Thoughts, Travelling

#2080 – A Broken OV Chipkaart and A Popped Button

ENGLISH

Previously I shared a thought about how I felt disruptions appeared to more likely occur with bad timing rather than not.

And recently, this happened again! Not only once, but twice within the same week!!

A Broken OV-Chipkaart

My OV Chipkaart decided to break down one day before the start of my midweek trip to Copenhagen. I would need this card to travel within Amsterdam and to/from Schiphol; and you know I would have another upcoming trip to Bologna that weekend. I found it really annoying that the card chose to break down that week, not, say, the week before or after when I had no plan to travel that far out, haha ๐Ÿ˜† .

I immediately requested for a replacement online, but it would only arrive within three working days. And so I knewย at the very least I would have to deal with this situation during my two-day Copenhagen trip.

Anyway, in the end I received my new card by Thursday, and so it was all, thankfully, fixed by the time I went on my Bologna weekend trip, haha.

A Popped Button

But then, just when I arrived at Schiphol to start my Bologna weekend trip, my pants’ button decided to pop! Yeah, what a timing!! And to make things even worse, somehow I decided not to wear any belt for this trip.

As it was certainly very uncomfortable, I decided to buy a belt at Schiphol. But as I was rushing, I forgot to ask the shopkeeper to add one or two extra holes at the belt (For whatever reason I am in the skinny spectrum of the belt industry, I observe, which I find really weird as I feel like I am not that skinny, haha). While it kinda “worked”, it was still quite uncomfortable. And so in Bologna I decided to go to H&M and bought a new pair of pants.

“Emergency” shopping in Bologna

All in all, I think I managed the situation quite well; especially that for some time I got to avoid the potentially embarassing sight of my “opened” pants by covering it up with my jacket and coat, haha ๐Ÿ˜› . Well, then from this perspective the timing was still “okay” because it was winter time so I had my jacket and coat with me. Had it been in the summer, though…ย ๐Ÿ™ˆ

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu aku membagikan pikiranย mengenai pengamatanku bahwa sepertinya yang namanya gangguan operasional, atau kesialan secara lebih luas, lebih mungkin terjadi ketika timing-nya tidak pas daripada di waktu-waktu lain.

Dan belum lama ini, ini terjadi lagi dong! Pun tidak hanya sekali, melainkan dua kali dalam minggu yang sama!

OV-Chipkaart yang rusak

Kartu OV-Chipkaart-ku memutuskan untuk rusak satu hari sebelum keberangkatanku di perjalanan tengah mingguku ke Kopenhagen. Aku akan membutuhkan kartu ini untuk bepergian di dalam Amsterdam dan ke/dari Schiphol; dan tahu lah di akhir minggu ini aku ada acara jalan-jalan lagi ke Bologna. Aku merasa sebal banget kartunya memutuskan untuk rusak di minggu itu, bukannya, misalnya kek, minggu sebelumnya atau setelahnya dimana aku tidak memiliki rencana untuk bepergian jauh, haha ๐Ÿ˜† .

Aku langsung meminta penggantian kartunya online sih, tetapi kartu penggantinya baru akan tiba dalam waktu tiga hari kerja. Dan jadilah aku paham bahwa setidaknya aku harus menghadapi situasi ini di perjalananku ke Kopenhagen.

Anyway, pada akhirnya aku mendapatkan kartu baruku di hari Kamis; jadi untungnya semuanya sudah pulih kembali ketika aku harus berangkat dalam perjalanan akhir pekan ke Bologna-ku, haha.

Kancing celana yang lepas

Tetapi kemudian, ketika aku baru saja tiba di Bandara Schiphol untuk memulai perjalanan akhir pekan ke Bologna-ku itu, kancing celanaku memutuskan untuk lepas dong! Iya, timing-nya kok begini banget ya!! Dan untuk membuat situasi menjadi lebih runyam, waktu itu aku memutuskan untuk tidak memakai sabuk di perjalanan kali ini.

Karena sangat tidak nyaman, aku memutuskan untuk membeli sabuk di Schiphol. Karena terburu-buru, aku lupa meminta penjaga tokonya untuk menambahkan satu atau dua lubang di sabuknya (Entah mengapa sepertinya aku tergolong dalam spektrum kurus di dunia industri persabukan, yang mana menurutku aneh karena menurutku aku tidak sekurus itu, haha). Walaupun sabuknya lumayan “membantu”, toh masih terasa tidak nyaman juga. Jadilah di Bologna aku memutuskan untuk mampir di H&M dan membeli celana baru.

