General Life · working life · Zilko's Life

#1956 – Some Stories This Week

ENGLISH

A Team Outing

On Tuesday, my team organized a team outing, which I obviously joined. I was quite excited because I had to miss the previous opportunity due to a power outage which crippled the entire Dutch railway network. Mind that back then I was still living in Delft and obviously the power outage had to happen on that day of all time, haha 😆 .

Anyway, the activity for the team outing this time was a GPS augmented reality city game in Amsterdam. We were split into several (six) teams and each team was given an iPad and a bag of tools to solve several puzzles. The puzzles were spread throughout the city of Amsterdam and we had to physically go these spots as indicated in the map. In some sense it was like a combination of Pokemon Go and The Amazing Race, haha 😆 . The teams were also competing against each other and we also could check our current standing at any time, haha.

It was fun! Though we (my team) felt like we were being cheated because the answer of one puzzle was wrong gramatically, so our grammatically correct answer was marked as wrong. Though, to be fair, every team got the same set of questions so at least it was wrong for everyone, haha. My team did not do quite well during the game, so our goal was not to come in last. And in the end, we came in fifth, which had it been a leg on The Amazing Race, at least we would have not gotten eliminated, hahaha 😆 .

A team outing like this was fun, though. Beside the, obviously, fun, I felt like I could learn about the characters and personalities of some of my team members, hehe 🙂 . I felt like I could get to know them better.

A haircut

Anyway, it has been more than two months since I got a haircut so it was time for another one. I felt like my hair had been a bit too long anyway.

Actually, a few weeks back I got a flyer in my mailbox about a new barbershop  that was giving away some discount. But I did not feel like trying a new place this time, plus I really liked the last result of the other barbershop. So I decided to come back. This time, though, I learned from my last visit and made an appointment online since a few days before so I wouldn’t need to wait for too long, haha.

I am satisfied with the result, again, but of course no photo (yet 😛 ). Though, this second trip to the barbershop makes me miss the “complimentary” head massage in many Indonesian barbershops when you get your hair washed, haha. In this barbershop, hair wash is already included in the price (whereas in my previous favorite barbeshop in Den Haag, it was separate and I always chose not to use it, haha 😛 ). But from my two visits (and based on some people’s stories in other barbershops here), it appears that hair wash means only hair wash, here. No head massage, haha 😛 .

BAHASA INDONESIA

Sebuah Team Outing

Di hari Selasa, timku mengadakan acara team outing, yang mana jelas aku ikutan. Aku cukup bersemangat soalnya aku kan terpaksa melewatkan kesempatan sebelumnya karena padamnya listrik yang melumpuhkan jaringan kereta api Belanda. Waktu itu kan aku masih tinggal di Delft dan jelas dong ya mati lampunya harus terjadi di hari team outing bukannya di waktu lain kek, haha 😆 .

Anyway, aktivitas team outing kali ini adalah permainan augmented reality dengan GPS di Amsterdam. Kami dibagi ke beberapa (enam) tim dan masing-masing tim diberikan sebuah iPad dan satu tas berisi barang-barang untuk memecahkan beberapa teka-teki. Nah, teka-tekinya tersebar di seluruh penjuru Amsterdam gitu dan kami harus berjalan-kaki menuju lokasi-lokasinya yang ditunjukkan di peta. Yaa, kurang lebih seperti kombinasi Pokemon Go dan The Amazing Race lah, haha 😆 . Tim-tim ini juga berkompetisi satu sama lain dan kami juga bisa melihat posisi sementara di setiap waktu, haha.

Seru! Walaupun kami (timku) merasa sedikit tercurangi sih karena satu jawaban dari teka-tekinya itu salah dong secara tata bahasa, jadilah jawaban kami yang bertata-bahasa benar justru dianggap salah! Walaupun, untuk fair-nya sih, setiap tim mendapatkan set pertanyaan yang sama sehingga setidaknya kesalahan ini juga diderita semua tim, haha. Timku tidak bermain dengan begitu baik kali ini, jadilah tujuan kami adalah jangan sampai menjadi tim yang paling terakhir. Dan akhirnya, kami menyelesaikan permainan ini di urutan kelima. Yah, setidaknya andaikata ini satu leg The Amazing Race, yang penting kami nggak akan tereliminasi lah ya, hahaha 😆 .

