PhD Life, Zilko's Life

#2134 – Earlier This Week in Delft

ENGLISH

I went to Delft earlier this week. Yeah, I mentioned some time ago that I hadn’t been back to Delft since the day I moved to Amsterdam. Finally, this statement is now no longer true! Haha 😛

Obviously I did not go there just because and without a reason, haha 😆 . My PhD project consisted of two parts, each was handled by a PhD; one was myself, which I successfully defended earlier last year, and the other by another PhD candidate. And earlier this week, this other PhD candidate, who I obviously worked really closely during my PhD years, was defending her dissertation. And obviously I was not going miss it!!

Back in TU Delft this year

The defense was scheduled at 10 AM, which to me was really early because I had to get up a little bit earlier to make it! Haha 😆 . You know, this short trip to Delft reminded me a lot of my commuting life when I just started my job in Amsterdam and still lived in Delft where I had to spend about at least three hours every day just to commute, haha 😆 .

I felt quite a “strange” feeling when I arrived at Delft Station; as if I was drawn “back” to my previous stage of life in this little pretty town. Well, after all, I did spend 6.5 years there so feeling a little bit nostalgic was understandable, haha. Anyway, I took the bus to the university and went to the defense room in the Aula, which was the same room where I defended my dissertation last year.

The defense took place in this exact same room.

During the defense, I found it “funny” that there were some questions which would have been more appropriate to be directed at me than at her (As we were working on the same project but each of us had our own responsibilities and topics). But of course it was her defense so I couldn’t really say anything. But I felt like she handled those questions well, especially considering the mental roller coaster she must be riding during the moment. In the end, she successfully defended her dissertation and officially got her doctoral degree.

***

Me defending my dissertation last year; “against” a professor in statistics.

This particular PhD defense had deeper meaning than just the graduation of a PhD candidate to us involved in our research project. Symbolically, it also acted as the “closure” of the PhD research we started six years ago. We, and by “we” I mean not only me and my colleague, but also our professors and project supervisor, started this project together at almost the same time, and now everything is, finally, finished.

We all met together in Delft that day; well, except for my other supervisor who moved to Australia two years into my PhD, knowing that this perhaps would be the last occasion where we all met. And in my opinion this defense and graduation was the perfect setup for the closure!

The famous stairs photo (only for PhD graduates 😛 )

BAHASA INDONESIA

Aku pergi ke Delft awal minggu ini. Iya, aku sebutkan beberapa waktu yang lalu bahwa sudah lama juga aku tidak ke Delft, bahkan tidak pernah lagi semenjak aku pindahan ke Amsterdam. Akhirnya, pernyataan ini tidak lagi benar! Haha 😛

Jelas dong ya aku pergi ke Delft juga bukan tanpa alasan, haha 😆 . Proyek PhD (S3)-ku dulu terdiri dari dua bagian, masing-masing dipegang oleh satu kandidat PhD; satu aku pegang, yang mana sukses aku pertahankan dan aku lulus awal tahun lalu, dan yang satu lagi dipegang oleh seorang kandidat PhD lain. Dan awal minggu ini, kolegaku ini, yang mana aku jelas banyak bekerja bersamanya selama tahun-tahun PhDku dulu, akan menjalani sidang disertasinya. Dan jelas dong ya acara ini tidak akan aku lewatkan!!

Kembali di TU Delft tahun ini.

Sidangnya dijadwalkan jam 10 pagi, yang mana untukku pagi banget ini soalnya aku jadi harus bangun lebih pagi daripada biasanya! Haha 😆 . Perjalanan ke Delft ini mengingatkanku akan kehidupan nglaju-ku dulu ketika aku baru saja mulai bekerja di Amsterdam dan waktu itu masih tinggal di Delft; dimana setiap-harinya aku harus menghabiskan setidaknya tiga jam di jalan untuk nglaju, haha 😆 .

Aku merasakan perasaan yang agak “aneh” ketika tiba di Stasiun Delft; rasanya seperti “ditarik kembali” ke stase hidupku sebelumnya di kota kecil yang cantik ini. Yah, namanya aja 6,5 tahun hidupku memang aku habiskan di sana sih ya jadi merasa nostalgia juga lah wajar, haha. Anyway, aku menaiki bus untuk pergi ke universitas dan kemudian berjalan ke ruang sidangnya di Aula, yang mana adalah ruangan yang sama dimana aku sidang tahun lalu.

