#1918 – Take Your Chances but You Can’t Have Them All

ENGLISH

In early March, Malta’s super famous Azure Window collapsed into the sea following years of erosion and, the final trigger, a severe storm in the Mediterranean Sea. Apparently being one of the biggest tourist attractions of Gozo (the name of the island), many people were understandably saddened by this.

As for me, well, I have never been there. I even have never been to Malta. So why do I care? Well, these are precisely why I care about this, haha.

You see, to be honest Malta has been in my radar to visit for awhile. But for whatever reason (well, mainly time, distance, and the few SkyTeam connections to Amsterdam (lol 😆 )), I have never made it a reality.

And now, it is all too late for me if I want to go to Azure Window, because it no longer exists. It has collapsed into the sea, literally. It is gone. It is now history.

***

This reminds me of two lessons, though. First of all, we should take our chances whenever we can, simply because it might never be there to be taken again. Had I spent some time to visit Gozo and Malta years ago, I would have been able to take a selfie with Azure Window, haha 🙈 .

Secondly, we cannot have everything in life. You see, there are plenty of other places in this planet that I would want to visit as well, haha 😆 . I have not spent some of my time to visit Malta because I used that time to visit other places. And my time is finite. So this means that at some point I must accept that I cannot have (or, rather, visit) it all 🙂 .

***

So, how about you? Have you ever visited Azure Window?

BAHASA INDONESIA

Di bulan Maret kemarin, Azure Window-nya Malta yang terkenal banget itu ambruk ke laut akibat erosi yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan, pemicu terakhirnya, badai besar di Laut Mediterania. Ternyata, karena merupakan salah satu atraksi turis terbesar di Gozo (nama pulaunya), banyak orang yang sedih karenanya.

Untukku, aku belum pernah ke sana. Malahan aku juga belum pernah ke Malta. Jadi ngapain kok aku peduli? Haha. Yah, justru karena ini lah aku peduli.

Sejujurnya, Malta sudah berada dalam daftar tempat yang ingin kukunjungi semenjak lama. Tetapi entah karena alasan apa (hmm, utamanya sih waktu, jarak, dan sedikitnya pilihan penerbangan dengan maskapai SkyTeam dengan koneksi ke Amsterdam (huahaha 😆 )), aku belum sempat menjadikannya kenyataan.

Dan sekarang, terlambat sudah jika aku ingin menunjungi Azure Window, karena Azure Windownya sudah nggak ada lagi. Ia sudah ambruk ke laut. Sudah hilang. Sudah menjadi sejarah.

***

Ini mengingatkanku akan dua pelajaran sih. Pertama-tama, kita harus memanfaatkan peluang yang ada, karena mungkin saat ini adalah saat terakhir peluang ini muncul dan bisa diambil. Andaikata aku sudah meluangkan waktu untuk pergi ke Gozo dan Malta bertahun-tahun yang lalu, saat ini aku sudah memiliki foto selfie dengan Azure Window, haha 🙈 .

Yang kedua, kita tidak bisa mendapatkan semuanya di hidup ini. Jadi ceritanya ada banyak sekali tempat-tempat lain di dunia ini yang ingin kukunjungi, haha 😆 . Aku belum mengunjungi Malta karena sebelum ini aku menggunakan waktuku untuk mengunjungi tempat-tempat yang lain. Dan waktuku kan terbatas. Jadi artinya di satu waktu memang aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa mendapatkan (atau, mengunjungi) semuanya 🙂 .

***

Jadi, bagaimana dengan kalian? Apakah sudah pernah mengunjungi Azure Window?

#1917 – TV Shopping

ENGLISH

After living in the apartment for about two weeks, I noticed that I needed a (smart) TV. Actually I don’t watch TV that often anyway in the last a few years, but it is still nicer to have the option to do so and choose to not do it than not having the option in the first place, haha 😆 .

So last weekend I went to an electronic shop and purchased a smart 43-inch Ultra HD LG one that was really cool! Haha.

TV shopping

There was a problem with the delivery because of the store’s fault, though, which annoyed me. I wasted literally one day of my time because of this, where I spent the whole day waiting for the delivery and installation on the promised date, but noone came. I tried to call the store but noone answered, and the general call centre could not help me because I made the transaction in a store, not online. 😣 So I went to the store that evening to complain and ask for a solution; and we found out the fault the store made. Consequently, I should have received my TV by the weekend but I just got it delivered this Wednesday!