Acara team outing ini memang seru. Selain keasyikannya, aku juga merasa aku bisa lebih membaca karakter dan kepribadian beberapa anggota timku yang lain, hehe 🙂 . Ya rasanya jadi lebih kenal gitu.

Potong rambut

Anyway, sudah lebih dari dua bulan semenjak aku potong rambut sehingga sudah saatnya untuk potong lagi lah ya. Memang toh rasanya rambutku sudah agak panjang nih.

Sebenarnya, beberapa minggu yang lalu aku mendapatkan brosur di kotak posku yang berisi iklan sebuah salon baru yang sedang memberikan diskon. Tetapi aku sedang malas untuk mencoba tempat baru kali ini, apalagi aku juga suka hasil potong salonku yang sebelumnya. Jadilah aku memutuskan untuk kembali ke salon yang kemarin aja. Kali ini, aku belajar dari pengalaman waktu itu dimana aku sudah membuat janji dulu online semenjak beberapa hari sebelumnya sehingga aku nggak perlu menunggu lama, haha.

Aku cukup puas dengan hasilnya, tapi jelas belum foto-foto 😛 . Walaupun kunjungan keduaku ke salon ini membuatku kangen akan pijat kepala “gratisan” yang diberikan di banyak salon di Indonesia sih ketika rambut kita dicuci. Di salon ini, cuci rambut sudah termasuk di dalam harga potong rambutnya (sementara di salon favoritku yang sebelumnya di Den Haag, cuci rambut itu terpisah dan aku selalu memilih untuk tidak cuci rambut, haha 😛 ). Nah, dari dua kunjungan ini (dan berdasarkan cerita beberapa teman lain di salon-salon lain), kayaknya di sini ya cuci rambut itu ya berarti cuci rambut doang. Nggak ada deh itu yang namanya pijat kepala, haha 😛

working life · Zilko's Life

#1955 – Some June Stories from Work

ENGLISH

In general, we in the Netherlands were quite lucky with the weather in June where there were quite many days with great summer weather! This was perfect because there were several summer events organized by my office in June which became much more fun with the summer weather 😀 .

A Day Out

My department organized a Day Out on a Friday in mid-June. The event was held in Westergasfabriek, a former gasworksfactory that is now used to host events, which was really, really cool!! 😀 For instance, here is how the main presentation room looked like:

Westergasfabriek

The day was filled with presentations (ranging from the very serious business-related presentations to the more relaxed working-environment-related presentations), which I found interesting and useful.

The presentations were followed with a big pub quiz, where we were randomly assigned to a team (in total there were about 170 teams). Of course there were some prizes for the winner (including a trophy, haha). My team finished the quiz ranked 17th, not bad, I guess, haha.

Obviously they had to ask the classic Monty Hall problem, which I hit a homerun on obviously *looking at my Bachelor’s, Master’s, and Doctoral’s diplomas* 😛

And to close the day was a barbeque for dinner, which was quite nice (especially the chicken that was really good!).

BBQ

Speaking of barbeque, some of my colleagues decided to organize another barbeque event to enjoy the (rare) summer weather. Unfortunately the timing did not work for me because I had to supervise the mini-renovation work I had in my apartment that time. Well…

Summer Party

And to top it all off, my office organized a summer party on the last Friday of the month! It was held literally after work, at the Kromhouthal, a former factory still “equipped” with the original steel-clad pillars and cranes (Yeah, there are so many cool places for events in Amsterdam! 😉 ).

However, as I previously shared, my plan to attend the party was ruined because of a delivery. I had to miss the party and now I regret about it a lot because of my colleagues’ descriptions about it; that was awesome!! Well, but I guess I just need to suck it up as we can’t get everything we want in life anyway. Attending this party might be one of those for me, haha…

BAHASA INDONESIA

Secara umum, kami di Belanda cukup beruntung dalam hal cuaca di sepanjang bulan Juni dimana ada cukup banyak hari dengan cuaca musim panas yang oke! Ini pas banget karena kantorku juga mengadakan beberapa acara musim panas di sepanjang bulan Juni yang menjadi semakin asyik dengan cuaca musim panas itu 😀 .

