#1901 – MY Apartment

ENGLISH

I previously shared that I have made a decision to move to Amsterdam. In fact, I am moving there this month. Actually, I made this decision already in November. So why did it take “this” long for me to move?

You see, I hated the act of “moving”. However, having made the decision to move, this meant what I needed to do was to minimize the number of moving I would need to do, haha 😆 . This further implied that I needed to move to a place for the longer-term. This last point went along with the conventional rational wisdom, which I had had in my mind for quite some time:

I needed to BUY my next place.

Btw, this was the goal I cryptically mentioned in November, haha.

You see, buying a new place was no small matter so I needed to gather a lot of information about it. Since then, I hired a consultant and an agent to represent me (The Amsterdam housing market is a highly competitive market that works “differently” than a lot of other housing markets, so it is advisable to hire an agent representing us when planning to buy a place.).

Amsterdam

The housing market in Amsterdam is unusual.

Long story short, it did not take very long for me to get a successful deal (apparently I was very lucky, some colleagues told me it took them almost a year before they bought their places in Amsterdam).

In fact, as of today, I am the official owner of my new place in Amsterdam, haha 😎.

***

When my agent informed and congratulated me that I got the deal by winning the bid back in February, I was feeling a little bit overwhelmed, to be honest, because it felt like a huge commitment (well, it was), haha. It was also probably because I was surprised to get the deal that fast, given that I didn’t think I made a high enough bid for the house (This indeed means that I think I got a good deal on it, yeay! 😉 ).

But I knew that this was what I wanted. Plus, this was the right and good commitment to make anyway, given the current outlook of my future plan. So I just braved myself up and proceeded with the process.

And so last week, my life savings took a big hit with all the initial payments related to this purchase. And I expect another hit in the coming weeks or so when my credit card bills arrive with all the shopping I have done to make my apartment “habitable”, lol 😆 . More on the latter in a later post 🙂 .

***

Yeah, another life achievement this year, I guess. After getting my Doctorate (PhD) degree earlier this year, I now own a place 😀 .

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya telah kuceritakan bahwa aku telah membuat keputusan untuk pindah ke Amsterdam. Bahkan aku akan pindahan bulan ini. Sebenarnya, keputusan ini sudah kubuat semenjak November. Lantas mengapa aku membutuhkan waktu “selama” ini cuma buat pindah aja?

Jadi begini, aku benci sekali dengan yang namanya “pindahan”. Namun, karena sudah membuat keputusan untuk pindah, ini artinya yang perlu kulakukan adalah meminimalisir jumlah pindahannya kan, haha 😆 . Artinya, aku harus pindah ke suatu tempat untuk jangka panjang. Poin terakhir ini kebetulan juga sejalan dengan pandangan rasional yang umum, yang mana juga sudah berada di benakku cukup lama:

Tempat tinggalku selanjutnya haruslah aku BELI.

Btw, ini adalah tujuan yang aku singgung secara misterius bulan November lalu, haha.

Nah kan, membeli tempatku sendiri itu bukanlah perkara sepele sehingga aku merasa perlu untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentangnya. Semenjak waktu itu, aku memutuskan untuk menggunakan jasa konsultan dan sebuah agen untuk mewakiliku (pasar properti Amsterdam adalah pasar yang amat kompetitif dan “berbeda” dari layaknya pasar-pasar properti lainnya, jadi memang disarankan untuk menggunakan jasa agen di sini).

Amsterdam

Pasar properti di Amsterdam itu cukup berbeda.

Singkat cerita, tidak membutuhkan waktu lama untukku berhasil mendapatkan sebuah deal (Dan bisa dibilang aku beruntung sekali. Beberapa kolegaku bercerita mereka membutuhkan waktu hampir setahun untuk mendapatkan rumahnya di Amsterdam).

Bahkan, per hari ini, resmi aku adalah pemilik rumahku di Amsterdam loh, haha 😎.

***

Ketika agenku memberi-tahuku dan menyelamatiku bahwa aku mendapatkan apartmennya karena aku menang dalam penawaran harga di bulan Februari kemarin, aku merasa overwhelmed banget, jujur nih, karena ini terasa seperti komitmen yang besar banget (memang begitu sih), haha. Mungkin ini juga karena aku kaget aku mendapatkan deal sedemikian cepat, dengan pertimbangan padahal rasanya penawaran hargaku nggak tinggi-tinggi amat loh (Ini memang berarti aku merasa aku mendapatkan rumahku dengan harga yang oke, hore! 😉 ).

Tetapi aku tahu ini adalah apa yang aku inginkan. Ditambah lagi, toh ini adalah komitmen yang tepat dan baik untuk dibuat kan, apalagi dengan mempertimbangkan perencanaan masa-depanku sekarang. Jadilah aku memberanikan diri dan melanjutkan prosesnya.

Akibatnya minggu lalu, tabunganku terkena pukulan besar deh dengan semua pembayaran awal yang berkaitan dengan pembelian ini. Dan minggu-minggu ini akan ada pukulan lain lagi ketika tagihan kartu kreditku akan datang dengan semua belanjaanku akhir-akhir ini untuk membuat apartemenku ini “bisa dihuni”, huahaha 😆 . Yang kedua ini akan aku tulis di sebuah posting yang akan datang 🙂 .

***

Yup, sebuah pencapaian hidup lagi ya tahun ini. Setelah mendapatkan gelar Doktoral (S3)-ku awal tahun ini, kini aku juga memiliki rumahku sendiri 😀 .

#1900 – Amsterdam, Here I Come!!

ENGLISH

Since starting working in Amsterdam last October, I have been commuting every working day between Delft and Amsterdam. My observation at the time turned out to be robust enough, where I needed to spend about three hours everyday just to commute; unless when there was a train disruption, in which case it would be longer.

While I started to get used to it, I realized this was still not sustainable in the long run. There was basically less and less rationale for me to still live in Delft as time went on. The cheaper rent in Delft became irrelevant anyway (it has been so since I started working actually), as I got more than good enough salary to afford Amsterdam’s (expensive *cough*) accommodation, haha. And now that I have officially finished my PhD in TU Delft, I can say there is no more reason for me to still live in Delft.

The moment I became a Doctor, also the moment where living in Delft became significantly less reasonable.

Yep, it is now all obvious to me. I have decided that I am moving to Amsterdam.

I write this post because I have made concrete steps in realizing this decision. In fact, it is already confirmed that I am moving to the capital this month, haha 😆 . Further details into this shall become one special upcoming post. So stay tuned for that! 🙂

But yeah, after moving to Delft almost seven years ago, it is about time for me to close the Delft chapter of my life really soon. Yep, this might sound super dramatic considering Amsterdam is only about 55 km from Delft, haha. But still… .

Having lived in Delft this long. In this town I got my Master and Doctorate (PhD) degrees. In this town my life in Europe started. Yup, Delft will always be a big and important part of my life 🙂 .

Marktplein in Delft as viewed from the top of the Nieuwe Kerk

Delft

BAHASA INDONESIA

Semenjak mulai bekerja di Amsterdam bulan Oktober lalu, aku telah nglaju di setiap hari kerja antara Delft dan Amsterdam. Pengamatanku waktu itu cukup akurat, dimana setiap hari aku perlu menghabiskan sekitar tiga jam di jalan; kecuali jika ada gangguan kereta api yang mana dalam kasus ini waktunya tentu lebih lama lagi.

Walaupun aku mulai terbiasa dengan rutinitas ini, aku menyadari bahwa ini tetap sama sekali tidak berkelanjutan (sustainable) untuk jangka panjang. Seiring berjalannya waktu, semakin sedikit keuntungan bagiku untuk tetap tinggal di Delft. Biaya sewa akomodasi yang lebih murah di Delft juga (sebenarnya semenjak awal mulai kerja) tidak relevan, karena toh aku mendapatkan gaji yang jauh lebih dari cukup untuk mampu tinggal di sebuah akomodasi di Amsterdam (yang mahal itu *uhuk*), haha. Dan juga sekarang aku telah menyelesaikan PhD (S3)-ku di TU Delft, artinya semakin tidak ada lagi alasan untukku tetap tinggal di Delft.

Momen aku menjadi seorang Doktor, juga momen dimana tinggal di Delft menjadi jauh lebih tidak masuk akal lagi.

Yep, kini semuanya sudah jelas untukku. Aku telah memutuskan untuk pindah ke Amsterdam.

Posting ini aku tulis karena aku telah membuat langkah-langkah nyata untuk merealisasikan keputusan ini (jadi bukan omdo, haha 😛 ). Malahan, sudah terkonfirmasi kok bahwa aku akan pindah ke ibukota bulan ini, haha 😆 . Cerita lebih mendetail mengenai ini adalah bahan satu posting yang akan datang. Jadi ditunggu aja ceritanya! 🙂

Tetapi, ya, jadilah semenjak aku pindah ke Delft nyaris tujuh tahun yang lalu, kini sudah waktunya untukku menutup bab Delft dalam hidupku. Iyaa, memang terdengar dramatis dan berlebihan banget ya. Apalagi Amsterdam kan cuma sekitar 55 km aja dari Delft, haha. Tetapi tetap aja… .

Aku sudah tinggal di Delft sedemikian lama. Di kota ini lah aku mendapatkan gelar Master (S2) dan Doktoral (S3)-ku. Di kota ini lah kehidupanku di Eropa dimulai. Ya, Delft akan tetap menjadi satu bagian besar dan penting dalam hidupku 🙂 .

#1875 – 2016 Year End Trip (Part VIII: A Weekend In Amsterdam)

ENGLISH

Posts in the 2016 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Amsterdam to Rome to Shanghai
3. Part II: Shanghai to Bali
4. Part III: Bali
5. Part IV: Yogyakarta
6. Part V: The Food in Yogyakarta
7. Part VI: Yogyakarta to Bali to Shanghai
8. Part VII: Shanghai to Paris to Amsterdam
9. Part VIII: A Weekend in Amsterdam

***

I found it quite funny that my first weekend trip of 2017 was to: Amsterdam! Haha 😆

From Schiphol Airport, my friend and I took a Sprinter train towards Amsterdam Centraal. From there, we went to our hotel nearby, checked-in, and left our luggage in our room.

5 PM during winter solstice

Hello, Amsterdam!

For some reason, I did not feel that tired, despite having just spent 36+ hours flying non-stop from Yogyakarta to Amsterdam via Bali, Shanghai, and Paris! Haha 😆 .

Then, I took my friend to sightsee of the most (in)famous areas of Amsterdam. You know what that is, I am sure, haha 😛 . We had a mini dinner at an Asian restaurant, before going back to the hotel.

Warm noodles and roasted duck

Warm noodles and roasted duck

We checked-out right after our complimentary breakfast the next morning. My friend’s Garuda Indonesia flight to Jakarta was scheduled to leave in the late afternoon so we had the whole morning to tour Amsterdam.

We walked along the Damrak until we reached Rembrandtplein, then walked towards the Heineken Museum. From there, we took the tram towards Museumplein to go to the “I Amsterdam” tourist trap 😛 .

Rijksmuseum, Amsterdam

Rijksmuseum, Amsterdam

I took my friend to an Albert Heijn for him to buy some stroopwafels for gift, before having lunch at an Argentinian restaurant. The steak was okay, even though unfortunately the chimichurri sauce was not ready yet.

Then, it was already time for my friend to go to Schiphol. So we took my bag at the hotel and went to Schiphol. We parted there, as he had to go to Gate G to catch his flight. I took the train to go to Delft and here, my year end vacation to Indonesia officially ended.

THE END.

Bonus:

  1. It was always nice to meet an old friend, as we caught up a lot and talked over many different things. From stupid unimportant ones to the more serious life matters, lol 😆 . So in this sense, too bad we only had less than 24 hours to meet!
  2. Amsterdam on Sunday was, surprisingly, serene and relatively quiet (except in the super touristy area, of course). This swifted my perception a little bit.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2016 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Amsterdam to Rome to Shanghai
3. Part II: Shanghai to Bali
4. Part III: Bali
5. Part IV: Yogyakarta
6. Part V: The Food in Yogyakarta
7. Part VI: Yogyakarta to Bali to Shanghai
8. Part VII: Shanghai to Paris to Amsterdam
9. Part VIII: A Weekend in Amsterdam

***

Lucu rasanya bahwa tujuan pertama perjalanan akhir pekan 2017 adalah: Amsterdam! Haha 😆

Dari Bandara Schiphol, aku dan temanku menaiki kereta Sprinter menuju Amsterdam Centraal. Dari sana, kami pergi ke hotel kami di dekat stasiun, check-in, dan kemudian menaruh barang bawaan kami di kamar.

5 PM during winter solstice

Halo, Amsterdam!

Entah mengapai, aku tidak merasa lelah loh, padahal baru saja aku menghabiskan 36 jam lebih terbang non-stop dari Yogyakarta ke Amsterdam via Bali, Shanghai, dan Paris! Haha 😆 .

Lalu, aku membawa temanku untuk melihat-lihat sebuah area di Amsterdam yang “terkenal” itu, haha. Tahu lah ya apa, haha 😛 . Kemudian, kami makan malam di sebuah rumah makan Asia, sebelum kembali ke hotel.

Warm noodles and roasted duck

Mie hangat dan bebek panggang

Kami check-out setelah sarapan di hotel keesokan paginya. Penerbangan Garuda Indonesianya temanku ke Jakarta dijadwalkan berangkat di sore hari sehingga sepagian itu kami bisa jalan-jalan di Amsterdam.

Kami berjalan menyusuri Damrak hingga mencapai Rembrandtplein, dan kemudian berjalan-kaki menuju Museum Heineken. Dari sana, kami menaiki tram menuju Museumplein untuk pergi ke tourist trap tulisan “I Amsterdam” itu 😛 .

Rijksmuseum, Amsterdam

Rijksmuseum, Amsterdam

Aku mengantarkan temanku ke sebuah Albert Heijn untuknya membeli beberapa stroopwafels untuk oleh-oleh, sebelum makan siang di sebuah restoran Argentina. Steak-nya enak sih, tetapi sayangnya saus chimichurrinya masih belum siap.

Lalu, sudah waktunya untuk temanku pergi ke Schiphol. Kami mengambil tasku di hotel dan pergi ke bandara. Kami berpisah di sana, dimana ia harus masuk ke Gerbang G untuk mengejar penerbangannya. Aku menaiki kereta kembali ke Delft dan, di sini, perjalanan akhir tahunku ke Indonesia resmi berakhir.

SELESAI. 

Bonus:

  1. Selalu seru rasanya bisa bertemu teman lama, dimana kami catch up dan banyak ngobrol tentang berbagai macam hal. Mulai dari yang sangat amat nggak penting sampai pembicaraan mengenai kehidupan, haha 😆 . Jadi dari sudut pandang itu, agak sedih juga kami hanya bisa bertemu kurang dari 24 jam.
  2. Amsterdam di hari Minggu itu, ternyata, terasa tenang dan damai (eh, kecuali di area yang turistik banget ya). Ini sedikit menggeser persepsiku akan kota ini deh.

#1865 – Some Stories From Work

ENGLISH

Bowling

Last week, my office organized a bowling event for new hires. By that, my company booked the entire bowling arena for us, the employees, for two hours and it also included free drinks and snacks! Lol 😆 So obviously, I RSVPed the event!! 😀

It had been awhile since the last time I played bowling (it was in Malaysia 😛 ); and actually, it would be my first time playing bowling in Europe! Haha 😛 .

It's bowling time in Amsterdam

It’s bowling time in Amsterdam

So how was it? Well, unsurprisingly, I was a little bit “rusty”; but overall, it was fine and, more importantly, really fun! As during the event the arena was turned into a disco arena along with 1980s disco music! Haha 😀

A Boat Tour!

Earlier this week, my group was able to secure a spot on our company’s private boat for an evening tour in the canals of Amsterdam. It also happened that the famous Amsterdam Light Festival was still on! And I heard the best way to enjoy the festival was by taking a boat tour!! And now I got to do that for free (it was even including some pizzas for dinner 😛 )!!

Tulip lights for the Amsterdam Light Festival

Tulip lights for the Amsterdam Light Festival

But then, in the morning there was a major power outage in Amsterdam which affected all public transportation around the capital 😦 . By “affecting”, I mean no train running at all which made it impossible for me to go to my office. Well, unless I wanted to bike which probably would have taken four hours one way, lol 😆 .

It was so bad that the impact lasted the entire day so that NS even suggested people not to travel to the area of Amsterdam, Utrecht, or Schiphol if possible 😖. You could imagine, a calamity like this would propagate so fast (and so bad) in the busy and highly-utilized Dutch railway network.

So unfortunately, I had to skip the boat tour this time 😩. But it is okay, I am sure there will be another opportunity for a boat tour later on. But still, I am still a little bit disappointed as the timing of this one was so perfect! 😦

BAHASA INDONESIA

Bowling

Minggu lalu, kantorku mengadakan acara bowling untuk karyawan-karyawan baru. Maksudnya, kantorku menyewa keseluruhan arena bowling untuk kami, para karyawan, gitu deh selama dua jam dan ini semua termasuk minuman dan snack gratis! Haha 😆 . Jelas dong ya aku ikutan!! 😀

Sudah lama juga semenjak terakhir kali aku main bowling (terakhir kali adalah di Malaysia 😛 ); dan sebenarnya, ini akan menjadi kali pertama aku main bowling di Eropa loh! Haha 😛 .

It's bowling time in Amsterdam

Saatnya main bowling di Amsterdam

Bagaimana kah acaranya? Yah, tak mengherankan, permainanku sedikit “karatan”; tetapi secara umum sih oke-oke saja kok dan, yang penting, seruu! Haha 😀 . Apalagi sewaktu main arenanya dibuat bersuasana disko lengkap dengan lagu-lagu disko tahun 1980an pula gitu 😛 . Semakin seru deh, haha 😀 .

Tur Kapal!!

Awal minggu ini, grupku berhasil mendapatkan jatah untuk menggunakan kapal pribadi perusahaan kami untuk sebuah tur kapal malam-malam di kanal-kanalnya Amsterdam. Kebetulan juga Amsterdam Light Festival yang terkenal itu juga masih berlangsung kan! Dan dengar-dengar nih cara terbaik untuk menikmati festival ini adalah dengan ikutan tur kapal!! Nah kan, sekarang aku malah mendapatkan kesempatan untuk melakukannya dengan gratis, dan ini pun termasuk makan malam berupa pizza pula loh!! Hahaha #pecintagratisan

Tulip lights for the Amsterdam Light Festival

Lampu-lampu tulip di acara Amsterdam Light Festival

Tetapi kemudian, di pagi harinya ada kejadian mati lampu yang parah dong di Amsterdam yang mempengaruhi semua transportasi umum di sekitar ibukota 😦 . Dengan “mempengaruhi”, maksudku adalah sama sekali tidak ada kereta api yang bisa beroperasi sehingga tidak memungkinkanku untuk berangakt ke kantor. Yah, kecuali aku mau bersepeda ke sana sih yang mana sekali jalan bakal memakan waktu empat jam kali, haha 😆 .

Saking parahnya, pengaruhnya berlangsung sepanjang hari bahkan NS menyarankan penumpang untuk tidak pergi ke area Amsterdam, Utrecht, atau pun Schiphol jika bisa 😖. Bisa dibayangkan kan, efek bencana transportasi semacam ini jelas akan tersebar dengan amat cepat di jaringan kereta api Belanda yang memang pada dasarnya sudah sibuk dan padat banget.

Jadi sayangnya, aku harus melewati tur kapal ini deh kali ini 😩. Tetapi nggak apa-apa sih, toh aku yakin akan ada kesempatan untuk tur kapal lagi nanti-nanti. Tapi tetap aja sih aku agak kecewa karena timing tur kali ini kan sempurna banget sebenarnya! 😦

#1861 – 2016 Year End Trip (Introduction)

ENGLISH

Posts in the 2016 Year End Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Amsterdam to Rome to Shanghai
3. Part II: Shanghai to Bali
4. Part III: Bali
5. Part IV: Yogyakarta
6. Part V: The Food in Yogyakarta
7. Part VI: Yogyakarta to Bali to Shanghai
8. Part VII: Shanghai to Paris to Amsterdam
9. Part VIII: A Weekend in Amsterdam

As you know, I went to Indonesia for my 2016 year end trip and I was just back in the Netherlands at the end of last week. I was there for about two weeks and, as usual, two weeks went by really fast when I was on vacation! Lol 😆

Anyway, to get to (and back from) Indonesia, I chose two interesting routing this time. The outbound routing was as follows:

My routing this year. Created with gcmap.com

My outbound routing. Created with gcmap.com

and this was the inbound routing:

My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com

My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com

Huahaha 😆 . Six different airlines were involved here: Alitalia, China Eastern, NAM Air, Garuda Indonesia, Air France, and KLM. I was lucky too that on the Paris – Amsterdam flight, I got upgraded to KLM’s Europe business class!

Dinner service on board KLM's Europe business class

Got upgraded to KLM’s Europe business class

Actually, my return ticket to Indonesia was between Amsterdam and Bali. So I thought because I would be in Bali anyway, it would be better to also stay for a few days there. It turned out my parents and brother liked this idea so they picked me up in Bali on my arrival.

The Blangsinga Waterfall in Bali

The Blangsinga Waterfall in Bali

Yogyakarta was awesome, as usual, especially since I got a lot of time to spend with my family and close friends. I also spent the New Year’s Eve there, the first time to do so since 2009.

On my return trip to the Netherlands, it happened that a friend of mine was in Amsterdam for a quick weekend visit. I accompanied him in Amsterdam for the weekend before going back to Delft.

Rijksmuseum, Amsterdam

A weekend in Amsterdam

Yeah, overall, it was an awesome (but a bit tiring, admittedly, lol 😆 ) year end trip!! 🙂 As usual, here are some teasers:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri in the 2016 Year End Trip:
1. Introduction
2. Part I: Amsterdam to Rome to Shanghai
3. Part II: Shanghai to Bali
4. Part III: Bali
5. Part IV: Yogyakarta
6. Part V: The Food in Yogyakarta
7. Part VI: Yogyakarta to Bali to Shanghai
8. Part VII: Shanghai to Paris to Amsterdam
9. Part VIII: A Weekend in Amsterdam

Seperti yang kalian tahu, aku pergi ke Indonesia untuk perjalanan akhir tahun 2016ku dan aku kembali di Belanda akhir minggu lalu. Aku di sana selama sekitar dua minggu dan, seperti biasa, dua minggu itu kok berlalu sungguh cepat ya ketika sedang liburan! Haha 😆

Anyway, untuk pergi ke (dan kembali dari) Indonesia, kali ini aku memilih dua rute yang menarik. Di perjalanan keberangkatan, ruteku seperti ini:

My routing this year. Created with gcmap.com

Rute keberangkatanku, dibuat dengan gcmap.com

Sementara itu, rute kepulangannya adalah seperti ini:

My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com

Rute kepulanganku ke Amsterdam. Dibuat dengan gcmap.com

Huahaha 😆 . Enam maskapai yang berbeda terlibat di sini: Alitalia, China Eastern, NAM Air, Garuda Indonesia, Air France, dan KLM. Aku juga beruntung dimana di penerbangan Paris – Amsterdam, aku di-upgrade ke kelas bisnis Eropanya KLM!!

Dinner service on board KLM's Europe business class

Di-upgrade ke kelas bisnis Eropanya KLM!

Sebenarnya, tiketku pp ke Indonesia adalah dari Amsterdam ke Bali. Jadi aku pikir-pikir karena toh aku akan berada di Bali juga, sekalian aja lah aku stay di sana selama beberapa hari. Kebetulan orangtua dan adikku menyukai ide ini sehingga mereka menjemputku di Bali.

The Blangsinga Waterfall in Bali

Air terjun Blangsinga di Bali

Yogyakarta asyik deh, seperti biasa, terutama karena aku memiliki banyak waktu untuk kuhabiskan bersama keluarga dan teman-teman dekatku. Aku juga menghabiskan malam Tahun Baru di sana, pertama kalinya semenjak tahun 2009.

Di perjalananku kembali ke Belanda, kebetulan pas banget seorang temanku yang lain sedang berada di Amsterdam untuk sebuah perjalanan akhir pekan singkat. Aku menemaninya di Amsterdam akhir pekan itu sebelum kembali ke Delft.

Rijksmuseum, Amsterdam

Akhir pekan di Amsterdam

Ya, secara keseluruhan, ini adalah perjalanan akhir tahun yang seru banget (tapi cukup melelahkan juga sih, haha 😆 )!! 🙂 Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa teaser dari perjalanan ini.

#1859 – Back in the Netherlands

ENGLISH

Two weeks went by really fast. Now, I am already back in the Netherlands; back in the winter after tasting two weeks of (eternal) summer in Indonesia, despite the raining season there, haha 😆 .

This time, my routing to go back to the Netherlands was as interesting as my departure, with only slight difference. Here it is:

My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com

My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com

Yep, I was flying Yogyakarta – Bali – Shanghai PVG – Paris CDG – Amsterdam on four different airlines: Garuda Indonesia, China Eastern, Air France, and KLM. Haha 😆

Garuda Indonesia's Boeing 737-800 reg PK-GMO

My first flight of 2017 was with Garuda Indonesia

Choosing to transit in Paris CDG instead of Rome FCO made this routing about 800 km shorter than the departure actually. But in the grand scheme of thing, it made little to no difference as I felt tired with both! Tired but happy, though. Well, especially that I got upgraded to Europe business class on the Paris CDG – Amsterdam sector!! 😍

Dinner service on board KLM's Europe business class

Upgraded to KLM’s Europe business class!!

I arrived at Schiphol on Saturday evening. However, I did not immediately go back to Delft because I had one of my best friends visiting. He just finished his study in Scotland and was on his way to go back for good to Indonesia, so he made a one night stop in Amsterdam.

Rijksmuseum, Amsterdam

Amsterdam for the weekend

So I stayed in Amsterdam that evening; and basically spent most of my weekend there, haha. And now I am (finally) back in Delft and Amsterdam (for work). Damn, back to reality! 😣 .

Anyway, yeah, that is all for now! 🙂

BAHASA INDONESIA

Dua minggu berlalu sungguh cepat. Sekarang ini, aku sudah kembali lagi di Belanda; kembali di musim dingin setelah merasakan dua minggu musim panas (abadi) di Indonesia, walaupun lagi musim hujan juga sih di sana, haha 😆 .

Kali ini, ruteku untuk kembali ke Belanda sama menariknya seperti rute keberangaktanku, hanya dengan sedikit perbedaan saja. Berikut ini rutenya:

My routing this time to go back to Amsterdam. Created with gcmap.com

Ruteku kali ini untuk kembali ke Amsterdam. Dibuat dengan gcmap.com

Yep, aku menerbangi Yogyakarta – Bali – Shanghai PVG – Paris CDG – Amsterdam dengan empat maskapai yang berbeda: Garuda Indonesia, China Eastern, Air France, dan KLM. Huahaha 😆

Garuda Indonesia's Boeing 737-800 reg PK-GMO

Penerbangan pertamaku di tahun 2017 adalah dengan Garuda Indonesia

Memilih untuk transit di Paris CDG bukannya di Roma FCO membuat rute ini sekitar 800 km lebih singkat daripada rute keberangkatanku sebenarnya. Tetapi di big picture-nya sih, perbedaannya tidak begitu signifikan karena toh di keduanya aku juga merasa capek! Eh, capek tapi senang ding. Terutama juga karena aku di-upgrade ke kelas bisnis Eropa di penerbangan Paris CDG – Amsterdamnya!! 😍

Dinner service on board KLM's Europe business class

Di-upgrade ke kelas bisnis Eropanya KLM!!

Aku tiba di Schiphol di hari Sabtu malam. Namun, aku tidak langsung kembali ke Delft karena kebetulan salah satu teman baikku sedang berkunjung. Ia baru saja menyelesaikan studinya di Skotlandia dan sedang dalam perjalanan balik (for good) ke Indonesia, jadilah dia sekalian mampir di Amsterdam.

Rijksmuseum, Amsterdam

Akhir pekan di Amsterdam

Jadilah aku menginal di Amsterdam malam itu; dan pada dasarnya akhir pekan ini aku habiskan di sana sih, haha. Barulah sekarang (akhirnya) aku kembali di Delft dan Amsterdam (untuk kerjaan maksudnya). Ah, kembali ke dunia nyata nih!  😣 .

Anyway, yah, segini dulu deh untuk sekarang! 😀

#1829 – A Saturday Story

ENGLISH

A Meetup (Kopdar)

Early last week, Kutubuku messaged me on Instagram that she would be in Amsterdam for a weekend and invited me for a meetup at a bar on Saturday evening. My Saturday evening agenda was still free so of course I said yes. You see, not only the Indonesia-based bloggers who could organize a kopdar, the Europe-based could too! 😛

Fast forward to Saturday. I arrived a little bit early at Beer Temple, where we were set to meet, and the bar was full at the time. But luckily when we all met, a group (of tourists from England, I knew because I talked with one of the guys, lol 😆 ) just left so we could take their now vacant seats. She visited Amsterdam with ScandiGuy and a Danish friend.

In short, it was a fun evening. We tried many different beers and they showed me a beer app (which apparently was happening now which I was unaware of, lol 😆 ) they were using to collect badges. We ended up at the bar for a good 3.5 hours where we talked and talked about so many different things. I had to leave at 11:30 PM because there was a less frequent train service between Amsterdam and Delft today due to a maintenance. After we parted, though, I just realized that we forgot to take a picture together, lol 😆 . Well, I blame the beers for this, hahaha…

Andy Murray

Andy Murray won in two sets: 6–3, 6–3

Andy Murray in Rotterdam in 2014

Speaking of Saturday, a good tennis news (to me) was made. By advancing to the Paris Masters final, it was guaranteed that Andy Murray would be the new world no.1 when the ranking was updated this Monday, replacing Novak Djokovic at the top of the list.

To be honest, a few months ago looking at how Djokovic dominated tennis for the first half a year, I thought it would be pretty much impossible for someone else to dethrone him from the top this season. However, a combination of Djokovic’s dip in form after the French Open (where he completed the Nole Slam which I witnessed, btw) and Murray’s strong second half of the season (despite losing in the quarterfinals of the US Open) made this achievent a reality!

Wow!! So obviously I am super happy! In my opinion, Andy Murray is a great player in a golden tennis era; but this means the competition was super tough as well where he had to face Roger Federer, Rafael Nadal, and Novak Djokovic all in their prime years too. So to finally reach this pinnacle of the sport was definitely something he deserved. Especially for his perserverence, where he had to “wait” for more than seven years since the first time he hit number 2 (in August 2009) until he hit number 1 (in November 2016).

In a way, I could see this as a replacement for my disappointment when Serena Williams was dethroned from world no.1 in September, where Angelique Kerber took over the spot. I understood why it happened, though, as Serena was hampered by many physical problems this year and decided to focus only on the grandslams, something reasonable, and actually smart, given her age, of course. But still, as a fans I think it was normal to feel a little bit of disappointment from that, haha 😆 .

Anyway, congratulations, Andy!! 💪☝️

Andy Murray, world no. 1. Source: ATP World Tour

 

BAHASA INDONESIA

Kopdar

Awal minggu lalu, Kutubuku DM aku di Instagram bahwa ia akan berada di Amsterdam di akhir pekan dan mengajak untuk kopdaran di sebuah bar Sabtu malam. Karena agenda Sabtu malamku masih lowong, tentu saja aku setuju. Nah kan, yang namanya kopdaran itu nggak cuma mungkin untuk blogger-blogger yang berbasis di Indonesia loh, yang berbasis di Eropa juga bisa! 😛

Fast forward ke hari Sabtu. Aku tiba di Beer Temple, tempat dimana kami janjian, agak terlalu awal dan waktu itu barnya sedang penuh. Untungnya, ketika kami bertemu, ada satu grup (turis dari Inggris, aku tahu karena aku ngobrol sedikit dengan salah satu orangnya, haha 😆 ) baru saja keluar sehingga kita bisa duduk di kursi mereka yang sekarang kosong. Ia mengunjungi Amsterdam bersama ScandiGuy dan seorang teman dari Denmark.

Singkat cerita, ini adalah malam yang menyenangkan. Kami mencoba banyak bir dan mereka menunjukkanku sebuah app bir (yang mana ternyata lagi happening sekarang tapi aku nggak tahu dong, haha 😆 ) yang digunakan untuk mengoleksi badges. Akhirnya kami duduk-duduk di barnya selama 3,5an jam dimana kami ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai macam topik. Aku harus pergi jam 11:30 malam karena malam ini frekuensi kereta antara Amsterdam dan Delft lebih jarang daripada biasanya karena ada pekerjaan maintenance. Setelah kami berpisah, aku baru sadar dong kalau kita lupa foto-foto, haha 😆 . Ah, gara-gara birnya ini pasti, hahaha…

Andy Murray

Andy Murray won in two sets: 6–3, 6–3

Andy Murray di Rotterdam di tahun 2014

Ngomongin hari Sabtu, satu berita tenis yang baik (untukku) muncul. Dengan lolos ke babak final turnamen Paris Masters, telah tergaransi bahwa Andy Murray akan menjadi pemain peringkat 1 dunia ketika peringkatnya di-update hari Senin ini, menggantikan Novak Djokovic di posisi puncak ini.

Sejujurnya, beberapa bulan yang lalu dengan melihat dominasinya Djokovic di setegah tahun pertama, aku rasa nyaris mustahil bagi seseorang lain untuk menggusurnya dari posisi teratas musim ini. Namun, kombinasi dari turunnya performanya Djokovic setelah French Open (dimana ia mencetak Nole Slam yang mana aku saksikan, btw) dan performa kuatnya Murray di paruh kedua musim ini (walaupun ia kalah di perempat-final US Open), pencapaian ini menjadi kenyataan!

Wow!! Jadi jelas dong aku senang sekali! Menurutku, Andy Murray adalah pemain yang bagus di era emas tenis; tetapi ini juga berarti kompetisinya sulit sekali baginya dimana ia juga harus berhadapan dengan Roger Federer, Rafael Nadal, dan Novak Djokovic yang semuanya sedang dalam tahun-tahun puncaknya juga. Jadi untuk akhirnya mencapai pencapaian ini adalah sesueatu yang sungguh layak ia dapatkan. Terutama karena kegigihannya, dimana ia harus rela “menunggu” lebih dari tujuh tahun semenjak ia pertama kali mencapai peringkat 2 (di bulan Agustus 2009) hingga mencapai peringkat 1 (di bulan November 2016).

Di satu sisi, aku bisa memandang ini sebagai pengganti kekecewaanku dari turunnya Serena Williams dari posisi peringkat 1 dunia, setelah digeser oleh Angelique Kerber. Aku memahami mengapa ini terjadi sih, karena Serena sedang menghadapi masalah dengan cedera fisik dan memutuskan untuk lebih fokus di turnamen grandslam saja, sesuatu yang masuk akal, dan sebenarnya cerdas sih dengan mempertimbangkan usianya. Tapi, tetap aja lah ya sebagai fans tentu aku juga merasakan sedikit kekecewaan, haha 😆 .

Anyway, selamat, Andy!! 💪☝️

Andy Murray, peringkat 1 dunia. Sumber: ATP World Tour