working life · Zilko's Life

#2016 – Some Recent Work Stories

ENGLISH

I notice that after more than a year now, I feel like the variety of my tasks at work has gradually become more diverse. Aside from my main function, there are other tasks which I have been asked or invited to do. Technically those are still parts of my position’s general responsibility anyway so it is not like I am being asked to do things I am not supposed to πŸ˜› .

And to me … so far I find it fun!

You see, of course having wider variety of tasks makes my job much less likely to ever become boring. Well, not that my main function is prone to ever becoming boring, as to me I find it challenging nonetheless. But I mean, having diversity in the type of tasks is also a type of challenge, no? πŸ™‚

Two challenges coming from this diversity, to me, is the ability to quickly “switch” my brain from one task to another, which are very different from each other, and good time management. I realize that time management is not solely about being able to fit as many tasks as possible within my work schedule, but also how to arrange my work effectively such that it allows me to “stream smoothly” between consecutive tasks, be it for my mind-sake (easier “brain switch”) and also physically (arranging two consecutive meetings with 5 minutes of break between them is a bad idea if the two meetings are in different buildings, for instance). This of course can be very tricky when the task is meeting with other colleagues, as we would often have to adjust our schedule to theirs too; which means sometimes compromise needs to be made, haha…

Two weeks ago I volunteered my team and myself to onboard a new hire into the company. My manager was quite surprised by this but he was actually happy that I took this initiative. I have never done this before, though, and so I am still kind of “in the dark” on how things would go to be honest, haha. And so this will certainly be a challenge, but I will try to do my best. I had a pleasant (despite rather “astray”, in a small way) onboarding experience last year; so I have the experience and a vision on how a good onboarding should go. I guess this is also my chance to implement that.

Yeah, so how is work? Well, it has been fun! πŸ™‚

BAHASA INDONESIA

Aku perhatikan bahwa setelah lebih dari setahun sekarang, aku merasa bahwa pekerjaanku di kantor menjadi semakin bervariasi. Di samping fungsi utamaku, ada beberapa tugas lain yang mana aku diminta atau diajak untuk mengerjakannya. Secara teknis sih tugas-tugas itu toh masih merupakan tanggung jawab umum dari posisiku juga sih jadi juga bukannya aku diminta melakukan tugas di luar kapasitasku πŸ˜› .

Dan … sejauh ini rasanya seru bagiku!

Jelas memiliki tugas yang bervariasi juga membuat peluang pekerjaanku menjadi membosankan semakin kecil. Ya bukannya fungsi utamaku rawan untuk menjadi membosankan sih, justru aku merasa fungsi utamaku itu sangat menantang dan seru. Tapi toh keberadaan tugas jenis lain toh juga lah sejenis tantangan juga kan ya? πŸ™‚

Dua tantangan besar yang muncul dari keberagaman ini, untukku, adalah kemampuan untuk dengan cepat “mengalihkan” pikiranku dari satu tugas ke tugas lain, yang sangat amat berbeda satu sama lain, dan manajemen waktu yang baik. Aku tahu bahwa manajemen waktu itu bukan sekedar kemampuan untuk dapat memasukkan sebanyak mungkin tugas ke dalam jam kerjaku, tetapi juga bagaimana mengatur pekerjaanku dengan efisien sehingga aku bisa “mengalir dengan mulus” di tugas-tugas yang berturutan, baik mulus untuk otak (“pengalihan” pikiran yang lancar) dan juga secara fisik (mengatur dua meeting dengan jeda 5 menit di antaranya tentu adalah ide yang buruk jika meeting-nya berada di gedung yang berbeda, misalnya). Ini tentu saja semakin kompleks lagi apabila tugasnya melibatkan meeting dengan kolega lain, karena sering kita harus menyesuaikan jadwal agar pas dengan jadwal mereka juga; yang mana berarti terkadang toh kita harus berkompromi juga, haha…

Dua minggu yang lalu aku menyuka-relakan timku dan aku untuk meng-onboard seorang karyawan baru ke kantor. Manajerku kaget dengan ini tetapi toh dia senang juga aku mengambil inisiatif ini. Aku belum pernah melakukan ini sih sebelumnya, jadi ya aku masih nggak tahu juga ini bakal bagaimana, haha. Jadi jelas ini akan menjadi sebuah tantangan yang baru, tetapi toh aku akan berusaha yang terbaik juga. Aku memiliki pengalaman onboarding yang baik tahun lalu (walaupun agak sedikit “terkatung-katung” sih dari satu sisi) jadi aku memiliki pengalaman dan visi bagaimana pengalaman onboarding yang baik itu seharusnya.Β Aku rasa ini adalah kesempatanku untuk mengimplementasikannya kan ya.

