My Interest, Review, TV Show

#2172 – Star Trek The Original Series


After finishing the entire four seasons of Black Mirror, I decided to give Star Trek The Original Series (TOS) a try.

Actually I had heard or read of great stuffs about this classic series from the 1960s. Basically all information that I got about this show was that it was highly recommended. However, you may call me shallow for this, but I hadn’t had the interest to watch this series mainly because of … the visual reason! Lol 😆 . I believed it would be very difficult for me to be able to enjoy a series with very “out of date” visual.

Btw I actually had watched some of the movies based on this series that were produced in the 1980s and the 1990s, and I actually enjoyed them. The one that left the most impression on my memory was Star Trek IV: The Voyage Home, which was released in 1986 but I only watched some ten years later in the 1990s (obviously as I hadn’t even been born yet in 1986 😛 ).

Anyway, I figured that trying out one episode of the series wouldn’t hurt. I decided to give it a go and to decide afterwards if I would like to continue or not. To my surprise, I actually enjoyed it!! The “outdate” visual did not bother me that much (Though, granted, I got the remastered version from my Netflix which improved the quality of the visual, especially the effect, a lot. This admittedly helped); and the story was actually great and “in line” with my “conception” of Star Trek. And so since then I decided to give it a go!! 😀 And I can say that I am glad now that apparently, I am not that “shallow” afterall, haha 😛 .

And indeed the series was a classic one! Needless to say, so far I have really been enjoying it; and I now wonder less why it was decided that the newer “installments” (the movies series that have been produced since 2009 and Star Trek: Discovery) would anchor on TOS rather than the “Next Generation” era. I believe part of that reason was that because TOS was more “raw”, as in the storyline was less political and focused less on human internal conflicts (hence “simpler”) which allowed for more “action”; but all these were still in good balance which made the series a classic one!

In a sentence: I truly enjoy this series! Too bad it only lasted for three seasons, though…

Having said that, being produced in the 1960s, certainly the series was also influenced by that era. One of the easiest thing to notice was the role of some of the female characters and how these characters were portrayed. Certainly it is not fair, nor right, to view this portrayal using today’s perspective, so let’s just say that I am very happy with how the human race has progressed in the last 50 years or so! Though, in a way the following line by Capt. Janeway in Star Trek: Voyager summarized this really well.

So, have any of you watched this series as well? And if so, what is your take on it?


Setelah selesai menonton keseluruhan empat musim dari Black Mirror, aku memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Star Trek The Original Series (TOS).

Sebenarnya sudah sering aku mendengar atau membaca hal-hal positif tentang serial klasik dari tahun 1960an. Pada dasarnya segala informasi yang kudapatkan tentangnya adalah acara ini sangat amat direkomendasikan. Masalahnya, boleh deh aku dibilang dangkal karena ini, sebelum ini aku tidak begitu tertarik untuk mengikutinya karena … alasan visual! Haha 😆 . Sulit kubayangkan aku bisa menikmati sebuah serial yang visualnya “ketinggalan zaman” banget.

Btw aku sebenarnya sudah pernah menonton beberapa film berdasarkan serial ini yang diproduksi di tahun 1980 dan 1990an, dan sebenarnya aku menikmatinya sih. Yang paling berkesan di ingatanku adalah Star Trek IV: The Voyage Home, yang dirilis di tahun 1986, tapi baru aku tonton sekitar 10an tahun kemudian di tahun 1990an (karena jelas lah ya bahkan aku belum lahir di tahun 1986, haha 😛 ).

Anyway, aku pikir menonton satu episode nggak apa-apa lah. Aku putuskan untuk mencicipinya dan setelahnya baru kuputuskan apakah mau lanjut menontonnya atau tidak. Yang mengejutkanku, ternyata aku menikmatinya dong!! Visualnya yang jelas “ketinggalan zaman” tidak begitu menggangguku (Walaupun memang sih, aku mendapatkan versi remastered-nya di Netflix yang mana kualitas visualnya juga sudah ditingkatkan dengan teknologi. Harus diakui ini sangat membantu); dan jalan ceritanya sendiri memang keren dan seru banget, dan “senada” dengan “konsepku” akan Star Trek. Dan jadilah aku putuskan aku akan menonton serial ini!! 😀 Dan juga sekarang aku bisa bilang bahwa aku lega karena ternyata aku tidak “sedangkal” itu, haha 😛 .

Dan memang serial ini klasik banget deh! Tak perlu kuceritakan lebih jauh bahwa aku menikmatinya; dan sekarang aku lebih tidak heran mengapa adaptasi-adaptasi barunya (seri film yang sudah diproduksi sejak tahun 2009 dan juga Star Trek: Discovery) bersandar ke TOS ini bukannya ke eranya “The Next Generation”. Aku lumayan yakin salah satu alasannya adalah TOS ini lebih “mentah”, dalam artian jalan ceritanya tidak begitu sarat politis ataupun fokus pada konflik internal kita sebagai manusia (sehingga bisa dibilang “lebih sederhana”) yang mana artinya lebih banyak bumbu “action” yang bisa dibubuhkan; tapi semua ini masih diatur dengan keseimbangan yang pas sehingga acaranya menjadi sebuah acara klasik!

Jadi secara singkatnya: Aku sungguh menikmati serial ini! Sayang cuma ada tiga musim sih…

Walaupun begitu, namanya aja diproduksi di tahun 1960an, jelas serial ini juga dipengaruhi oleh kehidupan di era tahun segituan lah ya. Salah satu aspek yang nampak jelas adalah pekerjaan dan posisi dari beberapa karakter perempuan dan penggambaran karakter-karakter ini. Eh, tentu sangat tidak adil, dan tidak benar, juga untuk memandang penggambaran ini dengan menggunakan kacamata zaman sekarang ya. Tapi setidaknya bisa kubilang bahwa aku sungguh senang akan kemajuan umat manusia dalam 50 tahun terakhir ini! Walaupun begitu, kebetulan banget satu kalimat dari Kapten Janeway di Star Trek: Voyager berikut ini merangkum semua ini dengan pas.

