#1904 – A (Long) Weekend Story

ENGLISH

The theme of this weekend of mine was to make my apartment in Amsterdam habitable, haha.

The apartment comes “empty”, i.e. I have to fill it in with furnitures so that it becomes livable. Well, at least I am “lucky” that I already get the flooring (in many cases in the Netherlands, often an apartment/house does not come with flooring, even the rental ones!) and the walls are already painted (plain white, though, but I am fine with that 😛 ). So these two factors definitely help a lot!

By furnitures, btw, those are not only the bed, tables, sofa (I ended up getting a sofa bed, btw 😛 ), cupboards, chairs, fridge, washing machine, etc; but also the curtains, lamps, etc that need to be taken care of, haha. Many of my weekends in March were filled with preparing for these stuffs; and I was able to get them all delivered this weekend, haha 😛 .

The delivery of some of my furnitures

I took a special day off on Friday (it did not take away from my regular holiday allowance 😀 ), so that I would have a lot of time for this. Obviously, knowing myself I also arranged for some helpers from the stores to help me set up many of those furnitures. Of course I had to pay extra for these services but to me this was super worth it.

So this weekend I was, basically, supervising these works. And of course I helped myself too, so that more work would be finished. Yep, the hammer drill I bought two weeks ago was for this purpose indeed.

Obviously I had to selfie

So is the work finished already? No, not at all, lol 😆 . Quite far from it, actually, lol 😆 . First of all, I just realized I did not properly measure all the dimensions in my apartment and so I bought the wrong stuffs, lol 😆 . This means there are a few things I still need to buy. Secondly, as expected, though, the work took so much time and energy; especially for me who do not do (nor like doing) this kind of activities in a regular basis, haha. And third of all, especially with the ceiling lamps, I find some of the cabling quite confusing and difficult to handle. It needed lots of creativity.

As a result, I am physically very exhausted, now. I actually don’t think this is a good use of my free time and weekend, both for my physical and mental well-being, lol 😆 . And so I am thinking of getting a handyman’s help to do the rest of the work for me, hahaha 😆 . This might cost some fortune (Obviously. What is expensive in the Netherlands is the wage!), but it is worth it!

The assembly extra service was so worth it!!

Nonetheless, at least I can say I learned a few new skills over this (long) weekend. While, to be honest, I didn’t really enjoy it a lot, at least I felt the joy and satisfaction when the stuffs I assembled worked! Lol 😆 .

BAHASA INDONESIA

Tema akhir pekanku kali ini adalah membuat apartemenku di Amsterdam bisa dihuni, haha.

Jadi ceritanya apartemenku ini aku dapatkan “kosong”, artinya aku harus mengisinya dengan mebel-mebel agar bisa aku tempati. Yah, setidaknya aku “beruntung” sih apartemennya sudah berlantai (cukup umum di Belanda, apartemen/rumah itu belum ada lantainya, termasuk yang untuk disewakan!) dan temboknya juga sudah dicat (putih polos sih, tapi aku nggak apa-apa sih dengan warna ini 😛 ). Jadi kedua faktor ini jelas membantu banget!

Dengan mebel-mebel, btw, bukan hanya ranjang, meja-meja, sofa (akhirnya aku membeli sofa bed sih, 😛 ), kursi-kursi, lemari, kulkas, mesin cuci, dll; tetapi juga gorden, lampu-lampu, dll yang juga harus diurus kan, haha. Nah, kebanyakan akhir pekanku bulan Maret lalu aku gunakan untuk mengurus ini nih. Dan aku meminta semuanya untuk diantar akhir pekan ini, haha 😛 .

Pengantaran sebagian dari mebel-mebelku

Aku mengambil cuti spesial di hari Jumat (jadi jatah cuti biasaku tidak berkurang 😀 ), sehingga aku memiliki banyak waktu untuk ini. Jelas, dengan mengetahui diriku sendiri, aku juga membayar jasa beberapa orang untuk membantuku memasang barang-barang ini. Jelas aku harus membayar ekstra tetapi bagiku ini worth it banget.

Jadilah akhir pekan ini aku mengawasi pekerjaan ini. Dan tentu saja aku juga ikutan membantu, sehingga semakin banyak pekerjaan yang terselesaikan. Iya, memang bor perkusi yang kubeli dua minggu yang lalu untuk ini kok.

