalan ini banyak banget landmark-nya Berlin yang kece-kece, misalnya Menara TVnya Berlin, katedralnya Berlin, dan juga Gerbang Brandenburg. Jadi, tidak mengherankan, area ini mungkin adalah area yang paling touristy di kota ini dimana aku banyak melihat kereta kuda dan becak juga di jalanannya.

Gerbang Brandenburg yang terkenal itu

Tembok Berlin dan Sejarah “Kelam”

Satu aspek lain yang terkenal dari Berlin adalah sejarah “kelam”-nya. Pasti pernah dengan kan mengenai keberadaan Tembok Brlin, sebuah tembok yang membagi kotanya menjadi Berlin Barat dan Timur sewaktu Perang Dingin dan diruntuhkan mulai tahun 1989 sehingga kotanya bersatu kembali. Nah, sebagian dari tembok itu masih berdiri dan sekarang dijadikan monumen. Aku suka bagiannya di sisi timur, yang disebut East Side Gallery, dimana salah satu sisi temboknya diisi banyak mural.

Satu peninggalan Tembok Berlin yang membagi kotanya menjadi Berlin Barat dan Timur sewaktu Perang Dingin.

Satu peninggalan dari Perang Dingin lainnya adalah Checkpoint Charlie, tempat penyeberangan Tembok Berlin di antara kedua bagian kota. Bangunan penjagaannya masih ada (kurang lebih begitu) dan kini menjadi atraksi turis, haha. Bahkan ada aktor yang berkostum sebagai polisi militernya Sekutu di sana loh.

Di “Checkpoint Charlie” di Berlin

Tak jauh dari Gerbang Brandenburg adalah Holocaust Memorial, tempat untuk mengenang korban dari Holocaust. Aku suka sekali disainnya yang bagiku nampak indah dan berseni sekali yang membentuk semacam labirin.

Holocaust Memorial di Berlin.

Panasnya musim panas

Anyway, pergi ke Berlin di tengah-tengah musim panas, aku malah tidak mempersiapkan diri akan panasnya loh. Ya habis gimana, ramalan cuacanya mengatakan cuaca akan mendung tetapi curah hujan rendah sehingga aku tidak perlu membawa payung. Ternyata, aku salah banget karena selain cuacanya tidak mendung, malah panas banget loh dan ternyata di satu waktu mencapai:

38,5 derajat Celsius!!

Gila kaaan!! 😖

Makanannya

Secara umum aku juga suka makanan di Berlin, apalagi bagiku rasanya tidak terlalu mahal (jika dibandingkan dengan Belanda), haha. Namun, aku kok merasa pelayan-pelayannya cukup agresif juga ya dalam hal meminta tips, bahkan bertanya langsung kepadaku aku ingin memberikan tips berapa. Aku nggak tahu sih apakah ini disebabkan aku makan di tempat-tempat yang banyak turisnya atau gimana. Bagi yang familer dengan Berlin, apakah memang seperti itu di sana? Soalnya, di kota-kota Jerman lainnya, aku tidak pernah menghadapi situasi se-straight-forward ini.

Currywurst di Berlin.

Anyway, aku suka banget currywurst yang nampak lebih gourmet sebagai makan siang pertamaku di sana. Sosisnya disajikan dengan kentang goreng dan salad, dan tidak terasa seperti currywurst “murahan” yang banyak dijual di jalanan di seluruh Jerman. Rasanya lebih “proper” gitu, haha. Selain itu, aku malah makan steak ala Argentina dan schnitzel. Steak-nya sendiri enak tetapi schnitzelnya standar lah.

#1960 – A Weekend Story

ENGLISH

As my Instagram followers (@azilko) have known, I went on a weekend trip this weekend! But now, the destination was not in the UK, though it would have been understandable if you would guess so because of my recent UK visa application, it was actually Berlin, in Germany, haha.

At the “Checkpoint Charlie” in Berlin

I planned this trip before I got my UK visa. And I already knew at the time that I would likely to go on a rather lengthy “flight-free” streak due to the application so I would better make a plan to not make it any lengthier, haha. At the time I found an okay return ticket to Berlin with KLM so I thought why not. Though, indeed luckily my streak was broken two weeks earlier with my impulsive weekend trip to London two weeks ago. I had never been to Berlin before and I had heard good stuffs about it.

