Contemplation · Thoughts

#1994 – Fighting Through Pain VS Listening To Your Body

ENGLISH

I feel like there is a thin line of difference between to “fight through pain” and to “listen to your body”. And IMO, the art of balancing both, which of course is much easier said, or written in this case, than done, is a very important one in the quest of bettering ourselves in working towards a goal. We need to distinguish when our body just feels the discomfort which we need to, and can, fight through and when our body sends a clear warning signal that it needs to rest.

This can be especially tricky for me. You see, when I have set out a course to reach a goal, I do not like to stop during the process. This is especially if I have started to actually perform an action in that course. However, there can be certain situations where it is actually better for me to stop whatever I am doing. But then, of course, I start to have this conflict in my head.

For instance, one evening some weeks ago I decided to go to the gym. It felt like a regular evening to me (I have developed this routine of going to the gym four to five times a week) and I felt completely normal before going. Then as usual, I warmed up and started my exercises scheduled for that session. However, just in my first exercise, I started to feel a light headache. It got slightly better when I rested but intensified when I was resuming my gym session. And it got worse and worse with each exercise that I did.

Then I got this conflict in my mind. Should I just neglect this “pain” (i.e. the headache) and force myself through it or was it actually an actual signal that my body was sending me that it did not want to exercise, for whatever reason, this evening? As I said above, I did not like to stop at this point because I had decided to start the gym session for the evening. So at first I decided to fight through it but, of course, while not completely putting this conflict aside immediately. But you see, my default reaction was to fight through the discomfort.

Having a default reaction to fight through pain is not always bad, I think. In her speech during my PhD ceremony, my supervisor told me that my greatest strength was, in her opinion, my perserverance. I don’t like to give up, to stop doing something which I have started. In my personal observation, this appears to be quite an accurate assessment because, honestly, sometimes I see quite some people who, from my perspective, appear to give up easily when they face some difficulties. For the record here, I do not blame them nor pass any judgment. I am not in their shoes so who am I to judge, right? So this statement is purely based on my observation and my own assumptions over what is going on on the other side, which I am not experiencing myself. But under this observation and these assumptions, which, again, could be completely wrong, I probably would have liked to try to push a little harder.

Having said that, I also think there are situations where this kind of default reaction is not the right one. Professional tennis player Jelena Jankovic learned the hard way about overtraining which caused her performance level to drop. In this case, this default reaction is actually counter-productive, as it brings us further away from our goal. So I need to learn to sense when this default reaction is the wrong one.

Jelena Jankovic in 2014

Back to my gym session. After two exercises I decided that I had it enough for the day because my headache just got much worse. My common sense decided that it was one of those special circumstances where clearly my body was screaming for some rest. Well, I had been exercising for three days in a row the previous three days so it was probably time for some rest anyway, haha. So I decided to stop, go back home, and rest for the rest of the evening.

BAHASA INDONESIA

Aku merasa perbedaan antara “berjuang melawan rasa sakit” dan “mendengarkan tubuh kita” itu tipis sekali. Dan menurutku, seni menyeimbangkan keduanya, yang mana jelas lebih gampang diucapkan, atau dalam hal ini dituliskan, daripada dilakukan, adalah hal yang penting dalam perjalanan kita untuk terus memperbaiki diri dalam upaya pencapaian suatu tujuan. Kita perlu membedakan situasi dimana tubuh hanya merasakan ketidak-nyamanan yang perlu, dan bisa, kita lawan dari ketika tubuh kita mengirimkan sinyal pertanda ia meminta istirahat.

Ini bisa menjadi tricky untukku. Ketika aku sudah menetapkan suatu jalur untuk mencapai suatu tujuan, aku tidak suka berhenti di tengah-tengah. Ini terutama benar ketika aku sudah mulai melakukan suatu kegiatan/aksi dalam jalur itu. Namun, tentu ada beberapa situasi dimana lebih baik untukku menghentikan apa pun yang aku lakukan. Tetapi kemudian, jelas aku jadi memiliki konflik ini di dalam pikiranku.

Misalnya saja, suatu malam beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk pergi ke gym. Malam itu terasa seperti malam biasa untukku (Aku sudah mulai membentuk rutinitas untuk pergi ke gym sekitar empat sampai lima kali seminggu) dan aku merasa biasa saja sebelum berangkat. Kemudian seperti biasa, aku pemanasan dan mulai latihan sesuai yang sudah dijadwalkan untuk sesi itu. Namun, di latihan pertamaku, aku mulai merasakan sakit kepala ringan. Sakit kepalanya agak mendingan ketika aku beristirahat tetapi terasa sakit banget ketika aku kembali berlatih. Dan rasanya semakin parah semakin lama aku latihan.

Nah, kemudian muncullah konflik ini di pikiranku. Apakah aku bisa mengesampingkan rasa “tidak-nyaman” (baca: sakit kepala) ini dan memaksa tubuhku untuk terus berlatih, atau jangan-jangan ini adalah sinyal bahwa tubuhku sebaiknya tidak berolahraga karena alasan apa pun malam ini? Seperti yang kubilang di atas, aku tidak suka dengan yang namanya berhenti sekarang karena aku sudah memutuskan untuk memulai sesi gym malam ini; jadilah awalnya aku memutuskan untuk melawan rasa tidak-nyaman itu dulu walaupun tidak berarti aku langsung mengesampingkan konflik ini. Tetapi terlihat kan, reaksi default-ku adalah melawan rasa tidak nyaman itu.