Jadi, apakah ada yang sudah menonton serial ini juga? Dan jika demikian, bagaimanakah pendapatmu?

TV Show

#2165 – Black Mirror


Some time ago when I asked for suggestions of a good TV show to watch, Fahrizinfa recommended Black Mirror. I then checked my Netflix and I was really glad to find its entire four seasons in the library! 😀

For those not familiar with the series, Black Mirror is a British science-fiction anthology (so it tells an independent story in each episode) which focuses on the “extrapolation” of current technologies and the consequences. Well, mostly not on the positive ones; but rather more on the opposite, unexpected ones which makes the series, to some degree, quite “vulgar” and could be “sickening” too. As such, the series felt really “dark” and “satirical”; but with great (implicit) messages which made me think of today’s life and society.

What happened next during this reality show audition would eff your mind (season 1, episode 2)

In one sentence: I LIKE this series!! :mrgreen: You know, in general I really like series which with its stories makes me “think” of something. Don’t get me wrong, I also enjoy “lighter” entertaining shows too, sometimes; but usually those that make me “think” would make better impression for me and, thus, “last” longer in my mind 😛 . Though, I give this show an extra bonus point because there is one Star Trek-themed episode too! Lol 😆

And the Star Trek-themed episode happens to be one I like the most too!! *an unbiased opinion here, haha 🙈 *. I really like the storyline (aside from the fact that it is Star Trek-themed 😛 ) and, coincidentally, Cristin Milioti, the actress who played “The Mother” in How I Met Your Mother, played the protagonist on this episode!! You see? Seeing Ted Mosby’s wife as a crew in a Star Trek-themed spaceship on a Black Mirror episode. Surreal!! 😛

Tracy McConnell, is that you? 😱

I have finished watching the entire series. Wait, didn’t I just say that there are four seasons of this series? How come I did it so quickly? Yep, if I have to name one “downside” of the series is the few number of episodes it has. In fact, the first two seasons only consist of three episode each, whereas the last two six. Adding in one special episode “between” season two and three, in total there are only 19 episodes overall, haha…

Though, of course not all episodes were created “equal”. I liked the third season the least, as I felt like the series went “off course” due to an overdose of horror and thriller element in some of the season’s episodes (And I personally don’t like these two genres). Coincidentally, this was also the first season after Netflix purchased the series in 2015. And the difference pre- and post- Netflix was contrasting enough that I could “feel” it when I started season 3. Well, perhaps this was also because I watched the show in marathon, haha 😆 .

Speaking of Netflix, apparently last year they released the following “crossover” clip between Black Mirror and Orange Is The New Black, titled “Orange Is The New Black Mirror“:

It was a good one, and you would understand why if you watched OITNB’s fourth season and Black Mirror’s “San Junipero” episode in season 3 (This was the best episode of the third season, IMO 😀 ).

Anyway, what excites me is that a fifth season has been announced earlier this year! I can’t wait!! So, has anyone else here watched this series as well? And, again, thanks Fahrizinfa for the great recommendation!! :mrgreen:


Beberapa waktu yang lalu ketika aku meminta saran akan acara TV bagus untuk ditonton, Fahrizinfa merekomendasikan Black Mirror. Jadilah kemudian aku mengecek Netflix-ku, dan aku senang ketika melihat keseluruhan empat musim dari serial ini ada di library-ku! 😀

Bagi yang tidak familier dengan acara ini, Black Mirror adalah sebuah antologi fiksi-ilmiah buatan Inggris (jadi setiap episode menceritakan cerita yang berbeda dan tidak berhubungan satu sama lain) yang berfokus pada “ekstrapolasi” dari teknologi saat ini dan konsekuensi darinya. Yah, kebanyakan bukan konsekuensi positifnya sih melainkan yang sebaliknya, yang tidak diharapkan, yang membuat acaranya, di satu sisi, agak “vulgar” dan bisa jadi “menjijikkan” juga. Sebagai akibatnya, serialnya memang bernuansa “gelap” dan “satir”; tetapi membawa pesan-pesan (implisit) yang bagus loh yang membuatku berpikir dan merefleksikan kehidupan dan masyarakat zaman ini.

Yang akan terjadi selanjutnya di audisi sebuah reality show ini akan mengacaukan pikiranmu (musim 1, episode 2)

Dalam satu kalimat: aku SUKA serial ini!! :mrgreen: Tahu kan, secara umum aku suka suatu acara yang ceritanya membuatku “berpikir” akan sesuatu. Jangan salah, aku juga terkadang menikmati acara hiburan yang “ringan” kok; tapi justru acara yang berat yang membuatku “berpikir” biasanya lebih berkesan untukku sehingga “bertahan” lebih lama deh di pikiranku 😛 . Eh, tapi untuk serial ini memang aku memberikan nilai bonus ekstra karena ada satu episode yang bertemakan Star Trek doong! Hahaha 😆

Dan episode yang bertemakan Star Trek ini juga “kebetulan” adalah episode favoritku!! *pendapat tidak bias loh ini, huahaha 🙈 *. Aku suka banget dengan jalan ceritanya (pun dengan mengesampingkan bahwa ceritanya bertemakan Star Trek) dan, kebetulan lagi, Cristin Milioti, aktris yang memainkan peran “The Mother” di How I Met Your Mother, juga memainkan protagonis di episode ini!! Nah kan? Jelas seru-seru kaget lah ya menonton istrinya Ted Mosby menjadi kru di sebuah pesawat luar angkasa bertemakan Star Trek di sebuah episodenya Black Mirror. Keren banget!! 😛

