#1890 – Obsessed with Tataki and A Vacation Season?

ENGLISH

Beef Tataki

The tataki beef dish I had during a night out last weekend with some friends in Rotterdam made a huge impression on me. It was so good that I became quite obsessed with it that I was looking for its recipe online just the day after 😆 .

And so, I made this week my experiment week on it, haha 😆 . I didn’t have that many trials because I don’t cook that often during the week anymore. So from this point of view of course I am still far away from producing great tataki. Nonetheless, overall I am quite happy with what my kitchen produced so far 😛 . Okay, the presentation could definitely improve a lot. But given that these were only for personal consumption (literally), that was not such a big deal, I guess 😛 .

A Vacation Season?

Anyway, for whatever reason it appeared that this week was a vacation season at my office. Most of my colleagues were gone on a week vacation! Haha 😆 . So as a result it felt a little bit quiet at the office. Though, for my work, this brought some extra advantage, on the other hand this was also a little bit frustrating because I had many questions on a problem I was working on because there were less people to ask! Haha 😆

BAHASA INDONESIA

Tataki Daging Sapi

Menu tataki daging sapi yang kumakan ketika pergi makan malam di Rotterdam bersama beberapa teman akhir pekan yang lalu benar-benar meninggalkan kesan yang positif banget bagiku. Saking enaknya, aku menjadi cukup terobsesi dengannya sampai-sampai keesokan harinya aku langsung mencari resepnya di internet, haha 😆 .

Dan jadilah minggu ini aku jadikan minggu eksperimen untuknya, haha 😆 . Aku tidak bisa melakukan banyak percobaan karena memang akhir-akhir ini aku tidak memasak sesering dulu lagi. Jadi dari sudut pandang ini mah jelas lah ya masakan tatakiku masih jauh banget dari yang namanya oke. Toh walaupun begitu, secara umum aku cukup puas kok dengan apa yang keluar dari dapurku sejauh ini 😛 . Oke, memang sih presentasinya bisa jauh lebih baik. Tetapi karena toh ini hanya untuk konsumsi sendiri aja, jadi presentasi mah nggak terlalu penting-penting amat ya 😛 .

Musim Liburan?

Anyway, entah apa alasannya tetapi sepertinya minggu ini adalah musim liburan deh di kantorku. Banyak dari kolegaku yang pergi liburan seminggu! Haha 😆 . Jadi sebagai akibatnya di kantor terasa sedikit sepi deh. Walaupun, untuk pekerjaanku, ini membawa sedikit keuntungan ekstra juga, di sisi lain ini agak menyebalkan karena aku sedang memiliki banyak banget pertanyaan untuk sebuah masalah yang sedang aku kerjakan karena artinya lebih sedikit orang yang bisa kutanyai! Haha 😆 .

#1711 – A No-Oil Experiment

ENGLISH

Since 2013 when I tried to be a vegetarian for a week, which conclusion was that I was definitely not a vegetarian, lol 😆 , I have not conducted any other significant experiment with my food intake. Btw it might be important to mention that “an experiment” is not the same as “to pay attention to” because, especially in the last year or so, I have definitely monitored and controlled what I put in my body 🙂 .

Well, okay, that is only true if my avoidance of pork and ice cream for the last six months doesn’t count as an experiment though, haha 😆 . Yes, I have been avoiding pork and ice cream in the last half a year or so purely for health reason. It was not that I went to total pork and ice cream abstinence as it was practically impractical. There were a few instances where it was unavoidable to have some, of course, especially when I was travelling or the few cheat days here and there. But the bottom line is, I have been trying to avoid pork and ice cream and these two items have been out of my grocery list for most of the more than 180 days as of now 😛 .

A New Experiment and the Setup

Anyway, so this week I decided to conduct a new experiment. Knowing that I cannot live without meat, I was wondering if I could live without oil. This indeed implies that I was avoiding fried or sauted stuffs this week, usually the easiest (and my favorite 😛 ) way of cooking 😛 .

This experiment was also quite a challenge given that I live in the Netherlands now. You know, the Dutch like their food fried, haha 😆 . As a consequence, I had to really refrain myself when I was in some cafeterias where a lot of fried stuffs (like those delicious kaassouffle for example) were available.

The experiment went for about a week (I ended it yesterday). How did it go?

My Observations

Well, first of all, let me tell you that this experiment gave me an extra problem in the kitchen because now my options range was much more limited because I was avoiding oil in any form and source, haha 😆 . But it was not really a big problem given the very short duration of the experiment. Wow it would have been super challenging had this experiment been longer!

Okay, whatever. More importantly, how do/did I feel? Well, I was fine. I did not notice a lot of change in how I felt, except that somehow in general I felt a little bit hungrier than normal, lol 😆 . I haven’t checked whether this was a real correlation though.

I also lost 1 kg during the week but I was also exercising everyday (gym on Sunday, Tuesday, Thursday, and Friday; and tennis on Monday, Wednesday, Thursday, and Saturday). So, again, the correlation needed to be checked further. Who knows conditional independence between the experiment and the weight loss holds here (okay, math stuff here 😛 ).

The most apparent change actually surfaced when I ended the experiment on Friday. Yesterday, I cooked battered beef with green beans and mushroom; so of course the beef was fried. Just after I finished my meal, my throat actually felt a little tiny bit sore. It was nothing major but it was enough to make me crave for some fresh fruit and you know fruit is expensive commodity here in Europe! So I guess even just after one week, my body has somewhat adjusted and just a normal oily dish became a little bit too oily already!

