EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1996 – AvGeek Weekend Trip #11 (AMS – LYS – CDG – AMS)

ENGLISH

On Saturday, as my Instagram followers (@azilko), I went on another AvGeek Weekend Trip. The original routing was not new this time, in fact it was the exact reverse of my AvGeek Weekend Trip #7 this March:

My original routing this weekend, Amsterdam – Lyon  – Paris – Amsterdam, the exact reverse of another AvGeek Weekend Trip from earlier this year. Created with gcmap.com

There was no other motivation this time other than my urge of flying, haha 😆 . But this time, though, I only wanted the cheapest option available and so consequently, I didn’t put any effort to find a more interesting routing. Actually, I was slightly tempted to fly out of Amsterdam with KLM’s first flight to Lyon so that I could connect to Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner Lyon – Paris-CDG flight. I have taken this flight just this August, but taking a second flight with it wouldn’t be harmful, no? 😛 But then, while officially the KLM and Air France flights were connected, the connection time was only 25 minutes. I wasn’t particularly comfortable with this and so I decided to let the idea go, haha 😛 .

No 787 this weekend.

But then, what I thought would be a regular trip suddenly turned to be a dramatic one. On Friday afternoon, I was informed that my KLM’s Amsterdam – Lyon flight was cancelled and that I would be moved to another flight. But I was curious because the next flight to Lyon would be so late in the day that I would miss my connection to Paris. So I was intrigued on what the solution would be.

Later that day, I was informed that I was moved to an Amsterdam – Paris flight, a solution which I had thought about. But I noticed something weird. It was indicated that I had a Paris – Lyon connection after that replacement flight. Then, from Lyon I would fly back to Paris and then from Paris to Amsterdam. The problem with this “solution” was that the Paris – Lyon flight would arrive in Lyon three hours after the Lyon – Paris flight.

Moved to a Paris-bound flight with a connecting flight to Lyon, arriving in Lyon three hours after my supposedly 14:55 connecting flight out of Lyon.

From what I understood about the flight ticketing world, this was problematic because I couldn’t just “skip” the Paris – Lyon flight and wait in Paris until the time of my Paris – Amsterdam flight. If I skipped the Paris – Lyon flight, my ticket would be marked “no show” which would lead to my Paris – Amsterdam ticket being cancelled. A bad situation indeed.

And so I decided to call the KLM call centre on Friday evening. The very friendly agent spotted the problem and she was very helpful in solving this Lyon complicacy problem by eliminating Lyon altogether from my ticket. Though, indeed the outcome of this was that instead of flying Amsterdam – Lyon – Paris – Amsterdam this weekend, I only flew Amsterdam – Paris – Amsterdam, lol 😆 .

My first original flight , indeed, got cancelled.

Even though this was, certainly, quite “boring” to me, I felt like it was still quite a useful experience overall to have some ticketing disruption like this. Though, of course I would hope for a similar situation to never ever happen again! Anyway, I will not write any story of this trip beyond this post, though. So here are a few photos from the “boring” trip:

BAHASA INDONESIA

Sabtu kemarin, seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuah AvGeek Weekend Trip lagi. Awalnya, rute kali ini tidak lah baru, malahan rutenya adalah kebalikan dari rute AvGeek Weekend Trip #7-ku Maret ini:

Rute awalku akhir pekan ini, Amsterdam – Lyon  – Paris – Amsterdam, kebalikan dari rute AvGeek Weekend Trip lainnya awal tahun ini. Peta dibuat dengan gcmap.com

Tidak ada motivasi lain kali ini selain memang ingin naik pesawat aja, haha 😆 . Kali ini, aku maunya terbang dengan pilihan termurah sehingga aku tidak berusaha untuk mencari rute lain yang lebih menarik. Sebenarnya, awalnya aku sedikit tergoda untuk berangkat dari Amsterdam dengan penerbangan pertamanya KLM ke Lyon sehingga aku bisa connect ke penerbangan Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France di rute Lyon – Paris-CDG. Memang sih aku sudah pernah menaiki penerbangan ini Agustus ini, tetapi nggak ada salahnya dong ya naik lagi? 😛 Tetapi kemudian, walaupun memang dua penerbangan KLM dan Air France ini terkoneksi, waktu transitnya hanyalah 25 menit saja. Aku merasa kurang nyaman dengan waktu transit yang hanya segini sehingga ide ini aku urungkan, haha 😛 .

Nggak terbang dengan 787 deh akhir pekan ini.

Tetapi kemudian, apa yang kukira akan menjadi perjalanan biasa tiba-tiba berubah dramatis. Jumat siang, aku diberi kabar bahwa penerbangan KLM Amsterdam – Lyonku dibatalkan dan aku akan dicarikan penerbangan pengganti. Aku penasaran karena penerbangan selanjutnya ke Lyon adalah di sore hari yang mana dengan penerbangan ini, aku tidak akan sempat mengejar penerbangan lanjutanku ke Paris. Jadilah aku penasaran solusinya apa dong ya.

Sorenya di hari Jumat, aku diinformasikan bahwa aku dipindahkan ke penerbangan Amsterdam – Paris, sebuah solusi yang memang sudah aku duga. Tetapi aku melihat ada sesuatu yang aneh. Diindikasikan juga bahwa aku memiliki penerbangan lanjutan Paris – Lyon setelah penerbangan pengganti ke Paris itu. Lalu, dari Lyon aku akan terbang kembali ke Paris dan kemudian dari Paris ke Amsterdam. Masalah dengan “solusi” ini adalah penerbangan Paris – Lyonku akan tiba di Lyon tiga jam setelah penerbangan Lyon – Paris-nya.

Dipindahkan ke penerbangan dengan tujuan Paris dengan penerbangan lanjutan ke Lyon, dengan jadwal tiba di Lyon tiga jam setelah jadwal keberangkatan penerbanganku selanjutnya dari Lyon jam 14:55.

Nah, sependek pengetahuanku akan dunia pertiketan pesawat, situasi ini sungguh bermasalah karena aku tidak bisa “men-drop” begitu saja penerbangan Paris – Lyon ini dan kemudian tinggal di Paris sampai jadwal keberangkatan penerbangan Paris – Amsterdamku. Jika penerbangan Paris – Lyon ini aku drop, tiketku akan ditandai “no show” yang mana akan berakibat pada pembatalan tiket Paris – Amsterdam-ku. Kan berabe dong ya kalau begitu.

Nah, jadilah aku memutuskan untuk menelepon call centre-nya KLM Jumat malam. Petugasnya yang ramah banget membantuku banget dalam menyelesaikan komplikasi Lyon dengan mengeliminasi keterlibatan Lyon dari tiketku. Walaupun memang sih akibatnya perjalananku ini berubah dari bukannya Amsterdam – Lyon – Paris – Amsterdam akhir pekan ini menjadi Amsterdam – Paris – Amsterdam doang, haha 😆 .

Penerbangan pertamaku memang dibatalkan.

Walaupun jelas rute pengganti ini “membosankan” untukku, toh secara umum aku tetap melihat pengalaman tiket yang terkacaukan ini adalah pengalaman yang berguna. Walaupun jelas lah aku berharap ini tidak akan pernah terjadi selama-lamanya lagi lah ya! Anyway, aku tidak akan menuliskan cerita dari perjalanan ini lebih jauh daripada posting ini sih. Jadi di atas aku langsung unggah saja beberapa fotonya.