Belanja “darurat” di Bologna

Secara keseluruhan, rasanya situasinya aku kendalikan dengan baik; terutama selama beberapa waktu aku berhasil menghindari situasi yang berpotensi memalukan sekali dimana pemandangan celanaku yang “terbuka” bisa aku tutupi dengan jaket dan mantelku, haha ๐Ÿ˜› . Yah, kalau dipikir-pikir dari segi ini timing-nya masih “oke” lah ya karena musim dingin sehingga aku memakai jaket dan mantel. Coba kalau musim panas!ย ๐Ÿ™ˆ

 

 

Advertisements
Contemplation, PhD Life, Thoughts

#2054 – A Year A Doctor

ENGLISH

This day last year, officially I got my PhD degree and so since then I have been entitled to use the title “Doctor”, haha ๐Ÿ˜› .

Doctor Evil. Source: https://9gag.com/tag/evil

So how has this one year been in relation to this title? Well to be honest, it has been as how it was before my graduation in the sense that I did not “use” the title a lot, haha. I mean, life (even at work) is very casual here in the Netherlands where we don’t even use “Mr.” or “Mrs.” or the likes, let alone academic degree! Even at work we are all in first name basis, even when I address the CEO of my company ๐Ÿ™‚ . This was also true in the university. I addressed the head of my research group, who was a professor, with his first name without his “Professor” title.

But an academic degree is much more than just adding some title into your name. What “in the inside” is what matter much more. As to me personally, I feel like this title has given me a sense of accomplishment, which instills self confidence. I can legitimately say that I did the (hard and long) process of obtaining the degree and succeeded. And hopefully along the way the process has shaped me into a better person, be it professionally or personally.

***

Anyway, today I am going to Copenhagen for,ย coincidentally, the PhD defense of a good friend of mine! Yeah, exactly a year after mine, my friend is going to get hers! It is quite funny how things unravel at times…

One year ago in Delft.

BAHASA INDONESIA

Tepat hari ini tahun lalu, resmi aku mendapatkan gelar PhD (S3)-ku dan semenjak itu aku berhak menggunakan titel “Doktor” di depan namaku, haha ๐Ÿ˜› .

Doctor Evil. Sumber: https://9gag.com/tag/evil

Nah bagaimana nih setahun ini berkaitan dengan gelar ini? Ya sejujurnya sih, sama aja sih seperti sebelum kelulusanku dimana gelar ini tidak banyak “dipakai”, haha. Maksudku, di Belanda kan kehidupan itu (termasuk kehidupan di kantor) kasual ya dimana bahkan panggilan “Bapak” atau “Ibu” atau semacamnya itu tidak pernah digunakan, apalagi gelar akademik! Di kantor kami saling memanggil satu sama lain dengan nama depan loh, bahkan termasuk ketika aku memanggil CEO kantorku ๐Ÿ™‚ . Situasi di universitas juga seperti ini. Aku memanggil kepala grup risetku, yang mana seorang profesor, dengan nama depan saja tanpa embel-embel titel “Profesor”-nya.

Tetapi gelar akademik itu kan lebih dari sekedar titel untuk ditempelkan ke nama kan ya. Yang “di dalam” lah yang jauh lebih penting. Untukku pribadi, aku merasa titel ini memberikanku rasa pencapaian, yang mana membangkitkan rasa percaya diri. Aku bisa kan bilang bahwa aku sudah melakukan dan melalui proses (berat dan panjang) untuk mendapatkan gelarnya dan berhasil. Dan mudah-mudahan proses itu telah membentukku menjadi pribadi yang lebih baik, baik itu secara profesional maupun secara personal.

***

Anyway, hari ini aku pergi ke Copenhagen untuk, kebetulan banget, sidang PhDnya seorang teman baikku! Iya lho, tepat satu tahun setelah sidangku, temanku akan mendapatkan gelar PhDnya! Terkadang kebetulan itu lucu banget ya…

Contemplation, Thoughts

#2030 – People Are Selfish

ENGLISH

Some time ago, I shared about the day where I encountered a tram disruption which caused me to be late for my haircut appointment and skip grocery shopping that day while I was running out of food at home thus forcing me to eat my emergency supply for dinner that evening. In short, I was really annoyed by the disruption that day.

Later I learned about the cause of the disruption. Apparently, not too long before, there was an accident involving a tram and a car. Some people got hurt that they had to be taken by the ambulance. Obviously the police was later involved in the scene as well.

Upon learning about this cause, I realized one thing: people are selfish.

***

In my opinion, selfishness is necessary for “survival”. At the very basic level, people have to think for themselves to “survive”. But how is taking care of yourself selfish? Well, because by definition then at the time you are prioritizing the need of yourself ahead of others, regardless of the well-being of others. This is why I don’t think the antithesis of selfishness in pure form exists. You can’t please or help everyone, i.e. “feeding” anybody else’s selfishness but yours.

***

My annoyed reaction to the tram delay above is an example of my selfishness. I was annoyed that the tram incident disrupted my grocery shopping plan and haircut appointment. While actually, this “discomfort” was minor in comparison to what the victims had to go through that day as a result of the accident (I don’t think the choices between to have your plan slightly ruined vs to have to be hospitalized is a difficult one to make).

