Contemplation · Thoughts

#2019 – The Timing of Disruptions

ENGLISH

It is just a reality that anything will break once in a while, including the smoothness and reliability of the Dutch public transportation. And by “break”, I mean “disruptions”, haha.

While my logic would say that disruptions occur randomly, somehow my heart feels that they do not. In fact, they seem to likely more occur during the worst of time, i.e. the time I am “less okay” with them happening. For instance, when I am on my way to an important meeting, like my Instagram post above from earlier this year, haha ๐Ÿ˜† .

Not too long ago, it happened again. After work, I planned to do grocery at a supermarket (as I was running out of food at home) before going to a haircut appointment at a barbershop. I saw my tram at Amsterdam Centraal but it was just standing still for an abnormally long time; and so I immediately figured out that there was a disruption. I felt so annoyed by this. I mean, why did it need to happen today of all days, on the day when I had an appointment (Btw, I HATE to come late to an appointment; coming late is so untypical of me)? Haha ๐Ÿ˜† . Finally after waiting for about half an hour, the tram resumed its operation. But because of the delay, I had to drop my plan to the supermarket today and just went straight to the barbershop, where I was late for 15 minutes. That evening, I cooked my emergency instant noodles (read: Indomie ๐Ÿ˜› ) for dinner, haha ๐Ÿ˜† .

On a more serious note, though, what my heart “feels” might actually be biased. You see, encountering a disruption when I have an important agenda is certainly more “painful” than encountering a disruption when my time is flexible. My hypothesis is that the “pain” makes me “remember” the incident more, hence falsely “associating” the timing occurence of the incidents with the presence of an important appointment/meeting/etc. In other words, I “forget” that these incidents also happen on “less important” time. The lack (or lesser degree) of “pain” I feel at these time cloud these incidents in my mind.

Back to the delayed tram incident which forced me to be late for 15 minutes to my appointment and eat a bowl of Indomie that evening, I eventually learned about the cause of the disruption. This finding actually made me think about a different matter which deserves its own post for the next time, though ๐Ÿ™‚ .

BAHASA INDONESIA

Adalah suatu kenyataan bahwa segala sesuatu pasti akan rusak ya, termasuk kelancaran dan kehandalan transportasi umum di Belanda. Dan yang kumaksud dengan “rusak” jelas adalah “gangguan operasional”, haha.

Walaupun menurut logika yang namanya gangguan itu terjadi secara acak, entah kenapa hatiku merasa kemunculannya itu tidak acak. Malahan, rasanya gangguan itu lebih mungkin terjadi di waktu-waktu yang nggak banget, yaitu ketika aku sedang ada acara penting gitu. Misalnya, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju sebuah meeting yang penting banget, seperti di posting Instagramku di atas dari awal tahun ini, aha ๐Ÿ˜† .

Belum lama ini, kejadian ini terulang kembali. Sepulang kantor, aku berniat berbelanja kebutuhanku di supermarket (kondisi stok bahan masakan/makanan di rumah sedang habis) sebelum pergi ke salon dimana aku sudah ada appointment untuk potong rambut. Aku lihat tramku sudah ada di Amsterdam Centraal tetapi tramnya cuma berhenti doang dalam jangka waktu yang tidak biasa lamanya; jadilah aku langsung menyadari bahwa sedang ada gangguan. Aku merasa sebal banget waktu itu. Maksudku, kok harus kejadiannya sekarang gitu, di waktu dimana aku ada janji (Btw, aku BENCI SEKALI datang terlambat ke sebua janji; datang terlambat itu bukan sifatku)? Haha ๐Ÿ˜† . Akhirnya, setelah menunggu selama setengah jam-an, tramnya beroperasi juga. Tetapi karena keterlambatan ini, aku harus membatalkan rencanaku ke supermarket dan langsung pergi ke salonnya, dimana aku terlambat 15 menit dari waktu appointment. Dan malam itu, aku harus mau tidak mau memasak dan makan makanan untuk situasi darurat: mi instan (baca:ย Indomieย ๐Ÿ˜› ) untuk makan malam, haha ๐Ÿ˜† .

Apa yang “dirasakan” hatiku itu mungkin bias loh sebenarnya. Jelas kan mendapatkan gangguan operasi semacam ini di waktu ketika aku sedang ada agenda penting itu lebih “menyakitkan” daripada mendapatkan gangguannya ketika jadwalku sedang fleksibel. Hipoteasku adalah “rasa sakit” ini membuatku “ingat” insiden ini, sehingga kekeliruan dalam bentuk “asosiasi” antara waktu kejadian insidennya dengan keberadaan acara penting jadi terbentuk. Dengan kata lain, aku “melupakan” gangguan-gangguan yang terjadi di waktu-waktu yang “lebih tidak penting”. Ketiadaan (atau rendahnya tingkat) “rasa sakit” yang kualami di waktu-waktu ini membuatku otakku mengabaikannya.

Kembali ke insiden gangguan tram yang membuatku terlambat 15 menit ke appointment-ku dan memaksaku makan Indomie saja malam itu, pada akhirnya aku mengetaui penyebab gangguannya. Informasi ini sebenarnya membuatku terpikir akan masalah lain yang layak kujadikan posting tersendiri. Tapi posting tersendiri ini untuk nanti saja sih ๐Ÿ™‚ .