Ya, jadi gimana nih kerjaanku? Oh, seru banget! πŸ™‚

Advertisements
working life · Zilko's Life

#2011 – Some Dining Events

ENGLISH

Team Dinner

To close the previous quarter cycle, my team at work decided to throw a team wide dinner at a nice fine-dining restaurant in Amsterdam Centrum.

A bit of a back story to this event, in the invitation that was sent around a few weeks prior, we were also asked to mention if we really did not ask fish. To me, well, to be honest I am not the biggest fan of fish but having said that, I also wouldn’t say I really don’t like it, haha. So I ended up rsvp-ing the event without mentioning anything about the presumably fish dish they would serve at the restaurant.

The appetizer was a salmon tartar

On the D-day, we went first to a bar nearby the office before going to the restaurant. To much of my delight, it turned out we were having a three-course meal with two options for the main course where, unsurprisingly, one of those was a seabass dish. But of course I ended up picking the other option, that was a boar tenderloin dish! (Anything but the fish, please! πŸ˜› ).

I opted for the boar tenderloin for my main course

As I said it was a three-course fine dining dinner, where wine was free flowing (there was no moment during my stay there when my wine glass was emptyΒ πŸ™ˆ). It started with a plate of delicious salmon tartar as the appetizer. Then, the main course came, which actually was my first time ever consuming a boar meat and it turned out to be delicious! After that, a chocolaty dessert was served, which was just okay but good nonetheless.

The chocolaty dessert

Utrecht Catch Up

Last week, a good friend of mine and I decided to catch up over dinner. Upon discussion, we decided to meet in Utrecht because it had been awhile since I went there and the last time we caught up was in Amsterdam; so it was due for a change, haha.

We went to a restaurant we had been after for months but, mistakenly, without making any reservation. Consequently there was quite a long waiting list already and we decided to eat somewhere else. And so we chose the top rated restaurant provided in Google maps (well, not the actual “top” one as that one was our original restaurant which was already full, haha); which turned out to be just okay. Nonetheless, it was such a fun night catching up with a friend!

Iron steak in Utrecht

BAHASA INDONESIA

Makan Malam Satu Tim

Untuk menutup siklus kuarter (tiga bulanan) yang lalu, timku di kantor memutuskan untuk mengadakan acara makan malam untuk satu tim di sebuah restoran fine dining di Amsterdam Centrum.

Sedikit cerita di balik acara ini. Di undangan yang dikirimkan beberapa minggu sebelumnya, kami diminta untuk menyebutkan apabila kami sangat tidak suka ikan. Untukku, sejujurnya ikan bukanlah makanan yang paling aku favoritkan (*Eh bisa dimarahin Menteri Susi ini ya? Haha πŸ˜› *) tapi biar pun begitu, bukan berarti aku sangat tidak suka ikan juga sih, haha. Jadilah aku meng-rsvp acaranya tetapi aku juga tidak menyebutkan apa-apa mengenai menu yang aku asumsikanΒ akan melibatkan ikan di restorannya.

Makanan pembukanya adalah salmon tartar

Di hari-H, awalnya kami pergi ke bar dulu sebelum berangkat bareng-bareng ke restorannya. Yang aku suka, ternyata malam ini modelnya adalah menu three course gitu dengan dua pilihan untuk menu utama dimana, tidak mengejutkan, salah satunya adalah menu ikan sea bass. Tetapi jelas pada akhirnya aku memilih menu yang satunya, yang mana merupakan daging babi hutan tenderloin! (Ya apa pun lah pokoknya bukan ikan! Haha πŸ˜› ).

Aku memilih menu babi hutan tenderloin untuk makanan utamanya.

