#2103 – An Afternoon at Schiphol

ENGLISH

I went to Schiphol last Friday afternoon; but this trip was not like any others. I didn’t go to the airport terminal for a flight to start a weekend trip somewhere nor to pick someone up. Instead, I went to the Schiphol-Oost area where the KLM Engineering and Maintenance department was located.

I don’t make it discreet that I love planes and flights. And it happens that the husband of a friend of mine works at KLM. And so he invited his wife and me to come visit him at Schiphol-Oost where he would give us a quick tour including to the KLM’s maintenance hangars! In the inside, I was like:

because it would be my first time ever to visit a plane hangar! Huahaha 🙈.

Anyway so my friend and I took an Uber after work on Friday, where we had an interesting conversation with the driver about politics and history, lol 😆 . The traffic was quite bad at Amsterdam due to the Dodenherdenking (the National Remembrance Day) so it took us a bit longer to Schiphol-Oost than expected, where my friend’s husband was already waiting for us at the entrance.

Long story short, after getting the visitor badges, we entered the KLM Engineering and Maintenance complex. As expected, the complex was really large! Haha 😆 . We were first taken to the office of my friend’s husband which was in the same building as where the engines maintenance and repair were done. There were many engines being maintained and repaired at the time, and they weren’t only KLM’s; as I saw Jet2’s, United’s, and Vietnam Airlines’ engines too.

An engine maintenance

We then walked to the hangars. We were lucky that the weather was amazing this afternoon! I saw two Vueling’s Airbus A320s and a KLM’s brand new Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHO being parked. At the time, three of KLM’s wide-body birds, an Airbus A330-200 reg PH-AOD, a Boeing 777-200ER reg PH-BQD, and a Boeing 747-400 Combi reg PH-BFH, were on the engines testing stage. They were parked just outside the hangar in an area enclosed with tall jet-blast deflectors. It was PH-BFH’s turn for the test and it was amazing to be able to experience first hand the noise the Queen of the Skies’ engines could produce! Haha 😆 .

KLM’s A330-200 PH-AOD, B777-200ER PH-BQD, and B747-400M PH-BFH during the engines testing.

We then entered one of the hangars which was, of course, very large in size is it could fit two wide-body planes. This hangar was empty at the time so we walked to the next one. I was excited because I saw the SkyTeam livery which meant: it was KLM’s Boeing 777-300ER reg PH-BVD at the next hangar! There were two planes at this hangar, as KLM’s Airbus A330-200 reg PH-AOA was also there. But of course I was more interested with PH-BVD as I was secretly hoping to be able to take a photo with one of its GE90-115B engines, which was the most powerful commercial jet engine; and it happened to also be PH-BVD with the beautiful SkyTeam livery! 😀

With PH-BVD’s gigantic GE90-115B engine!

The next hangar was also empty and so we went to the next one after that, which was much larger in size and could accommodate more planes. A KLM’s Boeing 787-9 Dreamliner reg PH-BHD was there. I have flown PH-BHD before, btw, on my KL605 flight from Amsterdam to San Francisco just this December.

A KLM’s Boeing 787-9 Dreamliner PH-BHD during engine maintenance

The “tour” finished here as we walked back to a parking space near the entrance. In conclusion, it was such a nice tour especially for me! First of all, I got “unusual angles” to see the planes, haha. Then, and more interestingly, I got a peek on the backstage of an airlines’ operation. On top of that, of course, I gained a lot of new knowledge about the operation too, which really, really excited me! 😀

BAHASA INDONESIA

Aku pergi ke Schiphol Jumat siang yang lalu; tetapi perjalanan ini tidaklah seperti perjalanan lainnya. Aku tidak pergi ke terminal bandaranya untuk mengejar penerbangan untuk sebuah perjalanan akhir pekan kemana gitu, ataupun bukan pula untuk menjemput seseorang di bandara. Aku pergi ke area Schiphol-Oost dimana departemen KLM Engineering and Maintenance berada.

Aku tidak menutup-nutupi bahwa aku suka dengan yang namanya pesawat dan penerbangan. Dan kebetulan banget suaminya seorang temanku di kantor bekerja di KLM. Jadilah suatu ketika ia mengundang istrinya dan aku untuk mengunjunginya di Schiphol-Oost dimana dia akan mengajak kami berkeliling untuk sebuah tur mini termasuk untuk mengunjungi hanggar-hanggar perawatan pesawatnya KLM! Jadilah di dalam hati aku bereaksi:

karena ini akan menjadi kali pertamaku mengunjungi yang namanya hanggar pesawat! Huahaha 🙈.

Anyway jadilah sepulang kerja di hari Jumat aku dan temanku naik Uber, dimana kami terlibat dalam percakapan mengenai politik dan sejarah dengan sopirnya, haha 😆 . Lalu-lintas hari itu lumayan ramai di Amsterdam akibat Dodenherdenking sehingga perjalanannya memakan waktu sedikit lebih lama. Setibanya di Schiphol-Oost, suaminya temanku sudah menunggu kami di pintu masuk.

Singkat cerita, setelah mendapatkan pas masuk pengunjung, kami memasuki kompleks KLM Engineering and Maintenance. Seperti yang aku sangka, kompleks-nya luas banget! Haha 😆 . Pertama-tama kami diajak ke kantornya suami temanku yang mana berada di gedung yang sama dengan tempat perawatan dan perbaikan mesin. Waktu itu ada banyak mesin yang sedang dirawat dan diperbaiki, dan mesin-mesinnya bukan hanya milik KLM; dimana aku juga melihat mesin-mesinnya Jet2, United, dan Vietnam Airlines.

Perawatan mesin pesawat

Kami kemudian berjalan ke hanggarnya. Beruntung banget cuaca siang itu cerah banget! Ada dua Airbus A320nya Vueling dan satu Boeing 787-9 Dreamliner barunya KLM dengan rego PH-BHO yang diparkir di sana. Waktu itu, tiga pesawat badan lebarnya KLM, sebuah Airbus A330-200 rego PH-AOD, sebuah Boeing 777-200ER rego PH-BQD, dan sebuah Boeing 747-400 Combi rego PH-BFH, sedang dalam tahap pengecekan mesin. Ketiganya diparkir di depan hanggar di area yang dilengkapi dengan deflektor jet-blast yang tinggi banget. Waktu itu adalah gilirannya PH-BFH untuk dites dan keren banget rasanya bisa merasakan tingkat keberisikan yang bisa dihasilkan oleh mesin Queen of the Skies ini! Haha 😆 .

