#2061 – Star Trek: Discovery (Season 1)

ENGLISH

In the last four to five months, I have been following Star Trek’s most recent series, Star Trek: Discovery. And just this weekend (Well, Monday for the Dutch Netflixer like me), the first season was concluded.

If I have to describe the first season of this new series, I will go with “a series full of plot twists“, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> You know, Ash Tyler was actually Voq, Gabriel Lorca was actually from the Mirror universe, Mirror Philippa Georgiou was the cruel and evil emperor of the Terran Empire, and the appointment of Mirror Philippa Georgiou as the captain of USS Discovery after being brought to the Prime (our) universe by Michael Burnham. <<Spoiler Done >> This made this series exciting, to me, as it led me to not know what to expect. Even though at some point I felt like it went overdose with the plot-twisting, lol 😆 .

On the other hand, and I have mentioned this before, this series focused a lot on the action part (Mainly the Federation vs Klingon war and getting trapped in the Mirror Universe and the return attempt) and not at all on the social/interpersonal/intrapersonal conflict aspect like the other Star Trek series. So this definitely gave a really different vibe of a Star Trek series to me.

Each episode was also made not independent of each other; and that one would need to follow the series from the beginning to know what was going on. When you watch one of Star Trek: Voyager‘s episodes, for instance, most of the time you would not need to watch the previous episodes to understand what was going on.

<< Spoiler Alert, Again >>

Ironically, though, IMO the season finale was the “most Star Trek” episode. An away mission (finally!) down to an establishment on an alien planet (Klingon’s Qo’Nos) and ending the war with a (to some degree) diplomacy. On one hand this could feel anticlimatic because most of the preceding episodes were full of fights and wars, that one (or I, at least) would expect to see some “actions” in the finale. But on the other hand this made a lot of sense. The story arc in those preceding episodes was “controlled” by a Terran (Mirror Gabriel Lorca and Mirror Philippa Georgiou), who loved and lived on fights and wars. In this episode, the “real” Starfleet and Federation finally took charge, via the lead of Michael Burnham.

So in the end, I was overall satisfied with the finale! Though, one thing disappointed me a little bit, where they only used one line mentioning that the spore technology was off the table (Starfleet was committed to finding non-human interface, according to Stamets (which, obviously, wasn’t successful in the end)). But to top it off, this season ended with the most coolest cliff-hanger ever, where the USS Discovery crew encountered a distress call from … the USS Enterprise!!

Damn now I cannot wait for season two!!

<< Spoiler Ends >>

***

At the end of the day, the biggest and most important question is: “Did I enjoy this new series?” And the answer to this was “Yes!“. Haha 😆 So despite the “shift” in the characteristics of Star Trek series (despite the very Star Trek finale), overall I still felt like the writers (and everyone involved) did a great job in creating an enjoyable and exciting series, which made me look forward to it everytime I went back from work on Monday!

And so certainly I am excited that a second season has been ordered, and I am looking forward to it! Even though I still have a little bit of hope that the overall tone of second season will be a little bit “more Star Trek”. But nonetheless, we will see!!

BAHASA INDONESIA

Dalam empat atau lima bulan belakangan, aku telah mengikuti seri terbarunya Star Trek yang dinamai Star Trek: Discovery. Dan akhir pekan kemarin ini (Eh, hari Senin ding untuk pengguna Netflix Belanda kayak aku), musim pertama dari seri ini berakhir.

Jika musim pertama dari seri ini harus aku deskripsikan, aku akan menjawabnya dengan “sebuah seri yang penuh plot twists”, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> Ya tahu kan, dari Ash Tyler yang mana ternyata adalah Voq, Gabriel Lorca yang ternyata berasal dari alam semesta paralel (Mirror), Philippa Georgiou versi Mirror ternyata adalah kaisar yang kejam dan jahat dari Kekaisaran Terran, dan penunjukkan Philippa Georgiou paralel ini sebagai kapten USS Discovery setelah ia “diculik” oleh Michael Burnham ke alam semesta Prime (alam semesta kita). << Spoiler Selesai >> Ini membuat acaranya seru sih, bagiku, soalnya aku jadi tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun juga pernah di satu titik rasanya seri ini agak overdosis dengan plot-twisting sih, haha 😆 .

Di sisi lain, dan sudah kusebutkan sebelumnya, seri ini berfokus di sisi action (Dengan garis besar di jalan cerita Perang Federasi vs Klingon dan terjebaknya kru USS Discovery di alam semesta paralel Mirror dan upaya mereka untuk pulang) dan sama sekali tidak menyentuh aspek konflik sosial/interpersonal/intrapersonal seperti di seri-seri Star Trek lainnya. Sebagai akibatnya, nuansa seri ini terasa berbeda sekali dari seri-seri Star Trek lainnya untukku.

Setiap episode juga tidak dibuat independen satu sama lain; jadi seorang penonton harus mengikuti ceritanya dari awal untuk memahami jalan ceritanya. Ketika kamu menonton satu episodenya Star Trek: Voyager, misalnya, kemungkinan besar kamu masih akan paham jalan ceritanya tanpa harus menonton episode-episode sebelumnya.

