General Life · Zilko's Life

#1964 – The First Weekend of August

ENGLISH

Saturday was a very busy day for me. After breakfast, I went to the gym at around 11 AM for my leg day. It was quite early (for me) to go to the gym on Saturday, actually. And this was because I had something planned for the rest of the day.

About two months ago, some friends and I decided that we would like to catch up some time. So after looking for weekend possibilities (It could be tricky especially with my “busy” period with lots of weekend trips ๐Ÿ˜› ), we chose this first weekend of August, haha. And because the last time was in Rotterdam, this time we would catch up in Eindhoven in the southern part of the Netherlands.

So after my gym session, I showered and then went to the centraal station. We would meet at 4 PM but I departed at 1:15 PM because a one-way trip to Eindhoven would take about 2 hr 40 minutes from my place (Well, Eindhoven is about 130 km from Amsterdam anyway). Especially that it was quite unfortunate there was a planned railway maintenance today so there would be no train running between Boxtel and Eindhoven. And so I had to transfer three times (at Amsterdam Centraal to an Intercity, at Utrecht Centraal to another Intercity, and at Boxtel to the replacement bus service).

I had to take the replacement bus service between Boxtel and Eindhoven. The good part of this was that it was free, so I “only” had to pay for a return fare from Amsterdam Centraal and Boxtel instead of Eindhoven, haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, we met at around 4 PM at a cafe slash bar slash club, haha ๐Ÿ˜† . Then at 6:30 PM we went to a burger place in the centrum. It was a small place but (or “and so”?) was always very crowded, a good sign of a restaurant though, and apparently it had been like that since they opened like three years ago. We also had to wait for a bit before we got our table. I ordered a lamb burger with extra truffle chips and a side salad, which was really tasty!

A tasty lamb burger in Eindhoven (the side salad had not been served yet).

It was very nice and fun to catch up with some good friends. Though us living in different cities now make it not quite as easyย to organize a meet up or anything. Even though still in the same country, certainly it cannot be as spontaneous and have to be planned in advance! Haha ๐Ÿ˜† . An extra constraint also surfaced from this situation. I had to leave at 9:20 PM on Saturday so I could still avoid the much less frequent night train service (that would have prolonged my trip back to Amsterdam). And so I took the replacement bus to Boxtel, changed to an Intercity to Utrecht Centraal, then changed to another Intercity to Amsterdam Centraal, and then took the tram home.

I used Sunday as my resting day, haha. I had been working all week with a packed Saturday, and I was travelling to Berlin all weekend the weekend before. So clearly my body started to scream for some rest ๐Ÿ˜€ . Well, but still a grocery shopping was essential because I was running out of food ๐Ÿ˜› .

BAHASA INDONESIA

Sabtu kemarin adalah hari yang cukup menyibukkan untukku. Setelah sarapan, aku pergi ke gym sekitar jam 11 pagi untuk latihan leg day hari itu. Pergi ke gym jam segini di hari Sabtu bisa dibilang cukup awal sih (untukku). Dan ini dikarenakan aku sudah ada rencana lain untuk sepanjang sisa hari itu.

Sekitar dua bulan yang lalu, beberapa teman dan aku memutuskan untuk catch up gitu kapan-kapan. Nah, setelah melihat weekend-weekend yang mungkin (Ini bisa menjadi cukup tricky karena aku sedang berada di periode “sibuk” dengan banyak perjalanan akhir pekan ๐Ÿ˜› ), akhirnya kami memilih akhir pekan pertama di bulan Agustus ini, haha. Dan karena kali terakhir adalah di Rotterdam, kali ini kami akan ketemuan di Eindhoven di Belanda bagian selatan.

Jadilah setelah dari gym, aku mandi dan kemudian pergi ke stasiun Amsterdam Centraal. Kami baru akan ketemua jam 4 sore tetapi aku harus berangkat jam 1:15 siang untuk itu karena perjalanan satu arah ke Eindhoven memakan waktu sekitar 2 jam 40 menit dari tempatku (Yah, Eindhoven sendiri berjarak sekitar 130 km gitu dari Amsterdam). Kebetulan pula hari ini sedang ada maintenance di jalur rel kereta api antara Boxtel dan Eindhoven sehingga tidak ada layanan kereta yang dijalankan di antara dua kota ini. Sebagai akibatnya aku harus transit tiga kali deh (di Amsterdam Centraal untuk naik kereta Intercity, di Utrecht Centraal untuk berganti kereta Intercity, dan di Boxtel untuk berganti ke layanan bus pengganti akibat maintenance ini).

Aku harus menaiki layanan bus pengganti di antara Boxtel dan Eindhoven. Sisi positif dari ini adalah layanannya gratis, jadi aku “hanya” perlu membayar harga tiket pp dari Amsterdam Centraal ke Boxtel bukannya Eindhoven, haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, kami bertemu sekitar jam 4 sore di sebuah kafe-bar-club, haha ๐Ÿ˜† . Lalu jam 6:30 sore kami pergi ke sebuah restoran burger di centrumnya. Restorannya berukuran mini tetapi (atau “sehingga”?) tempatnya ramai banget, yang mana pertanda baik untuk sebuah restoran sih ya, dan ternyata memang restorannya sudah selalu ramai seperti ini semenjak pertama kali buka tiga tahunan yang lalu. Kami harus menunggu sebentar sebelum ada meja yang kosong. Aku memesan burger daging domba dengan ekstra keripik truffleย plus side salad, yang mana rasanya enak!

Seporsi burger domba yang enak di Eindhoven (side saladย belum diantarkan).

Seru dan asyik rasanya untuk catch up dengan beberapa teman baikku. Hanya saja sekarang kami tinggal di kota-kota yang berlainan membuat situasi menjadi tidak mudah untuk ketemuan gitu. Walaupun masih di satu negara yang sama, tetap aja sulit dan tidak bisa spontan seperti dulu ya; harus direncanakan jauh-jauh hari! Haha ๐Ÿ˜† . Satu batasan lain yang muncul akibat situasi ini adalah: aku harus pulang jam 9:20 malam di hari Sabtu supaya aku bisa menghindari jadwal layanan kereta malam hari yang mana jauh lebih jarang (yang mana artinya waktu tempuhku kembali ke Amsterdam akan menjadi berkali-lipat lebih lama). Jadilah aku menaiki layanan bus pengganti itu ke Boxtel lagi, lalu naik Intercity ke Utrecht Centraal, berganti Intercity ke Amsterdam Centraal, dan kemudian naik tram untuk kembali ke rumah.