Anyway, I still need to decide whether I want to subscribe to a cable TV provider, though (I can add that on top of my internet subscription), but I guess I will play around with it first! Haha 😆

BAHASA INDONESIA

Setelah dua mingguan tinggal di apartemenku, aku perhatikan aku ternyata membutuhkan (smart) TV, haha. Sebenarnya aku nggak sering nonton TV sih beberapa tahun belakangan, tetapi tentu lebih baik memiliki opsi untuk menonton TV dan kemudian memilih untuk tidak menontonnya daripada tidak memiliki opsinya kan ya, haha 😆 .

Jadilah akhir pekan kemarin aku pergi ke sebuah toko elektronik dan membeli sebuah smart TV Ultra HD-nya LG berukuran 43 inci yang mana keren banget dah! Haha.

Belanja TV

Ada satu masalah dengan pengantarannya akibat kesalahan tokonya, sih, yang mana membuatku jengkel. Aku jadi menyia-nyiakan satu hari waktuku karena ini, dimana aku menghabiskan sepanjang hari menunggu pengiriman dan pemasangan TVku di hari yang dijanjikan tetapi tidak ada yang datang. Aku mencoba menelepon tokonya tetapi tidak ada yang mengangkat, dan call centre umumnya juga tidak bisa membantuku karena transaksiku berlangsung di toko, bukan online. 😣 Malamnya aku pergi ke tokonya untuk komplain; dan akhirnya kesalahan yang dibuat pihak toko itu ditemukan. Sebagai akibatnya, yang mana seharusnya aku sudah memiliki TV di akhir pekan, aku baru mendapatkan TVnya di hari Rabu kemarin!

Anyway, aku masih harus memutuskan apakah aku ingin berlangganan tv kabel juga sih (Aku bisa menambahkan paket itu ke paket internetku), tetapi aku akan mencoba TVnya dulu deh! Haha 😆

#1916 – A Weekend Story

ENGLISH

Decorating

The grand theme of my weekend was still “decorating” my new apartment in Amsterdam.

I did not estimate everything accurately during the planning stage, because I was just using the floormap at the time, so I ended up with two extra roll curtains that were too long for two of my windows and so these two windows were “curtainless”, haha.

And so I ordered two more roll curtains, with the correct size which I measured during the execution, along with some other extra furnitures: a shoe rack and a carpet (because those apparently did not add to the delivery cost so why not, haha). They got delivered this weekend. I assembled and put them in the right place.

IKEA shoe rack: before

IKEA shoe rack: after

One thing confused me, though. I am sure some weeks ago I saw a few different models of wall clothes hanger in a shop that I visited. Well, this weekend I could not find them anymore. It was weird because I went to all the shops that I had visited in the last a few weeks to make sure. Was it possible, though, that all of them had been sold? Haha 😆

A Catch Up

About two weeks ago, an old friend of mine messaged me that she was going on a short tour to Europe, including a stop in Amsterdam. So she asked if possible maybe we could catch up. Her schedule was quite convenient as she would be in Amsterdam on Sunday. So I said yes.

We knew each other from Junior High School and I think the last time we met was actually in Senior High School, so that was like 12 years ago or so (#feelingold). Anyway, so we met at the Rijksmuseum and went around the park. Then we sat down at cafe, where unexpectedly the waiter was a Balinese, haha 😆 . We parted away just before her dinner at an Indonesian restaurant with her tour group.

A catch up with an old friend in Amsterdam

It was always very nice to catch up with an old friend!! 😀

BAHASA INDONESIA

Mendekorasi

Tema utama akhir pekan kemarin masih lah “mendekorasi” apartemen baruku di Amsterdam.

Aku tidak mengestimasi segalanya dengan akurat di waktu perencanaan, karena waktu itu aku hanya lah menggunakan sebuah denah. Jadilah aku kelebihan dua gorden rol yang ukurannya terlalu panjang untuk dua jendelaku dan dua jendela ini “tanpa korden” deh selama beberapa waktu, haha.

Jadilah aku memesan dua gorden rol lagi, kali ini dengan ukuran yang benar yang aku ukur ketika aku memasang yang lain, sekalian beberapa furnitur lainnya: rak sepatu dan karpet (soalnya ongkos kirimnya masih sama sih, jadi sekalian dong ya, haha). Barang-barang itu diantar akhir pekan kemarin dan langsung aku pasang dan letakkan di tempat yang tepat.