<< Spoiler Alert, Lagi >>

Ironisnya, menurutku episode terakhir musim ini justru adalah episode yang “paling Star Trek” dari semua episodenya Discovery. Misi away (akhirnya!) turun ke suatu kota di planet alien (Planet Qo’Nos-nya Klingon) dan mengakhiri perang dengan (kurang lebih) diplomasi. Di satu sisi ini terasa agak anti-klimaks karena episode-episode sebelumnya kan penuh dengan pertarungan dan peperangan, sehingga (bagiku, setidaknya) aku sudah mempersiapkan diriku untuk menonton final yang penuh “action” gitu kan. Tetapi di sisi lain ini sebenarnya justru masuk akal banget lho. Jalan cerita di episode-episode sebelumnya ceritanya kan “dikontrol” oleh bangsa Terran (Gabriel Lorca dan Philippa Georgiou dari alam semesta paralel Mirror), yang memang suka dan hidup dalam pertarungan dan peperangan. Di episode ini, Starfleet dan Federasi “yang sebenarnya” mengambil kontrol kembali, dengan dipimpin oleh Michael Burnham.

Jadi pada akhirnya, aku sungguh puas dengan akhir dari musim ini! Walaupun satu hal kecil mengecewakanku sedikit sih, dimana hanya satu kalimat saja yang menyebutkan bahwa teknologi spora tidak lagi digunakan (Starfleet berkomitmen untuk mencari cara pemanfaatan teknologi ini tanpa menggunakan manusia, menurut Stamets (yang mana, jelas, upaya yang pada akhirnya gagal)). Tetapi, musim ini diakhiri dengan cliff-hanger yang paling keren banget, dimana kru USS Discovery mendapatkan panggilan darurat dari … USS Enterprise!!

Ahhhh, aku jadi makin nggak sabar kan menunggu musim kedua!!

<< Spoiler Selesai >>

***

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar dan paling penting adalah: “Apakah aku menikmati seri baru ini?” Dan untuk pertanyaan ini jawabanku adalah “Iya!“. Haha 😆 . Jadi biarpun adalahnya “pergeseran” karakteristik dari seri-seri Star Trek lainnya (walaupun episode terakhirnya Star Trek banget sih), secara keseluruhan toh aku masih merasa penulis naskahnya (dan semua yang terlibat) telah menghasilkan suatu seri yang bagus dan seru, yang mana selalu membuatku bersemangat ketika pulang kantor di hari Senin!

Makanya aku merasa excited dengan berita dimana musim kedua sudah dipesan, sehingga aku nggak sabar untuk menontonnya! Walaupun aku juga sedikit berharap mudah-mudahan nuansa umum musim kedua nanti bakal “lebih Star Trek” sih. Ah, tapi kita lihat saja lah ya!!

Advertisements

#2051 – OITNB and Friends

ENGLISH

Orange Is The New Black (OITNB)

A few months ago I finished remarathoning Star Trek: Voyager. And so I flicked through my Netflix and decided to start watching Orange Is The New Black.

And as it turned out this was a great show! The show started by following Piper Chapman who voluntarily surrendered to the Litchfield Penitentiary, a minimum security women’s federal prison. And the story developed from there, including exploring the lives of many of the characters she met in the prison (not only the inmates, but also some of the guards). Though, some aspect of the show could be “too vulgar” for some audience, overall I felt like this show was really well written and well executed! The drama, the politics, the acting, etc were great!

Anyway, following OITNB right after Star Trek: Voyager was quite a funny experience because Kate Mulgrew was one of the main casts in both shows! She played Captain Kathryn Janeway in Voyager and Galina “Red” Reznikov in OITNB. And so when I started OITNB I found it funny that (old) Kathryn Janeway somehow became an inmate in a New York prison, haha 😛

Friends

Speaking of Netflix, last year I mentioned how I was disappointed that I did not have Friends and The Big Bang Theory in my Dutch Netflix. And as it turned out, as per this year, I have had Friends! Yay!! 😀

Though, I still wish at some point I would have The Big Bang Theory, though; because I have been missing the last a few seasons!

Friends in Netflix!

BAHASA INDONESIA

Orange Is The New Black (OITNB)

Beberapa bulan yang lalu, aku selesai menonton ulang Star Trek: Voyager. Dan jadilah aku membuka-buka apa yang tersedia di Netflix dan aku memutuskan untuk mulai menonton Orange Is The New Black.

Dan ternyata ini adalah acara yang bagus lho! Serialnya dimulai dengan mengikuti Piper Chapman yang menyerahkan-diri secara sukarela ke Litchfield Penitentiary, penjara federal wanita dengan sekuriti minimum. Dan ceritanya berkembang dari sana, termasuk dengan mengeksplorasi kehidupan dari karakter-karakter lain yang ia temui di penjara (nggak hanya sesama tahanan, tetapi juga beberapa penjaganya). Walaupun beberapa aspek dari serial ini mungkin “terlalu vulgar” bagi sebagian orang, secara keseluruhan aku merasa acara ini ditulis dan dieksekusi dengan baik! Drama, politik, dan aktingnya bagus-bagus!