Conclusion

So, in conclusion, I can handle a no-oil week much much much better than a vegetarian week. This no-oil experiment had little to no effect on my mood (hence productivity at work), unlike that vegetarian experiment three years ago.

Will I do it again in the future? Well, judging from the outcome of this week, I have to say the answer is “yes, very likely“; even though I still have no idea when 😆 .

Btw, here are three dishes which I cooked this week. They involved no oil at all (and also no pork (and its derivatives) nor ice cream, of course 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Semenjak tahun 2013 dimana aku mencoba untuk menjadi seorang vegetarian selama seminggu, yang mana kesimpulannya adalah sangat amat jelas aku bukanlah seorang vegetarian, huahaha 😆 , aku belum melakukan eksperiman lagi terhadap asupan makananku. Btw, mungkin penting untuk disebutkan bahwa “sebuah eksperimen” tentu berbeda dari “memperhatikan” ya karena, terutama setahun belakangan ini, aku selalu memonitor dan mengontrol apa yang aku masukkan ke dalam tubuhku 🙂 .

Oke, memang sih pernyataan ini benar hanya jika penghindaranku akan daging babi dan es krim selama enam bulan terakhir tidak dihitung sebagai eksperimen, haha 😆 . Iya, aku memang berusaha menghindari daging babi dan es krim selama setengah tahun belakangan ini; murni untuk alasan kesehatan saja sih. Eh, bukannya aku sama sekali tidak makan babi atau es krim selama ini ya karena ini jelas tidak praktis untuk dilakukan. Ada beberapa situasi dimana tidak terhindarkan bagiku untuk mengonsumsi babi atau es krim; terutama ketika aku sedang jalan-jalan atau di beberapa cheat days disana-sini itu. Tetapi intinya adalah, aku telah berusaha menghindari daging babi dan es krim dan kedua barang ini sudah nyaris tidak pernah lagi berada di daftar belanjaanku selama hampir 180an hari sekarang 😛 .

Sebuah eksperimen baru dan persiapannya

Anyway, ceritanya minggu ini aku memutuskan untuk mengadakan sebuah eksperimen lagi. Tahu kalau aku tidak bisa hidup tanpa daging, sekarang aku penasaran apakah aku bisa hidup tanpa minyak. Yup, ini berarti aku sama sekali menghindari makanan yang digoreng atau ditumis minggu ini, padahal biasanya ini kan cara memasak yang paling gampang (dan favorit 😛 ) kan ya 😛 .

Eksperimen ini juga memunculkan sebuah tantangan ekstra karena aku tinggal di Belanda. Tahu kan, orang Belanda itu sukanya makan goreng-gorengan gitu deh, haha 😆 . Makanya aku harus menahan-diri banget ketika aku berada di kafetaria dimana ada banyak banget gorengan yang disediakan (misalnya kaassouffle yang enak banget itu).

Eksperimen ini berlangsung selama seminggu (selesainya kemarin). Nah, bagaimanakah semingguku ini?

Yang aku amati

Pertama-tama, harus kubilang bahwa eksperimen ini menambah sedikit masalah di dapur dimana pilihan masakku menjadi jauh lebih terbatas karena aku menghindari minyak dalam bentuk dan sumber apapun, haha 😆 . Tetapi ini bukanlah masalah besar juga sih karena durasi eksperimen ini yang singkat sekali. Wow, kayaknya bakal susah deh andaikata eksperimennya lebih lama!

Oke, terserah lah ya masalah itu. Yang lebih menarik, apakah yang aku rasakan? Yaa, aku baik-baik saja sih. Aku tidak merasakan terlalu banyak perubahan di apa yang aku rasakan, kecuali bahwa secara umum aku kok merasa agak lebih lapar daripada biasanya ya, haha 😆 . Aku belum mengecek sih apakah ini korelasi yang sebenarnya atau bukan.

Berat badanku juga turun 1 kg minggu ini; eh tetapi aku juga berolah-raga terus sih setiap hari (gym di hari Minggu, Selasa, Kamis, dan Jumat; dan tenis di hari Senin, Rabu, Kamis, dan Sabtu). Jadi, lagi, korelasinya harus dianalisa lebih jauh. Siapa tahu ada kondisi independen bersyarat (conditional independence) antara eksperimen dan turunnya berat badan yang terjadi disini (matematikanya keluar 😆 ).

Tetapi perubahan yang paling terasa malah muncul ketika eksperimennya aku akhiri di hari Jumat. Kemarin, aku memasak daging sapi goreng tepung dengan sayur buncis dan jamur; jadi jelas dong ya itu daging sapinya digoreng. Setelah aku selesai makan, tiba-tiba tenggorokanku terasa sedikiiit tidak enak loh. Nggak parah sih, rasa tidak enaknya cuma sedikiiit saja tetapi cukup membuatku ngidam makan buah segar untuk meredakannya dan tahu kan buah itu komoditas mahalll di Eropa! Jadi aku duga bahkan setelah seminggu, tubuhku pun sudah menyesuaikan dan menu gorengan biasa pun sudah menjadi terlalu berminyak!

Kesimpulan

Kesimpulannya, aku bisa melewati minggu tanpa minyak jauuuuh lebih mulus daripada minggu vegetarian. Eksperimen tanpa minyak ini juga nyaris tidak memiliki efek apapun ke mood-ku (yang mana artinya juga ke produktivitasku minggu ini), tidak seperti eksperimen vegetarianku tiga tahun yang lalu itu.

