Indonesia Trip · Long Trip · Vacation

#2015 – November 2017 Big Trip (The Destination)

ENGLISH

I have mentioned it a few times that I have some big trips planned for this year, including my post this past Saturday where I mentioned that I have started packing for one that was coming soon. There are two big trips, actually; and now is the time to reveal the first of the two that will take place really soon.

So this November, I am going to: Indonesia!

Indonesia, here I come!

Last year I mentioned about my brother’s engagement party which I unfortunately must miss. Well, since then the wedding has been planned for this November. I knew that I would never, ever miss this one and so ever since I was told the date many months ago, I have been keeping my eyes on flight tickets to Indonesia at around the date, haha.

As the destination of this trip was definitely Indonesia, I knew that I would like to fly Garuda Indonesia to get there. Actually, at some point I almost gave up with this idea because I found the Garuda ticket to be expensive while I saw some interesting offers from Air France/KLM (one of which would be to fly Amsterdam – Paris – Singapore – Jakarta with KLM, Air France, and Garuda Indonesia, respectively, on the departure leg). But then, luckily not too long ago I found the trick with BookWithMatrix which provided me a Garuda ticket with only little fare difference with what Air France/KLM offered. So I quickly booked the ticket 🙂 .

I am excited to fly long-haul with Garuda Indonesia again this year!

I also recently learned that Garuda would deploy their two-class Boeing 777-300ER to Amsterdam this winter. This means there would be a chance for me to possibly fly one of their latest four Boeing 777-300ER (PK-GIH, PK-GII, PK-GIJ, and PK-GIK). This is certainly good for my logbook! Haha 😛 And of course, me being me, I choose their non non-stop flight from Jakarta to Amsterdam on my way back, i.e. one with a transit in Singapore, haha.

I am wondering if Garuda still provides this transfer service (including a S$30 voucher, as you can see) during the short stop-over in Singapore for economy class passengers, though…

I am also lucky that my office acknowledges a close (direct) family’s wedding as a special event. This means that I get one extra special day off for this trip. This certainly helps, yeay! While on this, I will not stay in Indonesia for too long as I am constrained with my holiday allowance as I need to make some “room” for my other big trip, haha. And as I expect myself to be quite occupied with the wedding anyway, I am also not planning any other extended trips within Indonesia or the nearby region this time. Well, nonetheless I think I will appreciate some relaxing time in Indonesia 🙂 .

Anyway, so, Indonesia, here I come (again)! 🙂

Gili Air. Well, I am not going to Lombok this time. This photo is only for illustration purpose…

BAHASA INDONESIA

Sudah beberapa kali aku sebutkan di sini bahwa aku telah memiliki beberapa rencana untuk perjalanan besar tahun ini, termasuk posting-ku Sabtu kemarin dimana kusebutkan bahwa sebenarnya aku sudah mulai packing untuk satu yang akan segera datang. Ada dua perjalanan besar, sebenarnya; dan saat ini adalah waktunya untuk mengungkapkan identitas tujuan yang pertama dari dua itu yang akan segera berlangsung.

Jadi, di bulan November ini aku akan pergi ke: Indonesia!

Indonesia, aku datang!

Tahun lalu aku sebutkan mengenai pesta pertunangannya adikku yang mana dengan sangat menyesal harus aku lewatkan. Nah, jadi ceritanya semenjak waktu itu, tanggal pernikahannya sudah ditetapkan yaitu di bulan November ini. Dan jelas dong aku tahu aku tidak akan mungkin melewatkan acara ini sehingga semenjak aku diberi-tahu tanggalnya berbulan-bulan yang lalu, aku langsung mulai memasang mata untuk tiket ke Indonesia di sekitar tanggal itu, haha.

Karena tujuan dari perjalanan ini jelas adalah Indonesia, aku tahu bahwa jika memungkinkan aku ingin terbang dengan Garuda Indonesia kesana. Nah sebenarnya, aku nyaris menyerah lho dengan keinginan ini karena aku merasa harga tiketnya Garuda mahal sementara aku melihat penawaran yang oke dari Air France/KLM (yang mana salah satunya adalah di rute Amsterdam – Paris – Singapura – Jakarta dengan KLM, Air France, dan Garuda Indonesia, berturutan di penerbangan keberangkatan). Tetapi kemudian, untungnya tidak seberapa yang lalu aku menemukan trik dengan BookWithMatrix yang memberikanku tiket Garuda yang beda harganya tidak banyak dari penawarannya Air France/KLM. Jadilah tiketnya langsung aku beli 🙂 .

Aku senang karena aku akan terbang jarak-jauh lagi dengan Garuda Indonesia tahun ini!

Juga, aku baru-baru ini tahu bahwa ternyata Garuda akan mengirimkan pesawat Boeing 777-300ER yang dikonfigurasi dua kelas ke Amsterdam di musim dingin ini. Ini artinya ada kemungkinan bagiku untuk terbang dengan salah satu dari empat Boeing 777-300ER terbarunya (PK-GIH, PK-GII, PK-GIJ, dan PK-GIK). Ini jelas berita baik untuk logbook-ku kan ya! Haha 😛 . Dan jelas dong aku memilih penerbangannya mereka yang tidak non-stop dari Jakarta ke Amsterdam di penerbangan kepulangannya, yaitu penerbangan yang transit satu kali dulu di Singapura, haha.

Eh aku penasaran juga apakah Garuda masih memberikan layanan ini (yang mana termasuk voucher senilai S$30 seperti yang terlihat di atas) untuk penumpang transit di Singapura di kelas ekonomi.

Aku juga beruntung kantorku mengakui pernikahan keluarga dekat (inti) adalah event spesial. Ini artinya aku diberi satu jatah cuti ekstra loh untuk perjalanan ini. Lumayan lah ya, hore! Selagi ngomongin ini, perjalanan ini tidak akan berlangsung lama-lama amat sih karena aku dibatasi oleh jatah cuti dan juga aku harus “menyisakan ruang” untuk perjalanan besarku yang satunya kan, haha. Dan karena aku kira aku akan cukup disibukkan dengan urusan pernikahan ini, aku sendiri tidak merencanakan perjalanan lain di dalam Indonesia ataupun sekitarnya kali ini. Ah, toh aku rasa aku juga akan menikmati waktu bersantai di Indonesia kok! 🙂

Anyway, jadi, Indonesia, aku datang (lagi)! 🙂

Gili Air. Eh, aku nggak pergi ke Lombok kok kali ini. Foto ini cuma ilustrasi aja, haha…
Advertisements
Asia Trip · Indonesia Trip · Southeast Asia · Trip Report · Vacation

#1872 – 2016 Year End Trip (Part VI: Yogyakarta to Bali to Shanghai)

ENGLISH

Posts in the 2016 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Amsterdam to Rome to Shanghai
3. Part II: Shanghai to Bali
4. Part III: Bali
5. Part IV: Yogyakarta
6. Part V: The Food in Yogyakarta
7. Part VI: Yogyakarta to Bali to Shanghai
8. Part VII: Shanghai to Paris to Amsterdam
9. Part VIII: A Weekend in Amsterdam

GA 252 (Yogyakarta – Denpasar/Bali)

Garuda Indonesia logo
Flight: Garuda Indonesia GA 252
Equipment: Boeing 737-800 reg PK-GMO
ATD: 17:09 WIB
ATA: 19:06 WITA

My flight was scheduled to depart at 16:15, so I arrived at Adisutjipto Airport at 14:15. Upon checking-in, I was told that the flight would be delayed for about 30 minutes due to late departure from Denpasar. Well, given that I would have hours to kill in Bali before my next flight anyway, I was not bothered with the delay, haha 😛 .

Garuda Indonesia Executive Lounge
Garuda Indonesia Executive Lounge

I waited for my flight at Garuda Indonesia Executive Lounge using my SkyTeam Elite Plus status from my Flying Blue Gold membership. The last time I used this lounge was probably a decade ago, lol. The lounge was descent, with good selection of food, drink, and snack; though the room itself felt claustrophobic with few windows.

Garuda Indonesia's Boeing 737-800 reg PK-GMO
Garuda Indonesia’s Boeing 737-800 reg PK-GMO

Anyway, the flight today was with Garuda Indonesia’s Boeing 737-800 reg PK-GMO. Boarding started at about 16:35 and I settled onto my 21K seat. Long story short, we departed and took off from runway 09 of Adisutjipto Airport. See you, Yogyakarta!

It was a pleasant flight with Garuda Indonesia, as usual. Complimentary snack was distributed midway through the flight and I used the IFE to listen to some music. It was a turbulence-free flight, even though it was really cloudy outside that I could not see the land all the way above Java! Haha 😛 .

Cloudy Java
Cloudy Java

Almost an hour later, we were already approaching Ngurah Rai International Airport. We would land at runway 27 so we made a u-turn above Nusa Penida and passed Sanur Beach and Bali Mandara Toll Road. Here is the landing video:

Garuda Indonesia’s Amazing Cabin Crew

I believe one strong point of Garuda Indonesia is the cabin crew who, in my opinion, is indeed the best in the world (they won three consecutive best cabin crew award in 2014, 2015, and 2016). Really, it is not for nothing as this was reflected in this flight GA 252.

Parked at a remote stand at DPS
Parked at a remote stand at DPS

The plane was parked in a remote parking where the passengers would be taken by buses to the terminal. So we had to go down the stairs to the tarmac. In front of me was an elderly lady carrying two bags. Seeing this, on her own initiative a flight attendant offered to carry the two bags for her! She then walked down the stairs carrying two bags while assisting the elderly lady as well.

