EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#2014 – A Weekend in Newcastle

ENGLISH

I went to Newcastle last weekΒ for a short weekend getaway. And here is the story of this trip.

Getting to/back from Newcastle

At first, I was wondering whether to take KLM’s morning flight (departure at around 9 AM) or its noon flight (departure at around 12 PM) to get to Newcastle. However, after some considerations, that was heavily influenced by me not wanting to get up too early on Saturday morning πŸ˜› , I decided to take the latter. This flight was operated by a KLM Cityhopper’s Embraer 190 reg PH-EZS. Here is the landing video with PH-EZS at Newcastle International Airport:

For the returning flight, I took KLM’s last flight of the day that was operated by a Boeing 737-700 reg PH-BGN. This returning flight was delayed by around 40 minutes, though, apparently due to a technical problem with the original plane deployed for the flight to Newcastle from Amsterdam which prompted KLM to find a replacement aircraft. Anyway, both were pleasant regular short-haul flights with KLM.

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGN named “Jan van Gent” at Newcastle International Airport

Newcastle upon Tyne

I guess the “upon Tyne” part of the city’s name is to distinguish this Newcastle from “other” Newcastles, haha πŸ˜† . The name speaks for itself, though, the city, which also has a castle in it, lies on the bank of the River Tyne. This part of the city also happened to be my favorite part. You know, I like bridges and there are several cool bridges crossing the River Tyne in Newcastle, so it is a no brainer to me! Haha πŸ˜› .

The “Tyne” part of Newcastle upon Tyne

But Newcastle is, of course, more than just the “Tyne part”. To the north of the river is the old town area with cool European-styled buildings and quite some numbers of monuments. To the south of the river is Gateshead, a separate town which I found to be more modern architecturally.

A Newcastle selfie

On my second day in the city I decided to make use of theΒ Β£5 day-saver ticket which covered a very wide area of Newcastle and the surrounding, even to the Tynemouth and Sunderland area some 15-20 km away! Such a good deal if you ask me. For my route I decided to take the yellow line to the south of River Tyne to the village of South Shields. From there, I would cross the Tyne with a ferry crossing to the village of North Shields. I would then go to Tynemouth and after that back to Newcastle with the yellow line to the north of River Tyne. Such a fine plan, where everything also went smoothly!Β πŸ€“Β Btw, of course my day-saver ticket also covered the seven minutes ferry crossing.

The mouth of River Tyne in Tynemouth

Btw, Tynemouth was another place in the area whose name was literal. This town was located by the North sea and literally at the mouth of River Tyne, hence the name, “Tynemouth”. Well, I guess whoever naming it wasn’t feeling that creative that day, haha πŸ˜› . Anyway, Tynemouth turned out to be quite an interesting small town. There was a beautifully preserved castle by the sea and there was a weekend market going on every weekend at the Tynemouth metro station! I almost bought myself a painting at the market before I realized it would be quite some work to fit the painting into my backpack to bring it back to the Netherlands, haha…

Tynemouth Castle

Speaking of the food, unfortunately I did not have the opportunity to really explore it. I faced the same situation as I did in Cardiff back in September where it was pretty much almost impossible to get a seat at a popular restaurant without a reservation on a Saturday evening. So I ended up going to a world-themed restaurant inside a mall. Even then, the waitress warned me that they were so busy it might take some 40 minutes before my meal was ready. Actually I was still not that hungry at that point so this was actually perfectly fine for me as long as I could sit, haha. That evening I decided to order a lamb tagine with a Swedish cider which, a bit disappointingly, was served within 10 minutes only since I ordered, haha… . It was delicious!

A lamb tagine and a Swedish cider for dinner

Yeah, that was my short weekend trip to Newcastle. I did not go to any party in this party city so probably I still haven’t got the complete picture of the city, though. But overall it was still a fun weekend which I had in Newcastle anyway.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi keΒ Newcastle akhir pekan minggu laluΒ untuk sebuah perjalanan singkat. Dan berikut ini ceritanya.

Pergi ke/kembali dari Newcastle

Awalnya, aku galau apakah aku akan terbang dengan penerbangan paginya KLM (keberangkatan jam 9an pagi) atau penerbangan tengah harinya (keberangkatan sekitar jam 12 siang) untuk pergi ke Newcastle. Namun, setelah beberapa pertimbangan, yang mana terutama adalah aku ogah bangun pagi-pagi amat di hari Sabtu πŸ˜› , aku memutuskan untuk mengambil penerbangan yang kedua. Penerbangan ini dioperasikan dengan sebuah Embraer 190nya KLM Cityhopper dengan rego PH-EZS. Berikut ini video pendaratannya PH-EZS di Bandara Internasional Newcastle:

Untuk penerbangan kembaliku, aku menaiki penerbangan terakhirnya KLM hari itu yang dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-700 rego PH-BGN. Penerbangan kembali ini terlambat sekitar 40an menit, btw, yang mana ternyata dikarenakan masalah teknis di pesawat yang aslinya dijadwalkan untuk terbang ke Newcastle dari Amsterdam sehingga KLM harus mencari pesawat pengganti. Anyway, keduanya adalah penerbangan jarak pendek yang nyaman dengan KLM.

Sebuah Boeing 737-700nya KLM rego PH-BGN bernama “Jan van Gent” di Bandara Internasional Newcastle

Newcastle upon Tyne

Aku duga bagian “upon Tyne” dari nama kota ini adalah untuk membedakannya dari Newcastle-Newcastle “lainnya”, haha πŸ˜† . Maksud namanya mah jelas banget ya karena kotanya, yang mana di dalamnya juga terdapat sebuah kastil, terletak di pinggiran sungai Tyne. Kebetulan bagian ini dari kota ini jugalah favoritku. Ya gimana ya, aku kan memang suka jembatan dan ada beberapa jembatan keren yang membentang menyebrangi sungai Tyne di Newcastle, haha!

Bagian “Tyne” dari Newcastle upon Tyne

Tetapi tentu saja Newcastle itu lebih dari sekedar “bagian Tyne”-nya saja. Di sisi utara sungainya terdapat area kota tua kece dengan bangunan-bangunan ala Eropa dan beberapa monumen. Di sisi selatan sungainya adalah Gateshead, sebuah kota terpisah yang mana bagiku nampak lebih modern secara arsitektur.

Newcastle selfie

Di hari keduaku di sana, aku memutuskan untuk menggunakan tiket harian Β£5 yang mencakup area yang luas di Newcastle dan sekitarnya, bahkan termasuk area Tynemouth dan Sunderland yang berjarak sekitar 15-20an km dari Newcastle! Lumayan deh menurutku. Untuk ruteku, aku memutuskan untuk menaiki metro jalur kuning di sisi selatan sungai Tyne menuju desa South Shields. Dari sana, aku akan menyeberangi sungai Tyne dengan kapal feri menuju desa North Shields. Kemudian aku akan pergi ke Tynemouth sebelum kembali ke Newcastle dengan metro jalur kuning di sisi utara sungai Tyne. Rencana yang oke banget dah, dan pas pula semua berlangsung lancar! πŸ€“Β Btw, tentu saja tiket harian itu juga mencakup biaya penyeberangan dengan kapal ferinya.