Apakah aku akan melakukannya lagi di masa depan? Yah, kalau berdasarkan hasil dari minggu ini, jawabannya adalah “iya, mungkin sekali“; walaupun aku masih belum tahu kapan sih 😆 .

Btw, di atas aku unggah juga beberapa masakanku minggu ini. Semuanya sama sekali tidak mengandung minyak dalam bentuk apa pun (dan juga tanpa daging babi (dan produk-produk turunannya) ataupun es krim, haha 😛 ).

#1472 – A Weekend As It Was Supposed To Be

ENGLISH

As I said last week, currently I am in the middle of a very busy period at work. I worked through the weekend last weekend and actually had a thought of possibly doing the same thing the next weekend (read: this weekend) too.

But then, as it turned out, I treated this weekend as how a weekend was supposed to be treated: by not going to work, haha. It was because of a combination of two main things though. First of all, I was able to negotiate a deadline extension so that gave me a bit of more room to breathe. And so as a result, at the moment actually I am in front for this deadline related work, because I progressed more than my target on my work during the last weekend. And second of all, and this was the bigger factor actually, my mind felt so exhausted on Friday. It just felt like my mind was not at a 100% condition at around 16:30 on Friday afternoon. At that time I was going to type an email containing brief report on my findings to a colleague and asking for a time for a discussion, such an easy task. But it took me really awhile to just write this email. I could barely think. Actually at that time I planned to stay until around 20:00 then went to the gym afterwards before going back home. But then I knew there was no way I could stay until 20:00 while at the same time being productive at work. So after finishing that email, I decided to go back home at the time I was supposed to go back home, at 17:00, haha 😛 .

Then I decided to rest my body and mind on Saturday. I decided to have a long sleep, which really helped btw; got up a little bit late and just enjoyed the rest of the day. The fact that the weather on Saturday was a perfect one helped a lot too! I played tennis in the afternoon with a friend and in the evening I watched the newest episode of The Amazing Race season 25 where the teams went from Morroco to Sicily, in Italy. Such a relaxing day!

Apparently my body was still quite tired on Sunday, as I had another long sleep in the night and got up quite late; which actually made me glad that in Europe, a weekday lasts for 5 out of the 7 days in a week. But I felt fresher, which was a good sign. I decided to still take it easy on Sunday. While doing a grocery shopping the evening before, I saw some packages of mussels in the supermarket. This reminded me of a recent post by Fe, who suggested me to try cooking the mussels dish myself at home. Well, since it was still a weekend, so I thought “Why not“, haha 😛 .

So on Sunday I also did a little experiment in the kitchen too with mussels (I bought a package of 1 kg only as it was only for myself); of course after looking at a few recipes in the internet. Indeed, it was not really a complicated dish to cook! Given the fact that it was the first time ever I cooked this dish, I think I did quite well; even though I did not have all the ingredients needed for the sauce (according to the recipe I found online), like red onion, shallots, and parsley. It was still quite nice 🙂 .

Treating myself with this homemade nasi goreng magelangan on Saturday

Treating myself with this homemade nasi goreng magelangan on Saturday

My take on Le Moules-Frites, my first attempt cooking this dish

My take on Le Moules-Frites, my first attempt cooking this dish

BAHASA INDONESIA

Seerti yang aku ceritakan minggu lalu, akhir-akhir ini aku sedang berada di masa sibuk-sibuknya di kantor. Minggu lalu aku tetap bekerja loh di akhir pekan dan waktu itu sempat ada pikiran bahwa mungkin aku akan melakukan hal yang sama di akhir pekan selanjutnya (akhir pekan ini).

Tetapi kemudian, pada akhirnya, aku memperlakukan akhir pekan ini sebagaimana akhir pekan semestinya diperlakukan: dengan tidak bekerja, haha. Ini karena kombinasi dua hal sih. Pertama-tama, aku berhasil menegosiasi sebuah deadline untuk sedikit diperpanjang sehingga aku bisa sedikit bernafas lebih lega. Sebagai akibatnya, sekarang sebenarnya aku juga sudah di depan sih di dalam hal yang berkaitan dengan deadline ini, karena kemajuanku lebih dari target pribadiku di hasil kerjaku akhir pekan yang lalu. Dan alasan yang kedua, yang merupakan alasan yang lebih besar, aku merasa pikiranku itu lelah sekali di hari Jumat. Aku benar-benar merasa bahwa pikiranku tidak berada dalam kondisi 100% di hari Jumat sore sekitar jam 16:30an. Sewaktu itu, aku sedang akan menulis sebuah email berisi laporan singkat tentang hasil analisaku ke seorang kolega dan akan meminta waktunya untuk sebuah diskusi, sebuah kerjaan yang mudah kan sebenarnya ini. Tetapi aku membutuhkan waktu lumayan lama lho cuma untuk mengetik email ini aja. Benar-benar rasanya tuh tidak bisa berpikir lagi. Sebenarnya sewaktu itu aku berencana untuk kerja sampai jam 20:00an, kemudian ke gym, dan baru kemudian pulang. Tetapi waktu itu aku tahu bahwa tidak mungkin banget aku bisa tinggal sampai jam 20:00 dan pada saat yang sama juga produktif. Jadilah setelah akhirnya menyelesaikan email tersebut, aku memutuskan untuk pulang di jam yang seharusnya memang waktunya untuk pulang, jam 17:00, haha 😛 .

