#1918 – Take Your Chances but You Can’t Have Them All

ENGLISH

In early March, Malta’s super famous Azure Window collapsed into the sea following years of erosion and, the final trigger, a severe storm in the Mediterranean Sea. Apparently being one of the biggest tourist attractions of Gozo (the name of the island), many people were understandably saddened by this.

As for me, well, I have never been there. I even have never been to Malta. So why do I care? Well, these are precisely why I care about this, haha.

You see, to be honest Malta has been in my radar to visit for awhile. But for whatever reason (well, mainly time, distance, and the few SkyTeam connections to Amsterdam (lol 😆 )), I have never made it a reality.

And now, it is all too late for me if I want to go to Azure Window, because it no longer exists. It has collapsed into the sea, literally. It is gone. It is now history.

***

This reminds me of two lessons, though. First of all, we should take our chances whenever we can, simply because it might never be there to be taken again. Had I spent some time to visit Gozo and Malta years ago, I would have been able to take a selfie with Azure Window, haha 🙈 .

Secondly, we cannot have everything in life. You see, there are plenty of other places in this planet that I would want to visit as well, haha 😆 . I have not spent some of my time to visit Malta because I used that time to visit other places. And my time is finite. So this means that at some point I must accept that I cannot have (or, rather, visit) it all 🙂 .

***

So, how about you? Have you ever visited Azure Window?

BAHASA INDONESIA

Di bulan Maret kemarin, Azure Window-nya Malta yang terkenal banget itu ambruk ke laut akibat erosi yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan, pemicu terakhirnya, badai besar di Laut Mediterania. Ternyata, karena merupakan salah satu atraksi turis terbesar di Gozo (nama pulaunya), banyak orang yang sedih karenanya.

Untukku, aku belum pernah ke sana. Malahan aku juga belum pernah ke Malta. Jadi ngapain kok aku peduli? Haha. Yah, justru karena ini lah aku peduli.

Sejujurnya, Malta sudah berada dalam daftar tempat yang ingin kukunjungi semenjak lama. Tetapi entah karena alasan apa (hmm, utamanya sih waktu, jarak, dan sedikitnya pilihan penerbangan dengan maskapai SkyTeam dengan koneksi ke Amsterdam (huahaha 😆 )), aku belum sempat menjadikannya kenyataan.

Dan sekarang, terlambat sudah jika aku ingin menunjungi Azure Window, karena Azure Windownya sudah nggak ada lagi. Ia sudah ambruk ke laut. Sudah hilang. Sudah menjadi sejarah.

***

Ini mengingatkanku akan dua pelajaran sih. Pertama-tama, kita harus memanfaatkan peluang yang ada, karena mungkin saat ini adalah saat terakhir peluang ini muncul dan bisa diambil. Andaikata aku sudah meluangkan waktu untuk pergi ke Gozo dan Malta bertahun-tahun yang lalu, saat ini aku sudah memiliki foto selfie dengan Azure Window, haha 🙈 .

Yang kedua, kita tidak bisa mendapatkan semuanya di hidup ini. Jadi ceritanya ada banyak sekali tempat-tempat lain di dunia ini yang ingin kukunjungi, haha 😆 . Aku belum mengunjungi Malta karena sebelum ini aku menggunakan waktuku untuk mengunjungi tempat-tempat yang lain. Dan waktuku kan terbatas. Jadi artinya di satu waktu memang aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa mendapatkan (atau, mengunjungi) semuanya 🙂 .

***

Jadi, bagaimana dengan kalian? Apakah sudah pernah mengunjungi Azure Window?

#1907 – Suddenly Nostalgic

ENGLISH

Earlier this week, I saw a post on LinkedIn by an ex-colleague of mine (from my PhD years) about a conference he was attending. It was an edition of a biennial conference series which previous edition two years ago I attended. Back then, it was held in Tokyo, Japan; and it was also during Spring season, arguably the best time to visit Japan!

Ueno Park, two years ago.

Wow, for whatever reason, I got really nostalgic just by reading that post. I immediately remembered my almost three weeks adventure in Japan (the first week was for the conference and the rest was for a personal trip circling Japan (Tokyo, Hakodate, Sapporo, Osaka, and Kyoto), lol 😆 ).

Here are the main posts of that 2015 Spring Trip to Japan series:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)
4. Part III: Tokyo (3)
5. Part IV: Hakodate
6. Part V: Sapporo
7. Part VI: Osaka
8. Part VII: Kyoto
9. Back to the Netherlands

Okay, the conference location was actually in Chiba

As with other conference series, the conference location always changes between editions (but always at a location with a university host that does relevant research). And because it is a railway conference series, unsurprisingly most of the time it is held in Europe, a region where the railway industry is already mature. However, there is a non-European country that is also famous for its ultra modern railway industry: Japan.

I was really lucky with the 2015 edition. The one time I had something to present, and it was also during a convenient time of my PhD years (my third year), it was held in Japan! Lol 😆 . To be honest this was one of the reasons for me to submit an abstract in 2014, despite not being at the best state of mind regarding my PhD project at the time, haha 😆 .

Me presenting in the conference in 2015

As a comparison, in 2005 it was held in Delft (lol), in 2007 in Hannover, in 2009 in Zurich, in 2011 in Rome, in 2013 in Copenhagen, and this year (2017) in Lille. Even in 2019, I heard it will be held in Linköping, haha. You see how lucky I felt? Haha 😆 .

Anyway, I enjoyed that trip so much that, I guess, it left a special mark in my brain. Now that I think about it, the conference also acted as a “turning point” in the direction of my PhD research, after a (mentally) rough 2014. The research ended well, obviously, where, eventually, earlier this year I got my PhD degree. So maybe this also played a role…

BAHASA INDONESIA

Awal minggu ini, aku melihat sebuah posting di LinkedIn yang ditulis seorang mantan kolegaku (dari tahun-tahun PhD/studi S3ku dulu) mengenai sebuah konferensi yang akan ia datangi. Konferensi itu adalah edisi terbaru dari seri konferensi dua tahunan sekali yang mana edisi sebelumnya dua tahun yang lalu aku ikuti. Waktu itu konferensinya diadakan di Tokyo, Jepang; dan sewaktu musim semi pula yang merupakan waktu terkece untuk mengunjungi Jepang!