Advertisements
Contemplation · Thoughts

#2002 – On Apology

ENGLISH

Lately I have been thinking a little bit about the (probably) less “touched” side of an apology. It has occurred to me that an apology actually serves both way, i.e. both for the apologee and the apologizer. The former is obvious; and is the side that I above mean as the more “touched” side of it. The latter is the less obvious one.

Just recently, I was late to a birthday surprise event at work because somehow my calendar didn’t pop the reminder up. So after the event I apologized to the organizer (whom personally invited me to come to the event a few days prior) and explained about the calendar hiccup. But then, she unexpectedly replied with an apology to me because in the calendar the event was set as private so this might explain why I did not get the notification. And at the time, somehow I felt a little bit bad about it.

I am going to describe the situation from the latter point of view, i.e. where the apology is meant to serve the apologizer. One original intention with my apology was to admit my mistake and so that I would be freed up from my guilty feeling. For this reason, btw, in my opinion someone who is unwilling to admit any of his/her mistakes and never apologizes is actually doing more harm to him/herself internally. Anyway, this original intention was somehow “disrupted” a little bit when the organizer apologized back to me; because somehow I was positioned as the apologee where just seconds before I thought I was the apologizer. Consequently, in a way I felt like I wasn’t “punished” enough with my guilt because a part of the mistake was taken away from my side with the apology from her. I totally understand that she did not mean bad things and just wanted to help me ease my guilty feeling. But this actually got me thinking, haha…

Interesting, isn’t it? Now I understand that, indeed, apologizing does not make you “smaller”. In fact, it makes you “bigger”!

BAHASA INDONESIA

Akhir-akhir ini aku berpikir mengenai satu sisi yang (mungkin) lebih kurang “terjamah” dari suatu permintaan maaf. Aku mulai paham bahwa permintaan-maaf itu berfungsi dua arah, yaitu baik bagi yang diminta maaf dan juga bagi yang meminta maaf. Yang pertama jelas lah ya; dan ini adalah sisi yang aku maksudkan di atas sebagai sisi yang lebih sering “terjamah” darinya. Yang kedua adalah sisi yang kurang begitu jelas.

Belum lama ini, aku datang terlambat ke sebuah acara surprise ulang-tahun di kantor karena entah mengapa kalenderku tidak mengeluarkan reminder/pengingat. Jadilah setelah acaranya berakhir aku meminta maaf ke yang mengadakan acaranya (yang mana mengundangku langsung untuk datang beberapa hari sebelumnya) dan aku jelaskan mengenai masalah kalender ini. Tetapi kemudian, tak kusangka-sangka ia justru meminta maaf kepadaku karena di kalendernya, acaranya di-setting privat sehingga mungkin ini menyebabkan pengingatnya tidak hidup. Dan waktu itu, entah bagaimana aku merasa sedikit kurang enak karenanya.

Ini akan kujelaskan dari sudut pandang yang kedua, alias dari sudut pandang peminta-maaf. Satu tujuan awalku dengan meminta maaf adalah untuk mengakui kesalahanku sehingga aku terbebaskan dari perasaan bersalah. Karena alasan ini, btw, menurutku seseorang yang tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan tidak pernah meminta maaf itu sebenarnya justru sedang menyiksa dirinya sendiri. Anyway, tujuan awal ini jadi sedikit “terganggu” karena kolegaku justru meminta maaf balik; karena tiba-tiba posisiku dari yang peminta-maaf berubah menjadi yang dimintai maaf. Sebagai akibatnya, aku sedikit merasa aku tidak “dihukum” cukup berat dari perasaan bersalahku karena sebagian kesalahanku diambil dariku dengan permintaan-maaf darinya. Aku sungguh paham kok maksudnya dia ini baik dan ia ingin meringankan perasaan bersalahku. Dan jadilah aku jadi kepikiran akan hal ini.

Menarik kan? Sekarang aku semakin paham bahwa meminta-maaf itu tidak membuat kita “kecil” atau di posisi yang lemah. Sebaliknya, meminta maaf justru membuat kita berada di posisi yang “besar”!

Contemplation · Thoughts

#1994 – Fighting Through Pain VS Listening To Your Body

ENGLISH

I feel like there is a thin line of difference between to “fight through pain” and to “listen to your body”. And IMO, the art of balancing both, which of course is much easier said, or written in this case, than done, is a very important one in the quest of bettering ourselves in working towards a goal. We need to distinguish when our body just feels the discomfort which we need to, and can, fight through and when our body sends a clear warning signal that it needs to rest.

This can be especially tricky for me. You see,ย when I have set out a course to reach a goal, I do not like to stop during the process. This is especially if I have started to actually perform an action in that course. However, there can be certain situations where it is actually better for me to stop whatever I am doing. But then, of course, I start to have this conflict in my head.

For instance, one evening some weeks ago I decided to go to the gym. It felt like a regular evening to me (I have developed this routine of going to the gym four to five times a week) and I felt completely normal before going. Then as usual, I warmed up and started my exercises scheduled for that session. However, just in my first exercise, I started to feel a light headache. It got slightly better when I rested but intensified when I was resuming my gym session. And it got worse and worse with each exercise that I did.

Then I got this conflict in my mind. Should I just neglect this “pain” (i.e. the headache) and force myself through it or was it actually an actual signal that my body was sending me that it did not want to exercise, for whatever reason, this evening? As I said above, I did not like to stop at this point because I had decided to start the gym session for the evening. So at first I decided to fight through it but, of course, while not completely putting this conflict aside immediately. But you see, my default reaction was to fight through the discomfort.