Rak sepatu IKEA: sebelum

Rak sepatu IKEA: sesudah

Yang membuatku heran, aku yakin beberapa minggu yang lalu aku melihat beberapa model gantungan baju dinding dijual di salah satu toko yang aku kunjungi. Nah, sekarang kok gantungan bajunya nggak bisa aku temukan ya? Padahal aku sudah kembali ke semua toko yang aku kunjungi selama beberapa minggu belakangan ini loh. Masa sih semuanya sudah laku? Hahaha 😆 .

Catch Up

Sekitar dua minggu yang lalu, seorang teman lamaku mengabariku bahwa ia akan ikutan tur singkat ke Eropa, kebetulan dengan satu perhentian di Amsterdam. Jadi kalau sempat, siapa tahu bisa catch up gitu. Jadwal turnya cukup enak dimana ia akan berada di Amsterdam di hari Minggu. Jadilah aku iyakan.

Kami sudah mengenal satu sama lain semenjak SMP dan kalau nggak salah terakhir kali bertemu adalah sewaktu SMA, yang mana artinya sekitar 12 tahunan yang lalu tuh ya (#merasatua). Anyway, kami bertemu di Rijksmuseum dan berkeliling tamannya. Lalu kami duduk-duduk di sebuah kafe di sana, dimana tidak disangka-sangka waiter-nya ternyata orang Bali loh, haha 😆 . Kami berpisah sebelum ia makan malam di sebuah restoran Indonesia bersama dengan grup turnya.

Catch up dengan seorang teman lama di Amsterdam

Seru rasanya bisa catch up dengan seorang teman lama!! 😀

#1915 – 2017 Easter Long Weekend Trip (The Transport)

ENGLISH

Posts in the 2017 Easter Long Weekend Trip series:
1. Introduction
2. The Transport
3. Zürich

My routing to get to/back from Zurich was quite interesting:

The routing this long weekend. Created with gcmap.com

Yep, I flew Amsterdam – Paris CDG – Rome FCO – Amsterdam, haha 😆 .

Departure to Zurich

My KLM Amsterdam – Paris flight departed from an “unusual” gate at Schiphol. Usually, an Air France/KLM Amsterdam – Paris vv flight uses a gate in Pier C of Schiphol. This one, though, used gate D61, thus indicating (to me) that the plane was used from a non-Schengen route before my KL1233 flight to Paris.

Delayed flight to Paris

Anyway, the flight was delayed today due to its late arrival from Birmingham (See, my guess was correct 😀 ). I wasn’t worried with my connection as the delay wasn’t that bad and I had enough transit time in Paris.

It was another full flight today with a Boeing 737-800 reg PH-BXE that was named “Havik”. It was a regular Amsterdam – Paris flight where we took off from Polderbaan and landed at runway 27R of Paris – Charles De Gaulle.

A KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BXE

Obviously, I waited at a Salon Air France in Paris. During my latest AvGeek Weekend Trip, the lounge was closed for a renovation. So obviously I was quite excited to see the “new” lounge.

I was disappointed with the renovation result. The small alley connecting the two sides of the lounge was removed and I only noticed minor changes with the furniture. What disappointed me the most was, however, the food service. Only few things were served in the food area. Considering this was an Air France lounge in their main hub (Paris – Charles De Gaulle Airport), this was sad.

The food service at an Air France’s lounge in Paris. This looked sad to me.

My flight AF1814 to Zurich departed on time. It was operated with an Airbus A318 reg F-GUGK. We took off from runway 26R of Paris – CDG and then headed east towards Zurich. As before, I felt like the complimentary snack quality in Air France decreased this year. They served vegetarian sandwich in this flight. While it was bigger than KLM’s sandwich, it was much less tasty to me; which was a shame considering they were French 😦 .

A vegetarian sandwich as a complimentary snack

Anyway, about one hour later, we landed at runway 28 of Zurich – Kloten Airport. Here is the landing video:

To my liking, we parked at a remote stand upon arrival, where the passengers were, then, brought by a bus to the terminal building, haha.

An Air France’s Airbus A318 reg F-GUGK

Back to the Netherlands

I was excited especially for my first flight because: (1) it would be operated with an airline I had never tried before (Alitalia CityLiner) and (2) it would be operated with an airplane type I had never tried before (Embraer ERJ175). Yeay!! 😀

I arrived at Zurich – Kloten Airport about two hours before the flight. After checking-in and passing security, I headed to a Dnata lounge. The lounge was nice enough for an “off airport” SkyTeam lounge (Zurich Airport was more of a Star Alliance Airport, given that it was the main hub of Swiss International Air Lines). I was still full with my complimentary breakfast at the hotel, though, so I was not really in the mood of eating anything in the lounge anyway.