Advertisements
Movie Review · Nostalgia

#1995 – Digimon Adventure Tri (5: Kyōsei)

ENGLISH

Previous posts in the Digimon Adventure Tri series:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)
3. Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)
4. Digimon Adventure Tri (4: Sōshitsu)

***

Last weekend, the fifth installment of Digimon Adventure Tri, Kyōsei, was released, which I would never miss as a big fan of Digimon Adventure (read: season 1 only)! 😀 This is the penultimate one, btw, as Digimon Tri is planned to be a six-part series. Anyway, here we go…

*** Spoiler Alert!!! ***

Being the penultimate series, a lot of the mysteries were answered in Kyōsei (Coexistence); and I started to understand what was going on.

It turned out that Meicoomon was born from the data remnant of Apocalymon, the final (and most evil) villain of Digimon Adventure 1. Naturally this made Meicoomon “dangerous” and “fragile” (sort of say). However, it appeared that the presence of a Digi-destined partner (Meiko) “tamed” and “controlled” this potentially dangerous side of Meicoomon.

Revealing Meicoomon’s identity

However, a mysterious entity named Yggdrasill appeared to want to take advantage of this where Meicoomon was “provoked” so “infection” (from Apocalymon data) was emitted of her body. Obviously this created chaos. Homeostatis, another entity being which was after the harmony of the Digital World, initially asked the Digi-destined to try to calm Meicoomon (in Part 2: Ketsui). This failed. So he rebooted the Digital World (in Part 3: Kokuhaku), but this also failed (Part 4: Sōshitsu). So Homeostasis resorted to his last option, that was to “kill” Meicoomon by sending a Mega-level digimon Jesmon to do the job.

This shocked the other eight Digi-destined as they didn’t believe killing Meicoomon was the solution to this. But halfway during the fight, they got confused themselves as some of them started to see Homeostasis’ point. During this moment of confusion, Taichi and Nishijima disappeared into a fissure on the ground. Thinking her older brother just died, Hikari got very sad and angry causing her Digimon partner, Nyaromon (Gatomon’s in-training form), to dark mega-digivolved to Ophanimon Falldown Mode. But things did not end here because Ophanimon Falldown Mode took Raguelmon (Meicoomon’s Mega form) and they fused into an unknown (but evil-looking) Digimon.

The fusion of Ophanimon Falldown Mode and Raguelmon

***

All in all, I am very happy with Kyōsei because finally, I start to understand what is going on! Having said that, I believe the writers took too long for some of these revelations. I mean now, it has literally been almost two years (!) since the release of the first series, Saikai. Meanwhile, the pace in Part 2 and Part 3 were excruciatingly slow that these films IMO would have benefited from more “injections” of “revelations” instead of keeping everything as mysteries.

Another aspect I like from this movie is that the writers were still able to put some light humor in the beginning. They don’t add anything to the story, actually; but this is one characteristic of a Digimon series! 🙂

A typical Digimon Adventure humor

However, my favorite part was actually Nyaromon’s dark mega-digivolve to Ophanimon Falldown Mode!! This was very, very interesting and reminded me a lot of Greymon’s dark digivolve to Skullgreymon in episode 16 of Digimon Adventure 1! At the time, Taichi was forcing Agumon to digivolve to its Ultimate form by torturing him. Consequently, instead of digivolving to Metalgreymon, Agumon digivolved to Skullgreymon. This time, it was Kari’s negative emotion (sadness, anger) which triggered this.

This, however, became a cliff hanger (and a good one, I must say) and we have to wait until the final film, Boku-ra no Mirai (Our Future), to find out what is going to happen. But that is scheduled to be released in Summer 2018 😣. Still far in the future! 😣

Anyway, all in all, I really enjoyed this fifth series of Digimon Tri!!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting sebelumnya dari seri Digimon Adventure Tri:
1. Digimon Adventure Tri (1: Saikai)
2. Digimon Adventure Tri (2: Ketsui)
3. Digimon Adventure Tri (3: Kokuhaku)
4. Digimon Adventure Tri (4: Sōshitsu)

***

Akhir pekan yang lalu, film kelima dari Digimon Adventure Tri, Kyōsei (Koeksistensi), dirilis, yang mana jelas dong ya nggak akan mungkin aku lewatkan sebagai fansnya Digimon Adventure (baca: musim 1 aja sih)! 😀 Dan film ini adalah film kedua yang terakhir, btw, karena Digimon Tri memang direncanakan terbagi dalam enam film saja. Anyway, mari kita mulai ceritanya…

*** Spoiler Alert!!! ***

Namanya film kedua terakhir, banyak misteri yang diungkapkan di Kyōsei ini; sehingga aku mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi di jalan ceritanya.

Ternyata Meicoomon lahir dari sisa-sisa data Apocalymon, musuh jahat terakhir (dan paling jahat) dari Digimon Adventure 1. Jelas ini membuat Meicoomon “berbahaya” dan “rentan kumat” (kurang lebih begitu). Namun, untungnya keberadaan anak terpilih pasangannya (Meiko) “menjinakkan” dan “mengontrol” sisi berbahaya dari Meicoomon ini.

Mengungkapkan identitas Meicoomon.

Namun, suatu sosok misterius yang bernama Yggdrasill sepertinya ingin memanfaatkan “kejahatan gen” Meicoomon ini dimana Meicoomon “diprovokasi” sehingga “infeksi-infeksi” (dari data Apocalymon) keluar dari tubuhnya. Tentu saja ini menimbulkan kekacauan. Homeostatis, sosok misterius lainnya yang berkepentingan menjaga ketentraman dan keharmonisan Dunia Digital, awalnya meminta anak-anak terpilih untuk mencoba mengkalemkan Meicoomon (Film 2: Ketsui). Ternyata upaya ini gagal. Jadilah Homeostatis me-reboot Dunia Digital (Film 3: Kokuhaku), tetapi ini juga gagal lagi (Bagian 4: Sōshitsu). Jadilah Homeostatis tidak memiliki pilihan lain selain “menamatkan riwayat” Meicoomon dengan mengirimkan Jesmon, seekor digimon berlevel Mega, untuk melakukannya.

Ini tentu amat mengejutkan bagi delapan anak terpilih karena mereka tidak percaya bahwa membunuh Meicoomon adalah solusi untuk ini semua. Namun, di tengah-tengah pertarungan, mereka menjadi bingung sendiri karena beberapa mulai memahami argumen Homeostasis. Di waktu ini, Taichi dan Nishijima jatuh menghilang ke dalam retakan di tanah. Mengira kakaknya meninggal, Hikari merasa sedih dan marah sehingga pasangan digimonnya, Nyaromon (bentuk in-training-nya Tailmon) ber-dark mega-digivolve menjadi Ophanimon Falldown Mode. Tetapi semuanya belum berakhir karena Ophanimon Falldown Mode mengambil Raguelmon (bentuk Meganya Meicoomon) dan mereka bersatu menjadi Digimon yang identitasnya tidak diketahui (tetapi nampak jahat).