Anyway, as it turned out: I LOVE Berlin!! 😍 Berlin was indeed very beautiful and there were a lot of interesting places all around the city. So far, Berlin has become my most favorite German city!!

But it turned out that a weekend was definitely not enough for a first-time visit there, haha. So I definitely need to go back again sometimes in the future. Hmm…

BAHASA INDONESIA

Seperti yang followers Instagramku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan kemarin ini! Tetapi, kali ini tujuannya bukan di Inggris Raya (UK), walaupun masuk akal sih kalau menebak aku pergi ke sana karena aplikasi visa UK-ku baru-baru ini. Tujuannya adalah Berlin di Jerman, haha.

Di “Checkpoint Charlie” di Berlin

Aku sudah merencanakan perjalanan ini sebelum aku mendapatkan visa UK-ku. Waktu itu aku sudah tahu sepertinya aku akan memasuki periode “bebas terbang” yang agak panjang karena aplikasi visaku itu sehingga aku harus mulai membuat rencana supaya periodenya nggak berkepanjangan dong ya, haha. Waktu itu, aku menemukan tiket pp yang harganya oke ke Berlin dengan KLM sehingga aku berpikir mengapa tidak. Walaupun pada akhirnya aku beruntung sih periode ini berakhir dua minggu lebih cepat dengan perjalanan akhir pekan dadakanku ke London dua minggu yang lalu. Aku belum pernah ke Berlin sebelumnya dan aku sudah sering mendengar cerita yang seru dari sana.

Anyway, jadi ternyata aku SUKA BANGET sama Berlin!! 😍 Jadi ternyata Berlin memang kota yang indah banget dan ada banyak sekali tempat menarik di seluruh kotanya. Sejauh ini, Berlin telah menjadi kota di Jerman yang paling kusukai deh, hehe.

Namun, ternyata satu akhir pekan aja nggak cukup deh untuk perjalanan pertama kali ke kota ini, haha. Jadi memang kapan-kapan aku harus kembali lagi nih. Hmm…

#1943 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part II: Bremen)

ENGLISH

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Getting to/from Bremen

The routing this long weekend to Bremen. Created with: gcmap.com

To get to Bremen, I transitted in Paris, haha 😆 . Even, I actually spent a night there where I arrived late in the afternoon and my flight to Bremen was scheduled on Sunday morning. I flew KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BXY to get to Paris. It was a regular short-haul KLM flight so I wouldn’t get to too much details. Only that it was delayed but this, obviously, did not bother me that much.

Air France’s new lounge at Terminal 2G of Paris-CDG

Another reason I chose this routing was that my flight to Bremen would depart from Terminal 2G. A few months back, I read that Air France had just opened a new lounge in this terminal. Their old lounge there was very small and felt cramped; so I was curious how the new lounge was. And, wow, I was actually impressed!

The lounge was much more spacious than the old one!

For once, it was much more spacious than the old one. The food, drinks, etc were pretty much as per the standard of their other lounges at Paris-CDG, though. However, one feature made this lounge my favorite one at the airport: the unobstructed view towards runway 26L and 26R, making it a perfect (and comfortable) planespotting spot! 😍

Spotting a Vietnam Airlines’ Airbus A350-900 landing at runway 26L

Anyway, my AF1324 flight to Bremen was operated by HOP! Regional’s Embraer ERJ170 reg F-HBXN today. The flight was not busy at all, with load factor I estimated to be at around 25-30% only.

From Bremen, I went straight to Amsterdam. And as I mentioned, one factor I chose this flight was because KLM Cityhopper deployed one of their remaining Fokker 70s, which was PH-KZL today! KLM Cityhopper is retiring this type this Fall, and so I get to catch them while I can!! 😀 Btw, I arrived at the airport too early today and so when I went to the lounge, I was the only passenger there! Yes, the entire lounge was for myself! Haha 😛

I will definitely miss this Fokker 70’s unique 2-3 layout AND spacious legroom (an expensive commodity when flying in economy these days)!!

Bremen

The first thing I noticed about Bremen was that, apparently it was a city of tram! How did I notice? Well, it was literally stated at the tram stop at the airport, haha 😆

Bremen – City of Trams

Anyway, overall I found Bremen to be a nice little town. So actually, as a tourist, I don’t think you would need trams to go around the city center, where most of the city attractions are located. Well, probably unless you stay somewhere quite far away.