Having a default reaction to fight through pain is not always bad, I think. In her speech during my PhD ceremony, my supervisor told me that my greatest strength was, in her opinion, my perserverance. I don’t like to give up, to stop doing something which I have started. In my personal observation, this appears to be quite an accurate assessment because, honestly, sometimes I see quite some people who, from my perspective, appear to give up easily when they face some difficulties. For the record here, I do not blame them nor pass any judgment. I am not in their shoes so who am I to judge, right? So this statement is purely based on my observation and my own assumptions over what is going on on the other side, which I am not experiencing myself. But under this observation and these assumptions, which, again, could be completely wrong, I probably would have liked to try to push a little harder.

Having said that, I also think there are situations where this kind of default reaction is not the right one. Professional tennis player Jelena Jankovic learned the hard way about overtraining which caused her performance level to drop. In this case, this default reaction is actually counter-productive, as it brings us further away from our goal. So I need to learn to sense when this default reaction is the wrong one.

Jelena Jankovic in 2014

Back to my gym session. After two exercises I decided that I had it enough for the day because my headache just got much worse. My common sense decided that it was one of those special circumstances where clearly my body was screaming for some rest. Well, I had been exercising for three days in a row the previous three days so it was probably time for some rest anyway, haha. So I decided to stop, go back home, and rest for the rest of the evening.

BAHASA INDONESIA

Aku merasa perbedaan antara “berjuang melawan rasa sakit” dan “mendengarkan tubuh kita” itu tipis sekali. Dan menurutku, seni menyeimbangkan keduanya, yang mana jelas lebih gampang diucapkan, atau dalam hal ini dituliskan, daripada dilakukan, adalah hal yang penting dalam perjalanan kita untuk terus memperbaiki diri dalam upaya pencapaian suatu tujuan. Kita perlu membedakan situasi dimana tubuh hanya merasakan ketidak-nyamanan yang perlu, dan bisa, kita lawan dari ketika tubuh kita mengirimkan sinyal pertanda ia meminta istirahat.

Ini bisa menjadi tricky untukku. Ketika aku sudah menetapkan suatu jalur untuk mencapai suatu tujuan, aku tidak suka berhenti di tengah-tengah. Ini terutama benar ketika aku sudah mulai melakukan suatu kegiatan/aksi dalam jalur itu. Namun, tentu ada beberapa situasi dimana lebih baik untukku menghentikan apa pun yang aku lakukan. Tetapi kemudian, jelas aku jadi memiliki konflik ini di dalam pikiranku.

Misalnya saja, suatu malam beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk pergi ke gym. Malam itu terasa seperti malam biasa untukku (Aku sudah mulai membentuk rutinitas untuk pergi ke gym sekitar empat sampai lima kali seminggu) dan aku merasa biasa saja sebelum berangkat. Kemudian seperti biasa, aku pemanasan dan mulai latihan sesuai yang sudah dijadwalkan untuk sesi itu. Namun, di latihan pertamaku, aku mulai merasakan sakit kepala ringan. Sakit kepalanya agak mendingan ketika aku beristirahat tetapi terasa sakit banget ketika aku kembali berlatih. Dan rasanya semakin parah semakin lama aku latihan.

Nah, kemudian muncullah konflik ini di pikiranku. Apakah aku bisa mengesampingkan rasa “tidak-nyaman” (baca: sakit kepala) ini dan memaksa tubuhku untuk terus berlatih, atau jangan-jangan ini adalah sinyal bahwa tubuhku sebaiknya tidak berolahraga karena alasan apa pun malam ini? Seperti yang kubilang di atas, aku tidak suka dengan yang namanya berhenti sekarang karena aku sudah memutuskan untuk memulai sesi gym malam ini; jadilah awalnya aku memutuskan untuk melawan rasa tidak-nyaman itu dulu walaupun tidak berarti aku langsung mengesampingkan konflik ini. Tetapi terlihat kan, reaksi default-ku adalah melawan rasa tidak nyaman itu.

Memiliki reaksi default untuk melawan rasa tidak-nyaman tidak lah selalu buruk. Dalam kata sambutannya di upacara wisuda PhD/S3ku, pembimbingku menyebutkan bahwa, menurutnya, kekuatan terbesarku adalah kegigihanku untuk tidak mudah menyerah (perseverance). Memang aku tidak suka untuk menyerah, untuk berhenti dalam melakukan apa yang sudah aku mulai. Dan dalam pandangan pribadiku, sepertinya memang ini adalah pengamatan yang cukup akurat karena, sejujurnya, terkadang aku melihat beberapa orang yang, dari sudut pandangku saja lho ya, nampak mudah sekali menyerah ketika mereka baru menghadapi kesulitan kecil. Btw, untuk dicatat di sini, aku tidak menyalahkan atau men-judge loh. Aku tidak berada di situasi yang mereka hadapi sehingga siapa aku kok men-judge segala kan? Jadi pernyataan ini murni berdasarkan observasiku dan asumsi-asumsiku sendiri mengenai apa yang sedang dihadapi orang lain itu, yang mana tidak aku alami sendiri. Tetapi berdasarkan observasi dan asumsi-asumsi ini, yang, sekali lagi, mungkin banget salah, jika aku di situasi yang sama aku akan mencoba sedikit lebih keras lagi.