Hari Minggu aku gunakan sebagai hari istirahat dah, haha. Aku sudah bekerja terus di sepanjang minggu dan hari Sabtuku juga padat, apalagi seminggu sebelumnya aku jalan-jalan ke Berlin di sepanjang akhir pekan. Jadilah badanku kemudian mengkode minta istirahat gitu, haha ๐Ÿ˜€ . Ah, tetapi aku masih tetap harus belanja kebutuhan sehari-hari juga sih soalnya aku mulai kehabisan bahan-bahan makanan di rumah ๐Ÿ˜› .

General Life · Zilko's Life

#1963 – The Nutrition App and Morning Tram

ENGLISH

The Nutrition App – The Aftermath

In July I shared about an app nutrition I downloaded in June which helped me track my daily consumption of food. At the time, I already had doubts on my usage of this app in the long run due to the tedious amount of work required to make it work, haha. And this turned out to be true. I stopped using it just a few weeks after I published that post, haha ๐Ÿ˜† .

But as I said there, what I actually needed from the app was not the actual daily intake of what I ate everyday, as the data “noise” appeared to be great anyway. The main usage of the app was to provide an overview of my eating habit, broken down by the nutrients. With this, I would be able to analyze my habit and make some needed adjustments to reach my goal. And for this, a few days of data would have been enough anyway, haha.

So while I would guess that my daily intake now might not be as “efficient” as back then when I was still using the app everyday, at the very least I hope it is still better than how it was before the app! Haha ๐Ÿ˜›

Though, yesterday I succumbed to the temptation of this dessert at the office. But a cheat day once in awhile never hurts, right? Haha ๐Ÿ˜†

Tram

Anyway, let’s move on to a completely different subject. One day not too long ago I got up a little bit earlier than usual and so I decided to also go to work a little bit earlier as well. And that day, I learned that it would actually be better for me to go to work at my normal time, haha. As it turned out, going to work earlier would coincide with the busier part of the rush hour where the tram to the city center was really full. At my usual time, I always find a vacant seat so it is really convenient. But that day, I had to stand all the way! Haha ๐Ÿ˜†

Ok then, lesson learned.

BAHASA INDONESIA

App Nutrisi – Pada Akhirnya

Juli kemarin aku bercerita mengenaiย sebuah app nutrisiย yang aku unduh di bulan Juni yang membantuku merekam apa saja makanan yang aku konsumsi setiap harinya. Waktu itu, aku sudah memiliki keraguan akan penggunaan app ini dalam jangka panjang karena ribet dan banyaknya hal yang harus dilakukan agar app-nya bekerja, haha. Dan ternyata ini benar kok. Aku berhenti menggunakannya hanya beberapa minggu setelah posting itu aku publikasikan, haha ๐Ÿ˜† .

Tapi seperti yang kubilang di sana, yang sebenarnya aku butuhkan dari app-nya bukanlah rekaman apa yang aku konsumsi setiap hari, karena toh datanya juga “noisy” banget. Kegunaan utama app-nya untukku adalah rangkuman mengenai kebiasaan makanku, lengkap dengan nutrisi-nutrisinya. Dengan ini, aku bisa menganalisa kebiasaanku dan membuat perubahan untuk mencapai tujuanku. Dan untuk ini, sebenarnya data dari beberapa hari saja toh sudah cukup lah ya, haha.

Jadi walaupun aku rasa apa yang kumakan sekarang tidak “seefisien” kemarin ketika app-nya masih aku gunakan, setidaknya aku berharap ini masih lebih baik daripada sebelum aku memiliki app itu! Haha ๐Ÿ˜›

Walaupun kemarin aku jatuh ke dalam godaan dessert ini di kantor sih. Eh, tapi kan cheat day sekali-sekali nggak papa lah ya, haha ๐Ÿ˜† .

Tram

Anyway, mari ngomongin topik lain. Suatu hari belum beberapa lama ini aku bangun lebih pagi dari biasanya dan aku memutuskan untuk berangkat kerja juga lebih pagi. Dan hari itu, aku baru menyadari bahwa sebaiknya aku tetap berangkat kerja di waktu seperti biasa saja, haha. Ternyata, berangkat kerja lebih awal itu justru akan bertepatan dengan periode rush hour yang lebih sibuk sehingga tram ke pusat kotanya ramai banget. Di waktu keberangkatan biasaku, aku selalu menemukan setidaknya satu kursi kosong jadi enak lah ya. Tapi di hari itu, aku harus berdiri di sepanjang jalan! Haha ๐Ÿ˜† .

Ok deh, lesson learned!

Tennis · Vacation · Weekend Trip

#1962 – An Impulsive Wimbledon 2017 Trip (Part II: Wimbledon 2017)

ENGLISH

Posts in the An Impulsive Wimbledon 2017 Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

***

I took the Tube from Liverpool Street Station to Southfields, the closest Tube station to the All England Lawn Tennis Club, the venue of the tournament. I had to walk for about 20 minutes to my gate (there were several gates as the entry point, and a spectator was assigned to a specific gate based on his/her ticket), which was quite a nice walk in one of London’s posh neighbourhoods ๐Ÿ˜› .

The neighbourhood of Wimbledon

The gate was finally opened at 10:30 AM. The multiple gates system was quite good in my opinion where the queue in each gate was not terribly long. I was handed my official ticket at the gate and then got the thorough security check before I was admitted to the ground. And there I was, feeling very excited that I was back in Wimbledon again this year!! Even more excited because I was finally going to watch a Venus Williams’ official singles match for the first time ever; and it happened to be a Wimbledon final match!!ย ๐Ÿ˜

Venus’ match would not start before 2 PM so I had plenty of time before that. So obviously I went around Wimbledon’s beautiful venue, and planned on taking a selfie at Henman Hill with the Wimbledon 2017 flowers arrangement. While doing so, a BBC live camera was apparently shooting the Henman Hill and so me selfie-ing got broadcasted on live TV, lolย ๐Ÿ˜ฑย .

Selfie-ing at Henman Hill!

After going around for a few rounds, I started to get hungry so I decided to get my favorite dish from two years ago: the southern fried chicken that was only sold at one stall in the whole venue: in the Aorangi food area underneath Court No.1 ๐Ÿ˜› . This time, though, the chicken was a little bit too overcooked and the chips was too much to me that I could not finish it, haha ๐Ÿ˜› . But of course, after that I still had my scoop of strawberry and cream. You know, a trip to Wimbledon is NEVER complete without one!