Seperti yang kubilang ini adalah makan malam fine dining, dimana anggur juga mengalir terus gitu nggak berhenti-berhenti (tidak ada satu waktu pun selama aku disana dimana gelas anggurku kosong dongΒ πŸ™ˆ). Makan malam dimulai dengan sepiring salmon tartar yang enak banget sebagai makanan pembuka. Kemudian menu utama disajikan, yang mana adalah kali pertama aku makan daging babi hutan dan ternyata enak juga ya rasanya! Setelahnya, pencuci mulut yang terbuat dari cokelat diberikan, yang mana rasanya tidak terlalu spesial namun masih enak-enak saja kok.

Pencuci mulut cokelat

Catch Up di Utrecht

Minggu lalu, aku dan seorang teman baikku memutuskan untuk catch up sambil makan malam. Ketika berdiskusi masalah lokasi, kami memutuskan untuk bertemu di Utrecht saja karena sudah lumayan lama semenjak terakhir kali aku ke sana dan terakhir kali kami catch up adalah di Amsterdam; jadi sekarang kami memilih tempat lain gitu, haha.

Kami pergi ke sebuah restoran yang sudah lumayan lama kami incar tetapi, salahnya kami, tanpa membuat reservasi terlebih dahulu. Akibatnya waktu itu waiting list-nya sudah panjang banget dan kami memutuskan untuk makan di tempat lain. Jadilah kami memilih restoran yang berada di peringkat rekomendasi teratas di Google maps (yah, bukan yang “teratas” sih sebenarnya karena yang teratas adalah restoran yang awalnya kami incar tetapi sudah penuh itu, haha); yang mana ternyata biasa-biasa saja deh. Toh walaupun begitu, tetap seri rasanya catch up bersama seorang teman lama!

Iron steak di Utrecht
working life · Zilko's Life

#2007 – A DST Weekend

ENGLISH

This weekend was the DST weekend in the Netherlands. And it was my favorite one, where this Sunday was 25 hours in length!! πŸ˜€

Actually at first I was thinking to go on a weekend trip somewhere this weekend, because the extra hour I would get on Sunday would be very useful to spend while on a trip, no? Haha πŸ˜› . But I kept failing in finding a good deal for the weekend, up to the point that my colleague reminded me that that Friday would be the last Friday of the month, meaning it would also be the time for my office’s monthly bars event!

And this would be the best one of the ten bars events in a year (Apparently there are no event in January and September) because of its proximity with Halloween!! The event would be Halloween-themed which would make it much more special! Special as in there would be some extra activities (like face paintings, props for photos (Halloween-themed obviously), etc) and as in it would last twice as long! Yeay! πŸ˜€

And so I decided to drop my travelling plan this weekend (Not that I already had one anyway) so that I could fully enjoy the event, haha. You know, because I would not have to “save” myself for an upcoming trip, like I had to do last year, and I could use the entire weekend for rest if I needed to, haha πŸ˜› .

Anyway, the event was really fun where I went to one of the bars after work where I met many of my colleagues there. I also decided to get some face painting just because why not! Haha πŸ˜› . The face painting stand was very busy btw where I had to queue for like one hour before I got my face painted. I was waiting there with a colleague and many other colleagues were passing by anyway so that helped with the waiting, haha. On my turn, the lady asked me how I would want my face painted, in which I had no idea at all. But I felt like half face painting would be cool so I asked her to do that and let her do whatever with the pattern/style πŸ˜› .

Half face facepainted selfie

And then indeed I used the entire weekend for rest, as I felt really tired! It does not mean I did not do literally anything, though. I went grocery shopping (because I was running out of food at home πŸ˜† ) and managed one gym session on Sunday morning πŸ˜› .

I also watched the conclusions of the WTA Finals tournament in Singapore, where my favorite tennis player, Venus Williams, made the final! Speaking of this tournament, while of course since the beginning I was hoping for Venus to win (like always in every tournament she enters), I did not set my expectation to be that high given the slow tennis court in the Singapore Indoor Arena. Slow court generally does not reward attacking tennis game, the type of game Venus plays. And so it was very amazing to watch Venus fought through with her determination and heart!

In the final, she faced Caroline Wozniacki, a top player she had never lost to before. However, slow court favors Wozniacki’s defensive game, making it a tough final for Venus. In the end, Wozniacki won the titleΒ 6–4, 6–4. While certainly disappointed with Venus’ loss, I still felt like it was quite a successful tournament for her, given all the circumstances.