Pesawat A330-200 PH-AOD, B777-200ER PH-BQD, dan B747-400M PH-BFH KLM yang mana sedang dalam tahap pengecekan mesin.

Kami kemudian memasuki salah satu hanggarnya yang mana, jelas, berukuran besar banget dan muat untuk dua pesawat berbadan-lebar. Hanggar ini kosong waktu itu dan jadilah kami berjalan ke hanggar di sebelahnya. Aku merasa excited karena aku melihat livery SkyTeam yang berarti: Boeing 777-300ER rego PH-BVDnya KLM! Ada dua pesawat di hanggar ini, dimana Airbus A330-200 PH-AOAnya KLM juga sedang berada di sana. Tapi jelas aku lebih tertarik dengan PH-BVD karena sebenarnya aku berharap bisa berfoto dengan salah satu mesim GE90-115B-nya Boeing 777-300ER, yang mana merupakan mesin jet yang paling kuat! Kebetulan pula pesawatnya adalah PH-BVD dengan livery SkyTeam yang kece banget itu kan!

Dengan mesin GE90-115B raksasanya PH-BVD!

Hanggar sebelahnya juga kosong sehingga kami pergi ke yang sebelahnya lagi, yang berukuran lebih besar dan bisa muat lebih banyak pesawat. Boeing 787-9 Dreamliner-nya KLM dengan rego PH-BHD berada di sana. Aku pernah terbang dengan PH-BHD sebelumnya loh, yaitu di penerbangan KL605 dari Amsterdam ke San Francisco Desember kemarin ini.

Boeing 787-9 Dreamliner rego PH-BHD-nya KLM dalam perawatan mesin

“Tur”-nya selesai di sini dimana kami kemudian berjalan ke tempat parkir mobil di dekat pintu masuk. Kesimpulannya, tur ini seru banget deh untukku! Pertama-tama, aku mendapatkan “sudut yang tidak biasa” untuk melihat pesawat-pesawat itu, haha. Kemudian, dan menariknya, aku bisa mengintip sisi backstage dari operasional sebuah maskapai. Dan tentu saja aku juga mendapatkan banyak pengetahuan baru yang mana sangat amat menarik! 😀

Advertisements

#2102 – A Busy Week, Laser Tag, and Bowling

ENGLISH

This week was a very busy week at work to me; and this was unsurprising for this time of the year. Though, I feel like the situation is slightly different than last year. As I am more settled with my position, I feel like I can handle more responsibilities, which, of course, actually increases the “pressure”. But this is fine, as I feel like I handle these well 😀 .

This was also the reason why an outing organized by a colleague of mine earlier this week came at just the perfect time; just a mini break that I needed (Despite I just had two weekend trips in the previous two weekends, lol). We would play laser tag and bowling at this outing; which was why upon learning about these activities, I immediately RSVP-ed! 😍

It had been so long since the last time I played laser tag. About twenty years even! The last time I played the game was when I was still in fourth or fifth grade while on a trip in Surabaya! At the time laser tag in Galaxy Mall was the “cool” thing to do in Surabaya. And so my dad took me and my brother there when we were visiting Surabaya, haha 😛 .

Anyway, laser tag was certainly fun! A session was 12 minutes long where we were split into two groups. The aim was to shoot the other group’s team members (and to avoid getting shot too, of course). The game was played in a dark room which setup was basically like a war zone (lol 😆 ) with dry ice and thrilling music which made the ambience even more fitting and awesome!

Unfortunately I did not win the game, though at least I also didn’t come last in the final points report, lol 😆 . What I didn’t anticipate was that the game was actually a very good cardio exercise as we were running around in the room! I was actually feeling quite tired when leaving the room after just 12 minutes, haha.

After the laser tag, we had the entire bowling arena for us for one hour, haha. It also had been awhile since the last time I played bowling, though it was just over a year instead of twenty, lol 😆 . The last time I played was also during an office event, though it was at a different arena, haha. But just the like time, the bowling arena was turned into a “disco” arena with great music. Also, I was winning on this game, despite not playing nearly at my best as it had been awhile; so it was certainly much fun! Haha 😛

It was bowling time!

Yeah, so all in all this week was a great week! 😀

ENGLISH

Minggu ini adalah minggu yang sibuk untukku di kantor; yang mana nggak mengherankan sih karena memang sekarang ini lagi musim-musimnya untuk sibuk banget di kantorku, haha. Tetapi aku merasa situasi tahun ini agak berbeda dari tahun lalu sih. Dalam artian tahun ini aku sudah merasa lebih nyaman dan “settled” dengan posisiku di kantor, sehingga aku merasa bisa untuk memegang lebih banyak tanggung-jawab dan kerjaan. Yang mana, tentu saja, justru membuat level “tekanan”-nya semakin meningkat kan ya. Ah tapi nggak apa-apa sih, toh rasanya aku bisa meng-handle situasinya dengan baik 😀 .

Ini juga adalah alasan mengapa outing yang diadakan seorang kolegaku awal minggu ini datang di waktu yang sempurna banget; sebuah istirahat mini yang memang kubutuhkan (Walaupun aku baru saja pergi dalam dua perjalanan akhir pekan di dua akhir pekan sebelumnya sih, haha). Nah, kali ini kami akan bermain laser tag dan bowling; yang mana ketika aku tahu aktivitasnya ini, langsung aku meng-RSVP lah ya! 😍

Sudah lumayan lama semenjak terakhir kali aku main laser tag. Dua-puluhan tahun malah! Terakhir kali aku bermain permainan ini adalah ketika aku masih duduk di kelas 4 atau 5 SD ketika aku sedang liburan di Surabaya! Waktu itu ceritanya laser tag di Galaxy Mall sedang “happening” dan kekinian banget gitu di Surabaya. Jadilah papaku mengajakku dan adikku untuk memainkannya ketika kami berada di sana, haha 😛 .

Anyway, laser tag memang seru! Di satu sesi yang sepanjang dua belas menit, kami dibagi ke dalam dua grup. Tujuannya adalah menembak anggota tim lawan (dan melindungi diri dari tembakan juga, tentunya). Permainannya dimainkan di ruangan yang gelap yang ditata kayak zona perang gitu (haha) plus ditambah dry ice dan musik menegangkan supaya suasananya lebih “dapat”. Keren banget deh!

Sayangnya aku tidak menang di permainannya, walaupun setidaknya aku tidak berada di peringkat terbawah juga sih di rapor akhirnya, huahaha 😆 . Yang tidak aku sangka-sangka adalah ternyata permainan ini adalah olahraga kardio yang lumayan juga lho karena kami harus berlari-larian di dalam ruangannya! Aku merasa lumayan capek ketika keluar dari ruangannya setelah sesi 12 menitnya berakhir, haha.