Hilir sungai Tyne di Tynemouth

Btw, Tynemouth adalah satu tempat di daerah sana dengan nama yang literal juga. Kota kecil ini terletak di tepian Laut Utara dan berada tepat di hilir (mouth) sungai Tyne, makanya namanya “Tynemouth”. Aku duga sih siapa pun yang dulu menamainya lagi nggak kreatif kali ya hari itu, haha πŸ˜› . Anyway, Tynemouth ternyata adalah kota kecil yang menarik lho. Ada kastil tua yang terawat dengan indah di tepian pantainya dan ada pasar akhir pekan setiap minggu di stasiun metro Tynemouth! Aku sendiri nyaris membeli sebuah lukisan sampai kemudian ingat gimana cara membawa lukisannya kembali ke Belanda dengan tas ranselku, haha…

Kastil Tynemouth

Ngomongin makanan, sayangnya aku tidak berkesempatan untuk banyak mencobanya. Aku menghadapi situasi yang sama seperti di Cardiff September laluΒ dimana nyaris mustahil untuk bisa mendapatkan kursi kosong di restoran yang populer di malam Minggu. Jadilah aku akhirnya makan di restoran bertemakan dunia di dalam sebuah mall. Walaupun begitu, pelayannya memperingatkanku lho bahwa mereka sedang sibuk sehingga bisa jadi pesananku baru siap 40 menit kemudian. Sebenarnya pas waktu itu aku juga belum lapar-lapar banget sih sehingga malah beneran dong ya selama aku bisa duduk, haha. Malam itu aku memutuskan untuk mencoba menu lamb tagine dan minum Swedish cider yang mana, sedikit mengecewakannya, disajikan dalam waktu 10an menit saja semenjak aku memesannya, haha… . Kalau masalah rasa sih enak!

Sebuah lamb tagine dan Swedish cider untuk makan malam.

Ya, itu lah cerita perjalanan akhir pekanku ke Newcastle. Aku tidak pergi ke party apa pun sih di kota party ini sehingga mungkin aku masih belum mendapatkan pengalaman komplit akan kota ini. Tetapi secara keseluruhan aku menikmati waktuku di Newcastle kok.

Advertisements
EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#2010 – A Weekend Story, Again

ENGLISH

Yep, as my Instagram followers (@azilko) have known, I went on another weekend trip this weekend! And the destination was Newcastle upon Tyne!! :mrgreen:

Newcastle has been a bit of a bittersweet destination for the travel planning stage this year. You know, because last September I decided to cancel my non-refundable return flight ticket there due to the lack of hotel room availability that weekend possibly because of a special event or something. Consequently, I felt a sense of “unfinished business” with this city, haha πŸ˜† . And so in late September I was looking for another possibility to plan another weekend trip there. I found a reasonable return ticket with KLM for this weekend, and I decided to buy it; but of course after confirming that there was still good hotel room availability for the weekend! Haha πŸ˜› .

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGN at Newcastle International Airport

Anyway, Newcastle was, well, interesting, let’s put it this way. The old town area was quite beautiful (but so are other English cities), especially the part by the River Tyne with all the bridges. I didn’t go partying while I was there though, while the city was famous for this department. Nevertheless, I still quite enjoyed my time while I was there, which is the most important. And hereΒ are some teasers from the trip:

BAHASA INDONESIA

Seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan lagi kemarin ini! Dan tujuannya adalah: Newcastle upon Tyne!! :mrgreen:

Jadi ceritanya Newcastle telah menjadi tujuan yang agak “pahit” begitu untuk tahap perencanaan jalan-jalanku tahun ini. Masih ingat kan, karena September kemarin aku memutuskan untuk membatalkan tiket pp non-refundableΒ kesana akibat ketiadaan ketersediaan kamar hotel di akhir pekan ini yang mana sepertinya disebabkan oleh ada acara apa gitu. Sebagai akibatnya, aku jadi ada perasaan “penasaran yang belum tertuntaskan” gitu deh dengan kota ini, haha πŸ˜† . Dan jadilah di akhir September aku mencari kemungkinan untuk mengadakan perjalanan akhir pekan kesana. Aku menemukan tiket pp yang oke dengan KLM di akhir pekan ini dan memutuskan untuk membelinya; tentu setelah memastikan bahwa ketersediaan kamar hotelnya masih bagus ya untuk kali ini! Haha πŸ˜› .

Sebuah Boeing 737-700 rego PH-BGN milik KLM di Bandara Internasional Newcastle

Anyway, Newcastle ituΒ ternyata, hmm, interesting, kita sebut begini saja ya. Bagian kota tuanya lumayan indah sih (tetapi mah kota-kota lain di Inggris juga begitu, haha), terutama bagian di sisi sungai Tyne dengan semua jembatannya itu. Aku nggak pergi partying di sana padahal kota ini kan terkenal untuk party-nya, haha. Toh walaupun begitu, aku masih lumayan menikmati waktuku di sana kok, yang mana ini adalah yang paling penting dong ya. Di atas aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini.

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1987 – A Weekend in Manchester

ENGLISH

I went to Manchester for a weekend not too long ago. So let’s start the story πŸ˜€

Getting to/back from Manchester

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGL at Schiphol

I flew on three segments this weekend, a direct Amsterdam – Manchester flight with a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGL and Manchester – Paris and Paris – Amsterdam with Air France’s Airbus A320-200 reg F-HEPA and Airbus A319-100 reg F-GRXE, respectively, haha πŸ˜› .

The weather in the weekend was not in the best condition, though; where there were quite many minor turbulences along the wayΒ especially on the two Air France flights I took on Sunday, even more so on the AF1188 flight to Amsterdam. The KLM flight was smooth, though, even though we had to land during rain at Manchester. Here is the landing video was we were landing at runway 23R of the airport:

The KLM flight to Manchester was a little bit “unusual”, though. I was just flying economy but mid-flight, the purser came to my seat, addressed me by name (“Mr. Zilko”), and asked if everything about the flight was alright to me. Wow! As I said before, usually the flight attendants use the neutral “Sir/Ma’am/Miss” in economy! She mentioned that she wanted to make sure everything was alright as she knew that I was flying a lot with KLM/SkyTeam (and for this reason she didn’t ask my seatmates at all, haha πŸ˜› ). Oh wow, I was really impressed by this and was certainly felt really respected for my loyalty. You know, small things like this sometimes can go very far, can’t they? πŸ™‚

Manchester

Manchester Town Hall

I forgot to take into the account the time I would need to spend waiting at immigration when I booked the ticket. The KLM flight was scheduled to land just before 1 PM UK time, so I thought I would have quite plenty of time to spend in Manchester without having to get up too early that day to get to Schiphol, haha. But it turned out that this schedule coincided with the arrival schedule of several other flights from all over Europe as well, thus creating long lines at immigration! And with Manchester Airport’s Terminal 3 being located quite far away from the train station, all in all I could only check-in at my hotel in Manchester just after 3 PM! Haha πŸ˜† .

As I said above, the weather was also not in the best shape today, where it was raining constantly. So I decided to rest at the hotel while waiting for the rain to stop. I knew this would leave me with very little time to explore Manchester; but nonetheless I had been there once before anyway so it was not like I was going to miss much. Especially that I stayed for four nights the last time I was there, haha.

The (famous) Merchants’ Bridge in Castlefield, Manchester

And so I decided to make use of my short exploring time to go to a site I didn’t visit back then in 2013-2014: Castlefield. In my previous trip I saw the famous Merchants’ Bridge in Castlefield from the tram rides but back then I did not know that it was famous, haha. Since then, I have seen a few movies/tv-series with scenes taking place there, so I told myself the next time I would be in Manchester, I needed to cross that bridge, haha πŸ˜† . Castlefield was indeed a nice cute part of the industrial Manchester.

Speaking of the city, one difference I noticed was that I saw more homeless people in the street now than 3.5 years ago. This was certainly not a good sign of the state of the economy, perhaps. But I am not going to get into this as social politics or economy are not the scope of this personal blog at all. So I will just leave it here.

Bridges in Manchester

The Food

I decided to consult to Yelp to find a place for dinner. There, I stumbled across Burger and Lobster that was not amongst the best rated in the app but the “lobster” part in the name caught my attention and made me want some lobster, haha. Now that I think about it, the last time I had a lobster was probably almost two years ago at the famous Neptune Oyster in Boston!

When looking at the menu, I was torn between a full lobster dish (steamed or grilled) or a lobster beef burger. I decided to go with the burger because that was the freaking name of the restaurant: burger and lobster, haha πŸ˜† . A lady sitting across me apparently ordered a full lobster dish and when her order was served, I regretted a little bit that I didn’t opt for that one. But then, I also saw that eating a full lobster was actually not that simple with all the claws and shells and all that; so my regret was immediately gone, haha.