Jelas mesti selfie dulu dong

Apakah sekarang pekerjaannya sudah selesai? Ya belum lah! Haha 😆 . Masih jauh dari selesai, haha 😆 . Pertama-tama, aku baru menyadari bahwa aku tidak mengukur dengan benar semua dimensi dari apartemenku sehingga beberapa barang yang kubeli salah dong, haha 😆 . Ini artinya ada beberapa barang lain yang masih mesti aku beli. Yang kedua, sesuai dugaanku sih, kegiatan ini sungguh memakan banyak waktu dan energi; terutama untukku yang memang nggak pernah melakukan (dan memang nggak suka) aktivitas beginian, haha. Dan yang ketiga, untuk lampu plafon, aku merasa beberapa kabelnya agak membingungkan dan sulit untuk dikerjakan. Butuh kreativitas banget!

Sebagai akibatnya, sekarang aku merasa lelah banget secara fisik. Aku rasa ini bukanlah ide yang baik untuk menghabiskan waktu senggang dan akhir pekanku, baik untuk kesehatan fisik dan mentalku, haha 😆 . Jadilah sekarang aku berniat untuk memanggil tukang aja untuk menyelesaikan semua sisa pekerjaannya untukku, hahaha 😆 . Mahal sih (Ya iya lah, di Belanda yang mahal kan memang biaya tenaga kerja!) tapi memang worth it!

Layanan ekstra pemasangannya worth it banget!!

Toh walaupun begitu, setidaknya sekarang aku bisa bilang bahwa aku mempelajari ilmu baru akhir pekan (panjang) ini. Walaupun, jujur, aku nggak begitu menikmatinya, setidaknya aku juga merasakan kebahagiaan dan kepuasan ketika aku berhasil memasang sesuatu dan itu bekerja dengan baik! Hahaha 😆 .

#1903 – Firefighting in Marseille

ENGLISH

While having dinner in Marseille during my first (this year) AvGeek Weekend Trip this February, I experienced (well, more like “witnessed”, actually) something new. Something I had never had before!

Entrecote in Marseille

Entrecote in Marseille

While enjoying my entrecote, which unfortunately was a little bit overcooked to my liking, I heard a lot of sirens from the street. And it was kind of weird because it was definitely not from just a passing firetruck/police car/ambulance/whatever as the sound stayed there for some time.

I remember at the time feeling a little bit annoyed because why would someone “play” such loud noise for an extended period of time, haha 😆 . But this “why” was actually a valid question because apparently

the building next to the restaurant was literally on fire!!

😱😱😱😱😱

French firefighters

There were some French firefighters in the street too

Everyone around me stayed calm, though, as the restaurant was not affected by the fire (except that there was an electric outage for a few seconds), which helped me to also stay calm. At that point I almost finished my dish and so I rushed it because I wanted to see the scene, haha. I paid the bill (along with some mini drama with payment) and then went outside to see the scene myself.

Firefighting in Marseille

Firefighting in Marseille

At the time the firefighters had already taken their position, where the very long ladder/platform had been extended to reach the top of the six storey building. Not long after, they opened the “tap” and the firefighter(s) on top of the platform started to “blast” the water.

***

What I admired from this incident was how quickly and organized everything was. In this incident, it was not only the firefighters that were involved. A few meters behind the firetruck, a respiratory ambulance was already ready to retrieve any potential victim. Yep, a respiratory ambulance, the type a fire victim would likely need once escaping a fire!!

Respiratory assistance car was ready

A respiratory assistance truck was ready

Obviously the traffic also needed to be closed during the incident. And the police was ready for that. They put their cars blocking the street so it became sterile. In the meantime, they (or the firefighters? I don’t remember) put a barricade tape around the building to indicate it was an incident zone.

Wow, I was impressed!!

Blocked road

Blocked road

***

Yep, that was my first experience, ever, witnessing firefighters in real action!!

Anyway, as it was my first time, I could not help but to think what are commonly portrayed in Just For Laughs about firefighting. For instance, this prank, haha:

or this one:

Haha 😆 .

So I was thinking imagining there would be a beautiful French lady at the top of the building waiting to be rescued. Then the handsome firefighter would climb the ladder and saved her and then they fell in love and lived happily ever after, lol. What the hell is this crap… 😅😂.

