#2125 – Luzern vs Laussane

ENGLISH

Here is a tip for a train trip in the expensive European country of Switzerland. If you look for the ticket in advance, you can potentially snatch a “saver” ticket where you can benefit a 70% discount of the regular price! This saver price comes with a restriction, though, where it is only valid on the specified train service with specific schedule; as opposed to the regular “open” ticket that is valid on any trains on a given date. But a 70% discount, especially in Switzerland, is a lot that this restriction, to me, is worth the inflexibility! Haha 😆

A Swiss train

And so as a preparation for my trip to Luzern, I was actively looking for a train ticket to get there from Zürich Airport and another one to go to Zürich from there since way before the trip. I started looking a little bit too early where tickets for trip on my travel dates were not for sale yet. Even though I couldn’t buy the tickets at the time, at least this gave me the impression of how much the tickets would cost me (by checkin the other dates).

Fast forward a few weeks later about two weeks before the trip, I started looking again. After entering Laussane, I was shocked to see that the ticket price appeared to have gone up by 2.5x fold! For some moment I couldn’t believe what I saw, as I found it strange for the price difference to be of that magnitude. Sure I could still find some saver tickets, but this would still mean that the after-discount saver price also increased by 2.5x fold. I also considered the possibility that perhaps I remembered the price wrong. And, if this were the case, this would mean that the regular return train ticket would cost almost as much as my return flight ticket from Amsterdam to Zürich! Haha 😆

… and not to mention that I would end up getting upgraded to Europe Business Class on the flight to Zürich.

Thankfully I wasn’t rushing in buying the ticket. For whatever reason, I decided to open Google Map as I would like to locate where Laussane was with respect to Zürich. And I noticed something strange: the town appeared to be much further away that it was “supposed to”; as I strongly remembered that the reason I chose to fly to Zürich was because this was the closest city with an international airport to it.

And then I realized what was going on!! I was looking for the wrong city! Lol 😆 . My destination was Luzern, NOT Laussane! Lol 😆 . Here is the map showing where the two towns are in Switzerland:

Luzern and Laussane in Switzerland

You see, Laussane was much further away from Zürich than Luzern, which explained the much more expensive train ticket! In fact, if I would like to go to Laussane (which I do actually, I have heard it to be a beautiful town too), I would fly to Geneva, not Zürich 😛 .

In fact, I was still under the influence of this mistake when I was preparing the Introduction post of the trip. In the draft, I wrote “Laussane” instead of “Luzern” and so I had to do a lot of cleaning up afterwards, haha 😆 .

Well, but in my defense, the name “Luzern” and “Laussane” are, indeed, quite similar, aren’t they? 😛

This was Luzern, not Laussane

BAHASA INDONESIA

Berikut ini satu tips untuk bepergian dengan kereta api di Swiss, sebuah negara Eropa yang mahal. Jika kita mencari tiketnya cukup awal, kita bisa mendapatkan diskon 70% loh dari harga normalnya! Tiket diskonan ini ada batasannya sih, dimana tiketnya hanya berlaku di layanan kereta yang disebutkan dengan jadwal dan jam keberangkatan yang ditentukan; tidak seperti tiket dengan harga normal yang berlaku “terbuka” alias bisa digunakan di kereta yang mana pun di tanggal yang sudah ditentukan. Tapi diskon sebesar 70%, apalagi di Swiss, membuat batasan ini sepadan dengan infleksibilitasnya lah ya! Haha 😆 .

Sebuah kereta di Swiss

Dan jadilah sebagai bentuk persiapan perjalananku ke Luzern, aku mencari-cari tiket untuk pergi kesana dari Bandara Zürich Airport dan tiket lain untuk kembali ke Zürich semenjak lama sebelum perjalanannya. Ternyata waktu pencarianku ini terlalu awal sehingga tiket untuk kereta di waktu perjalananku masih belum dijual. Biarpun demikian, setidaknya aku jadi mendapatkan gambaran akan harga tiketnya lah ya (dengan mengecek tanggal-tanggal lain).

Fast forward beberapa minggu kemudian, kira-kira dua minggu sebelum perjalanannya, aku mulai mencari tiketnya lagi. Setelah memasukkan Laussane, aku dikejutkan dengan harga tiketnya yang nampak sudah naik sekitar 2,5 kali lipat! Selama beberapa waktu aku tidak mempercayai apa yang aku lihat, karena aku merasa aneh kenaikannya kok bisa sebesar itu. Memang sih aku masih bisa menemukan tiket diskonannya, tetapi ini tetap berarti harga tiket setelah diskonnya pun lebih tinggi sekitar 2,5 kali lipat daripada apa yang aku ingat. Aku juga mempertimbangkan kemungkinan aku salah ingat harganya sih, haha. Dan jika memang demikian, artinya harga normal tiket kereta pp-nya hampir sama dong dengan harga tiket pesawat pp-ku dari Amsterdam ke Zürich! Haha 😆

… yang mana padahal di penerbanganku ke Zürich aku kan di-upgrade ke kelas bisnis Eropa ya.