Memiliki reaksi default untuk melawan rasa tidak-nyaman tidak lah selalu buruk. Dalam kata sambutannya di upacara wisuda PhD/S3ku, pembimbingku menyebutkan bahwa, menurutnya, kekuatan terbesarku adalah kegigihanku untuk tidak mudah menyerah (perseverance). Memang aku tidak suka untuk menyerah, untuk berhenti dalam melakukan apa yang sudah aku mulai. Dan dalam pandangan pribadiku, sepertinya memang ini adalah pengamatan yang cukup akurat karena, sejujurnya, terkadang aku melihat beberapa orang yang, dari sudut pandangku saja lho ya, nampak mudah sekali menyerah ketika mereka baru menghadapi kesulitan kecil. Btw, untuk dicatat di sini, aku tidak menyalahkan atau men-judge loh. Aku tidak berada di situasi yang mereka hadapi sehingga siapa aku kok men-judge segala kan? Jadi pernyataan ini murni berdasarkan observasiku dan asumsi-asumsiku sendiri mengenai apa yang sedang dihadapi orang lain itu, yang mana tidak aku alami sendiri. Tetapi berdasarkan observasi dan asumsi-asumsi ini, yang, sekali lagi, mungkin banget salah, jika aku di situasi yang sama aku akan mencoba sedikit lebih keras lagi.

Walaupun begitu, aku rasa ada situasi dimana reaksi default ini bukan lah reaksi yang tepat. Petenis profesional Jelena Jankovic mengalami sendiri dimana kebanyakan berlatih (overtraining) justru membuat level dan performanya menurun. Dalam kasus ini, reaksi default ini justru kontra-produktif, karena ini justru membawa diri kita menjauhi tujuan. Jadi aku perlu belajar untuk mendeteksi kapan reaksi default ini adalah reaksi yang salah nih.

Jelena Jankovic di tahun 2014

Kembali ke cerita gym di atas. Setelah dua macam latihan, aku memutuskan bahwa sakit kepalaku ini bisa dibilang parah, dan memang sudah semakin sakit sih. Akhirnya otakku memutuskan bahwa ini adalah suatu situasi khusus itu dimana jelas tubuhku berteriak meminta istirahat. Iya sih, toh aku sudah ke gym selama tiga hari berturutan di tiga hari sebelumnya jadi memang sepertinya memang waktu itu toh saatnya untuk istirahat, haha. Jadilah aku berhenti, pulang, dan beristirahat di sepanjang sisa malam itu.

Advertisements
General Life · Zilko's Life

#1983 – Finally, Tennis!

ENGLISH

Finally, this week the tennis lesson at my new tennis club started! “Finally” because, you know, I have been a member of the club since June but the lesson starts just now, haha 😆 . Plus, the last time I played tennis was actually back in December 2016 in Delft, meaning that prior to this week I literally had not played at all this year!! On top of that, I mistakenly thought the tennis lesson would have started two weeks ago. And so it felt like I had been waiting for even longer! Haha 😆

Obviously I was really rusty during my first lesson this week. This was unsurprising as this was the longest “tennis-free” streak I have had since I first picked up a tennis racket in 2011, haha. I am sure I am going to (maybe slowly) get my rhythm back, I just need more time. Even though admittedly it was quite frustrating to miss a lot of easy shots, haha.

I am really glad, though, that finally the tennis lesson has started. To be honest, I have been feeling quite worried with my exercise routine because before this week, I only went to the gym. This meant the lack of variety and I actually went to the gym about four to five times a week. While it was working fine this past a few months, I was slightly concerned with how this would pan out in the longer term. Of course, occassionally I also jogged or biked on weekends, which added some variety, but these activities could not be done regularly given my frequent weekend trips ( 😛 ) and that sometimes I felt the need to just rest and recharge myself on weekends.

I am quite confident this tennis lesson will help a lot. Not only that I get to regularly do a sport exercise that I love, this also provides me the opportunity of meeting other tennis enthusiasts nearby and hence perhaps even more occassional friendly tennis activities outside of the lesson hour! 🙂

So, yeah, I am excited about this! 🙂

BAHASA INDONESIA

Akhirnya, minggu ini les tenis di klub tenis baruku dimulai juga! “Akhirnya” karena, tahu lah, aku sudah mendaftar menjadi anggota klubnya semenjak Juni kemarin tetapi lesnya baru dimulai sekarang, haha 😆 . Ditambah lagi, terakhir kali aku main tenis adalah di bulan Desember 2016 di Delft, artinya sebelum minggu ini aku belum pernah sekali pun bermain tenis tahun ini dong!! Apalagi, awalnya aku salah ingat dimana kukira lesnya bakal dimulai dua minggu yang lalu. Jadilah “penantianku” semakin panjang rasanya ya, haha.

Tentu saja permainanku karatan banget di les pertamaku minggu ini. Nggak mengherankan lah karena ini adalah “tennis-freestreak terpanjang semenjak aku pertama kali belajar les tenis di tahun 2011, haha. Aku yakin kok aku akan (perlahan-lahan) mendapatkan ritmeku kembali, aku hanya butuh waktu saja. Walaupun harus kuakui, sebal banget rasanya ketika membuat kesalahan sendiri di banyak pukulan-pukulan yang sebenarnya gampang, haha 😛 .

