#2068 – A Midweek Trip to Copenhagen

ENGLISH

At the end of January I went on a midweek trip to Copenhagen to attend the PhD defense and graduation of a friend of mine, which was one of the two trips I did that week! It is the time now for the story 😀

The transport

On this trip, I took Air France and KLM’s Amsterdam – Copenhagen – Paris – Amsterdam. The last two flights were regular comfortable Air France flights with an Airbus A318 (F-GUGM) and Airbus A321 (F-GTAJ) so I won’t get too much to it. The first KLM flight to Copenhagen was, however, interesting.

An Air France’s A318 reg F-GUGM at CPH

An Air France’s A321 reg F-GTAJ at AMS

Two days before the trip, I got an email from KLM saying that due to changes in the timetable, the flight to Copenhagen would be operated with a Transavia’s Boeing 737-800 but still with KLM service and staffed by KLM crews. In case you aren’t familiar, Transavia is KLM’s low cost carrier (LCC) subsidiary and there is no Europe business class or economy comfort seats on the plane. And so in Indonesia this would be like holding a Garuda Indonesia ticket but the flight, while still with Garuda’s level of service and crews, would be operated with a Citilink’s plane, haha.

KLM operated my KL1125 flight to Copenhagen today with this Transavia’s Boeing 737-800 reg PH-HZL.

Transavia’s PH-HZL was chosen for my flight today. The gate officers and flight attendants apologized for this change of plane. I settled onto my 4A seat which was a typical LCC seat: it felt quite crammed! Haha 😛 . Thankfully, everything else was pretty much as per KLM standard. They even put the KLM in-flight magazines in the seat pocket, much to my delight because I wasn’t impressed at all with Transavia’s in-flight magazine on my latest flight with them 1.5 years ago, haha. KLM’s usual sandwich and drink service were served on board. The flight landed at Copenhagen – Kastrup Airport on time.

KLM magazines and Transavia Safety Card

A Danish PhD defense and graduation

My main agenda in Copenhagen was my good friend’s PhD defense and graduation. It was also my first time attending such an event outside of the Netherlands and so I was also curious to see the difference.

The defense started with a public presentation for about 45 minutes in a lecture room. I think my friend was quite composed during the presentation, which was really good. Then, a professor told the audience that there would be a 5 minutes break before the Q&A session would start. This next session could potentially take up to 2 hours and he said something along the line as “If you want to leave the room, this is your chance“, or at least this was how the message was conveyed to me, haha.

Actually I would like to stay and see maybe a few questions, as this session was usually where the interesting discussion took place. However, with only one door at the front of the room, what if I needed to, say, go to the toilet or get something to drink? It could potentially took two hours, damn it! I certainly would not want to be in the awkward situation of “interrupting” a fierce PhD defense discussion session because I needed to pee, haha. And so in the end I decided to leave the room, and so did all the other audiences leaving my friend only with the professor and thesis defense committee in the room.

A PhD graduation reception in Denmark

I then helped her colleague prepare for the reception afterwards in a cool hang out hall in the university. The Q&A session took, apparently, about an hour. My friend came to the room with the professors who then promoted her as a Doctor. The reception then started; and it actually went quite long as my friend organized a dinner as well, also at the same place. I stayed there until about 8:30 PM before I decided to leave as I was so tired. It had been a long day when I got up at 3 AM that morning! Hahaha 😛 .

So yeah, in conclusion, a PhD defense and graduation in Denmark was very different from the Netherlands. You can read how mine was here last year. In the Netherlands, it was much more traditional with all the rules and procession while in Denmark, at least on the surface, it looked much more relaxed and casual (There was even no dress code). The committee also consisted of more people in the Netherlands, at least in TU Delft. I also found it interesting that the reception (and dinner) was more like a DIY kind of stuffs, whereas in the Netherlands it was more “formal” with a caterer organizing the reception!

Copenhagen

The colours of Copenhagen

Because my main agenda in Copenhagen was to attend the defense and graduation, I did not have much time to go around the city. But I had visited this beautiful city twice before so I did not really mind this to be honest, haha.

I was glad that I still got the time to enjoy another awesome brunch in Copenhagen, btw (Copenhagen is famous for the amazing brunch places throughout the city). A friend and I headed out to Kalaset nearby the Nørreport Station for brunch, which was highly rated in Yelp. Obviously I ordered the non-vegetarian (lol) brunch, which was really, really good!! 😀

An amazing brunch in Copenhagen

So yeah, the next time you head out to Copenhagen, don’t forget to have brunch! And also the smørrebrød, which unfortunately I did not have this time, hahaha.