BAHASA INDONESIA

Akhir pekan ini adalah akhir pekan DST di Belanda. Dan ini adalah DST favoritku dimana hari Minggu kemarin memiliki panjang 25 jam loh!! πŸ˜€

Sebenarnya awalnya aku berpikiran untuk jalan-jalan kemana gitu di akhir pekan ini. Lumayan kan dapat ekstra satu jam di hari Minggu ketika jalan-jalan gitu? Haha πŸ˜› . Tetapi aku tidak berhasil menemukan tiket yang oke untuk akhir pekan ini, sampai suatu ketika kolegaku di kantor mengingatkan bahwa hari Jumatnya adalah hari Jumat terakhir bulan Oktober, yang berarti adalah waktunya untuk acara bar bulanan kantorku!

Dan edisi kali ini akan menjadi edisi yang paling seru dari sepuluh acara ini dalam satu tahun (Ternyata acaranya tidak diadakan di bulan Januari dan September) karena waktunya yang berdekatan dengan Halloween!! Edisi kali ini akan bertemakan Halloween sehingga acaranya juga lebih spesial gitu deh. Spesial dalam artian akan ada beberapa aktivitas khusus (misalnya face painting, props buat poto-poto (dengan tema Halloween tentunya), dll) dan juga karena acaranya akan berlangsung lebih lama dari biasanya! Hore! πŸ˜€

Dan jadilah aku memutuskan untuk membatalkan rencana jalan-jalanku akhir pekan ini (Toh memang belum ada rencana juga sih, haha) sehingga aku bisa lebih menikmati acara ini dengan total gitu, haha. Maksudku aku jadi tidak harus terlalu “menjaga diri” soalnya akan jalan-jalan di akhir pekannya kan, seperti yang harus aku lakukan tahun lalu, dan aku bisa menggunakan keseluruhan akhir pekannya untuk istirahat jika perlu, haha πŸ˜› .

Anyway, acaranya beneran berlangsung seru banget dimana aku pergi ke salah satu barnya sepulang kerja dan bertemu beberapa kolegaku di sana. Aku memutuskan untuk ikutan face painting juga karena mengapa tidak kan! Haha πŸ˜› . Tapi jelas stand face painting-nya rame banget dimana aku harus mengantri selama sekitar satu jam sebelum mendapatkan giliran. Aku menunggu bersama seorang kolega dan ada banyak kolega lain yang berlalu-lalang juga sih jadi lumayan membantu dalam menghabiskan waktuku selama menunggu, haha. Ketika giliranku tiba, pelukis wajahnya bertanya aku mau dilukis bagaimana, yang mana aku nggak ada ide dong, haha. Tetapi aku kepikiran bahwa model half face kan keren ya jadilah aku memintanya untuk melukis setengah wajahku dan terserah deh wajahku mau dilukis/dimodel apa, haha πŸ˜› .

Half face facepainted selfie

Dan akhirnya keseluruhan akhir pekannya memang kugunakan untuk istirahat, karena aku merasa lelah banget! Bukan berarti aku nggak ngapa-ngapain juga sih. Aku pergi belanja di supermarket (soalnya aku benar-benar kehabisan stok makanan di rumah, haha πŸ˜† ) dan pergi ke gym di Minggu pagi πŸ˜› .

Aku juga menonton akhir dari turnamen WTA Finals di Singapura, dimana petenis favoritku, Venus Williams, masuk final dong! Ngomongin turnamen ini, walaupun jelas dari awal aku mendukung Venus untuk menang (seperti biasanya di setiap turnamen yang ia masuki), aku tidak membuat ekspektasi yang muluk-muluk mengingat lapangan tenis di Singapore Indoor Arenanya adalah lapangan yang bertipe pelan. Lapangan pelan secara umum tidak “ramah” terhadap tipe permainan agresif/penyerang, tipe permainan yang dimainkan Venus. Jadilah aku kagum banget menonton Venus bertarung habis-habisan untuk bisa masuk final dengan kebulatan-tekad dan hatinya!

Di final, ia melawan Caroline Wozniacki, pemain top yang mana ia selalu kalahkan sebelumnya. Namun, lapangan pelan “ramah sekali” dengan tipe permainan defensifnya Wozniacki, sehingga jelas pertandingan final ini akan menjadi sulit untuk Venus. Pada akhirnya,Β Wozniacki menang 6–4, 6–4. Walaupun jelas aku merasa kecewa dengan kekalahannya Venus, toh secara umum menurutku turnamen ini masih bisa dibilang cukup sukses bagi Venus, terutama dengan mempertimbangkan segala kondisinya.

working life · Zilko's Life

#1993 – One Year Work Anniversary

ENGLISH

Exactly this day last year, I started my “new” life with my (at the time) new job in Amsterdam!