Southern fried chicken
Because a trip to Wimbledon is NEVER complete without a bowl of strawberry and cream

The weather was not perfect today, where thick cloud was hanging throughout the day and occassional showers fell. So I went underneath the Centre Court, where (finally!) they had put some boards listing the past winners of the championships. As for the (recent) ladies’ singles, here is the partial list:

The list of the ladies’ singles champions

Yep, as you can see, a certain surname is indeed dominating the list since the year 2000! Haha :mrgreen: . Yep, Venus Wiliams and Serena Williams had won twelve Wimbledon singles titles for the seventeen years between 2000 and 2016. The other five were won by Petra Kvitova (twice), Marion Bartoli, Amelie Mauresmo, and Maria Sharapova.

Anyway, I decided to enter the Centre Court not long after, as I got quite tired from walking anyway, haha ๐Ÿ˜† . But since it was still about 45 minutes before the match would start, I decided to go closer to the court first to take my picture taken ๐Ÿ˜› .

Back at Wimbledon Centre Court this year.

Then, I went back to my seat, rested my legs a little bit and charged my camera’s battery while there was still time, haha ๐Ÿ˜† . Just before 2 PM, the match preparation started with the ballkids entering the court, followed by the line-judges. At 2 PM, both finalists, Venus Williams and Garbine Muguruza entered the court. At this time, I felt a little bit emotional seeing Venus Williams walking there, still fighting hard for grandslam singles titles, even at the age of 37, while battling an incurable auto-immune disease! To me, she is a total inspiration.

Seeing Venus Williams entering Wimbledon’s Centre Court for a Wimbledon singles final gave me chill!!

Muguruza won the coin toss and elected to receive, meaning Venus would serve first. The two players warmed up, and then the match started. The match started really competitively and was immediately at a really high level. The match’s first shot was even Venus’ big serve to the T that became an ace.

Venus Williams started the match with an ace

The two players really went toe to toe and so the match was really, really exciting at this point. Muguruza, especially, played really well in my opinion where I felt like she read Venus’ serves really well today. Nonetheless, the match finally reached the score 4*-5 (15-40) on Muguruza’s serve, meaning Venus had two set points, or opportunities, to win the first set. At this time, both players hit amazing shot after shot after shot, producing a long rally in the teens, which ended with Venus’ forehand error that hit the net. And from my observation, this became the turning point of the match.

Garbine Muguruza was reading Venus’ serves well today.

For whatever reason, it appeared to me that Venus dwelled on this point too much, thus affecting her mind state. Since then, she appeared to rapidly lose her timing and focus, and started to hit more and more unforced errors. Muguruza did well where she kept her composure and focus. It was not that Venus did not try. It was obvious that she tried hard; but she just could not string several good points together. As a result? Well, Muguruza won nine straight games since that turning point, closing the match in only 73 minutes and won 7โ€“5, 6โ€“0.

Garbine Muguruza won her second grandslam title.

Venus, being a champion that she is, was being grace in defeat. It was clear that she was disappointed and sad herself, from her voice during the runner-up interview with Sue Barker on court during the trophy ceremony. But indeed, Garbine Muguruza deserved to win today! She played an amazing aggressive tennis and it paid off at Wimbledon. Thus, she won her second grandslam title and became the first player, ever, to have beaten both Serena and Venus Williams in grandslam finals. Her first grandslam title was the French Open last year where she beat Serena, in a match which I also watched in person ๐Ÿ˜ฃ. Though to be honest, I like Garbine Muguruza. But obviously at this time, I still like both Venus and Serena Williams “better” ๐Ÿ˜› .

Garbine Muguruza won Wimbledon 2017.
Venus Williams and her runner-up trophy.

The next match that followed was the men’s doubles final between Lukasz Kubot and Marcelo Melo, the fourth seed, versus Mate Pavic and Oliver Marach, the sixteenth seed. Kubot and Melo had been playing especially well this year. And with their victory over Henri Kontinen and John Peers, the first seed, in the semifinals, Marcelo Melo would take the world no.1 position from Henri Kontinen in the following week.

Anyway, I stayed during the first set of the match, which went toe to toe but in the end, Pavic/Marach got the important break from Kubot/Melo in the twelfth game, and won it 7โ€“5. I decided to stretch my legs after the first set and left my seat. I went around the ground where at the time, some other events were also being held, namely the legends events and the wheelchair events.

A men’s legends match between Lleyton Hewitt/Mark Philippoussis and Mansour Bahrami/Michael Llodra

It was around 6 PM already so I decided to have dinner. I got the sizzling pheri-pheri chicken where I exchanged the bread for extra salad, haha. This dish turned out to be really delicious, btw, and I actually preferred this one than the southern fried chicken I had earlier! Haha ๐Ÿ˜† .

Sizzling pheri-pheri chicken with lots of salad!

I went back to my seat and at the time, Kubot/Melo had won the second and third set 7โ€“5, 7โ€“6, respectively. However, they were down a break in the fourth set already. Pavic/Marach took the fourth set 6โ€“3, meaning the match officially went to the decider fifth set. Both teams held their nerves really well during the decider. Kubot/Melo had the slight advantage of serving first, and so that Pavic/Marach had to face the pressure of serving to keep the match alive for a few times. This pressure almost got to them were Kubot/Melo had a few break points and even championships points; but Pavic/Marach were able to save them all.

An exciting men’s doubles final this year between Lukasz Kubot/Marcello Melo (in the closer side of the court) versus Mate Pavic/Oliver Marach (in the farther side of the court).

The match went toe to toe in the decider, and finally hitting 8*โ€“9 score just after 8 PM. For whatever reason, I felt really tired already (I think Venus’ loss took some energy out of me ๐Ÿ˜› ). I felt like I already had my ticket money worth anyway, even though the final ladies’ doubles match was still scheduled following the men’s doubles final. And so I decided to leave the venue.

I walked back to Southfields station and then took the Tube to Victoria. I checked-in at my hotel in the area and got into my room. I checked the score, and it turned out after more than 4.5 hours, Kubot/Marach finally won the fifth set 13โ€“11, haha. The ladies’ final followed afterwards. The match turned out to be the complete opposite where the second seed, Ekaterina Makarova and Elena Vesnina, double-bagelled (won 6โ€“0, 6โ€“0) the ninth seed, Chan Hao-Ching/Monica Niculescu.

Marcelo Melo’s return to world no.1 was made even sweeter with a Wimbledon title.

And here, my impromptu trip to Wimbledon 2017 officially ended.

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri An Impulsive Wimbledon 2017 Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

***

Aku menaiki Tube dari Stasiun Liverpool Street menuju Southfields, stasiun Tube terdekat dengan All England Lawn Tennis Club, lokasi turnamennya. Aku harus berjalan sekitar 20 menit dari sana ke gerbang masukku (ada beberapa gerbang yang digunakan sebagai pintu masuk, dan gerbang untuk setiap penonton sudah ditetapkan secara spesifik berdasarkan tiketnya), yang mana oke juga karena aku berjalan-kaki di salah satu daerahnya London yang terasa posh banget ๐Ÿ˜› .