Anyway, mengikuti OITNB tepat setelah Star Trek: Voyager adalah pengalaman yang cukup lucu karena Kate Mulgrew berperan sebagai salah satu tokoh utama di kedua serial ini! Ia memainkan Kapten Kathryn Janeway di Voyager dan Galina “Red” Reznikov di OITNB. Dan ketika aku baru saja mulai menonton OITNB, aku merasa lucu kok Kathryn Janeway (yang sudah tua) sekarang menjadi seorang tahanan di sebuah penjara di New York, haha 😛

Friends

Ngmongin Netflix, tahun lalu aku sebutkan bagaimana aku merasa kecewa karena tidak menemukan Friends dan The Big Bang Theory di Netflix Belandaku. Ternyata, per tahun ini, akhirnya aku memiliki Friends juga lho! Hore!! 😀

Eh tetapi aku masih berharap suatu saat nanti ada The Big Bang Theory sih; soalnya aku masih belum menonton beberapa musim terakhirnya nih!

Friends di Netflix!

#2021 – Discovery, First Chapter

ENGLISH

So the first chapter (i.e. the first nine episodes) of the first season (that is scheduled to have fifteen episodes) of the new Star Trek: Discovery has been concluded in mid-November. Of course I was really excited when the series was premiered earlier in the Fall; but now I have watched enough episodes to formulate my own opinion of the series. And here I would like to share that…

First of all, I have been enjoying the show. I find it exciting and the general story arc to be well written. Moreover, to me the characters are also very, very interesting as they focus not only on the senior officers (like typical other Star Trek series) but also on the “grass root” crewman level. The captain appears to be, at least a little bit, a “troubled” person, a trait which of course makes a show more exciting, and there seems to be a “silver bullet” in the Klingon side, the “antagonist” side of the series. Overall, I feel like the series is very rich in terms of the characters, that in my opinion is one of its strongest point.

There are a few details which I don’t like, however, mainly the spore drive technology which could make instantaneous travel to anywhere in the universe in no time (I find it “absurd” and it does not feel “right” especially considering that the series’ timeline to be before The Original Series let alone The Next Generation and Voyager). I also don’t like the design of the USS Discovery; but I have been feeling this way since the beginning anyway, haha 😆 .

Having said that, there is one big factor which disappoints me. To me this series has lost a big part of a Star Trek show: the social/interpersonal/intrapersonal conflict aspect present in many episodes of the other series. You see, unfortunately the excitement of the story arc comes with the price of a lot of focus on the “action” side of thing (thus the “excitement”). The side effect of this is that, to me, despite watching a show involving Star Trek characters and setting, it does not feel like watching a Star Trek series.

One of the many reasons I like the Star Trek series is that many of their episodes portray certain interesting social interactions/conflicts which I can relate to my life (be it personal or professional), even to the point of challenging a status quo and presenting strong ethical conflict. These episodes make me think about the dilemma in those situations and in some of those about what would I do if I were in those situations; which I find enjoyable. Of course not all episodes are like this, where there are times here and there where action-oriented episodes are produced as well to keep the excitement level up. I understand that focusing too much on the social aspect could lead to a “boring” show which could translate to lower rating (which in my opinion is a reason why Enterprise in the early 2000s “failed”); but stripping this part off the show also feels like stripping off an identity of the series. Well, at least to me…

To be fair, it is not like the writers completely take the social conflict out of the script. There are still some, for instance in the episode where Captain Lorca was captured by the Klingon and Discovery was attempting to save him. The only way for the crew to do so was to torture an animal. However, these are still too few to my liking and even those conflicts feel, well, “juvenile”.

***

Ingeniously, the first chapter ended with a cliff hanger, where the last “spore jump” they attempted went incomplete, stranding USS Discovery nobody knew where, and Lt. Paul Stamets, whom had to steer the ship physically in each jump, reached the limit of the side effect and broke down. I felt like this was an opportunity the writers made to “kill off” the spore drive idea (As we knew it would not work eventually anyway, otherwise the entire Star Trek: Voyager became irrelevant and stupid); and to start “fresh” the next chapter.

***

Nevertheless, I guess the most important thing is that I still enjoy the show after all. It is just that I feel like the Star Trek identity has been lost a little bit. So it is interesting to see how the second chapter will pan out, and even the second season which apparently has been ordered!!

Do you watch the series? And if so, what do you think about it?

BAHASA INDONESIA

Jadi bab pertama (baca: sembilan episode pertama) dari musim pertama (yang dijadwalkan akan terdiri atas lima belas episode) seri baru Star Trek: Discovery sudah selesai ditayangkan pertengahan November ini. Tentu saja aku excited banget ketika acaranya mulai ditayangkan awal musim gugur ini; tetapi sekarang aku sudah menonton cukup episode untuk membentuk opiniku akan seri ini. Dan di posting ini aku akan membagikannya…

Pertama-tama, sejauh ini aku menikmati acaranya. Aku merasa acaranya seru banget dan jalan ceritanya juga ditulis dengan baik. Lebih jauh lagi, untukku karakter-karakternya juga amat menarik karena mereka tidak hanya fokus terhadap pejabat senior (seperti di seri-seri Star Trek lainnya) tetapi juga fokus kepada kru berpangkat “rendahan”. Kaptennya sendiri juga nampak, sedikitnya, seperti seseorang yang “bermasalah” yang mana tentu membuat jalan ceritanya semakin menarik, dan sepertinya juga ada tokoh “peluru perak” di sisi Klingon, sisi “antagonis” dari seri ini. Jadi secara umum aku merasa bahwa seri kali ini sangat amat “kaya” dari segi karakter, yang mana merupakan satu poin kelebihan dari seri kali ini.

