working life · Zilko's Life

#2011 – Some Dining Events

ENGLISH

Team Dinner

To close the previous quarter cycle, my team at work decided to throw a team wide dinner at a nice fine-dining restaurant in Amsterdam Centrum.

A bit of a back story to this event, in the invitation that was sent around a few weeks prior, we were also asked to mention if we really did not ask fish. To me, well, to be honest I am not the biggest fan of fish but having said that, I also wouldn’t say I really don’t like it, haha. So I ended up rsvp-ing the event without mentioning anything about the presumably fish dish they would serve at the restaurant.

The appetizer was a salmon tartar

On the D-day, we went first to a bar nearby the office before going to the restaurant. To much of my delight, it turned out we were having a three-course meal with two options for the main course where, unsurprisingly, one of those was a seabass dish. But of course I ended up picking the other option, that was a boar tenderloin dish! (Anything but the fish, please! 😛 ).

I opted for the boar tenderloin for my main course

As I said it was a three-course fine dining dinner, where wine was free flowing (there was no moment during my stay there when my wine glass was empty 🙈). It started with a plate of delicious salmon tartar as the appetizer. Then, the main course came, which actually was my first time ever consuming a boar meat and it turned out to be delicious! After that, a chocolaty dessert was served, which was just okay but good nonetheless.

The chocolaty dessert

Utrecht Catch Up

Last week, a good friend of mine and I decided to catch up over dinner. Upon discussion, we decided to meet in Utrecht because it had been awhile since I went there and the last time we caught up was in Amsterdam; so it was due for a change, haha.

We went to a restaurant we had been after for months but, mistakenly, without making any reservation. Consequently there was quite a long waiting list already and we decided to eat somewhere else. And so we chose the top rated restaurant provided in Google maps (well, not the actual “top” one as that one was our original restaurant which was already full, haha); which turned out to be just okay. Nonetheless, it was such a fun night catching up with a friend!

Iron steak in Utrecht

BAHASA INDONESIA

Makan Malam Satu Tim

Untuk menutup siklus kuarter (tiga bulanan) yang lalu, timku di kantor memutuskan untuk mengadakan acara makan malam untuk satu tim di sebuah restoran fine dining di Amsterdam Centrum.

Sedikit cerita di balik acara ini. Di undangan yang dikirimkan beberapa minggu sebelumnya, kami diminta untuk menyebutkan apabila kami sangat tidak suka ikan. Untukku, sejujurnya ikan bukanlah makanan yang paling aku favoritkan (*Eh bisa dimarahin Menteri Susi ini ya? Haha 😛 *) tapi biar pun begitu, bukan berarti aku sangat tidak suka ikan juga sih, haha. Jadilah aku meng-rsvp acaranya tetapi aku juga tidak menyebutkan apa-apa mengenai menu yang aku asumsikan akan melibatkan ikan di restorannya.

Makanan pembukanya adalah salmon tartar

Di hari-H, awalnya kami pergi ke bar dulu sebelum berangkat bareng-bareng ke restorannya. Yang aku suka, ternyata malam ini modelnya adalah menu three course gitu dengan dua pilihan untuk menu utama dimana, tidak mengejutkan, salah satunya adalah menu ikan sea bass. Tetapi jelas pada akhirnya aku memilih menu yang satunya, yang mana merupakan daging babi hutan tenderloin! (Ya apa pun lah pokoknya bukan ikan! Haha 😛 ).

Aku memilih menu babi hutan tenderloin untuk makanan utamanya.

Seperti yang kubilang ini adalah makan malam fine dining, dimana anggur juga mengalir terus gitu nggak berhenti-berhenti (tidak ada satu waktu pun selama aku disana dimana gelas anggurku kosong dong 🙈). Makan malam dimulai dengan sepiring salmon tartar yang enak banget sebagai makanan pembuka. Kemudian menu utama disajikan, yang mana adalah kali pertama aku makan daging babi hutan dan ternyata enak juga ya rasanya! Setelahnya, pencuci mulut yang terbuat dari cokelat diberikan, yang mana rasanya tidak terlalu spesial namun masih enak-enak saja kok.

Pencuci mulut cokelat

Catch Up di Utrecht

Minggu lalu, aku dan seorang teman baikku memutuskan untuk catch up sambil makan malam. Ketika berdiskusi masalah lokasi, kami memutuskan untuk bertemu di Utrecht saja karena sudah lumayan lama semenjak terakhir kali aku ke sana dan terakhir kali kami catch up adalah di Amsterdam; jadi sekarang kami memilih tempat lain gitu, haha.