Lingkungan di areanya Wimbledon

Gerbangnya dibuka jam 10:30 pagi. Sistem beberapa gerbang ini cukup baik menurutku dimana akibatnya antrian di masing-masing gerbang tidak lah terlalu panjang. Tiket resmiku diberikan di gerbang dan setiap penonton harus melewati pemeriksaan sekuriti yang ketat sebelum diizinkan masuk. Dan di sana lah aku, kembali merasa bersemangat banget karena aku kembali di Wimbledon juga tahun ini!! Lebih bersemangat lagi karena akhirnya aku akan menonton sebuah pertandingan tunggal resminya Venus Williams untuk pertama kalinya; mana pertandingannya adalah babak final Wimbledon pula!! ๐Ÿ˜

Pertandingannya Venus baru akan dimainkan jam 2 siang sehingga masih ada banyak waktu sebelum itu. Jelas aku berkeliling arenanya Wimbledon yang memang indah banget itu, dan berencana untuk selfie di Henman Hill dengan rangkaian bunga Wimbledon 2017nya. Ketika sedang selfie-selfie, ternyata kamera siaran langsungnya BBC sedang menyorot Henman Hill dong jadilah aku yang sedang selfie-selfieย ditayangkan langsung di TV, huaaaย ๐Ÿ˜ฑย .

Selfie dulu di Henman Hill!

Setelah berkeliling beberapa kali, aku mulai merasa lapar sehingga aku memutuskan untuk makan menu favoritku dari dua tahun lalu: southern fried chickenย yang hanya dijual di satu konter saja di seluruh arenanya: di food court Aorangi di bawah Lapangan No.1 ๐Ÿ˜› . Kali ini, ayamnya agak terlalu matang dan kentangnya juga kebanyakan sehingga aku tidak habis, haha ๐Ÿ˜› . Tetapi tentu saja, biarpun begitu setelahnya aku tetap membeli strawberry and cream dong ya. Karena tentu saja, perjalanan ke Wimbledon itu TIDAK PERNAH lengkap tanpa seporsi strawberry and cream!

Southern fried chicken
Karena perjalanan ke Wimbledon itu TAK AKAN pernah lengkap tanpa satu mangkok strawberry and cream

Cuaca hari ini tidak lah sempurna, dimana awan menggantung tebal dan terkadang hujan juga turun. Jadilah aku pergi ke bagian bawah Centre Court, dimana (akhirnya!) Wimbledon memasang papan-papan yang berisi daftar nama juara-juara turnamen ini sebelumnya. Dan untuk tunggal putri, berikut ini (sebagian) daftarnya:

Daftar juara tunggal putri

Yep, seperti yang bisa dilihat, satu nama keluarga tertentu memang mendominasi daftar ini ya semenjak tahun 2000! Haha :mrgreen: . Ya, Venus Williams dan Serena Williams telah memenangi dua belas gelar tunggal Wimbledon di tujuh belas tahun antara tahun 2000 dan 2016. Lima lainnya dijuarai oleh Petra Kvitova (dua kali), Marion Bartoli, Amelie Mauresmo, dan Maria Sharapova.

Anyway, aku memutuskan untuk masuk ke Centre Court tak lama setelahnya, karena aku merasa cukup lelah telah berjalan banyak, haha ๐Ÿ˜† . Tapi karena masih 45an menit sebelum pertandingan dimulai, aku turun ke dekat lapangannya dulu untuk foto-foto ๐Ÿ˜› .

Kembali di Wimbledon Centre Court tahun ini.

Lalu, aku kembali ke kursiku, dan mengistirahatkan kakiku sekalian menge-charge baterai kameraku mumpung ada waktu nganggur, haha ๐Ÿ˜† . Sebelum jam 2 siang, persiapan pertandingan dimulai dimana ballkids masuk ke lapangan dan diikuti dengan hakim garis. Tepat jam 2 siang, kedua finalis, Venus Williams dan Garbine Muguruza memasuki lapangan. Waktu ini, entah mengapa aku agak baper gitu melihat Venus Williams berjalan memasuki lapangan, masih bertekad dan berjuang keras untuk menjuarai turnamen grandslam lagi, di umurnya yang sudah 37 tahun, sembari melawan penyakit kekebalan-tubuh yang tidak bisa disembuhkan! Ia sungguh menginspirasiku.

Melihat Venus Williams memasuki Centre Court -nya Wimbledon untuk babak final tunggal putri turnamen ini membuatku merinding!!

Muguruza memenangi coin toss dan memutuskan untuk receive, artinya Venus akan servis duluan. Kedua pemain melakukan pemanasan, dan kemudian pertandingan dimulai. Pertandingan dimulai langsung dengan level yang tinggi dan amat kompetitif. Bahkan pukulan pertamanya adalah servis kerasnya Venus ke T yang menjadi pukulan as.

Venus Williams memulai pertandingan dengan pukulan as.

Keduanya bermain dengan seimbang dan sangat ketat sehingga pertandingannya berlangsung amat, amat seru. Muguruza, terutama, bermain dengan amat baik dimana dari sudut pandangku dia bisa membaca servisnya Venus dengan baik hari ini. Toh walaupun begitu, pada akhirnya pertandingan mencapai posisi skor 4*-5 (15-40) di servisnya Muguruza, yang berarti Venus memiliki dua set pointsย alias kesempatan untuk memenangi set pertama. Di poin ini, kedua pemain memukul pukulan yang brilian, brilian, dan brilian berturut-turutan, sehingga terciptalah reli sebanyak sekian belas pukulan, yang berakhir dengan Venus membuat kesalahan di pukulan forehand. Sepengamatanku, ini menjadi titik balik pertandingan ini.

Garbine Muguruza membaca servisnya Venus Williams dengan amat baik hari ini.

Entah karena alasan apa, nampaknya Venus terlalu memikirkan poin tersebut dan gagal move-onย darinya, yang mana mempengaruhi fokus dan mentalnya. Semenjak poin ini, secara cepat ia mulai kehilangan timing dan fokusnya menurun, dan akibatnya mulai membuat banyak kesalahan-kesalahan sendiri. Muguruza tetap mempertahankan fokus dan ketenangan-dirinya. Bukannya Venus langsung menyerah sih. Memang terlihat ia berusaha keras membalikkan situasi; tetapi masalahnya ia tidak bisa untuk memainkan beberapa poin dengan baik secara berturutan. Sebagai akibatnya? Hmm, semenjak titik balik itu, Muguruza memenangi sembilan game berturutan dan menjuarai turnamen ini dengan skor 7โ€“5, 6โ€“0 dalam 73 menit.