The Altstadt of Bremen

Bremen was the setting (sort of) of a popular German fairy tale, Die Bremer Stadtmusikanten (The Town Musicians of Bremen). I was introduced to this story when I was in elementary school, through one of my good friends back then who was really good at drawing (Once he made some comic strips based on this story). The story was so popular that it became the “symbol” of the city. And even there was a famous bronze statue there by the Rathaus, which I obviously took a selfie with 😛 . I was really happy that I could visit it, especially that it reminisced me about my childhood as well 🙂 . Btw there is a statue based on the same story in Riga, Latvia. So I guess the story is indeed famous in Eastern Europe as well.

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

In my opinion, the most interesting part of Bremen was the Altstadt (Old Town) with all the beautiful old German buildings. Probably because I was there during a national holiday, I only saw people (possibly tourists) in the Altstadt. Everywhere else I went to, I saw no people and most shops appeared to be closed! Haha…

It was not a busy day in Bremen

As for the food, unfortunately I did not have a lot of opportunity to explore, haha. I had steak as my first lunch there. Then, I went to a tapas bar for dinner because thick cloud was hanging low appearing like it was going to rain so that I would not have the privilege to choose my restaurant, lol 😆 . Well, at least the bar was still having its happy hour for their cocktails (40% discount! 😛 ), which I ordered a good glass of long island ice tea, and the paella was good! And as my last brunch there, I had a Viennese schnitzel, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Pergi ke/dari Bremen

Ruteku long weekend ini ke Bremen. Dibuat dengan: gcmap.com

Untuk berangkat ke Bremen, aku transit dulu di Paris, haha 😆 . Bahkan, aku menginap semalam loh di sana dimana aku tiba di malam hari dan penerbanganku ke Bremen dijadwalkan berangkat Minggu pagi. Aku terbang dengan Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BXY ke Paris. Ini adalah penerbangan standar jarak dekatnya KLM sehingga aku nggak akan bercerita tentangnya. Hanya saja penerbangannya sedikit terlambat sih tetapi jelas ini tidak mempengaruhiku.

Lounge barunya Air France di Terminal 2G Bandara Paris-CDG

Satu alasan lain aku memilih rute ini adalah karena penerbanganku ke Bremen akan berangkat dari Terminal 2G. Beberapa bulan sebelumnya, aku membaca bahwa Air France baru saja membuka lounge baru di terminal ini. Lounge lamanya mereka di sana berukuran kecil banget dan, karenanya, terasa amat sesak; jadi jelas lah ya aku penasaran dengan yang baru ini. Dan, wow, aku sungguh terkesan lho!

Lounge barunya jauh lebih luas dan lapang daripada yang lama!

Pertama-tama, ukurannya jauh lebih luas dan lapang daripada yang lama. Makanan dan minumannya sih berstandar kurang lebih sama lah dengan lounge-lounge lain mereka di Paris-CDG. Namun, ada satu fitur yang membuat lounge ini menjadi favoritku di bandara ini: pandangan tak terhalang ke landasan pacu 26L dan 26R, sehingga tempat ini menjadi tempat yang sempurna (dan nyaman) untuk planespotting! 😍

Spotting sebuah Airbus A350-900nya Vietnam Airlines mendarat di landasan pacu 26L

Anyway, penerbanganku ke Bremen dioperasikan oleh Embraer ERJ170nya HOP! Regional dengan rego F-HBXN. Penerbangan hari ini sama sekali tidak penuh, aku perkirakan kursinya hanya terisi sekitar 25-30% saja.

Dari Bremen, aku langsung kembali ke Amsterdam. Seperti yang kusebutkan, satu alasan aku memilih penerbangan ini adalah karena KLM Cityhopper menggunakan salah satu Fokker 70nya, yang mana hari ini adalah PH-KZL! KLM Cityhopper akan memensiunkan tipe ini musim gugur ini sehingga aku harus sebisa mungkin terbang dengannya dulu dong ya! 😀 Btw, aku tiba di bandara agak awal hari ini sehingga ketika aku pergi ke lounge-nya, aku adalah satu-satunya penumpang di sana loh! Iyaa, satu lounge buat aku sendiri! Haha 😛 .

Aku jelas akan kangen dengan layout 2-3nya Fokker 70 yang unik ini DAN legroom-nya yang lega banget (sebuah komoditas mahal ketika terbang di kelas ekonomi sekarang ini)!!