Damn it JFL! 😛

BAHASA INDONESIA

Ketika sedang makan malam di Marseille di AvGeek Weekend Trip pertamaku tahun ini Februari lalu, aku mengalami (hmm, “menyaksikan” lebih tepatnya sih) sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah aku alami sebelumnya!

Entrecote in Marseille

Entrecote di Marseille

Ketika sedang menikmati steak entrecote-ku, yang mana dagingnya agak kematangan untuk seleraku, aku mendengar suara sirene dari arah jalan raya. Dan waktu itu rasanya aneh karena jelas suaranya bukanlah dari mobil pemadam kebakaran/mobil polisi/ambulans/apa pun yang lewat karena bunyinya berlangsung cukup lama.

Aku ingat waktu itu aku merasa sedikit sebal karena mengapa sih ini kok seseorang “memainkan” sirene sekeras ini lama banget pula, haha 😆 . Nah, “mengapa” ini sebenarnya adalah pertanyaan yang tepat karena ternyata

gedung di sebelah restoran ini sedang kebakaran dong!!

😱😱😱😱😱

French firefighters

Ada beberapa pemadam kebakarannya Prancis di jalan juga

Semua orang di sana tenang-tenang aja sih, karena memang restorannya tidak terpengaruh kebakarannya (kecuali sempat mati lampu selama beberapa detik), sehingga aku juga tenang-tenang aja dong ya. Waktu itu, aku sudah nyaris menyelesaikan makan malamku dan jadilah aku buru-buru menyelesaikannya karena aku pengen melihat TKPnya, haha! Aku membayar tagihannya (ditambah drama mini pula dengan pembayarannya) dan kemudian keluar restoran untuk langsung melihat tempat kejadian.

Firefighting in Marseille

Pemadaman api di Marseille

Waktu itu, pemadam-kebakarannya sudah siap siaga di posisinya, dimana tangga/boksnya yang panjang banget itu sudah dipanjangkan untuk mencapai puncak gedung bertingkat enam tersebut. Tak lama kemudian, “kran air”-nya dibuka dan pemadam-kebakaran yang berada di boks itu mulai “menyemprotkan” air ke arah gedung.

***

Yang aku kagumi dari insiden ini adalah seberapa cepat dan teraturnya semua pihak yang terlibat. Di insiden ini, bukan hanya pemadam-kebakaran yang terlibat. Beberapa meter di belakang mobil pemadam kebakaran, sebuah mobil paramedis pernafasan sudah siap siaga untuk menerima korban (jika ada). Yup, mobil paramedis pernafasan, suatu bantuan yang sangat mungkin dibutuhkan oleh korban yang baru saja selamat dari kebakaran kan!!

Respiratory assistance car was ready

Sebuah mobil paramedis pernafasan telah siap siaga

Dan jelas lalu-lintas harus ditutup sepanjang insiden ini. Untuk ini, polisi sudah siap menjalankan tugasnya. Mereka memarkir mobil polisi menutup akses jalan sehingga areanya menjadi steril. Sementara itu, mereka (atau pemadam-kebakarannya ya? Aku lupa) mulai memasangi gedung dengan barricade tape itu menandai bahwa gedung ini adalah zona insiden.

Wow, keren banget yah!!

Blocked road

Jalan yang ditutup oleh polisi

***

Yep, ini adalah pengalamanku pertama kali seumur hidup menyaksikan aksi pemadam-kebakaran yang nyata!!

Anyway, yang namanya juga pertama kali, aku bisa-bisanya loh teringat apa yang beberapa kali digambarkan di Just For Laughs tentang pemadaman-kebakaran. Misalnya, prank yang ini, haha:

atau yang ini:

Huahaha 😆 .

Aku berpikir berimajinasi ada cewek Prancis cakep di atas gedung itu yang menunggu untuk diselamatkan. Lalu seorang pemadam-kebakaran gagah dan ganteng memanjat tangganya dan menyelamatkannya dan kemudian mereka jatuh cinta dan hidup bahagia selama-lamanya, huahaha. Apa-apaan ini… 😅😂.

Dasar nih JFL! 😛

#1902 – TAR 29 and Google’s Video

ENGLISH

The Amazing Race 29

Last week, The Amazing Race 29 was premiered. It had really been awhile since the previous season (28th), that was premiered in February 2016 meaning it had been more than one year since the last season! And I missed this show! Especially that geographical reason prevented me from following (thus enjoying the “hype”) of The Amazing Race Asia 5 at the end of last year (even though I managed to watch its first episode that was held in Jakarta).