Taman Ueno, dua tahun lalu.

Wow, entah mengapa, tiba-tiba aku merasa nostalgia banget hanya akibat membaca posting itu. Aku langsung teringat petualanganku selama hampir tiga minggu di Jepang (minggu pertama untuk konferensinya dan sisanya untuk jalan-jalan keliling Jepang doong (Tokyo, Hakodate, Sapporo, Osaka, dan Kyoto), haha 😆 ).

Berikut ini posting-posting utama di seri perjalanan musim semi 2015 ke Jepang waktu itu:
1. Getting to Japan
2. Part I: Tokyo (1)
3. Part II: Tokyo (2)
4. Part III: Tokyo (3)
5. Part IV: Hakodate
6. Part V: Sapporo
7. Part VI: Osaka
8. Part VII: Kyoto
9. Back to the Netherlands

Oke, lokasi konferensinya sebenarnya di Chiba sih.

Seperti layaknya seri konferensi, lokasi konferensinya selalu berganti-ganti di setiap edisi (tetapi selalu di lokasinya sebuah universitas tuan rumah yang juga melakukan riset yang relevan). Dan karena merupakan seri konferensi perkereta-apian, tak mengherankan seringnya konferensinya diadakan di Eropa, sebuah area dimana industri kereta api bisa dikatakan sudah dewasa. Namun, ada satu negara non-Eropa yang juga terkenal dengan teknologi kereta apinya yang mutakhir kan: Jepang.

Aku beruntung banget dengan edisi konferensi tahun 2015 itu. Kebetulan banget di waktu dimana aku memiliki bahan untuk dipresentasikan, dan di waktu yang pas pula dengan timeline riset PhDku (di tahun ketiga), konferensinya diadakan di Jepang! Huahaha 😆 . Sejujurnya, memang ini adalah salah satu alasan mengapa aku memasukkan abstrak ke konferensi ini di tahun 2014. Padahal sebenarnya waktu itu aku sedang tidak dalam mindset yang terbaik/positif dengan riset PhDku sendiri, haha 😆 .

Presentasiku di konferensi tahun 2015 itu.

Sebagai perbandingan, di tahun 2005 konferensinya diadakan di Delft (lol), tahun 2007 di Hannover, tahun 2009 di Zurich, tahun 2011 di Roma, tahun 2013 di Kopenhagen, dan tahun ini (2017) di Lille. Bahkan aku dengar di tahun 2019 konferensinya akan diadakan di Linköping, haha. Nah kan, jelas kan mengapa aku merasa beruntung banget? Haha 😆 .

Anyway, aku sungguh menikmati perjalanan itu sehingga, aku duga sih, tertinggal kesan yang spesial di otakku. Kalau kupikir-pikir lagi sekarang, konferensi ini bisa dikatakan sebuah “titik balik” dalam pengarahan riset PhDku, setelah tahun 2014 yang sulit (secara mental bagiku). Risetnya sendiri akhirnya berakhir dengan baik, dimana awal tahun ini aku mendapatkan gelar PhDku. Jadi mungkin ini ada kaitannya juga ya…

#1900 – Amsterdam, Here I Come!!

ENGLISH

Since starting working in Amsterdam last October, I have been commuting every working day between Delft and Amsterdam. My observation at the time turned out to be robust enough, where I needed to spend about three hours everyday just to commute; unless when there was a train disruption, in which case it would be longer.

While I started to get used to it, I realized this was still not sustainable in the long run. There was basically less and less rationale for me to still live in Delft as time went on. The cheaper rent in Delft became irrelevant anyway (it has been so since I started working actually), as I got more than good enough salary to afford Amsterdam’s (expensive *cough*) accommodation, haha. And now that I have officially finished my PhD in TU Delft, I can say there is no more reason for me to still live in Delft.

The moment I became a Doctor, also the moment where living in Delft became significantly less reasonable.

Yep, it is now all obvious to me. I have decided that I am moving to Amsterdam.

I write this post because I have made concrete steps in realizing this decision. In fact, it is already confirmed that I am moving to the capital this month, haha 😆 . Further details into this shall become one special upcoming post. So stay tuned for that! 🙂

But yeah, after moving to Delft almost seven years ago, it is about time for me to close the Delft chapter of my life really soon. Yep, this might sound super dramatic considering Amsterdam is only about 55 km from Delft, haha. But still… .

Having lived in Delft this long. In this town I got my Master and Doctorate (PhD) degrees. In this town my life in Europe started. Yup, Delft will always be a big and important part of my life 🙂 .

Marktplein in Delft as viewed from the top of the Nieuwe Kerk

Delft

BAHASA INDONESIA

Semenjak mulai bekerja di Amsterdam bulan Oktober lalu, aku telah nglaju di setiap hari kerja antara Delft dan Amsterdam. Pengamatanku waktu itu cukup akurat, dimana setiap hari aku perlu menghabiskan sekitar tiga jam di jalan; kecuali jika ada gangguan kereta api yang mana dalam kasus ini waktunya tentu lebih lama lagi.

Walaupun aku mulai terbiasa dengan rutinitas ini, aku menyadari bahwa ini tetap sama sekali tidak berkelanjutan (sustainable) untuk jangka panjang. Seiring berjalannya waktu, semakin sedikit keuntungan bagiku untuk tetap tinggal di Delft. Biaya sewa akomodasi yang lebih murah di Delft juga (sebenarnya semenjak awal mulai kerja) tidak relevan, karena toh aku mendapatkan gaji yang jauh lebih dari cukup untuk mampu tinggal di sebuah akomodasi di Amsterdam (yang mahal itu *uhuk*), haha. Dan juga sekarang aku telah menyelesaikan PhD (S3)-ku di TU Delft, artinya semakin tidak ada lagi alasan untukku tetap tinggal di Delft.