Garbine Muguruza menjuarai gelar grandslam keduanya.

Venus, yang memang bermental juara, berlaku sportif dalam kekalahan. Jelas ia merasa kecewa dan sedih sekali, nampak dari suaranya ketika diwawancara oleh Sue Barker sebagai runner-upย di turnamen ini di upacara pemberian piala. Tapi memang kok, Garbine Muguruza layak menang hari ini! Ia bermain tenis secara agresif dan brilian, dan strategi ini memang cocok untuk Wimbledon. Akibatnya, ia menjuarai gelar grandslam keduanya dan menjadi petenis pertama yang pernah mengalahkan Serena dan Venus Williams di final grandslam. Gelar grandslam pertamanya adalah French Open tahun lalu dimana ia mengalahkan Serena di final, sebuah pertandingan yang mana juga aku tonton langsungย ๐Ÿ˜ฃ. Walaupun sejujurnya, aku juga suka Garbine Muguruza sih. Tapi jelas untuk saat ini, aku masih lebih suka Venus dan Serena Williams ๐Ÿ˜› .

Garbine Muguruza menjuarai Wimbledon 2017.
Venus Williams dengan piala runner-up-nya.

Pertandingan selanjutnya adalah final ganda putra antara Lukasz Kubot dan Marcelo Melo, tim unggulan keempat, melawan Mate Pavic dan Oliver Marach, tim unggulan ke-enam-belas.Kubot dan Melo sudah bermain baik tahun ini. Dan dengan kemenangan mereka melawan Henri Kontinen dan John Peers, tim unggulan pertama, di babak semifinal, Marcelo Melo akan naik ke posisi peringkat 1 dunia menggantikan Henri Kontinen di minggu berikutnya.

Anyway, aku menonton set pertama yang berlangsung seru, tetapi akhirnya Pavic/Marach berhasil mematahkan servisnya Kubot/Meli di game ke-dua-belas, dan memenangi set pertama 7โ€“5. Aku memutuskan untuk meluruskan kaki setelah set pertama. Aku kemudian berkeliling arenanya lagi dimana beberapa pertandingan lain sedang dimainkan, misalnya pertandingan legenda atau tenis kursi roda.

Pertandingan legenda putra antara Lleyton Hewitt/Mark Philippoussis dan Mansour Bahrami/Michael Llodra

Karena sudah jam 6 sore, aku memutuskan untuk makan malam dulu. Aku memesan sizzling pheri-pheri chicken yang mana aku menukar rotinya dengan salad ekstra, haha. Menu ini ternyata enak banget loh, dan sebenarnya aku malah lebih suka menu ini daripada southern fried chicken yang sebelumnya aku makan! Haha ๐Ÿ˜† .

Sizzling pheri-pheri chicken dengan banyak salad!

Aku kembali ke kursiku, dan waktu itu Kubot/Melo sudah memenangi set kedua dan ketiga dengan skor 7โ€“5, 7โ€“6. Namun, mereka tertinggal di set keempat. Pavic/Marach memenangi set keempat 6โ€“3, yang mana artinya pertandingannya masuk ke babak penentuan dimana set kelima harus dimainkan. Kedua tim bermain baik dan tenang di babak penentuan ini. Kubot/Melo sedikit diuntungkan karena servis duluan, sehingga beberapa kali Pavic/Marach berada di situasi bertekanan tinggi dimana servis mereka tidak boleh terpatahkan agar tetap bisa bertahan. Tekanan ini nyaris menghancurkan mereka dimana Kubot/Melo memiliki beberapa break points dan bahkan championships points; tetapi Pavic/Marach berhasil menyelamatkan semuanya.

Babak final ganda putra yang seru banget tahun ini antara Lukasz Kubot/Marcello Melo (di sisi lapangan yang lebih dekat) melawan Mate Pavic/Oliver Marach (di sisi lapangan yang lebih jauh).

Set kelima berlangsung ketat banget, sampai akhirnya mencapai skor 8*โ€“9 setelah jam 8 malam lewat. Entah mengapa, aku tiba-tiba merasa lelah (aku duga sih kekalahannya Venus menghabiskan banyak energiku ๐Ÿ˜› ). Aku merasa toh aku sudah cukup menikmati harga tiket yang harus aku keluarkan; dan walaupun masih ada babak final ganda putri yang belum dimainkan, aku memutuskan untuk meninggalkan arenanya.

Aku berjalan ke Stasiun Southfields dan kemudian naik Tube ke Victoria. Aku check-in di hotelku di daerah situ dan masuk ke kamarku. Aku menyalakan TV dan ternyata setelah 4,5 jam lebih, Kubot/Marach akhirnya memenangi set kelima 13โ€“11, haha. Final ganda putri dimainkan setelahnya. Dan pertandingan ini berkebalikan sekali dengan final ganda putra, dimana tim unggulan kedua, Ekaterina Makarova dan Elena Vesnina, men-double-bagel (menang dengan skor 6โ€“0, 6โ€“0) tim unggulan kesembilan, Chan Hao-Ching/Monica Niculescu.

Kembalinya Marcelo Melo ke peringkat 1 dunia menjadi semakin manis lagi dengan gelar Wimbledon.

Dan di sini, perjalanan dadakanku ke Wimbledon 2017 resmi berakhir.

working life · Zilko's Life

#1961 – Some Work Stories

ENGLISH

Here are some stories from work recently.

One of my team members resigned in July. The problem was that there was noone who could readily replace her. You see, I work at a big company with really fast growth so indeed it feels like there is always shortage of people, haha ๐Ÿ˜† . But on the other hand we don’t just hire anybody, we only want great and awesome people ๐Ÿ˜› ; which of course doesn’t make it any easier but this is not the point of this post. Anyway, after some discussions the management decided that in the meantime until a new replacement would come, I would take over some of her responsibilities. But of course these would not be my top priorities unless there are some very urgent matter, haha.

Funnily though, literally the next day after her last day at the office, one of her automated workflows broke down. This felt really unfortunate because the week before, she told me these automated workflows hardly broke so probably I would not need to worry too much about them anyway. But she still handed me over those stuffs about them just in case they did.