Bremen

Hal pertama yang aku tangkap dari Bremen adalah, ternyata kota ini adalah kota tram loh! Kok tahu? Yaa, soalnya tertulis begitu sih di halte tram di bandaranya, haha 😆 .

Bremen – Kota Tram

Anyway, secara keseluruhan Bremen adalah kota kecil yang cantik. Jadi sebenarnya, sebagai turis, aku rasa kita tidak membutuhkan tramnya sih untuk berkeliling pusat kotanya, dimana kebanyakan atraksinya berada. Eh, mungkin kecuali kalau kita menginap agak di luar kotanya ya.

Altstadt di Bremen

Bremen adalah setting (kurang lebih) dari sebuah cerita rakyat Jerman yang terkenal, Die Bremer Stadtmusikanten (Para Musisi Kota Bremen). Aku mengenal cerita ini ketika masih SD dulu melalui seorang teman baikku waktu itu yang jago menggambar (Sekali waktu ia membuat comic strips gitu berdasarkan cerita ini). Ceritanya populer banget sampai-sampai menjadi “simbol” dari kota ini loh. Bahkan ada sebuah patung perunggu yang terkenal banget yang berlokasi di sebelahnya Rathaus, yang mana jelas aku selfie di situ dong 😛 . Senang sekali rasanya aku bisa mampir di sana, sedikit mengingatkanku akan masa kecil dulu 🙂 . Btw ada sebuah patung berdasarkan cerita yang sama juga loh di Riga, Latvia. Jadi sepertinya ceritanya populer juga ya di Eropa Timur.

Selfie wajib di Bremen dengan Die Bremer Stadtmusikanten

Menurutku, bagian paling menarik dari Bremen adalah Altstadt-nya (Kota Tua) dimana terdapat bangunan-bangunan tua ala Jerman. Mungkin karena aku di sana ketika tanggal merah, aku hanya melihat keramaian (mungkin oleh turis) di Altstadt. Selebih dari itu, di lokasi-lokasi lain aku nyaris tidak melihat orang loh, bahkan kebanyakan tokonya pun tutup! Haha…

Ini bukanlah hari yang ramai di Bremen

Untuk urusan makanan, sayangnya aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk mencoba ini-itu, haha. Aku makan steak sebagai makan siang pertamaku di sana. Lalu, aku pergi ke sebuah bar tapas untuk makan malam karena awan tebal menggantung sehingga nampak seperti akan hujan deras sehingga aku tidak memiliki kebebasan untuk pilih-pilih restoran, haha 😆 . Setidaknya waktu itu masih happy hour sih di barnya untuk cocktail (diskon 40% loh, lumayan!), yang mana aku memesan segelas long island ice tea, dan paellanya juga enak! , Dan untuk brunch keesokan harinya, aku makan schnitzel ala Vienna, haha 😆 .

#1937 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Introduction)

ENGLISH

So you know, in the last three weeks I had three weekend trips in three consecutive weekends: Lyon, then Bremen, then Paris, haha. So I was thinking of wrapping these three trips under one “theme”, and what I came up with was “Early Summer 2017 Weekend TripS” series 😛 .

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Having three consecutive weekend trips was actually unintentional, though it was situational so it probably was not all that coincidental, haha.

Lion selfie in Lyon

You see, the few public holidays in the Netherlands are not uniformly spread throughout the year; and most of them fall in between April and May. And as I like to make use of them for some short trips, this results in several trips within a short period of time, haha. And the fact that the French Open is always held at the end of May/early June definitely plays a factor too 😛 .

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

Two of the three trips were driven by good flight deals that I found. Well, also because Lyon was a nice city and I had never been to Bremen. Also for Bremen, my flight back from there would be with a Fokker 70, which KLM is retiring by the end of this year. So gotta catch them while I can!!

Back at Court Philippe Chatrier this year

I have to say, though, that it is also quite tiring, haha. I am taking a rest now and have no travelling plan (as of yet) in the coming a few weeks 😛 . Though, who knows if I decide to change my mind soon too! Hahaha 😛 .

BAHASA INDONESIA

Pada sudah baca kan, tiga minggu belakangan ini aku baru saja pergi dalam tiga perjalanan akhir pekan di tiga akhir pekan berturutan: Lyon, lalu Bremen, lalu Paris, haha. Nah jadilah aku berkeinginan untuk memberikan sebuah “tema” untuk tiga perjalanan ini, dan yang kepikiran adalah seri “Early Summer 2017 Weekend TripS” 😛 .