Dnata Lounge at Zurich – Kloten

Boarding went quite smoothly, where the 88-seater Alitalia CityLine Embraer ERJ175 reg EI-RDG was ready to take us to Rome – Fiumicino. It was a regular Alitalia flight, where a bag of mini chocolate biscuits was served with some limited selection of drinks. The weather in Rome was also nice today, as we were landing in runway 34R of Fiumicino Airport. Here is the landing video:

Again, I was happy that the plane parked at a remote stand today, haha 😛 .

An Alitalia CityLiner’s Embraer ERJ175 reg EI-RDG upon arrival in Rome-Fiumicino

My transit time was not very long today and I knew that Alitalia’s lounge was quite far away. So I decided to walk briskly there, had a quick lunch for 15 minutes, then went back to the departure area, haha 😛 . The food in the lounge was quite good, though, in my opinion. The lounge lady was also super friendly. Yeah, still pretty much the same impression of the last time 🙂 .

The food service at Alitalia’s Schengen lounge

My AZ110 flight back to Amsterdam was operated with an Airbus A320-200 reg EI-DTA. Here is a timelapsed video of the departure from Rome-Fiumicino:

It was an uneventful flight with Alitalia. This flight made me realize that, indeed, Alitalia had cut “cost” big time with their services on board. When I asked the flight attendant what they served as drinks, it turned out that they only had water, tea, coffee, and cola. Yep, that was all. No juice, no beer/wine. For snacks, on the 2 hours and 15 minutes flight to Amsterdam, the choices were only biscuits or crackers. Given that Alitalia has been struggling financially, this might not be of a big surprise, though.

Complimentary snack and drink on board Alitalia’s AZ110

We landed at runway 36R of Schiphol Airport. This was a convenient runway where the taxi time to the terminal building was very short, haha. I got off the plane, and then took the train back to Amsterdam. Here, my short long weekend ended 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri 2017 Easter Long Weekend Trip:
1. Introduction
2. The Transport
3. Zürich

Ruteku untuk pergi ke/kembali dari Zurich cukup menarik:

Ruteku long weekend ini. Dibuat dengan gcmap.com

Yep, aku terbang Amsterdam – Paris CDG – Rome FCO – Amsterdam, haha 😆 .

Keberangkatan ke Zurich

Penerbangan KLM Amsterdam – Parisku berangkat dari gate yang agak “nggak biasa” di Schiphol. Biasanya, penerbangan Air France/KLM rute Amsterdam – Paris pp menggunakan sebuah gate di Pier C Schiphol. Kali ini, yang digunakan adalah gate D61, yang mana (untukku) mengindikasikan pesawatnya digunakan di rute non-Schengen di penerbangan sebelumnya.

Penerbangan ke Paris terlambat

Anyway, penerbangannya sedikit terlambat hari ini akibat pesawatnya terlambat tiba dari Birmingham (Nah kan, tebakanku benar 😀 ). Aku sih tidak khawatir dengan keterlambatan sebentar ini karena waktu transitku di Paris cukup panjang.

Penerbangan ini penuh dengan pesawat Boeing 737-800 dengan rego PH-BXE dan bernama “Havik”. Ini adalah penerbangan biasa di rute Amsterdam – Paris dimana kami lepas landas dari Polderbaan dan mendarat di landasan pacu 27R Bandara Paris – Charles De Gaulle.

Sebuah Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BXE

Jelas, aku menunggu di Salon Air France di Paris. Nah, di waktu AvGeek Weekend Trip terakhirku, lounge-nya sedang ditutup akibat pekerjaan renovasi. Jelas dong kali ini aku penasaran dengan lounge “baru”-nya.

Aku sungguh kecewa dengan hasil renovasinya. Gang kecil yang menghubungkan dua sisi lounge-nya kini tidak ada lagi dan aku hanya melihat adanya sedikit perubahan saja dengan mebel-mebelnya. Yang paling mengecewakan adalah layanan makanannya. Hanya sedikit sekali yang disajikan hari itu. Dengan mempertimbangkan ini adalah lounge-nya Air France di bandara yang merupakan markas mereka sendiri (Paris – Charles De Gaulle), menurutku ini menyedihkan.

Layanan makanan di lounge-nya Air France di Paris. Untukku, ini nampak menyedihkan.

