#1935 – A Roland Garros Weekend Trip

ENGLISH

After going to Lyon two weekends ago and Bremen last weekend, this weekend I went on another weekend trip, hoho 😆 . Yep, three weekend trips on three consecutive weekends!! Woohoo!!

As my Instagram followers (@azilko) would have known, this weekend was the time for my annual Roland Garros trip this year. Yep, indeed I went to Paris 🙂 .

At Court Philippe Chatrier this year

As I shared in April, though, I was less excited for the trip this year (this does not mean I was not excited, I still was, overall, of course!) because of Serena Williams’ withdrawal due to her pregnancy. And so the women’s singles field this year, which final was the main attraction of my trip, was probably the most “open” in recent years with no clear favorite.

Nonetheless, it turned out to still be very fun! The atmosphere of a grandslam tournament was, indeed, one of a kind. Even though Venus Williams did not reach the final (it was not that expected, anyway, as clay was clearly her least favorite surface), the field turned out to still be interesting. In the end, the final was between an unseeded player (because of her 47th ranking), Jelena Ostapenko, and the third seed, Simona Halep, who would ascend to world number 1 if she would win the final! Exciting, wasn’t it?

Jelena Ostapenko won her first singles title ever, and it was Roland Garros

As you might have known by this point, Jelena Ostapenko ended up winning the title! More importantly for me, the final match was such a close match between two players with very different style (Ostapenko with her hyper aggressive game and Halep with her defensive game) and different level of experience (Ostapenko’s highest ranking was 33rd while Halep is a seasonal top 5 players in the last three years or so). To add even more drama, Ostapenko was down 0–3 and 1–3 in the second and third set before, somehow, turned it around and won! Moreover, this was Ostapenko’s first ever singles title. How amazing that it was a grandslam!

Paris selfie this year at Louvre

Anyway, Paris itself was a beautiful city, even though I did not have any time to spend in the city itself. Plus, I was really looking forward to my first class train travels with Thalys to get to and back from there, haha.

Yeah, so overall this was another fun weekend for me. And so understandably now I feel quite tired too 😛 . As usual, here are a few teasers from the trip.

BAHASA INDONESIA

Setelah pergi ke Lyon dua akhir pekan yang lalu dan ke Bremen akhir pekan kemarin, akhir pekan ini aku pergi dalam sebuah perjalanan lagi loh, hoho 😆 . Iyaaa, tiga perjalanan akhir pekan di tiga akhir pekan berturutan!! Woohoo!!

Seperti yang followers Instagramku (@azilko) ketahui, akhir pekan ini adalah waktunya untuk perjalanan tahunanku ke Roland Garros tahun ini. Yup, aku pergi ke Paris 🙂 .

Di Lapangan Philippe Chatrier tahun ini

Seperti yang kuceritakan April kemarin, aku sedikit kurang excited untuk perjalanan ini tahun ini (bukan berarti aku tidak excited sih, secara keseluruhan sih jelas masih excited lah!) karena mundurnya Serena Williams akibat kehamilannya. Dan jadilah akibatnya turnamen tunggal putri tahun ini, yang mana babak finalnya adalah atraksi utama perjalananku, mungkin adalah yang paling “terbuka” dalam beberapa tahun belakangan dimana tidak ada satu pemain pun yang benar-benar difavoritkan.

Toh walaupun begitu ternyata perjalanannya masih seru! Atmosfer sebuah turnamen grandslam memang berbeda! Walaupun beneran Venus Williams tidak mencapai babak final (tidak mengherankan sih, karena tanah liat memang bukan permukaan favoritnya Venus), toh draw-nya masih cukup menarik. Pada akhirnya, babak finalnya adalah antara pemain muda yang tidak diunggulkan (karena berperingkat 47), Jelena Ostapenko, melawan unggulan ketiga, Simona Halep, yang akan naik ke peringkat 1 dunia apabila ia menang di final. Seru kan?