Ada beberapa detail yang tidak aku sukai, tapinya, yang mana terutama adalah teknologi berbasis spora jamur yang memunginkan mereka bisa bepergian secara instan ke seluruh penjuru alam semesta (Aku merasa konsepnya “konyol” dan membuatku amat tidak “sreg” terutama mempertimbangkan waktu jalan cerita seri ini yang adalah sebelum masanya The Original Series apalagi The Next Generation dan Voyager). Aku juga tidak suka disain kapal USS Discovery-nya; yang mana sudah aku sebutkan semenjak dulu sih, haha 😆 . I

Namun, ada satu faktor besar lainnya yang mengecewakanku. Bagiku seri ini kehilangan satu identitas dari suatu seri Star Trek: konflik sosial/interpersonal/intrapersonal yang diangkat di banyak episode seri-seri Star Trek lainnya. Nah kan, sayangnya keseruan dari jalan ceritanya harus dibayar dengan banyak fokus di sisi “action” (yang mana mengakibatkan keseruan terbentuk). Efek samping dari ini adalah, bagiku, walaupun aku menonton suatu acara yang melibatkan karakter-karakter dan setting-nya Star Trek, entah mengapa aku merasa tidak seperti menonton suatu seri Star Trek.

Satu dari banyak alasan aku menyukai seri Star Trek adalah banyak episodenya yang mengangkat tema interaksi/konflik sosial/batin yang bisa aku hubungkan dengan kehidupanku (baik itu pribadi ataupun profesional), bahkan terkadang juga mempertanyakan status quo dan mengangkat tema konflik etika yang kental. Episode-episode ini membuatku berpikir akan dilema di situasi-situasi tersebut dan di beberapa darinya membuatku berpikir apakah yang akan kulakukan andaikata aku berada di situasi itu; sesuatu yang sangat aku nikmati. Tentu saja tidak semua episodenya seperti ini ya, dimana ada beberapa episode yang fokus kepada sisi action-nya supaya tingkat keseruannya masih terjaga. Aku paham sih kebanyakan fokus ke sisi sosialnya akan membuat acaranya menjadi “membosankan” yang ujung-ujungnya menyebabkan rating yang rendah (Menurutku ini lah alasan Enterprise di awal tahun 2000an “gagal”); tetapi di sisi lain sama sekali menghilangkan aspek ini dari acaranya juga terasa seperti menghilangkan satu identitas dari acaranya. Yah, setidaknya bagiku sih… .

Sebenarnya bukannya juga penulis sama sekali menghilangkan aspek konflik sosial dari jalan ceritanya sih. Masih ada kok, misalnya di episode dimana Kapten Lorca menjadi tawanan Klingon dan Discovery berusaha menyelamatkannya. Satu-satunya cara bagi krunya untuk bisa melaksanakan tugas itu adalah dengan menyiksa seekor binatang. Namun, bagiku konflik-konflik ini masih terlalu sedikit dan konflik yang ada pun terasa, hmm, “kekanakan”.

***

Bagusnya, bab pertama ini berakhir dengan cliff hanger, dimana “loncatan spora” terakhir yang mereka lakukan tidak berlangsung secara penuh, sehingga USS Discovery terdampat entah dimana, dan Lt. Paul Stamets, yang harus secara fisik menyetir pesawatnya di setiap loncatan, mencapai batas dari efek samping yang harus ia derita darinya dan ambruk. Aku merasa ini adalah kesempatan yang memang dibuat oleh penulisnya untuk “membuang” ide mesin spora ini (Karena toh kita tahu mesin ini pasti pada akhirnya tidak akan bekerja, karena jika tidak keseluruhan cerita Star Trek: Voyager menjadi tidak relevan dan bodoh); dan untuk memulai bab selanjutnya dengan “segar”.

***

Walaupun begitu, aku rasa yang paling penting sih toh aku masih menikmati acaranya ya. Hanya saja memang rasanya satu identitasnya Star Trek sedikit hilang. Jadi menarik juga melihat bagaimana bab duanya akan berlangsung, dan bahkan musim kedua yang mana ternyata sudah dipesan!!

Apakah Kamu juga menonton acara ini? Jika iya, apakah pendapatmu sejauh ini?

#2012 – Fall TV Season

ENGLISH

Traditionally the Fall TV season has been my favorite because new seasons of series are, usually, premierred at this time. And this season, thankfully, is no different 😛 .

For once, obviously there is Star Trek: Discovery!! Anyway, I feel like the focus of this series has been more on the “action” side rather than on the “social/interpersonal/intrapersonal conflict” that is easy to relate to our daily lives normally present in other series. So this is why I have been feeling different “vibes” from this series. Having said that, thankfully the writers do not forget on the character development side, I feel. Nonetheless, all in all, I still enjoy this series, though!

Speaking about Star Trek, actually when I was wondering what should I watch after I finished remarathoning the entire nine seasons of HIMYM, I decided to remarathon Star Trek: Voyager, haha. There were seven seasons of Voyager and because each episode was around 45 minutes (each episode was made for a one-hour show, thus 15-ish minutes for advertisement which I could entirely skip thanks to Netflix, yeay!) so I knew it would take some time before I finished them all. Well, now I am already at the last season, though, haha 😛 .

Fall also means the return of one of my most favorite reality show: The Apprentice UK! Yes, BBC One runs its thirteenth series this year (including its spin-off, The Apprentice: You’re Fired, on BBC Two)!! And as always, it has been as interesting as ever!! 😀

These three shows have kept me “busy” enough that I don’t have the time to watch some other series at the moment! Haha 😀 . Anyway, another good news for a reality show (to me) is that The Amazing Race 30 started filming about a month ago, indicating that a 30th season is, well, a reality! Yeay 😀 . It will probably air next Spring, though; but with these three other series already keeping myself busy, I am actually glad it is for next year! Haha 😛

BAHASA INDONESIA

Biasanya musim gugur untuk urusan per-TV-an adalah musim favoritku karena biasanya musim-musim terbaru dari beberapa acara TV kan dimulai di waktu ini ya. Dan musim gugur kali ini, untungnya, juga begitu 😛 .

Pertama-tama, jelas dong ya ada Star Trek: Discovery!! Ngomong-ngomong, aku kok merasa fokus dari acara ini berada lebih di sisi “action“-nya ya daripada “urusan konflik sosial/interpersonal/intrapersonal” yang mudah kita kaitkan dengan kehidupan sehari-hari kita seperti yang sering diangkat di seri-seri Star Trek lainnya. Oleh karenanya, aku merasa “aura” seri ini agak berbeda dari seri-seri lainnya itu. Walaupun begitu, untungnya setidaknya penulisnya masih tidak melupakan urusan perkembangan karakternya sih. Namun, secara keseluruhan aku masih menikmati seri ini kok!

Ngomong-ngomong tentang Star Trek, sebenarnya ketika aku galau mesti nonton apa setelah aku selesai menonton ulang keseluruhan sembilan musimnya HIMYM, aku memutuskan untuk menonton ulang Star Trek: Voyager, haha. Voyager terdiri dari tujuh musim dan karena setiap episode mengambil waktu 45an menit (setiap episode dibuat untuk penayangan satu jam di TV, jadi 15an menit untuk iklan gitu yang mana bisa aku lewatkan berkat Netflix, hore!) sehingga aku tahu akan memakan waktu lumayan juga lah ya sampai menamatkannya. Eh tetapi sekarang aku sudah sampai di musim terakhir sih, haha 😛 .

Musim gugur juga berarti kembalinya dari salah satu reality show favoritku: The Apprentice UK! Iya, BBC One menayangkan musim ketiga-belasnya tahun ini (dan juga termasuk spin-off-nya The Apprentice: You’re Fired di BBC Two)!! Dan seperti biasa, acara ini selalu menarik untukku!! 😀

Tiga acara ini sudah membuatku cukup “sibuk” sehingga aku tidak memiliki waktu untuk menonton acara-acara lain! Haha 😀 . Ngomong-ngomong, ada berita baik loh (untukku sih) dimana The Amazing Race 30 sudah mulai filming nih sebulanan yang lalu, yang berarti sudah ada kepastian akan musim ke-30 lah ya! Hore 😀 . Acaranya mungkin baru ditayangkan musim semi tahun depan sih; tetapi dengan tiga acara lain ini yang sudah memakan semua waktuku, sebenarnya aku justru lega deh ini baru ditayangkan tahun depan! Haha 😛

#1998 – Star Trek: Discovery

ENGLISH

Not too long ago, I mentioned about the (what I had thought) neutral Star Trek: Voyager topic which suddenly “lost” its neutrality so I, to some degree, was “forced” to publish it asap. And here is the reason why:

In an unexpected (for me) turn of event of the year, it turned out that a new Star Trek series was released this September: Star Trek: Discovery!! 😱

Yes people, there was a new Star Trek series!! As in a new one after Star Trek: Enterprise that was aired in the early 2000s!

Obviously as a self-proclaimed Trekkies, I was very excited about this! Luckily to me, I could find this series in the Dutch Netflix! So I guess afterall I would not need to worry about finding a new series to follow after marathoning the entire nine seasons of HIMYM anyway, haha 😛 .

***

The first two episodes of the series were actually just “prologue”, where not even all of the main characters were introduced yet. I found it interesting that watching those first two episodes actually felt more like watching a Star Trek movie (though with a cliff-hanger ending) rather than a two-part episode of a Star Trek TV-series. But I guess this was intended 🙂 .

This made the start of the show and the general outlook a “breathe of fresh air”, IMO. The main character of the show, Michael Burnham, was sentenced for life at the end of the prologue. We entered the main setting of the show, USS Discovery, in the third episode following her point of view, as a “newbie” and an “outcast” (Remember that she is a prisoner) in an already established crew and ship in the middle of their mission. She was invited to join the crew by the USS Discovery’s captain, Gabriel Lorca, himself who was, obviously, well aware of Burnham’s status which he didn’t care about.

Indeed it is interesting that the captain here arguably is not the lead character of the show, unlike other Star Trek series!! On top of that, casting Jason Isaacs, the actor who played Lucius Malfoy in the Harry Potter movies, as the captain was a brilliant decision because the captain was depicted, somehow, like a “freak” at the beginning of the series. So I think it was a perfect match 🙈.

Anyway, the storyline took place at about 10 years before Star Trek: The Original Series timeline, and about 100 years before The Next Generation and Voyager. And so it felt a little bit funny to me that the technology in this series, due to the latest and more advanced CGI technique, appeared to be more advanced than those three other series while in the story, this series should have been much less advanced, haha 😛 .

***

When I first learned about the timeline, to be honest I was a little bit disappointed. I mean, the “reboot” movie installments (which three movies have been produced since 2009) also “anchored” themselves around The Original Series. And so I wish for the TV series, the writers would have chosen to fall closer to The Next Generation or Voyager timeline. But this was probably me being biased, as I was more familiar with The Next Generation or Voyager.

Oh, and one more thing, somehow I don’t really like the design of USS Discovery.

Ah well, there is no use in complaining for now. I guess, it is better for me to just sit back, relax, and enjoy this unexpected surprise!! 🙂

BAHASA INDONESIA

Belum berapa lama yang lalu, aku sebutkan bahwa topik yang (dulunya kukira) netral: Star Trek: Voyager tiba-tiba kehilangan “kenetralannya” sehingga “memaksaku” untuk mempublikasikan posting itu segera. Nah, ini lah alasan di balik itu:

Ternyata, tidak disangka-sangka (bagiku), sebuah seri baru Star Trek dirilis dong bulan September ini: Star Trek: Discovery!! 😱

Iyaaa, satu seri baru dari Star Trek!! Baru dalam artian sekarang ada seri selanjutnya setelah Star Trek: Enterprise di awal 2000an!

Jelas dong sebagai orang yang mengaku-aku sebagai Trekkies, aku excited banget dengan ini! Beruntungnya aku, aku bisa menemukan seri ini di Netflix-nya Belanda loh! Jadi sepertinya memang aku tidak perlu galau mau menonton seri baru apa setelah selesai maraton menonton kesemua sembilan musim dari HIMYM, haha 😛 .

***

Dua episode pertama dari seri ini ternyata hanyalah “prolog” saja, dimana bahkan belum semua karakter utamanya diperkenalkan. Bagiku menarik dimana menonton dua episode pertama justru serasa seperti menonton filmnya Star Trek (walaupun dengan cliff hanger di ending-nya) bukannya episode dengan dua bagian dari serial TV-nya Star Trek. Tetapi mungkin memang sengaja dibeginikan sih ya 🙂 .

Ini membuat permulaan serinya dan serinya secara umum terasa “segar” untukku. Karakter utama seri ini, Michael Burnham, ceritanya dihukum penjara seumur hidup di akhir prolog. Nah, kita diajak memasuki setting seri ini, USS Discovery, di episode ketiga dengan mengikuti sudut pandangnya, sebagai “anak baru” dan “anak yang dijauhi/ditakuti/dibenci” (Ingat, dia ini berstatus tahanan penjara/napi) di dalam kru dan kapal yang sudah cukup “mapan” di tengah-tengah misi mereka. Ia diajak bergabung ke dalam kru langsung oleh kapten USS Discovery sendiri, Gabriel Lorca, yang mana tentu tahu mengenai status tahanan Burnham ini tetapi tidak ia pedulikan.

Memang menarik bahwa di seri ini, kaptennya bisa dikatakan bukan karakter paling utama dari acaranya, tidak seperti seri-seri Star Trek lainnya!! Di atas itu semua, pemilihan Jason Isaacs, aktor yang memainkan Lucius Malfoy di film-film Harry Potter, sebagai kaptennya juga adalah pilihan yang brilian karena kaptennya digambarkan seperti seorang yang “freak” gitu di awal serinya, haha. Jadi cocok kan ya 🙈.

Anyway, jalan ceritanya berlangsung kurang lebih 10 tahun sebelum masanya Star Trek: The Original Series, dan sekitar 100an tahun sebelum masanya The Next Generation dan Voyager. Jadilah rasanya lucu juga dimana aku merasa teknologi di seri ini, akibat CGInya yang jelas lebih modern dan canggih di zaman sekarang kan, nampak lebih “maju” daripada di tiga seri lainnya itu; padahal dari segi lini masa kan seharusnya masih belum semaju itu ya 😛 .

***

Btw, ketika aku pertama kali tahu mengenai lini masa ini, sejujurnya aku sedikit kecewa. Maksudku, seri film “reboot“-nya (yang mana tiga film layar lebar sudah diproduksi sampai saat ini) kan juga “berpatokan” pada The Original Series. Jadilah bagiku seri TV ini akan lebih oke andaikata lebih dekat ke linimasanya The Next Generation atau Voyager kan; supaya adil gitu. Tetapi pendapatku ini mungkin sedikit bias sih, karena aku lebih familier dengan The Next Generation atau Voyager.

Oh iya, penting banget nih. Entah mengapa aku kurang menyukai disain pesawat USS Discovery, haha.

Ah sudahlah, nggak ada gunanya komplain sekarang kan. Aku rasa, sekarang ini lebih baik aku duduk manis, bersantai, dan menikmati kejutan tak terduga ini!! 🙂

#1984 – HIMYM, Three Years Later

ENGLISH

In June I shared about my new subscription with Netflix and how I found it surprising that I could not find Friends or The Big Bang Theory there but, at least, I got How I Met Your Mother (HIMYM). Anyway, because of this, since then I have been running a marathon on HIMYM and, as of recently, I finally finished all nine seasons! Haha 🙈.

I have quite a “long” history with HIMYM. I first watched it in Star World in 2007, quite possibly at this time, and was immediately captivated by its brilliant Pilot episode. I watched its first three seasons sporadically in Star World before moving to the Netherlands in 2010. And then, I learned about the possibility to catch it up online that was highly supported by the amazing internet speed, haha 😆 . So I went on a marathon to catch up (Star World was behind by two seasons, btw, as HIMYM was premierred in 2005 actually). And early in 2014, I watched its final episode.

And that, kids, is how I met your mother.

– Ted Mosby

You see, at the time I was very disappointed with the ending. I mean, I am all in with twists or surprises, as long as those “worked”; but this twist the writers chose for the ending of such a wonderful sitcom did not feel like “working”, at least to me. I mean, I understood the “logic” behind it but this did not mean that I would like it, right? And I really didn’t.

I thought time might change my mind. You know, afterall people change anyway. But here I am, after re-marathoning the entire nine seasons of HIMYM more than three years after the conclusion of its last season, I can say that my position on the show’s finale turns out to still be the same. I still feel disappointed with the ending #consistency, haha 😆 .

Nonetheless, the show is not only about how it ends. There are a lot of gems in the show. And I am especially glad I got to watch the first a few seasons because I, honestly, had apparently forgotten quite many details about those so watching some of those episodes still felt like watching new ones at times, haha. So even though I am disappointed with the ending, I still enjoyed Ted’s super long story on how he met his children’s mother (read: his wife).

And so, despite the disappointing ending, I still can say this show is one of my favorites 🙂 .

Well, now that I have finished the entire nine seasons, I guess I need to find another (long) series to watch. Too bad the Game of Thrones is not on Netflix (My new colleague has become like the 5437th person who has recommended me to start watching this series, btw, haha 😆 ), hmm…

BAHASA INDONESIA

Juni lalu aku bercerita mengenai keanggotaan baruku dengan Netflix dan bagaimana aku cukup kaget aku tidak bisa menemukan Friends atau The Big Bang Theory di sana tetapi, setidaknya, masih ada How I Met Your Mother (HIMYM) sih. Nah, karena ini, semenjak waktu itu aku sudah marathon nonton HIMYM dan baru-baru ini aku sudah selesai menonton ulang semua sembilan musimnya dong! Haha 🙈.

Sejarahku dengan HIMYM ini cukup “panjang”. Aku pertama kali menontonnya di Star World di tahun 2007, kurang lebih waktu ini, dan aku langsung terpesona dengan episode Pilot-nya yang brilian banget. Aku menonton tiga musim pertamanya secara loncat-loncat di Star World sebelum aku kemudian pindah ke Belanda di tahun 2010. Dan kemudian, aku menemukan yang namanya menonton acaranya online yang mana didukung dengan kecepatan internet yang oke banget untuk itu, haha 😆 . Jadilah aku menontonnya marathon untuk catch-up (Star World tertinggal selama dua musim, btw, karena HIMYM sebenarnya mulai ditayangkan di tahun 2005). Dan di awal tahun 2014, aku menonton episode terakhirnya.

And that, kids, is how I met your mother.

– Ted Mosby

Waktu itu aku merasa amat kecewa dengan akhir ceritanya. Maksudku, aku oke-oke saja sih dengan yang namanya plot twists atau kejutan-kejutan gitu, tentunya selama kejutannya “bekerja” dengan baik ya; tetapi aku merasa twist yang dipilih penulis naskahnya untuk akhir dari sitcom yang keren banget ini rasanya malah “gagal” gitu deh, setidaknya untukku. Maksudku, aku bisa memahami “logika” di baliknya sih tetapi bukan berarti aku akan menyukainya kan? Dan aku benar-benar tidak menyukainya waktu itu.

Waktu itu aku berpikir mungkin waktu akan mengubah pikiranku. Tahu kan, toh setiap orang itu bisa berubah, haha. Tetapi di sini lah aku, setelah marathon sepanjang sembilan musimnnya HIMYM lagi lebih dari tiga tahun semenjak akhir acaranya ditayangkan, aku bisa bilang bahwa pendapatku akan akhir dari acara ini ternyata masih sama. Aku masih merasa kecewa dengan akhirnya #konsisten, haha 😆 .

Toh walaupun begitu, acara ini bukanlah sekedar akhirnya saja kan. Ada banyak kok momen-momen seru dan bagus banget di sepanjang acara ini. Dan aku merasa senang aku bisa menonton lagi beberapa musim awal-awal karena aku, sejujurnya, ternyata sudah lupa beberapa detail ceritanya sehingga beberapa episodenya masih terasa baru untukku, haha. Jadi walaupun aku kecewa dengan akhir ceritanya, aku masih menikmati cerita super panjangnya Ted tentang pertemuannya dengan ibu dari anak-anaknya (baca: istrinya).

Dan jadilah, walaupun aku kecewa dengan akhirnya, aku masih bisa berkata bahwa acara ini adalah salah satu acara TV favoritku 🙂 .

Yah, sekarang dimana aku sudah menyelesaikan sembilan musim HIMYM, aku rasa aku membutuhkan acara (panjang) lainnya nih. Sayang Games of Thrones nggak ada di Netflix (Kolega baruku barusan menjadi orang ke-5437 yang merekomendasikanku untuk menonton acara ini nih, btw, haha 😆 ), hmm…

#1934 – The Amazing Race 29

ENGLISH

One of the current TV shows (well, if not the “only” show 😛 ) I have been following lately is The Amazing Race 29. And last week, this season was concluded with its final leg in Chicago!