Granted, though, that I didn’t know about the accident when I initially got annoyed. Having said that, while learning about the accident dramatically reduced the level of my annoyance, I felt like my annoyance didn’t get completely wiped out. When I got back home, I had nothing to eat except for my emergency supply (read: Indomie ๐Ÿ˜› ). And I did not like that because I did not consider instant noodles to be a healthy food option to have for dinner. But at the time, I had no other choice (because I did not feel like ordering something as that would have required some more waiting before I could finally have my dinner). I had to accept and deal with it, a situation which appeared to nurture my annoyance.

***

Understanding that to some degree other people will act selfish, perhaps “towards us”, would help in many cases during the course of life, in my opinion. It certainly puts a lot of encounters in perspective. In some cases, I think this helps us to not take things too personally and hence avoiding the “negativity” or “grudges” to enter our mind or heart.

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku bercerita mengenai suatu hari dimana ada gangguan layanan tram yang menyebabkanku terlambat untuk appointment potong rambut di sebuah salon dan harus membatalkan rencana belanja grocery hari itu padahal di rumah aku sedang kehabisan stok makanan sehingga malamnya aku mau tidak mau hanya bisa memakan suplai makanan daruratku. Secara singkat, bisa dibilang aku merasa sebal dengan gangguan tramnya hari itu.

Beberapa saat setelah itu, aku baru tahu penyebab gangguannya. Ternyata, tidak lama sebelumnya, ada kecelakaan yang melibatkan sebuah tram dan sebuah mobil. Beberapa orang terluka karenanya dan harus dibawa ambulans ke rumah sakit. Jelas, polisi juga kemudian terlibat di tempat kejadian.

Ketika mengetahui penyebab ini, aku menyadari satu hal: manusia itu egois.

***

Menurutku, keegoisan itu penting loh untuk “kelangsungan-hidup” (survival). Pada dasarnya, manusia harus berpikir dan mengurusi dirinya sendiri untuk “bertahan hidup”. Nah, yang namanya memikirkan atau mengurusi diri sendiri kok egois? Ya karena ketika sedang memikirkan dan mengurusi diri sendiri, artinya kita sedang mementingkan kepentingan diri sendiri dan bukannya kepentingan orang lain kan? Inilah mengapa aku rasa antitesis dari keegoisan dalam bentuk murinya itu tidak ada. Kita tidak bisa selalu memikirkan dan menyenangkan semua orang, dengan kata lain “memberi-makan” keegoisan orang lain tetapi tidak terhadap diri sendiri.

***

Reaksi sebalku terhadap gangguan tram di atas dalam satu contoh keegoisanku. Aku sebal insiden tramnya mengganggu rencana belanja grocery dan appointment potong rambutku. Padahal, “ketidak-nyamanan” ini tidak ada apa-apanya lah ya dibandingin situasi yang harus dijalani korban kecelakaan hari itu (Jelas tidak sulit lah memilih antara menghadapi situasi rencana yang terkacaukan atau harus dilarikan ke rumah sakit).

Memang sih, aku tidak mengetahui adanya kecelakaan ini ketika aku pertama-kali merasa sebal. Walaupun begitu, walaupun mengetahui penyebabnya jauh menurunkan tingkat kesebalanku, aku merasa kesebalanku tidak sama sekali hilang lho. Ketika aku kembali di rumah, aku tidak memiliki makanan apa-apa kecuali persediaan daruratku (baca: Indomie ๐Ÿ˜› ). Dan aku tidak menyukai situasi ini karenaย bagiku mi instan itu bukanlah pilihan makanan yang sehatย apalagi untuk makan malam. Tetapi waktu itu, aku tidak memiliki pilihan lain (karena aku juga ogah memesan delivery sesuatu karena aku harus menunggu lagi sebelum akhirnya bisa makan malam). Aku harus menerima situasi ini, situasi yang ternyata sedikit “menjaga” nyala kesebalanku.

***

Mengetahui bahwa sampai tingkat tertentu orang lain juga akan bertindak egois, mungkin “terhadap kita”, juga akan membantu banget dalam hidup, menurutku sih. Ini membantu dalam memahami suatu situasi. Dalam sebagian kasus, ini membantu kita untuk tidak terlalu memasukkan segalanya ke dalam hati sehingga mencegah pikiran “negatif” dan “kedongkolan” memenuhi pikiran dan hati.

Contemplation, Thoughts

#2019 – The Timing of Disruptions

ENGLISH

It is just a reality that anything will break once in a while, including the smoothness and reliability of the Dutch public transportation. And by “break”, I mean “disruptions”, haha.

While my logic would say that disruptions occur randomly, somehow my heart feels that they do not. In fact, they seem to likely more occur during the worst of time, i.e. the time I am “less okay” with them happening. For instance, when I am on my way to an important meeting, like my Instagram post above from earlier this year, haha ๐Ÿ˜† .

