EuroTrip · Tennis · Vacation · Weekend Trip

#1950 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part IV: Roland Garros 2017)

ENGLISH

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

As usual, I went early to Stade Roland Garros, arriving there at around 9 AM and was amongst the first ten spectators at the gate today, haha. Though, as usual as well, the gate was only opened at 10 AM. Just like last year, btw, there were three security checks prior to entering the site 😛 . Anyway, I had toast sandwich for breakfast, which was okay. I loved the cappuccino, btw, mostly because it looked like this, haha:

Cappuccino

The first matches today would start at 11 AM. I was torn between watching my “usual” women’s legends final at Suzanne Lenglen or the boys (junior) singles final at Court No. 1. In the end, I chose the women’s legends final as I was already quite close to the court anyway, haha.

The final was between the defending champion, Lindsay Davenport/Martina Navratilova, and Tracy Austin-Holt/Kim Clijsters. Overall, the match was okay though it was clear Kim Clijsters was the best player on court; and there were too many errors from Navratilova and Davenport. Btw, it was nice to get a glimpse of Big Babe Tennis (a term describing women’s tennis being dominated by strong, tall players who play with a lot of power (in the early 2000s)), when Lindsay Davenport and Kim Clijsters were exchanging big cross-court shots in some of the points. Even though Navratilova and Davenport fought, in the end, Austin-Holt/Clijsters won the match 6–3, 3–6, [10–5].

Tracy Austin-Holt/Kim Clijsters defeated Martina Navratilova/Lindsay Davenport 6–3, 3–6, [10–5].
After the match, I left Court Suzanne Lenglen and decided to have lunch at the restaurant, planning to have my usual steak with some ratatouille, a dish they always had every year since I first visited Roland Garros in 2012. But it turned out they (finally) changed their menu this year, haha. Instead of a steak, they had grilled aloyau beef presented in sticks, haha. So I had this one (though, arguably, this was still similar-ish to steak anyway 😛 ).

Grilled aloyau beef

After lunch, I went around the venue a little bit to stretch my legs before, at around 2:30 PM, going to my seat at Court Philippe Chatrier. Btw, at first I wasn’t sure with my seat as it was in one of the top rows in the stand (so it was quite some “distance” from the court), but this turned out to be good because the whole time, the seat was covered by the shade of the press boxes! Haha 😆 . You know, it was a really hot and sunny day today so it was nice to sit under some shade, really 😀 .

Back at Court Philippe Chatrier this year

The women’s singles match started at 3 PM. I just realized this year that the trophy (Coupe Suzanne Lenglen) was brought into the stadium in a Louis Vuitton box, though, haha. This was prior to the finalists entering the court. Anyway, not long after, Jelena Ostapenko and Simona Halep were welcomed in the court and took their seats. Ostapenko won the coin toss and chose to receive.

The coin toss

Then, the match started.

I won’t go to too much tennis details here, but Ostapenko started really well. As a young player in her first grandslam final, she was fierce! I like this attitude from a tennis player. The first set went pretty much neck to neck, until Halep broke Ostapenko’s serve in the tenth game and took the first set 6–4.

Simona Halep took the first set 6–4

Halep took the first three games of the second set, though those were three close games. At this point, Ostapenko was down 4–6, 0–3. I was hoping Ostapenko would not give up at this point and kept on fighting, so that the final would last a little bit longer so my ticket worthed more, lol 😛 . And, gladly, she was not!! She believed on herself, sticked to her own game, which was to be hyper aggressive, and eventually turned the fortune around. She won six of the next seven games and won the set 6–4!

Jelena Ostapenko took the second set 6–4.

The third set started out similarly, where Ostapenko was immediately down 1–3. Again, at this point she did not give up and kept pressuring Halep with all those aggressive shots. From 1–3 down, she won five straight games and, thus, winning the match 4–6, 6–4, 6–3!! WOW!!

Jelena Ostapenko’s winning moment after hitting a backhand down the line return winner.

Understandably, Halep was upset but she was, as always, gracious in defeat (IMO, Simona Halep is one of those players with great sportsmanship). The trophy ceremony followed afterwards, where Ostapenko was handed her first ever singles trophy, and it happened to be the Coupe Suzanne Lenglen, a grandslam trophy!!

Jelena Ostapenko won her first singles title ever, and it was Roland Garros

It will be interesting to see how Jelena Ostapenko goes from hereon forward. I hope she can keep on this level of play and, especially, her fight to prove that this victory is not just a one time wonder thing. We will see…

Anyway, the men’s doubles match followed afterwards. Btw, the draw of this event also fell apart in this tournament, where two unseeded teams made the final: Ryan Harrison/Michael Venus and Santiago Gonzaels/Donald Young. For whatever reason, I felt really tired already and so I decided to skip this final and went back to my hotel. Well, but only after dinner at the restaurant I always visited every year nearby the venue, of course (read Part III ) 😛 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Seperti biasanya, aku berangkat awal ke Stade Roland Garros, dimana aku tiba sekitar jam 9 pagi dan termasuk dalam 10 penonton pertama yang datang hari ini, haha. Walaupun, seperti biasa sih, gerbang baru dibuka jam 10 pagi. Seperti tahun lalu, btw, ada pemeriksaan sekuriti sebanyak tiga kali sebelum masuk 😛 . Anyway, aku memesan toast sandwich untuk sarapan, yang mana rasanya biasa aja. Aku suka cappuccino-nya, btw, karena penampilannya seperti ini, haha:

Cappuccino

Pertandingan-pertandingan pertama hari ini akan dimulai jam 11 pagi. Aku bingung akan menonton pertandingan “seperti biasa” yaitu final legenda putri di Suzanne Lenglen atau final tunggal putra junior di Lapangan No. 1. Pada akhirnya, aku memilih final legenda putri karena toh aku sudah berada di dekat sana, haha.

Final tahun ini adalah antara juara bertahan, Lindsay Davenport/Martina Navratilova, dan Tracy Austin-Holt/Kim Clijsters. Secara keseluruhan, ini adalah pertandingan yang oke dimana jelas Kim Clijsters adalah pemain terbaik dari keempatnya kala itu; dan terlalu banyak kesalahan sendiri di tim Navratilova dan Davenport. Btw, asyik rasanya bisa sedikit mencicipi menonton Big Babe Tennis (sebuah istilah yang mendeskripsikan tur tenis putri yang didominasi oleh pemain bertubuh tinggi dan kuat yang bermain dengan pukulan-pukulan keras (di awal tahun 2000an)), dimana Lindsay Davenport dan Kim Clijsters saling memukul pukulan keras cross court di beberapa poin. Walaupun Navratilova dan Davenport berjuang dengan gigih, pada akhirnya Austin-Holt/Clijsters menang 6–3, 3–6, [10–5].

Tracy Austin-Holt/Kim Clijsters mengalahkan Martina Navratilova/Lindsay Davenport 6–3, 3–6, [10–5].
Setelah pertandingan berakhir, aku meninggalkan Lapangan Suzanne Lenglen dan makan siang di restoran di sana, berencana makan steak dengan ratatouille seperti biasanya, yang selalu aku makan setiap tahun di kunjunganku ke Roland Garros semenjak tahun 2012. Tetapi ternyata mereka (akhirnya) mengganti menunya tahun ini, haha. Bukannya steak, mereka menyajikan menu daging sapi aloyau panggang yang ditusuk seperti sate, haha. Jadilah aku memesan menu ini (walaupun bisa dibilang mirip-mirip dengan steak sih 😛 ).

Grilled aloyau beef

Setelah makan siang, aku berkeliling arena untuk meluruskan kaki, dan sekitar jam 2:30 siang, aku masuk menunju kursiku di Lapangan Philippe Chatrier. Btw, awalnya aku kurang sreg dengan kursiku yang berada di salah satu baris teratas di sana (jadi lumayan “jauh” gitu deh dari lapangannya), tetapi ternyata ini ada enaknya juga karena bagian ini justru teduh terkena bayangan ruang-ruang booth media! Haha 😆 . Jadi ceritanya hari ini kan panas banget gitu mana mataharinya bersinar terik pula. Jadi enak dong ya duduk di bawah bayangan yang teduh gitu, haha 😀 .

Kembali di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini

Pertandingan final tunggal putri dimulai jam 3 sore. Aku baru sadar tahun ini loh bahwa pialanya (Coupe Suzanne Lenglen) dibawa masuk ke stadionnya di dalam sebuah kotak Louis Vuitton (pastinya ori mah ya nggak mungkin KW, haha 😛 ). Ini dilakukan sebelum kedua finalis dipanggil masuk ke lapangan. Tak lama setelahnya, Jelena Ostapenko dan Simona Halep disambut masuk dan kemudian duduk di kursi mereka. Ostapenko memenangi coin toss dan memilih untuk receive (Halep servis duluan).

Coin toss

Lalu, pertandingan dimulai.

Aku tak akan menulis terlalu banyak detail tenis di sini. Ostapenko memulai pertandingan dengan baik. Sebagai pemain muda di final grandslam pertamanya, ia sungguh berani sekali! Aku suka deh attitude ini dari seorang pemain tenis! Set pertama berlangsung cukup ketat, hingga Halep mematahkan servis Ostapenko di game kesepuluh dan memenanginya 6–4.