Gabungan dari Ophanimon Falldown Mode dan Raguelmon

***

Secara umum, aku suka dengan Kyōsei karena akhirnya, aku mulai mengerti apa yang terjadi! Walaupun begitu, aku merasa penulis ceritanya memakan waktu terlalu lama untuk beberapa pengungkapan misteri ini. Maksudku, sekarang ini kan sudah hampir dua tahun (!) yah semenjak film pertamanya, Saikai, dirilis. Sementara itu, laju cerita di film kedua dan ketiga terasa sangat amat lambat dimana rasanya dua film ini akan diuntungkan dengan beberapa “suntikan” “pengungkapan” ceritanya daripada pemaksaan agar ceritanya nampak lebih misterius.

Satu aspek lain yang kusuka dari film ini adalah penulisnya masih sempat-sempatnya memasukkan humor ringan di bagian awal. Bagian ini sama sekali nggak penting sih untuk ceritanya; ya tetapi kan ini lah salah satu karakteristik dari seri Digimon! 🙂

Masih sempat-sempatnya ada humor segala.

Namun, bagian favoritku adalah ketika Nyaromon ber-dark mega-digivolve menjadi Ophanimon Falldown Mode!! Ini sangat, sangat menarik dan mengingatkanku ketika Greymon ber-dark digivolve menjadi Skullgreymon di episode 16 Digimon Adventure 1! Waktu itu, Taichi memaksa Agumon agar bisa berubah ke wujud Ultimate-nya dengan cara menyiksanya. Akibatnya, bukannya ber-digivolve menjadi Metalgreymon, Agumon malah ber-digivolve menjadi Skullgreymon. Kali ini, emosi negatifnya Hikari (rasa sedih, rasa marah) memacu ini semua.

Ini, tentu saja, menjadi materi cliff hanger (yang bagus, harus diakui kan) dan kita harus menunggu sampai film terakhirnya, Boku-ra no Mirai (Masa Depan Kita), untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Tetapi film keenam ini baru dijadwalkan dirilis di Musim Panas 2018 nih 😣.Kok masih lama banget ya! 😣

Anyway, jadi secara keseluruhan, aku menikmati film kelima dari Digimon Tri ini!!

Contemplation · Thoughts

#1994 – Fighting Through Pain VS Listening To Your Body

ENGLISH

I feel like there is a thin line of difference between to “fight through pain” and to “listen to your body”. And IMO, the art of balancing both, which of course is much easier said, or written in this case, than done, is a very important one in the quest of bettering ourselves in working towards a goal. We need to distinguish when our body just feels the discomfort which we need to, and can, fight through and when our body sends a clear warning signal that it needs to rest.

This can be especially tricky for me. You see, when I have set out a course to reach a goal, I do not like to stop during the process. This is especially if I have started to actually perform an action in that course. However, there can be certain situations where it is actually better for me to stop whatever I am doing. But then, of course, I start to have this conflict in my head.

For instance, one evening some weeks ago I decided to go to the gym. It felt like a regular evening to me (I have developed this routine of going to the gym four to five times a week) and I felt completely normal before going. Then as usual, I warmed up and started my exercises scheduled for that session. However, just in my first exercise, I started to feel a light headache. It got slightly better when I rested but intensified when I was resuming my gym session. And it got worse and worse with each exercise that I did.

Then I got this conflict in my mind. Should I just neglect this “pain” (i.e. the headache) and force myself through it or was it actually an actual signal that my body was sending me that it did not want to exercise, for whatever reason, this evening? As I said above, I did not like to stop at this point because I had decided to start the gym session for the evening. So at first I decided to fight through it but, of course, while not completely putting this conflict aside immediately. But you see, my default reaction was to fight through the discomfort.

Having a default reaction to fight through pain is not always bad, I think. In her speech during my PhD ceremony, my supervisor told me that my greatest strength was, in her opinion, my perserverance. I don’t like to give up, to stop doing something which I have started. In my personal observation, this appears to be quite an accurate assessment because, honestly, sometimes I see quite some people who, from my perspective, appear to give up easily when they face some difficulties. For the record here, I do not blame them nor pass any judgment. I am not in their shoes so who am I to judge, right? So this statement is purely based on my observation and my own assumptions over what is going on on the other side, which I am not experiencing myself. But under this observation and these assumptions, which, again, could be completely wrong, I probably would have liked to try to push a little harder.

Having said that, I also think there are situations where this kind of default reaction is not the right one. Professional tennis player Jelena Jankovic learned the hard way about overtraining which caused her performance level to drop. In this case, this default reaction is actually counter-productive, as it brings us further away from our goal. So I need to learn to sense when this default reaction is the wrong one.

Jelena Jankovic in 2014

Back to my gym session. After two exercises I decided that I had it enough for the day because my headache just got much worse. My common sense decided that it was one of those special circumstances where clearly my body was screaming for some rest. Well, I had been exercising for three days in a row the previous three days so it was probably time for some rest anyway, haha. So I decided to stop, go back home, and rest for the rest of the evening.

BAHASA INDONESIA

Aku merasa perbedaan antara “berjuang melawan rasa sakit” dan “mendengarkan tubuh kita” itu tipis sekali. Dan menurutku, seni menyeimbangkan keduanya, yang mana jelas lebih gampang diucapkan, atau dalam hal ini dituliskan, daripada dilakukan, adalah hal yang penting dalam perjalanan kita untuk terus memperbaiki diri dalam upaya pencapaian suatu tujuan. Kita perlu membedakan situasi dimana tubuh hanya merasakan ketidak-nyamanan yang perlu, dan bisa, kita lawan dari ketika tubuh kita mengirimkan sinyal pertanda ia meminta istirahat.

Ini bisa menjadi tricky untukku. Ketika aku sudah menetapkan suatu jalur untuk mencapai suatu tujuan, aku tidak suka berhenti di tengah-tengah. Ini terutama benar ketika aku sudah mulai melakukan suatu kegiatan/aksi dalam jalur itu. Namun, tentu ada beberapa situasi dimana lebih baik untukku menghentikan apa pun yang aku lakukan. Tetapi kemudian, jelas aku jadi memiliki konflik ini di dalam pikiranku.

Misalnya saja, suatu malam beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk pergi ke gym. Malam itu terasa seperti malam biasa untukku (Aku sudah mulai membentuk rutinitas untuk pergi ke gym sekitar empat sampai lima kali seminggu) dan aku merasa biasa saja sebelum berangkat. Kemudian seperti biasa, aku pemanasan dan mulai latihan sesuai yang sudah dijadwalkan untuk sesi itu. Namun, di latihan pertamaku, aku mulai merasakan sakit kepala ringan. Sakit kepalanya agak mendingan ketika aku beristirahat tetapi terasa sakit banget ketika aku kembali berlatih. Dan rasanya semakin parah semakin lama aku latihan.

Nah, kemudian muncullah konflik ini di pikiranku. Apakah aku bisa mengesampingkan rasa “tidak-nyaman” (baca: sakit kepala) ini dan memaksa tubuhku untuk terus berlatih, atau jangan-jangan ini adalah sinyal bahwa tubuhku sebaiknya tidak berolahraga karena alasan apa pun malam ini? Seperti yang kubilang di atas, aku tidak suka dengan yang namanya berhenti sekarang karena aku sudah memutuskan untuk memulai sesi gym malam ini; jadilah awalnya aku memutuskan untuk melawan rasa tidak-nyaman itu dulu walaupun tidak berarti aku langsung mengesampingkan konflik ini. Tetapi terlihat kan, reaksi default-ku adalah melawan rasa tidak nyaman itu.