Not too long ago, it happened again. After work, I planned to do grocery at a supermarket (as I was running out of food at home) before going to a haircut appointment at a barbershop. I saw my tram at Amsterdam Centraal but it was just standing still for an abnormally long time; and so I immediately figured out that there was a disruption. I felt so annoyed by this. I mean, why did it need to happen today of all days, on the day when I had an appointment (Btw, I HATE to come late to an appointment; coming late is so untypical of me)? Haha ๐Ÿ˜† . Finally after waiting for about half an hour, the tram resumed its operation. But because of the delay, I had to drop my plan to the supermarket today and just went straight to the barbershop, where I was late for 15 minutes. That evening, I cooked my emergency instant noodles (read: Indomie ๐Ÿ˜› ) for dinner, haha ๐Ÿ˜† .

On a more serious note, though, what my heart “feels” might actually be biased. You see, encountering a disruption when I have an important agenda is certainly more “painful” than encountering a disruption when my time is flexible. My hypothesis is that the “pain” makes me “remember” the incident more, hence falsely “associating” the timing occurence of the incidents with the presence of an important appointment/meeting/etc. In other words, I “forget” that these incidents also happen on “less important” time. The lack (or lesser degree) of “pain” I feel at these time cloud these incidents in my mind.

Back to the delayed tram incident which forced me to be late for 15 minutes to my appointment and eat a bowl of Indomie that evening, I eventually learned about the cause of the disruption. This finding actually made me think about a different matter which deserves its own post for the next time, though ๐Ÿ™‚ .

BAHASA INDONESIA

Adalah suatu kenyataan bahwa segala sesuatu pasti akan rusak ya, termasuk kelancaran dan kehandalan transportasi umum di Belanda. Dan yang kumaksud dengan “rusak” jelas adalah “gangguan operasional”, haha.

Walaupun menurut logika yang namanya gangguan itu terjadi secara acak, entah kenapa hatiku merasa kemunculannya itu tidak acak. Malahan, rasanya gangguan itu lebih mungkin terjadi di waktu-waktu yang nggak banget, yaitu ketika aku sedang ada acara penting gitu. Misalnya, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju sebuah meeting yang penting banget, seperti di posting Instagramku di atas dari awal tahun ini, aha ๐Ÿ˜† .

Belum lama ini, kejadian ini terulang kembali. Sepulang kantor, aku berniat berbelanja kebutuhanku di supermarket (kondisi stok bahan masakan/makanan di rumah sedang habis) sebelum pergi ke salon dimana aku sudah ada appointment untuk potong rambut. Aku lihat tramku sudah ada di Amsterdam Centraal tetapi tramnya cuma berhenti doang dalam jangka waktu yang tidak biasa lamanya; jadilah aku langsung menyadari bahwa sedang ada gangguan. Aku merasa sebal banget waktu itu. Maksudku, kok harus kejadiannya sekarang gitu, di waktu dimana aku ada janji (Btw, aku BENCI SEKALI datang terlambat ke sebua janji; datang terlambat itu bukan sifatku)? Haha ๐Ÿ˜† . Akhirnya, setelah menunggu selama setengah jam-an, tramnya beroperasi juga. Tetapi karena keterlambatan ini, aku harus membatalkan rencanaku ke supermarket dan langsung pergi ke salonnya, dimana aku terlambat 15 menit dari waktu appointment. Dan malam itu, aku harus mau tidak mau memasak dan makan makanan untuk situasi darurat: mi instan (baca:ย Indomieย ๐Ÿ˜› ) untuk makan malam, haha ๐Ÿ˜† .

Apa yang “dirasakan” hatiku itu mungkin bias loh sebenarnya. Jelas kan mendapatkan gangguan operasi semacam ini di waktu ketika aku sedang ada agenda penting itu lebih “menyakitkan” daripada mendapatkan gangguannya ketika jadwalku sedang fleksibel. Hipoteasku adalah “rasa sakit” ini membuatku “ingat” insiden ini, sehingga kekeliruan dalam bentuk “asosiasi” antara waktu kejadian insidennya dengan keberadaan acara penting jadi terbentuk. Dengan kata lain, aku “melupakan” gangguan-gangguan yang terjadi di waktu-waktu yang “lebih tidak penting”. Ketiadaan (atau rendahnya tingkat) “rasa sakit” yang kualami di waktu-waktu ini membuatku otakku mengabaikannya.

Kembali ke insiden gangguan tram yang membuatku terlambat 15 menit ke appointment-ku dan memaksaku makan Indomie saja malam itu, pada akhirnya aku mengetaui penyebab gangguannya. Informasi ini sebenarnya membuatku terpikir akan masalah lain yang layak kujadikan posting tersendiri. Tapi posting tersendiri ini untuk nanti saja sih ๐Ÿ™‚ .

Contemplation, Thoughts

#2002 – On Apology

ENGLISH

Lately I have been thinking a little bit about the (probably) less “touched” side of an apology. It has occurred to me that an apology actually serves both way, i.e. both for the apologee and the apologizer. The former is obvious; and is the side that I above mean as the more “touched” side of it. The latter is the less obvious one.