Untungnya aku tidak terburu-buru membeli tiketnya. Entah mengapa, aku memutuskan untuk membuka Google Map karena aku ingin melihat lokasi Laussane di sebelah mananya Zürich. Dan aku melihat sesuatu yang aneh; kotanya kok nampak lebih jauh daripada yang “seharusnya” ya; karena aku juga ingat jelas bahwa alasan aku memilih terbang ke Zürich adalah karena ini adalah kota dengan bandara internasional terdekat darinya.

Dan baru lah aku menyadari apa yang terjadi!! Aku salah kota dong! Huahahaha 😆 . Tujuanku kan Luzern ya, BUKAN Laussane! Hahaha 😆 . Berikut ini peta yang menunjukkan lokasi dua kota ini di Swiss:

Luzern dan Laussane di Swiss

Seperti yang bisa dilihat, Laussane itu berlokasi lebih jauh dari Zürich daripada Luzern, yang menjelaskan mengapa harga tiket keretanya juga lebih mahal! Malahan, jika aku ingin pergi ke Laussane (yang mana memang aku ingini sih, aku dengar kotanya juga indah), aku bakal terbang ke Jenewa (Geneva) deh, bukannya Zürich 😛 .

Bahkan aku masih dipengaruhi oleh kesalahan ini loh ketika aku mempersiapkan posting Introduction dari perjalanan ini. Di draft-nya, aku menulis “Laussane” bukannya “Luzern” sehingga aku harus membenarkan banyak kesalahan ini setelahnya, haha 😆 .

Ya tapi in my defense, nama “Luzern” dan “Laussane” kan memang mirip, iya kan? 😛

Ini Luzern, bukan Laussane

Advertisements

#2115 – A Camera and T-Shirt Incident

ENGLISH

I have mentioned that I forgot to bring my pocket camera on my weekend trip to Munich in April. On the brighter side, this allowed me to realize the value of a pocket camera in a trip of mine, which turned out to be quite great, haha 😆 . I felt like I couldn’t enjoy the trip as much as if I had had my camera with me.

Unfortunately, the camera wasn’t the only thing I forgot that weekend. After arriving at my apartment in Amsterdam, I realized that I left the t-shirt I wore on Saturday in Munich! This was weird because I checked my hotel room before leaving in the morning and I was sure I already had all my stuffs with me! Though, now that I think about it, perhaps the t-shirt also accidentally “fell out” when I took my sweater from my bag in the Air France/KLM Lounge at Munich Airport, hmmm. But either way, the end result was that I “lost” this t-shirt of mine.

One of my last selfies with the t-shirt

While the monetary value wasn’t that much, I actually liked the t-shirt as it fit my body and appearance well. And it was also quite new, as I bought it just this February in Bologna along with my “emergency” pants. But oh well …

***

I have been trying to find the cause of this, though. I know that as I age (I’m feeling sad just writing this sentence, lol 😆 ) I have become a little more forgetful than when I was younger. But the fact that two separate memory-related incidents happened so close to each other made me think of the possibility of a common cause, haha 😆 .

It happened that I took morning flights on both days, which required me to get up earlier than usual. And perhaps the combination with the tiredness from my work in the preceding full week led to me being more prone to incidents like this. Hmmm…

***

But anyway, it was what it was. If anything, it was actually good that it happened on one of my “smaller” trips. Plus, an incident like this actually reminded me that it could happen, which should make me not take it for granted on my future trips, hehe 🙂 .

BAHASA INDONESIA

Sudah kuceritakan bahwa aku lupa membawa kamera sakuku di perjalanan akhir pekanku ke Munich April kemarin. Sisi positifnya, ini membuatku menyadari nilai dari kamera sakuku di acara jalan-jalanku, yang mana ternyata amat bernilai, haha 😆 . Rasanya aku tidak bisa menikmati perjalanannya semaksimal apabila aku membawa kamera sakuku bersamaku.

Sayangnya, kameraku bukan lah satu-satunya yang aku lupakan di akhir pekan itu. Ketika tiba di apartemenku di Amsterdam, aku baru menyadari bahwa kaus yang aku pakai di hari Sabtu ketinggalan dong di Munich! Ini aneh soalnya aku mengecek kamar hotelku loh sebelum meninggalkannya pagi itu dan aku yakin aku sudah memasukkan semua barang-barangku ke dalam tas! Walaupun kalau dipikir-pikir lagi sekarang, mungkin kausnya tidak sengaja terjatuh ketika aku mengambil sweater dari tasku di lounge-nya Air France/KLM di Bandara Munich sih, hmmm. Ah, tapi intinya pada akhirnya aku “kehilangan” kausku ini.

Salah satu selfie terakhirku dengan kaus ini

Walaupun nilai moneter dari kausnya nggak seberapa, aku sebenarnya suka kausnya karena ukuran dan modelnya pas dan cocok untuk badanku. Dan kausnya masih terbilang baru juga karena aku baru membelinya Februari ini di Bologna bersamaan dengan celana “darurat”-ku. Ah, ya sudah lah ya …

***

Ceritanya aku sudah memikirkan kira-kira apa penyebab dari insiden ini. Aku tahu bahwa seiring bertambahnya usia (kok menulis kalimat ini bikin sedih ya, haha 😆 ) aku juga cenderung menjadi sedikit lebih pelupa daripada ketika masih muda belia dulu. Tapi fakta bahwa ada dua insiden yang berkaitan dengan ingatan yang terjadi berturut-turut membuatku curiga akan keberadaan faktor lain yang berperan di sini, haha 😆 .