Setelah laser tag, kami menyewa satu arena bowling-nya selama satu jam. Sudah lumayan lama juga semenjak terakhir kali aku main bowling, walaupun baru setahunan lebih sedikit aja sih bukannya dua puluh tahun kan ya, haha 😆 . Permainan terakhirku itu juga lah di sebuah acara yang diadakan kantor, walaupun arenanya berbeda, haha. Tetapi seperti yang lalu, arena bowlingnya ini juga bernuansa “disko” gitu dengan musik yang enak-enak! Juga, aku menang loh di permainan ini walaupun sebenarnya aku tidak bermain di level terbaikku; jadi jelas asyik lah ya! Haha 😛

Waktunya bowling!

Jadi ya, minggu ini memang adalah minggu yang seru! 😀

#2101 – 2018 Spring Break (Part V: Chicago the City)

ENGLISH

Posts in the 2018 Spring Break series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8. Part VII: Back to Europe in Business Class

I stayed in an area called The Loop, which was the central business district of Chicago. IMO this was a good decision because the area was central with respect to the city. Being the central business district of Chicago, The Loop was full with skyscrapers. This was something which I thoroughly enjoyed and like as, to me as a city person, this felt “so American”, just like in New York! Haha 😆 . For this reason I was feeling so pumped on my first evening there! Haha 😆 .

Chicago

Being a big metropolitan city, Chicago was equipped with a quite extensive public transport system called The “L” (for “ELevated”), which was connected to both Midway and O’Hare Airport. Though, aside from my to tips from/to the airports, I only used this system once because I felt like I could reach the attractions I would like to visit from my hotel on foot, mostly. Though, perhaps this wasn’t the best idea because Chicago was such a big city! Haha 😆 .

An L station in Chicago

Anyway, as a “real” tourist in Chicago, the first attraction I visited was “The Bean”, haha 😆 . It was a sculpture at Millennium Park officially named “Cloud Gate”, but was nicknamed “The Bean” because of the shape, haha. The Bean was quite crowded the day I visited, which wasn’t surprising at all, I guess; an indeed it was cool, especially with the backdrop of some of Chicago’s skyscrapers in the background!

Being touristy at Chicago’s The Bean

From The Bean, I walked to the Millennium Park, then to the adjascent Maggie Daley Park, and then along the lakeside park all the way south to the Buckingham Fountain, which was under renovation at the time. Anyway, Chicago was located next to the gigantic Lake Michigan, which area was about 51 times larger than Lake Toba in Indonesia.

Lake Michigan

The northern border of The Loop was the Chicago River, which flowed to Lake Michigan. There was a nice riverwalk along the river, and several water taxis operated there as well. Again, the view there was super cool (to me) because skyscrapers stood on both sides of the river, creating a rather unusual view in my eyes! 😀

Chicago and the Chicago River

To the north of the river was a section of the long Michigan Avenue called the Magnificent Mile. This was an upscale shopping district area with a lot of cool buildings and skyscrapers too, haha 😀 . The famous Hancock Tower, a building a Sim City 4 player would be familiar with (haha), was located at the northern section of this Magnificent Mile. It was really cool!

The Hancock Tower and Water Tower Place in Chicago

To the east of the Magnicient Mile was the Navy Pier. Because this area looked nice on the map, I went there. However, it turned out to be just a large pier with some attractions which suited visitors with children more, IMO, haha.

Anyway, one aspect about Chicago that I noticed was just how ridiculously CLEAN the city was! Everywhere I went, everything was so clean, including the pathways and sidewalks! I mean, just take a look at the following random photo I took of a sidewalk:

Chicago

It was super clean, wasn’t it? And this wasn’t unique to this specific part of the city only. I mean, I wouldn’t associate any other big modern cities (Well, perhaps except Tokyo 😛 ) with this level of cleanliness!

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2018 Spring Break:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8. Part VII: Back to Europe in Business Class

Aku menginap di area yang disebut The Loop, yang mana merupakan distrik pusat bisnisnya Chicago. Menurutku ini adalah keputusan yang tepat karena areanya berada di pusat kota. Yang namanya pusat bisnisnya Chicago, The Loop dipenuhi oleh pencakar-pencakar langit. Ini adalah sesuatu yang amat aku nikmati karena, sebagai anak kota (haha), ini terasa “Amerika banget”, kayak New York gitu deh! Haha 😆 . Karena ini lah aku sungguh merasa bersemangat di malam pertamaku di sana!

Chicago

Yang namanya kota besar, Chicago juga dilengkapi dengan sistem transportasi umum yang lumayan ekstensif yang disebut The “L” (untuk “ELevated”), yang terkoneksi dengan Bandara Midway dan O’Hare. Walaupun begitu, selain dua perjalananku dari/ke bandara-bandara ini, aku hanya menggunakan sistem ini satu kali saja karena aku merasa aku bisa kok mencapai tujuan-tujuan yang ingin aku kunjungi dengan berjalan-kaki dari hotel. Walaupun mungkin ini bukan ide terbaik juga karena bagaimanapun Chicago adalah kota yang besar! Haha 😆 .

Sebuah stasiun L di Chicago

Anyway, sebagai turis “sejati” jelas dong ya yang aku kunjungi pertama adalah “The Bean”, haha 😆 . The Bean adalah patung di Taman Millennium yang nama resminya adalah “Cloud Gate”, tetapi diberi julukan “The Bean” karena bentuknya yang mirip kacang, haha. The Bean ramai banget di waktu aku kesana, nggak mengherankan sih; dan memang keren banget terutama dengan latar belakang beberapa pencakar langitnya Chicago!

Foto wajib turis di The Bean

Dari The Bean, aku berjalan ke Taman Millenium, lalu ke Taman Maggie Daley di sebelahnya, dan taman di sisi danau ke arah selatan ke Air Mancur Buckingham, yang mana sedang direnovasi ketika aku di sana, haha. Ngomong-ngomong, Chicago ini terletak di tepian Danau Michigan yang raksasa banget lho, yang mana luasnya sekitar 51 kali lipatnya Danau Toba!