And so I had to go inside the “brain” of the workflow and fixed the error. And you know going into someone else’s code and try to get the logic to understand what could possibly go wrong and fix it is not the most pleasant thing to do ever. On top of that, it was related to a programming language I was not really familiar with yet, haha. But in the end, I did fix it! Apparently the cause was a change in another workflow that feeds information into this workflow. Fixing it wasn’t super difficult or anything, but still, it felt really satisfying! I learned something new! Haha…

Ironically, apparently there were a lot of complaints about the change in the other workflow. So about a week later, the change was reverted back and so I had to revert the workflow back to the original one, lol ๐Ÿ˜† . So at the end of the day, nothing was eventually changed, lol ๐Ÿ˜† . But I did learn something, and acquiring new knowledge is also a valuable thing and so it was not all worthless, I guess, haha.

Speaking about my office, not too long ago for lunch my office provided unlimited amount of ice cream, which we could take whatever we wanted. And what made me really proud of myself was that: I didn’t touch any of the ice cream, not even a single bite! Yep, myย nutrition appย helped me to refrain myself from falling into the ice cream temptation! This was impressive because ice cream has long been known as one of my biggest enemies!ย ๐Ÿ˜

BAHASA INDONESIA

Berikut ini beberapa cerita dari pekerjaanku baru-baru ini.

Salah satu rekan timku ada yang baru saja resign Juli kemarin. Masalahnya adalah, masih belum ada yang bisa segera menggantikannya. Jadi ceritanya perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan besar yang pertumbuhannya amat cepat sehingga rasanya selalu aja kekurangan orang, haha ๐Ÿ˜† . Tapi di sisi lain kami juga nggak mau asal mempekerjakan orang sih, maunya kan orang-orang yang oke dan keren gitu ๐Ÿ˜› ; yang mana jelas ini tidak membuat situasinya lebih mudah ya tetapi ini bukan lah inti dari posting ini. Anyway, ceritanya setelah beberapa diskusi dengan atasanku, aku akan mengambil sebagian tanggung-jawab rekanku ini sampai penggantinya tiba. Tetapi tentu saja ini tidak akan menjadi prioritas utamaku kecuali kalau ada apa-apa yang urgent banget, haha.

Lucunya, cuma satu hari setelah hari terakhirnya rekanku ini, salah satu workflow otomatis buatannya rusak dong. Timing-nya kok rasanya sial begini soalnya seminggu sebelumnya, ia berkata kepadaku workflow otomatis ini jarang banget rusak jadi kemungkinan besar aku nggak perlu terlalu risau karenanya. Tetapi toh ia tetap menjelaskan semuanya kepadaku untuk jaga-jaga andaikata kenapa-kenapa kan.

Dan jadilah aku harus masuk ke dalam “otak” dari workflow ini dan memperbaiki kerusakannya. Dan tahu lah tidak pernah mengasyikkan yang namanya masuk ke dalam kode pemrograman buatan orang lain, berusaha memahami logika di dalamnya untuk menemukan apa yang salah dan memperbaikinya. Di samping itu semua, workflow-nya sedikit berkaitan dengan bahasa pemrograman yang aku masih belum terlalu fasih, haha. Tetapi akhirnya, aku berhasil memperbaikinya loh! Ternyata penyebabnya adalah adanya perubahan di workflow lain yang bertugas memberikan informasi ke workflow ini. Perbaikan yang harus aku lakukan nggak sulit sih, tapi tetap aja, rasanya puas banget gitu! Aku belajar sesuatu yang baru! Haha…

Ironisnya, ternyata ada banyak komplain yang masuk akibat perubahan di workflow lain ini. Jadilah sekitar seminggu kemudian, perubahannya dibatalkan dan workflow-nya aku kembalikan seperti sedia kala, haha ๐Ÿ˜† . Jadilah toh pada akhirnya tidak ada yang berubah, haha ๐Ÿ˜† . Ah, tetapi kan aku jadi belajar sesuatu yang baru ya, dan mendapatkan pengetahuan baru itu juga lah pengalaman yang berharga, jadi semua ini tidak sia-sia lah, haha.

Ngomongin kantor, suatu ketika untuk makan siang kantorku menyediakan es krim unlimited loh, yang mana bisa kita ambil sepuasnya, haha. Dan yang membuatku sungguh bangga terhadap diriku sendiri adalah: aku sama sekali tidak mengambil es krimnya, satu gigit pun tidak! Yup, app nutrisi-ku membantu banget untukku menahan diri untuk tidak jatuh dalam godaan es krim! Padahal es krim kan sudah lama menjadi musuh bebuyutanku ya!ย ๐Ÿ˜

 

Vacation · EuroTrip · Weekend Trip

#1960 – A Weekend Story

ENGLISH

As my Instagram followers (@azilko) have known, I went on a weekend trip this weekend! But now, the destination was not in the UK, though it would have been understandable if you would guess so because of my recent UK visa application, it was actually Berlin, in Germany, haha.

At the “Checkpoint Charlie” in Berlin

I planned this trip before I got my UK visa. And I already knew at the time that I would likely to go on a rather lengthy “flight-free” streak due to the application so I would better make a plan to not make it any lengthier, haha. At the time I found an okay return ticket to Berlin with KLM so I thought why not. Though, indeed luckily my streak was broken two weeks earlier with my impulsive weekend trip to London two weeks ago. I had never been to Berlin before and I had heard good stuffs about it.

Anyway, as it turned out: I LOVE Berlin!! ๐Ÿ˜ Berlin was indeed very beautiful and there were a lot of interesting places all around the city. So far, Berlin has become my most favorite German city!!

But it turned out that a weekend was definitely not enough for a first-time visit there, haha. So I definitely need to go back again sometimes in the future. Hmm…

BAHASA INDONESIA

Seperti yang followers Instagramku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan kemarin ini! Tetapi, kali ini tujuannya bukan di Inggris Raya (UK), walaupun masuk akal sih kalau menebak aku pergi ke sana karena aplikasi visa UK-kuย baru-baru ini. Tujuannya adalah Berlin di Jerman, haha.

Di “Checkpoint Charlie” di Berlin

Aku sudah merencanakan perjalanan ini sebelum aku mendapatkan visa UK-ku. Waktu itu aku sudah tahu sepertinya aku akan memasuki periode “bebas terbang”ย yang agak panjang karena aplikasi visaku itu sehingga aku harus mulai membuat rencana supaya periodenya nggak berkepanjangan dong ya, haha. Waktu itu, aku menemukan tiket pp yang harganya oke ke Berlin dengan KLM sehingga aku berpikir mengapa tidak. Walaupun pada akhirnya aku beruntung sih periode ini berakhir dua minggu lebih cepat dengan perjalanan akhir pekan dadakanku ke Londonย dua minggu yang lalu.ย Aku belum pernah ke Berlin sebelumnya dan aku sudah sering mendengar cerita yang seru dari sana.