Aku lega lho akhirnya les tenis ini dimulai juga. Sejujurnya, aku sudah mulai merasa agak khawatir dengan rutinitas olahragaku karena sebelum minggu ini, aku hanya pergi ke gym saja. Ini berarti tidak ada banyak varietas dan aku pergi ke gym sebanyak empat sampai lima kali seminggu. Walaupun kondisi ini bukanlah masalah selama beberapa bulan terakhir ini, aku sedikit khawatir bagaimana rutinitas semacam ini bisa bertahan dalam jangka panjang. Memang sih, kadang-kadang aku jogging atau sepedaan juga di akhir pekan, yang mana lumayan dalam hal varietas. Masalahnya, aktivitas-aktivitas ini tidak bisa kulakukan secara rutin akibat perjalanan akhir pekanku yang sering itu ( 😛 ) dan terkadang aku merasa perlu untuk beristirahat saja di akhir pekan.

Jadi aku merasa percaya diri les tenis ini akan membantu banget. Selain aku jadi bisa berolahraga permainan favoritku secara reguler, les ini juga memberiku kesempatan untuk berkenalan dengan beberapa penyuka tenis lainnya di dekatku sehingga mungkin kadang-kadang kan bisa main tenis sendiri di luar jam les gitu! 🙂

Jadi, ya, aku sungguh bersemangat akan hal ini! 🙂

About Myself · Contemplation · The Past · Thoughts · Zilko's Life

#1973 – People *Can* Change

ENGLISH

I came across something interesting when preparing some material for this post. It was not something surprising in general, but I was quite “wowed” to see that, apparently, I was a living proof for something. And that something was: people *can* change.

In that post I linked to a post of mine from 2011, in where I explicitly wrote:

Well, actually I am not really a sport guy …

Oh wow, how things have changed!!

Okay, I am not going to claim I am a sport guy now because the definition of that is rather vague. However, I can say that now I exercise regulary, a lot lot more regularly than back then. In fact, I feel guilty if I don’t exercise at least once within 48 hours, except when I am on a trip (which I often am 😛 ) where I give myself more leeway. But then again, I walk a lot while on a trip, sometimes even up to 15 km in a day, which is also a form of exercise actually 🤔.

I do like to walk while travelling, like this time in Stonehaven, Scotland in 2015.

In 2011, I still had the mindset I had built since I was, probably, in elementary school. You see, back then I never excelled in sports/gym class at school. Not that I did bad, I was just average. On the other hand, I excelled academically and I decided to put all my focus on this. It was fine for me to not excel in sports, as that was not my forte anyway, because I knew that “brain” was my thing. Brain over brawn. And, maybe in a way, I might try to build my identity around this idea. The problem with this? Nothing, except that I kindof took my health for granted, which had unintentionally become part of that identity as well.

Clearly something has changed since 2011. I cannot pinpoint what exactly happened and when, so maybe the mindset change was a gradual process. But what I know is that over time, I started to understand that I could not, and should not, take my health for granted. And I knew that this had to be for the long-term goal. I started to do more exercises; one baby step at a time, as otherwise it would not work. I also started to watch what I eat. I use brown/red rice at home now. It is more expensive, but my health is more important. I also eat much less rice nowadays. Even one time during lunch at the office, my colleague pointed out that I did not take any rice that day even though the menu was a lamb curry and rice was abundantly provided.

In my first week in the Netherlands in 2010
At Court Philippe Chatrier in 2016

And I do see, and feel, the result; and this might be one factor which keeps the motivation running and burning also. While not obese (Thankfully 😛 ), I was quite overweight back then. Since then, I have lost about 25 kg (This was over a period of 2 years, I think; since then I have managed to maintain my current weight). A friend here even often jokes that I was three times bigger when we first met in my first month in the Netherlands, lol 😆 . Not surprising, though. The two pictures above showed me in my first week in the Netherlands in 2010 (left) and when I went to Roland Garros last year (right). 🙈 More importantly, I also feel much, much, much better in the inside. I feel like my mind is clearer, and I feel much happier overall than I was before. The classic Latin phrase “Mens sana in corpore sano” is no bullshit. I really mean this.

It might be a bit “unusual” but I feel like I am in better physical and mind shape now, when I am in my late 20s, than years ago in my late teens or early 20s.

***

To me, this is interesting. Something which I believed was part of my identity could change over time, just by the power of will and patience and time, thankfully for the good. Thank to this blog, though, that I can make this observation (Hey this is one of my reasons to blog anyway 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Aku mendapatkan suatu obervasi menarik ketika mempersiapkan materi posting ini beberapa waktu lalu. Walaupun nggak mengherankan secara umum, aku cukup dibuat “terpana” karenanya, ternyata karena aku adalah bukti hidup untuk suatu hal. Dan hal itu adalah: orang *bisa* berubah.

Jadi begini, di posting itu aku memberikan tautan ke sebuah posting-ku di tahun 2011, dimana waktu itu secara eksplisit aku tulis:

Yah, sebenarnya aku kan bukan orang yang sporty banget yah …

Oh wow, bagaimana situasi sudah berubah banget sekarang!!

