#2083 – The Flights to Bordeaux

ENGLISH

I went on a weekend trip to Bordeaux in a weekend in early March. I have decided to split the story into two parts; with this post being the first one covering the part of the trip about the flights, haha…

First of all, unsurprisingly, I took an interesting routing on this trip. Here it was:

The routing to Bordeaux. Created with gcmap.com

Getting to Bordeaux

The first leg of the trip was with a KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BGB flight KL1263 to Nice. The flight was delayed by almost half an hour due to, apparently, a shortage of grounds baggage handlers today. I had quite a tight connection in Nice but half an hour wasn’t that much of a problem, as usually there was some buffer time already included in the schedule so there was some room for recovery.

Anyway, it was a pleasant KLM flight to Nice. Nice Cote D’Azur was one of my most favorite airports in the world mainly because of the beautiful scenery around it. On this flight, here was a view at one point just before landing:

Monaco

Yep, the entire country of Monaco! Hahaha 😆 . Anyway, as I thought, we recovered from the departure delay and actually landed at Nice Cote D’Azur Airport on time.

The inconvenient thing about having a connection in France, other than Paris-Charles De Gaulle, was that I had to exit the terminal and cleared security again, which took some time. I had about 10 minutes in the terminal which I spent at the Infinity Lounge. Then I went to the gate to board my second flight.

A HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLC

My flight to Bordeaux was operated with a HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLC. I was assigned seat 22C, which I initially wasn’t super happy about given it was an aisle seat AND at the back of the plane. But then, it turned out that somehow the entire rear cabin, from row 23 to 26, were literally empty, so I could move to whichever seat I would like! I found it quite strange though because all seats from row 1 to 22 were occupied! Anyway, so I moved to seat 23A.

An empty rear section on board HOP! Regional’s ERJ190 F-HBLC

Again, it was a pleasant short domestic flight with HOP!. I managed to sleep a little bit during the flight; and about one hour later we were flying above the city of Bordeaux and landed at runway 23.

Back to Amsterdam

The Air France Lounge at Bordeaux Airport turned out to be quite nice and comfortable, certainly much better than their lounge at Lyon Airport! And most appropriately, they served these as well:

Bordeaux red wine at Salon Air France at Bordeaux Airport

Haha 😛

Anyway, my Air France’s AF5372 flight to Lyon turned out to be quite unique and interesting. It would be operated by Air Explore, a Slovakian airline wet-leased by Air France to operate some of their domestic routes for HOP!. Today, this flight would be operated by their Boeing 737-800 reg OM-GEX which looked like this:

An Air Explore’s Boeing 737-800 reg OM-GEX in plain white livery

Yeah, a very boring plain white livery, haha 😆 . But I guess it wasn’t that unreasonable given Air Explore’s business model in the wet-leasing market. As Air France wet-leased this plane, the flight was operated by Air Explore’s crews even though the service was as per HOP!’s standard.

We were delayed by about 50 minutes, though. The flight itself was pleasant even though we encountered minor turbulences along the way due to the weather. The crews were nice but I could see they were still not quite used to with HOP!’s service standard yet. Well, I checked that it appeared to be their third day operating for HOP! so it wasn’t surprising to be honest.

Anyway, we landed about 45 minutes at Lyon but this wasn’t a problem to me because I had a 3 hour transit, haha. But not for some other passengers though who had to run to try to catch their connections.

KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGU

My last flight of this trip would be with a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGU to Amsterdam. Upon boarding, I was told by the gate agent that I had been upgraded to Europe Business Class, again! Haha 😆 . I was assigned an aisle seat, though.

After all passengers boarded, the captain announced that we were asked to remain on the ground for 30 minutes more due to poor weather condition at Schiphol which forced them to reduce the airport’s capacity. About 30 minutes later we were finally allow to depart, indeed the crew tried their best to make up the lost time as much as possible. The Boeing 737-700 didn’t need the entire runway length for take-off so we saved some time by taking off from about 1/3 into the 4,000 meter runway.

Anyway, after take-off, the dinner service was provided. The menu was quite “vegetarian” today where the main dish was a salad with beetroot burger. It was quite nice, though, and helped me fill my stomach as it was dinner time. I accompanied it with a bottle of sparkling wine (of course), haha 😀 .

The dinner service in Europe Business Class on board KLM flight KL1416

After dinner, a warm drink service was provided and, as usual, I asked for a green tea. Not long after, we were approaching Schiphol and landed at runway 18C. We parked at Gate D2, and I took the train to go back to Amsterdam.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan ke Bordeaux di awal Maret. Aku putuskan untuk membagi ceritanya menjadi dua bagian; dengan posting ini adalah bagian yang pertama dimana aku fokus pada penerbangan-penerbangannya, haha…

Pertama-tama, tidak mengherankan, aku mengambil rute yang menarik untuk perjalanan ini. Berikut ini rutenya:

Rute ke Bordeaux. Dibuat dengan gcmap.com

Berangkat ke Bordeaux

Bagian pertama dari perjalanan ini adalah dengan Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BGB penerbangan KL1263 ke Nice. Penerbangannya terlambat sekitar setengah jam karena, ternyata, adanya kekurangan staf bagasi hari ini. Waktu transitku di Nice cukup ketat tetapi delay setengah jam tidak begitu masalah lah, apalagi kan di jadwal penerbangannya toh sudah dimasukkan buffer time sehingga penerbangannya masih bisa pulih dari delay ini.

Anyway, penerbangannya sendiri nyaman kok dengan KLM. Bandara Nice Cote D’Azur masih lah salah satu bandara terfavoritku di dunia karena pemandangan alam di sekitarnya yang kece banget. Di penerbangan ini, di satu waktu sebelum mendarat pemandangannya kayak gini loh:

Monako

Iya, satu negara Monako! Hahaha 😆 . Anyway, seperti yang kukira, kami beneran pulih dari keterlambatan tadi dan mendarat di Bandara Nice Cote D’Azur masih tepat waktu.

Nggak nyamannya dari transit di Prancis selain di Paris – Charles De Gaulle adalah aku harus keluar gedung terminalnya dan melewati pemeriksaan sekuriti lagi, yang mana tentu juga memakan waktu. Aku akhirnya hanya memiliki waktu 10an menit saja di terminalnya yang mana kuhabiskan di Infinity Lounge. Setelahnya aku langsung pergi ke gate untuk menaiki penerbangan lanjutanku.

Embraer ERJ190nya HOP! Regional rego F-HBLC

Penerbanganku ke Bordeaux dioperasikan dengan Embraer ERJ190nya HOP! Regional dengan rego F-HBLC. Aku diberi kursi 22C, yang mana awalnya tidak begitu aku suka karena adalah kursi lorong dan lokasinya di bagian belakang pesawat. Tetapi ternyata malah bagian belakang kabinnya, dari baris 23 hingga 26, itu kosong melompong dong sehingga aku bisa pindah ke kursi mana pun yang kusuka! Rasanya aneh lho karena baris 1 hingga 22 di pesawatnya itu penuh! Anyway, jadilah aku memindahkan diri ke kursi 23A, haha.

Kabin bagian belakang ERJ190nya HOP! Regional rego F-HBLC yang kosong

Lagi, penerbangan ini adalah penerbangan domestik jarak pendek yang nyaman dengan HOP!. Aku tertidur sedikit di penerbangan ini; dan sekitar satu jam kemudian kami sudah terbang di atas kota Bordeaux dan kemudian mendarat di landasan pacu 23.

Kembali ke Amsterdam

Lounge Air France Lounge di Bandara Bordeaux ternyata cukup nyaman, dan jelas jauh lebih bagus daripada yang di Bandara Lyon! Dan selayaknya, mereka menyajikan ini juga:

Anggur merah Bordeaux di Salon Air France di Bandara Bordeaux

Haha 😛 .

Anyway, penerbangan Air France AF5372ku ke Lyon hari ini unik dan menarik loh. Penerbangannya akan dioperasikan oleh Air Explore, sebuah maskapai Slowakia yang di-wet-lease Air France untuk mengoperasikan beberapa rute domestik mereka untuk HOP!. Hari ini, pesawat Boeing 737-800 rego OM-GEX mereka digunakan, yang mana penampakannya kayak gini:

Boeing 737-800 rego OM-GEX milik Air Explore dengan livery putih polos.

Iya, livery pesawatnya putih polos yang mana boring abis ya, haha 😆 . Tapi aku rasa ini masuk akal juga sih mengingat model bisnisnya Air Explore yang memang bergerak di pasar wet-leasing pesawat. Karena Air France meng-wet-lease pesawat ini, penerbangannya juga dioperasikan oleh krunya Air Explore walaupun layanannya sih sesuai dengan standarnya HOP!. A

Penerbangannya terlambat sekitar 50 menit. Penerbangannya sendiri sih cukup nyaman walaupun penuh turbulensi kecil di sepanjang jalan karena alasan cuaca. Krunya sendiri oke tetapi bisa kulihat mereka masih belum terbiasa dengan standar layanannya HOP!. Yah, aku cek sepertinya memang hari itu baru lah hari ketiga mereka dengan HOP! sehingga nggak mengherankan sih ya.

Anyway, kami mendarat terlambat sekitar 45 menit di Lyon tetapi ini bukanlah masalah untukku karena waktu transitku 3 jam, haha. Tetapi tidak demikian bagi beberapa penumpang lain yang harus berlari mencoba mengejar penerbangan lanjutan mereka.

Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGU

Penerbangan terakhirku di perjalanan ini adalah dengan Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGU ke Amsterdam. Ketika naik pesawat, aku diberi-tahu bahwa aku di-upgrade ke Kelas Bisnis Eropa lagi! haha 😆 . Tetapi sayangnya aku diberikan kursi lorong sih.

Setelah semua penumpang naik, kapten penerbangan memberi-tahu bahwa sayangnya kami telah diminta untuk tidak berangkat dulu selama 30 menit karena cuaca buruk di Schiphol yang memaksa mereka untuk mengurangi kapasitas bandara. Sekitar 30 menit kemudian ketika kami diizinkan berangkat, krunya kemudian berusaha untuk mengurangi waktu keterlambatan ini semaksimal mungkin. Boeing 737-700 tidak membutuhkan keseluruhan panjang landasan pacunya Bandara Lyon untuk lepas landas sehingga kami menghemat waktu dengan mulai lepas landas dari sekitar 1/3 dari ujung landasan pacu sepanjang 4.000 meter itu.

Anyway, setelah lepas landas, layanan makan malam disajikan. Menu kali ini agak “vegetarian” dimana makanan utamanya adalah salad dengan burger beetroot.Rasanya lumayan juga sih dan cukup mengganjal perut di waktu makan malam ini. Oh, dan jelas untuk minumnya aku meminta sparkling wine lah ya, haha 😆 .

Layanan makan malam di Kelas Bisnis Eropa di penerbangan KL1416nya KLM

Setelah makan malam, layanan minuman hangat dibagikan dan, seperti biasa, aku meminta teh hijau. Tak lama setelahnya, kami mulai turun menuju Schiphol dan mendarat di landasan pacu 18C. Pesawat diparkir di gerbang D2, dan kemudian aku menaiki kereta kembali ke Amsterdam.

Advertisements

#2078 – A Nice Weekend in Nice

ENGLISH

In mid-February, I went on a weekend trip to Cote D’Azur. Here is the story of this short nice trip to Nice 😀 .

Getting There

I had a very interesting routing on this trip, as shown in the following map:

The routing this weekend. Created with gcmap.com

Haha 😆 . The first three flights were operated by Air France while the last one to Amsterdam was by HOP! Brit Air. All flights were regular pleasant flights with Air France so there was not much to say about the flights themselves specifically.

Taking this Air France’s Airbus A319-100 from Nice to Nantes.