Danau Michigan

Batas utaranya The Loop adalah Sungai Chicago, yang mengalir menuju Danau Michigan. Ada area riverwalk yang kece banget di sepanjang sungainya, dan ada beberapa taksi air yang beroperasi di sana. Lagi, pemandangan di sini kece banget (untukku) karena terdapat banyak pencakar langit di kedua sisi sungainya, sehingga pemandangannya cukup tidak biasa di mataku! 😀

Chicago dan Sungai Chicago

Di sisi utara sungainya terdapat satu bagian Michigan Avenue yang disebut Magnificent Mile. Pada dasarnya ini adalah area shopping kelas atas dengan banyak bangunan dan pencakar langit yang keren-keren, haha 😀 . Menara Hancock yang terkenal itu, sebuah gedung yang pasti akan dikenali oleh pemain Sim City 4 (haha), terdapat di bagian utara Magnificent Mile ini. Keren!

Menara Hancock dan Menara Water di Chicago

Di sebelah timur Magnificent Mile terdapat yang disebut Navy Pier. Karena area ini nampak keren di peta, aku pergi kesana. Namun ternyata ini hanyalah sebuah dermaga besar dengan beberapa atraksi di atasnya yang lebih cocok untuk pengunjung yang membawa anak kecil sih menurutku, haha.

Anyway, satu aspek tentang Chicago yang aku perhatikan adalah kotanya BERSIH banget! Kemana pun aku pergi, segalanya itu bersih banget lho, termasuk jalanan dan trotoarnya! Maksudku, coba deh lihat satu foto ngasal yang aku ambil ketika sedang berjalan-kaki ini:

Chicago

Bersih banget kan? Dan kebersihan ini tidak hanya di area ini saja lho. Maksudku, biasanya aku tidak akan mengasosiasikan kota besar dan modern (kecuali Tokyo sih 😛 ) dengan kebersihan yang levelnya sebegininya!

BERSAMBUNG…

#2100 – A Koningsdag Long Weekend Story

ENGLISH

Posts in the Koningsdag 2018 Weekend in Switzerland:
1. Introduction
2. Part I: Luzern
3. Part II: Zürich

This weekend was a long weekend in the Netherlands because Friday was the Koningsdag (the King’s birthday) which was a national holiday! Yeay!! Considering that it would have been about a year since I moved to Amsterdam, last year I was thinking that perhaps this year I would enjoy the Koningsdag in Amsterdam for the first time since 2011 (I was too exhausted to go last year because I just finished my moving from Delft). But last year I also predicted that because this year’s Koningsdag would be on a Friday, I would probably go on a long weekend trip somewhere instead.

And as my Instagram followers (@azilko) have known now, this prediction turned out to be accurate, because I did go on a long weekend trip 🙈. Yep, just a week later after my weekend trip to Munich, I went on another one because why not! Lol 😆 . But this time, I went to a new destination: Lucerne (Luzern) in Switzerland!! 😀

Lake Lucerne and Switzerland

It has been years since I wanted to visit this beautiful Swiss city; but the non-existence of an airport in Lucerne and the city being Swiss (read: an expensive European destination) made it never really come atop of my priority list. To finally realize this, I felt like a long weekend this year would be ideal as I would need to fly to/from Zurich; provided that I found a good deal on the flight ticket, which I obviously did 😀 . In the end I spent two nights in Lucerne and one night in Zurich.

And indeed Lucerne was very beautiful, especially the Altstadt area with the Medieval Chapel Bridge crossing River Reuss. It was such a small town though so two nights were definitely more than enough for the town itself. Though, a friend of mine suggested me to go to Pilatus for the steepest train ride in the world and I didn’t have the time for this as two nights were too short to include Pilatus in my itinerary, haha. I was also very lucky that the weather was great during my entire stay in Switzerland.

A Luzern selfie

Below you can find some photos as teasers from this long weekend trip!

***

Anyway, so perhaps I will finally enjoy Koningsdag in Amsterdam next year then! 😀

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Akhir Pekan Koningsdag 2018 di Swiss:
1. Introduction
2. Part I: Luzern
3. Part II: Zürich

Akhir pekan kemarin ini adalah long weekend di Belanda karena hari Jumat yang lalu adalah Koningsdag (ulang tahunnya Raja) sehingga satu negara diliburkan! Hore!! Dengan mempertimbangkan akan sudah satu tahun semenjak aku pindah ke Amsterdam, tahun lalu aku berpikir mungkin tahun ini aku akan menikmati Koningsdag di Amsterdam untuk pertama kalinya semenjak 2011 (Tahun lalu aku terlalu capek untuk pergi karena aku baru saja selesai pindahan dari Delft). Tetapi tahun lalu juga kuprediksikan bahwa karena Koningsdag tahun ini akan jatuh di hari Jumat, ada kemungkinan aku malah akan jalan-jalan kemana gitu.

Dan seperti yang followers Instagramku (@azilko) sudah ketahui sekarang, prediksi ini beneran menjadi kenyataan dong, dimana aku memanfaatkannya untuk jalan-jalan 🙈. Iyaa, cuma semingguan saja semenjak akhir pekanku ke Munich, aku pergi dalam acara perjalanan yang lainnya karena mengapa tidak! Huahaha 😆 . Tapi kali ini, aku mengunjungi destinasi yang baru: Lucerne (Luzern) di Swiss!! 😀

Danau Luzern dan Swiss

Sudah lama banget sebenarnya semenjak aku ingin jalan-jalan ke kota yang Instagrammable di Swiss ini; tetapi ketiadaan bandara di Lucerne dan kotanya yang berlokasi di Swiss (baca: satu negara tujuan di Eropa yang mahal) membuat kotanya tidak pernah mencapai urutan teratas dalam daftar prioritasku. Untuk akhirnya merealisasikan keinginan ini, aku merasa satu long weekend tahun ini akan ideal untuknya karena aku perlu untuk terbang dari/ke Zurich dulu; dengan kondisi aku menemukan tiket pesawat yang oke, yang mana benar aku temukan 😀 . Pada akhirnya aku menghabiskan dua malam di Lucerne dan semalam di Zurich.

Dan memang Lucerne ini kece banget, terutama area Altstadt-nya dengan Jembatan Kapel yang bergaya abad pertengahan menyeberangi Sungai Reuss. Kota ini berukuran kecil sih sehingga sebenarnya dua malam itu lebih dari cukup lah untuknya. Eh, tapi seorang temanku menyarankanku untuk pergi ke Pilatus untuk menaiki kereta api dengan jalur tercuram di dunia dan aku tidak memiliki waktu untuk ini karena dua malam itu terlalu singkat untuk memasukkan Pilatus ke dalam itinerary-ku, haha. Oh iya aku juga sungguh beruntung dimana cuaca di sepanjang waktu di Swiss kemarin oke banget!

Selfie di Luzern

Di atas adalah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini!