Just recently, I was late to a birthday surprise event at work because somehow my calendar didn’t pop the reminder up. So after the event I apologized to the organizer (whom personally invited me to come to the event a few days prior) and explained about the calendar hiccup. But then, she unexpectedly replied with an apology to me because in the calendar the event was set as private so this might explain why I did not get the notification. And at the time, somehow I felt a little bit bad about it.

I am going to describe the situation from the latter point of view, i.e. where the apology is meant to serve the apologizer. One original intention with my apology was to admit my mistake and so that I would be freed up from my guilty feeling. For this reason, btw, in my opinion someone who is unwilling to admit any of his/her mistakes and never apologizes is actually doing more harm to him/herself internally. Anyway, this original intention was somehow “disrupted” a little bit when the organizer apologized back to me; because somehow I was positioned as the apologee where just seconds before I thought I was the apologizer. Consequently, in a way I felt like I wasn’t “punished” enough with my guilt because a part of the mistake was taken away from my side with the apology from her. I totally understand that she did not mean bad things and just wanted to help me ease my guilty feeling. But this actually got me thinking, haha…

Interesting, isn’t it? Now I understand that, indeed, apologizing does not make you “smaller”. In fact, it makes you “bigger”!

BAHASA INDONESIA

Akhir-akhir ini aku berpikir mengenai satu sisi yang (mungkin) lebih kurang “terjamah” dari suatu permintaan maaf. Aku mulai paham bahwa permintaan-maaf itu berfungsi dua arah, yaitu baik bagi yang diminta maaf dan juga bagi yang meminta maaf. Yang pertama jelas lah ya; dan ini adalah sisi yang aku maksudkan di atas sebagai sisi yang lebih sering “terjamah” darinya. Yang kedua adalah sisi yang kurang begitu jelas.

Belum lama ini, aku datang terlambat ke sebuah acara surprise ulang-tahun di kantor karena entah mengapa kalenderku tidak mengeluarkan reminder/pengingat. Jadilah setelah acaranya berakhir aku meminta maaf ke yang mengadakan acaranya (yang mana mengundangku langsung untuk datang beberapa hari sebelumnya) dan aku jelaskan mengenai masalah kalender ini. Tetapi kemudian, tak kusangka-sangka ia justru meminta maaf kepadaku karena di kalendernya, acaranya di-setting privat sehingga mungkin ini menyebabkan pengingatnya tidak hidup. Dan waktu itu, entah bagaimana aku merasa sedikit kurang enak karenanya.

Ini akan kujelaskan dari sudut pandang yang kedua, alias dari sudut pandang peminta-maaf. Satu tujuan awalku dengan meminta maaf adalah untuk mengakui kesalahanku sehingga aku terbebaskan dari perasaan bersalah. Karena alasan ini, btw, menurutku seseorang yang tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan tidak pernah meminta maaf itu sebenarnya justru sedang menyiksa dirinya sendiri. Anyway, tujuan awal ini jadi sedikit “terganggu” karena kolegaku justru meminta maaf balik; karena tiba-tiba posisiku dari yang peminta-maaf berubah menjadi yang dimintai maaf. Sebagai akibatnya, aku sedikit merasa aku tidak “dihukum” cukup berat dari perasaan bersalahku karena sebagian kesalahanku diambil dariku dengan permintaan-maaf darinya. Aku sungguh paham kok maksudnya dia ini baik dan ia ingin meringankan perasaan bersalahku. Dan jadilah aku jadi kepikiran akan hal ini.

Menarik kan? Sekarang aku semakin paham bahwa meminta-maaf itu tidak membuat kita “kecil” atau di posisi yang lemah. Sebaliknya, meminta maaf justru membuat kita berada di posisi yang “besar”!

Contemplation, Thoughts

#1994 – Fighting Through Pain VS Listening To Your Body

ENGLISH

I feel like there is a thin line of difference between to “fight through pain” and to “listen to your body”. And IMO, the art of balancing both, which of course is much easier said, or written in this case, than done, is a very important one in the quest of bettering ourselves in working towards a goal. We need to distinguish when our body just feels the discomfort which we need to, and can, fight through and when our body sends a clear warning signal that it needs to rest.

This can be especially tricky for me. You see,ย when I have set out a course to reach a goal, I do not like to stop during the process. This is especially if I have started to actually perform an action in that course. However, there can be certain situations where it is actually better for me to stop whatever I am doing. But then, of course, I start to have this conflict in my head.

For instance, one evening some weeks ago I decided to go to the gym. It felt like a regular evening to me (I have developed this routine of going to the gym four to five times a week) and I felt completely normal before going. Then as usual, I warmed up and started my exercises scheduled for that session. However, just in my first exercise, I started to feel a light headache. It got slightly better when I rested but intensified when I was resuming my gym session. And it got worse and worse with each exercise that I did.