Maybe just that I was excited for the HOP! Brit Air’s flight because it was operated with a Bombardier CRJ1000 which was relatively uncommon! Haha 😛 . Speaking of CRJ1000, it was my first flight with this type at Schiphol. And I just realized that apparently a CRJ1000 was too long for the Fokker Farm and so we had to park at the antimainstream D apron remote stand area at Schiphol! It was my first time there! Haha 😛 .

Parking at Schiphol’s antimainstream D apron remote stand!

Also, my first flight to Paris was delayed for 80 minutes. This delay was unusual because all of us (including the crews) only knew about this delay once all passengers boarded. Apparently there was a cargo handling problem where the ground staffs needed to unload all cargo from the plane, check those, and load them back in. This was all for safety reason, btw. Even though this did not affect me that much (as I assigned myself a 3 hours transit at Paris-CDG just in case something like this would happen) other than having to sit for an extra hour on board F-GTAY, this wasn’t the case for many other passengers who had much tighter, even intercontinental, connection at Paris! I felt for the crews, though, because some passengers expressed their frustration at them. But the crews remained calm and professional in this situation, which was nice to see.

And also, the always beautiful Nice Cote D’Azur. You can easily see the airport 😀 .

Nice

Anyway, Nice was as how I remembered it, it was nice, haha 😆 . This trip actually made me ask myself why I have not visited this Cote D’Azur city more often! I mean, this was only my second time there, the previous and only other time was 5.5 years ago!

The dark side of the Mediterranean Sea

The weather turned out to be “mixed” on this trip, because it was horrible on Saturday (because it rained, haha) while it was really perfect on Sunday! Actually I realized that I wore too much clothes (so it became quite uncomfortable) but I had no other option as I was on my way to the airport, haha. Also, I forgot to bring my sunglasses so at times I had to squint! Lol 😆

Promenade Des Anglais with the perfect Cote D’Azur weather on Sunday.

You could call this both lucky and unlucky. It happened that this weekend was the opening weekend of Carnaval De Nice; and I had no idea about this until I was in town. This meant that I did not plan my trip around this event at all, where I did not have a ticket nor prepared myself for it (The event was in the evening and I was already tired by then! Lol 😆 ). The better side of this was that there were some unusual carnaval-related stuffs around the city which made it look “unique” and more festive than normal, though, haha…

Carnaval De Nice

Speaking of food, with only a short time there, I only had time for a dinner. I decided to stop by at a restaurant near my hotel in the city centre. Upon looking at the menu book, I recognized a dish that was called “Niçois dish”. Yep, a dish literally with that name, which sort of challenged us by saying that “You don’t get any more local than this dish!“. Lol. So obviously I ordered one.

A delicious “Niçois Dish”

And indeed it was really good! As typical in the region, this dish was clearly a fusion (sort of say) between French and Italian cuisine, where beef stew was served with tagliatelle and several vegetarian side dishes!

This trip was indeed a nice getaway to Nice; but it was just too short. So in conclusion, I think I need to visit Nice more often, and stay longer! Lol 😆 .

BAHASA INDONESIA

Di pertengahan Februari yang lalu, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan ke Cote D’Azur. Dan berikut ini cerita perjalanan singkat ke Nice yang nice ini 😀 .

Penerbangan-penerbangannya

Ruteku di perjalanan ini cukup menarik, seperti yang ditunjukkan di peta berikut ini:

Rute di akhir pekan ini. Dibuat dengan gcmap.com

Haha 😆 . Tiga penerbangan pertama adalah dengan Air France sementara yang terakhir adalah dengan HOP! Brit Air. Semuanya adalah penerbangan reguler yang nyaman dengan Air France sehingga tidak banyak yang bisa kutuliskan di sini dari penerbangan-penerbangannya.

Aku naik Airbus A319-100 milik Air France ini dari Nice ke Nantes.

Eh, mungkin cuma aku merasa excited dengan penerbangannya HOP! Brit Air sih karena penerbangannya dioperasikan dengan pesawat Bombardier CRJ1000 yang tergolong langka kan ya! Haha 😛 . Ngomongin CRJ1000, aku baru sadar bahwa ternyata pesawat tipe ini tuh terlalu panjang loh untuk Fokker Farm-nya Schiphol sehingga pesawat harus diparkir di tempat parkir remote apron D! Huaa, kali pertama nih aku berada di apron antimainstream ini! Haha 😛 .

Parkir di apron D-nya Schiphol yang antimainstream!

Juga, penerbangan pertamaku ke Paris terlambat 80 menit. Keterlambatan ini cukup unik karena kami semua (termasuk kru penerbangan) baru tahu akan keterlambatan ini ketika semua penumpang sudah naik pesawat. Ternyata ada masalah dengan cargo handling-nya dimana petugas darat harus mengeluarkan semua kargo dari pesawat, mengeceknya, dan kemudian memasukkan semuanya kembali. Ini semua demi alasan keselamatan penerbangan, btw. Walaupun keterlambatan ini tidak terlalu menggangguku (aku sengaja memilih penerbangan dengan waktu transit 3 jam di Paris-CDG untuk jaga-jaga andai kejadian semacam ini terjadi) selain harus duduk satu jam lebih lama di dalam F-GTAY, tetapi tidak demikian bagi banyak penumpang lain yang memiliki waktu koneksi yang jauh lebih singkat, bahkan koneksi ke penerbangan antar-benua, di Paris! Aku bersimpati terhadap pramugara/i-nya btw, karena beberapa penumpang melampiaskan kekesalannya kepada mereka. Tetapi pramugara/i-nya tetap kalem dan profesional dalam situasi ini, yang mana membuat senang deh melihatnya.

Dan juga, Nice Cote D’Azur yang selalu kece nan indah banget. Bandaranya bisa dilihat dengan jelas kan 😀 .

Nice

Anyway, Nice memang sebagaimana yang kuingat, kotanya asyik, haha 😆 . Perjalanan ini membuatku bertanya kepada diri sendiri mengapa aku tidak mengunjungi kota di Cote D’Azur ini lebih sering! Maksudku, ini baru kali keduaku loh di sana, dan yang sebelumnya dan kali pertama adalah 5,5 tahun yang lalu!

Sisi gelap dari Laut Tengah

Cuacanya sendiri “gado-gado” banget di perjalanan ini, dimana cuacanya menjengkelkan di hari Sabtu (soalnya hujan, haha) tetapi sempurna banget di hari Minggu! Bahkan, aku merasa aku memakai terlalu banyak pakaian hari itu (sehingga agak terasa kurang nyaman) tetapi nggak ada pilihan lain soalnya aku sudah otw ke bandara, haha. Dan juga aku kelupaan membawa kacamata hitamku sehingga aku harus memicingkan mata! Haha 😆 .

Promenade Des Anglais dengan cuaca Cote D’Azur yang sempurna di hari Minggu.

Yang berikut ini bisa dibilang beruntung maupun sial. Kebetulan akhir pekan ini adalah akhir pekan pembukaan dari Carnaval De Nice; dan aku sama sekali tidak tahu akan hal ini sampai ketika aku tiba di sana. Ini artinya rencanaku di perjalanan ini tidak aku sesuaikan dengan jadwal acara ini, dimana aku tidak memiliki tiket maupun tidak siap secara fisik untuknya (Acaranya berlangsung di lama hari dan aku sudah kecapaian waktu itu! Haha 😆 ). Sisi baiknya adalah ada beberapa hiasan yang berkaitan dengan karnaval di kotanya sehingga nampak “unik” dan lebih meriah daripada biasanya, haha…

Carnaval De Nice

Ngomongin makanan, karena waktuku hanya sebentar di sana, aku hanya memiliki waktu untuk satu kali makan malam saja. Aku memutuskan untuk mampir di sebuah restoran di dekat hotel. Ketika melihat menunya, aku melihat sebuah menu yang namanya adalah “Masakan Niçois”. Iya, masakan yang namanya seperti menantang kita dengan berkata “Nggak mungkin deh lebih lokal/khas daripada masakan ini!“. Haha. Jadi jelas dong ya aku memesannya.

“Masakan Niçois” yang enak banget.

Dan ternyata memang enak! Seperti tipikal di daerah ini, masakannya nampak seperti fusion (kurang lebih begitu) antara makanan Prancis dan Italia, dimana beef stew disajikan dengan tagliatelle dan beberapa masakan sampingan vegetarian!

Perjalanan ini memang adalah perjalanan yang seru ke Nice; tetapi memang terlalu singkat. Jadi kesimpulannya, sepertinya aku harus mempertimbangkan untuk mengunjungi Nice lebih sering, dan menginap agak lamaan dikit gitu di sana! Haha 😆 .

#2048 – 2017 Year End Trip (Part I: KLM KL 605 AMS-SFO in Economy)

ENGLISH

Posts in the 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD named “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

I managed to snatch seat 10K, a window seat in the first row of economy comfort, while checking-in online the day before the trip. I was able to get this seat in economy comfort for free thanks to my new Platinum status (Normally, one would have had to pay €160 extra just to sit there on this flight to San Francisco!). Anyway, seat 10K was actually the second best seat for me on this flight. The best one would have been seat 10A because it would provide a bird’s eye view of San Francisco upon landing but that seat had already been taken, damn! Haha 😛 .

Checking in for my flight KL 605

Long story short, I arrived at Schiphol and checked my luggage in, upon which I also got a paper boarding pass. I waited for the flight at the KLM Crown Lounge and then went to the gate about 20 minutes before boarding time. The flight today would be operated with a Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD which KLM named “Bougainville”.

KLM’s Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD was ready to go to SFO

As you could see in the photo above, the weather at Schiphol today was not at the best condition. After all passengers at the gate boarded, the captain informed us that we were not given the green light to depart yet because we were still waiting for some connecting passengers whose coming flights to Amsterdam were delayed due to Schiphol’s current limited runway capacity. And so we had to sit in the plane for about an hour before we were finally given the permission to go. We took off from runway 24 and PH-BHD turned northwest towards California.

Finally taking off from runway 24 of AMS

Let’s start with the seat. KLM configured their Boeing 787-9 Dreamliner with the 3-3-3 layout in economy. This layout was actually fine. But to me, the “problem” was, just about two weeks prior I was flying a Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER which Garuda also configured with the 3-3-3 layout (While many other airlines, including KLM, chose to configure their Boeing 777s with the 3-4-3 layout). However, a Boeing 777-300ER was a bigger airplane, hence wider cabin, than a Boeing 787-9 Dreamliner. I guess because of this, somehow PH-BHD’s cabin felt a little bit “crammed” to me, haha.

A KLM Dreamliner selfie

Anyway, shortly after take-off, a snack and drink service was provided. The snack was a delicious roasted almond and I chose to pair it with white wine, haha. After the snack service, the flight attendants distributed the warm tissues service, a typical KLM’s long-haul service in economy which was really nice IMO.

I then started to watch the classic movie The Graduate at the AVOD IFE. Speaking of the AVOD, I wasn’t that much impressed with the content (in terms of movies and songs) this time, unfortunately. Though, perhaps the fact that there had been not a lot of new movies which excited me in the past several months might play a role in this too, haha.

The lunch service on board KLM flight KL605

The lunch service was provided not long after; with the choice being a vegetarian or a meatball dish. Obviously I opted for the meatball one, haha 😛 . And it was good!

Just after lunch, the map showed that we were already flying above … Greenland! I was of course excited about this and looked out the window! Greenland was, unlike its name, fully white as it was covered with snow and ice, haha.

Greenland, which looked more white than green to me.