Kebetulan dua penerbangan yang kuambil di dua hari itu adalah penerbangan pagi, yang mana membuatku harus bangun lebih pagi dari biasanya. Dan mungkin dikombinasikan dengan lelahnya aku dari kerjaanku di kantor satu minggu penuh sebelumnya membuatku lebih rentan akan insiden semacam ini ya. Hmmm…

***

Ya sudah lah. Toh sebenarnya masih mendingan sih kejadian ini terjadi di perjalanan “kecil”-ku saja. Apalagi, insiden seperti ini sebenarnya justru mengingatkanku bahwa ini bisa terjadi, yang mana membuatku lebih awas di perjalan-perjalanan mendatangku, haha 🙂 .

#2080 – A Broken OV Chipkaart and A Popped Button

ENGLISH

Previously I shared a thought about how I felt disruptions appeared to more likely occur with bad timing rather than not.

And recently, this happened again! Not only once, but twice within the same week!!

A Broken OV-Chipkaart

My OV Chipkaart decided to break down one day before the start of my midweek trip to Copenhagen. I would need this card to travel within Amsterdam and to/from Schiphol; and you know I would have another upcoming trip to Bologna that weekend. I found it really annoying that the card chose to break down that week, not, say, the week before or after when I had no plan to travel that far out, haha 😆 .

I immediately requested for a replacement online, but it would only arrive within three working days. And so I knew at the very least I would have to deal with this situation during my two-day Copenhagen trip.

Anyway, in the end I received my new card by Thursday, and so it was all, thankfully, fixed by the time I went on my Bologna weekend trip, haha.

A Popped Button

But then, just when I arrived at Schiphol to start my Bologna weekend trip, my pants’ button decided to pop! Yeah, what a timing!! And to make things even worse, somehow I decided not to wear any belt for this trip.

As it was certainly very uncomfortable, I decided to buy a belt at Schiphol. But as I was rushing, I forgot to ask the shopkeeper to add one or two extra holes at the belt (For whatever reason I am in the skinny spectrum of the belt industry, I observe, which I find really weird as I feel like I am not that skinny, haha). While it kinda “worked”, it was still quite uncomfortable. And so in Bologna I decided to go to H&M and bought a new pair of pants.

“Emergency” shopping in Bologna

All in all, I think I managed the situation quite well; especially that for some time I got to avoid the potentially embarassing sight of my “opened” pants by covering it up with my jacket and coat, haha 😛 . Well, then from this perspective the timing was still “okay” because it was winter time so I had my jacket and coat with me. Had it been in the summer, though… 🙈

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu aku membagikan pikiran mengenai pengamatanku bahwa sepertinya yang namanya gangguan operasional, atau kesialan secara lebih luas, lebih mungkin terjadi ketika timing-nya tidak pas daripada di waktu-waktu lain.

Dan belum lama ini, ini terjadi lagi dong! Pun tidak hanya sekali, melainkan dua kali dalam minggu yang sama!

OV-Chipkaart yang rusak

Kartu OV-Chipkaart-ku memutuskan untuk rusak satu hari sebelum keberangkatanku di perjalanan tengah mingguku ke Kopenhagen. Aku akan membutuhkan kartu ini untuk bepergian di dalam Amsterdam dan ke/dari Schiphol; dan tahu lah di akhir minggu ini aku ada acara jalan-jalan lagi ke Bologna. Aku merasa sebal banget kartunya memutuskan untuk rusak di minggu itu, bukannya, misalnya kek, minggu sebelumnya atau setelahnya dimana aku tidak memiliki rencana untuk bepergian jauh, haha 😆 .

Aku langsung meminta penggantian kartunya online sih, tetapi kartu penggantinya baru akan tiba dalam waktu tiga hari kerja. Dan jadilah aku paham bahwa setidaknya aku harus menghadapi situasi ini di perjalananku ke Kopenhagen.

Anyway, pada akhirnya aku mendapatkan kartu baruku di hari Kamis; jadi untungnya semuanya sudah pulih kembali ketika aku harus berangkat dalam perjalanan akhir pekan ke Bologna-ku, haha.

Kancing celana yang lepas

Tetapi kemudian, ketika aku baru saja tiba di Bandara Schiphol untuk memulai perjalanan akhir pekan ke Bologna-ku itu, kancing celanaku memutuskan untuk lepas dong! Iya, timing-nya kok begini banget ya!! Dan untuk membuat situasi menjadi lebih runyam, waktu itu aku memutuskan untuk tidak memakai sabuk di perjalanan kali ini.

Karena sangat tidak nyaman, aku memutuskan untuk membeli sabuk di Schiphol. Karena terburu-buru, aku lupa meminta penjaga tokonya untuk menambahkan satu atau dua lubang di sabuknya (Entah mengapa sepertinya aku tergolong dalam spektrum kurus di dunia industri persabukan, yang mana menurutku aneh karena menurutku aku tidak sekurus itu, haha). Walaupun sabuknya lumayan “membantu”, toh masih terasa tidak nyaman juga. Jadilah di Bologna aku memutuskan untuk mampir di H&M dan membeli celana baru.