Momen aku menjadi seorang Doktor, juga momen dimana tinggal di Delft menjadi jauh lebih tidak masuk akal lagi.

Yep, kini semuanya sudah jelas untukku. Aku telah memutuskan untuk pindah ke Amsterdam.

Posting ini aku tulis karena aku telah membuat langkah-langkah nyata untuk merealisasikan keputusan ini (jadi bukan omdo, haha 😛 ). Malahan, sudah terkonfirmasi kok bahwa aku akan pindah ke ibukota bulan ini, haha 😆 . Cerita lebih mendetail mengenai ini adalah bahan satu posting yang akan datang. Jadi ditunggu aja ceritanya! 🙂

Tetapi, ya, jadilah semenjak aku pindah ke Delft nyaris tujuh tahun yang lalu, kini sudah waktunya untukku menutup bab Delft dalam hidupku. Iyaa, memang terdengar dramatis dan berlebihan banget ya. Apalagi Amsterdam kan cuma sekitar 55 km aja dari Delft, haha. Tetapi tetap aja… .

Aku sudah tinggal di Delft sedemikian lama. Di kota ini lah aku mendapatkan gelar Master (S2) dan Doktoral (S3)-ku. Di kota ini lah kehidupanku di Eropa dimulai. Ya, Delft akan tetap menjadi satu bagian besar dan penting dalam hidupku 🙂 .

#1838 – Some Stories This Week

ENGLISH

Here are some stories from this week.

A Future Plan

Lol, “a future plan” might sound so serious yet funny at the same time, indeed.

Anyway, when a plan exists, it means there is a goal that we (I) want to achieve. This is the case here. And I am really grateful that my company has played a bit of a role to make this the case. A near-term goal which I have had in mind for a while now, at least, has come to a less vague state. At least now I know some concrete steps which I want to take to achieve this goal.

So what goal that is? Well, as always, I like to be so cryptic and won’t share it here now; as it might jynx it 😛 . However, I have to say it is quite a big life goal. But as usual, when the time comes, for sure I will share what that goal is 😉 .

Having said that, it is still a long process from where I stand now. I guess I need to just make that first step soon and try to enjoy the process as much as possible, as for sure there will be valuable lessons and experiences along the way 😛

Tennis Lesson

Anyway, I have also had my tennis lesson started this week. So this summer I extended my Sports Card membership at TU Delft, making use of the student discount that was, then, still valid as I was still registered as a TU Delft employee 😛 . It was nice to finally hit some tennis balls again after a few weeks off; even though my rhythm was nowhere to be found this week 😛 .

Andy Murray = 2016 Year-End World Number 1!!

Speaking of tennis, I am really happy that by winning the year-end championships (ATP World Tour Finals) in London last week, Andy Murray officially ends 2016 as the world number 1 male tennis player!!

You know, two weeks prior he reached the world number 1 position for the first time ever in his career. To be honest, I had a bit of a worry this stint would only short-live because he had such a tough draw in London, at least on paper, while on the other hand, Novak Djokovic, the other player who could potentially snatch the number 1 ranking back, had an easier draw. So I am super glad he managed to get through that!

Congratulations, Andy! 😀

Andy Murray ended 2016 as the world number 1. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

Andy Murray ended 2016 as the world number 1. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Berikut ini beberapa cerita dari minggu ini.

Sebuah Rencana Masa Depan

Huahaha, “sebuah rencana masa depan” terdengar serius banget tapi lucu juga ya.

Anyway, ketika sebuah rencana terbentuk, artinya ada tujuan yang ingin kita (aku) capai. Memang ini sih kasusnya di sini. Dan aku sungguh bersyukur kantorku sedikit membantuku untuk membuat ini terjadi. Sebuah tujuan jangka menengah yang sudah aku pertimbangkan selama beberapa waktu sekarang, setidaknya, sudah memasuki bentuk yang sedikit lebih jelas. Setidaknya sekarang aku sudah memiliki beberapa langkah kongkrit untuk mencapai tujuan ini.

Memang tujuan apa sih? Ah, mau tau aja atau mau tau banget? Haha. Ah, tapi seperti biasanya, aku mau sok misterius dulu deh sekarang dan tidak akan membagikan ceritanya dulu; takut nge-jynx euy 😛 . Namun, harus kubilang bahwa ini adalah sebuah tujuan yang besar banget lah. Tapi seperti biasa, nanti jika saatnya sudah tiba, tentu sebuah tujuan ini akan kuceritakan di sini 😉 .

Walaupun begitu, prosesnya masih panjang banget dari posisiku sekarang ini. Aku rasa memang aku sebaiknya menutup mata dan langsung membuat langkah pertama itu sih; dan kemudian berusaha menikmati prosesnya semaksimal mungkin karena aku yakin akan ada banyak pelajaran dan pengalaman berharga sepanjang jalan 😛 .

Les Tenis

Anyway, minggu ini les tenisku dimulai lagi. Jadi musim panas lalu aku memperpanjang keanggotaanku di pusat olahraganya TU Delft, memanfaatkan diskon mahasiswa ketika aku masih terdaftar resmi bekerja di TU Delft kan 😛 . Asyik aja akhirnya bisa memukul bola tenis lagi setelah absen beberapa minggu; walaupun ritmeku kacau banget sih minggu ini 😛 .

Andy Murray = Peringkat 1 Dunia Akhir Tahun 2016!!

Ngomongin tenis, aku senang sekali bahwa dengan memenangi turnamen tutup tahun (ATP World Tour Finals) di London minggu lalu, Andy Murray resmi mengakhiri tahun 2016 sebagai petenis pria peringkat 1 dunia!!