Kemudian aku memutuskan untuk mengistirahatkan badan dan pikiranku di hari Sabtu. Aku tidur lama loh malamnya, yang lumayan membantu juga; dan bangunnya agak siangan sedikit dan kemudian menikmati sepanjang sisa harinya. Kebetulan cuaca di hari Sabtu juga sempurna banget jadi ini membantu banget deh! Aku main tenis dengan seorang teman di sore harinya dan malamnya nonton episode terbaru dari The Amazing Race 25 dimana kontestannya pergi dari Moroko ke Sicilia, di Italia. Benar-benar hari yang santai!

Ternyata badanku masih lelah juga di hari Minggu, karena malamnya aku tidur lama lagi dan bangun agak siangan lagi; yang mana hari kerja di Eropa yang berupa lima dari tujuh hari dalam seminggu membuatku bersyukur juga. Aku merasa lebih segar, yang mana merupakan pertanda baik. Aku memutuskan untuk masih bersantai aja sih di hari Minggu. Nah, kebetulan, ketika aku berbelanja di supermarket semalam sebelumnya, aku melihat beberapa bungkus kerang yang dijual disana. Dan jadilah aku teringat salah satu posting terbarunya Fe, dimana aku juga disarankan untuk mencoba memasak sendiri menu kerang di rumah. Nah, karena masih akhir pekan juga, jadilah aku berpikir “Mengapa tidak” kan, haha 😛 .

Jadilah di hari Minggu aku melakukan sebuah percobaan kecil di dapurku dengan kerang (aku membeli satu bungkus yang 1 kg saja karena kan cuma untuk aku sendiri); tentu saja setelah melihat-lihat beberapa resep di internet. Dan ternyata, ini memang merupakan menu yang tidak sulit untuk dimasak loh! Dengan mempertimbangkan bahwa ini adalah kali pertama aku memasak menu ini, rasanya masakanku lumayan juga; walaupun tidak semua bahan untuk sausnya (menurut resep di internet itu) aku miliki, seperti bawang bombay merah, bawang merah, dan parsley. Toh, rasanya lumayan juga kok 🙂 .

#1462 – Internet and Rendang

ENGLISH

Internet and rendang? Well, what is the connection between those two in the context of this post? Well, nothing, actually, lol 😆 . As those are two totally unrelated stuffs which I still would like to write here now. My blog, my way, isn’t it? 😛 So anyway…

Internet

As I mentioned here when I just moved in to this apartment, I got free internet access at home. Yes, “free” as in we (‘we’ as in me and my housemates) don’t have to pay for it. And no, we are not being freeloaders by leeching on our neighbour’s wifi signal (Hell, you are being disrespectful if you think we were). So we got this free internet since I am officially employed by TU Delft. And one of the benefit they provide for their employees is free internet connection at home. Not bad, isn’t it?

Except that this benefit is going to end soon. 😦 Damn!! 😦 A few weeks ago, apparently we received a notification from TU Delft about this termination. Yes, “apparently” as in I also received the email but didn’t bother reading it since it looked like one of those monthly campus information email that I usually ignored 😳 (a bad habit, I know; but in the meantime I have been so busy with my work so, in my defense, I did not have the time to read it, haha 😛 ). But then a few days ago my housemate told me about this. Then I checked my mailbox and, yes, apparently it was true.

The reason for this was apparently a new working scheme that they are obligated to implement soon. So there are a few benefits that are being scrapped off, including this free internet access at home. They said in the email too that this new scheme would result in a few new benefits though. But I still do not know what those benefits are.

But whatever, the main point for now is, this free internet access will only last through this December. Actually, this service is provided by an internet company which has a cooperation with TU Delft. So basically what they did thus far is that we have our internet connection at home, and TU Delft pays for it. So that is why it is “free” for us. So, after a short discussion, we agree to still keep this internet access from this company at our place; except that starting in January, we will have to pay for it ourselves. The price is good and we don’t have to deal with the hustle in finding a new internet company, making an appointment for installation, etc, etc.

Rendang

Anyway, moving on to an unrelated subject, last week was a super busy week for me. And it happened that beef was on quite some discount in the supermarket last week. Plus, I have read a few times here and there that rendang is one of those meals which can last days. So as a result of all these different factors, I have been consuming quite a lot of rendang lately, haha 😛 .

It was very practical, indeed. I only needed to cook once and it could last for about three days. Btw, I kept the rendang in the chiller of my fridge. And every time I was about to have a meal, I just needed to warm it up in the oven. And here, lately, I learned that warming meals up also required some skills, apparently (well, obviously). Too short in the oven, obviously the rendang was still too chill. Too long in the oven, the rendang turned into beef jerky, lol 😆 .

This rendang should be good for meals for three days

This rendang should be good for meals for three days

BAHASA INDONESIA

Internet dan rendang? Memang apa hubungannya antara dua hal ini di dalam konteks posting ini? Yah, nggak ada sih sebenarnya, huahaha 😆 . Dua hal ini memang dua hal yang memang nggak ada hubungannya tetapi tetap ingin aku tulis disini sekarang. Blogku, suka-suka aku dong ya? Hahaha 😛 Jadi…

Internet

Seperti yang aku sebutkan disini ketika aku baru saja pindah ke apartemen ini, aku mendapatkan internet gratis loh di rumah. Iya, “gratis” dalam artian kami (‘kami’ dalam artian aku dan housemates-ku) tidak harus membayarnya. Dan tidak, kami bukannya menjadi parasit yang nebeng sinyal wifi tetangga kami ya (Ih, aku tersinggung loh kalau ada yang beneran berpikir begitu). Jadi ceritanya kami mendapatkan internet gratis ini karena aku merupakan karyawannya TU Delft. Dan salah satu benefit yang mereka berikan untuk mereka yang berstatus karyawannya adalah koneksi internet gratis di rumah. Lumayan banget kan?