Simona Halep memenangi set pertama 6–4

Halep langsung memenangi tiga game pertama di set kedua, tetapi ketiganya adalah game yang dimainkan dengan ketat. Di saat ini, artinya Ostapenko ketinggalan 4–6, 0–3. Aku hanya berharap Ostapenko tidak menyerah dan terus bertarung, sehingga finalnya berlangsung lama dan aku nggak rugi beli tiketnya, haha. Dan pada akhirnya, Ostapenko beneran memenangi set kedua dong! Ia tetap percaya diri dengan permainan hiper agresifnya, dan akhirnya berhasil membalikkan situasi. Ia memenangi enam dari tujuh game selanjutnya dan mengklaim set kedua 6–4!

Jelena Ostapenko memenangi set kedua 6–4.

Set ketiga dimulai mirip seperti set kedua, dimana Ostapenko langsung tertinggal 1–3. Lagi, di waktu ini ia tidak menyerah dan terus menyerang Halep dengan pukulan-pukulan agresifnya. Dari posisi tertinggal 1–3, ia menang lima game berturutan dan akhirnya memenangi pertandingan dengan skor akhir 4–6, 6–4, 6–3!! WOW!!

Momen kemenangan Jelena Ostapenko setelah memukul sebuah pukulan backhand down the line return winner.

Tak mengherankan, Halep kecewa dengan kekalahannya tetapi, seperti biasa, ia bersikap ksatria dan menerimanya (Menurutku, Simona Halep adalah salah satu pemain yang paling menjunjung sportivitas). Upacara penganugerahan piala diadakan setelahnya, dimana Ostapenko diberikan piala tunggal pertamanya, dan pialanya adalah Coupe Suzanne Lenglen, sebuah piala grandslam!!

Jelena Ostapenko memenangi gelar tunggal pertamanya, dan ini adalah gelar Roland Garros

Akan menarik untuk mengikuti bagaimana prestasi Jelena Ostapenko setelah ini. Aku harap sih ia mampu mempertahankan level ini dan, terutama, kegigihannya untuk membuktikan bahwa kemenangan ini bukan lah kebetulan semata. Kita lihat saja…

Anyway, final ganda putra diadakan setelahnya. Btw, undian ganda putra tahun ini juga hancur nih di turnamen ini, dimana dua tim yang tidak diunggulkan masuk ke final: Ryan Harrison/Michael Venus dan Santiago Gonzaels/Donald Young. Namun, entah mengapa aku merasa sungguh lelah sehingga aku memutuskan untuk melewatkan final ini dan pulang ke hotel. Eh, tentu dengan mampir dulu di restoran langgananku di dekat situ untuk makan malam yah (baca Bagian III) 😛 .

EuroTrip · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#1946 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part III: Thalys and Paris)

ENGLISH

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Thalys First Class

Aside from, obviously, the tennis tournament, one thing I was excited about this trip was how to get (and back from) to Paris, as I was travelling First Class with the high-speed train, Thalys.

A Thalys high-speed train at Gare Du Nord

I went straight from work to Amsterdam Centraal Station, well ahead of the departure because I was curious with the NS International Lounge which I could, of course, access with my ticket. In short, the lounge was underwhelming. While it was nice to be able to sit on a comfortable sofa while waiting for the train, that was pretty much it. Each person was only entitled to one serving of non-alcoholic drink as the service (They served alcohols (beers, wines) but were not free of charge). So the next time I travel first class, I wouldn’t bother to arrive at the station early just for the lounge, haha.

NS International Lounge at Amsterdam Centraal

Thalys arranges a 1-2 seat configuration in their First Class coaches (and 2-2 in Second Class). Upon booking, obviously I chose the “1” seat as it was a window AND aisle seat at the same time. My favorite kind of seat! Haha 😆 . The seat itself was quite comfortable. While it couldn’t be turned into a “flat” seat, who would need a flat seat anyway on a max. 3.5 hours train ride? Each seat also had an electric socket and each passenger was allowed to a 100 Mb complimentary data package, which was quite generous IMO.

On board Thalys’ First Class coach

There were a light snack and a dinner service on my outbound trip and a lunch service on my inbound trip. The heavy meal was served between Brussels and Paris. It made sense, as this was the longest leg and appeared to be the busiest one too. Overall, though, the meal service was just okay; pretty much similar to what you could expect on economy class long-haul flights with full service airlines. Though, this was certainly better than Second Class because nothing was served there, haha. What stood out, for me was that they served rosé wine as one option for the drinks! 😀

The dinner service on board Thalys’ First Class to Paris. The soft cheese was really good!!

From my observation, the crews appeared to be “mixed” in terms of their level of service. Some were really good and attentive, some others were not really.

Anyway, travelling with a high-speed train was always fun! Especially when travelling at full speed next to a highway, just like this:

Yep, at approximately 300 km/hour, obviously those cars in the highway were so “slow”, haha. And yep, the ride was super smooth.

Paris and French Food

Arriving on Friday evening, spending the entire Saturday at Stade Roland Garros, and leaving on Sunday at around noon meant that I did not have any time to explore Paris. Well, to be honest I did not mind at all because I have been to Paris a few times before, haha.

Though, I still managed to stop by at Louvre for my Paris selfie this year 😛

Another aspect of Paris that I really loved was, obviously, the food!!

The positive side of the, rather, underwhelming dinner service on board the Thalys ride to Paris was that I was still quite hungry upon arrival. So I went to a restaurant and ordered my must-have dish everytime I went to Paris: confit de canard! Haha 😆 . This confit de canard was not the best one, but I liked it much better than the one I had last year which did not come with any salad, haha.

My must-have dish every time I am in Paris: confit de canard

After my visit to Roland Garros, I went to my favorite restaurant nearby and ordered an escalope de veau. Actually I ordered this dish there every year, haha. Another dish which I had was bavette boeuf. Well, what can I say, French food never disappoints!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Thalys First Class

Di samping, jelas, turnamen tenisnya, satu hal lain yang aku tunggu-tunggu dari perjalanan ini mode transportasiku pergi ke (dan kembali dari) Paris, karena aku akan naik First Class-nya kereta super cepat, Thalys.

Kereta super cepat Thalys di Gare Du Nord

Aku langsung pergi ke Stasiun Amsterdam Centraal sepulang kerja, cukup lama sebelum waktu keberangkatan karena aku penasaran dengan Lounge Internasionalnya NS di sana yang bisa kuakses dengan tiketku. Secara singkat, lounge-nya ternyata underwhelming. Memang sih enak bisa menunggu sambil duduk-duduk di sofa yang nyaman, tetapi ya sudah itu aja. Setiap pengunjung hanya mendapatkan jatah satu minuman non-alkohol (Mereka juga menyediakan minuman beralkohol tetapi tidak cuma-cuma). Jadi lain kali ketika aku naik First Class lagi, aku nggak akan membela-belain diri datang awal hanya untuk lounge-nya deh, haha.

NS International Lounge di Amsterdam Centraal

Susunan kursi di First Class-nya Thalys adalah 1-2 (sementara 2-2 di Second Class). Ketika memesan tiket, jelas dong aku memilih kursi “1” karena ini adalah kursi window DAN aisle pada saat yang bersamaan. Kursi favoritku nih yang begini! Haha 😆 . Kursinya sendiri cukup nyaman. Memang sih nggak bisa dibuat menjadi kursi “rata”, tetapi siapa juga yang membutuhkan kursi rata di perjalanan maksimal 3,5 jam-an aja kan? Setiap kursi juga dilengkapi dengan colokan listrik dan setiap penumpang mendapatkan paket data 100 Mb secara cuma-cuma, lumayan sih menurutku.

Di dalam gerbong First Class-nya Thalys

Ada layanan snack ringan dan makan malam di perjalanan keberangkatanku dan layanan makan siang di perjalanan kepulangan. Layanan makan beratnya selalu disajikan di antara Brussels dan Paris. Masuk akal sih, karena ini adalah bagian terpanjang dan yang, nampaknya, paling ramai juga. Secara umum, untukku layanan makanannya biasa saja deh; kurang lebih seperti apa yang kita dapatkan di penerbangan jarak jauh di kelas ekonomi dengan maskapai full-service. Walaupun begitu, ini sudah lebih baik daripada Second Class sih karena di sana kan nggak diberikan apa-apa ya, haha. Yang asyik adalah, mereka menyediakan rosé wine sebagai salah satu pilihan minumannya! 😀

Layanan makan malam di First Classnya Thalys ke Paris. Kejunya enak banget!!

Sepengamatanku, krunya sendiri “campur-campur” dalam hal level pelayanannya. Beberapa sangat baik dan perhatian, sementara yang lainnya kurang begitu baik.

Anyway, naik kereta super cepat itu selalu seru loh! Terutama ketika keretanya sedang bergerak dengan kecepatan penuh di sebelah sebuah jalan tol, seperti berikut ini:

Yup, dengan kecepatan sekitar 300 km/jam, jelas dong ya itu mobil-mobil di jalan tol pada disalipin dengan mudah saking “pelan”-nya, haha. Dan iya, keretanya memang mulus banget.

Paris dan Masakan Prancis

Tiba di Jumat malam, seharian di Stade Roland Garros di hari Sabtu, dan pulang di tengah hari Minggu, artinya memang aku tidak memiliki waktu untuk jalan-jalan di Paris. Yah, sejujurnya sih aku tidak masalah dengan itu karena toh aku sudah pernah ke Paris beberapa kali sebelumnya, haha.