Oke, aku tidak akan mengklaim bahwa aku orang yang sporty sekarang karena definisi sporty sendiri tidak jelah saklek/pasti. Namun, aku bisa bilang bahwa sekarang aku berolahraga secara rutin, jauh, jauh lebih rutin daripada dulu. Bahkan, aku akan merasa bersalah apabila aku tidak berolahraga minimal sekali dalam selang waktu 48 jam, kecuali ketika sedang jalan-jalan (yang mana sering aku lakukan sih 😛 ) dimana aku lebih tidak ketat akan hal ini. Namun lagi, ketika jalan-jalan aku hampir selalu berjalan-kaki sih, bahkan terkadang bisa mencapai 15an km dalam satu hari. Dan ini kan salah satu bentuk olahraga juga yah 🤔.

Aku suka berjalan-kaki ketika jalan-jalan, seperti misalnya kala ini di Stonehaven, Skotlandia di tahun 2015.

Di tahun 2011, aku masih memiliki mindset yang sudah kutanam semenjak, mungkin, sewaktu aku SD. Jadi ceritanya dulu aku tidak unggul di pelajaran olahraga gitu deh. Bukannya jelek sih, tapi aku biasa-biasa aja lah. Di sisi lain, secara akademis aku sangat unggul dan aku memutuskan untuk memfokuskan diriku total ke sisi ini. Nggak apa-apa aku nggak unggul di olahraga, toh memang olahraga bukanlah keahlianku kok, karena aku tahu aku unggul dalam hal “otak”. Brain over brawn gitu deh ceritanya. Dan mungkin, di satu sisi, aku juga membangun identitas diriku berdasarkan ide ini. Masalah dari ini? Nggak ada sih sebenarnya, kecuali bahwa aku menjadi cukup menyepelekan urusan kesehatan yang, sayangnya, tidak sengaja menjadi bagian dari identitas ini.

Jelas sesuatu sudah berubah semenjak tahun 2011. Aku sendiri tidak bisa menunjukkan apa yang terjadi dan kapan persisnya, jadi aku rasa perubahan mindset-ku adalah sebuah proses. Yang kutahu adalah seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa aku tidak boleh, dan memang sebaiknya tidak, menyelepekan urusan kesehatanku. Dan aku tahu ini harus lah untuk tujuan jangka panjang. Aku mulai berolahraga lebih rutin; pelan-pelan saja tapi pasti karena kalau tidak, pasti tidak akan jalan secara jangka panjang. Aku juga mulai lebih memperhatikan apa yang aku makan. Aku menggunakan beras coklat/merah sekarang. Lebih mahal memang, tetapi kesehatanku lebih penting. Aku juga mengurangi banyak konsumsi nasiku. Bahkan suatu waktu ketika makan siang di kantor, seorang kolegaku bertanya mengapa aku tidak mengambil nasi padahal menu yang disajikan hari itu adalah kari kambing yang ditemani dengan nasi.

Di minggu pertamaku di Belanda tahun 2010
Di Lapangan Philippe Chatrier tahun 2016

Dan aku sendiri melihat, dan merasakan, hasilnya; dan memang ini adalah satu faktor yang membantu motivasiku untuk tetap menyala. Walaupun nggak sampai obesitas (untungnya 😛 ), aku bisa dikatakan agak overweight dulu, haha. Semenjak waktu itu, beratku sudah turun sekitar 25an kg (Penurunan ini dalam periode 2 tahunan sih kalau nggak salah; dan semenjak itu beratku aku pertahankan). Seorang temanku bahkan sering bercanda menyebutkan bahwa dulu aku berukuran tiga kali lebih besar ketika kami pertama kali bertemu di bulan pertamaku di Belanda, haha 😆 . Nggak mengherankan juga sih. Dua foto di atas menunjukkan aku di minggu pertamaku di Belanda di tahun 2010 (kiri) dan ketika aku pergi ke Roland Garros tahun lalu (kanan). 🙈 Lebih penting lagi, aku juga merasa jauh, jauh, jauh lebih baik secara mental. Aku merasa pikiranku lebih jernih, dan aku merasa jauh lebih bahagia secara keseluruhan daripada dulu. Ungkapan Latin klasik “Mens sana in corpore sano” itu bukan omong kosong. Dan aku bersungguh-sungguh dengan pernyataan ini.

Mungkin agak “tidak biasa” tetapi aku merasa berada dalam kondisi fisik dan mental yang lebih baik sekarang, di penghujung umur 20anku, daripada bertahun-tahun lalu di penghujung umur remajaku atau awal 20an.

***

Untukku, ini menarik. Sesuatu yang dulunya aku kira bagian dari identitasku bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu, hanya karena kekuatan pikiran dan kesabaran dan waktu, untungnya untuk hal yang positif. Berkat blog ini juga sih aku bisa membuat observasi ini (Hey, memang ini kan salah satu alasan ngeblog 😀 ).

Miscellaneous · Random Things

#1936 – Some Random Stories

ENGLISH

Struck By A Crow

The other day I was doing an evening jog for my cardio day in a park nearby my apartment when, all of a sudden, something struck the back of my head. And it was quite hard. Naturally, I screamed and tried to get rid of whatever that was (haha 😆 ); and then looked back to see what on earth was going on and who did that to me.