PH-BHD then continued to fly towards Canada, upon which an ice cream snack service was provided. After finishing The Graduate, I decided to watch a second movie, Guardians of The Galaxy Vol. 2. And also, I tried KLM’s wifi which were available on their Boeing 787-9 Dreamliners. The wifi access was based on data instead of time, which was a factor I did not really like. But in terms of price, I thought their pricing was fair enough, even though a few times I had small problems with the connectivity.

Btw, as usual in a long-haul KLM flight, the flight attendants went on many rounds around the cabin bringing a tray of drinks for the passengers, which was, of course, such a very nice service! More snacks were also available at the galley. As we were entering the United States air space, the late lunch service was provided, which was also tasty.

The late lunch service on board KLM flight KL605

Long story short, at around 1 PM local time we started our descent towards San Francisco International Airport. We were not able to recover from our departure delay, though; and so we still arrived in San Francisco about one hour behind schedule. At 1:28 PM, we landed at runway 28L of San Francisco International Airport, here is the landing video:

PH-BHD parked at the International Terminal where I saw Emirates’, Japan Airlines’, Korean Air’s, Air France’s, and Aeromexico’s planes. Our delay meant that we arrived after all these airlines resulting in: very long lines at immigration! 😖 I had to wait for more than an hour before clearing immigration! And so when I arrived at the baggage area, my bag was already waiting for me nicely there, haha.

I exited the terminal and went to the BART station to take the train to Downtown San Francisco. And here, my two weeks vacation in California started!!

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class


Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD bernama “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

Aku berhasil mengamankan kursi 10K, kursi jendela di baris pertama kelas economy comfort, ketika check-in online sehari sebelum berangkat. Aku bisa mendapatkan kursi economy comfort ini dengan gratis loh berkat status Platinum baruku ini (Normalnya, seorang penumpang harus membayar ekstra €160 (sekitar Rp 2,6 juta) untuk duduk di kursi ini di penerbangan ke San Francisco!). Anyway, kursi 10K sebenarnya adalah kursi terbaik kedua di penerbangan ini bagiku. Yang terbaik adalah kursi 10A karena dari sana aku akan mendapatkan pandangan San Francisco dari atas ketika mendarat. Tetapi sialnya kursi itu sudah diambil orang lain nih! Haha 😛 .

Check in untuk penerbangan KL 605

Singkat cerita, aku tiba di Schiphol, meng-check-in-kan bagasiku, dan mendapatkan boarding pass fisik. Aku menunggu penerbanganku di KLM Crown Lounge dan kemudian berjalan ke gate sekitar 20 menit sebelum waktu boarding. Penerbangan hari ini akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD yang KLM beri nama “Bougainville”.

Pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM rego PH-BHD siap untuk berangkat ke SFO

Seperti yang terlihat di foto di atas, cuaca di Schiphol hari ini memang sedang kurang oke. Setelah semua penumpang yang berada di gate naik ke dalam pesawat, kaptennya memberi-tahu bahwa kami masih belum diberikan lampu hijau untuk berangkat karena ternyata kami masih harus menunggu beberapa penumpang connecting yang penerbangannya terlambat mendarat di Schiphol akibat kapasitas landasan pacu bandara yang dikurangi karena kondisi cuaca. Jadilah kami harus duduk di dalam pesawat selama satu jam-an sebelum akhirnya bisa berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 24 dan kemudian PH-BHD berbelok ke arah barat laut menuju California.

Akhirnya lepas landas dari landasan pacu 24nya AMS

Mari ngomongin masalah kursi. KLM mengonfigurasi Boeing 787-9 Dreamliner mereka dengan layout 3-3-3 di ekonomi. Layout ini sebenarnya oke-oke aja sih. Yang jadi “masalah” bagiku adalah baru sekitar dua minggu sebelumnya aku terbang dengan pesawat Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia yang mana Garuda konfigurasi dengan layout 3-3-3 juga (Padahal banyak maskapai lain, termasuk KLM, memilih layout 3-4-3 untuk pesawat tipe Boeing 777 ini). Namun, Boeing 777-300ER kan adalah tipe pesawat yang lebih besar ya, yang mana artinya juga memiliki kabin lebih besar, daripada Boeing 787-9 Dreamliner. Aku duga karena ini, kabinnya PH-BHD ini jadi terasa “sempit” untukku, haha.

KLM Dreamliner selfie

Anyway, tidak lama setelah lepas landas, layanan snack dan minuman diberikan. Snack-nya berupa kacang almond panggang yang mana rasanya enak banget loh; dan tentu saja aku temani dengan white wine, haha. Setelah layanan snack, awak kabin membagikan layanan tisu hangat, sebuah layanan khasnya KLM di ekonomi yang menurutku oke.

Aku kemudian mulai menonton film klasik The Graduate di AVOD IFE. Nah, ngomongin AVODnya nih, aku kok agak kecewa ya dengan isinya (dalam hal pilihan film dan lagu), sayangnya. Mungkin ini diakibatkan karena memang tidak ada banyak film yang menarik sih beberapa bulan belakangan ini, haha.

Layanan makan siang di penerbangan KLM KL605

Layanan makan siang disajikan tak lama setelahnya; yang mana pilihannya adalah menu vegetarian atau menu bola daging. Ya jelas lah ya aku memilih bola daging, haha 😛 . Dan rasanya enak!

Setelah makan siang, peta menunjukkan bahwa ternyata kami sudah berada di atasnya … Greenland! Jelas dong aku excited dan langsung menengok keluar jendela! Greenland itu, tidak seperti namanya, berwarna putih banget karena memang terselimuti salju dan es, haha.

Greenland, yang nampak lebih putih daripada hijau untukku.

PH-BHD kemudian lanjut terbang menuju Kanada, dimana layanan es krim dibagikan. Setelah selesai menonton The Graduate, aku memutuskan untuk menonton film kedua, Guardians of The Galaxy Vol. 2. Oh iya, pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM juga dilengkapi dengan wifi loh. Tetapi wifi-nya menggunakan kuota paket data sih, bukannya waktu, yang mana merupakan satu faktor yang aku kurang begitu suka. Tetapi untuk masalah biaya, aku rasa harga aksesnya cukup fair juga, walaupun terkadang aku konektivitasnya bermasalah sih.

Btw, seperti biasa di penerbangan jarak jauhnya KLM, awak kabinnya aktif berkeliling kabin sambil membawa nampan berisi minuman untuk para penumpang yang mana, jelas, adalah pelayanan yang oke banget! Snack juga disediakan di dapur pesawat. Ketika kami memasuki area udara Amerika, layanan makan siang kedua dibagikan, yang mana rasanya juga lumayan.

Layanan makan siang kedua di penerbangan KLM KL605

Singkat cerita, sekitar jam 1 siang waktu setempat pesawat mulai turun menuju Bandara Internasional San Francisco. Kami tidak berhasil memotong waktu keterlambatan kami, sehingga kami tiba di San Francisco sekitar satu jam terlambat. Jam 1:28 siang, pesawat mendarat di landasan pacu 28L Bandara Internasional San Francisco, berikut ini video pendaratannya:

PH-BHD parkir di Terminal Internasional dimana aku melihat sudah ada pesawatnya Emirates, Japan Airlines, Korean Air, Air France, dan Aeromexico. Keterlambatan kami berarti kami baru tiba setelah semua maskapai lain ini yang berakibat pada: antrian yang panjang banget di imigrasi! 😖 Aku harus mengantri selama lebih dari satu jam loh! Dan jadilah ketika tiba di area bagasi, bagasiku sudah menungguku di sana, haha.

Aku keluar dari terminal dan berjalan menuju stasiun kereta BART untuk naik kereta menuju Downtown San Francisco. Dan di sini, liburan dua mingguku di California resmi dimulai!!

BERSAMBUNG…

#1939 – Early Summer 2017 Weekend TripS (Part I: Lyon)

ENGLISH

Posts in the Early Summer 2017 Weekend TripS series:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Getting to/from Lyon

Obviously, I chose not to fly direct to Lyon, haha. In fact, on both ways I had a transit at Paris-CDG. In general, all the flights were standard short-haul flights with Air France so I would not get to too much details here. There was only one “incident” on my way to Lyon that worth sharing, haha 😛 .

I had quite a tight connection at Paris-CDG, at only 50 minutes. So obviously I was not happy to find out that the departure of my flight AF1741 was delayed by 20 minutes! But it did not end there. Once all passengers boarded, the captain announced that Schiphol was very busy at the time and we only got a clearance for departure in another 20 minutes! The string of delays still did not finish here. When we finally left the terminal, it turned out we got a departure slot at:

Runway 36L aka the Polderbaan

Yes, the friggin’ Polderbaan So all in all, consequently we took off from Schiphol one hour (!) behind schedule.

But there was nothing I could do so I just tried to relax (and order some wine on board, lol). Though, I wasn’t all that worried. I already checked online and I found that Air France had a scheduled evening flight to Lyon from Paris-CDG later today. So even in the worst case scenario, I figured they would bump me into that flight. Sure it would cause some inconvenience in terms of my arrival time in Lyon, but I had been to Lyon before anyway so there would be not much that I would miss.

A small bottle of wine to enjoy the moment.

Anyway, 50 minutes later we landed at runway 09L of Paris-CDG. I walked briskly once I deboarded about 5 minutes before the scheduled departure of my connecting flight, on the slightest hope that my connecting flight would probably be delayed too. I checked the transit monitors and went to my gate.

And I found it surprising that my gate was the same gate that I just got off from. Yep, as it turned out, my connecting flight to Lyon would be operated with the same airplane (even with the same crew set)! This was the first time ever I took these kind of flights! Lol 😆 . So consequently the flight to Lyon was also delayed by around 45 minutes! Yep, at the end, everything worked out well (for me)! 😛

I took two different flights (AF1741 and AF7646) with this Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXA today!

Once all passengers to Lyon boarded, the captain apologized for the delay and explained this was due to late arrival from Amsterdam. Well, I could testify for that! Lol 😛 .

Lyon

Lion selfie in Lyon

It worths mentioning that this trip took place during a very warm weekend in Europe; and this was also true for Lyon. It was really warm when I was there, where the temperature came close to 30°C or so, haha. Despite this, though, obviously I still managed to get around the city, haha 😆 .

I bought a daily public transpotation card to get around Lyon. I stayed near Gare Part Dieu and that was quite some distance from Vieux Lyon (Old Lyon), the most attractive (and touristy) part of the city. Obviously I was not planning to walk there because of the temperature, lol 😆 . The Lyonese trams looked really cool, though. Here is one of them:

A Lyonese tram

Anyway, unsurprisingly it was a busy weekend in Lyon where the Vieux Port was full of people (read: tourists)! I crossed both the Rhone and Saone rivers and walked around the old town. After lunch, I took the funicular to the top of the Fourviere Hill here Lyon’s Notre Dame Basilica was located. The small park next to the basilica provided good bird’s eye view of the city too.

Notre Dame Fourviere in Lyon

I looked at the map and Theatre Gallo-Romains did not look very far away from the basilica. Fortunately this turned out to be true because I decided to walk there, haha 😆 . This Roman theatre appeared like how I remembered it from 2014, it was very well-preserved.

Theatre Gallo-Romains

From there, I took the other funicular line down back to Vieux Lyon. At this point, I felt like I had walked enough and it was really warm anyway, so I decided to: shop! Haha 😆 . Even at one point I decided to just go to the big mall near Gare Part Dieu because it had air-conditioner in it, haha 😆 .

The Food

Lyon is known as the gastronomy capital of France, so obviously food was one main element of this trip, haha, even though I did not go to any Michelin-starred restaurant, unlike the last time.