A lobster beef burger

Anyway, the lobster burger was good. I felt like the burger itself was in the smaller size, though; but this was quite possibly because of the expensive lobster meat in it. Though, this was compensated by the chips and side-salad. It was a decent dish, I must say.

The next morning for breakfast, I went to a Frankie and Benny’s. As I entered the restaurant, I realized that it was the same Frankie and Benny’s I had dinner at on New Year’s Eve 3.5 years ago! Somehow it felt really nostalgic! Haha πŸ˜†

Traditional English Breakfast

Anyway, the reason I went there was because I remembered from my previous trip that they served traditional English breakfast. And this time, I felt like having one, haha. And it was, indeed, good! πŸ™‚ It was also nice that the hot drink was “bottomless” so I could ask for a refill for my cafe latte, haha πŸ˜› .

BAHASA INDONESIA

Aku pergi ke Manchester di sebuah akhir pekan belum lama ini. Jadi mari ceritanya kita mulai πŸ˜€ .

Perjalanan ke/dari Manchester

Sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGL di Schiphol

Aku menaiki tiga penerbangan kali ini, sebuah penerbangan langsung Amsterdam – Manchester dengan Boeing 737-700 rego PH-BGLnya KLM, dan Manchester – Paris dan Paris – Amsterdam dengan Airbus A320-200 rego F-HEPA dan Airbus A319-100 rego F-GRXEnya Air France, haha πŸ˜› .

Cuaca di akhir pekan ini sedang kurang baik sih, dimana ada cukup banyak turbulensi minor di sepanjang jalan terutama di dua penerbangan Air France yang kunaiki di hari Minggu; terutama di penerbangan AF1188 ke Amsterdam yang rasanya kok penuh turbulensi di sepanjang jalan, haha. Penerbangannya KLM sendiri sih mulus, walaupun kami harus mendarat ketika sedang hujan di Manchester. Berikut ini video pendaratan di landasan pacu 23Rnya:

Penerbangan KLM ke Manchester ini agak sedikit “tidak biasa” untukku. Aku hanya terbang di kelas ekonomi saja tetapi di tengah perjalanan, purser-nya datang ke kursiku, menyapaku dengan nama (“Mr. Zilko”), dan bertanya apakah semuanya baik-baik saja denganku di penerbangan ini. Wow! SepertiΒ yang kubilang sebelumnya, biasanya pramugara/i menggunakan panggilan netral “Sir/Ma’am/Miss” di ekonomi kan! Ia menyebutkan bahwa ia ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja untukku karena ia tahu aku sering terbang dengan KLM/SkyTeam (dan karena alasan ini lah hanya aku saja yang disapa sementara penumpang-penumpang di sebelahku tidak, haha πŸ˜› ). Oh wow, aku sungguh terkesan dengan ini dan merasa loyalitasku dihargai banget. Tahu lah, kadang hal-hal kecil/sepele semacam ini justru bisa berdampak jangka panjang kan ya? πŸ™‚

Manchester

Manchester Town Hall

Aku lupa memperhitungkan waktu menunggu pemeriksaan imigrasi ketika membeli tiket. Penerbangan KLMnya dijadwalkan mendarat sebelum jam 1 siang waktu Inggris sehingga aku kira masih ada cukup banyak waktu lah untukku hari itu jalan-jalan di Manchester tanpa harus bangun pagi banget untuk berangkat ke Schiphol, haha. Tetapi ternyata jadwal ketibaan ini bebarengan dengan jadwal ketibaan beberapa penerbangan maskapai lain dari Eropa sehingga antrian di imigrasinya jadi panjang banget! Dan lagi lokasi Terminal 3 Bandara Manchester yang lumayan jauh dari stasiun keretanya, akhirnya totalnya aku baru bisa check-in di hotelku di Manchester lewat jam 3 sore loh! Haha πŸ˜†

Seperti yang kusebutkan sebelumnya, cuaca hari ini memang sedang kurang oke, dimana hujan terus-terusan turun. Jadilah aku memutuskan untuk beristirahat dulu di hotel sambil menunggu hujan reda. Aku tahu ini akan berakibat pada waktuku untuk jalan-jalan di Manchester menjadi semakin sempit lagi; tetapi toh aku sudah pernah kesana sebelumnyaΒ sehingga nggak akan banyak yang terlewatkan kan ya. Terutama lagi dulu aku kan menginap empat malam di sana, haha.

Jembatan Merchants’ (yang terkenal) di Castlefield, Manchester

Dan jadilah waktu yang sedikit itu kumanfaatkan untuk jalan-jalan di area yang dulu di tahun 2013-2014 belum sempat aku kunjungi: Castlefield. Di perjalanan dulu aku melihat Jembatan Merchants’ di Castlefield yang terkenal itu dari tram tetapi dulu aku kan nggak tahu kalau jembatannya terkenal, haha. Semenjak waktu itu, aku sudah menonton beberapa film/acara tv yang mana pernah syuting di jembatannya. Jadilah aku pikir kalau aku ke Manchester lagi, aku akan mampir, haha πŸ˜† . Castlefield memang adalah satu bagian Manchester yang menarik dan oke kok untuk jalan-jalan.

Ngomongin kotanya, satu perbedaan yang kuperhatikan adalah ada lebih banyak gelandangan sekarang daripada 3,5 tahun yang lalu. Ini jelas bukan pertanda baik dari ekonominya, mungkin. Ah, tetapi aku nggak akan ngomongin ini karena sosial politik dan ekonomi bukanlah cakupan dari blog personal ini kan ya. Jadi aku berhenti di sini saja deh.

Jembatan-jembatan di Manchester

Makanannya

Aku memutuskan untuk berkonsultasi dengan Yelp untuk makan malam. Di sana, aku melihat restoran Burger and Lobster yang sebenarnya bukan termasuk yang dinilai tinggi-tinggit amat tetapi bagian “lobster” dari namanya menarik perhatianku sampai-sampai aku jadi ingin makan lobster, haha. Kalau dipikir-pikir lagi, kalau nggak salah terakhir kali aku makan lobster adalah nyaris dua tahun yang lalu loh di Neptune Oyster di BostonΒ yang memang terkenal banget itu!

Ketika melihat menunya, aku galau antarai memilih menu lobster utuh (dikukus atau dibakar) atau burger sapi dan lobster. Aku memutuskan untuk memilih burger pada akhirnya karena sesuai dengan nama restorannya kan ya: burger dan lobster, haha πŸ˜† . Nah, seorang wanita yang duduk di seberangku ternyata memesan satu lobster utuh dan ketika pesanannya diantarkan, aku sedikit menyesal aku tidak memesannya. Tetapi kemudian, aku baru ingat bawa makan satu lobster utuh itu ribet karena ada capitnya dan kulitnya itu kan; jadilah penyesalanku langsung sirna, haha.

Sebuah burger sapi dan lobster

Anyway, burgernya sendiri lumayan enak kok. Ukuran burgernya cenderung kecil sih; dan aku duga ini dikarenakan daging lobster yang memang mahal kan. Walaupun begitu, kentang goreng dan saladnya membantu banget kok. Lumayan lah secara keseluruhan.

Keesokan paginya untuk sarapan, aku mampir di Frankie and Benny’s. Ketika aku memasuki restorannya, aku baru menyadari bahwa ini adalah Frankie and Benny’s yang sama dengan dimana aku makan malam diΒ malam tahun baru 3,5 tahun yang lalu! Rasanya kok jadi agak-agak nostalgia gitu! Haha πŸ˜†

Sarapan tradisional ala Inggris

Anyway, alasan aku mampir kesana adalah aku ingat dari perjalananku yang laluΒ bahwa mereka menyediakan sarapan tradisional ala Inggris untuk sarapan. Dan kali ini, aku sedang ingin sarapan itu, haha. Dan memang enak kok! πŸ™‚ Aku juga suka bahwa minuman hangatnya itu bottomless loh, dimana aku bisa meminta refill untuk cafe latte-ku, haha πŸ˜› .