Kecuali bahwa benefit ini akan segera berakhir 😦 . Sial!! 😦 Beberapa minggu yang lalu, ternyata kami mendapatkan email pemberitahuan dari TU Delft tentang pemberhentian ini. Ya, “ternyata” karena waktu itu aku juga, jelas, menerimanya tetapi emailnya tidak aku baca karena sekilas emailnya kayak email informasi kampus bulanan gitu sih yang memang biasanya aku abaikan 😳 (kebiasaan buruk, memang; tetapi karena akhir-akhir ini aku memang sedang sibuk banget, jadi in my defense aku tidak ada waktu untuk membacanya, haha 😛 ). Tetapi kemudian beberapa hari yang lalu seorang housemate-ku menyebutkan ini ke aku. Jadilah aku membuka mailbox-ku lagi, dan ternyata berita ini memang benar.

Penyebabnya ternyata adalah skema pekerjaan baru yang harus TU Delft terapkan segera. Jadilah ada beberapa benefit yang harus dihapus, dan ini termasuk fasilitas internet gratis di rumah. Di dalam email juga disebutkan bahwa dalam skema yang baru akan ada beberapa benefit baru sih. Tetapi aku masih nggak tahu benefit-nya apa saja.

Yang jelas sekarang intinya sih, fasilitas internet gratis ini akan berlangsung hingga bulan Desember ini saja. Nah, jadi ceritanya, sebenarnya internet di rumah ini disediakan oleh sebuah perusahaan internet yang mana tagihannya dibayar oleh TU Delft. Jadilah bagi kami fasilitas ini rasanya “gratis”. Nah, setelah kami berdiskusi singkat, kami memutuskan untuk tetap menggunakan layanan internet dari perusahaan ini di rumah; hanya saja kami harus membayar tagihannya sendiri mulai Januari. Harganya oke juga sih dan kami tidak perlu repot-repot mencari perusahaan internet baru, kemudian harus pakai membuat janji untuk instalasi segala, dll, dll kan.

Rendang

Ngomong-ngomong, beralih ke topik satunya yang memang tidak ada hubungannya sama sekali, minggu lalu adalah minggu yang super menyibukkan untukku. Dan kebetulan pula minggu lalu daging sapi sedang didiskon lumayan besar loh di supermarket disini. Ditambah lagi, sudah beberapa kali aku membaca beberapa artikel bahwa rendang itu adalah sebuah masakan yang bisa bertahan beberapa hari kan. Jadilah sebagai akibatnya dari semua faktor itu, akhir-akhir ini aku makan lumayan banyak rendang loh, haha 😛 .

Praktis banget, memang. Aku hanya perlu memasak sekali dan hasilnya bisa digunakan selama sekitar tiga hari. Btw, aku menyimpan rendangnya di kulkas bagian chiller-nya. Dan setiap kali aku mau makan, aku hanya perlu memanaskannya di oven. Dan disini, akhir-akhir ini aku belajar bahwa memanaskan makanan itu ada seni dan perhitungannya sendiri loh ternyata (ya iya lah). Kalau terlalu singkat, tentu saja daging rendangnya masih terlalu dingin. Kalau terlalu lama, daging rendangnya berubah menjadi dendeng loh, huahaha 😆 .

 

#1444 – Birthday Story

ENGLISH

As promised and before it is becoming too late, so here are the story about my birthday this year 🙂 . In principal, I can group the story into three different days, and here we go.

Sunday

Sunday was the actual day of my birthday. It was just a normal Sunday though, except that I treated this Sunday a little bit differently than the other regular Sundays. I started the day by (well, after getting the birthday greetings from my housemates) cooking myself a fried noodle dish for brunch. This (having fried noodles on my birthday) has kinda been my way of starting my birthday for ages now, haha 😛 .

Then for dinner I wanted to have some steak with wine, just like last year. Actually on Friday I already did some grocery-shopping for the week but when I did, I was not thinking to treat this Sunday specially. So I ended up not having the ingredients I needed for the dinner. So on Saturday evening I went to the supermarket again; and to buy a bottle of Port wine too (which happened to have a 20% alcohol content but it tasted sweeter than normally 😛 ) . And I decided to buy a small fruit cake as well; just to make the Sunday a little bit more special 🙂 .

In the evening, I watched the women’s singles final of the 2014 US Open where Serena Williams claimed her 6th US Open title, and her 18th grandslam singles title! What a birthday present! 😀

Tuesday

I was actually organizing a small dinner party with a few of my friends on Saturday. But one of them could not come because she had to go to the US for a vacation; so she suggested to go out on Tuesday evening with another friend. Which I obviously accepted 😀 .

We finally tried that one Thai restaurant in the centrum! We have actually been wanting to go there but on each time we passed it, it was always full (it was not a big restaurant). And finally now we got the chance!! Hahaha 😆 . The restaurant was quite unique though in the sense that we could not choose our dish, as it was already a package, and there was only one package. So, aside from choosing your drink, you literally just need to sit there and they will serve you right away with the food 😛 .

The food was a three course Thai (or Asian) meal. For appetizer, we had a Thai soup, which was quite nice. It was not the tomyam soup though. For main course, we had a four small portions of different dishes with rice. And for dessert, we had something which was very similar to jenang in Indonesia. It was very very nice. And the price was very good too! So I am happy 😀 .

From there, we went to a bar nearby and stayed there until around 23:00 🙂 .