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Tiga perjalanan akhir pekan yang berturutan sebenarnya terjadi tidak sengaja, walaupun ini juga dikarenakan situasi sih sehingga mungkin bukan lah kebetulan juga, haha.

Lion selfie di Lyon

Jadi tanggal merah di Belanda (yang sedikit itu) tidak tersebar merata di sepanjang tahun; dan kebanyakan jatuh di bulan April dan Mei. Dan karena aku suka memanfaatkannya untuk acara jalan-jalan, ini berakibat pada beberapa perjalanan dalam periode waktu yang singkat, haha. Dan French Open yang selalu diadakan di akhir Mei/awal Juni juga tentu berkontribusi juga 😛 .

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

Dua dari tiga perjalanan ini didasari oleh tiket promo yang aku temukan. Dan juga karena memang Lyon adalah kota yang indah dan aku belum pernah ke Bremen sebelumnya sih. Dan untuk Bremen, penerbanganku kembali dari sana dioperasikan dengan pesawat Fokker 70, yang mana akan dipensiunkan KLM di paruh kedua tahun ini. Jadi aku harus menerbanginya selagi bisa kan ya!!

Kembali lagi di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini

Harus diakui sih, ini cukup melelahkan juga, haha. Sekarang aku beristirahat saja deh dan tidak memiliki rencana jalan-jalan dalam beberapa (nggak banyak sih) minggu ke depan 😛 . Eh, tapi nggak tahu juga sih siapa tahu aku berubah pikiran! Haha 😛 .

#1932 – Another Long Weekend Story

ENGLISH

Yeay for two consecutive long weekends! After last weekend, this weekend was also a long weekend in the Netherlands with this Monday being the “Whitmonday”.

As my Instagram followers (@azilko) would have known by now, just like last weekend when I went to Lyon, I also made use of this long weekend for a short weekend trip! This time, though, I went to a new destination: Bremen, in Germany! Haha 😛 .

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

When checking the list of this year’s Dutch public holiday about a month ago, I realized that this Whitmonday would be the last one in the Netherlands before Christmas. That would mean a period of 6+ months without any public holiday! So I figured I needed to make use of this opportunity! Haha 😛 .

At the time I found a good deal with flights to Bremen (with an overnight transit in Paris on the way out and a Fokker 70 flight on the way in). As I had never been to Bremen before, I quickly booked the tickets, haha.

The routing this long weekend. Created with: gcmap.com

And I am really glad I went on this trip! Bremen, while being a not so big city, was pretty! It was really fun! Here are a few photos as teasers from this trip! 🙂

BAHASA INDONESIA

Hore dua long weekend berturutan! Setelah akhir pekan kemarin, akhir pekan ini juga lah long weekend di Belanda dimana hari Senin ini adalah “Whitmonday”.

Dan seperti yang followers Instagramku (@azilko) sudah ketahui sekarang, seperti akhir pekan kemarin yang kumanfaatkan dengan pergi ke Lyon, aku juga memanfaatkan long weekend yang ini untuk jalan-jalan! Kali ini tujuannya adalah tujuan baru untukku: Bremen, di Jerman! Haha 😛 .

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

Ketika melihat daftar tanggal merah di Belanda tahun ini sekitar satu bulan yang lalu, aku menyadari bahwa Whitmonday ini adalah tanggal merah terakhir di Belanda sebelum Natal. Iya dong artinya sekarang kita sudah masuk ke dalam periode 6 bulan lebih tanpa tanggal merah sama sekali! Makanya aku perlu memanfaatkan kesempatan ini kan! Haha 😛 .

Waktu itu aku menemukan sebuah deal yang oke untuk penerbangan ke Bremen (dengan transit satu malam di Paris di perjalanan keberangkatan dan penerbangan dengan Fokker 70 sewaktu pulangnya). Karena aku belum pernah ke Bremen sebelumnya, langsung dong tiketnya aku beli, haha.

Rute long weekend kali ini. Dibuat dengan: gcmap.com

Dan aku senang sekali akhir pekan ini kumanfaatkan untuk jalan-jalan! Bremen, walaupun nggak besar-besar amat, lumayan cakep juga! Seru banget rasanya! Dan di atas, seperti biasa, aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini! 🙂