Anyway, TAR 29 is another “unique” installment of the show where, this season, all participants were strangers and they had to form their own teams at the starting line. To be honest I am not 100% super enthusiastic about this change because this would mean all the team relationships we would see during the show would still be in the “outer” level. Though, on the other hand, I am also interested to see how it would play out throughout the race, haha…

Yeah, I am just excited that The Amazing Race is, finally, back!!

Google’s Video

Anyway, last week, Google Nederland released this video:

They “took credit” of the amazing weather in the Netherlands in the second half of March. Apparently, we all had to thank “Google Wind” whom had repurposed the 1170 windmills in the whole Netherlands to generate wind so strong that it literally blew all cloud away from the country. As a result, per 1 April 2017, they could guarantee clear sky for everyone, lol 😆 .

***

Haha, in my opinion, this was another really smart April Fool’s video by Google; especially for the Dutch market. You know, in the Netherlands pretty much everyone agrees to hate the weather (as Armin van Buuren said in the beginning of the video, apparently for 145 days every year, it rains in the Netherlands *nodding my head*). And I really liked the video because it was really “smooth”, where some actually irrelevant but relevant-sounding terms were thrown in, like Google Cloud and machine learning, haha 😛 .

Though, now that I think about it, indeed in those two weeks when the weather was awesome, it was really windy, hmmm 🤔.

BAHASA INDONESIA

The Amazing Race 29

Minggu lalu, The Amazing Race 29 mulai tayang. Sudah lumayan lama loh semenjak musim sebelumnya (ke-28), yang mulai ditayangkan di bulann February 2016 yang mana artinya sudah satu tahun lebih! Dan aku kangen dengan acara ini! Terutama akibat geografi yang menyulitkanku untuk mengikuti (dan ikut menikmati hingar-bingarnya) The Amazing Race Asia 5 akhir tahun lalu (walaupun aku sempat menonton episode pertamanya yang diadakan di Jakarta sih).

Anyway, TAR 29 ini adalah musim yang “unik” lagi dari acara ini dimana, kali ini, semua pesertanya adalah orang asing dan mereka harus membentuk tim mereka sendiri di garis start. Sejujurnya sih aku nggak terlalu antusias 100% dengan perubahan ini karena artinya semua hubungan yang akan dilihat di acara ini masih berada di level “kulit” aja. Walaupun, di sisi lain, menarik juga sih bagaimana ini akan berkembang di sepanjang race, haha…

Ya, pokoknya sih, aku merasa senang The Amazing Race, akhirnya, kembali!!

Videonya Google

Minggu lalu, Google Nederland merilis video berikut:

Mereka bercerita bahwa mereka lah “biang keladi” dari cuaca di Belanda yang oke banget di dua minggu terakhir bulan Maret. Ternyata, kita semua harus berterima-kasih terhadap produk “Google Wind” yang telah mengalih-fungsikan 1170 kincir angin di seluruh Belanda untuk kini memproduksi angin yang kuat banget sampai-sampai semua awannya ditiup menjauh dari Belanda. Sebagai akibatnya, per 1 April 2017, mereka bisa menjamin langit yang cerah bagi semua penduduk Belanda, huahaha 😆 .

***

Haha, menurutku, ini adalah video April Mop yang cerdas dari Google; terutama untuk pasar Belanda. Tahu lah, di Belanda itu semua orang setuju untuk sama-sama membenci cuacanya (seperti yang disebutkan Armin van Buuren di awal video, ternyata 145 hari dalam setahun itu hujan loh di Belanda *mengangguk-angguk setuju*). Dan aku suka video ini karena “mulus” banget, dimana beberapa istilah yang terdengar relevan padahal sebenarnya tidak juga dimasukkan, misalnya Google Cloud atau machine learning, haha 😛 .

Walaupun, kalau dipikir-pikir lagi, memang di dua minggu ketika cuacanya oke itu angin bertiup kencang sih, hmmm 🤔.

#1901 – MY Apartment

ENGLISH

I previously shared that I have made a decision to move to Amsterdam. In fact, I am moving there this month. Actually, I made this decision already in November. So why did it take “this” long for me to move?