Jelena Ostapenko menjuarai gelar tunggal pertamanya, dan ini adalah gelar Roland Garros

Mungkin sudah pada tahu sekarang, Jelena Ostapenko akhirnya keluar sebagai juara! Yang paling penting bagiku, ternyata pertandingan finalnya berlangsung seru banget! Pertandingan ini dimainkan oleh dua pemain dengan gaya permainan berbeda (Ostapenko dengan gaya hiper agresifnya sementara Halep dengan gaya defensifnya) dan level pengalaman yang berbeda (peringkat tertinggi Ostapenko sebelum ini adalah 33, sementara Halep konsisten berada di 5 besar selama tiga tahunan terakhir). Lebih dramatisnya lagi, Ostapenko tertinggal 0–3 dan 1–3 di set kedua dan ketiga loh sebelum, entah bagaimana, membalikkan posisi dan menang! Lebih keren lagi, ini adalah gelar tunggal pertamanya Ostapenko. Keren banget kan gelar pertamanya adalah gelar grandslam!

Paris selfie tahun ini di Museum Louvre

Ngomong-ngomong, jelas Paris adalah kota yang indah, walaupun aku tidak memiliki waktu untuk jalan-jalan di kotanya sendiri sih. Plus, aku sungguh excited dengan perjalananku dengan kereta super cepat Thalys di first class, haha.

Iya, jadi secara keseluruhan akhir pekan ini adalah akhir pekan yang seru lagi untukku. Dan tentu aku juga merasa capek sih, haha 😛 . Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa teasers dari perjalanan ini.

#1934 – The Amazing Race 29

ENGLISH

One of the current TV shows (well, if not the “only” show 😛 ) I have been following lately is The Amazing Race 29. And last week, this season was concluded with its final leg in Chicago!

This has been another amazing season of The Amazing Race. Its unique concept of pairing 22 strangers turned out to be a nice one, where some teams got in fights (unsurprisingly) because of their “unfamiliarity” between partners and the personality difference between them. However, this did not really change the overall dynamic in the show, in my opinion, because even teams with pre-existing relationship could still get into fights just because of the stressful environment of the race.

Acropolis was the pitstop of the Athens leg

I also really liked it that the teams were not shy of using the three double u-turns throughout the race! Surely this would make the show more interesting where some teams got pressed because they were being u-turned, or that another team u-turned their “ally” team so to help them they u-turned another team, lol 😆 .

The “design” of the tasks and race, however, felt a little bit clumsy especially in the first half of the season, though this improved a lot towards the end. For instance, it was a no brainer at the Lake Como leg that whoever got u-turned would get eliminated due to the five minutes interval between the one team per ferry ride they had to take. However, the Ninh Binh leg was an extremely brutal leg physically, and so “fun” to watch (but not fun for the racers to race, obviously; and I felt bad for Floyd). It was followed up with the awesome Seoul leg where all of the tasks were “so Korean”, even including playing a video game match against professional!

The racers had to go to Gangnam in the Seoul leg.

*** Spoilers alert, but it has been more than a week anyway so perhaps nothing are “spoilers” anymore 😛 ***

My favorite team of this season was: Brooke and Scott, haha 😆 . This might come as a “surprise” given the “villain” stamp the editors appeared to give them; and that Brooke was a total drama panicky queen. But I did find the dynamic between the two interesting because Scott tried to calm Brooke down and they strategized really well throughout the race, clearly “students” of the show! And in the end, Brooke and Scott ended up winning the 29th season!!

I am glad that The Amazing Race has been renewed to, at least, one more season!! The drop in TV ratings and the more than one year distance between the premiere of season 28 and 29 had “worried” me a little bit, to be honest. Well, now I just can’t wait for the next season!! 🙂

BAHASA INDONESIA

Satu dari acara TV baru (eh, kalau bukan “satu-satunya” sih 😛 ) yang aku ikuti baru-baru ini adalah The Amazing Race 29. Dan minggu lalu, musim ini berakhir dengan babak terakhirnya di Chicago!

Musim ini adalah musim yang seru lagi dari The Amazing Race. Konsep uniknya dimana mereka memasangkan 22 orang yang tidak mengenal satu sama lain ternyata oke juga, dimana beberapa tim jadi bertengkar (nggak heran) karena “ketidak-kenalan” mereka satu sama lain. Namun, menurutku ini tidak terlalu mengubah dinamik acaranya sih, karena toh walaupun sudah mengenal rekan satu tim sebelumnya pun mereka masih bisa bertengkar kok, ya karena suasana yang stressful dari race-nya kan.