Then I got this conflict in my mind. Should I just neglect this “pain” (i.e. the headache) and force myself through it or was it actually an actual signal that my body was sending me that it did not want to exercise, for whatever reason, this evening? As I said above, I did not like to stop at this point because I had decided to start the gym session for the evening. So at first I decided to fight through it but, of course, while not completely putting this conflict aside immediately. But you see, my default reaction was to fight through the discomfort.

Having a default reaction to fight through pain is not always bad, I think. In her speech during my PhD ceremony, my supervisor told me that my greatest strength was, in her opinion, my perserverance. I don’t like to give up, to stop doing something which I have started. In my personal observation, this appears to be quite an accurate assessment because, honestly, sometimes I see quite some people who, from my perspective, appear to give up easily when they face some difficulties. For the record here, I do not blame them nor pass any judgment. I am not in their shoes so who am I to judge, right? So this statement is purely based on my observation and my own assumptions over what is going on on the other side, which I am not experiencing myself. But under this observation and these assumptions, which, again, could be completely wrong, I probably would have liked to try to push a little harder.

Having said that, I also think there are situations where this kind of default reaction is not the right one. Professional tennis player Jelena Jankovic learned the hard way about overtraining which caused her performance level to drop. In this case, this default reaction is actually counter-productive, as it brings us further away from our goal. So I need to learn to sense when this default reaction is the wrong one.

Jelena Jankovic in 2014

Back to my gym session. After two exercises I decided that I had it enough for the day because my headache just got much worse. My common sense decided that it was one of those special circumstances where clearly my body was screaming for some rest. Well, I had been exercising for three days in a row the previous three days so it was probably time for some rest anyway, haha. So I decided to stop, go back home, and rest for the rest of the evening.

BAHASA INDONESIA

Aku merasa perbedaan antara “berjuang melawan rasa sakit” dan “mendengarkan tubuh kita” itu tipis sekali. Dan menurutku, seni menyeimbangkan keduanya, yang mana jelas lebih gampang diucapkan, atau dalam hal ini dituliskan, daripada dilakukan, adalah hal yang penting dalam perjalanan kita untuk terus memperbaiki diri dalam upaya pencapaian suatu tujuan. Kita perlu membedakan situasi dimana tubuh hanya merasakan ketidak-nyamanan yang perlu, dan bisa, kita lawan dari ketika tubuh kita mengirimkan sinyal pertanda ia meminta istirahat.

Ini bisa menjadi tricky untukku. Ketika aku sudah menetapkan suatu jalur untuk mencapai suatu tujuan, aku tidak suka berhenti di tengah-tengah. Ini terutama benar ketika aku sudah mulai melakukan suatu kegiatan/aksi dalam jalur itu. Namun, tentu ada beberapa situasi dimana lebih baik untukku menghentikan apa pun yang aku lakukan. Tetapi kemudian, jelas aku jadi memiliki konflik ini di dalam pikiranku.

Misalnya saja, suatu malam beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk pergi ke gym. Malam itu terasa seperti malam biasa untukku (Aku sudah mulai membentuk rutinitas untuk pergi ke gym sekitar empat sampai lima kali seminggu) dan aku merasa biasa saja sebelum berangkat. Kemudian seperti biasa, aku pemanasan dan mulai latihan sesuai yang sudah dijadwalkan untuk sesi itu. Namun, di latihan pertamaku, aku mulai merasakan sakit kepala ringan. Sakit kepalanya agak mendingan ketika aku beristirahat tetapi terasa sakit banget ketika aku kembali berlatih. Dan rasanya semakin parah semakin lama aku latihan.

Nah, kemudian muncullah konflik ini di pikiranku. Apakah aku bisa mengesampingkan rasa “tidak-nyaman” (baca: sakit kepala) ini dan memaksa tubuhku untuk terus berlatih, atau jangan-jangan ini adalah sinyal bahwa tubuhku sebaiknya tidak berolahraga karena alasan apa pun malam ini? Seperti yang kubilang di atas, aku tidak suka dengan yang namanya berhenti sekarang karena aku sudah memutuskan untuk memulai sesi gym malam ini; jadilah awalnya aku memutuskan untuk melawan rasa tidak-nyaman itu dulu walaupun tidak berarti aku langsung mengesampingkan konflik ini. Tetapi terlihat kan, reaksi default-ku adalah melawan rasa tidak nyaman itu.