You see, I hated the act of “moving”. However, having made the decision to move, this meant what I needed to do was to minimize the number of moving I would need to do, haha 😆 . This further implied that I needed to move to a place for the longer-term. This last point went along with the conventional rational wisdom, which I had had in my mind for quite some time:

I needed to BUY my next place.

Btw, this was the goal I cryptically mentioned in November, haha.

You see, buying a new place was no small matter so I needed to gather a lot of information about it. Since then, I hired a consultant and an agent to represent me (The Amsterdam housing market is a highly competitive market that works “differently” than a lot of other housing markets, so it is advisable to hire an agent representing us when planning to buy a place.).

Amsterdam

The housing market in Amsterdam is unusual.

Long story short, it did not take very long for me to get a successful deal (apparently I was very lucky, some colleagues told me it took them almost a year before they bought their places in Amsterdam).

In fact, as of today, I am the official owner of my new place in Amsterdam, haha 😎.

***

When my agent informed and congratulated me that I got the deal by winning the bid back in February, I was feeling a little bit overwhelmed, to be honest, because it felt like a huge commitment (well, it was), haha. It was also probably because I was surprised to get the deal that fast, given that I didn’t think I made a high enough bid for the house (This indeed means that I think I got a good deal on it, yeay! 😉 ).

But I knew that this was what I wanted. Plus, this was the right and good commitment to make anyway, given the current outlook of my future plan. So I just braved myself up and proceeded with the process.

And so last week, my life savings took a big hit with all the initial payments related to this purchase. And I expect another hit in the coming weeks or so when my credit card bills arrive with all the shopping I have done to make my apartment “habitable”, lol 😆 . More on the latter in a later post 🙂 .

***

Yeah, another life achievement this year, I guess. After getting my Doctorate (PhD) degree earlier this year, I now own a place 😀 .

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya telah kuceritakan bahwa aku telah membuat keputusan untuk pindah ke Amsterdam. Bahkan aku akan pindahan bulan ini. Sebenarnya, keputusan ini sudah kubuat semenjak November. Lantas mengapa aku membutuhkan waktu “selama” ini cuma buat pindah aja?

Jadi begini, aku benci sekali dengan yang namanya “pindahan”. Namun, karena sudah membuat keputusan untuk pindah, ini artinya yang perlu kulakukan adalah meminimalisir jumlah pindahannya kan, haha 😆 . Artinya, aku harus pindah ke suatu tempat untuk jangka panjang. Poin terakhir ini kebetulan juga sejalan dengan pandangan rasional yang umum, yang mana juga sudah berada di benakku cukup lama:

Tempat tinggalku selanjutnya haruslah aku BELI.

Btw, ini adalah tujuan yang aku singgung secara misterius bulan November lalu, haha.

Nah kan, membeli tempatku sendiri itu bukanlah perkara sepele sehingga aku merasa perlu untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentangnya. Semenjak waktu itu, aku memutuskan untuk menggunakan jasa konsultan dan sebuah agen untuk mewakiliku (pasar properti Amsterdam adalah pasar yang amat kompetitif dan “berbeda” dari layaknya pasar-pasar properti lainnya, jadi memang disarankan untuk menggunakan jasa agen di sini).

Amsterdam

Pasar properti di Amsterdam itu cukup berbeda.

Singkat cerita, tidak membutuhkan waktu lama untukku berhasil mendapatkan sebuah deal (Dan bisa dibilang aku beruntung sekali. Beberapa kolegaku bercerita mereka membutuhkan waktu hampir setahun untuk mendapatkan rumahnya di Amsterdam).

Bahkan, per hari ini, resmi aku adalah pemilik rumahku di Amsterdam loh, haha 😎.

***

Ketika agenku memberi-tahuku dan menyelamatiku bahwa aku mendapatkan apartmennya karena aku menang dalam penawaran harga di bulan Februari kemarin, aku merasa overwhelmed banget, jujur nih, karena ini terasa seperti komitmen yang besar banget (memang begitu sih), haha. Mungkin ini juga karena aku kaget aku mendapatkan deal sedemikian cepat, dengan pertimbangan padahal rasanya penawaran hargaku nggak tinggi-tinggi amat loh (Ini memang berarti aku merasa aku mendapatkan rumahku dengan harga yang oke, hore! 😉 ).