Memiliki reaksi default untuk melawan rasa tidak-nyaman tidak lah selalu buruk. Dalam kata sambutannya di upacara wisuda PhD/S3ku, pembimbingku menyebutkan bahwa, menurutnya, kekuatan terbesarku adalah kegigihanku untuk tidak mudah menyerah (perseverance). Memang aku tidak suka untuk menyerah, untuk berhenti dalam melakukan apa yang sudah aku mulai. Dan dalam pandangan pribadiku, sepertinya memang ini adalah pengamatan yang cukup akurat karena, sejujurnya, terkadang aku melihat beberapa orang yang, dari sudut pandangku saja lho ya, nampak mudah sekali menyerah ketika mereka baru menghadapi kesulitan kecil. Btw, untuk dicatat di sini, aku tidak menyalahkan atau men-judge loh. Aku tidak berada di situasi yang mereka hadapi sehingga siapa aku kok men-judge segala kan? Jadi pernyataan ini murni berdasarkan observasiku dan asumsi-asumsiku sendiri mengenai apa yang sedang dihadapi orang lain itu, yang mana tidak aku alami sendiri. Tetapi berdasarkan observasi dan asumsi-asumsi ini, yang, sekali lagi, mungkin banget salah, jika aku di situasi yang sama aku akan mencoba sedikit lebih keras lagi.

Walaupun begitu, aku rasa ada situasi dimana reaksi default ini bukan lah reaksi yang tepat. Petenis profesional Jelena Jankovic mengalami sendiri dimana kebanyakan berlatih (overtraining) justru membuat level dan performanya menurun. Dalam kasus ini, reaksi default ini justru kontra-produktif, karena ini justru membawa diri kita menjauhi tujuan. Jadi aku perlu belajar untuk mendeteksi kapan reaksi default ini adalah reaksi yang salah nih.

Jelena Jankovic di tahun 2014

Kembali ke cerita gym di atas. Setelah dua macam latihan, aku memutuskan bahwa sakit kepalaku ini bisa dibilang parah, dan memang sudah semakin sakit sih. Akhirnya otakku memutuskan bahwa ini adalah suatu situasi khusus itu dimana jelas tubuhku berteriak meminta istirahat. Iya sih, toh aku sudah ke gym selama tiga hari berturutan di tiga hari sebelumnya jadi memang sepertinya memang waktu itu toh saatnya untuk istirahat, haha. Jadilah aku berhenti, pulang, dan beristirahat di sepanjang sisa malam itu.

working life · Zilko's Life

#1993 – One Year Work Anniversary

ENGLISH

Exactly this day last year, I started my “new” life with my (at the time) new job in Amsterdam!

#thisdaylastyear #Amsterdam #newstart

I can’t believe it has been a year, as certainly it doesn’t feel like it has been that long!! But this means that I can’t say I am new in the company anymore (Though, I have, sort of, “lost” the right to say this after six months anyway, as my company is growing very fast!).

It has been a wonderful and “eye-opening” year for sure, especially that I jumped from academia to industry with this job. I really, really learned a lot during the past one year; be on my hard skills and also my soft(er) skills. But that is not only that. I genuinely enjoy my time in this company as well. My colleagues are nice and the general company atmosphere is also very positive and fun. And so now I am very, very happy that I made this decision to switch last year.

Having said that, it feels like there are still a lot for me to learn and experience which the company can provide and offer. And so I am looking forward to those!

BAHASA INDONESIA

Tepat satu tahun yang lalu, aku memulai kehidupan “baru”-ku dengan pekerjaan baruku (waktu itu) di Amsterdam!

#thisdaylastyear #Amsterdam #newstart

Nggak terasa ternyata sudah satu tahun semenjak waktu itu, karena rasanya belum lama deh!! Tetapi ini artinya aku tidak lagi bisa berkata bahwa aku anak baru ya di kantor (Walaupun sebenarnya aku sudah “kehilangan” hak ini sih setelah sekitar enam bulanan di kantor, karena kantorku berkembang dengan amat cepat!).

Setahun ini adalah setahun yang seru dan “membuka-mata” banget untukku, terutama karena aku berpindah dari dunia akademia ke industri dengan pekerjaan ini kan. Aku sungguh belajar banyak banget setahun terakhir ini; mengasah baik hard skills maupun soft(er) skills-ku. Tetapi bukan hanya itu saja. Aku benar-benar menikmati waktuku di kantor. Kolega-kolegaku asyik-asyik semua dan atmosfer di kantor juga sungguh positif dan seru banget. Dan jadilah sekarang ini aku merasa senang dengan keputusan yang kubuat tahun lalu itu.

Walaupun begitu, rasanya masih ada banyak lho yang bisa kupelajari dan kudapatkan dari kantorku ini. Makanya aku juga merasa bersemangat menatap ke depannya!

Travelling

#1992 – BookWithMatrix

ENGLISH

It is well-known that the best way to know the existence of the best flight tickets, especially for long-haul ones for me, is through Google’s itamatrix software. The definition of “best” here can be anything, not just limited to, for instance, the cheapest possible one. For instance, say I want to travel from Amsterdam to Tokyo-Narita and my definition of “best” is: “the cheapest one with a SkyTeam airline with transits in Paris and Shanghai but not in Seoul with no transit longer than four hours and no overnight stops, on subclass L or N, and no flight with a propeller plane” on my departure flight and “the cheapest one with a SkyTeam airline with transit Seoul but not Rome with no transit longer than four hours, on subclass L or N, no flight with a propeller plane, and no redeye flight” on my return flight. I can ask the software to find a solution for me (provided that a solution exists). All I need to do is to not get overwhelmed by the few “programming” tricks to enter those conditions, haha.

Yep, I found a solution with my requirements above. As you see, all the airlines are SkyTeam, no transits of more than four hours, transits in Paris and Shanghai and not Seoul on the departure trip, transit in Seoul and not in Rome on the return trip, no propeller plane, all subclasses are L or N, and no redeye on the return trip. It might be funny that five or the six flights are officially AirFrance’s though none of the six are flown on an AirFrance’s metal, haha 😆 .

However, the biggest problem with this software is that it only looks for the existence to a solution. The software is not a travel agency and so you cannot purchase the ticket you have discovered that you might have liked. And as you can see, sometimes you end up with quite a complicated itinerary that wouldn’t show up in a regular online travel agency (OTA) website.

And as of recently, I have discovered a solution to that. So for an upcoming big trip of mine involving intercontinental flights (still yet to be revealed 😛 ), I was looking for a good-value return ticket for months. Some conditions made my trip a little bit more complicated where I would need an open-jaw ticket (a ticket where I return from a different airport than where I originally arrive) with a specific airline with a specific subclass of travel. It was quite difficult as with the conventional OTAs, including the airline’s website itself, I only found tickets with higher subclass of travel making them much more expensive. However, I found a solution to my wants in itamatrix so it made the search a little bit annoying.

I found my return ticket with China Eastern to Bali last year with the help of itamatrix.

And then I came across BookWithMatrix. In short, it helps you find some OTAs which would issue the ticket you have just found in itamatrix. To be honest, at first I found it quite sketchy as what I would need to do is to literally select all, copy, and paste the entire page of the itinerary in itamatrix there. Though now that I think about it, it is not that weird with the advance of image recognition technology we have these days, haha. Anway, and so I was looking for some reviews and I found some articles, including those written by well-known travel bloggers, about their positive experience with the website. So I started to trust this awesomely-sound tool more.