Anyway, jadi ternyata aku SUKA BANGET sama Berlin!! ๐Ÿ˜ Jadi ternyata Berlin memang kota yang indah banget dan ada banyak sekali tempat menarik di seluruh kotanya. Sejauh ini, Berlin telah menjadi kota di Jerman yang paling kusukai deh, hehe.

Namun, ternyata satu akhir pekan aja nggak cukup deh untuk perjalanan pertama kali ke kota ini, haha. Jadi memang kapan-kapan aku harus kembali lagi nih. Hmm…

my apartment · Zilko's Life

#1959 -What I Like About My Apartment

ENGLISH

Some time ago I shared a couple of first world problemsย I had with my apartment. And so to balance things out, in this post I would like to share what I (really) like about it. Okay, there are many of reasons (otherwise why would I commit to the biggest purchase I have ever done, so far, in my life in the first place ๐Ÿ˜› ), and in this post I will start with one.

And that is that my apartment building is new. By new, I mean it was built in the 2000s. While this means that, indeed, from the outside it does not look like what you might picture of a Dutch house, probably something like this:

Buildings in Amsterdam centrum.

I actually prefer my apartment much better than those “cute” centuries-old Dutch buildings. Why?

First of all, as Barney Stinson’s one rule:


Yes, “new is always better”. Lol ๐Ÿ˜† .

In this particular case, especially, this rule is right. You see, science is progressing, even at exponential speed; which means people can build “better” (in whatever sense) buildings now.

My previous apartment in Delft was in the centrum and so it was built a few hundred years ago which, of course, made it look “cool” and very “Dutch”. However, while it was overall a nice apartment, to be honest I did not enjoy it at all during the hot summer days. Why? Well, my conjecture (based on my observation and experience) is that because old buildings appear to be designed to trap the heat inside (for winter time) and so this is exactly what they do. It became really, really uncomfortably hot during those days, even at night, due to the heat! I notice that new(er) buildings (also my previous apartment before that, which was built in the 1960s) tend to have better “air flow” in them, thus making them much more comfortable to live in during the summer as it was chill inside even without air conditioner.

Another “complaint” I have often heard from my colleagues living in old Dutch buildings in Amsterdam is that you would need to be “intimate” with your neighbours. In the sense that, well, they can hear any noise coming from your apartment and this means that the reverse is also true. If you know what I mean, lol ๐Ÿ˜† .

I know that I am quite a light sleeper so I would definitely much rather live in a soundproof apartment, haha ๐Ÿ˜† . And newer apartments tend to cater that need. The concrete structure is also a good barrier for noise!

Another common “problem” with old pretty Dutch houses in Amsterdam is: rodents! I had this problem in my first ever student studio apartment in Delft and I really, really hated it; even though the studio was relatively new. This was actually a point I made clear to my agent during my apartment hunt: I wanted a house with no rodents problem! Lol ๐Ÿ˜† (My agent’s wife bursted her laugh at the time, but she understood my concern). And of course, the best bet for that was new(er) buildings.

A new residential tower in Delft.

Beside, pretty buildings are high-maintenance as well, I believe. I mean, many of those in Amsterdam are also declared monuments. This means that even though you are the owner, you cannot just “renovate” your own place however you like as you would need to consult it first! I even heard sometimes this has to be settled at the court!

***

Well, despite all these, of course it does not mean that new apartment comes with no problems at all. I mean, just remember the mini renovation I had to do with my shower room not too long ago. But still, overall, I still believe there are more pros than cons with newer building than older one; especially when you plan to own it (or part of it)!!

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku menyebutkan dua first world problems yang berkenaan dengan apartemenku. Nah supaya adil, di posting ini aku akan menuliskan apa yang kusukai darinya. Oke, jelas ada banyak lah ya alasannya (nggak mungkin juga kan aku mau berkomitmen terhadap kesepakatan pembelian yang melibatkan nominal terbesar yang pernah kulakukan seumur hidup, sejauh ini, jika tidak ๐Ÿ˜› ), dan di posting ini aku mulai dengan salah satunya.

Yaitu bahwa gedung apartemenku adalah gedung baru. Dengan baru, maksudku gedungnya dibangun di tahun 2000an. Walaupun memang ini berarti dari luar penampakannya mungkin tidak seperti yang kalian bayangkan akan rumah-rumah Belanda, mungkin seperti ini:

Gedung-gedung di centrum-nya Amsterdam.

Aku sebenarnya malah lebih suka begini loh daripada gedung-gedung Belanda “kece” yang sudah berusia ratusan tahun itu. Kok begitu?

Pertama-tama, seperti satu aturannya Barney Stinson:


Yup, “new is always better“. Huahaha ๐Ÿ˜† .

Dan di kasus ini, aturan ini benar sekali. Jelas dong iptek terus berkembang maju, bahkan dengan laju eksponensial; yang mana artinya sekarang manusia bisa membangun bangunan yang “lebih baik” (dalam sudut pandang tertentu).

Apartemenku sebelumnya di Delft berlokasi di centrum yang berarti dibangun sekian ratus tahun yang lalu, sehingga memang penampakannya “kece” dan “Belanda” banget gitu deh. Namun, walaupun apartemennya nyaman, sejujurnya aku tidak terlalu bisa menikmatinya di hari-hari panas di musim panas. Mengapa? Konjekturku (berdasarkan observasi dan pengalamanku) adalah karena bangunan-bangunan tua itu sepertinya dulu didisain untuk memerangkap energi panas (untuk musim dingin) sehingga ya ini lah yang bangunannya lakukan. Sebagai akibatnya, apartemennya sungguh amat tidak nyaman untuk ditinggali di hari-hari musim panas itu, bahkan di malam hari, saking panasnya! Nah, aku perhatikan gedung-gedung yang (lebih) baru (juga apartemenku yang sebelum itu, yang dibangun di tahun 1960an) cenderung memiliki “aliran udara” yang lebih baik di dalamnya, sehingga jauh lebih nyaman untuk ditinggali di musim panas karena tetap terasa ademย bahkan tanpa AC.

Satu “komplain” lain yang kerap kudengar dari kolega-kolegaku yang tinggal di gedung-gedung Belanda tua di Amsterdam adalah mau tidak mau kita harus “intim” dengan tetangga-tetangga kita. Dalam artian, mereka bisa mendengar segala suara dari apartemen kita dan artinya yang sebaliknya juga berlaku. If you know what I mean, huahaha ๐Ÿ˜† .

Yah, aku kan memangย light sleeperย ya sehingga jelas aku lebih suka tinggal di apartemen yang kedap suara, haha ๐Ÿ˜† . Dan apartemen-apartemen baru cenderung memenuhi kebutuhan ini. Struktur betonnya juga berfungsi sebagai peredam suara yang baik!

