#2048 – 2017 Year End Trip (Part I: KLM KL 605 AMS-SFO in Economy)


Posts in the 2017 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class

Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD named “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

I managed to snatch seat 10K, a window seat in the first row of economy comfort, while checking-in online the day before the trip. I was able to get this seat in economy comfort for free thanks to my new Platinum status (Normally, one would have had to pay €160 extra just to sit there on this flight to San Francisco!). Anyway, seat 10K was actually the second best seat for me on this flight. The best one would have been seat 10A because it would provide a bird’s eye view of San Francisco upon landing but that seat had already been taken, damn! Haha 😛 .

Checking in for my flight KL 605

Long story short, I arrived at Schiphol and checked my luggage in, upon which I also got a paper boarding pass. I waited for the flight at the KLM Crown Lounge and then went to the gate about 20 minutes before boarding time. The flight today would be operated with a Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD which KLM named “Bougainville”.

KLM’s Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD was ready to go to SFO

As you could see in the photo above, the weather at Schiphol today was not at the best condition. After all passengers at the gate boarded, the captain informed us that we were not given the green light to depart yet because we were still waiting for some connecting passengers whose coming flights to Amsterdam were delayed due to Schiphol’s current limited runway capacity. And so we had to sit in the plane for about an hour before we were finally given the permission to go. We took off from runway 24 and PH-BHD turned northwest towards California.

Finally taking off from runway 24 of AMS

Let’s start with the seat. KLM configured their Boeing 787-9 Dreamliner with the 3-3-3 layout in economy. This layout was actually fine. But to me, the “problem” was, just about two weeks prior I was flying a Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER which Garuda also configured with the 3-3-3 layout (While many other airlines, including KLM, chose to configure their Boeing 777s with the 3-4-3 layout). However, a Boeing 777-300ER was a bigger airplane, hence wider cabin, than a Boeing 787-9 Dreamliner. I guess because of this, somehow PH-BHD’s cabin felt a little bit “crammed” to me, haha.

A KLM Dreamliner selfie

Anyway, shortly after take-off, a snack and drink service was provided. The snack was a delicious roasted almond and I chose to pair it with white wine, haha. After the snack service, the flight attendants distributed the warm tissues service, a typical KLM’s long-haul service in economy which was really nice IMO.

I then started to watch the classic movie The Graduate at the AVOD IFE. Speaking of the AVOD, I wasn’t that much impressed with the content (in terms of movies and songs) this time, unfortunately. Though, perhaps the fact that there had been not a lot of new movies which excited me in the past several months might play a role in this too, haha.

The lunch service on board KLM flight KL605

The lunch service was provided not long after; with the choice being a vegetarian or a meatball dish. Obviously I opted for the meatball one, haha 😛 . And it was good!

Just after lunch, the map showed that we were already flying above … Greenland! I was of course excited about this and looked out the window! Greenland was, unlike its name, fully white as it was covered with snow and ice, haha.

Greenland, which looked more white than green to me.

PH-BHD then continued to fly towards Canada, upon which an ice cream snack service was provided. After finishing The Graduate, I decided to watch a second movie, Guardians of The Galaxy Vol. 2. And also, I tried KLM’s wifi which were available on their Boeing 787-9 Dreamliners. The wifi access was based on data instead of time, which was a factor I did not really like. But in terms of price, I thought their pricing was fair enough, even though a few times I had small problems with the connectivity.

Btw, as usual in a long-haul KLM flight, the flight attendants went on many rounds around the cabin bringing a tray of drinks for the passengers, which was, of course, such a very nice service! More snacks were also available at the galley. As we were entering the United States air space, the late lunch service was provided, which was also tasty.

The late lunch service on board KLM flight KL605

Long story short, at around 1 PM local time we started our descent towards San Francisco International Airport. We were not able to recover from our departure delay, though; and so we still arrived in San Francisco about one hour behind schedule. At 1:28 PM, we landed at runway 28L of San Francisco International Airport, here is the landing video:

PH-BHD parked at the International Terminal where I saw Emirates’, Japan Airlines’, Korean Air’s, Air France’s, and Aeromexico’s planes. Our delay meant that we arrived after all these airlines resulting in: very long lines at immigration! 😖 I had to wait for more than an hour before clearing immigration! And so when I arrived at the baggage area, my bag was already waiting for me nicely there, haha.

I exited the terminal and went to the BART station to take the train to Downtown San Francisco. And here, my two weeks vacation in California started!!



Posting-posting dalam seri 2017 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to California
3. Part II: A Tourist in San Francisco
4. Part III: Alcatraz and Yosemite
5. Part IV: The City of San Francisco
6. Part V: The City of Los Angeles
7. Part VI: Hollywood and Griffith
8. Part VII: More of LA
9. Part VIII: Back to Europe in Business Class

Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL605
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD bernama “Bougainville”
ATD: 11:56 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 13:28 PST (Runway 28L of SFO)

Aku berhasil mengamankan kursi 10K, kursi jendela di baris pertama kelas economy comfort, ketika check-in online sehari sebelum berangkat. Aku bisa mendapatkan kursi economy comfort ini dengan gratis loh berkat status Platinum baruku ini (Normalnya, seorang penumpang harus membayar ekstra €160 (sekitar Rp 2,6 juta) untuk duduk di kursi ini di penerbangan ke San Francisco!). Anyway, kursi 10K sebenarnya adalah kursi terbaik kedua di penerbangan ini bagiku. Yang terbaik adalah kursi 10A karena dari sana aku akan mendapatkan pandangan San Francisco dari atas ketika mendarat. Tetapi sialnya kursi itu sudah diambil orang lain nih! Haha 😛 .

Check in untuk penerbangan KL 605

Singkat cerita, aku tiba di Schiphol, meng-check-in-kan bagasiku, dan mendapatkan boarding pass fisik. Aku menunggu penerbanganku di KLM Crown Lounge dan kemudian berjalan ke gate sekitar 20 menit sebelum waktu boarding. Penerbangan hari ini akan dioperasikan dengan pesawat Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD yang KLM beri nama “Bougainville”.

Pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM rego PH-BHD siap untuk berangkat ke SFO

Seperti yang terlihat di foto di atas, cuaca di Schiphol hari ini memang sedang kurang oke. Setelah semua penumpang yang berada di gate naik ke dalam pesawat, kaptennya memberi-tahu bahwa kami masih belum diberikan lampu hijau untuk berangkat karena ternyata kami masih harus menunggu beberapa penumpang connecting yang penerbangannya terlambat mendarat di Schiphol akibat kapasitas landasan pacu bandara yang dikurangi karena kondisi cuaca. Jadilah kami harus duduk di dalam pesawat selama satu jam-an sebelum akhirnya bisa berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 24 dan kemudian PH-BHD berbelok ke arah barat laut menuju California.

Akhirnya lepas landas dari landasan pacu 24nya AMS

Mari ngomongin masalah kursi. KLM mengonfigurasi Boeing 787-9 Dreamliner mereka dengan layout 3-3-3 di ekonomi. Layout ini sebenarnya oke-oke aja sih. Yang jadi “masalah” bagiku adalah baru sekitar dua minggu sebelumnya aku terbang dengan pesawat Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia yang mana Garuda konfigurasi dengan layout 3-3-3 juga (Padahal banyak maskapai lain, termasuk KLM, memilih layout 3-4-3 untuk pesawat tipe Boeing 777 ini). Namun, Boeing 777-300ER kan adalah tipe pesawat yang lebih besar ya, yang mana artinya juga memiliki kabin lebih besar, daripada Boeing 787-9 Dreamliner. Aku duga karena ini, kabinnya PH-BHD ini jadi terasa “sempit” untukku, haha.

KLM Dreamliner selfie

Anyway, tidak lama setelah lepas landas, layanan snack dan minuman diberikan. Snack-nya berupa kacang almond panggang yang mana rasanya enak banget loh; dan tentu saja aku temani dengan white wine, haha. Setelah layanan snack, awak kabin membagikan layanan tisu hangat, sebuah layanan khasnya KLM di ekonomi yang menurutku oke.

Aku kemudian mulai menonton film klasik The Graduate di AVOD IFE. Nah, ngomongin AVODnya nih, aku kok agak kecewa ya dengan isinya (dalam hal pilihan film dan lagu), sayangnya. Mungkin ini diakibatkan karena memang tidak ada banyak film yang menarik sih beberapa bulan belakangan ini, haha.