Anyway, so I decided to just give the tool a try; with no expectation whatsoever. And you know what? I did FIND the ticket at an OTA with this tool!! The OTA itself was a famous one (I know about it) so I knew that it was legit, haha. I decided to just eff it and purchase the ticket (The OTA promised 24-hour of free cancellation anyway, haha). Then I got the confirmation email and the usual stuffs from the OTA. I checked online in the airline’s website, and I did find my reservation there so it was indeed legit. Just to be even more sure, I called the airline’s representative in the Netherlands and they did say the ticket was confirmed and it was all like I wanted.

Oh wow!! I guess I just found some gold here!! So far I am really happy with this tool!! And I guess this will come in very handy in the future!!

Have any of you guys used this tool as well? 🙂

BAHASA INDONESIA

Sudah banyak diketahui bahwa cara terbaik untuk mengetahui ada atau tidaknya tiket pesawat terbaik, terutama untuk penerbangan jarak jauh untukku, adalah dengan software itamatrix-nya Google. Definisi “terbaik” di sini bisa bermacam-macam lho, tidak hanya sebatas, misalnya, yang paling murah. Misalnya saja, katakanlah aku ingin pergi dari Amsterdam ke Tokyo-Narita dan definisi “terbaikku” adalah: “tiket yang paling murah dengan maskapai SkyTeam dengan transit di Paris dan Shanghai tetapi tidak di Seoul dimana per transitnya tidak lebih lama dari empat jam dan tidak melibatkan transit yang harus menginap, di subclass L atau N, dan tidak mau terbang dengan pesawat baling-baling” di penerbangan keberangkatan dan “yang termurah dengan maskapai SkyTeam dengan transit di Seoul tetapi tidak di Roma dengan per transit tidak lebih lama dari empat jam, di subclass L atau N, tidak mau terbang dengan pesawat baling-baling, dan tidak mau penerbangan malam/redeye” di penerbangan kepulanganku. Aku bisa meminta software-nya untuk mencarikan solusinya untukku (dengan catatan jika solusinya ada ya). Yang perlu kulakukan adalah tidak perlu terlalu “takut” dengan sedikit trik “programming” untuk memasukkan kondisi-kondisi ini, haha.

Yup, solusi yang memenuhi mauku di atas ada loh. Seperti yang bisa dilihat, semua maskapainya adalah SkyTeam, tidak ada transit yang lebih lama dari empat jam, transit di Paris dan Shanghai dan tidak di Seoul di penerbangan keberangkatan, transit di Seoul dan tidak di Roma di penerbangan kepulangan, tidak melibatkan pesawat baling-baling, subclass-nya L atau N, tidak ada penerbangan malam/redeye di penerbangan pulang. Eh mungkin agak lucu ya lima dari enam penerbangannya secara resmi adalah dengan AirFrance tetapi tidak satu pun penerbangannya menggunakan pesawatnya AirFrance, haha 😆 .

Namun, masalah terbesar dari itamatrix adalah software-nya hanya mencari ada atau tidaknya suatu solusi. Software ini bukanlah travel agent sehingga kita tidak bisa membeli tiket yang kita temukan di sana padahal tiketnya kita suka. Dan seperti yang bisa dilihat, bisa jadi kadang kita menemukan itinerary yang cukup rumit sehingga pilihan tiket ini tidak akan muncul di website online travel agency (OTA) biasa.

Akhir-akhir ini, kebetulan aku menemukan solusi untuk itu. Jadi untuk sebuah perjalanan besarku yang akan datang  yang melibatkan penerbangan-penerbangan antar-benua (masih belum saatnya kuceritakan nih 😛 ), aku telah mencari tiket pp yang value-nya oke selama berbulan-bulan. Beberapa kondisi membuat perjalanan ini cukup rumit dimana aku membutuhkan tiket open-jaw (tiket dimana aku pulang dari bandara yang berbeda dari bandara ketibaanku di keberangkatan) dengan sebuah maskapai spesifik dengan sebuah subclass spesifik. Aku tidak bisa menemukannya dengan OTA biasa, bahkan juga di website maskapainya sendiri, dimana aku hanya menemukan tiket dengan subclass lebih tinggi yang mana artinya harganya juga mahal. Namun, aku menemukan solusinya di itamatrix makanya rasanya gemes lah ya.

Aku menemukan tiket pp-ku dengan China Eastern ke Bali tahun lalu dengan bantuan itamatrix.

Dan kemudian aku menemukan BookWithMatrix. Secara singkat, ini adalah alat untuk menemukan OTA yang bisa menjual tiket sesuai spesifikasi yang kita temukan di itamatrix. Sejujurnya, awalnya aku sedikit curiga soalnya yang perlu kita lakukan adalah men-select all, copy, dan paste halaman itinerary di itamatrix di sana. Walaupun sekarang kalau dipikir-pikir lagi sih, nggak aneh juga sih ya dengan kemajuan teknologi di bidang image recognition zaman sekarang, haha. Anyway, jadilah aku mencari review-nya dan aku menemukan beberapa artikel, termasuk yang ditulis oleh beberapa travel bloggers terkenal, mengenai pengalaman positif mereka dengan alat ini. Jadilah aku lebih percaya, haha.

Anyway, jadilah aku memutuskan untuk mencobanya; tanpa ekspektasi apa pun lah. Dan apa yang terjadi? Aku MENEMUKAN tiketnya dijual di satu OTA dong!! OTAnya sendiri adalah OTA besar (aku tahu namanya gitu) sehingga aku cukup yakin ini legit, haha. Aku memutuskan untuk nekad aja dan membeli tiketnya (OTAnya sendiri menjanjikan free cancellation selama 24 jam sih jadi mestinya aman lah ya, haha). Lalu seperti biasanya aku mendapatkan email konfirmasi dan sebagainya dari OTAnya. Untuk memastikan, aku cek langsung di website maskapainya dan ternyata aku bisa menemukan reservasiku di sana sehingga artinya ini legit lah ya. Untuk lebih memastikan lagi, aku menelepon langsung kantor maskapainya di Belanda dan mereka juga memastikan tiketku sudah terkonfirmasi di sistemnya dan semuanya sesuai seperti yang kuinginkan.

Oh wow!! Rasanya seperti baru menemukan harta karun nih!! Sejauh ini aku senang banget deh dengan alat ini!! Dan aku rasa ini akan berguna banget buat ke depannya!!

Apakah sudah ada yang pernah menggunakannya juga? 🙂

Nostalgia · Rubric

#1991 – Nostalgia: Star Trek: Voyager

ENGLISH

This post has sat in my draft for more than a year now; as I first wrote it after watching Star Trek Beyond last year (This post would have been numbered in the 1700s had I published it immediately). But since then, due to the (what I thought) neutrality of its topic, this post has acted as a good “back up” in case I would encounter a writer’s block, haha. But then, this neutrality has actually started to fade away recently (more on this soon!). And so it appears that the time has come to let this post live its real life being published here. So here we go! 🙂

***

So I have mentioned that I am a self-proclaimed Trekkies. However, I must admit that I have not watched all series of Star Trek, haha 😆 . Growing up in the 1990s and 2000s, obviously I was more familiar with the series that were running in those periods. There were four though: Star Trek: The Next Generation, Star Trek: Deep Space Nine, Star Trek: Voyager, and Star Trek: Enterprise. Of the four, I was the least familiar with Deep Space Nine mainly because it was not aired in Indonesia if I recall correctly.

However, of the other three, my most favorite one was, without a doubt, Star Trek:Voyager.

USS Voyager NCC-74656. Source: http://io9.gizmodo.com/why-star-trek-voyager-meant-the-world-to-me-1679736359
USS Voyager NCC-74656. Source: http://io9.gizmodo.com/why-star-trek-voyager-meant-the-world-to-me-1679736359

The premise of the series was interesting. USS Voyager (the primary setting of the series) was just a “middle-class” Interprid series spacecraft designed for exploration missions. However, due to a freak event in the Pilot episode, the spacecraft was transported over 70,000 light years away to the Delta quadrant, the furthest away part of the Milky Way galaxy (from Earth) and also the least known and explored of. Yes, the series was about the journey of USS Voyager and the crews back home across this uncharted section of the galaxy.

One unique (at the time) aspect which I like about the series was that the captain of USS Voyager was a woman, Captain Kathryn Janeway. This really gave the series a special outlook with the “motherly” and more “humanly” touch from a captain. You know, not always like the bang bang testosterone action show even though admittedly when I was young(er), the battle part was actually the part I enjoyed the most 😛 .

The main cast of Star Trek: Voyager. Source: http://cdn.nflximg.com/us/boxshots/tv_sdp_s/70158331.jpg
The main cast of Star Trek: Voyager. Source: http://cdn.nflximg.com/us/boxshots/tv_sdp_s/70158331.jpg

I was introduced into this series by my dad. Even back then he made me (and my brother) a maquette of USS Voyager from styrofoam! Too bad at the moment I don’t have a picture of it.

I did not watch all seven seasons when I was in Indonesia. I remember the show did not air for too long due to the rather low rating. Well, being aired in RCTI literally in the middle of the night at like 2 AM or so, who would actually stay up and watch it? At that time we always recorded it in a VHS video tape, haha 😆 . But just after I moved to the Netherlands, in the Fall of 2010 I finished watching all seasons, haha 😆 .

So, who is also a Trekkie and who also loves Star Trek:Voyager? 🙂

p.s: of course it also helps that Star Trek: Voyager has the most beautiful intro with the musical arrangement of all the Star Trek series, imo:

BAHASA INDONESIA

Posting ini sudah duduk manis di bagian draft-ku selama lebih dari satu tahun sekarang; karena aku mulai menulisnya setelah menonton Star Trek Beyond tahun lalu (Posting ini akan bernomor di rentang 1700an andaikata waktu itu langsung aku publikasikan). Semenjak waktu itu, karena (apa yang kukira) topiknya yang netral, kupikir posting ini bisa kujadikan posting “cadangan” yang pas untuk jaga-jaga andaikata aku mengalami writer’s block, haha. Tetapi kemudian, kenetralan ini mulai memudar akhir-akhir ini (akan kuceritakan mengapa segera!). Jadilah artinya akhirnya tiba juga saatnya untuk posting ini “hidup” sebagai posting beneran di sini ya. Nah, mari kita mulai saja! 🙂

***

Pernah kusebutkan bahwa aku mengaku-aku sebagai Trekkies. Namun, aku harus mengaku bahwa aku belum menonton semua serinya Star Trek sih, haha 😆 . Besar di tahun 1990an dan 2000an, jelas aku lebih familier dengan seri-serinya yang ditayangkan di periode ini. Ada empat: Star Trek: The New Generation, Star Trek: Deep Space Nine, Star Trek: Voyager, dan Star Trek: Enterprise. Dari empat seri ini, aku paling tidak familier dengan Deep Space Nine karena tidak ditayangkan di Indonesia kalau aku tidak salah ingat.

Nah, dari tiga yang lainnya, favoritku adalah, tanpa ragu nih menyebutkannya, Star Trek:Voyager.

USS Voyager NCC-74656. Source: http://io9.gizmodo.com/why-star-trek-voyager-meant-the-world-to-me-1679736359
USS Voyager NCC-74656. Sumber: http://io9.gizmodo.com/why-star-trek-voyager-meant-the-world-to-me-1679736359

Premis seri ini menarik banget, USS Voyager (pesawat luar angkasa yang merupakan setting utama seri ini) adalah pesawat berukuran “menengah” kelas Interprid yang didisain untuk misi eksplorasi. Karena suatu kecelakaan super aneh di episode pertama, pesawatnya terpindahkan sejauh 70.000 tahun cahaya ke kuadran Delta, bagian terjauh dari Galaksi Bima Sakti (dari Bumi) dan juga yang paling tidak diketahui dan belum tereksplorasi. Yup, premis seri ini adalah cerita bagaimana USS Voyager dan krunya berusaha pulang ke Bumi melintasi bagian galaksi yang belum terpetakan ini.

Satu aspek unik (waktu itu) dari seri ini yang kusuka adalah kapten USS Voyager yang mana merupakan seorang wanita, Kapten Kathryn Janeway. Ini memberikan sudut pandang unik yang “keibuan” dan lebih “manusiawi” dari seorang kapten. Tahu lah, bukan hanya aksi testosteron dar der dor sana-sini untuk sebuah acara aksi. Walaupun harus aku akui sih ketika kecil dulu, bagian perangnya adalah bagian yang paling kusukai, haha 😛 .

The main cast of Star Trek: Voyager. Source: http://cdn.nflximg.com/us/boxshots/tv_sdp_s/70158331.jpg
Tokoh-tokoh utama Star Trek: Voyager. Sumber: http://cdn.nflximg.com/us/boxshots/tv_sdp_s/70158331.jpg

Aku dikenalkan dengan acara ini oleh papaku. Dulu bahkan ia juga membuatkanku (dan adikku) sebuah maketnya USS Voyager dari styrofoam loh! Sayang aku tidak memiliki fotonya sekarang.

Aku tidak menonton kesemua tujuh musimnya di Indonesia dulu. Aku ingat acaranya tidak dimainkan lama karena rating-nya yang cukup rendah. Yah, ditayangkan oleh RCTI di tengah malam sekitar jam 2 subuh gitu, siapa juga yang mau nonton sih ya? Waktu itu, kami merekamnya dengan video tape VHS, haha 😆 . Tetapi setelah pindah ke Belanda, di musim gugur tahun 2010 aku menyelesaikan menonton kesemua musimnya, haha 😆 .

Jadi, siapa nih yang juga lah seorang Trekkie dan suka Star Trek: Voyager? 🙂

p.s: tentu saja sangat membantu dimana Star Trek: Voyager memiliki intro dengan aransemen musik terindah dari semua serinya Star Trek, menurutku sih (bisa ditonton di tautan Youtube berikut 😛 ).