Memiliki reaksi default untuk melawan rasa tidak-nyaman tidak lah selalu buruk. Dalam kata sambutannya di upacara wisuda PhD/S3ku, pembimbingku menyebutkan bahwa, menurutnya, kekuatan terbesarku adalah kegigihanku untuk tidak mudah menyerah (perseverance). Memang aku tidak suka untuk menyerah, untuk berhenti dalam melakukan apa yang sudah aku mulai. Dan dalam pandangan pribadiku, sepertinya memang ini adalah pengamatan yang cukup akurat karena, sejujurnya, terkadang aku melihat beberapa orang yang, dari sudut pandangku saja lho ya, nampak mudah sekali menyerah ketika mereka baru menghadapi kesulitan kecil. Btw, untuk dicatat di sini, aku tidak menyalahkan atau men-judge loh. Aku tidak berada di situasi yang mereka hadapi sehingga siapa aku kok men-judge segala kan? Jadi pernyataan ini murni berdasarkan observasiku dan asumsi-asumsiku sendiri mengenai apa yang sedang dihadapi orang lain itu, yang mana tidak aku alami sendiri. Tetapi berdasarkan observasi dan asumsi-asumsi ini, yang, sekali lagi, mungkin banget salah, jika aku di situasi yang sama aku akan mencoba sedikit lebih keras lagi.

Walaupun begitu, aku rasa ada situasi dimana reaksi default ini bukan lah reaksi yang tepat. Petenis profesional Jelena Jankovic mengalami sendiriย dimanaย kebanyakan berlatih (overtraining)ย justru membuat level dan performanya menurun. Dalam kasus ini, reaksi default ini justru kontra-produktif, karena ini justru membawa diri kita menjauhi tujuan. Jadi aku perlu belajar untuk mendeteksi kapan reaksi default ini adalah reaksi yang salah nih.

Jelena Jankovic di tahun 2014

Kembali ke cerita gym di atas. Setelah dua macam latihan, aku memutuskan bahwa sakit kepalaku ini bisa dibilang parah, dan memang sudah semakin sakit sih. Akhirnya otakku memutuskan bahwa ini adalah suatu situasi khusus itu dimana jelas tubuhku berteriak meminta istirahat. Iya sih, toh aku sudah ke gym selama tiga hari berturutan di tiga hari sebelumnya jadi memang sepertinya memang waktu itu toh saatnya untuk istirahat, haha. Jadilah aku berhenti, pulang, dan beristirahat di sepanjang sisa malam itu.

Contemplation, my apartment, Thoughts, Zilko's Life

#1986 – Bed First World Problem

ENGLISH

So you know I have decided to “invest” in better products for the basic furnitures I bought for my apartment. One of those basic furnitures is my bed.

But obviously I did not buy this โ‚ฌ5000 (after discount price) bed even though it was super comfortable. I still had some sense with my budget and spending, haha ๐Ÿ˜†

So I decided to spend a little bit more and buy a better bed for myself (Even though obviously not theย โ‚ฌ5000 after-discount bed pictured above, lol ๐Ÿ˜† ). And I have to say it was one of the best decisions I have made this year!! The bed was sooo gooooood; that it justified the amount I needed to blow invest for it.ย Haha ๐Ÿ˜† .

Though, this was not without any “problem”, of course. I mean, now that I have been accustomed to a certain standard of sleeping comfort, somehow hotel beds I encounter during my frequent travels impress me much less these days, haha ๐Ÿ˜† .

You see, before when I still lived in my rental shared-house in Delft (which came in all-furnished, i.e. I didn’t have to bring my own furniture), the bed that I got was the one on the “cheap”-er range. It was okay. I mean, I lived there for almost two years anyway and I never complained about it. So I guess I grew accustomed to it. But this also meant that everytime I travelled somewhere and stayed in a (better range) hotel, I was looking forward for the room and, especially, the bed! Haha ๐Ÿ˜†

I was really looking forward to my stay at this five-star hotel in Frankfurt last year.

But now, somehow things have changed after I got my new bed; and I didn’t really notice it at first. I was still going to my trips with pretty much the same level of excitement as before. However, somehow I stopped feeling “wowed” in terms of comfort with the beds that I got, haha ๐Ÿ˜† . I mean, those were still comfortable, obviously, but somehow the comfort just felt “normal” and not anything out of the ordinary, haha ๐Ÿ˜† .

My recent summer weekend trip to London made me realize this change. So I decided to “save” a little bit and stay at a cheap(er) place on this trip. I found what I thought was a good deal at a place which I thought was a hotel that turned out to be a guest house (hence the price). And you know, I got what I paid for. I found the bed uncomfortable and, while I managed to get some sleep, I wasn’t fully rested. Consequently, I felt sleep-deprived in the coming full working week where I needed vitamin-C supplement for two of those days to help my stamina, haha. I mean, I don’t expect it would have been this “bad” had I gone on this trip while I still lived in Delft.

I was also excited with my hotel room at Stockholm – Arlanda last year.

I don’t mean to sound like a snob here. My point is that people do adjust and adapt to their environment. And anything out of their comfort zones are deemed “unusual” and can either be perceived as “pleasure” or “pain”. And that the definition of “pleasure” or “pain” for someone can definitely change too dynamically.