Satu “masalah” umum lain dengan rumah-rumah tua Belanda di Amsterdam adalah: tikus! Aku memiliki masalah iniย di apartemen studio mahasiswa pertamaku di Delft dan aku sungguh, sungguh membencinya; walaupun studio itu relatif baru sih. Poin ini bahkan aku tegaskan ke agenku lho ketika di tahap pencarian apartemen: Aku tidak mau rumah yang ada tikusnya! Haha ๐Ÿ˜† (Istri dari agenku sampai tertawa loh waktu itu, tetapi ia paham banget dengan keinginanku ini kok ๐Ÿ˜› ). Dan tentu saja, untuk itu pilihan yang aman adalah gedung-gedung yang (lebih) baru.

Sebuah menara tempat tinggal bari di Delft.

Di samping itu, gedung-gedung cantik itu juga high-maintenance lah. Maksudku, banyak lho gedung-gedung itu di Amsterdam yang dideklarasikan sebagai monumen (mungkin seperti golongan “cagar budaya” gitu kalau di Indonesia). Ini artinya walaupun kita adalah pemilik rumah itu, kita tidak bisa seenaknya “merenovasi” rumah kita karena kita harus mengonsultasikannya dulu! Dengar-dengar bahkan urusannya bisa sampai di pengadilan juga!

***

Yah, walaupun begitu, tentu bukan berarti apartemen baru tidak memiliki masalah lah ya. Misalnya saja, renovasi mini yang mesti kulakukan di kamar mandiku belum lama yang lalu. Tetapi tetap saja, secara keseluruhan aku rasa lebih banyak keuntungan daripada kerugiannya dari tinggal di gedung yang baru; terutama jika kita berencana untuk memilikinya (atau sebagian darinya)!!

Miscellaneous · Photo Tales

#1958 – Photo Tales (42)

ENGLISH

The theme of this Photo Tales post is my latest experiments in the kitchen!

Photo #93

A duck fillet steak experiment

My long weekend trip to Lyon gave me a kitchen experiment inspiration for a duck fillet steak. At the time it hit me how I could never think about it as it appeared not very complicated!

While the cooking part was not that complicated, indeed; the grocery shopping part was, haha ๐Ÿ˜† . It appeared to me that duck meat was not *that* popular here in the Netherlands. I mean, the supermarket sold it; but it was not as “visible” and “plenty” as the other types of meat. As I could not find it in my first attempt, I resorted to Google to find out that the supermarket only sold one “type” of duck fillet. It was boxed and was put in a special chiller for boxed stuffs, haha. It certainly made the meat look more “premium”, though, and this might partly explain the price, haha.

Anyway, I liked it! Though I am not sure if I am going to cook it that often, due to the higher proportion of fat (thanks, my nutrition app). Even though this might be because of the skin; in which case the fat would not be a problem if I just ignored the skin. But you know, ignoring a crispy skin on your plate in front of you sounds like a difficult thing to do, haha ๐Ÿ˜† .

Photo #94

A high protein meal experiment

Speaking of the nutrition app, aside from reducing my consumption of fat, I am also trying to increase my consumption of protein. And this motivated this experiment to cook the pictured high protein meat, haha.

Lean red meat is obviously low in fat and is delicious for a steak, so that is a given. And then we all know that tempe (I know it is spelled “tempeh” in English but it just feels weird for me to type so. So I am typing it in the original Indonesian spelling here ๐Ÿ˜› ) is rich in protein. And before I moved to Amsterdam, my ex-housemate told me about the existence of this “bimi” vegetables, which is a hybrid between brocolli and kailan and also has high amount of protein.

Surprisingly (or not?), the dish worked well!! ๐Ÿ˜€ For this one, though, I am sure I am cooking this more often (at least more often than the duck fillet dish ๐Ÿ˜› ).

BAHASA INDONESIA

Tema dari postingย Photo Talesย kali ini adalah percobaanku akhir-akhir ini di dapur!

Foto #93

Percobaan steak filet bebek

Perjalanan akhir pekanku ke Lyonย memberiku inspirasi untuk mencoba memasak steak filet bebek. Waktu itu, aku cukup heran mengapa aku tidak pernah kepikiran sebelumnya karena nampaknya masakan ini tidak begitu sulit untuk dibuat!

Walaupun memang bagian masakanya nggak begitu rumit; ternyata justru bagian belanjanya yang agak rumit, haha ๐Ÿ˜† . Ternyata daging bebek itu nggak begitu populer di Belanda. Maksudku, memang sih dagingnya dijual di supermarket; tetapi nggak begitu “kelihatan” dan “banyak” seperti tipe-tipe daging lainnya gitu. Karena gagal menemukannya di usaha pertamaku untuk membelinya, aku meng-google-nya dan ternyata supermarketnya cuma menjual satu “jenis” filet bebek. Filet ini dibungkus dalam kotak dan ditaruh di satu chiller khusus bersama dengan daging-daging kotakan lainnya, haha. Memang sih ini membuat dagingnya nampak lebih “premium” dan mungkin ini sedikit menjelaskan harganya, haha.

Anyway, tapi aku suka! Walaupun aku nggak yakin sih aku akan sering-sering memasaknya karena tingginya kandungan lemak (thanks, app nutrisiku). Walaupun mungkin ini disebabkan oleh kulit bebeknya sih; yang mana jika demikian artinya tidak akan masalah jika kulitnya aku abaikan. Tapi tahu lah, susaaah untuk mengabaikan kulit crispy yang tersaji di piring di depan kita kan, hahaha ๐Ÿ˜† .

Foto #94

Percobaan menu kaya protein

Ngomingin app nutrisi, di samping mengurangi konsumsi lemak, aku juga berusaha meningkatkan konsumsi protein. Dan ini memotivasiku untuk memasak makanan kaya protein di foto di atas, haha.

Daging merah rendah lemak jelas rendah kandungan lemaknya (menurut ngana? ๐Ÿ˜† ) dan enak untuk dimasak steak. Dan kita tahu lah tempe itu kaya protein. Dan sebelum aku pindah ke Amsterdam, mantan housemate-ku memberi-tahuku mengenai keberadaan sayuran yang bernama “bimi”, yang merupakan hasil persilangan brokoli dan kailan dan memiliki kandungan protein yang tinggi.

Dan ternyata, aku juga suka masakan ini!! ๐Ÿ˜€ Nah, untuk yang ini, aku yakin aku akan memasaknya lebih sering sih (setidaknya lebih sering daripada steak bebek filet ๐Ÿ˜› ).