Sidangnya mengambil tempat di ruangan yang sama.

Di waktu sidang, agak “lucu” juga rasanya dimana ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya lebih pas untuk ditanyakan kepadaku daripada kolegaku (Karena kami kan bekerja di satu proyek yang sama tetapi masing-masing dari kami memiliki tanggung-jawab dan bidang/topiknya sendiri-sendiri). Ya tapi gimana juga, ini kan sidangnya kolegaku sehingga aku tidak bisa melakukan apa-apa juga. Tapi toh aku rasa ia meng-handle pertanyaan-pertanyaan ini dengan baik kok, apalagi dengan mempertimbangkan roller coaster mental yang waktu itu sedang ia naiki. Pada akhirnya, ia berhasil mempertahankan disertasinya sehingga ia resmi mendapatkan gelar doktoralnya.

***

Aku yang sedang mempertahankan disertasiku tahun lalu; “menghadapi” seorang profesor statistika.

Sidang PhD yang satu ini memiliki makna lebih mendalam daripada sekedar kelulusan seorang kandidat PhD bagi kami yang terlibat di proyek riset ini. Secara simbolis, sidang ini menandai “penutupan” dari riset PhD yang kami mulai enam tahun yang lalu. Kami, dan dengan “kami” maksudnya bukan hanya aku dan kolegaku ini saja, tetapi juga profesor-profesor kami dan juga supervisor proyeknya, memulai proyek ini bersama-sama hampir pada waktu yang bersamaan, dan sekarang semuanya, akhirnya, selesai.

Kami semua bertemu di Delft awal minggu ini; eh, kecuali pembimbingku yang satunya yang pindah ke Australia dua tahun setelah aku memulai PhDku, dan kami sadar bahwa mungkin ini adalah kali terakhir kami semua bertemu di acara yang sama. Dan bagiku, sidang dan kelulusan kolegaku ini adalah setting yang sempurna banget untuk penutupan ini!

Foto tangga khasnya TU Delft (untuk lulusan S3 aja)
Advertisements
General Life, Life in Holland, Zilko's Life

#2093 – One Year in Amsterdam

ENGLISH

Having been a home owner for one year also means that I have lived in Amsterdam for (about) a year now!! How time flies! This month last year I was busy (and almost went crazy, lol) with moving from Delft to Amsterdam on top of making my Amsterdam apartment “habitable”, lol 😆 .

But it was all worth the effort! It has been a great year in Amsterdam to me; especially that I do not have to face three hours of commuting every day anymore. Though, as humanly as I have been, there were times in the past one year where I felt a bit annoyed during my (short, 30 minutes one-way) commute to my office (I wish it was much shorter). But everytime I had this feeling, I just reminded myself of the commuting life I had to endure for about half a year before moving here!

I don’t miss commuting during rush hour at all.

Despite having been in this amazing city for a year, to be honest I feel like I haven’t really “maximized” my Amsterdam experience. You know, in the past year I went on a lot of trips, mostly in weekends 🙈. The result of this was less time and opportunity for me to actually explore Amsterdam. The problem is that I have argued that since I live in Amsterdam, technically I can enjoy the city at any time anyway. But this argument has actually been counterproductive because it pushes Amsterdam way down in my priority list instead, lol 😆 .

Though, I guess this is a common problem. During my 6.5 years of life in Delft, I actually never went to the super famous Vermeer Museum; and I only climbed the Nieuwe Kerk tower once and it was only because a good friend of mine was visiting, lol 😆 .

Delft’s Nieuwe Kerk

Ah, speaking of Delft, I actually have not been back there since this month a year ago when I finalized my move to Amsterdam, haha. I don’t know, thus far I haven’t had a reason to visit the beautiful town (Well, actually there was. In the summer last year I was invited to a barbeque by a friend in Delft on a Saturday. The problem was at the time I was travelling to London to watch Venus Williams at Wimbledon). But it appears that I will have one later on this year. We will see…

Anyway, yeah, it has been a great year in Amsterdam! 🙂 Cheers to many more of it!