Back to the bed situation, I guess this means that there is a stronger reason for me to perceive my apartment as my “home” now. As I can say it is “easier” for me to miss my bed, haha…

BAHASA INDONESIA

Jadi ceritanya aku telah memutuskan untukย “berinvestasi” di produk-produk yang lebih baikย untuk mebel-mebel dasar yang kubeli untuk apartemenku. Nah, salah satunya adalah ranjang tidurku.

Eh tetapi jelas dong aku tidak membeli ranjang seharga โ‚ฌ5000 (sekitar Rp 75 juta, ini pun harga setelah diskon) ini walaupun memang enak banget sih. Tapi aku masih memiliki kewarasan kok dalam hal budget dan pengeluaranku, haha ๐Ÿ˜†

Jadi aku memutuskan untuk keluar biaya lebih banyak dan membeli ranjang yang lebih oke gitu deh untuk apartemenku (Walaupun bukan ranjang seharga โ‚ฌ5000 (sekitar Rp 75 juta, segini pun harga setelah diskon) seperti di foto di atas ya, haha ๐Ÿ˜† ). Dan harus kubilang ini adalah salah satu keputusan terbaik yang kubuat tahun ini loh!! Ranjangnya memang enak bangeetttt; dan memang sepadan deh dengan biaya yang harus aku habiskan investasikan untuknya! Haha ๐Ÿ˜†

Walaupun, bukan berarti ini tanpa “masalah” juga sih. Jadi karena sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan standar kenyamanan tidur tertentu, entah bagaimana sekarang ranjang-ranjang di hotel yang aku temui di perjalanan-perjalananku itu menjadi tidak seimpresif sebelumnya deh, haha ๐Ÿ˜† .

Jadi ceritanya di tempat tinggal shared-ku yang sebelumnya di Delft (yang mana all furnished, dalam artian aku jadi tidak perlu membeli mebelku sendiri), ranjang yang kudapatkan adalah ranjang yang tergolong lebih “murah” gitu deh. Nggak masalah sih sebenarnya. Toh aku tinggal di sana selama dua tahun dan aku tidak pernah komplain akan itu. Jadi aku toh masih bisa membiasakan diri dengannya. Tetapi ini juga berarti setiap kali aku jalan-jalan dan menginap di hotel (yang bagusan dikit), aku juga merasa tidak sabar dan excited banget terhadap kamarnya dan, terutama, ranjangnya! Haha ๐Ÿ˜†

Aku nggak sabar banget untuk menginap semalam di hotel berbintang-lima di Frankfurt ini tahun lalu.

Tetapi sekarang, hal berubah setelah aku mendapatkan ranjang baruku; perubahan yang awalnya tidak aku sadari. Aku masih pergi dalam perjalanan-perjalananku itu dengan level excitement yang sama seperti sebelumnya. Namun, entah bagaimana aku tidak lagi merasa “wow” dalam hal kenyamanan ranjang dari ranjang yang kudapat, haha ๐Ÿ˜† . Maksudku, masih nyaman-nyaman aja sih, tapi entah mengapa rasa nyamannya itu terasa “normal” dan wajar gitu, haha ๐Ÿ˜† .

Perjalanan akhir pekan musim panasku ke London baru-baru ini membuatku sadar akan perubahan ini. Jadi waktu itu aku memutuskan untuk “menghemat” sedikit dan menginap di tempat yang lebih murah. Aku menemukan penawaran yang nampak promo di tempat yang awalnya aku kira sebuah hotel. Tetapi ternyata sebenarnya tempat ini adalah sebuahย guest house (pantas harganya segitu). Ya jelas aku mendapatkan seperti apa yang kubayar ya. Aku mendapatkan ranjang yang bagiku tidak nyaman dan, walaupun aku toh masih bisa tertidur, badanku tidak benar-benar beristirahat. Akibatnya, aku merasa kekurangan tidur di satu minggu kerja penuh selanjutnya dimana di dua hari di antaranya aku merasa perlu minum suplemen vitamin C untuk menopang staminaku, haha. Maksudku, aku kira masalah ini tidak akan “seburuk” ini andaikata perjalanan ini aku lakukan ketika aku masih di Delft.

Aku juga excited banget dengan kamar hotelku di Stockholm – Arlanda tahun lalu.

Bukannya bermasuk sombong atau gimana gitu sih di sini. Inti dari cerita ini adalah memang benar bahwa manusia itu bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Dan apa-apa yang di luar zona nyamannya akan terasa “tidak biasa” dan ketidak-biasaan ini bisa dipandang sebagai “kenikmatan” atau “kesakitan”. Dan definisi “kenikmatan” dan “kesakitan” bagi seseorang itu pun juga bisa berubah secara dinamis.

Kembali ke urusan ranjang (wedew, keterangan macam apa ini ๐Ÿ˜› ), aku rasa ini berarti aku memiliki satu alasan kuat yang membuat apartemenku terasa seperti “rumah”-ku (home) sekarang. Dimana aku bisa dengan “lebih mudah” berkata aku kangen dengan ranjangku sendiri, haha…