Walaupun begitu, aku rasa ada situasi dimana reaksi default ini bukan lah reaksi yang tepat. Petenis profesional Jelena Jankovic mengalami sendiriย dimanaย kebanyakan berlatih (overtraining)ย justru membuat level dan performanya menurun. Dalam kasus ini, reaksi default ini justru kontra-produktif, karena ini justru membawa diri kita menjauhi tujuan. Jadi aku perlu belajar untuk mendeteksi kapan reaksi default ini adalah reaksi yang salah nih.

Jelena Jankovic di tahun 2014

Kembali ke cerita gym di atas. Setelah dua macam latihan, aku memutuskan bahwa sakit kepalaku ini bisa dibilang parah, dan memang sudah semakin sakit sih. Akhirnya otakku memutuskan bahwa ini adalah suatu situasi khusus itu dimana jelas tubuhku berteriak meminta istirahat. Iya sih, toh aku sudah ke gym selama tiga hari berturutan di tiga hari sebelumnya jadi memang sepertinya memang waktu itu toh saatnya untuk istirahat, haha. Jadilah aku berhenti, pulang, dan beristirahat di sepanjang sisa malam itu.

Contemplation · my apartment · Thoughts · Zilko's Life

#1986 – Bed First World Problem

ENGLISH

So you know I have decided to “invest” in better products for the basic furnitures I bought for my apartment. One of those basic furnitures is my bed.

But obviously I did not buy this โ‚ฌ5000 (after discount price) bed even though it was super comfortable. I still had some sense with my budget and spending, haha ๐Ÿ˜†

So I decided to spend a little bit more and buy a better bed for myself (Even though obviously not theย โ‚ฌ5000 after-discount bed pictured above, lol ๐Ÿ˜† ). And I have to say it was one of the best decisions I have made this year!! The bed was sooo gooooood; that it justified the amount I needed to blow invest for it.ย Haha ๐Ÿ˜† .

Though, this was not without any “problem”, of course. I mean, now that I have been accustomed to a certain standard of sleeping comfort, somehow hotel beds I encounter during my frequent travels impress me much less these days, haha ๐Ÿ˜† .

You see, before when I still lived in my rental shared-house in Delft (which came in all-furnished, i.e. I didn’t have to bring my own furniture), the bed that I got was the one on the “cheap”-er range. It was okay. I mean, I lived there for almost two years anyway and I never complained about it. So I guess I grew accustomed to it. But this also meant that everytime I travelled somewhere and stayed in a (better range) hotel, I was looking forward for the room and, especially, the bed! Haha ๐Ÿ˜†

I was really looking forward to my stay at this five-star hotel in Frankfurt last year.

But now, somehow things have changed after I got my new bed; and I didn’t really notice it at first. I was still going to my trips with pretty much the same level of excitement as before. However, somehow I stopped feeling “wowed” in terms of comfort with the beds that I got, haha ๐Ÿ˜† . I mean, those were still comfortable, obviously, but somehow the comfort just felt “normal” and not anything out of the ordinary, haha ๐Ÿ˜† .

My recent summer weekend trip to London made me realize this change. So I decided to “save” a little bit and stay at a cheap(er) place on this trip. I found what I thought was a good deal at a place which I thought was a hotel that turned out to be a guest house (hence the price). And you know, I got what I paid for. I found the bed uncomfortable and, while I managed to get some sleep, I wasn’t fully rested. Consequently, I felt sleep-deprived in the coming full working week where I needed vitamin-C supplement for two of those days to help my stamina, haha. I mean, I don’t expect it would have been this “bad” had I gone on this trip while I still lived in Delft.

I was also excited with my hotel room at Stockholm – Arlanda last year.

I don’t mean to sound like a snob here. My point is that people do adjust and adapt to their environment. And anything out of their comfort zones are deemed “unusual” and can either be perceived as “pleasure” or “pain”. And that the definition of “pleasure” or “pain” for someone can definitely change too dynamically.

Back to the bed situation, I guess this means that there is a stronger reason for me to perceive my apartment as my “home” now. As I can say it is “easier” for me to miss my bed, haha…

BAHASA INDONESIA

Jadi ceritanya aku telah memutuskan untukย “berinvestasi” di produk-produk yang lebih baikย untuk mebel-mebel dasar yang kubeli untuk apartemenku. Nah, salah satunya adalah ranjang tidurku.

Eh tetapi jelas dong aku tidak membeli ranjang seharga โ‚ฌ5000 (sekitar Rp 75 juta, ini pun harga setelah diskon) ini walaupun memang enak banget sih. Tapi aku masih memiliki kewarasan kok dalam hal budget dan pengeluaranku, haha ๐Ÿ˜†

Jadi aku memutuskan untuk keluar biaya lebih banyak dan membeli ranjang yang lebih oke gitu deh untuk apartemenku (Walaupun bukan ranjang seharga โ‚ฌ5000 (sekitar Rp 75 juta, segini pun harga setelah diskon) seperti di foto di atas ya, haha ๐Ÿ˜† ). Dan harus kubilang ini adalah salah satu keputusan terbaik yang kubuat tahun ini loh!! Ranjangnya memang enak bangeetttt; dan memang sepadan deh dengan biaya yang harus aku habiskan investasikan untuknya! Haha ๐Ÿ˜†

Walaupun, bukan berarti ini tanpa “masalah” juga sih. Jadi karena sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan standar kenyamanan tidur tertentu, entah bagaimana sekarang ranjang-ranjang di hotel yang aku temui di perjalanan-perjalananku itu menjadi tidak seimpresif sebelumnya deh, haha ๐Ÿ˜† .