But I found nobody. There was noone behind me. But there was something alive there standing on the ground: an adult crow, haha 😆 . Yes, apparently I had just been struck by a crow! Lol 😆 .

Yeah, it was so weird and random how could happen. Obviously I had no idea why the crow hit me as I was not a crow whisperer. But thankfully I was fine and did not even get a single scratch out of it, haha 😆 .

Well, too bad I did not take a picture of the damn crow which I could have posted here, haha 😆

Candy Crush

Another totally random thought, here. An annoying mistake one could make while playing Candy Crush is to accidentally use the hard-earned gold bars for some purchases we do not intend to make. Unfortunately I have made this mistake multiple times 😣.

Speaking of Candy Crush, I am often annoyed lately by its loading problem. It frequently happens that my screen freezes while loading the game! Sometimes, it even gets stuck there and so I have to restart the game all over!

BAHASA INDONESIA

Diterjang burung gagak

Beberapa waktu yang lalu aku sedang jogging malam di hari cardio di sebuah taman di dekat apartemenku ketika, tiba-tiba, sesuatu menerjang kepala bagian belakangku. Terjangannya keras juga. Jadilah spontan aku berteriak dan berusaha menyingkirkan apa pun yang menerjangku (haha 😆 ); lalu kemudian aku membalikkan-badan untuk melihat apa sih yang baru saja terjadi dan siapa pelakunya.

Tetapi aku tidak melihat siapa-siapa. Tidak ada orang yang berdiri di belakangku. Hanya ada satu makhluk hidup (non-tanaman) yang berdiri di atas tanah di sana: seekor burung gagak dewasa, haha 😆 . Iya loh, ternyata aku baru saja diterjang seekor burung gagak! Haha 😆 .

Iya, memang sungguh aneh dan random banget kok ini bisa terjadi. Jelas aku tidak tahu mengapa burung gagaknya menerjangku karena aku kan bukan pawang burung gagak ya. Tetapi untungnya aku baik-baik saja dan tidak terluka sama sekali kok karenanya 😆 .

Yah, sayang sih aku lupa mengambil foto burung gagaknya. Padahal lumayan ya bisa dijadikan kenang-kenangan, haha 😆 .

Candy Crush

Satu pemikiran random lainnya nih. Sebuah kesalahan menyebalkan yang bisa dibuat seseorang ketika bermain Candy Crush adalah tidak-sengaja menggunakan batangan emas yang susah didapatkan itu untuk melakukan transaksi yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan. Dan sayangnya, aku sudah membuat kesalahan ini beberapa kali dong 😣.

Ngomongin Candy Crush, sekarang ini aku sering merasa sebal dengan masalah loading-nya nih. Cukup sering terjadi dimana layar smartphone-ku frozen (bahasa Indonesianya apa sih?) ketika sedang membuka game-nya gitu! Terkadang, bahkan layarnya terjebak di sana dan aku harus mematikan dan menyalakan ulang game-nya loh!

General Life · Zilko's Life

#1876 – Some New Sporting Stuffs

ENGLISH

New Shoes (and others 😂 )

My old(er) tennis shoes have been really battered. For sure I have walked/run with them for more than 1000 km, so it was indeed already the time for a pair of new ones! Btw, I thought I bought them in early 2016 but then, as I browsed this blog, apparently I did so in October 2015! No wonder their condition has been like that! Haha 😆

And so one of my agenda while in Yogyakarta (for my 2016 year end trip) was to check some shoes stores, in case it was cheaper there than in Europe. But then, it turned out that it didn’t (it was actually more expensive in Indonesia than in Europe); and that was on top of the models which none I really liked, haha.

In January I went to Den Haag for some shoes shopping, but I also did not find any which I really liked. And so I decided to go online, haha. As always, I found it easier to find a model which I liked online; and as they were shoes, I was not worried about the size at all as it was pretty standard.

But the “problem” with shopping online was the “convenience” to also browse other stuffs as well, haha. I ended up buying, on top of the shoes, a new sports shirt underwear (because why not? 😛 ), and a new water bottle (because I have decided not to drink from “recycled” plastic bottles anymore 😛 ).

Some new stuffs
Some new stuffs

There was some drama with the delivery (the first time I had this experience) where the package actually got “lost” while in the system it was marked “delivered”. Luckily the store I bought those stuffs from was super professional and helpful, and they were willing to send me another package for free! Thanks a lot Tennis Warehouse Europe!

An Activity Tracker

An activity tracker from my office
An activity tracker from my office

Anyway, so my company wants all of its employees to be very healthy. And so last month, each of us got a new “activity tracker”, i.e. a watch-like device which tracks all your steps and sleeping records. There is also an app for our smartphone which we can connect the tracker with, where all the information can be stored and analyzed, haha.