Sebuah Day Out

Departemenku mengadakan sebuah Day Out di sebuah Jumat di pertengahan Juni. Acaranya diadakan di Westergasfabriek, dulunya sebuah tempat pengelolaan gas gitu yang sekarang digunakan untuk mengadakan acara-acara, yang mana tempatnya kece banget!! 😀 Misalnya, berikut ini penampakan ruang presentasi utamanya:

Westergasfabriek

Hari itu dipenuhi oleh presentasi-presentasi (yang materinya bervariasi dari presentasi mengenai bisnis yang serius hingga yang lebih santai seperti misalnya tentang suasana pekerjaan di kantor), yang mana bagiku menarik dan berguna juga.

Setelah presentasi-presentasinya selesai, sebuah pub quiz diadakan, dimana secara acak kami dimasukkan ke dalam tim (totalnya ada sekitar 170an tim). Tentu saja ada hadiah bagi pemenang kuisnya (termasuk piala segala loh, haha). Pada akhirnya, timku mengakhiri kuis di posisi 17, lumayan lah ya, haha.

Jelas dong salah satu pertanyaannya adalah masalah Monty Hall yang klasik itu, yang mana jelas aku jawab dengan amat mudah *melirik ijazah S1, S2, dan S3-ku* 😛

Dan hari itu ditutup dengan barbeque untuk makan malam, yang mana lumayan oke juga (terutama barbeque ayamnya yang mana enak banget!).

BBQ

Ngomongin barbeque, beberapa kolegaku mengadakan acara barbeque sendiri gitu untuk menikmati cuaca musim panas (yang jarang itu). Sayangnya, waktunya kurang pas bagiku karena hari itu aku harus mengawasi pekerjaan renovasi mini di apartemenku. Yah…

Summer Party

Dan untuk mengakhiri itu semua, kantorku mengadakan sebuah summer party di hari Jumat terakhir bulan itu! Acaranya diadakan tepat setelah jam kerja, di Kromhouthal, sebuah tempat yang dulunya pabrik dan masih “dilengkapi” dengan pilar-pilar besi dan dereknya gitu (Iya, memang ada banyak banget tempat-tempat kece di Amsterdam untuk mengadakan suatu acara! 😉 ).

Namun, seperti yang sebelumnya aku ceritakan, rencanaku untuk menghadiri summer party ini gagal total dikarenakan sebuah pengiriman barang. Aku harus melewatkan pestanya dan sekarang aku sungguh menyesalinya karena kolegaku bercerita bagaimana seru acaranya berlangsung!! Ah, aku rasa sebaiknya aku move on aja karena toh nggak semua yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan kan. Menghadiri pesta ini mungkin adalah salah satunya, haha…

General Life · Zilko's Life

#1940 – My Transport Card

ENGLISH

With me moving to Amsterdam, you would probably think my commuting cost would also be cheaper now given that I live in the same city as where I work. Actually it is the contrary, I pay more for transportation now than when I still lived in Delft! Haha 😆 .

You see, obviously my office also provided commuting allowance and so I got the super amazing NS-Business Card for “free” from my office because Delft was so far away. The card granted me free public transportation rides (2nd class travel in trains, though) in the entire Netherlands at any time. This was super cool because this meant I could also use it for my personal matters, including making my frequent travels (mainly between Delft and Schiphol 😛 ) significantly cheaper (i.e. from having to pay myself to not having to pay at all, a.k.a a 100% discount, lol 😆 ).

My amazing NS-Business Card

For the NS-Business Card, I needed to pay (deducted from my nett monthly salary) €200 every month. However, because Delft was very far away and the commuting allowance was based on distance, I was entitled to the maximum allowance: also €200 every month. And so the €200 cancelled each other and so I got it for free.

Now that I live closer to my office, my commuting allowance is much less than €200 per month. If I want to keep my NS-Business Card, though, I would still need to pay the monthly €200 fee. In short, the card is not worth it anymore and I immediately cancelled it once I moved to Amsterdam, haha.

And so now I am back with my common regular OV-Chipkaart, haha. Obviously, I also subscribe myself to two transportation deals: a subscription with NS for 40% discount on train travels outside of the rush-hour periods and a subscription with the municipal public transprotation of Amsterdam (GVB) for my daily commute within the city. The cost? Well, my monthly commuting allowance unfortunately does not cover all of it, haha 😆 .