Tetapi aku tahu ini adalah apa yang aku inginkan. Ditambah lagi, toh ini adalah komitmen yang tepat dan baik untuk dibuat kan, apalagi dengan mempertimbangkan perencanaan masa-depanku sekarang. Jadilah aku memberanikan diri dan melanjutkan prosesnya.

Akibatnya minggu lalu, tabunganku terkena pukulan besar deh dengan semua pembayaran awal yang berkaitan dengan pembelian ini. Dan minggu-minggu ini akan ada pukulan lain lagi ketika tagihan kartu kreditku akan datang dengan semua belanjaanku akhir-akhir ini untuk membuat apartemenku ini “bisa dihuni”, huahaha 😆 . Yang kedua ini akan aku tulis di sebuah posting yang akan datang 🙂 .

***

Yup, sebuah pencapaian hidup lagi ya tahun ini. Setelah mendapatkan gelar Doktoral (S3)-ku awal tahun ini, kini aku juga memiliki rumahku sendiri 😀 .

#1900 – Amsterdam, Here I Come!!

ENGLISH

Since starting working in Amsterdam last October, I have been commuting every working day between Delft and Amsterdam. My observation at the time turned out to be robust enough, where I needed to spend about three hours everyday just to commute; unless when there was a train disruption, in which case it would be longer.

While I started to get used to it, I realized this was still not sustainable in the long run. There was basically less and less rationale for me to still live in Delft as time went on. The cheaper rent in Delft became irrelevant anyway (it has been so since I started working actually), as I got more than good enough salary to afford Amsterdam’s (expensive *cough*) accommodation, haha. And now that I have officially finished my PhD in TU Delft, I can say there is no more reason for me to still live in Delft.

The moment I became a Doctor, also the moment where living in Delft became significantly less reasonable.

Yep, it is now all obvious to me. I have decided that I am moving to Amsterdam.

I write this post because I have made concrete steps in realizing this decision. In fact, it is already confirmed that I am moving to the capital this month, haha 😆 . Further details into this shall become one special upcoming post. So stay tuned for that! 🙂

But yeah, after moving to Delft almost seven years ago, it is about time for me to close the Delft chapter of my life really soon. Yep, this might sound super dramatic considering Amsterdam is only about 55 km from Delft, haha. But still… .

Having lived in Delft this long. In this town I got my Master and Doctorate (PhD) degrees. In this town my life in Europe started. Yup, Delft will always be a big and important part of my life 🙂 .

Marktplein in Delft as viewed from the top of the Nieuwe Kerk

Delft

BAHASA INDONESIA

Semenjak mulai bekerja di Amsterdam bulan Oktober lalu, aku telah nglaju di setiap hari kerja antara Delft dan Amsterdam. Pengamatanku waktu itu cukup akurat, dimana setiap hari aku perlu menghabiskan sekitar tiga jam di jalan; kecuali jika ada gangguan kereta api yang mana dalam kasus ini waktunya tentu lebih lama lagi.

Walaupun aku mulai terbiasa dengan rutinitas ini, aku menyadari bahwa ini tetap sama sekali tidak berkelanjutan (sustainable) untuk jangka panjang. Seiring berjalannya waktu, semakin sedikit keuntungan bagiku untuk tetap tinggal di Delft. Biaya sewa akomodasi yang lebih murah di Delft juga (sebenarnya semenjak awal mulai kerja) tidak relevan, karena toh aku mendapatkan gaji yang jauh lebih dari cukup untuk mampu tinggal di sebuah akomodasi di Amsterdam (yang mahal itu *uhuk*), haha. Dan juga sekarang aku telah menyelesaikan PhD (S3)-ku di TU Delft, artinya semakin tidak ada lagi alasan untukku tetap tinggal di Delft.

Momen aku menjadi seorang Doktor, juga momen dimana tinggal di Delft menjadi jauh lebih tidak masuk akal lagi.

Yep, kini semuanya sudah jelas untukku. Aku telah memutuskan untuk pindah ke Amsterdam.