Belanja “darurat” di Bologna

Secara keseluruhan, rasanya situasinya aku kendalikan dengan baik; terutama selama beberapa waktu aku berhasil menghindari situasi yang berpotensi memalukan sekali dimana pemandangan celanaku yang “terbuka” bisa aku tutupi dengan jaket dan mantelku, haha 😛 . Yah, kalau dipikir-pikir dari segi ini timing-nya masih “oke” lah ya karena musim dingin sehingga aku memakai jaket dan mantel. Coba kalau musim panas! 🙈

 

 

#2052 – The Last Week Before A Vacation

ENGLISH

I started writing the draft of this post just two days before the start of my November 2017 trip to Indonesia. While it was not a “eureka” moment whatsoever, the context was very relevant at the time which made me want to write it down 😛 .

To me, the moment just before the start of a big trip or vacation is one of the worst! Well, as in it feels like there are so many things going on that need to be taken care of while in reality, there might actually not be. It is true, though, that to me there are a few separate factors occupying my mind at such time and they are conditionally forced to interact with each other. I hypothesize this interaction is what causes that feeling!

First of all, there are of course work stuffs. Having a big vacation coming up actually can be seen as an extra deadline; but not imposed by a project or my superior or anything, but by myself, haha. To me, whenever possible I always want to start a vacation or a trip on a clear state of mind, without any work-related “luggage” carried on. This, however, means that I feel the strong urge to finish my current tasks before I go and this can certainly be quite stressful.

Separate from that, there is of course the excitement. I mean, who wouldn’t feel excited just before a big trip? Daydreaming forward on the nice coming trip makes the present somehow feels a little bit more miserable. And for this trip to Indonesia, the Dutch Fall weather certainly did not help at all.

On the other hand, there is also the important preparation, like packing and preparing all the documents and stuffs (making sure to have my flight tickets and hotel reservations ready, for instance). And then of course the lingering sneaky thought of “Am I forgetting something?“.

All in all, this results in me facing myself and my mind to multitask. On top of that, as I said, these factors do not stand by themselves as they interact with each other. And so this time can certainly be quite stressful! Haha 😛 . I noticed myself that week where I appeared to be uncharacteristically “rushing” a little bit more and less calm than usual.

But of course given the amount of my experience with travelling, that was not my first experience handling such situation. I have learned that since weeks before the trip, I would need to start the anticipation. For my work, I started to arrange my schedule accordingly, and told my colleagues and stakeholders in advance about my plan. This helped in making the “size” of the deadline to be more manageable. For the preparation, I started packing my suitcase since a few days before the trip. So no last minute packing! Haha 😛 . And I made a list on what I would need to bring. For the excitement, unfortunately, there was nothing that I could do, haha…

But well, eventually this all leads to the trip itself where the moment the trip begins is, on the other hand, one of the best!

BAHASA INDONESIA

Aku mulai menulis draft posting ini sekitar dua hari sebelum perjalanan bulan November 2017ku ke Indonesia dimulai. Walaupun waktu itu topik ini bukanlah momen “eureka”, konteksnya amat relevan sehingga aku merasa aku perlu menuliskannya 😛 .

Untukku, momen sebelum sebuah perjalanan atau liburan besar dimulai adalah salah satu yang terburuk! Yah, rasanya ada banyak banget gitu yang berlangsung pada waktu yang bersamaan yang perlu diurus, padahal sebenarnya kenyataannya mungkin tidak sebanyak itu, haha. Namun, benar bahwa ada beberapa hal terpisah yang mengisi pikiranku di waktu-waktu ini dan situasi memaksa mereka untuk berinteraksi satu sama lain. Hipotesaku adalah interaksi ini lah yang menimbulkan perasaan terburuk itu!

Pertama-tama, tentu saja ada urusan kerjaan ya. Adanya sebuah liburan besar yang akan tiba sebenarnya juga berarti sebuah tenggat waktu (deadline) ekstra; yang bukan datang dari sebuah proyek atau dari atasan, tetapi dari diriku sendiri, haha. Untukku, selama memungkinkan aku ingin berangkat dalam sebuah liburan dengan pikiran yang tenang, tanpa “embel-embel” urusan pekerjaan yang ikut terbawa. Ini, tapinya, berarti aku juga jadi merasakan keinginan kuat untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku waktu itu sebelum pergi dan tentu ini terasa cukup stressful.

Lepas dari itu, tentu saja ada perasaan excitement. Maksudku, siapa juga yang nggak merasa excited sebelum berangkat liburan ya? Masalahnya, memikirkan ke depan mengenai perjalanan yang akan segera datang dan mengasyikkan itu justru membuat saat ini terasa lebih menyedihkan. Dan untuk perjalanan ke Indonesia kemarin ini, cuaca musim gugur di Belanda jelas sama sekali tidak membantu.

Di sisi lain, ada juga persiapan yang tentu juga penting, seperti misalnya mulai packing dan menyiapkan segala dokumen dan tetek-bengek lainnya (memastikan semua tiket pesawat, reservasi penginapan, dll siap, misalnya). Dan tentu saja pikiran menyebalkan “Eh, aku kelupaan apa ya?” itu.