Walaupun begitu, aku masih menyempatkan diri mampir di Louvre untuk Paris selfie-ku tahun ini 😛 .

Satu aspek lain dari Paris yang aku suka adalah, jelas, makanannya!!

Sisi positif dari layanan makan malam yang agak mengecewakan di perjalanan dengan Thalys ke Paris adalah aku masih merasa cukup lapar ketika tiba di sana. Jadilah aku mencari restoran yang menyajikan masakan yang harus aku makan setiap kali aku ke Paris: confit de canard! Haha 😆 . Confit de canard yang ini bukan lah yang paling enak yang pernah kumakan sih, tetapi aku masih lebih menyukainya daripada yang kudapatkan tahun lalu yang nggak ada saladnya dong, haha.

Masakan yang harus selalu kupesan setiap kali ke Paris: confit de canard

Setelah kunjunganku ke Roland Garros, aku pergi ke restoran favoritku di dekat sana dan memesan escalope de veau. Sebenarnya aku selalu memesan masakan ini sih setiap kali di sana, haha. Satu masakan lain yang kupesan adalah bavette boeuf. Ah, yang namanya masakan Prancis mah memang nggak pernah mengecewakan!

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1939 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part I: Lyon)

ENGLISH

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Getting to/from Lyon

Obviously, I chose not to fly direct to Lyon, haha. In fact, on both ways I had a transit at Paris-CDG. In general, all the flights were standard short-haul flights with Air France so I would not get to too much details here. There was only one “incident” on my way to Lyon that worth sharing, haha 😛 .

I had quite a tight connection at Paris-CDG, at only 50 minutes. So obviously I was not happy to find out that the departure of my flight AF1741 was delayed by 20 minutes! But it did not end there. Once all passengers boarded, the captain announced that Schiphol was very busy at the time and we only got a clearance for departure in another 20 minutes! The string of delays still did not finish here. When we finally left the terminal, it turned out we got a departure slot at:

Runway 36L aka the Polderbaan

Yes, the friggin’ Polderbaan So all in all, consequently we took off from Schiphol one hour (!) behind schedule.

But there was nothing I could do so I just tried to relax (and order some wine on board, lol). Though, I wasn’t all that worried. I already checked online and I found that Air France had a scheduled evening flight to Lyon from Paris-CDG later today. So even in the worst case scenario, I figured they would bump me into that flight. Sure it would cause some inconvenience in terms of my arrival time in Lyon, but I had been to Lyon before anyway so there would be not much that I would miss.

A small bottle of wine to enjoy the moment.

Anyway, 50 minutes later we landed at runway 09L of Paris-CDG. I walked briskly once I deboarded about 5 minutes before the scheduled departure of my connecting flight, on the slightest hope that my connecting flight would probably be delayed too. I checked the transit monitors and went to my gate.

And I found it surprising that my gate was the same gate that I just got off from. Yep, as it turned out, my connecting flight to Lyon would be operated with the same airplane (even with the same crew set)! This was the first time ever I took these kind of flights! Lol 😆 . So consequently the flight to Lyon was also delayed by around 45 minutes! Yep, at the end, everything worked out well (for me)! 😛

I took two different flights (AF1741 and AF7646) with this Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXA today!

Once all passengers to Lyon boarded, the captain apologized for the delay and explained this was due to late arrival from Amsterdam. Well, I could testify for that! Lol 😛 .

Lyon

Lion selfie in Lyon

It worths mentioning that this trip took place during a very warm weekend in Europe; and this was also true for Lyon. It was really warm when I was there, where the temperature came close to 30°C or so, haha. Despite this, though, obviously I still managed to get around the city, haha 😆 .

I bought a daily public transpotation card to get around Lyon. I stayed near Gare Part Dieu and that was quite some distance from Vieux Lyon (Old Lyon), the most attractive (and touristy) part of the city. Obviously I was not planning to walk there because of the temperature, lol 😆 . The Lyonese trams looked really cool, though. Here is one of them:

A Lyonese tram

Anyway, unsurprisingly it was a busy weekend in Lyon where the Vieux Port was full of people (read: tourists)! I crossed both the Rhone and Saone rivers and walked around the old town. After lunch, I took the funicular to the top of the Fourviere Hill here Lyon’s Notre Dame Basilica was located. The small park next to the basilica provided good bird’s eye view of the city too.

Notre Dame Fourviere in Lyon

I looked at the map and Theatre Gallo-Romains did not look very far away from the basilica. Fortunately this turned out to be true because I decided to walk there, haha 😆 . This Roman theatre appeared like how I remembered it from 2014, it was very well-preserved.

Theatre Gallo-Romains

From there, I took the other funicular line down back to Vieux Lyon. At this point, I felt like I had walked enough and it was really warm anyway, so I decided to: shop! Haha 😆 . Even at one point I decided to just go to the big mall near Gare Part Dieu because it had air-conditioner in it, haha 😆 .

The Food

Lyon is known as the gastronomy capital of France, so obviously food was one main element of this trip, haha, even though I did not go to any Michelin-starred restaurant, unlike the last time.

One dish which I did not have the chance to try the last time I was in Lyon was quenelle de brochet. And so I told myself to not miss it this time around (and gave it a go to miss the andouillette, another Lyon’s specialty, because I was traumatized by the mustard sauce the last time I had it (I hate French mustard)). Anyway, the quenelle tasted good. I would probably not call it my most favorite dish ever because I found the sauce to be really creamy and heavy, but it was definitely much better (for me) than andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Another dish surprised me, btw, because (1) it was, obviously, really good and (2) I told myself why I never thought about it before. It was a “fillet de canard” (duck breast) steak. Really, it tasted very good!! In fact, maybe I will try to cook one myself soon! Hmm 🤔

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Pergi ke Lyon

Jelas dong aku tidak terbang langsung dari Amsterdam ke Lyon, haha. Di kedua arah, aku transit dulu di Paris-CDG. Secara umum, semua penerbangannya adalah penerbangan standar jarak dekat dengan Air France sehingga aku tidak akan merincinya di sini. Hanya saja, ada satu “insiden” di perjalanan keberangkatanku ke Lyon yang layak diceritakan 😛 .

Waktu transitku cukup ketat di Paris-CDG, hanya 50 menit saja. Jadi jelas aku merasa tidak terlalu senang ketika tahu bahwa penerbangan AF1741ku dijadwalkan berangkat terlambat 20 menit hari ini! Masalahnya lagi, ternyata berita buruknya belum berakhir. Setelah semua penumpang naik pesawat, pilot mengumumkan bahwa Bandara Schiphol sangat sibuk waktu itu sehingga kami baru mendapatkan giliran untuk berangkat 20 menit kemudian! Disini pun masalahnya masih belum berakhir pula. Setelah akhirnya pesawat bergerak, ternyata keberangkatan kami adalah dari:

Landasan pacu 36L alias Polderbaan

Iyaa, Polderbaan laknat itu Semua ini mengakibatkan kami lepas landas satu jam (!) di belakang jadwal.

Berhubung toh semuanya di luar kuasaku, ya sudah aku pasrah saja dan berusaha santai (dan memesan wine dong di pesawat, haha). Tapi aku memang tidak begitu khawatir sih. Aku sudah cek di internet bahwa hari itu Air France memiliki penerbangan malam ke Lyon dari Paris-CDG. Jadi andaikata skenario terburuk terjadi, aku cukup yakin Air France akan memindahkanku ke penerbangan itu. Memang sih ini akan mengakibatkan sedikit ketidak-nyamanan dalam hal waktu tibaku di Lyon, tetapi toh aku sudah pernah ke Lyon sebelumnya jadi tidak terlalu banyak lah yang akan kulewatkan.

Sebotol kecil wine untuk memasrahkan diri kepada situasi.

Anyway, sekitar 50 menit kemudian kami mendarat di landasan pacu 09L Bandara Paris-CDG. Aku berjalan cepat-cepat begitu keluar dari pesawat sekitar 5 menit sebelum jadwal keberangkatan penerbangan lanjutanku, dengan berbekal harapan amat kecil penerbanganku selanjutnya mungkin terlambat juga, haha. Aku kemudian mengecek layar monitor transit di bandara untuk mengetahui gerbang keberangkatannya.

Aku cukup kaget ketika melihat bahwa gerbangnya adalah gerbang yang sama dari mana aku baru saja keluar. Iya, ternyata, penerbanganku ke Lyon akan dioperasikan dengan pesawat yang sama (bahkan dengan set kru yang sama)! Ini adalah kali pertama aku mengalami kejadian begini nih! Haha 😆 . Jadilah akibatnya penerbangan ke Lyon juga kena delay selama 45 menit! Iya, pada akhirnya, semuanya baik-baik saja (untukku)! 😛

Aku menaiki dua penerbangan berbeda (AF1741 dan AF7646) dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXA ini hari ini!

Setelah semua penumpang tujuan Lyon naik pesawat, pilotnya meminta-maaf atas keterlambatan ini dan menyebutkan ini disebabkan oleh keterlambatan penerbangan sebelumnya dari Amsterdam. Yah, aku bisa kok bersaksi untuk pernyataan ini! 😛

Lyon

Lion selfie di Lyon

Relevan untuk disebutkan bahwa perjalanan ini berlangsung di akhir pekan yang amat panas di Eropa; dan di Lyon juga demikian. Panas banget deh ketika aku di sana, dimana suhu udaranya mencapai 30°C, haha. Walaupun begini, toh aku masih sempat jalan-jalan di kotanya, haha 😆 .