Tahun kan, dua minggu sebelumnya ia mencapai peringkat 1 dunia untuk pertama kalinya di kariernya. Sejujurnya, aku sedikit khawatir pencapaian ini akan berlangsung sebentar saja kali ini karena ia mendapatkan undian yang berat di London, setidaknya di atas kertas. Sementara itu, Novak Djokovic, pemain lainnya yang secara matematis bisa merebut peringkat 1 kembali, mendapatkan undian yang lebih ringan. Jadi aku lega deh ia berhasil melalui itu semua!

Selamat, Andy! 😀

 

#1778 – Missing Out

ENGLISH

It is no secret that I really enjoy my life here in the Netherlands. Well, I have lived here for almost six years, have the Dutch permanent residence, and have no plan to move to another country in the near future. If I did not like it, none of the three things above would have come true obviously.

But as in everything in life, we can’t have it all. To put it lightly, it is not realistic to expect a super-perfect-full-of-rainbow-and-unicorn-and-all-is-happiness-with-no-regret-at-all life. You can see where this post will go now. Yes, there are “cons” aspects of living in Europe for me as well.

***

Probably one of the biggest “cons” of my decision to live in Europe is “missing out” on my relatives and friends’ big events (mostly weddings) in Indonesia. You see, Jakarta is more than 10,000 km away from the Netherlands so travelling to Indonesia (moreover, beyond Jakarta) is, indeed, not “easy”.

But then you might ask me, “But you did go to India and Mexico to attend your friends’ weddings? And India and Mexico are also far away from Europe!” Well, that is true. However, let me tell you that my Indian and Mexican friends had invited me to the weddings about ONE YEAR before the D-days. This gave me plenty of time to shape my plans accordingly; and, of course, to find some good deals to travel there.

The wedding

Attending a Mexican wedding

Yes, indeed to me the biggest problem is that I need to plan my long-distance trips in advance. Of the invitations which I have got all this time, on average I got them about one month before the D-Day (even for one of them I got the invitation like one week before! 😅 ). This made it very difficult for me to allocate some time to go to Indonesia in such short notice. The flight ticket is often not really a big issue because, given that it is not during a peak season,  sometimes it is not difficult to find cheap-ish to reasonably-priced return flight ticket to Indonesia. This is thanks to the connectivity of most major Indonesian cities to Singapore and Kuala Lumpur as well (aside from Jakarta) which allows greater number of flights combinations, thus increasing the chance to get a well-priced ticket.

Time is the problem. First of all, usually I have planned something else along the way (I think I am addicted to planning, btw). And of course I need to find a longer stretch of days to get off work for this kind of long-distance trips. For that, however, I must be careful with my holiday allowances and, of course, those targets and tasks. Often, this is not very easy to be put aside. 

A good friend of mine got married this May. Early in April, he invited me to come. If I could, I really wanted to come because we spent so much time together in high school. However, the problem was that the wedding would coincide with my conference trip to Munich which I could not cancel at that point.

The conference starts

I already arranged a trip to a conference in Munich

But I had my biggest “regret” actually earlier this month when my brother had his engagement party in Indonesia. I was told of this plan in May. The problem was, it was extremely difficult for me to find some time mainly because I was at the tail-end of my PhD. July would be the penultimate month of my contract so for sure there would be a lot of stuffs to be taken care of. Plus, there was still a collaboration research that was going on as well. I told him that it would be very likely that I would not be able to come. Of course he understood and it was “just” an engagement party anyway (the wedding is still far in the future so I definitely have a lot of time to plan accordingly for that one 😉 ); so he did not really mind that I would not be able to come.

I honestly thought of making a surprise visit by allocating about 4 days to go to Indonesia just for the party. I found a really good deal for a return ticket from Amsterdam to Kuala Lumpur for the dates that I wanted. The problem was, the early of July was the peak season in Indonesia (with the Eid and school holidays) so the return ticket from Kuala Lumpur to Indonesia was almost as expensive as the Amsterdam – Kuala Lumpur return ticket! 😦 Yeah, unlucky 😦 .

But well, I just had to live with it. I did send a video congratulating them for the engagement though. So at least it was not like that I did not get involved at all, haha 😆 .

***

How do I feel about it? Well, to be honest I do not think nor feel about it because I do understand that this is the “consequence” of the life decision that I have made. If I let it affect me, I would probably have felt a little bit “left-out”. You know, seeing all those Instagram photos where people (that I know) gather together and make use of those events as opportunities for some reunions. And when I go back there, I see that people have moved on with their lives, etc.

However, I also remind myself that, well, a coin has two sides. I have also moved on with my life. I have my own life too now, in Europe, a life which I thoroughly live and enjoy. I guess I can’t really complain as life is good afterall.

Well, I guess as the French says it: “C’est la vie“.

 

C'est la vie

BAHASA INDONESIA

Bukan rahasia lagi bahwa aku suka dengan kehidupanku di Belanda. Ya iya lah ya, aku sudah disini selama hampir enam tahun, memiliki permanent residenceship-nya Belanda, dan tidak memiliki rencana pindah ke negara lain dalam waktu dekat. Jika aku tidak menyukai kehidupanku disini, jelas tidak ada satu pun dari tiga hal di atas yang akan menjadi kenyataan tentunya.

Tapi yang namanya hidup kan ya, kita tidak bisa mendapatkan semuanya. Untuk diungkapkan dengan sopan, sangat tidak realistis untuk mengharapkan suatu kehidupan yang super-sempurna-penuh-pelangi-dan-unicorn-dan-hanya-berisi-kebahagiaan-di-sepanjang-segala-masa. Haha, mungkin sudah pada menebak nih arah posting ini kemana. Iya, tentu saja ada pula “ketidak-enakan” dari hidup di Eropa.