One dish which I did not have the chance to try the last time I was in Lyon was quenelle de brochet. And so I told myself to not miss it this time around (and gave it a go to miss the andouillette, another Lyon’s specialty, because I was traumatized by the mustard sauce the last time I had it (I hate French mustard)). Anyway, the quenelle tasted good. I would probably not call it my most favorite dish ever because I found the sauce to be really creamy and heavy, but it was definitely much better (for me) than andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Another dish surprised me, btw, because (1) it was, obviously, really good and (2) I told myself why I never thought about it before. It was a “fillet de canard” (duck breast) steak. Really, it tasted very good!! In fact, maybe I will try to cook one myself soon! Hmm 🤔

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Early Summer 2017 Weekend TripS:
1. Introduction
2. Part I: Lyon
3. Part II: Bremen
4. Part III: Thalys and Paris
5. Part IV: Roland Garros 2017

Pergi ke Lyon

Jelas dong aku tidak terbang langsung dari Amsterdam ke Lyon, haha. Di kedua arah, aku transit dulu di Paris-CDG. Secara umum, semua penerbangannya adalah penerbangan standar jarak dekat dengan Air France sehingga aku tidak akan merincinya di sini. Hanya saja, ada satu “insiden” di perjalanan keberangkatanku ke Lyon yang layak diceritakan 😛 .

Waktu transitku cukup ketat di Paris-CDG, hanya 50 menit saja. Jadi jelas aku merasa tidak terlalu senang ketika tahu bahwa penerbangan AF1741ku dijadwalkan berangkat terlambat 20 menit hari ini! Masalahnya lagi, ternyata berita buruknya belum berakhir. Setelah semua penumpang naik pesawat, pilot mengumumkan bahwa Bandara Schiphol sangat sibuk waktu itu sehingga kami baru mendapatkan giliran untuk berangkat 20 menit kemudian! Disini pun masalahnya masih belum berakhir pula. Setelah akhirnya pesawat bergerak, ternyata keberangkatan kami adalah dari:

Landasan pacu 36L alias Polderbaan

Iyaa, Polderbaan laknat itu Semua ini mengakibatkan kami lepas landas satu jam (!) di belakang jadwal.

Berhubung toh semuanya di luar kuasaku, ya sudah aku pasrah saja dan berusaha santai (dan memesan wine dong di pesawat, haha). Tapi aku memang tidak begitu khawatir sih. Aku sudah cek di internet bahwa hari itu Air France memiliki penerbangan malam ke Lyon dari Paris-CDG. Jadi andaikata skenario terburuk terjadi, aku cukup yakin Air France akan memindahkanku ke penerbangan itu. Memang sih ini akan mengakibatkan sedikit ketidak-nyamanan dalam hal waktu tibaku di Lyon, tetapi toh aku sudah pernah ke Lyon sebelumnya jadi tidak terlalu banyak lah yang akan kulewatkan.

Sebotol kecil wine untuk memasrahkan diri kepada situasi.

Anyway, sekitar 50 menit kemudian kami mendarat di landasan pacu 09L Bandara Paris-CDG. Aku berjalan cepat-cepat begitu keluar dari pesawat sekitar 5 menit sebelum jadwal keberangkatan penerbangan lanjutanku, dengan berbekal harapan amat kecil penerbanganku selanjutnya mungkin terlambat juga, haha. Aku kemudian mengecek layar monitor transit di bandara untuk mengetahui gerbang keberangkatannya.

Aku cukup kaget ketika melihat bahwa gerbangnya adalah gerbang yang sama dari mana aku baru saja keluar. Iya, ternyata, penerbanganku ke Lyon akan dioperasikan dengan pesawat yang sama (bahkan dengan set kru yang sama)! Ini adalah kali pertama aku mengalami kejadian begini nih! Haha 😆 . Jadilah akibatnya penerbangan ke Lyon juga kena delay selama 45 menit! Iya, pada akhirnya, semuanya baik-baik saja (untukku)! 😛

Aku menaiki dua penerbangan berbeda (AF1741 dan AF7646) dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXA ini hari ini!

Setelah semua penumpang tujuan Lyon naik pesawat, pilotnya meminta-maaf atas keterlambatan ini dan menyebutkan ini disebabkan oleh keterlambatan penerbangan sebelumnya dari Amsterdam. Yah, aku bisa kok bersaksi untuk pernyataan ini! 😛

Lyon

Lion selfie di Lyon

Relevan untuk disebutkan bahwa perjalanan ini berlangsung di akhir pekan yang amat panas di Eropa; dan di Lyon juga demikian. Panas banget deh ketika aku di sana, dimana suhu udaranya mencapai 30°C, haha. Walaupun begini, toh aku masih sempat jalan-jalan di kotanya, haha 😆 .

Aku membeli tiket harian transportasi umum untuk berkeliling Lyon. Aku menginap di dekat Gare Part Dieu yang berjarak cukup jauh dari Vieux Lyon (Lyon Tua), bagian paling kece (dan paling penuh turis) dari Lyon. Jelas, aku ogah berjalan-kaki kesana apalagi lagi panas-panasnya begini, haha 😆 . Btw, disain tram di Lyon keren-keren loh. Berikut ini salah satunya:

Sebuah tramnya Lyon

Anyway, tidak mengherankan akhir pekan ini ramai banget di Lyon dimana Vieux Portnya penuh orang (baca: turis)! Aku menyebrangi kedua sungai Rhone dan Saone dan berjalan-kaki keliling kotanya. Setelah makan siang, aku naik funicular ke atas bukit Fourviere dimana Basilika Notre Dame-nya Lyon berada. Dari taman kecil di samping basilikanya kita bisa melihat pemandangan Lyon dari atas.

Notre Dame Fourviere di Lyon

Aku lihat di peta dan Teater Gallo-Romains nampak tidak jauh dari basilikanya. Untung ini benar karena aku memutuskan untuk berjalan-kaki kesana, haha 😆 . Teater Romawi ini masih seperti yang kuingat dari tahun 2014, sungguh terawat dengan amat baik.

Teater Gallo-Romains

Dari sana, aku menaiki funicular lain untuk turun kembali ke Vieux Lyon. Aku merasa sudah cukup jalan-jalannya dan toh udaranya panas banget, jadilah aku memutuskan untuk: shopping! Haha 😆 . Bahkan di satu waktu aku memutuskan untuk ngemall aja loh di sebuah mall besar di dekat Gare Part Dieu yang dilengkapi dengan AC, haha 😆 .

Makanannya

Lyon dikenal sebagai ibukota kulinernya Prancis, jadi jelas makanan adalah satu elemen penting dari perjalanan ini, haha, walaupun aku tidak pergi ke restoran berbintang Michelin sih kali ini, tidak seperti yang lalu.

Satu menu yang tidak sempat aku cobain ketika terakhir kali aku di Lyon adalah quenelle de brochet. Jadilah aku berencana untuk tidak melewatkannya kali ini (dan tidak berkeberatan untuk melewatkan andouillette, sebuah makanan khasnya Lyon yang satunya, karena aku trauma dengan saus mustard-nya waktu itu (aku tidak suka mustard Prancis!)). Anyway, quenelle-nya enak juga ternyata. Mungkin aku tidak akan mengklaimnya sebagai masakan terfavoritku karena aku merasa sausnya creamy dan “berat” banget, tetapi (untukku) tetap jauh lebih enak daripada andouillette, haha 😀 .

Quenelle de brochet

Satu menu mengagetkanku, btw, karena (1) jelas, rasanya enak banget dan (2) Kok aku nggak kepikiran sebelumnya ya? Haha. Menu ini adalah steak “fillet de canard” (dada bebek). Beneran loh, rasanya enak banget!! Malahan, aku berpikir untuk sekali-sekali mencoba membuatnya sendiri nih! Hmm 🤔

#1906 – AvGeek Weekend Trip #7 (AMS – CDG – LYS – AMS)

ENGLISH

In mid-March, I went on another Avgeek Weekend Trip. At the time I wasn’t sure whether I would write the story or not. Well, as it turned out, I have decided that I would 😀 .

My routing this weekend. Created with gcmap.com

Posts in the AvGeek Weekend Trip series:
1. AvGeek Weekend Trip #1 (AMS-CDG-STR-AMS)
2. AvGeek Weekend Trip #2 (AMS-MAD-FRA-AMS)
3. AvGeek Weekend Trip #3 (AMS-LYS-NCE-AMS)
4. AvGeek Weekend Trip #4 (AMS–CDG, ORY–LYS–AMS)
5. AvGeek Weekend Trip #5 (AMS-CPH-ARN-AMS)
6. AvGeek Weekend Trip #6 (AMS-CDG, ORY-MRS-BOD-AMS)
7. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–CDG–LYS–AMS)

***

While boarding for my Amsterdam-Paris flight AF1341 was on time, I felt a little bit anxious today because it took awhile to complete. You see, my connecting time in Paris was only 50 minutes and two years ago this short transit time backfired on me. At the time I missed my connecting flight in Paris due to delayed departure from Amsterdam (because of de-icing).

The first flight today was with this Air France’s Airbus A321-200 reg F-GTAD

Anyway, the flight today was operated with Air France’s Airbus A321-200 reg F-GTAD. And, as usual, it was a regular pleasant Amsterdam – Paris flight. As the last time, I felt like the complimentary snack service on board an Air France’s mainline short-haul European flight had decreased in quality a little bit.

The complimentary snack on board flight AF1341. The snack used to be better. This was like HOP!’s level of service last year.

Thank to the buffer time in the schedule, we only got in Paris 5 minutes late. It was not bad at all given that my connecting flight would depart from the same pier.

But then, as it turned out, my connecting Paris – Lyon flight AF7644 was delayed for about 1 hour due to technical problem! Lol 😆 . They had to find a replacement aircraft, which meant they would have to “downgrade” the flight from an A321 to an A320 that was smaller. Consequently, a few passengers were called in the gate, presumably because they needed to be moved to some other flights because of this downgrade. Thankfully, I wasn’t one of them.

Lunch at Air France’s Lounge at Paris-CDG

Anyway, I used this now extra time to have lunch at an Air France’s lounge. The lounge at the pier was closed due to some renovation work so I had to go to the lounge in the next pier. Due to capacity constraint, they did not let qualified passengers to invite guests into the lounge, which infuriated one guy in front of me.

When it was boarding time, I went to the gate. And for the first time ever, my flight would depart from a remote stand of Paris – Charles De Gaulle Airport!! 😍 So they had to take the passengers to the plane with buses, and we got to board via stairs! 😀

Second flight today with this Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXO. We gotta board via stairs!

The flight today would be operated with an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXO. I was originally seated in seat 1A but I was asked to move to seat 1C because I had two toddlers and their mother sitting next to me, and the older toddler would need to sit in a window seat 😣. Anyway, it was another regular flight to Lyon.

At Lyon Airport, I checked-in for my flight back to Amsterdam. After passing security, I went to an Air France’s salon there. I just intended to ask whether the lounge after immigration still welcomed SkyTeam Elite Plus passengers (It did in August, see AvGeek Weekend Trip #4). Luckily I asked because apparently it did not anymore, even though the attendant did not seem to be really sure about it.

Artsy stuff at Lyon – St. Exupery Airport

I waited there a little bit, but then I was bored. You see, Air France’s lounge at Lyon Airport was really underwhelming (read AvGeek Weekend Trip #3). And so I decided to leave, pass the immigration, and try my luck at the lounge after that. It turned out the attendant was correct, the lounge no longer took SkyTeam Elite Plus passengers 😦 . As there was no way to go back to Air France’s lounge, I just waited at the departure hall.

Third flight today with this KLM Cityhopper’s Embraer ERJ190 reg PH-EZB.

The flight back to Amsterdam would be operated with a KLM Cityhopper’s Embraer ERJ190 reg PH-EZB. It went on time, really smooth, very efficient, and pleasant; just like any other typical KLM flight 🙂 . Just after 19:30, I was already back at Schiphol, haha 😆 .