Tracy McConnell, kok ada kamu di sini?? 😱

Aku sudah selesai menonton keseluruhan seri ini. Eh tunggu dulu, bukannya di atas aku bilang sudah ada empat musim dari serial ini ya? Kok cepet banget selesainya? Nah, jika memang harus menyebutkan satu “kekurangan” dari serial ini, harus kubilang jumlah episodenya yang sedikit. Dua musim pertamanya masing-masing hanya terdiri atas tiga episode saja, sementara dua musim terakhir masing-masing memiliki enam. Ditambah satu episode khusus “di antara” musim kedua dan ketiga, totalnya hanya ada 19 episode saja sejauh ini, hahaha…

Walaupun jelas sih ya tentu nggak semua episodenya berkualitas “sama”. Secara keseluruhan menurutku musim ketiga adalah yang terburuk, karena aku merasa serialnya agak “keluar jalur” akibat overdosis elemen “horor” dan “thriller” yang disuntikkan ke beberapa episode di musim ini (Dan dua genre ini adalah dua genre yang paling tidak aku sukai). Kebetulan, ini adalah musim pertama yang diproduksi setelah Netflix membeli serialnya di tahun 2015. Dan perbedaan sebelum dan sesudah Netflix ini “terasa” banget dah ketika aku memulai musim ketiga. Yah, mungkin ini juga disebabkan karena aku menonton serialnya berturutan ya, haha 😆 .

Ngomongin Netflix, ternyata tahun lalu mereka merilis klip “crossover” antara Black Mirror dan Orange Is The New Black, yang berjudul “Orange Is The New Black Mirror“:

Bagus, dan pasti akan paham mengapa jika sudah menonton musim keempat OITNB dan episode “San Junipero”-nya Black Mirror di musim ketiga (Episode ini adalah episode terbaik di musim ketiga menurutku 😀 ).

Anyway, yang membuatku merasa senang adalah musim kelima juga sudah diumumkan akan diproduksi loh tahun ini! Nggak sabar nih!! Nah jadi, apakah ada yang sudah menonton serial ini juga? Dan, sekali lagi, terima kasih ya Fahrizinfa atas rekomendasinya yang oke banget!! :mrgreen:

Review, TV Show

#2148 – OITNB Season 6


Earlier this year I shared about a “new” series I followed on Netflix, Orange Is The New Black (OITNB). Btw, “new” as in I just discovered it late last year in my Netflix library while the show’s first season was actually released way back in 2013, haha 😆 . Anyway, as I said back then, I liked the series and finished watching the entire five seasons in no time (Though as I said, the show was quite vulgar). Okay, “in no time” is clearly an exaggeration as each episode was at least almost 60 minutes in length (with no commercial break) so it did take me a few months to finish them all.

And last weekend, the show’s newest season, its sixth one, was released! So of course I was quite happy as I had finished remarathoning Star Trek: TNG anyway so the timing was quite perfect for that, haha. Plus, the release date was also a Friday just before a weekend I had no travelling plan as well. Even better! Lol 😆 .

As usual, the sixth series consisted of 13 (long) episodes, and I binge-watched 11 of them through that weekend, haha 🙈 (Don’t judge, it was my resting weekend after a weekend trip the weekend before and surviving through a Summer heatwave during the week 🙈). I watched the 12th episode on Monday evening and the 1.5-hour long season finale on Tuesday. So yeah, I finished the entire season in just five days, haha 😆 .

Anyway, I really liked this season!! IMO, it was much better than the fifth season (which, IMO, was the worst); and also in the sense that it built on the mess that was that season. And to me this was what was especially good about this season, as this “arc”, where the involved inmates and guards had to deal with all the situations (personal and legal) following the riot in the fifth season, was the one I enjoyed the most!

The season was closed with a strong finale. A (rather pointless, IMO) story arc was concluded with hints of positive universal message; and, more intriguingly, some (more interesting, IMO) arcs just went even more intricate with all the injustice, ass-saving, greed, and all that; and, thus, just got more interesting. Very OINTB if you must ask me. So yeah, I cannot wait for the seventh season now! But now, unlike when I finished season five earlier this year, I really have to wait for (almost) a year for real, haha 😅.

So in the meantime, do you have any suggestions on any series you think I should follow now? :mrgreen: P.S: Please don’t say Games of Thrones as you would be like the 4768735th person who would recommend this show to me; and yes, up to now I still haven’t seen a single episode of it, despite already going on a Game of Thrones tour in Northern Ireland almost three years ago, lol 😆 .

At the Dark Hedges in Northern Ireland, apparently famous amongst Game of Thrones fans 😛


Awal tahun ini aku ceritakan tentang serial “baru” yang aku ikuti di Netflix, Orange Is The New Black (OITNB). Btw, “baru” maksudnya aku baru menemukannya akhir tahun kemarin di Netflix sementara sebenarnya musim pertama acaranya dirilis di tahun 2013, haha 😆 . Anyway, seperti yang kuceritakan waktu itu, aku suka acaranya dan aku menonton kesemua lima musimnya langsung sampai habis (Walaupun seperti yang kubilang, acaranya tergolong vulgar, haha). Oke, “langsung sampai habis” memang agak berlebihan karena setiap episodenya itu setidaknya sepanjang hampir 60 menit (tanpa iklan) jadi ya memang aku membutuhkan sekian bulan lah untuk menyelesaikan semuanya.

Dan akhir pekan kemarin ini, musim terbaru acaranya, musim keenam, dirilis! Jelas dong aku merasa senang karena waktu itu aku juga sudah selesai marathon menonton ulang Star Trek: TNG jadi timing-nya kan memang pas banget ya, haha. Apalagi, tanggal rilisnya adalah di hari Jumat sebelum akhir pekan yang mana aku tidak berencana untuk jalan-jalan juga. Pas banget deh pokoknya! Haha 😆 .