Posting ini aku tulis karena aku telah membuat langkah-langkah nyata untuk merealisasikan keputusan ini (jadi bukan omdo, haha 😛 ). Malahan, sudah terkonfirmasi kok bahwa aku akan pindah ke ibukota bulan ini, haha 😆 . Cerita lebih mendetail mengenai ini adalah bahan satu posting yang akan datang. Jadi ditunggu aja ceritanya! 🙂

Tetapi, ya, jadilah semenjak aku pindah ke Delft nyaris tujuh tahun yang lalu, kini sudah waktunya untukku menutup bab Delft dalam hidupku. Iyaa, memang terdengar dramatis dan berlebihan banget ya. Apalagi Amsterdam kan cuma sekitar 55 km aja dari Delft, haha. Tetapi tetap aja… .

Aku sudah tinggal di Delft sedemikian lama. Di kota ini lah aku mendapatkan gelar Master (S2) dan Doktoral (S3)-ku. Di kota ini lah kehidupanku di Eropa dimulai. Ya, Delft akan tetap menjadi satu bagian besar dan penting dalam hidupku 🙂 .

#1899 – Photo Tales (39)

ENGLISH

Photo #86

A delicious Southern Italian dinner

Some weeks ago a friend of mine told me about this Italian restaurant ran by an Italian family in Rotterdam that was so good but only opened during the weekday. Quite strange, indeed. We joked that they had enough customers already that they did not feel the need to open their restaurants in the most popular time for people to go out and dine: the weekend, haha.

Finally, last Tuesday I got the chance to try it. And indeed it was good!! My friend and I decided to share a carpaccio as an appetizer to share, while for the main course I ordered a very delicious beef steak that was served with salad and, well, pasta!

Photo #87

Yeay it is Spring finally!

Finally, the past two weeks or so, Spring has come to full effect in the Netherlands!! Yeay for less layers of clothes to wear!! 😛

BAHASA INDONESIA

Foto #86

Makan malam ala Italia Selatan yang enak banget!

Beberapa minggu yang lalu seorang temanku memberi-tahuku mengenai restoran Italia yang dikelola oleh satu keluarga asal Italia di Rotterdam yang enak banget tetapi cuma buka di hari biasa (hari kerja/weekday) saja. Aneh ya. Kami sih bercanda sepertinya mereka sudah memiliki cukup pengunjung saking ramainya sehingga mereka merasa tidak perlu membuka restoran mereka di waktu populer orang-orang untuk keluar makan: akhir pekan, haha.

Nah, akhirnya hari Selasa minggu lalu aku berkesempatan mencobanya. Dan ternyata memang enak lho!! Aku dan temanku memesan carpaccio sebagai menu pembuka untuk dibagi dua. Untuk makanan utama, aku memesan steak yang memang enak dan disajikan dengan salad dan, tentu saja, pasta!

Foto #87

Hore akhirnya musim semi!

Akhirnya, dua minggu terakhir ini, musim semi sudah mulai menunjukkan tanda-tandanya di Belanda!! Horee nggak harus memakai berlapis-lapis pakaian lagi!! 😛

 

#1898 – Human and Adaptation

ENGLISH

Adaptation is a trait of living organism (and, thus, also of human). Yes, that is a cheesy and geeky opening sentence of a post, lol 😆 . Anyway, in the last a few weekends or so, I have noticed how my body has adapted to the “new” routine I must develop since I started working in Amsterdam while still living in Delft.

Commuting is part of my current life

After six years of living and working (and studying) in Delft, obviously I had developed my own daily rhythm. Most of the time I did not have to worry to oversleep. I also had two big (warm) meals everyday, and for this I chose breakfast and dinner; arguing that a breakfast would be crucial to start the day while I would still be full anyway for lunch. Btw, two big meals a day is a habit I have developed since moving to Bandung in 2006, though.

The contrast change from working in Delft to working in Amsterdam while still living in Delft meant that I would need to adapt. First of all, I would need to get up much earlier, given the on average three hours of commute I would have to do everyday, haha 😆 . Secondly, while still maintaining my two big meals a day habit, I had to shift my first big meal to lunch and had lighter meal (mostly smoothie bowls) for breakfast.

I like to have smoothie bowls for breakfast nowadays

While it was difficult at first, now I have started to get used to getting up early in the morning. Even in most cases I am already able to beat the alarm clock! Though, just to be safe, I still set my alarm clock every night, haha 😛 .

And it is quite “funny” how human brain works. It appears to have adapted this daily weekday rhythm that quite often in weekends, I get up at approximately the same time! (Obviously I don’t set my alarm clock for weekends). Once I felt like this was ridiculous and I thought my body had not got enough sleep. So I forced myself to go back to sleep. And guess what? When I woke up eventually, I did not feel good at all and actually had a headache from, I think, too much sleep! Haha 😆 .