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1982 – A Weekend Story

ENGLISH

As my Instagram followers (@azilko) have known, I went on yet another weekend trip this weekend! Haha πŸ˜› . This time, I went back to: Manchester!! This was my second trip to Manchester, after the first one being almost four years ago.

Anyway, this trip was a “special” one in the sense that, for the first time ever, I decided to cancel a non-refundable flight ticket. Yep, indeed, originally I intended to go to somewhere else instead of Manchester for the weekend; and that somewhere else was Newcastle. I found a cheap return ticket with KLM and bought it via a travel agency; feeling very sure I would go as, up to that point, I never had to cancel any trip. However, after purchasing the ticket, I just realized that this particular weekend was a super popular one for Newcastle (Apparently John Legend was having a concert there, might be it?); resulting in almost all hotel rooms had been booked. And the rest that were still available were highly overpriced due to, I guess, the very high demand.

For the first time ever, I had to cancel a non-refundable return KLM ticket.

After some calculations and considerations, I decided that the best way to “minimize” the damage was to just drop my Newcastle plan this weekend and go somewhere else. And this was how I “ended up” with Manchester; where I found a good combination between the flight ticket and, lesson-learned now, the hotel room, haha.

Anyway, Manchester was a nice city; just as how I remembered it from almost four years ago. As I stayed for four nights back then, I decided to just take it slow this weekend. Not a bad idea given that I also did not want to tire myself too much anyway, haha. As usual, here are some teasers from the trip.

BAHASA INDONESIA

Seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam perjalanan akhir pekan lagi loh kemarin ini! Haha πŸ˜› . Kali ini, aku kembali lagi ke: Manchester!! Ini adalah kali keduaku ke Manchester, setelah yang pertama kaliΒ hampir empat tahun lalu.

Anyway, perjalanan ini adalah perjalanan yang “spesial” karena, untuk pertama kalinya, aku memutuskan untuk membatalkan sebuah tiket pesawat yang non-refundable, haha. Iya, awalnya memang aku berencana untuk pergi ke suatu tempat lain bukannya Manchester, dan tempat lain itu adalah Newcastle. Aku menemukan tiket pp murah dengan KLM dan membelinya melalui sebuah agen travel; merasa sangat yakin aku akan pergi karena, sampai waktu itu, aku belum pernah membatalkan yang namanya perjalanan. Namun, setelah tiketnya kubeli, aku baru sadar bahwa akhir pekan ini adalah akhir pekan yang super ramai di Newcastle (Ternyata John Legend lagi konser gitu jadi mungkin ini penyebabnya?); dimana sebagai akibatnya hampir semua penginapan sudah habis. Sementara kamar-kamar yang tersisa overpriced banget karena, aku rasa, demand yang memang sedang tinggi banget.

Untuk pertama kalinya seumur hidup aku memilih untuk membatalkan tiket non-refundable KLM pp-ku.

Setelah beberapa perhitungan dan pertimbangan, aku memutuskan bahwa yang terbaik untuk “meminimalisir” damage adalah dengan membatalkan rencanaku ke Newcastle dan pergi ke tempat lain. Dan beginilah aku akhirnya pergi ke Manchester; dimana aku menemukan kombinasi yang oke antara tiket pesawat dan, langsung belajar dari pengalaman nih, kamar hotel, haha.

Anyway, Manchester sendiri adalah kota yang oke; sebagaimana yang kuingat dari empat tahun yang lalu. Karena dulu aku menginap empat malam di sana, kali ini aku memutuskan untuk santai-santai saja. Toh begini juga asyik karena aku juga nggak ingin terlalu capek juga sih, haha. Seperti biasa, di atas adalah beberapa teasers dari perjalanan ini.

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1975 – A Summer Weekend in London (Part II: London)

ENGLISH

Posts in the A Summer Weekend in London series:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: London

It is well-known already that I have fallen in love with London. So coming to this trip, I knew that I would enjoy my stay there. It was also good that I had been to London a few times before so I did not feel the need to “rush through” during the trip. I could just relax and enjoy my (short) time in the city that I loved.

Anyway, after checking in at my guest house, I went to the Canary Wharf for lunch. Obviously, I chose Jamie’s Italian because, well, London. Lol! I tried their burger this time and, of course, a bowl of polenta chips as well. It was really good!

Jamie’s Italian’s burger and polenta chips

After some quick rest in the afternoon, I decided to go to Blackfriars as I would want to go to the Millenium Bridge, haha. The Millenium Bridge was really crowded today, but it was actually nice and made the atmosphere more lively. From there, I walked aside the River Thames towards the east to the direction of the London Bridge and the Tower Bridge.

The Millenium Bridge

My favorite hang-out place in London now is the Potters Field Park by the Tower Bridge. The park was quite crowded today, possibly also because it was a Satuday evening, and also because there was a Latin American-themed event going on there. So it was indeed very lively and fun!

A Latin American event at Potters Field Park

At around 8 PM, I started to feel hungry so I went to a Nando’s nearby. FINALLY, I dined at a Nando’s in London!! (And it was only my second time ever in the UK with my first time being in Belfast, Northern Ireland almost two years ago, haha πŸ˜† ). I ordered their medium (in terms of spiciness) peri-peri chicken with coleslaw and side salad; as I wasn’t too hungry so I did not order some chips πŸ˜› . And it was good!!

A peri-peri chicken at Nando’s

The following day, after checking-out, I went to Westminster with one big mission which was to take the most touristy selfie in London: a selfie with Big Ben!! Haha πŸ˜† . As expected, it was very crowded there especially on the Westminster Bridge. Well, of course it was understandable that many other tourists also came there with the same mission as mine, haha πŸ˜† .

It turned out that the tower was undergoing some maintenance at the time so there were scaffoldings which made it look less nice. But then, I got this brilliant idea! If I stood a little bit further from the tower AND I let a vehicle pass almost by my sife and “block” the camera view of the scaffolding, then I would get a good selfie with Big Ben. And because it was London, which was famous for its red doubledecker buses, one of those could be this blocking vehicle!! And so I was waiting for some red doubledecker buses to pass, and it wasn’t long before one came. And … taa daa:

The ultimate mandatory tourist-in-London selfie

Yep, perhaps the most touristy selfie you could ever possibly take in London!! Haha πŸ˜†

Anyway, from there I walked towards the (very busy with long queue) London Eye and sat at a bench nearby. I felt like walking today so not long after, I walked towards the Trafalgar Square by crossing the Golden Jubilee pedestrian bridge. Trafalgar Square was also quite crowded today. Well, the weather was good so maybe people felt like going out.

Trafalgar Square

For lunch, I had decided that I would like to come back to Yauatcha, a one Michelin-star restaurant in Soho (I first went there two years ago). Soho wasn’t that far away from Trafalgar Square so I decided to walk there. It turned out I was a little bit too early so I first went to a cafe nearby to have an iced coffee. It was quite warm today in London anyway!

After I finished my coffee, I went to Yauatcha. Thankfully even though I had not made any reservation, there was still a vacant spot despite for only one hour. I ordered a quarter of their crispy duck and a white fried rice. The crispy duck came first, which the waiter “crushed” in front of me with fork and knife, thus making me need not to worry about the bones, haha. Though, the fried rice came a bit too much later; I wish they were served at the same time.Β Anyway, both were delicious! The duck was crispy on the outside but still moist in the inside! Wrapping it with the “pancake” (this was the term used by the waiter, btw; and it was basically like the wrapping you would get with Peking duck) along with the pickle and the sauce made it taste even more tasty!! I think this as how this dish was supposed to be eaten anyway, haha. The Chinese-style white fried rice was also good!!