Aku membeli tiket harian transportasi umum untuk berkeliling Lyon. Aku menginap di dekat Gare Part Dieu yang berjarak cukup jauh dari Vieux Lyon (Lyon Tua), bagian paling kece (dan paling penuh turis) dari Lyon. Jelas, aku ogah berjalan-kaki kesana apalagi lagi panas-panasnya begini, haha 😆 . Btw, disain tram di Lyon keren-keren loh. Berikut ini salah satunya:

Sebuah tramnya Lyon

Anyway, tidak mengherankan akhir pekan ini ramai banget di Lyon dimana Vieux Portnya penuh orang (baca: turis)! Aku menyebrangi kedua sungai Rhone dan Saone dan berjalan-kaki keliling kotanya. Setelah makan siang, aku naik funicular ke atas bukit Fourviere dimana Basilika Notre Dame-nya Lyon berada. Dari taman kecil di samping basilikanya kita bisa melihat pemandangan Lyon dari atas.

Notre Dame Fourviere di Lyon

Aku lihat di peta dan Teater Gallo-Romains nampak tidak jauh dari basilikanya. Untung ini benar karena aku memutuskan untuk berjalan-kaki kesana, haha 😆 . Teater Romawi ini masih seperti yang kuingat dari tahun 2014, sungguh terawat dengan amat baik.

Teater Gallo-Romains

Dari sana, aku menaiki funicular lain untuk turun kembali ke Vieux Lyon. Aku merasa sudah cukup jalan-jalannya dan toh udaranya panas banget, jadilah aku memutuskan untuk: shopping! Haha 😆 . Bahkan di satu waktu aku memutuskan untuk ngemall aja loh di sebuah mall besar di dekat Gare Part Dieu yang dilengkapi dengan AC, haha 😆 .

Makanannya

Lyon dikenal sebagai ibukota kulinernya Prancis, jadi jelas makanan adalah satu elemen penting dari perjalanan ini, haha, walaupun aku tidak pergi ke restoran berbintang Michelin sih kali ini, tidak seperti yang lalu.

Satu menu yang tidak sempat aku cobain ketika terakhir kali aku di Lyon adalah quenelle de brochet. Jadilah aku berencana untuk tidak melewatkannya kali ini (dan tidak berkeberatan untuk melewatkan andouillette, sebuah makanan khasnya Lyon yang satunya, karena aku trauma dengan saus mustard-nya waktu itu (aku tidak suka mustard Prancis!)). Anyway, quenelle-nya enak juga ternyata. Mungkin aku tidak akan mengklaimnya sebagai masakan terfavoritku karena aku merasa sausnya creamy dan “berat” banget, tetapi (untukku) tetap jauh lebih enak daripada andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Satu menu mengagetkanku, btw, karena (1) jelas, rasanya enak banget dan (2) Kok aku nggak kepikiran sebelumnya ya? Haha. Menu ini adalah steak “fillet de canard” (dada bebek). Beneran loh, rasanya enak banget!! Malahan, aku berpikir untuk sekali-sekali mencoba membuatnya sendiri nih! Hmm 🤔

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1892 – Post-PhD Trips (Part V: A Weekend in Marseille)

ENGLISH

Posts in the Post-PhD Trips series:
1. Introduction
2. Part I: Genova
3. Part II: Cinque Terre
4. Part III: Firenze
5. Part IV: Roma
6. Part V: A Weekend in Marseille

Off to Marseille

My flight to Marseille was on Friday evening. So from work, I headed directly to Schiphol, where I had my dinner at KLM Crown Lounge, haha.

A little bit uncharacteristically here, I will not write in a lot of details regarding my flight to Marseille, haha. In short, I was flying Air France’s flight AF1875 operated by their Airbus A319-100 reg F-GPMA. It was a regular pleasant flight with Air France; and at 22:16, we landed at runway 13L of Marseille – Provence Airport.

Air France's Airbus A319-100 reg F-GPMA
Air France’s Airbus A319-100 reg F-GPMA

Anyway, it had been quite a long Friday for me so understandably I was already so tired when arriving in Marseille. I knew I would want to take the bus service to the city center. I took a bus but without checking its destination, assuming any bus leaving the airport would go to Marseille.

About 30 minutes into the trip, I realized something strange. I did not recognize any similarity of the surrounding from my last trip to Marseille in 2014. I checked my gps and, indeed, instead of going east towards Marseille, I was going north 😣. Yep, it came to my realization that I took the WRONG bus! Then I just remembered my survey of Marseille from 2014 where, indeed, there were several bus destinations from Marseille Airport. Well, it was too late to remember that at this point.

The bus terminal of Aix-en-Provence
The bus terminal of Aix-en-Provence

It turned out that my bus was going to Aix-en-Provence, a small town to the north of Marseille. Upon arriving at the bus station, I asked the bus driver if there was still a bus to go to Marseille. Luckily, there was. There was one LAST bus departing at 23:35 which I could take. Phew!!

Long story short, I took the bus, arrived in Marseille just right after midnight, Whats-apped my brother to pick me up at the hotel lobby, then slept, haha 😛 .

Marseille

Palais Longchamp
Palais Longchamp

As before, Marseille was a nice city in Southern France and we did enjoy our time there. The weather there that weekend was not the best, though. It was very windy, despite definitely warmer than the Netherlands (where it was snowing 😆 ) even though not super warm as well.

We went to Palais Longchamp and Notre-Dame de la Garde at the top of the La Garde hill. I didn’t get the chance to enter both sites in my 2014 visit there (though I was at the gate of Longchamp), so it was nice to be able to do so this time.

Notre-Dame de La Garde
Notre-Dame de La Garde

On Sunday, we planned to go to Chateau D’If but it turned out it was closed. We were misinformed on Saturday, where we were told we could still go to the chateau on Sunday and we made our plan accordingly.

And so we had to come up with a back-up plan. We decided to go to a small beach near Vieux Port and to a small beautiful garden nearby to kill the time.

The Catalans Beach in Marseille
The Catalans Beach in Marseille

The Food

As usual, the food in Marseille was also really good. In fact, my brother said this was the best food he had during this European trip of his. Well, obviously I nodded along, since I love French cuisine as well!! Haha 😆

Escargot
Escargot

Once we ordered two portions of escargot. This was actually the third time ever I had it, with the first one being in Rennes and the second one in Marigot. And you know what? I can say that I LIKE escargot now!! 😱 The fact that escargot is snail does not bother me anymore, at all! Haha 😆

Back to the Netherlands

To go back to the Netherlands, we had an interesting routing. Instead of flying direct Marseille – Amsterdam, we flew Marseille – Strasbourg – Amsterdam. And to make things even more exciting, both legs would be operated with Embraer ERJ145 by HOP! Regional!!

HOP! Regional Logo
Flights: Air France flights AF5579 (MRS-SXB) and AF1436 (SXB-AMS) operated by HOP! Regional
Equipments: Embraer ERJ145 reg F-GUBE (MRS-SXB) and Embraer ERJ145 reg F-GRGJ (SXB-AMS)

However, the trip started with a mini drama with overbooking, again (see Part I). After solving this issue, there was a delay problem as well. Our first flight to Strasbourg was delayed by two hours. This was certainly a problem with our 1.5 hours of transit time in Strasbourg.

The lounge at Marseille Airport was small but the service was actually great
The lounge at Marseille Airport was small but the service was actually great

Because there were, in total, nine passengers with this issue (~20% of all passengers 😆 ), the agent in Marseille was able to convince the agent in Strasbourg to delay the Strasbourg – Amsterdam flight by 30 minutes to wait for us, haha.

Long story short, we finally boarded our flight to Strasbourg, which was with HOP! Regional’s Embraer ERJ145 reg F-GUBE. As before, I loved flying Embraer ERJ145!! It was a small plane but really smooth!! Oh, and obviously the mandatory ERJ145 selfie too:

The mandatory ERJ145 selfie
The mandatory ERJ145 selfie

😛

Before landing at Strasbourg, the FA mentioned that transit passengers to Amsterdam should deplane first, as the transit time was tight. After landing, we were greeted by a ground staff literally outside of the plane. He escorted all of us to the immigration check and after that we immediately boarded our connecting flight right away! Yes, it was the fastest transit experience EVER! Everything in literally less than ten minutes! Lol 😆

HOP! Regional's Embraer ERJ145 reg F-GRGJ
HOP! Regional’s Embraer ERJ145 reg F-GRGJ

The second flight to Amsterdam was operated by another ERJ145, this time F-GRGJ. I quickly took a picture of the plane, and afterwards I could see the pilot waved towards me asking me to move fast, lol 😆 . All other passengers had been waiting in the plane at that point, and they didn’t look exactly thrilled. Well, I didn’t blame them 😛 .

It was clear that the pilots were quite in a rush today. Upon departure, after the final-turn at the tip of runway 05 we immediately accelerate and take-off! Haha 😆 . As before, it was a smooth and pleasant flight towards Amsterdam. We landed at Schiphol at 20:10, just ten minutes behind our schedule. Quite impressive considering the initial delay, no?

