Aviation · My Interest

#2009 – KLM’s Fokker 70

ENGLISH

I believe I have mentioned this a few times here in this blog. And finally, the time has come. This weekend, KLM officially retired all their Fokker 70s from operation, with the last flight being flight KL1070 from London-Heathrow operated by, fittingly, PH-KZU.

KLM Cityhopper’s Fokker 70 reg PH-KZU in Anthony Fokker special livery.

Here is the official special video from KLM of their Fokker 70’s last ever commercial flight that day:

As a true avgeek, obviously the thought of flying with one of these last flights one more time had crossed my mind. In fact, in September KLM officially published the final schedules of these beauty. But then, I also quickly learned the fact that the ticket price for these flights had significantly soared. For instance, here is how the ticket for the last Fokker 70 flight KL1070 was in comparison to the other KLM’s (many) daily flights from London-Heathrow to Amsterdam:

The ticket price for the last Fokker 70 flight

I mean, as much as I would have loved to be a part of this, I still had some sense as well, thankfully, haha. I decided to give it a pass. Nevertheless, I just flew with a Fokker 70 not too long ago anyway 🙂 .

My last flight with a KLM Cityhopper’s Fokker 70 was with this PH-KZB on the way to Cardiff in September.

However, I will surely miss these Fokkers! I mean, of course they are of the older planes. In fact, Fokker 70’s launch customer was Indonesia’s Sempati Air! But to be honest, these days flying an older plane isn’t actually always bad. You see, Fokker 70 was developed in the 1990s, way before the boom of LCCs. And my conjecture is that Fokker 70 was, understandably, not designed for LCC airlines. This means: in the designing process, they took into the account passengers’ comfort more (In very simplified terms, with LCC airlines, you would want to fit as many people as possible in the plane). As an evidence of this, here is the legroom in a standard economy seat on board a KLM Cityhopper’s Fokker 70:

The regular economy seat legroom on board PH-WXD.

Yep, it even allowed me to stretch my legs! Haha 😛

On the other hand, of course being from an older generation means that this type is not the quiettest plane ever built; especially when you are seated at the rear of the plane where the two engines are located. However, I would definitely miss the following view from a window seat at the rear of the plane:

Taking off from runway 04R of Copenhagen Airport (CPH) with a Fokker 70.

Aside from the view, another aspect of the plane design which I will definitely miss is the integrated door and stairs design! I don’t know, I just really like this combo design! Okay, a few other plane types, such as the Bombardier CRJ series, are also equipped with main doors like this. But still, this means that this already “vulnurable” design has become even more endangered! Haha 😛

I adore Fokker 70’s stairs-door!!

Yeah, it is definitely quite a sad time for me when a plane type is being retired from the fleet of an airline, especially if the type is rather “anti-mainstream” (like the retirement of KLM’s MD11 three years ago). Even though in this case, unlike the MD11, several airlines are still operating the Fokker 70s. In fact, the Fokker 70s KLM Cityhopper just retired are now still active with a few other airliners, namely Air Niugini of Papua New Guinea and fly AllWays of Suriname, haha.

Anyway, here are some photos from the trips I have taken with this beauty over the years with KLM Cityhopper:

BAHASA INDONESIA

Aku yakin hal ini sudah aku sebutkan beberapa kali di blog ini. Dan akhirnya, waktunya tiba juga. Akhir pekan kemarin, KLM secara resmi memensiunkan semua pesawat Fokker 70nya, dengan penerbangan terakhirnya adalah penerbangan KL1070 dari London-Heathrow yang dioperasikan dengan, seperti selayaknya, PH-KZU.

Fokker 70nya KLM Cityhopper rego PH-KZU dengan livery spesial Anthony Fokker.

Berikut ini video spesial resmi dari KLM yang berisikan penerbangan komersil terakhir mereka dengan Fokker 70 hari itu:

Sebagai avgeek sejati, jelas dong aku sempat kepikiran untuk terbang dengan salah satu penerbangan terakhir ini. Malahan, September kemarin KLM resmi mengumumkan jadwal terakhir dari si ganteng ini. Tetapi kemudian, aku juga disadarkan bahwa harga tiket untuk penerbangan-penerbangan terakhir ini juga sudah naik banyak banget dong. Misalnya saja, berikut ini harga tiket untuk penerbangan terakhir Fokker 70 KL1070 dibandingkan dengan penerbangan-penerbangan KLM lainnya dari London-Heathrow ke Amsterdam:

Harga tiket untuk penerbangan terakhir dengan pesawat Fokker 70

Ya walaupun suka tapi aku mah, untungnya, masih realistis dan berakal-sehat lah ya, haha. Aku memutuskan untuk melewatkan kesempatan ini. Toh aku juga baru saja terbang dengan sebuah Fokker 70 belum lama ini kan 🙂 .

Penerbangan terakhirku dengan Fokker 70nya KLM Cityhopper adalah dengan PH-KZB ini di perjalananku ke Cardiff September kemarin.

Namun, aku tahu pasti bahwa aku akan kangen dengan para Fokker ini! Memang sih mereka adalah pesawat tua. Malahan, launch customer-nya Fokker 70 itu adalah maskapai Indonesia Sempati Air loh! Tetapi sebenarnya, sekarang-sekarang ini mah terbang dengan pesawat tua itu tidak lah selalu buruk. Mengapa? Jadi disain pesawat Fokker 70 ini dikembangkan di tahun 1990an, artinya sebelum maskapai LCC menjamur dan booming. Dan konjekturku adalah Fokker 70 didisain bukan untuk maskapai LCC. Ini berarti: dalam disainnya, perancangnya lebih mempertimbangkan kenyamanan penumpang (Secara sederhananya, untuk maskapai LCC, pokoknya kita ingin memasukkan sebanyak mungkin penumpang ke dalam pesawat). Sebagai tanda dari ini, berikut ini ruang kaki di kursi ekonomi reguler di dalam pesawat Fokker 70nya KLM Cityhopper:

Ruang kaki di kursi kelas ekonomi reguler di dalam PH-WXD.

Iya loh, bahkan bisa selonjoran! Haha 😛 .

Di sisi lain, tentu saja pesawat tua juga berarti memang tipe ini bukanlah yang bermesin paling senyap sih; apalagi kalau duduknya pas di belakang di dekat dua mesinnya itu, haha. Eh, tapi duduk di kursi belakang Fokker 70 itu juga memberikan pemandangan yang jelas akan aku kangeni ini loh:

Lepas landas dari landasan pacu 04R Bandara Kopenhagen (CPH) dengan sebuah Fokker 70.

Di samping pemandangannya, satu aspek lain dari disain pesawatnya yang akan aku kangeni adalah pintunya yang terintegrasi dengan tangga! Nggak tahu ya, aku suka aja gitu dengan disain kombo ini! Oke, memang sih ada sedikit tipe pesawat lainnya, misalnya Bombardier seri CRJ, yang juga dilengkapi dengan pintu berjenis ini. Tapi tetap aja lah, ini artinya disain yang sudah “langka” ini menjadi semakin terancam punah kan! Haha 😛 .

Aku suka banget pintu-tangganya Fokker 70!!

Iya, memang adalah waktu sedih bagiku ketika sebuah tipe pesawat dipensiunkan oleh sebuah maskapai, apalagi kalau tipenya cukup “anti-mainstream” kan ya (seperti misalnya ketika KLM memensiunkan MD11 tiga tahun yang lalu). Walaupun dalam kasus ini, nggak seperti ketika MD11 dulu, masih ada beberapa maskapai lain yang mengoperasikan Fokker 70 sih. Malahan, sebenarnya Fokker 70-Fokker 70nya yang dipensiunkan KLM Cityhopper ini sekarang masih aktif beroperasi untuk beberapa maskapai lain loh, misalnya Air Niugini di Papua Nugini dan fly AllWays di Suriname, haha.

Anyway, di atas aku buat sebuah galeri berisi foto-foto dari perjalanan-perjalananku dengan si ganteng ini beberapa tahun belakangan dengan KLM Cityhopper.

Advertisements
Aviation · EuroTrip · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#2001 – AvGeek Weekend Trip #12 (AMS – CDG – LHR – CDG – AMS)

ENGLISH

I went on an Avgeek Weekend Trip this weekend which was very interesting as it involved an Air France’s brand new (not even a month old) Boeing 787-9 Dreamliner. And here is the story of this fun weekend trip I just had.

The routing this weekend. Created with: gcmap.com

So as you know the routing this time was Amsterdam – Paris-CDG – London-Heathrow and back. And so I have decided to skip the Amsterdam – Paris-CDG vv part because I have flown this route so many times, haha. I would just go as far as saying that I flew an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXL and a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGW on these two flights.

An Air France’s Airbus A320-200 F-GKXL
A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGW.

Paris – CDG, Terminal 2E Hall K

After arriving in Paris, I checked the transfer monitor and learned that my connecting flight to London would depart from Hall K of Terminal 2E. So I followed the signage to this hall, which was at the other side of Paris Charles De Gaulle Airport’s Terminal 2. I cleared immigration as well during this transfer, which was really a breeze because there was noone else, haha 😛 .

At Hall K, I immediately went to the Air France’s lounge there. I just realized that this was actually my first time at a non-Schengen Air France Lounge at Paris-CDG Airport! Haha 😛 . The lounge was really spacious, much more spacious than the two lounges at Terminal 2F, though the offering was pretty much the same.

Salon Air France at Terminal 2E Hall K

About an hour before departure, I left the lounge to look for the gate. Though I was travelling via Paris-CDG a lot, this was actually just my second time using its Hall K (the first time was when I was catching my Japan Airlines flight to Tokyo-Narita 2.5 years ago), so I wasn’t that familiar with this hall. The interior design of Paris – CDG Terminal 2E’s Hall K was really beautiful, btw. However, it was clearly not designed for avgeeks because it was very difficult to take pictures of the planes parked at this hall! Haha 😛

The beautiful Paris Charles De Gaulle Airport Terminal 2E Hall K

AF 1180 (CDG – LHR)


Flight: Air France AF1180
Equipment: Airbus A320-200 reg F-GKXJ with a Paris 2024 sticker
ATD: 19:24 CET (Runway 08L of CDG)
ATA: 19:14 BST (Runway 27R of LHR)

Anyway, my flight to London today would be operated with an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXJ, which was plastered with a Paris 2024 sticker. F-GKXJ was actually parked at the gate next to the Air France Lounge and so I knew that this plane had been sitting there for quite some time. I guess due to the importance of its London-Heathrow route (London-Heathrow is considered as one of the most “premium” airports, in terms of the type of passengers it attracts, in the industry), Air France wouldn’t want to take the risk of any of its London-Heathrow flights being delayed; and so the long on-the-ground time.

An Air France’s Airbus A320-200 F-GKXJ with Paris 2024 sticker

Long story short, I boarded the plane and sat at my 6A seat in the first row of economy today. Not too long after, the push back began and the flight departed. We took off from runway 08L of Paris-CDG and headed northwest towards London. It was a short flight so the complimentary snack service was provided right away.

A flight to London-Heathrow wouldn’t be complete without the plane having to make a few turns above London before being allowed to land, haha. Unfortunately there was some cloud hanging above the city today so I couldn’t really see anything. Anyway, at 19:14 local time we landed at runway 27R of London-Heathrow Airport.

Landing at runway 27R of London-Heathrow

We had to taxi for quite a distance and time (due to the airport’s crowdedness), where I spotted a Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER being prepared for its non-stop flight back to Jakarta later tonight. And finally, we parked at a gate in Terminal 4 at the south part of the airport.

London-Heathrow

The last and only other time I was entering the UK via Heathrow was more than four years ago, haha. And I, sort of, forgot the possible inconvenience of entering London via this popular airport: a really long line at immigration!! The line was so long that I remembered the last time I encountered a line at least this “bad” was when I arrived in New York from Mexico City almost two years ago! While I wasn’t spending 90 minutes just for queuing this time (it was closer to 45 I think), it made me think that the next time I would travel to London, it would be better to arrive at London City Airport! Haha 😛

Rump steak for dinner

Anyway, I spent a night at a hotel nearby the airport today, where I also had my rump steak dinner.

The next morning, I checked out just before 7 AM to catch my 9:45 AM flight back to Paris. I already had my mobile boarding pass so I headed straight to security. The officer noticed the “Sky Priority” tag in my boarding pass and informed me that this allowed me to use the VIP security lane. Yeay! I didn’t have to queue with this lane and I cleared security in less than two minutes, haha.

The entrance to the SkyTeam Lounge at Heathrow

Once in the departure area, I looked for the SkyTeam Lounge at the airport. You see, London-Heathrow is not a SkyTeam airport but its importance means that a lot of SkyTeam airlines are using it. So to cater this, SkyTeam invests in a lounge at the airport’s Terminal 4, where most SkyTeam airlines fly to (Strangely, Garuda Indonesia operates from Terminal 3 despite it being a SkyTeam member).

The entrance to the lounge was quite small but the lounge itself was actually quite spacious, as it had two floors! I went to the upstairs area because the attendant told me breakfast was served there. The breakfast was actually quite decent with a selection of English or continental all you can eat breakfast. The design of the lounge itself was also really cool and looked so much better than the overall “outdated” feel of Terminal 4 of Heathrow, haha.

SkyTeam Lounge at Heathrow

AF 1681 (LHR-CDG)


Flight: Air France AF1681
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC
ATD: 10:22 BST (Runway 27R of LHR)
ATA: 12:07 BST (Runway 26L of CDG)

I was very excited when I saw in my Flightradar24 app that my flight today would be operated with F-HRBC, Air France’s newest Boeing 787-9 Dreamliner that wasn’t even one month old! Unfortunately, the flight used Gate 2 today which was a horrible gate at the terminal because it was impossible to take a good picture of the plane! Haha 😛

Long story short, I boarded F-HRBC and sat at seat 18K. This time, I sat in the regular economy cabin unlike my last trip with an Air France’s Dreamliner where I sat in the premium economy cabin. I deliberately chose not to “upgrade” myself for the small fee because I would like to compare the two cabins, haha.

The regular economy cabin of Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC

The regular economy cabin was actually quite comfortable with good seat pitch and Air France’s newest IFE (Air France Touch). After all passengers boarded, the flight departed and the very chic safety demo was played on the IFE.

Don’t forget to put on your safety belt as, aside from ensuring our safety, it also elegantly hightlights your waistline…

Anyway, a departure from London-Heathrow wouldn’t also be complete without experiencing its traffic jam for take-off, haha. The departure runway this morning was runway 27R so we had to taxi for quite some distance there, and we encountered quite a traffic jam as we were nearing the runway. This doesn’t happen that often at Schiphol or Paris-CDG, and reminded me of Soekarno-Hatta International Airport in Jakarta! Haha 😛 .

Traffic jam at Heathrow

Long story short, we finally took off and began our short hop to Paris-CDG. As in flight AF1180, the service began immediately after take-off. A Boeing 787-9 was a much bigger plane than an Airbus A320 so I could imagine the flight attendants must be feeling some kind of time pressure for the service, and they did a really great job! Overall it was a very pleasant and smooth flight with Air France’s F-HRBC. At 12:07 local time, we landed at runway 26R of Paris-CDG Airport.

Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC at Paris-CDG

The plane parked at Terminal 2E Hall L. Then I cleared security and immigration to transfer to Terminal 2F to catch my last flight of this trip back to Amsterdam with KLM.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam sebuah Avgeek Weekend Trip akhir pekan kemarin yang mana seru banget karena melibatkan sebuah Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France yang baru banget (bahkan umurnya belum ada satu bulan). Dan berikut ini cerita dari akhir pekan seruku ini.

Rute akhir pekan ini. Dibuat dengan: gcmap.com

Rute kali ini adalah Amsterdam – Paris-CDG – London-Heathrow pp. Dan sudah kuputuskan aku tidak akan membahas penerbangan pp Amsterdam – Paris-CDGku karena aku sudah sering banget terbang di rute ini, haha. Cuma akan kusebutkan bahwa aku terbang dengan pesawat Airbus A320-200 rego F-GKXLnya Air France dan Boeing 737-700 rego PH-BGWnya KLM di dua penerbangan ini.

Sebuah Airbus A320-200 F-GKXLnya Air France
Sebuah Boeing 737-700 PH-BGWnya KLM.

Paris – CDG, Terminal 2E Hall K

Setelah tiba di Paris, aku mengecek monitor penerbangan transit dan aku diberi-tahu bahwa penerbangan lanjutanku ke London akan berangkat dari Hall K di Terminal 2E. Aku mengikuti petunjuk jalan ke arah sana, yang mana berada di sisi lain dari Terminal 2nya Bandara Charles De Gaulle. Aku melewati imigrasi ketika transit ini, yang mana berlangsung mulus banget karena nggak ada penumpang lain selain aku sehingga nggak perlu antri, haha 😛 .

Di Hall K, aku langsung pergi ke lounge-nya Air France di sana. Aku baru sadar bahwa ini adalah kali pertama aku mampir di sebuah lounge non-Schengennya Air France di Bandara Paris-CDG loh! Haha 😛 . Lounge-nya sendiri amat luas, lebih luas dari dua lounge-nya di Terminal 2F, walaupun layanannya sih kurang lebih sama lah.

Salon Air France di Terminal 2E Hall K

Sekitar satu jam sebelum waktu keberangkatan, aku meninggalkan lounge-nya menuju ke gate. Walaupun aku sering terbang melewati Bandara Paris-CDG, ini baru lah kali kedua aku menggunakan Hall K-nya (kali pertama adalah ketika aku menaiki penerbangan Japan Airlines ke Tokyo-Narita 2,5 tahun lalu), jadi aku kurang begitu familier dengan hall ini. Disain interior hall ini indah dan kece banget sebenarnya, btw. Namun, jelas disainnya tidak ramah untuk avgeek karena sulit sekali untuk bisa mendapatkan foto pesawat yang diparkir di hall ini dengan oke! Haha 😛

Terminal 2E Hall K Bandara Charles De Gaulle Paris yang indah dan kece banget.

AF 1180 (CDG – LHR)


Penerbangan: Air France AF1180
Pesawat: Airbus A320-200 reg F-GKXJ dengan stiker Paris 2024
ATD: 19:24 CET (Runway 08L of CDG)
ATA: 19:14 BST (Runway 27R of LHR)

Anyway, penerbanganku ke London hari ini dioperasikan dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXJ, yang ditempeli stiker Paris 2024. F-GKXJ sebenarnya diparkir di gate di sebelah lounge-nya Air France jadi aku tahu bahwa pesawat ini sudah diparkir di sana lumayan lama. Aku kira karena pentingnya rute London-Heathrow (London-Heathrow banyak dipandang sebagai satu dari bandara yang “premium”, dari segi tipe penumpang yang bepergian ke sana, di industri penerbangan), Air France tidak mau ambil risiko yang bisa menyebabkan penerbangan-penerbangan ke London-Heathrow terlambat; makanya pesawatnya diparkir lama di darat.

Sebuah Airbus A320-200 F-GKXJnya Air France dengan stiker Paris 2024

Singkat cerita, aku menaiki pesawatnya dan duduk di kursi 6A di barisan pertama ekonomi hari ini. Tak lama setelahnya, pesawat didorong mundur dan berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 08L Bandara Paris-CDG dan kemudian berbelok ke arah barat laut menuju London. Karena durasi penerbangannya yang singkat, layanan snack langsung disajikan.

Yang namanya penerbangan ke London-Heathrow tak akan lengkap tanpa yang namanya berputar-putar dulu di atas London sebelum diberikan izin mendarat, haha. Sayangnya, langit London berawan malam ini sehingga aku tidak bisa melihat apa-apa. Anyway, jam 19:14 waktu setempat kami mendarat di landasan pacu 27R Bandara Heathrow.

Mendarat di landasan pacu 27R Bandara London-Heathrow

Kami harus taxiing cukup jauh dengan waktu lumayan lama (soalnya bandaranya ramai banget), dimana aku bisa melihat sebuah Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia sedang disiapkan untuk penerbangan non-stopnya ke Jakarta malam itu. Dan akhirnya, pesawat diparkir di Terminal 4 di sisi selatan bandaranya.

London-Heathrow

Pertama dan terakhir kalinya aku masuk ke UK melalui Heathrow sebelum hari ini adalah lebih dari empat tahun yang lalu, haha. Jadilah aku lupa mengenai kemungkinan ketidak-nyamanannya masuk ke London melalui bandara ini: antrian imigrasi yang gila panjangnya!! Antriannya panjang banget sampai aku langsung teringat terakhir kali aku menghadapi antrian imigrasi yang “separah” ini adalah ketika aku tiba di New York dari Mexico City hampir dua tahun yang lalu! Walaupun memang sih aku tidak menghabiskan 90 menit untuk mengantri kali ini (sekitar 45an lah), ini membuatku berpikir bahwa untuk perjalananku ke London yang selanjutnya, mendingan aku terbang ke Bandara London City aja deh! haha 😛

Rump steak untuk makan malam

Anyway, aku menginap semalam di hotel di dekat bandara hari ini, dimana aku juga makan rump steak untuk makan malam.

Keesokan paginya, aku check-out sebelum jam 7 pagi untuk mengejar penerbangan jam 9:45ku ke Paris. Aku sudah memiliki mobile boarding pass sehingga aku langsung menuju ke area sekuriti. Petugasnya melihat label “Sky Priority” di boarding pass-ku dan memberi-tahuku bahwa dengannya aku bisa masuk melalui jalur pemeriksaan VIP. Hore! Di jalur ini aku nggak perlu ngantri dan melewati pemeriksaan sekuriti total dalam waktu kurang dari dua menit saja, haha.

Pintu masuk SkyTeam Lounge di Heathrow

Begitu di area keberangkatan, aku langsung mencari SkyTeam Lounge di terminal ini. London-Heathrow bukanlah bandara SkyTeam tetapi pentingnya bandara ini membuat maskapai-maskapai SkyTeam memiliki banyak penerbangan melalui bandara ini. Jadilah SkyTeam memutuskan untuk berinvestasi dengan membuka sebuah lounge di Terminal 4 bandara ini, dimana kebanyakan penerbangan SkyTeam diberangkatkan (Anehnya, Garuda Indonesia beroperasi di Terminal 3 padahal Garuda kan anggota SkyTeam juga).

Pintu masuk lounge ini cukup kecil tetapi lounge-nya sendiri luas loh, dua lantai pula! Aku naik ke lantai atas karena petugasnya memberi-tahuku bahwa sarapan disajikan di sana. Pilihan sarapannya sendiri cukup oke dimana ada sarapan ala Inggris atau kontinental dengan model all you can eat. Disain lounge-nya sendiri juga keren banget dan nampak jauh lebih modern daripada Terminal 4nya Heathrow yang terasa “usang”, haha.

SkyTeam Lounge di Heathrow

AF 1681 (LHR-CDG)


Penerbangan: Air France AF1681
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC
ATD: 10:22 BST (Runway 27R of LHR)
ATA: 12:07 BST (Runway 26L of CDG)

Aku merasa bersemangat banget ketika aku lihat di app Flightradar24-ku bahwa penerbanganku akan dioperasikan dengan F-HRBC, Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France yang paling baru yang umurnya bahkan belum ada satu bulan! Sayangnya, penerbangan hari ini menggunakan Gate 2 yang mana merupakan gate di terminal ini yang menyebalkan sekali karena tidak mungkin bagiku untuk bisa memfoto pesawatnya dengan sudut yang baik! haha 😛

Singkat cerita, aku menaiki F-HRBC dan duduk di kursi 18K. Kali ini, aku duduk di kabin ekonomi reguler, tidak seperti penerbanganku sebelumnya dengan Dreamlinernya Air France dimana aku duduk di kabin premium economy. Sengaja aku memilih untuk tidak meng-“upgrade” kursiku dengan biaya yang sebenarnya tidak terlalu mahal karena aku ingin membandingkan dua kabinnya, haha.

Kabin ekonomi reguler Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBCnya Air France

Kabin ekonomi regulernya ternyata cukup nyaman dengan seat pitch kursi yang oke dan IFE terbarunya Air France (Air France Touch). Setelah semua penumpang naik pesawat, kami berangkat dan video peragaan keselamatan yang chic banget itu dimainkan di layar IFEnya.

Jangan lupa memasang sabuk pengaman karena, selain untuk memastikan keselamatan Anda, sabuknya juga meng-highlight lingkar pinggang Anda dengan elegan…

Anyway, yang namanya keberangkatan dari London-Heathrow tak akan komplit tanpa mengalami yang namanya kemacetan sebelum lepas landas, haha. Landasan pacu keberangkatan pagi ini adalah landasan 27R sehingga kami harus taxiing lumayan jauh ke sana, dan di dekat landasannya ada kemacetan untuk menunggu giliran lepas landas. Ini hampir tidak pernah terjadi di Schiphol atau Paris-CDG, dan mengingatkan akan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta! Haha 😛 .

Kemacetan di Heathrow

Singkat cerita, kami akhirnya lepas landas dan memulai penerbangan singkat ke Paris-CDG. Seperti di penerbangan AF1180, layanan snack-nya langsung disajikan setelah lepas landas. Boeing 787-9 berukuran lebih besar daripada Airbus A320 sehingga aku paham tentu pramugari/a-nya diburu-buru waktu ya untuk layanan ini, dan mereka meng-handle-nya dengan baik! Secara umum penerbangan ini adalah penerbangan yang nyaman dan mulus dengan F-HRBCnya Air France. Jam 12:07 waktu setempat, kami mendarat di landasan pacu 26R Bandara Paris-CDG.

Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBCnya Air France di Paris-CDG

Pesawat diparkir di Hall L Terminal 2E. Lalu, aku melewati pemeriksaan sekuriti dan imigrasi ketika transit ke Terminal 2F untuk mengehjar penerbanganku kembali ke Amsterdam dengan KLM.

General Life · Zilko's Life

#1949 – The Longest “Flight-Free” Streak

ENGLISH

As my last flight was almost five weeks ago when I flew KLM Cityhopper’s KL 1758 from Bremen to Amsterdam, this means that I am currently in the longest “flight-free” period since November 2014. At the time, I went flight-free for about 12 weeks between my Garuda Indonesia’s GA 88 from Jakarta to Amsterdam and KLM Cityhopper’s KL 1413 from Amsterdam to Lyon. Yep, since then, I have at least flown once every five weeks, haha 😛 .

KLM Cityhopper’s Fokker 70 reg PH-KZL which brought me to Amsterdam almost five weeks ago

The reasons for this were my UK visa application and also my decision to take Thalys to go to Paris about four weeks ago. I know, a total random information indeed, hahaha 😆 .

So obviously (or more like “understandably”), I miss flying, lol 😆 . And consequently, I have made a lot of future flying plans. In fact, just like last year, this past week I really felt like what is portrayed in the following (edited) Sarah Andersen’s (@sarahandersencomics on Instagram) comic strip:

Oh well…

Haha 🙈.

And to be honest, even at this point I know that I haven’t booked all the flights I will, for sure, take before the end of the year 🙈. Yep, indeed that I have some big trips coming up this year. But this is still not the right time to reveal those, yet. 😛

Anyway, everyone has their own way to indulge themselves. I guess I can say that, for now, this is mine, haha 😛 .

BAHASA INDONESIA

Karena penerbangan terakhirku adalah hampir lima minggu yang lalu ketika aku terbang dengan penerbangan KL 1758-nya KLM Cityhopper dari Bremen ke Amsterdam, ini artinya sekarang aku berada dalam periode “tanpa-terbang” terpanjang nih semenjak bulan November 2014. Waktu itu, aku tidak terbang selama sekitar 12 minggu di antara penerbangan Garuda Indonesia GA 88 dari Jakarta ke Amsterdam dan KLM Cityhopper KL 1413 dari Amsterdam ke Lyon. Iya, semenjak waktu itu, aku selalu terbang setidaknya satu kali dalam selang lima minggu, haha 😛 .

Fokker 70nya KLM Cityhopper dengan rego PH-KZL yang menerbangkanku ke Amsterdam hampir lima minggu lalu

Alasan di balik ini adalah permohonan visa UK-ku dan juga keputusanku untuk naik Thalys di perjalananku ke Paris sekitar empat minggu yang lalu. Iya, iya, memang informasi random ini, hahaha 😆 .

Jadi jelas dong (atau mungkin “maklum”), aku kangen terbang, hahaha 😆 . Dan sebagai akibatnya, aku sudah membuat banyak rencana terbang nih ke depannya. Sampai-sampai, seperti tahun lalu, seminggu terakhir ini aku merasakan apa yang digambarkan oleh komik (yang telah ku-edit sedikit) buatan Sarah Andersen (@sarahandersencomics di Instagram) berikut ini:

Ya gitu deh…

Haha 🙈.

Dan sejujurnya nih, bahkan saat ini aku tahu pasti loh aku masih belum memesan semua penerbangan yang, pasti, akan kuterbangi sebelum akhir tahun 🙈. Yep, memang aku memiliki beberapa rencana jalan-jalan besar tahun ini. Tapi sekarang ini masih belum saatnya untuk aku bagikan ceritanya 😛 .

Anyway, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk memanjakan dirinya. Aku rasa bisa kubilang bahwa, untuk saat ini, ini lah caraku ya, haha 😛 .

Aviation · EuroTrip · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#1927 – AvGeek Weekend Trip #8 (AMS – BOD – CDG – AMS)

ENGLISH

Posts in the AvGeek Weekend Trip series:
1. AvGeek Weekend Trip #1 (AMS-CDG-STR-AMS)
2. AvGeek Weekend Trip #2 (AMS-MAD-FRA-AMS)
3. AvGeek Weekend Trip #3 (AMS-LYS-NCE-AMS)
4. AvGeek Weekend Trip #4 (AMS–CDG, ORY–LYS–AMS)
5. AvGeek Weekend Trip #5 (AMS-CPH-ARN-AMS)
6. AvGeek Weekend Trip #6 (AMS-CDG, ORY-MRS-BOD-AMS)
7. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–CDG–LYS–AMS)
8. AvGeek Weekend Trip #8 (AMS–BOD–CDG–AMS)

Twelve days ago I went on another AvGeek Weekend Trip. As I said, at some point I hesitated going on this trip but in the end, and I am glad I did this, I decided to put aside the hesitation and still went. And here is the story of the trip 🙂 .

***

My first flight was scheduled to depart at 14:30, but I arrived at Schiphol at around 11:00 so that it was on time for brunch at KLM’s Crown Lounge, haha 😆 .


Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL 1317
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGP (“Pelicaan”)
ATD: 15:05 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 16:25 CET (Runway 23 of BOD)

At 13:45 I went to the gate only to find out that a Transavia’s Boeing 737 (in SunWeb livery) was still there but was already ready for pushback. However, this was a sign that my flight would be delayed. This was not the best circumstance especially for today where my connecting time in Bordeaux was quite tight, so I got a little bit anxious, haha 😣.

Well, at least about two minutes after the Transavia flight’s departure, the KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGP that would operate my flight parked at the gate. Indeed it was really quick! Good job, Schiphol!! Haha 😆 .

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGP named “Pelicaan” arrived at the gate some two minutes after the departure of the Transavia flight.

Nonetheless, boarding commenced about 20 minutes behind schedule. There was also a queue for take-off at runway 18L so the plane left the ground 35 minutes after the scheduled departure time, haha.

There was nothing I could do at this point beside to just be in the moment and enjoy. So along with my complimentary snack, I ordered white wine (and this was after a couple glasses of sparkling wine earlier in the lounge). This worked, though, as I felt calmer afterwards.

The complimentary snack service on board KLM’s flight KL1317 to Bordeaux.

Anyway, at 16:25 we landed at runway 23 of Bordeaux Airport. We parked at the gate next to an easyJet’s flight that just arrived from the UK. Knowing there would likely be a border control at the airport, I rushed after deboarding. Indeed there were already quite many people forming lines at the border control, but luckily the lines went quite fast, haha.

I had to change terminals in Bordeaux because I was transferring to a domestic flight but luckily the airport was not really big. I could immediately went to the security check because I already had my boarding pass. And guess what, it was still 10 minutes ahead of boarding time! I made it! Haha 😆 .

Air France’s Airbus A321-200 reg F-GTAK at Bordeaux Airport

Of course, though, I had no time to drop by at Air France’s lounge there as boarding started not long after. Interestingly (I had never experienced this before), we were told to board as quick as possible because the airport would be closed for two hours starting from 17:30 for a training. So we had to make our 17:25 departure otherwise we would be delayed at least until 19:30.


Flight: Air France AF 7637
Equipment: Airbus A321-200 reg F-GTAK
ATD: 17:29 CET (Runway 23 of BOD)
ATA: 18:27 CET (Runway 27L of CDG)

Boarding went efficiently where I settled onto my comfortable seat 1A. I found it quite funny that at 17:19, when boarding was still ongoing, the captain announced we had 11 minutes for departure, lol 😆 . We took off at 17:29, just in time before the airport closure!! 😀

A few of these planes were already in position as we were taking off from Bordeaux

It was a pleasant domestic flight with Air France; and I especially enjoyed seat 1A! Haha 😛 . About one hour later, we landed at runway 27L of Charles De Gaulle Airport in Paris.

After getting my boarding pass back to Amsterdam, I went to an Air France’s lounge. I came in with no expectation after my latest experience there just one month earlier where I was very disappointed with the meal offers. This time, though, Air France redeemed itself and the service went back to pretty much how it was before. Phew!!

The meal service at Salon Air France
The meal service at Salon Air France

Btw, the brownies in the right picture above was really, really good!


Flight: KLM Royal Dutch Airlines KL 1246
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGX (“Scholekster”)
ATD: 20:29 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

At 19:45, I left the lounge and went to the gate nearby. Not long after, boarding started for flight KL1246, which would be operated by a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGX. The flight was not full today so boarding went quite quickly.

Boarding a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGX as flight KL1246 to Amsterdam.

This was a normal Paris – Amsterdam flight. Probably because it was a late flight, KLM only served a small bag of crackers instead of the usual sandwich/wrap. At least it tasted good, though. Anyway, at 21:10 we landed at the Polderbaan in Schiphol, just six hours after taking off to Bordeaux!! Hahaha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri AvGeek Weekend Trip:
1. AvGeek Weekend Trip #1 (AMS-CDG-STR-AMS)
2. AvGeek Weekend Trip #2 (AMS-MAD-FRA-AMS)
3. AvGeek Weekend Trip #3 (AMS-LYS-NCE-AMS)
4. AvGeek Weekend Trip #4 (AMS–CDG, ORY–LYS–AMS)
5. AvGeek Weekend Trip #5 (AMS-CPH-ARN-AMS)
6. AvGeek Weekend Trip #6 (AMS-CDG, ORY-MRS-BOD-AMS)
7. AvGeek Weekend Trip #7 (AMS–CDG–LYS–AMS)
8. AvGeek Weekend Trip #8 (AMS–BOD–CDG–AMS)

Dua belas hari yang lalu aku pergi dalam rangka AvGeek Weekend Trip lagi. Seperti yang waktu itu kuceritakan, aku sedikit ragu untuk pergi dalam perjalanan ini tetapi akhirnya, dan aku lega aku memutuskan ini, aku tetap pergi. Dan berikut ini ceritanya 🙂 .

***

Penerbangan pertamaku dijadwalkan berangkat jam 14:30, tetapi aku tiba di Schiphol sekitar jam 11:00 supaya waktunya pas untuk brunch di Crown Lounge-nya KLM, haha 😆 .


Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL 1317
Pesawat: Boeing 737-700 reg PH-BGP (“Pelicaan”)
ATD: 15:05 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 16:25 CET (Runway 23 of BOD)

Jam 13:45 aku menuju ke gate dimana ternyata sebuah Boeing 737nya Transavia (dengan livery Sunweb) masih terparkir tetapi sudah siap untuk pushback. Hanya saja, ini adalah pertanda bahwa penerbanganku akan terlambat. Dan ini bukanlah situasi terbaik untuk hari ini dimana waktu transitku di Bordeaux amat singkat, jadilah aku sedikit merasa khawatir, haha 😣.

Yah, setidaknya sih sekitar dua menit setelah pesawatnya Transavia berangkat, sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGP, yang akan mengoperasikan penerbanganku, langsung parkir di gate-ku. Sigap dan cepat banget ya! Good job, Schiphol!! Haha 😆 .

Sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGP bernama “Pelicaan” tiba di gate sekitar dua menit setelah keberangkatan pesawatnya Transavia.

Toh walaupun begitu, boarding berlangsung 20 menit di belakang jadwal. Kebetulan juga ada antrian untuk lepas landas dari landasan pacu 18L sehingga pesawatnya baru terbang 35 menit terlambat dari jadwal, haha.

Nggak ada yang bisa kulakukan di waktu ini kecuali untuk be in the moment dan menikmatinya. Jadilah untuk menemani snack komplimennya, aku memesan anggur putih (dan ini setelah dua gelas sparkling wine di lounge, haha). Dan trik ini bekerja loh, aku merasa kalem setelahnya.

Layanan snack komplimen di penerbangan KL1317nya KLM ke Bordeaux.

Jam 16:25, kami mendarat di landasan pacu 23 Bandara Bordeaux. Kami parkir di sebelah sebuah pesawatnya easyJet yang baru saja tiba dari Inggris. Karena aku tahu akan ada pemeriksaan paspor di bandara ini, aku berjalan cepat-cepat setelah turun dari pesawat. Benar saja, sudah ada banyak orang di pemeriksaan imigrasi sehingga antrian panjang terbentuk. Untungnya sih pemeriksaannya berlangsung cepat, haha.

Aku harus pindah terminal di Bordeaux karena aku transit ke penerbangan domestik. Untungnya sih bandaranya kecil. Aku dapat langsung menuju pemeriksaan sekuriti karena aku sudah mendapatkan boarding pass. Dan ternyata waktu itu masih 10 menit sebelum jadwal boarding dong! Aku berhasil dan ternyata tidak terlambat! Haha 😆 .

Sebuah Airbus A321-200 reg F-GTAK milik Air France di Bandara Bordeaux

Tentu saja tidak ada waktu untukku mampir di lounge-nya Air France di sana karena boarding berlangsung tak lama kemudian. Menariknya (belum pernah kejadian kepadaku sebelumnya), penumpang diminta untuk naik pesawat secepat mungkin karena bandaranya akan ditutup jam 17:30 selama sekitar dua jam untuk latihan penerbangan. Jadi kami harus berangkat tepat waktu yaitu jam 17:25 sesuai jadwal. Jika tidak, kami harus menunggu setidaknya sampai jam 19:30.


Penerbangan: Air France AF 7637
Pesawat: Airbus A321-200 reg F-GTAK
ATD: 17:29 CET (Runway 23 of BOD)
ATA: 18:27 CET (Runway 27L of CDG)

Boarding berlangsung efisien dan aku duduk nyaman di kursi 1Aku. Lucu juga rasanya jam 17:19, ketika sebagian penumpang masih boarding, kapten mengumumkan bahwa kami memiliki waktu 11 menit untuk berangkat, haha 😆 . Akhirnya, kami lepas landas jam 17:29, pas banget sebelum penutupan bandaranya!! 😀

Beberapa pesawat ini sudah berbaris ketika kami lepas landas dari Bordeaux.

Ini adalah penerbangan domestik dengan Air France yang nyaman; dimana aku terutama menikmati kursi 1A! Haha 😛 . Sekitar satu jam kemudian, kami mendarat di landasan pacu 27L Bandara Charles De Gaulle di Paris.

Setelah mendapatkan boarding pass-ku untuk kembali ke Amsterdam, aku pergi ke sebuah lounge-nya Air France. Aku masuk tidak dengan ekspektasi apa-apa akibat pengalaman terakhirku kesana sekitar satu bulan sebelumnya dimana aku dikecewakan dengan layanan makanannya. Kali ini, Air France menebus dirinya kembali dan level layanannya kembali ke sedia kala. Fiuh!!

Layanan makan malam di Salon Air France
Layanan makan malam di Salon Air France

Btw, brownies di foto sebelah kanan enak banget loh!


Penerbangan: KLM Royal Dutch Airlines KL 1246
Pesawat: Boeing 737-700 reg PH-BGX (“Scholekster”)
ATD: 20:29 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

Jam 19:45, aku beranjak dari lounge dan berjalan menuju gate tidak jauh dari sana. Tak lama kemudian, boarding penerbangan KL1246 dimulai, yang mana akan dioperasikan dengan Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGX. Penerbangan ini tidak penuh hari ini sehingga boarding berlangsung cepat.

Boarding sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGX sebagai penerbangan KL1246 ke Amsterdam.

Ini adalah penerbangan normal Paris – Amsterdam. Mungkin karena penerbangan malam, KLM hanya memberikan satu bungkus kecil crackers bukannya sandwich/wrap seperti biasanya itu. Tetapi crackers-nya enak sih, haha. Anyway, jam 21:10 pesawat mendarat di Polderbaan di Schiphol, hanya sekitar enam jam setelah aku lepas landas ke Bordeaux!! Hahaha 😆 .

Aviation · Miscellaneous · Photo Tales

#1921 – Photo Tales (40)

ENGLISH

This edition of Photo Tales is aviation related, haha 😛 .

Photo #88

easyJet and RyanAir at Rome – Fiumicino

While flying from Rome to Amsterdam for my Post-PhD Trip, I spotted these two birds side by side at Rome – Fiumicino Airport. Yep, the two airlines that, for better or for worse, revolutionized the (European) airlines industry, RyanAir and easyJet (And, to some degree, Southeast Asia too because easyJet inspired Tony Fernandes to make AirAsia as it is today).

While, arguably, they targetted different “market” from more traditional full-service airlines, their impact was so big that it forced those more established airlines to adjust. As one consequence, now, the ticket price of those so-called full service airlines also has become more affordable, in general. However, there is more to that, which brings us to the next photo…

Photo #89

A British Airways’ Boeing 767 at Schiphol

One flight I am super interested to try is British Airways’ Boeing 767 daily service between London and Amsterdam (especially after Garuda Indonesia stopped its Amsterdam – London Gatwick route last year), haha 😛 . I always find it fascinating to fly wide-body on a short-haul flight! Haha 😛 .

Anyway, but there are two things which make me hesitate to book a return trip with them (well, three if you consider the visa requirement 😛 ). First of all, British Airways is a member of OneWorld, while as you know I am more of a SkyTeam fans nowadays.

Secondly, as per earlier this year, British Airways stopped providing complimentary snack and drink in any of its short-haul flights. Instead, it now offers buy-on-board (BoB) stuffs, just a la an LCC. You see, clearly this is an (negative) effect of LCC on the full service airline. Well, given that British Airways’ CEO used to be the CEO of Vueling (a Spanish LCC), this was, somewhat, not really “out of nowhere”. But still, you see another “effect” of LCCs to mainline airlines?

Photo #90

An American Airlines’ Boeing 757 at Schiphol

Anyway, on a separate note, I spotted an American Airlines’ Boeing 757 at Schiphol this March. Yes, American Airlines, meaning the plane was used to fly North Atlantic; and, yes, a 757, a.k.a. a (long-ish) narrow-body plane! 😱

I don’t know about you. But to me, I much prefer to fly wide-body when flying medium to long-haul. My longest narrow-body flight was AeroMexico’s Boeing 737-700 flight from Boston to Mexico City (3,663 km). And it was in economy class without personal IFE! Lol 😆 . Anyway, so I certainly will avoid crossing the Atlantic from/to Amsterdam with American Airlines, then 😛 (Beside, they are OneWorld too 😛 ).

BAHASA INDONESIA

Edisi Photo Tales kali ini akan berkaitan dengan pesawat, haha 😛 .

Foto #88

easyJet dan RyanAir di Rome – Fiumicino

Ketika terbang dari Roma ke Amsterdam dalam perjalanan Pasca-Phdku, aku melihat dua burung besi ini parkir bersebelahan di Bandara Roma – Fiumicino. Iya, dua maskapai yang, baik secara positif maupun negatif, merevolusionsasi dunia penerbangan (Eropa), RyanAir dan easyJet (Dan, sedikit-banyak, Asia Tenggara juga karena easyJet menginspirasi Tony Fernandes untuk membuat AirAsia seperti sekarang ini).

Walaupun, di satu sisi, mereka menarget pasar yang berbeda dari maskapai-maskapai full service yang lebih tradisional, efeknya cukup terasa juga sehingga maskapai-maskapai yang sudah lebih lama ada tersebut harus menyesuaikan diri. Salah satu konsekuensinya, sekarang, harga tiket dari maskapai-maskapai full service tersebut juga menjadi relatif lebih murah secara umum. Namun, efeknya tidak hanya sebatas itu saja, yang membawa kita ke foto selanjutnya…

Foto #89

Sebuah Boeing 767nya British Airways di Schiphol

Satu rute penerbangan yang sangat ingin aku cobain adalah penerbangan hariannya British Airways dengan pesawat Boeing 767 di rute London – Amsterdam (terutama setelah Garuda Indonesia menutup rute Amsterdam – London Gatwick tahun lalu (masih belum bisa move on)), haha 😛 . Seru aja kan terbang dengan pesawat berbadan lebar di penerbangan jarak dekat! Haha 😛 .

Anyway, tetapi ada dua hal yang masih membuatku ragu untuk membeli tiket pp dengan mereka (eh, tiga ding kalau persyaratan visa diikut-sertakan 😛 ). Pertama-tama, British Airways adalah anggota OneWorld sementara sekarang ini kan aku lebih suka SkyTeam.

Yang kedua, per awal tahun ini, British Airways tidak lagi memberikan layanan snack dan minuman gratis di penerbangan jarak dekat mereka. Dan sekarang, yang ditawarkan adalah produk-produk buy-on-board (BoB) gitu deh, a la penerbangan LCC lah. Nah kan, jelas ini adalah efek (negatif) dari LCC ke maskapai full service. Eh, tapi dengan mempertimbangkan CEOnya British Airways yang mana dulunya adalah CEOnya Vueling (sebuah maskapai LCCnya Spanyol), ini mungkin tidak terlalu mengherankan yah. Tetapi tetap aja lah, terlihat kan “efek”nya LCC di maskapai-maskapai besar lainnya?

Foto #90

Sebuah Boeing 757nya American Airlines di Schiphol

Anyway, mari kita berganti topik, aku melihat Boeing 757nya American Airlines di Schiphol bulan Maret ini. Iya loh, American Airlines, artinya pesawatnya dipakai untuk terbang menyebrangi Samudra Atlantik; dan, iya, Boeing 757, alias pesawat berbadan kecil (tapi agak panjangan)! 😱

Aku nggak tahu dengan kalian yah, tetapi untukku sih aku lebih suka terbang dengan pesawat berbadan lebar ketika terbang jarak menengah dan jauh. Penerbangan terjauhku dengan pesawat berbadan kecil adalah dengan Boeing 737-700nya AeroMexico dari Boston ke Mexico City (jaraknya 3.663 km). Dan penerbangan itu di kelas ekonomi dan tanpa IFE personal pula! Haha 😆 . Anyway, jelas deh aku akan menghindari terbang menyebrangi Samudra Atlantik dari/ke Amsterdam dengan American Airlines kalau begitu 😛 (Di samping itu, mereka juga anggota OneWorld sih 😛 ).

Aviation · My Interest

#1856 – 2016 In The Air

ENGLISH

Just like in 2015, I also flew a lot in 2016. In fact, in terms of the number of flights, actually I flew more in 2016 than 2015 (57 to 48). However, in 2016 I did not do as many intercontinental trips as I did in 2015 so distance-wise, I flew less (approximately 46,075 miles/74,150 km to 60,276 miles/97,005 km).

Here is my full flying map of 2016:

My 2016 flying map. Created with gcmap.com
My 2016 flying map. Created with gcmap.com

Three continents. Twenty countries. Thirty cities. Thirty one airports.

The map reflected my travel pattern in 2016, where circumstances did not allow me to do as many intercontinental trips as 2015. Consequently, most of my travels were within Europe 😛 .

My flying map inside Europe in 2016. Created with: gcmap.com
My flying map inside Europe in 2016. Created with: gcmap.com

Anyway, here are some stats:

By routes

A LATAM Chile's (still in LAN's livery) Boeing 787-8 Dreamliner reg CC-BBH
My only fifth freedom flight in 2016 was with this LATAM Chile’s (still in LAN’s livery) Boeing 787-8 Dreamliner reg CC-BBH. It was in business class, though 😉 .

Top three routes (by frequency):
1. Paris CDG – Amsterdam (10.53%)
2. Amsterdam – Paris CDG (7.02%)
3. Amsterdam – Frankfurt (3.51%)
3. Frankfurt – Amsterdam (3.51%)

Top three routes (by distance):
1. Rome FCO – Shanghai PVG (5,709 miles/9,188 km)
2. Curacao – Amsterdam (4,871 miles/7,839 km)
3. Amsterdam – Sint Maarten (4,312 miles/6,939 km)

Fifth-freedom flights:
1. LATAM Chile LA704 (Madrid – Frankfurt): 25 June 2016

By airlines

An Air France's Airbus A380-800 reg F-HPJC which would fly me from New York to Paris as AF 007
My first intercontinental flight of 2016 was with this Air France’s Airbus A380-800 reg F-HPJC from New York to Paris as flight AF007.

Top three airlines (by frequency):
1. KLM Royal Dutch Airlines (28.07%)
2. Air France (12.28%)
3. KLM Cityhopper (10.53%)

Top three airlines (by total distance):
1. KLM Royal Dutch Airlines (15,710 miles/25,282 km)
2. China Eastern (8,487 miles/13,659 km)
3. Air France (5,276 miles/8,491 km)

An Air Baltic's Boeing 737-500!
I flew Air Baltic for the first time in 2016 and gotta try their cute Boeing 737-500 too!

New Airlines:
1. AeroMexico Connect (5D)
2. Air Baltic (BT)
3. Finnair (AY)
4. Meridiana (IG)
5. LATAM Chile (LA)
6. HOP! Brit Air (DB)
7. Lufthansa CityLine (CL)
8. TAROM (RO)
9. Aegean Airlines (A3)
10. Cimber (QA)
11. Scandinavian Airlines (SK)
12. Austrian Airlines (OS)
13. SunExpress Deutschland (XG)
14. China Eastern (MU)
15. NAM Air (IN)

By airports

Princess Juliana International Airport
I am very happy to have fulfilled my dream to visit Princess Juliana International Airport in 2016.

Top three most visited airport (by total activities)
1. Amsterdam Schiphol (29.82%)
2. Paris – Charles De Gaulle (14.91%)
3. Frankfurt Airport (5.26%)

By airplanes

Nairobi in Curaçao
I flew a Boeing 747 for the first time ever in 2016.

Top three airplanes (by frequency)
1. Boeing 737-700 (15.79%)
2. Boeing 737-800 (10.53%)
2. Embraer ERJ190 (10.53%)

New airplanes:
1. Boeing 737-500
2. Embraer ERJ145
3. Boeing 747-400
4. Embraer ERJ195

***

Yeah, those are some stats of my flying activities of 2016🙂 . Let us see now how 2017 will roll:mrgreen:. I have a good feeling about it, though 😉 .

BAHASA INDONESIA

Seperti tahun 2015, aku juga banyak terbang di tahun 2016. Malahan, dari segi jumlah penerbangan, di tahun 2016 ini aku terbang lebih banyak loh daripada di tahun 2015 (57 kali di tahun 2016 daripada 48 kali tahun 2015). Namun, tahun 2016 ini aku tidak melakukan perjalanan antar-benua sebanyak tahun 2015 sehingga dari segi jarak, aku justru terbang lebih sedikit (sekitar 46.075 mil/74.150 km tahun 2016 daripada 60.276 mil/97.005 km di tahun 2015).

Berikut ini peta lengkap penerbanganku di tahun 2016:

My 2016 flying map. Created with gcmap.com
Peta lengkap penerbanganku di tahun 2016. Kubuat dengan gcmap.com

Tiga benua. Dua puluh negara. Tiga puluh kota. Tiga puluh satu bandara.

Peta di atas amat merefleksikan pola perjalananku di tahun 2016, dimana situasi dan kondisi tidak memungkinkanku untuk melakukan banyak perjalanan antar-benua seperti tahun 2015. Sebagai akibatnya, perjalananku memang kebanyakan berada di Eropa 😛 .

My flying map inside Europe in 2016. Created with: gcmap.com
Peta penerbangangku di dalam Eropa di tahun 2016. Kubuat dengan gcmap.com

Anyway, berikut ini beberapa statistik:

Berdasarkan rute

A LATAM Chile's (still in LAN's livery) Boeing 787-8 Dreamliner reg CC-BBH
Satu-satunya penerbangan kebebasan-kelimaku di tahun 2016 adalah dengan Boeing 787-8nya LATAM Chile ini (masih dengan livery-nya LAN) dengan rego CC-BBH. Tapi penerbangannya di kelas bisnis sih 😉 .

Tiga rute teratas (berdasarkan frekuensi):
1. Paris CDG – Amsterdam (10,53%)
2. Amsterdam – Paris CDG (7,02%)
3. Amsterdam – Frankfurt (3,51%)
3. Frankfurt – Amsterdam (3,51%)

Tiga rute teratas (berdasarkan jarak):
1. Rome FCO – Shanghai PVG (5.709 mil/9.188 km)
2. Curacao – Amsterdam (4.871 mil/7.839 km)
3. Amsterdam – Sint Maarten (4.312 mil/6.939 km)

Penerbangan kebebasan-kelima:
1. LATAM Chile LA704 (Madrid – Frankfurt): 25 Juni 2016

Berdasarkan maskapai penerbangan

An Air France's Airbus A380-800 reg F-HPJC which would fly me from New York to Paris as AF 007
Penerbangan antar-benua pertamaku di tahun 2016 adalah dengan Airbus A380-800nya Air France dengan rego F-HPJC ini dari New York ke Paris sebagai penerbangan AF007.

Tiga maskapai teratas (berdasarkan frekuensi):
1. KLM Royal Dutch Airlines (28.07%)
2. Air France (12.28%)
3. KLM Cityhopper (10.53%)

Tiga maskapai teratas (berdasarkan jarak):
1. KLM Royal Dutch Airlines (15.710 mil/25.282 km)
2. China Eastern (8.487 mil/13.659 km)
3. Air France (5.276 mil/8.491 km)

An Air Baltic's Boeing 737-500!
Aku terbang dengan Air Baltic untuk pertama kalinya di tahun 2016, dan berkesempatan mencoba Boeing 737-500nya yang imut ini!

Maskapai-maskapai baru:
1. AeroMexico Connect (5D)
2. Air Baltic (BT)
3. Finnair (AY)
4. Meridiana (IG)
5. LATAM Chile (LA)
6. HOP! Brit Air (DB)
7. Lufthansa CityLine (CL)
8. TAROM (RO)
9. Aegean Airlines (A3)
10. Cimber (QA)
11. Scandinavian Airlines (SK)
12. Austrian Airlines (OS)
13. SunExpress Deutschland (XG)
14. China Eastern (MU)
15. NAM Air (IN)

Berdasarkan bandara

Princess Juliana International Airport
Aku amat senang untuk bisa membuat impianku mengunjungi Bandara Internasional Princess Juliana menjadi kenyataan di tahun 2016..

Tiga bandara teratas (berdasarkan total aktivitas)
1. Amsterdam Schiphol (29.82%)
2. Paris – Charles De Gaulle (14.91%)
3. Frankfurt Airport (5.26%)

Berdasarkan tipe pesawat

Nairobi in Curaçao
Aku terbang dengan Boeing 747 untuk pertama kalinya di tahun 2016.

Tiga tipe pesawat teratas (berdasarkan frekuensi)
1. Boeing 737-700 (15.79%)
2. Boeing 737-800 (10.53%)
2. Embraer ERJ190 (10.53%)

Tipe pesawat baru:
1. Boeing 737-500
2. Embraer ERJ145
3. Boeing 747-400
4. Embraer ERJ195

***

Iya, itu lah beberapa statistik aktivitas penerbanganku di tahun 2016 🙂 . Mari kita lihat tahun 2017 ini akan bagaimana :mrgreen:. Feeling-ku sih bagus 😉 .

Aviation · EuroTrip · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#1839 – Flying to/from Vienna and A Funny Drama

ENGLISH

Earlier this month, I went to Vienna for a short weekend trip. I have posted the story from my short stay there, so now is the time for the flying story to get to/back from Vienna 😛 .

***

OS 372 (Amsterdam – Vienna)

austrian
Flight: Austrian Airlines OS 372
Equipment: Embraer ERJ195 reg OE-LWM
ATD: 10:39 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 12:10 CET (Runway 34 of VIE)

Learning from my recent AvGeek Weekend Trip with SAS, I decided to go to the airport a little bit earlier today as I was not flying a SkyTeam airline so I wouldn’t get the access to the priority security lane at Schiphol. The last time I had to wait for about 45 minutes for the security check! I arrived at the airport at around 8 AM, about two hours prior to departure, haha 😆 . However, it turned out that today the security check was not busy at all and I did not even need to queue! Damn!! 9gagFU

Austrian Airlines' Embraer ERJ195 reg OE-LWM
Austrian Airlines’ Embraer ERJ195 reg OE-LWM

Long story short, boarding commenced on time from Pier B of Schiphol. Btw, today OS 372 was operated with an Embraer 195 reg OE-LWM, much to my excitement because it would be my first time ever flying an Embraer 195! Yeay!! I settled onto my 8F seat. The leg room was very spacious, and this was one reason why I loved flying a regional jet!

Good legroom on board Austrian Airlines' OE-LWM
Good legroom on board Austrian Airlines’ OE-LWM

Boarding the flight was quite unique for European standard, in the sense that they played a boarding instrumental music! It was my first time (as far I recall) encountering a European airline playing a boarding music (Garuda Indonesia normally does the same). And as I was flying Austrian to the Austrian capital of Vienna, very fittingly they played Vivaldi’s Four Seasons at the time!! 😍

Anyway, not long after, we departed and the safety demo was done manually. We took off from runway 18L of Schiphol and our 1.5 hours flight to Vienna began.

Taking off from runway 18L of Schiphol, runway 24 making an appearance
Taking off from runway 18L of Schiphol, runway 24 making an appearance

It took awhile for the pilots to turn off the seatbelt signs off for the passengers. In fact, they did it just when the FAs were ready to distribute the snack service. The snack choice was savoury or sweet (I chose the former) and a selection of drinks (I asked for a coffee and still water).

At around noon, we were approaching Vienna already and I could see the not-so-promising weather from the above, where a lot of cloud had been formed. Anyway, we landed smoothly at runway 34 of Vienna International Airport. Here is the landing video:

OS 373 (Vienna – Amsterdam)

sunexpress
Flight: Austrian Airlines OS 373 operated by SunExpress Deutschland
Equipment: Boeing 737-800 reg D-ASXD
ATD: 15:35 CET (Runway 29 of VIE)
ATA: 17:01 CET (Runway 18R of AMS)

My returning flight from Vienna was super unique, and this was the reason why I chose this particular flight (aside from the perfect schedule 😛 ). While it was an Austrian Airlines’ flight, it would be operated by SunExpress Deutschland, a German airline that was a subsidiary of a Turkish airline (SunExpress). Very anti-mainstream, so obviously I liked!! :mrgreen:

Sun Express Deutschland's Boeing 737-800 reg D-ASXD
Sun Express Deutschland’s Boeing 737-800 reg D-ASXD

The flight today was operated with a Boeing 737-800. I was happy that I managed to secure one of the front-row window seats, seat 4F that was in the first row of economy on board D-ASXD. The legroom was a little bit tight for a full-service standard (SunExpress was not really a full-service airline actually), btw. Anyway, not long after boarding, we departed and took off from runway 29 of Vienna Airport. Upon taking-off, we also passed the city of Vienna. Beautiful!

Vienna from above
Vienna from above

***

A Funny Drama

Anyway, the departure today was delayed for about 20 minutes. Just after take-off and the seatbelt sign was switched off, there was a group of travellers sitting at the back of the plane DECIDED THEMSELVES that they deserved to be moved to the business class due to the delay because they had a connecting flight 😅. I mean, like, come on dudes, you were not the only ones getting a delayed flight on board this flight? Like… 😅

In their defense, this “upgrade” practice was not uncommon. Moving connecting passengers forward in a delayed flight would minimize the risk of these passengers missing their connections, thus no extra cost for the airline (otherwise the airline would have had to buy the passengers new tickets, which meant: cost). I had experienced it a couple of times when flying AirFrance, for instance this time.

The guy in white decided to move himself to the business class
The guy in white decided to move himself to the business class

However, as far as I know, this was done only if the crew did not think they could recover the delay and so the connecting time becoming too tight. In this circumstance, the crew would approach the passengers and asked them to move forward. This was usually done just minutes before landing. This made sense, because the passengers only needed the forward seats to get off the plane; and of course the crew had the responsibility to make business class as exclusive as possible. Otherwise, how would the actual paying business class passengers feel when a cheap economy passenger was moved to business class just after departure just because the passenger had a connecting flight?

So certainly it was not the passengers’ judgment on whether or not they deserved to be moved forward; and certainly not just after take-off and just after the seatbelt sign had been switched off.

On board SunExpress Deutschland's Boeing 737-800 reg D-ASXD.
On board SunExpress Deutschland’s Boeing 737-800 reg D-ASXD. The seats with the red cap were the Europe business class seats.

I was happy to see the crew being very firm and asked these passengers to move back to their original seats. One guy tried to argue with one of the FAs, but she made her point clear and said she could not let them sit in business class, even if they did not ask for any business class meal service. Finally, the passengers listened to the crew and moved back to their original seats.

What I found funny was that midway through the flight, the captain made an announcement that despite the departure delay, we would still land on time in Amsterdam! Lol 😆

***

The snack service on board flight OS 373
The snack service on board flight OS 373

Anyway, back to the flight story. Midway through, a snack service was distributed. The snack was literally a small piece of apple and a selection of drink, so it was rather disappointing in my opinion, haha 😆 . Overall, the flight was okay and rather uneventful. At 5 PM, we landed at my least favorite runway of Schiphol, the Polderbaan.

BAHASA INDONESIA

Awal bulan ini, aku pergi ke Vienna untuk sebuah perjalanan akhir pekan singkat. Posting berisi aktivitasku disana telah aku publikasikan beberapa waktu yang lalu, jadilah sekarang saatnya untuk cerita penerbanganku kesana/kembali dari sana 😛 .

***

OS 372 (Amsterdam – Vienna)

austrian
Penerbangan: Austrian Airlines OS 372
Pesawat: Embraer ERJ195 reg OE-LWM
ATD: 10:39 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 12:10 CET (Runway 34 of VIE)

Belajar dari AvGeek Weekend Trip baru-baru ini dengan SAS, aku memutuskan untuk berangkat ke bandara lebih awal kali ini karena aku tidak terbang dengan SkyTeam, yang mana berarti aku tidak akan bisa mengakses jalur prioritas di Schiphol. Terakhir kali aku harus mengantri selama 45 menit untuk sekuirit saja! Aku tiba di bandara sekitar jam 8 pagi, sekitar dua jam sebelum keberangkatan, haha 😆 . Namun, ternyata hari ini pemeriksaan sekuritinya tidak ramai sama sekali sehingga aku tidak perlu mengantri sama sekali dong! Sial!! 9gagFU

Austrian Airlines' Embraer ERJ195 reg OE-LWM
Embraer ERJ195 rego OE-LWNnya Austrian Airlines

Singkat cerita, boarding berlangsung tepat waktu dari Pier B di Schiphol. Btw, hari ini OS 372 dioperasikan dengan sebuah Embraer 195 dengan registrasi OE-LWM, yang mana membuatku merasa bersemangat sekali karena ini adalah kali pertama aku terbang dengan sebuah Embraer 195! Hore!! Aku kemudian duduk di kursi 8F-ku. Ruang kakinya lapang sekali, dan ini lah alasan aku suka terbang dengan pesawat jet regional!

Good legroom on board Austrian Airlines' OE-LWM
Ruang kaki yang lapang di pesawat OE-LWMnya Austrian Airlines

Boarding kali ini cukup unik untuk standar Eropa, dimana ada musik instrumental yang dimainkan untuk menemani penumpang naik pesawat! Ini adalah kali pertama (sejauh yang aku ingat) aku memasuki pesawat sebuah maskapai Eropa dengan alunan musik (Garuda Indonesia biasanya melakukan hal yang sama juga). Dan karena aku terbang dengan Austrian ke ibukota Austria, Vienna, jelas dong dengan sangat amat pas mereka memainkan Four Seasons-nya Vivaldi waktu itu!! 😍

Anyway, tak lama setelahnya, kami berangkat dan pemeragaan keamanan dilakukan manual. Kami lepas landas dari landasan pacu 18L Bandara Schiphol dan penerbangan 1,5 jam ke Vienna dimulai.

Taking off from runway 18L of Schiphol, runway 24 making an appearance
Lepas landas dari landasan pacu 18L Bandara Schiphol, runway 24 juga terlihat.

Pilot mengambil waktu cukup lama untuk mematikan lampu tanda kenakan sabuk pengaman. Malahan, lampunya baru dimatikan ketika pramugari telah siap untuk membagikan layanan snack loh. Pilihan snack-nya adalah savoury atau sweet snack (aku memilih yang pertama) dan pilihan minuman (aku memesan kopi dan air mineral).

Sekitar jam 12 siang, kami sudah mendekati Vienna dan aku bisa melihat cuaca yang kurang meyakinkan dari atas, dimana ada banyak awan yang menggantung di atas kota. Kami mendarat di landasan pacu 34 Bandara Internasional Vienna dengan mulus. Berikut ini video pendaratannya:

OS 373 (Vienna – Amsterdam)

sunexpress
Penerbangan: Austrian Airlines OS 373 dioperasikan oleh SunExpress Deutschland
Pesawat: Boeing 737-800 reg D-ASXD
ATD: 15:35 CET (Runway 29 of VIE)
ATA: 17:01 CET (Runway 18R of AMS)

Penerbanganku kembali dari Vienna cukup unik, dan ini lah alasanku memilihnya (selain jadwalnya yang memang enak sih 😛 ). Walaupun ini adalah penerbangannya Austrian Airlines, operatornya adalah maskapai SunExpress Deutschland, sebuah maskapai Jerman yang merupakan anak perusahaan dari sebuah maskapai Turki (SunExpress). Anti-mainstream banget kan, jadilah aku suka!! :mrgreen:

Sun Express Deutschland's Boeing 737-800 reg D-ASXD
Sebuah Boeing 737-800nya Sun Express Deutschland dengan rego D-ASXD

Penerbangan hari ini dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-800. Aku senang aku bisa mengamankan salah satu kursi jendela di barisan depan, kursi 4F yang berada di barisan pertama kelas ekonomi di dalam D-ASXD. Ruang kakinya agak cenderung sempit untuk standar full-service (SunExpress sendiri bukan lah full service sih). Tak lama setelah boarding selesai, penerbangan berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 29 Bandara Internasional Vienna. Jalur lepas landas kami melintasi atas kota Vienna. Kece deh pemandangannya!

Vienna from above
Vienna dari atas

***

Sebuah Drama Lucu

Anyway, keberangkatan penerbangan hari ini terlambat selama sekitar 20 menit. Tepat setelah lepas-landas dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dimatikan, ada satu grup penumpang yang duduk di belakang pesawat MEMUTUSKAN SENDIRI bahwa mereka berhak untuk dipindahkan ke kelas bisnis akibat keterlambatan ini karena mereka ada penerbangan lanjutan 😅. Ih, come on, memangnya situ pikir yang kena delay di penerbangan ini cuma situ doang gitu? Wedew… 😅

In their defense sih, praktek “upgrade” begini tidaklah aneh sebenarnya. Memindahkan penumpang dengan connecting flight ke depan di sebuah penerbangan yang terlambat akan meminimalisir risiko penumpang ini ketinggalan penerbangan lanjutannya, yang mana berarti maskapai tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan (jika penumpang ketinggalan, maskapai harus membelikan penumpang itu tiket baru, yang berarti: biaya ekstra). Aku sendiri sudah pernah mengalaminya beberapa kali kok ketika terbang dengan AirFrance, misalnya kali ini.

The guy in white decided to move himself to the business class
Bapak-bapak dengan baju putih itu yang memutuskan untuk memindahkan dirinya sendiri ke kelas bisnis

Namun, sejauh yang aku tahu, ini hanya dilakukan jika kru penerbangan cukup yakin mereka tidak akan bisa recover dari keterlambatannya sehingga waktu transit menjadi terlalu singkat. Dalam situasi ini, kru akan mendatangi penumpang dan meminta mereka untuk pindah ke depan. Biasanya ini dilakukan beberapa menit sebelum mendarat. Masuk akal sekali kan, karena toh penumpang-penumpang ini membutuhkan kursi di depan itu hanya untuk keluar dari pesawat; dan tentu saja kru memiliki tanggung-jawab untuk membuat kelas bisnis seeksklusif mungkin. Jika tidak, bagaimana coba perasaan penumpang yang membayar mahal untuk terbang di kelas bisnis ketika melihat penumpang ekonomi dengan tiket murah dipindahkan ke kelas bisnis ketika baru saja berangkat hanya karena si penumpang ekonomi ini memiliki penerbangan lanjutan?

Jadi jelas bukanlah keputusannya si penumpang apakah ia berhak dipindahkan ke depan; dan biarpun begitu, waktu yang tepat untuk pindah jelas bukanlah tepat setelah lepas-landas dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan.

On board SunExpress Deutschland's Boeing 737-800 reg D-ASXD.
Di dalam Boeing 737-800nya SunExpress Deutschland rego D-ASXD. Kursi dengan cap merah adalah kursi di kelas bisnis Eropa.

Aku merasa senang ketika melihat krunya bersikap tegas dan meminta penumpang-penumpang ini untuk kembali ke kursi mereka di bagian belakang pesawat. Seorang bapak-bapak berusaha ngeyel dengan salah seorang pramugari tetapi pramugarinya bersikeras bahwa ia tidak bisa mengizinkan mereka duduk di kelas bisnis, termasuk biarpun si bapak tidak meminta layanan makanan kelas bisnis. Akhirnya, mereka menurut dan pindah kembali ke belakang.

Yang kemudian lucu adalah di tengah penerbangan, pilot membuat pengumuman bahwa biarpun penerbangan ini berangkat terlambat, kami masih akan tetap mendarat tepat waktu di Amsterdam! Huahaha 😆

***

The snack service on board flight OS 373
Layanan snack di penerbangan OS 373

Anyway, kembali ke cerita penerbangannya. Layanan snack dibagikan di tengah penerbangan. Snack-nya sendiri adalah satu buah apel dengan ukuran tidak terlalu besar dan pilihan minuman, sehingga aku sedikit merasa kecewa deh, haha 😆 . Secara umum, penerbangannya berlangsung biasa saja dan uneventful. Sekitar jam 5 sore, kami mendarat di landasan pacu yang paling tidak kusukai di Schiphol, Polderbaan.