Source: http://giphy.com/gifs/leonardo-dicaprio-drinking-fireworks-GCLlQnV7wzKLu

BAHASA INDONESIA

Telah menjadi pemilik rumah selama setahun juga berarti aku sudah tinggal di Amsterdam selama sekitar setahunan sekarang!! Waktu benar-benar cepat berlalu! Bulan ini tahun lalu aku sibuk (stress banget dah, haha ) dengan pindahan dari Delft ke Amsterdam, dan ini pun di samping kesibukan membuat apartemenku di Amsterdam “bisa dihuni”, haha 😆 .

Tapi itu semua worth it banget kok! Satu tahun di Amsterdam ini adalah satu tahun yang baik untukku; apalagi aku tidak harus lagi nglaju selama tiga jam setiap hari kan. Walaupun yang namanya manusia ya, ada lho beberapa kali dalam setahun belakangan dimana aku agak sebal dengan nglaju-ku (yang singkat, cuma 30an menit saja sekali jalan) ke kantor (Maksudnya aku berharap lebih singkat lagi gitu). Tapi setiap kali aku merasa demikian, aku selalu mengingatkan diriku akan kehidupan nglaju-ku yang harus aku jalani selama setengah tahun sebelum pindah ke kota ini!

Aku sama sekali nggak kangen dengan yang namanya nglaju di waktu rush hour dah.

Walaupun sudah tinggal di kota keren ini selama setahun, sejujurnya aku merasa aku belum terlalu “memaksimalkan” pengalaman Amsterdamku. Tahu kan setahun belakangan ini aku juga sering banget pergi jalan-jalan, terutama di akhir pekan 🙈. Akibat dari ini adalah waktu dan kesempatan untuk menjelajahi Amsterdam yang otomatis berkurang. Masalahnya adalah karena aku tinggal di Amsterdam, aku berargumen bahwa kan aku bisa menikmati kotanya kapan aja. Tapi argumen ini justru kontraproduktif karena malah membuat prioritas Amsterdam menjadi turun, hahaha 😆 .

Ah tapi ini masalah umum sih sebenarnya. Selama tinggal 6,5 tahun di Delft, tidak pernah sekali pun lho aku mengunjungi Museum Vermeer yang terkenal itu; dan hanya satu kali saja aku memanjat menaikit menaranya Nieuwe Kerk, itu pun karena pas waktu itu temanku sedang mengunjungiku, hahaha 😆 .

Nieuwe Kerk-nya Delft

Ah, ngomongin Delft nih, sebenarnya aku belum lagi mengunjunginya nih semenjak aku pindah ke Amsterdam bulan ini tahun lalu, haha. Ya habis gimana, sejauh ini aku belum ada alasan untuk mengunjungi kota yang cantik ini (Sebenarnya ada sih. Di musim panas tahun lalu aku diundang barbeque-an di Delft oleh temanku di suatu hari Sabtu. Masalahnya waktu itu aku sedang pergi ke London untuk menonton Venus Williams di Wimbledon). Tetapi sepertinya tidak lama lagi akan ada alasannya sih, haha. Kita lihat saja…

Anyway, ya intinya mah setahun terakhir di Amsterdam ini adalah setahun yang baik! 🙂 Jadi, tos untuk tahun-tahun selanjutnya yang lebih baik lagi!

Source: http://giphy.com/gifs/leonardo-dicaprio-drinking-fireworks-GCLlQnV7wzKLu
Big Days, Zilko's Life

#1912 – Bye, Bye, Delft!!

ENGLISH

Yesterday morning, I had the final inspection of my apartment in Delft where at the end of it I returned my Delft apartment keys. Yep, 2441 days after arriving in Delft about six and a half years ago, I moved on with my life and had completely closed the Delft chapter of my life.

Btw, while the definition of my first day in Delft is clear, the definition of my last is not. Depending on what we consider as my “last” day, there are a few possibilities, haha.

Officially, I have started living in Amsterdam one day after I got the keys of my apartment when I registered myself in Amsterdam’s gemeente (city hall). However, I did not start to actually live in my apartment until just before my Easter long weekend trip to Zurich because I was waiting for the internet connection to be installed, lol 😆 . Even after that, I still had some of my stuffs in Delft, which all of them I finally moved this weekend. Still, it was just yesterday where I finally had the final inspection and returned the keys. Nonetheless, I paid the full rent for April so technically I could still have had my apartment until this coming April 30th, haha 😆 .

The end of the Delft chapter of my life

I personally like the “keys” definition the best. So if you ask me, yesterday was my last day in Delft. Though, under this definition I have also lived in Amsterdam since the beginning of the month. So, for about three weeks this month, I lived in two different places! Haha 😆

Anyway, as usual, it was quite a little bit emotional to return the keys. And this one was a big one, as it symbolized the final page of the Delft chapter of my life. Possibly a bit similar to my feeling when I was closing the Bandung chapter of my life almost seven years ago.

But well, life goes on.

I feel happy, grateful, and satisfied with the 80 months of my life in Delft, especially that it was where I got my Master and Doctorate degrees. Now that I have both, it is time to move on.

So, as the title of this post says:

Bye, Bye, Delft and thank you for the great 80 months!

Bye, bye, Delft.

BAHASA INDONESIA

Kemarin pagi, inspeksi akhir apartemenku di Delft berlangsung yang mana diakhiri denganku mengembalikan kunci-kunci apartemen Delft-ku. Ya, 2441 hari setelah tiba di Delft sekitar enam setengah tahun yang lalu, aku move on dengan kehidupanku dan telah menutup penuh bab Delft dari hidupku.

Btw, jika definisi hari pertamaku di Delft itu jelas, definisi hari terakhirku kurang begitu jelas. Tergantung dari apa yang kita pandang sebagai hari “terakhir”, ada beberapa kemungkinan, haha.

Secara resmi, aku sudah mulai tinggal di Amsterdam sehari setelah aku mendapatkan kunci apartemenku ketika aku meregistrasikan diriku di gemeente (balai kota)-nya Amsterdam. Namun, aku masih belum tinggal di apartemenku ini sampai tepat sebelum perjalanan long weekend Paskahku ke Zurich karena aku menunggu terpasangnya koneksi internet terlebih dahulu, haha 😆 . Itu pun, barang-barangku sebagian masih berada di Delft, yang mana semuanya akhirnya kupindahkan akhir pekan kemarin. Dan baru kemarin pagi inspeksi akhir berlangsung dan kunci-kuncinya aku kembalikan. Walaupun begitu, aku membayar sewa penuh di bulan April jadi secara teknis bisa-bisa aja sih kalau aku mau tinggal di apartemenku hingga 30 April ini, haha 😆 .

Akhir dari bab Delft dari hidupku

Untukku sendiri, aku paling suka dengan definisi “kunci”. Jadi jika aku ditanya, kemarin lah hari terakhirku di Delft. Walaupun, dengan definisi ini, artinya aku juga sudah tinggal di Amsterdam semenjak awal bulan ini dong ya. Jadi selama sekitar tiga minggu bulan ini, aku tinggal di dua tempat secara bersamaan! Haha 😆

Anyway, seperti biasa, pengembalian kunci terasa emosional bagiku. Dan kali ini “besar” pula, karena pengembalian ini menyimbolkan halaman terakhir dari bab Delft dari hidupku. Mungkin mirip-mirip lah sama perasaanku ketika aku menutup bab Bandung dari hidupku hampir tujuh tahun yang lalu.

Tapi ya gitu kan, kehidupan terus berlanjut.

Aku merasa senang, penuh syukur, dan puas dengan 80 bulan hidupku di Delft, terutama di sana lah aku mendapatkan gelar Master (S2) dan Doktoral (S3)-ku. Sekarang dengan dua gelar ini menjadi milikku, sudah waktunya untukku move on.

Jadi, seperti judul posting ini:

Bye, Bye, Delft dan terima kasih atas 80 bulan yang seru!

Bye, bye, Delft.
Zilko's Life

#1900 – Amsterdam, Here I Come!!

ENGLISH

Since starting working in Amsterdam last October, I have been commuting every working day between Delft and Amsterdam. My observation at the time turned out to be robust enough, where I needed to spend about three hours everyday just to commute; unless when there was a train disruption, in which case it would be longer.

While I started to get used to it, I realized this was still not sustainable in the long run. There was basically less and less rationale for me to still live in Delft as time went on. The cheaper rent in Delft became irrelevant anyway (it has been so since I started working actually), as I got more than good enough salary to afford Amsterdam’s (expensive *cough*) accommodation, haha. And now that I have officially finished my PhD in TU Delft, I can say there is no more reason for me to still live in Delft.