Layanan makan siang di penerbangan KLM KL605

Layanan makan siang disajikan tak lama setelahnya; yang mana pilihannya adalah menu vegetarian atau menu bola daging. Ya jelas lah ya aku memilih bola daging, haha 😛 . Dan rasanya enak!

Setelah makan siang, peta menunjukkan bahwa ternyata kami sudah berada di atasnya … Greenland! Jelas dong aku excited dan langsung menengok keluar jendela! Greenland itu, tidak seperti namanya, berwarna putih banget karena memang terselimuti salju dan es, haha.

Greenland, yang nampak lebih putih daripada hijau untukku.

PH-BHD kemudian lanjut terbang menuju Kanada, dimana layanan es krim dibagikan. Setelah selesai menonton The Graduate, aku memutuskan untuk menonton film kedua, Guardians of The Galaxy Vol. 2. Oh iya, pesawat Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM juga dilengkapi dengan wifi loh. Tetapi wifi-nya menggunakan kuota paket data sih, bukannya waktu, yang mana merupakan satu faktor yang aku kurang begitu suka. Tetapi untuk masalah biaya, aku rasa harga aksesnya cukup fair juga, walaupun terkadang aku konektivitasnya bermasalah sih.

Btw, seperti biasa di penerbangan jarak jauhnya KLM, awak kabinnya aktif berkeliling kabin sambil membawa nampan berisi minuman untuk para penumpang yang mana, jelas, adalah pelayanan yang oke banget! Snack juga disediakan di dapur pesawat. Ketika kami memasuki area udara Amerika, layanan makan siang kedua dibagikan, yang mana rasanya juga lumayan.

Layanan makan siang kedua di penerbangan KLM KL605

Singkat cerita, sekitar jam 1 siang waktu setempat pesawat mulai turun menuju Bandara Internasional San Francisco. Kami tidak berhasil memotong waktu keterlambatan kami, sehingga kami tiba di San Francisco sekitar satu jam terlambat. Jam 1:28 siang, pesawat mendarat di landasan pacu 28L Bandara Internasional San Francisco, berikut ini video pendaratannya:

PH-BHD parkir di Terminal Internasional dimana aku melihat sudah ada pesawatnya Emirates, Japan Airlines, Korean Air, Air France, dan Aeromexico. Keterlambatan kami berarti kami baru tiba setelah semua maskapai lain ini yang berakibat pada: antrian yang panjang banget di imigrasi! 😖 Aku harus mengantri selama lebih dari satu jam loh! Dan jadilah ketika tiba di area bagasi, bagasiku sudah menungguku di sana, haha.

Aku keluar dari terminal dan berjalan menuju stasiun kereta BART untuk naik kereta menuju Downtown San Francisco. Dan di sini, liburan dua mingguku di California resmi dimulai!!



#2037 – 2017 In The Air


Just like in 2015 and 2016, I am going to recap my flying activities this year 😛 .

In terms of the number of flights, I broke a personal record this year with 67 flights, breaking last year’s record of 57 🙈. Though distance-wise, I only travelled a little bit further at 48,695 miles (78,367 km) compared to last year’s 46,075 miles (74,150 km). And here is how those 48,695 miles shaped this year:

My flying map of 2017. Created with gcmap.com

Yep, three continents, twelve countries, twenty-five cities, and twenty-eight airports.

Just like last year, again, I did not do too many intercontinental trips this year, and this is well reflected in the map. This, indeed, means that I traveled more within Europe. And here is the European part of the map above:

My flying map of 2017 inside Europe. Created with gcmap.com

Anyway, here are some more stats:

By routes

My only fifth freedom flight this year was with this Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GII in SkyTeam Livery from Singapore to Amsterdam.

Top three routes (by frequency):
1. Amsterdam – Paris CDG (14.93%)
2. Paris CDG – Amsterdam (11.94%)
3. Paris CDG – Lyon (4.48%)

Top three routes (by distance):
1. Amsterdam – Jakarta CGK (7,055 miles/11,354 km)
2. Singapore – Amsterdam (6,535 miles/10,517 km)
3. Shanghai PVG – Paris CDG (5,771 miles/9,288 km)

Fifth-freedom flights:
1. Garuda Indonesia GA88 (Singapore – Amsterdam): 3 December 2017

By airlines

I flew the most, frequency-wise, with Air France this year.

Top three airlines (by frequency):
1. Air France (35.82%)
2. KLM Royal Dutch Airlines (25.37%)
3. KLM Cityhopper (10.45%)

Top three airlines (by total distance):
1. Garuda Indonesia (15,036 miles/24,198 km)
2. Air France (12,436 miles/20,014 km)
3. KLM Royal Dutch Airlines (11,447 miles/18,422 km)

New Airlines:
1. Alitalia Cityliner (CT)
2. SkyWest Airlines (OO)

By airports

I finally visited the brand new Terminal 3 Ultimate at Soekarno-Hatta International Airport this year.

Top three most visited airport (by total activities)
1. Amsterdam Schiphol (31.34%)
2. Paris – Charles De Gaulle (24.63%)
3. Lyon – Saint Exupery (4.48%)

New airports:
1. Genoa Cristoforo Colombo (GOA)
2. Strasbourg (SXB)
3. Bordeaux-Merignac (BOD)
4. Zurich Kloten (ZRH)
5. Bremen Hans Koschnick (BRE)
6. Berlin Tegel (TXL)
7. Cardiff (CWL)
8. Newcastle (NCL)
9. San Francisco International Airport (SFO)
10. Los Angeles International Airport (LAX)

By airplanes

I flew with an Embraer 175 for the first time this year.

Top three airplanes (by frequency)
1. Boeing 737-800 (14.93%)
1. Boeing 737-700 (14.93%)
1. Airbus A320-200 (14.93%)

Top three airplanes (by distance)
1. Boeing 777-300ER (19,908 miles/32,038 km)
2. Boeing 787-9 Dreamliner (5,948 miles/9,572 km)
3. Boeing 737-700 (3,565 miles/5,737 km)

New airplanes:
1. Embraer ERJ175
2. Boeing 787-9 Dreamliner


Yeah, that is the summary of how I flew in 2017.

Though, I notice that, despite having more flights than, say, last year or the year before that, somehow I felt like this year was “less exciting” in some departments. Perhaps this is a sign that I should “spice things up” a little bit for 2018? Hmm…

We will see! 😉


Seperti tahun 2015 dan 2016, kali ini aku akan merekap aktivitas penerbanganku tahun ini 😛 .

Dari segi jumlah penerbangan, lagi-lagi aku mencetak rekor pribadi loh tahun ini dengan 67 penerbangan, mengalahkan rekor tahun lalu yang hanya 57 🙈. Walaupun dari segi total jarak, aku hanya bepergian sedikit lebih jauh sih yaitu 48.695 mil (78.367 km) dibandingkan tahun lalu yang 46.075 mil (74.150 km). Dan berikut ini bagaimana 48.695 mil itu terjalani tahun ini:

Peta penerbanganku di tahun 2017. Dibuat dengan gcmap.com

Yep, tiga benua, dua belas negara, dua puluh lima kota, dan dua puluh delapan bandara.

Seperti tahun lalu, lagi, aku tidak terlalu banyak bepergian antar-benua tahun ini, yang mana tergambarkan di petanya juga kan ya. Ini, memang, artinya aku lebih banyak bepergian jarak dekat di dalam Eropa saja. Berikut ini peta di atas apabila kita fokus ke penerbangan dalam Eropa saja:

Peta penerbangan dalam Eropaku di tahun 2017. Dibuat dengan gcmap.com

Anyway, berikut ini beberapa statistik:

Berdasarkan rute

Penerbangan kebebasan kelimaku tahun ini adalah dengan pesawat Garuda Indonesia Boeing 777-300ER rego PK-GII dengan cat SkyTeam ini dari Singapura ke Amsterdam.

Rute tiga teratas (berdasarkan frekuensi):
1. Amsterdam – Paris CDG (14,93%)
2. Paris CDG – Amsterdam (11,94%)
3. Paris CDG – Lyon (4,48%)

Penerbangan kebebasan kelima:
1. Garuda Indonesia GA88 (Singapore – Amsterdam): 3 Desember 2017

Berdasarkan maskapai

Aku terbang paling sering dengan Air France tahun ini.