***

Anyway, jadi mungkin aku akan akhirnya menikmati Koningsdag di Amsterdam tahun depan deh! 😀

#2099 – 2018 Spring Break (Part IV: Delta DL 2411 and DL 5608 MSY-DTW-MDW in Economy)

ENGLISH

Posts in the 2018 Spring Break series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8. Part VII: Back to Europe in Business Class

A few weeks before the flight I learned about the ability to check the upgrade list on a Delta flight via their app since 24 hours prior to departure. Naturally I was curious for this so I downloaded the app and checked-in online with it. And indeed, I could check the list! This was amazing! Haha 😆 Though, I noticed that the list was never final as people could still sign up to the list within those 24 hours.

The upgrade list via Delta’s app

From my previous domestic flight with Delta, I knew that I would not get a lounge access so I came to the airport with the right expectation, haha. After checking in my luggage and got my paper boarding passes, I cleared security and had a (real) breakfast, a crawfish omelette, at a restaurant in the airport. It was really good!

Crawfish Omelette

Anyway, to get to Chicago today obviously I wasn’t going to choose any of the direct flights offerred by American Airlines, Southwest, Spirit, and United. Also, Chicago was served by two major airports: Chicago O’Hare (ORD) and Chicago Midway (MDW). I preferred to fly to Midway because it was much closer to the city center and because my Air France flight to Paris would depart from O’Hare anyway. This way I would be able to put both airports into my logbook, haha 😆 . Anyway, so in the end I chose one of the many options offerred by Delta with a transit in Detroit with Chicago-Midway as the final destination. This was the route map:

The route map today. Created with gcmap.com

Delta DL 2411 (MSY–DTW)


Flight: Delta DL2411
Equipment: Boeing 717-200 reg N891AT
ATD: 11:15 CDT (Runway 02 of MSY)
ATA: 14:06 EDT (Runway 04L of DTW)

I was super excited with this first flight today because it would be operated with a Boeing 717-200!! 😍 Such an antimainstream plane! And today, it would be operated with N891AT. Boarding went on time today. I didn’t clear any of the upgrade so I settled onto my 14A seat.

A Delta’s Boeing 717-200 reg N891AT at Louis Armstrong International Airport, New Orleans.

We took off from runway 02 and made a turn north towards Detroit. After reaching 10,000 feet, the wifi connection was turned on. I was feeling curious today so I decided to check the connection (with no intention of purchasing the data package, haha). And then I just learned that apparently the connection allowed us to use the wifi for messaging (via several messaging apps like Whatsapp and Facebook Messenger), for free! It was only for text messaging, though, so no photo or video (for which you would need to purchase the data) but I felt like it was still quite cool! I felt like beating myself in the head because how could I just know this now? Lol 😆

Free Messaging on board Delta’s flight

Anyway, a light snack service was provided on the flight today. I asked for a pretzel and ginger ale. The Boeing 717-200 was a fine bird. It was certainly quieter than the MD88 (See Part I). It was quite an uneventful flight to Detroit, and at 14:06 local time we landed at runway 04L of Detroit Metropolitan Airport. Here is the landing video:

A quick transit at DTW

N891AT was parked at a gate in Concourse A of Detroit Airport’s Edward H. McNamara Terminal today. Upon disembarking the plane, I learned that my connecting flight to Chicago Midway would depart from Concourse B. So I took the super cool ExpressTram, an automated people mover running along the super long Concourse A, to the middle of the concourse from which I had to walk to Concourse B via a really cool underground pass.

The super cool automated people mover at Concourse A of Detroit Metro Airport

Delta DL 5608 (DTW–MDW)


Flight: Delta DL5608 operated by ExpressJet
Equipment: Bombardier CRJ700 reg N741EV
ATD: 16:19 EDT (Runway 22L of DTW)
ATA: 16:06 CDT (Runway 04R of MDW)

My flight to Chicago Midway today would be operated by ExpressJet, a regional airline contracted by Delta to fly under their Delta Connection brand, with their Bombardier CRJ700, another new plane for my logbook! 😍 Anyway, upon boarding I learned that apparently I cleared the upgrade to Delta Comfort+, where I got seat 4D on the plane (to top it off, seat 4C would be unoccupied during the flight!). When I got to the seat, I was shocked to find that this was the legroom:

Amazing legroom on board ExpressJet’s CRJ700

Holy moly, this legroom was so generous especially considering row 4 wasn’t even an emergency row! As far as I could remember, this was the most generous legroom I have ever had in economy!

Anyway, we then took off from runway 22L and then flew towards Chicago. This was a very short flight and so here was the service on board:

The “service” on board Delta flight DL5608

Yep, as in there was NO service on board (not even water)! This was similar to the very short New York JFK – Boston I took about 2.5 years before with Delta Connection operated by Endeavor Air so I guessed this policy had not changed.

It was another uneventful (but short) flight and at 16:06 local time, we landed at runway 04R of Chicago Midway Airport. Here is the landing video:

After taking my luggage, I went to the third level to walk to the Metro station (it was quite a long walk, btw). I then took an L-train to Chicago city center, which was about a 25 minutes ride.

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2018 Spring Break:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8. Part VII: Back to Europe in Business Class

Beberapa minggu sebelum penerbangan ini, aku baru tahu bahwa kita bisa mengecek daftar urutan upgrade di penerbangannya Delta melalui app mereka semenjak 24 jam sebelum keberangkatan. Jelaslah aku penasaran sehingga app-nya aku unduh dan kemudian aku check in online dengannya. Dan ternyata benar lho aku bisa mengeceknya! Keren banget dah! Haha 😆 . Walaupun aku perhatikan daftarnya nggak pernah final sih karena penumpang lain masih bisa mendaftarkan diri ke daftarnya dalam 24 jam itu.

Daftar urutan upgrade di app-nya Delta

Dari penerbanganku sebelumnya dengan Delta, aku tahu bahwa aku tidak akan mendapatkan akses ke lounge sehingga aku datang ke bandara dengan ekspektasi yang tepat, haha. Setelah memasukkan bagasi, mendapatkan boarding pass kertasku, dan pemeriksaan sekuriti, aku sarapan (yang benar) di sebuah restoran di bandaranya. Aku memesan omelet crawfish (lobster air tawar) yang mana enak banget!