My fine lunch at Yauatcha, a one-Michelin-star restaurant in Soho: a bowl of white fried rice and crispy duck.

Anyway, I was not told that the duck came with the pancake, actually. Because of this, I ordered the fried rice thinking the duck alone wouldn’t be enough. And now, I ended up with the duck with the pancake and a bowl of fried rice to finish! Haha πŸ˜† . As a consequence I came out the restaurant feeling quite too full, haha. Overall, it was a good fine lunch at Yauatcha. Of course it wasn’t quite “up class”, but for a one Michelin star restaurant, their a la carte menu was not expensive at all.

From there, I walked to Piccadilly Circus and Green Park to kill some time before having to go to the airport to catch my KLM flight back to Amsterdam from London City Airport (see Part I).

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri A Summer Weekend in London:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: London

Sudah sering kubilang bahwa telah lama aku jatuh cinta kepada London. Jadilah ketika berangkat di perjalanan ini, aku tahu perjalanan ini pasti akan seru. Asyik juga aku sudah pernah beberapa kali ke London sebelumnya sehingga aku tidak perlu “terburu-buru” gitu. Aku bisa bersantai-santai saja dan menikmati waktu (singkat)-ku di kota yang aku sukai ini.

Anyway, setelah check-in di guest house tempatku menginap, aku pergi ke Canary Wharf untuk makan siang. Jelas dong aku makan di Jamie’s Italian karena, hmm, London. Haha! Aku mencoba burgernya kali ini dan, tentu saja, polenta chips kesukaanku itu! Enak!

Burger dan polenta chips-nya Jamie’s Italian

Setelah beristirahat sejenak sorenya, aku pergi ke Blackfriars karena aku ingin menyeberangi Jembatan Millenium, haha. Jembatan Milleniumnya ramai hari ini, tetapi justru karena itu lah rasanya asyik karena atmosfernya terasa amat hidup. Dari sana, aku berjalan di sepanjang tepian Sungai Thames ke arah timur menuju Jembatan London dan Jembatan Menara (Tower Bridge).

Jembatan Millenium

Satu tempat hang out favoritku di London adalah Taman Potters Field di dekat Tower Bridge. Tamannya cukup ramai hari ini, mungkin karena memang malam Minggu dan juga sedang ada acara bertemakan Amerika Latin gitu di sana. Jadilah suasananya asyik dan hidup banget!

Sebuah acara bertemakan Amerika Latin di Potters Field Park

Sekitar jam 8 malam, aku mulai merasa lapar sehingga aku mampir di sebuah restoran Nando’s di dekat situ. AKHIRNYA aku makan Nando’s di London juga!! (Dan ini kali kedua nih aku makan di Nando’s di Inggris Raya (UK), setelah yang pertama kali adalah di Belfast, Irlandia Utara hampir dua tahun lalu, haha πŸ˜† ). Aku memesan ayam peri-peri medium (dari segi tingkat kepedasan) dengan coleslaw dan side salad; karena toh aku merasa tidak terlalu lapar sehingga aku tidak memesan kentang goreng πŸ˜› . Dan memang enak!!

Ayam peri-peri di Nando’s

Keesokan harinya, setelah check-out aku pergi ke Westminster dengan misi mengambil selfie paling touristy di London: selfie dengan Big Ben!! Haha πŸ˜† . Seperti dugaanku, ramai banget deh di sana terutama di Jembatan Westminsternya. Ya iya lah ya jelas aja ada banyak turis lain yang datang kesana dengan misi yang sama denganku, haha πŸ˜† .

Ternyata menaranya sedang dirawat kali ini sehingga ada banyak perancah bangunan (scaffoldings) yang mana mengganggu pemandangan lah ya, haha. Tetapi kemudian, aku mendapatkan ide brilian! Jika aku berdiri agak jauhan sedikit dari Big Bennya DAN sengaja membiarkan sebuah kendaraan lewat di sampingku dan “menutupi” pandangan kameraku akan perancah bangunannya, aku masih akan tetap mendapatkan selfie yang oke dengan Big Ben. Apalagi, London kan memang terkenal juga dengan bus tingkat merahnya itu, jadi bisa dong satu bus merahnya kujadikan kendaraan penutup perancah bangunan!! Jadilah aku menunggu satu bus tingkat merah itu untuk lewat. Dan tak lama kemudian, satu lewat dan… taa daa:

Selfie turis-di-London wajib yang London banget.

Yep, mungkin ini adalah selfie yang paling touristy yang bisa kita ambil di London ya!! Haha πŸ˜†

Anyway, dari sana aku berjalan ke arah London Eye (yang rame banget dengan antrian super panjang) dan duduk di sebuah bangku di dekat sana. Aku sedang merasa ingin banyak berjalan-kaki sehingga aku berjalan kaki ke arah Lapangan Trafalgar setelahnya dengan menyeberangi Jembatan Golden Jubilee. Lapangan Trafalgar ramai banget juga hari ini. Yah, cuacanya memang sedang oke sih sehingga mungkin banyak yang memanfaatkannya untuk keluar ya.

Lapangan Trafalgar

Untuk makan siang, aku memutuskan untuk kembali ke Yauatcha, sebuah restoran Michelin bintang satu di Soho (Aku pertama kali kesana dua tahun lalu). Soho tidaklah jauh dari Lapangan Trafalgar sehingga aku berjalan-kaki kesana. Ternyata aku agak keawalan sehingga aku mampir dulu di kafe di dekat situ untuk memesan es kopi. Toh kebetulan cuaca di London lagi lumayan hangat hari ini!

Setelah menghabiskan kopiku, aku kembali ke Yauatcha. Untungnya, walaupun tidak memiliki reservasi, ada meja kosong selama satu jam untukku. Aku memesan bebek crispy dan nasi goreng putih kali ini. Bebek crispy-nya datang duluan, yang kemudian “disuwirkan” oleh pelayannya di depanku dengan garpu dan pisau, sehingga aku tidak perlu pusing-pusing memikirkan tulangnya, haha. Sayangnya, nasi gorengnya datang belakangan sih; padahal aku berharap ini disajikan bersamaan kan ya. Ah, tapi yang penting rasanya enak! Bebeknya beneran crispy di luar tetapi dalamnya masih moist gitu! Membalutnya dengan “pancake“-nya (ini istilah yang digunakan pelayannya lho, haha; yah kurang lebih seperti kulit yang digunakan untuk membalut bebek Peking itu lho) bersama dengan acar dan sausnya membuatnya terasa lebih enak lagi!! Yah, memang menu ini sepertinya memang dimaksudkan dimakan demikian ya, haha. Nasi goreng putihnya juga enak!!

Fine lunch-ku di Yauatcha, sebuah restoran Michelin bintang satu di Soho: satu mangkok nasi goreng putih dan bebek crispy.

Anyway, sayangnya aku tidak diberi-tahu bahwa bebeknya disajikan dengan pancake-nya itu. Karena itu, aku memesan nasi gorengnya berpikir bebeknya saja tidak akan membuatku kenyang. Jadilah sekarang aku mendapatkan seporsi bebek dengan pancake-nya dan satu mangkok nasi goreng untuk dihabiskan! Haha πŸ˜† . Jadilah aku keluar dengan perasaan sedikit kekenyangan, haha. Secara keseluruhan, ini adalah fine lunch yang enak di Yauatcha. Tentu saja restorannya agak “up class“, tetapi dengan mempertimbangkan status Michelin bintang satunya, menu a la cartenya tergolong nggak mahal lah.

Dari sana, aku berjalan ke Piccadilly Circus dan Green Park untuk menghabiskan waktu sebelum pergi ke bandara untuk mengejar penerbangan KLMku kembali ke Amsterdam dari Bandara London City (baca Bagian I).