The moment I became a Doctor, also the moment where living in Delft became significantly less reasonable.

Yep, it is now all obvious to me. I have decided that I am moving to Amsterdam.

I write this post because I have made concrete steps in realizing this decision. In fact, it is already confirmed that I am moving to the capital this month, haha 😆 . Further details into this shall become one special upcoming post. So stay tuned for that! 🙂

But yeah, after moving to Delft almost seven years ago, it is about time for me to close the Delft chapter of my life really soon. Yep, this might sound super dramatic considering Amsterdam is only about 55 km from Delft, haha. But still… .

Having lived in Delft this long. In this town I got my Master and Doctorate (PhD) degrees. In this town my life in Europe started. Yup, Delft will always be a big and important part of my life 🙂 .

Marktplein in Delft as viewed from the top of the Nieuwe Kerk
Delft

BAHASA INDONESIA

Semenjak mulai bekerja di Amsterdam bulan Oktober lalu, aku telah nglaju di setiap hari kerja antara Delft dan Amsterdam. Pengamatanku waktu itu cukup akurat, dimana setiap hari aku perlu menghabiskan sekitar tiga jam di jalan; kecuali jika ada gangguan kereta api yang mana dalam kasus ini waktunya tentu lebih lama lagi.

Walaupun aku mulai terbiasa dengan rutinitas ini, aku menyadari bahwa ini tetap sama sekali tidak berkelanjutan (sustainable) untuk jangka panjang. Seiring berjalannya waktu, semakin sedikit keuntungan bagiku untuk tetap tinggal di Delft. Biaya sewa akomodasi yang lebih murah di Delft juga (sebenarnya semenjak awal mulai kerja) tidak relevan, karena toh aku mendapatkan gaji yang jauh lebih dari cukup untuk mampu tinggal di sebuah akomodasi di Amsterdam (yang mahal itu *uhuk*), haha. Dan juga sekarang aku telah menyelesaikan PhD (S3)-ku di TU Delft, artinya semakin tidak ada lagi alasan untukku tetap tinggal di Delft.

Momen aku menjadi seorang Doktor, juga momen dimana tinggal di Delft menjadi jauh lebih tidak masuk akal lagi.

Yep, kini semuanya sudah jelas untukku. Aku telah memutuskan untuk pindah ke Amsterdam.

Posting ini aku tulis karena aku telah membuat langkah-langkah nyata untuk merealisasikan keputusan ini (jadi bukan omdo, haha 😛 ). Malahan, sudah terkonfirmasi kok bahwa aku akan pindah ke ibukota bulan ini, haha 😆 . Cerita lebih mendetail mengenai ini adalah bahan satu posting yang akan datang. Jadi ditunggu aja ceritanya! 🙂

Tetapi, ya, jadilah semenjak aku pindah ke Delft nyaris tujuh tahun yang lalu, kini sudah waktunya untukku menutup bab Delft dalam hidupku. Iyaa, memang terdengar dramatis dan berlebihan banget ya. Apalagi Amsterdam kan cuma sekitar 55 km aja dari Delft, haha. Tetapi tetap aja… .

Aku sudah tinggal di Delft sedemikian lama. Di kota ini lah aku mendapatkan gelar Master (S2) dan Doktoral (S3)-ku. Di kota ini lah kehidupanku di Eropa dimulai. Ya, Delft akan tetap menjadi satu bagian besar dan penting dalam hidupku 🙂 .

General Life, Life in Holland, Zilko's Life

#1830 – A Wallet Story

ENGLISH

Thursday last week was a long day for me. I had to be especially early at the office for a training; which meant I had to get up even earlier. In the afternoon, I left later because the training went a little bit over time. Then, the approximately three hours of commute to Amsterdam and back. I arrived at home at around 7 PM and cooked my dinner. I knew I would want to watch the twelfth series of The Apprentice UK at 10 PM, but before that I wanted to go to the gym first as I skipped gym the day before. But then, I found out that I was running out of meat so I decided to go to the supermarket first. So it was unsurprising that I felt so tired by the end of the day, haha 😆 .