Saturday

On Saturday I organized the aforementioned birthday dinner; and by this I mean I cooked everything. I decided to go with fried noodles and rendang this time. And for the rendang, it was a more special one as I brought the (instant) sauce from Indonesia 😀 . And I have to say that it was the best rendang I have ever cooked in my entire life, haha 😛 . Yeah, it was a very nice evening 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Seperti yang aku janjikan dan sebelum ceritanya basi juga sih, berikut ini cerita tentang ulang-tahunku tahun ini 🙂 . Secara umum cerita ini bisa aku bagi ke dalam tiga hari, jadi mari kita mulai saja.

Minggu

Hari Minggu adalah hari ulang-tahunku yang sebenarnya. Hari Minggu ini seperti layaknya hari Minggu yang lain sih, kecuali bahwa aku memperlakukannya sedikit berbeda daripada hari Minggu biasa lainnya. Aku memulai hari ini dengan (setelah mendapatkan ucapan selamat ulang-tahun dari housemates-ku tentunya) memasak mie goreng untuk brunch. Kalau diingat-ingat lagi, ini (makan mie goreng di hari ulang tahun) sudah seperti kebiasaanku selama bertahun-tahun deh, haha 😛 .

Lalu, untuk makan malam aku ingin makan steak dengan anggur, seperti tahun lalu gitu deh. Sebenarnya di hari Jumatnya aku sudah berbelanja kebutuhan untuk seminggu sih tetapi waktu berbelanja itu, aku lupa untuk memperlakukan hari Minggu dengan berbeda. Jadilah aku tidak memiliki bahan-bahan yang aku butuhkan untuk makan malam ini. Akibatnya di hari Sabtu aku pergi ke supermarket lagi deh; dan sekalian membeli satu botol anggur Port (yang mana kadar alkoholnya ternyata 20% dan rasanya lebih manis daripada biasanya 😛 ). Sekalian aku juga membeli satu kue tart buat kecil; ya agar suasana hari Minggu lebih terasa berbeda gitu 🙂 .

Malamnya, aku menonton final tunggal putri dari US Open 2014 dimana Serena Williams memenangi gelar ke-6 US Open-nya, dan sekaligus gelar grandslam tunggalnya yang ke-18! Wow, hadiah ulang-tahun yang oke banget! 😀

Selasa

Sebenarnya aku berencana untuk mengadakan pesta makan malam kecil dengan beberapa temanku di hari Sabtu. Tetapi salah seorang temanku tidak bisa datang karena ia akan pergi ke Amerika untuk liburan; jadilah ia mengajak untuk makan malam di luar di hari Selasa malam dengan seorang teman lagi. Jelas aku terima dong 😀 .

Kami akhirnya mencoba restoran Thailand yang itu di centrum! Sebenarnya kami sudah ingin mencobanya sejak lama sih, tetapi setiap kali lewat restorannya penuh terus (ukuran restorannya sendiri nggak besar-besar amat sih). Dan akhirnya sekarang kami mendapatkan kesempata untuk itu!! Hahaha 😆 . Restorannya sendiri lumayan unik dimana disana kita tidak perlu memesan mau makan apa, karena hanya tersedia menu paketan aja, itupun hanya ada satu. Jadi, selain memesan minuman, kita hanya tinggal duduk aja disana dan mereka akan langsung melayani kita dengan paket makanan mereka 😛 .

Makanannya sendiri adalah makanan Thailand (atau Asia) tiga menu. Untuk makanan pembuka, disajikan sup ala Thailand, yang mana enak juga walaupun bukan sup tomyam sih. Untuk makanan utama, kami diberikan empat porsi kecil masakan Thailand dengan nasi. Dan untuk makanan penutup, kami diberikan suatu menu yang penampakannya mirip banget seperti jenang kalau di Indonesia. Enak banget deh. Dan harganya juga oke banget lho! Senang deh saya 😀 .

Dari sana, kami pergi ke bar di dekat situ dan ngobrol disana sampai sekitar jam 23:00 🙂 .

Sabtu

Di hari Sabtu, aku mengadakan acara makan malam ulang-tahunku itu; dan dengan ini maksudnya adalah aku yang memasak semua masakannya. Aku memutuskan untuk masak mie goreng dan rendang kali ini. Dan untuk rendangnya lebih spesial loh karena bumbu (instan)-nya aku bawa dari Indonesia 😀 . Dan harus kubilang bahwa ini rendang paling enak yang pernah aku masak sendiri seumur hidup, haha 😛 . Yah, malam Minggu kemarin memang asyik 🙂 .

#1419 – Hot Days and Bucatini

ENGLISH

Wow, the entire week this week has been a week with full of stories. Seriously! There are two stories which each, I think, deserves its own post, so I keep them for a bit later; and here are a few of them which are more “daily”.

Really hot…

I know it is summer now, but even for summer standard, the temperature in the Netherlands this week has been amongst its hottest days. Not overwhelmingly nor uncharacteristically hot though, but it was very hot (and humid). Which was fine; except that, well, the air-conditioner in my office was broken for two straight days during these hottest days! Damn!! 😦

Now I know how the other PhDs in Delft (whose offices are in other buildings) feel during summer. At least I am lucky enough that my office building is one of the newest buildings in TU Delft so each room has an air-conditioner. Other PhDs that I know, well, their offices don’t have air-conditioners! Under this condition, our offices basically turned into big greenhouses where the heat was trapped inside it and, as a result, made it even hotter inside! And well, working in such a hot condition is not fun at all! At least to me. It made me much more difficult to concentrate; even I could not think as fast as I normally could, haha 😆 .