I had dinner at the airport before heading back to Delft. And here, this short AvGeek Weekend Trip of mine ended 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Pertengahan Maret lalu, aku pergi dalam sebuah Avgeek Weekend Trip yang lain. Waktu itu aku nggak yakin apakah ceritanya akan kutulis atau tidak. Ternyata, aku ada waktu sekarang sehingga aku akan menceritakannya 😀 .

Ruteku akhir pekan ini. Kubuat dengan gcmap.com

Posting-posting dalam seri AvGeek Weekend Trip:
1. AvGeek Weekend Trip #1 (AMS-CDG-STR-AMS)
2. AvGeek Weekend Trip #2 (AMS-MAD-FRA-AMS)
3. AvGeek Weekend Trip #3 (AMS-LYS-NCE-AMS)
4. AvGeek Weekend Trip #4 (AMS–CDG, ORY–LYS–AMS)
5. AvGeek Weekend Trip #5 (AMS-CPH-ARN-AMS)
6. AvGeek Weekend Trip #6 (AMS-CDG, ORY-MRS-BOD-AMS)
7. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–CDG–LYS–AMS)

***

Walaupun boarding penerbangan AF1341 Amsterdam-Parisku berlangsung tepat waktu, aku sedikit merasa was-was karena prosesnya berlangsung lama. Begini, waktu transitku di Paris hanya 50 menit saja dan dua tahun lalu waktu transit yang singkat ini membawa pengalaman buruk. Waktu itu, aku ketinggalan penerbangan koneksiku di Paris akibat terlambatnya keberangkatan dari Amsterdam (akibat de-icing).

Penerbangan pertama hari ini adalah dengan Airbus A321-200nya Air France dengan rego F-GTAD ini

Anyway, penerbangan hari ini akan dioperasikan dengan Airbus A321-100nya Air France dengan rego F-GTAD.Dan, seperti biasa, ini adalah penerbangan yang nyaman dari Amsterdam ke Paris. Seperti yang lalu sih, aku merasa layanan snack di kelas ekonominya Air France di penerbangan jarak pendek intra-Eropa kok sedikit menurun ya kualitasnya.

Layanan snack di penerbangan AF1341. Snack-nya dulu lebih oke nih. Ini sih seperti level layanannya HOP! tahun lalu.

Untung akibat buffer time di jadwal, pesawat hanya terlambat 5 menit saja di Paris. Nggak masalah lah karena penerbangan lanjutanku kan dijadwalkan berangkat di pier yang sama.

Tetapi kemudian, ternyata penerbangan lanjutan AF7644 Paris – Lyonku terlambat 1 jam dong karena masalah teknis, haha 😆 . Mereka harus mencari pesawat pengganti, yang mana artinya pesawatnya harus di-“downgrade” dari A321 ke A320 yang lebih kecil. Sebagai akibatnya, ada beberapa penumpang yang dipanggil ke gerbang, aku duga sih mereka harus dipindahkan ke penerbangan lain karena downgrade ini. Untungnya, aku bukan lah salah satu dari mereka.

Makan siang di Lounge Air France di Paris-CDG

Anyway, waktu ekstra ini kumanfaatkan untuk makan siang di lounge-nya Air France. Lounge di pier-ku sedang ditutup karena sedang direnovasi sehingga aku harus pergi ke lounge di pier sebelah. Karena keterbatasan kapasitas, kali ini mereka tidak mengizinkan penumpang dengan akses ke lounge untuk membawa tamu ke dalam, yang mana membuat bapak-bapak di depanku marah besar.

Waktu naik pesawat, aku pergi ke gerbang. Dan untuk pertama-kalinya, penerbanganku akan diberangkatkan dari tempat parkir remote di bandara Paris – Charles De Gaulle!! 😍 Jadi mereka harus membawa penumpang dengan bus dan kami naik pesawat melalui tangga gitu deh! 😀

Penerbangan kedua hari ini dengan pesawat Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXO. Naik pesawatnya dengan tangga!

Penerbangan hari ini dioperasikan dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXO. Awalnya aku diberikan kursi 1A tetapi aku kemudian dipindah ke kursi 1C karena dua batita dan ibunya yang duduk di sebelahku. Dan batita yang besar mesti duduk di kursi jendela gitu deh 😣. Anyway, penerbangannya sendiri adalah penerbangan reguler ke Lyon.

Di Bandara Lyon, aku check-in untuk penerbanganku ke Amsterdam. Setelah melewati sekuriti, aku pergi ke lounge-nya Air France. Aku hanya berniat untuk bertanya apakah lounge yang berlokasi setelah imigrasi masih menerima penumpang SkyTeam Elite Plus (Agustus lalu sih iya, baca AvGeek Weekend Trip #4). Untung aku bertanya karena ternyata tidak lagi demikian, walaupun petugasnya juga nampak kurang yakin sih.

Hiasan berseni di Bandara Lyon – St. Exupery

Aku menunggu di sana sebentar dan kemudian merasa bosan. Jadi lounge-nya Air France di bandara Lyon memang kurang oke gitu deh (baca AvGeek Weekend Trip #3). Jadilah aku memutuskan untuk keluar, melewati imigrasi, dan untung-untungan dengan lounge setelahnya. Ternyata petugasnya benar, lounge ini tidak lagi menerima penumpang SkyTeam Elite Plus 😦 . Karena tidak mungkin lagi kembali ke lounge-nya Air France, aku menunggu di gerbang keberangkatan saja.

Penerbangan ketiga hari ini dengan Embraer ERJ190nya KLM Cityhopper dengan rego PH-EZB.

Penerbangan kembali ke Amsterdam dioperasikan dengan Embraer ERJ190nya KLM Cityhopper dengan rego PH-EZB. Penerbangan ini tepat waktu, mulus, efisien, dan nyaman lah; sama seperti standar penerbangannya KLM lainnya 🙂 . Sekitar jam 7:30 malam, aku sudah kembali lagi di Schiphol, haha 😆 .

Aku makan malam di bandara sebelum pulang ke Delft. Dan di sini, perjalanan AvGeek Weekend Trip singkat ini berakhir 🙂 .

#1724 – 2016 Baltic Spring Trip (Part II: Jumbo Stay and Air Baltic)

ENGLISH

Previous post on the 2016 Baltic Spring Trip series:
1. Part I: Stockholm

Previously on 2016 Baltic Spring Trip: Zilko went to the Baltic region for Spring this year. After spending two nights in downtown Stockholm, he was now ready to experience a very unique part of this trip: staying in a Boeing 747-200 and flying Boeing 737 classics! 🙂

***

Jumbo Stay

Stockholm has actually been under my watch since about one and a half years ago ever since I realized the existence of Jumbo Stay, a hostel located in the area of Stockholm – Arlanda Airport. Why? Well, simply because the hostel looks like this:

My hostel for a night

My hostel for the night

Omg!! Yes, the hostel is in the form of a retired Boeing 747-200!! 😍😍😍😍😍

As an aviation enthusiast, obviously I was so excited to stay there! And while arranging this trip, I was able to construct such an efficient and optimal plan involving this hostel. If I stayed in this hostel in my last night in Stockholm, the location of the hostel would enable me to take an early flight out of Stockholm without the requirement of getting up very early in the morning. With my plan of making use of Air Baltic’s transferring flight in Riga to see a bit of Latvia anyway, this was a perfect benefit because now I could take the first flight out of Stockholm to Riga which departed at 8 AM, haha 😆 .

The Hostel

Boeing 747!! 😍😍😍

Boeing 747!! 😍😍😍

It was indeed a real Boeing 747-200. The plane first flew for Singapore Airlines in 1976 and at one point in the 1990s was shortly leased by Garuda Indonesia (I assume for the Hajj flights). In 2002, the plane was retired after about 26 years in service.

Obviously the best room in the hostel was the cockpit, which they turned into a “cockpit suite” which apparently also included the entire upper deck of the jumbo jet. Obviously I didn’t stay at the suite (limited budget here, haha 😆 ) and so I decided to stay in a very unique room:

Jet engine cabins

Jet engine cabins

Yes, I stayed in the “jet engine” cabin, quite cool, no? #antimainstream

Well, on paper it was indeed cool. But the problem was the non-existence of toilet in the cabin and so if I needed to go to one, I would have to go to the main fuselage. And now imagine having to do that in the middle of a cold night! Haha 😆

There was a cafe at the front of the plane (that is normally used as the premium class cabin in active Boeing 747s 😛 ) which provided basic snacks. This cafe was also where breakfast took place in the morning. While it was, of course, cool, my favorite part was (for hanging out) actually the left wing that was equipped with some benches and tables! I prefered to sit there, given bearable weather of course 😛 .

The left wing of the Jumbojet

The left wing of the Jumbojet

It was a very nice stay at the Jumbo Stay. My room (except for the toilet matter and the very weak wifi signal) was actually comfortable and really warm in the night.

Dinner

For dinner, however, they only provided super basic stuffs like sandwich and pizza. Well, I was on vacation and I wanted something more “proper” than that for dinner. And so I decided to go to Stockholm-Arlanda Airport and had dinner at a hotel’s restaurant there at the 12th floor.

A dinner and a cocktail with such an amazing view!!

A dinner and a cocktail with such an amazing view!!

I ordered a delicious “Belly Buster” (rosemary stuffed lamb) dish and a glass of, well, “Aviation”. I was on the aviation part of this trip so I thought a glass of cocktail called “Aviation” would suit it really well 😉 .

Air Baltic

BT 102 (Stockholm-Arlanda – Riga)

Air Baltic
Flight: Air Baltic BT 102
Equipment: Boeing 737-300 reg YL-BBS
ATD: 08:00 CET (Runway 19R of ARN)
ATA: 10:05 EEST (Runway 18 of RIX)

Originally, this flight was supposed to be operated with a Bombardier Dash8 Q400. But then, somehow that morning through Flightradar24 I found that they changed the equipment to a Boeing 737-300 for some reason. Well, not that I was complaining. Even though I wish it would have been a Boeing 737-500 instead, a Boeing 737-300 was nonetheless still awesome as it was one of the few Boeing 737 Classic series that were still active at this point.

Anyway, boarding commenced on time and we took off from runway 19R of Stockholm-Arlanda Airport. I felt like our take-off was very steep though, as you might be able to see from this picture:

Steep take-off at Stockholm-Arlanda

Steep take-off at Stockholm-Arlanda

Flying on a Boeing 737-300 was such a joy. The interior felt so classic and nothing like the newer generations. This actually brought some nostalgic and unique retro feeling during the flight! Haha 😆 . For instance, look at this toilet:

A retro toilet!!

A retro toilet!!

Instead of a button, to flush the toilet we had to use a lever! 😍

For the flight I decided to buy their on-board menu. Upon checking their website a few weeks back, I was intrigued by their wide selection of dishes (more than 70 choices) and I found the price to be reasonable. Moreover, the offer looked very interesting, like this:

Air Baltic online meal pre-ordering

Air Baltic’s online meal pre-ordering

You see, a hot meal came also with an appetizer, a dessert, and a selection of drink! And yes, there were a few choices of appetizer and dessert (six or seven each); from which I settled with the salmon with quail’s egg as the appetizer and a dark chocolate cake as the dessert.

Okay, so it does look good in the picture, but how is it in reality? Well, it was like this:

The actual in flight meal

The actual in flight meal

And it was goood!! The appetizer and the main dish were delicious. But to me, the star was definitely the chocolate cake. It was so extremely yummy, especially with the crumbly pieces!! So if you feel like eating anything during an Air Baltic flight, I do recommend their chocolate cake!!

My only negative comment was that they took awhile to prepare my meal. You see, the Stockholm – Riga flight was a very short hop of just about one hour (there was one hour time difference between Sweden and Latvia). However, they only served my dish about 30 minutes into the flight. And so while I was still about 2/3 done into my delicious dessert, the landing announcement was already made so I had to rush through the rest 1/3.

At 10:05 AM local time, we landed at runway 18 of Riga International Airport in Riga, Latvia. Here is the landing video:

BT 307 (Riga – Helsinki-Vantaa)

Air Baltic
Flight: Air Baltic BT 307
Equipment: Boeing 737-500 reg YL-BBD
ATD: 19:55 EEST (Runway 36 of RIX)
ATA: 21:10 EEST (Runway 22L of HEL)

My BT 307 was scheduled to depart at 18:20. So I was already back at Riga International Airport at around 16:00 after a one day trip in the Latvian capital (story to follow in Part III). Riga International Airport was a small airport with just enough number of cafes/shops/etc. I could not enter the lounge because I was just a normal passenger this time, haha 😆 .

One of the best airport seat designs!!

One of the best airport seat designs!!

Originally, the flight was supposed to be operated with a Boeing 737-300. And then, there was an announcement that the flight would be delayed for 90 minutes due to a technical problem. Damn! I could have stayed in Riga longer!

But then something funny happened. You know, I was complaining that I was given a false hope by Air Baltic of flying with a Boeing 737-500 when I bought the ticket and later on they changed the equipment to a Boeing 737-300. And so today I was very aesthetic when I saw this on my Flightradar24 app while waiting for my delayed flight:

What my Flightradar24 app showed me

What my Flightradar24 app showed me

There was an unscheduled Air Baltic flight flying from Tallinn to Riga (as a matter of fact, it was the only Air Baltic flight heading to Riga at that point) and it was a, well, Boeing 737-500!! OMG!! 😍😍😍😍😍 Like, how was this even possible? Lol 😆 .

My wish came to a reality! Finally, now I am entitled to say that I have flown with all types of the Boeing 737 Classic series (Boeing 737-300, -400, and -500) and this section of my logbook is, now, complete!! Yaaay! 😀

Anyway, YL-BBD, the Boeing 737-500, was indeed the replacement for my BT 307 flight to Helsinki. At 19:30, boarding commenced just shortly after the empty plane arrived from Tallinn. I quickly settled into my 4F seat, whose seat pitch was amazing, btw; and then we took off from runway 36 of Riga International Airport. Here is the take-off video:

As visible in the video above, taking-off from runway 36 and sitting on the right side of the plane provided me with an evening view of Riga, Latvia 😍.

Anyway, it was a normal uneventful LCC flight to Helsinki. I did not purchase anything on board this time, though, as I was also still full from my late lunch in Riga. About one hour later, we landed at runway 22L of Helsinki-Vantaa International Airport. Here is the landing video:

From the airport, I took the Finnair bus service to downtown Helsinki…

An Air Baltic's Boeing 737-500!

Finally I flew a Boeing 737-500!

TO BE CONTINUED…

Next on 2016 Baltic Spring Trip:
– One day in Riga
– Foggy in Helsinki
– A day in the Suomenlinna
– One day in Estonia
– Flying Finnair

BAHASA INDONESIA

Posting sebelumnya dalam seri 2016 Baltic Spring Trip:
1. Part I: Stockholm

Sebelumnya dalam 2016 Baltic Spring Trip: Zilko pergi ke daerah Baltic untuk musim semi tahun ini. Setelah menghabiskan dua malam di kota Stockholm, kini ia telah siap untuk mengalami sebuah pengalaman unik dari bagian yang unik dari perjalanan ini: menginap di dalam sebuah Boeing 747-200 dan terbang dengan pesawat Boeing 737 klasik! 🙂

***

Jumbo Stay

Stockholm sebenarnya sudah berada dalam “radar”-ku selama kira-kira satu setengah tahun terakhir setelah aku mengetahui keberadaan Jumbo Stay, sebuah hostel yang berlokasi di area Bandar Udara Internasional Stockholm-Arlanda. Mengapa? Yaa, soalnya hostelnya berpenampakan seperti ini:

My hostel for a night

Hostelku malam ini!!

Omg!! Iya dong, hostelnya adalah sebuah pesawat Boeing 747-200 yang sudah pensiun!! 😍😍😍😍😍

Sebagai seorang aviation enthusiast, jelas dong ya aku pengen banget menginap disana! Nah, ketika merencanakan perjalanan ini, aku bisa membuat sebuah jadwal yang sungguh amat efisien dan optimal yang melibatkan hostel ini. Jika aku menginap di hostel ini di malam terakhirku di Stockholm, lokasi hotelnya memungkinkanku untuk naik penerbangan pagi dari Stockholm tanpa aku harus bangun subuh-subuh amat. Dengan rencanaku untuk memanfaatkan penerbangan transitnya Air Baltic di Riga untuk sedikit melihat negeri Latvia, ini sempurna banget karena aku jadi bisa mengambil penerbangan pertama dari Stockholm ke Riga yang berangkat jam 8 pagi, haha 😆 .

Hostelnya

Boeing 747!! 😍😍😍

Boeing 747!! 😍😍😍

Ini adalah pesawat Boeing 747-200 beneran loh. Pesawatnya dulu pertama kali terbang dengan Singapore Airlines di tahun 1976 dan di satu waktu di tahun 1990an sempat disewa sebentar oleh Garuda Indonesia (aku duga sih untuk penerbangan haji waktu itu). Di tahun 2002, pesawatnya dipensiunkan setelah terbang selama kurang lebih 26 tahun.

Jelas kamar terbaik di hostel ini adalah kokpitnya, yang dijadikan kamar “cockpit suite” yang juga meliputi keseluruhan dek lantai atas pesawatnya. Jelas lah aku tidak menginap di suite-nya (budget dari mana??? Hahaha 😆 ) dan aku memilih untuk menginap di kamar yang amat unik ini:

Jet engine cabins

Kabin mesin jet

Iyaaa, aku tidur di kabin “mesin jet” loh, keren kaaaan? #antimainstream

Di atas kertas memang keren sih. Hanya saja, masalahnya adalah ketiadaan toilet di dalam kabinnya sehingga jika aku butuh ke toilet, aku harus pergi ke badan pesawatnya. Nah, bayangin aja kalau malam-malam gitu aku butuh ke toilet, aku harus keluar kamar di malam yang dingin! Haha 😆

Ada kafe di bagian depan pesawatnya (bagian yang biasanya digunakan sebagai kabin kelas premium di Boeing 747 yang masih aktif 😛 ) yang menyediakan snack basic. Di kafe ini pula lah di pagi hari sarapan diberikan. Walaupun ini, memang, keren, aku justru paling suka untuk duduk-duduk di sayap kiri pesawatnya yang kini dilengkapi dengan beberapa meja dan bangku loh! Kalau cuaca oke, jelas enakan duduk di sayapnya lah ya 😛 .

The left wing of the Jumbojet

Sayap kirinya JumboStay

Asyik deh menginap di Jumbo Stay. Kamarku (dengan mengesampingkan masalah toilet dan sinyal wifi yang lemah banget) ternyata nyaman dan udaranya hangat di malam hari.

Makan Malam

Untuk makan malam, sayangnya, mereka hanya menyediakan makanan-makanan basic aja semacam sandwich atau pizza. Berhubung sedang liburan, aku maunya makan yang lebih “benar” deh untuk makan malam. Oleh karena itu aku pergi ke Bandara Stockholm-Arlanda untuk makan malam di sebuah restoran hotel yang berlokasi di lantai 12.

A dinner and a cocktail with such an amazing view!!

Makan malam, segelas cocktail, dan pemandangan yang luar biasa!!

Aku memesan “Belly Buster” (daging domba berisi rosemary) yang enak banget dan segelas “Aviation”. Pas banget kan, di bagian aviasi dari perjalanan ini, aku meminum segelas cocktail yang dinamai “Aviation”! 😉

Air Baltic

BT 102 (Stockholm-Arlanda – Riga)

Air Baltic
Penerbangan: Air Baltic BT 102
Pesawat: Boeing 737-300 reg YL-BBS
ATD: 08:00 CET (Runway 19R of ARN)
ATA: 10:05 EEST (Runway 18 of RIX)

Awalnya, penerbangan ini dijadwalkan diterbangkan dengan pesawat Bombardier Dash8 Q400. Tetapi kemudian, pagi itu di Flightradar24 aku melihat bahwa pesawatnya mereka ganti menjadi Boeing 737-300. Yaa, aku nggak komplain sih. Walaupun aku waktu itu lebih berharap digantinya ke Boeing 737-500, toh Boeing 737-300 juga seru karena pesawat ini adalah satu dari sedikit seri Boeing 737 Classic yang masih aktif saat ini kan.

Anyway, boarding berlangsung tepat waktu dan kami lepas landas dari landasan pacu 19R Bandara Stockholm-Arlanda. Pagi itu aku merasa lepas landasnya bersudut terjal/tajam banget deh, seperti yang bisa dilihat di foto berikut ini:

Steep take-off at Stockholm-Arlanda

Lepas landas dengan sudut naik yang menukik tajam dari Stockholm-Arlanda

Terbang dengan Boeing 737-300 itu asyik loh. Interiornya pesawatnya klasik dan jadul banget sehingga terasa berbeda banget dari pesawat-pesawat generasi yang lebih baru. Dan ini memunculkan perasaan nostalgia dan retro di sepanjang penerbangan! Haha 😆 . Sebagai contoh, coba lihat deh toiletnya ini:

A retro toilet!!

Toiletnya retro!!

Nah kan, bukannya menggunakan tombol untuk ditekan, untuk mengguyur toiletnya kita harus menggerakkan tuas gitu!😍 Retro bangeeet!!

Untuk penerbangan ini, aku memutuskan untuk memesan menu on-board mereka. Ketika iseng mengecek website mereka beberapa minggu yang lalu, aku dibuat penasaran banget dengan pilihan makanan mereka (ada lebih dari 70 pilihan waktu itu) dan harganya yang menurutku cukup masuk akal. Ditambah lagi, mereka menawarkan menu yang menarik banget:

Air Baltic online meal pre-ordering

Pemesanan online menu makanan di penerbangan Air Baltic

Nah kan, sebuah menu makanan panas disajikan lengkap dengan menu pembuka, pencuci mulut, dan minuman! Iya, ada beberapa pilihan menu pembuka dan pencuci mulut (masing-masing enam atau tujuh); yang mana akhirnya aku menjatuhkan pilihan ke salmon dan telur puyuh sebagai menu pembuka dan sebuah kue coklat sebagai pencuci mulut.

Oke, di fotonya memang nampak menarik, kenyataannya bagaimana tuh? Hmm, kenyataannya seperti ini:

The actual in flight meal

Penampakan makanannya yang sebenarnya

Dan rasanya memang enaaaak!! Makanan pembuka dan makanan utamanya enak. Tetapi untukku, bintang utama menu ini jelas adalah kue coklatnya. Kuenya itu nggak ketulungan loh enaknya, terutama bagian crumbly-nya itu!! Serius enak banget!! *nggak santai*. Jadi jika merasa ingin makan sesuatu ketika terbang dengan Air Baltic, aku sungguh merekomendasikan kue coklatnya ini!!

Satu-satunya komentar negatifku adalah lamanya waktu yang mereka butuhkan untuk mempersiapkan pesananku ini. Penerbangan Stockholm – Riga adalah penerbangan singkat sepanjang satu jam (ada perbedaan waktu satu jam antara Swedia dan Latvia). Namun, makananku baru disajikan kira-kira 30 menit setelah lepas landas. Akibatnya ketika aku baru memakan kira-kira 2/3 dari kue coklatku yang enak banget itu, pengumuman mendarat sudah diumumkan dari kokpit dong. Jadilah sisa 1/3nya aku habiskan dengan terburu-buru.