The shy Garuda's air-stewardess and the snacks at the galley.
Two Garuda Indonesia flight attendants (clearly not from this flight 😛 ).

It might be a small thing, indeed; but small things do matter. And it appears that Garuda Indonesia’s cabin crew consistently delivers this level of service, for instance this time in January when a flight attendant carried an elderly lady off the plane because no wheelchair was available. To be honest, I have never seen such level of care and service from the cabin crews of any other airlines I have every flown. Yeah, Garuda Indonesia deserves that award.

Transitting at DPS

Garuda Indonesia Arrival Lounge at DPS
Garuda Indonesia Arrival Lounge at DPS

With my SkyTeam Elite Plus membership, upon arriving at Denpasar, I could go to Garuda Indonesia’s Arrival Lounge. There, an officer took my luggage tag and he would take the luggage for me while I was waiting in the lounge! 😮

Yeah, it was awesome!! Haha 😛

The international hall of Ngurah Rai Airport
The international hall of Ngurah Rai Airport

With the delay, I decided to just wait at the airport (at first I had a thought to probably have dinner at Kuta). I went to a cafe and prepared a blog post to pass some time, haha. At 22:30, I entered the departure area to check-in.

I checked-in at the regular lane because I could not find a SkyPriority lane, which I found strange at the time. But then it turned out there was a special lounge for it more in the inside, which I did not see 😦 .

An Indonesian buffet dinner at Garuda Indonesia International Lounge at DPS
An Indonesian buffet dinner at Garuda Indonesia International Lounge at DPS

After quick immigration check (the line was not very long for Indonesians 😛 ), I went to Garuda Indonesia’s International Lounge. I had not had dinner yet so I was feeling quite hungry. Lucky the lounge provided quite a descent option of buffet that evening! The lounge was good even though the wifi connection was troublesome.

MU 5030 (Denpasar/Bali – Shanghai)

chinaeastern_logo
Flight: China Eastern MU 5030
Equipment: Airbus A330-300 reg B6095
ATD: 02:00 WITA
ATA: 07:46 CST

Boarding started a little bit late today. And some economy passsengers tried to board via the priority lane. The officer asked them that it was not their lane, but they complained, in Chinese, lol 😆 . The (Indonesian) officer then said: “If you want to say something, please do so in English“, lol 😆 .

A China Eastern's Airbus A330-300 reg B6095
A China Eastern’s Airbus A330-300 reg B6095

Anyway, the flight today would be operated with China Eastern’s Airbus A330-300 reg B6095. At first I was excited because the plane was in China Eastern’s new livery!! But then, after boarding I got super disappointed because:

No PTV on board China Eastern's B6095
No PTV on board China Eastern’s B6095

Yes, no PTV!! 😱 😱 😱 Like, seriously? I thought this was 2017 and China Eastern was NOT an LCC!?!? Well, not that it would matter big time as this was a redeye and I planned to sleep anyway. This was actually good as I would not have anything else to do than to sleep, lol. But still, overally this was disappointing and showed me the huge inconsistent level of service and comfort between China Eastern’s long-haul fleet.

Long story short, we departed and took off from runway 27 of Ngurah Rai Airport at 02:00. Then, we made a turn to the north towards China.

On board China Eastern's Airbus A330-300 reg B6095
On board China Eastern’s Airbus A330-300 reg B6095

The service on this flight was really weird. And I still can’t wrap my head around it.

Take-off took place at 02:00 so naturally most passengers would like to get to sleep right away. But then, not long after take-off, a dinner service was served!! Yep, a proper dinner service at around 02:30!! No wonder many passengers declined it. I did not, only because I wanted to see what it was and took a photo, haha 😛 . In the end, I only ate the chicken, egg, and fruit as I was not really hungry anyway.

Dinner service on board flight MU5030 at ... 02:30 AM!! 😣
Dinner service on board flight MU5030 at … 02:30 AM!! 😣

And then, the flight was scheduled to land at around 08:00. However, there was NO service at all prior to landing! No breakfast, no small snacks, no coffee/tea/etc. Nothing. It was so strange! I just don’t get it. If it were me, I would swap the dinner with a breakfast service.

Cloudy Shanghai
Cloudy Shanghai

Anyway, the weather in Shanghai was not in the best mood, again, haha. Thick cloud was hanging and we had to land in the rain, again. Here is the landing video:

This time, though, at least we parked at a proper gate with an air bridge.

Yeah, overall, it was a rather disappointing flight with China Eastern. To be honest, after landing in Shanghai, I was very glad to have chosen Air France as my connecting flight to go back to Europe.

TO BE CONTINUED… 

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2016 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Amsterdam to Rome to Shanghai
3. Part II: Shanghai to Bali
4. Part III: Bali
5. Part IV: Yogyakarta
6. Part V: The Food in Yogyakarta
7. Part VI: Yogyakarta to Bali to Shanghai
8. Part VII: Shanghai to Paris to Amsterdam
9. Part VIII: A Weekend in Amsterdam

GA 252 (Yogyakarta – Denpasar/Bali)

Garuda Indonesia logo
Penerbangan: Garuda Indonesia GA 252
Pesawat: Boeing 737-800 reg PK-GMO
ATD: 17:09 WIB
ATA: 19:06 WITA

Berhubung penerbanganku dijadwalkan berangkat jam 4:15 sore, aku tiba di Bandara Adisutjipto sekitar jam 2:15. Ketika check-in, aku diberi-tahu bahwa penerbanganku akan terlambat selama sekitar 30an menit akibat keberangkatan pesawat yang terlambat dari Denpasar. Yah, karena toh aku akan memiliki banyak waktu untuk dihabiskan di Bali sebelum penerbangan lanjutanku juga, aku sih tidak begitu masalah dengan keterlambatan ini, haha 😛 .

Garuda Indonesia Executive Lounge
Garuda Indonesia Executive Lounge

Aku menunggu penerbanganku di Garuda Indonesia Executive Lounge dengan menggunakan status SkyTeam Elite Plus dari keanggotaan Flying Blue Gold-ku. Terakhir kali aku menggunakan lounge ini adalah sekitar 10 tahun yang lalu, haha. Lounge-nya sendiri lumayan lah, dengan pilihan makanan, minuman, dan snack yang cukup lengkap; walaupun ruangannya sendiri terasa sedikit klaustrofobik akibat tidak terlalu banyak memiliki jendela.

Garuda Indonesia's Boeing 737-800 reg PK-GMO
Sebuah Boeing 737-800nya Garuda Indonesia dengan rego PK-GMO

Anyway, penerbangan hari ini adalah dengan sebuah Boeing 737-800nya Garuda Indonesia dengan registrasi PK-GMO. Boarding dimulai sekitar jam 4:35 sore dan aku duduk di kursi 21K. Tak lama kemudian, pesawat berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 09 Bandara Adisutjipto. Sampai jumpa, Yogyakarta!

Ini adalah penerbangan yang nyaman dengan Garuda Indonesia, seperti biasanya. Layanan snack dibagikan di penerbangan ini dan aku memanfaatkan IFEnya untuk mendengarkan musik. Penerbangan ini bebas turbulensi walaupun di luar sedang sangat berawan, sampai-sampai aku nggak bisa melihat pulau Jawa! Haha 😛 .

Cloudy Java
Pulau Jawa yang berawan

Sekitar sejam kemudian, kami mulai mendekati Bandara Internasional Ngurah Rai. Kami akan mendarat di landasan pacu 27 sehingga kami berputar-balik di atas Nusa Penida dan kemudian melewati Pantai Sanur dan Jalan Tol Bali Mandara sebelum mendarat. Berikut ini video pendaratannya:

Kru kabinnya Garuda Indonesia yang keren banget

Satu faktor keunggulan Garuda Indonesia adalah kru kabinnya yang, menurutku, memang yang terbaik di dunia (Garuda memenangi penghargaan kru kabin terbaik tiga tahun berturut-turut di tahun 2014, 2015, dan 2016). Dan ini memang nampak di penerbangan GA 252 ini.

Parked at a remote stand at DPS
Parkir di tempat parkir remote di DPS

Pesawat diparkir di sebuah tempat parkir remote sehingga penumpang akan diantar ke terminal dengan bus. Artinya kami harus turun tangga ke tarmac bandara. Di depanku adalah seorang ibu-ibu tua yang menjinjing dua buah tas. Melihat ini, seorang pramugarinya berinisiatif untuk membawakan dua tas ibunya itu! Ia kemudian juga ikut menuruni tangga dengan menenteng dua buah tas sambil menuntun ibu tua tersebut.

The shy Garuda's air-stewardess and the snacks at the galley.
Dua pramugari Garuda Indonesia (jelas bukan dari penerbangan ini 😛 ).

Mungkin ini memang hal kecil ya; tetapi hal-hal kecil begini itu penting juga lho. Dan memang nampaknya kru kabin Garuda Indonesia konsisten dalam level pelayanannya ini, misalnya awal Januari lalu ketika seorang pramugari menggendong seorang ibu tua turun dari pesawat karena ketiadaan kursi roda. Sejujurnya, aku belum pernah melihat level pelayanan dan kepedulian yang setinggi ini dari kru kabin maskapai-maskapai lain yang pernah aku naiki. Iya, memang Garuda Indonesia berhak memenangi penghargaan itu.