Seperti biasa, musim keenam ini terdiri dari 13 episode (panjang), dan aku menonton 11 di antaranya sepanjang akhir pekan itu, haha haha 🙈 (Eh jangan judging gitu dong, akhir pekan itu memang akhir pekan dimana aku butuh beristirahat setelah jalan-jalan di akhir pekan sebelumnya dan bertahan hidup menghadapi gelombang musim pans yang menerjan Eropa di sepanjang minggu itu 🙈). Episode ke-12nya aku tonton di hari Senin malam, dan episode terakhirnya yang sepanjang 1,5 jam di hari Selasa. Jadi, iya, satu musim aku selesaikan dalam waktu lima hari saja, haha 😆 .

Anyway, aku suka dengan musim ini!! Menurutku, musim ini lebih bagus daripada musim kelima (yang, menurutku, adalah yang terburuk); dan juga dalam hal cerita dimana musim ini “membangun” dari puing-puing cerita yang ditinggalkan di musim sebelumnya. Dan untukku ini lah yang sangat menarik dari musim ini, karena “jalan cerita” ini, dimana tahanan dan sipir-sipir yang terlibat harus menghadapi situasi (baik itu personal maupun legal) dari kekacauan (riot) di musim kelima!

Musim ini juga ditutup dengan episode terakhir yang ceritanya “kuat”. Satu jalan cerita (yang menurutku tidak berguna dan kurang menarik) terselesaikan dengan pesan universal positif; dan, lebih serunya, beberapa jalan cerita lainnya (yang, menurutku, jauh lebih menarik) bertambah ruwet dan kacau akibat ketidak-adilan, kepengecutan, keserakahan, dan lain-lainnya itu lah; sehingga malah jadi tambah menarik kan ya. Sangat OINTB gitu menurutku. Jadi, aku sudah nggak sabar nih untuk musim ketujuh! Tapi sekarang, nggak kayak beberapa bulan lalu ketika aku selesai menonton musim kelima, aku beneran harus menunggu (hampir) satu tahun nih untuknya, haha 😅.

Nah, jadi untuk sementara itu, apakah ada yang punya masukan akan serial bagus yang bisa aku ikuti? :mrgreen: P.S: Tolong jangan bilang Games of Thrones yah karena kamu akan menjadi orang ke-4768735 yang merekomendasikan acara ini kepadaku. Dan ya, bahkan sampai sekarang aku masih belum menonton satu episode pun; walaupun aku sudah pernah ikutan tur Game of Thrones di Irlandia Utara hampir tiga tahun yang lalu, hahaha 😆 .

Di Dark Hedges di Irlandia Utara, yang mana terkenal di kalangan fans-nya Game of Thrones 😛
My Interest, TV Show, Zilko's Life

#2142 – Star Trek TNG and Enterprise


So last year I decided to marathon-watch Star Trek: Voyager via Netflix. And obviously by now I have finished the entire seven seasons of the series, haha.

Since then, as my Instagram followers (@azilko) through the cool Instagram Story feature would have perhaps known, I have actually decided to rewatch two other Star Trek series: Star Trek: Enterprise (2001-2005) and the super popular Star Trek: The Next Generation (1987-1994)!

I rewatched Star Trek: Enterprise first. Call me shallow, I made this decision because this series was the newest of all (well, apart from Star Trek Discovery of course), which would imply it had the best visual/graphic of all the series. I mean, I have to admit that visual plays a great role in my enjoyment of a TV-series. And obviously, having been spoiled with the recent advancement in this department put the older series in serious disadvantage in my eyes!

Anyway, while overall I still enjoyed the series, I understood why this series was cancelled just after four seasons. The first two seasons were so “bad”, in the sense that I felt like they focused on the “wrong” things with generally shallower content AND much less action. The third season was the best one with the exciting Xindi-arc; but the damage had already been done by the first two seasons so I could imagine the rating was difficult to recover. I found the fourth season not as exciting as the third but was still better than the first two, haha.

After I completed Star Trek: Enterprise, I hesitatingly decided to give the super popular Star Trek: The New Generation (TNG) a chance. To my pleasant surprise, apparently a few years ago there was a remastering project going for the entire series, which basically improved the visual/graphic A LOT! It happened that my Netflix contained this remastered version!! I love you Netflix! Haha 😛 .

Btw, I did watch quite some episodes of this series when I was a kid, but I didn’t remember most of them as those were from before the Voyager era, even the first season was premiered a year before I was born! Lol 😆 .

Anyway, this series blew my mind! It was, indeed, really, really good; and I do appreciate it much more now than I perhaps was when I was just a kid!! No wonder it was THAT popular! This was the Star Trek that I (unconsciously) remembered, the benchmark which I used when reviewing the first season of Discovery. Except for the visual effect, TNG beat Discovery in pretty much all aspects, IMO, haha.

The story was amazing, as it was relatable to our (my) daily life. It was very easy to perceive the USS Enterprise-D like my real office. There was a lot of focus on interpersonal relationship between the crews in the starship, which I could easily interpret like my real interpersonal relationship with my colleagues at work. Even some of the stories were actually really relevant to some of my current situations at work, which put me into perspective and think about my own career, both in the short- and long-term.

And it was not boring too. There were a few humorous and full-of-action episodes here and there. Though, of course there were a few bad apples here and there; but those were not significant. In short, this series was just amazing. And, as you know, this series was the source of many popular internet memes too, haha 😛 .

And fittingly, the series was closed with such a great ender in the episode “All Good Things…”. It was definitely one of the best Star Trek episodes I have ever watched!


It was unfortunate that I watched Enterprise just before TNG, as the contrast in quality became really glaring. Well, at least it was an upward experince that I had to go through, haha. And it was also quite funny that Enterprise’s last episode actually took place in the Holodeck of USS Enterprise-D; as if it was an episode of TNG, haha.

Anyway, so, do you watch Enterprise and TNG?