Penerbangan AF1814ku ke Zurich berangkat tepat waktu. Penerbangan ini dioperasikan dengan sebuah Airbus A318 dengan rego F-GUGK. Kami lepas landas dari landasan pacu 26R Bandara Paris – CDG dan kemudian bergerak menuju arah timur. Seperti yang lalu, aku merasa layanan snack di penerbangannya Air France juga menurun kualitasnya. Mereka menyajikan sandwich vegetarian di penerbangan ini. Walaupun ukurannya lebih besar daripada sandwichnya KLM, rasanya lebih tidak enak untukku; yang mana sungguh disayangkan dengan mengingat mereka kan maskapai Prancis ya 😦 .

Sandwich vegetarian sebagai layanan snack

Anyway, sekitar satu jam kemudian, kami mendarat di landasan pacu 28 Bandara Zurich – Kloten. Berikut ini video pendaratannya:

Yang aku suka, kami parkir di sebuah tempat parkir remote loh, dimana penumpang dibawa dengan bus ke gedung terminal, haha.

Sebuah Airbus A318 milik Air France dengan rego F-GUGK

Kembali ke Belanda

Aku merasa bersemangat terutama dengan penerbangan pertama hari ini karena (1) akan dioperasikan dengan maskapai yang belum pernah kunaiki sebelumnya (Alitalia CityLiner) dan (2) akan dioperasikan dengan tipe pesawat yang belum pernah kunaiki sebelumnya (Embraer ERJ175). Hore! 😀

Aku tiba di Bandara Zurich – Kloten sekitar dua jam sebelum keberangkatan. Setelah check-in dan melewati sekuriti, aku menuju ke Lounge Dnata. Lounge-nya cukup oke untuk ukuran lounge SkyTeam “airport luar” (Bandara Zurich adalah bandara Star Alliance karena merupakan markasnya Swiss International Air Lines). Aku masih kenyang sih dari sarapanku di hotel, sehingga aku sedang tidak ingin makan apa-apa di lounge-nya.

Lounge Dnata di Zurich – Kloten

Boarding berlangsung lancar, dimana Embraer ERj175nya Alitalia CityLiner yang berkursi 88 buah itu siap mengantarkan kami ke Roma – Fiumicino. Ini adalah penerbangan reguler dengan Alitalia, dimana sebungkus biskuit coklat disajikan dengan pilihan minuman yang terbatas. Cuaca di Roma juga sedang baik hari ini, seperti yang nampak ketika mendarat di landasan pacu 34 Bandara Roma – Fiumicino seperti di video berikut:

Lagi, aku senang pesawatnya parkir di tempat parkir remote, haha 😛 .

Sebuah Embraer ERJ175 milik Alitalia CityLiner dengan rego EI-RDG ketika tiba di Roma-Fiumicino

Waktuku transit tidak terlalu lama sementara aku tahu lounge-nya Alitalia cukup jauh. Jadilah aku berjalan cepat kesana, makan siang cepat-cepat selama 15 menit, dan kembali ke area keberangkatan, haha 😛 . Makanan di lounge-nya lumayan oke, menurutku. Petugas lounge-nya juga ramah banget. Ya, impresi positifku masih seperti ketika terakhir kali aku ke sana 🙂 .

Layanan makanan di lounge Schengen-nya Alitalia

Penerbangan AZ110ku kembali ke Amsterdam dioperasikan dengan pesawat Airbus A320-200 dengan rego EI-DTA. Berikut ini video timelapse keberangkatan dari Roma-Fiumicino:

Ini adalah penerbangan uneventful dengan Alitalia. Di penerbangan ini, aku disadarkan dengan pemotongan “biaya” besar-besarannya Alitalia dengan layanan mereka di pesawat. Ketika aku bertanya ke salah seorang pramugara mengenai pilihan minuman, dijawab mereka hanya menyediakan air putih, teh, kopi, atau cola. Iya, itu doang. Nggak ada jus, nggak ada bir/anggur. Untuk snack, di penerbangan 2 jam 15 menit ke Amsterdam ini hanya diberikan pilihan biskuit atau crackers. Yah, dengan mempertimbangkan kesulitan finansialnya Alitalia, ini tidak lah begitu mengherankan sih ya.

Layanan snack dan minuman di penerbangan AZ110nya Alitalia

Kami mendarat di landasan pacu 36R Bandara Schiphol. Landasan pacu yang nyaman banget dimana waktu taxiing-nya singkat, haha. Aku keluar dari pesawat, dan kemudian menaiki kereta kembali ke Amsterdam. Di sini, perjalanan singkat long weekend-ku berakhir 🙂 .

#1914 – My Koningsdag 2017 Story

ENGLISH

This Thursday was King Willem Alexander II’s birthday so it was a public holiday in the entire country of the Netherlands, yeay!!