Omelet crawfish

Anyway, untuk pergi ke Chicago jelas dong aku tidak akan terbang di rute non-stop yang ditawarkan oleh American Airlines, Southwest, Spirit, atau United. Juga, Chicago memiliki dua bandara utama: Chicago O’Hare (ORD) dan Chicago Midway (MDW). Aku memilih untuk terbang ke Midway karena lokasinya lebih dekat ke pusat kota dan karena penerbangan Air France-ku ke Paris toh akan diberangkatkan dari O’Hare. Dengan begini, aku jadi bisa memasukkan kedua bandaranya ke logbook-ku kan ya, haha 😆 . Anyway, pada akhirnya aku memilih satu dari banyak pilihan yang ditawarkan Delta dengan transit di Detroit ke Bandara Chicago Midway. Berikut ini peta rutenya:

Peta rute hari ini. Dibuat dengan gcmap.com

Delta DL 2411 (MSY–DTW)


Penerbangan: Delta DL2411
Pesawat: Boeing 717-200 reg N891AT
ATD: 11:15 CDT (Runway 02 of MSY)
ATA: 14:06 EDT (Runway 04L of DTW)

Aku sungguh excited dengan penerbangan pertama ini hari ini karena akan dioperasikan dengan Boeing 717-200!! 😍 Pesawatnya antimainstream banget kan ya! Dan hari ini, Delta mengoperasikan N891ATnya. Boarding berlangsung tepat waktu. Aku tidak lolos upgrade sehingga aku duduk di kursi 14Aku.

Boeing 717-200nya Delta rego N891AT di Bandara Internasional Louis Armstrong, New Orleans.

Kami lepas landas dari landasan pacu 02 dan berbelok ke utara ke Detroit. Setelah mencapai ketinggian 10.000 kaki, koneksi wifi-nya dinyalakan. Aku penasaran hari ini dan jadilah iseng mengecek koneksinya (dengan tanpa niatan untuk membeli paket datanya, haha). Dan kemudian aku baru tahu dong kalau koneksinya bisa kita gunakan untuk mengirimkan pesan (menggunakan beberapa app seperti Whatsapp atau Facebook Messenger), gratis! Cuma untuk mengirimkan pesan aja sih, jadi nggak bisa digunakan untuk foto atau video (yang mana untuknya kita harus membeli paket datanya). Tapi tetap aja lumayan lah ya! Aku merasa sebal juga nih kok baru tahu sekarang? Kemana ajaaa? Hahahaha 😆 .

Kita bisa mengirimkan pesan gratis di penerbangannya Delta

Anyway, layanan snack ringan diberikan di penerbangan ini. Aku memilih snack pretzel dan minum ginger ale. Boeing 717-200 itu nyaman lho. Pesawatnya jelas lebih tidak berisik daripada MD88 (baca Bagian I). Penerbangannya sendiri uneventful hari ini dan jam 14:06 waktu setempat kami mendarat di landasan pacu 04L Bandara Metropolitan di Detroit. Berikut ini video pendaratannya:

Transit kilat di DTW

N891AT parkir di Concourse A di Terminal Edward H. McNamara Bandara Detroit hari ini. Ketika turun pesawat, aku mendapatkan informasi bahwa penerbangan lanjutanku ke Chicago Midway akan diberangkatkan dari Concourse B. Jadilah aku naik Express Tram, sebuah automated people mover yang beroperasi di sepanjang Concourse A yang panjang banget itu, untuk turun di bagian tengah concourse-nya untuk kemudian menyeberang ke Concourse B melalui terowongan yang kece banget.

Automated people mover yang keren banget di Concourse A Bandara Metro di Detroit

Delta DL 5608 (DTW–MDW)


Penerbangan: Delta DL5608 dioperasikan oleh ExpressJet
Pesawat: Bombardier CRJ700 reg N741EV
ATD: 16:19 EDT (Runway 22L of DTW)
ATA: 16:06 CDT (Runway 04R of MDW)

Penerbanganku ke Chicago Midway akan dioperasikan oleh ExpressJet, sebuah maskapai regional yang dikontrak Delta di bawah payung Delta Connection, dengan pesawat Bombardier CRJ700, sebuah tipe pesawat baru lagi untuk logbook-ku! 😍 Anyway, ketika boarding aku baru tahu bahwa ternyata kali ini aku lolos upgrade ke Delta Comfort+, dimana aku mendapatkan kursi 4D di pesawatnya (asyiknya lagi, kursi 4C kosong loh di penerbangan ini!). Ketika aku tiba di kursinya, aku sungguh dikejutkan dengan legroom-nya yang kayak begini:

Legroom yang kece banget di CRJ700nya ExpressJet

Gilaaa, legroom-nya mantap banget ini apalagi baris nomor 4 kan bukan baris pintu darurat! Sejauh ingatanku, ini adalah legroom paling mantap di ekonomi yang pernah kudapatkan dah!

Anyway, pesawat lepas landas dari landasan pacu 22L dan kemudian berbelok menuju Chicago. Ini adalah penerbangan yang singkat dan berikut ini layanannya:

“Layanan” di penerbangan DL5608nya Delta

Iya, maksudnya NGGAK ADA layanannya (bahkan air putih pun tidak)! Ini mirip sih dengan penerbangan super singkat New York JFK – Boston yang kunaiki sekitar 2,5 tahun sebelumnya dengan Delta Connection yang dioperasikan dengan Endeavour Air. Jadi sepertinya aturannya masih belum berubah.

Penerbangannya uneventful (tetapi singkat) dan jam jam 16:06 waktu setempat, kami mendarat di landasan pacu 04R Bandara Chicago Midway. Berikut ini video pendaratannya:

Setelah mengambil bagasiku, aku naik ke lantai tiga untuk berjalan menuju stasiun Metro (jalannya lumayan jauh, btw). Aku kemudian menaiki kereta-L menuju pusat kota Chicago yang mana waktu tempuhnya sekitar 25 menit saja.

BERSAMBUNG…

#2098 – 2018 Spring Break (Part III: NOLA The Foodie Destination)

ENGLISH

Posts in the 2018 Spring Break series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8. Part VII: Back to Europe in Business Class

When researching New Orleans a few days before the trip, I was surprised to find out that, aside from the jazz music and the beautiful French Quarter (See Part II), New Orleans was apparently also a foodie destination, especially for the famous Creole and Cajun cuisine!! You know, whenever I travel, (local) food is always an important factor so this finding was certainly exciting to me. However, there appeared to be too many great dishes to try to the point that I regretted a little bit for only allocating two full days there, lol 😆

Anyway, on my first dinner there just after I arrived, I had dinner at one local restaurant. I noticed that one specialty meal that was served there, and it was: an alligator meat! Lol 😆 . I didn’t order the alligator dish this evening as I just arrived and was so jetlagged so I didn’t feel like taking some “risk”, lol 😆 . Instead, I had the very delicious crawfish etouffee (crawfish was another specialty meat of the region).