Aviation · EuroTrip · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#1990 – AvGeek Weekend Trip #10 (AMS – OSL – CDG – AMS)

ENGLISH

Not too long ago, I went on another AvGeek Weekend Trip with quite an interesting routing:

The routing this weekend. Map created with gcmap.com

At first, I didn’t plan to write a self-standing post of the trip. But I changed my mind after the experiences I had during the trip, which actually made the trip unique enough for a self-standing post. Anyway, this post is the self-standing post and let just the story begin…

KLM KL1143 (AMS – OSL)

Flight: KLM KL1143
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGQ named “Wielewaal”
ATD: 09:23 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 10:54 CET (Runway 01L of OSL)

To save some budget, I chose KLM’s 09:20 flight to Oslo (the 11:50 would have been better schedule-wise, but it was also much more expensive). Consequently, I had to depart from home quite early. And I departed a bit too early, actually, where I arrived at the tram stop some 20 minutes before the scheduled service! (I should have checked the transportation app indeed, so it was my fault).

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGQ which would take me to Oslo today.

Long story short, I arrived at Schiphol, waited and had my breakfast at KLM’s Crown Lounge, and boarded the plane: a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGQ. The flight itselft was a pleasant regular intra-European flight with KLM. I sat next to (I assume) a professor who was working on his grant proposal and was so into his work that he refused all the KLM service provided on his flight, haha.

Anyway, as I said in the teaser post, I was lucky that I was sitting on a window seat in the left side of the plane and the flight was landing at runway 01L. This provided me with a really cool bird’s eye view of the city of Oslo!

Oslo, not Solo!

Oslo-Gardermoen Airport

I have been to Oslo before, just a little over two years ago, actually. But somehow, I didn’t remember Oslo-Gardermoen Airport to be as good and cool as I encountered during this trip! Seriously, I found the terminal building to be really beautiful, one of the most beautiful one in Europe that I have been to!

Oslo-Gardermoen Airport

Anyway, one reason why I said KLM’s 11:50 flight would have been better scheduled-wise was that now, I had an almost six hours of transit, haha. I didn’t feel like going to the city of Oslo, so I was “stuck” at the (beautiful) airport. Though, I wasn’t worried at all as I knew that Air France/KLM had a cooperation with a lounge at the airport. The lounge was the OSL Lounge, located pretty much next to SAS’ business lounge.

OSL Lounge at Gardermoen Airport

The lounge itself was actually quite good! It wasn’t the most spacious lounge in terms of space, but the service and facilities were quite nice. There were quite some selections of drink and (typical lounge) food. The seats were generally comfortable as well. There was a row of three or four recliner chairs which I settled myself onto one of them. The chairs were quite old, actually, but they still worked fine and were still quite comfortable.

Air France AF1375 (OSL – CDG)

Flight: Air France AF1375 operated by HOP! Regional
Equipment: Embraer ERJ190 reg F-HBLE
ATD: 17:01 CET (Runway 01L of OSL)
ATA: 18:50 CET (Runway 26L of CDG)

I boarded my second flight today at around 16:10. It was an Air France flight that was operated by HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLE. I sat on my 3F seat in the 2-2 configured plane which was super comfortable today because the seat next to me was vacant, yeay! Haha 😆 Long story short, the plane departed and took off from runway 01L of Oslo-Gardermoen Airport.

Taking off from runway 01L of OSL with HOP! Regional’s Embraer 190

Not long after take-off, the snack service was provided. And I was pleasantly surprised to see that the service standard was higher than the other regular intra-European Air France flights I had taken before. First of all, there were actually options for the sandwich service (chicken or vegetarian sandwich). And second of all, rosé wine was available as one of the wine options! Options and rosé wine were something I had never encountered in short-haul intra-European Air France flights before!

The service on board flight AF1375 from Oslo to Paris. Rosé wine was available and there were chicken or vegetable choices for the sandwich!

I tried to figure out the reason behind this. And then, it hit me that this AF1375 was actually my first intra-European flight with Air France (though operated by HOP! Regional) that was blocked for more than two hours one-way (its scheduled departure time was 16:45 with arrival time of 19:10, making it a 2 hours 25 minutes flight). I knew KLM had different level of service for flights below and above two-hours block, so it was not surprising that Air France appeared to have one too!

Aside from that, it was a pleasant regular flight with Air France and at 18:50, we landed at runway 26L of Paris – Charles De Gaulle Airport. The plane parked at Terminal 2G so I had to take the transfer bus to Terminal 2F.

HOP! Regional’s Embraer ERJ190 reg F-HBLE at Terminal 2G of Paris-CDG after arriving as flight AF1375 from Oslo.

KLM KL1246 (CDG – AMS)

Flight: KLM KL1246
Equipment: Boeing 737-700 reg PH-BGN named “Jan van Gent”
ATD: 20:25 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

After a super quick dinner at Salon Air France at Terminal 2F, I boarded my KLM flight back to Amsterdam today, that was a Boeing 737-700 reg PH-BGN flight KL1246, Air France/KLM’s last flight to Amsterdam from Paris. This was actually a pleasant regular short-haul flight with KLM so there was not much to tell from the flight itself.

However, though, from my side I encountered an “interesting” experience. Suddenly just after the snack service began, I started to feel a terrible stomachache where I needed to go to a toilet soon. But then, it was already halfway through the flight (which was a short one anyway) and the flight attendants were still very busy in the aisle distributing the service. On top of that, I was sitting on a window seat with both the aisle and middle seats next to me taken. And so I thought that it was a short flight anyway so we would land at Schiphol soon and in the meantime I could just “hold” it, haha.

A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGN which brought me back to Amsterdam today.

But then, as I suspected as it was an evening flight and was the worst scenario for my situation, we landed at the friggin’ Polderbaan! Damn!! So we had to taxi for another like 15 minutes before arriving at Pier D of Schiphol. Even then, it turned out that the nearest toilet to the gate was under maintenance at the time! Well, talking about my “luck” this evening😅.

BAHASA INDONESIA

Pertengahan September kemarin, aku pergi dalam sebuah AvGeek Weekend Trip lagi dengan rute yang cukup menarik:

Rute akhir pekan kali ini. Peta dibuat dengan gcmap.com

Awalnya, aku berencana untuk tidak menulis posting tersendiri tentangnya. Tetapi rencana ini harus kuubah karena setelah pengalaman-pengalamanku di perjalanan ini, yang mana membuat perjalanannya cukup unik untuk dijadikan sebuah posting tersendiri. Posting ini adalah posting tersebut, dan langsung kita mulai saja lah ya…

KLM KL1143 (AMS – OSL)

Penerbangan: KLM KL1143
Pesawat: Boeing 737-700 reg PH-BGQ bernama “Wielewaal”
ATD: 09:23 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 10:54 CET (Runway 01L of OSL)

Untuk mengirit biaya, aku memilih penerbangannya KLM jam 09:20 pagi ke Oslo (penerbangan yang jam 11:50 sebenarnya lebih enak sih dari segi jadwal, tetapi masalahnya tiketnya juga lebih mahal lumayan, haha). Sebagai akibatnya, aku harus berangkat pagi deh. Dan aku malah berangkat kepagian lho, dimana aku tiba di halte tramnya 20 menit sebelum tramnya dijadwalkan berangkat! (Iya, seharusnya aku mengecek app transportasi umum dulu sebelum berangkat. Salahku sih memang).

Sebuah Boeing 737-700nya KLM rego PH-BGQ yang akan membawaku ke Oslo hari ini.