#thisdaylastyear #Amsterdam #newstart

I can’t believe it has been a year, as certainly it doesn’t feel like it has been that long!! But this means that I can’t say I am new in the company anymore (Though, I have, sort of, “lost” the right to say this after six months anyway, as my company is growing very fast!).

It has been a wonderful and “eye-opening” year for sure, especially thatΒ I jumped from academia to industry with this job. I really, really learned a lot during the past one year; be on my hard skills and also my soft(er) skills. But that is not only that. I genuinely enjoy my time in this company as well. My colleagues are nice and the general company atmosphere is also very positive and fun. And so now I amΒ very, very happy that I made this decision to switch last year.

Having said that, it feels like there are still a lot for me to learn and experience which the company can provide and offer. And so I am looking forward to those!

BAHASA INDONESIA

TepatΒ satu tahun yang lalu, aku memulai kehidupan “baru”-ku dengan pekerjaan baruku (waktu itu) di Amsterdam!

#thisdaylastyear #Amsterdam #newstart

Nggak terasa ternyata sudah satu tahun semenjak waktu itu, karena rasanya belum lama deh!! Tetapi ini artinya aku tidak lagi bisa berkata bahwa aku anak baru ya di kantor (Walaupun sebenarnya aku sudah “kehilangan” hak ini sih setelah sekitar enam bulanan di kantor, karena kantorku berkembang dengan amat cepat!).

Setahun ini adalah setahun yang seru dan “membuka-mata” banget untukku, terutama karenaΒ aku berpindah dari dunia akademia ke industriΒ dengan pekerjaan ini kan. Aku sungguh belajar banyak banget setahun terakhir ini; mengasah baik hard skills maupun soft(er) skills-ku. Tetapi bukan hanya itu saja. Aku benar-benar menikmati waktuku di kantor. Kolega-kolegaku asyik-asyik semua dan atmosfer di kantor juga sungguh positif dan seru banget. Dan jadilah sekarang ini aku merasa senang dengan keputusan yang kubuat tahun lalu itu.

Walaupun begitu, rasanya masih ada banyak lho yang bisa kupelajari dan kudapatkan dari kantorku ini. Makanya aku juga merasa bersemangat menatap ke depannya!

working life · Zilko's Life

#1988 – More Stories from Work

ENGLISH

I have mentioned before that on the last Friday of every month (except for January, apparently), my office rents several barsΒ just after working hours in Amsterdam for all employees, where we can enjoy all the food and drink there for free (read: the company pays πŸ˜› ).

Certainly it is fun. Though, somehow I had never attended it since I moved to Amsterdam in April (meaning my last time there was during the March edition, haha). It had something to do with the long weekends, though. The last weekends of both April and May were long-weekend in the Netherlands. So it was indeed quite of an awkward timing, haha πŸ˜† .

But nonetheless, finally I went back to the August event last month! While talking with a few colleagues there, it appeared that I was not the only one who somehow skipped the event for the last a few editions. Well, let’s just say that it is nice to have some accompanies, no? πŸ˜›

Speaking of work, I have mentioned quite a few times here that I really like and enjoy it! There is so much I could learn that I feel like I am starring at a huge stack of knowledge and experience (and many different kinds of those) I can immerse myself into! And this is certainly exciting!!

Just recently, for instance, I decided to try out a new tool I had never used before for a new project I got from my director. A new tool would mean different “procedure” and “steps” in my work flow, obviously; so it could certainly mean “discomfort” in my work as I would have to approach it differently “from usual”. But at that point I had seen a few of my colleagues used the tool so I felt intrigued to try it myself. If I found it not useful, of course I could ditch it for my future works. And as it turned out, I loved the new tool and was impressed by it!! 😍 In fact, probably from now on I am going to switch to it (until I find a “better” one, of course πŸ˜› ).

You see, I just learned a new skill from this experience, that is using a new tool. And I feel happy about it!

Unlimited free drink, including cider. Yay!

BAHASA INDONESIA

Sudah kuceritakan sebelumnya bahwa setiap hari Jumat terakhir dari suatu bulan (kecuali Januari sih, ternyata), kantorku menyewa beberapa barΒ setelah jam kerja di Amsterdam untuk semua karyawan, dimana kami bisa menikmati semia makanan dan minuman disana dengan gratis (baca: yang bayar kantor maksudnya πŸ˜› ).

Jelas lah ya ini asyik banget. Walaupun, entah bagaimana aku belum pernah datang ke acaranya lagi sih semenjakΒ aku pindah ke Amsterdam April kemarinΒ (yang mana terakhir kali aku kesana adalah di bulan Maret, haha). Ini ada hubungannya dengan long weekend sih. Akhir pekan terakhir April dan Mei kan long weekend ya di Belanda. Jadi jelas dong awkward rasanya untuk datang, haha πŸ˜† .

Toh walaupun begitu, aku akhirnya memutuskan untuk datang di acaranya di bulan Agustus kemarin! Ketika ngobrol dengan beberapa kolega di sana, ternyata bukan aku saja yang melewatkan acara ini beberapa bulan belakangan. Yah, bisa dibilang seenggaknya ada temannya deh! Haha πŸ˜›

Ngomongin kerjaan, sudah kusebutkan juga beberapa kali di sini bawa aku sangat menyukai dan menikmatinya! Ada banyak sekali yang bisa aku pelajari sehingga rasanya aku sedang memandang tumpukan raksasa berisi pengetahuan dan pengalaman (dan berbagai macam jenisnya) yang mana bisa aku selami secara bebas! Dan ini tentu saja terasa seru banget!!

Baru-baru ini, misalnya, aku memutuskan untuk menggunakan sebuah alat (tool) baru untuk mengerjakan sebuah proyek yang aku dapatkan langsung dari direkturku. Alat baru ini berarti “prosedur” dan “langkah-langkah” kerja yang berbeda dari cara kerjaku sebelumnya; yang mana tentu bisa berarti “ketidak-nyamanan” dalam pekerjaan karena aku jadi harus melakukan pendekatan yang berbeda “dari biasanya”. Tetapi waktu itu aku perhatikan beberapa kolegaku sudah menggunakannya sehingga aku jadi penasaran untuk menggunakannya sendiri. Kalau ternyata alatnya tidak berguna bagiku, ya sudah untuk nanti-nanti tinggal tidak aku gunakan kan, haha. Dan ternyata, alat baru ini keren banget dong dan aku terpesona dengannya!! 😍 Malahan, sepertinya untuk saat ini aku akan terus menggunakannya deh (sampai aku menemukan yang “lebih baik” tentunya, haha πŸ˜› ).

Nah kan, aku baru saja mendapatkan skill baru dari pengalaman ini, yaitu pengalaman menggunakan alat baru ini. Dan aku merasa senang karenanya!

working life · Zilko's Life

#1981 – Some Stories From Work

ENGLISH

About a month ago I mentioned that one of my team members resigned in July resulting in me having to temporarily taking over some of her responsibilities until we got a replacement. We estimated probably the replacement would come in one or two months.

But then, we actually got the replacement in August! This was certainly good news (also for me), haha. Though, I could not just hand over everything to my new team member just like that because she was new in the company. Moreover, she just did the switch from academia to industry in taking this job, just like my decision last year, so I totally understood she would need some time to settle.

Of course I have been trying to be as helpful and welcoming as possible because situation-wise, I was in her shoes last year (Though we have different job titles so our work responsibilities are different). Last year I got tremendous support from my colleagues in helping me to learn and settle here. So I am trying my hardest to “return” the favor here, haha.

Overall I am glad, though, as I felt like my workload has increased in the past month or so. I mean, of course I can always put some of those to my backlog as my colleagues would understand anyway that I have limited amount of time. But still, it does not feel nice to see a long list of tasks in your backlog, especially when some of those are “take-overs”, haha πŸ˜› . Even though, of course, she could not immediately re-take over all of those responsibilities, as she certainly needed the time to settle and adapt to everything; but she certainly could start with some tasks. Coming from academia helped as well, where in my opinion her learning curve was fast. So I am sure shortly she will be able to fully reclaim the “take-over” responsibilites I got from my ex-colleague. But in the meantime:

BAHASA INDONESIA

Sekitar satu bulan laluΒ aku sebutkan bahwa salah seorang rekan timku resign di bulan Juli sehingga untuk sementara aku diminta untuk menampung sebagian pekerjaannya sampai kami mendapatkan penggantinya. Waktu itu kita perkirakan mungkin kita akan mendapatkan pengganti dalam dua atau tiga bulan gitu lah.