Speaking of the heat, I went to Den Haag on Saturday where it was also very hot. At one point, the temperature hit 35°C! 😯 The weather was actually quite nice in the afternoon though. Okay, even though I said it was very hot, it was actually more like the hotter side of “warm”. It was still hot; but not unbearingly hot. I took the tram to go to Den Haag and the tram was packed with people (and there was no air-conditioner inside the tram too btw). At first I was surprised with the amount of people who were travelling to Den Haag; until I realized the final destination of the tram was Scheveningen (a popular beach area in the outskirt of Den Haag). Oh, that must be why! Maybe I should have made a plan to go to Scheveningen when the weather was like this too! Hahaha 😆 .

Bucatini

I have a new favorite type of pasta after my visit to Rome in December 2010: bucatini. To me, bucatini is like the most delicious pasta ever. Cook any pasta meal, if you use bucatini as the pasta, it will taste even more delicious! My brother and I tested this hypothesis two years later during our visit to Rome in December 2012. We ordered bucatini carbonara and spaghetti carbonara from the same restaurant. And, indeed, the bucatini carbonara was much more delicious than the already very delicious spaghetti carbonarra, hahaha 😆 .

Btw, for you who are foreign with bucatini, bucatini is a type of pasta which looks like spaghetti but the diameter is a little bit thicker and there is a tiny hole in the middle. To me, this thickiness is the factor that makes me find bucatini much more delicious than spaghetti 🙂 .

Even so, I have not had the luck with bucatini in the Netherlands. Ever since that year-end 2010 Italy trip, I had not found bucatini anywhere in the Netherlands. Well, until Tuesday last week. When I decided to stop by at a supermarket, I saw a box of bucatini! Yay!! Finally!!! 😀 So obviously I bought one. The day after, I changed my cooking plan for the day (I planned to cook fried chicken fillet with rucola) to pasta! Hahaha 😆 . And indeed, it was so delicious! 🙂

It reached 35°C in Den Haag on Saturday!!

It reached 35°C in Den Haag on Saturday!!

A bucatini bolognese I cooked myself

A bucatini bolognese I cooked myself

BAHASA INDONESIA

Wow, satu minggu ini benar-benar satu minggu penuh cerita deh. Beneran! Ada dua cerita yang menurutku berhak menjadi dua posting sendiri, jadi aku simpan untuk posting-posting berikutnya saja; dan berikut ini dua cerita yang lebih sehari-hari.

Panas banget…

Iya, memang sekarang ini adalah musim panas di Belanda, tetapi bahkan untuk standar musim panasnya Belanda, akhir-akhir ini bisa dikatakan termasuk yang paling panas banget loh. Memang sih panasnya masih bisa ditahan dan bukan panas yang gimana banget gitu, tetapi rasanya ya sudah panas banget lah (dan lembab). Yang mana nggak masalah juga sih, kecuali bahwa AC di kantorku rusak dong selama dua hari berturut-turut ketika hari lagi panas-panasnya begini! Sial!! 😦

Sekarang aku tahu deh bagaimana perasaannya mahasiswa PhD (S3) lain di Delft (yang kantornya di gedung-gedung lain) di musim panas. Setidaknya aku masih beruntung kantorku berada di salah satu gedung terbarunya TU Delft jadi di setiap ruangan ada AC-nya. Nah, kantor-kantornya beberapa kenalanku mahasiswa PhD lain ini nggak memiliki AC loh! Dan dalam kondisi seperti ini, kantor-kantor ini pada dasarnya berubah menjadi rumah kaca raksasa dimana panas terjebak di dalamnya, dan sebagai akibatnya, di dalamnya menjadi jauh lebih panas lagi! Dan bekerja di kondisi panas begini sungguh tidak nyaman lho! Setidaknya untukku ya, rasanya jadi lebih sulit berkonsentrasi; dan juga aku tidak bisa berpikir secepat biasanya, haha 😆 .

Ngomongin panas, aku pergi ke Den Haag di hari Sabtu dimana cuacanya juga panas banget. Di satu waktu, bahkan suhunya mencapai 35°C loh! 😯 Cuacanya juga oke sih di siang harinya. Oke, walaupun aku bilang panas banget, sebenarnya bisa dikatakan masih berada di sisi panasnya dari “hangat” sih. Masih panas; tetapi masih bisa ditahan kok panasnya. Aku naik tram untuk pergi ke Den Haag dan tramnya penuh orang (dan di dalam tramnya nggak ada AC loh btw). Awalnya aku kaget dengan banyaknya orang yang mau pergi ke Den Haag hari itu; sampai kemudian ketika aku menyadari bahwa tujuan akhir tramnya adalah Scheveningen (sebuah area pantai super populer yang berada di pinggiran Den Haag). Oh, pantas saja, orang-orang ini pasti pada mau ke Scheveningen! Mungkin seharusnya aku juga membuat rencana untuk ke Scheveningen ya ketika cuacanya seperti ini! Hahaha 😆 .

Bucatini

Aku memiliki satu tipe pasta favoritku setelah kunjunganku ke Roma di bulan Desember 2010: bucatini. Untuk aku, bucatini ini sudah seperti pasta terenak sepanjang masa deh. Masak masakan pasta apa pun, kalau pasta yang digunakan adalah bucatini, pasti rasanya jauh lebih enak! Adikku dan aku mengetes hipotesa ini dua tahun kemudian dalam kunjungan kami ke Roma di bulan December 2012. Kami memesan bucatini carbonara dan spaghetti carbonara dari restoran yang sama. Dan, memang, bucatini carbonaranya jauh lebih enak daripada spaghetti carbonaranya yang sebenarnya sudah sangat enak juga loh, hahaha 😆 .