Tahun lalu aku memutuskan untuk menonton ulang Star Trek: Voyager secara marathon melalui Netflix. Dan jelas dong ya sekarang aku sudah selesai menonton-ulang kesemua tujuh musimnya, haha.

Semenjak waktu itu, seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui melalui fitur InstaStory yang lagi happening ini, aku telah memutuskan untuk menonton-ulang dua seri Star Trek yang lainnya, yaitu: Star Trek: Enterprise (2001-2005) dan Star Trek: The Next Generation (1987-1994) yang sangat amat populer itu!

Star Trek: Enterprise aku tonton ulang terlebih dahulu. Bilang saja aku shallow atau receh, keputusan ini aku buat karena ini adalah seri yang paling baru (di luar Star Trek Discovery tentunya), yang mana berarti visual/grafiknya juga yang paling baik kan dari semua serinya. Maksudku, aku harus mengakui bahwa faktor visual itu penting banget bagiku dari sebuah acara TV untuk bisa aku nikmati. Dan jelas saja sudah dimanjakan dengan kemajuan teknologi di bidang ini membuat posisi seri-seri lawas menjadi tidak diuntungkan bagi mataku.

Anyway, walau secara keseluruhan serinya masih bisa aku nikmati, aku paham mengapa seri ini kok hanya bertahan empat musim saja. Dua musim pertamanya itu jelek banget, dalam artian aku merasa serinya fokus pada hal-hal yang “salah” yang mana receh dan dangkal gitu, ditambah pula action-nya sedikit. Musim ketiga adalah musim yang terbaik dengan jalan cerita Xindi di sepanjang musim ini yang amat seru; tapi ya kerusakan sudah terlanjur dibuat di dua musim pertama sehingga nggak mengherankan juga rating-nya sulit dipulihkan. Musim keempat bagiku tidak seseru musim ketiga tapi masih jauh lebih baik daripada dua musim pertama, haha.

Setelah menyelesaikan Star Trek: Enterprise, dengan agak ragu aku memutuskan untuk mulai menonton-ulang Star Trek: The New Generation (TNG) yang sangat amat populer itu. Yang mengejutkanku, ternyata beberapa tahun yang lalu seri ini melalui sebuah proyek remastering, yang mana pada dasarnya visual/grafiknya diperbaiki secara signifikan! Kebetulan pula Netflix menayangkan versi yang sudah di-remastered ini!! I love you Netflix! Haha 😛 .

Btw, sewaktu kecil aku menonton lumayan banyak episode dari seri ini sebenarnya, tapi aku juga tidak ingat karena seri ini kan bahkan dari era sebelumnya Voyager ya, bahkan musim pertamanya ditayangkan setahun sebelum aku dilahirkan! Haha 😆 .

Anyway, dan pilihanku untuk menonton-ulang ini adalah keputusan yang tepat karena seri ini benar-benar mengagumkanku lho! Serinya beneran bagus, bagus, bagus banget; dan aku bisa lebih memahami dan menghargainya sekarang daripada sewaktu kecil dulu!! Nggak heran deh mengapa serinya bisa sepopuler ITU! Ini adalah Star Trek yang (secara tidak aku sadari) aku ingat, yang menjadi patokan dalam upayaku me-review musim pertamanya Discovery. Selain efek visualnya, TNG jauh lebih superior daripada Discovery di hampir semua aspek, menurutku, haha.

Cerita-ceritanya keren banget, dan banyak yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari(ku). Sangat mudah untuk mengasosiasikan pesawat USS Enterprise-D dengan kantorku. Ada banyak banget cerita yang fokus kepada hubungan interpersonal antar kru pesawatnya, yang mana bisa dengan mudah aku asosiasikan dengan hubungan interpersonalku yang nyata dengan kolega-kolegaku di kantor. Bahkan ada beberapa ceritanya yang sangat amat pas dan bisa pas banget cocok dengan situasi yang sedang aku hadapi di kantor, yang memberikanku sebuah perspektif baru dan membuatku berpikir akan langkah-langkahku dalam meniti karirku, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dan acaranya juga tidak membosankan. Ada banyak episode yang fokus terhadap sisi humor atau action. Walaupun tentu saja ada beberapa episode yang nggak bagus juga sih tapi jumlahnya tidak banyak. Secara singkat, seri ini keren dan bagus banget. Dan mungkin pada tahu bahwa seri ini juga lah sumber dari banyak meme internet yang terkenal, haha 😛 .

Dan cocoknya, serinya diakhiri dengan episode “All Good Things…” yang mana sangat amat keren sekali. Episode ini adalah salah satu episodenya Star Trek yang terbaik yang pernah aku tonton!


Agak disayangkan juga sih aku menonton Enterprise tepat sebelum TNG, karena perbedaan di kualitasnya jadi terasa kontras sekali. Yah, setidaknya sih pengalaman yang aku rasakan mengarah naik sih, haha. Dan sebenarnya kalau dipikir-pikir lucu juga episode terakhirnya Enterprise mengambil tempat di Holodeck-nya USS Enterprise-D; seakan-akan episode ini adalah satu episodenya TNG.

Anyway, apakah ada yang juga menonton Enterprise dan TNG?

North America Trip, TV Show, USA, Vacation

#2112 – American Idol and Love Yourself


When I went to New York for my year end 2015 trip, I was glad to be able to watch an episode of American Idol before the show was cancelled. At the time, that 15th season had been announced as its last season. As a (formerly) fans of the show, certainly I was happy to still have the opportunity to watch it in America while the show was still on, haha. Btw, here are the main posts of that amazing year-end trip of mine:
1. Part I: Getting to North America
2. Part II: Boston
3. Part III: Getting to Mexico
4. Part IV: Oaxaca
5. Part V: A Mexican Wedding
6. Part VI: Huatulco and New Year
7. Part VII: Beaches of Huatulco
8. Part VIII: Back to USA
9. Part IX: Fifth Avenue, New York
10. Part X: More from New York
11. Part XI: Back to Europe

But then fast forward about a year later, it was announced that the show would be revived when ABC acquired its right and so the show didn’t really get “cancelled” after all, lol 😆 . I found it a little bit awkward when I had already been a little bit emotional at the time which, apparently, was only for nothing, lol 😆 .