Jadi ceritanya di tempat tinggal shared-ku yang sebelumnya di Delft (yang mana all furnished, dalam artian aku jadi tidak perlu membeli mebelku sendiri), ranjang yang kudapatkan adalah ranjang yang tergolong lebih “murah” gitu deh. Nggak masalah sih sebenarnya. Toh aku tinggal di sana selama dua tahun dan aku tidak pernah komplain akan itu. Jadi aku toh masih bisa membiasakan diri dengannya. Tetapi ini juga berarti setiap kali aku jalan-jalan dan menginap di hotel (yang bagusan dikit), aku juga merasa tidak sabar dan excited banget terhadap kamarnya dan, terutama, ranjangnya! Haha ๐Ÿ˜†

Aku nggak sabar banget untuk menginap semalam di hotel berbintang-lima di Frankfurt ini tahun lalu.

Tetapi sekarang, hal berubah setelah aku mendapatkan ranjang baruku; perubahan yang awalnya tidak aku sadari. Aku masih pergi dalam perjalanan-perjalananku itu dengan level excitement yang sama seperti sebelumnya. Namun, entah bagaimana aku tidak lagi merasa “wow” dalam hal kenyamanan ranjang dari ranjang yang kudapat, haha ๐Ÿ˜† . Maksudku, masih nyaman-nyaman aja sih, tapi entah mengapa rasa nyamannya itu terasa “normal” dan wajar gitu, haha ๐Ÿ˜† .

Perjalanan akhir pekan musim panasku ke London baru-baru ini membuatku sadar akan perubahan ini. Jadi waktu itu aku memutuskan untuk “menghemat” sedikit dan menginap di tempat yang lebih murah. Aku menemukan penawaran yang nampak promo di tempat yang awalnya aku kira sebuah hotel. Tetapi ternyata sebenarnya tempat ini adalah sebuahย guest house (pantas harganya segitu). Ya jelas aku mendapatkan seperti apa yang kubayar ya. Aku mendapatkan ranjang yang bagiku tidak nyaman dan, walaupun aku toh masih bisa tertidur, badanku tidak benar-benar beristirahat. Akibatnya, aku merasa kekurangan tidur di satu minggu kerja penuh selanjutnya dimana di dua hari di antaranya aku merasa perlu minum suplemen vitamin C untuk menopang staminaku, haha. Maksudku, aku kira masalah ini tidak akan “seburuk” ini andaikata perjalanan ini aku lakukan ketika aku masih di Delft.

Aku juga excited banget dengan kamar hotelku di Stockholm – Arlanda tahun lalu.

Bukannya bermasuk sombong atau gimana gitu sih di sini. Inti dari cerita ini adalah memang benar bahwa manusia itu bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Dan apa-apa yang di luar zona nyamannya akan terasa “tidak biasa” dan ketidak-biasaan ini bisa dipandang sebagai “kenikmatan” atau “kesakitan”. Dan definisi “kenikmatan” dan “kesakitan” bagi seseorang itu pun juga bisa berubah secara dinamis.

Kembali ke urusan ranjang (wedew, keterangan macam apa ini ๐Ÿ˜› ), aku rasa ini berarti aku memiliki satu alasan kuat yang membuat apartemenku terasa seperti “rumah”-ku (home) sekarang. Dimana aku bisa dengan “lebih mudah” berkata aku kangen dengan ranjangku sendiri, haha…

About Myself · Contemplation · The Past · Thoughts · Zilko's Life

#1973 – People *Can* Change

ENGLISH

I came across something interesting when preparing some material for this post. It was not something surprising in general, but I was quite “wowed” to see that, apparently, I was a living proof for something. And that something was: people *can* change.

In that post I linked to a post of mine from 2011, in where I explicitly wrote:

Well, actually I am not really a sport guy …

Oh wow, how things have changed!!

Okay, I am not going to claim I am a sport guy now because the definition of that is rather vague. However, I can say that now I exercise regulary, a lot lot more regularly than back then. In fact, I feel guilty if I don’t exercise at least once within 48 hours, except when I am on a trip (which I often am ๐Ÿ˜› ) where I give myself more leeway. But then again, I walk a lot while on a trip, sometimes even up to 15 km in a day, which is also a form of exercise actuallyย ๐Ÿค”.

I do like to walk while travelling, like this time in Stonehaven, Scotland in 2015.

In 2011, I still had the mindset I had built since I was, probably, in elementary school. You see, back then I never excelled in sports/gym class at school. Not that I did bad, I was just average. On the other hand, I excelled academically and I decided to put all my focus on this. It was fine for me to not excel in sports, as that was not my forte anyway, because I knew that “brain” was my thing. Brain over brawn. And, maybe in a way, I might try to build my identity around this idea. The problem with this? Nothing, except that I kindof took my health for granted, which had unintentionally become part of that identity as well.

Clearly something has changed since 2011. I cannot pinpoint what exactly happened and when, so maybe the mindset change was a gradual process. But what I know is that over time, I started to understand that I could not, and should not, take my health for granted. And I knew that this had to be for the long-term goal. I started to do more exercises; one baby step at a time, as otherwise it would not work. I also started to watch what I eat. I use brown/red rice at home now. It is more expensive, but my health is more important. I also eat much less rice nowadays. Even one time during lunch at the office, my colleague pointed out that I did not take any rice that day even though the menu was a lamb curry and rice was abundantly provided.

In my first week in the Netherlands in 2010
At Court Philippe Chatrier in 2016

And I do see, and feel, the result; and this might be one factor which keeps the motivation running and burning also. While not obese (Thankfully ๐Ÿ˜› ), I was quite overweight back then. Since then, I have lost about 25 kg (This was over a period of 2 years, I think; since then I have managed to maintain my current weight). A friend here even often jokes that I was three times bigger when we first met in my first month in the Netherlands, lol ๐Ÿ˜† . Not surprising, though. The two pictures above showed me in my first week in the Netherlands in 2010 (left) and when I went to Roland Garros last year (right).ย ๐Ÿ™ˆย More importantly, I also feel much, much, much better in the inside. I feel like my mind is clearer, and I feel much happier overall than I was before. The classic Latin phrase “Mens sana in corpore sano” is no bullshit. I really mean this.

It might be a bit “unusual” but I feel like I am in better physical and mind shape now, when I am in my late 20s, than years ago in my late teens or early 20s.

***

To me, this is interesting. Something which I believed was part of my identity could change over time, just by the power of will and patience and time, thankfully for the good.ย Thank to this blog, though, that I can make this observation (Hey this is one of my reasons to blog anyway ๐Ÿ˜› ).

BAHASA INDONESIA

Aku mendapatkan suatu obervasi menarik ketika mempersiapkan materi posting ini beberapa waktu lalu. Walaupun nggak mengherankan secara umum, aku cukup dibuat “terpana” karenanya, ternyata karena aku adalah bukti hidup untuk suatu hal. Dan hal itu adalah: orang *bisa* berubah.

Jadi begini, di posting itu aku memberikan tautan ke sebuah posting-ku di tahun 2011, dimana waktu itu secara eksplisit aku tulis:

Yah, sebenarnya aku kan bukan orang yangย sportyย banget yah …

Oh wow, bagaimana situasi sudah berubah banget sekarang!!

Oke, aku tidak akan mengklaim bahwa aku orang yang sporty sekarang karena definisi sporty sendiri tidak jelah saklek/pasti. Namun, aku bisa bilang bahwa sekarang aku berolahraga secara rutin, jauh, jauh lebih rutin daripada dulu. Bahkan, aku akan merasa bersalah apabila aku tidak berolahraga minimal sekali dalam selang waktu 48 jam, kecuali ketika sedang jalan-jalan (yang mana sering aku lakukan sih ๐Ÿ˜› ) dimana aku lebih tidak ketat akan hal ini. Namun lagi, ketika jalan-jalan aku hampir selalu berjalan-kaki sih, bahkan terkadang bisa mencapai 15an km dalam satu hari. Dan ini kan salah satu bentuk olahraga juga yahย ๐Ÿค”.

Aku suka berjalan-kaki ketika jalan-jalan, seperti misalnya kala ini di Stonehaven, Skotlandia di tahun 2015.

Di tahun 2011, aku masih memiliki mindset yang sudah kutanam semenjak, mungkin, sewaktu aku SD. Jadi ceritanya dulu aku tidak unggul di pelajaran olahraga gitu deh. Bukannya jelek sih, tapi aku biasa-biasa aja lah. Di sisi lain, secara akademis aku sangat unggul dan aku memutuskan untuk memfokuskan diriku total ke sisi ini. Nggak apa-apa aku nggak unggul di olahraga, toh memang olahraga bukanlah keahlianku kok, karena aku tahu aku unggul dalam hal “otak”. Brain over brawn gitu deh ceritanya. Dan mungkin, di satu sisi, aku juga membangun identitas diriku berdasarkan ide ini. Masalah dari ini? Nggak ada sih sebenarnya, kecuali bahwa aku menjadi cukup menyepelekan urusan kesehatan yang, sayangnya, tidak sengaja menjadi bagian dari identitas ini.

Jelas sesuatu sudah berubah semenjak tahun 2011. Aku sendiri tidak bisa menunjukkan apa yang terjadi dan kapan persisnya, jadi aku rasa perubahan mindset-ku adalah sebuah proses. Yang kutahu adalah seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa aku tidak boleh, dan memang sebaiknya tidak, menyelepekan urusan kesehatanku. Dan aku tahu ini harus lah untuk tujuan jangka panjang. Aku mulai berolahraga lebih rutin; pelan-pelan saja tapi pasti karena kalau tidak, pasti tidak akan jalan secara jangka panjang. Aku juga mulai lebih memperhatikan apa yang aku makan. Aku menggunakan beras coklat/merah sekarang. Lebih mahal memang, tetapi kesehatanku lebih penting. Aku juga mengurangi banyak konsumsi nasiku. Bahkan suatu waktu ketika makan siang di kantor, seorang kolegaku bertanya mengapa aku tidak mengambil nasi padahal menu yang disajikan hari itu adalah kari kambing yang ditemani dengan nasi.

Di minggu pertamaku di Belanda tahun 2010
Di Lapangan Philippe Chatrier tahun 2016

Dan aku sendiri melihat, dan merasakan, hasilnya; dan memang ini adalah satu faktor yang membantu motivasiku untuk tetap menyala. Walaupun nggak sampai obesitas (untungnya ๐Ÿ˜› ), aku bisa dikatakan agak overweight dulu, haha. Semenjak waktu itu, beratku sudah turun sekitar 25an kg (Penurunan ini dalam periode 2 tahunan sih kalau nggak salah; dan semenjak itu beratku aku pertahankan). Seorang temanku bahkan sering bercanda menyebutkan bahwa dulu aku berukuran tiga kali lebih besar ketika kami pertama kali bertemu di bulan pertamaku di Belanda, haha ๐Ÿ˜† . Nggak mengherankan juga sih. Dua foto di atas menunjukkan aku di minggu pertamaku di Belanda di tahun 2010 (kiri) dan ketika aku pergi ke Roland Garros tahun lalu (kanan).ย ๐Ÿ™ˆย Lebih penting lagi, aku juga merasa jauh, jauh, jauh lebih baik secara mental. Aku merasa pikiranku lebih jernih, dan aku merasa jauh lebih bahagia secara keseluruhan daripada dulu. Ungkapan Latin klasik “Mens sana in corpore sano” itu bukan omong kosong. Dan aku bersungguh-sungguh dengan pernyataan ini.

Mungkin agak “tidak biasa” tetapi aku merasa berada dalam kondisi fisik dan mental yang lebih baik sekarang, di penghujung umur 20anku, daripada bertahun-tahun lalu di penghujung umur remajaku atau awal 20an.

***

Untukku, ini menarik. Sesuatu yang dulunya aku kira bagian dari identitasku bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu, hanya karena kekuatan pikiran dan kesabaran dan waktu, untungnya untuk hal yang positif. Berkat blog ini juga sih aku bisa membuat observasi ini (Hey, memang ini kan salah satu alasan ngeblog ๐Ÿ˜€ ).

Big Days · Contemplation · Zilko's Life

#1970 – Seven Years in Europe

ENGLISH

My life in Europe, well, the Netherlands ๐Ÿ˜› , started on this day seven years ago, when I got off Garuda Indonesia’s Airbus A330-200 reg PK-GPI at Schiphol Airport as flight GA88 from Jakarta (via Dubai). A total random note: PK-GPI no longer flies for Garuda and is now operated by Chinese’s Beijing Capital Airlines with reg B-8221 ๐Ÿ˜› .

The seventhย year in retrospect

If last year I mentioned my sixth year was a big one for me, then the seventh year was even a bigger one!

I completed my PhD research this year and so now I can attach the title “PhD” or “Doctor” next to my name if I want to (Well, I earned this ๐Ÿ˜› ). I have also decided to leave academia and switch to industry, with me starting my new job in Amsterdam last October. On top of that, I bought myself an apartment earlier this year!

So I guess I do not need to explain why I say my seventh year was bigger than my sixth. In fact, it might be the biggest one since seven years ago. So maybe it is not really an exaggeration to say that I now feel the most “fulfilled” since the day I moved to Europe.

Travelling

Unsurprisingly, I also travelled a lot in the seventh year. I added two new European countries to my list this year, bringing the total to 25 with the addition of Romania and Greece. I also explored further several European countries I had visited before, with my visit to the German’s famous Christmas Market and the wonderful Cinque Terre in Italy. There were also several city trips which I did throughout the year.

I also went on two intercontinental trips this past year. The first one was to my dream destination: Sint Maarten in the Caribbean; and the second one was to Indonesia for Christmas and New Year, the first time I was in Indonesia for both events since I moved to Europe. Both trips were so much fun!

Going to the eighth

My eighth year appears to be like an exciting one at this point. I learned a lot during my seventh year, mainly because of my switch to industry, and I expect to learn even more in this coming year. Oh, and I also already have a few fun trips planned out at this point ๐Ÿ˜› .

So yeah, the eighth year indeed sounds like going to be an exciting one!! ๐Ÿ˜€

I got my PhD degree in my seventh year in Europe.

BAHASA INDONESIA

Kehidupanku di Eropa, ehm, di Belanda ๐Ÿ˜› , dimulai di hari ini tujuh tahun lalu, ketika aku turun dari pesawat Airbus A330-200nya Garuda Indonesia dengan rego PK-GPI di Bandara Schiphol sebagai penerbangan GA88 dari Jakarta (via Dubai). Btw, info random nih: PK-GPI tidak lagi terbang untuk Garuda loh dan sekarang dioperasikan oleh maskapai China, Beijing Capital Airlines, dengan regoย B-8221ย ๐Ÿ˜› .

Refleksi tahun ketujuh

Jikaย tahun laluย aku sebutkan bahwa tahun keenam adalah tahun yang besar untukku, artinya tahun ketujuh ini adalah tahun yang lebih besar lagi!

Riset PhD (S3)-ku resmi aku selesaikan di tahun ini jadi sekarang aku bisa menambahkan gelar “PhD” atau “Doktor” ke namaku suka-suka gitu deh kalau aku mau (Jelas dong aku berhak untuk melakukan ini ๐Ÿ˜› ). Aku juga sudah memutuskan untuk meninggalkan dunia akademia dan pindah ke industri (dunia kerja “reguler”), dengan pekerjaan baru yang aku mulai bulan Oktober lalu di Amsterdam. Di atas itu semua, aku juga membeli sebuah apartemen awal tahun ini!

Jadi aku rasa aku tidak perlu menjelaskan mengapa aku bilang tahun ketujuh ini lebih besar daripada tahun keenam yah. Malahan, mungkin tahun ini adalah yang terbesar semenjak tujuh tahun yang lalu lho. Jadi mungkin tidak berlebihan pula jika kubilang aku merasa paling “komplit” semenjak aku pindah ke Eropa.

Jalan-jalan

Tidak mengherankan, aku juga banyak jalan-jalan dong di tahun ketujuh ini. Aku menambahkan dua negara Eropa baru ke daftarku tahun ini, sehingga totalnya menjadi 25 dengan tambahan Romania dan Yunani. Aku juga mengeksplor lebih dalam beberapa negara Eropa lainnya yang sudah pernah kukunjungi, dengan kunjunganku ke Christmas Market di Jerman yang terkenal banget itu dan Cinque Terre yang kece di Italia. Ada juga beberapa perjalanan city trips ke beberapa kota di sepanjang tahun.

Aku juga pergi dalam dua perjalanan antar-benua setahun belakangan ini. Yang pertama adalah ke tempat impianku: Sint Maarten di Karibia; dan yang kedua ke Indonesia untuk Natal dan Tahun Baru, pertama kalinya aku berada di Indonesia untuk Natal dan Tahun Baru semenjak pindah ke Eropa. Jelas keduanya seru banget!

Masuk ke tahun kedelapan

Sekarang, tahun kedelapan nampak akan menjadi tahun yang seru. Aku banyak belajar di tahun ketujuh, terutama karena kepindahanku ke industri, dan aku yakin aku akan belajar lebih banyak lagi di tahun yang akan datang ini. Oh, dan juga aku sudah merencanakan beberapa perjalanan yang seru nih ๐Ÿ˜› .

Jadi, ya, tahun kedelapan memang sepertinya akan menjadi tahun yang amat seru!! ๐Ÿ˜€

Contemplation · Thoughts

#1918 – Take Your Chances but You Can’t Have Them All

ENGLISH

In early March, Malta’s super famous Azure Window collapsed into the sea following years of erosion and, theย final trigger, a severe storm in the Mediterranean Sea.ย Apparently being one of the biggest tourist attractions of Gozo (the name of the island), many people were understandably saddened by this.

As for me, well, I have never been there. I even have never been to Malta. So why do I care? Well, these areย precisely why I care about this, haha.

You see, to be honest Malta has been in my radar to visit for awhile.ย But for whatever reason (well, mainly time, distance, and the few SkyTeam connections to Amsterdam (lol ๐Ÿ˜† )), I have never made it a reality.

And now, it is all too late for me if I want to go to Azure Window, because it no longer exists. It has collapsed into the sea, literally. It is gone. It is now history.

***

This reminds me of twoย lessons, though. First of all, we should take our chances whenever we can, simply because it might never be thereย to be taken again. Had I spentย some time to visit Gozo and Malta years ago, I would have been able to take a selfie with Azure Window, haha ๐Ÿ™ˆ .

Secondly, we cannot have everything in life. You see, there are plenty of other places in this planet that I would want to visit as well, haha ๐Ÿ˜† . Iย have notย spent some of my time to visit Malta because I used that timeย to visit other places. And my time is finite. So this means that at some point I must accept that I cannot have (or, rather, visit) it all ๐Ÿ™‚ .

***

So, how about you? Have you ever visited Azure Window?

Azure Window. Source: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Azure_Window_2009.JPG

BAHASA INDONESIA

Di bulan Maret kemarin, Azure Window-nya Malta yang terkenal banget itu ambruk ke laut akibat erosi yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan, pemicu terakhirnya, badai besar di Laut Mediterania. Ternyata, karena merupakan salah satu atraksi turis terbesar di Gozo (nama pulaunya), banyak orang yang sedih karenanya.

Untukku, aku belum pernah ke sana. Malahan aku juga belum pernah ke Malta. Jadi ngapain kok aku peduli? Haha. Yah, justru karena ini lah aku peduli.

Sejujurnya, Malta sudah berada dalam daftar tempat yang ingin kukunjungi semenjak lama. Tetapi entah karena alasan apa (hmm, utamanya sih waktu, jarak, dan sedikitnya pilihan penerbangan dengan maskapai SkyTeam dengan koneksi ke Amsterdam (huahaha ๐Ÿ˜† )), aku belum sempat menjadikannya kenyataan.

Dan sekarang, terlambat sudah jikaย aku ingin menunjungi Azure Window, karena Azure Windownya sudah nggak ada lagi. Ia sudah ambruk ke laut. Sudah hilang. Sudah menjadi sejarah.

***

Ini mengingatkanku akan dua pelajaran sih. Pertama-tama, kita harus memanfaatkan peluang yang ada, karena mungkin saat ini adalah saat terakhir peluang ini muncul dan bisa diambil. Andaikata aku sudah meluangkan waktu untuk pergi ke Gozo dan Malta bertahun-tahun yang lalu, saat ini aku sudah memiliki foto selfie dengan Azure Window, haha ๐Ÿ™ˆ .

Yang kedua, kita tidak bisa mendapatkan semuanya di hidup ini. Jadi ceritanya ada banyak sekali tempat-tempat lain di dunia ini yang ingin kukunjungi, haha ๐Ÿ˜† . Aku belum mengunjungi Malta karena sebelum ini aku menggunakan waktuku untuk mengunjungi tempat-tempat yang lain. Dan waktuku kan terbatas. Jadi artinya di satu waktu memang aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa mendapatkan (atau, mengunjungi) semuanya ๐Ÿ™‚ .

***

Jadi, bagaimana dengan kalian? Apakah sudah pernah mengunjungi Azure Window?