You see? Now I actually pay more for transport than when I actually lived in Delft. However, I still prefer this (hands down) than a free NS-Business Card but having to commute three hours everyday between Delft and Amsterdam!! Hahaha 😆

I certainly do not miss having to “fight” for an empty seat every day while commuting.

BAHASA INDONESIA

Dengan kepindahanku ke Amsterdam, mungkin pada mengira biaya nglaju-ku sekarang juga lebih rendah karena aku kan tinggal di kota yang sama dengan tempatku bekerja. Kenyataannya justru sebaliknya loh, sekarang ini aku membayar lebih banyak untuk transportasi daripada ketika aku tinggal di Delft! Haha 😆 .

Jelas kantorku memberikan commuting allowance (“tunjangan transportasi” kah bahasa Indonesianya? 🤔) dan jadilah aku mendapatkan kartu NS-Business Card yang super keren banget “gratis” dari kantor karena Delft berlokasi amat jauh. Kartunya memberikanku akses gratis ke semua alat transportasi umum (untuk kereta sih di kelas 2) di seluruh negara Belanda di waktu kapan pun. Ini asyik banget karena artinya kartunya juga bisa kugunakan untuk keperluan pribadi, termasuk untuk acara jalan-jalanku yang sering banget itu kan (seringnya mah antara Delft dan Schiphol, haha 😛 ) yang menjadi jauh lebih murah (baca: dari harus membayar sendiri menjadi jadi tidak harus membayar sama sekali, alias diskon 100%, huahaha 😆 ).

Kartu NS-Business Card-ku yang sakti banget

Nah untuk NS-Business Card itu, aku perlu membayar (otomatis diambil dari gaji bersih bulananku) €200 setiap bulan. Namun, karena Delft itu jauh sekali dan commuting allowance-nya adalah fungsi dari jarak, aku berhak mendapatkan jatah maksimumnya: yang mana juga lah €200 per bulan. Jadi mah praktis kartunya aku dapatkan gratis lah ya kalau begitu.

Nah karena sekarang aku tinggal lebih dekat ke kantor, commuting allowance-ku menjadi jauh lebih kecil daripada €200 per bulan deh. Sementara jika aku masih ingin mempertahankan NS-Business Card-ku, aku masih harus membayar biaya bulanannya yang sebesar €200. Singkatnya, kartunya tidak lagi worth it dan aku berhentikan tak lama setelah aku pindah ke Amsterdam, haha.

Dan sekarang aku kembali menggunakan kartu OV-Chipkaart regulerku deh, haha. Jelas, aku juga mendaftarkan diri ke dua abonemen transportasi: abonemen dengan NS untuk diskon 40% untuk perjalanan dengan kereta di luar jam kerja dan abonemen dengan operator transportasi umumnya kota Amsterdam (GVB) untuk perjalananku sehari-hari. Biayanya? Yah, intinya sih commuting allowance-ku dari kantor sekarang nggak cukup deh untuk menanggungnya, haha 😆 .

Nah kan? Jadilah artinya sekarang aku ongkos transportasiku justru lebih mahal daripada ketika aku tinggal di Delft. Namun, toh aku masih lebih memilih situasi ini kok (jelas nggak perlu dipikir-pikir lagi ini mah) daripada sebuah kartu NS-Business Card gratis tetapi harus menghabiskan waktu tiga jam setiap hari di jalan antara Delft dan Amsterdam!! Hahaha 😆 .

Jelas aku tidak kangen harus “rebutan” kursi kosong setiap hari ketika nglaj
Miscellaneous · Photo Tales

#1933 – Photo Tales (41)

ENGLISH

Photo #91

Perusahaan Ketjap Kudus in Den Haag

Some time ago when I was grocery shopping, I spotted the following sweet soysauce at one of the racks. Okay, you probably need to speak Indonesian to understand why I bothered to take the photo (because it was quite funny in some ways 😛 ).

You see, it was soysauce by “Perusahaan Ketjap Kudus” (translated as “Kudus Soysauce Factory”), implying the factory’s location in Kudus, Central Java. However, it was stated at the bottom of the label that the production was actually in Den Haag, the Netherlands. Yeah, so a factory of an Indonesian product with an Indonesian name but with production in the Netherlands, haha.

Though, I might actually misunderstand its name, though. Instead of “Kudus” as a noun (thus, referring to the Central Javan region), it might actually be the adjective “kudus” (translation: “holy”). This would actually explain the phrase “selalu terpudji” (translation: “always commendable”) put below its name, haha 😆 .

Photo #92

Lamb shank at Mata Hari

Anyway, in the last week of May, a friend and I caught up in Amsterdam. And we decided to have dinner at a restaurant called “Mata Hari”, that was actually not an Indonesian restaurant, haha (“matahari” means “the sun” in Indonesian). It was actually a Mediterranean restaurant.

Thanks to Yelp, we chose this restaurant, because the food was really good! Plus, I found it to be quite fairly priced, especially considering its location (near the touristic area of Amsterdam, i.e. the infamous Red Light, haha 😛 ). Anyway, I decided to order a lamb shank and some french fries. The lamb shank and its salad was really good; though I regretted the french fries because I actually did not really need it as I got too full afterwards, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Foto #91

Perusahaan Ketjap Kudus di Den Haag

Beberapa waktu lalu ketika sedang belanja, aku melihat kecap manis ini di salah satu rak.

Nah lucu kan, kecap manis ini buatan “Perusahaan Ketjap Kudus”, yang menyiratkan lokasi pabriknya ada di Kudus, Jawa Tengah. Namun, di bagian bawah labelnya dituliskan bahwa produksinya di Den Haag, Belanda. Iya, pabrik sebuah komoditi Indonesia dengan nama Indonesia tetapi produksinya di Belanda, haha.

Eh, sebenarnya bisa saja aku salah mengerti sih. Bukannya “Kudus” yang merupakan kata benda (sehingga menunjukkan daerah di Jawa Tengah itu), bisa saja yang benar adalah kata sifat “kudus”. Ini justru menjelaskan frase “selalu terpudji” yang dicetak di bawah namanya itu kan, haha 😆 .

Foto #92

Lamb shank di Mata Hari

Anyway, di akhir bulan Mei, seorang teman dan aku catch up di Amsterdam. Dan kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran yang namanya “Mata Hari”, yang mana bukan lah restoran Indonesia loh. Ternyata ini adalah restoran Mediterania, haha.

Berkat Yelp nih kami memilih restoran ini, dan untung soalnya makanannya enak! Plus, menurutku harganya juga oke lah terutama dengan mempertimbangkan lokasinya (di dekat area turistiknya Amsterdam, yaitu area Red Light yang “terkenal” itu, haha 😛 ). Anyway, aku memutuskan untuk memesan sebuah lamb shank dan french friesLamb shank berserta saladnya enak loh; walaupun aku sedikit menyesal memesan french fries-nya sih karena kebanyakan! Akibatnya aku kekenyangan deh setelahnya, haha 😆 .

Life in Holland · Zilko's Life

#1914 – My Koningsdag 2017 Story

ENGLISH

This Thursday was King Willem Alexander II’s birthday so it was a public holiday in the entire country of the Netherlands, yeay!!

Coincidentally, this Koningsdag (King’s Day) took place right after I completely moved to Amsterdam earlier this week, so it was really nice, haha. And because Koningsdag just started in 2014 (before that year, this festivity was known as the Koninginnedag (Queen’s Day) because it was Queen Beatrix’s reign), technically this was my first ever Koningsdag in Amsterdam (in 2011 I went to the Koninginnedag in Amsterdam, though).

Koninginnedag in Amsterdam in 2011

Last year, I was quite looking forward to this year’s Koningsdag for the fact that it would take place on a Thursday so a long weekend would follow. While the Thursday part was a fact, the long weekend part would only be true if I did something for it, i.e. I took a Friday off. But this would take one day of my (now relatively limited) holiday allowances. Considering my upcoming plans for the rest of the year, I refrained myself from it and so: I worked on Friday! Lol 😆 .