On Friday morning, before I walked to the train station to go to work, somehow I felt the urge to check if my wallet was in my bag. I guess, subconsciously, I knew something was not exactly right today. And guess what, I could not find my wallet; even after searching my entire room! 😱😱😱😱😱

I tried to not panic and think rationally, tracing it down to what I did the day before. The two places with the highest likelihood where I could have accidentally left my wallet were the gym and the supermarket. Then I went to the gym first, and I could not find it. At the supermarket, one staff told me the guy responsible for the security, etc, was on the afternoon shift today so she recommended me to come back after 12 PM. Well, I would have to work the entire day today so I guess I could only come back in the evening.

At least I was glad I applied the risk diversification strategy before, where I did not put all my important stuffs in one place (for instance, the wallet). So while my wallet was gone, for now, I still had my passport and Dutch residence-permit card with me. I even still had my NS-Business Card so I could still travel for work without any problem.

Somehow I felt rather calm today; as I had this hunch that everything was alright and the wallet was in the supermarket. I checked my credit card accounts online and saw no unauthorized transaction, a good indication of course so this also helped.

Long story short, I went back to Delft after work and I immediately went straight to the supermarket. I explained the situation to a staff who then called the security guy. I described how the wallet looked like and where I thought I left it. He mentioned someone found the wallet the evening before and handed it to him. He went to the security room and came out with my wallet in his hand. After checking my ID, he gave me back my wallet and everything inside it, safe and sound.

Yeah, some faith in humanity restored before being crushed again by what happened earlier this week!!

You see, this is one of the many reasons why I LOVE my life here in the Netherlands.

BAHASA INDONESIA

Hari Kamis minggu lalu adalah hari yang panjang bagiku. Aku harus tiba di kantor lebih pagi karena ada training; yang mana artinya aku harus bangun lebih pagi juga. Sorenya, aku juga baru bisa pulang lebih malam karena training-nya berlangsung sedikit terlalu lama. Ditambah lagi, aku harus menyisihkan tiga jam nglaju untuk pergi ke Amsterdam dan pulangnya. Aku tiba di rumah jam 7 malam dan setelahnya memasak makan malam. Aku ingin menonton The Apprentice UK musim ke-12 jam 10 malam, tetapi sebelumnya aku ingin pergi ke gym dulu karena sehari sebelumnya gym harus aku loncati. Namun kemudian, ternyata aku kehabisan daging sehingga aku memutuskan untuk belanja di supermarket dulu. Jadi, tidak mengherankan jika pada akhirnya aku merasa lelah kan ya, haha 😆 .

Jumat pagi, sebelum aku berangkat ke stasiun kereta untuk berangkat kerja, entah mengapa aku merasa perlu untuk mengecek dompet di dalam tasku. Mungkin di alam bawah sadar aku menyadari ada yang nggak beres hari ini. Dan apa yang terjadi? Aku tidak bisa menemukan dompetku loh; bahkan setelah aku mencarinya di seluruh kamar! 😱😱😱😱😱

Aku berusaha untuk tidak panik dan berpikir jernih, menjejak ulang apa yang kulakukan sehari sebelumnya. Aku berkesimpulan ada dua tempat yang paling mungkin dimana aku bisa tidak sengaja meninggalkan dompetku: di gym atau di supermarket. Jadilah aku pergi ke gym dulu, dimana disana aku tidak bisa menemukannya. Lalu aku pergi ke supermarket. Hanya saja, salah satu stafnya bilang bahwa petugas sekuriti masuk di shift siang hari ini sehingga ia memintaku untuk kembali setelah jam 12 siang. Waduh, kan aku harus kerja ya hari ini jadilah aku baru bisa kembali kesana malamnya.

Setidaknya aku lega aku menerapkan strategi diversifikasi risiko sebelumnya, dimana aku tidak menyimpan segala benda-benda penting di satu tempat (misalnya, di dalam dompet). Jadi walaupun untuk saat ini dompetku hilang, setidaknya paspor dan kartu residence-permit Belandaku masih aku pegang. Bahkan kartu NS-Business Card juga masih kubawa sehingga aku masih bisa bepergian ke Amsterdam tanpa masalah.

Tapi entah mengapa aku merasa tenang kok hari ini; karena intuisiku berkata bahwa semuanya baik-baik saja dan dompetku ada di supermarketnya itu. Akun-akun kartu kreditku juga kucek melalui internet dan aku tidak melihat adanya aktivitas-aktivitas yang mencurigakan disana, sebuah indikasi baik yang tentu membantuku merasa tenang.

Singkat cerita, setelah kembali di Delft sepulang kerja, langsung aku pergi ke supermarketnya. Aku jelaskan situasinya ke seorang staf yang kemudian memanggil petugas sekuritinya. Dompetku aku deskripsikan kepadanya dan aku sebutkan dimana aku kira dompetnya aku tinggalkan. Ia sebutkan bahwa memang ada yang menemukan sebuah dompet dan kemudian dompetnya diserahkan kepadanya. Ia masuk ke dalam ruang sekuriti dan keluar dengan membawa dompetku di tangannya. Setelah mengecek identitasiku, dompetku beserta segala isinya dikembalikan.

Iyaa, some faith in humanity restored sebelum akhirnya dihancurkan kembali oleh apa yang terjadi awal minggu ini!!

Nah kan, ini adalah satu dari banyak alasan mengapa aku SUKA BANGET dengan kehidupanku di Belanda.

General Life, Zilko's Life

#1793 – A Weekend Story

ENGLISH

This weekend has gone by really fast, even in weekend standard; especially considering that I did not have any weekend trip abroad this weekend.

Here is what happened…

***

On Saturday morning, I went to Den Haag with my main agenda of getting a haircut. You know, my vacation month is coming soon so I need to get ready for everything; and that includes my hair, haha 😆 . While I was in Den Haag, I decided to shop a little bit as well; as I felt like I needed an outfit which “matched” one of the destinations I was visiting, haha 😆 . Luckily I got one, eventually, in Primark (from which I also ended up buying a new jacket >.< ).

Back from Den Haag, it was time for a gym session, which went quite well; followed with some Pokemon hunting around Delft which acted kinda like the light cardio session, haha 😆 . Then it was time for some rest. In the evening, I went for a second Pokemon hunting around Delft 😛 .

On Sunday morning, I went to Schiphol Airport. But it was the first time in a really long time (since about 3.5 years ago, if I am not mistaken) that I went to Schiphol actually not to fly. I was picking up my parents who were traveling to Europe 😀 . From Schiphol, we went back to Delft and spent there rest of our day here. I did not think it was wise to travel somewhere else as they were still tired and jetlagged from the the long flights. And it was fun. Luckily the weather was much better on Sunday; while it was drizzling in the morning, it was quite sunny but quite cool in the afternoon; just like a typical nice summer day here. I am glad the heatwave was gone already, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Akhir pekan ini berlalu dengan amat cepat, bahkan untuk standar akhir pekan; terutama mempertimbangkan aku tidak pergi ke luar negeri gitu akhir pekan ini.

Ini dia ceritanya…

***

Di hari Sabtu pagi, aku pergi ke Den Haag dengan agenda utama untuk potong rambuh. Tahu kan, bulan liburanku akan segera datang sehingga aku harus mempersiapkan semuanya doong; dan ini tentu saja potongan rambut juga, haha 😆 . Mumpung di Den Haag, aku memutuskan untuk sekalian belanja deh; karena aku merasa aku memerlukan baju yang “pas” dengan salah satu destinasi yang akan kukunjungi, haha 😆 . Untungnya aku dapat sih di Primark (yang mana disana juga aku kok jadi beli satu buah jaket baru juga ya >.< ).

Kembali dari Den Haag, adalah waktunya untukku pergi ke gym, yang berlangsung mulus; yang diikuti dengan acara perburuan Pokemon di sekitar Delft yang bisa dipandang sebagai sesi cardio super ringan, haha 😆 . Setelahnya, aku beristirahat sedikit. Malamnya adalah waktunya untuk perburuan Pokemon lagi di sekitar Delft 😛 .

Di hari Minggu pagi, aku pergi ke Bandara Schiphol. Ini adalah kali pertama dari jangka waktu yang lama (semenjak 3,5 tahun yang lalu, kalau tidak salah) dimana aku pergi ke Schiphol bukan untuk terbang. Aku menjemput orangtuaku yang sedang dalam perjalanan ke Eropa 😀 . Dari Schiphol, kami kembali ke Delft dan menghabiskan sisa hari disini. Aku rasa bukan ide yang baik untuk pergi ke tempat lain karena mereka kan masih lelah dan jetlag setelah penerbangan-penerbangan jarak jauh. Seru sih. Untungnya juga cuacanya baik di hari Minggu; walaupun di pagi harinya gerimis, siangnya cukup cerah dengan suhu udara yang sejuk; yaa, seperti tipikal suatu hari musim panas yang mengasyikkan disini lah. Aku lega gelombang panasnya telah berlalu, haha 😆 .

Life in Holland, Zilko's Life

#1731 – Koningsdag 2016

ENGLISH

Today, King Willem-Alexander of the Netherlands is celebrating his 49th birthday and, consequently, today is a national holiday in the Netherlands! Yeaaay!! 😀

“Too bad” though today is a Wednesday which means it is literally in the middle of the week so there is no reason to make it a long weekend, lol 😝😝😝. Last year, the Koningsdag (the King’s birthday) fell on Monday so a long weekend from Saturday all the way to Monday was observed in the Netherlands, lol 😆 . Actually this may work in my favor though because now I am very busy at work anyway so long weekend is something which I actually don’t really need. Moreover, this means next year, it will be a long weekend when the Koningsdag falls on a Thursday! Haha 😆 .

#KoningsdagSelfie
#KoningsdagSelfie
Anyway, this year’s Koningsdag is quite unique to me. Technically this is my sixth Koningsdag/Koninginnedag in the Netherlands. However, this is actually the first Koningsdag while I actually live in the centrum! And so I have been expecting today would be super busy and crowded in the city center (not that I was looking forward to it)

However, in a way the weather lately has been a little bit on my side for this matter. While the Spring has been around in the Netherlands for almost a month now, the trend stopped in the past week and it felt like we are moving backwards a little bit towards winter. Yes, the temperature in the Netherlands (and Europe in general) has been dropping! Even I heard it was snowing a little bit in Delft on Monday (too bad I had a meeting in Eindhoven that day so I did not experience it). As a result, while obviously the Koningsdag celebration was still going on, it was not nearly as crowded or busy as it usually is!

While I was glad that it was not as crowded as it could be, on the other hand I missed the festivity though…

BAHASA INDONESIA

Hari ini, Raja Willem-Alexandernya Belanda merayakan hari ulang-tahun ke-49nya. Sebagai akibatnya, hari ini adalah tanggal merah loh di Belanda! Yeaaay!! 😀

“Sayang” sih hari ini hari Rabu yang mana artinya benar-benar di pertengahan minggu sehingga tidak ada alasan untuk membuat liburan ini menjadi long weekend ya, haha 😝😝😝. Tahun lalu, Koningsdag (hari ulang tahunnya Raja) jatuh di hari Senin sehingga waktu itu long weekend deh dari hari Sabtu hingga Senin di Belanda, haha 😆 . Sebenarnya mungkin ini menguntungkanku sih karena toh sekarang aku sibuk banget di kantor jadi sebenarnya aku nggak begitu membutuhkan long weekend deh. Lebih jauh lagi, ini artinya tahun depan Koningsdag akan jatuh di hari Kamis kan! Haha 😆

#KoningsdagSelfie
#KoningsdagSelfie
Anyway, Koningsdag cukup unik untukku. Secara teknis ini adalah Koningsdag/Koninginnedag-ku yang keenam di Belanda. Namun, ini adalah Koningsdag pertama dimana aku tinggal di centrum! Jadi jelas aku sudah bersiap-siap bahwa pusat kota akan ramai banget nih (dan aku nggak begitu menantikannya)

Namun, bisa dibilang cuaca memihakku sedikit di sisi ini. Walau ceritanya Belanda sudah memasuki musim semi satu bulan terakhir ini, trennya berhenti seminggu terakhir dimana rasanya cuaca justru bergerak mundur ke musim dingin. Iya, suhu udara di Belanda (dan Eropa sih) turun dong! Bahkan aku dengar di Delft sedikit bersalju loh hari Senin kemarin (sayangnya waktu itu aku sedang ada meeting di Eindhoven sehingga aku melewatkannya). Sebagai akibatnya, walau jelas perayaan Koningsdag masih berlangsung seperti biasa, perayaannya jadi tidak seramai atau sesibuk biasanya!

 

Walau aku lega bahwa pusat kotanya nggak ramai-ramai amat, tapi di sisi lain kok aku merindukan kemeriahannya ya, hahaha…