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1967 – Another Weekend Story

ENGLISH

Posts in the A Summer Weekend in London series:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: London

As my Instagram followers (@azilko) have known, I went on yet another weekend trip this weekend! Haha πŸ˜› . This time, I went back to: London!!

The ultimate mandatory tourist-in-London selfie

Yep, I know that I was just literally in London a month ago for an impromptu weekend trip for Wimbledon. But indeed that was the point, that trip was entirely for Wimbledon so I didn’t have any time to enjoy London, my favorite European city, itself, haha.

To make this trip more fun, I decided that I would fly to my most favorite airport of London (London is served by six airports, btw): London City Airport (LCY)!Β At the time I realized that despite this airport being my favorite, the last time I flew there was actually in 2013 when I was flying back to Rotterdam with CityJet’s Fokker 50Β after a conference in London in my first year of PhD. That was already more than FOUR years ago! 😱

I got upgraded to Europe Business Class AGAIN!!

And also, remember thatΒ two weeks ago I got upgraded to Europe Business ClassΒ on my KLM Berlin to Amsterdam flight. As it turned out, this time I got upgraded to Europe Business Class AGAIN on my KLM Cityhoppr KL994 flight from London City to Amsterdam!! Awesome, eh!! Hahaha πŸ˜†

I knew London was my favorite city so I knew what to expect. I knew that I would enjoy it because, well, London. So all in all it was, indeed, a really fun weekend. As usual, here are some teasers of the trip:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri A Summer Weekend in London:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: London

Seperti yang followersΒ Instagramku (@azilko) ketahui, aku jalan-jalan lagi loh akhir pekan ini! Haha πŸ˜› . Kali ini, tujuannya adalah: London!!

Selfie turis-di-London wajib yang London banget.

Iyaa, tahu kok aku memang baru saja pergi ke London bulan lalu untuk sebuah perjalanan akhir pekan super dadakan untuk menonton Wimbledon. Tapi ya justru di situlah intinya, perjalanan ini kan murni untuk Wimbledon aja sehingga aku tidak memiliki waktu untuk menikmati London itu sendiri, yang mana merupakan kota favoritku di Eropa, haha.

Nah untuk membuat perjalanan ini semakin seru, aku memutuskan untuk terbang ke bandara favoritku di London (London memiliki enam bandara, btw): Bandara London City (LCY)! Waktu itu aku baru menyadari bahwa walaupun bandara ini bandara favoritku, terakhir kali aku terbang kesana adalah di tahun 2013 ketika aku pulang ke Rotterdam dengan pesawat Fokker 50nya CityJet setelah sebuah konferensi di London di tahun pertama PhD/S3-ku. Yang mana artinya sudah lebih dari EMPAT tahun yang lalu dong ya! 😱

Aku di-upgrade ke kelas bisnis Eropa LAGI dong!!

Apalagi ya, dua minggu yang lalu kan aku di-upgrade ke kelas bisnis Eropa di penerbangan KLM Berlin ke Amsterdam tuh. Nah, kali ini ternyata aku di-upgrade ke kelas bisnis Eropa LAGI dong di penerbangan KLM Cityhopper KL994-ku dari London City ke Amsterdam!! Asyik banget ya!! Hahaha πŸ˜†

Aku tahu London adalah kota favoritku sehingga ya aku tahu perjalanan ini bakal seru dan aku akan sangat menikmatinya karena, yah, London, haha. Jadi secara keseluruhan perjalanan ini memang asyik banget dah. Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa teasers dari perjalanan ini.

Tennis · Vacation · Weekend Trip

#1962 – An Impulsive Wimbledon 2017 Trip (Part II: Wimbledon 2017)

ENGLISH

Posts in the An Impulsive Wimbledon 2017 Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

***

I took the Tube from Liverpool Street Station to Southfields, the closest Tube station to the All England Lawn Tennis Club, the venue of the tournament. I had to walk for about 20 minutes to my gate (there were several gates as the entry point, and a spectator was assigned to a specific gate based on his/her ticket), which was quite a nice walk in one of London’s posh neighbourhoods πŸ˜› .

The neighbourhood of Wimbledon

The gate was finally opened at 10:30 AM. The multiple gates system was quite good in my opinion where the queue in each gate was not terribly long. I was handed my official ticket at the gate and then got the thorough security check before I was admitted to the ground. And there I was, feeling very excited that I was back in Wimbledon again this year!! Even more excited because I was finally going to watch a Venus Williams’ official singles match for the first time ever; and it happened to be a Wimbledon final match!! 😍

Venus’ match would not start before 2 PM so I had plenty of time before that. So obviously I went around Wimbledon’s beautiful venue, and planned on taking a selfie at Henman Hill with the Wimbledon 2017 flowers arrangement. While doing so, a BBC live camera was apparently shooting the Henman Hill and so me selfie-ing got broadcasted on live TV, lol 😱 .

Selfie-ing at Henman Hill!

After going around for a few rounds, I started to get hungry so I decided to get my favorite dish from two years ago: the southern fried chicken that was only sold at one stall in the whole venue: in the Aorangi food area underneath Court No.1 πŸ˜› . This time, though, the chicken was a little bit too overcooked and the chips was too much to me that I could not finish it, haha πŸ˜› . But of course, after that I still had my scoop of strawberry and cream. You know, a trip to Wimbledon is NEVER complete without one!

Southern fried chicken
Because a trip to Wimbledon is NEVER complete without a bowl of strawberry and cream

The weather was not perfect today, where thick cloud was hanging throughout the day and occassional showers fell. So I went underneath the Centre Court, where (finally!) they had put some boards listing the past winners of the championships. As for the (recent) ladies’ singles, here is the partial list:

The list of the ladies’ singles champions

Yep, as you can see, a certain surname is indeed dominating the list since the year 2000! Haha :mrgreen: . Yep, Venus Wiliams and Serena Williams had won twelve Wimbledon singles titles for the seventeen years between 2000 and 2016. The other five were won by Petra Kvitova (twice), Marion Bartoli, Amelie Mauresmo, and Maria Sharapova.

Anyway, I decided to enter the Centre Court not long after, as I got quite tired from walking anyway, haha πŸ˜† . But since it was still about 45 minutes before the match would start, I decided to go closer to the court first to take my picture taken πŸ˜› .

Back at Wimbledon Centre Court this year.

Then, I went back to my seat, rested my legs a little bit and charged my camera’s battery while there was still time, haha πŸ˜† . Just before 2 PM, the match preparation started with the ballkids entering the court, followed by the line-judges. At 2 PM, both finalists, Venus Williams and Garbine Muguruza entered the court. At this time, I felt a little bit emotional seeing Venus Williams walking there, still fighting hard for grandslam singles titles, even at the age of 37, while battling an incurable auto-immune disease! To me, she is a total inspiration.

Seeing Venus Williams entering Wimbledon’s Centre Court for a Wimbledon singles final gave me chill!!

Muguruza won the coin toss and elected to receive, meaning Venus would serve first. The two players warmed up, and then the match started. The match started really competitively and was immediately at a really high level. The match’s first shot was even Venus’ big serve to the T that became an ace.

Venus Williams started the match with an ace

The two players really went toe to toe and so the match was really, really exciting at this point. Muguruza, especially, played really well in my opinion where I felt like she read Venus’ serves really well today. Nonetheless, the match finally reached the score 4*-5 (15-40) on Muguruza’s serve, meaning Venus had two set points, or opportunities, to win the first set. At this time, both players hit amazing shot after shot after shot, producing a long rally in the teens, which ended with Venus’ forehand error that hit the net. And from my observation, this became the turning point of the match.

Garbine Muguruza was reading Venus’ serves well today.

For whatever reason, it appeared to me that Venus dwelled on this point too much, thus affecting her mind state. Since then, she appeared to rapidly lose her timing and focus, and started to hit more and more unforced errors. Muguruza did well where she kept her composure and focus. It was not that Venus did not try. It was obvious that she tried hard; but she just could not string several good points together. As a result? Well, Muguruza won nine straight games since that turning point, closing the match in only 73 minutes and won 7–5, 6–0.