It is quite cool! 😀

My activities. Yes, it was obviously a party night judging from my activity after 9 PM 🙈
My activity one day. Yes, it was obviously a party night judging from my activity after 9 PM 🙈

BAHASA INDONESIA

Sepatu baru (dan barang-barang lain juga 😂 )

Sepatu tenis lamaku sudah butut parah akhir-akhir ini. Yakin deh aku sudah berjalan-kaki/berlari dengannya sejauh lebih dari 1000 km, jadi memang sudah saatnya untuk ganti sepatu baru! Btw, aku kira sepatu itu aku beli di awal tahun 2016, tetapi ketika aku browsing-browsing cerita di blog ini, ternyata aku membelinya di bulan Oktober 2015! Nggak heran ya kondisinya sudah seperti itu! Haha 😆

Nah, jadilah salah satu agendaku ketika di Yogyakarta (untuk perjalanan akhir tahun 2016ku) adalah untuk mencek-cek toko-toko sepatu di sana, siapa tahu harganya lebih murah daripada Eropa. Tetapi ternyata itu tidak benar (bahkan harga sepatu di Indonesia itu lebih mahal daripada di Eropa loh, haha); dan juga di samping itu kebetulan modelnya tidak ada yang aku suka.

Di bulan Januari, aku pergi ke Den Haag untuk mencari sepatu. Tetapi ini juga tidak sukses karena tidak ada yang aku suka. Ya sudah deh, jadilah aku mencari sepati di internet, haha. Seperti biasa, aku merasa lebih mudah untuk mencari model yang aku suka di internet; dan karena sepatu, aku tidak khawatir masalah ukurannya karena seharusnya sih standar.

Tapi “masalah” dengan belanja online adalah “kemudahan” untuk melihat-lihat barang lain juga, haha. Jadilah akhirnya aku membeli, di samping sepatu, sebuah kaus dalam untuk olahraga (mengapa tidak? 😛 ), dan sebuah botol air minum (karena aku baru saja memutuskan untuk tidak lagi minum dari botol plastik bekas minuman apa gitu 😛 ).

Some new stuffs
Beberapa barang baru

Ada drama kecil sih dengan pengirimannya (pertama kalinya aku mendapatkan pengalaman seperti ini) dimana paketnya sebenarnya “hilang” tetapi di sistemnya sudah “diterima” olehku. Untungnya, toko tempat aku membeli barang-barang ini profesional dan helpful banget, bahkan mereka mau mengirimkan paket lagi untukku gratis loh! Terima kasih banyak Tennis Warehouse Europe!

Sebuah Activity Tracker

An activity tracker from my office
Sebuah activity tracker dari kantor

Anyway, jadi kantorku sekarang ingin agar seluruh karyawannya sehat. Jadilah bulan lalu, semua orang mendapatkan “activity tracker” baru, yaitu alat semacam jam tangan yang bisa merekam semua langkah kaki dan pola tidur kita. Tersedia pula app untuk smartphone yang bisa kita hubungkan dengan tracker-nya sehingga informasinya bisa tersimpan dan dianalisa, haha.

Lumayan keren dah! 😀

My activities. Yes, it was obviously a party night judging from my activity after 9 PM 🙈
Aktivitasku di suatu hari. Jelas ya ini adalah malam party dengan melihat aktivitasku setelah jam 9 malam! 🙈
General Life · Zilko's Life

#1810 – The First Day

ENGLISH

Officially, today is my first day with my new job in Amsterdam. Yeay for no longer being unemployed. But boo for my sabbatical month is now over 😦 .

However, as you are aware of, today is a Saturday. So technically I will only start to actually work this coming Monday, lol 😆 . Yeah, what a way to start a new job, right? With a weekend! Lol 😆 It is quite funny though that the exact same situation happened about four years ago when I started my PhD in TU Delft!

Life Update

Once I got the position, I immediately thought about moving to the neighbourhood of Amsterdam. It was for the obvious: practicality. I did a quick research at the time and found a few options that appeared good enough (location-wise and price-wise). However, when I dug in deeper into those options in July, I found out that they were not as good as they first appeared to be. In the sense that, on top of the monthly rent, I would have to invest a lot into the apartment/house with any of them. On the other hand, the ones which required few to no investment would cost a ton. Well, you get what you pay for, they say 😛 .

River Amstel in Amsterdam
House-rent in Amsterdam is not cheap

This situation made me rethink and reanalyze my options. And after a few considerations, I decided to extend my stay in Delft and, in the meantime, to commute everyday between Delft and Amsterdam. It is not that bad anyway, as my apartment in Delft is quite close to the railway station and my Amsterdam office is just two metro stations away from Amsterdam Centraal. I expect to spend at most 1.5 hour one way in each direction, door to door. I think it is still tolerable, but we will see how it actually goes, haha 😆 .

This Week Stories

Earlier this week I mentioned that I intended on using this week as my resting week. And so that was exactly what I did 😀 . But of course it did not mean that I did nothing and just ate and slept.

The Dracula Castle
The story from my trip to the Dracula Castle is ready!

First of all, I made use of my time this week to finish the stories of my Sabbatical Month trip to Romania, Greece, and Sint Maarten! Haha 😆 . It did take a lot of time but they are all pretty much ready now, just waiting for the moments to get published 😛 . There are some side stories which I might want to share as well, but writing those posts can always be done in the future, haha 😛 .

The Mullet Bay
The stories from the Caribbean is also ready

Secondly, as I had the time anyway, I exercised quite a lot this week. Even on Wednesday and Friday, I went to the gym twice a day! Haha 😆 . The tennis lesson at TU Delft also started two weeks ago (though I just joined last week as two weeks ago I was still in the Caribbean drinking cocktails), so I also did that.