Apparently too much sleep is not good as well 😛 .

To be honest I wondered how I would perform at work in the morning given that now I consumed much smaller breakfast than before. It turned out to be fine, actually, which surprised me a lot! 😮 I just needed to make sure that I would not have late lunch, though. Once, it happened that I started to “see stars” when I had late lunch (though it was right when I just started, so that might also play a big role).

So, yeah, human and adaptation. I guess we should never underestimate what our brain and body can adapt to, because it might surprise us!

BAHASA INDONESIA

Adaptasi adalah salah satu sifat dari organisme (yang mana artinya juga termasuk manusia). Iya, kalimat sebelum ini adalah kalimat yang norak dan geeky banget untuk membuka suatu posting ya, haha 😆 . Anyway, beberapa akhir pekan belakangan ini, aku mulai mengamati bahwa badanku juga mulai beradaptasi terhadap rutinitas “baru”-ku loh semenjak aku bekerja di Amsterdam sementara masih tinggal di Delft.

Nglaju adalah bagian kehidupanku saat ini

Setelah enam tahun tinggal dan bekerja (dan belajar) di Delft, jelas sebuah ritme harianku telah terbentuk. Kebanyakan sih aku tidak perlu takut akan bangun kesiangan. Aku juga hanya makan besar dua kali sehari, dan untuk ini aku memilih sarapan dan makan malam; dengan alasan sarapan itu penting untuk memulai suatu hari dan akibatnya aku masih akan kenyang di waktu makan siang, haha. Btw, makan besar dua kali sehari ini adalah kebiasaan yang sudah aku lakukan semenjak aku pindah ke Bandung di tahun 2006.

Nah, perubahan kontras dari bekerja di Delft ke bekerja di Amsterdam sementara masih tinggal di Delft berarti aku harus menyesuaikan diri. Pertama-tama, aku harus bangun lebih pagi, berkat nglaju selama sekitar, rata-rata, tiga jam setiap hari, haha 😆 . Yang kedua, walaupun aku masih mempertahankan kebiasaanku makan besar dua kali sehari, aku harus menggeser makan besar pertamaku ke makan siang dan sarapan lebih ringan (seringnya sih smoothie bowls).

Sekarang-sekarang ini aku suka makan smoothie bowls untuk sarapan.

Walaupun awalnya memang sulit, sekarang aku sudah mulai terbiasa untuk bangun lebih pagi di pagi hari. Bahkan cukup sering aku berhasil bangun sebelum alarmku berbunyi loh! Walaupun, untuk amannya sih, aku masih mengeset jam alarm-ku setiap malam, haha 😛 .

Dan “lucu” juga bagaimana otak manusia bekerja. Nampaknya aku sudah beradaptasi dengan ritme hari kerja harian ini sampai-sampai sering di akhir pekan, aku juga bangun di waktu yang kurang lebih sama loh! (Jelas di akhir pekan alarm tidak aku nyalakan). Sekali waktu aku merasa ini bodoh sekali karena aku kira badanku pasti masih kekurangan tidur sehingga aku memaksa diriku untuk tidur lagi. Dan apa yang terjadi? Ketika aku akhirnya bangun, aku malah merasa tidak enak sama sekali dong dan bahkan sampai sakit kepala juga akibat, aku duga, kelamaan tidur! Haha 😆 .

Ternyata kelamaan tidur itu juga kurang baik 😛 .

Sejujurnya aku sedikit khawatir performaku di kantor di pagi hari akan terimbas sarapanku yang lebih kecil ini. Tetapi ternyata baik-baik saja kok, yang mana sungguh mengagetkanku! 😮 Aku hanya perlu memastikan aku tidak terlambat makan siang sih. Sekali waktu, ini pernah kejadian dan mataku mulai “berkunang-kunang” gitu deh (walaupun kejadiannya adalah sewaktu aku baru mulai sih, jadi mungkin aku masih belum terbiasa aja).

Jadi, ya, manusia dan adaptasi. Aku kira jangan pernah kita meremehkan kemampuan otak dan badan kita untuk menyesuaikan diri, karena ini mungkin akan mengagetkan kita!