Jam 10:05 pagi, pesawat mendarat di landasan pacu 18 Bandara Internasional Riga, Latvia. Berikut ini video pendaratannya:

BT 307 (Riga – Helsinki-Vantaa)

Air Baltic
Penerbangan: Air Baltic BT 307
Pesawat: Boeing 737-500 reg YL-BBD
ATD: 19:55 EEST (Runway 36 of RIX)
ATA: 21:10 EEST (Runway 22L of HEL)

Penerbangan BT 307ku dijadwalkan berangkat jam 6:20 sore. Jadilah aku sudah kembali di bandara sekitar jam 4 sore setelah menghabiskan seharian di ibukota Latvia itu (cerita menyusul di Bagian III). Bandara Internasional Riga adalah sebuah bandara kecil dengan jumlah kafe/toko/dll yang tidak terlalu banyak tetapi jumlahnya masih cukup lah. Aku tidak bisa menunggu di lounge kali ini karena aku hanyalah penumpang jelata saja di penerbangan ini, haha 😆 .

One of the best airport seat designs!!

Kursi di bandara RIX asyik banget deh disainnya!!

Awalnya, penerbangan ini dijadwalkan dioperasikan dengan Boeing 737-300 juga. Tetapi kemudian, ada pengumuman bahwa penerbangan akan terlambat selama 90 menit karena ada permasalahan teknis dengan pesawatnya. Sial! Tahu gitu kan aku bisa lebih lama jalan-jalannya di Riga!

Tetapi kemudian, sebuah hal yang lucu terjadi. Tahu kan, aku komplain bahwa aku di-PHP-in Air Baltic dimana aku dijanjikan terbang dengan Boeing 737-500 ketika tiketnya aku beli tetapi kemudian pesawatnya diganti menjadi Boeing 737-300. Oleh karena itu lah aku merasa senang banget ketika app Flightradar24-ku menunjukkan ini ketika aku menunggu penerbanganku yang terlambat itu:

What my Flightradar24 app showed me

Yang ditunjukkan app Flightradar24-ku

Ada sebuah penerbangan Air Baltic tak terjadwal dari Tallinn ke Riga (malah, ini adalah satu-satunya penerbangan Air Baltic yang saat itu sedang menuju Riga) dan penerbangan ini dioperasikan dengan, yah, pesawat Boeing 737-500!! OMG!! 😍😍😍😍😍 Huaaaa, kok bisa sih aku beruntung banget begini? Huahaha 😆 .

Harapanku menjadi kenyataan! Akhirnya, sekarang aku bisa bilang bahwa aku sudah terbang dengan semua tipe pesawat seri Boeing 737 Classic (Boeing 737-300, -400, dan -500) dan bagian ini dari logbookku kini komplit!! Horee! 😀

Anyway, YL-BBD, Boeing 737-500 yang kusebutkan di atas, memang adalah pesawat pengganti penerbangan BT 307ku malam ini ke Helsinki. Jam 7:30 malam, boarding langsung dimulai begitu pesawat yang kosong ini mendarat dari Tallinn. Aku langsung duduk di kursi 4Fku, yang mana seat pitch-nya oke bangeeet; dan kemudian kami lepas landas dari landasan pacu 36 Bandara Internasional Riga. Berikut ini video lepas landasnya:

Seperti yang nampak di video di atas, lepas landas dari landasan pacu 36 dan duduk di kursi sebelah kanan memberikanku pemandangan kota Riga di malam hari 😍.

Anyway, ini adalah penerbangan LCC yang biasa-biasa saja ke Helsinki. Aku tidak membeli apa-apa di penerbangan ini karena toh aku masih kenyang dari makan siangku yang telat siangnya tadi. Sekitar satu jam kemudian, pesawat mendarat di landasan pacu 22L Bandara Internasional Helsinki-Vantaa. Berikut ini video pendaratannya:

Dari bandara, aku menaiki layanan bus milik Finnair untuk pergi ke pusat kota Helsinki…

An Air Baltic's Boeing 737-500!

Akhirnya aku terbang juga dengan Boeing 737-500!

BERSAMBUNG…

Selanjutnya dalam 2016 Baltic Spring Trip:
– Satu hari di Riga
– Helsinki yang berkabut
– Sehari di Suomenlinna
– Satu hari di Estonia
– Terbang dengan Finnair

#1698 – AMS-CDG-BIO vv with Air France

ENGLISH

As usual, I want to start the story of my weekend trip to Bilbao earlier this month with a trip report on how to get there 😆 . The drama I had to endure on the departing flights made the story worths its own self-standing post. So here we go…

***

AF 1641 (Amsterdam – Paris CDG)

AF Logo
Flight: Air France AF 1641
Equipment: Airbus A318-100 reg F-GUGP
ATD: 14:27 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 15:15 CET (Runway 26L of CDG)

As this was my first ever intra-Schengen flight out of Schiphol since I became a Flying Blue Gold member, it was my first visit to the KLM Crown Lounge in the Schengen-side of Schiphol Airport. :mrgreen:

Stuffing myself with some snacks, lunch, and glasses of sparkling wine to start the trip

Stuffing myself with some snacks, lunch, and glasses of sparkling wine to start the trip

I checked my Flightradar24 app and saw that flight AF1640 departed from Paris CDG with a bit of a delay. Some time later I checked the departure monitor and it, indeed, stated that my AF 1641 flight would be delayed for 20 minutes. Here is the problem with this: I only had a scheduled 50 minutes of transit in Paris. A 20 minutes delay, assuming no recovery in between, would slash my transit time to only 30 minutes. I started to worry whether this would be enough.

So I went to the ticketing agent in the lounge. The agent totally understood the situation and started to look for alternatives. But there was only bad news: it appeared that I only had two options:

  1. To change my flights to Iberia (with a transit in Madrid) but I would arrive in Bilbao at around 23:00; OR
  2. To still go with my original Air France flights and hope that I would have enough transit time. The downside of this option was that if I missed my connection, she saw no alternative from Paris to Bilbao that day, meaning I would have to stay overnight in Paris!

It was a difficult choice because the arrival time in Bilbao with option 1 was waay too late for me while with option 2, if things went wrong, I could only arrive in Bilbao the next day. Darn. But somehow, my gut feeling sided with the second option. And I decided to listen to it.

My flight route map from Amsterdam to Bilbao. Created with gcmap.com

My flight route map from Amsterdam to Bilbao. I chose to follow my gut feeling and went with option 2. Map created with gcmap.com

Anyway so I went to the gate and boarded the plane: an Air France’s Baby Airbus A318 reg F-GUGP and I quickly settled onto my emergency exit seat (I got this seat for free again btw, yay! :D). It was a normal Amsterdam – Paris flight with Air France. Given that I have flown this route many, many, many time, I am not going to elaborate further than this, haha.

Transiting at Paris CDG

F-GUGP landing at runway 26L of Paris CDG Airport

F-GUGP landing at runway 26L of Paris CDG Airport

F-GUGP landed at runway 26L of Paris CDG Airport at 15:15 and parked at Terminal 2F at 15:25. I was moved forward to a business class seat prior to landing due to my tight connection so I could deplane quickly. However, I knew I still needed to focus because my connecting flight would depart from Terminal 2G which meant that I would need to take the shuttle bus to change terminal. The challenge: boarding was scheduled to start in 10 minutes (at 15:35).

However, knowing Terminal 2 of Paris CDG Airport quite well and my flights were both intra-Schengen, I was still confident I had just enough time to make my connection. BUT THEN, ladies and gentlemen, this happened:

Extra identity check at Paris CDG Airport, even for intra-Schengen passengers!

Extra identity check at Paris CDG Airport, even for intra-Schengen passengers!

There was an obligatory EXTRA identity check at Paris CDG Airport for all passengers, including the transit passengers!! It was basically like an immigration check (where we needed to show our passport and visa/residence permit). And to add matters worse (for me): there was no Sky Priority line which meant I had to queue normally with all other passengers (whom some were also in a rush). And you see the long line in the photo above. WTF!!!

There was nothing I could do at this point except to just accept the situation and a looming one night stay in Paris (and one less night stay in Bilbao), which actually would not be that bad afterall. After waiting for ten minutes, finally it was my turn to get my identity checked. There was no problem at all and immediately I ran to where the shuttle bus to Terminal 2G would leave. Luckily it didn’t take long before the shuttle bus left.

After around 5 minutes of bus ride, I arrived at Terminal 2G. Without hesitation, I jumped off the bus, entered the terminal, and looked at the screen to see which gate was my departure gate. I was already 15 minutes late at this point but there was glimmer of hope where the flight was apparently delayed for 10 minutes; so the gate might still be open! This fueled me to literally sprint to the gate.

Terminal 2G of Paris CDG Airport

Terminal 2G of Paris CDG Airport

Literally while I was still sprinting already halfway to the gate, there was an announcement stating that my flight to Bilbao had been further delayed for one hour due to a technical problem and they needed to change the plane! I stopped running and threw my hands up in the air. Then I smiled and laughed a little bit on the funny chain of events that had happened to me today as I was walking back towards the main area of Terminal 2G.

At least I made my flight and would arrive in Bilbao at around 18:30 today; a much better outcome than had I chosen to go with option 1. I was glad I listened to my gut feeling.

What a flying day!

What a flying day!

With one hour to go, I went to Air France’s lounge there, which turned out to be a very small lounge (read: it was super crowded).

AF 1576 (Paris CDG – Bilbao)

HOP! Regional Logo
Flight: Air France AF 1576 operated by HOP! Regional
Equipment: Embraer ERJ170 reg F-HBXH
ATD: 17:19 CET (Runway 26R of CDG)
ATA: 18:36 CET (Runway 30 of BIO)

And then, it turned out that somehow my gut feeling was extremely strong. Upon boarding for my AF 1576 flight to Bilbao, the agent said that I had been upgraded to business class!! 😍 Oh wow, now I was extremely super glad I listened to my gut feeling!! Not only I would arrive earlier than option 1, I also got upgraded to business class with option 2!!

HOP! Regional's Embraer ERJ170 reg F-HBXH which brought me to Bilbao in business class

HOP! Regional’s Embraer ERJ170 reg F-HBXH which brought me to Bilbao in business class

A self-standing trip report of this business class flight had been published earlier.

As I got upgraded last minute, I could not choose my seat and I was assigned to an aisle seat. Well, I always prefer a window seat than an aisle seat; but if the choices were between an aisle business class seat or a window economy class seat, obviously I would choose the former, hands down, lol 😆 .

Light meal in business class

Light meal in business class

Economy class snack

Snack service in economy class

Btw, as a comparison, above I also put the complimentary snack service served on my returning Bilbao – Paris CDG flight in economy. The difference was glaring 😆

Anyway, it was a pleasant business class flight from Paris CDG to Bilbao. We took off from runway 26R. Not long afterwards, the light meal service was served. It was not big (as it was only “light”) but just enough for the short haul flight. At around 18:36, we landed smoothly at runway 30 of Bilbao Airport.

Returning Flights

My return journey to the Netherlands was much smoother and so I will not write much about them here.

A HOP! Regional's Embraer ERJ190 F-HBLC

A HOP! Regional’s Embraer ERJ190 F-HBLC

An Air France's Airbus A318 reg F-GUGF

An Air France’s Airbus A318 reg F-GUGF

My HOP! Regional flight AF 1477 from Bilbao to Paris CDG was delayed for about 10 minutes but it was not a big deal as I had a 2 hours of transit time in Paris, this time, haha. This flight was operated with an Embraer ERJ190 reg F-HBLC. Btw, here is the take-off video from Bilbao Airport. You can see glimpse of Bilbao and Portugalete in it:

My Air France flight AF 1584 from Paris CDG to Amsterdam was also very smooth with no delay. This flight was operated with another Baby Airbus A318 reg F-GUGF.