Thirdly, in recent times one popular healthy food seems to be the smoothie bowls. I had been dying to try to make one myself, but the fact that I had no blender in my apartment hindered that. And the initial thought of moving to Amsterdam also prevented me in buying a blender because I thought I was going to move anyway so it would be better to buy one after I moved. But then, as you know now, the plan changed, lol 😆 . So this week I decided to buy a new blender and started to experiment with smoothie bowls! It is so much fun, btw! As one dish has millions of variations and looks, depending on what you put inside! Haha 😆 . For the moment I feel like my smoothie is still not thick enough, though, so I am still trying to get the grip there. But it is getting better 😀 .

BAHASA INDONESIA

Secara resmi, hari ini adalah hari pertamaku di pekerjaan baruku di Amsterdam. Hore, nggak lagi pengangguran deh. Tetapi sedih juga bulan sabatikalku sudah berakhir sekarang 😦 .

Namun, seperti yang kita semua sadari, hari ini adalah hari Sabtu. Jadi secara teknis aku baru akan mulai bekerja hari Senin nanti sih, huahaha 😆 . Iya, asyik banget ya suatu pekerjaan dimulai begini? Dimulai dengan libur akhir pekan! Huahaha 😆 . Eh, lucu juga lho bahwa situasi yang sama persis juga terjadi empat tahun lalu ketika aku memulai posisi S3 (PhD)-ku di TU Delft!

Update Kehidupan

Begitu aku mendapatkan posisinya, langsung terpikir bahwa aku akan pindah ke area Amsterdam. Alasannya jelas lah ya: supaya praktis. Waktu itu aku meriset kilat pilihan-pilihan yang ada di sana dan beberapa nampak cukup oke (dari segi lokasi maupun harga). Namun, ketika pilihan-pilihan itu aku pelajari lebih mendalam kira-kira di bulan Juli, aku menemukan bahwa mereka tidak lah seideal kesan pertama yang kudapatkan. Dalam artian, di samping biaya sewa bulanan, aku harus inves banyak di apartemen/rumahnya. Di sisi lain, biaya sewa pilihan-pilihan yang tidak memerlukan banyak inves juga mahal banget. Ya gitu deh, ada harga ada rupa, haha 😆 .

River Amstel in Amsterdam
Harga sewa rumah di Amsterdam itu tidak lah murah

Situasi ini membuatku memikirkan dan menganalisa ulang pilihan-pilihanku. Dan setelah pertimbangan ini-itu, aku memutuskan untuk memperpanjang masa tinggalku di Delft dan, sementara itu, nglaju deh setiap hari di antara Delft dan Amsterdam. Bukannya nggak enak juga sih, karena apartemenku di Delft kan berlokasi cukup dekat dengan stasiun kereta dan kantor Amsterdamku juga hanya lah dua stasiun metro saja jauhnya dari Amsterdam Centraal. Aku hitung-hitung sih seharusnya waktu tempuhku maksimal 1,5 jam deh satu arah dari pintu ke pintu. Aku rasa ini masih oke lah, tetapi kita lihat saja deh bagaimana nanti kenyataannya, haha 😆 .

Cerita Minggu ini

Awal minggu ini kusebutkan bahwa aku berencana menggunakan minggu ini untuk beristirahat. Dan memang itu yang kulakukan 😀 . Eh, tetapi bukannya aku nggak ngapa-ngapain dan makan tidur doang yah.

The Dracula Castle
Cerita perjalananku ke Kastil Drakula sudah siap kok!

Pertama-tama, aku menggunakan waktuku minggu ini untuk menyelesaikan rangkaian posting cerita perjalanan Bulan Sabatikalku ke Romania, Yunani, dan Sint Maarten! Haha 😆 . Ini memakan banyak sekali waktu lho tetapi sekarang semuanya sudah siap kok, tinggal tunggu jadwal tayangnya aja, haha 😛 . Ada juga beberapa cerita sampingan yang mungkin ingin kutuliskan, tetapi posting-posting ini mah bisa menunggu nanti kan ya, haha 😛 .

The Mullet Bay
Cerita dari Karibia juga sudah siap 😀

Yang kedua, karena ada waktu, aku banyak berolahraga minggu ini. Bahkan di hari Rabu dan Jumat, dalam sehari aku ke gym sampai dua kali loh! Haha 😆 . Les tenis di TU Delft juga sudah dimulai dua minggu yang lalu (walaupun aku baru mulai minggu lalu karena dua minggu lalu aku masih berada di Karibia sambil minum cocktail), jadi aku juga melakukan itu.

Yang ketiga, baru-baru ini satu makanan sehat yang lagi happening kan smoothie bowls ya. Aku sudah penasaran banget ingin mencoba membuat sendiri, tetapi kondisi dimana di apartemenku tidak ada blender menghambat keinginan itu. Dan pemikiran awalku untuk pindah ke Amsterdam juga membuatku tidak membeli blender karena kupikir aku akan pindah sehingga mendingan belinya setelah pindah aja. Tetapi, seperti yang sudah pada ketahui sekarang, rencananya berubah, haha 😆 . Jadilah minggu ini aku memutuskan untuk membeli sebuah blender baru dan mulai mainan membuat smoothie bowls dengannya! Seru deh! Ini karena satu masakan memiliki jutaan variasi dan penampilan, tergantung dari apa yang kita masukkan di dalamnya! Haha 😆 . Untuk saat ini, buatanku masih kurang kental sih, jadi aku masih berusaha untuk mendapatkan feel-nya. Tetapi semakin lama semakin oke juga kok 😀 .

General Life · Zilko's Life

#1784 – A “Marathon” Weekend Story

ENGLISH

I think the word “marathon” best-described this weekend of mine. Here is the recorded walking + running distance in my phone’s Health app:

My walking + running distance according to my smartphone
My walking + running distance according to my smartphone

Yes. My phone recorded an activity of 15.61 + 10.80 = 26.41 km of walking or running activity across Saturday and Sunday. And here, I must highlight the word “recorded” because some of my other (physical) activities were not recorded by the app 😛 .

I played tennis for about 1 hour and 45 minutes with a friend of mine on Saturday afternoon. Then, because I was running out of fried onions, I went to the Orientalmarkt in Delft after tennis. Speaking of which, this mid-month they are moving to a new place that will be 2.5 km further away from Delft. Well, actually because of this I don’t think they can claim themselves to be located in Delft anymore as the new place is actually closer to Ypenburg in Den Haag, haha 😆 .

I had to pass the Delftse Hout to get to the current Orientalmarkt. At the time, I noticed some rare pokemons in Delftse Hout that often were not present in Delft. This motivated me to come back to Delftse Hout the evening and the day later, haha 😆 . You see, Pokemon Go is indeed a good motivation for exercising! But too bad I could not find those rare pokemons on my two visits there 😦 . I only found the mainstream ones which were easily caught in Delft anyway (well, except for an Oddish and an Exeggcute).

Also on Sunday afternoon I hit the gym for two hours, haha 😆 . You see, so while I am not sure how much of the biking activity that “disrupts” the measurement my phone did across the weekend, I am fairly certain in total my activity across the weekend worthed more than “just” 26.41 km of walking and running! Haha 😆 .

Consequently, though, I was really hungry on Sunday night. Yes, about 10 km of the recorded activity on Sunday I did in the evening after dinner. So I was actually not surprised that my body was asking for some refueling, lol 😆 . As I was sure it was a “real” hunger not just a “mind-trick” hunger, I listened to it and had, well, fried Indomie noodles at 11 PM! Lol 😆

But no regret 😛 .

BAHASA INDONESIA

Aku rasa kata “maraton” mendeskripsikan akhir pekanku kemarin dengan pas. Berikut ini jarak jalan kaki + aktivitas lari yang terekam di app Health di smartphone-ku:

My walking + running distance according to my smartphone
Jarak jalan kaki + aktivitas lari menurut smartphone-ku

Iya, smartphone-ku merekam aktivitas jalan + lari sejauh 15,61 + 10,80 = 26,41 km di hari Sabtu dan Minggu. Dan disini, kata “merekam” harus kutekankan karena aktivitas (fisik)-ku lainnya ada yang tidak terekam oleh app ini 😛 .

Aku bermain tenis selama sekitar 1 jam 45 menit dengan seorang teman di hari Sabtu. Lalu, karena aku kehabisan bawang goreng, aku pergi ke Orientalmarkt di Delft setelah tenis. Ngomong-ngomong, pertengahan bulan ini mereka akan pindah ke lokasi baru nih yang mana berjarak 2,5 km lebih jauh daripad Delft. Yah, sebenarnya sih dengan begini aku kira mereka tidak akan bisa mengklaim berlokasi di Delft lagi sih ya karena lokasinya berada di area Ypenburg di Den Haag, haha 😆 .

Aku harus melewati Delftse Hout untuk mencapai lokasi Orientalmarkt yang sekarang. Waktu itu, aku lihat ada beberapa pokemon langka di Delftse Hout yang jarang kulihat di Delft. Ini memotivasiku untuk kembali ke Delftse Hout malam hari dan keesokan harinya, haha 😆 . Nah kan, Pokemon Go itu memang bisa menjadi motivasi yang baik untuk berolahraga! Tetapi sayangnya pokemon langkanya nggak ketemu nih di dua kunjunganku kesana itu 😦 . Aku cuma melihat yang mainstream-mainstream doang yang di Delft pun banyak bertebaran dimana-mana (eh, kecuali Oddish dan Exeggcute sih, haha).

Juga, di hari Minggu siang aku ke gym selama dua jam-an, haha 😆 . Nah kan, walaupun aku tidak tahu seberapa banyak aktivitas sepedaanku yang “mengganggu” pengukuran oleh smartphone-ku akhir pekan yang lalu ini, aku cukup yakin secara total aktivitas fisikku lebih daripada “cuma” berjalan-kaki atau berlari sejauh 26,41 km dah! Haha 😆 .

Sebagai akibatnya, sih, aku merasa lapar di hari Minggu malam. Iya, sekitar 10 km dari aktivitas hari Minggu-ku terekam setelah aku makan malam. Jadi sebenarnya aku tidak heran juga badanku meminta untuk “isi bensin” lagi gitu, haha 😆 . Karena aku yakin ini adalah lapar “beneran” dan bukan lapar
“mulut” doang, jadilah aku mendengarkannya. Dan malam itu, aku memasak Indomie goreng deh jam 11 malam! Huahaha 😆 .

Ah, tapi no regret kok 😛 .