***

Salah satu “ketidak-enakan” terbesar dari pilihanku untuk hidup di Eropa adalah “melewatkan” acara-acara besar dan pentingnya keluarga dan kenalan-kenalanku (biasanya sih pernikahan) di Indonesia. Jakarta berjarak lebih dari 10.000 km dari Belanda sehingga pergi ke Indonesia (apalagi lebih jauh dari Jakarta) itu tidak “mudah”.

Tetapi mungkin ada yang kemudian berkomentar, “Ah tapi kamu kan pergi ke India dan Meksiko untuk menghadiri pernikahannya temanmu? Dan India dan Meksiko itu kan juga jauh banget dari Eropa!” Iya sih, itu memang benar. Namun, perlu kusampaikan bahwa temanku orang India dan Meksiko sudah mengundangku ke pernikahan mereka semenjak sekitar SATU TAHUN sebelum hari-H pernikahan mereka. Ini memberiku sangat banyak waktu untuk menyusun rencana-rencanaku; dan, tentu saja, untuk mencari tiket yang oke kesana.

The wedding

Menghadiri pernikahan teman di Meksiko

Yup, memang masalah terbesarku adalah perjalanan-perjalanan jarak jauh perlu aku rencanakan semenjak jauh-jauh hari sebelumnya. Nah, dari undangan-undangan yang kudapatkan selama ini, rata-rata aku mendapatkannya sekitar satu bulan sebelum hari-H (bahkan aku pernah mendapatkan undangan seminggu sebelumnya! 😅 ). Ini membuatku berada di posisi yang amat sulit untuk pergi ke Indonesia “mendadak” begitu. Oke, tiket pesawat biasanya bukan masalah besar karena, selama waktunya bukan lah ketika musim ramai, biasanya tidak sulit untuk mendapatkan tiket dengan harga lumayan murah atau setidaknya pantas lah untuk tiket pp ke Indonesia. Ini tentu saja berkat terhubungnya kebanyakan kota utama di Indonesia dengan Singapura dan Kuala Lumpur (selain Jakarta) sehingga ada banyak banget kombinasi penerbangan yang bisa dipilih, sehingga kemungkinan menemukan tiket yang harganya oke itu besar.

Waktu adalah masalah terbesar. Pertama-tama, biasanya aku sudah terlanjur merencanakan rencana lain (mungkin aku kecanduan dengan membuat rencana, btw). Dan tentu saja aku perlu menyisihkan waktu yang lebih panjang untuk cuti dari pekerjaan untuk perjalanan jarak jauh begini. Untuk itu, aku juga harus berhati-hati dengan jatah cutiku dan, tentu saja, dengan target-target dan tugas-tugas yang harus kuselesaikan. Sering, ini tidak gampang lho untuk dikesampingkan atau ditunda. 

Seorang teman baikku menikah bulan Mei lalu. Awal bulan April, ia mengundangku untuk datang. Jika aku bisa, aku ingin banget datang sebenarnya karena dulu ketika SMA kami sering main bareng. Namun, masalahnya adalah pernikahannya diadakan bebarengan dengan jadwal perjalanan konferensi ke Munich yang mana waktu itu sudah tidak bisa lagi kubatalkan.

The conference starts

Aku sudah terlanjur membuat rencana untuk menghadiri konferensi di Munich

Tetapi “penyesalan” terbesarku kurasakan awal bulan ini dimana adikku mengadakan pesta pertunangannya di Indonesia. Aku diberi-tahu rencana ini bulan Mei lalu. Masalahnya adalah, sungguh sangat amat sulit bagiku untuk mencari waktu karena aku berada di penghujung akhir studi PhD/S3-ku. Bulan Juli adalah bulan kedua terakhir dari kontrakku sehingga ada banyak banget yang harus dikerjakan dan diurus. Apalagi, masih ada suatu riset kolaborasi yang harus juga aku kerjakan. Aku bilang bahwa kemungkinan besar aku tidak bisa datang. Adikku mengerti dan toh ini “hanya” lah pesta pertunangan aja kan (pernikahannya sih masih lama jadi aku jelas memiliki banyak sekali waktu untuk membuat perencanaannya 😉 ); jadilah ia tidak berkeberatan aku tidak bisa datang.

Sejujurnya aku sempat terpikir untuk membuat sebuah surprise visit dimana aku mengalokasikan 4 hari ke Indonesia hanya untuk pestanya saja. Aku menemukan sebuah tiket pp promo banget dari Amsterdam ke Kuala Lumpur untuk tanggal yang kuinginkan. Masalahnya adalah, awal Juli ini adalah musim ramai di Indonesia (dengan liburan Idul Fitri dan masa liburan sekolah) sehingga harga tiket pp dari Kuala Lumpur ke Indonesia waktu itu hampir sama dengan harga tiket dari Amsterdam ke Kuala Lumpur!  😦 Ya gitu deh, waktunya nggak pas 😦 .

Ya sudah, mau nggak mau mesti dijalani saja kan. Aku mengirimkan sebuah video yang menyelamati mereka sih. Sehingga setidaknya kan aku masih terlibat gitu sedikit-sedikit, haha 😆 .

***

Bagaimanakah perasaanku mengenai ini? Ya, sejujurnya sih ini tidak aku pikirkan atau rasakan sama sekali karena aku paham bahwa ini adalah “konsekuensi” dari pilihan hidup yang sudah kubuat. Jika aku membiarkannya mempengaruhi diriku, mungkin aku akan merasa sedikit “terasing”. Tahu lah, melihat foto-foto di Instagram dimana orang-orang (yang kukenal) berkumpul bersama dan memanfaatkan acara semacam ini sebagai kesempatan untuk reunian? Dan juga ketika aku pergi kesana, aku lihat teman-temanku sudah move on dengan kehidupannya masing-masing, dll.

Namun, aku juga mengingatkan diriku bahwa koin memiliki dua sisi. Aku juga sudah move on dengan kehidupanku. Aku memiliki hidupku sendiri sekarang, di Eropa, di sebuah kehidupan yang aku nikmati. Jadi rasanya aku tidak bisa komplain juga ya karena toh hidupku juga baik-baik saja kok.