ABC announced that the show would be back for its the 16th season in the 2017-2018 season and, funnily, somehow it coincided with my Spring Trip to the States earlier this year! Lol 😆 . Here are the main posts of this recent awesome trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8. Part VII: Back to Europe in Business Class

But just like in my New York trip in early January 2016, I happened to be in the States also during the audition episodes of the series, haha 😆 . And the coincidence did not stop here. I was in New Orleans at the time, and here is one of the auditions that was aired that day:

I mean, yep, the contestant chose a song that started with “There is a house in New Orleans“, while I was in New Orleans, LOL 😆 . I just can’t even!!

Anyway, this time I got a chance to watch two episodes actually. The first one was the last episode of the judges’ audition stage while the second one was the first part of the Hollywood stage. As usual, in the Hollywood stage the contestants had to perform in groups and sang a song of their choice.

And this Hollywood stage, btw, infatuated me with … a Justin Bieber song 🙈. I mean, OMG 😱😱😱😱😱! I never thought this would happen, but Justin Bieber’s “Love Yourself” was actually good! Haha 😆 . But as usual, when I liked a song I also looked for its covers, which usually are in plenty of supply in Youtube nowadays. And for this song, I found a cover which I really liked, even (much) more than the original. Unsurprisingly, though, it was a cover by the Postmodern Jukebox.

Haha 😆 . What do you think?

So yeah, that is the story of American Idol’s resurrection which succesfully intoxicate my brain with a Justin Bieber’s song, lol 😆 .


Ketika aku pergi ke New York untuk perjalanan akhir tahun 2015ku, aku merasa senang masih bisa menonton satu episodenya American Idol sebelum acaranya berakhir. Waktu itu, sudah diumumkan bahwa musim ke-15 akan menjadi musim terakhirnya. Sebagai (dulunya) fans dari acara ini, jelas dong ya aku senang bisa mendapatkan menonton acaranya ketika sedang berada di Amerika, haha. Btw, berikut ini posting-posting yang berisi cerita perjalanan seru akhir tahunku dulu itu:
1. Part I: Getting to North America
2. Part II: Boston
3. Part III: Getting to Mexico
4. Part IV: Oaxaca
5. Part V: A Mexican Wedding
6. Part VI: Huatulco and New Year
7. Part VII: Beaches of Huatulco
8. Part VIII: Back to USA
9. Part IX: Fifth Avenue, New York
10. Part X: More from New York
11. Part XI: Back to Europe

Nah, fast forward sekitar satu tahun kemudian, ada berita bahwa acaranya akan dihidupkan kembali ketika ABC mendapatkan hak untuk acaranya sehingga American Idol nggak jadi “berakhir” deh, haha 😆 . Agak nyebelin juga ya karena aku sudah sempat agak mellow-mellow gimana gitu waktu itu yang mana eh ternyata acaranya batal berakhir, huahaha 😆 .

ABC mengumumkan bahwa acaranya akan kembali untuk musim ke-16 di periode tayang 2017-2018 dan, lucunya, ini pas bebarengan dengan perjalanan musim semiku ke Amerika awal tahun ini! Haha 😆 . Berikut ini posting-posting utama perjalananku yang seru baru-baru ini tersebut:
1. Introduction
2. Part I: Getting to New Orleans
3. Part II: New Orleans
4. Part III: NOLA the Foodie Destination
5. Part IV: New Orleans to Chicago
6. Part V: Chicago the City
7. Part VI: The MCA, Skydeck, and the Food
8. Part VII: Back to Europe in Business Class

Tapi sama seperti dulu ketika di New York di awal bulan Januari 2016, aku di Amerika kemarin sewaktu acaranya masih dalam tahap penayangan babak audisinya, haha 😆 . Dan kebetulannya masih belum berhenti di situ lho. Acaranya ditayangkan ketika aku berada di New Orleans waktu itu, dan berikut ini salah satu audisi yang ditayangkan di episode hari itu:

Iyaa, kontestannya memilih menyanyikan lagu yang dibuka dengan lirik “There is a house in New Orleans“, ketika aku lagi di New Orleans, huahaha 😆 . Kok bisa-bisanya ya!!

Ngomong-ngomong, kali ini aku mendapatkan kesempatan untuk menonton dua episode. Episode pertama adalah episode terakhir dari tahap audisi sementara yang kedua adalah bagian pertama dari tahap eliminasi di Hollywood. Seperti biasa, di tahap Hollywood kontestannya harus tampil dalam grup dan menyanyikan satu lagu yang mereka pilih sendiri.

Dan tahap Hollywood ini, btw, membuatku suka dengan … salah satu lagunya Justin Bieber dong 🙈. Ya ampun apa-apaan inii 😱😱😱😱😱! Nggak pernah aku sangka sebelumnya, tapi harus dibilang bahwa lagu “Love Yourself“-nya Justin Bieber itu memang enak ya! Haha 😆 . Tapi seperti biasa, ketika aku suka dengan sebuah lagu, aku juga suka mencari versi cover-nya gitu, yang mana sekarang mah banyak bertebaran di Youtube ya. Dan untuk lagu ini, aku menemukan satu cover yang aku suka banget, bahkan (jauh) lebih aku sukai daripada versi aslinya. Tak mengherankan, cover ini adalah milik Postmodern Jukebox.

Haha 😆 . Bagaimana menurut kalian?

Ya, jadi ya begitu deh cerita American Idol yang hidup kembali yang mana dengan sukses meracuniku dengan lagunya Justin Bieber, hahaha 😆 .

My Interest, TV Show

#2061 – Star Trek: Discovery (Season 1)


In the last four to five months, I have been following Star Trek’s most recent series, Star Trek: Discovery. And just this weekend (Well, Monday for the Dutch Netflixer like me), the first season was concluded.

If I have to describe the first season of this new series, I will go with “a series full of plot twists“, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> You know, Ash Tyler was actually Voq, Gabriel Lorca was actually from the Mirror universe, Mirror Philippa Georgiou was the cruel and evil emperor of the Terran Empire, and the appointment of Mirror Philippa Georgiou as the captain of USS Discovery after being brought to the Prime (our) universe by Michael Burnham. <<Spoiler Done >> This made this series exciting, to me, as it led me to not know what to expect. Even though at some point I felt like it went overdose with the plot-twisting, lol 😆 .

On the other hand, and I have mentioned this before, this series focused a lot on the action part (Mainly the Federation vs Klingon war and getting trapped in the Mirror Universe and the return attempt) and not at all on the social/interpersonal/intrapersonal conflict aspect like the other Star Trek series. So this definitely gave a really different vibe of a Star Trek series to me.

Each episode was also made not independent of each other; and that one would need to follow the series from the beginning to know what was going on. When you watch one of Star Trek: Voyager‘s episodes, for instance, most of the time you would not need to watch the previous episodes to understand what was going on.

<< Spoiler Alert, Again >>

Ironically, though, IMO the season finale was the “most Star Trek” episode. An away mission (finally!) down to an establishment on an alien planet (Klingon’s Qo’Nos) and ending the war with a (to some degree) diplomacy. On one hand this could feel anticlimatic because most of the preceding episodes were full of fights and wars, that one (or I, at least) would expect to see some “actions” in the finale. But on the other hand this made a lot of sense. The story arc in those preceding episodes was “controlled” by a Terran (Mirror Gabriel Lorca and Mirror Philippa Georgiou), who loved and lived on fights and wars. In this episode, the “real” Starfleet and Federation finally took charge, via the lead of Michael Burnham.

So in the end, I was overall satisfied with the finale! Though, one thing disappointed me a little bit, where they only used one line mentioning that the spore technology was off the table (Starfleet was committed to finding non-human interface, according to Stamets (which, obviously, wasn’t successful in the end)). But to top it off, this season ended with the most coolest cliff-hanger ever, where the USS Discovery crew encountered a distress call from … the USS Enterprise!!

USS Discovery meets USS Enterprise. Source: Copyright: CBS/Netflix

Damn now I cannot wait for season two!!

<< Spoiler Ends >>


At the end of the day, the biggest and most important question is: “Did I enjoy this new series?” And the answer to this was “Yes!“. Haha 😆 So despite the “shift” in the characteristics of Star Trek series (despite the very Star Trek finale), overall I still felt like the writers (and everyone involved) did a great job in creating an enjoyable and exciting series, which made me look forward to it everytime I went back from work on Monday!

And so certainly I am excited that a second season has been ordered, and I am looking forward to it! Even though I still have a little bit of hope that the overall tone of second season will be a little bit “more Star Trek”. But nonetheless, we will see!!


Dalam empat atau lima bulan belakangan, aku telah mengikuti seri terbarunya Star Trek yang dinamai Star Trek: Discovery. Dan akhir pekan kemarin ini (Eh, hari Senin ding untuk pengguna Netflix Belanda kayak aku), musim pertama dari seri ini berakhir.

Jika musim pertama dari seri ini harus aku deskripsikan, aku akan menjawabnya dengan “sebuah seri yang penuh plot twists”, hahaha 😆 . << Spoiler Alert >> Ya tahu kan, dari Ash Tyler yang mana ternyata adalah Voq, Gabriel Lorca yang ternyata berasal dari alam semesta paralel (Mirror), Philippa Georgiou versi Mirror ternyata adalah kaisar yang kejam dan jahat dari Kekaisaran Terran, dan penunjukkan Philippa Georgiou paralel ini sebagai kapten USS Discovery setelah ia “diculik” oleh Michael Burnham ke alam semesta Prime (alam semesta kita). << Spoiler Selesai >> Ini membuat acaranya seru sih, bagiku, soalnya aku jadi tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Walaupun juga pernah di satu titik rasanya seri ini agak overdosis dengan plot-twisting sih, haha 😆 .

Di sisi lain, dan sudah kusebutkan sebelumnya, seri ini berfokus di sisi action (Dengan garis besar di jalan cerita Perang Federasi vs Klingon dan terjebaknya kru USS Discovery di alam semesta paralel Mirror dan upaya mereka untuk pulang) dan sama sekali tidak menyentuh aspek konflik sosial/interpersonal/intrapersonal seperti di seri-seri Star Trek lainnya. Sebagai akibatnya, nuansa seri ini terasa berbeda sekali dari seri-seri Star Trek lainnya untukku.

Setiap episode juga tidak dibuat independen satu sama lain; jadi seorang penonton harus mengikuti ceritanya dari awal untuk memahami jalan ceritanya. Ketika kamu menonton satu episodenya Star Trek: Voyager, misalnya, kemungkinan besar kamu masih akan paham jalan ceritanya tanpa harus menonton episode-episode sebelumnya.