Acropolis adalah pitstop di babak Athena

Aku juga suka banget tim-timnya nggak malu-malu untuk menggunakan tiga double u-turn di sepanjang musim ini! Jelas ini membuat acaranya semakin menarik ya dimana beberapa tim sebel banget dan kemudian marah-marah dong kena u-turn, atau satu tim me-u-turn satu tim “teman”-nya mereka sehingga untuk menolong tim “teman” ini, mereka me-u-turn tim yang lain, haha 😆 .

“Disain” dan tugas-tugas di musim ini nampak cukup ceroboh terutama di setengah pertama musim ini, walaupun ini menjadi jauh lebih baik di akhir-akhir. Misalnya saja, jelas banget di babak Danau Como, siapa yang di-u-turn sudah hampir pasti tereliminasi akibat interval lima menit di antara kapal ferry yang dinaiki masing-masing tim. Namun, babak Ninh Binh adalah babak yang sangat brutal dalam hal fisik, sehingga “seru” untuk ditonton (walaupun jelas tentunya nggak seru untuk racers-nya sih, aku merasa iba terhadap Floyd). Babak ini diikuti dengan babak Seoul yang mana semua tugas-tugasnya “Korea banget”, bahkan termasuk main video game melawan profesional!

Racers harus pergi ke area Gangnam di babak Seoul.

*** Spoilers alert, eh tetapi sudah seminggu lebih ya jadi mungkin sudah nggak ada yang namanya “spoilers” lagi 😛 ***

Tim favoritku musim ini adalah: Brooke dan Scott, haha 😆 . Ini mungkin cukup “mengagetkan” karena label “tokoh jahat” yang ditempelkan editor-nya kepada mereka; dan juga Brooke nampak seperti seorang drama queen yang gampang panik. Tetapi aku merasa dinamik di antara keduanya sangat menarik karena Scott selalu berusaha menenangkan Brooke dan mereka juga berstrategi amat baik di sepanjang musim, jelas deh mereka “mempelajari” acara ini! Dan pada akhirnya, Brooke dan Scott juara!!

Aku merasa lega bahwa The Amazing Race sudah diperpanjang, minimal, satu musim lagi!! Turunnya rating di TV dan adanya jarak setahun lebih di antara mulai ditayangkannya musim 28 dan musim 29 sempat membuatku sedikit “khawatir”, sejujurnya. Dan sekarang, aku sudah nggak sabar nih menunggu musim selanjutnya!! 🙂

#1933 – Photo Tales (41)

ENGLISH

Photo #91

Perusahaan Ketjap Kudus in Den Haag

Some time ago when I was grocery shopping, I spotted the following sweet soysauce at one of the racks. Okay, you probably need to speak Indonesian to understand why I bothered to take the photo (because it was quite funny in some ways 😛 ).

You see, it was soysauce by “Perusahaan Ketjap Kudus” (translated as “Kudus Soysauce Factory”), implying the factory’s location in Kudus, Central Java. However, it was stated at the bottom of the label that the production was actually in Den Haag, the Netherlands. Yeah, so a factory of an Indonesian product with an Indonesian name but with production in the Netherlands, haha.

Though, I might actually misunderstand its name, though. Instead of “Kudus” as a noun (thus, referring to the Central Javan region), it might actually be the adjective “kudus” (translation: “holy”). This would actually explain the phrase “selalu terpudji” (translation: “always commendable”) put below its name, haha 😆 .

Photo #92

Lamb shank at Mata Hari

Anyway, in the last week of May, a friend and I caught up in Amsterdam. And we decided to have dinner at a restaurant called “Mata Hari”, that was actually not an Indonesian restaurant, haha (“matahari” means “the sun” in Indonesian). It was actually a Mediterranean restaurant.

Thanks to Yelp, we chose this restaurant, because the food was really good! Plus, I found it to be quite fairly priced, especially considering its location (near the touristic area of Amsterdam, i.e. the infamous Red Light, haha 😛 ). Anyway, I decided to order a lamb shank and some french fries. The lamb shank and its salad was really good; though I regretted the french fries because I actually did not really need it as I got too full afterwards, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Foto #91

Perusahaan Ketjap Kudus di Den Haag

Beberapa waktu lalu ketika sedang belanja, aku melihat kecap manis ini di salah satu rak.