Yah, memang ujung-ujungnya seperti kata orang Prancis sih: “C’est la vie“.

 

C'est la vie

#1749 – My Next Step In Life

ENGLISH

As I am approaching the end of my PhD contract now (time really flies!), a question I have recently had to answer is “What is next?“. By that, of course I mean what I want to do next after I finish my PhD.

First of all, let us clarify a definition. Here, my definition of “finishing my PhD” is to submit the final draft of my dissertation (which is in the form of a real book here in TU Delft). And for now, my target is to do that before the end date of my contract at the end of this August. As to when I will actually get the PhD degree, it still depends on a lot of stuffs because there are so many things (mostly bureaucratic) to be taken care of (One big problem is that there literally is only ONE room in the entire university where a PhD defense can take place and of course there are hundreds of PhDs who are about to graduate). This means it can literally take months before I actually get the degree, haha 😆 . But that is fine and is actually very normal to be observed in TU Delft.

Anyway, after the contract ends, of course I am free to do whatever I want because I will no longer be employed by the university. The question is “Doing what?

Thinking about life at work

Thinking about life at work

The Choices

In general, there are two (life) paths which I can choose at this point: to stay in academia or, contrary to popular belief in Indonesia, to switch to industry. The first path is obvious: I would pursue a career in academia to, in the end, get (at least) a tenured position in a university. The second path is also obvious: I would try to find a (“regular”) job in the industry.

You know what, I feel very lucky to get this PhD position in 2012 (I would like to send my eternal gratitude to my Master thesis supervisor who recommended me for this position 😉 ). Why? Obviously one major part of my research is to tackle the theoretical work. Everybody knows that and that is pretty much what people think when they hear “a PhD research”. However, my research has another dominant side: the real-life application. A big part of my research is funded by a big state-owned Dutch company and my task is to work on one problem that they have.

So in short, I got a taste of both worlds through this research which would help me make my decision regarding what I would do next 😉 . Here is another consideration: I have pretty much been in formal education all my life since my kindergarten years, lol 😆 . And so I feel like I have had enough time in it and I want to do something different. It happens that this inclination also matches my current preference regarding the two worlds I mentioned at the beginning of this paragraph.

Yes, this means a decision has been made (since months or even years ago, actually :P): I want to switch to industry after I finish my PhD.

Thankfully I didn’t need to flip a coin to make a decision

This is not to say that I will never ever come back to academia. The possibility that I would hate working in the industry, of course, is non-zero and maybe some years from now I would want to come back to academia, haha 😆 . Afterall who knows what might happen in life, right? 😉 However, I just know this is the path that I must take. Deep in my heart, I know I would have had much bigger regret not trying to go to industry than having chosen to go industry and ending it not liking it.

Money-wise, well, first of all, let me tell you that I have never been the guy who is all about the money. To me, it is much more important to do what I like AND follow what my heart tells me. But in this case, though, of the two options it happens that, in general, a career in the industry actually pays more than a career in academia. So, why not? 😛

What are the real steps?

Okay, now that I have made this decision, I would need to assess my options.

And, contrary to popular belief in Indonesia which states that someone with a PhD degree can only work in a university, there are actually tons of opportunities to work in industry for people with a PhD degree (at least here in the Netherlands, or a lot of other developed countries). Even actually there are many vacancies which require the applicants to have, at least, a PhD degree (or close to finishing it). For this reason, I have decided that I will not come back to Indonesia (at least in the near foreseeable future 🙂 ).

Even in some companies, an applicant with a PhD degree gets an edge than someone with only a Master degree where (1) the interview process is much more streamlined and (2) the company usually offers higher salary for the same position.

Ok sure. You might ask then “How many of those positions are available?

Got a job already 😉

Well, let me just say that now, I have got a very interesting job in Amsterdam lined up for me to start this coming October 😉 (I deliberately asked to start in October so I can make September as my sabbatical month where I can afford to not care about this world, lol 😆 ). And actually, I got two job offers in May and I decided to choose one that matched my interest, in a much more interesting location, and (thankfully) would pay better. Even for one of them I actually was approached by a recruiter who offered me the position 😉 . I will write the story about this in a separate post 😉 .

You see? Yeah, the opportunity is, indeed, there. Maybe this is due to the combination of the recovering Western economy and the expertise (and experience) which I have developed during my PhD is in high demand in industry nowadays (it is a rapidly growing field). But whatever that is, I am grateful that I am given the opportunity to take the path I exactly want to do and what my heart tells me to do.

😊

River Amstel in Amsterdam

A new start in Amsterdam

BAHASA INDONESIA

Karena aku sudah dekat dengan akhir kontrak PhD (S3)-ku sekarang (waktu berlalu dengan cepat!), sebuah pertanyaan yang harus aku jawab adalah “Selanjutnya apa nih?“. Dengan pertanyaan ini, maksudku adalah apa yang ingin kulakukan setelah menyelesaikan S3 ini.

Pertama-tama, berikut ini kondisiku saat ini. Yang aku definisikan dengan “menyelesaikan S3” adalah memasukkan draft akhir dari disertasiku (yang mana dalam bentuk buku di TU Delft). Dan sekarang ini, targetku adalah melakukan ini sebelum kontrakku berakhir di akhir bulan Agustus. Mengenai kapan aku akan mendapatkan gelar S3 itu, ini tergantung dari banyak hal (kebanyakan sih birokrasi) yang harus diurus (Satu masalah besar adalah hanya ada SATU ruangan di kampus TU Delft dimana sidang S3 boleh diberlangsungkan sementara ada ratusan mahasiswa S3 yang akan lulus). Ini berarti memang bisa memakan waktu beberapa bulan sampai aku beneran mendapatkan gelarnya, haha 😆 .Tetapi itu tidak apa-apa sih dan biasa kok di TU Delft.