Tetapi kemudian, ternyata kami mendapatkan penggantinya di bulan Agustus dong! Ini jelas adalah berita baik (juga untukku), haha. Walaupun, aku tidak bisa langsung menyeragkan tanggung-jawab dari mantan rekan kerjaku itu ke penggantinya ini karena ia benar-benar baru mulai bekerja di kantorku sekarang. Terlebih lagi, ia baru saja pindah dari akademia ke dunia industri juga dengan pekerjaannya ini, sama sepertiΒ keputusanku tahun lalu, jadi aku sungguh paham bahwa ia tentu membutuhkan waktu untuk membiasakan-diri.

Tentu saja aku berusaha untuk se-helpful dan seramah mungkin karena secara situasi, tahun lalu aku berada di situasi yang sama persis (Walaupun titel pekerjaan kami berbeda sih sehingga tanggung-jawab kami juga berbeda). Tahun lalu aku mendapatkan banyak bantuan banget dari rekan-rekan tim baruku yang baik banget itu, yang mana sungguh membantuku untuk belajar dan membiasakan-diri. Jadilah sekarang aku juga berusaha untuk “membalas” kebaikan yang kuterima itu, haha.

Secara keseluruhan aku merasa lega karena aku merasa beban kerjaku, terutama sebulanan terakhir ini, meningkat.Β Maksudku, tentu saja aku bisa memasukkan beberapa di antaranya ke dalam backlog dan toh pasti kolegaku juga akan paham mengingat waktuku yang juga jelas terbatas kan. Tapi tetap aja lah, nggak asyik rasanya melihat backlog yang panjang, apalagi ketika beberapa tugas-tugas di sana adalah tugas “limpahan”, haha πŸ˜› . Walaupun, tentu saja, kolega baruku tentu tidak bisa langsung mengambil-alih semua pekerjaannya itu, karena ia juga pasti membutuhkan waktu untuk membiasakan diri; tetapi jelas ia bisa mulai mencicilnya kan. Barusan berpindah dari akademia juga membantu sekali, karena aku perhatikan ia cepat belajar. Jadi aku yakin ia tidak perlu banyak waktu untuk bisa mengambil-alih semua tanggung-jawab “limpahan” dari mantan rekan kerjaku. Tetapi sebelum itu, untuk sementara waktu:

working life · Zilko's Life

#1968 – On My Holiday Allowances

ENGLISH

One consequence I must face with my decision to switch from academia to industry is the much more limited holiday allowances that I get now. If two years ago I got 50 days for the year, I only get about half of that this year, haha πŸ˜† . Though, as in the standard in the Netherlands, I still do have the right to buy some (or sell as well, for that matter; but I don’t think it is worth to sell some, especially considering the tax that comes with it πŸ˜† ).

Anyway, but my office provides a way where we can get extra allowances (aside from special events, like wedding, child birth, exam (luckily my PhD defense counted as an exam πŸ˜€ ), moving (which I took in April), etc). And that is through having no sick days, haha. So if within a 6 month period since 1 January or 1 July we do not call in sick even once, we immediately get one extra holiday allowance. And if we do not call in sick for the entire calendar year, we get another extra allowance. So in total, we can get up to three extra allowances each year. Not a lot, but still helpful, IMO.

And so because I did not call in sick in the first half of this year, I just got an extra allowance! Yeay!! πŸ˜€

Speaking of holiday allowances, what I really like about it here is that your office never makes a fuss on when you would want to use them, because those are your right (Well, of course unless it is stated in the contract where usually it is because your presence and work are essential in certain period of time). Last year when I submitted my application for my year end trip to Indonesia while still being new at the company (I had been there less than two months), it got accepted in literally twenty seconds πŸ˜€ .