However, on Thursday I felt really tired for whatever reason; possibly because of all the moving and my new apartment related activities I had been busy with in the past two months or so (I used almost every weekend in March to do furniture shopping). I guess my body was screaming for a well-deserved rest it was craving for, haha. It also turned out that the weather was not very cooperative during the day as well. And so I did not feel like going out and decided to just rest and stay at home for the entire day, haha.

Next year maybe I will go, as I do think it is exciting to experience this event in Amsterdam again. But next year it will be on a Friday so I might plan a weekend trip somewhere, though, as it will be an uninterrupted long weekend, then, haha 😆 . Well, we will see…

Koninginnedag in Amsterdam in 2011

 

BAHASA INDONESIA

Hari Kamis ini adalah hari ulang-tahunnya Raja Willem Alexander II jadilah satu negara Belanda libur karenanya, hore!!

Kebetulan, Koningsdag (Hari Raja) ini berlangsung setelah pindahanku ke Amsterdam selesai awal minggu ini, jadi kan asyik gitu ya, haha. Dan karena Koningsdag baru dimulai tahun 2014 (sebelum tahun itu, acara ini dikenal dengan nama Koninginnedag (Hari Ratu) karena Ratu Beatrix yang masih sedang berkuasa), secara teknis ini adalah Koningsdag pertamaku di Amsterdam (di tahun 2011 aku pergi ke Koninginnedag di Amsterdam sih).

Koninginnedag di Amsterdam di tahun 2011

Tahun lalu, aku cukup menantikan Koningsdag tahun ini karena akan berlangsung di hari Kamis, sehingga akan diikuti long weekend kan ya. Walaupun libur di hari Kamisnya itu adalah fakta, long weekend-nya hanya akan terjadi apabila aku menjadikannya demikian, yaitu dengan mengambil cuti di hari Jumat. Tapi ini akan mengurangi satu hari jatah cutiku (yang kini relatif terbatas). Dengan mempertimbangkan rencana-rencanaku di sepanjang sisa tahun ini, aku memutuskan untuk tidak melakukannya sehingga: aku masuk kerja dong di hari Jumat! Haha 😆 .

Nah, di hari Kamis itu aku merasa capek banget entah mengapa; mungkin akibat kesibukanku dengan pindahan dan urusan apartemen dua bulan belakangan ini ya (Aku menggunakan hampir setiap akhir pekan di bulan Maret untuk belanja mebel). Jadi aku duga tubuhku sedang berteriak meminta istirahat yang memang ia butuhkan, haha. Kebetulan juga cuaca seharian itu juga kurang begitu kooperatif sih. Jadilah aku merasa malas keluar dan memutuskan untuk beristirahat di rumah saja seharian, haha.

Tahun depan mungkin aku akan mengunjunginya deh, karena aku kira seru aja untuk berpartisipasi di acara ini di Amsterdam lagi. Tetapi tahun depan acaranya jatuh di hari Jumat nih sehingga mungkin aku akan merencanakan perjalanan akhir pekan kemana gitu, karena long weekend yang tidak terputus kan, haha 😆 . Yah, kita lihat saja deh…

Koninginnedag di Amsterdam di tahun 2011
Big Days · Zilko's Life

#1901 – MY Apartment

ENGLISH

I previously shared that I have made a decision to move to Amsterdam. In fact, I am moving there this month. Actually, I made this decision already in November. So why did it take “this” long for me to move?

You see, I hated the act of “moving”. However, having made the decision to move, this meant what I needed to do was to minimize the number of moving I would need to do, haha 😆 . This further implied that I needed to move to a place for the longer-term. This last point went along with the conventional rational wisdom, which I had had in my mind for quite some time:

I needed to BUY my next place.

Btw, this was the goal I cryptically mentioned in November, haha.

You see, buying a new place was no small matter so I needed to gather a lot of information about it. Since then, I hired a consultant and an agent to represent me (The Amsterdam housing market is a highly competitive market that works “differently” than a lot of other housing markets, so it is advisable to hire an agent representing us when planning to buy a place.).

Amsterdam
The housing market in Amsterdam is unusual.

Long story short, it did not take very long for me to get a successful deal (apparently I was very lucky, some colleagues told me it took them almost a year before they bought their places in Amsterdam).

In fact, as of today, I am the official owner of my new place in Amsterdam, haha 😎.

***

When my agent informed and congratulated me that I got the deal by winning the bid back in February, I was feeling a little bit overwhelmed, to be honest, because it felt like a huge commitment (well, it was), haha. It was also probably because I was surprised to get the deal that fast, given that I didn’t think I made a high enough bid for the house (This indeed means that I think I got a good deal on it, yeay! 😉 ).

But I knew that this was what I wanted. Plus, this was the right and good commitment to make anyway, given the current outlook of my future plan. So I just braved myself up and proceeded with the process.

And so last week, my life savings took a big hit with all the initial payments related to this purchase. And I expect another hit in the coming weeks or so when my credit card bills arrive with all the shopping I have done to make my apartment “habitable”, lol 😆 . More on the latter in a later post 🙂 .

***

Yeah, another life achievement this year, I guess. After getting my Doctorate (PhD) degree earlier this year, I now own a place 😀 .

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya telah kuceritakan bahwa aku telah membuat keputusan untuk pindah ke Amsterdam. Bahkan aku akan pindahan bulan ini. Sebenarnya, keputusan ini sudah kubuat semenjak November. Lantas mengapa aku membutuhkan waktu “selama” ini cuma buat pindah aja?

Jadi begini, aku benci sekali dengan yang namanya “pindahan”. Namun, karena sudah membuat keputusan untuk pindah, ini artinya yang perlu kulakukan adalah meminimalisir jumlah pindahannya kan, haha 😆 . Artinya, aku harus pindah ke suatu tempat untuk jangka panjang. Poin terakhir ini kebetulan juga sejalan dengan pandangan rasional yang umum, yang mana juga sudah berada di benakku cukup lama:

Tempat tinggalku selanjutnya haruslah aku BELI.

Btw, ini adalah tujuan yang aku singgung secara misterius bulan November lalu, haha.

Nah kan, membeli tempatku sendiri itu bukanlah perkara sepele sehingga aku merasa perlu untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentangnya. Semenjak waktu itu, aku memutuskan untuk menggunakan jasa konsultan dan sebuah agen untuk mewakiliku (pasar properti Amsterdam adalah pasar yang amat kompetitif dan “berbeda” dari layaknya pasar-pasar properti lainnya, jadi memang disarankan untuk menggunakan jasa agen di sini).

Amsterdam
Pasar properti di Amsterdam itu cukup berbeda.

Singkat cerita, tidak membutuhkan waktu lama untukku berhasil mendapatkan sebuah deal (Dan bisa dibilang aku beruntung sekali. Beberapa kolegaku bercerita mereka membutuhkan waktu hampir setahun untuk mendapatkan rumahnya di Amsterdam).

Bahkan, per hari ini, resmi aku adalah pemilik rumahku di Amsterdam loh, haha 😎.

***

Ketika agenku memberi-tahuku dan menyelamatiku bahwa aku mendapatkan apartmennya karena aku menang dalam penawaran harga di bulan Februari kemarin, aku merasa overwhelmed banget, jujur nih, karena ini terasa seperti komitmen yang besar banget (memang begitu sih), haha. Mungkin ini juga karena aku kaget aku mendapatkan deal sedemikian cepat, dengan pertimbangan padahal rasanya penawaran hargaku nggak tinggi-tinggi amat loh (Ini memang berarti aku merasa aku mendapatkan rumahku dengan harga yang oke, hore! 😉 ).

Tetapi aku tahu ini adalah apa yang aku inginkan. Ditambah lagi, toh ini adalah komitmen yang tepat dan baik untuk dibuat kan, apalagi dengan mempertimbangkan perencanaan masa-depanku sekarang. Jadilah aku memberanikan diri dan melanjutkan prosesnya.

Akibatnya minggu lalu, tabunganku terkena pukulan besar deh dengan semua pembayaran awal yang berkaitan dengan pembelian ini. Dan minggu-minggu ini akan ada pukulan lain lagi ketika tagihan kartu kreditku akan datang dengan semua belanjaanku akhir-akhir ini untuk membuat apartemenku ini “bisa dihuni”, huahaha 😆 . Yang kedua ini akan aku tulis di sebuah posting yang akan datang 🙂 .

***

Yup, sebuah pencapaian hidup lagi ya tahun ini. Setelah mendapatkan gelar Doktoral (S3)-ku awal tahun ini, kini aku juga memiliki rumahku sendiri 😀 .