Anyway, setelah kontrak berakhir, jelas dong aku bebas melakukan apa pun karena aku kan bukan lagi karyawan universitas. Pertanyaannya adalah “Melakukan apa?

Thinking about life at work

Berpikir mengenai kehidupan di kantor

Pilihan-pilihan yang ada

Secara umum, ada dua jalan (hidup) yang bisa aku pilih saat ini: untuk tetap bekerja di akademia atau, bertentangan dengan pendapat umum di Indonesia, untuk berpindah haluan ke industri. Pilihan pertama jelas: aku akan mengejar karier di dunia akademia untuk, pada akhirnya, mendapatkan (setidaknya) posisi tenured (posisi tetap) di sebuah universitas. Pilihan kedua juga jelas sih: aku akan berpindah haluan dan bekerja (“biasa”) di industri.

Aku merasa beruntung dengan posisi S3 yang kudapatkan di tahun 2012 ini (untuk ini, aku mengucapkan banyak banget terima kasih ke pembimbing thesis S2-ku yang merekomendasikanku untuk posisi ini 😉 ). Mengapa? Jelas salah satu bagian utama risetku adalah penelitian teoretis ala akademia. Semua orang juga tahu dan rasanya memang ini lah yang muncul di pikiran orang-orang ketika mendengar “riset S3”. Namun, risetku memiliki sisi dominan lainnya: aplikasi nyata. Sponsor utama risetku adalah sebuah perusahaan nasional Belanda dan tugasku adalah mencoba menyelesaikan sebuah permasalahan besar yang mereka miliki.

Jadi secara singkat, aku bisa mencicipi kehidupan kerja di kedua dunia melalui satu riset ini yang sungguh amat membantuku membuat keputusan mengenai apa yang ingin kulakukan selanjutnya 😉 . Berikut ini pertimbangan lainnya: aku sudah berada di dunia pendidikan formal non-stop semenjak TK, hahaha 😆 . Jadilah aku merasa sudah cukup dan aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Kebetulan keinginanku ini cocok dengan preferensiku mengenai dua dunia yang kusebutkan di awal paragraf ini.

Ya, ini memang berarti sebuah keputusan sudah kubuat (semenjak berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun yang lalu sih sebenarnya 😛 ): aku ingin bekerja di industri setelah menyelesaikan S3ku.

Untungnya aku tidak perlu melempar koin untuk membantuku membuat keputusan

Ini bukan berarti aku tidak akan pernah kembali ke dunia akademia selama-lamanya ya. Yang namanya kemungkinan dimana ternyata aku sangat tidak suka bekerja di industri jelas ada sehingga mungkin beberapa tahun lagi aku ingin kembali ke akademia, haha 😆 . Yang namanya masa depan siapa yang tahu kan? 😉 Namun, aku tahu ini adalah langkah yang harus aku ambil. Dari dalam lubuk hatiku, aku tahu rasa penyesalanku akan lebih besar dengan tidak mencoba berpindah haluan ke industri daripada memilih berpindah ke industri dan ternyata tidak menyukainya.

Dari segi masalah uang, hmm, pertama-tama, aku tekankan dulu bahwa aku bukanlah seseorang yang paling mementingkan yang namanya uang/gaji/pendapatan. Untukku, jauuh lebih penting untuk bekerja melakukan sesuatu yang aku sukai DAN sesuai dengan/mengikuti kata hatiku. Tetapi di kasus ini, dari dua pilihan tersebut, kebetulan secara umum pendapatan dari karir di industri itu lebih tinggi daripada karir di akademia. Jadi, mengapa tidak kan? 😛

Apakah langkah nyataku?

Oke, sekarang dimana pilihan sudah kutetapkan, aku perlu menilai pilihan-pilihan nyataku kan ya.

Dan, bertentangan dengan pendapat umum di Indonesia yang menyatakan bahwa seseorang dengan gelar S3 itu hanya bisa bekerja di universitas, sebenarnya ada banyaak sekali kesempatan di industri bagi seorang Doktor (setidaknya di Belanda yah, dan di negara-negara maju lainnya). Bahkan ada beberapa lowongan yang mensyaratkan pelamarnya untuk berpendidikan minimal S3 loh (atau nyaris menyelesaikannya). Karena alasan ini, aku juga sudah memutuskan untuk tidak akan kembali ke Indonesia (setidaknya dalam waktu dekat 🙂 ).

Bahkan di beberapa perusahaan, seorang pelamar dengan gelar S3 juga memiliki keuntungan loh dibandingkan seorang pelamar dengan gelar S2 saja dimana (1) proses interview-nya lebih mulus dan (2) perusahaan biasanya memberikan gaji yang lebih tinggi untuk posisi yang sama.

Oke, oke. Mungkin pertanyaan selanjutnya adalah “Memang ada berapa banyak posisi seperti itu?

Sudah dapat kerjaan kok 😉

Hmm, aku kasih tahu saja ya, aku sudah mendapatkan sebuah pekerjaan super menarik kok di Amsterdam yang akan aku mulai Oktober ini 😉 (sengaja aku minta mulai di bulan Oktober agar aku bisa liburan panjang di bulan September dimana aku bisa tidak memedulikan semua urusan di dunia kan ya, hahaha 😆 ). Dan sebenarnya, aku mendapatkan dua tawaran pekerjaan di bulan Mei dan aku memutuskan untuk memilih satu yang cocok dengan kesukaanku, di lokasi yang lebih menarik, dan (untungnya) juga memberikan gaji yang lebih tinggi. Bahkan untuk salah satunya aku yang didekati seorang recruiter yang menawariku posisi itu 😉 . Pengalaman ini akan kutulis di sebuah posting yang akan datang 😉 .