Coincidentally, this Koningsdag (King’s Day) took place right after I completely moved to Amsterdam earlier this week, so it was really nice, haha. And because Koningsdag just started in 2014 (before that year, this festivity was known as the Koninginnedag (Queen’s Day) because it was Queen Beatrix’s reign), technically this was my first ever Koningsdag in Amsterdam (in 2011 I went to the Koninginnedag in Amsterdam, though).

Koninginnedag in Amsterdam in 2011

Last year, I was quite looking forward to this year’s Koningsdag for the fact that it would take place on a Thursday so a long weekend would follow. While the Thursday part was a fact, the long weekend part would only be true if I did something for it, i.e. I took a Friday off. But this would take one day of my (now relatively limited) holiday allowances. Considering my upcoming plans for the rest of the year, I refrained myself from it and so: I worked on Friday! Lol 😆 .

However, on Thursday I felt really tired for whatever reason; possibly because of all the moving and my new apartment related activities I had been busy with in the past two months or so (I used almost every weekend in March to do furniture shopping). I guess my body was screaming for a well-deserved rest it was craving for, haha. It also turned out that the weather was not very cooperative during the day as well. And so I did not feel like going out and decided to just rest and stay at home for the entire day, haha.

Next year maybe I will go, as I do think it is exciting to experience this event in Amsterdam again. But next year it will be on a Friday so I might plan a weekend trip somewhere, though, as it will be an uninterrupted long weekend, then, haha 😆 . Well, we will see…

Koninginnedag in Amsterdam in 2011

 

BAHASA INDONESIA

Hari Kamis ini adalah hari ulang-tahunnya Raja Willem Alexander II jadilah satu negara Belanda libur karenanya, hore!!

Kebetulan, Koningsdag (Hari Raja) ini berlangsung setelah pindahanku ke Amsterdam selesai awal minggu ini, jadi kan asyik gitu ya, haha. Dan karena Koningsdag baru dimulai tahun 2014 (sebelum tahun itu, acara ini dikenal dengan nama Koninginnedag (Hari Ratu) karena Ratu Beatrix yang masih sedang berkuasa), secara teknis ini adalah Koningsdag pertamaku di Amsterdam (di tahun 2011 aku pergi ke Koninginnedag di Amsterdam sih).

Koninginnedag di Amsterdam di tahun 2011

Tahun lalu, aku cukup menantikan Koningsdag tahun ini karena akan berlangsung di hari Kamis, sehingga akan diikuti long weekend kan ya. Walaupun libur di hari Kamisnya itu adalah fakta, long weekend-nya hanya akan terjadi apabila aku menjadikannya demikian, yaitu dengan mengambil cuti di hari Jumat. Tapi ini akan mengurangi satu hari jatah cutiku (yang kini relatif terbatas). Dengan mempertimbangkan rencana-rencanaku di sepanjang sisa tahun ini, aku memutuskan untuk tidak melakukannya sehingga: aku masuk kerja dong di hari Jumat! Haha 😆 .

Nah, di hari Kamis itu aku merasa capek banget entah mengapa; mungkin akibat kesibukanku dengan pindahan dan urusan apartemen dua bulan belakangan ini ya (Aku menggunakan hampir setiap akhir pekan di bulan Maret untuk belanja mebel). Jadi aku duga tubuhku sedang berteriak meminta istirahat yang memang ia butuhkan, haha. Kebetulan juga cuaca seharian itu juga kurang begitu kooperatif sih. Jadilah aku merasa malas keluar dan memutuskan untuk beristirahat di rumah saja seharian, haha.

Tahun depan mungkin aku akan mengunjunginya deh, karena aku kira seru aja untuk berpartisipasi di acara ini di Amsterdam lagi. Tetapi tahun depan acaranya jatuh di hari Jumat nih sehingga mungkin aku akan merencanakan perjalanan akhir pekan kemana gitu, karena long weekend yang tidak terputus kan, haha 😆 . Yah, kita lihat saja deh…

Koninginnedag di Amsterdam di tahun 2011

#1913 – Pregnancy*

ENGLISH

* NOT mine 😛

Last week, a bombshell was dropped:

Serena Williams announced her pregnancy.

To be honest, my initial reaction was “shocked”; considering the stage of her tennis career where she is soo close to break Margaret Court’s all-time 24 grandslam titles (Serena is at 23).

But then, the pregancy news explains everything and, suddenly, it all makes sense. Untypically, Serena withdrew from both Indian Wells and Miami tournaments in March. Then, she did not sign up for Rome tournament, a big tournament where she is the defending champion and is an ideal preparation for the second grandslam of the year, the French Open.