Garbine Muguruza won her second grandslam title.

Venus, being a champion that she is, was being grace in defeat. It was clear that she was disappointed and sad herself, from her voice during the runner-up interview with Sue Barker on court during the trophy ceremony. But indeed, Garbine Muguruza deserved to win today! She played an amazing aggressive tennis and it paid off at Wimbledon. Thus, she won her second grandslam title and became the first player, ever, to have beaten both Serena and Venus Williams in grandslam finals. Her first grandslam title was the French Open last year where she beat Serena, in a match which I also watched in person 😣. Though to be honest, I like Garbine Muguruza. But obviously at this time, I still like both Venus and Serena Williams “better” πŸ˜› .

Garbine Muguruza won Wimbledon 2017.
Venus Williams and her runner-up trophy.

The next match that followed was the men’s doubles final between Lukasz Kubot and Marcelo Melo, the fourth seed, versus Mate Pavic and Oliver Marach, the sixteenth seed. Kubot and Melo had been playing especially well this year. And with their victory over Henri Kontinen and John Peers, the first seed, in the semifinals, Marcelo Melo would take the world no.1 position from Henri Kontinen in the following week.

Anyway, I stayed during the first set of the match, which went toe to toe but in the end, Pavic/Marach got the important break from Kubot/Melo in the twelfth game, and won it 7–5. I decided to stretch my legs after the first set and left my seat. I went around the ground where at the time, some other events were also being held, namely the legends events and the wheelchair events.

A men’s legends match between Lleyton Hewitt/Mark Philippoussis and Mansour Bahrami/Michael Llodra

It was around 6 PM already so I decided to have dinner. I got the sizzling pheri-pheri chicken where I exchanged the bread for extra salad, haha. This dish turned out to be really delicious, btw, and I actually preferred this one than the southern fried chicken I had earlier! Haha πŸ˜† .

Sizzling pheri-pheri chicken with lots of salad!

I went back to my seat and at the time, Kubot/Melo had won the second and third set 7–5, 7–6, respectively. However, they were down a break in the fourth set already. Pavic/Marach took the fourth set 6–3, meaning the match officially went to the decider fifth set. Both teams held their nerves really well during the decider. Kubot/Melo had the slight advantage of serving first, and so that Pavic/Marach had to face the pressure of serving to keep the match alive for a few times. This pressure almost got to them were Kubot/Melo had a few break points and even championships points; but Pavic/Marach were able to save them all.

An exciting men’s doubles final this year between Lukasz Kubot/Marcello Melo (in the closer side of the court) versus Mate Pavic/Oliver Marach (in the farther side of the court).

The match went toe to toe in the decider, and finally hitting 8*–9 score just after 8 PM. For whatever reason, I felt really tired already (I think Venus’ loss took some energy out of me πŸ˜› ). I felt like I already had my ticket money worth anyway, even though the final ladies’ doubles match was still scheduled following the men’s doubles final. And so I decided to leave the venue.

I walked back to Southfields station and then took the Tube to Victoria. I checked-in at my hotel in the area and got into my room. I checked the score, and it turned out after more than 4.5 hours, Kubot/Marach finally won the fifth set 13–11, haha. The ladies’ final followed afterwards. The match turned out to be the complete opposite where the second seed, Ekaterina Makarova and Elena Vesnina, double-bagelled (won 6–0, 6–0) the ninth seed, Chan Hao-Ching/Monica Niculescu.

Marcelo Melo’s return to world no.1 was made even sweeter with a Wimbledon title.

And here, my impromptu trip to Wimbledon 2017 officially ended.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri An Impulsive Wimbledon 2017 Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

***

Aku menaiki Tube dari Stasiun Liverpool Street menuju Southfields, stasiun Tube terdekat dengan All England Lawn Tennis Club, lokasi turnamennya. Aku harus berjalan sekitar 20 menit dari sana ke gerbang masukku (ada beberapa gerbang yang digunakan sebagai pintu masuk, dan gerbang untuk setiap penonton sudah ditetapkan secara spesifik berdasarkan tiketnya), yang mana oke juga karena aku berjalan-kaki di salah satu daerahnya London yang terasa posh banget πŸ˜› .

Lingkungan di areanya Wimbledon

Gerbangnya dibuka jam 10:30 pagi. Sistem beberapa gerbang ini cukup baik menurutku dimana akibatnya antrian di masing-masing gerbang tidak lah terlalu panjang. Tiket resmiku diberikan di gerbang dan setiap penonton harus melewati pemeriksaan sekuriti yang ketat sebelum diizinkan masuk. Dan di sana lah aku, kembali merasa bersemangat banget karena aku kembali di Wimbledon juga tahun ini!! Lebih bersemangat lagi karena akhirnya aku akan menonton sebuah pertandingan tunggal resminya Venus Williams untuk pertama kalinya; mana pertandingannya adalah babak final Wimbledon pula!! 😍

Pertandingannya Venus baru akan dimainkan jam 2 siang sehingga masih ada banyak waktu sebelum itu. Jelas aku berkeliling arenanya Wimbledon yang memang indah banget itu, dan berencana untuk selfie di Henman Hill dengan rangkaian bunga Wimbledon 2017nya. Ketika sedang selfie-selfie, ternyata kamera siaran langsungnya BBC sedang menyorot Henman Hill dong jadilah aku yang sedang selfie-selfie ditayangkan langsung di TV, huaaa 😱 .

Selfie dulu di Henman Hill!

Setelah berkeliling beberapa kali, aku mulai merasa lapar sehingga aku memutuskan untuk makan menu favoritku dari dua tahun lalu: southern fried chickenΒ yang hanya dijual di satu konter saja di seluruh arenanya: di food court Aorangi di bawah Lapangan No.1 πŸ˜› . Kali ini, ayamnya agak terlalu matang dan kentangnya juga kebanyakan sehingga aku tidak habis, haha πŸ˜› . Tetapi tentu saja, biarpun begitu setelahnya aku tetap membeli strawberry and cream dong ya. Karena tentu saja, perjalanan ke Wimbledon itu TIDAK PERNAH lengkap tanpa seporsi strawberry and cream!

Southern fried chicken
Karena perjalanan ke Wimbledon itu TAK AKAN pernah lengkap tanpa satu mangkok strawberry and cream

Cuaca hari ini tidak lah sempurna, dimana awan menggantung tebal dan terkadang hujan juga turun. Jadilah aku pergi ke bagian bawah Centre Court, dimana (akhirnya!) Wimbledon memasang papan-papan yang berisi daftar nama juara-juara turnamen ini sebelumnya. Dan untuk tunggal putri, berikut ini (sebagian) daftarnya:

Daftar juara tunggal putri

Yep, seperti yang bisa dilihat, satu nama keluarga tertentu memang mendominasi daftar ini ya semenjak tahun 2000! Haha :mrgreen: . Ya, Venus Williams dan Serena Williams telah memenangi dua belas gelar tunggal Wimbledon di tujuh belas tahun antara tahun 2000 dan 2016. Lima lainnya dijuarai oleh Petra Kvitova (dua kali), Marion Bartoli, Amelie Mauresmo, dan Maria Sharapova.

Anyway, aku memutuskan untuk masuk ke Centre Court tak lama setelahnya, karena aku merasa cukup lelah telah berjalan banyak, haha πŸ˜† . Tapi karena masih 45an menit sebelum pertandingan dimulai, aku turun ke dekat lapangannya dulu untuk foto-foto πŸ˜› .

Kembali di Wimbledon Centre Court tahun ini.

Lalu, aku kembali ke kursiku, dan mengistirahatkan kakiku sekalian menge-charge baterai kameraku mumpung ada waktu nganggur, haha πŸ˜† . Sebelum jam 2 siang, persiapan pertandingan dimulai dimana ballkids masuk ke lapangan dan diikuti dengan hakim garis. Tepat jam 2 siang, kedua finalis, Venus Williams dan Garbine Muguruza memasuki lapangan. Waktu ini, entah mengapa aku agak baper gitu melihat Venus Williams berjalan memasuki lapangan, masih bertekad dan berjuang keras untuk menjuarai turnamen grandslam lagi, di umurnya yang sudah 37 tahun, sembari melawan penyakit kekebalan-tubuh yang tidak bisa disembuhkan! Ia sungguh menginspirasiku.

Melihat Venus Williams memasuki Centre Court -nya Wimbledon untuk babak final tunggal putri turnamen ini membuatku merinding!!

Muguruza memenangi coin toss dan memutuskan untuk receive, artinya Venus akan servis duluan. Kedua pemain melakukan pemanasan, dan kemudian pertandingan dimulai. Pertandingan dimulai langsung dengan level yang tinggi dan amat kompetitif. Bahkan pukulan pertamanya adalah servis kerasnya Venus ke T yang menjadi pukulan as.

Venus Williams memulai pertandingan dengan pukulan as.

Keduanya bermain dengan seimbang dan sangat ketat sehingga pertandingannya berlangsung amat, amat seru. Muguruza, terutama, bermain dengan amat baik dimana dari sudut pandangku dia bisa membaca servisnya Venus dengan baik hari ini. Toh walaupun begitu, pada akhirnya pertandingan mencapai posisi skor 4*-5 (15-40) di servisnya Muguruza, yang berarti Venus memiliki dua set pointsΒ alias kesempatan untuk memenangi set pertama. Di poin ini, kedua pemain memukul pukulan yang brilian, brilian, dan brilian berturut-turutan, sehingga terciptalah reli sebanyak sekian belas pukulan, yang berakhir dengan Venus membuat kesalahan di pukulan forehand. Sepengamatanku, ini menjadi titik balik pertandingan ini.

Garbine Muguruza membaca servisnya Venus Williams dengan amat baik hari ini.

Entah karena alasan apa, nampaknya Venus terlalu memikirkan poin tersebut dan gagal move-onΒ darinya, yang mana mempengaruhi fokus dan mentalnya. Semenjak poin ini, secara cepat ia mulai kehilangan timing dan fokusnya menurun, dan akibatnya mulai membuat banyak kesalahan-kesalahan sendiri. Muguruza tetap mempertahankan fokus dan ketenangan-dirinya. Bukannya Venus langsung menyerah sih. Memang terlihat ia berusaha keras membalikkan situasi; tetapi masalahnya ia tidak bisa untuk memainkan beberapa poin dengan baik secara berturutan. Sebagai akibatnya? Hmm, semenjak titik balik itu, Muguruza memenangi sembilan game berturutan dan menjuarai turnamen ini dengan skor 7–5, 6–0 dalam 73 menit.

Garbine Muguruza menjuarai gelar grandslam keduanya.

Venus, yang memang bermental juara, berlaku sportif dalam kekalahan. Jelas ia merasa kecewa dan sedih sekali, nampak dari suaranya ketika diwawancara oleh Sue Barker sebagai runner-upΒ di turnamen ini di upacara pemberian piala. Tapi memang kok, Garbine Muguruza layak menang hari ini! Ia bermain tenis secara agresif dan brilian, dan strategi ini memang cocok untuk Wimbledon. Akibatnya, ia menjuarai gelar grandslam keduanya dan menjadi petenis pertama yang pernah mengalahkan Serena dan Venus Williams di final grandslam. Gelar grandslam pertamanya adalah French Open tahun lalu dimana ia mengalahkan Serena di final, sebuah pertandingan yang mana juga aku tonton langsung 😣. Walaupun sejujurnya, aku juga suka Garbine Muguruza sih. Tapi jelas untuk saat ini, aku masih lebih suka Venus dan Serena Williams πŸ˜› .

Garbine Muguruza menjuarai Wimbledon 2017.
Venus Williams dengan piala runner-up-nya.

Pertandingan selanjutnya adalah final ganda putra antara Lukasz Kubot dan Marcelo Melo, tim unggulan keempat, melawan Mate Pavic dan Oliver Marach, tim unggulan ke-enam-belas.Kubot dan Melo sudah bermain baik tahun ini. Dan dengan kemenangan mereka melawan Henri Kontinen dan John Peers, tim unggulan pertama, di babak semifinal, Marcelo Melo akan naik ke posisi peringkat 1 dunia menggantikan Henri Kontinen di minggu berikutnya.

Anyway, aku menonton set pertama yang berlangsung seru, tetapi akhirnya Pavic/Marach berhasil mematahkan servisnya Kubot/Meli di game ke-dua-belas, dan memenangi set pertama 7–5. Aku memutuskan untuk meluruskan kaki setelah set pertama. Aku kemudian berkeliling arenanya lagi dimana beberapa pertandingan lain sedang dimainkan, misalnya pertandingan legenda atau tenis kursi roda.

Pertandingan legenda putra antara Lleyton Hewitt/Mark Philippoussis dan Mansour Bahrami/Michael Llodra

Karena sudah jam 6 sore, aku memutuskan untuk makan malam dulu. Aku memesan sizzling pheri-pheri chicken yang mana aku menukar rotinya dengan salad ekstra, haha. Menu ini ternyata enak banget loh, dan sebenarnya aku malah lebih suka menu ini daripada southern fried chicken yang sebelumnya aku makan! Haha πŸ˜† .

Sizzling pheri-pheri chicken dengan banyak salad!

Aku kembali ke kursiku, dan waktu itu Kubot/Melo sudah memenangi set kedua dan ketiga dengan skor 7–5, 7–6. Namun, mereka tertinggal di set keempat. Pavic/Marach memenangi set keempat 6–3, yang mana artinya pertandingannya masuk ke babak penentuan dimana set kelima harus dimainkan. Kedua tim bermain baik dan tenang di babak penentuan ini. Kubot/Melo sedikit diuntungkan karena servis duluan, sehingga beberapa kali Pavic/Marach berada di situasi bertekanan tinggi dimana servis mereka tidak boleh terpatahkan agar tetap bisa bertahan. Tekanan ini nyaris menghancurkan mereka dimana Kubot/Melo memiliki beberapa break points dan bahkan championships points; tetapi Pavic/Marach berhasil menyelamatkan semuanya.

Babak final ganda putra yang seru banget tahun ini antara Lukasz Kubot/Marcello Melo (di sisi lapangan yang lebih dekat) melawan Mate Pavic/Oliver Marach (di sisi lapangan yang lebih jauh).

Set kelima berlangsung ketat banget, sampai akhirnya mencapai skor 8*–9 setelah jam 8 malam lewat. Entah mengapa, aku tiba-tiba merasa lelah (aku duga sih kekalahannya Venus menghabiskan banyak energiku πŸ˜› ). Aku merasa toh aku sudah cukup menikmati harga tiket yang harus aku keluarkan; dan walaupun masih ada babak final ganda putri yang belum dimainkan, aku memutuskan untuk meninggalkan arenanya.

Aku berjalan ke Stasiun Southfields dan kemudian naik Tube ke Victoria. Aku check-in di hotelku di daerah situ dan masuk ke kamarku. Aku menyalakan TV dan ternyata setelah 4,5 jam lebih, Kubot/Marach akhirnya memenangi set kelima 13–11, haha. Final ganda putri dimainkan setelahnya. Dan pertandingan ini berkebalikan sekali dengan final ganda putra, dimana tim unggulan kedua, Ekaterina Makarova dan Elena Vesnina, men-double-bagel (menang dengan skor 6–0, 6–0) tim unggulan kesembilan, Chan Hao-Ching/Monica Niculescu.

Kembalinya Marcelo Melo ke peringkat 1 dunia menjadi semakin manis lagi dengan gelar Wimbledon.

Dan di sini, perjalanan dadakanku ke Wimbledon 2017 resmi berakhir.