A window AND aisle seat at the same time on board an ERJ145
A window AND aisle seat at the same time on board an ERJ145

From Schiphol, we went to Amsterdam. And here, my Post-PhD Trips officially ended.

THE END.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Post-PhD Trips:
1. Introduction
2. Part I: Genova
3. Part II: Cinque Terre
4. Part III: Firenze
5. Part IV: Roma
6.Part V: A Weekend in Marseille

Berangkat ke Marseille

Penerbanganku ke Marseille adalah di hari Jumat malam. Jadilah sepulang kerja, aku langsung menuju ke Schiphol, dimana aku makan malam di Crown Lounge-nya KLM, haha.

Agak tidak seperti biasanya nih, aku tidak akan banyak menuliskan detail penerbanganku ke Marseille, haha. Secara singkat, aku naik penerbangan AF1875nya Air France yang dioperasikan dengan pesawat Airbus A319-100 reg F-GPMA. Ini adalah penerbangan reguler dan nyaman dengan Air France; dan jam 22:16, pesawat mendarat di landasan pacu 13L Bandara Marseille – Provence.

Air France's Airbus A319-100 reg F-GPMA
Sebuah Airbus A319-100nya Air France dengan rego F-GPMA

Anyway, hari ini sudah menjadi hari cukup panjang sehingga jelas aku merasa lelah ketika tiba di Marseille. Aku tahu aku akan naik bus ke pusat kota. Nah, jadilah aku naik bus tanpa melihat tujuannya, dengan asumsi semua bus yang berangkat dari bandara pasti menuju ke Marseille.

Kira-kira setengah jam kemudian, aku menyadari sesuatu yang aneh. Aku tidak mengenali apa-apa dari pemandangannya dari perjalananku terakhir kali ke Marseille tahun 2014. Aku mengecek gps-ku dan ternyata, memang, bukannya bergerak ke arah timur ke Marseille, bus ini bergerak ke arah utara dong 😣. Yep, barulah aku sadar aku SALAH naik bus! Saat ini, barulah aku ingat riset yang kulakukan di perjalanan tahun 2014ku ke Marseille dimana memang ada beberapa tujuan yang dilayani dengan bus dari Bandara Marseille. Yah, sekarang sih sudah terlambat untuk ingat informasi ini lah ya.

The bus terminal of Aix-en-Provence
Terminal bus di Aix-en-Provence

Ternyata bus yang kunaiki adalah tujuan Aix-en-Provence, sebuah kota kecil di utaranya Marseille. Ketika tiba di terminal bus, aku bertanya ke sopir bus apakah masih ada bus tujuan Marseille. Untungnya masih ada. Masih ada satu bus TERAKHIR yang berangkat jam 23:35. Fiuh!!!

Singkat cerita, aku menaiki bus itu, dan tiba di Marseille selepas tengah malam, meng-Whatsapp adikku untuk menjemputku di lobby hotel, dan tidur deh, haha 😛 .

Marseille

Palais Longchamp
Palais Longchamp

Seeprti yang lalu, Marseille adalah kota yang oke di Prancis selatan dan kami menikmati waktu kami di sana. Sayangnya cuacanya sedang kurang oke sih. Berangin banget dan, walaupun lebih hangat sih dari Belanda (yang mana waktu itu sedang saljuan, haha), nggak hangat-hangat amat.

Kami pergi ke Palais Longchamp dan Notre-Dame de la Garde di puncah Bukit La Garde. Aku tidak sempat mengunjungi keduanya di tahun 2014 (walaupun waktu itu sempat foto dari luarnya Longchamp sih), jadi senang saja rasanya kali ini bisa mampir.

Notre-Dame de La Garde
Notre-Dame de La Garde

Di hari Minggu, kami berencana ke Chateau D’If, yang mana ternyata waktu itu sedang ditutup. Kami diberikan informasi yang salah di hari Sabtu nih, dimana katanya kami masih bisa kesana di hari Minggu. Jadilah kami membuat rencana berdasarkan informasi ini.

Sebagai penggantinya, kami jalan-jalan ke sebuah pantai kecil di dekat Vieux Port dan sebuah taman yang indah di dekat sana untuk menghabiskan waktu.

The Catalans Beach in Marseille
Pantai Catalans di Marseille

Makanannya

Seperti biasa, makanan di Marseille itu enak-enak. Bahkan, adikku bilang makanan paling enak yang ia makan di perjalanan ke Eropanya kali ini adalah di Prancis ini loh. Aku setuju banget sih, secara aku kan memang suka masakan Prancis!! Haha 😆

Escargot
Escargot

Sekali waktu kami memesan dua porsi escargot. Ini adalah kali ketiga aku makan masakan ini, dimana yang pertama adalah di Rennes dan yang kedua di Marigot. Dan tahu nggak? Sekarang aku bisa bilang aku SUKA escargot dong!! 😱 Fakta bahwa escargot adalah siput tidak lagi menggangguku sama sekali! Haha 😆

Kembali ke Belanda

Untuk kembali ke Belanda, kami memiliki rute yang unik. Bukannya terbang langsung Marseille – Amsterdam, kami terbang Marseille – Strasbourg – Amsterdam. Dan lebih serunya lagi, kedua penerbangan dioperasikan dengan pesawat Embraer ERJ145-nya HOP! Regional!!

HOP! Regional Logo
Penerbangan: Air France AF5579 (MRS-SXB) dan AF1436 (SXB-AMS) dioperasikan oleh HOP! Regional
Pesawat: Embraer ERJ145 reg F-GUBE (MRS-SXB) dan Embraer ERJ145 reg F-GRGJ (SXB-AMS)

Namun, perjalanannya dimulai dengan drama akibat overbooking lagi (lihat Bagian I). Setelah masalah ini beres, ada permasalahan dengan keterlambatan penerbangan pula. Ceritanya, penerbangan pertama kami ke Strasbourg akan terlambat dua jam. Ini jelas adalah masalah mengingat waktu transit kami di Strasbourg hanyalah 1,5 jam saja.

The lounge at Marseille Airport was small but the service was actually great
Eh, lounge-nya di Bandara Marseille walaupun kecil tetapi sajiannya oke-oke loh.

Karena totalnya ada sembilan penumpang dengan masalah ini (~20% dari semua penumpang, haha 😆 ), agen di Marseille berhasil meyakinkan agen di Strasbourg untuk menahan penerbangan Strasbourg – Amsterdam selama 30 menit untuk menunggu kami, haha.

Singkat cerita, akhirnya kami menaiki penerbangan ke Strasbourg kami. Penerbangan dioperasikan dengan Embraer ERJ145nya HOP! Regional dengan registrasi F-GUBE. Seperti yang lalu, aku suka banget terbang dengan ERJ145!! Pesawatnya kecil tetapi terbangnya mulus!! Oh, dan jelas dong foto selfie wajib ERJ145:

The mandatory ERJ145 selfie
Selfie wajib ketika terbang dengan ERJ145

😛

Sebelum mendarat di Strasbourt, pramugari meminta penumpang transit ke Amsterdam untuk turun terlebih dahulu, karena waktu transit kami yang sungguh singkat. Setelah mendarat, kami langsung disambut oleh petugas darat tepat di pintu pesawat. Ia langsung mengantarkan kami ke pemeriksaan imigrasi dan setelahnya langsung naik pesawat lanjutan kami! Iya, pengalaman transit paling cepat nih! Semuanya kurang dari 10 menit saja loh!! Huahaha 😆

HOP! Regional's Embraer ERJ145 reg F-GRGJ
Sebuah Embraer ERJ145nya HOP! Regional dengan rego F-GRGJ

Penerbangan kedua ke Amsterdam dioperasikan dengan ERJ145 yang lain, kali ini F-GRGJ. Aku cepat-cepat mengambil foto pesawatnya dulu dimana setelahnya aku lihat pilotnya melambaikan tangan kepadaku menyuruhku cepat naik, haha 😆 . Semua penumpang lain sudah menunggu di pesawat waktu itu, dan mereka tidak nampak senang, haha. Yah, aku paham sih 😛 .

Jelas pilotnya agak terburu-buru waktu hari ini. Ketika berangkat, setelah belok di ujung landasan pacu 05, pesawat langsung tancap gas untuk lepas landas tanpa pakai ancang-ancang dulu! Haha 😆 . Seperti sebelumnya, penerbangan ini adalah penerbangan yang mulus ke Amsterdam. Kami mendarat di Schiphol jam 20:10, hanya sepuluh menit terlambat dari jadwal. Cukup oke ya mengingat keterlambatan awal yang dua jam itu?

A window AND aisle seat at the same time on board an ERJ145
Kursi jendela SEKALIGUS lorong di dalam ERJ145

Dari Schiphol, kami pergi ke Amstedam. Dan di sini, Post-PhD Trips-ku resmi berakhir.

SELESAI.

North America Trip · The Caribbean · Vacation

#1823 – September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean (Part IV: Saint Martin)

ENGLISH

Posts in the September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Sint Maarten
3. Part II: Sint Maarten
4. Part III: The Maho Beach
5. Part IV: Saint Martin
6. Part V: Back to the Netherlands

***

Dutch-French border in the Caribbean
Dutch-French border in the Caribbean
As I mentioned in the Introduction, the island of St.Martin is governed by two countries: the Kingdom of the Netherlands in the south (the Sint Maarten area) and France in the north (the Saint Martin area). There is a free-movement right between the two parts and so obviously we explored both parts with our rental car. In Part II, I focused on the Dutch side. In this post, I focus on the French side.