Jadi, ini berakibat pada diriku dan pikiranku yang tiba-tiba, mau tidak mau, mesti multitasking. Di samping itu, seperti yang kubilang faktor-faktor tersebut tidak berdiri sendiri dan mereka justru berinteraksi satu sama lain. Dan jadilah sebagai akibatnya ini bisa terasa agak stressful! Haha 😛 . Aku perhatikan diriku minggu itu dimana rasanya, tidak biasanya, aku cenderung agak lebih “terburu-buru” dan kurang kalem dibandingkan biasanya.

Tetapi tentu saja dong dengan pengalamanku jalan-jalan, ini bukan lah kali pertama aku menghadapi situasi ini. Aku sudah tahu bahwa semenjak sekian minggu sebelum liburan, aku sudah harus memulai antisipasi. Untuk kerjaan, aku mulai mengatur jadwalku sedemikian rupa, dan juga memberi-tahu kolega dan stakeholders-ku jauh-jauh hari mengenai rencanaku. Ini membantuku untuk membuat “ukuran” dari tenggat-waktunya untuk lebih masuk akal untuk ditaklukkan. Untuk masalah persiapan, aku mulai packing semenjak sekian hari sebelum perjalanan. Jadi nggak ada deh ceritanya last minute packing! Haha 😛  Dan aku juga membuat daftar mengenai apa saja yang mesti kubawa. Untuk excitement, sayangnya tidak ada yang bisa kulakukan untuknya, haha…

Ah, tetapi toh pada akhirnya aku akan tiba juga di waktu keberangkatan yang mana merupakan satu waktu yang terbaik!

#2022 – Side Stories from Newcastle

ENGLISH

Here are a couple of stories from my recent weekend trip to Newcastle upon Tyne.

Ticketing Situation

I took the metro to get to the city from the airport. I bought the ticket in a vending machine and after finishing off my purchase, a piece of paper “flew off” the machine (quite literally). Naturally I thought that was the ticket because the screen said the ticket was being printed at the time. I grabbed it and went to the station.

Long story short I took the metro and got off at the Central Station. There, however, I wasn’t able to get off the station where I couldn’t even insert the “ticket” to the gate. I approached the officer there and she mentioned that what I was holding was not the ticket, it was just the receipt. And yeah, it actually looked quite similar to this:

A ticket receipt

and indeed it was my mistake to not check it when I got it from the machine. I explained my situation to her that I did not know as this was my first time ever in Newcastle. She explained to me how a valid ticket would have looked like, which would have had a yellow stripe (I mean, how was I supposed to know? Haha 😛 All I knew was that piece of paper flew off the machine after I bought a ticket!). But she believed me that it was an honest mistake and let me go without charging me the £20 penalty which would have been imposed for a traveller without a valid ticket! Thank you!! 🙂

A valid Metro ticket in Newcastle

A Cemetery

In Gateshead, I saw the following banner:

The building was for hire

saying that this particular building was available for hire for events like wedding, conference, dinner party, etc. But when I looked over what the building was like, it was actually:

A cemetery in Newscastle

Yeah, it was partially a cemetery!

Well, I guess there might be a certain market for that! Haha 😆

BAHASA INDONESIA

Berikut ini dua cerita dari perjalanan akhir pekan singkatku ke Newcastle upon Tyne baru-baru ini.

Insiden tiket metro

Aku naik metro untuk pergi dari bandara ke kota. Aku membeli tiketnya di sebuah mesin dimana setelah selesai dengan pembayaranku, satu potong kecil kertas “terbang” terlempat keluar dari mesinnya (dalam artian sebenarnya). Ya jelas dong aku kira itu tiketnya karena layarnya juga berkata tiket sedang dicetak waktu itu. Aku mengambilnya dan pergi ke stasiun.

Singkat cerita aku menaiki metronya dan turun di Central Station. Di sana, tapinya, aku tidak bisa keluar dimana bahkan aku tidak bisa memasukkan “tiket”-nya ke gerbang pintunya itu. Aku kemudian menghampiri petuagsnya di sana dimana ia berkata bahwa yang kupegang bukanlah tiket, tetapi hanya bonnya saja. Dan ya, memang sih penampakannya kurang lebih seperti ini:

Bon tiket

dan memang salahku juga aku tidak mengeceknya ketika aku mengambilnya dari mesin. Aku menjelaskan situasiku ke petugasnya dan kubilang bahwa aku tidak tahu dan ini adalah kali pertamaku di Newcastle. Ia jelaskan penampakan dari tiket yang valid, yang mana terdapat garis berwarna kuning (Ya kan meneketehe ya? Haha 😛 . Yang kutahu kan kertas itu keluar dari mesinnya setelah tiketnya kubeli!). Tetapi ia percaya padaku kok bahwa ini adalah honest mistake dan mengizinkanku untuk keluar tanpa memberikan penalti  £20 yang dikenakan ke penumpang yang ketahuan tidak membawa tiket! Terima Kasih!! 🙂

Tiket metro yang valid di Newcastle.

Kuburan

Di Gateshead, aku melihat spanduk ini:

Gedungnya bisa disewa

yang berkata bahwa gedung ini bisa disewa untuk acara-acara seperti pesta pernikahan, konferensi, pesta makan malam, dll. Tetapi ketika dalam arenya aku lihat, penampakannya seperti ini:

Kuburan di Newcastle

Iya dong, sebagian area gedungnya itu adalah kuburan!

Yah, mungkin memang ini ada pangsa pasarnya tersendiri juga kali yah! Haha 😆

#1992 – BookWithMatrix

ENGLISH

It is well-known that the best way to know the existence of the best flight tickets, especially for long-haul ones for me, is through Google’s itamatrix software. The definition of “best” here can be anything, not just limited to, for instance, the cheapest possible one. For instance, say I want to travel from Amsterdam to Tokyo-Narita and my definition of “best” is: “the cheapest one with a SkyTeam airline with transits in Paris and Shanghai but not in Seoul with no transit longer than four hours and no overnight stops, on subclass L or N, and no flight with a propeller plane” on my departure flight and “the cheapest one with a SkyTeam airline with transit Seoul but not Rome with no transit longer than four hours, on subclass L or N, no flight with a propeller plane, and no redeye flight” on my return flight. I can ask the software to find a solution for me (provided that a solution exists). All I need to do is to not get overwhelmed by the few “programming” tricks to enter those conditions, haha.

Yep, I found a solution with my requirements above. As you see, all the airlines are SkyTeam, no transits of more than four hours, transits in Paris and Shanghai and not Seoul on the departure trip, transit in Seoul and not in Rome on the return trip, no propeller plane, all subclasses are L or N, and no redeye on the return trip. It might be funny that five or the six flights are officially AirFrance’s though none of the six are flown on an AirFrance’s metal, haha 😆 .

However, the biggest problem with this software is that it only looks for the existence to a solution. The software is not a travel agency and so you cannot purchase the ticket you have discovered that you might have liked. And as you can see, sometimes you end up with quite a complicated itinerary that wouldn’t show up in a regular online travel agency (OTA) website.

And as of recently, I have discovered a solution to that. So for an upcoming big trip of mine involving intercontinental flights (still yet to be revealed 😛 ), I was looking for a good-value return ticket for months. Some conditions made my trip a little bit more complicated where I would need an open-jaw ticket (a ticket where I return from a different airport than where I originally arrive) with a specific airline with a specific subclass of travel. It was quite difficult as with the conventional OTAs, including the airline’s website itself, I only found tickets with higher subclass of travel making them much more expensive. However, I found a solution to my wants in itamatrix so it made the search a little bit annoying.

I found my return ticket with China Eastern to Bali last year with the help of itamatrix.

And then I came across BookWithMatrix. In short, it helps you find some OTAs which would issue the ticket you have just found in itamatrix. To be honest, at first I found it quite sketchy as what I would need to do is to literally select all, copy, and paste the entire page of the itinerary in itamatrix there. Though now that I think about it, it is not that weird with the advance of image recognition technology we have these days, haha. Anway, and so I was looking for some reviews and I found some articles, including those written by well-known travel bloggers, about their positive experience with the website. So I started to trust this awesomely-sound tool more.

Anyway, so I decided to just give the tool a try; with no expectation whatsoever. And you know what? I did FIND the ticket at an OTA with this tool!! The OTA itself was a famous one (I know about it) so I knew that it was legit, haha. I decided to just eff it and purchase the ticket (The OTA promised 24-hour of free cancellation anyway, haha). Then I got the confirmation email and the usual stuffs from the OTA. I checked online in the airline’s website, and I did find my reservation there so it was indeed legit. Just to be even more sure, I called the airline’s representative in the Netherlands and they did say the ticket was confirmed and it was all like I wanted.

Oh wow!! I guess I just found some gold here!! So far I am really happy with this tool!! And I guess this will come in very handy in the future!!

Have any of you guys used this tool as well? 🙂

BAHASA INDONESIA

Sudah banyak diketahui bahwa cara terbaik untuk mengetahui ada atau tidaknya tiket pesawat terbaik, terutama untuk penerbangan jarak jauh untukku, adalah dengan software itamatrix-nya Google. Definisi “terbaik” di sini bisa bermacam-macam lho, tidak hanya sebatas, misalnya, yang paling murah. Misalnya saja, katakanlah aku ingin pergi dari Amsterdam ke Tokyo-Narita dan definisi “terbaikku” adalah: “tiket yang paling murah dengan maskapai SkyTeam dengan transit di Paris dan Shanghai tetapi tidak di Seoul dimana per transitnya tidak lebih lama dari empat jam dan tidak melibatkan transit yang harus menginap, di subclass L atau N, dan tidak mau terbang dengan pesawat baling-baling” di penerbangan keberangkatan dan “yang termurah dengan maskapai SkyTeam dengan transit di Seoul tetapi tidak di Roma dengan per transit tidak lebih lama dari empat jam, di subclass L atau N, tidak mau terbang dengan pesawat baling-baling, dan tidak mau penerbangan malam/redeye” di penerbangan kepulanganku. Aku bisa meminta software-nya untuk mencarikan solusinya untukku (dengan catatan jika solusinya ada ya). Yang perlu kulakukan adalah tidak perlu terlalu “takut” dengan sedikit trik “programming” untuk memasukkan kondisi-kondisi ini, haha.

Yup, solusi yang memenuhi mauku di atas ada loh. Seperti yang bisa dilihat, semua maskapainya adalah SkyTeam, tidak ada transit yang lebih lama dari empat jam, transit di Paris dan Shanghai dan tidak di Seoul di penerbangan keberangkatan, transit di Seoul dan tidak di Roma di penerbangan kepulangan, tidak melibatkan pesawat baling-baling, subclass-nya L atau N, tidak ada penerbangan malam/redeye di penerbangan pulang. Eh mungkin agak lucu ya lima dari enam penerbangannya secara resmi adalah dengan AirFrance tetapi tidak satu pun penerbangannya menggunakan pesawatnya AirFrance, haha 😆 .

Namun, masalah terbesar dari itamatrix adalah software-nya hanya mencari ada atau tidaknya suatu solusi. Software ini bukanlah travel agent sehingga kita tidak bisa membeli tiket yang kita temukan di sana padahal tiketnya kita suka. Dan seperti yang bisa dilihat, bisa jadi kadang kita menemukan itinerary yang cukup rumit sehingga pilihan tiket ini tidak akan muncul di website online travel agency (OTA) biasa.

Akhir-akhir ini, kebetulan aku menemukan solusi untuk itu. Jadi untuk sebuah perjalanan besarku yang akan datang  yang melibatkan penerbangan-penerbangan antar-benua (masih belum saatnya kuceritakan nih 😛 ), aku telah mencari tiket pp yang value-nya oke selama berbulan-bulan. Beberapa kondisi membuat perjalanan ini cukup rumit dimana aku membutuhkan tiket open-jaw (tiket dimana aku pulang dari bandara yang berbeda dari bandara ketibaanku di keberangkatan) dengan sebuah maskapai spesifik dengan sebuah subclass spesifik. Aku tidak bisa menemukannya dengan OTA biasa, bahkan juga di website maskapainya sendiri, dimana aku hanya menemukan tiket dengan subclass lebih tinggi yang mana artinya harganya juga mahal. Namun, aku menemukan solusinya di itamatrix makanya rasanya gemes lah ya.

Aku menemukan tiket pp-ku dengan China Eastern ke Bali tahun lalu dengan bantuan itamatrix.

Dan kemudian aku menemukan BookWithMatrix. Secara singkat, ini adalah alat untuk menemukan OTA yang bisa menjual tiket sesuai spesifikasi yang kita temukan di itamatrix. Sejujurnya, awalnya aku sedikit curiga soalnya yang perlu kita lakukan adalah men-select all, copy, dan paste halaman itinerary di itamatrix di sana. Walaupun sekarang kalau dipikir-pikir lagi sih, nggak aneh juga sih ya dengan kemajuan teknologi di bidang image recognition zaman sekarang, haha. Anyway, jadilah aku mencari review-nya dan aku menemukan beberapa artikel, termasuk yang ditulis oleh beberapa travel bloggers terkenal, mengenai pengalaman positif mereka dengan alat ini. Jadilah aku lebih percaya, haha.

Anyway, jadilah aku memutuskan untuk mencobanya; tanpa ekspektasi apa pun lah. Dan apa yang terjadi? Aku MENEMUKAN tiketnya dijual di satu OTA dong!! OTAnya sendiri adalah OTA besar (aku tahu namanya gitu) sehingga aku cukup yakin ini legit, haha. Aku memutuskan untuk nekad aja dan membeli tiketnya (OTAnya sendiri menjanjikan free cancellation selama 24 jam sih jadi mestinya aman lah ya, haha). Lalu seperti biasanya aku mendapatkan email konfirmasi dan sebagainya dari OTAnya. Untuk memastikan, aku cek langsung di website maskapainya dan ternyata aku bisa menemukan reservasiku di sana sehingga artinya ini legit lah ya. Untuk lebih memastikan lagi, aku menelepon langsung kantor maskapainya di Belanda dan mereka juga memastikan tiketku sudah terkonfirmasi di sistemnya dan semuanya sesuai seperti yang kuinginkan.

Oh wow!! Rasanya seperti baru menemukan harta karun nih!! Sejauh ini aku senang banget deh dengan alat ini!! Dan aku rasa ini akan berguna banget buat ke depannya!!

Apakah sudah ada yang pernah menggunakannya juga? 🙂

#1903 – Firefighting in Marseille

ENGLISH

While having dinner in Marseille during my first (this year) AvGeek Weekend Trip this February, I experienced (well, more like “witnessed”, actually) something new. Something I had never had before!

Entrecote in Marseille

Entrecote in Marseille

While enjoying my entrecote, which unfortunately was a little bit overcooked to my liking, I heard a lot of sirens from the street. And it was kind of weird because it was definitely not from just a passing firetruck/police car/ambulance/whatever as the sound stayed there for some time.

I remember at the time feeling a little bit annoyed because why would someone “play” such loud noise for an extended period of time, haha 😆 . But this “why” was actually a valid question because apparently

the building next to the restaurant was literally on fire!!

😱😱😱😱😱

French firefighters

There were some French firefighters in the street too

Everyone around me stayed calm, though, as the restaurant was not affected by the fire (except that there was an electric outage for a few seconds), which helped me to also stay calm. At that point I almost finished my dish and so I rushed it because I wanted to see the scene, haha. I paid the bill (along with some mini drama with payment) and then went outside to see the scene myself.

Firefighting in Marseille

Firefighting in Marseille

At the time the firefighters had already taken their position, where the very long ladder/platform had been extended to reach the top of the six storey building. Not long after, they opened the “tap” and the firefighter(s) on top of the platform started to “blast” the water.

***

What I admired from this incident was how quickly and organized everything was. In this incident, it was not only the firefighters that were involved. A few meters behind the firetruck, a respiratory ambulance was already ready to retrieve any potential victim. Yep, a respiratory ambulance, the type a fire victim would likely need once escaping a fire!!

Respiratory assistance car was ready

A respiratory assistance truck was ready

Obviously the traffic also needed to be closed during the incident. And the police was ready for that. They put their cars blocking the street so it became sterile. In the meantime, they (or the firefighters? I don’t remember) put a barricade tape around the building to indicate it was an incident zone.

Wow, I was impressed!!

Blocked road

Blocked road

***

Yep, that was my first experience, ever, witnessing firefighters in real action!!

Anyway, as it was my first time, I could not help but to think what are commonly portrayed in Just For Laughs about firefighting. For instance, this prank, haha:

or this one:

Haha 😆 .

So I was thinking imagining there would be a beautiful French lady at the top of the building waiting to be rescued. Then the handsome firefighter would climb the ladder and saved her and then they fell in love and lived happily ever after, lol. What the hell is this crap… 😅😂.

Damn it JFL! 😛

BAHASA INDONESIA

Ketika sedang makan malam di Marseille di AvGeek Weekend Trip pertamaku tahun ini Februari lalu, aku mengalami (hmm, “menyaksikan” lebih tepatnya sih) sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah aku alami sebelumnya!

Entrecote in Marseille

Entrecote di Marseille

Ketika sedang menikmati steak entrecote-ku, yang mana dagingnya agak kematangan untuk seleraku, aku mendengar suara sirene dari arah jalan raya. Dan waktu itu rasanya aneh karena jelas suaranya bukanlah dari mobil pemadam kebakaran/mobil polisi/ambulans/apa pun yang lewat karena bunyinya berlangsung cukup lama.

Aku ingat waktu itu aku merasa sedikit sebal karena mengapa sih ini kok seseorang “memainkan” sirene sekeras ini lama banget pula, haha 😆 . Nah, “mengapa” ini sebenarnya adalah pertanyaan yang tepat karena ternyata

gedung di sebelah restoran ini sedang kebakaran dong!!

😱😱😱😱😱

French firefighters

Ada beberapa pemadam kebakarannya Prancis di jalan juga

Semua orang di sana tenang-tenang aja sih, karena memang restorannya tidak terpengaruh kebakarannya (kecuali sempat mati lampu selama beberapa detik), sehingga aku juga tenang-tenang aja dong ya. Waktu itu, aku sudah nyaris menyelesaikan makan malamku dan jadilah aku buru-buru menyelesaikannya karena aku pengen melihat TKPnya, haha! Aku membayar tagihannya (ditambah drama mini pula dengan pembayarannya) dan kemudian keluar restoran untuk langsung melihat tempat kejadian.

Firefighting in Marseille

Pemadaman api di Marseille

Waktu itu, pemadam-kebakarannya sudah siap siaga di posisinya, dimana tangga/boksnya yang panjang banget itu sudah dipanjangkan untuk mencapai puncak gedung bertingkat enam tersebut. Tak lama kemudian, “kran air”-nya dibuka dan pemadam-kebakaran yang berada di boks itu mulai “menyemprotkan” air ke arah gedung.

***

Yang aku kagumi dari insiden ini adalah seberapa cepat dan teraturnya semua pihak yang terlibat. Di insiden ini, bukan hanya pemadam-kebakaran yang terlibat. Beberapa meter di belakang mobil pemadam kebakaran, sebuah mobil paramedis pernafasan sudah siap siaga untuk menerima korban (jika ada). Yup, mobil paramedis pernafasan, suatu bantuan yang sangat mungkin dibutuhkan oleh korban yang baru saja selamat dari kebakaran kan!!

Respiratory assistance car was ready

Sebuah mobil paramedis pernafasan telah siap siaga

Dan jelas lalu-lintas harus ditutup sepanjang insiden ini. Untuk ini, polisi sudah siap menjalankan tugasnya. Mereka memarkir mobil polisi menutup akses jalan sehingga areanya menjadi steril. Sementara itu, mereka (atau pemadam-kebakarannya ya? Aku lupa) mulai memasangi gedung dengan barricade tape itu menandai bahwa gedung ini adalah zona insiden.

Wow, keren banget yah!!

Blocked road

Jalan yang ditutup oleh polisi

***

Yep, ini adalah pengalamanku pertama kali seumur hidup menyaksikan aksi pemadam-kebakaran yang nyata!!

Anyway, yang namanya juga pertama kali, aku bisa-bisanya loh teringat apa yang beberapa kali digambarkan di Just For Laughs tentang pemadaman-kebakaran. Misalnya, prank yang ini, haha:

atau yang ini:

Huahaha 😆 .

Aku berpikir berimajinasi ada cewek Prancis cakep di atas gedung itu yang menunggu untuk diselamatkan. Lalu seorang pemadam-kebakaran gagah dan ganteng memanjat tangganya dan menyelamatkannya dan kemudian mereka jatuh cinta dan hidup bahagia selama-lamanya, huahaha. Apa-apaan ini… 😅😂.

Dasar nih JFL! 😛