Last year when my PhD contract at TU Delft ended in August, I still had about 20 unused holiday allowances. So technically I could have used them all, meaning taking the entire August off AND still got my full salary (haha πŸ˜† ) and then went straight into my sabbatical month in September; otherwise, I would lose all my right over these 20 days. They would all be just gone like that. However, at the time I could not afford to take August off because I was in the very intense period of my PhD where I had to finish everything up before my contract ended. And it was hell a lot of work, I can tell you; and so I needed August for that. But this meant that indeed I would have to just let my right of those 20 days go. But well, I guess the “return” that I got from that was my PhD degree I got in January. And to me, 20 days of holiday allowances is a very cheap price for a PhD degree, πŸ˜› .

BAHASA INDONESIA

Satu konsekuensi yang harus aku hadapi dengan keputusanku untuk berpindah dari dunia akademia ke dunia kerja (industri)Β adalah jatah cutiku sekarang yang jauh lebih terbatas. Jika dua tahun yang lalu aku mendapatkan 50 hari jatah cuti dalam setahun, sekarang aku cuma mendapatkan kira-kira setengahnya lah dalam setahun, haha πŸ˜† . Walaupun, sebagaimana biasanya di Belanda, aku juga masih memiliki hak untuk membeli beberapa jatah cuti sih (atau juga menjualnya; tapi dengan jumlah segini mah nggak worth it lah ya untuk dijual, apalagi dengan mempertimbangkan potongan pajak dari hasil penjualannya itu lho, πŸ˜† ).

Anyway, tetapi kantorku juga memberikan cara dimana kita bisa mendapatkan jatah cuti ekstra (di samping acara-acara khusus seperti misalnya pernikahan, kelahiran anak, ujian (untungnya sidang PhDkuΒ bisa dihitung sebagai ujian waktu itu πŸ˜€ ), pindahan (yang aku gunakan April lalu), dll tentunya). Dan cara itu adalah dengan tidak mengambil absen karena sakit. Jadi jika dalam periode 6 bulan semenjak 1 Januari atau 1 Juli kita tidak absen sakit, otomatis kita mendapatkan satu jatah cuti ekstra. Dan jika dalam satu tahun kalender penuh kita tidak absen sakit, kita dapat satu ekstra lagi. Jadi totalnya, kita bisa mendapatkan tiga jatah cuti ekstra per tahun. Nggak banyak sih, tapi lumayan lah ya.

Dan karena aku tidak absen sakit selama setengah tahun pertama ini, aku baru saja mendapatkan satu jatah cuti ekstra ini! Hore!! πŸ˜€

Ngomongin jatah cuti, yang aku suka dengan situasi di Belanda ini adalah kantor nggak akan pernah mempermasalahkan kapan kita mau ambil cuti, karena mengambil cuti kan hak kita (Kecuali disebutkan di dalam kontrak sih yang mana ini biasanya karena kehadiran dan pekerjaan kita penting banget di suatu periode waktu). Tahun lalu ketika aku memasukkan permohonan cuti untuk perjalanan akhir tahunku ke Indonesia ketika pun masih anak baru di perusahaannya (waktu itu aku belum ada dua bulan lah di kantorku ini), permohonanku langsung di-approve dalam waktu dua puluh detik loh πŸ˜€ .

Tahun lalu ketikaΒ kontrak PhD/S3ku di TU Delft berakhir di bulan Agustus, aku sebenarnya masih memiliki 20 jatah cuti yang belum kupakai. Jadi sebenarnya bisa-bisa aja semuanya aku pakai waktu itu, artinya cuti di sepanjang bulan Agustus DAN masih digaji penuh (haha πŸ˜† ) dan kemudian langsung deh masuk ke bulan sabatikalku Septembernya; karena kalau tidak, aku akan kehilangan hakku akan 20 hari ini. Ya, hangus begitu saja. Namun, waktu itu aku tidak sanggup untuk mengambil cuti di bulan Agustus karena waktu itu adalah periode super intenseΒ di masa PhDku dimana ada banyak hal dan urusan yang harus kuselesaikan sebelum kontrakku berakhir. Buanyak banget deh, dan aku memerlukan bulan Agustus untuk itu. Tapi memang ini artinya aku harus merelakan 20 hari itu untuk hangus sih. Ah, tapi toh bisa dibilang “imbalan” yang kudapatkan dari merelakannya adalah gelar PhD/S3 yang kudapatkan Januari lalu. Dan untukku, merelakan 20 hari jatah cuti untuk hangus adalah harga yang murah untuk sebuah gelar S3 deh πŸ˜› .