Maskapai tiga teratas (berdasarkan frekuensi):
1. Air France (35,82%)
2. KLM Royal Dutch Airlines (27,37%)
3. KLM Cityhopper (10,45%)

Maskapai tiga teratas (berdasarkan total jarak):
1. Garuda Indonesia (15.036 mil/24.198 km)
2. Air France (12.436 mil/20.014 km)
3. KLM Royal Dutch Airlines (11.447 mil/18.422 km)

Maskapai baru bagiku:
1. Alitalia Cityliner (CT)
2. SkyWest Airlines (OO)

Berdasarkan bandara

Akhirnya aku mengunjungi Terminal 3 Ultimate di Bandara Soekarno-Hatta tahun ini.

Tiga bandara teratas (berdasarkan total aktivitas):
1. Amsterdam Schiphol (31,34%)
2. Paris – Charles De Gaulle (24,63%)
3. Lyon – Saint Exupery (4,48%)

Bandara-bandara baru bagiku:
1. Genoa Cristoforo Colombo (GOA)
2. Strasbourg (SXB)
3. Bordeaux-Merignac (BOD)
4. Zurich Kloten (ZRH)
5. Bremen Hans Koschnick (BRE)
6. Berlin Tegel (TXL)
7. Cardiff (CWL)
8. Newcastle (NCL)
9. San Francisco International Airport (SFO)
10. Los Angeles International Airport (LAX)

Berdasarkan tipe pesawat

Aku terbang dengan Embraer 175 untuk pertama kalinya tahun ini.

Tiga tipe pesawat teratas (berdasarkan frekuensi):
1. Boeing 737-800 (14,93%)
1. Boeing 737-700 (14,93%)
1. Airbus A320-200 (14,93%)

Tiga tipe pesawat teratas (berdasarkan total jarak):
1. Boeing 777-300ER (19.908 mil/32.038 km)
2. Boeing 787-9 Dreamliner (5.948 mil/9.572 km)
3. Boeing 737-700 (3.565 mil/5.737 km)

Tipe pesawat baru:
1. Embraer ERJ175
2. Boeing 787-9 Dreamliner


Ya, begini lah ringkasan penerbanganku di tahun 2017.

Walaupun, aku perhatikan, walaupun aku terbang lebih sering daripada tahun lalu atau tahun sebelumnya, entah mengapa aku merasa di beberapa hal tahun ini kok “kurang seru” gitu ya,. Mungkin ini adalah tanda bahwa di tahun 2018 aku harus lebih “bertualang” lagi? Hmm…

Yah, kita lihat saja deh! 😉

#2020 – My Favorite Landing Runways of AMS and CDG


Since 2014, Amsterdam’s Schiphol and Paris’ Charles De Gaulle have been the two airports I travel to/from the most. This is hardly surprising given that I am residing in the Netherlands and KLM and Air France are basically married, haha. Anyway, an implication of using both airports a lot is that I have started to form a preference regarding on which runway/direction my flight would land at both.

Of Schiphol (AMS)

Clearly, not the Polderbaan.

I have previously mentioned that Schiphol’s runway 18R/36L, or also known as the Polderbaan, is my least favorite of the airport’s six runways due to its distance from the terminal building. At the time, I mentioned that I liked the other five equally and had no preference amongst them. However, though, things start to have changed a little 😛 .

My rather recent boring Avgeek Weekend Trip made me realize that I think I have developed a “preference” for one of the five runways; but only for landing. And that is: runway 09/27, or also known as the Buitenveldertbaan; and specifically runway 27 because, from my empirical observations, landing is performed on the runway 27 side while take-off from the runway 09 side for Buitenveldertbaan. And here is why:

Landing path of flight KL1246 at the Buitenveldertbaan. Map is from flightradar24.

The map above shows the landing path of my flight KL1246 that evening. As you can see, landing at runway 27 would require the plane to fly above the southern part of Amsterdam. Hence, if you are seated on the window seat in the right side of the plane, you would be provided with a really cool bird’s eyes view of the city!

Of Paris – Charles De Gaulle (CDG)

For the same reason as for runway 27 of Schiphol, my favorite landing runway of Paris-CDG is runway 08R. Landing on this runway would mean the plane would have to fly above the beautiful city of Paris. For instance, here is the landing path of flight AF7641 I took a few months ago with an Air France’s Dreamliner from Lyon:

Landing path of flight AF7641 at runway 08R. A screenshot from flightradar24 app.

This means that if you are seated on the window seat in, again, the right side of the plane, you would be provided with a bird’s eye view of the city! There are exceptions, of course, for instance on flight AF 7641 I took above. A landing path like this would also provide passengers sitting on window seats on the left side of the plane with a cool view of Paris.

A bird’s eye view of Paris!! You can spot the Eiffel Tower, Arc de Triomphe, and the famous Champs-Élysées here.

Paris-CDG Airport is equipped with four parallel runways, so why runway 08R in particular and not runway 08L, 09L, or 09R? In the screenshot above, you can clearly see that the airport is located to the north east of Paris. Runway 08R is the southern most runway of the airport and, hence, landing on this runway would mean that you would get the best possible (closest) view of Paris than when landing on any other runways!


Sejak tahun 2014, Bandara Schiphol di Amsterdam dan Bandara Charles De Gaulle di Paris telah menjadi dua bandara dari mana aku terbang ke/dari paling sering. Ini tidak mengherankan sih karena aku tinggal di Belanda dan KLM dan Air France kan pada dasarnya suatu kesatuan ya, haha. Anyway, satu implikasi dari ini adalah aku mulai membentuk preferensi mengenai landasan pacu/arah pendaratan favoritku ketika mendarat di kedua bandara.

Untuk Schiphol (AMS)

Jelas bukan Polderbaan.

Sudah kusebutkan sebelumnya bahwa landasan pacu 18R/36Lnya Schiphol, alias Polderbaan, adalah yang paling tidak kusukai dari enam landasan pacu bandaranya karena jaraknya yang jauh dari gedung terminal. Waktu itu kusebutkan bahwa aku menyukai lima landasan pacu lainnya secara sama rata lah. Namun, ternyata aku sudah sedikit berubah, haha 😛 .

Perjalanan Avgeek Weekend Tripku yang membosankan baru-baru ini membuatku menyadari bahwa aku mulai membentuk “preferensi” untuk satu dari lima landasan pacu lain bandaranya; tetapi untuk mendarat saja. Dan landasan pacu itu adalah landasan pacu 09/27, atau dikenal juga dengan nama Buitenveldertbaan; dan khususnya landasan pacu 27 karena, dari pengamatan empirisku, pendaratan selalu dilakukan di sisi landasan pacu 27 sih sementara lepas landas dari sisi landasan pacu 09 untuk Buitenveldertbaan. Berikut ini alasannya:

Jejak pendaratan penerbangan KL1246 di Buitenveldertbaan. Peta dari flightradar24.

Peta di atas menunjukkan rute pendaratan penerbangan KL1246ku malam itu. Seperti yang bisa dilihat, mendarat di landasan pacu 27 berarti pesawatnya harus terbang di atas Amsterdam bagian selatan. Jadi, jika kita duduk di kursi jendela di sebelah kanan pesawat, kita akan mendapatkan pemandangan yang kece akan kotanya!

Untuk Paris – Charles De Gaulle (CDG)

Untuk alasan yang sama seperti landasan pacu 27 Bandara Schiphol, landasan pacu favoritku untuk mendarati di Paris-CDG adalah landasan pacu 08R. Mendarat di landasan pacu ini berarti pesawatnya harus terbang di atas kota Paris. Misalnya saja, berikut ini jejak rute pendaratan penerbangan AF7641ku dari Lyon yang kunaiki beberapa bulan yang lalu dengan Dreamlinernya Air France:

Rute pendaratan penerbangan AF7641 di landasan pacu 08R. Sebuah screenshot dari app flightradar24.

Ini berarti jika kita duduk di kursi jendela, lagi, di sisi kanan pesawat, kita akan diberikan pemandangan yang kece akan kotanya! Eh, ada pengecualian sih memang, seperti misalnya penerbangan AF7641ku di atas. Rute pendaratan semacam ini juga memberikan pemandangan keren kota Paris bagi penumpang yang duduk di sisi kiri sih.

Pemandangan kota Paris dari atas!! Di foto ini, kita bisa melihat Menara Eiffel, Arc de Triomphe, dan Champs-Élysées yang terkenal itu.