Btw, being 20 weeks pregnant by mid-April, it means she was 8-week pregnant when winning the Australian Open earlier this year!! :shocked: Yes people, an 8-week pregnant Serena was even capable of winning a singles grandslam without even losing a set the whole tournament!! That just told us how great of a tennis player she was.

Serena Williams won her 7th Australian Open singles title and returned to world no.1 while being pregnant. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac

In fact, as of this week, a 5-month pregnant Serena Williams is back at world number 1! Seriously.

Back to the French Open matter, you know, I have bought a ticket for a women’s singles final 😣 . From an entirely selfish fans point of view, I am quite disappointed with the news because this means for sure I will not watch Serena Williams in the final this year (I did last year and two years ago). With the current state of the WTA Tour, it is very unpredictable which two players I am going to watch in the final. I am hoping it is not two “random” players, haha. Even further, in this case I would want to see Venus Williams. However, given that it is clay and clay is not Venus’ favorite surface, well… .

Nonetheless, it is also announced that she still intends to come back in 2018. I do hope this will happen and it will be interesting to see how this comeback would go. Serena is known as the queen of comeback, but this one is going to be a little bit of a unique circumstance where she is not coming back from a prolonged injury or health issue.

Anyway, congratulations, Serena and Alexis Ohanian (the co-founder of Reddit, that is her fiancee)!! Honestly, deep down in my heart, I am happy with the news! 🙂

BAHASA INDONESIA

* BUKAN aku kok 😛

Minggu lalu, sebuah berita mengejutkan diturunkan:

Serena Williams mengumumkan kehamilannya.

Sejujurnya, reaksi awalku adalah “kaget” banget; dengan mempertimbangkan karir tenisnya saat ini dimana ia sudah dekat sekali untuk memecahkan rekor sepanjang-waktunya Margaret Court sebanyak 24 gelar tunggal grandslam (Serena berada di angka 23 sekarang).

Tetapi kemudian, berita kehamilan ini menjelaskan semuanya dan, tiba-tiba, semuanya masuk akal sekarang. Tidak seperti biasanya, Serena mundur dari turnamen Indian Wells dan Miami di bulan Maret. Lalu, ia juga tidak mendaftarkan-diri di turnamen Roma, sebuah turnamen besar yang mana ia merupakan juara bertahannya dan ideal untuk persiapan turnamen grandslam kedua tahun ini, French Open.

Btw, berada di minggu ke-20 kehamilan di pertengahan April, artinya ia sedang hamil 8 minggu dong ketika menjuarai Australian Open awal tahun ini!! :shocked: Iya dong, Serena yang sedang hamil 8 minggu pun mampu menjuarai turnamen grandslam tanpa kehilangan satu set pun sepanjang turnamen!! Ini sungguh menunjukkan kehebatannya ya.

Serena Williams menjuarai gelar tunggal Australian Open ketujuhnya dan kembali ke peringkat 1 dunia ketika sedang hamil. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images AsiaPac

Bahkan, per minggu ini, Serena Williams yang sedang hamil 5 bulan kembali berperingkat 1 dunia loh! Beneran.

Kembali ke topik French Open, tahu kan, aku sudah membeli tiket final tunggal putri 😣 . Dari sudut pandang murni egois seorang fans, aku sedikit kecewa dengan berita ini karena artinya pasti aku tidak akan menonton Serena Williams di final tahun ini (aku menontonnya tahun lalu dan dua tahun lalu). Dengan mempertimbangkan kondisi Tur WTA saat ini, dua pemain yang akan kutonton di final sungguh tidak bisa diprediksi. Aku harap sih bukan dua pemain “random” ya, haha. Lebih jauh lagi, mudah-mudahan Venus Williams lah. Namun, karena ini turnamen tanah liat dan tanah liat bukanlah permukaan favoritnya Venus, hmmm… .

Juga diumumkan niatnya untuk kembali bermain di tahun 2018. Aku berharap ini akan beneran terjadi dan akan menarik untuk melihat bagaimana comeback ini akan berlangsung. Serena terkenal sebagai ratunya comeback tetapi kali ini situasinya sedikit berbeda dimana ia tidak kembali dari cedera lama atau masalah kesehatan.

Anyway, selamat, Serena dan Alexis Ohanian (tunangannya Serena yang merupakan salah seorang pendirinya Reddit)!! Jujur, dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku senang sekali dengan berita ini! 🙂

#1912 – Bye, Bye, Delft!!