Zilko's Life

#1900 – Amsterdam, Here I Come!!

ENGLISH

Since starting working in Amsterdam last October, I have been commuting every working day between Delft and Amsterdam. My observation at the time turned out to be robust enough, where I needed to spend about three hours everyday just to commute; unless when there was a train disruption, in which case it would be longer.

While I started to get used to it, I realized this was still not sustainable in the long run. There was basically less and less rationale for me to still live in Delft as time went on. The cheaper rent in Delft became irrelevant anyway (it has been so since I started working actually), as I got more than good enough salary to afford Amsterdam’s (expensive *cough*) accommodation, haha. And now that I have officially finished my PhD in TU Delft, I can say there is no more reason for me to still live in Delft.

The moment I became a Doctor, also the moment where living in Delft became significantly less reasonable.

Yep, it is now all obvious to me. I have decided that I am moving to Amsterdam.

I write this post because I have made concrete steps in realizing this decision. In fact, it is already confirmed that I am moving to the capital this month, haha 😆 . Further details into this shall become one special upcoming post. So stay tuned for that! 🙂

But yeah, after moving to Delft almost seven years ago, it is about time for me to close the Delft chapter of my life really soon. Yep, this might sound super dramatic considering Amsterdam is only about 55 km from Delft, haha. But still… .

Having lived in Delft this long. In this town I got my Master and Doctorate (PhD) degrees. In this town my life in Europe started. Yup, Delft will always be a big and important part of my life 🙂 .

Marktplein in Delft as viewed from the top of the Nieuwe Kerk
Delft

BAHASA INDONESIA

Semenjak mulai bekerja di Amsterdam bulan Oktober lalu, aku telah nglaju di setiap hari kerja antara Delft dan Amsterdam. Pengamatanku waktu itu cukup akurat, dimana setiap hari aku perlu menghabiskan sekitar tiga jam di jalan; kecuali jika ada gangguan kereta api yang mana dalam kasus ini waktunya tentu lebih lama lagi.

Walaupun aku mulai terbiasa dengan rutinitas ini, aku menyadari bahwa ini tetap sama sekali tidak berkelanjutan (sustainable) untuk jangka panjang. Seiring berjalannya waktu, semakin sedikit keuntungan bagiku untuk tetap tinggal di Delft. Biaya sewa akomodasi yang lebih murah di Delft juga (sebenarnya semenjak awal mulai kerja) tidak relevan, karena toh aku mendapatkan gaji yang jauh lebih dari cukup untuk mampu tinggal di sebuah akomodasi di Amsterdam (yang mahal itu *uhuk*), haha. Dan juga sekarang aku telah menyelesaikan PhD (S3)-ku di TU Delft, artinya semakin tidak ada lagi alasan untukku tetap tinggal di Delft.

Momen aku menjadi seorang Doktor, juga momen dimana tinggal di Delft menjadi jauh lebih tidak masuk akal lagi.

Yep, kini semuanya sudah jelas untukku. Aku telah memutuskan untuk pindah ke Amsterdam.

Posting ini aku tulis karena aku telah membuat langkah-langkah nyata untuk merealisasikan keputusan ini (jadi bukan omdo, haha 😛 ). Malahan, sudah terkonfirmasi kok bahwa aku akan pindah ke ibukota bulan ini, haha 😆 . Cerita lebih mendetail mengenai ini adalah bahan satu posting yang akan datang. Jadi ditunggu aja ceritanya! 🙂

Tetapi, ya, jadilah semenjak aku pindah ke Delft nyaris tujuh tahun yang lalu, kini sudah waktunya untukku menutup bab Delft dalam hidupku. Iyaa, memang terdengar dramatis dan berlebihan banget ya. Apalagi Amsterdam kan cuma sekitar 55 km aja dari Delft, haha. Tetapi tetap aja… .

Aku sudah tinggal di Delft sedemikian lama. Di kota ini lah aku mendapatkan gelar Master (S2) dan Doktoral (S3)-ku. Di kota ini lah kehidupanku di Eropa dimulai. Ya, Delft akan tetap menjadi satu bagian besar dan penting dalam hidupku 🙂 .