BAHASA INDONESIA

Seperti biasanya, aku akan memulai cerita perjalanan akhir pekanku ke Bilbao awal bulan ini dengan sebuah trip report perjalananku kesana 😆 . Drama yang harus kulalui di penerbangan keberangkatanku membuat cerita ini layak menjadi satu posting tersendiri. Jadi mari kita mulai saja…

***

AF 1641 (Amsterdam – Paris CDG)

AF Logo
Penerbangan: Air France AF 1641
Pesawat: Airbus A318-100 reg F-GUGP
ATD: 14:27 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 15:15 CET (Runway 26L of CDG)

Karena ini adalah penerbangan intra-Schengen pertamaku dari Bandara Schiphol sebagai anggota Flying Blue Gold, ini adalah kali pertama aku mengunjungi KLM Crown Lounge di sisi Schengen dari Bandara Schiphol. :mrgreen:

Stuffing myself with some snacks, lunch, and glasses of sparkling wine to start the trip

Perjalanan aku mulai dengan snack, makan siang, dan sekian gelas sparkling wine 

Ketika aku mengecek app Flightradar24-ku, aku melihat bahwa penerbangan AF1640 berangkat dari Paris CDG sedikit terlambat. Ketika aku cek di layar monitor keberangkatan, ternyata benar saja bahwa penerbangan AG1641ku akan terlambat sekitar 20 menit. Nah, ini nih masalahnya: waktu transit terjadwalku hanyalah 50 menit saja di Paris. Keterlambatan 20 menit artinya akan memotong waktu transit menjadi 30 menit saja, dengan asumsi tidak ada recovery. Akibatnya aku mulai sedikit merasa was-was karenanya.

Jadilah aku mendatangi petugas ticketing di lounge-nya. Ia memahami situasiku dan mulai mencarikan alternatif untukku. Tetapi yang ia temukan hanyalah berita buruk: ternyata waktu itu aku hanya tersisakan dua pilihan saja:

  1. Mengubah penerbanganku ke maskapai Iberia (dengan transit di Madrid) tetapi aku baru akan tiba Bilbao sekitar jam 11 malam; ATAU
  2. Tetap pergi dengan penerbangan Air France-ku sesuai dengan tiket dan berharap waktu transitku cukup. Risiko dari pilihan ini adalah jika aku ketinggalan penerbangan lanjutanku di Paris, tidak ada alternatif sama sekali untuk terbang dari Paris ke Bilbao hari itu juga, artinya aku harus menginap semalam di Paris!

Ini adalah pilihan yang sulit karena waktu ketibaan di Bilbao dengan pilihan 1 terlalu malam untukku sementara dengan pilihan 2, jika kenapa-kenapa, aku malah baru bisa tiba di Bilbao keesokan harinya. Sial. Ah, tapi entah mengapa, intuisiku sangat amat condong ke pilihan kedua deh. Dan aku memutuskan untuk mendengarkan dan mengikuti apa kata intuisiku.

My flight route map from Amsterdam to Bilbao. Created with gcmap.com

Rute penerbanganku hari ini dari Amsterdam ke Bilbao. Aku memutuskan untuk mendengarkan intuisiku dan memilih pilihan 2. Peta dibuat dengan gcmap.com

Anyway jadilah aku pergi ke gerbang keberangkatan dan menaiki pesawatku: sebuah Baby Airbus A318-nya Air France dengan registrasi F-GUGP dan aku langsung duduk pewe di kursi barisan emergency (yang bisa kudapatkan dengan gratis juga loh btw, hore! :D). Ini adalah penerbangan biasa Amsterdam – Paris dengan Air France. Karena sudah ribuan kali (lebay, pakai banget) aku terbang di rute ini, aku tidak akan mengulasnya lebih jauh, haha.

Transit di Paris CDG

F-GUGP landing at runway 26L of Paris CDG Airport

F-GUGP mendarat di landasan pacu 26L Bandara Paris CDG

F-GUGP mendarat di landasan pacu 26L Bandara Paris CDG jam 3:15 sore dan bersandar di tempat parkir di Terminal 2F jam 3:25 sore. Sebelum mendarat, aku dipindahkan ke sebuah kursi kelas bisnis di bagian depan pesawat karena waktu transitku yang super singkat agar aku bisa duluan turun. Namun, aku tahu bahwa aku harus fokus banget karena penerbangan lanjutanku akan diberangkatkan dari Terminal 2G dimana aku harus naik shuttle bus untuk kesana karena aku harus pindah terminal. Masalahnya: boarding penerbangan lanjutanku akan dimulai 10 menit kemudian (jam 3:35 sore).

Namun, karena merasa cukup familier dengan Terminal 2 Bandara Paris CDG dan toh penerbanganku adalah penerbangan intra-Schengen, aku masih cukup yakin bahwa aku masih memiliki cukup waktu untuk mengejar penerbanganku. TETAPIII, saudara dan saudari sekalian, kemudian ini malah terjadi dong:

Extra identity check at Paris CDG Airport, even for intra-Schengen passengers!

Pemeriksaan identitas ekstra di Bandara Paris CDG, bahkan untuk penumpang intra-Schengen!

Ada pemeriksaan identitas EKSTRA wajib dong di Bandara Paris CDG untuk semua penumpang, termasuk penumpang transit!! Kurang lebih ini seperti pemeriksaan imigrasi gitu (dimana kita harus menunjukkan paspor dan visa/izin tinggal). Dan parahnya lagi (untukku): tidak ada jalur khusus penumpang Sky Priority yang mana artinya aku harus mengantri di antrian normal dengan semua penumpang lain (yang mana sebagian juga sedang terburu-buru). Dan terlihat kan betapa panjang antriannya di foto di atas. WTF!!!

Tidak ada yang bisa kulakukan lagi di waktu ini kecuali menerima situasi dan kemungkinan besar menginap satu malam di Paris (dan satu malam lebih singkat di Bilbao), yang mana sebenarnya nggak jelek-jelek amat sih ya. Setelah menunggu 10an menit, akhirnya aku mendapatkan giliranku. Tidak ada masalah sama sekali dan langsung lah aku lari menuju tempat pemberangkatan shuttle bus ke Terminal 2G. Untungnya, tidak lama kemudian busnya langsung berangkat.

Setelah naik bus selama sekitar 5 menitan, aku tiba di Terminal 2G. Tanpa ragu, aku langsung keluar bus, memasuki terminal, dan mengecek layar monitor untuk mencari gerbang keberangkatanku. Aku sudah terlambat 15 menit di waktu itu tetapi masih ada sedikit harapan karena penerbangannya ternyata terlambat 10an menit; jadi mungkin gerbang keberangkatannya masih dibuka! Ini menyemangatiku untuk langsung berlari sprint ke gerbangnya.

Terminal 2G of Paris CDG Airport

Terminal 2G Bandara Paris CDG

Ketika aku sedang berlari sprint, di tengah jalan sebuah pengumuman dikumandangkan dimana penerbanganku ke Bilbao telah ditunda lebih lama lagi selama satu jam akibat permasalahan teknis dengan pesawatnya sehingga sebuah pesawat pengganti dibutuhkan! Langsung deh aku berhenti berlari dan melemparkan tanganku ke atas. Kemudian aku tersenyum dan menertawakan apa yang baru saja terjadi sambil kembali menuju area utama Terminal 2G.

Setidaknya aku tidak tertinggal penerbanganku sih dan aku masih akan tiba di Bilbao sekitar jam 6:30 sore hari ini; hasil yang toh jauh lebih baik kan daripada andaikata aku memilih pilihan 1. Lega deh aku mendengarkan intuisiku.

What a flying day!

What a flying day!

Karena ada waktu satu jam-an, aku menunggu di lounge-nya Air France disana, yang mana ternyata ukurannya kecil banget (baca: rame banget lounge-nya waktu itu).

AF 1576 (Paris CDG – Bilbao)

HOP! Regional Logo
Penerbangan: Air France AF 1576 operated by HOP! Regional
Pesawat: Embraer ERJ170 reg F-HBXH
ATD: 17:19 CET (Runway 26R of CDG)
ATA: 18:36 CET (Runway 30 of BIO)

Nah, ternyata intuisiku itu kuat sekali loh. Ketika boarding penerbangan AF 1576ku ke Bilbao, petugas boarding-nya berkata bahwa aku baru saja di-upgrade ke kelas bisnis!! 😍 Oh wow, sekarang aku benar-benar legaa banget aku mendengarkan apa kata intuisiku itu deh!! Tidak hanya aku akan tiba di Bilbao lebih awal daripada pilihan 1, kini aku bahkan di-upgrade pula ke kelas bisnis dengan pilihan 2!!

HOP! Regional's Embraer ERJ170 reg F-HBXH which brought me to Bilbao in business class

Embraer ERJ170 milik HOP! Regional dengan registrasi F-HBXH yang membawaku ke Bilbao di kelas bisnis

Sebuah posting tersendiri akan penerbangan kelas bisnis ini sudah kutulis beberapa waktu lalu.

Karena aku di-upgrade-nya last minute, aku tidak bisa memilih kursi dan aku diberikan kursi lorong. Yah, aku kan lebih suka kursi jendela ya daripada kursi lorong; tetapi kalau pilihannya antara kursi lorong di kelas bisnis atau kursi jendela di kelas ekonomi, ya jelas lah ya aku milihnya kursi lorong di kelas bisnis, huahahahaha 😆 .

Light meal in business class

Makanan ringan di kelas bisnis

Economy class snack

Layanan snack di kelas ekonomi

Btw, sebagai perbandingan, di atas aku jejerkan juga foto layanan snack yang diberikan di penerbangan kelas ekonomiku dari Bilbao ke Paris CDG di perjalanan pulangku. Perbedaannya kentara banget yah, huahahaha 😆 .

Anyway, penerbangan ini adalah penerbangan yang nyaman di kelas bisnis dari Paris CDG ke Bilbao. Kami lepas landas dari landasan pacu 26R Bandara CDG. Tidak lama kemudian, layanan makanan ringan diberikan. Jelas porsinya tidak terlalu besar (namanya aja makanan “ringan”) tetapi cukup banget lah untuk penerbangan jarak dekat ini. Sekitar jam 6:36 sore, kami mendarat dengan mulus di landasan pacu 30 Bandara Bilbao.

Penerbangan Pulang

Perjalanan kembaliku ke Belanda berlangsung jauh lebih mulus dan aku tidak akan menuliskannya secara mendetail disini.

A HOP! Regional's Embraer ERJ190 F-HBLC

Embraer ERJ190 milik HOP! Regional dengan rego F-HBLC

An Air France's Airbus A318 reg F-GUGF

Baby Airbus A318 milik Air France dengan registrasi F-GUGF

Penerbangan AF 1477ku dengan HOP! Regional dari Bilbao ke Paris CDG terlambat sekitar 10 menit tetapi ini bukanlah masalah yang besar karena aku memiliki waktu transit 2 jam di Paris kali ini, haha. Penerbangan ini dioperasikan dengan sebuah Embraer ERJ190 dengan registrasi F-HBLC. Btw, berikut ini video lepas landasnya dari Bandara Bilbao. Disitu bisa terlihat juga sedikit pandangan akan kota Bilbao dan Portugalete:

Penerbangan AF 1584ku dengan Air France dari Paris CDG ke Amsterdam juga berlangsung dengan mulus tanpa delay. Penerbangan ini dioperasikan dengan Airbus A318 juga, kali ini dengan registrasi F-GUGF.