Btw, bagi yang kurang familier dengan nama bucatini, bucatini adalah sejenis pasta yang penampilannya mirip spaghetti (jadi bentuknya seperti mie gitu) tetapi diameternya sedikit lebih tebal dan di dalamnya ada lubang rongga kecil. Untukku, ketebalannya ini lah yang membuat bucatini lebih enak daripada spaghetti 🙂 .

Sayangnya, sejauh ini aku belum beruntung dengan bucatini di Belanda. Semenjak perjalanan akhir tahun 2010-ku ke Italia itu, aku belum pernah loh menemukan bucatini di Belanda. Sampai hari Selasa minggu lalu. Ketika aku mampir di supermarket, kebetulan aku melihat satu kotak bucatini! Hore!! Akhirnya!!! 😀 Tentu saja aku membeli satu. Sehari setelahnya, aku langsung mengubah rencana masakanku untuk hari itu (awalnya aku berencana masak filet ayam goreng dengan rucola) menjadi pasta! Hahaha 😆 . Dan memang, enaaak banget rasanya! 🙂

#1383 – Apparently Long Weekend

ENGLISH

The title says it all. Yes, this weekend is a long weekend in the Netherlands. And also, yes, “apparently” because I did not know it would be a long weekend before Friday, hahaha 😆 . Today is the Bevrijdingsdag, or the Liberation Day, in the Netherlands, a day to commemorate the end of the occupation of the Nazi in the Netherlands during the World War II.

So because I did not even know this weekend would be a long weekend, obviously I did not really plan anything, haha 😆 . (Well even if I did I probably would not have anyway since this May is going to be another busy month it seems). But still there are a couple of stories.

A friend from college who is now doing a PhD in Indonesia is now in Delft as a visiting scholar for three months as part of his project. So a good-and-down-to-earth friend as I am invited him for dinner at my apartment. And we could only have it in the weekend because during the week we are both very busy at work. So I invited him last week to have dinner this Saturday.

I decided to cook rendang and the sauted minced-meat with beans and tomato, a dish I “invented” this time three years ago (Okay as I said three years ago, I got the inspiration from Masterchef Australia at that time; and btw we will get back to that topic a little bit later). In the afternoon I went to the orientalmarkt to buy some ingredients and also some stuffs that were running out…

Speaking of Masterchef Australia, I am happy that the sixth series is premiered today! Okay, I still remember I was disappointed with the final result of the previous series and also generally it seems that I am not on the same wave length with the show in the sense that my favorite never won, haha. But still, I like the general concept of the show and it is enjoyable! :mrgreen:

My homemade cooking on Saturday

My homemade cooking on Saturday

BAHASA INDONESIA

Judulnya sudah menceritakan semuanya kok. Iya, akhir pekan kali ini adalah long weekend loh di Belanda. Dan iya, “ternyata” (apparently) karena aku nggak tahu dong kalau akhir pekan ini adalah long weekend sebelum hari Jumat, hahaha 😆 *gimana sih 😛 *. Hari ini adalah Bevrijdingsdag, alias Hari Liberasi, di Belanda, hari untuk memperingati bebasnya Belanda dari tangan Nazi di Perang Dunia II.

Karena aku nggak tahu kalau akhir pekan ini adalah long weekend, jelas aku tidak merencanakan apa-apa, haha 😆  (Eh, andaikan tahu pun sepertinya nggak akan merencanakan apa-apa juga sih soalnya bulan Mei ini akan menjadi bulan yang amat menyibukkan nih sepertinya). Tapi masih ada beberapa cerita tentangnya kok.

Seorang temanku dari waktu kuliah S1 dulu saat ini sedang mengambil PhD (S3) di Indonesia dan saat ini sedang berada di Delft sebagai visiting scholar (Apa ya istilahnya dalam bahasa Indonesia? Ya intinya semacam peneliti tamu gitu deh) selama tiga bulan untuk pekerjaannya. Nah, sebagai teman yang baik-rupawan-dan-rendah-hati, tentu saja aku mengundangnya untuk makan malam di apartemenku. Dan ini cuma bisa dilakukan di akhir pekan aja soalnya kalau hari biasa kan kami sama-sama sibuk gitu ya. Jadilah minggu lalu dia aku undang untuk makan bersama Sabtu ini.

Aku memutuskan untuk memasak rendang dan daging cincang dengan buncis dan tomat, sebuah menu yang aku “ciptakan” di waktu ini tiga tahun lalu (Oke seperti yang aku bilang tiga tahun yang lalu, sebenarnya menu ini terinspirasi dari Masterchef Australian saat itu; dan btw kita akan kembali ke topik ini nanti). Siangnya aku pergi ke orientalmarkt untuk membeli beberapa bahan plus sekalian beberapa barang yang juga sudah hampir habis…

Ngomongin Masterchef Australia, aku senang karena hari ini musim keenamnya mulai ditayangkan loh! Oke, aku tentu masih ingat bahwa aku kecewa dengan hasil akhir dari musim yang sebelumnya dan juga secara umum sepertinya aku tidak pernah sepikiran dengan acaranya soalnya favoritku nggak pernah menang nih, haha. Ah, tapi tetap saja harus diakui bahwa konsep acaranya secara umum kan menarik dan seru! :mrgreen: