General Life, Zilko's Life

#2123 – A Couple of Recent Sporting Stories

ENGLISH

French Open Coverage

So last week the French Open was concluded. I even went to Paris for the women’s singles final and men’s doubles final last weekend.

Anyway related to this tennis tournament, last year I was happy with my tv cable subscription as it also had two (sometimes three) channels covering some of the main tennis tournaments, including the French Open. This year, however, I was slightly disappointed with the coverage of the French Open 😛 . This was because, especially in the first week of the tournament, quite often the matches that I were most interested in were not aired in those channels (There were more channels for tennis but I would need extra subscription for those).

Though, Venus Williams’ match was aired. Though the result was not what I wished…

It wasn’t “deliberate” or anything, as it was more of my bad luck with the scheduling. I mean, once the channel aired the first round match between Kiki Bertens and Aryna Sabalenka over Serena Williams’ first grandslam match since giving birth to her daughter versus Kristýna Plíšková, haha. I mean, I got it that Kiki Bertens was Dutch and so this was why she got the “priority” as it happened that both matches took place concurrently, but still 😛 (Thankfully, a Belgian channel covered Serena’s match so afterall it was ok).

But you know, somehow I got the general feeling of “disappointment” with this year’s coverage of the French Open in the first week, haha…

The Injury

Anyway speaking of sport, last week I mentioned that I just realized I had a slight knee injury which frustrated me a little bit because it hindered me from my short-term goal of intensifying my cardio training a little bit more to accelerate my body fat percentage loss, haha.

Actually on my gym session that day I published the post, I decided to “test the water” right away by intensifying my cardio session a little bit. Obviously the injury hadn’t been healed yet but at the same time I would like to know how “bad” it actually was. And it turned out to be not as bad as I thought, haha. While I still “felt” it, it didn’t prevent me from finishing my cardio. Though, of course I still used my common sense by not really pushing it too much.

But so far so good! 😀

BAHASA INDONESIA

Penayangan French Open

Jadi ceritanya minggu lalu turnamen tenis French Open selesai. Aku bahkan pergi ke Paris untuk menonton babak final tunggal putri dan ganda putranya akhir pekan kemarin ini.

Anyway berkaitan dengan turnamen tenis ini, tahun lalu aku merasa senang dengan keputusanku untuk berlangganan tv kabel karena aku jadi memiliki dua (kadang tiga) saluran tv yang menayangkan beberapa turnamen-turnamen tenis besar, termasuk French Open ini. Tahun ini, tapinya, aku sedikit merasa kecewa dengan penayangan French Open-nya 😛 . Terutama di minggu pertama turnamennya sih, dimana ada beberapa pertandingan yang mana aku tertarik tetapi tidak ditayangkan di saluran-saluran tersebut (Sebenarnya ada lebih banyak saluran lagi yang menayangkan semua pertandingannya tetapi aku harus berlangganan ekstra untuk itu).

Eh tapi pertandingannya Venus Williams ditayangkan sih. Walaupun hasil pertandingannya tidak sesuai harapanku…

Ini bukannya “disengaja” atau gimana sih, karena sebenarnya ya ini adalah kesialanku aja dengan jadwal pertandingannya. Misalnya, suatu kali salurannya menayangkan pertandingan babak pertama antara Kiki Bertens dan Aryna Sabalenka dong dan bukannya pertandingan grandslam pertama-nya Serena Williams setelah melahirkan anak perempuannya melawan Kristýna Plíšková, haha. Iya sih aku paham Kiki Bertens itu adalah pemain Belanda jadilah ia mendapatkan “prioritas” karena kedua pertandingan ini kebetulan kok dimainkan bersamaa, tapi tetap aja lah ya 😛 (Untungnya waktu itu ada saluran Belgia yang menayangkan pertandingannya Serena sih jadi nggak apa-apa lah).

Tapi intinya adalah, entah mengapa tahun ini aku kok merasa “kecewa” gitu dengan penayangan dari turnamen French Open ini, terutama di minggu pertama, haha…

Cedera

Anyway mumpung ngomongin olahraga, minggu lalu aku ceritakan tentang cedera lutut minorku yang menyebalkanku karena cederanya menjadi penghalang bagiku dalam mencapai tujuan jangka pendekku yaitu meningkatkan intensitas latihan kardio untuk mempercepat proses penurun persentase lemak tubuhku, haha.

Nah jadi sebenarnya di sesi gym-ku di hari posting itu aku publikasikan, aku memutuskan untuk “cek-cek ombak” dengan langsung meningkatkan intensitas sesi kardioku sedikit. Jelas waktu itu cederanya masih belum sembuh, tetapi pada saat yang sama aku juga ingin tahu seberapa “parah” sebenarnya cederanya kan. Dan ternyata tidak separah yang aku takutkan, haha. Walaupun cederanya masih “terasa”, tetapi tidak sampai membuatku tidak bisa menyelesaikan target kardioku kok. Ah, tapi jelas aku masih menggunakan akal sehat juga lah ya dimana aku juga tidak terlalu memaksakan target yang tinggi-tinggi amat dulu.

Tapi sejauh ini, so far so good kok! 😀

Advertisements
General Life, Zilko's Life

#2118 – Some Recent Health Stories

ENGLISH

The title sounds dramatic I know, and it brings the impression that sounds much worse than it actually is, haha. So first of all, let me first state that I am fine. I am not ill or anything, haha 😛 .

Anyway having said that, currently I have a slight knee injury. Well, it is not the knee itself, though, but the muscle just slightly lower to the side of the knee (so I’m not sure if this counts as a “knee” injury? 😛 ). Perhaps I inadvertently pulled the muscle or something not too long ago, hmm. I understand that a way to treat this is by to let it heal naturally. And this can be accelerated by not forcing too much pressure on it. In other words, I need to be easy on my knee, haha.

In a way, this has been slightly frustrating because it has hindered my exercise rhythm and plan. So not too long ago I have decided that I would like to intensify my cardio training a little bit to lower my body fat percentage a bit faster, haha. But most cardio trainings which I have access to depend so much on the use of knees (running/biking/stairs climbing/etc). Of course some are less demanding on the knees than the others. But still, this narrows down the list of options and this is quite challenging 😛 .

Though, I have learned that I need to listen to my body in order to optimally achieve my goal without sacrificing my health, haha. So I guess this is the instance where I need to watch my exercise and be mindful of the current situation.

Having said that, of course I still go to my weekly tennis lesson; and tennis, to me, is also a form of cardio because I need to move and run a lot during the lesson, haha 😛 . But the running is less demanding on the knee because the lesson is on a clay court, where the surface is softer. Though, of course tennis is more than just the running as we need to use and control our body weight on each shot; and the knees are actually under higher pressure because some shots would require you to pivot most of your body weight on one of your knees, haha. For instance, as a right-handed player, I pivot my body weight on my right knee when I hit a backhand, and on my left knee when hitting a forehand or a serve.

But well, I find tennis super fun and the “fun” is what I am after from this lesson as well. My mental well being feeds on the “fun”, and this is also important to take care of, haha 😆 .

Tennis is fun

BAHASA INDONESIA

Judulnya drama banget memang, dan memang memberikan impresi yang lebih buruk daripada kenyataannya, haha. Jadi pertama-tama, aku sebutkan dulu bahwa aku tidak apa-apa kok. Aku tidak sakit atau apa lah, haha 😛 .

Anyway walaupun begitu, saat ini aku sedang agak cedera lutut, haha. Eh, bukan lututnya sih sebenarnya, tetapi otot di sebelah samping dan agak ke bawah dari lututnya (jadi ini termasuk cedera “lutut” bukan sih? 😛 ). Mungkin tidak sengaja beberapa waktu yang lalu ototnya tertarik atau bagaimana gitu, hmm. Aku paham bahwa satu cara perawatannya sih adalah dengan membiarkannya sembuh sendiri. Dan ini bisa dipercepat dengan tidak terlalu banyak memberikan tekanan kepadanya. Dengan kata lain, aku mesti membiarkan lututku beristirahat, haha.

Di satu sisi, kondisi ini agak menyebalkan karena terus-terang ini mengganggu ritme dan rencana latihan olahragaku. Belum lama ini sudah kuputuskan aku ingin sedikit meningkatkan intensitas latihan cardio-ku untuk mempercepat penurunan body fat percentage-ku, haha. Tapi kebanyakan jenis latihan cardio yang bisa kulakukan membutuhkan kondisi lutut yang prima nih (lari/sepedaan/naik tangga/dll). Memang sih sebagian lebih ramah lutut daripada yang lainnya. Tapi ini mengakibatkan pilihan jenis latihan yang lebih sedikit dan situasi ini agak challenging 😛

Tapi aku sudah belajar bahwa aku perlu untuk mendengarkan tubuhku sendiri untuk mencapai tujuanku secara optimal tanpa mengorbankan kesehatanku, haha. Jadi aku rasa ini adalah kasus dimana aku perlu berhati-hati dengan olahraga yang aku lakukan dan paham akan situasinya saat ini ya.

Walaupun begitu, tentu saja aku tetap pergi ke les tenisku setiap minggu, haha; dan tenis, untukku, adalah satu bentuk cardio juga karena aku harus banyak bergerak dan berlari di sepanjang lesnya, haha 😛 . Tapi larinya sedikit lebih ramah di lutut sih karena lesnya diadakan di lapangan tanha liat, yang mana permukaannya lebih empuk. Walaupun begitu, tentu saja tenis itu lebih dari sekedar lari dimana kita harus menggunakan dan mengontrol berat badan di setiap pukulan; dan sebenarnya justru lutut berada dalam tekanan yang lebih besar sih karena untuk beberapa jenis pukulan kita harus mem-pivot-kan berat badan di salah satu lutut, haha. Misalnya, karena aku adalah pemain non-kidal, aku mem-pivot-kan berat badanku di lutut kanan ketika memukul backhand, dan di lutut kiri ketika memukul forehand atau serve.

Ah, tapi kan tenis itu super seru ya dan “keseruan” ini yang aku cari dari les tenis ini. Kesehatan mentalku kan terjaga dengan adanya “keseruan” ini dalam aktivitasku, dan ini juga penting untuk dijaga dong ya, haha 😆 .

General Life, Life in Holland, Zilko's Life

#2059 – Sporting in January

ENGLISH

Needless to say that January was quite an eventful month for me. While it was certainly fun, the downside of that was that it was a little bit challenging to get my “sporting rhythm” back! Lol 😆 .

The month started off with the terrible jetlag I got after coming back from my year end trip to California. It took awhile before my body adjusted to the Central European Time (CET). Once it did, some interesting special events took place at work, haha. And then of course there was the two trips in a week I did at the end of the month to two places with great food like the following 😛 .

Another amazing brunch in Copenhagen
A tortellini bolognese with ragu in Bologna!

All of these made my sporting pattern to be quite “sporadic”. It was a little bit annoying because a few times I felt like I started to get some of the “groove” back (via the combination of my visit to the gym and a new tennis lesson season (which will be longer this season)), but then an “elongated break” must follow hence killing off some of the groove, haha 😛 . But hey, a sporadic pattern was better than nothing, right? Beside, looking at the positives, it was actually really nice to have these events “spicing up” what otherwise would have been a dull winter month of January (a cold winter month following a festive Christmas and New Year holiday season), haha 😛 .

Nonetheless, I am glad that my schedule in February thus far and what have been planned ahead seem to look more “regular”. And so I hope I would get my rhythm back as soon as possible!

BAHASA INDONESIA

Sudah jelas ya bulan Januariku kemarin adalah bulan yang cukup berwarna untukku. Walaupun jelas seru, di sisi lain warna-warna itu menjadi tantangan tersendiri untukku mendapatkan kembali “ritme berolahraga”-ku! Hahaha 😆 .

Bulan kemarin ini aku mulai dengan jetlag parah akibat dari perjalanan akhir tahunku ke California. Badanku membutuhkan waktu cukup lama untuk membiasakan kembali dengan zona waktu Central European Time (CET). Begitu adaptasinya selesai, beberapa acara menarik diadakan di kantor, haha. Dan tentu saja adanya dua perjalanan dalam seminggu di akhir bulan ke dua tempat yang makanannya enak-enak seperti berikut ini 😛 .

Brunch yang enak banget di Kopenhagen
Tortellini bolognese dengan ragu di Bologna!

Semua ini membuat pola olahragaku di bulan ini “sporadis”. Rasanya sedikit menyebalkan soalnya beberapa kali begitu aku merasa mulai mendapatkan “groove“-nya kembali (melalui kunjunganku ke gym dan kelas les tenis baru (yang mana kali ini akan lebih panjang dari semester yang lalu)), eh aku harus “absen lumayan panjang” yang mana mengurangi level groove-nya, haha 😛 . Ah, tetapi pola yang sporadis masih mendingan daripada tidak berolahraga sama sekali kan ya? Di samping itu, kalau dilihat dari sisi positifnya, sebenarnya acara-acara itu justru membuat Januari menjadi seru sih, bukannya bulan yang menyebalkan di musim dingin (bulan musim dingin yang, hmm, dingin setelah musim liburan Natal dan Tahun Baru yang seru), haha 😛 .

Tapi bagaimana pun juga, sekarang aku merasa lega dengan jadwalku di bulan Februari ini yang sejauh ini dan ke depannya nampak akan lebih “reguler”. Jadi mudah-mudahan ritmeku segera aku dapatkan kembali!

Contemplation, Thoughts

#1994 – Fighting Through Pain VS Listening To Your Body

ENGLISH

I feel like there is a thin line of difference between to “fight through pain” and to “listen to your body”. And IMO, the art of balancing both, which of course is much easier said, or written in this case, than done, is a very important one in the quest of bettering ourselves in working towards a goal. We need to distinguish when our body just feels the discomfort which we need to, and can, fight through and when our body sends a clear warning signal that it needs to rest.