***

If the Dutch side appeared more developed, the French side was, in general, more scenic to me. Hills, fields, coastlines (obviously) with beautiful view were there to enjoy.

A coastal road in the French side
A coastal road in the French side
Speaking of the coastline, we went to a few beaches and once drove on a coastal road in the eastern part of the island. The beaches were, of course, beautiful even though not that much different from the Dutch-side beaches (It was a small island anyway so why would we expect the two parts to be so different in nature? Lol 😆 ). However, I found that the beaches in the French part were slightly less clean than the Dutch counterpart. No, no, not like there was a lot of (human) trash nor the water was polluted, it was just that seaweed remain (I think?) that had turned dark lied there on the beaches.

The Orient Bay in the French side
The Orient Bay in the French side, the dark stuff I mention above is visible here.
Generally, the French side was less busy that the Dutch side. It appeared to me that the island’s economy center was the Dutch side, with more factories and, thus, trade. The French side was, probably, more for living as it felt much calmer. This was reflected by the location of some of the resorts, which were rather “secluded” and probably aimed to blend in more with the nature.

The capital of the French side was a town called Marigot, that was smaller than the Dutch’s Philipsburg (for the obvious reason). I liked Marigot; and, actually, I liked it more than Philipsburg. While in general the town was less busy than Philipsburg, at certain times traffic jams could occur too though. This was mainly due to the narrow streets 😛 .

Marigot
Marigot
Speaking of Marigot and the French side, the best food we had during our entire stay in Sint Maarten was found in Marigot! Well, come to think about it, it was not surprising at all, given that I love French food, haha 😆 . There were a lot of French restaurants, run by French people, in Marigot (and in the French side overall).

A delicious French meal in the French side
A serving of escargot, bavette with pasta, and cappuccino at L’Arhawak
Once we had lunch at L’Arhawak, a family restaurant run by a super friendly French family in Marigot. The guy thought I spoke French because apparently I pronounced “bonjour” perfectly, lol 😆 . Well, those frequent trips to France and flights with Air France paid off, I guess, lol 😆 . Anyway, I had a bavette for lunch and we shared a serving of escargot as a side dish. It was my second time ever eating escargot (my first time was this May in Rennes), and this escargot in Marigot was much better! 🙂

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Sint Maarten
3. Part II: Sint Maarten
4. Part III: The Maho Beach
5. Part IV: Saint Martin
6. Part V: Back to the Netherlands

***

Dutch-French border in the Caribbean
Perbatasan Belanda dan Prancis di Karibia
Seperti yang kusebutkan di posting Pendahuluan, pulau St. Martin diperintah oleh dua negara: Kerajaan Belanda di selatan (area Sint Maarten) dan Prancis di utara (area Saint Martin). Ada hak untuk bebas berpindah di antara dua bagian ini sehingga jelas dong kami memanfaatkannya untuk menjelajahi pulau dengan mobil sewaan kami. Di posting Bagian II, aku fokus di bagian Belandanya. Nah, di posting ini, aku akan menceritakan bagian Prancisnya.

***

Jika bagian Belanda nampak lebih maju, bagian Prancis, secara umum, nampak lebih permai bagiku. Ada bukit-bukit, padang-padang, dan (kelas) pantai-pantai yang pemandangannya kece untu dinikmati.

A coastal road in the French side
Sebuah jalan tepi pantai di sisi Prancis
Ngomongin garis pantai, kami mengunjungi beberapa pantai di sana dan sempat juga sekali menyusuri jalan tepian pantai di sisi timur pulaunya. Pantai-pantainya, jelas, cakep-cakep deh walaupun memang mirip-mirip sih dengan yang di sisi Belanda (Namanya aja pulau kecil, nggak mengherankan juga kan dua bagiannya mirip-mirip alamnya? Haha 😆 ). Namun, aku merasa pantai-pantai di sisi Prancis itu sedikit lebih kotor dibandingkan yang di sisi Belanda. Bukan, bukan kotor karena sampah (manusia) atau air lautnya terpolusi, tetapi kotor karena sisa-sisa rumput laut (kayaknya?) yang sudah menghitam yang banyak terlihat di pasir pantainya.

The Orient Bay in the French side
Pantai Orient di sisi Prancis, yang hitam-hitam yang kusebutkan di atas terlihat kan di foto ini.
Secara umum, sisi Prancis lebih tidak sibuk dibandingkan sisi Belanda. Nampaknya memang pusat perekonomian pulau ini tersentralisasi di sisi Belanda deh, dimana di sana juga banyak terdapat pabrik dan, akibatnya, perdagangan. Mungkin sisi Prancis lebih digunakan untuk hidup ya karena memang lebih tenang. Ini terefleksikan juga sih dari beberapa lokasi hotel-hotel resort yang mana cukup “terisolasi”; mungkin memang tujuannya adalah agar lebih menyatu dengan alam.

Ibukota sisi Prancis adalah kota Marigot, yang berukuran lebih kecil daripada Philipsburg di sisi Belanda (ya iya lah ya). Aku suka Marigot; dan, bahkan, aku lebih menyukainya daripada Philipsburg loh. Walaupun secara umum kotanya juga lebih tidak sibuk dibandingkan Philipsburg, tetapi di waktu-waktu tertentu di kotanya bisa ada kemacetan lalu-lintas juga, haha. Ini disebabkan jalanannya yang sempit-sempit 😛 .

Marigot
Marigot
Ngomongin Marigot dan sisi Prancis, makanan terenak yang kami makan sepanjang waktu kami di Sint Maarten kami temukan di Marigot! Yah, dipikir-pikir lagi mah memang tidak mengherankan sama sekali ya, apalagi aku kan memang suka makanan Prancis, haha 😆 . Ada banyak sekali restoran Prancis, yang dikelola oleh orang Prancis loh, di Marigot (dan juga di keseluruhan sisi Prancis secara umum).

A delicious French meal in the French side
Seporsi escargot, bavette dengan pasta, dan cappuccino di L’Arhawak
Suatu ketika kami makan siang di restoran L’Arhawak, sebuah restoran keluarga yang dikelola oleh sekeluarga Prancis yang super ramah banget. Bapak-bapaknya awalnya mengira aku bisa berbahasa Prancis karena ternyata aku mengucapkan “bonjour” dengan sempurna, huahaha 😆 . Yah, sering jalan-jalan ke Prancis dan terbang dengan Air France ternyata ada buahnya juga ya, haha 😆 . Anyway, aku memesan bavette untuk makan siang dan kami berbagi seporsi escargot untuk makanan sampingan. Ini adalah kali kedua seumur-hidup aku makan escargot (kali pertama adalah Mei ini di Rennes) dan escargot di Marigot ini rasanya lebih enak loh! 🙂

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1759 – My 2016 Roland Garros Trip (Part II: Paris)

ENGLISH

Posts in the My 2016 Roland Garros Trip series:

1. Introduction
2. Part I: Roland Garros (Saturday)
3. Part II: Paris
4. Part III: Roland Garros (Sunday)

***

Getting to/from Paris

Obviously I chose to fly to get to/from Paris, haha 😆 .

KL Logo

Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL1233 and KL1234
Equipment: Boeing 737-800 reg PH-BXY and Boeing 737-700 reg PH-BGH

Both flights were regular Amsterdam – Paris vv flight with KLM. So actually there is not much to share about here, haha 😆 . Btw, upon arriving at Paris – Charles De Gaulle Airport, appropriately, I was greeted by Rafael Nadal, hahaha 😆

Arriving in Paris and I was greeted by Rafael Nadal
Arriving in Paris and I was greeted by Rafael Nadal

Paris

I was lucky that my trip to Paris was, at least, not during the Paris flood (you see, it was something serious as there is even a dedicated Wikipedia article of it!). So the situation there was already recovering and, while still being hindered a little bit, everything was already working quite well (including the metro, which was very important to me).

Paris was, well, Paris 🙂 . What more can I say 🙂 .

In the very little time I had outside of my visit to Roland Garros, I decided to go to the super famous Arc De Triomphe in Champs Elysees. Why? Well, because I felt like it, haha 😆 . I mean, I have been to Paris several times before so I have pretty much seen quite many of Paris’ main attractions 😛 .

2016 Arc De Triomphe selfie
2016 Arc De Triomphe selfie

Champs Elysees was, as always, one of a kind. Most people you would see there dressed themselves very well; you know, probably to live up to the expectation of being in the most famous shopping street in one of the fashion capitals of the world, haha 😆 . I was lured to enter one of the shops there, which obviously was just a spontaneous impulse because I had no shopping plan with only one backpack with me for the whole weekend, lol 😆 . And you know what, I almost bought one or two t-shirts there for my upcoming but still unrevealed big trip this September 😉 . But then luckily my sanity quickly gained control and I put those t-shirts back in the display 😛 .