ENGLISH

Yesterday morning, I had the final inspection of my apartment in Delft where at the end of it I returned my Delft apartment keys. Yep, 2441 days after arriving in Delft about six and a half years ago, I moved on with my life and had completely closed the Delft chapter of my life.

Btw, while the definition of my first day in Delft is clear, the definition of my last is not. Depending on what we consider as my “last” day, there are a few possibilities, haha.

Officially, I have started living in Amsterdam one day after I got the keys of my apartment when I registered myself in Amsterdam’s gemeente (city hall). However, I did not start to actually live in my apartment until just before my Easter long weekend trip to Zurich because I was waiting for the internet connection to be installed, lol 😆 . Even after that, I still had some of my stuffs in Delft, which all of them I finally moved this weekend. Still, it was just yesterday where I finally had the final inspection and returned the keys. Nonetheless, I paid the full rent for April so technically I could still have had my apartment until this coming April 30th, haha 😆 .

The end of the Delft chapter of my life

I personally like the “keys” definition the best. So if you ask me, yesterday was my last day in Delft. Though, under this definition I have also lived in Amsterdam since the beginning of the month. So, for about three weeks this month, I lived in two different places! Haha 😆

Anyway, as usual, it was quite a little bit emotional to return the keys. And this one was a big one, as it symbolized the final page of the Delft chapter of my life. Possibly a bit similar to my feeling when I was closing the Bandung chapter of my life almost seven years ago.

But well, life goes on.

I feel happy, grateful, and satisfied with the 80 months of my life in Delft, especially that it was where I got my Master and Doctorate degrees. Now that I have both, it is time to move on.

So, as the title of this post says:

Bye, Bye, Delft and thank you for the great 80 months!

Bye, bye, Delft.

BAHASA INDONESIA

Kemarin pagi, inspeksi akhir apartemenku di Delft berlangsung yang mana diakhiri denganku mengembalikan kunci-kunci apartemen Delft-ku. Ya, 2441 hari setelah tiba di Delft sekitar enam setengah tahun yang lalu, aku move on dengan kehidupanku dan telah menutup penuh bab Delft dari hidupku.

Btw, jika definisi hari pertamaku di Delft itu jelas, definisi hari terakhirku kurang begitu jelas. Tergantung dari apa yang kita pandang sebagai hari “terakhir”, ada beberapa kemungkinan, haha.

Secara resmi, aku sudah mulai tinggal di Amsterdam sehari setelah aku mendapatkan kunci apartemenku ketika aku meregistrasikan diriku di gemeente (balai kota)-nya Amsterdam. Namun, aku masih belum tinggal di apartemenku ini sampai tepat sebelum perjalanan long weekend Paskahku ke Zurich karena aku menunggu terpasangnya koneksi internet terlebih dahulu, haha 😆 . Itu pun, barang-barangku sebagian masih berada di Delft, yang mana semuanya akhirnya kupindahkan akhir pekan kemarin. Dan baru kemarin pagi inspeksi akhir berlangsung dan kunci-kuncinya aku kembalikan. Walaupun begitu, aku membayar sewa penuh di bulan April jadi secara teknis bisa-bisa aja sih kalau aku mau tinggal di apartemenku hingga 30 April ini, haha 😆 .

Akhir dari bab Delft dari hidupku

Untukku sendiri, aku paling suka dengan definisi “kunci”. Jadi jika aku ditanya, kemarin lah hari terakhirku di Delft. Walaupun, dengan definisi ini, artinya aku juga sudah tinggal di Amsterdam semenjak awal bulan ini dong ya. Jadi selama sekitar tiga minggu bulan ini, aku tinggal di dua tempat secara bersamaan! Haha 😆

Anyway, seperti biasa, pengembalian kunci terasa emosional bagiku. Dan kali ini “besar” pula, karena pengembalian ini menyimbolkan halaman terakhir dari bab Delft dari hidupku. Mungkin mirip-mirip lah sama perasaanku ketika aku menutup bab Bandung dari hidupku hampir tujuh tahun yang lalu.

Tapi ya gitu kan, kehidupan terus berlanjut.

Aku merasa senang, penuh syukur, dan puas dengan 80 bulan hidupku di Delft, terutama di sana lah aku mendapatkan gelar Master (S2) dan Doktoral (S3)-ku. Sekarang dengan dua gelar ini menjadi milikku, sudah waktunya untukku move on.

Jadi, seperti judul posting ini:

Bye, Bye, Delft dan terima kasih atas 80 bulan yang seru!

Bye, bye, Delft.