This can be especially tricky for me. You see, when I have set out a course to reach a goal, I do not like to stop during the process. This is especially if I have started to actually perform an action in that course. However, there can be certain situations where it is actually better for me to stop whatever I am doing. But then, of course, I start to have this conflict in my head.

For instance, one evening some weeks ago I decided to go to the gym. It felt like a regular evening to me (I have developed this routine of going to the gym four to five times a week) and I felt completely normal before going. Then as usual, I warmed up and started my exercises scheduled for that session. However, just in my first exercise, I started to feel a light headache. It got slightly better when I rested but intensified when I was resuming my gym session. And it got worse and worse with each exercise that I did.

Then I got this conflict in my mind. Should I just neglect this “pain” (i.e. the headache) and force myself through it or was it actually an actual signal that my body was sending me that it did not want to exercise, for whatever reason, this evening? As I said above, I did not like to stop at this point because I had decided to start the gym session for the evening. So at first I decided to fight through it but, of course, while not completely putting this conflict aside immediately. But you see, my default reaction was to fight through the discomfort.

Having a default reaction to fight through pain is not always bad, I think. In her speech during my PhD ceremony, my supervisor told me that my greatest strength was, in her opinion, my perserverance. I don’t like to give up, to stop doing something which I have started. In my personal observation, this appears to be quite an accurate assessment because, honestly, sometimes I see quite some people who, from my perspective, appear to give up easily when they face some difficulties. For the record here, I do not blame them nor pass any judgment. I am not in their shoes so who am I to judge, right? So this statement is purely based on my observation and my own assumptions over what is going on on the other side, which I am not experiencing myself. But under this observation and these assumptions, which, again, could be completely wrong, I probably would have liked to try to push a little harder.

Having said that, I also think there are situations where this kind of default reaction is not the right one. Professional tennis player Jelena Jankovic learned the hard way about overtraining which caused her performance level to drop. In this case, this default reaction is actually counter-productive, as it brings us further away from our goal. So I need to learn to sense when this default reaction is the wrong one.

Jelena Jankovic in 2014

Back to my gym session. After two exercises I decided that I had it enough for the day because my headache just got much worse. My common sense decided that it was one of those special circumstances where clearly my body was screaming for some rest. Well, I had been exercising for three days in a row the previous three days so it was probably time for some rest anyway, haha. So I decided to stop, go back home, and rest for the rest of the evening.

BAHASA INDONESIA

Aku merasa perbedaan antara “berjuang melawan rasa sakit” dan “mendengarkan tubuh kita” itu tipis sekali. Dan menurutku, seni menyeimbangkan keduanya, yang mana jelas lebih gampang diucapkan, atau dalam hal ini dituliskan, daripada dilakukan, adalah hal yang penting dalam perjalanan kita untuk terus memperbaiki diri dalam upaya pencapaian suatu tujuan. Kita perlu membedakan situasi dimana tubuh hanya merasakan ketidak-nyamanan yang perlu, dan bisa, kita lawan dari ketika tubuh kita mengirimkan sinyal pertanda ia meminta istirahat.

Ini bisa menjadi tricky untukku. Ketika aku sudah menetapkan suatu jalur untuk mencapai suatu tujuan, aku tidak suka berhenti di tengah-tengah. Ini terutama benar ketika aku sudah mulai melakukan suatu kegiatan/aksi dalam jalur itu. Namun, tentu ada beberapa situasi dimana lebih baik untukku menghentikan apa pun yang aku lakukan. Tetapi kemudian, jelas aku jadi memiliki konflik ini di dalam pikiranku.

Misalnya saja, suatu malam beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk pergi ke gym. Malam itu terasa seperti malam biasa untukku (Aku sudah mulai membentuk rutinitas untuk pergi ke gym sekitar empat sampai lima kali seminggu) dan aku merasa biasa saja sebelum berangkat. Kemudian seperti biasa, aku pemanasan dan mulai latihan sesuai yang sudah dijadwalkan untuk sesi itu. Namun, di latihan pertamaku, aku mulai merasakan sakit kepala ringan. Sakit kepalanya agak mendingan ketika aku beristirahat tetapi terasa sakit banget ketika aku kembali berlatih. Dan rasanya semakin parah semakin lama aku latihan.

Nah, kemudian muncullah konflik ini di pikiranku. Apakah aku bisa mengesampingkan rasa “tidak-nyaman” (baca: sakit kepala) ini dan memaksa tubuhku untuk terus berlatih, atau jangan-jangan ini adalah sinyal bahwa tubuhku sebaiknya tidak berolahraga karena alasan apa pun malam ini? Seperti yang kubilang di atas, aku tidak suka dengan yang namanya berhenti sekarang karena aku sudah memutuskan untuk memulai sesi gym malam ini; jadilah awalnya aku memutuskan untuk melawan rasa tidak-nyaman itu dulu walaupun tidak berarti aku langsung mengesampingkan konflik ini. Tetapi terlihat kan, reaksi default-ku adalah melawan rasa tidak nyaman itu.

Memiliki reaksi default untuk melawan rasa tidak-nyaman tidak lah selalu buruk. Dalam kata sambutannya di upacara wisuda PhD/S3ku, pembimbingku menyebutkan bahwa, menurutnya, kekuatan terbesarku adalah kegigihanku untuk tidak mudah menyerah (perseverance). Memang aku tidak suka untuk menyerah, untuk berhenti dalam melakukan apa yang sudah aku mulai. Dan dalam pandangan pribadiku, sepertinya memang ini adalah pengamatan yang cukup akurat karena, sejujurnya, terkadang aku melihat beberapa orang yang, dari sudut pandangku saja lho ya, nampak mudah sekali menyerah ketika mereka baru menghadapi kesulitan kecil. Btw, untuk dicatat di sini, aku tidak menyalahkan atau men-judge loh. Aku tidak berada di situasi yang mereka hadapi sehingga siapa aku kok men-judge segala kan? Jadi pernyataan ini murni berdasarkan observasiku dan asumsi-asumsiku sendiri mengenai apa yang sedang dihadapi orang lain itu, yang mana tidak aku alami sendiri. Tetapi berdasarkan observasi dan asumsi-asumsi ini, yang, sekali lagi, mungkin banget salah, jika aku di situasi yang sama aku akan mencoba sedikit lebih keras lagi.

Walaupun begitu, aku rasa ada situasi dimana reaksi default ini bukan lah reaksi yang tepat. Petenis profesional Jelena Jankovic mengalami sendiri dimana kebanyakan berlatih (overtraining) justru membuat level dan performanya menurun. Dalam kasus ini, reaksi default ini justru kontra-produktif, karena ini justru membawa diri kita menjauhi tujuan. Jadi aku perlu belajar untuk mendeteksi kapan reaksi default ini adalah reaksi yang salah nih.

Jelena Jankovic di tahun 2014

Kembali ke cerita gym di atas. Setelah dua macam latihan, aku memutuskan bahwa sakit kepalaku ini bisa dibilang parah, dan memang sudah semakin sakit sih. Akhirnya otakku memutuskan bahwa ini adalah suatu situasi khusus itu dimana jelas tubuhku berteriak meminta istirahat. Iya sih, toh aku sudah ke gym selama tiga hari berturutan di tiga hari sebelumnya jadi memang sepertinya memang waktu itu toh saatnya untuk istirahat, haha. Jadilah aku berhenti, pulang, dan beristirahat di sepanjang sisa malam itu.

General Life, Zilko's Life

#1983 – Finally, Tennis!

ENGLISH

Finally, this week the tennis lesson at my new tennis club started! “Finally” because, you know, I have been a member of the club since June but the lesson starts just now, haha 😆 . Plus, the last time I played tennis was actually back in December 2016 in Delft, meaning that prior to this week I literally had not played at all this year!! On top of that, I mistakenly thought the tennis lesson would have started two weeks ago. And so it felt like I had been waiting for even longer! Haha 😆

Obviously I was really rusty during my first lesson this week. This was unsurprising as this was the longest “tennis-free” streak I have had since I first picked up a tennis racket in 2011, haha. I am sure I am going to (maybe slowly) get my rhythm back, I just need more time. Even though admittedly it was quite frustrating to miss a lot of easy shots, haha.

I am really glad, though, that finally the tennis lesson has started. To be honest, I have been feeling quite worried with my exercise routine because before this week, I only went to the gym. This meant the lack of variety and I actually went to the gym about four to five times a week. While it was working fine this past a few months, I was slightly concerned with how this would pan out in the longer term. Of course, occassionally I also jogged or biked on weekends, which added some variety, but these activities could not be done regularly given my frequent weekend trips ( 😛 ) and that sometimes I felt the need to just rest and recharge myself on weekends.

I am quite confident this tennis lesson will help a lot. Not only that I get to regularly do a sport exercise that I love, this also provides me the opportunity of meeting other tennis enthusiasts nearby and hence perhaps even more occassional friendly tennis activities outside of the lesson hour! 🙂

So, yeah, I am excited about this! 🙂

BAHASA INDONESIA

Akhirnya, minggu ini les tenis di klub tenis baruku dimulai juga! “Akhirnya” karena, tahu lah, aku sudah mendaftar menjadi anggota klubnya semenjak Juni kemarin tetapi lesnya baru dimulai sekarang, haha 😆 . Ditambah lagi, terakhir kali aku main tenis adalah di bulan Desember 2016 di Delft, artinya sebelum minggu ini aku belum pernah sekali pun bermain tenis tahun ini dong!! Apalagi, awalnya aku salah ingat dimana kukira lesnya bakal dimulai dua minggu yang lalu. Jadilah “penantianku” semakin panjang rasanya ya, haha.

Tentu saja permainanku karatan banget di les pertamaku minggu ini. Nggak mengherankan lah karena ini adalah “tennis-freestreak terpanjang semenjak aku pertama kali belajar les tenis di tahun 2011, haha. Aku yakin kok aku akan (perlahan-lahan) mendapatkan ritmeku kembali, aku hanya butuh waktu saja. Walaupun harus kuakui, sebal banget rasanya ketika membuat kesalahan sendiri di banyak pukulan-pukulan yang sebenarnya gampang, haha 😛 .

Aku lega lho akhirnya les tenis ini dimulai juga. Sejujurnya, aku sudah mulai merasa agak khawatir dengan rutinitas olahragaku karena sebelum minggu ini, aku hanya pergi ke gym saja. Ini berarti tidak ada banyak varietas dan aku pergi ke gym sebanyak empat sampai lima kali seminggu. Walaupun kondisi ini bukanlah masalah selama beberapa bulan terakhir ini, aku sedikit khawatir bagaimana rutinitas semacam ini bisa bertahan dalam jangka panjang. Memang sih, kadang-kadang aku jogging atau sepedaan juga di akhir pekan, yang mana lumayan dalam hal varietas. Masalahnya, aktivitas-aktivitas ini tidak bisa kulakukan secara rutin akibat perjalanan akhir pekanku yang sering itu ( 😛 ) dan terkadang aku merasa perlu untuk beristirahat saja di akhir pekan.

Jadi aku merasa percaya diri les tenis ini akan membantu banget. Selain aku jadi bisa berolahraga permainan favoritku secara reguler, les ini juga memberiku kesempatan untuk berkenalan dengan beberapa penyuka tenis lainnya di dekatku sehingga mungkin kadang-kadang kan bisa main tenis sendiri di luar jam les gitu! 🙂

Jadi, ya, aku sungguh bersemangat akan hal ini! 🙂

About Myself, Contemplation, The Past, Thoughts, Zilko's Life

#1973 – People *Can* Change

ENGLISH

I came across something interesting when preparing some material for this post. It was not something surprising in general, but I was quite “wowed” to see that, apparently, I was a living proof for something. And that something was: people *can* change.

In that post I linked to a post of mine from 2011, in where I explicitly wrote:

Well, actually I am not really a sport guy …

Oh wow, how things have changed!!

Okay, I am not going to claim I am a sport guy now because the definition of that is rather vague. However, I can say that now I exercise regulary, a lot lot more regularly than back then. In fact, I feel guilty if I don’t exercise at least once within 48 hours, except when I am on a trip (which I often am 😛 ) where I give myself more leeway. But then again, I walk a lot while on a trip, sometimes even up to 15 km in a day, which is also a form of exercise actually 🤔.

I do like to walk while travelling, like this time in Stonehaven, Scotland in 2015.

In 2011, I still had the mindset I had built since I was, probably, in elementary school. You see, back then I never excelled in sports/gym class at school. Not that I did bad, I was just average. On the other hand, I excelled academically and I decided to put all my focus on this. It was fine for me to not excel in sports, as that was not my forte anyway, because I knew that “brain” was my thing. Brain over brawn. And, maybe in a way, I might try to build my identity around this idea. The problem with this? Nothing, except that I kindof took my health for granted, which had unintentionally become part of that identity as well.

Clearly something has changed since 2011. I cannot pinpoint what exactly happened and when, so maybe the mindset change was a gradual process. But what I know is that over time, I started to understand that I could not, and should not, take my health for granted. And I knew that this had to be for the long-term goal. I started to do more exercises; one baby step at a time, as otherwise it would not work. I also started to watch what I eat. I use brown/red rice at home now. It is more expensive, but my health is more important. I also eat much less rice nowadays. Even one time during lunch at the office, my colleague pointed out that I did not take any rice that day even though the menu was a lamb curry and rice was abundantly provided.

In my first week in the Netherlands in 2010
At Court Philippe Chatrier in 2016

And I do see, and feel, the result; and this might be one factor which keeps the motivation running and burning also. While not obese (Thankfully 😛 ), I was quite overweight back then. Since then, I have lost about 25 kg (This was over a period of 2 years, I think; since then I have managed to maintain my current weight). A friend here even often jokes that I was three times bigger when we first met in my first month in the Netherlands, lol 😆 . Not surprising, though. The two pictures above showed me in my first week in the Netherlands in 2010 (left) and when I went to Roland Garros last year (right). 🙈 More importantly, I also feel much, much, much better in the inside. I feel like my mind is clearer, and I feel much happier overall than I was before. The classic Latin phrase “Mens sana in corpore sano” is no bullshit. I really mean this.

It might be a bit “unusual” but I feel like I am in better physical and mind shape now, when I am in my late 20s, than years ago in my late teens or early 20s.

***

To me, this is interesting. Something which I believed was part of my identity could change over time, just by the power of will and patience and time, thankfully for the good. Thank to this blog, though, that I can make this observation (Hey this is one of my reasons to blog anyway 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Aku mendapatkan suatu obervasi menarik ketika mempersiapkan materi posting ini beberapa waktu lalu. Walaupun nggak mengherankan secara umum, aku cukup dibuat “terpana” karenanya, ternyata karena aku adalah bukti hidup untuk suatu hal. Dan hal itu adalah: orang *bisa* berubah.

Jadi begini, di posting itu aku memberikan tautan ke sebuah posting-ku di tahun 2011, dimana waktu itu secara eksplisit aku tulis:

Yah, sebenarnya aku kan bukan orang yang sporty banget yah …

Oh wow, bagaimana situasi sudah berubah banget sekarang!!

Oke, aku tidak akan mengklaim bahwa aku orang yang sporty sekarang karena definisi sporty sendiri tidak jelah saklek/pasti. Namun, aku bisa bilang bahwa sekarang aku berolahraga secara rutin, jauh, jauh lebih rutin daripada dulu. Bahkan, aku akan merasa bersalah apabila aku tidak berolahraga minimal sekali dalam selang waktu 48 jam, kecuali ketika sedang jalan-jalan (yang mana sering aku lakukan sih 😛 ) dimana aku lebih tidak ketat akan hal ini. Namun lagi, ketika jalan-jalan aku hampir selalu berjalan-kaki sih, bahkan terkadang bisa mencapai 15an km dalam satu hari. Dan ini kan salah satu bentuk olahraga juga yah 🤔.

Aku suka berjalan-kaki ketika jalan-jalan, seperti misalnya kala ini di Stonehaven, Skotlandia di tahun 2015.

Di tahun 2011, aku masih memiliki mindset yang sudah kutanam semenjak, mungkin, sewaktu aku SD. Jadi ceritanya dulu aku tidak unggul di pelajaran olahraga gitu deh. Bukannya jelek sih, tapi aku biasa-biasa aja lah. Di sisi lain, secara akademis aku sangat unggul dan aku memutuskan untuk memfokuskan diriku total ke sisi ini. Nggak apa-apa aku nggak unggul di olahraga, toh memang olahraga bukanlah keahlianku kok, karena aku tahu aku unggul dalam hal “otak”. Brain over brawn gitu deh ceritanya. Dan mungkin, di satu sisi, aku juga membangun identitas diriku berdasarkan ide ini. Masalah dari ini? Nggak ada sih sebenarnya, kecuali bahwa aku menjadi cukup menyepelekan urusan kesehatan yang, sayangnya, tidak sengaja menjadi bagian dari identitas ini.

Jelas sesuatu sudah berubah semenjak tahun 2011. Aku sendiri tidak bisa menunjukkan apa yang terjadi dan kapan persisnya, jadi aku rasa perubahan mindset-ku adalah sebuah proses. Yang kutahu adalah seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa aku tidak boleh, dan memang sebaiknya tidak, menyelepekan urusan kesehatanku. Dan aku tahu ini harus lah untuk tujuan jangka panjang. Aku mulai berolahraga lebih rutin; pelan-pelan saja tapi pasti karena kalau tidak, pasti tidak akan jalan secara jangka panjang. Aku juga mulai lebih memperhatikan apa yang aku makan. Aku menggunakan beras coklat/merah sekarang. Lebih mahal memang, tetapi kesehatanku lebih penting. Aku juga mengurangi banyak konsumsi nasiku. Bahkan suatu waktu ketika makan siang di kantor, seorang kolegaku bertanya mengapa aku tidak mengambil nasi padahal menu yang disajikan hari itu adalah kari kambing yang ditemani dengan nasi.

Di minggu pertamaku di Belanda tahun 2010
Di Lapangan Philippe Chatrier tahun 2016

Dan aku sendiri melihat, dan merasakan, hasilnya; dan memang ini adalah satu faktor yang membantu motivasiku untuk tetap menyala. Walaupun nggak sampai obesitas (untungnya 😛 ), aku bisa dikatakan agak overweight dulu, haha. Semenjak waktu itu, beratku sudah turun sekitar 25an kg (Penurunan ini dalam periode 2 tahunan sih kalau nggak salah; dan semenjak itu beratku aku pertahankan). Seorang temanku bahkan sering bercanda menyebutkan bahwa dulu aku berukuran tiga kali lebih besar ketika kami pertama kali bertemu di bulan pertamaku di Belanda, haha 😆 . Nggak mengherankan juga sih. Dua foto di atas menunjukkan aku di minggu pertamaku di Belanda di tahun 2010 (kiri) dan ketika aku pergi ke Roland Garros tahun lalu (kanan). 🙈 Lebih penting lagi, aku juga merasa jauh, jauh, jauh lebih baik secara mental. Aku merasa pikiranku lebih jernih, dan aku merasa jauh lebih bahagia secara keseluruhan daripada dulu. Ungkapan Latin klasik “Mens sana in corpore sano” itu bukan omong kosong. Dan aku bersungguh-sungguh dengan pernyataan ini.

Mungkin agak “tidak biasa” tetapi aku merasa berada dalam kondisi fisik dan mental yang lebih baik sekarang, di penghujung umur 20anku, daripada bertahun-tahun lalu di penghujung umur remajaku atau awal 20an.

***

Untukku, ini menarik. Sesuatu yang dulunya aku kira bagian dari identitasku bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu, hanya karena kekuatan pikiran dan kesabaran dan waktu, untungnya untuk hal yang positif. Berkat blog ini juga sih aku bisa membuat observasi ini (Hey, memang ini kan salah satu alasan ngeblog 😀 ).

Miscellaneous, Random Things

#1936 – Some Random Stories

ENGLISH

Struck By A Crow

The other day I was doing an evening jog for my cardio day in a park nearby my apartment when, all of a sudden, something struck the back of my head. And it was quite hard. Naturally, I screamed and tried to get rid of whatever that was (haha 😆 ); and then looked back to see what on earth was going on and who did that to me.

But I found nobody. There was noone behind me. But there was something alive there standing on the ground: an adult crow, haha 😆 . Yes, apparently I had just been struck by a crow! Lol 😆 .

Yeah, it was so weird and random how could happen. Obviously I had no idea why the crow hit me as I was not a crow whisperer. But thankfully I was fine and did not even get a single scratch out of it, haha 😆 .

Well, too bad I did not take a picture of the damn crow which I could have posted here, haha 😆

Candy Crush

Another totally random thought, here. An annoying mistake one could make while playing Candy Crush is to accidentally use the hard-earned gold bars for some purchases we do not intend to make. Unfortunately I have made this mistake multiple times 😣.

Speaking of Candy Crush, I am often annoyed lately by its loading problem. It frequently happens that my screen freezes while loading the game! Sometimes, it even gets stuck there and so I have to restart the game all over!

BAHASA INDONESIA

Diterjang burung gagak

Beberapa waktu yang lalu aku sedang jogging malam di hari cardio di sebuah taman di dekat apartemenku ketika, tiba-tiba, sesuatu menerjang kepala bagian belakangku. Terjangannya keras juga. Jadilah spontan aku berteriak dan berusaha menyingkirkan apa pun yang menerjangku (haha 😆 ); lalu kemudian aku membalikkan-badan untuk melihat apa sih yang baru saja terjadi dan siapa pelakunya.

Tetapi aku tidak melihat siapa-siapa. Tidak ada orang yang berdiri di belakangku. Hanya ada satu makhluk hidup (non-tanaman) yang berdiri di atas tanah di sana: seekor burung gagak dewasa, haha 😆 . Iya loh, ternyata aku baru saja diterjang seekor burung gagak! Haha 😆 .

Iya, memang sungguh aneh dan random banget kok ini bisa terjadi. Jelas aku tidak tahu mengapa burung gagaknya menerjangku karena aku kan bukan pawang burung gagak ya. Tetapi untungnya aku baik-baik saja dan tidak terluka sama sekali kok karenanya 😆 .

Yah, sayang sih aku lupa mengambil foto burung gagaknya. Padahal lumayan ya bisa dijadikan kenang-kenangan, haha 😆 .

Candy Crush

Satu pemikiran random lainnya nih. Sebuah kesalahan menyebalkan yang bisa dibuat seseorang ketika bermain Candy Crush adalah tidak-sengaja menggunakan batangan emas yang susah didapatkan itu untuk melakukan transaksi yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan. Dan sayangnya, aku sudah membuat kesalahan ini beberapa kali dong 😣.

Ngomongin Candy Crush, sekarang ini aku sering merasa sebal dengan masalah loading-nya nih. Cukup sering terjadi dimana layar smartphone-ku frozen (bahasa Indonesianya apa sih?) ketika sedang membuka game-nya gitu! Terkadang, bahkan layarnya terjebak di sana dan aku harus mematikan dan menyalakan ulang game-nya loh!