Nah lucu kan, kecap manis ini buatan “Perusahaan Ketjap Kudus”, yang menyiratkan lokasi pabriknya ada di Kudus, Jawa Tengah. Namun, di bagian bawah labelnya dituliskan bahwa produksinya di Den Haag, Belanda. Iya, pabrik sebuah komoditi Indonesia dengan nama Indonesia tetapi produksinya di Belanda, haha.

Eh, sebenarnya bisa saja aku salah mengerti sih. Bukannya “Kudus” yang merupakan kata benda (sehingga menunjukkan daerah di Jawa Tengah itu), bisa saja yang benar adalah kata sifat “kudus”. Ini justru menjelaskan frase “selalu terpudji” yang dicetak di bawah namanya itu kan, haha 😆 .

Foto #92

Lamb shank di Mata Hari

Anyway, di akhir bulan Mei, seorang teman dan aku catch up di Amsterdam. Dan kami memutuskan untuk makan di sebuah restoran yang namanya “Mata Hari”, yang mana bukan lah restoran Indonesia loh. Ternyata ini adalah restoran Mediterania, haha.

Berkat Yelp nih kami memilih restoran ini, dan untung soalnya makanannya enak! Plus, menurutku harganya juga oke lah terutama dengan mempertimbangkan lokasinya (di dekat area turistiknya Amsterdam, yaitu area Red Light yang “terkenal” itu, haha 😛 ). Anyway, aku memutuskan untuk memesan sebuah lamb shank dan french friesLamb shank berserta saladnya enak loh; walaupun aku sedikit menyesal memesan french fries-nya sih karena kebanyakan! Akibatnya aku kekenyangan deh setelahnya, haha 😆 .

#1932 – Another Long Weekend Story

ENGLISH

Yeay for two consecutive long weekends! After last weekend, this weekend was also a long weekend in the Netherlands with this Monday being the “Whitmonday”.

As my Instagram followers (@azilko) would have known by now, just like last weekend when I went to Lyon, I also made use of this long weekend for a short weekend trip! This time, though, I went to a new destination: Bremen, in Germany! Haha 😛 .

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

When checking the list of this year’s Dutch public holiday about a month ago, I realized that this Whitmonday would be the last one in the Netherlands before Christmas. That would mean a period of 6+ months without any public holiday! So I figured I needed to make use of this opportunity! Haha 😛 .

At the time I found a good deal with flights to Bremen (with an overnight transit in Paris on the way out and a Fokker 70 flight on the way in). As I had never been to Bremen before, I quickly booked the tickets, haha.

The routing this long weekend. Created with: gcmap.com

And I am really glad I went on this trip! Bremen, while being a not so big city, was pretty! It was really fun! Here are a few photos as teasers from this trip! 🙂

BAHASA INDONESIA

Hore dua long weekend berturutan! Setelah akhir pekan kemarin, akhir pekan ini juga lah long weekend di Belanda dimana hari Senin ini adalah “Whitmonday”.

Dan seperti yang followers Instagramku (@azilko) sudah ketahui sekarang, seperti akhir pekan kemarin yang kumanfaatkan dengan pergi ke Lyon, aku juga memanfaatkan long weekend yang ini untuk jalan-jalan! Kali ini tujuannya adalah tujuan baru untukku: Bremen, di Jerman! Haha 😛 .

The mandatory Bremen selfie with Die Bremer Stadtmusikanten

Ketika melihat daftar tanggal merah di Belanda tahun ini sekitar satu bulan yang lalu, aku menyadari bahwa Whitmonday ini adalah tanggal merah terakhir di Belanda sebelum Natal. Iya dong artinya sekarang kita sudah masuk ke dalam periode 6 bulan lebih tanpa tanggal merah sama sekali! Makanya aku perlu memanfaatkan kesempatan ini kan! Haha 😛 .

Waktu itu aku menemukan sebuah deal yang oke untuk penerbangan ke Bremen (dengan transit satu malam di Paris di perjalanan keberangkatan dan penerbangan dengan Fokker 70 sewaktu pulangnya). Karena aku belum pernah ke Bremen sebelumnya, langsung dong tiketnya aku beli, haha.

Rute long weekend kali ini. Dibuat dengan: gcmap.com

Dan aku senang sekali akhir pekan ini kumanfaatkan untuk jalan-jalan! Bremen, walaupun nggak besar-besar amat, lumayan cakep juga! Seru banget rasanya! Dan di atas, seperti biasa, aku unggah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini! 🙂

#1931 – Netflix

ENGLISH

With my smart TV, I am now connected to Netflix. Even though back then I found the library to not be as large as I expected (I still do), to be honest, the experience has exceeded my expectation so far!

In my free time, I have the options to browse through the library and watch some movies or TV-shows. Of course, not all of them are good. A few times I stumbled across the really bad ones, haha 😆 . But hey, I finished them still which showed that Netflix “worked”.

I am quite surprised, though, that neither the sitcoms Friends or The Big Bang Theory are in the library. Especially with the latter, it would have been super nice given that I have missed the last couple of seasons. Well, at this point I can just hope Netflix will add them in the future.

At least I have the entire nine seasons of How I Met Your Mother

On the other hand, I was also surprised by the range of some of its collections. For instance, there was even Big Bad Beetleborgs there! Haha 😆 .

Overall, while it is nice to find some stuffs I am familiar with, there; I am actually more excited of the stuffs I am unfamiliar with. I am hoping to find some golden gems there. Though, now that I think about it, I worry (a little bit) this will take some of the fun of flying long-haul which one activity I like is to browse the plane’s IFE, which includes its movies library! Even though, on the other hand, with my Netflix I do not need to worry of a stranger (read: fellow passengers sitting nearby in a plane) judging me with my selection of movies 😛 .

So, does any of you use Netflix as well? And what do you think about it?

BAHASA INDONESIA

Dengan smart TV-ku, sekarang aku terkoneksi dengan Netflix. Walaupun waktu itu aku merasa perpustakaannya tidak sebesar dan selengkap yang aku kira (aku masih merasa demikian sih), sejujurnya, pengalamanku sejauh ini telah lebih asyik daripada perkiraanku lho!

Di waktu senggangku, kini aku memiliki pilihan untuk membuka perpustakaannya dan menonton film atau acara TV apa gitu. Tentu saja, nggak semuanya bagus. Beberapa kali aku kedapatan yang jelek juga, haha 😆 . Hey, tetapi toh aku menyelesaikan menontonnya kok jadi Netflix-nya “ampuh” juga kan ya.

Aku sedikit kaget, btw, bahwa sitcom Friends atau The Big Bang Theory tidak ada di perpustakaannya. Terutama yang kedua, padahal akan membantu banget karena aku kan telah melewatkan sekitar dua musim terakhirnya. Yah, untuk saat ini sih aku cuma bisa berharap Netflix menambahkan keduanya nanti.

Setidaknya aku memiliki keseluruhan sembilan musimnya How I Met Your Mother

Di sisi lain, aku juga dikagetkan dengan variasi koleksinya. Misalnya saja, Big Bad Beetleborgs ada dong! Haha 😆 .

Secara keseluruhan, walaupun rasanya asyik ada beberapa acara yang aku kenal di sana; sebenarnya aku lebih excited untuk acara-acara yang aku belum pernah tonton. Aku berharap untuk menemukan harta karun deh di dalamnya. Walaupun, kalau dipikir-pikir sekarang, ini (sedikit) mengkhawatirkanku akan mengurangi keseruan terbang jarak jauh dimana salah satu aktivitas favoritku adalah membuka-buka kanal IFEnya, yang mana termasuk perpustakaan filmnya! Walaupun, di sisi lain sih, dengan Netflix kan aku tidak perlu khawatir seseorang yang nggak aku kenal (baca: penumpang lain yang duduk di dekatku di pesawat) akan men-judge pilihan filmku kan ya. Huahaha 😆 .

Nah, apakah ada yang menggunakan Netflix juga? Dan bagaimanakah pendapat kalian tentangnya?

#1930 – It’s June!!

ENGLISH

So, it is June already!!

No More TU Delft Account

If as per March 2017 I am no longer affiliated with TU Delft, it is as of today where I (finally) lost all of my TU Delft credentials with the expiration of my “NetID” (TU Delft’s ID/account).

You see, even though my hopitality contract, which was my last contract at TU Delft, expired in February, the deactivation of my NetID was only done three months later. This time was meant for any needed account transitioning from my NetID to something else, for instance informing my contacts about my new emails, etc. The side effect of this, though, was that I still had a few (limited) benefits/TU Delft facilities during these three months, haha 😆 . For instance, I was still able to use my NetID to access several scientific journals.

But as per today, my NetID is officially disactivated, and so all the “benefits” that came with it including my official TU Delft email, haha.

RG 17

Anyway, 1st of June also means the French Open for me! Yeay! And I am very happy with my decision to get a cable TV subscription a few weeks ago because now I have (some) access to the tournament on TV!

French Open 2017 on TV!

The main draw of the tournament started earlier this week (actually on Sunday), though the TV coverage has actually started since last week for the qualifying rounds! Awesome, isn’t it?

So watching the French Open is basically my after-work activity these days, which I do alongside my dinner, haha 😆 .

BAHASA INDONESIA

Wah, ternyata sudah bulan Juni ya!!

Akun TU Delft yang kini dimatikan

Jika per Maret 2017 aku tidak lagi terafiliasi dengan TU Delft, baru per hari ini lah dimana aku (akhirnya) tidak lagi memiliki tanda pengenal TU Delft dengan hangusnya “NetID”-ku (akun/IDnya TU Delft).

Jadi walaupun kontrak hospitality-ku, yang mana merupakan kontrak terakhirku di TU Delft, berakhir di bulan Februari, NetIDku masih akan aktif hingga tiga bulan kemudian. Waktu ini dimaksudkan untuk proses transisi yang mungkin diperlukan dari sesuatu yang berkaitan NetIDku ke sesuatu yang lain, misalnya memberi-tahu kontak-kontakku mengenai alamat email baruku, dsb. Efek samping dari ini adalah aku masih mendapatkan beberapa fasilitas/keuntungan (terbatas) dari TU Delft sepanjang tiga bulan ini, haha 😆 . Misalnya, aku masih bisa menggunakan NetIDku untuk mengakses jurnal-jurnal ilmiah.

Tetapi per hari ini, NetIDku resmi dideaktivasi, dan jadilah semua “keuntungan”-nya juga ikutan hilang beserta alamat email TU Delft-ku, haha.

RG 17

Anyway, 1 Juni juga berarti French Open untukku! Hore! Dan aku merasa senang dengan keputusanku untuk berlangganan TV kabel beberapa minggu yang lalu karena sekarang aku jadi memiliki (beberapa) akses ke turnamen ini di TV!

French Open 2017 di TV!

Babak utama turnamen ini dimulai awal minggu ini (di hari Minggu sih sebenarnya), walaupun penayangan TVnya sudah dimulai semenjak minggu lalu untuk babak-babak kualifikasinya! Keren ya!

Jadi menonton French Open adalah aktivitasku setelah pulang kantor deh sekarang-sekarang ini, yang kulakukan sembari makan malam, haha 😆 .

#1929 – Food Wasting

ENGLISH

A few weeks ago, a friend of mine shared the following video parodying Ed Sheeran’s “Shape of You” (a song I am currently obsessed with) to tell a message about food wasting:

Food wasting is a problem which, I think, needs to be addressed. It is also one of my pet-peeves! Yeah, I don’t like it (I even get a little bit bothered) when some people throw their food away. Even I actually don’t like it when I have to throw some raw ingredients away because they have become bad for consumption. This is why I always plan my grocery precisely 😉 .

Here, I am not gonna talk about famine problem in some parts of the world as that is out of the scope of this post (that is a huge problem, btw); as you might have expected from a food wasting post. Nah, I am sure you are capable enough to think why food wasting is bad.

If you have leftovers you can’t finish, just give it to other people!

Does this imply that people should eat more than they need? Obviously not!! This actually implies people should KNOW their own limit! If you know you can only eat certain amount of food, then take that amount, not more (just because you can) and waste the rest. How about if you go to a restaurant and it turns out that the portion is way bigger than you expect? Well, this is certainly an exceptional situation; and in this case food wasting might be the only solution. But to be honest, how often do you encounter a situation like this?

This reminds me of my childhood, though. Back then, my dad taught my brother and I to never, ever let a single piece of rice grain left on our plates. We had to be responsible for what we took (the amount of rice) and finished it. Now that I think about it, this might be the start of my dislike of food-wasting, haha 😆 .

I couldn’t finish a small portion of this super spicy yangnyeom chicken in Seoul so I gave them all to my brother 😀 .

Having said that, I am still not perfect myself. Sometimes (not often, though), I still find myself throwing some food away; but mostly that is because the food is extremely inedible (for instance: because it might be too spicy for me (I can’t eat spicy food, at all; even low level of spiciness would trigger my body to start sweating)) or that there is a special circumstances (for instance when I am not feeling well).

So, yeah, this post is more of a reminder to myself, actually. Btw, what is your stand on food wasting?

BAHASA INDONESIA

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman membagikan video ini yang memarodikan lagu “Shape of You”-nya Ed Sheeran (lagu yang sedang aku sukai banget sekarang) untuk membawakan pesan mengenai pembuang-buangan makanan:

Pembuang-buangan makanan adalah sebuah masalah yang, menurutku, perlu diperhatikan. Ini juga adalah salah satu pet-peeves-ku btw! Iya, aku memang kurang suka (dan bahkan merasa agak terganggu) ketika melihat seseorang membuang makanan mereka. Bahkan aku sendiri merasa tidak suka ketika harus membuang bahan-bahan masakan mentah karena sudah kadaluarsa untuk dikonsumsi. Inilah alasan mengapa aku selalu merencanakan belanjaku secara mendetail 😉 .

Di sini, aku tidak akan membicarakan mengenai perihal kelaparan yang melanda beberapa bagian dunia ini karena hal ini diluar lingkup posting ini (itu adalah masalah besar banget sih); seperti yang mungkin sebagian kira akan ada di dalam posting mengenai pembuangan makanan. Nggak kok, aku sih yakin semua juga bisa berpikir sendiri mengapa pembuangan makanan itu buruk.

Kalau memang ada sisa makanan, mending diberikan ke orang lain saja!

Apakah ini berarti semua orang harus makan lebih dari yang mereka butuhkan? Jelas tidak!! Ini sebenarnya berarti setiap orang harus TAHU batas mereka sendiri! Jika tahu batas diri kita hanya sekian, ya ambil saja sekian, jangan lebih (hanya karena bisa) dan membuang-buang sisanya. Bagaimana jika kebetulan kita pergi ke restoran dan ternyata porsinya lebih besar dari sangkaan kita? Hmm, ini jelas adalah situasi pengecualian; dan di kasus ini mungkin makanannya memang harus dibuang/disisakan. Tetapi sejujurnya nih, seberapa sering sih situasi itu kita hadapi? Ya kan?

Ini mengingatkanku akan masa kecilku. Dulu, papaku mengajari adikku dan aku untuk tidak pernah menyisakan satu butir nasi pun di piring kami. Kami harus bertanggung-jawab dengan apa yang kami ambil (banyaknya nasi) dan menghabiskannya. Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin ini salah satu penyebab ketidak-sukaanku akan pembuangan makanan ya, haha 😆 .

Aku tidak bisa menghabiskan seporsi kecil ayam yangnyeom yang super pedas ini di Seoul sehingga aku memberikannya ke adikku 😀 .

Toh walaupun begitu, bukannya aku “sempurna” juga sih. Beberapa kali (nggak sering sih), aku juga berada di situasi dimana aku mesti membuang makanan; tetapi kebanyakan sih karena makanannya memang tidak bisa dimakan (misalnya: makanannya terlalu pedas untukku (Aku tidak bisa makan makanan pedas; bahkan pedas sedikit saja sudah akan membuatku berkeringat)) atau pada situasi tertentu (misalnya ketika aku sedang tidak enak badan).

Jadi, ya, posting ini sebenarnya juga adalah pengingat untuk diriku sendiri sih. Btw, apa pendapatmu mengenai pembuangan makanan?