BAHASA INDONESIA

Di akhir bulan Januari aku pergi dalam perjalanan singkat di tengah minggu ke Kopenhagen untuk menghadiri sidang dan wisuda PhD (S3)-nya seorang teman baikku, yang mana adalah satu dari dua perjalananku minggu itu! Nah, mari ceritanya kita mulai 😀

Transportasi

Di perjalanan ini, aku terbang dengan Air France dan KLM dengan rute Amsterdam – Copenhagen – Paris – Amsterdam. Dua penerbangan terakhir adalah penerbangan reguler Air France dengan sebuah Airbus A318 (F-GUGM) dan Airbus A321 (F-GTAJ) sehingga tidak akan banyak aku ceritakan di sini. Penerbangan pertama dengan KLM ke Kopenhagen, tapinya, cukup menarik.

A318nya Air France dengan rego F-GUGM di CPH

A321nya Air France dengan rego F-GUGM di AMS

Dua hari sebelum berangkat, aku mendapatkan email dari KLM yang menyebutkan bahwa karena perubahan jadwal, penerbanganku ke Kopenhagen akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-800 milik Transavia; tetapi masih akan diterbangkan dengan layanannya KLM oleh stafnya KLM. Jika pada nggak paham nih, Transavia adalah anak perusahaan low cost (LCC)-nya KLM dan pesawat-pesawatnya tidak dilengkapi dengan kursi kelas bisnis Eropa maupun economy comfort. Jadi jika di Indonesia kurang lebih ini seperti situasi dimana kita memiliki tiket Garuda Indonesia tetapi penerbangannya, walaupun tetap berlayanan sesuai standar dan oleh kru Garuda, dioperasikan dengan pesawatnya Citilink, haha.

KLM mengoperasikan penerbangan KL1125 ke Kopenhagen hari ini dengan Boeing 737-800 rego PH-HZL milik Transavia ini.

PH-HZL milik Transavia dipilih untuk penerbanganku hari ini. Petugas di bandara dan awak kabinnya memohon-maaf atas perubahan pesawat ini. Aku duduk di kursi 4A yang mana seperti standar kursi ala LCC: rasanya sempit! Haha 😛 . Untungnya, semua sisi lain dari penerbangan ini sesuai standarnya KLM sih. Bahkan mereka menyediakan majalahnya KLM loh di kursinya, yang mana membuatku senang karena aku sungguh tidak terkesan dengan majalahnya Transavia di penerbanganku terakhir dengan mereka 1,5 tahun sebelumnya, haha. Layanan sandwich dan minum-nya KLM disajikan di penerbangan ini. Penerbangannya tiba di Bandara Kastrup di Kopenhagen tepat waktu.

Majalah KLM dan kartu keselamatan Transavia

Sidang dan wisuda PhD (S3) di Denmark

Agenda utamaku di Kopenhagen adalah sidang dan wisuda PhD (S3)-nya temanku. Ini adalah kali pertama aku menghadiria cara semacam ini di luar Belanda nih jadi aku juga penasaran untuk melihat perbedaannya.

Sidang dimulai dengan presentasi terbuka selama sekitar 45 menit di sebuah ruang perkuliahan. Aku rasa temanku presentasi dengan cukup tenang hari ini, yang mana bagus banget ya. Setelahnya, salah seorang profesornya mengumumkan bahwa akan ada jeda selama 5 menit sebelum sesi tanya-jawab dimulai. Sesi berikutnya ini bisa memakan waktu sampai 2 jam dan profesornya kurang lebih berkata “Jika kalian mau meninggalkan ruangan ini, sekarang lah kesempatan kalian!“, atau setidaknya begitu deh kesan yang aku tangkap, haha.

Sebenarnya aku ingin tetap duduk dan menonton mungkin beberapa pertanyaannya, karena di sini lah dimana biasanya diskusi yang menarik berlangsung kan. Tetapi masalahnya hanya satu pintu di ruangan itu yang lokasinya berada di depan. Nah, bagaimana dong jika misalnya aku butuh untuk ke toilet atau mengambil minuman dari luar? Sesinya bisa memakan waktu hingga dua jam loh! Jelas dong ya aku nggak mau menarik perhatian di tengah-tengah diskusi sengit sidang PhD karena aku harus buang air kecil, haha. Jadilah pada akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan ruangannya saja, dan ternyata semua penonton lainnya juga demikian sehingga temanku sendirian bersama profesor dan komite sidangnya untuk sesi tanya jawab.