The Food

Obviously my focus was not on the food at all and so I did not use the app Yelp during this trip. But I did have some expectation that I should have got, at least, good food in general considering that it was Paris, haha 😆 . While it was still, overall, good, indeed; somehow I felt a little bit underwhelmed. For instance, for my first dinner in Paris, as always I had my favorite Parisian dish: confit de canard (duck confit). And it looked like this:

A very basic confit de canard dish
A very basic confit de canard dish

Something was clearly missing from the dish, wasn’t it? Yeah, it was the side salad! Okay, even though the star of a confit de canard dish is always the duck, I do feel like the dish still needs its secondary elements to be complete. The duck leg itself was cooked really well; and the french fries and ketchup made the dish substantial enough for a dinner. But I did really miss the salad.

As a result, after returning to my hotel that evening, I decided to go to the restaurant and ordered a mini Parisian salad (which wasn’t mini at all in my opinion)! Haha 😆 .

A petit Parisian salad
A petit Parisian salad

I also went to the restaurant near Stade Roland Garros in which two years ago I had an amazing escalope de veau dish. Even though I was disappointed last year with the dish, I decided to give it another try this year. It turned out that the dish was okay this year. It was not super amazing (the veal was too well-done to me), but it was not as “disappointing” as last year, haha…

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri the My 2016 Roland Garros Trip:

1. Introduction
2. Part I: Roland Garros (Saturday)
3. Part II: Paris
4. Part III: Roland Garros (Sunday)
***

Ke Paris

Jelas dong aku naik pesawat untuk pergi ke Paris, haha 😆

KL Logo

Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL1233 dan KL1234
Pesawat: Boeing 737-800 reg PH-BXY dan Boeing 737-700 reg PH-BGH

Kedua penerbangan adalah penerbangan regulernya KLM di rute Amsterdam – Paris pp. Jadilah aku merasa tidak perlu banyak menuliskannya lah ya, haha 😆 . Btw, ketika tiba di Bandara Paris – Charles De Gaulle, aku disambut dengan sangat amat pantas oleh Rafael Nadal loh, hahaha 😆

Arriving in Paris and I was greeted by Rafael Nadal
Tiba di Paris dan aku disambut oleh Rafael Nadal

Paris

Aku beruntung aku pergi ke Paris, setidaknya, tidak ketika banjir Paris terjadi (jelas kan banjirnya serius, sampai-sampai ada artikel Wikipedia khusus tentangnya!). Jadilah ketika itu situasinya sudah dalam masa pemulihan dan, walaupun masih ada sedikit gangguan di sana-sini, secara umum semua hal di Paris sudah bekerja dengan baik kok (termasuk metronya, yang mana krusial banget untukku).

Paris itu, yah, Paris 🙂 . Mau dideskripsikan bagaimana lagi ya 🙂 .

Di waktuku yang amat sedikit di luar kunjunganku ke Roland Garros, aku memutuskan untuk mampir di Arc De Triomphe yang super terkenal itu di Champs Elysees. Mengapa? Yaa, karena pengen aja, haha 😆 . Maksudku, aku sudah beberapa kali ke Paris sebelumnya sehingga rasanya aku sudah melihat sebagian besar atraksi-atraksi utamanya Paris 😛 .

2016 Arc De Triomphe selfie
2016 Arc De Triomphe selfie

Champs Elysees itu, seperti biasa, memang unik banget ya. Kebanyakan orang yang kita lihat di sana itu modis-modis; ya tahu lah ya, mungkin agar cocok dengan ekspektasi jalan-jalan di sebuah jalanan pertokoan paling terkenal di salah satu ibukota fashion dunia, haha 😆 . Oh iya, aku terbujuk untuk masuk ke sebuah toko di sana, yang mana jelas adalah tindakan spontan karena aku sama sekali tidak ada rencana belanja di Paris dengan hanya satu tas ransel saja yang kubawa untuk keseluruhan perjalanan ini, haha 😆 . Dan tahu nggak, aku nyaris membeli satu atau dua kaus loh untuk perjalanan besarku bulan September nanti yang memang belum aku umumkan 😉 . Tetapi untung akal sehatku segera mengambil alih situasi dan aku nggak jadi belanja 😛 .

Makanannya

Jelas fokusku bukanlah makanan di perjalanan kali ini dan jadilah aku tidak menggunakan app Yelp sama sekali. Tetapi aku sedikit memiliki ekspektasi akan apa yang aku harapkan sih, yaitu setidaknya makanan yang secara umum enak lah ya di Paris, haha 😆 . Walaupun secara umum memang makanannya beneran enak, tetapi aku kok sedikit merasa kecewa ya. Misalnya saja, di makan malam pertamaku di sana, aku memesan masakan Paris favoritku: confit de canard. Dan penampakannya seperti ini:

A very basic confit de canard dish
Confit de canard yang amat dasar

Masakan ini jelas kekurangan sesuatu kan? Iya, kekurangan salad! Oke, memang sih yang namanya bintang dari sebuah masakan confit de canard adalah selalu daging bebeknya. Namun, aku rasa masakannya masih memerlukan elemen sekundernya agar bisa dibilang komplit. Memang sih daging bebeknya ini dimasak dengan enak; dan kentang gorengnya juga membuat menunya mengenyangkan kok. Hanya saja, aku masih merasa kekurangan saladnya!

Sebagai akibatnya, setelah kembali ke hotel malamnya, aku mampir di restorannya hotel untuk memesan salad Paris ukuran kecil loh (yang mana menurutku ukurannya sih nggak kecil ya)! Haha 😆 .

A petit Parisian salad
Sebuah salad Paris ukuran kecil

Aku juga memutuskan mampir di restoran di dekat Stade Roland Garros yang mana dua tahun lalu aku makan menu escalope de veau yang enak banget di sana. Walaupun tahun lalu aku sedikit kecewa dengan menunya, aku memutuskan untuk mampir lagi tahun ini. Walaupun memang masakannya nggak enak-enak banget yang gimana (dagingnya terlalu matang untukku), tetapi bukannya “mengecewakan” juga seperti tahun lalu sih, haha…

BERSAMBUNG…

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1746 – A Weekend in Rennes (Part III: The French Food)

ENGLISH

Posts in the A Weekend in Rennes series:

1. Introduction
2. Part I: Rennes
3. Part II: Le Mont Saint-Michel
4. Part III: The French Food

***

The duration of the long weekend trip (from Thursday afternoon to Sunday morning) allowed me to have several takings of one of my favorite cuisines in the world: the French food. And so for this reason, this topic clearly deserves a self-standing post, haha 😆 . Anyway, here we go…

Crepes

When I was collecting information of Rennes prior to the trip, one food that kept popping up in my search was crepes. Apparently crepes, indeed, originated from Brittany, a French region where Rennes was in. And I liked crepes so while in Rennes, obviously I needed to have one, haha 😆 .

A crepe for breakfast
A crepe for breakfast

Unsurprisingly it was not difficult to find a creperie, as there were creperies pretty much everywhere I went to in Rennes. Luckily, there was a nice-looking creperie near my hotel so in one morning, I decided to have my breakfast there. Obviously, I ordered a serving of warm chocolate crepe served with vanilla ice cream and coconut spread. I can tell you now, it was SO delicious! 😋In fact, (real) crepe is now my favorite French breakfast (it used to be croissant for so long before but now the title must change hands 😛 ).

Magret De Canard

In my first evening in Rennes, I already chose a restaurant in Yelp where I would want to have my dinner. However, since that day was a public holiday, it turned out the restaurant was closed 😦 . So I went to a nice-looking restaurant just accross the street (which turned out to be recommended to me in Yelp as well but wasn’t in the top five or so). It was, indeed, a nice restaurant and after looking at their menu, I decided to order their magret de canard dish, which looked like this:

French food never fails to satisfy my taste bud!!
Magret de Canard with orange and carrot puree

And just as it looked, it was very yummy!! The duck meat was cooked perfectly and all element of the dish worked well together and “made sense”. This dish made me realize I was back in France and I knew it was the start of a delicious trip to me 😛 .

The black sauce was the worchestershire sauce. At the time, I found it surprising that worchestershire sauce was involved in a French dish; but it worked well so obviously I wasn’t complaining. When I was back at my hotel, I checked the restauant at Yelp and it turned out that it was a French restaurant with an Asian fusion! Ah, it made sense now! Not only the sauce, but the vegetables in that dish was cooked in Asian style, the name of the restaurant (Le Moon), and the decoration! Yeah, I get it now! 🙂

A Three Course Meal

The next evening, I was back at the restaurant recommended by Yelp that was closed on my first evening in Rennes. Luckily, they opened on Friday and I did not need a reservation to get a seat (it was quite busy though). After looking at the menu, I decided to go with their three course menu for €31 (the cheapest one, there were other options) and ordered my choices from the list that I was given.

L’escargot

Finally after all these years, I was able to summon enough gut to order an exotic French dish which I had been wanting to try but “afraid” (of the “grossness”) at the same time to have one, haha 😆 . It was an escargot (snails) dish.

Finally losing my escargot "virginity" :P
Finally losing my escargot “virginity” 😛

It was actually okay. The snails were a little bit chewy and, in a way, tasted like mussels. However, the most difficult part was, indeed, my brain that kept telling me “You literally have snails in your mouth right now“, lol 😆 .

Black Angus Bavette

As my main course, I ordered a more “inside the box” black angus bavette, which was basically like a steak though not really. I forgot to request to change the mashed potatoes with some fries or something else, but nonetheless it was still a good dish. The meat was cooked to medium-rare, just what I requested and the sauce was delicious!