Nah kan? Ya, peluangnya memang ada sekarang. Mungkin ini adalah akibat kombinasi antara perekonomian Barat yang mulai pulih dan keahlian (dan pengalaman) yang kukembangkan selama S3 ini memang amat dibutuhkan di dunia industri sekarang ini dan nantinya (ini adalah bidang yang berkembang memang). Tetapi apa pun itu, aku merasa bersyukur mendapatkan kesempatan untuk mengambil sebuah jalan yang memang ingin aku jalani dan sesuai dengan kata hatiku.

😊

#1675 – Forgetful

ENGLISH

I notice something has changed with myself in the past two or three years. A change which I don’t necessarily like, actually, but I must admit and accept that it has happened and do something to deal with it.

So what kind of change? Well, it is:

I feel like I am more “forgetful” nowadays than, say, ten to fifteen years ago.

By forgetful, I mean mostly about something that is small-ish, like what I want to buy in the supermarket, what I need to bring to the office, where I put my stuffs, etc.

And to be honest, this annoys myself. Badly. I really hate it when it happens; that even sometimes I swear to myself when it does. I often feel like this disturbs the optimality which I have “calculated” along with my carefully constructed plan. In some cases, though, I can think of an optimal plan B almost immediately, which is good; but still, I don’t feel happy.

Source: http://ak-hdl.buzzfed.com/static/2014-08/18/8/enhanced/webdr07/anigif_enhanced-21512-1408366144-4.gif

Indeed sometimes I am hard on myself.

Gif source: http://ak-hdl.buzzfed.com/static/2014-08/18/8/enhanced/webdr07/anigif_enhanced-21512-1408366144-4.gif

I notice that it happens more frequently in recent years too. So I have been trying to look what have changed in the past a few years to diagnose the situation. Two things, which are not independent, come out as arguable the most prominent possible causes:

  1. Age. By definition, I am 10 years older than myself 10 years ago. And people often say the older you get, the more forgetful you become. However, nonetheless, I am still in my (mid) 20s so I don’t think the degradation is that “fast” at this stage of life, or is it?
  2. Work. Naturally, thus far I am in, probably, the most challenging situation I have ever been in in my life with this PhD research. The nature of the work forces me to use a lot of my brain power and, maybe, this causes my brain to let go some of the “less important” stuffs so it can allocate more energy on the “higher priority” matters, especially related to work.

The reason I hate this is because I was always able to count on my memory. You see, this type of change is definitely not pleasant to experience. However, rather than being annoyed with it, it is better for me to just accept and face it. I believe this is the first step to deal with the situation. And so later I will be able to develop a habit as a solution to this “problem” 😛 .

BAHASA INDONESIA

Aku menyadari sebuah perubahan dengan diriku dalam dua atau tiga tahun belakangan ini. Sebuah perubahan yang aku kurang begitu sukai, sebenarnya, tetapi harus aku akui dan terima bahwa perubahannya memang terjadi dan aku harus melakukan sesuatu untuk menghadapinya.

Perubahan apakah itu? Yah, perubahannya adalah:

Aku merasa bahwa aku lebih “pelupa” akhir-akhir ini daripada, katakanlah, sepuluh atau lima belas tahun lalu.

Dengan “pelupa”, maksudku adalah lupa terhadap hal-hal kecil dan remeh-temeh sih, misalnya mau membeli apa saja di supermarket, harus membawa apa saja ke kantor, dimana aku meletakkan barang-barangku, dll.

Dan sejujurnya saja, ini sungguh menyebalkan bagi diriku sendiri. Dalam skala yang besar. Aku benci sekali ketika hal ini terjadi; dan bahkan aku mengutuk diriku sendiri loh ketika ini terjadi. Aku merasa bahwa ini mengganggu optimalitas yang sudah aku “perhitungkan” dengan rencana yang sudah kubuat dengan hati-hati. Di beberapa kasus aku masih bisa dengan cepat memikirkan rencana B yang optimal sih untuk menghadapi situasinya; tetapi tetap saja, aku tidak merasa senang.

Source: http://ak-hdl.buzzfed.com/static/2014-08/18/8/enhanced/webdr07/anigif_enhanced-21512-1408366144-4.gif

Memang sih terkadang aku keras terhadap diriku sendiri.

Sumber gif: http://ak-hdl.buzzfed.com/static/2014-08/18/8/enhanced/webdr07/anigif_enhanced-21512-1408366144-4.gif

Aku perhatikan ini terjadi lebih sering di beberapa tahun terakhir juga. Jadilah aku berusaha melihat perubahan apa yang terjadi beberapa tahun belakangan ini untuk mendiagnosa permasalahannya. Dua hal, yang mana tidak independen satu sama lain, muncul sebagai kemungkinan penyebab yang paling signifikan:

  1. Usia. Berdasarkan definisi, diriku sekarang 10 tahun lebih tua daripada diriku 10 tahun lalu. Dan banyak yang bilang kan bahwa semakin bertambahnya usia, memang semakin pikun seseorang itu. Namun, walaupun begitu, aku kan masih berada di usia 20an sehingga aku rasa penurunan daya ingatanku tentu seharusnya tidak “secepat” itu kan di umur-umur seini. Apa memang begitu?
  2. Kerjaan. Sekarang ini aku berada di situasi paling menantang seumur hidupku dengan riset S3ku ini. Sifat dari pekerjaanku memaksaku untuk banyak menggunakan kekuatan pikiranku dan, mungkin, ini menyebabkan otakku untuk melepas beberapa hal-hal yang “sepele” sehingga ia bisa mengalokasikan lebih banyak energi untuk hal-hal dengan “prioritas lebih tinggi”, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan.

Alasan aku membenci ini adalah karena biasanya aku selalu bisa mengandalkan ingatanku. Nah kan, perubahan ini jelas bukanlah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Namun, daripada terus-terusan sebal karenanya, lebih baik bagiku untuk menerima dan menghadapinya. Aku percaya ini adalah langkah pertama untuk berurusan dengan situasi ini. Dan nantinya, aku akan bisa memulai kebiasaan baru sebagai solusi dari “masalah” ini 😛 .