Louisiana Crawfish Etouffee

However, I took a picture on the menu and had a poll in InstaStory asking if I should try the alligator meat or not. And the majority said I should (you people!), lol 😆 . The next day at around lunch time, I went to a restaurant that served an alligator po-boy (a New Orleans-style sandwich), and obviously I ordered one.

While waiting for my order, I was proud of myself for how “adventurous” I was being at the time. But then I remembered that about 15 years prior, when stopping by at the crocodile farm in Bangkok with my parents and brother on our family’s year end vacation, my dad bought me and my brother a “crocodile satay”. Technically I didn’t know if it really was, though, so now I just have to take my dad’s words on this one. And then I got a little bit disappointed because, while technically still something “new”, crocodile and alligator were quite “similar” so I felt like I wasn’t really pushing my “boundaries” here, haha 😆 .

An alligator po-boy sandwich in New Orleans

Anyway not long after, the dish was served. I still remembered from fifteen years prior that I thought the crocodile meat in the “satay” in Bangkok tasted like chicken. Today, I tasted similar texture. To me, the alligator meat chunks tasted like chicken thigh chunks, haha 😆 . The dish was good, btw, as the meat was deep fried and of course everything tasted great when fried, lol 😆 .

Beignets

I was also recommended to try out the beignets while in New Orleans. So I did it one morning for breakfast, and they turned out to be basically like the Dutch’s oliebollen (the plain one, without the raisins)! And because I loved oliebollen, of course the beignets were also good, haha. I also had a fried oyster dinner with a prosecco at a nice oyster house in Bourbon Street.

Another local dish to try out was the gumbo, which was a form of soup. This dish should be interesting because its taste was supposed to be “unique” which, apparently, not many people liked. And to me, it turned out to taste like “pindang Kudus” (a delicacy dish from the region of Kudus in Central Java) so I actually quite liked it!! The waitress was quite impressed, btw, that I could finish the bowl, haha 😆 .

A serving of gumbo (and a vegetable side dish)

For my last dinner in the city, there was one local dish that I had not tried yet: jambalaya. So I was looking for a restaurant that served one; and I finally found one in the Bourbon Street. They served Creole Jambalaya Risotto, which basically was a jambalaya dish with risotto (instead of rice). And it was really good too!!

Creole Jambalaya Risotto in New Orleans

So yeah, indeed New Orleans was a foodie heaven destination. Have I tried it all? Well, of course not, but I felt like I had tasted “the most important dishes” to try out in my first visit to the city when I left. But then on my first day back at work, my American colleague asked me if I tried the fried chicken in Louisiana. I said no. And then he told me that once Anthony Bourdain named a restaurant in New Orleans to serve the best fried chicken in the country. And I was like “Daaaaaaamn!!!“. And to think about it, the famous fried chicken chain Popeyes full name is “Popeyes Louisiana Kitchen”. Hmmm. So perhaps this means I should consider going back to New Orleans at some point in the future? Lol 😆 .

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2018 Spring Break:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8. Part VII: Back to Europe in Business Class

Ketika meriset New Orleans beberapa hari sebelum berangkat, aku dikagetkan dengan informasi bahwa, selain terkenal akan musik jazz dan French Quarternya yang kece banget (baca Bagian II), New Orleans itu ternyata terkenal sebagai tempat tujuan kuliner dong, terutama untuk masakan ala Creole dan Cajun!! Nah, setiap kali aku travelling, makanan setempat adalah faktor yang penting untuk dicoba sehingga penemuan ini exciting untukku. Masalahnya, kok kayaknya ada banyak banget masakan enak-enak yang perlu dicoba sampai-sampai aku sedikit menyesal aku hanya mengalokasikan waktu dua hari penuh di sana, haha 😆 .

Anyway, untuk makan malam pertamaku di sana ketika baru saja tiba di kotanya, aku makan malam di sebuah rumah makan lokal. Aku perhatikan ada satu menu khusus khas yang disajikan di sana, dan menunya dibuat dengan: daging aligator! Haha 😆 . Malam itu aku tidak memesan menu ini karena aku baru saja tiba dan sedang amat jetlagged sehingga aku merasa waktu ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengambil “risiko”, haha 😆 . Malam itu, aku memesan menu etouffee crawfish (lobster air tawar, yang mana merupakan menu khas lainnya dari daerah ini).

Etouffee Crawfish di Louisiana

Namun, buku menunya aku foto dan aku buat polling di InstaStory menanyakan apakah aku perlu mencoba daging aligatornya atau tidak. Dan ternyata hasil polling-nya positif (dasar kalian!), haha 😆 . Keesokan harinya untuk makan siang, aku mampir di restoran yang menyediakan menu alligator po-boy (sandwich a la New Orleans), dan tentu saja aku memesan satu.

Ketika sedang menunggu pesananku, aku merasa bangga terhadap diriku sendiri karena aku merasa sedang “adventurous” waktu itu. Tetapi kemudian tiba-tiba aku teringat kejadian 15 tahun yang lalu, ketika mampir di peternakan buaya di Bangkok bersama orangtua dan adikku di perjalanan liburan akhir tahun kami, dimana papaku membelikanku dan adikku “sate buaya”. Sebenarnya waktu itu aku nggak mengeceknya sendiri sih apakah itu beneran daging buaya atau bukan; jadi sampai sekarang aku sih hanya bisa mempercayai yang dibilang papaku waktu itu lah ya, haha. Dan jadilah aku sedikit dikecewakan karena, walaupun memang sih masih “baru”, tapi kan buaya dan aligator itu kan “mirip-mirip” lah ya jadi rasanya kok aku tidak melebarkan “batas”-ku di sini, haha 😆 .

Alligator po-boy sandwich di New Orleans

Anyway tidak lama setelahnya, masakannya disajikan. Aku masih ingat dari lima belas tahun yang lalu bahwa daging buaya yang kumakan di Bangkok terasa seperti daging ayam. Dan hari ini, aku merasakan tekstur yang serupa. Untukku, potongan daging aligatornya terasa seperti potongan paha atas ayam, haha 😆 . Masakannya sendiri enak, btw, karena dagingnya di goreng tepung gitu dan tentu saja apa-apa rasanya enak ketika digoreng, haha 😆 .

Beignets

Aku juga direkomendasikan untuk mencoba beignets selagi di New Orleans. Jadilah aku mencobanya suatu pagi untuk sarapan. Ternyata beignets ini seperti oliebollen-nya Belanda (yang polos sih, yang tanpa kismis)! Dan karena aku memang suka oliebollen, tentu saja aku juga menyukai beignets, haha. Aku juga makan malam dengan menu kerang (oysters) goreng dan segelas prosecco di sebuah rumah makan oyster yang kece di Jalan Bourbon.