Resepsi wisuda S3 di Denmark

Aku kemudian membantu seorang kolega temanku mempersiapkan resepsi setelahnya di sebuah ruangan kongkow-kongkow di universitasnya. Sesi tanya jawabnya ternyata memakan waktu sekitar satu jam. Temanku datang ke ruangannya diikuti oleh profesornya yang kemudian mempromosikannya menjadi seorang Doktor. Resepsi kemudian dimulai; yang mana ternyata berlangsung lumayan lama karena temanku mengadakan acara makan malam pula, juga di tempat yang sama. Aku berada di sana hingga sekitar jam 8:30 malam, dimana aku sudah mulai ngantuk! Iya sih, hari ini adalah hari yang panjang karena paginya aku harus bangun jam 3 subuh! Hahaha 😛 .

Jadi kesimpulannya, sidang dan wisuda PhD (S3) di Denmark memang berbeda sekali dari Belanda. Sidang dan wisudaku tahun lalu bisa dibaca di sini. Di Belanda, acaranya lebih tradisional dengan segala peraturan dan prosesinya sementara di Denmark, setidaknya yang nampak di permukaan, sepertinya lebih santai dan kasual (Bahkan nggak ada dress code loh). Komite sidang di Belanda juga rasanya lebih besar, setidaknya di TU Delft yah. Bagiku juga menarik dimana resepsi (dan makan malam) dipersiapkan sendiri, sementara di Belanda acara ini lebih “formal” yang dikerjakan oleh badan katering!

Kopenhagen

Warna-warna Kopenhagen

Karena agenda utamaku di Kopenhagen adalah menghadiri sidang dan wisuda temanku, aku tidak memiliki banyak waktu untuk berkeliling kota. Tetapi aku sudah pernah mengunjungi kota cantik ini dua kali sebelumnya sih sehingga aku tidak mempermasalahkan ini, haha.

Tetapi aku lega aku masih sempat menikmati brunch yang enak banget di Kopenhagen (Kopenhagen ini terkenal dengan tempat-tempat brunch-nya yang enak-enak di seluruh penjuru kota). Aku dan seorang teman memutuskan untuk mampir di Kalaset di dekat Stasiun Nørreport untuk brunch, yang ber-rating tinggi di Yelp. Jelas aku memilih menu yang non-vegetarian (haha), yang mana beneran enak banget!! 😀

Brunch yang enak banget di Kopenhagen

Jadi, kalau ke Kopenhagen memang wajib banget deh brunch! Dan juga smørrebrød-nya, yang mana sayangnya tidak sempat aku makan kali ini, hahaha.

Advertisements

#1532 – A Weekend Trip to Copenhagen

ENGLISH

Getting To/From There

Obviously I decided to fly with KLM to get to/from Copenhagen. To get there, I chose to fly with flight KL 1127 because the schedule was very convenient so that I could have lunch after arriving in Copenhagen. As usual, flight KL 1127 was operated with a Boeing 737-800. But I was so lucky today because out of KLM’s 25 Boeing 737-800s, they decided to deploy PH-BXA, which was nicknamed “Swan”, today for flight KL 1127. But how was I lucky with this? Well, because PH-BXA looked like this:

How PH-BXA looked from the outside

How PH-BXA looked from the outside

Yes!! PH-BXA was a retro jet[1]!! It was super cool, wasn’t it? 😆

The flight took off from runway 36L of Amsterdam Schiphol Airport and landed 1 hour later at runway 04L of Copenhagen Kastrup Airport. Here is the landing video:

To get back to the Netherlands, I chose flight KL 1130 because it was the cheapest flight of the day, haha 😆 . And the schedule was very convenient too! 🙂 And just as usual, this flight was operated with KLM Cityhopper’s Fokker 70. This time, I got PH-WXD, a 20 year old Fokker 70, for my flight. The flight departed on time and took off from runway 04R of Copenhagen Kastrup Airport. About one hour later, we landed at runway 36R of Amsterdam Schiphol Airport. Here is the landing video:

The Kopdar[2] Story

Kutubuku and I decided to meet for a lunch in Tårnet, a new restaurant in the city center of Copenhagen. The restaurant was located inside the tower of the Christiansborg palace. To get in there, we must, first, pass a security check. And this was before we had to queue for the elevator, the only way to get up to the tower and there was just one elevator which could fit only eight people, lol 😆 . And today was a busy day at the restaurant where we got stuck for a little bit at the security check because they needed to let some people out first.

A kopdar in Copenhagen!

A kopdar in Copenhagen!

Anyway, so we made it to the restaurant and got our table. You can find the story of the food below in the food section of this post 😀 . The kopdar was so much fun btw! We just kept talking for the almost 2 hours that we were there! 😀 At around 3:15 PM I had to leave because I must go to my friend’s place in the north part of Copenhagen.

So we left the restaurant and walked accross the city centre to go to Norreport station where I would take a local S-tog train service. And we split there. Well, thanks for the time, and I hope we can meet again!! 😀

Copenhagen and Friends

Back to this statue again!!

The HC Andersen statue in Copenhagen

As I said before, the main agenda of this trip was to visit my friends who just had a baby this winter and to give the small present we (two other friends and I) had bought in India. And this was indeed the theme of the rest of the trip.

We did not do much in the first day because one of my friends twisted his ankle that day so he could not really walk. So we just stayed at their place for the rest of the day, which was also very fun because all we did was just talk, talk, and talk! You know, we haven’t met in quite awhile 😆 . But I had to leave at around 10:30 PM because I needed to go back to my hostel to complete my check-in process (earlier that day apparently I was too early for check-in).

Copenhagen

Copenhagen

On the second day, we made a plan to meet at noon for a brunch my friend had booked in the Danish Architecture Centre. My plan for the morning was just to laze and got up a bit later. But it turned out that I couldn’t, lol 😆 . I got up much earlier than planned so after showering I decided to walk around the city centre a little bit.

We met at the Danish Architecture Centre right on time at noon and we directly went to the second floor for the brunch. Again, the brunch story is below in the food section. After brunch, we went around the city centre. To me, there was nothing new because I already visited Copenhagen last year (except that this time we went into the Marble church where last year I just passed it by). But it was still very fun 😀 .

Back to this famous statue again

The famous Den Lille Havfrue statue in Copenhagen

After visiting the famous Little Mermaid statue, we stopped by at a cafe. There, we celebrated the very important (for me, as a mathematician 😛 ) Pi Day[3] this year where we ordered super delicious apple pies! Haha 😆 . For dinner, we went to the Norrebro Byrghus where we had another amazing meal!

The Food

Smørrebrød

One thing which I missed on my trip to Copenhagen last year was the smørrebrød, the Danish sandwich. So that is why I immediately agreed to go to Tårnet for the kopdar because they provided smørrebrød for lunch. There was a lunch package for Dkk 275 (approx. €37) which consisted of two pre-chosen (by the chef) smørrebrød, a glass of beer, and a choice of tea or coffee. Today, the two pre-chosen smørrebrøds were a chicken and a tartar smørrebrød. And I ordered this.

Super delicious gourmet smorrebrod

Super delicious gourmet smørrebrød

And it turned out to be really delicious! I seriously loved it! I did not like the tartar steak I had in France but I loved this one they served in the smørrebrød! (Well, to be fair I think what made the difference was the mustard sauce though; I did not like the mustard sauce, not the steak itself). And everything was so tasty!

But then, it turned out that normally non-Danish people did not really like the smørrebrød (according to Kutubuku and my friends). So maybe I was an exception then? Lol 😆 .

The Brunches

I had two brunches during my stay in Copenhagen this weekend.

Brunch #1 (the Danish Architecture Centre (story above))

A very nice buffet brunch

A very nice buffet brunch

The brunch was really good btw even though it was not “too” Danish in my opinion. They provided really delicious crispy bacon, and because it was a buffet brunch, basically there was an unlimited supply of it. And as a result, I ate like a lot of them, lol 😆 .

Brunch #2 (Charlottenlund)

I had the second brunch on my last day in Copenhagen, in the morning before my flight back to the Netherlands. This brunch was much more Danish; and it was SO amazing! This photo described it much better than any words I could ever write:

An amazing Danish brunch!!

An amazing Danish brunch!!

Norrebro Byrghus

A delicious steak sandwich!!

A delicious steak sandwich!!

We had dinner at the Norrebro Byrghus in the region of Norrebro in Copenhagen. And it was also very good, even though it was a bit pricey as well, lol 😆 . At first I was thinking of ordering the three course menu but then I realized it would be better to just buy the a la carte one (as it was cheaper as well). I ordered fried vegetable chips as an appetizer, a very delicious steak sandwich for the main course, and a blood orange sorbet as the dessert. Oh, each of us also ordered a beer package consisting of four different beers 🙂

BAHASA INDONESIA

Pergi ke/dari Copenhagen

Jelas aku memutuskan untuk terbang dengan KLM untuk pergi ke/dari Copenhagen. Untuk keberangkatannya, aku memutuskan untuk terbang dengan penerbangan KL 1127 karena jadwalnya sungguh nyaman dimana aku masih bisa makan siang setelah tiba di Copenhagen. Seperti biasa, penerbangan KL 1127 dioperasikan dengan sebuah Boeing 737-800. Tetapi kali ini aku beruntung karena dari 25 pesawat Boeing 737-800 yang dimiliki KLM, mereka memutuskan untuk menggunakan PH-BXA, yang diberi nama “Swan/Angsa”, untuk penerbangan KL 1127 hari ini. Lah, beruntungnya gimana? Yaa, karena penampakannya PH-BXA itu seperti ini:

How PH-BXA looked from the outside

Penampakan PH-BXA dari luar

Iya!! PH-BXA adalah sebuah retro jet[1]!! Keren kan ya? Haha 😆

Penerbangannya lepas landas dari landasan pacu 36L Bandara Amsterdam Schiphol dan mendarat sekitar 1 jam kemudian di landasan pacu 04L Bandara Kastrup di Copenhagen. Berikut ini video pendaratannya:

Untuk kembali ke Belanda, aku memutuskan naik penerbangan KL 1130 karena penerbangan ini adalah yang termurah untuk hari itu, haha 😆 . Dan kebetulan jadwal penerbangannya juga enak! 🙂 Dan seperti biasa, penerbangan ini dioperasikan dengan sebuah Fokker 70 milik KLM Cityhopper. Kali ini, mereka menggunakan PH-WXD yang sudah berumur 20 tahun untuk penerbangan ini. Penerbangannya berangkat tepat waktu dan lepas landas dari landasan pacu 04R Bandara Kastrup di Copenhagen. Sekitar satu jam kemudian, kami mendarat di landasan pacu 36R Bandara Amsterdam Schiphol. Berikut ini video pendaratannya:

Cerita Kopdar

Kutubuku dan aku memutuskan untuk kopdaran sambil makan siang di Tårnet, sebuah restoran yang baru di pusat kota Copenhagen. Restorannya sendiri terletak di dalam menaranya Istana Christianbsborg. Untuk naik kesana, pertama-tama kami harus melewati pemeriksaan sekuriti terlebih dahulu. Dan kemudian, kami harus mengantri untuk naik lift, yang mana hanya ada satu lift dan hanya muat delapan orang saja, haha 😆 . Dan hari ini kebetulan adalah hari yang sibuk di restorannya sehingga kami harus menunggu dulu di tempat pemeriksaan sekuritinya karena mereka harus menunggu beberapa orang keluar dari restorannya dulu.

A kopdar in Copenhagen!

Kopdaran di Copenhagen!

Singkat cerita, kami sampai juga di restorannya dan mendapatkan meja kami. Cerita makanannya aku tulis di bawah ya di bagian makanan dari posting ini 😀 . Kopdarnya sendiri berlangsung seru dimana kami ngobrol terus selama hampir 2 jam hari itu, 😀 . Sekitar jam 3:15 sore, aku harus pergi karena sudah ada janji untuk ke tempat temanku di Copenhagen utara.

Jadi kami meninggalkan restorannya dan berjalan menyebrangi pusat kotanya untuk pergi ke stasiun Norreport dimana aku akan naik kereta lokal S-tog. Dan kami berpisah disana. Trims banyak atas waktunya, dan mudah-mudahan kita bisa bertemu kembali!! 😀

Copenhagen dan Teman-Teman

Back to this statue again!!

Patung HC Andersen di Copenhagen

Seperti yang aku bilang sebelumnya, agenda utama perjalanan ini adalah mengunjungi temanku yang baru saja melahirkan musim dingin lalu dan memberikan kado kecil yang kami (aku dan dua orang teman) beli di India. Dan memang inilah tema dari sisa perjalanan ini.

Kami tidak pergi kemana-mana di hari pertama karena pergelangan kakinya salah satu temanku terpelintir sehingga ia tidak bisa berjalan. Jadilah kami santai-santai aja di rumahnya mereka sepanjang sisa hari itu, yang mana seru juga karena kami bisa ngobrol terus dengan bebas! Tahu kan, sudah lama lho kami nggak bertemu, haha 😆 . Tetapi aku harus pergi sekitar jam 10:30 malam karena aku harus kembali ke hostelku untuk menyelesaikan proses check-in-nya (siangnya aku sudah kesana tetapi ternyata waktu itu masih terlalu awal untuk check-in).