Bandara Paris-CDG dilengkapi dengan empat landasan pacu paralel. Jadi mengapa kok aku hanya suka landasan pacu 08R saja, dan bukannya landasan pacu 08L, 09L, atau 09R? Nah, di screenshot di atas, bisa kita lihat bahwa bandaranya berlokasi di timur lautnya Paris. Landasan pacu 08R adalah landasan pacu paling selatan dari bandara ini sehingga mendarat di landasan pacu ini akan memberikan pandangan yang terbaik (paling dekat) dengan kota Paris daripada di landasan pacu lainnya.

#2009 – KLM’s Fokker 70


I believe I have mentioned this a few times here in this blog. And finally, the time has come. This weekend, KLM officially retired all their Fokker 70s from operation, with the last flight being flight KL1070 from London-Heathrow operated by, fittingly, PH-KZU.

KLM Cityhopper’s Fokker 70 reg PH-KZU in Anthony Fokker special livery.

Here is the official special video from KLM of their Fokker 70’s last ever commercial flight that day:

As a true avgeek, obviously the thought of flying with one of these last flights one more time had crossed my mind. In fact, in September KLM officially published the final schedules of these beauty. But then, I also quickly learned the fact that the ticket price for these flights had significantly soared. For instance, here is how the ticket for the last Fokker 70 flight KL1070 was in comparison to the other KLM’s (many) daily flights from London-Heathrow to Amsterdam:

The ticket price for the last Fokker 70 flight

I mean, as much as I would have loved to be a part of this, I still had some sense as well, thankfully, haha. I decided to give it a pass. Nevertheless, I just flew with a Fokker 70 not too long ago anyway 🙂 .

My last flight with a KLM Cityhopper’s Fokker 70 was with this PH-KZB on the way to Cardiff in September.

However, I will surely miss these Fokkers! I mean, of course they are of the older planes. In fact, Fokker 70’s launch customer was Indonesia’s Sempati Air! But to be honest, these days flying an older plane isn’t actually always bad. You see, Fokker 70 was developed in the 1990s, way before the boom of LCCs. And my conjecture is that Fokker 70 was, understandably, not designed for LCC airlines. This means: in the designing process, they took into the account passengers’ comfort more (In very simplified terms, with LCC airlines, you would want to fit as many people as possible in the plane). As an evidence of this, here is the legroom in a standard economy seat on board a KLM Cityhopper’s Fokker 70:

The regular economy seat legroom on board PH-WXD.

Yep, it even allowed me to stretch my legs! Haha 😛

On the other hand, of course being from an older generation means that this type is not the quiettest plane ever built; especially when you are seated at the rear of the plane where the two engines are located. However, I would definitely miss the following view from a window seat at the rear of the plane:

Taking off from runway 04R of Copenhagen Airport (CPH) with a Fokker 70.

Aside from the view, another aspect of the plane design which I will definitely miss is the integrated door and stairs design! I don’t know, I just really like this combo design! Okay, a few other plane types, such as the Bombardier CRJ series, are also equipped with main doors like this. But still, this means that this already “vulnurable” design has become even more endangered! Haha 😛

I adore Fokker 70’s stairs-door!!

Yeah, it is definitely quite a sad time for me when a plane type is being retired from the fleet of an airline, especially if the type is rather “anti-mainstream” (like the retirement of KLM’s MD11 three years ago). Even though in this case, unlike the MD11, several airlines are still operating the Fokker 70s. In fact, the Fokker 70s KLM Cityhopper just retired are now still active with a few other airliners, namely Air Niugini of Papua New Guinea and fly AllWays of Suriname, haha.

Anyway, here are some photos from the trips I have taken with this beauty over the years with KLM Cityhopper:


Aku yakin hal ini sudah aku sebutkan beberapa kali di blog ini. Dan akhirnya, waktunya tiba juga. Akhir pekan kemarin, KLM secara resmi memensiunkan semua pesawat Fokker 70nya, dengan penerbangan terakhirnya adalah penerbangan KL1070 dari London-Heathrow yang dioperasikan dengan, seperti selayaknya, PH-KZU.

Fokker 70nya KLM Cityhopper rego PH-KZU dengan livery spesial Anthony Fokker.

Berikut ini video spesial resmi dari KLM yang berisikan penerbangan komersil terakhir mereka dengan Fokker 70 hari itu:

Sebagai avgeek sejati, jelas dong aku sempat kepikiran untuk terbang dengan salah satu penerbangan terakhir ini. Malahan, September kemarin KLM resmi mengumumkan jadwal terakhir dari si ganteng ini. Tetapi kemudian, aku juga disadarkan bahwa harga tiket untuk penerbangan-penerbangan terakhir ini juga sudah naik banyak banget dong. Misalnya saja, berikut ini harga tiket untuk penerbangan terakhir Fokker 70 KL1070 dibandingkan dengan penerbangan-penerbangan KLM lainnya dari London-Heathrow ke Amsterdam:

Harga tiket untuk penerbangan terakhir dengan pesawat Fokker 70

Ya walaupun suka tapi aku mah, untungnya, masih realistis dan berakal-sehat lah ya, haha. Aku memutuskan untuk melewatkan kesempatan ini. Toh aku juga baru saja terbang dengan sebuah Fokker 70 belum lama ini kan 🙂 .

Penerbangan terakhirku dengan Fokker 70nya KLM Cityhopper adalah dengan PH-KZB ini di perjalananku ke Cardiff September kemarin.

Namun, aku tahu pasti bahwa aku akan kangen dengan para Fokker ini! Memang sih mereka adalah pesawat tua. Malahan, launch customer-nya Fokker 70 itu adalah maskapai Indonesia Sempati Air loh! Tetapi sebenarnya, sekarang-sekarang ini mah terbang dengan pesawat tua itu tidak lah selalu buruk. Mengapa? Jadi disain pesawat Fokker 70 ini dikembangkan di tahun 1990an, artinya sebelum maskapai LCC menjamur dan booming. Dan konjekturku adalah Fokker 70 didisain bukan untuk maskapai LCC. Ini berarti: dalam disainnya, perancangnya lebih mempertimbangkan kenyamanan penumpang (Secara sederhananya, untuk maskapai LCC, pokoknya kita ingin memasukkan sebanyak mungkin penumpang ke dalam pesawat). Sebagai tanda dari ini, berikut ini ruang kaki di kursi ekonomi reguler di dalam pesawat Fokker 70nya KLM Cityhopper:

Ruang kaki di kursi kelas ekonomi reguler di dalam PH-WXD.

Iya loh, bahkan bisa selonjoran! Haha 😛 .

Di sisi lain, tentu saja pesawat tua juga berarti memang tipe ini bukanlah yang bermesin paling senyap sih; apalagi kalau duduknya pas di belakang di dekat dua mesinnya itu, haha. Eh, tapi duduk di kursi belakang Fokker 70 itu juga memberikan pemandangan yang jelas akan aku kangeni ini loh:

Lepas landas dari landasan pacu 04R Bandara Kopenhagen (CPH) dengan sebuah Fokker 70.

Di samping pemandangannya, satu aspek lain dari disain pesawatnya yang akan aku kangeni adalah pintunya yang terintegrasi dengan tangga! Nggak tahu ya, aku suka aja gitu dengan disain kombo ini! Oke, memang sih ada sedikit tipe pesawat lainnya, misalnya Bombardier seri CRJ, yang juga dilengkapi dengan pintu berjenis ini. Tapi tetap aja lah, ini artinya disain yang sudah “langka” ini menjadi semakin terancam punah kan! Haha 😛 .

Aku suka banget pintu-tangganya Fokker 70!!

Iya, memang adalah waktu sedih bagiku ketika sebuah tipe pesawat dipensiunkan oleh sebuah maskapai, apalagi kalau tipenya cukup “anti-mainstream” kan ya (seperti misalnya ketika KLM memensiunkan MD11 tiga tahun yang lalu). Walaupun dalam kasus ini, nggak seperti ketika MD11 dulu, masih ada beberapa maskapai lain yang mengoperasikan Fokker 70 sih. Malahan, sebenarnya Fokker 70-Fokker 70nya yang dipensiunkan KLM Cityhopper ini sekarang masih aktif beroperasi untuk beberapa maskapai lain loh, misalnya Air Niugini di Papua Nugini dan fly AllWays di Suriname, haha.

Anyway, di atas aku buat sebuah galeri berisi foto-foto dari perjalanan-perjalananku dengan si ganteng ini beberapa tahun belakangan dengan KLM Cityhopper.

#2001 – AvGeek Weekend Trip #12 (AMS – CDG – LHR – CDG – AMS)


I went on an Avgeek Weekend Trip this weekend which was very interesting as it involved an Air France’s brand new (not even a month old) Boeing 787-9 Dreamliner. And here is the story of this fun weekend trip I just had.

The routing this weekend. Created with: gcmap.com

So as you know the routing this time was Amsterdam – Paris-CDG – London-Heathrow and back. And so I have decided to skip the Amsterdam – Paris-CDG vv part because I have flown this route so many times, haha. I would just go as far as saying that I flew an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXL and a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGW on these two flights.

An Air France’s Airbus A320-200 F-GKXL

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGW.

Paris – CDG, Terminal 2E Hall K

After arriving in Paris, I checked the transfer monitor and learned that my connecting flight to London would depart from Hall K of Terminal 2E. So I followed the signage to this hall, which was at the other side of Paris Charles De Gaulle Airport’s Terminal 2. I cleared immigration as well during this transfer, which was really a breeze because there was noone else, haha 😛 .

At Hall K, I immediately went to the Air France’s lounge there. I just realized that this was actually my first time at a non-Schengen Air France Lounge at Paris-CDG Airport! Haha 😛 . The lounge was really spacious, much more spacious than the two lounges at Terminal 2F, though the offering was pretty much the same.

Salon Air France at Terminal 2E Hall K

About an hour before departure, I left the lounge to look for the gate. Though I was travelling via Paris-CDG a lot, this was actually just my second time using its Hall K (the first time was when I was catching my Japan Airlines flight to Tokyo-Narita 2.5 years ago), so I wasn’t that familiar with this hall. The interior design of Paris – CDG Terminal 2E’s Hall K was really beautiful, btw. However, it was clearly not designed for avgeeks because it was very difficult to take pictures of the planes parked at this hall! Haha 😛

The beautiful Paris Charles De Gaulle Airport Terminal 2E Hall K

AF 1180 (CDG – LHR)

Flight: Air France AF1180
Equipment: Airbus A320-200 reg F-GKXJ with a Paris 2024 sticker
ATD: 19:24 CET (Runway 08L of CDG)
ATA: 19:14 BST (Runway 27R of LHR)

Anyway, my flight to London today would be operated with an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXJ, which was plastered with a Paris 2024 sticker. F-GKXJ was actually parked at the gate next to the Air France Lounge and so I knew that this plane had been sitting there for quite some time. I guess due to the importance of its London-Heathrow route (London-Heathrow is considered as one of the most “premium” airports, in terms of the type of passengers it attracts, in the industry), Air France wouldn’t want to take the risk of any of its London-Heathrow flights being delayed; and so the long on-the-ground time.

An Air France’s Airbus A320-200 F-GKXJ with Paris 2024 sticker

Long story short, I boarded the plane and sat at my 6A seat in the first row of economy today. Not too long after, the push back began and the flight departed. We took off from runway 08L of Paris-CDG and headed northwest towards London. It was a short flight so the complimentary snack service was provided right away.

A flight to London-Heathrow wouldn’t be complete without the plane having to make a few turns above London before being allowed to land, haha. Unfortunately there was some cloud hanging above the city today so I couldn’t really see anything. Anyway, at 19:14 local time we landed at runway 27R of London-Heathrow Airport.

Landing at runway 27R of London-Heathrow

We had to taxi for quite a distance and time (due to the airport’s crowdedness), where I spotted a Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER being prepared for its non-stop flight back to Jakarta later tonight. And finally, we parked at a gate in Terminal 4 at the south part of the airport.


The last and only other time I was entering the UK via Heathrow was more than four years ago, haha. And I, sort of, forgot the possible inconvenience of entering London via this popular airport: a really long line at immigration!! The line was so long that I remembered the last time I encountered a line at least this “bad” was when I arrived in New York from Mexico City almost two years ago! While I wasn’t spending 90 minutes just for queuing this time (it was closer to 45 I think), it made me think that the next time I would travel to London, it would be better to arrive at London City Airport! Haha 😛

Rump steak for dinner

Anyway, I spent a night at a hotel nearby the airport today, where I also had my rump steak dinner.

The next morning, I checked out just before 7 AM to catch my 9:45 AM flight back to Paris. I already had my mobile boarding pass so I headed straight to security. The officer noticed the “Sky Priority” tag in my boarding pass and informed me that this allowed me to use the VIP security lane. Yeay! I didn’t have to queue with this lane and I cleared security in less than two minutes, haha.

The entrance to the SkyTeam Lounge at Heathrow

Once in the departure area, I looked for the SkyTeam Lounge at the airport. You see, London-Heathrow is not a SkyTeam airport but its importance means that a lot of SkyTeam airlines are using it. So to cater this, SkyTeam invests in a lounge at the airport’s Terminal 4, where most SkyTeam airlines fly to (Strangely, Garuda Indonesia operates from Terminal 3 despite it being a SkyTeam member).

The entrance to the lounge was quite small but the lounge itself was actually quite spacious, as it had two floors! I went to the upstairs area because the attendant told me breakfast was served there. The breakfast was actually quite decent with a selection of English or continental all you can eat breakfast. The design of the lounge itself was also really cool and looked so much better than the overall “outdated” feel of Terminal 4 of Heathrow, haha.

SkyTeam Lounge at Heathrow

AF 1681 (LHR-CDG)

Flight: Air France AF1681
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC
ATD: 10:22 BST (Runway 27R of LHR)
ATA: 12:07 BST (Runway 26L of CDG)

I was very excited when I saw in my Flightradar24 app that my flight today would be operated with F-HRBC, Air France’s newest Boeing 787-9 Dreamliner that wasn’t even one month old! Unfortunately, the flight used Gate 2 today which was a horrible gate at the terminal because it was impossible to take a good picture of the plane! Haha 😛

Long story short, I boarded F-HRBC and sat at seat 18K. This time, I sat in the regular economy cabin unlike my last trip with an Air France’s Dreamliner where I sat in the premium economy cabin. I deliberately chose not to “upgrade” myself for the small fee because I would like to compare the two cabins, haha.

The regular economy cabin of Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC

The regular economy cabin was actually quite comfortable with good seat pitch and Air France’s newest IFE (Air France Touch). After all passengers boarded, the flight departed and the very chic safety demo was played on the IFE.

Don’t forget to put on your safety belt as, aside from ensuring our safety, it also elegantly hightlights your waistline…

Anyway, a departure from London-Heathrow wouldn’t also be complete without experiencing its traffic jam for take-off, haha. The departure runway this morning was runway 27R so we had to taxi for quite some distance there, and we encountered quite a traffic jam as we were nearing the runway. This doesn’t happen that often at Schiphol or Paris-CDG, and reminded me of Soekarno-Hatta International Airport in Jakarta! Haha 😛 .

Traffic jam at Heathrow

Long story short, we finally took off and began our short hop to Paris-CDG. As in flight AF1180, the service began immediately after take-off. A Boeing 787-9 was a much bigger plane than an Airbus A320 so I could imagine the flight attendants must be feeling some kind of time pressure for the service, and they did a really great job! Overall it was a very pleasant and smooth flight with Air France’s F-HRBC. At 12:07 local time, we landed at runway 26R of Paris-CDG Airport.

Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC at Paris-CDG

The plane parked at Terminal 2E Hall L. Then I cleared security and immigration to transfer to Terminal 2F to catch my last flight of this trip back to Amsterdam with KLM.


Aku pergi dalam sebuah Avgeek Weekend Trip akhir pekan kemarin yang mana seru banget karena melibatkan sebuah Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France yang baru banget (bahkan umurnya belum ada satu bulan). Dan berikut ini cerita dari akhir pekan seruku ini.

Rute akhir pekan ini. Dibuat dengan: gcmap.com

Rute kali ini adalah Amsterdam – Paris-CDG – London-Heathrow pp. Dan sudah kuputuskan aku tidak akan membahas penerbangan pp Amsterdam – Paris-CDGku karena aku sudah sering banget terbang di rute ini, haha. Cuma akan kusebutkan bahwa aku terbang dengan pesawat Airbus A320-200 rego F-GKXLnya Air France dan Boeing 737-700 rego PH-BGWnya KLM di dua penerbangan ini.

Sebuah Airbus A320-200 F-GKXLnya Air France

Sebuah Boeing 737-700 PH-BGWnya KLM.

Paris – CDG, Terminal 2E Hall K

Setelah tiba di Paris, aku mengecek monitor penerbangan transit dan aku diberi-tahu bahwa penerbangan lanjutanku ke London akan berangkat dari Hall K di Terminal 2E. Aku mengikuti petunjuk jalan ke arah sana, yang mana berada di sisi lain dari Terminal 2nya Bandara Charles De Gaulle. Aku melewati imigrasi ketika transit ini, yang mana berlangsung mulus banget karena nggak ada penumpang lain selain aku sehingga nggak perlu antri, haha 😛 .

Di Hall K, aku langsung pergi ke lounge-nya Air France di sana. Aku baru sadar bahwa ini adalah kali pertama aku mampir di sebuah lounge non-Schengennya Air France di Bandara Paris-CDG loh! Haha 😛 . Lounge-nya sendiri amat luas, lebih luas dari dua lounge-nya di Terminal 2F, walaupun layanannya sih kurang lebih sama lah.

Salon Air France di Terminal 2E Hall K

Sekitar satu jam sebelum waktu keberangkatan, aku meninggalkan lounge-nya menuju ke gate. Walaupun aku sering terbang melewati Bandara Paris-CDG, ini baru lah kali kedua aku menggunakan Hall K-nya (kali pertama adalah ketika aku menaiki penerbangan Japan Airlines ke Tokyo-Narita 2,5 tahun lalu), jadi aku kurang begitu familier dengan hall ini. Disain interior hall ini indah dan kece banget sebenarnya, btw. Namun, jelas disainnya tidak ramah untuk avgeek karena sulit sekali untuk bisa mendapatkan foto pesawat yang diparkir di hall ini dengan oke! Haha 😛

Terminal 2E Hall K Bandara Charles De Gaulle Paris yang indah dan kece banget.

AF 1180 (CDG – LHR)

Penerbangan: Air France AF1180
Pesawat: Airbus A320-200 reg F-GKXJ dengan stiker Paris 2024
ATD: 19:24 CET (Runway 08L of CDG)
ATA: 19:14 BST (Runway 27R of LHR)

Anyway, penerbanganku ke London hari ini dioperasikan dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXJ, yang ditempeli stiker Paris 2024. F-GKXJ sebenarnya diparkir di gate di sebelah lounge-nya Air France jadi aku tahu bahwa pesawat ini sudah diparkir di sana lumayan lama. Aku kira karena pentingnya rute London-Heathrow (London-Heathrow banyak dipandang sebagai satu dari bandara yang “premium”, dari segi tipe penumpang yang bepergian ke sana, di industri penerbangan), Air France tidak mau ambil risiko yang bisa menyebabkan penerbangan-penerbangan ke London-Heathrow terlambat; makanya pesawatnya diparkir lama di darat.

Sebuah Airbus A320-200 F-GKXJnya Air France dengan stiker Paris 2024

Singkat cerita, aku menaiki pesawatnya dan duduk di kursi 6A di barisan pertama ekonomi hari ini. Tak lama setelahnya, pesawat didorong mundur dan berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 08L Bandara Paris-CDG dan kemudian berbelok ke arah barat laut menuju London. Karena durasi penerbangannya yang singkat, layanan snack langsung disajikan.

Yang namanya penerbangan ke London-Heathrow tak akan lengkap tanpa yang namanya berputar-putar dulu di atas London sebelum diberikan izin mendarat, haha. Sayangnya, langit London berawan malam ini sehingga aku tidak bisa melihat apa-apa. Anyway, jam 19:14 waktu setempat kami mendarat di landasan pacu 27R Bandara Heathrow.

Mendarat di landasan pacu 27R Bandara London-Heathrow

Kami harus taxiing cukup jauh dengan waktu lumayan lama (soalnya bandaranya ramai banget), dimana aku bisa melihat sebuah Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia sedang disiapkan untuk penerbangan non-stopnya ke Jakarta malam itu. Dan akhirnya, pesawat diparkir di Terminal 4 di sisi selatan bandaranya.


Pertama dan terakhir kalinya aku masuk ke UK melalui Heathrow sebelum hari ini adalah lebih dari empat tahun yang lalu, haha. Jadilah aku lupa mengenai kemungkinan ketidak-nyamanannya masuk ke London melalui bandara ini: antrian imigrasi yang gila panjangnya!! Antriannya panjang banget sampai aku langsung teringat terakhir kali aku menghadapi antrian imigrasi yang “separah” ini adalah ketika aku tiba di New York dari Mexico City hampir dua tahun yang lalu! Walaupun memang sih aku tidak menghabiskan 90 menit untuk mengantri kali ini (sekitar 45an lah), ini membuatku berpikir bahwa untuk perjalananku ke London yang selanjutnya, mendingan aku terbang ke Bandara London City aja deh! haha 😛

Rump steak untuk makan malam

Anyway, aku menginap semalam di hotel di dekat bandara hari ini, dimana aku juga makan rump steak untuk makan malam.

Keesokan paginya, aku check-out sebelum jam 7 pagi untuk mengejar penerbangan jam 9:45ku ke Paris. Aku sudah memiliki mobile boarding pass sehingga aku langsung menuju ke area sekuriti. Petugasnya melihat label “Sky Priority” di boarding pass-ku dan memberi-tahuku bahwa dengannya aku bisa masuk melalui jalur pemeriksaan VIP. Hore! Di jalur ini aku nggak perlu ngantri dan melewati pemeriksaan sekuriti total dalam waktu kurang dari dua menit saja, haha.

Pintu masuk SkyTeam Lounge di Heathrow

Begitu di area keberangkatan, aku langsung mencari SkyTeam Lounge di terminal ini. London-Heathrow bukanlah bandara SkyTeam tetapi pentingnya bandara ini membuat maskapai-maskapai SkyTeam memiliki banyak penerbangan melalui bandara ini. Jadilah SkyTeam memutuskan untuk berinvestasi dengan membuka sebuah lounge di Terminal 4 bandara ini, dimana kebanyakan penerbangan SkyTeam diberangkatkan (Anehnya, Garuda Indonesia beroperasi di Terminal 3 padahal Garuda kan anggota SkyTeam juga).

Pintu masuk lounge ini cukup kecil tetapi lounge-nya sendiri luas loh, dua lantai pula! Aku naik ke lantai atas karena petugasnya memberi-tahuku bahwa sarapan disajikan di sana. Pilihan sarapannya sendiri cukup oke dimana ada sarapan ala Inggris atau kontinental dengan model all you can eat. Disain lounge-nya sendiri juga keren banget dan nampak jauh lebih modern daripada Terminal 4nya Heathrow yang terasa “usang”, haha.

SkyTeam Lounge di Heathrow

AF 1681 (LHR-CDG)

Penerbangan: Air France AF1681
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC
ATD: 10:22 BST (Runway 27R of LHR)
ATA: 12:07 BST (Runway 26L of CDG)

Aku merasa bersemangat banget ketika aku lihat di app Flightradar24-ku bahwa penerbanganku akan dioperasikan dengan F-HRBC, Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France yang paling baru yang umurnya bahkan belum ada satu bulan! Sayangnya, penerbangan hari ini menggunakan Gate 2 yang mana merupakan gate di terminal ini yang menyebalkan sekali karena tidak mungkin bagiku untuk bisa memfoto pesawatnya dengan sudut yang baik! haha 😛

Singkat cerita, aku menaiki F-HRBC dan duduk di kursi 18K. Kali ini, aku duduk di kabin ekonomi reguler, tidak seperti penerbanganku sebelumnya dengan Dreamlinernya Air France dimana aku duduk di kabin premium economy. Sengaja aku memilih untuk tidak meng-“upgrade” kursiku dengan biaya yang sebenarnya tidak terlalu mahal karena aku ingin membandingkan dua kabinnya, haha.

Kabin ekonomi reguler Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBCnya Air France

Kabin ekonomi regulernya ternyata cukup nyaman dengan seat pitch kursi yang oke dan IFE terbarunya Air France (Air France Touch). Setelah semua penumpang naik pesawat, kami berangkat dan video peragaan keselamatan yang chic banget itu dimainkan di layar IFEnya.

Jangan lupa memasang sabuk pengaman karena, selain untuk memastikan keselamatan Anda, sabuknya juga meng-highlight lingkar pinggang Anda dengan elegan…

Anyway, yang namanya keberangkatan dari London-Heathrow tak akan komplit tanpa mengalami yang namanya kemacetan sebelum lepas landas, haha. Landasan pacu keberangkatan pagi ini adalah landasan 27R sehingga kami harus taxiing lumayan jauh ke sana, dan di dekat landasannya ada kemacetan untuk menunggu giliran lepas landas. Ini hampir tidak pernah terjadi di Schiphol atau Paris-CDG, dan mengingatkan akan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta! Haha 😛 .

Kemacetan di Heathrow

Singkat cerita, kami akhirnya lepas landas dan memulai penerbangan singkat ke Paris-CDG. Seperti di penerbangan AF1180, layanan snack-nya langsung disajikan setelah lepas landas. Boeing 787-9 berukuran lebih besar daripada Airbus A320 sehingga aku paham tentu pramugari/a-nya diburu-buru waktu ya untuk layanan ini, dan mereka meng-handle-nya dengan baik! Secara umum penerbangan ini adalah penerbangan yang nyaman dan mulus dengan F-HRBCnya Air France. Jam 12:07 waktu setempat, kami mendarat di landasan pacu 26R Bandara Paris-CDG.

Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBCnya Air France di Paris-CDG

Pesawat diparkir di Hall L Terminal 2E. Lalu, aku melewati pemeriksaan sekuriti dan imigrasi ketika transit ke Terminal 2F untuk mengehjar penerbanganku kembali ke Amsterdam dengan KLM.

#1949 – The Longest “Flight-Free” Streak


As my last flight was almost five weeks ago when I flew KLM Cityhopper’s KL 1758 from Bremen to Amsterdam, this means that I am currently in the longest “flight-free” period since November 2014. At the time, I went flight-free for about 12 weeks between my Garuda Indonesia’s GA 88 from Jakarta to Amsterdam and KLM Cityhopper’s KL 1413 from Amsterdam to Lyon. Yep, since then, I have at least flown once every five weeks, haha 😛 .

KLM Cityhopper’s Fokker 70 reg PH-KZL which brought me to Amsterdam almost five weeks ago

The reasons for this were my UK visa application and also my decision to take Thalys to go to Paris about four weeks ago. I know, a total random information indeed, hahaha 😆 .

So obviously (or more like “understandably”), I miss flying, lol 😆 . And consequently, I have made a lot of future flying plans. In fact, just like last year, this past week I really felt like what is portrayed in the following (edited) Sarah Andersen’s (@sarahandersencomics on Instagram) comic strip:

Oh well…

Haha 🙈.

And to be honest, even at this point I know that I haven’t booked all the flights I will, for sure, take before the end of the year 🙈. Yep, indeed that I have some big trips coming up this year. But this is still not the right time to reveal those, yet. 😛

Anyway, everyone has their own way to indulge themselves. I guess I can say that, for now, this is mine, haha 😛 .


Karena penerbangan terakhirku adalah hampir lima minggu yang lalu ketika aku terbang dengan penerbangan KL 1758-nya KLM Cityhopper dari Bremen ke Amsterdam, ini artinya sekarang aku berada dalam periode “tanpa-terbang” terpanjang nih semenjak bulan November 2014. Waktu itu, aku tidak terbang selama sekitar 12 minggu di antara penerbangan Garuda Indonesia GA 88 dari Jakarta ke Amsterdam dan KLM Cityhopper KL 1413 dari Amsterdam ke Lyon. Iya, semenjak waktu itu, aku selalu terbang setidaknya satu kali dalam selang lima minggu, haha 😛 .

Fokker 70nya KLM Cityhopper dengan rego PH-KZL yang menerbangkanku ke Amsterdam hampir lima minggu lalu

Alasan di balik ini adalah permohonan visa UK-ku dan juga keputusanku untuk naik Thalys di perjalananku ke Paris sekitar empat minggu yang lalu. Iya, iya, memang informasi random ini, hahaha 😆 .

Jadi jelas dong (atau mungkin “maklum”), aku kangen terbang, hahaha 😆 . Dan sebagai akibatnya, aku sudah membuat banyak rencana terbang nih ke depannya. Sampai-sampai, seperti tahun lalu, seminggu terakhir ini aku merasakan apa yang digambarkan oleh komik (yang telah ku-edit sedikit) buatan Sarah Andersen (@sarahandersencomics di Instagram) berikut ini:

Ya gitu deh…

Haha 🙈.

Dan sejujurnya nih, bahkan saat ini aku tahu pasti loh aku masih belum memesan semua penerbangan yang, pasti, akan kuterbangi sebelum akhir tahun 🙈. Yep, memang aku memiliki beberapa rencana jalan-jalan besar tahun ini. Tapi sekarang ini masih belum saatnya untuk aku bagikan ceritanya 😛 .

Anyway, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk memanjakan dirinya. Aku rasa bisa kubilang bahwa, untuk saat ini, ini lah caraku ya, haha 😛 .

#1927 – AvGeek Weekend Trip #8 (AMS – BOD – CDG – AMS)


Posts in the AvGeek Weekend Trip series:
1. AvGeek Weekend Trip #1 (AMS-CDG-STR-AMS)
2. AvGeek Weekend Trip #2 (AMS-MAD-FRA-AMS)
3. AvGeek Weekend Trip #3 (AMS-LYS-NCE-AMS)
4. AvGeek Weekend Trip #4 (AMS–CDG, ORY–LYS–AMS)
5. AvGeek Weekend Trip #5 (AMS-CPH-ARN-AMS)
6. AvGeek Weekend Trip #6 (AMS-CDG, ORY-MRS-BOD-AMS)
7. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–CDG–LYS–AMS)
8. AvGeek Weekend Trip #8 (AMS–BOD–CDG–AMS)

Twelve days ago I went on another AvGeek Weekend Trip. As I said, at some point I hesitated going on this trip but in the end, and I am glad I did this, I decided to put aside the hesitation and still went. And here is the story of the trip 🙂 .


My first flight was scheduled to depart at 14:30, but I arrived at Schiphol at around 11:00 so that it was on time for brunch at KLM’s Crown Lounge, haha 😆 .

Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL 1317
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGP (“Pelicaan”)
ATD: 15:05 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 16:25 CET (Runway 23 of BOD)

At 13:45 I went to the gate only to find out that a Transavia’s Boeing 737 (in SunWeb livery) was still there but was already ready for pushback. However, this was a sign that my flight would be delayed. This was not the best circumstance especially for today where my connecting time in Bordeaux was quite tight, so I got a little bit anxious, haha 😣.

Well, at least about two minutes after the Transavia flight’s departure, the KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGP that would operate my flight parked at the gate. Indeed it was really quick! Good job, Schiphol!! Haha 😆 .

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGP named “Pelicaan” arrived at the gate some two minutes after the departure of the Transavia flight.

Nonetheless, boarding commenced about 20 minutes behind schedule. There was also a queue for take-off at runway 18L so the plane left the ground 35 minutes after the scheduled departure time, haha.

There was nothing I could do at this point beside to just be in the moment and enjoy. So along with my complimentary snack, I ordered white wine (and this was after a couple glasses of sparkling wine earlier in the lounge). This worked, though, as I felt calmer afterwards.

The complimentary snack service on board KLM’s flight KL1317 to Bordeaux.

Anyway, at 16:25 we landed at runway 23 of Bordeaux Airport. We parked at the gate next to an easyJet’s flight that just arrived from the UK. Knowing there would likely be a border control at the airport, I rushed after deboarding. Indeed there were already quite many people forming lines at the border control, but luckily the lines went quite fast, haha.

I had to change terminals in Bordeaux because I was transferring to a domestic flight but luckily the airport was not really big. I could immediately went to the security check because I already had my boarding pass. And guess what, it was still 10 minutes ahead of boarding time! I made it! Haha 😆 .

Air France’s Airbus A321-200 reg F-GTAK at Bordeaux Airport

Of course, though, I had no time to drop by at Air France’s lounge there as boarding started not long after. Interestingly (I had never experienced this before), we were told to board as quick as possible because the airport would be closed for two hours starting from 17:30 for a training. So we had to make our 17:25 departure otherwise we would be delayed at least until 19:30.

Flight: Air France AF 7637
Equipment: Airbus A321-200 reg F-GTAK
ATD: 17:29 CET (Runway 23 of BOD)
ATA: 18:27 CET (Runway 27L of CDG)

Boarding went efficiently where I settled onto my comfortable seat 1A. I found it quite funny that at 17:19, when boarding was still ongoing, the captain announced we had 11 minutes for departure, lol 😆 . We took off at 17:29, just in time before the airport closure!! 😀

A few of these planes were already in position as we were taking off from Bordeaux

It was a pleasant domestic flight with Air France; and I especially enjoyed seat 1A! Haha 😛 . About one hour later, we landed at runway 27L of Charles De Gaulle Airport in Paris.

After getting my boarding pass back to Amsterdam, I went to an Air France’s lounge. I came in with no expectation after my latest experience there just one month earlier where I was very disappointed with the meal offers. This time, though, Air France redeemed itself and the service went back to pretty much how it was before. Phew!!

The meal service at Salon Air France

The meal service at Salon Air France

Btw, the brownies in the right picture above was really, really good!

Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL 1246
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGX (“Scholekster”)
ATD: 20:29 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

At 19:45, I left the lounge and went to the gate nearby. Not long after, boarding started for flight KL1246, which would be operated by a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGX. The flight was not full today so boarding went quite quickly.

Boarding a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGX as flight KL1246 to Amsterdam.

This was a normal Paris – Amsterdam flight. Probably because it was a late flight, KLM only served a small bag of crackers instead of the usual sandwich/wrap. At least it tasted good, though. Anyway, at 21:10 we landed at the Polderbaan in Schiphol, just six hours after taking off to Bordeaux!! Hahaha 😆 .


Posting-posting dalam seri AvGeek Weekend Trip:
1. AvGeek Weekend Trip #1 (AMS-CDG-STR-AMS)
2. AvGeek Weekend Trip #2 (AMS-MAD-FRA-AMS)
3. AvGeek Weekend Trip #3 (AMS-LYS-NCE-AMS)
4. AvGeek Weekend Trip #4 (AMS–CDG, ORY–LYS–AMS)
5. AvGeek Weekend Trip #5 (AMS-CPH-ARN-AMS)
6. AvGeek Weekend Trip #6 (AMS-CDG, ORY-MRS-BOD-AMS)
7. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–CDG–LYS–AMS)
8. AvGeek Weekend Trip #8 (AMS–BOD–CDG–AMS)

Dua belas hari yang lalu aku pergi dalam rangka AvGeek Weekend Trip lagi. Seperti yang waktu itu kuceritakan, aku sedikit ragu untuk pergi dalam perjalanan ini tetapi akhirnya, dan aku lega aku memutuskan ini, aku tetap pergi. Dan berikut ini ceritanya 🙂 .


Penerbangan pertamaku dijadwalkan berangkat jam 14:30, tetapi aku tiba di Schiphol sekitar jam 11:00 supaya waktunya pas untuk brunch di Crown Lounge-nya KLM, haha 😆 .

Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL 1317
Pesawat: Boeing 737-700 reg PH-BGP (“Pelicaan”)
ATD: 15:05 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 16:25 CET (Runway 23 of BOD)

Jam 13:45 aku menuju ke gate dimana ternyata sebuah Boeing 737nya Transavia (dengan livery Sunweb) masih terparkir tetapi sudah siap untuk pushback. Hanya saja, ini adalah pertanda bahwa penerbanganku akan terlambat. Dan ini bukanlah situasi terbaik untuk hari ini dimana waktu transitku di Bordeaux amat singkat, jadilah aku sedikit merasa khawatir, haha 😣.

Yah, setidaknya sih sekitar dua menit setelah pesawatnya Transavia berangkat, sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGP, yang akan mengoperasikan penerbanganku, langsung parkir di gate-ku. Sigap dan cepat banget ya! Good job, Schiphol!! Haha 😆 .

Sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGP bernama “Pelicaan” tiba di gate sekitar dua menit setelah keberangkatan pesawatnya Transavia.

Toh walaupun begitu, boarding berlangsung 20 menit di belakang jadwal. Kebetulan juga ada antrian untuk lepas landas dari landasan pacu 18L sehingga pesawatnya baru terbang 35 menit terlambat dari jadwal, haha.

Nggak ada yang bisa kulakukan di waktu ini kecuali untuk be in the moment dan menikmatinya. Jadilah untuk menemani snack komplimennya, aku memesan anggur putih (dan ini setelah dua gelas sparkling wine di lounge, haha). Dan trik ini bekerja loh, aku merasa kalem setelahnya.

Layanan snack komplimen di penerbangan KL1317nya KLM ke Bordeaux.

Jam 16:25, kami mendarat di landasan pacu 23 Bandara Bordeaux. Kami parkir di sebelah sebuah pesawatnya easyJet yang baru saja tiba dari Inggris. Karena aku tahu akan ada pemeriksaan paspor di bandara ini, aku berjalan cepat-cepat setelah turun dari pesawat. Benar saja, sudah ada banyak orang di pemeriksaan imigrasi sehingga antrian panjang terbentuk. Untungnya sih pemeriksaannya berlangsung cepat, haha.

Aku harus pindah terminal di Bordeaux karena aku transit ke penerbangan domestik. Untungnya sih bandaranya kecil. Aku dapat langsung menuju pemeriksaan sekuriti karena aku sudah mendapatkan boarding pass. Dan ternyata waktu itu masih 10 menit sebelum jadwal boarding dong! Aku berhasil dan ternyata tidak terlambat! Haha 😆 .

Sebuah Airbus A321-200 reg F-GTAK milik Air France di Bandara Bordeaux

Tentu saja tidak ada waktu untukku mampir di lounge-nya Air France di sana karena boarding berlangsung tak lama kemudian. Menariknya (belum pernah kejadian kepadaku sebelumnya), penumpang diminta untuk naik pesawat secepat mungkin karena bandaranya akan ditutup jam 17:30 selama sekitar dua jam untuk latihan penerbangan. Jadi kami harus berangkat tepat waktu yaitu jam 17:25 sesuai jadwal. Jika tidak, kami harus menunggu setidaknya sampai jam 19:30.

Penerbangan: Air France AF 7637
Pesawat: Airbus A321-200 reg F-GTAK
ATD: 17:29 CET (Runway 23 of BOD)
ATA: 18:27 CET (Runway 27L of CDG)

Boarding berlangsung efisien dan aku duduk nyaman di kursi 1Aku. Lucu juga rasanya jam 17:19, ketika sebagian penumpang masih boarding, kapten mengumumkan bahwa kami memiliki waktu 11 menit untuk berangkat, haha 😆 . Akhirnya, kami lepas landas jam 17:29, pas banget sebelum penutupan bandaranya!! 😀

Beberapa pesawat ini sudah berbaris ketika kami lepas landas dari Bordeaux.

Ini adalah penerbangan domestik dengan Air France yang nyaman; dimana aku terutama menikmati kursi 1A! Haha 😛 . Sekitar satu jam kemudian, kami mendarat di landasan pacu 27L Bandara Charles De Gaulle di Paris.

Setelah mendapatkan boarding pass-ku untuk kembali ke Amsterdam, aku pergi ke sebuah lounge-nya Air France. Aku masuk tidak dengan ekspektasi apa-apa akibat pengalaman terakhirku kesana sekitar satu bulan sebelumnya dimana aku dikecewakan dengan layanan makanannya. Kali ini, Air France menebus dirinya kembali dan level layanannya kembali ke sedia kala. Fiuh!!

Layanan makan malam di Salon Air France

Layanan makan malam di Salon Air France

Btw, brownies di foto sebelah kanan enak banget loh!

Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL 1246
Pesawat: Boeing 737-700 reg PH-BGX (“Scholekster”)
ATD: 20:29 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

Jam 19:45, aku beranjak dari lounge dan berjalan menuju gate tidak jauh dari sana. Tak lama kemudian, boarding penerbangan KL1246 dimulai, yang mana akan dioperasikan dengan Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGX. Penerbangan ini tidak penuh hari ini sehingga boarding berlangsung cepat.

Boarding sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGX sebagai penerbangan KL1246 ke Amsterdam.

Ini adalah penerbangan normal Paris – Amsterdam. Mungkin karena penerbangan malam, KLM hanya memberikan satu bungkus kecil crackers bukannya sandwich/wrap seperti biasanya itu. Tetapi crackers-nya enak sih, haha. Anyway, jam 21:10 pesawat mendarat di Polderbaan di Schiphol, hanya sekitar enam jam setelah aku lepas landas ke Bordeaux!! Hahaha 😆 .