Satu menu lokal lainnya yang aku coba adalah gumbo, sejenis sup. Menu ini menarik karena rasanya “unik” yang mana ternyata tidak disukai banyak orang. Dan bagiku, ternyata kurang lebih rasanya mirip seperti pindang Kudus, jadi aku mah suka-suka aja deh!! Pelayannya terheran-heran lho, btw, karena aku bisa menghabiskannya, haha 😆 .

Seporsi gumbo (dan menu sampingan sayuran)

Untuk makan malam terakhirku di kotanya, ada satu masakan lokal yang masih belum aku coba hingga saat itu: jambalaya. Jadilah aku mencari satu restoran yang menyajikannya; dan aku akhirnya menemukan satu di Jalan Bourbon. Mereka menyajikan menu Creole Jambalaya Risotto, yang mana adalah masakan jambalaya dengan menggunakan risotto (bukannya nasi). Dan rasanya juga enak!!

Creole Jambalaya Risotto di New Orleans

Jadi ya, New Orleans memang tempat tujuan yang cocok untuk kulineran lah. Apakah aku sudah mencoba semuanya? Jelas belum. Tetapi aku merasa setidaknya aku sudah mencoba “yang penting-penting” lah ketika aku pergi dari kotanya. Tetapi di hari pertamaku di kantor, kolegaku yang orang Amerika bertanya apakah aku mencoba ayam goreng di Louisiana. Aku jawab tidak. Dan kemudian ia memberi-tahuku bahwa sekali waktu Anthony Bourdain menyebut ayam gorengnya sebuah restoran di New Orleans sebagai ayam goreng paling enak se-Amerika dong. “Ahhhh, siaaaal!!!“. Dan kalau dipikir-pikir lagi, jaringan rumah makan ayam goreng Popeyes itu nama lengkapnya “Popeyes Louisiana Kitchen” kan ya. Hmmm. Jadi apakah ini berarti aku perlu mempertimbangkan untuk kembali ke New Orleans suatu saat nanti? Hahaha 😆

BERSAMBUNG…

#2097 – A Weekend Story

ENGLISH

My Instagram followers (@azilko) would have known by now that I went on another weekend trip this weekend. The destination was not new to me, though, as I have been there in May 2016. Yep, I went back on a short trip to Munich! 😀

When I was looking at my April travelling schedule, I was itching to go somewhere in the middle of the month. I saw a good deal on flights to Munich, and I thought “Why not?“. I got great impression of the city from my May 2016 trip and I remember thinking I didn’t have enough time to explore it. So this felt like the perfect opportunity!

And, indeed, Munich was just as how I remembered from 2016. It was awesome!! 😀 Though, the weather there was also similar to how it was in Amsterdam (and the Netherlands) for the week: it was verging on being “so warm” especially for Spring. It felt like it was Summer already! (And you know I prefer cold to warm weather, haha 😆 ). But aside from the temperature (which was in the late 20s Centigrade), the weather was actually beautiful.

The English Garden in Munich when the weather was great

As for how to get there, obviously I chose to fly, haha 😆 . However uncharacteristically, I hose a direct return flight to Munich this time. I don’t exactly remember why, though; but it was likely that I didn’t find good or acceptable deal on the non-direct options, 😛 .

This trip also, unintentionally, became a platform for an experiment that I have had in mind for a long time but I haven’t been “brave” enough to do. That is to measure the “value” of the “role” of my pocket camera in a trip. Due to my forgetfulness, I left my pocket camera at home! And so on this trip I was stuck only with my smartphone’s camera. But this actually allowed me to feel how a trip was without my pocket camera; and so I would be able to measure its importance!

Anyway, here are some teasers from the trip:

BAHASA INDONESIA

Followers Instagramku (@azilko) tentu sudah tahu sekarang bahwa aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan lagi weekend kemarin. Tujuannya bukanlah tujuan baru untukku sih, karena aku sudah pernah kesana di bulan Mei 2016. Iya, aku pergi dalam sebuah perjalanan singkat ke Munich! 😀

Ketika aku melihat jadwal travelling-ku di bulan April, kakiku gatal ingin jalan-jalan kemana gitu di pertengahan bulan. Kebetulan aku melihat tiket pp promo yang menarik ke Munich, jadilah aku pikir “Mengapa tidak?“. Kesanku akan kotanya kan oke banget ya dari perjalanan Mei 2016ku dulu dan aku ingat aku merasa aku tidak memiliki cukup waktu untuk mengeksplornya waktu itu. Jadilah rasanya ini adalah kesempatan yang sangat pas!

Dan memang, Munich memang sekece ingatanku tahun 2016!! 😀 Walaupun cuacanya ternyata mirip dengan cuaca di Amsterdam (dan Belanda) selama seminggu kemarin: cenderung “terlalu panas” apalagi untuk ukuran Musim Semi. Rasanya kayak sudah Musim Panas aja deh ini, haha! (Dan tahu kan aku lebih suka cuaca dingin daripada panas, haha 😆 ). Tetapi sebenarnya di samping urusan suhu udara (yang mana berada di kisaran 20an atas), cuacanya sebenarnya indah banget sih.

English Garden di Munich ketika cuacanya oke

Mengenai transportasi kesana, nggak usah ditanya lah ya jelas aku naik pesawat, haha 😆 . Namun tidak seperti biasanya, aku memutuskan untuk terbang pp ke Munich kali ini. Aku nggak ingat persisnya alasannya sih; tetapi kemungkinan besar sih karena aku tidak melihat deal yang cukup oke untuk dijustifikasi di pilihan-pilihan non-penerbangan langsungnya, haha 😛 .

Perjalanan ini juga, tanpa direncanakan, menjadi platform untuk percobaan yang sempat muncul di pikiranku tetapi sejauh ini belum cukup “berani” untuk aku jalankan. Yaitu percobaan untuk mengukur “nilai” dari “peran” kamera sakuku dalam sebuah perjalanan. Akibat faktor kelupaan, kamera sakuku ketinggalan di rumah dong! Jadilah dalam perjalanan singkat ini aku stuck dengan kamera hapeku saja. Tapi dengan begini aku justru jadi bisa merasakan bagaimana rasanya jalan-jalan tanpa kamera saku; dan dengan demikian aku jadi bisa mengukur kepentingannya kan!

Anyway, di atas adalah beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini.