Travelling

#2022 – Side Stories from Newcastle

ENGLISH

Here are a couple of stories from my recent weekend trip to Newcastle upon Tyne.

Ticketing Situation

I took the metro to get to the city from the airport. I bought the ticket in a vending machine and after finishing off my purchase, a piece of paper “flew off” the machine (quite literally). Naturally I thought that was the ticket because the screen said the ticket was being printed at the time. I grabbed it and went to the station.

Long story short I took the metro and got off at the Central Station. There, however, I wasn’t able to get off the station where I couldn’t even insert the “ticket” to the gate. I approached the officer there and she mentioned that what I was holding was not the ticket, it was just the receipt. And yeah, it actually looked quite similar to this:

A ticket receipt

and indeed it was my mistake to not check it when I got it from the machine. I explained my situation to her that I did not know as this was my first time ever in Newcastle. She explained to me how a valid ticket would have looked like, which would have had a yellow stripe (I mean, how was I supposed to know? Haha 😛 All I knew was that piece of paper flew off the machine after I bought a ticket!). But she believed me that it was an honest mistake and let me go without charging me the £20 penalty which would have been imposed for a traveller without a valid ticket! Thank you!! 🙂

A valid Metro ticket in Newcastle

A Cemetery

In Gateshead, I saw the following banner:

The building was for hire

saying that this particular building was available for hire for events like wedding, conference, dinner party, etc. But when I looked over what the building was like, it was actually:

A cemetery in Newscastle

Yeah, it was partially a cemetery!

Well, I guess there might be a certain market for that! Haha 😆

BAHASA INDONESIA

Berikut ini dua cerita dari perjalanan akhir pekan singkatku ke Newcastle upon Tyne baru-baru ini.

Insiden tiket metro

Aku naik metro untuk pergi dari bandara ke kota. Aku membeli tiketnya di sebuah mesin dimana setelah selesai dengan pembayaranku, satu potong kecil kertas “terbang” terlempat keluar dari mesinnya (dalam artian sebenarnya). Ya jelas dong aku kira itu tiketnya karena layarnya juga berkata tiket sedang dicetak waktu itu. Aku mengambilnya dan pergi ke stasiun.

Singkat cerita aku menaiki metronya dan turun di Central Station. Di sana, tapinya, aku tidak bisa keluar dimana bahkan aku tidak bisa memasukkan “tiket”-nya ke gerbang pintunya itu. Aku kemudian menghampiri petuagsnya di sana dimana ia berkata bahwa yang kupegang bukanlah tiket, tetapi hanya bonnya saja. Dan ya, memang sih penampakannya kurang lebih seperti ini:

Bon tiket

dan memang salahku juga aku tidak mengeceknya ketika aku mengambilnya dari mesin. Aku menjelaskan situasiku ke petugasnya dan kubilang bahwa aku tidak tahu dan ini adalah kali pertamaku di Newcastle. Ia jelaskan penampakan dari tiket yang valid, yang mana terdapat garis berwarna kuning (Ya kan meneketehe ya? Haha 😛 . Yang kutahu kan kertas itu keluar dari mesinnya setelah tiketnya kubeli!). Tetapi ia percaya padaku kok bahwa ini adalah honest mistake dan mengizinkanku untuk keluar tanpa memberikan penalti  £20 yang dikenakan ke penumpang yang ketahuan tidak membawa tiket! Terima Kasih!! 🙂

Tiket metro yang valid di Newcastle.

Kuburan

Di Gateshead, aku melihat spanduk ini:

Gedungnya bisa disewa

yang berkata bahwa gedung ini bisa disewa untuk acara-acara seperti pesta pernikahan, konferensi, pesta makan malam, dll. Tetapi ketika dalam arenya aku lihat, penampakannya seperti ini:

Kuburan di Newcastle

Iya dong, sebagian area gedungnya itu adalah kuburan!

Yah, mungkin memang ini ada pangsa pasarnya tersendiri juga kali yah! Haha 😆

Advertisements
Travelling

#1992 – BookWithMatrix

ENGLISH

It is well-known that the best way to know the existence of the best flight tickets, especially for long-haul ones for me, is through Google’s itamatrix software. The definition of “best” here can be anything, not just limited to, for instance, the cheapest possible one. For instance, say I want to travel from Amsterdam to Tokyo-Narita and my definition of “best” is: “the cheapest one with a SkyTeam airline with transits in Paris and Shanghai but not in Seoul with no transit longer than four hours and no overnight stops, on subclass L or N, and no flight with a propeller plane” on my departure flight and “the cheapest one with a SkyTeam airline with transit Seoul but not Rome with no transit longer than four hours, on subclass L or N, no flight with a propeller plane, and no redeye flight” on my return flight. I can ask the software to find a solution for me (provided that a solution exists). All I need to do is to not get overwhelmed by the few “programming” tricks to enter those conditions, haha.

Yep, I found a solution with my requirements above. As you see, all the airlines are SkyTeam, no transits of more than four hours, transits in Paris and Shanghai and not Seoul on the departure trip, transit in Seoul and not in Rome on the return trip, no propeller plane, all subclasses are L or N, and no redeye on the return trip. It might be funny that five or the six flights are officially AirFrance’s though none of the six are flown on an AirFrance’s metal, haha 😆 .

However, the biggest problem with this software is that it only looks for the existence to a solution. The software is not a travel agency and so you cannot purchase the ticket you have discovered that you might have liked. And as you can see, sometimes you end up with quite a complicated itinerary that wouldn’t show up in a regular online travel agency (OTA) website.

And as of recently, I have discovered a solution to that. So for an upcoming big trip of mine involving intercontinental flights (still yet to be revealed 😛 ), I was looking for a good-value return ticket for months. Some conditions made my trip a little bit more complicated where I would need an open-jaw ticket (a ticket where I return from a different airport than where I originally arrive) with a specific airline with a specific subclass of travel. It was quite difficult as with the conventional OTAs, including the airline’s website itself, I only found tickets with higher subclass of travel making them much more expensive. However, I found a solution to my wants in itamatrix so it made the search a little bit annoying.

I found my return ticket with China Eastern to Bali last year with the help of itamatrix.

And then I came across BookWithMatrix. In short, it helps you find some OTAs which would issue the ticket you have just found in itamatrix. To be honest, at first I found it quite sketchy as what I would need to do is to literally select all, copy, and paste the entire page of the itinerary in itamatrix there. Though now that I think about it, it is not that weird with the advance of image recognition technology we have these days, haha. Anway, and so I was looking for some reviews and I found some articles, including those written by well-known travel bloggers, about their positive experience with the website. So I started to trust this awesomely-sound tool more.

Anyway, so I decided to just give the tool a try; with no expectation whatsoever. And you know what? I did FIND the ticket at an OTA with this tool!! The OTA itself was a famous one (I know about it) so I knew that it was legit, haha. I decided to just eff it and purchase the ticket (The OTA promised 24-hour of free cancellation anyway, haha). Then I got the confirmation email and the usual stuffs from the OTA. I checked online in the airline’s website, and I did find my reservation there so it was indeed legit. Just to be even more sure, I called the airline’s representative in the Netherlands and they did say the ticket was confirmed and it was all like I wanted.

Oh wow!! I guess I just found some gold here!! So far I am really happy with this tool!! And I guess this will come in very handy in the future!!

Have any of you guys used this tool as well? 🙂

BAHASA INDONESIA

Sudah banyak diketahui bahwa cara terbaik untuk mengetahui ada atau tidaknya tiket pesawat terbaik, terutama untuk penerbangan jarak jauh untukku, adalah dengan software itamatrix-nya Google. Definisi “terbaik” di sini bisa bermacam-macam lho, tidak hanya sebatas, misalnya, yang paling murah. Misalnya saja, katakanlah aku ingin pergi dari Amsterdam ke Tokyo-Narita dan definisi “terbaikku” adalah: “tiket yang paling murah dengan maskapai SkyTeam dengan transit di Paris dan Shanghai tetapi tidak di Seoul dimana per transitnya tidak lebih lama dari empat jam dan tidak melibatkan transit yang harus menginap, di subclass L atau N, dan tidak mau terbang dengan pesawat baling-baling” di penerbangan keberangkatan dan “yang termurah dengan maskapai SkyTeam dengan transit di Seoul tetapi tidak di Roma dengan per transit tidak lebih lama dari empat jam, di subclass L atau N, tidak mau terbang dengan pesawat baling-baling, dan tidak mau penerbangan malam/redeye” di penerbangan kepulanganku. Aku bisa meminta software-nya untuk mencarikan solusinya untukku (dengan catatan jika solusinya ada ya). Yang perlu kulakukan adalah tidak perlu terlalu “takut” dengan sedikit trik “programming” untuk memasukkan kondisi-kondisi ini, haha.

Yup, solusi yang memenuhi mauku di atas ada loh. Seperti yang bisa dilihat, semua maskapainya adalah SkyTeam, tidak ada transit yang lebih lama dari empat jam, transit di Paris dan Shanghai dan tidak di Seoul di penerbangan keberangkatan, transit di Seoul dan tidak di Roma di penerbangan kepulangan, tidak melibatkan pesawat baling-baling, subclass-nya L atau N, tidak ada penerbangan malam/redeye di penerbangan pulang. Eh mungkin agak lucu ya lima dari enam penerbangannya secara resmi adalah dengan AirFrance tetapi tidak satu pun penerbangannya menggunakan pesawatnya AirFrance, haha 😆 .

Namun, masalah terbesar dari itamatrix adalah software-nya hanya mencari ada atau tidaknya suatu solusi. Software ini bukanlah travel agent sehingga kita tidak bisa membeli tiket yang kita temukan di sana padahal tiketnya kita suka. Dan seperti yang bisa dilihat, bisa jadi kadang kita menemukan itinerary yang cukup rumit sehingga pilihan tiket ini tidak akan muncul di website online travel agency (OTA) biasa.

Akhir-akhir ini, kebetulan aku menemukan solusi untuk itu. Jadi untuk sebuah perjalanan besarku yang akan datang  yang melibatkan penerbangan-penerbangan antar-benua (masih belum saatnya kuceritakan nih 😛 ), aku telah mencari tiket pp yang value-nya oke selama berbulan-bulan. Beberapa kondisi membuat perjalanan ini cukup rumit dimana aku membutuhkan tiket open-jaw (tiket dimana aku pulang dari bandara yang berbeda dari bandara ketibaanku di keberangkatan) dengan sebuah maskapai spesifik dengan sebuah subclass spesifik. Aku tidak bisa menemukannya dengan OTA biasa, bahkan juga di website maskapainya sendiri, dimana aku hanya menemukan tiket dengan subclass lebih tinggi yang mana artinya harganya juga mahal. Namun, aku menemukan solusinya di itamatrix makanya rasanya gemes lah ya.

Aku menemukan tiket pp-ku dengan China Eastern ke Bali tahun lalu dengan bantuan itamatrix.

Dan kemudian aku menemukan BookWithMatrix. Secara singkat, ini adalah alat untuk menemukan OTA yang bisa menjual tiket sesuai spesifikasi yang kita temukan di itamatrix. Sejujurnya, awalnya aku sedikit curiga soalnya yang perlu kita lakukan adalah men-select all, copy, dan paste halaman itinerary di itamatrix di sana. Walaupun sekarang kalau dipikir-pikir lagi sih, nggak aneh juga sih ya dengan kemajuan teknologi di bidang image recognition zaman sekarang, haha. Anyway, jadilah aku mencari review-nya dan aku menemukan beberapa artikel, termasuk yang ditulis oleh beberapa travel bloggers terkenal, mengenai pengalaman positif mereka dengan alat ini. Jadilah aku lebih percaya, haha.

Anyway, jadilah aku memutuskan untuk mencobanya; tanpa ekspektasi apa pun lah. Dan apa yang terjadi? Aku MENEMUKAN tiketnya dijual di satu OTA dong!! OTAnya sendiri adalah OTA besar (aku tahu namanya gitu) sehingga aku cukup yakin ini legit, haha. Aku memutuskan untuk nekad aja dan membeli tiketnya (OTAnya sendiri menjanjikan free cancellation selama 24 jam sih jadi mestinya aman lah ya, haha). Lalu seperti biasanya aku mendapatkan email konfirmasi dan sebagainya dari OTAnya. Untuk memastikan, aku cek langsung di website maskapainya dan ternyata aku bisa menemukan reservasiku di sana sehingga artinya ini legit lah ya. Untuk lebih memastikan lagi, aku menelepon langsung kantor maskapainya di Belanda dan mereka juga memastikan tiketku sudah terkonfirmasi di sistemnya dan semuanya sesuai seperti yang kuinginkan.

Oh wow!! Rasanya seperti baru menemukan harta karun nih!! Sejauh ini aku senang banget deh dengan alat ini!! Dan aku rasa ini akan berguna banget buat ke depannya!!

Apakah sudah ada yang pernah menggunakannya juga? 🙂

Travelling

#1903 – Firefighting in Marseille

ENGLISH

While having dinner in Marseille during my first (this year) AvGeek Weekend Trip this February, I experienced (well, more like “witnessed”, actually) something new. Something I had never had before!

Entrecote in Marseille
Entrecote in Marseille

While enjoying my entrecote, which unfortunately was a little bit overcooked to my liking, I heard a lot of sirens from the street. And it was kind of weird because it was definitely not from just a passing firetruck/police car/ambulance/whatever as the sound stayed there for some time.

I remember at the time feeling a little bit annoyed because why would someone “play” such loud noise for an extended period of time, haha 😆 . But this “why” was actually a valid question because apparently

the building next to the restaurant was literally on fire!!

😱😱😱😱😱

French firefighters
There were some French firefighters in the street too

Everyone around me stayed calm, though, as the restaurant was not affected by the fire (except that there was an electric outage for a few seconds), which helped me to also stay calm. At that point I almost finished my dish and so I rushed it because I wanted to see the scene, haha. I paid the bill (along with some mini drama with payment) and then went outside to see the scene myself.

Firefighting in Marseille
Firefighting in Marseille

At the time the firefighters had already taken their position, where the very long ladder/platform had been extended to reach the top of the six storey building. Not long after, they opened the “tap” and the firefighter(s) on top of the platform started to “blast” the water.

***

What I admired from this incident was how quickly and organized everything was. In this incident, it was not only the firefighters that were involved. A few meters behind the firetruck, a respiratory ambulance was already ready to retrieve any potential victim. Yep, a respiratory ambulance, the type a fire victim would likely need once escaping a fire!!

Respiratory assistance car was ready
A respiratory assistance truck was ready

Obviously the traffic also needed to be closed during the incident. And the police was ready for that. They put their cars blocking the street so it became sterile. In the meantime, they (or the firefighters? I don’t remember) put a barricade tape around the building to indicate it was an incident zone.

Wow, I was impressed!!

Blocked road
Blocked road

***

Yep, that was my first experience, ever, witnessing firefighters in real action!!

Anyway, as it was my first time, I could not help but to think what are commonly portrayed in Just For Laughs about firefighting. For instance, this prank, haha:

or this one:

Haha 😆 .

So I was thinking imagining there would be a beautiful French lady at the top of the building waiting to be rescued. Then the handsome firefighter would climb the ladder and saved her and then they fell in love and lived happily ever after, lol. What the hell is this crap… 😅😂.

Damn it JFL! 😛

BAHASA INDONESIA

Ketika sedang makan malam di Marseille di AvGeek Weekend Trip pertamaku tahun ini Februari lalu, aku mengalami (hmm, “menyaksikan” lebih tepatnya sih) sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah aku alami sebelumnya!

Entrecote in Marseille
Entrecote di Marseille

Ketika sedang menikmati steak entrecote-ku, yang mana dagingnya agak kematangan untuk seleraku, aku mendengar suara sirene dari arah jalan raya. Dan waktu itu rasanya aneh karena jelas suaranya bukanlah dari mobil pemadam kebakaran/mobil polisi/ambulans/apa pun yang lewat karena bunyinya berlangsung cukup lama.

Aku ingat waktu itu aku merasa sedikit sebal karena mengapa sih ini kok seseorang “memainkan” sirene sekeras ini lama banget pula, haha 😆 . Nah, “mengapa” ini sebenarnya adalah pertanyaan yang tepat karena ternyata

gedung di sebelah restoran ini sedang kebakaran dong!!

😱😱😱😱😱

French firefighters
Ada beberapa pemadam kebakarannya Prancis di jalan juga

Semua orang di sana tenang-tenang aja sih, karena memang restorannya tidak terpengaruh kebakarannya (kecuali sempat mati lampu selama beberapa detik), sehingga aku juga tenang-tenang aja dong ya. Waktu itu, aku sudah nyaris menyelesaikan makan malamku dan jadilah aku buru-buru menyelesaikannya karena aku pengen melihat TKPnya, haha! Aku membayar tagihannya (ditambah drama mini pula dengan pembayarannya) dan kemudian keluar restoran untuk langsung melihat tempat kejadian.

Firefighting in Marseille
Pemadaman api di Marseille

Waktu itu, pemadam-kebakarannya sudah siap siaga di posisinya, dimana tangga/boksnya yang panjang banget itu sudah dipanjangkan untuk mencapai puncak gedung bertingkat enam tersebut. Tak lama kemudian, “kran air”-nya dibuka dan pemadam-kebakaran yang berada di boks itu mulai “menyemprotkan” air ke arah gedung.

***

Yang aku kagumi dari insiden ini adalah seberapa cepat dan teraturnya semua pihak yang terlibat. Di insiden ini, bukan hanya pemadam-kebakaran yang terlibat. Beberapa meter di belakang mobil pemadam kebakaran, sebuah mobil paramedis pernafasan sudah siap siaga untuk menerima korban (jika ada). Yup, mobil paramedis pernafasan, suatu bantuan yang sangat mungkin dibutuhkan oleh korban yang baru saja selamat dari kebakaran kan!!

Respiratory assistance car was ready
Sebuah mobil paramedis pernafasan telah siap siaga

Dan jelas lalu-lintas harus ditutup sepanjang insiden ini. Untuk ini, polisi sudah siap menjalankan tugasnya. Mereka memarkir mobil polisi menutup akses jalan sehingga areanya menjadi steril. Sementara itu, mereka (atau pemadam-kebakarannya ya? Aku lupa) mulai memasangi gedung dengan barricade tape itu menandai bahwa gedung ini adalah zona insiden.

Wow, keren banget yah!!

Blocked road
Jalan yang ditutup oleh polisi

***

Yep, ini adalah pengalamanku pertama kali seumur hidup menyaksikan aksi pemadam-kebakaran yang nyata!!

Anyway, yang namanya juga pertama kali, aku bisa-bisanya loh teringat apa yang beberapa kali digambarkan di Just For Laughs tentang pemadaman-kebakaran. Misalnya, prank yang ini, haha:

atau yang ini:

Huahaha 😆 .

Aku berpikir berimajinasi ada cewek Prancis cakep di atas gedung itu yang menunggu untuk diselamatkan. Lalu seorang pemadam-kebakaran gagah dan ganteng memanjat tangganya dan menyelamatkannya dan kemudian mereka jatuh cinta dan hidup bahagia selama-lamanya, huahaha. Apa-apaan ini… 😅😂.

Dasar nih JFL! 😛

EuroTrip · One Week Trip · Travelling · Vacation

#1828 – Side Stories from My September 2016 Sabbatical Trip: Europe

ENGLISH

Posts in the September 2016 Sabbatical Trip: Europe series:
1. Introduction
2. Part I: Bucharest
3. Part II: A Romanian Wedding
4. Part III: The Dracula Castle Tour
5. Part IV: Aegean Airlines and Athens
6. Part V: Santorini

In this post, I would like to share some side stories from the European part of my September 2016 Sabbatical Trip. The main story can be found in the six posts I linked above 😀

***

Donkey

Once, our hotel guy in Santorini told us he could help us bring our luggage with “his donkey”. Well, I thought it was a car or some sort of vehicle. You know, some people liked to name their cars/vehicles, and we thought maybe this guy just loved donkeys so much that he named his after one, lol 😆 . But then, it turned out to be:

The donkey
The donkey

Yes, the “donkey” was literally a donkey! Lol 😆 .

We noticed that there were a lot of donkeys in Santorini, that it appeared to us that donkey was the symbolic animal of the island.

Getting Lost in Finikia

Speaking of our hotel in Santorini, we stayed in the village of Finikia and there was a post-worthy experience about getting to this hotel.

Hotel in Finikia
Our hotel in Finikia

We arrived in Santorini in the evening. I already mentioned in Part IV that we had to deal with a reservation problem with our rental car in Santorini just after arriving there. Note that we did a half-day transit trip to the city of Athens that day too; and we had to get up quite early in Bucharest to catch our flight. The bottom-line, we were already really tired  when we left the airport. And not to mention it took us about 40 minutes to get to Finikia (in the darkness of night) through Santorini’s mountainous road.

Then, Finikia turned out to be a village location on a hill. Moreover, it was a typical Santorinian village with only pathways and was very intricate. In short, for us that night, Finikia was literally a very complicated and physically taxing maze. Then imagine us who had to go down those pathways with no map (my offline map was useless as it did not reach the level of details I needed to guide through the confusing pathways of Finikia) and our luggage (no donkey nor guidance as we failed to contact our hotel guy about our arrival time).

Finikia
Finikia during the day

At one point, I asked my parents to wait at a spot and I would look for the hotel first, by myself (so they would not need to walk far carrying the luggage with high risk of getting lost). Look, one of my absolute strength while travelling is my sense of direction. I almost never get lost, really; as I recognize the whereabout really fast. I have to write the word “almost” in the previous sentence because, well, that night, my sense of direction failed.

I was looking for the hotel but I couldn’t find it. There was lack of signage in the village; and the complexity of the pathways, I must admit, overwhelmed me that night. A guy told me that I needed to follow the blue arrows painted on the pathways, which would guide me to the hotel (Seriously). However, the blue arrows weren’t very visible in the dark and, at some point, I lost them. However, with some luck, some struggles, and more concentration to look for the arrows, I found the hotel.

Follow the blue arrows
The blue arrows which were supposed to guide us to the hotel. The problem was, they were not as visible during the night

Okay, hotel found, now I just needed to get back to where I left my parents. The problem was, I did not remember how to get there anymore. It was not just as easy as saying: “But you just need to go back to wherever you came from“. No, the problem was, I was literally lost before I found the hotel. So it was not easy at all to track from which direction I came from. To make matter even worse, the hotel reception was empty already. To make it even worser, my phone battery died. But for this at least I already had my power bank with me; but this was still annoying. I was really stressed, lol 😆 .

Long story short, I found the location of my parents (after getting lost a few times as well), who apparently were already very worried. Well, I had left them for good 30 – 45 minutes at that point so … . Then we walked to the hotel. I called the hotel guy and, luckily, he showed up quickly at the door.

Yeah, what a day it was! A long and tiring travelling day, a problem with the car rental, driving in the dark in a foreign island, and the maze of Finikia. Well, but in the end it made a good travel story to share, I guess. Oh, and an experience to remember too 😛 .

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri September 2016 Sabbatical Trip: Europe:
1. Introduction
2. Part I: Bucharest
3. Part II: A Romanian Wedding
4. Part III: The Dracula Castle Tour
5. Part IV: Aegean Airlines and Athens
6. Part V: Santorini

Di posting ini, aku ingin membagikan beberapa cerita sampingan dari perjalanan bulan sabatikal September 2016ku di Eropa. Cerita utamanya bisa dibaca di enam posting di atas 😀

***

Keledai

Bapak-bapak pemilik hotel kami bilang bahwa ia bisa membantu kami membawa barang dengan “keledai”-nya. Waktu itu, kupikir ini adalah semacam kendaraan gitu. Tahu kan, beberapa orang suka memberi nama mobil/kendaraannya, dan aku pikir bapak-bapak ini suka banget sama keledai sehingga kendaraannya dinamakan berdasarkan itu, haha 😆 . Nah, ternyata, kendaraannya itu kayak gini:

The donkey
Keledainya

Ya, “keledai”-nya ternyata adalah keledai beneran! Huahaha :lol:.

Kami perhatikan memang ada banyak keledai di Santorini. Sepertinya sih keledai memang adalah binatang lambang pulau ini.

Tersesat di Finikia

Ngomongin hotel kami di Santorini, kami menginap di desa Finikia dan di sini ada sebuah pengalaman yang layak banget deh diceritakan di sini.

Hotel in Finikia
Hotel kami di Finikia

Kami tiba di Santorini di malam hari. Sudah kusebutkan di Bagian IV bahwa malam itu setelah mendarat di sana, kami dihadapkan sebuah masalah dengan reservasi mobil sewaan kami di Santorini. Penting diingat juga bahwa hari itu kami juga pergi dalam sebuah perjalanan transit setengah hari di kota Athena; dan paginya kami harus bangun pagi di Bucharest untuk mengejar penerbangan kami. Intinya, kami sudah kelelahan sekali ketika meninggalkan bandaranya. Belum lagi perjalanan selama sekitar 40 menit untuk pergi ke Finikia (di tengah gelapnya malam) melewati jalanan Santorini yang bergunung-gunung.

Ternyata Finikia adalah sebuah desa yang berlokasi di lereng bukit. Lebih jauh lagi, desa ini adalah desa tradisional Santorini dengan jalanan berupa gang-gang kecil saja yang susunannya ruwet sekali dan penuh tangga-tangga. Singkatnya, bagi kami malam itu, Finikia adalah sebuah labirin yang membingungkan dan melelahkan secara fisik. Lalu, bayangkan bahwa kami harus melewati gang-gang kecil itu tanpa peta (peta offline di smartphone-ku tidak berfungsi karena tidak sampai mendetail di level gang yang kubutuhkan untuk mengurai ruwetnya Finikia) dan bagasi kami (tidak ada keledai ataupun petunjuk malam itu karena orang hotel kami tidak bisa kami hubungi).

Finikia
Finikia di pagi hari

Di satu waktu, aku meminta orangtuaku untuk menunggu saja di suatu tempat sementara aku akan pergi mencari hotelnya sendirian (jadi mereka tidak perlu berjalan jauh sambil membawa bagasi tanpa kepastian arah perginya harus kemana). Begini, salah satu keunggulanku ketika traveling adalah keawasanku akan arah. Aku nyaris tidak pernah tersesat, beneran, karena bagiku tidak sulit untuk memahami kondisi di sekitarku. Aku harus menambahkan kata “nyaris” di kalimat yang lalu karena malam itu, keawasan arahku tidak bekerja.

Aku berusaha keras mencari hotelnya tetapi tidak berhasil. Hanya ada sedikit petunjuk saja di desa itu; dan keruwetan gang-gang di desanya, harus kuakui, membuatku kewalahan. Aku diberi-tahu seorang bapak-bapak untuk mengikuti tanda panah berwarna biru yang dicat di gang-gangnya yang seharusnya akan menuntunku ke hotelnya (beneran ini). Namun, panah-panah biru itu tidak mudah untuk dilihat di bawah gelapnya malam dan, di satu waktu, aku tidak bisa melihatnya lagi. Singkat cerita, dengan sedikit keberuntungan, kegigihan, dan konsentrasi yang lebih, aku berhasil menemukan kembali panah-panahnya dan hotelnya kutemukan.

Follow the blue arrows
Panah-panah biru yang seharusnya menuntunku ke hotel. Masalahnya, panahnya tidak terlalu kelihatan di malam hari.

Oke, hotelnya ketemu, sekarang aku hanya perlu kembali ke lokasi dimana orangtuaku aku tinggalkan. Masalahnya, aku tidak ingat dari arah mana aku datang. Ini nggak semudah ngomong “Tapi kan kamu cuma tinggal kembali ke arah darimana kamu datang“. Masalahnya, aku beneran tersesat sebelum hotelnya kutemukan. Jadi nggak mudah kan merunut dari arah mana aku datang. Lebih parahnya lagi, malam itu reception hotelnya sudah kosong dong. Lebih nyebelinnya lagi, baterai hapeku habis dong. Eh, tetapi untuk ini untungnya aku sudah menyiapkan power bank denganku sih; tetapi ini mah masih aja menyebalkan ya, haha 😆 .

Singkat cerita, akhirnya lokasi orangtuaku bisa kutemukan (setelah tersesat dua kali juga), yang mana ternyata sudah merasa khawatir banget. Yah, aku sudah meninggalkan mereka selama 30 – 45an menit sih waktu itu, jadi ya wajar aja lah ya, haha. Lalu, kami berjalan ke arah hotel, menelepon orang hotelnya lagi dan, untungnya, tak lama kemudian ia muncul.

Iya, benar-benar hari yang gila deh! Sebuah hari penuh dengan perjalanan yang panjang dan melelahkan, masalah dengan mobil sewaan, menyetir mobil di tengah gelapnya malam di pulau yang asing, dan labirinnya Finikia. Ah, pada akhirnya ini menjadi sebuah cerita perjalanan yang seru untuk diceritain sih ya. Oh, dan seru juga untuk diingat-ingat sih 😛 .

EuroTrip · Tips · Travelling

#1790 – Four Saving-Money Tips in Geneva

ENGLISH

Posts in the A Weekend In Geneva series:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: Geneva

***

It is no secret that Switzerland is an “expensive” country to visit (well unless you are from an even more expensive country). So understandably many (budget) travelers would avoid visiting it.

From my weekend trip to Geneva at the end of July, though, I noticed there were a few things which we could do to save some money. Well, these tips would not magically make traveling in the country suddenly become “cheap”, of course. However, they would help to “control the damage” on your potential spending in Geneva.

Delicious steak in Geneva
None of these tips would make this delicious steak from costing CHF 42.50 to CHF 12.50, for instance 😆

Here they are:

1. FREE public transportation ticket when arriving at Geneva International Airport

This first tip is the trickiest one. When you arrive at Geneva International Airport, you can get a FREE public transportation ticket that is valid for 80 minutes. The ticket is meant to help you reach your destination within the city; and is also valid on the airport train that is the fastest way to the city center from the airport (5 minutes).

The tricky thing? Well, you have to get the ticket BEFORE you leave the luggage hall (because otherwise you could not get back in) where you can get it from a machine. The free ticket machine looks something like this:

A free ticket machine in the luggage area of Geneva Airport
A free ticket machine in the luggage area of Geneva Airport

While certainly visible (especially if you know what you are after), in my opinion it is also rather easy to miss it (when you forget about it, or even if you are not aware of such ticket).

If you already leave the luggage hall before getting the free ticket, there is no way to get back in and you would have to buy the public transportation ticket (CMIIW). I was curious how much this would have cost, so I made a dummy booking at the regular machine at the Geneva Airport train station:

Normal train ticket fare from Geneva Airport station to the city center
Normal train ticket fare from Geneva Airport station to the city center

Yes, a one-way trip on the 5 minute ride from the airport to the city center would have cost CHF 3 (€ 2.89). Haha 😆 . It might not be significant, but (a) It still helps! 😎 and (b) Remember, the free ticket is valid for 80 minutes for the entire Zone 10 (the city of Geneva) so you can also use it to travel beyond the train station to reach your hotel/hostel/camping ground/apartment/etc.

2. FREE public transport card

The second tip is certainly extremely useful ( 😆 ) and less tricky than the first one. When you stay in a hotel, hostel, or a campsite, you are entitled for a FREE public transport card for the duration of your stay! I say this one is less tricky because typically you would get it when you check-in at the hotel/hostel/campsite. Well, at least if the hotel receptionist forgets to give you one, you can always ask for it 🙂 .

Another good thing about this card is that it is date-based. This means that on your last day of visit, you can still use your card until the end of the day even if you have to check out from the hotel quite early during the day. Certainly this is useful, for instance, when you have a late flight out of Geneva.

The ticket is personalized where your name would be written on the card along with the validity period, something like this:

My free transport card for three full days
My free transport card for three full days

3. Consider staying at a breakfast-inclusive hotel

Nowadays it is quite common to find a relatively low hotel rate which (consequently) does not include breakfast. Depending on how much the difference is between the breakfast inclusive and exclusive rate, it might actually worth to book the inclusive rate. Why? Well, simply because the price of food in Switzerland is astronomical 😆 .

It happened that the cheapest rate of hotel that I stayed in was already breakfast-inclusive, so I did not need to compare anything. And I do think it really helped a lot, though. The breakfast was quite substantial (typical Continental-style breakfast) and was definitely sufficient to start my day.

Complimentary breakfast at the hotel
Complimentary breakfast at the hotel

4. Be aware of local events

Another impression of mine about Geneva was that it appeared to be a lively city. There were many events that were underway during my short stay there. Okay, I am not sure if it was due to the summer or it was always like that throughout the year. My point is, just be aware of any ongoing events nearby.

On Saturday evening, I went out to Parc Moynier where, at the time, there was a free movie screening in the park. As it was free, of course it was packed. Some people even brought their picnic mat and chairs as well, lol 😆 . It happened that I did not find the movie interesting (Clint Eastwood 1964 cowboy movie A Fistful of Dollars; not really my cup of tea) so I left after about 40 minutes. But still, it might happen too that there were interesting events for you nearby. Just keep your eyes open.

A free movie screening in the park
A free movie screening in the park

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri A Weekend In Geneva:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: Geneva

***

Bukan rahasia bahwa Swiss adalah negara “mahal” untuk dikunjungi (kecuali kamu berasal dari negara yang bahkan lebih mahal lagi sih, haha). Jadi tidak mengherankan ada banyak travelers (dengan budget terbatas) yang menghindarinya.

Dari pengalaman perjalanan akhir pekanku ke Jenewa di akhir Juli yang lalu, aku perhatikan sebenarnya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk sedikit menghemat pengeluaran. Pertama-tama, tips ini tidak akan secara ajaib membuat jalan-jalan di negara ini tiba-tiba menjadi “murah” lah ya. Hanya saja, menurutku ini akan membantu sekali dalam hal “damage control” untuk potensi pengeluaran di Jenewa.

Delicious steak in Geneva
Tidak ada satu pun dari tips-tips ini yang akan membuat harga steak enak banget ini turun dari CHF 42,50 menjadi CHF 12,50, misalnya 😆 .

Langsung saja deh:

1. Tiket transportasi umum GRATIS ketika tiba di Bandara Internasional Jenewa 

Tips pertama ini cukup tricky. Ketika tiba di Bandara Internasional Jenewa, kita bisa mendapatkan tiket transportasi umum GRATIS yang berlaku selama 80 menit. Tiket ini dimaksudkan untuk membantu kita mencapai tempat tujuan di dalam kota; dan juga berlaku di kereta bandara loh. Btw, kereta bandara ini adalah sarana tercepat untuk mencapai pusat kota dari bandara (dalam waktu 5 menit saja).

Tricky-nya dimana? Yah, tiket ini harus kita ambil SEBELUM meninggalkan aula pengambilan bagasi di bandaranya (karena kalau kita sudah terlanjur keluar, kita kan tidak bisa masuk lagi) dimana tiketnya bisa didapatkan dari sebuah mesin. Mesinnya berpenampakan seperti ini, btw:

A free ticket machine in the luggage area of Geneva Airport
Sebuah mesin tiket gratis di area bagasi di Bandara Jenewa

Walaupun mesinnya gampang ditemukan (terutama jika mesinnya memang kita cari), menurutku gampang pula untuk dilewatkan (misalnya kalau kita kelupaan atau kita tidak mengetahui keberadaan tiket ini).

Jika kita sudah terlanjur meninggalkan aula pengambilan bagasi sebelum mengambil tiket gratisnya, kita tidak bisa kembali masuk sehingga kita harus membeli tiket transportasi umum biasa (CMIIW). Nah, aku penasaran kan harga tiketnya berapa. Jadilah aku membuat dummy booking di sebuah mesin penjual tiket biasa di stasiun kereta api Bandara Jenewa:

Normal train ticket fare from Geneva Airport station to the city center
Harga normal tiket kereta dari stasiun bandara Jenewa ke pusat kota

Iya, tiket satu arah perjalanan dengan kereta api selama 5 menit bertarif CHF 3 (sekitar Rp 40.000). Haha 😆 . Nggak seberapa mahal sih ya memang, tetapi kan (a) tetap lebih enak kalau gratisan dong ya! 😎 dan (b) ingat, tiket gratis ini berlaku selama 80 menit loh di keseluruhan Zona 10 (kota Jenewa). Poin kedua ini berarti tiketnya bisa dipakai juga di transportasi umum di luar kereta api setelah kita tiba di Stasiun Jenewa untuk menuju ke hotel/hostel/tempat kemping/apartemen/dll kita.

2. Kartu transportasi umum GRATIS

Tips kedua ini jelas berguna banget (haha 😆 ). Jika kita menginap di hotel, hostel, atau tempat kemping, kita berhak mendapatkan kartu transportasi umum GRATIS untuk durasi masa tinggal kita! Aku bilang sih ini tidak begitu tricky karena seharusnya kita akan mendapatkannya ketika check-in di hotel/hostel/tempat kemping. Yah, setidaknya andaikata resepsionis hotelnya lupa memberikannya kepada kita, kan kita bisa tinggal memintanya 🙂 .

Satu hal lain yang oke dari kartu ini adalah masa berlakunya yang berdasarkan tanggal. Artinya, di hari terakhir kunjungan kita, kartu ini masih berlaku hingga akhir hari bahkan jika kita check-out dari hotel awal. Ini jelas berguna, misalnya, jika penerbangan kita dari Jenewa dijadwalkan berangkat di malam hari.

Tiketnya sendiri adalah tiket personal dimana nama kita akan dituliskan di kartu beserta waktu periode masa berlakunya, seperti ini:

My free transport card for three full days
Kartu transportasi gratisku yang berlaku tiga hari penuh

3. Pertimbangkan hotel yang rate-nya termasuk sarapan 

Sekarang-sekarang ini, cukup sering hotel-hotel menawarkan rate yang relatif murah yang mana (sebagai akibatnya) sarapan tidak termasuk di dalamnya. Tergantung dari seberapa besar perbedaan rate-nya, menurutku ini cukup patut dipertimbangkan. Mengapa? Yah, karena harga makanan di Swiss itu mahal banget! 😆 .

Kebetulan sih tarif termurah hotelku sudah termasuk sarapan sehingga aku tidak perlu membandingkan apa pun. Dan aku rasa ini cukup membantu loh. Sarapannya cukup beragam dan berat (tipikal sarapan ala Kontinental gitu) dan cukup untuk memulai hariku di sana.

Complimentary breakfast at the hotel
Sarapan komplimen di hotel

4. Mencari-tahu keberadaan acara-acara lokal

Satu kesanku yang lain akan Jenewa adalah kotanya yang nampak hidup. Ada banyak acara yang saat itu berlangsung di kunjungan singkatku kesana. Oke, aku nggak tahu sih apakah ini dikarenakan musim panas atau memang seperti itu sepanjang tahun. Maksudku adalah, yang penting kita mesti mengetahui keberadaan acara-acara lokal di sekitar kita.

Di Sabtu malam, aku pergi ke Parc Moynier dimana, saat itu, ada pemutaran film gratis loh di tamannya. Yah, layar tancap gitu lah, haha 😆 . Karena gratis, jelas dong itu tamannya penuh banget. Bahkan banyak pula yang niat membawa tikar dan kursi piknik segala *niat*, huahaha 😆 . Waktu itu kebetulan filmnya kurang menarik untukku (film koboi tahun 1964 A Fistful of Dollars-nya Clint Eastwood, bukan genre-ku deh) sehingga aku pergi setelah 40 menit. Tetapi tetap aja lah ya, mungkin akan ada acara yang menarik di dekat kita. Jika kita tahu, kan kita bisa mendatanginya.

A free movie screening in the park
Layar tancap di sebuah taman di Jenewa
Travelling

#1781 – Why Kuwait Airways Disappointed Me

ENGLISH

Last weekend, I organized a weekend trip to Geneva mainly because I wanted to try Kuwait Airways’ fifth freedom flight, which they operated out of Frankfurt. However, as I mentioned in that post, I was moved to a Lufthansa Cityline flight and so I felt disappointed. And this post is meant to let me explain why.

***

First of all, that day, Kuwait Airways still operated their regular Kuwait City – Frankfurt – Geneva. I saw their Airbus A330-200 upon landing in Geneva:

Kuwait Airways still flew to Geneva that day
Kuwait Airways still flew to Geneva that day.

So I wondered, why did they move me to a Lufthansa flight? First of all, I don’t think because the flight was overbooked. I checked my Lufthansa ticket and it was bought in May, some two months before the trip took place. So it was not by any means “last-minute booking due to an overbooked flight”.

Actually, I do acknowledge the “difficulties” with operating a fifth-freedom route. Being an international route operated by an airline from a third country as a tag-on flight, I could imagine there would be (many) more restrictions surrounding this route (permit-wise, politics, etc). Moreover, they would still have to compete with the local airlines who can provide more frequent services. Therefore, I give them the benefit of the doubt and I don’t really complain only because I was moved to a Lufthansa CityLine flight.

After all, there were many things which Kuwait Airways actually did right with this situation:

  1. Lufthansa is a well-known European legacy carrier. So it was not like they moved me to a random cheap LCC flight.
  2. While on Lufthansa, they bought me the most expensive Lufthansa’s economy ticket (the Y sub-class, i.e. the full fare economy class). While this meant nothing in terms of service which I received on board, this made a huge difference for my Star Alliance frequent flyer program, which I joined via Asiana. With this fare, I got the full 100% miles for the flight. Whereas had I not been moved from Kuwait Airways’ flight, I would have got no miles for any of my frequent flyer programs, lol 😆 .
  3. The Lufthansa flight was scheduled to depart just 5 minutes before the Kuwait Airways’ flight, so it was not like the move would disrupt my plan tremendously.

***

What disappointed me the most was the lack of communication. By “lack”, I mean nil, none, nada; as in there was NO communication from the airline to inform me about this change.

The one and only reason I found out about this change was because I was an avgeek. As usual, of course I would want to choose my own seat so I planned to check-in online at their website. And during this time I realized that the flight number had been changed from KU175 to LH1226. The Lufthansa’s reservation code was valid as I could check-in normally at Lufthansa’s website with it. I I could choose my seat on board my Bombardier CRJ900 flight and get the boarding pass without any problem.

I was moved to this Lufthansa Cityline's flight with a Bombardier CRJ900
I was moved to this Lufthansa Cityline’s flight with a Bombardier CRJ900

But that was it. I only found out because I wanted to check-in online.

All this time, there was NO communication whatsoever from Kuwait Airways that I received to inform me about this change.

Moreover at Frankfurt Airport, the KU175 flight to Geneva was still displayed normally. Had I not checked-in online before, I would not have noticed the change.

The KU175 flight was still scheduled normally in the information screen
The KU175 flight was still scheduled normally in the information screen

Because of this, I thought maybe there was a mistake so I would want to speak with the agent if I still could, somehow, board the Kuwait Airways flight. So I waited until two hours before departure, where the check-in desk was supposed to open. But then nobody came. I waited for 30 minutes and the check-in desk was still empty. The information desk also had no idea about it because the flight was still displayed as being scheduled as normal in their screen. It also did not help where I got one of the worst information desk officer ever who was very rude that I got myself in a small mouth fight with him. More on this a little bit later below 😉 .

I think this was quite fatal. If a passenger with a ticket just came to Frankfurt Airport to check-in, everything would seem so normal. There would be no indication that he had been moved to another flight. However, he would wait there in front of the empty check-in counter and started to wonder while there would be nobody to talk to. On the other hand, the system still recognized the flight as being operated normal so the flight would still be indicated in the departure board. Moreover, even the information desk would not be able to help.

Okay, the ticketing agent might know an idea or two. Admittedly I did not check this, though. However, if you where in this passenger’s shoes, how long before you would actually think about asking the ticketing agent?

Even then, Kuwait Airways operated at Terminal 2 of Frankfurt Airport while Lufthansa at Terminal 1. So even if the passenger eventually found out, he would have to go through the hassle of changing terminals.

Frankfurt Airport Terminal 1 was cooler than Terminal 2, though
Frankfurt Airport Terminal 1 was cooler than Terminal 2, though

So in conclusion, while I think Kuwait Airways did the best thing they could to rebook their passengers (which I really really appreciate) due to whatever problems they might have, their lack of communication was very fatal in my opinion. This was the biggest fault they could ever probably make.

Ironically, their company slogan is “Earning Your Trust”. Well, this is certainly not a way to earn my trust.

***

Okay, let’s get back to the information desk officer I mentioned above.

I asked the guy why the Kuwait Airways’ check-in desk was empty while it was already 90 minutes before the scheduled departure time. He was not being helpful at all. At first he rudely said the desk was already closed. I mean, how could it be closed if it was not opened yet as I had been literally standing there for more than 1 hour waiting for it to be opened? Then he said, again in a rude manner, no the flight was cancelled, which was of course not because every board in the airport still indicated the flight was being on time and my flightradar24 app clearly indicated Kuwait Airways’ 9K-APE was already approaching Frankfurt Airport. And then he got very grumpy and mouthed something in German. Then he yelled at me saying that I should just go to the check-in desk and check-in there. Like, WTF?

As I thought this guy was not willing to help me at all, I decided to leave. However, of course I was not just going to let him bully me like that.

Here is the thing. To maximize the customer satisfaction, Frankfurt Airport installs three buttons in many parts of the airports: green (for good service), yellow (for neutral service), and red (for bad service). These buttons can be found in toilets, information screens, as well as information desks.

So as I was leaving, I told him “Thank you for being helpful, by the way” in a very sarcastic tone. Because I was saying this stuff, he was looking at me. And at this time, I pressed the red button so he saw that I was very not satisfied with his service AND I was reporting him to the Frankfurt Airport management, muahahaha 😈😈😈 .

What happened next, well, you could probably imagine. He screamed at me (inside a busy airport in a weekend) and yelled, “Why only press the button once? Do it twice, or three times!!” Of course I did not and just walked away, ignoring whatever his reaction was. Then he screamed a few German words which I did not bother to listen to.

Oh well…

And of course:

Huahaha 😆

BAHASA INDONESIA

Akhir pekan yang lalu, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan ke Jenewa dengan alasan utama untuk mencoba penerbangan kebebasan-kelimanya Kuwait Airways, yang mereka operasikan dari Frankfurt. Namun, seperti yang kusebutkan di posting itu, aku dipindahkan ke sebuah penerbangannya Lufthansa Cityline dan aku merasa kecewa karenanya. Melalui posting ini, aku berniat menjelaskan alasannya.

***

Pertama-tama, hari itu Kuwait Airways sebenarnya masih mengoperasikan rute Kuwait City – Frankfurt – Jenewanya mereka loh. Aku melihat pesawat Airbus A330-200nya mereka ini ketika mendarat di Jenewa:

Kuwait Airways still flew to Geneva that day
Kuwait Airways masih terbang ke Jenewa hari itu.

Jadilah aku bertanya-tanya mengapa mereka memindahkanku ke penerbangannya Lufthansa? Pertama-tama, aku rasa alasannya bukan lah karena penerbangannya penuh. Ketika tiket Lufthansaku aku cek, ternyata tiket ini dibeli di bulan Mei, alias sekitar dua bulan sebelum perjalanan ini. Ini berarti tiket ini bukan lah “tiket last minute karena penerbangannya overbooked“.

Aku paham kok adanya “rintangan-rintangan” dalam pengoperasian sebuah penerbangan kebebasan kelima. Sebagai penerbangan internasional yang dioperasikan oleh maskapai negara ketiga sebagai lanjutan penerbangan dari negara itu, bisa kubayangkan ada lebih banyak lagi restriksi-restriksi di rute ini (izin terbang, politik, dll). Belum lagi maskapai harus bersaing dengan maskapai setempat yang bisa terbang dengan frekuensi lebih tinggi. Makanya aku tidak mengasumsikan apa-apa dan sebenarnya tidak ingin komplain semata-mata karena aku dipindahkan ke penerbangannya Lufthansa CityLine.

Toh sebenarnya, ada banyak hal positif lain yang sebenarnya dilakukan Kuwait Airways untuk memecahkan masalah ini:

  1. Lufthansa adalah maskapai full service terkemuka di Eropa. Jadi Kuwait Airways bukannya memindahkanku ke maskapai penerbangan murah LCC apa gitu kan ya.
  2. Mumpung masih ngomongin Lufthansa, mereka membelikanku tiket kelas ekonominya Lufthansa yang paling mahal loh (sub-kelas Y, alias tiket ekonomi dengan harga penuh). Walaupun ini tidak berarti apa-apa dalam layanan yang kuterima di pesawat, ini membuat perbedaan besar untuk program frequent flyer Star Alliance-ku, yang mana aku bergabung melalui maskapai Asiana. Dengan harga ini, aku mendapatkan 100% miles/poin dari penerbangan ini. Padahal kalau aku terbang beneran dengan Kuwait Airways, sebenarnya aku malah tidak akan mendapatkan miles apa pun sama sekali loh, haha 😆 .
  3. Penerbangannya Lufthansa dijadwalkan berangkat 5 menit sebelum Kuwait Airways, sehingga perubahan ini secara teknis seharusnya tidak akan begitu mengganggu rencanaku.

***

Yang paling mengecewakanku adalah minimnya komunikasi. Dengan “minim”, maksudku adalah ketiadaan; iya, dalam artian sama sekali TIDAK ADA komunikasi dari pihak maskapai untuk menginformasikan perubahan ini kepadaku.

Satu-satunya penyebab aku bisa mengetahui perubahan ini adalah karena ke-avgeek-anku. Seperti biasa, aku ingin memilih kursiku sendiri sehingga aku check-in online di website-nya mereka. Ketika ini lah aku menyadari bahwa nomor penerbangannya telah berubah dari KU175 menjadi LH1226. Kode reservasi Lufthansa-nya valid dimana aku bisa menggunakannya untuk check-in online di website-nya Lufthansa. Aku bisa memilih kursi di pesawat Bombardier CRJ900nya itu dan mendapatkan boarding pass-nya sama sekali tanpa masalah.

I was moved to this Lufthansa Cityline's flight with a Bombardier CRJ900
Aku dipindahkan ke penerbangannya Lufthansa Cityline dengan pesawat Bombardier CRJ900

Yup, dan sudah segitu saja. Aku bisa mengetahuinya hanya karena aku ingin check-in online.

Selama ini, sama sekali TIDAK ADA komunikasi apa pun dari pihak Kuwait Airways untuk menginformasikan perubahan ini.

Lebih jauh lagi, informasi di Bandara Frankfurt juga menyebutkan penerbangan KU175 ke Jenewa hari itu masih berlangsung normal. Andaikata aku tidak check-in online sebelumnya, aku sama sekali tidak akan menyadari perubahan ini.

The KU175 flight was still scheduled normally in the information screen
Penerbangan KU175 masih dijadwalkan normal di layar informasi bandara

Oleh karena itu, aku mengira mungkin ada kesalahan sehingga aku ingin berbincang dengan petugasnya dimana, jika diperbolehkan, aku masih ingin naik penerbangannya Kuwait Airways. Jadilah aku menunggu sampai dua jam sebelum keberangkatan dimana konter check-in-nya seharusnya mulai dibuka. Tetapi tidak ada seorang pun yang datang. Hingga 30 menit kemudian, konternya masih kosong dan tutup. Meja informasinya juga tidak tahu mengapa karena di sistem mereka penerbangan ini masih dijadwalkan terbang seperti biasa. Tentu saja situasi dimana kebetulan aku mendapatkan petugas meja informasi yang kasar dan rese sampai-sampai aku beradu-mulut dengannya juga tidak membantu lah ya. Ini akan kuceritakan di bawah 😉 .

Menurutku ini adalah kesalahan yang amat fatal. Jika seorang penumpang datang ke Bandara Frankfurt dan ingin check-in, semuanya nampak normal. Tidak ada indikasi bahwa ia telah dipindahkan ke penerbangan lain. Namun, ia akan menunggu di depan konter check-in yang kosong dan mulai was-was sementara tidak ada yang bisa menolong. Di sisi lain, sistemnya masih mengira penerbangan ini berlangsung normal sehingga papan keberangkatan akan masih mengindikasikan penerbangan ini seperti biasa. Lebih jauh lagi, bahkan meja informasinya tidak akan bisa membantu.

Oke, agen tiket pesawat mungkin bisa tahu. Memang sih aku tidak mengecek ini. Namun, butuh berapa lama deh andaikata kalian berada di situasinya si penumpang ini sampai kepikiran untuk bertanya ke agen tiket pesawat?

Apalagi, Kuwait Airways menggunakan Terminal 2 di Bandara Frankfurt sementara Lufthansa berada di Terminal 1. Jadi jika si penumpang ini pada akhirnya tahu, ia pun masih harus repot-repot berpindah terminal bandara.

Frankfurt Airport Terminal 1 was cooler than Terminal 2, though
Terminal 1 Bandara Frankfurt lebih keren daripada Terminal 2-nya sih

Jadi kesimpulannya, walaupun Kuwait Airways memecahkan masalah apa lah yang mereka harus hadapi dengan sangat amat baik (yang sungguh amat kuhargai), ketiadaan komunikasi ini sungguh sangat amat mengecewakan. Ini adalah kesalahan terbesar yang bisa mereka lakukan.

Ironisnya, slogan perusahaan mereka adalah “Earning Your Trust“. Yah, bagaimana ya, dengan caranya mereka begini mah mereka tidak akan mendapatkan kepercayaanku.

***

Oke, mari kita kembali ke bapak-bapak petugas informasi rese yang kusebutkan di atas.

Aku bertanya kepadanya mengapa konter check-in-nya Kuwait Airways kosong padahal sudah tinggal 90 menit sebelum waktu keberangkatan. Nah, ia sama sekali tidak membantu loh. Pertama-tama, dengan kasar ia bilang konternya sudah ditutup. Lah, bagaimana konternya sudah ditutup kalau dibuka aja belum dan konternya sudah aku tungguin selama sekitar 1 jam untuk dibuka? Lalu, dengan kasar lagi, ia bilang penerbangannya dibatalkan; yang mana jelas ini tidak benar karena di layar keberangkatan masih diindikasikan normal dan menurut app flightradar24-ku, pesawat 9K-APEnya Kuwait Airways sudah akan mendarat di Bandara Frankfurt. Ia kemudian menggerutu entah apa dalam bahasa Jerman. Lalu, ia membentakku dan menyuruhku kembali ke meja check-in-nya Kuwait Airways dan check-in disana. Lah, ini maksudnya gimana sih?

Karena aku menyadari orang ini sama sekali tidak berniat membantuku, aku memutuskan untuk pergi. Eh, tapi tentu dengan tidak membiarkannya mem-bully-ku seperti itu dong yaaa.

Jadi begini nih. Untuk memaksimalkan kepuasan pelanggan, Bandara Frankfurt memasang tiga tombol di banyak lokasi bandaranya: hijau (untuk layanan yang baik), kuning (untuk layanan yang biasa saja), dan merah (untuk layanan yang buruk). Tombol-tombol ini bisa ditemukan di toilet, layar informasi, dan juga meja informasi.

Nah jadilah ketika aku beranjak pergi, aku berkata kepadanya dengan nada yang sangat amat sarkastik “Thank you for being helpful, by the way“. Karena aku mengatakan sesuatu kepadanya, saat itu ia memandangku kan. Nah, ketika ini lah aku memencet tombol merah sehingga ia melihat bahwa aku tidak puas dengan layanannya DAN aku melaporkannya ke pihak manajemen Bandara Frankfurt, muahahaha 😈😈😈 .

Apa yang terjadi selanjutnya tentunya tidak mengherankan. Ia berteriak-teriak (di dalam bandara yang sedang ramai) dan dengan nada keras berkata: “Kenapa kamu cuma memencet tombolnya sekali? Pencet lah dua kali atau tiga kali!!” Oh, jelas dong aku tidak menggubrisnya dan aku berlalu (dengan elegan), sama sekali tidak memedulikan reaksinya. Lalu, ia meneriakkan beberapa kata entah apa lah dalam bahasa Jerman yang mana tidak aku dengarkan.

Oh well...

Dan tentu saja doong:

Huahaha 😆

Conference Trip · EuroTrip · One Week Trip · Vacation

#1753 – A Conference Trip to Munich (Part III: Munich)

ENGLISH

Posts in the A Conference Trip to Munich series:

1. Introduction
2. Part I: Garching
3. Part II: The Conference
4. Part III: Munich
5. Part IV: A Flying Saturday

***

Munich

The Staatskanzlei in Munich
The Staatskanzlei in Munich

In the one day that I had in Munich, I created my own walking route plan in the Altstadt (the Old Town) crossing as many interesting marked sites in the free map I got from my hotel as possible.

And what can I say, as I said in the Introduction, I found Munich, especially the Altstadt, to be very beautiful. Really. I mean it. The architecture, the gardens, the city plan, the gates, the buildings, etc. I felt like everything was harmonious so it created this very pleasant and nice atmosphere. I don’t know. I just really liked it.

The Isartor in Munich
The Isartor in Munich

But it was only in the Altstadt though. The other part of the city was pretty much “normal” and just like any other busy European cities, hahaha 😆 .

Allianz Arena

As I mentioned in Part I: Garching, my hotel in Garching was actually located quite close to the Allianz Arena. Football fans would immediately know what that is but perhaps not for non-football fans (like me). So, the Allianz Arena is a football stadium located to the north of Munich that is home to one of the top German football clubs: Bayern Munchen.

A proof that I visited the Allianz Arena in Munich
A proof that I visited the Allianz Arena in Munich

So obviously on my way from Garching to Munich, I decided to stop by there as the stadium was located not so far away from the U-Bahn Station Frötmanning. I did not enter the stadium, btw, as I was not really a football fans so the €19 felt like a lot to me and I’d rather spend it on something else (like good food, for instance, haha 😆 ). So I was just standing outside of the stadium and took a few photos. At least now I have proofs that “I have been there”, haha 😆 .

The Food

A Bavarian three course menu

My Yelp app suggested me a Bavarian restaurant and so obviously I gave it a try. After looking at their menu, I decided to go with their three course menu. This was because with the regular German serving-size, I felt like a three course menu was the better option because, hopefully, they would adjust the size accordingly, haha 😆 . And they did, though still kinda big but it was okay, haha 😆 .

A Schmankerlteller
A Schmankerlteller

For starter, I got a Bavarian soup called Griessnockerlsuppe which tasted a little bit like bakso soup in Indonesia, so it was nice. For the main course, I had a Bayrischer Schmankerlteller which was a pork shoulder dish with Bavarian sausages and kartoffelknoedel. It was also delicious, especially the sausages and the pork shoulder, but not so much the kartoffelknoedel which I generally did not really like anyway (I found the structure to be a bit too “strange” to my liking). For dessert, I got two very delicious apfelkuecherl which was served with cream and ice cream 🙂 .

A German gourmet dinner

Saltimbocca alla Romana
Arguably the fanciest German food I have ever had

In my last evening in Munich, I decided to go to a fancier German restaurant which Yelp also suggested me. I ordered a Saltimbocca alla Romana which was a veal dish wrapped with bacon and served with asparagus and boiled potatoes. And it was SO good plus the serving size was normal and just fit! Hahaha 😆 . For dessert, I had a serving of chocolate mousse and ice cream. The chocolate mousse was okay but I found the ice cream to be too salty. I am not sure if it was supposed to be like that though, but it tasted extremely strange!!

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri A Conference Trip to Munich:

1. Introduction
2. Part I: Garching
3. Part II: The Conference
4. Part III: Munich
5. Part IV: A Flying Saturday

***

Munich

The Staatskanzlei in Munich
Staatskanzlei di Munich

Di satu hari yang kumiliki di Munich, aku menyusun rute jalan kakiku sendiri di Altstadt (Kota Tua)-nya Munich melewati sebanyak mungkin tempat menarik yang ditandai di peta gratisan yang kudapatkan dari hotel.

Dan gimana ya, seperti yang kubilang di Introduction, bagiku Munich, terutama Altstadt-nya, itu sungguh indah. Beneran. Serius. Arsitekturnya, taman-tamannya, penataan kotanya, gerbang-gerbangnya, gedung-gedungnya, dll. Aku merasa semuanya ditata dengan harmonis sehingga atmosfernya sungguh asyik dan kotanya nampak kece banget. Aku sukaaa.

The Isartor in Munich
Isartor di Munich

Tetapi perasaan ini hanya kurasakan di Altstadt-nya saja sih memang. Bagian lain kotanya ya “biasa” saja dan memang mirip seperti kota-kota besar Eropa lainnya, haha 😆 .

Allianz Arena

Seperti yang kusebutkan di Bagian I: Garching, hotelku di Garching berlokasi cukup dekat dengan Allianz Arena. Fans sepakbola tentunya langsung tahu apaan itu Allianz Arena ya tetapi mungkin tidak seperti itu bagi yang bukan fans sepakbola (seperti aku). Jadi, Allianz Arena adalah sebuah stadion sepakbola berlokasi di utaranya kota Munich yang mana merupakan kandang dari salah satu klub sepakbola topnya Jerman: Bayern Munchen.

A proof that I visited the Allianz Arena in Munich
Bukti bahwa aku pernah ke Allianz Arena di Munich

Jadi jelas dong ketika aku kembali dari Garching ke Munich, aku memutuskan untuk mampir di stadionnya yang berlokasi tidak jauh dari stasiun U-Bahn Frötmanning. Aku nggak masuk ke dalam stadionnya sih, btw, karena aku bukan fans sepakbola sehingga harga tiket masuk sebesar €19 (sekitar Rp 300 ribu) terasa mahal bagiku dan mendingan buat yang lain kan ya (makan enak, misalnya, haha 😆 ). Jadilah aku berdiri di luar stadionnya dan foto-foto aja dari sana. Setidaknya sekarang aku memiliki bukti bahwa “aku sudah pernah kesana” kan, haha 😆 .

Makanannya

Three course menu Bavaria

App Yelp-ku menyarankan sebuah restoran Bavaria dan jelas aku memutuskan untuk mencobanya. Setelah melihat menunya, aku memutuskan untuk memesan menu three course mereka. Ini karena dengan ukuran rata-rata sebuah menu di Jerman, aku rasa menu three course adlaah pilihan terbaik karena, mudah-mudahan, ukurannya mereka sesuaikan ya, haha 😆 . Dan memang beneran begitu lho, walaupun masih besar juga sih, haha 😆 .

A Schmankerlteller
Seporsi Schmankerlteller

Untuk makanan pembuka, aku memesan sup Bavaria bernama Griessnockerlsuppe yang rasa kuahnya mirip seperti kuah bakso di Indonesia, jadi lumayan lah. Untuk makanan utama, aku memesan Bayrischer Schmankerlteller yang mana adalah bahu babi yang disajikan dengan sosis ala Bavaria dan kartoffelknoedel. Rasanya enak, terutama sosisnya dan bahu babinya, tetapi aku kurang begitu suka rasa kartoffelknoedel (aku merasa strukturnya terlalu “aneh” untuk lidahku). Untuk pencuci mulut, aku mendapatkan dua buah apfelkuecherl enak banget yang disajikan dengan krim dan es krim 🙂 .

Makan malam gourmet di Jerman

Saltimbocca alla Romana
Mungkin makanan Jerman paling “fancy” yang pernah kumakan

Di malam terakhirku di Munich, aku memutuskan untuk makan di sebuah restoran Jerman yang juga disarankan Yelp. Aku memesan Saltimbocca alla Romana yang mana adalah daging sapi muda yang dibalut dengan bacon dan disajikan dengan asparagus dan kentang rebus. Dan rasanya memang enak BANGET plus ukurannya standar dan pas banget! Hahaha 😆 . Untuk pencuci mulut, aku memesan sebuah menu mousse coklat dan es krim. Mousse coklatnya enak sih tetapi aku merasa es krimnya agak terlalu asin. Aku nggak tahu apakah memang seharusnya seperti itu, tetapi rasanya aneh banget!!

BERSAMBUNG…