Transit di DPS

Garuda Indonesia Arrival Lounge at DPS
Lounge Ketibaan Garuda Indonesia di DPS

Dengan status SkyTeam Elite Plus-ku, ketika tiba di Denpasar, aku bisa menunggu di lounge ketibaannya Garuda Indonesia. Di sana, seorang petugas mengambil tag bagasiku dan ia akan mengambilkan bagasiku untukku sementara aku bersantai menunggu di lounge-nya! 😮

Iyaa, asyik banget dah! Haha 😛

The international hall of Ngurah Rai Airport
Hall international Bandara Ngurah Rai

Akibat keterlambatan ini, aku memutuskan untuk menunggu di bandara saja (awalnya aku sempat berpikiran untuk pergi makan malam di Kuta). Aku pergi ke kafe dan mempersiapkan sebuah posting untuk blog ini untuk menghabiskan waktu, haha. Jam 10:30 malam, aku masuk ke area keberangkatan untuk check-in.

Aku check-in di jalur reguler karena aku tidak menemukan jalur SkyPriority, yang mana waktu itu aku merasa aneh. Nah, ternyata di dalamnya lagi ada lounge spesial untuk check-in prioritas itu dong, yang mana awalnya aku kan nggak tahu 😦 .

An Indonesian buffet dinner at Garuda Indonesia International Lounge at DPS
Makan malam buffet Indonesia di Garuda Indonesia International Lounge di DPS

Setelah pemeriksaan imigrasi (yang mana antriannya nggak panjang untuk orang Indonesia 😛 ), aku pergi ke Garuda Indonesia International Lounge. Karena belum makan malam, aku merasa lapar. Untungnya lounge-nya menyediakan buffet yang cukup lengkap malam itu! Lounge-nya sendiri nyaman banget walaupun sayang koneksi wifi-nya lambat.

MU 5030 (Denpasar/Bali – Shanghai)

chinaeastern_logo
Penerbangan: China Eastern MU 5030
Pesawat: Airbus A330-300 reg B6095
ATD: 02:00 WITA
ATA: 07:46 CST

Boarding dimulai agak terlambat kali ini. Dan beberapa penumpang ekonomi reguler ingin menyerobot antri di jalur prioritas dong. Mas petugasnya memberi-tahu bahwa itu bukan jalur mereka, tetapi mereka komplain dong, pakai bahasa Mandarin pula, haha 😆 . Jadilah petugasnya (orang Indonesia) berkata: “Tolong menggunakan bahasa Inggris“, haha 😛 .

A China Eastern's Airbus A330-300 reg B6095
Sebuah Airbus A330-300nya China Eastern dengan rego B6095

Anyway, penerbangan hari ini akan dioperasikan dengan Airbus A330-300nya China Eastern dengan rego B6095. Awalnya aku excited karena pesawatnya ber-livery barunya China Eastern! Tetapi kemudian, setelah boarding aku langsung super kecewa karena:

No PTV on board China Eastern's B6095
Nggak ada PTV di dalam B6095nya China Eastern

Iya dong, nggak ada PTVnya!! 😱 😱 😱 Yang bener aja nih? Bukannya ini tahun 2017 dan China Eastern kan bukan LCC!?!? Yah, ini bukan masalah besar sih sebenarnya karena ini adalah penerbangan malam sehingga toh aku berencana untuk tidur juga. Mungkin ini justru bagus karena aku jadi tidak ada pilihan lain selain tidur, haha. Tapi tetap aja lah, secara keseluruhan ini mengecewakan dan bagiku menunjukkan ketidak-konsistenan level pelayanan dan kenyamanan di armada jarak jauhnya China Eastern.

Singkat cerita, kami berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 27 Bandara Ngurah Rai jam 2 subuh. Lalu, kami belok ke arah utara menuju China.

On board China Eastern's Airbus A330-300 reg B6095
Di dalam Airbus A330-300nya China Eastern dengan rego B6095.

Layanan di penerbangan ini juga aneh sekali. Dan aku masih gagal paham nih.

Lepas landas berlangsung jam 2 subuh yang mana artinya kebanyakan penumpang berencana untuk beristirahat. Tetapi kemudian, tak lama setelah lepas-landas, malah layanan makan malam dibagikan dong!! Yep, makan malam jam 2:30 subuh!! Nggak mengherankan lah banyak penumpang yang menolaknya. Aku sih engga, soalnya ingin tahu makan malamnya apaan dan ingin aku foto, haha 😛 . Akhirnya, yang kumakan hanya daging ayam, telur, dan buah-buahannya saja karena aku nggak lapar sama sekali.

Dinner service on board flight MU5030 at ... 02:30 AM!! 😣
Layanan makan malam di penerbangan MU5030 jam … 2:30 subuh!! 😣

Dan kemudia, penerbangan ini dijadwalkan tiba sekitar jam 8 pagi kan. Nah, justru malah TIDAK ADA layanan apa pun dong sebelum mendarat! Tidak ada sarapan, snack kecil apa gitu kek, teh/kopi/dll. Aneh banget deh!  Aku gagal paham bener deh. Kalau aku sih, aku akan menukar layanan makan malam itu dengan layanan sarapan.

Cloudy Shanghai
Shanghai yang berawan

Anyway, cuaca di Shanghai sedang tidak oke lagi nih. Awal tebal menggantung di atasnya sehingga kami harus mendarat di tengah hujan, lagi. Berikut ini video pendaratannya:

Setidaknya, kali ini kami parkir di sebuah gate dengan garbarata.

Ya, secara keseluruhan ini adalah penerbangan yang agak mengecewakan dengan China Eastern. Sejujurnya nih, setelah mendarat di Shanghai, aku merasa lega banget telah memilih Air France untuk penerbanganku kembali ke Eropa.

BERSAMBUNG… 

 

Asia Trip · Long Trip · Southeast Asia · Vacation

#1859 – Back in the Netherlands

ENGLISH

Two weeks went by really fast. Now, I am already back in the Netherlands; back in the winter after tasting two weeks of (eternal) summer in Indonesia, despite the raining season there, haha 😆 .

This time, my routing to go back to the Netherlands was as interesting as my departure, with only slight difference. Here it is:

My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com
My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com

Yep, I was flying Yogyakarta – Bali – Shanghai PVG – Paris CDG – Amsterdam on four different airlines: Garuda Indonesia, China Eastern, Air France, and KLM. Haha 😆

Garuda Indonesia's Boeing 737-800 reg PK-GMO
My first flight of 2017 was with Garuda Indonesia

Choosing to transit in Paris CDG instead of Rome FCO made this routing about 800 km shorter than the departure actually. But in the grand scheme of thing, it made little to no difference as I felt tired with both! Tired but happy, though. Well, especially that I got upgraded to Europe business class on the Paris CDG – Amsterdam sector!! 😍

Dinner service on board KLM's Europe business class
Upgraded to KLM’s Europe business class!!

I arrived at Schiphol on Saturday evening. However, I did not immediately go back to Delft because I had one of my best friends visiting. He just finished his study in Scotland and was on his way to go back for good to Indonesia, so he made a one night stop in Amsterdam.

Rijksmuseum, Amsterdam
Amsterdam for the weekend

So I stayed in Amsterdam that evening; and basically spent most of my weekend there, haha. And now I am (finally) back in Delft and Amsterdam (for work). Damn, back to reality! 😣 .

Anyway, yeah, that is all for now! 🙂

BAHASA INDONESIA

Dua minggu berlalu sungguh cepat. Sekarang ini, aku sudah kembali lagi di Belanda; kembali di musim dingin setelah merasakan dua minggu musim panas (abadi) di Indonesia, walaupun lagi musim hujan juga sih di sana, haha 😆 .

Kali ini, ruteku untuk kembali ke Belanda sama menariknya seperti rute keberangaktanku, hanya dengan sedikit perbedaan saja. Berikut ini rutenya:

My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com
Ruteku kali ini untuk kembali ke Amsterdam. Dibuat dengan gcmap.com

Yep, aku menerbangi Yogyakarta – Bali – Shanghai PVG – Paris CDG – Amsterdam dengan empat maskapai yang berbeda: Garuda Indonesia, China Eastern, Air France, dan KLM. Huahaha 😆

Garuda Indonesia's Boeing 737-800 reg PK-GMO
Penerbangan pertamaku di tahun 2017 adalah dengan Garuda Indonesia

Memilih untuk transit di Paris CDG bukannya di Roma FCO membuat rute ini sekitar 800 km lebih singkat daripada rute keberangkatanku sebenarnya. Tetapi di big picture-nya sih, perbedaannya tidak begitu signifikan karena toh di keduanya aku juga merasa capek! Eh, capek tapi senang ding. Terutama juga karena aku di-upgrade ke kelas bisnis Eropa di penerbangan Paris CDG – Amsterdamnya!! 😍

Dinner service on board KLM's Europe business class
Di-upgrade ke kelas bisnis Eropanya KLM!!

Aku tiba di Schiphol di hari Sabtu malam. Namun, aku tidak langsung kembali ke Delft karena kebetulan salah satu teman baikku sedang berkunjung. Ia baru saja menyelesaikan studinya di Skotlandia dan sedang dalam perjalanan balik (for good) ke Indonesia, jadilah dia sekalian mampir di Amsterdam.