Kami pergi ke sebuah restoran yang sudah lumayan lama kami incar tetapi, salahnya kami, tanpa membuat reservasi terlebih dahulu. Akibatnya waktu itu waiting list-nya sudah panjang banget dan kami memutuskan untuk makan di tempat lain. Jadilah kami memilih restoran yang berada di peringkat rekomendasi teratas di Google maps (yah, bukan yang “teratas” sih sebenarnya karena yang teratas adalah restoran yang awalnya kami incar tetapi sudah penuh itu, haha); yang mana ternyata biasa-biasa saja deh. Toh walaupun begitu, tetap seri rasanya catch up bersama seorang teman lama!

Iron steak di Utrecht
Advertisements
General Life · Zilko's Life

#1976 – Some Summer Stories

ENGLISH

Overall, we in the Netherlands have been quite lucky with the weather this summer. It feels like there have been quite a lot of days (for Dutch standards) where the weather is really, really nice; and also only a few rains. Even though one of those few days was yesterday when it rained for the entire day thus creating this gloomy atmosphere. The tram service in Amsterdam was also disturbed yesterday, though I am not sure if this had something to do with the rain or not 😣.

Anyway, enough for the boring talk about the weather. Another aspect that is tightly related to summer is the summer bugs. As this is my first summer in Amsterdam, I just realized that despite Delft is not that far away, the summer bugs situation is actually quite different here, haha. I feel like there is much less fly flying around here than in Delft, which I find really, really nice. However, there is something else which I have encountered more here in Amsterdam: spiders! Yeah, I feel like there are more spiders here than in Delft! At least I have killed three (big-ish) spiders at home in the past month or so.

Speaking of summer in Amsterdam, now I do have the first-hand experience of the busy tourist season, that is the summer, haha 😛 . Indeed Amsterdam feels different in the summer than in the winter, in the sense that there are more tourists flocking the city, even during the weekdays! The direct result which affects me is that the more crowded public transportation these days! Lucky I have moved to Amsterdam so that I do not have to deal with this potential problem while commuting between Delft and Amsterdam! Hahaha 😆

A crowded tram in a summer afternoon

BAHASA INDONESIA

Secara umum, kami di Belanda cukup beruntung dalam hal cuaca di musim panas kali ini. Rasanya ada cukup banyak hari (untuk standar Belanda) dimana cuacanya asyik banget; dan cuma relatif sedikit hari dimana hujan turun. Walaupun salah satu dari sedikit hari itu kemarin sih dimana hujan turun seharian sehingga suasananya juga jadi gloomy gitu. Layanan tram di Amsterdam juga lumayan kacau lah kemarin, walaupun aku nggak yakin sih ini ada kaitannya dengan cuaca atau tidak 😣.

Anyway, cukup deh dengan omongan cuaca yang membosankan itu. Satu aspek lain yang berkaitan dengan musim panas adalah serangga musim panas. Karena ini adalah musim panas pertamaku di Amsterdam, ternyata walaupun Delft itu nggak jauh-jauh amat, situasinya berbeda banget loh, haha. Rasanya ada jauh lebih sedikit lalat di sini daripada di Delft, yang mana tentu situasi ini aku syukuri banget (Aku sebal banget sama lalat, haha 😆 ). Namun, ada satu makhluk lain yang sepertinya ada lebih banyak di Amsterdam: laba-laba! Iya, rasanya kok ada lebih banyak laba-laba gitu di sini daripada di Delft! Setidaknya aku sudah membunuh tiga (ekor?) laba-laba deh di rumah selama sebulanan terakhir ini.

Ngomongin musim panas di Amsterdam, sekarang aku sudah memiliki pengalaman langsung dengan musim padat turis, yaitu musim panas, haha 😛 . Memang Amsterdam terasa banget berbeda di musim panas daripada di musim dingin, dimana rasanya ada jauh lebih banyak turis yang mengunjungi kota ini, bahkan di hari-hari kerja! Akibat yang aku rasakan langsung adalah transportasi umum yang jadi jauh lebih ramai sekarang ini! Untung deh aku sudah pindah ke Amsterdam sehingga aku tidak perlu menghadapi situasi ini untuk nglaju dari Delft ke Amsterdam! Hahaha 😆 .

my apartment · Zilko's Life

#1959 -What I Like About My Apartment

ENGLISH

Some time ago I shared a couple of first world problems I had with my apartment. And so to balance things out, in this post I would like to share what I (really) like about it. Okay, there are many of reasons (otherwise why would I commit to the biggest purchase I have ever done, so far, in my life in the first place 😛 ), and in this post I will start with one.

And that is that my apartment building is new. By new, I mean it was built in the 2000s. While this means that, indeed, from the outside it does not look like what you might picture of a Dutch house, probably something like this:

Buildings in Amsterdam centrum.

I actually prefer my apartment much better than those “cute” centuries-old Dutch buildings. Why?

First of all, as Barney Stinson’s one rule:


Yes, “new is always better”. Lol 😆 .

In this particular case, especially, this rule is right. You see, science is progressing, even at exponential speed; which means people can build “better” (in whatever sense) buildings now.

My previous apartment in Delft was in the centrum and so it was built a few hundred years ago which, of course, made it look “cool” and very “Dutch”. However, while it was overall a nice apartment, to be honest I did not enjoy it at all during the hot summer days. Why? Well, my conjecture (based on my observation and experience) is that because old buildings appear to be designed to trap the heat inside (for winter time) and so this is exactly what they do. It became really, really uncomfortably hot during those days, even at night, due to the heat! I notice that new(er) buildings (also my previous apartment before that, which was built in the 1960s) tend to have better “air flow” in them, thus making them much more comfortable to live in during the summer as it was chill inside even without air conditioner.

Another “complaint” I have often heard from my colleagues living in old Dutch buildings in Amsterdam is that you would need to be “intimate” with your neighbours. In the sense that, well, they can hear any noise coming from your apartment and this means that the reverse is also true. If you know what I mean, lol 😆 .

I know that I am quite a light sleeper so I would definitely much rather live in a soundproof apartment, haha 😆 . And newer apartments tend to cater that need. The concrete structure is also a good barrier for noise!

Another common “problem” with old pretty Dutch houses in Amsterdam is: rodents! I had this problem in my first ever student studio apartment in Delft and I really, really hated it; even though the studio was relatively new. This was actually a point I made clear to my agent during my apartment hunt: I wanted a house with no rodents problem! Lol 😆 (My agent’s wife bursted her laugh at the time, but she understood my concern). And of course, the best bet for that was new(er) buildings.

A new residential tower in Delft.

Beside, pretty buildings are high-maintenance as well, I believe. I mean, many of those in Amsterdam are also declared monuments. This means that even though you are the owner, you cannot just “renovate” your own place however you like as you would need to consult it first! I even heard sometimes this has to be settled at the court!

***

Well, despite all these, of course it does not mean that new apartment comes with no problems at all. I mean, just remember the mini renovation I had to do with my shower room not too long ago. But still, overall, I still believe there are more pros than cons with newer building than older one; especially when you plan to own it (or part of it)!!

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku menyebutkan dua first world problems yang berkenaan dengan apartemenku. Nah supaya adil, di posting ini aku akan menuliskan apa yang kusukai darinya. Oke, jelas ada banyak lah ya alasannya (nggak mungkin juga kan aku mau berkomitmen terhadap kesepakatan pembelian yang melibatkan nominal terbesar yang pernah kulakukan seumur hidup, sejauh ini, jika tidak 😛 ), dan di posting ini aku mulai dengan salah satunya.

Yaitu bahwa gedung apartemenku adalah gedung baru. Dengan baru, maksudku gedungnya dibangun di tahun 2000an. Walaupun memang ini berarti dari luar penampakannya mungkin tidak seperti yang kalian bayangkan akan rumah-rumah Belanda, mungkin seperti ini:

Gedung-gedung di centrum-nya Amsterdam.

Aku sebenarnya malah lebih suka begini loh daripada gedung-gedung Belanda “kece” yang sudah berusia ratusan tahun itu. Kok begitu?

Pertama-tama, seperti satu aturannya Barney Stinson:


Yup, “new is always better“. Huahaha 😆 .

Dan di kasus ini, aturan ini benar sekali. Jelas dong iptek terus berkembang maju, bahkan dengan laju eksponensial; yang mana artinya sekarang manusia bisa membangun bangunan yang “lebih baik” (dalam sudut pandang tertentu).

Apartemenku sebelumnya di Delft berlokasi di centrum yang berarti dibangun sekian ratus tahun yang lalu, sehingga memang penampakannya “kece” dan “Belanda” banget gitu deh. Namun, walaupun apartemennya nyaman, sejujurnya aku tidak terlalu bisa menikmatinya di hari-hari panas di musim panas. Mengapa? Konjekturku (berdasarkan observasi dan pengalamanku) adalah karena bangunan-bangunan tua itu sepertinya dulu didisain untuk memerangkap energi panas (untuk musim dingin) sehingga ya ini lah yang bangunannya lakukan. Sebagai akibatnya, apartemennya sungguh amat tidak nyaman untuk ditinggali di hari-hari musim panas itu, bahkan di malam hari, saking panasnya! Nah, aku perhatikan gedung-gedung yang (lebih) baru (juga apartemenku yang sebelum itu, yang dibangun di tahun 1960an) cenderung memiliki “aliran udara” yang lebih baik di dalamnya, sehingga jauh lebih nyaman untuk ditinggali di musim panas karena tetap terasa adem bahkan tanpa AC.

Satu “komplain” lain yang kerap kudengar dari kolega-kolegaku yang tinggal di gedung-gedung Belanda tua di Amsterdam adalah mau tidak mau kita harus “intim” dengan tetangga-tetangga kita. Dalam artian, mereka bisa mendengar segala suara dari apartemen kita dan artinya yang sebaliknya juga berlaku. If you know what I mean, huahaha 😆 .

Yah, aku kan memang light sleeper ya sehingga jelas aku lebih suka tinggal di apartemen yang kedap suara, haha 😆 . Dan apartemen-apartemen baru cenderung memenuhi kebutuhan ini. Struktur betonnya juga berfungsi sebagai peredam suara yang baik!

Satu “masalah” umum lain dengan rumah-rumah tua Belanda di Amsterdam adalah: tikus! Aku memiliki masalah ini di apartemen studio mahasiswa pertamaku di Delft dan aku sungguh, sungguh membencinya; walaupun studio itu relatif baru sih. Poin ini bahkan aku tegaskan ke agenku lho ketika di tahap pencarian apartemen: Aku tidak mau rumah yang ada tikusnya! Haha 😆 (Istri dari agenku sampai tertawa loh waktu itu, tetapi ia paham banget dengan keinginanku ini kok 😛 ). Dan tentu saja, untuk itu pilihan yang aman adalah gedung-gedung yang (lebih) baru.

Sebuah menara tempat tinggal bari di Delft.

Di samping itu, gedung-gedung cantik itu juga high-maintenance lah. Maksudku, banyak lho gedung-gedung itu di Amsterdam yang dideklarasikan sebagai monumen (mungkin seperti golongan “cagar budaya” gitu kalau di Indonesia). Ini artinya walaupun kita adalah pemilik rumah itu, kita tidak bisa seenaknya “merenovasi” rumah kita karena kita harus mengonsultasikannya dulu! Dengar-dengar bahkan urusannya bisa sampai di pengadilan juga!

***

Yah, walaupun begitu, tentu bukan berarti apartemen baru tidak memiliki masalah lah ya. Misalnya saja, renovasi mini yang mesti kulakukan di kamar mandiku belum lama yang lalu. Tetapi tetap saja, secara keseluruhan aku rasa lebih banyak keuntungan daripada kerugiannya dari tinggal di gedung yang baru; terutama jika kita berencana untuk memilikinya (atau sebagian darinya)!!

General Life · working life · Zilko's Life

#1956 – Some Stories This Week

ENGLISH

A Team Outing

On Tuesday, my team organized a team outing, which I obviously joined. I was quite excited because I had to miss the previous opportunity due to a power outage which crippled the entire Dutch railway network. Mind that back then I was still living in Delft and obviously the power outage had to happen on that day of all time, haha 😆 .

Anyway, the activity for the team outing this time was a GPS augmented reality city game in Amsterdam. We were split into several (six) teams and each team was given an iPad and a bag of tools to solve several puzzles. The puzzles were spread throughout the city of Amsterdam and we had to physically go these spots as indicated in the map. In some sense it was like a combination of Pokemon Go and The Amazing Race, haha 😆 . The teams were also competing against each other and we also could check our current standing at any time, haha.

It was fun! Though we (my team) felt like we were being cheated because the answer of one puzzle was wrong gramatically, so our grammatically correct answer was marked as wrong. Though, to be fair, every team got the same set of questions so at least it was wrong for everyone, haha. My team did not do quite well during the game, so our goal was not to come in last. And in the end, we came in fifth, which had it been a leg on The Amazing Race, at least we would have not gotten eliminated, hahaha 😆 .

A team outing like this was fun, though. Beside the, obviously, fun, I felt like I could learn about the characters and personalities of some of my team members, hehe 🙂 . I felt like I could get to know them better.

A haircut

Anyway, it has been more than two months since I got a haircut so it was time for another one. I felt like my hair had been a bit too long anyway.

Actually, a few weeks back I got a flyer in my mailbox about a new barbershop  that was giving away some discount. But I did not feel like trying a new place this time, plus I really liked the last result of the other barbershop. So I decided to come back. This time, though, I learned from my last visit and made an appointment online since a few days before so I wouldn’t need to wait for too long, haha.

I am satisfied with the result, again, but of course no photo (yet 😛 ). Though, this second trip to the barbershop makes me miss the “complimentary” head massage in many Indonesian barbershops when you get your hair washed, haha. In this barbershop, hair wash is already included in the price (whereas in my previous favorite barbeshop in Den Haag, it was separate and I always chose not to use it, haha 😛 ). But from my two visits (and based on some people’s stories in other barbershops here), it appears that hair wash means only hair wash, here. No head massage, haha 😛 .

BAHASA INDONESIA

Sebuah Team Outing

Di hari Selasa, timku mengadakan acara team outing, yang mana jelas aku ikutan. Aku cukup bersemangat soalnya aku kan terpaksa melewatkan kesempatan sebelumnya karena padamnya listrik yang melumpuhkan jaringan kereta api Belanda. Waktu itu kan aku masih tinggal di Delft dan jelas dong ya mati lampunya harus terjadi di hari team outing bukannya di waktu lain kek, haha 😆 .

Anyway, aktivitas team outing kali ini adalah permainan augmented reality dengan GPS di Amsterdam. Kami dibagi ke beberapa (enam) tim dan masing-masing tim diberikan sebuah iPad dan satu tas berisi barang-barang untuk memecahkan beberapa teka-teki. Nah, teka-tekinya tersebar di seluruh penjuru Amsterdam gitu dan kami harus berjalan-kaki menuju lokasi-lokasinya yang ditunjukkan di peta. Yaa, kurang lebih seperti kombinasi Pokemon Go dan The Amazing Race lah, haha 😆 . Tim-tim ini juga berkompetisi satu sama lain dan kami juga bisa melihat posisi sementara di setiap waktu, haha.

Seru! Walaupun kami (timku) merasa sedikit tercurangi sih karena satu jawaban dari teka-tekinya itu salah dong secara tata bahasa, jadilah jawaban kami yang bertata-bahasa benar justru dianggap salah! Walaupun, untuk fair-nya sih, setiap tim mendapatkan set pertanyaan yang sama sehingga setidaknya kesalahan ini juga diderita semua tim, haha. Timku tidak bermain dengan begitu baik kali ini, jadilah tujuan kami adalah jangan sampai menjadi tim yang paling terakhir. Dan akhirnya, kami menyelesaikan permainan ini di urutan kelima. Yah, setidaknya andaikata ini satu leg The Amazing Race, yang penting kami nggak akan tereliminasi lah ya, hahaha 😆 .

Acara team outing ini memang seru. Selain keasyikannya, aku juga merasa aku bisa lebih membaca karakter dan kepribadian beberapa anggota timku yang lain, hehe 🙂 . Ya rasanya jadi lebih kenal gitu.

Potong rambut

Anyway, sudah lebih dari dua bulan semenjak aku potong rambut sehingga sudah saatnya untuk potong lagi lah ya. Memang toh rasanya rambutku sudah agak panjang nih.

Sebenarnya, beberapa minggu yang lalu aku mendapatkan brosur di kotak posku yang berisi iklan sebuah salon baru yang sedang memberikan diskon. Tetapi aku sedang malas untuk mencoba tempat baru kali ini, apalagi aku juga suka hasil potong salonku yang sebelumnya. Jadilah aku memutuskan untuk kembali ke salon yang kemarin aja. Kali ini, aku belajar dari pengalaman waktu itu dimana aku sudah membuat janji dulu online semenjak beberapa hari sebelumnya sehingga aku nggak perlu menunggu lama, haha.

Aku cukup puas dengan hasilnya, tapi jelas belum foto-foto 😛 . Walaupun kunjungan keduaku ke salon ini membuatku kangen akan pijat kepala “gratisan” yang diberikan di banyak salon di Indonesia sih ketika rambut kita dicuci. Di salon ini, cuci rambut sudah termasuk di dalam harga potong rambutnya (sementara di salon favoritku yang sebelumnya di Den Haag, cuci rambut itu terpisah dan aku selalu memilih untuk tidak cuci rambut, haha 😛 ). Nah, dari dua kunjungan ini (dan berdasarkan cerita beberapa teman lain di salon-salon lain), kayaknya di sini ya cuci rambut itu ya berarti cuci rambut doang. Nggak ada deh itu yang namanya pijat kepala, haha 😛

working life · Zilko's Life

#1955 – Some June Stories from Work

ENGLISH

In general, we in the Netherlands were quite lucky with the weather in June where there were quite many days with great summer weather! This was perfect because there were several summer events organized by my office in June which became much more fun with the summer weather 😀 .

A Day Out

My department organized a Day Out on a Friday in mid-June. The event was held in Westergasfabriek, a former gasworksfactory that is now used to host events, which was really, really cool!! 😀 For instance, here is how the main presentation room looked like:

Westergasfabriek

The day was filled with presentations (ranging from the very serious business-related presentations to the more relaxed working-environment-related presentations), which I found interesting and useful.

The presentations were followed with a big pub quiz, where we were randomly assigned to a team (in total there were about 170 teams). Of course there were some prizes for the winner (including a trophy, haha). My team finished the quiz ranked 17th, not bad, I guess, haha.

Obviously they had to ask the classic Monty Hall problem, which I hit a homerun on obviously *looking at my Bachelor’s, Master’s, and Doctoral’s diplomas* 😛

And to close the day was a barbeque for dinner, which was quite nice (especially the chicken that was really good!).

BBQ

Speaking of barbeque, some of my colleagues decided to organize another barbeque event to enjoy the (rare) summer weather. Unfortunately the timing did not work for me because I had to supervise the mini-renovation work I had in my apartment that time. Well…

Summer Party

And to top it all off, my office organized a summer party on the last Friday of the month! It was held literally after work, at the Kromhouthal, a former factory still “equipped” with the original steel-clad pillars and cranes (Yeah, there are so many cool places for events in Amsterdam! 😉 ).

However, as I previously shared, my plan to attend the party was ruined because of a delivery. I had to miss the party and now I regret about it a lot because of my colleagues’ descriptions about it; that was awesome!! Well, but I guess I just need to suck it up as we can’t get everything we want in life anyway. Attending this party might be one of those for me, haha…

BAHASA INDONESIA

Secara umum, kami di Belanda cukup beruntung dalam hal cuaca di sepanjang bulan Juni dimana ada cukup banyak hari dengan cuaca musim panas yang oke! Ini pas banget karena kantorku juga mengadakan beberapa acara musim panas di sepanjang bulan Juni yang menjadi semakin asyik dengan cuaca musim panas itu 😀 .

Sebuah Day Out

Departemenku mengadakan sebuah Day Out di sebuah Jumat di pertengahan Juni. Acaranya diadakan di Westergasfabriek, dulunya sebuah tempat pengelolaan gas gitu yang sekarang digunakan untuk mengadakan acara-acara, yang mana tempatnya kece banget!! 😀 Misalnya, berikut ini penampakan ruang presentasi utamanya:

Westergasfabriek

Hari itu dipenuhi oleh presentasi-presentasi (yang materinya bervariasi dari presentasi mengenai bisnis yang serius hingga yang lebih santai seperti misalnya tentang suasana pekerjaan di kantor), yang mana bagiku menarik dan berguna juga.

Setelah presentasi-presentasinya selesai, sebuah pub quiz diadakan, dimana secara acak kami dimasukkan ke dalam tim (totalnya ada sekitar 170an tim). Tentu saja ada hadiah bagi pemenang kuisnya (termasuk piala segala loh, haha). Pada akhirnya, timku mengakhiri kuis di posisi 17, lumayan lah ya, haha.

Jelas dong salah satu pertanyaannya adalah masalah Monty Hall yang klasik itu, yang mana jelas aku jawab dengan amat mudah *melirik ijazah S1, S2, dan S3-ku* 😛

Dan hari itu ditutup dengan barbeque untuk makan malam, yang mana lumayan oke juga (terutama barbeque ayamnya yang mana enak banget!).

BBQ

Ngomongin barbeque, beberapa kolegaku mengadakan acara barbeque sendiri gitu untuk menikmati cuaca musim panas (yang jarang itu). Sayangnya, waktunya kurang pas bagiku karena hari itu aku harus mengawasi pekerjaan renovasi mini di apartemenku. Yah…

Summer Party

Dan untuk mengakhiri itu semua, kantorku mengadakan sebuah summer party di hari Jumat terakhir bulan itu! Acaranya diadakan tepat setelah jam kerja, di Kromhouthal, sebuah tempat yang dulunya pabrik dan masih “dilengkapi” dengan pilar-pilar besi dan dereknya gitu (Iya, memang ada banyak banget tempat-tempat kece di Amsterdam untuk mengadakan suatu acara! 😉 ).

Namun, seperti yang sebelumnya aku ceritakan, rencanaku untuk menghadiri summer party ini gagal total dikarenakan sebuah pengiriman barang. Aku harus melewatkan pestanya dan sekarang aku sungguh menyesalinya karena kolegaku bercerita bagaimana seru acaranya berlangsung!! Ah, aku rasa sebaiknya aku move on aja karena toh nggak semua yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan kan. Menghadiri pesta ini mungkin adalah salah satunya, haha…

General Life · Zilko's Life

#1940 – My Transport Card

ENGLISH

With me moving to Amsterdam, you would probably think my commuting cost would also be cheaper now given that I live in the same city as where I work. Actually it is the contrary, I pay more for transportation now than when I still lived in Delft! Haha 😆 .

You see, obviously my office also provided commuting allowance and so I got the super amazing NS-Business Card for “free” from my office because Delft was so far away. The card granted me free public transportation rides (2nd class travel in trains, though) in the entire Netherlands at any time. This was super cool because this meant I could also use it for my personal matters, including making my frequent travels (mainly between Delft and Schiphol 😛 ) significantly cheaper (i.e. from having to pay myself to not having to pay at all, a.k.a a 100% discount, lol 😆 ).

My amazing NS-Business Card

For the NS-Business Card, I needed to pay (deducted from my nett monthly salary) €200 every month. However, because Delft was very far away and the commuting allowance was based on distance, I was entitled to the maximum allowance: also €200 every month. And so the €200 cancelled each other and so I got it for free.

Now that I live closer to my office, my commuting allowance is much less than €200 per month. If I want to keep my NS-Business Card, though, I would still need to pay the monthly €200 fee. In short, the card is not worth it anymore and I immediately cancelled it once I moved to Amsterdam, haha.

And so now I am back with my common regular OV-Chipkaart, haha. Obviously, I also subscribe myself to two transportation deals: a subscription with NS for 40% discount on train travels outside of the rush-hour periods and a subscription with the municipal public transprotation of Amsterdam (GVB) for my daily commute within the city. The cost? Well, my monthly commuting allowance unfortunately does not cover all of it, haha 😆 .

You see? Now I actually pay more for transport than when I actually lived in Delft. However, I still prefer this (hands down) than a free NS-Business Card but having to commute three hours everyday between Delft and Amsterdam!! Hahaha 😆

I certainly do not miss having to “fight” for an empty seat every day while commuting.

BAHASA INDONESIA

Dengan kepindahanku ke Amsterdam, mungkin pada mengira biaya nglaju-ku sekarang juga lebih rendah karena aku kan tinggal di kota yang sama dengan tempatku bekerja. Kenyataannya justru sebaliknya loh, sekarang ini aku membayar lebih banyak untuk transportasi daripada ketika aku tinggal di Delft! Haha 😆 .

Jelas kantorku memberikan commuting allowance (“tunjangan transportasi” kah bahasa Indonesianya? 🤔) dan jadilah aku mendapatkan kartu NS-Business Card yang super keren banget “gratis” dari kantor karena Delft berlokasi amat jauh. Kartunya memberikanku akses gratis ke semua alat transportasi umum (untuk kereta sih di kelas 2) di seluruh negara Belanda di waktu kapan pun. Ini asyik banget karena artinya kartunya juga bisa kugunakan untuk keperluan pribadi, termasuk untuk acara jalan-jalanku yang sering banget itu kan (seringnya mah antara Delft dan Schiphol, haha 😛 ) yang menjadi jauh lebih murah (baca: dari harus membayar sendiri menjadi jadi tidak harus membayar sama sekali, alias diskon 100%, huahaha 😆 ).

Kartu NS-Business Card-ku yang sakti banget

Nah untuk NS-Business Card itu, aku perlu membayar (otomatis diambil dari gaji bersih bulananku) €200 setiap bulan. Namun, karena Delft itu jauh sekali dan commuting allowance-nya adalah fungsi dari jarak, aku berhak mendapatkan jatah maksimumnya: yang mana juga lah €200 per bulan. Jadi mah praktis kartunya aku dapatkan gratis lah ya kalau begitu.

Nah karena sekarang aku tinggal lebih dekat ke kantor, commuting allowance-ku menjadi jauh lebih kecil daripada €200 per bulan deh. Sementara jika aku masih ingin mempertahankan NS-Business Card-ku, aku masih harus membayar biaya bulanannya yang sebesar €200. Singkatnya, kartunya tidak lagi worth it dan aku berhentikan tak lama setelah aku pindah ke Amsterdam, haha.

Dan sekarang aku kembali menggunakan kartu OV-Chipkaart regulerku deh, haha. Jelas, aku juga mendaftarkan diri ke dua abonemen transportasi: abonemen dengan NS untuk diskon 40% untuk perjalanan dengan kereta di luar jam kerja dan abonemen dengan operator transportasi umumnya kota Amsterdam (GVB) untuk perjalananku sehari-hari. Biayanya? Yah, intinya sih commuting allowance-ku dari kantor sekarang nggak cukup deh untuk menanggungnya, haha 😆 .

Nah kan? Jadilah artinya sekarang aku ongkos transportasiku justru lebih mahal daripada ketika aku tinggal di Delft. Namun, toh aku masih lebih memilih situasi ini kok (jelas nggak perlu dipikir-pikir lagi ini mah) daripada sebuah kartu NS-Business Card gratis tetapi harus menghabiskan waktu tiga jam setiap hari di jalan antara Delft dan Amsterdam!! Hahaha 😆 .

Jelas aku tidak kangen harus “rebutan” kursi kosong setiap hari ketika nglaj
Miscellaneous · Photo Tales

#1933 – Photo Tales (41)

ENGLISH

Photo #91

Perusahaan Ketjap Kudus in Den Haag

Some time ago when I was grocery shopping, I spotted the following sweet soysauce at one of the racks. Okay, you probably need to speak Indonesian to understand why I bothered to take the photo (because it was quite funny in some ways 😛 ).

You see, it was soysauce by “Perusahaan Ketjap Kudus” (translated as “Kudus Soysauce Factory”), implying the factory’s location in Kudus, Central Java. However, it was stated at the bottom of the label that the production was actually in Den Haag, the Netherlands. Yeah, so a factory of an Indonesian product with an Indonesian name but with production in the Netherlands, haha.

Though, I might actually misunderstand its name, though. Instead of “Kudus” as a noun (thus, referring to the Central Javan region), it might actually be the adjective “kudus” (translation: “holy”). This would actually explain the phrase “selalu terpudji” (translation: “always commendable”) put below its name, haha 😆 .

Photo #92

Lamb shank at Mata Hari

Anyway, in the last week of May, a friend and I caught up in Amsterdam. And we decided to have dinner at a restaurant called “Mata Hari”, that was actually not an Indonesian restaurant, haha (“matahari” means “the sun” in Indonesian). It was actually a Mediterranean restaurant.

Thanks to Yelp, we chose this restaurant, because the food was really good! Plus, I found it to be quite fairly priced, especially considering its location (near the touristic area of Amsterdam, i.e. the infamous Red Light, haha 😛 ). Anyway, I decided to order a lamb shank and some french fries. The lamb shank and its salad was really good; though I regretted the french fries because I actually did not really need it as I got too full afterwards, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Foto #91

Perusahaan Ketjap Kudus di Den Haag

Beberapa waktu lalu ketika sedang belanja, aku melihat kecap manis ini di salah satu rak.

Nah lucu kan, kecap manis ini buatan “Perusahaan Ketjap Kudus”, yang menyiratkan lokasi pabriknya ada di Kudus, Jawa Tengah. Namun, di bagian bawah labelnya dituliskan bahwa produksinya di Den Haag, Belanda. Iya, pabrik sebuah komoditi Indonesia dengan nama Indonesia tetapi produksinya di Belanda, haha.

Eh, sebenarnya bisa saja aku salah mengerti sih. Bukannya “Kudus” yang merupakan kata benda (sehingga menunjukkan daerah di Jawa Tengah itu), bisa saja yang benar adalah kata sifat “kudus”. Ini justru menjelaskan frase “selalu terpudji” yang dicetak di bawah namanya itu kan, haha 😆 .

Foto #92

Lamb shank di Mata Hari

Anyway, di akhir bulan Mei, seorang teman dan aku catch up di Amsterdam. Dan kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran yang namanya “Mata Hari”, yang mana bukan lah restoran Indonesia loh. Ternyata ini adalah restoran Mediterania, haha.

Berkat Yelp nih kami memilih restoran ini, dan untung soalnya makanannya enak! Plus, menurutku harganya juga oke lah terutama dengan mempertimbangkan lokasinya (di dekat area turistiknya Amsterdam, yaitu area Red Light yang “terkenal” itu, haha 😛 ). Anyway, aku memutuskan untuk memesan sebuah lamb shank dan french friesLamb shank berserta saladnya enak loh; walaupun aku sedikit menyesal memesan french fries-nya sih karena kebanyakan! Akibatnya aku kekenyangan deh setelahnya, haha 😆 .