<< Spoiler Alert, Lagi >>

Ironisnya, menurutku episode terakhir musim ini justru adalah episode yang “paling Star Trek” dari semua episodenya Discovery. Misi away (akhirnya!) turun ke suatu kota di planet alien (Planet Qo’Nos-nya Klingon) dan mengakhiri perang dengan (kurang lebih) diplomasi. Di satu sisi ini terasa agak anti-klimaks karena episode-episode sebelumnya kan penuh dengan pertarungan dan peperangan, sehingga (bagiku, setidaknya) aku sudah mempersiapkan diriku untuk menonton final yang penuh “action” gitu kan. Tetapi di sisi lain ini sebenarnya justru masuk akal banget lho. Jalan cerita di episode-episode sebelumnya ceritanya kan “dikontrol” oleh bangsa Terran (Gabriel Lorca dan Philippa Georgiou dari alam semesta paralel Mirror), yang memang suka dan hidup dalam pertarungan dan peperangan. Di episode ini, Starfleet dan Federasi “yang sebenarnya” mengambil kontrol kembali, dengan dipimpin oleh Michael Burnham.

Jadi pada akhirnya, aku sungguh puas dengan akhir dari musim ini! Walaupun satu hal kecil mengecewakanku sedikit sih, dimana hanya satu kalimat saja yang menyebutkan bahwa teknologi spora tidak lagi digunakan (Starfleet berkomitmen untuk mencari cara pemanfaatan teknologi ini tanpa menggunakan manusia, menurut Stamets (yang mana, jelas, upaya yang pada akhirnya gagal)). Tetapi, musim ini diakhiri dengan cliff-hanger yang paling keren banget, dimana kru USS Discovery mendapatkan panggilan darurat dari … USS Enterprise!!

USS Discovery bertemu USS Enterprise. Sumber: Copyright: CBS/Netflix

Ahhhh, aku jadi makin nggak sabar kan menunggu musim kedua!!

<< Spoiler Selesai >>


Pada akhirnya, pertanyaan terbesar dan paling penting adalah: “Apakah aku menikmati seri baru ini?” Dan untuk pertanyaan ini jawabanku adalah “Iya!“. Haha 😆 . Jadi biarpun adalahnya “pergeseran” karakteristik dari seri-seri Star Trek lainnya (walaupun episode terakhirnya Star Trek banget sih), secara keseluruhan toh aku masih merasa penulis naskahnya (dan semua yang terlibat) telah menghasilkan suatu seri yang bagus dan seru, yang mana selalu membuatku bersemangat ketika pulang kantor di hari Senin!

Makanya aku merasa excited dengan berita dimana musim kedua sudah dipesan, sehingga aku nggak sabar untuk menontonnya! Walaupun aku juga sedikit berharap mudah-mudahan nuansa umum musim kedua nanti bakal “lebih Star Trek” sih. Ah, tapi kita lihat saja lah ya!!

TV Show

#2051 – OITNB and Friends


Orange Is The New Black (OITNB)

A few months ago I finished remarathoning Star Trek: Voyager. And so I flicked through my Netflix and decided to start watching Orange Is The New Black.

And as it turned out this was a great show! The show started by following Piper Chapman who voluntarily surrendered to the Litchfield Penitentiary, a minimum security women’s federal prison. And the story developed from there, including exploring the lives of many of the characters she met in the prison (not only the inmates, but also some of the guards). Though, some aspect of the show could be “too vulgar” for some audience, overall I felt like this show was really well written and well executed! The drama, the politics, the acting, etc were great!

Anyway, following OITNB right after Star Trek: Voyager was quite a funny experience because Kate Mulgrew was one of the main casts in both shows! She played Captain Kathryn Janeway in Voyager and Galina “Red” Reznikov in OITNB. And so when I started OITNB I found it funny that (old) Kathryn Janeway somehow became an inmate in a New York prison, haha 😛

Kate Mulgrew was Red in OITNB (left) and Janeway in Voyager (right).


Speaking of Netflix, last year I mentioned how I was disappointed that I did not have Friends and The Big Bang Theory in my Dutch Netflix. And as it turned out, as per this year, I have had Friends! Yay!! 😀

Though, I still wish at some point I would have The Big Bang Theory, though; because I have been missing the last a few seasons!

Friends in Netflix!


Orange Is The New Black (OITNB)

Beberapa bulan yang lalu, aku selesai menonton ulang Star Trek: Voyager. Dan jadilah aku membuka-buka apa yang tersedia di Netflix dan aku memutuskan untuk mulai menonton Orange Is The New Black.

Dan ternyata ini adalah acara yang bagus lho! Serialnya dimulai dengan mengikuti Piper Chapman yang menyerahkan-diri secara sukarela ke Litchfield Penitentiary, penjara federal wanita dengan sekuriti minimum. Dan ceritanya berkembang dari sana, termasuk dengan mengeksplorasi kehidupan dari karakter-karakter lain yang ia temui di penjara (nggak hanya sesama tahanan, tetapi juga beberapa penjaganya). Walaupun beberapa aspek dari serial ini mungkin “terlalu vulgar” bagi sebagian orang, secara keseluruhan aku merasa acara ini ditulis dan dieksekusi dengan baik! Drama, politik, dan aktingnya bagus-bagus!

Anyway, mengikuti OITNB tepat setelah Star Trek: Voyager adalah pengalaman yang cukup lucu karena Kate Mulgrew berperan sebagai salah satu tokoh utama di kedua serial ini! Ia memainkan Kapten Kathryn Janeway di Voyager dan Galina “Red” Reznikov di OITNB. Dan ketika aku baru saja mulai menonton OITNB, aku merasa lucu kok Kathryn Janeway (yang sudah tua) sekarang menjadi seorang tahanan di sebuah penjara di New York, haha 😛

Kate Mulgrew sebagai Red di OITNB (kiri) dan Janeway di Voyager (kanan).


Ngmongin Netflix, tahun lalu aku sebutkan bagaimana aku merasa kecewa karena tidak menemukan Friends dan The Big Bang Theory di Netflix Belandaku. Ternyata, per tahun ini, akhirnya aku memiliki Friends juga lho! Hore!! 😀

Eh tetapi aku masih berharap suatu saat nanti ada The Big Bang Theory sih; soalnya aku masih belum menonton beberapa musim terakhirnya nih!

Friends di Netflix!