Singkat cerita, aku tiba di Schiphol, menunggu sekalian sarapan di KLM Crown Lounge, dan menaiki pesawatku: sebuah Boeing 737-700nya KLM dengan rego PH-BGQ. Penerbangannya sendiri adalah penerbangan reguler intra-Eropa yang nyaman dengan KLM. Aku duduk di sebelah seorang (yang kuasumsikan) profesor gitu yang sibuk mengerjakan proposal permohonan funding untuk risetnya di sepanjang jalan. Ia sebegitu seriusnya dengan pekerjaannya sampai-sampai semua layanannya KLM di penerbangan ini ia tolak loh, haha.

Anyway, seperti yang kuceritakan di posting yang dulu, aku beruntung aku duduk di kursi jendela di sisi kiri pesawat dan penerbangannya sendiri mendarat di landasan pacu 01L. Ini memberikanku pemandangan kota Oslo dari atas yang mana kece banget!

Oslo, bukan Solo!

Bandara Oslo-Gardermoen

Aku sudah pernah ke Oslo sebelumnya, dua tahun lebih sedikit yang lalu, sebenarnya. Tetapi entah bagaimana, aku tidak ingat dong bahwa Bandara Oslo-Gardemoen itu keren banget seperti yang kulihat di perjalanan ini! Beneran deh, bagiku gedung terminalnya indah banget, termasuk salah satu yang terindah yang pernah kukunjungi di Eropa!

Bandara Oslo-Gardermoen

Anyway, satu alasan mengapa kubilang penerbangannya KLM yang jam 11:50 itu lebih ideal dari segi jadwal karena sekarang aku harus transit selama enam jam, haha. Aku sedang merasa malas untuk pergi ke kota Oslo dan jadilah aku jadi “terjebak” di bandaranya (yang kece banget) kan. Walaupun aku nggak khawatir juga sih karena aku tahu Air France/KLM memiliki kerja-sama dengan sebuah lounge di bandaranya. Lounge-nya adalah OSL Lounge, yang berlokasi di sebelah lounge kelas bisnisnya SAS.

OSL Lounge di Bandara Gardermoen

Lounge-nya sendiri cukup oke lho! Memang sih dari segi ukuran nggak sebegitu besar, tetapi layanan dan fasilitasnya memadai banget kok. Ada cukup banyak pilihan minuman dan makanan (yang mana tipikal makanan lounge gitu sih). Kursi-kursinya juga cukup nyaman. Ada sebaris kursi recliner yang mana salah satunya aku gunakan, haha. Kursinya sudah cukup tua sih, tetapi masih bekerja dengan baik dan cukup nyaman kok.

Air France AF1375 (OSL – CDG)

Penerbangan: Air France AF1375 dioperasikan oleh HOP! Regional
Pesawat: Embraer ERJ190 rego F-HBLE
ATD: 17:01 CET (Runway 01L of OSL)
ATA: 18:50 CET (Runway 26L of CDG)

Aku menaiki penerbangan keduaku sekitar jam 16:10. Ini adalah penerbangannya Air France yang dioperasikan oleh HOP! Regional dengan pesawat Embraer ERJ190 rego F-HBLE. Aku duduk di kursi 3F di pesawat yang dikonfigurasi 2-2 ini yang hari ini nyaman banget soalnya kursi di sebelahku kosong dong, hore! Haha 😆 . Singkat cerita, pesawatnya berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 01L Bandara Oslo-Gardermoen.

Lepas landas dari landasan pacu 01L-nya OSL dengan Embraer 190nya HOP! Regional

Tak lama setelah lepas landas, layanan snack dibagikan. Dan aku dikejutkan (secara positif) dengan standar layanannya yang lebih tinggi daripada standar layanan di penerbangan-penerbangan intra-Eropanya Air France yang sudah pernah kunaiki sebelumnya. Pertama-tama, ada pilihan lho untuk menu sandwich-nya (ayam atau vegetarian). Dan yang kedua, bahkan ada anggur rosé sebagai salah satu pilihan anggurnya! Pilihan dan anggur rosé kan tidak pernah aku temui di penerbangan jarak dekat intra-Eropa dengan Air France sebelumnya!

Layanan di penerbangan AF1375 dari Oslo ke Paris. Anggur rosé tersedia dan ada pilihan sandwich ayam atau vegetarian!

Aku mencoba menerka alasan di balik ini. Dan kemudian, barula aku sadar bahwa penerbangan AF1375 ini adalah penerbangan intra-Eropaku dengan Air France (walaupun dioperasikan oleh HOP! Regional) yang pertama yang diblok berdurasi lebih dari dua jam satu arah (penerbangannya dijadwalkan berangkat jam 16:45 dan tiba jam 19:10, artinya panjangnya 2 jam 25 menit). Aku tahu bahwa KLM memang memiliki pembedaan standar layanan untuk penerbangan di bawah atau di atas blok dua jam, jadi tidak mengherankan kalau Air France memiliki prosedur serupa ya!

Di samping itu, ini adalah penerbangan yang nyaman dengan Air France. Dan jam 18:50, pesawat mendarat di landasan pacu 26L Bandara Paris – Charles De Gaulle. Pesawat parkir di Terminal 2G sehingga aku harus menaiki bus transfer ke Terminal 2F.

Embraer ERJ190 rego F-HBLEnya HOP! Regional di Terminal 2G Paris – CDG setelah tiba dari Oslo sebagai penerbangan AF1375.

KLM KL1246 (CDG – AMS)

Penerbangan: KLM KL1246
Pesawat: Boeing 737-700 rego PH-BGN bernama “Jan van Gent”
ATD: 20:25 CET (Runway 27L of CDG)
ATA: 21:10 CET (Runway 18R of AMS)

Setelah makan malam super kilat di Salon Air France di Terminal 2F, aku menaiki penerbangan KLMku untuk kembali ke Amsterdam. Penerbangannya dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-700 rego PH-BGN penerbangan KL1246, penerbangan Air France/KLM terakhir ke Amsterdam dari Paris hari ini. Ini adalah penerbangan reguler yang nyaman dengan KLM seperti biasanya sehingga sebenarnya nggak banyak yang bisa diceritakan dari penerbangannya sendiri.

Tetapi, aku mengalami kejadian yang “menarik”. Tiba-tiba setelah layanan snack dimulai, aku mulai sakit perut yang cukup parah yang membuatku merasa perlu untuk pergi ke toilet. Tetapi masalahnya, penerbangannya sudah berlangsung setengah jalan (mana ini adalah penerbangan singkat pula) dan pramugari/a-nya juga sedang sibuk di lorong untuk membagikan snack dan minuman. Ditambah lagi, aku duduk di kursi jendela sementara kursi lorong dan tengah di sebelahku terisi. Jadilah aku pikir karena toh penerbangannya singkat, nggak lama lagi pesawat akan mendarat di Schiphol dan untuk sementara itu bisa lah aku “tahan”, haha.

Sebuah Boeing 737-700 rego PH-BGN-nya KLM yang membawaku kembali ke Amsterdam hari ini.

Tetapi kemudian, seperti yang kuduga karena penerbangan malam dan merupakan skenario terburuk untuk situasiku, kami mendarat di Polderbaan laknat itu dong! Sialan!! Pesawat harus taxiing selama sekitar 15 menit sebelum tiba di Pier D di Bandara Schiphol. Setelah itu pun, ternyata toilet yang terdekat dengan gate-nya sedang direnovasi dong waktu itu!  Ini Dewi Fortunaku lagi “liburan” atau bagaimana ini ya malam ini 😅.