This has been another amazing season of The Amazing Race. Its unique concept of pairing 22 strangers turned out to be a nice one, where some teams got in fights (unsurprisingly) because of their “unfamiliarity” between partners and the personality difference between them. However, this did not really change the overall dynamic in the show, in my opinion, because even teams with pre-existing relationship could still get into fights just because of the stressful environment of the race.

Acropolis was the pitstop of the Athens leg

I also really liked it that the teams were not shy of using the three double u-turns throughout the race! Surely this would make the show more interesting where some teams got pressed because they were being u-turned, or that another team u-turned their “ally” team so to help them they u-turned another team, lol 😆 .

The “design” of the tasks and race, however, felt a little bit clumsy especially in the first half of the season, though this improved a lot towards the end. For instance, it was a no brainer at the Lake Como leg that whoever got u-turned would get eliminated due to the five minutes interval between the one team per ferry ride they had to take. However, the Ninh Binh leg was an extremely brutal leg physically, and so “fun” to watch (but not fun for the racers to race, obviously; and I felt bad for Floyd). It was followed up with the awesome Seoul leg where all of the tasks were “so Korean”, even including playing a video game match against professional!

The racers had to go to Gangnam in the Seoul leg.

*** Spoilers alert, but it has been more than a week anyway so perhaps nothing are “spoilers” anymore 😛 ***

My favorite team of this season was: Brooke and Scott, haha 😆 . This might come as a “surprise” given the “villain” stamp the editors appeared to give them; and that Brooke was a total drama panicky queen. But I did find the dynamic between the two interesting because Scott tried to calm Brooke down and they strategized really well throughout the race, clearly “students” of the show! And in the end, Brooke and Scott ended up winning the 29th season!!

I am glad that The Amazing Race has been renewed to, at least, one more season!! The drop in TV ratings and the more than one year distance between the premiere of season 28 and 29 had “worried” me a little bit, to be honest. Well, now I just can’t wait for the next season!! 🙂

BAHASA INDONESIA

Satu dari acara TV baru (eh, kalau bukan “satu-satunya” sih 😛 ) yang aku ikuti baru-baru ini adalah The Amazing Race 29. Dan minggu lalu, musim ini berakhir dengan babak terakhirnya di Chicago!

Musim ini adalah musim yang seru lagi dari The Amazing Race. Konsep uniknya dimana mereka memasangkan 22 orang yang tidak mengenal satu sama lain ternyata oke juga, dimana beberapa tim jadi bertengkar (nggak heran) karena “ketidak-kenalan” mereka satu sama lain. Namun, menurutku ini tidak terlalu mengubah dinamik acaranya sih, karena toh walaupun sudah mengenal rekan satu tim sebelumnya pun mereka masih bisa bertengkar kok, ya karena suasana yang stressful dari race-nya kan.

Acropolis adalah pitstop di babak Athena

Aku juga suka banget tim-timnya nggak malu-malu untuk menggunakan tiga double u-turn di sepanjang musim ini! Jelas ini membuat acaranya semakin menarik ya dimana beberapa tim sebel banget dan kemudian marah-marah dong kena u-turn, atau satu tim me-u-turn satu tim “teman”-nya mereka sehingga untuk menolong tim “teman” ini, mereka me-u-turn tim yang lain, haha 😆 .

“Disain” dan tugas-tugas di musim ini nampak cukup ceroboh terutama di setengah pertama musim ini, walaupun ini menjadi jauh lebih baik di akhir-akhir. Misalnya saja, jelas banget di babak Danau Como, siapa yang di-u-turn sudah hampir pasti tereliminasi akibat interval lima menit di antara kapal ferry yang dinaiki masing-masing tim. Namun, babak Ninh Binh adalah babak yang sangat brutal dalam hal fisik, sehingga “seru” untuk ditonton (walaupun jelas tentunya nggak seru untuk racers-nya sih, aku merasa iba terhadap Floyd). Babak ini diikuti dengan babak Seoul yang mana semua tugas-tugasnya “Korea banget”, bahkan termasuk main video game melawan profesional!

Racers harus pergi ke area Gangnam di babak Seoul.

*** Spoilers alert, eh tetapi sudah seminggu lebih ya jadi mungkin sudah nggak ada yang namanya “spoilers” lagi 😛 ***

Tim favoritku musim ini adalah: Brooke dan Scott, haha 😆 . Ini mungkin cukup “mengagetkan” karena label “tokoh jahat” yang ditempelkan editor-nya kepada mereka; dan juga Brooke nampak seperti seorang drama queen yang gampang panik. Tetapi aku merasa dinamik di antara keduanya sangat menarik karena Scott selalu berusaha menenangkan Brooke dan mereka juga berstrategi amat baik di sepanjang musim, jelas deh mereka “mempelajari” acara ini! Dan pada akhirnya, Brooke dan Scott juara!!

Aku merasa lega bahwa The Amazing Race sudah diperpanjang, minimal, satu musim lagi!! Turunnya rating di TV dan adanya jarak setahun lebih di antara mulai ditayangkannya musim 28 dan musim 29 sempat membuatku sedikit “khawatir”, sejujurnya. Dan sekarang, aku sudah nggak sabar nih menunggu musim selanjutnya!! 🙂