Rijksmuseum, Amsterdam
Akhir pekan di Amsterdam

Jadilah aku menginal di Amsterdam malam itu; dan pada dasarnya akhir pekan ini aku habiskan di sana sih, haha. Barulah sekarang (akhirnya) aku kembali di Delft dan Amsterdam (untuk kerjaan maksudnya). Ah, kembali ke dunia nyata nih!  😣 .

Anyway, yah, segini dulu deh untuk sekarang! 😀

Aviation

#1717 – Garuda Leaves Gatwick for Heathrow

ENGLISH

Okay it is time for some aviation-related news, haha 😆 .

News about Garuda Indonesia’s intention to move their London operation from Gatwick Airport to Heathrow Airport has been around since the end of last year after Garuda, somehow, secured some super precious Heathrow slots. Why “super precious” exactly btw? Well, this February, Oman Air bought a pair of Heathrow slots from Air France/KLM for US$75 million. Yes, US$75 million (approx Rp 1 trillion or €68 million) “just” for a right to land and take off at Heathrow Airport once a day 😱😱😱😱😱. Anyway, the Garuda news was, indeed, confirmed in February.

Starting from today, Garuda decouples the tagged Amsterdam and London service and moves from Gatwick to Heathrow in London. London Heathrow is served 5x weekly (with a stop in Singapore on the outbound flight) while, separately, Amsterdam is served 6x weekly (3x with a stop in Singapore on the outbound flight while the other 3x are non-stop).

What does this mean?

Well, this means NO MORE fifth freedom Amsterdam – London flight with Garuda Indonesia for me!! ☹️☹️☹️☹️☹️ Damn, this particular fifth freedom flight has been one of my most favorite flights ever because:

  1. First of all, it is fifth-freedom so by definition it is awesome;
  2. Moreover, it is operated with a wide-body Boeing 777-300ER aircraft while all other competitors use narrow-body or regional jets on the route (well, except for British Airways’ once daily Boeing 767-300 service);
  3. It is Garuda Indonesia so the level of on board service is the best of all competing airlines;
  4. While at the same time they sell (much) cheaper tickets than their competitors (including LCCs) and those cheap tickets are (usually) still available even if you buy them last minute.

Okay, somewhat the third and fourth point above are, rather, contradictory but it is what it is 😆 .

Complementary snack and drink on board
CityJet’s AMS-LCY snack in 2013
Complementary snack on board KLM
KLM’s AMS-LHR snack service in 2013
Complimentary snack on board GA88 and GA89 from AMS-LGW vv
Garuda’s AMS-LGW snack in 2015

At the very least last year I have flown this fifth freedom route three times on two short weekend trips to London. So it is not like that I am totally missing out on anything, haha 😆 .

Nonetheless, we will see. I am genuinely hoping for the best for Garuda with this operational change. There have been words around that, indeed, their operation to London Gatwick is hemorrhaging their money, a lot. Well, I am not so surprised with that though. I mean, just look at the third and fourth point I mention above 😆 .

On board CityJet's Avro RJ85. It was a much roomier plan that I thought it was!
On board CityJet’s AMS-LCY flight
On board a KLM's Boeing 737-800
On board KLM’s AMS-LHR flight
On board Garuda Indonesia's Boeing 777-300ER reg PK-GIC
On board Garuda’s AMS-LGW flight

Hopefully this ambitious change of strategy to London Heathrow works. To be honest I am a little bit concerned with the schedule though. Flight GA 86 to Heathrow departs from Jakarta at 07:45, which means NO possibility for connections from Garuda’s other destinations. For instance, Garuda’s first flights from Denpasar, Surabaya, Medan, Makassar, and Yogyakarta all arrive in Jakarta after 7 AM 😐 . As far as I know, there is only one GA flight which is able for a convenient transfer: the GA 854 flight from Surabaya to Singapore where the passengers can transfer to GA 86 in Singapore. I know they have a very strict scheduling constraint with their available Heathrow slots. But still…

Yeah, we will see. In the meantime, for now I need to look for other possible fun ways to fly to/from London from/to Amsterdam, haha 😆 . Any idea?

A Garuda Indonesia's Boeing 777-300ER reg PK-GIE which brought me to London as flight GA88
A Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GIE which brought me to London as flight GA88
A Garuda Indonesia's Boeing 777-300ER reg PK-GIC which brought me back to Amsterdam as GA89
A Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GIC which brought me back to Amsterdam as GA89
A Garuda Indonesia's Boeing 777-300ER reg PK-GID
A Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GID which brought me to Amsterdam as GA89

BAHASA INDONESIA

Oke, sekarang adalah saatnya untuk sebuah berita singkat yang berkaitan dengan dunia penerbangan, haha 😆 .

Berita mengenai keinginannya Garuda Indonesia untuk memindahkan operasi mereka di London dari Bandara Gatwick ke Bandara Heathrow sudah muncul semenjak akhir tahun lalu setelah Garuda mendapatkan beberapa slot super berharga di Bandara Heathrow. Mengapa kok “super berharga” btw? Jadi ya, Februari kemarin ini Oman Air membeli sepasang slot di Heathrow dari Air France/KLM seharga US$ 75 juta (sekitar Rp 1 TRILYUN). Iya loh, Rp 1 trilyun “hanya” untuk mendapatkan hak mendarat dan lepas landas di Bandara Heathrow satu kali saja dalam satu hari 😱😱😱😱😱. Anyway, berita Garuda ini beneran dikonfirmasi bulan Februari ini.

Mulai hari ini, Garuda memisahkan rute Amsterdam dan London yang tersambung itu dan berpindah dari Bandara Gatwick ke Bandara Heathrow di London. London Heathrow dilayani 5x seminggu (semuanya dengan transit di Singapura di penerbangan keberangkatan) sementara Amsterdam dilayani terpisah sebanyak 6x seminggu (3x dengan transit di Singapura di penerbangan keberangkatan dan 3x lainnya penerbangan non-stop).

Apakah arti dari semua ini?

Yaa, artinya TIDAK ADA LAGI penerbangan kebebasan kelima Amsterdam – London dengan Garuda Indonesia untukku!! ☹️☹️☹️☹️☹️ Ah, sayang banget nih padahal penerbangan kebebasan kelima ini adalah salah satu penerbangan favoritku sepanjang masa karena:

  1. Pertama-tama, yang namanya penerbangan kebebasan kelima itu kan memang sudah dari sananya keren duluan gitu ya;
  2. Penerbangan ini dioperasikan dengan pesawat berbadan lebar Boeing 777-300ER sementara semua pesaingnya di rute ini menggunakan pesawat berbadan kecil atau malah pesawat jet regional (eh, kecuali satu penerbangan hariannya British Airways yang dioperasikan dengan Boeing 767-300 ding);
  3. Penerbangan ini dioperasikan oleh Garuda Indonesia yang mana level pelayanan di dalam pesawatnya jauh banget di atas semua pesaingnya;
  4. Pada saat yang bersamaan, Garuda menjual tiket penerbangannya (jauuh) lebih murah daripada pesaingnya (termasuk maskapai LCC) dan tiket murah itu (biasanya) masih tersedia bahkan ketika tiketnya dibeli dadakan.

Oke, memang sih poin ketiga dan keempat di atas kok kontradiktif gitu ya, tetapi ya memang begitu sih situasinya 😆 .

Complementary snack and drink on board
Snack di rute AMS-LCYnya CityJet tahun 2013
Complementary snack on board KLM
Snack di rute AMS-LHRnya KLM di tahun 2013
Complimentary snack on board GA88 and GA89 from AMS-LGW vv
Snack di rute AMS-LGWnya Garuda di tahun 2015

Setidaknya tahun lalu aku sudah menerbangi rute kebebasan kelima ini tiga kali di dua perjalanan akhir pekan ke London. Jadi ya bukannya aku melewatkan sesuatu gitu juga sih, haha 😆 .

Ah, kita lihat saja deh. Aku sungguh berharap mudah-mudahan Garuda sukses dengan perubahan strategi ini. Soalnya dengar-dengar nih, katanya operasi mereka ke London Gatwick itu berdarah-darah banget loh (dari segi finansial), banyak pula. Yaa nggak mengherankan juga sih ya. Maksudku, agak terlihat kan dari poin 3 dan 4 yang kusebutkan di atas 😆 .

On board CityJet's Avro RJ85. It was a much roomier plan that I thought it was!
Di dalam penerbangan AMS-LCY dengan CityJet
On board a KLM's Boeing 737-800
Di dalam penerbangan AMS-LHR dengan KLM
On board Garuda Indonesia's Boeing 777-300ER reg PK-GIC
Di dalam penerbangan AMS-LGW dengan Garuda

Jadi mudah-mudahan strategi ambisius mereka dengan memindahkan operasi ke London Heathrow ini berbuah manis. Eh, tetapi sejujurnya aku sedikit khawatir dengan jadwalnya nih. Penerbangan GA 86 ke Heathrow dijadwalkan berangkat dari Jakarta jam 07:45 pagi, yang mana artinya TIDAK MEMUNGKINKAN untuk dibuat terkoneksi dengan penerbangan-penerbangan Garuda lainnya yang mana pun. Misalnya nih, penerbangan pertama Garuda dari Denpasar, Surabaya, Medan, Makassar, dan Yogyakarta semuanya baru mendarat di Jakarta lewat jam 7 pagi 😐 . Sejauh yang aku tahu, hanya ada satu penerbangan yang memungkinkan koneksi yang nyaman, yaitu penerbangan GA 854 dari Surabaya ke Singapura dimana penumpang bisa transit ke GA 86 di Singapura. Aku paham betul bahwa mereka memang dihadapkan pada constraint amat ketat yaitu ketersediaan slot di Bandara Heathrow. Tapi tetap aja lah ya…

Ya, kita lihat saja deh. Untuk sekarang ini, aku harus mencari cara lain yang asyik untuk terbang ke/dari London dari/ke Amsterdam nih, haha 😆 . Ada ide?

Aviation · My Interest · TV Show

#1683 – Air Crash Investigation: GA 200

ENGLISH

My most favorite documentary show on TV is the long-running Air Crash Investigation (also titled “Mayday” in certain regions). This January, they premiered their 15th season with their first episode being a documentary of the Garuda Indonesia flight GA200 accident in Yogyakarta on 7 March 2007.

A cgi rendering of PK-GZC
A cgi rendering of PK-GZC

The accident being in Indonesia and in this case, even more specifically, it was in my hometown, made me a little bit more excited to watch the episode. Obviously if I really wanted to know, investigation of this accident has been done years ago and I could just look for the report somewhere. However, still, it feels more fun to watch it as an episode of a documentary show 🙂 .

Btw, it was probably the second time my excitement level was more than average of an upcoming Air Crash Investigation. The first time was in the seventh season in 2009 where they made an episode of Adam Air’s KI 574 crash on 1 January 2007.

Synopsis

Garuda Indonesia’s Boeing 737-400 reg PK-GZC at KLIA. Photo credit: TK/Airliners.net

In the morning of 7 March 2007 [1], a Garuda Indonesia’s Boeing 737-400 reg PK-GZC was approaching runway 09 of Adisucipto Airport, Yogyakarta as flight GA 200 from Jakarta. The plane touched down 860 meter beyond the runway threshold at much faster speed than normal, then it overshot the runway into the paddy field beyond runway 27, and burst into flames.

The investigation led to the conclusion that the main cause of the accident was pilot’s error; mainly rooting from a logical fallacy called “fixation”, where one is so focused on finishing a “task” (in this case, landing the plane) and ignores many signs to not do so (in this case, a lot of warnings in the cockpit) and do something else (in this case, to abort the landing attempt). For more details explanation, please just watch the episode 😉 .

My Review

Positives

I think it was a good episode of Air Crash Investigation and it started season 15 in a good note (unlike the first episode of season 11 which I really, really, hated as it was so poorly produced).

The story and the narratives were both clear and rather easy to follow. The CGI was good as well and provided good details (even the Boeing 737-400 was wearing Garuda’s livery back then and the registration, PK-GZC, was there as well).

A cgi rendering of PK-GZC
A cgi rendering of PK-GZC

However, what I really liked the most about this episode was its fairness. In a way, this GA 200 accident was a turning point for Garuda Indonesia. One of its direct implication was the European Union’s ban on all Indonesian airlines to fly in the EU air space in 2007. Since then, Garuda had reformed and restructured the entire company as an airline. As a result, the ban was lifted (only for Garuda and three other Indonesian airlines) in 2009 and they reinstated the Jakarta – Amsterdam route in 2010 (which I flew in August 2010 😛 ). Their safety track record has been much better since then. As of December 2014, they are one of the only few 5-star airline in the world. And they have been steadily in the top 10 airlines in the world (by SkyTrax) in the last couples of years.

And this was portrayed at the end of the episode as well, where it was shown how Garuda Indonesia has changed and is now one of the most respected airlines in the world.

Negatives

However, there were also a couple of things from the episode which bothered me as well. First of all, it was portrayed as if Australia was leading/doing all the investigation of the crash. Okay, to be honest, I do not know for sure how the investigation went. However, what I do know is that Indonesia has our own National Transportation Safety Committee (NTSC) who would be responsible for this kind of task. If Australia took part in the investigation, I would think their role would be more of a supportive role. The investigation still should have been led by Indonesia because the accident involved an Indonesian airline and it occurred on a domestic flight in Indonesia. This raised my eyebrows a little bit.

The second thing was more of a minor thing though, haha 😆 . As mentioned above, Garuda has reformed since the accident where one of the key program was to clean up its brand identity. To do that, they intoduced new look in the form of new livery in 2009 and new flight attendants’ uniform in 2010.

Just take a look at the following screenshot:

Garuda flight attendant's "uniform" portrayed in the documentary
Garuda flight attendant’s “uniform” portrayed in the documentary

You see, the flight attendant’s uniform was portrayed to resemble current Garuda’s flight attendant uniform. However, back then in 2007, obviously they still wore the older uniform. I mean, it should have looked more like this:

Garuda's old flight attendant uniform. Photo credit: Sam Chui. Source: http://www.samchuiphotos.com/Indonesia09/
Garuda’s old flight attendant uniform. Photo credit: Sam Chui. Source: http://www.samchuiphotos.com/Indonesia09/

haha 😆

Yeah, but I am just cherry-picking here. These small problems did not take away the fact that I enjoyed watching the episode (aside from the first negative point I raised above).

BAHASA INDONESIA

Salah satu acara dokumenter favoritku di TV adalah Air Crash Investigation (yang juga dijuduli “Mayday” di beberapa negara) yang sudah bermusim-musim itu. Nah, Januari ini, mereka mulai menayangkan eisode pertama musim ke-15nya yang mana merupakan dokumenter dari kecelakaan pesawat Garuda Indonesia penerbangan GA200 di Yogyakarta tanggal 7 Maret 2007.

A cgi rendering of PK-GZC
Gambar grafik komputer PK-GZC

Kecelakaannya berlangsung di Indonesia dan untuk kasus ini, lebih spesifik lagi, di kota asalku, membuatku sedikit lebih tertarik dari biasanya untuk menonton episode ini. Tentu saja sih jika aku beneran ingin tahu, toh investigasinya sudah selesai bertahun-tahun yang lalu dan aku bisa mencari laporannya kan. Namun, tetap aja rasanya lebih seru ketika menontonnya sebagai satu episode dokumenter 🙂 .

Btw, mungkin ini adalah kali kedua dimana level ketertarikanku jauh di atas rata-rata loh untuk menonton episode yang akan datang dari Air Crash Investigation. Yang pertama adalah  di musim ketujuhnya di tahun 2009 dimana mereka menayangkan episode mengenai kecelakaannya Adam Air KI 574 tanggal 1 Januari 2007.

Sinopsis

Boeing 737-400 milik Garuda Indonesia dengan registrasi PK-GZC di KLIA. Photo credit: TK/Airliners.net

Di pagi hari tanggal 7 Maret 2007 [1], sebuah Boeing 737-400 milik Garuda Indonesia dengan registrasi PK-GZC akan mendarat di landasan pacu 09 Bandara Adisucipto, Yogyakarta, sebagai penerbangan GA 200 dari Jakarta. Pesawatnya menyentuh landasan pacu 860 meter dari ujung landasan dengan kecepatan jauh di atas normal, kemudian overshooting landasan pacunya, terperosok ke area persawahan di luar landasan pacu 27, dan terbakar.

Investigasinya mengarah ke kesimpulan dimana penyebab utama kejadian ini adalah kesalahan pilot; terutama yang bersumber dari kesalahan berpikir yang disebut “fixation“, dimana saking fokusnya seseorang dalam menyelesaikan suatu “tugas” (dalam hal ini, mendaratkan pesawatnya), ia kemudian mengabaikan tanda-tanda yang menyatakan ia harus berhenti (dalam hal ini, banyak sekali peringatan dari komputer pesawat di kokpit) dan harus melakukan hal lain (dalam hal ini, membatalkan pendaratan). Untuk penjelasan lebih lengkapnya, tonton episodenya saja deh 😉 .

Review-ku

Segi Positif

Aku rasa ini adalah episode yang bagus dari Air Crash Investigation dan episode ini memulai musim 15-nya dengan baik (nggak kayak episode pertamanya musim 11 yang aku benar-benar tidak suka karena produksinya jelek banget).

Cerita dan narasinya jelas dan mudah diikuti. Gambar grafik komputernya juga bagus dan cukup mendetail (bahkan Boeing 737-400nya mengenakan livery-nya Garuda waktu itu dan registrasi pesawatnya, PK-GZC, turut pula digambarkan).

A cgi rendering of PK-GZC
Gambar grafik komputer PK-GZC

Namun, yang paling aku suka dari episode ini adalah keadilannya (atau keobyektivitasannya). Di satu sisi, kecelakaan GA 200 ini adalah titik balik bagi Garuda Indonesia. Salah satu efek langsungnya adalah larangan dari Uni Eropa terhadap semua maskapai penerbangan Indonesia untuk terbang di langit Eropa di tahun 2007. Semenjak itu, Garuda Indonesia berbenah, memperbaiki dan merestrukturisasi perusahaannya sebagai sebuah maskapai penerbangan. Hasilnya, larangan terbang dicabut (hanya untuk Garuda dan tiga maskapai Indonesia lainnya) di tahun 2009 dan mereka membuka kembali rute Jakarta – Amsterdam di tahun 2010 (yang aku terbangi Agustus 2010 😛 ). Rekam jejak keselamatan mereka juga semakin baik. Per Desember 2014, mereka juga diberi gelar sebagai satu dari sedikit maskapai penerbangan berbintang 5 di dunia. Juga, mereka stabil berada di peringkat 10 besar dari semua maskapai penerbangan (berdasarkan SkyTrax) beberapa tahun belakangan.

Dan ini ditampilkan di akhir episodenya juga, dimana tunjukkan bagaimana Garuda Indonesia sudah berubah dan sekarang menjadi salah satu maskapai yang paling disegani di dunia.

Segi Negatif

Namun, ada juga beberapa hal di episode ini yang menggangguku. Pertama-tama, digambarkan seakan-akan Australia lah yang memimpin/melakukan investigasi kecelakaan ini. Oke, sejujurnya, memang sih aku tidak tahu bagaimana investigasnya berlangsung. Hanya saja, yang aku tahu pasti adalah bahwa Indonesia memiliki Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang berwenang akan investigasi semacam ini. Jika Australia turut ambil bagian dalam investigasi, seharusnya perannya hanyalah sebagai peran pendukung. Seharusnya investigasinya masih tetap dipimpin oleh Indonesia karena kecelakaannya melibatkan maskapai Indonesia dan pun terjadi di sebuah penerbangan domestik di Indonesia. Ini membuatku sedikit mengernyitkan dahi.

Hal kedua adalah hal kecil aja sih, haha 😆 . Seperti yang aku bilang di atas, Garuda sudah merestrukturisasi penerbangannya semenjak itu dan satu perubahan vital yang mereka lakukan adalah pembenahan identitas brand. Untuk itu, mereka mengubah penampilan mereka dengan mengenalkan livery baru di tahun 2009 dan seragam baru bagi pramugari/a di tahun 2010.

Lihat deh screenshot berikut ini:

Garuda flight attendant's "uniform" portrayed in the documentary
“Seragamnya”seorang pramugari Garuda di dokumenternya

Nah kan, seragam pramugarinya ditampilkan mirip seperti model seragam pramugarinya sekarang. Padahal, jelas di tahun 2007 mereka masih mengenakan seragam lama. Maksudku, seharusnya seragamnya nampak lebih seperti ini kan:

Garuda's old flight attendant uniform. Photo credit: Sam Chui. Source: http://www.samchuiphotos.com/Indonesia09/
Seragam lamanya pramugari Garuda. Photo credit: Sam Chui. Source: http://www.samchuiphotos.com/Indonesia09/

haha 😆

Yaa, tapi ini mah cuma menunjuk hal-hal kecil sampingan aja ya. Masalah kecil ini tidak memiliki efek terhadap fakta bahwa aku menikmati menonton episodenya kok (kecuali poin negatif pertama yang kusebutkan di atas ya).

Aviation · Miscellaneous · My Interest · Photo Tales · Zilko's Life

#1621 – Photo Tales (24)

ENGLISH

So, very similar to the previous edition of Photo Tales, this one is also a special one relating to aviation. But this time, the photos are from my 21 hours trip from Yogyakarta to Amsterdam in late August 😀 .

***

Photo #49

Flightradar24
Flightradar24

My favorite aviation app is now Flightradar24. Sometimes I access it with my computer during breaks at work as just seeing it helps me to refresh my mind, haha 😆 . I also have its mobile app in my smartphone. Not the free one though because the feature they offer in the free version is not enough for me; so I decided to buy the premium app, which turned out to be satisfying thus far 😀 . I am a happy customer.

Btw, so it felt quite nice when I saw the Blue Sky lounge at Adisucipto Airport, Yogyakarta, also accessed Flightradar24 to, presumably, track the flights around the airport 😛 .

Photo #50a and #50b

We were producing contrails!!
We were producing contrails!!

Okay, not much to say here but it was super cool that apparently our Boeing 777-300ER was producing contrails[1] as we were flying somewhere above Europe!! 😀

We were producing contrails!!
We were producing contrails!!

Photo #51

Garuda Indonesia's Boeing 777-300ER seating arrangement
Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER seating arrangement

As of now (September 2015), Garuda Indonesia operates seven Boeing 777-300ERs. Originally, the airplane was planned to be fitted in three classes with 8 first class seats, 38 business class seats, and 268 economy seats. And so the first six Boeing 777-300ERs in their fleet are fitted this way: PK-GIA, PK-GIC, PK-GID, PK-GIE, PK-GIF, and PK-GIG. However, this year they decided to change their configuration on their newer Boeing 777-300ERs to meet with market demand (and operational cost) better. So, starting from PK-GIH, the Boeing 777-300ERs will be in two classes configuration with 26 business class seats and 367 economy seats. So that is why in the photo I took from their in-flight magazine above there are two seating plans under the Boeing 777-300ER box.

Even though personally I think the management has made a rational decision here, I don’t think I am in a good position to give an opinion as I don’t know how the market is in the premium sector, haha 😆 . However, if they find it difficult to fill in the eight first class seats, then they are indeed better to just fit more economy seats in the plane, right? 🙂

BAHASA INDONESIA

Ya, sangat mirip dengan edisi sebelumnya dari Photo Tales, berikut ini adalah satu edisi spesial yang berkaitan dengan pesawat. Tapi kali ini foto-fotonya adalah dari perjalanan 21 jam-ku dari Yogyakarta ke Amsterdam akhir Agustus lalu 😀 .

***

Foto #49

Flightradar24
Flightradar24

Aplikasi penerbangan favoritku sekarang adalah Flightradar24. Kadang-kadang aku membukanya dengan komputerku loh ketika beristirahat sejenak dari pekerjaan kantor karena melihatnya saja sudah membantuku menyegarkan pikiran, haha 😆 . Aku juga memiliki aplikasi mobile-nya di smartphone-ku. Bukan yang gratis sih karena menurutku fitur-fitur yang ditawarkan di versi gratisnya itu kurang oke; jadilah aku membeli yang premium, yang mana ternyata memuaskan deh sejauh ini 😀 . Ya, pelanggan yang puas disini.

Nah, jadilah rasanya senang aja ketika aku melihat bahwa lounge Blue Sky di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, juga menggunakan Flightradar24 untuk, aku duga sih, melihat status penerbangan di sekitar bandaranya 😛 .

Foto #50a dan #50b

We were producing contrails!!
Kami menghasilkan contrails!!

Oke, nggak banyak yang bisa kutulis disini sih tetapi keren banget rasanya bahwa ternyata Boeing 777-300ER yang aku tumpangi menghasilkan contrails[1] dong ketika kami terbang di atas Eropa!! 😀

We were producing contrails!!
Kami menghasilkan contrails!!

Photo #51

Garuda Indonesia's Boeing 777-300ER seating arrangement
Pengaturan kursi di pesawat Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia

Per sekarang ini (September 2015), Garuda Indonesia mengoperasikan tujuh buah Boeing 777-300ER. Awalnya, tipe ini direncanakan untuk diisi dengan tiga kelas yang terdiri dari 8 kursi kelas utama (first class), 38 kursi kelas bisnis, dan 268 kursi kelas ekonomi. Dan jadilah enam Boeing 777-300ER pertamanya mereka diisi kursi seperti ini: PK-GIA, PK-GIC, PK-GID, PK-GIE, PK-GIF, dan PK-GIG. Namun, tahun ini mereka memutuskan untuk mengubah konfigurasi kursi di pesawat Boeing 777-300ER mereka yang lebih baru untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar (dan biaya operasional). Jadilah mulai dari PK-GIH, Boeing 777-300ERnya akan berada dalam konfigurasi dua kelas dengan 26 kursi kelas bisnis dan 367 kursi kelas ekonomi. Jadilah di foto di atas yang aku ambil dari majalahnya, ada dua denah tempat duduk di dalam kotak Boeing 777-300ERnya.

Walaupun menurutku pribadi sepertinya manajemen mereka sudah membuat keputusan yang masuk akal, aku rasa aku tidak berada dalam posisi yang baik untuk memberikan pendapat sih karena terus terang aku kurang tahu bagaimana pasar di sektor penerbangan premium, haha 😆 . Namun, jika mereka kesulitan menjual delapan tiket kelas utama itu, memang mendingan pesawatnya diisi dengan lebih banyak kursi ekonomi aja kan ya? 🙂

Aviation · Indonesia Trip · My Interest · Trip Report · Vacation

#1611 – JOG-CGK-(SIN)-AMS with GA213 and GA88

ENGLISH

The route map/ Created with gcmap.com
The route map. Created with gcmap.com

My one month summer vacation this year ended a couple of days ago with my return flights to the Netherlands. And here is the trip report of those flights! 😀

When I bought my ticket months ago, all of Garuda’s flights to Amsterdam were non-stop flights. But lately, Garuda decided to adjust their Amsterdam route, with half of their onward service to Amsterdam make a short stop in Singapore; and my returning flight happened to be one that got adjusted via Singapore. Well, I am not complaining 😛 .

***

Pre-Departure and Check-In

To me, online check-in was important because I needed to choose my own seat, haha 😆 . But I did not have the best experience on this department because somehow I could not check-in online, either in Garuda’s website or through their mobile app. I called the call-center and they told me there was a maintenance work going on and asked me to try again a bit later. Hours later, it still did not work. So I went to Garuda’s office in Yogyakarta on Thursday morning to do the city check-in. But then, the agent informed me that indeed I could not check-in because of my connecting international flight. For this, the only check-in option was at the airport.

Well, this is certainly one area of improvement, Garuda Indonesia.

GA 213 (Yogyakarta – Jakarta)

Garuda Indonesia logo

Flight: Garuda Indonesia GA 213
Equipment: Boeing 737-800 reg PK-GFQ
ATD: 16:46 WIB (Runway 09 of JOG)
ATA: 17:43 WIB (Runway 07L of CGK)

I arrived at the airport at around 14:50 after some drama involving the traffic in Yogyakarta, haha 😆 . I checked-in and picked my seat (lucky I was still able to get window seat especially on the Jakarta-Amsterdam flight). Since there was still a lot of time, I decided to wait at the Blue Sky Lounge at Adisucipto Airport as it was for free for me 😀 . I knew my flight would be a little bit delayed thanks to my Flightradar24 app 🙂 . But at least I knew that this time I would be much luckier than the previous time because my GA 213 flight would be operated with PK-GFQ. Not only PK-GFQ was equipped with IFE, it was also one of Garuda’s Boeing 737-800s with Sky Interior!!

PK-GFQ arriving from Jakarta as GA 212: flaps down, spoilers up, reverse thruster on
PK-GFQ arriving from Jakarta as GA 212: flaps down, spoilers up, reverse thruster on

At 15:52, PK-GFQ landed at runway 09 of Adisucipto Airport from Jakarta. The boarding call was made at around 16:20 and we departed at 16:43, taking off from runway 09 of Adisucipto Airport. Here is the take-off video:

See you, Yogyakarta!!

It was a normal 57 minutes short flight from Yogyakarta to Jakarta with Garuda Indonesia’s top notch service. Btw, this flight made me realize that Garuda’s IFE on Boeing 737-800 had better music selection than their IFE on Boeing 777-300ER! Haha 😆 .

It was during sunset when we were approaching Jakarta. The view was very beautiful! 🙂

Sunset at Jakarta
Sunset at Jakarta

Anyway, we landed at runway 07L of Soekarno-Hatta International Airport. Here is the landing video:

Transit #1 in Jakarta

I had about three hours in Jakarta for transit. So after passing the immigration desk (where the officer asked me about a few Dutch expressions, lol 😆 ), I went to the Garuda’s lounge straight away. It felt a bit funny that just two and a half weeks earlier, I was also there at the lounge waiting for my KLM flight to Kuala Lumpur for my 2015 SEA Trip. At 20:15, I left the lounge and went to the gate for my GA 88 flight.

GA 88 (Jakarta – Singapore – Amsterdam)

Flight #1: CGK-SIN

Garuda Indonesia logo

Flight: Garuda Indonesia GA 88
Equipment: Boeing 777-300ER reg PK-GIA
ATD: 21:18 WIB (Runway 07Lof CGK)
ATA: 23:37 SGT (Runway 20R of SIN)

So it turned out that my GA 88 flight today would be operated with PK-GIA. I also flew with PK-GIA on both my GA 89 and GA 88 flights last year as well, which means that now, I have flown with this frame alone for, at least, 34102 km just in the past 13 months! Lol 😆

At the gate, the officer asked me about the origin of my connecting flight. Upon answering “Jogja“, a lady next to me came in shock thinking that this gate was for flight bound for Yogyakarta, lol 😆 . Anyway, boarding commenced at 20:40. After boarding was completed, the flight attendants (FA) distributed welcome drinks, as per Garuda’s Jakarta-Singapore service standard! Wow, my first time ever getting a welcome drink on a flight! 😀 . The choices were either apple juice or orange juice. I opted for the apple juice.

A welcome drink on board Garuda Indonesia GA 88
A welcome drink on board Garuda Indonesia GA 88

At 21:18, we took off from runway 07L of Soekarno-Hatta International Airport. Here is the take-off video:

Just after take-off, the FAs started distributing the meal service. The choice was beef pasta and chicken rice. I chose the beef pasta, which was okay, and red wine for the drink. We were passing some minor turbulences above Sumatra though, making it a little bit difficult for me to take a good shot of my meal, haha 😆 . I decided not to watch any movie because this was just another short flight to Singapore. So I just read the magazine and browsed around the IFE. At 23:37 Singapore time, we landed at runway 20R of Singapore Changi Airport. Here is the landing video:

We parked at Terminal 3 of Changi Airport and it was my first time stepping my foot in Terminal 3, haha 😆

Transit #2 in Singapore

We stopped for about 90 minutes at Changi so the passengers were asked to disembark the plane. Upon disembarkation, Garuda Indonesia gave us a transit tag, a box of snack, and a S$30 voucher for shopping at Changi Airport’s Duty Free! Yes, a S$30 (approx. €19) voucher for shopping! Not bad!!!

A S$30 voucher from Garuda Indonesia
A S$30 voucher from Garuda Indonesia

It turned out to be a little bit difficult to look for what I wanted to buy with the voucher because I did not want to spend any money on it (or to spend as little as possible). For instance, I found something nice but the price was just S$25. I remember thinking “Damn, why only S$25 and not S$30?“, haha 😆 . In the end I bought a Singapore snow globe and a playing card for a total of S$30.80, so I only had to pay S$0.80 for them, haha 😆 .

Flight #2: SIN-AMS

Garuda Indonesia logo

Flight: Garuda Indonesia GA 88
Equipment: Boeing 777-300ER reg PK-GIA
ATD: 01:37 SGT (Runway 20R of SIN)
ATA: 08:12 CET (Runway 18C of AMS)

Boarding commenced at around 12:50 AM. Of course we were, again, using PK-GIA. Long story short, we took off from runway 20R of Singapore Changi Airport. Here is the take-off video:

Just after take-off, a late-snack service was distributed, which was a very delicious chicken barbeque sandwich! Anyway, the weather was not the best today with a lot of turbulence being present all the way from Singapore to India. A big-ish turbulence occurred somewhere above the Malacca Strait not far from Medan, and another one to the west of Nicobar Islands.

See you, Indonesia!!
See you, Indonesia!!

Being so tired after a long day and not having long sleep the night before, I felt asleep right away. It was actually a really good sleep though! I slept pretty much all the way from the Andaman Sea to somewhere above Eastern Turkey when the sun rose. I decided to watch American Sniper before the breakfast service started. The choice was a chicken pasta or beef rice. I opted the beef rice menu which turned out to be nasi kuning (yellow rice) with beef semur and baby corn. It was delicious! Definitely better than the dinner service!

Long story short, at 08:00 we were already approaching the Netherlands and we landed very smoothly at runway 18C of Amsterdam Schiphol Airport at 08:12. Here is the smooth landing video:

After that, it was the usual stuff of me passing the immigration desk and took my checked-in luggages. I took the train to go back to Delft, and here my one month summer vacation of 2015 ended.

***

So to sum up, it was another nice experience of flying with Garuda Indonesia; especially with the surprises on the Jakarta – Singapore flight and the transit experience at Changi Airport. I said above that I did not mind the transit, but (unsurprisingly) not with other people. I asked one of the FAs about the change and she said that Garuda has got a lot of complaints due to this change.

PK-GIA transitting at Singapore Changi Airport
PK-GIA transitting at Singapore Changi Airport

Nevertheless, the flights were full though. I estimate the load factor of GA 213 was about 95%, GA 88 from Jakarta to Singapore was 75-80%, and GA 88 from Singapore to Amsterdam was about 98%. But I suspect many of the passengers of the GA 88 flight bought the tickets before the decision to adjust the flight was made, just like me. So we will see how this new route will do in the future.

BAHASA INDONESIA

The route map/ Created with gcmap.com
Rute penerbangan hari ini. Dibuat dengan gcmap.com

Liburan musim panas sebulanku tahun ini berakhir dua hari yang lalu dengan penerbanganku kembali ke Belanda. Dan posting ini adalah trip report dari penerbangan itu! 😀

Ketika aku membeli tiketnya berbulan-bulan yang lalu, semua penerbanannya Garuda ke Amsterdam adalah penerbanan non-stop. Tetapi akhir-akhir ini, Garuda memutuskan untuk menyesuaikan rute Amsterdam mereka, dengan setengah dari layanan mereka menuju Amsterdam berhenti dulu di Singapura; dan penerbangan kembaliku ini kebetulan adalah penerbangan yang kena penyesuaian ini. Ya, aku tidak komplain juga sih 😛 .

***

Sebelum Keberangkatan dan Check-In

Untukku, online check-in itu penting karena aku membutuhkannya untuk memilih kursiku, haha 😆 . Tetapi kali ini aku tidak memiliki pengalaman yang menyenangkan deh dalam hal ini karena aku, entah mengapa, tidak bisa melakukan check-in online, baik itu di website-nya Garuda atau di mobile app mereka. Aku menelepon call-center mereka dan dikatakan bahwa sedang ada maintenance sehingga aku diminta mencobanya kembali beberapa jam kemudian. Toh, berjam-jam kemudian masih tetap aja nggak bisa. Jadilah Kamis pagi aku pergi ke kantornya Garuda di Yogyakarta untuk city check-in. Tetapi aku diberi-tahu bahwa aku memang tidak bisa check-in saat itu karena aku memiliki penerbangan lanjutan internasional. Untuk ini, aku hanya bisa check-in di bandara saja.

Yah, ini adalah satu area untuk diperbaiki deh, Garuda Indonesia.

GA 213 (Yogyakarta – Jakarta)

Garuda Indonesia logo

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 213
Pesawat: Boeing 737-800 reg PK-GFQ
ATD: 16:46 WIB (Runway 09 of JOG)
ATA: 17:43 WIB (Runway 07L of CGK)

Aku tiba di bandara sekitar jam 2:50 sore setelah drama dengan lalu lintasnya Yogyakarta, haha 😆 . Aku check-in dan memilih kursiku (untungnya aku masih bisa mendapatkan kursi jendela terutama di penerbangan Jakarta-Amsterdamku). Karena masih ada banyak waktu, aku memutuskan untuk menunggu di Blue Sky lounge karena untukku kan nggak bayar masuknya, haha 😀 . Aku tahu penerbanganku akan sedikit terlambat berkat app Flightradar24-ku 🙂 . Tetapi setidaknya aku tahu bahwa kali ini aku akan jauh lebih beruntung daripada kali sebelumnya karena penerbangan GA 213-ku akan dioperasikan dengan PK-GFQ. Bukan hanya PK-GFQ dilengkapi dengan IFE, tetapi ia juga adalah salah satu Boeing 737-800nya Garuda yang interior dalamnya berdisain Sky Interior!!

PK-GFQ arriving from Jakarta as GA 212: flaps down, spoilers up, reverse thruster on
PK-GFQ tiba dari Jakarta sebagai GA 212: flap turun, spoiler naik, dan reverse thruster nyala

Jam 3:52, PK-GFQ mendarat di landasan pacu 09 Bandara Adisucipto dari Jakarta. Panggilan naik pesawat dibuat jam 4:20 sore dan kami berangkat jam 4:43, dengan lepas landas dari landasan pacu 09 Bandara Adisucipto. Berikut ini video lepas landasnya:

Sampai jumpa, Yogyakarta!!

Penerbangannya adalan penerbangan singkat rutin selama 57 menit dengan servisnya Garuda Indonesia yang memang bagus. Btw, penerbangan ini membuatku menyadari bahwa IFE-nya Garuda di pesawat Boeing 737-800nya itu memiliki koleksi musik yang lebih oke daripada IFE di pesawat Boeing 777-300ER-nya mereka loh! Haha 😆

Kami mendekati Jakarta ketika matahari sedang terbenam. Pemandangannya indah banget! 🙂

Sunset at Jakarta
Sunset di Jakarta

Anyway, kami mendarat di landasan pacu 07L Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Berikut ini video pendaratannya:

Transit #1 di Jakarta

Aku transit di Jakarta selama kurang lebih tiga jam. Jadilah setelah melewati imigrasi (dimana petugasnya nanya-nanya tentang ekspresi dalam bahasa Belanda gitu deh, haha 😆 ), aku pergi ke lounge-nya Garuda. Rasanya lucu juga bahwa dua setengah minggu sebelumnya, aku juga disana menunggu penerbangan KLM-ku ke Kuala Lumpur untuk 2015 SEA Trip-ku. Jam 8:15 malam, aku meninggalkan lounge dan pergi ke gate untuk penerbangan GA 88ku.

GA 88 (Jakarta – Singapore – Amsterdam)

Penerbangan #1: CGK-SIN

Garuda Indonesia logo

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 88
Pesawat: Boeing 777-300ER reg PK-GIA
ATD: 21:18 WIB (Runway 07Lof CGK)
ATA: 23:37 SGT (Runway 20R of SIN)

Jadi ternyata penerbangan GA 88-ku kali ini akan dioperasikan dengan PK-GIA. Aku juga terbang dengan PK-GIA di kedua penerbangan GA 89 dan GA 88-ku tahun lalu, yang mana artinya saat ini aku sudah terbang dengan pesawat yang ini saja sejauh setidaknya 34102 km loh dalam 13 bulan terakhir! Hahaha 😆

Di gerbang, petugasnya bertanya penerbanganku sebelumnya dari mana. Dan ketika aku menjawab “Jogja“, ibu-ibu di sebelahku heboh kaget dong karena ia mengira gerbang ini adalah untuk penerbangan ke Yogyakarta, hahaha 😆 . Anyway, jam 8:40 malam para penumpang diminta menaiki pesawat. Setelah boarding selesai, para pramugari membagikan welcome drink, sesuai dengan standar servisnya Garuda di rute Jakarta-Singapura! Wow, pertama kalinya nih aku mendapatkan welcome drink di pesawat! 😀 . Pilihannya adalah jus apel atau jus jeruk. Aku memilih jus apel.

A welcome drink on board Garuda Indonesia GA 88
Welcome drink di penerbangan Garuda Indonesia GA 88

Jam 9:18 malam, kami lepas landas dari landasan pacu 07L Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Berikut ini video lepas landasnya:

Setelah lepas landas, pramugari membagikan layanan makan malam. Pilihannya adalah pasta daging sapi atau nasi ayam. Aku memilih pasta daging sapi, yang rasanya ternyata biasa-biasa saja, dan anggur merah untuk minum. Ada beberapa turbulensi minor di atas Sumatra, akibatnya jadi susah deh untukku memfoto makananku, haha 😆 . Aku memutuskan untuk tidak menonton film karena ini hanyalah penerbanan singkat ke Singapura. Jadilah aku membaca-baca majalahnya saja dan melihat-lihat isi IFE-nya. Jam 11:37 waktu Singapura, kami mendarat di landasan pacu 20R Bandara Changi. Berikut ini video pendaratannya:

Kami parkir di Terminal 3 Bandara Changi dan ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di terminal ini, haha 😆

Transit #2 di Singapura

Kami berhenti selama sekitar 90 menit di Changi sehingga para penumpang diminta untuk turun. Ketika turun, Garuda Indonesia memberikan kami sebuah tag transit, satu kotak snack, dan voucher belanja di Bandara Changi senilai S$30! Iya dong, voucher senilai S$30 (sekitar Rp 300.000) untuk belanja! Lumayan banget kan ya!!!

A S$30 voucher from Garuda Indonesia
Voucher belanja S$30 dari Garuda Indonesia

Tapi ternyata susah juga ya mencari barang untuk dibeli dengan voucher ini soalnya aku kan maunya nggak keluar uang sama sekali gitu (atau keluarnya seminimal mungkin deh). Misalnya aja, ada sih barang yang bagus tetapi harganya kok cuma S$25. Aku ingat berpikir: “Sial banget, kok harganya cuma S$25 aja sih bukannya S$30 gitu?“, huahaha 😆 . Akhirnya aku membeli sebuah snow globe-nya Singapura dan kartu remi dengan total harga S$30,80. Jadi aku cukup membayar S$0,80 aja, haha 😆 .

Penerbangan #2: SIN-AMS

Garuda Indonesia logo

Penerbangan: Garuda Indonesia GA 88
Pesawat: Boeing 777-300ER reg PK-GIA
ATD: 01:37 SGT (Runway 20R of SIN)
ATA: 08:12 CET (Runway 18C of AMS)

Panggilan naik pesawat dibuat jam 12:50 subuh. Tentu saja kami akan menggunakan PK-GIA lagi. Singkat cerita, kami lepas landas dari landasan pacu 20R Bandara Changi. Berikut ini video lepas landasnya:

Setelah lepas landas, layanan snack malam diberikan, yang mana merupakan sandwich ayam barbeque yang enak banget! Oh, cuaca hari ini kurang bersahabat dimana terdapat banyak sekali turbulensi dari Singapura sampai India. Yang lumayan besar terjadi di atasnya Selat Malaka di dekat Medan, dan satu lagi di sebelah baratnya Kepulauan Nicobar.

See you, Indonesia!!
Sampai jumpa, Indonesia!!

Karena merasa lelah setelah hari yang panjang dan kebetulan memang semalam sebelumnya aku tidak tidur lama, aku langsung tidur deh. Dan tidurku lumayan nyenyak lho! Aku tidur dari Laut Andaman sampai di atas Turki timur ketika matahari terbit. Aku memutuskan untuk menonton American Sniper sebelum layanan sarapan dibagikan. Pilihannya adalam pasta ayam atau nasi daging sapi. Aku memilih nasi daging sapi yang ternyata adalah nasi kuning dengan semur sapi dan baby corn. Enak! Jauh lebih enak daripada makan malamnya!

Singkat cerita, jam 8 pagi kami sudah mendekati Belanda dan kemudian mendarat dengan amat mulus di landasan pacu 18C Bandara Schiphol jam 8:12 pagi. Berikut ini video pendaratan mulusnya:

Setelahnya adalah hal yang biasa dimana aku melewati imigrasi dan mengambil bagasiku. Aku menaiki kereta ke Delft, dan disini liburan musim panas satu bulanku di tahun 2015 berakhir.

***

Jadi, ini adalah pengalaman penerbangan yang menyenangkan dengan Garuda Indonesia; terutama denan kejutan di penerbangan Jakarta – Singapuranya dan juga pengalaman transit di Bandara Changi. Seperti yang kubilang di atas, aku sendiri sih tidak masalah dengan transit ini, tetapi ternyata (tidak mengherankan sih) kebanyakan orang tidak begitu loh. Ketika ngobrol dengan salah seorang pramugarinya, ia bilang bahwa Garuda sudah banyak mendapatkan komplain karena perubahan ini.

PK-GIA transitting at Singapore Changi Airport
PK-GIA sedang transit di Bandara Changi, Singapura

Toh biarpun begitu, penerbangannya penuh kok. Aku perkirakan load factor di penerbangan GA 213 adalah sekitar 95%, GA 88 dari Jakarta ke Singapura sekitar 75-80%, dan GA 88 dari Singapura sekitar 98%. Tetapi aku duga kebanyakan penumpang GA 88 membeli tiketnya sebelum keputusan perubahan rute ini. Jadi kita lihat saja bagaimana rute ini nantinya di masa depan.