A Black Angus bavette
A Black Angus bavette

Dessert

For dessert, I ordered an ice cream nougat with a praline cracker and dark chocolate mousse. And it was very delicious!!

A dessert
A dessert

Overall, I was very impressed by this three course meal and I did find it so worthed the €31. I am glad I followed what Yelp suggested me because I felt like it helped me reach an optimal cost-benefit spending on my meal in Rennes, haha 😆 .

The Rest

Serena Williams

In one afternoon in Rennes, I decided to go to a cafe to take some rest. It turned out that the cafe didn’t serve tea (I didn’t expect that, lol) so I had to look through their drink menu. At first I wasn’t sure what I wanted given the many options available there, but then I spotted a drink with a really unique name under the mocktail section: “Serena Williams”. And so suddently I wasn’t unsure anymore and, as a big fans of Serena, I immediately ordered the drink, lol 😆 .

A glass of Serena Williams
A glass of Serena Williams

It was good and refreshing, even though I found it to be too sweet 😛 .

Entrecote and Creme Brulee

For my last dinner in Rennes I decided to order a menu which I always love: an entrecote. It was good! And really big! I mean, the smallest one was like 300 gram or so! 😲

A 300 gr entrecot
A 300 gr entrecote

And also to follow my Magret de Canard dish above, I ordered a creme brulee for dessert. It was good as well.

Not using Yelp

In my afternoon in Rennes, I decided to do a small experiment: “What would happen if I just choose a restaurant without the help of Yelp?“. So in the Old Town (see Part I), I went to a restaurant with a good deal for lunch. I ordered a chicken with mushroom sauce as my main course and a chocolate mousse for dessert. They turned out to just be okay. They weren’t bad, but were not that special either. But at least it was a good deal as well, so in a sense actually I got what I paid for 😛 .

THE END.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri A Weekend in Rennes:

1. Introduction
2. Part I: Rennes
3. Part II: Le Mont Saint-Michel
4. Part III: The French Food

***

Durasi perjalanan long weekend ini (dari Kamis siang hingga Minggu pagi) memungkinkanku untuk beberapa kali makan salah satu makanan favoritku di dunia: makanan Prancis. Dan karena ini lah topik ini berhak menjadi satu posting tersendiri, haha 😆 . Anyway, berikut ini ceritanya…

Crepes

Ketika mengumpulkan informasi mengenai Rennes sebelum perjalanan ini, satu nama makanan yang selalu muncul adalah crepes. Ternyata, crepes itu asalnya dari Brittany loh, sebuah daerah di Prancis yang memang dimana Rennes berlokasi. Dan karena toh aku suka crepes, jadilah ketika di Rennes aku harus mencoba makanan tradisional mereka ini kan ya, haha 😆

A crepe for breakfast
Crepe untuk sarapan

Tidak mengherankan, tidak sulit kok untuk mencari sebuah creperie, karena ada banyak creperie dimana-mana di Rennes. Bahkan ada satu yang nampak menarik di dekat hotelku sehingga di suatu pagi, aku memutuskan untuk sarapan disana saja. Jelas, aku memesan sebuah crepe hangat berisi coklat yang disajikan dengan es krim vanilla dan taburan kelapa. Dan bisa kubilang bahwa rasanya enaaak BANGET! 😋Malahan, crepe (yang beneran) sekarang adalah menu sarapan Prancis favoritku deh (sebelumnya, gelar ini dipegang oleh croissant tetapi sekarang harus berpindah tangan 😛 ).

Magret De Canard

Di malam pertamaku di Rennes, aku sudah memilih satu restoran dengan Yelp untuk makan malam. Namun, karena hari itu tanggal merah, ternyata restorannya tutup 😦 . Jadilah aku pergi ke sebuah restoran yang penampakannya menarik di seberang jalan (yang mana ternyata juga direkomendasikan Yelp tetapi tidak termasuk peringkat lima teratas gitu). Ternyata ini adalah restoran yang memang oke dan setelah mempelajari menunya, aku memesan magret de canard yang penampilannya seperti ini:

French food never fails to satisfy my taste bud!!
Magret de Canard dengan puree jeruk dan wortel

Dan seperti penampakannya, makanannya beneran enaak!! Daging bebeknya dimasak sempurna dan semua elemen yang terlibat juga nyambung dan “masuk akal”. Masakan ini membuatku menyadari bahwa aku berada di Prancis dan aku tahu ini adalah awal dari perjalanan yang nikmat untukku 😛 .

Saus berwarna hitamnya adalah saus inggris. Waktu itu, aku cukup kaget bahwa saus inggris digunakan di sebuah masakan Prancis; ah tetapi nyatanya enak juga kok jadi aku tidak protes. Ketika aku kembali di hotel, aku mengecek restorannya di Yelp. Ternyata restorannya adalah restoran Prancis dengan fusion Asia! Ah, sekarang semuanya masuk akal! Tidak hanya sausnya kan, tetapi sayur di masakannya itu juga dimasak ala Asia (mirip seperti cap cay gitu), nama restorannya (Le Moon), dan juga dekorasi interiornya! Ah, aku paham banget sekarang! 🙂

Sebuah Menu Three Course

Keesokan malamnya, aku kembali ke restoran yang direkomendasikan Yelp malam sebelumnya tetapi tutup itu. Untungnya kali ini mereka buka dan aku tidak perlu reservasi dulu untuk mendapatkan kursi (restorannya lumayan ramai sih waktu itu). Setelah melihat-lihat menunya, aku memutuskan untuk makan paket menu three course seharga €31 (sekitar Rp 465 ribu, menu yang termurah tetapi ada pilihan lain kok) dan memilih dari daftar yang mereka berikan.

L’escargot

Akhirnya setelah bertahun-tahun ini, aku berhasil mengumpulkan cukup keberanian untuk makan sebuah masakan Prancis yang eksotis yang sudah lama banget ingin aku cobain tetapi juga “takur” (lebih ke “jijik” sih) pada saat yang sama, haha 😆 . Ini adalah sebuah masakan escargot (bekicot).

Finally losing my escargot "virginity" :P
Finally losing my escargot “virginity” 😛

Ternyata rasanya oke-oke aja kok. Bekicotnya agak kenyal dan, sedikit banyak, terasa seperti kerang gitu. Namun, bagian yang tersulit adalah otakku yang terus-terusan ngomong “Eh ada bekicot loh di dalam mulutmu“, huahaha 😆 .

Black Angus Bavette

Sebagai makanan utama, aku memutuskan menu yang mainstream aja, black angus bavette, yang mana pada dasarnya mirip seperti steak tetapi bukan juga sih. Aku lupa untuk meminta menukar mashed potatoes-nya dengan french fries atau apa gitu, tetapi toh rasanya enak kok. Dagingnya dimasak ke level medium-rare, sesuai dengan pesananku, dan sausnya juga enaak!

A Black Angus bavette
Black Angus bavette

Pencuci Mulut

Untuk pencuci mulut, aku memesan es krim nougat dengan praline cracker dan mousse coklat hitam. Enaaak!!

A dessert
Sebuah pencuci mulut

Sevara keseluruhan, aku sungguh terkesan dengan menu three course ini dan aku merasa puas dengan €31 yang harus kubayarkan itu. Aku lega aku mengikuti yang disarankan Yelp karena aku merasa app ini telah membantuku mengoptimalisasi pengeluaranku dalam hal cost-benefit di Rennes, haha 😆 .

Sisanya

Serena Williams

Di suatu sore di Rennes, aku ingin duduk-duduk di kafe untuk beristirahat. Eh ternyata kafenya tidak menyediakan teh loh (tidak kusangka nih) sehingga aku melihat-lihat daftar menu yang mereka miliki. Awalnya aku nggak yakin aku ingin apa karena pilihannya ada banyak banget, tetapi kemudian sebuah menu menarik perhatianku yang mana merupakan sebuah minuman dengan nama unik di bagian mocktail: “Serena Williams”. Dan jadilah aku langsung tahu apa yang ingin kupesan, sebagai fans-nya Serena, jelas dong ya aku memesan minuman ini, huahaha 😆 .

A glass of Serena Williams
Segelas Serena Williams

Rasanya enak dan memang menyegarkan, walaupun untukku agak kemanisan sih 😛 .

Entrecote dan Creme Brulee

Makan malam terakhirku di Rennes, aku memutuskan untuk memesan menu yang aku tahu aku suka: entrecote. Dan rasanya enaak! Dan besaar! Maksudku, masa yang paling kecil berukuran 300 gram loh! 😲

A 300 gr entrecot
Sebuah entrecote 300 gram

Dan aku juga memesan creme brulee untuk menemani menu Magret de Canard di atas. Rasanya juga enak.

Tidak menggunakan Yelp

Di suatu siang di Rennes, aku memutuskan untuk melakukan sebuah percobaan kecil: “Apa yang terjadi andaikata aku tidak menggunakan bantuan Yelp?“. Jadilah di Kota Tua (baca Bagian I), aku memutuskan untuk makan siang di sebuah restoran dengan deal yang oke untuk makan siang. Aku memesan ayam dengan saus jamur dan mousse coklat. Ternyata rasanya biasa-biasa aja. Bukannya nggak enak sih, hanya saja nggak spesial aja. Ah, tetapi seenggaknya harganya memang murah sih, jadilah aku mendapatkan apa yang kubayarkan kan ya 😛 .

SELESAI.