Copenhagen

Copenhagen

Di hari kedua, kami membuat rencana untuk brunch bareng jam 12 siang di sebuah kafe di Pusat Arsitektur Denmark. Rencanaku adalah bangun siang pagi itu dan santai-santai aja. Tetapi aku nggak bisa dong, haha 😆 . Aku bangun terlalu pagi dan jadilah setelah mandi, aku berjalan-jalan aja mengelilingi kotanya.

Kami bertemu di Pusat Arsitektur Denmark tepat waktu jam 12 siang dan langsung kami naik ke lantai dua untuk brunch. Lagi, cerita brunch-nya ada di bawah ya. Setelah brunch, kami berkeliling pusat kotanya. Untukku, tidak ada yang baru sih karena aku sudah pernah mengunjungi Copenhagen tahun lalu (kecuali bahwa tahun ini kami masuk ke Gereja Marmer-nya dimana tahun lalu aku cuma lewat doang). Tetapi masih seru-seru aja kok 😀 .

Back to this famous statue again

Patung Den Lille Havfrue yang super terkenal itu di Copenhagen

Setelah mengunjungi Patung Little Mermaid yang super terkenal itu, kami mampir di sebuah kafe. Disana, kami merayakan Hari Pi[2] tahun ini yang amat penting itu (penting untuk aku sih, sebagai matematikawan 😛 ) dengan sebuah apple pie yang enak banget! Haha 😆 . Untuk makan malam, kami pergi ke Norrebro Byrghus dimana makanannya enaak!

Makanannya

Smørrebrød

Satu hal yang aku sesalkan dari perjalananku ke Copenhagen tahun lalu adalah melewatkan untuk makan smørrebrød, sandwich ala Denmark. Jadi itulah mengapa aku langsung setuju untuk makan siang di Tårnet untuk kopdar karena restoran ini menyediakan smørrebrød untuk makan siang. Ada paket makan siang seharga Dkk 275 (sekitar Rp 515.000,-) yang terdiri atas dua macam smørrebrød yang sudah ditentukan (oleh chef-nya), segelas bir, dan teh atau kopi. Hari ini, dua smørrebrøds yang telah ditentukan adalah smørrebrød ayam dan smørrebrød tartar. Dan aku memilih paket ini.

Super delicious gourmet smorrebrod

Gourmet smørrebrød yang enak banget

Dan ternyata memang enak banget lho! Aku beneran suka banget deh! Aku tidak suka steak tartar di Prancis tetapi aku suka yang mereka sajikan dengan smørrebrød-nya ini! (Eh, tetapi sebenarnya perbedaannya adalah saus mustard-nya sih; karena aku tidak suka sausnya ini, bukan steaknya, haha). Dan semuanya rasanya enaak!

Tetapi kemudian, ternyata umumnya yang bukan orang Denmark pada tidak suka (menurut Kutubuku dan teman-temanku). Jadi mungkin aku adalah pengecualian kali yah? Hahaha 😆 .

Brunch

Dua kali aku makan brunch di Copenhagen akhir pekan ini.

Brunch #1 (Pusat Arsitektur Denmark (cerita di atas)) 

A very nice buffet brunch

Brunch model buffet

Brunch-nya sendiri enak walaupun menurutku sih nggak “terlalu” Denmark. Mereka juga menyediakan bacon crispy yang mana enak banget loh. Dan karena brunch-nya bermodel buffet, jadilah pada dasarnya bacon itu tak terbatas jumlahnya. Akibatnya, aku makan banyak banget deh, hahaha 😆 .

Brunch #2 (Charlottenlund)

Brunch kedua adalah di hari terakhirku di Copenhagen,  di pagi harinya sebelum aku kembali ke Belanda. Nah, brunch yang kali ini Denmark banget nih; dan memang enak BANGET! Foto berikut ini mendeskripsikannya jauh lebih baik daripada kata-kata deh:

An amazing Danish brunch!!

Brunch ala Denmark yang enak banget!!

Norrebro Byrghus

A delicious steak sandwich!!

Steak sandwich yang enak banget!!

Kami makan malam di Norrebro Byrghus di daerah Norrebro di Copenhagen. Dan makanannya memang enak-enak, walau menurutku mahal sih harganya, haha 😆 . Awalnya aku berpikir untuk memesan menu three course-nya deh tetapi setelah dipikir-pikir, rasanya lebih mending beli menu yang a la carte saja (yang mana juga jatuhnya lebih murah). Aku memesan sayuran digoreng model chips untuk makanan pembuka, sebuah steak sandwich yang enak banget untuk makanan utama, dan blood orange sorbet (agak awkward rasanya untuk menerjemahkan nama ini ke bahasa Indonesia 😛 ) sebagai pencuci mulut. Oh, masing-masing dari kami juga memesan paket bir yang terdiri dari empat macam bir 🙂

#991 – Eating Habit

ENGLISH

As I promised this time, here I will share a little bit about my eating habit. 😀

So, ever since I went to college in Bandung, there was one habit that was slowly formed. This habit is about my eating habit. Let me start this entry with a little bit of my past before I moved to Bandung for college.

As a kid, I was also “taught” to have meal three times a day. Well, it was standard though: breakfast, lunch, and dinner. But there was one point in my life where instead of having dinner, I had a meal at around 4 – 4.30 PM, and we called it “afternoon meal”. And of course because I had meal at this time, I was still full at 6 – 8 PM and hence I did not eat anymore for the rest of the day; but maybe a little snack though if I really wanted to eat something. But the point is, until high school, I routinely ate three times a day: breakfast before school; lunch after school; and dinner. Well, except for some occasional events which “obliged” me to have more meal (for example when there was guest (my parents’ friend) visiting and invited us to have meal somewhere), huahaha 😆 , but this is not counted as it did not occur in regular basis.

Then I moved to Bandung in 2006 for college. The first months in Bandung, I still continued my 3 times a day meal habit. However, somehow, suddenly this habit changed slowly. In the end, I routinely only ate twice a day. The system was having a combined breakfast and lunch (brunch); and dinner (for sure, dinner was very important (as usually dinner meal was always awesome :D); and so its existence would never be disturbed :P).

Why did this happen? To save some money? Hmm, maybe; but honestly, I think this was not a strong argument because the cost of meal was not that high in Bandung (as I seldom “ate out” and I usually bought my meal in a Sundanese warung near my boarding house; and because I was so frequent buying meal there, the owner knew what I would always buy everytime I was there: kangkung, hahaha 😆 ).  Anyway, my guess would be that because college life was so different from school life. Classes in college did not always start early in the morning, and so I could get up quite later; and in the end I had my breakfast at like 9 – 10 AM. Therefore, at 12 PM, I was still full. Sometimes at 4 – 5 PM I already got hungry, but it was already almost dinner time and I often opted to wait for dinner time to come to have my dinner. That was it, and it happened day after day, and eventually (I think) it became a habit. Well, true that I did not always have meal twice a day, as there were some occasions where I ate way more frequent than that in a day. But as I recall, it did not happen that often though.

And this habit still continues until now that I live in the Netherlands. Normally, here, I also eat twice a day, hahaha 😆 . However, the days where I have three meals a day occur in a more frequent basis here, especially when I have morning classes. This is because I always cook and eat breakfast before I go to a class (in Bandung, I could hold my hunger until after class, hahaha :P); and in the afternoon, I have meal in the cafetaria of my campus.

Some of my non-Indonesian friends were quite surprised when I told them I had meal twice a day. Of course then I explained that I had meal at 9 – 10 and hence I was still full in the afternoon. But they still could not believe it and said: “how could it be?“. Apparently, this was because of, again, different custom. For me, a breakfast is a complete full meal. But for my friends, most of them (I think) have Western-style breakfast which consists of bread and the accompanying (jam, ham, cheese, Nutella) and coffee. Well, no wonder at noon they already get hungry. I mean, if I only have bread for my breakfast, for sure I will also already get hungry at noon, huahaha 😆 .

This reminds me though, there is one Dutch habit (regarding eating) that I may share here some time; but not now definitely, I am kinda exhausted, haha.

BAHASA INDONESIA

Seperti yang kujanjikan waktu ini, aku sekarang ingin bercerita tentang kebiasaan makanku. 😀

Ceritanya, semenjak aku kuliah di Bandung, ada satu kebiasaan harian yang perlahan-lahan terbentuk. Kebiasaan ini berkaitan dengan pola makanku. Biarlah ceritaku ini dimulai dari waktu sebelum aku pindah ke Bandung untuk berkuliah.

Sebagai anak-anak, aku juga “diajari” untuk makan tiga kali dalam sehari. Standar lah: sarapan, makan siang, dan makan malam. Malah ada satu waktu dari hidupku (ketika aku masih SD) dulu dimana aku tidak mengenal yang namanya makan malam; dan jatah makan malam ini tergantikan oleh “makan sore”. “Makan sore” ini aku lakukan sekitar jam 4-4.30 sore gitu. Dan tentu karena sudah makan jam segitu, aku masih kenyang jam 6 – 8 malam dan sampai malam tidak makan lagi; paling ngemil doang kalau tiba-tiba ingin makan sesuatu. Cuma intinya, sampai SMA, aku rutin makan tiga kali dalam satu hari: satu kali sebelum sekolah; satu kali sepulang sekolah; dan satu kali di malam hari. Eh, kecuali kalau ada event tertentu ya yang “mewajibkanku” untuk makan lebih sering (misalnya ketika ada tamu (kenalannya orangtua) dari luar kota yang datang dan malam-malam minta diantar makan dimana gitu), huahaha 😆 , tapi ya ini nggak dihitung lah karena toh jarang terjadi.

Lalu aku pindah ke Bandung tahun 2006 untuk berkuliah. Awal-awal di Bandung ya aku masih mengikuti kebiasaan makan 3 kali sehari itu. Namun, entah bagaimana, tiba-tiba perlahan-lahan kebiasaan itu berubah. Sampai pada akhirnya, aku rutin hanya makan 2 kali saja dalam satu hari. Sistem makannya adalah makan pagi dan makan siang digabung (yang dalam bahasa Inggris sering disebut brunch); dan makan malam (iya dong, makan malam kan penting gitu ya (soalnya makanannya enak-enak :D); jelas eksistensinya tidak akan diganggu gugat deh 😛 ).

Koq ini bisa terjadi? Untuk menghemat uang? Hmm, mungkin saja sih; hanya saja menurutku alasan ini kurang kuat karena toh biaya makan di Bandung juga nggak terlalu tinggi (aku jarang makan di “luar” gitu deh dan aku seringnya beli makanan di sebuah warung Sunda di dekat kos; dan teteh-nya yang jual sampai hafal pesanan “wajib” saya: tumis kangkung, hahaha 😆 ). Dugaanku adalah: ini dikarenakan kehidupan perkuliahan itu berbeda dari kehidupan sekolah. Kuliah kan nggak setiap hari dimulai pagi hari gitu ya, makanya sering juga aku bisa bangun agak siangan dikit gitu; dan akhirnya makan paginya sekitar jam 10an. Alhasil, jam 12 siang aku masih kenyang. Kadang-kadang sore jam 4-5an gitu juga sudah lapar, tapi rasanya nanggung gitu untuk makan karena toh sudah hampir waktunya makan malam. Disekalianin aja deh. Begitu deh, dan ini terjadi berulang-ulang, sampai (sepertinya) akhirnya menjadi kebiasaan. Memang sih, nggak setiap hari juga aku selalu makan 2 x, kadang aku juga makan lebih dari itu kalau ada kejadian-kejadian khusus. Cuma seingatku sih jarang terjadi ya.

Dan kebiasaan ini terbawa juga ke kehidupanku di Belanda sekarang ini. Umumnya aku masih makan dua kali saja dalam satu hari, hahaha 😆 . Hanya saja, memang hari dimana aku makan tiga kali sehari lebih sering terjadi disini, terutama ketika aku ada kuliah pagi. Ini karena sebelum kuliah, aku harus makan dulu (kalau di Bandung dulu bisa deh makannya ditahan sampai beres kuliah, hahaha :P); lalu siangnya aku makan di kantin kampus.

Beberapa temanku yang bukan orang Indonesia disini lumayan kaget ketika aku bilang bahwa aku makan dua kali saja dalam sehari. Aku jelasin juga kalau aku makan pagi kan jam 9 – 10 an gitu deh makanya ketika waktunya makan siang aku masih kenyang. Tapi mereka masih nggak percaya dan bilang: “kok bisa sih (nggak lapar)?“. Selidik punya selidik, ternyata ini diakibatkan perbedaan kebiasaan. Bagiku, yang namanya makan pagi itu sama kayak makan komplit deh, 4 sehat 5 sempurna gitu (eh, nggak 5 sempurna sih, 4 sehat aja soalnya nggak pernah minum susu, huahahaha 😆 ). Nah, teman-temanku ini (kebanyakan) sarapannya ya ala Barat gitu deh. Jadi mereka sarapannya ya cuma roti (tawar) dan kawan-kawannya gitu (selai, ham, keju, Nutella) dan kopi. Ya nggak heran dong ya kalau siangnya sudah lapar. Aku juga kalau sarapannya cuma roti aja, siang juga pasti sudah lapar lagi deh, huahaha 😆 .

Btw, jadi kepikiran, ada satu kebiasaan orang Belanda yang mungkin kapan-kapan bisa aku share disini; cuma nanti aja ah nulisnya, capek saya sekarang, haha.